Claim Missing Document
Check
Articles

Peran Pendamping Sosial dalam Penanganan Konflik Keluarga Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan Aulia Sholichah Iman Nurchotimah; Bunyamin Maftuh; Elly Malihah; Yuni Harmawati
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v5i1p61-70

Abstract

Indonesia as a big country certainly is not free from various problems, one of which is poverty. Poverty in Indonesia has strong effect on the welfare of Indonesian citizens. “Program Keluarga Harapan”  is a government program as an effort to reduce poverty in Indonesia. The purposes of this research were: (1) To determine the factors which caused conflict among the beneficiaries in Patikraja, Banyumas Regency, Central Javs; (2) To determine the role of social caseworker in managing conflicts on Program Keluarga Harapan beneficiaries in Patikraja, Banyumas regency. Methods used in this research was case study. Data collection techniques which were used in this study were observation, interview, and documentation. The results of this research were factors caused conflicts were the limited quota of the “Program Keluarga Harapan” and the social jealousy from the citizens who were not belong to the beneficiaries. Furthermore, the role of social caseworker in managing conflict on the Program Kelarga Harapan beneficiaries in Patikraja, Banyumas Regency, Central Java was by conductiong a mediation which used a strategy of communication and strongly hold on to the  mediator principles.Indonesia sebagai negara yang besar tentu saja tidak luput dari berbagai persoalan salah satunya yaitu kemiskinan. Kemiskinan yang terjadi di Indonesia sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan warga negara Indonesia. Program Keluarga Harapan adalah program pemerintah sebagai upaya menanggulangi kemiskinan di Indonesia. Tujuan Penelitian ini adalah; (1) mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya konflik penerima bantuan sosial di Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas Jawa Tengah (2) mengetahui peran pendamping sosial dalam mengatasi konflik pada penerima bantuan sosial Program Keluarga Harapan di Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun hasil penelitian ini adalah faktor-faktor penyebab terjadinya konflik yaitu keterbatasan kuota bantuan program keluarga harapan dan kecemburuan sosial dari warga masyarakat yang tidak menerima bantuan. Kemudian peran pendamping sosial dalam mengatasi konflik pada penerima bantuan sosial program keluarga harapan di Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas adalah dengan cara mediasi dengan strateri fasilitasi komunikasi dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip sebagai mediator. 
MEMBANGUN KETERAMPILAN RESOLUSI KONFLIK MELALUI PKN DENGAN PENDEKATAN MULTIKULTURAL DI SMK NU TEMANGGUNG Rhindra Puspitasari; Bunyamin Maftuh; Elly Malihah
Jurnal Kalacakra: Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 1, No 1 (2020): Juli
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/kalacakra.v1i1.2685

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana membangun keterampilan resolusi konflik melalui mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan pendekatan multikultural yang dilakukan di SMK NU Temanggung. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya konflik yang terjadi dimasyarakat kita, sehingga perlu membangun ketrampilan resolusi konflik bagi generasi muda, salah satunya adalah siswa SMK NU Temanggung. Siswa SMK yang nantinya akan langsung diserap oleh dunia kerja dan terjun ke masyarakat penting dibekali dengan keterampilan resolusi konflik. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan metode deskriptif kualitatif. Analisis data dilakukan dengan triangulasi metode melalui dua siklus. Hasil temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa pada siklus satu menunjukkan bahwa keterampilan resolusi konflik yang dimiliki siswa kelas XI sebanyak 40% dan diperlukan tambahan materi dan metode, sedangkan pada siklus dua setelah ditambah materi dan metode pendekatan multikultural keterampilan resolusi konflik siswa kelas XI meningkat sebanyak 75%. Hal ini menujukkan peningkatan yang berarti.
PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME SEBAGAI RESOLUSI KONFLIK : PERSPEKTIF PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN zulkifli zulkifli; Bunyamin Maftuh; Elly Malihah
Jurnal Pendidikan Politik, Hukum Dan Kewarganegaraan Vol 10, No 2 (2020): Jurnal Pendidikan Politik, Hukum, dan Kewarganegaraan
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Multikulturalisme merupakan salah satu realitas utama yang dimiliki oleh bangsa di Indonesia. Multikulturalisme dapat diartikan bahwa negara memberikan pengakuan adanya keragaman atau kemajemukan pada masyarakatnya. Adanya keragaman ini mestinya menjadi dasar bagi pendidikan yang berkeadaban. Multikulturalisme menjadi landasan budaya bagi kewargaan, kewarganegaraan, dan pendidikan. Resolusi konflik  yang menekankan pendidikan multikulturalisme dalam Pendidikan Kewarganegaraan dipandang memiliki urgensi yang penting karena secara historis bangsa ini telah melewati konflik karena budaya yang cukup pahit. Pendidikan apa pun bentuknya, tidak boleh kehilangan dimensi multikulturalnya, termasuk di dalamnya pendidikan kewarganegaraan, karena realitas dalam kehidupan pada hakikatnya bersifat multidimensional. Demikian juga halnya manusia sendiri pada hakikatnya adalah sebagai makhluk yang multidimensional. Karena itu, pendekatan kepada manusia dan untuk mengatasi problem kemanusiaan yang ada, tidak bisa lain kecuali dengan menggunakan pendekatan yang multidimensional dan di dalamnya adalah pendidikan multikultural. Pendidikan kewarganegaraan untuk Indonesia, secara filosofik dan substantif-pedagogis/andragogis, merupakan pendidikan untuk memfasilitasi perkembangan pribadi peserta didik agar menjadi warga negara Indonesia yang religius, berkeadaban, berjiwa persatuan Indonesia, demokratis dan bertanggung jawab, dan berkeadilan, serta mampu hidup secara harmonis dalam konteks multikulturalime-bhinneka tunggal ika. Perlu dikembangkan budaya kewarganegaraan Indonesia yang multikultural, yang berintikan “civic virtue” atau kebajikan atau akhlak kewarganegaraan. Kabajikan itu sepenuhnya harus terpancar dari nilai-nilai Pancasila yang secara substantif mencakup keterlibatan aktif warganegara, hubungan kesejajaran/egaliter, saling percaya dan toleran, kehidupan yang kooperatif, solidaritas, dan semangat kemasyarakatan multikultural. Semua unsur akhlak kewarganegaraan itu diyakini akan saling memupuk dengan kehidupan “civic community” atau “civil society” atau masyarakat madani yang multikultural berdasarkan Pancasila. 
KEARIFAN LOKAL SUNDA DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK KEPERCAYAAN MASYARAKAT DESA CIREJAG Lusiana Rahmatiani; Bunyamin Maftuh; Elly Malihah
Jurnal Pendidikan Politik, Hukum Dan Kewarganegaraan Vol 10, No 2 (2020): Jurnal Pendidikan Politik, Hukum, dan Kewarganegaraan
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas mengenai konflik kepercayaan masyarakat. Pembahasan mengenai kearifan lokal sunda dalam menyelesaikan konflik kepercayaan masyarakat penting untuk dilakukan karena sejumlah alasan, diantaranya buruknya citra kepercayaan masyarakat diakibatkan oleh tindakan manusia yang mempercayai kepercayaan serta melenceng pada tindakan musrik. Salah satu alternatif yang dilakukan oleh elite desa untuk mengatasi permasalahan kepercayaan tersebut dengan menggunakan prinsip nilai kearifan lokal sunda, dengan prinsip silih asah, silih asuh, silih asih. Sejalan dengan pandangan hidup orang sunda yang menganjurkan agar hidup rukun dengan mendahulukan kebersamaan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, dengan teknik pengumpulan data, observasi, wawancara dan dokumentasi.
Traditional Games as a Multicultural Education Planning for Children in Primary Schools Freddy Widya Ariesta; Bunyamin Maftuh
Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 5 No. 2 (2020): The Journal of Innovation in Elementary Education
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.559 KB) | DOI: 10.22236/jipd.v5i2.114

Abstract

This study aims to examine the planting of values of multicultural education in children in Primary Schools through traditional games. This is motivated by the diversity of cultures, races, languages, and religions in Indonesia. Traditional children's games or called “Dolanan Anak” is one of the nation's cultural assets that must be preserved. Traditional games not only provide value for recreation or pleasure. More than that, traditional games also contain and contain elements of cultural values that are identical to multicultural education. These values are cultural heritage, which is full of the meaning of goodness and is useful in developing community life in children. This article is a study of the research literature that describes traditional games as an attempt to integrate the values of multicultural education. This importance is given to children or students of Primary Schools age in the hope that the children can understand early on that the diversity of national cultures is a vehicle to foster tolerance and respect in their living environment and the external environment that has a diversity of cultures.
Pengaruh Media Video Animasi terhadap Kemampuan Resolusi Konflik Siswa Sekolah Dasar Sinta Maria Dewi; Bunyamin Maftuh; Sapriya Sapriya; Erna Wulan
Jurnal Basicedu Vol 5, No 4 (2021): August Pages 1683- 3000
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v5i4.833

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti kegiatan pembelajaran resolusi konflik siswa dengan menggunakan media video animasi pada siswa kelas V SDN Anggadita V Karawang. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SDN Anggadita V tahun ajaran 2020/2021. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas VA dan VB. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pembelajaran resolusi konflik siswa yang diberi perlakuan media video dengan pembelajaran resolusi konflik siswa yang tidak diberikan perlakuan. Perhitungan hipotesis diperoleh nilai signifikansi 0.000 < α = 0.05, maka Ho di tolak dan berarti hipotesis diterima. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa media video pada mata pelajaran IPS dengan tema Keanekaragaman Suku dan Budaya memiliki pengaruh yang signifikan dalam pembelajaran resolusi konflik siswa kelas V sekolah dasar. Dari hasil penelitian ini berharap dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi semua pihak yang terkait, terutama pihak sekolah dalam rangka meningkatkan kemampuan resolusi konfik siswa sekolah dasar
Internalization of Living Value Education Program (LVEP) as A Based of Developing Conflict Resolution Model Wasis Suprapto; Bunyamin Maftuh; Helius Sjamsuddin; Elly Malihah
JETL (Journal of Education, Teaching and Learning) Vol 6, No 1 (2021): Volume 6 Number 1 March 2021
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.44 KB) | DOI: 10.26737/jetl.v6i1.2305

Abstract

Violence become a serious problem in this country. All parties including students have been involved in this swirl of problems. The phenomenon of violence in the educational environment can be minimized by internalizing the Living Value Education Program (LVEP) in learning activities. LVEP internalization is carried out as a reference basis in developing resolution models in social studies learning. This article focuses on examining (1) the process of internalizing values in social studies learning, (2) the importance of including LVEP in the learning process, and (3) making LVEP the basis for developing a conflict resolution model. Articles are reviewed using literature study. The results showed that (1) the process of internalizing values in social studies learning was carried out in order to prepare students to become good citizens. (2) LVEP contains universal values such as peace, respect, love, cooperation, happiness, honesty, humility, responsibility, simplicity, tolerance, freedom and unity which can be used as a reference in classroom learning activities. (3) LVEP can be used as a reference in developing a conflict resolution model because it contains values of peace-loving, tolerance, and upholds the value of national unity and integrity
Singkawang from Coser’s Perspective Wasis Suprapto; Bunyamin Maftuh; Helius Sjamsuddin; Elly Malihah
JETL (Journal of Education, Teaching and Learning) Vol 5, No 1 (2020): Volume 5 Number 1 March 2020
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.45 KB) | DOI: 10.26737/jetl.v5i1.1894

Abstract

History records that Singkawang was an inseparable part of the conflict between ethnic groups in West Kalimantan. This article aims to examine three things, namely (1) the description of Coser's structuralist theory, (2) the strategic role of the city of Singkawang, and (3) the relevance of Singkawang City to Coser's theory. This research was studied with a qualitative descriptive. The research subject is the object of research is the city of Singkawang. Data collection techniques are carried out by literature study, interviews, and observations. The results showed that (1) the presence of conflict can play a role in restoring the social integration of members of society. Besides, the presence of conflict also plays a role in strengthening the social and emotional bonds of its followers. (2) Singkawang had a strategic role as a trading area and transit point for gold miners during the Sambas Sultanate. This condition lasted for a long time and made the people of Singkawang at that time learn to blend in with each other. In its development, the history of assimilation made the city of Singkawang finally used as one of the locations when there was an inter-ethnic conflict in West Kalimantan. (3) Coser's theory teaches that to avoid conflict there needs to be a safety value. In Singkawang City, safety value is carried out through natural assimilation through marriage, including culture. Apart from that, there is also artificial assimilation carried out by creating associations of both ethnicity and religion.
MODEL PEMBELAJARAN INDIGINASI DALAM IPS UNTUK PENGEMBANGAN WAWASAN MULTIKULTUR MAHASISWA Kokom Komalasari; Bunyamin Maftuh
Edusentris Vol 1, No 1 (2014): Maret
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.232 KB) | DOI: 10.17509/edusentris.v1i1.133

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perlunya pengembangan wawasan multicultural terhadap mahasiswa dalam kegiatan perkuliahan pendidikan IPS pada mata kuliah Kebudayaan Indonesia melalui model pembelajaran indiginasi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Bagaimanakah gambaran konseptual model pembelajaran indiginasi dalam perkuliahan Kebudayaan Indonesia; 2) Bagaimana implementasi model pembelajaran indiginasi dalam perkuliahan Kebudayaan Indonesia; dan 3) Bagaimana pengaruh penerapan model pembelajaran indiginasi terhadap pengembangan wawasan multikultural mahasiswa. Penelitian ini menggunakan desain Research and Development dengan subjek penelitian mahasiswa Program Studi Pendidikan IPS pada mata kuliah Kebudayaan Indonesia tahun akademik 2013/2014. Penelitian ini menemukan bahwa: 1) Konsep pembelajaran indiginasi merupakan strategi untuk menciptakan lingkungan belajar dan merancang pengalaman belajar yang mengintegrasikan budaya asli daerah. Materi perkuliahan berisi kebudayaan etnis/daerah di Indonesia. Media yang digunakan adalah audio visual, model mahasiswa asli daerah, dan pertunjukan budaya daerah, 2) Implementasi pembelajaran indiginasi dilakukan melalui langkah-langkah berikut: a) Perkenalan dan kontrak belajar untuk membangun komitmen “Kelas Berkarakter Multikultur”; b) pembagian kelompok dan penyampaian materi melalui brainstorming dan value clarification, dan analisis nilai; c) Pembelajaran model Indiginasi (group investigation, demonstrasi, modeling, field study, dan analisis nilai budaya); d) melakukan review materi dan refleksi nilai; dan 3) model pembelajaran indiginasi dalam perkuliahan Kebudayaan Indonesia berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan wawasan multikultur mahasiswa sebesar 40,1%.Kata Kunci: Model pembelajaran indiginasi, Pendidikan IPS, wawasan multikultural, pendidikan multikultural.
RESPON MAHASISWA PGSD TERHADAP PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING (PjBL) BERBASIS TRANSFER NILAI PANCASILA DALAM PENULISAN BAHAN AJAR PKN Dianasari Dianasari; Bunyamin Maftuh; Ernawulan Syaodih
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.303 KB) | DOI: 10.31949/jcp.v8i1.2008

Abstract

Pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning (PjBL) berbasis transfer nilai Pancasila adalah hal baru dalam pembelajaran PKn bagi mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Cirebon. PjBL ini dilatihkan kepada mahasiswa sebagai penguat kemampuan menulis bahan ajar PKn Sekolah Dasar. Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis respon mahasiswa calon guru SD dalam pembelajaran menggunakan model PjBL berbasis transfer nilai Pancasila dalam meningkatkan keterampilan menulis bahan ajar PKn Calon Guru SD. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan menggunakan instrumen berupa lembar angket. Teknik analisis data menggunakan deskriptif kuntitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa calon guru yang mengontrak mata kuliah Pembelajaran PKn di Program Studi PGSD Universitas Muhammadiyah Cirebon. Hasil penelitian menujukan bahwa Respon calon guru SD terhadap pembelajaran PjBL dapat dilihat dari hasil angket mahasiswa calon guru yang menunjukkan nilai rata-rata 3,3 dengan kategori respon yang sangat baik. Sehingga dapat dikatakan pembelajan PjBL berbasis transfer nilai Pancasila ini, dapat meningkatkan kemampuan menulis bahan ajar PKn bagi calon guru SD.