Claim Missing Document
Check
Articles

Effect Of Incubation Time On Blood Group Changes In Blood Stains Contaminated With Aspergillus Flavus Fakhmi, Shausan Nabila; Khusuma, Ari; Dewi, Lale Budi Kusuma
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Vol 11, No 2 (2024): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jambs.v11i2.359

Abstract

Introduction: The change of blood group on the spot is when the non-O blood groups, namely A, B and AB, are found to be blood group O (false), this can occur one of them because of the long time of scattered blood (blood stains) found at the scene of the crime, so it can cause blood stains to be contaminated by mycoorganisms. One microorganism known to easily contaminate bloodstains is Aspergillus flavus. This can lead to the degradation of contaminated bloodstains because the contents in the blood can be used by microorganisms as their metabolic material. Objective : This study examines whether there is an effect of incubation time on changes in blood group in blood spots contaminated with Aspergillus flavus, this study uses blood spots of blood group A and blood group B contaminated with Aspergillus flavus. Method : This study was conducted in vitro and is an experimental study using a one-group pretest-posttest design. Blood spots contaminated with Aspergillus flavus were treated with an incubation period of 1 week, 2 weeks, 3 weeks and 4 weeks.  Changes in blood group were then identified using the absorption-elution method. Results : The results of the study as many as 30 units of blood spots of blood group A and blood group B contaminated with Aspergillus flavus did not change the blood group because it can still be identified antigens that match the blood group of the insect at week 4 seen from the occurrence of agglutination. Conclusions : The conclusion that can be drawn from this study is that blood spots of blood groups A and B contaminated with Aspergillus flavus do not change blood groups during incubation times of 1 week, 2 weeks, 3 weeks and 4 weeks or 28 days.
Penentuan Hasil Mikroskopis Infeksi Saluran Kemih Metode Pewarnaan Gram dengan Menggunakan Perlakuan Urine Sentrifugasi dan Tanpa Sentrifugasi Sukma, Al Hadawiyah Pertiwi; Ershandi Resnhaleksmana; Ari Khusuma; Yunan Jiwintarum
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 3 No. 2 (2024): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v3i2.80

Abstract

Latar Belakang : Infeksi saluran kemih merupakan infeksi yang diakibatkan karena adanya sejumlah mikroorganisme pada saluran kemih. Penentuan infeksi saluran kemih dapat dilakukan alat diagnostic flowcytometry, deteksi dini menggunakan dipstick carik celup, pewarnaan gram dan kultur urine sebagai gold standar dalam menentukan ISK. Pada pemeriksaan infeksi saluran kemih menggunakan metode pewarnaan gram dilakukan dengan menggunakan urine sentrifugasi dan tanpa sentrifugasi. Dimana pada setiap perlakuan akan terdapat hasil yang berbeda dari masing-masing perlakuan. Semakin cepat daya sentrifugasi maka sedimen yang akan dihasilkan semakin bagus untuk hasil pemeriksaan. Tujuan : Untuk menganalisis ketepatan penentuan ISK metode pewarnaan gram dengan menggunakan perlakuan urine sentrifugasi dan tanpa sentrifugasi. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain kuasi eksperimen dan teknik pengambilan sampel Non Probabilty Sampling dengan metode Purposive Sampling. Hasil Penelitian : Rerata perhitungan bakteri yang ditemukan pada urine sentrifugasi yaitu 4x105 CFU/ml sedangkan pada urine tanpa sentrifugasi rerata didapati 2x105 CFU/ml. Berdasarkan hasil uji Wilcoxon pada perhitungan sampel urine yang di sentrifugasi dan tanpa sentrifugasi pada penderita infeksi saluran kemih (ISK) didapatkan nilai p value = 0,012<0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara perlakuan urine sentrifugasi dan tanpa sentrifugasi pada penentuan ISK metode pewarnaan gram. Kesimpulan : Terdapat perbedaan antara perlakuan urine sentrifugasi dan tanpa sentrifugasi sehingga penggunaan urine sentrifugasi lebih tepat dilakukan untuk menentukan infeksi saluran kemih.
Hubungan Kadar CRP dan Tekanan Darah Pada Wanita Obesitas di Wilayah Kerja Puskesmas Bagu Adila Ika Rahmayati; Ari Khusuma; Erna Kristinawati; Pancawati Ariami
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 3 No. 2 (2024): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v3i2.151

Abstract

Background: Body mass index (BMI) ≥30 kg/m² is defined as obesity II. Obese sufferers have a risk of increased blood pressure or hypertension, which is also associated with low-level inflammatory conditions. CRP is a test used to detect inflammatory processes, which can affect blood vessel damage. Research Objective: To determine the relationship between CRP levels and blood pressure in obese women in the Bagu Health Center Working Area. Research Methods: This research design is an analytical observational study with a cross sectional approach. By examining CRP levels using the latex agglutination method. Next, data analysis was carried out using bivariate tests. Results: The results of measurements of normal systolic blood pressure, prehypertension, hypertension I, hypertension 2, and hypertensive crisis were found respectively, namely 2 (9%), 6 (29%), 5 (24%), 7 (33%), 1 (5 %) and normal diastolic blood pressure-prehypertension, hypertension I, hypertension II respectively 7 (33%), 9 (43%), 5 (24%). With CRP levels of 5 (24%) respondents 6 mg/L and 16 (76%) respondents CRP negative. The results of data analysis show a relationship between CRP levels and systolic and diastolic blood pressure, namely <0.05 P-Value >α (α=0.05), which means there is no relationship between CRP levels and blood pressure in obese women in the Bagu Community Health Center working area. Conclusion: There was no relationship between CRP levels and blood pressure in obese women in the Bagu Community Health Center working area.
Pemberdayaan Kader Posyandu Keluarga di Puskesmas Tanjung Karang sebagai Pelaksana Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) pada Pasien Diabetes Melitus Kusuma Dewi, Lale Budi; Khusuma, Ari; Manu, Thomas Tandi
Jurnal Indonesia Mengabdi Vol. 5 No. 2 (2023): December Edition
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STKIP Nurul Huda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30599/jimi.v5i2.2785

Abstract

Pemantauan glukosa darah mandiri dapat dilaksanakan oleh tenaga yang telah mendapatkan edukasi dari tenaga kesehatan terlatih. Kesadaran penderita DM di Kelurahan Tanjung Karang Permai untuk selalu memantau kadar glukosa darahnya seringkali tidak dapat dilaksanakan karena tidak memiliki keterampilan melaksanakan PGDM. Guna memfasilitasi penderita DM agar pelaksanaan PGDM tepat waktu, diperlukan tenaga pelaksana yang dekat dengan masyarakat yaitu kader kesehatan di lingkungan tersebut. Terhadap 20 kader perwakilan dari 7 Posyandu diberikan penyuluhan tentang pentingnya PGDM dan diberikan pelatihan melaksanakan PGDM. Kegiatan penyuluhan dan pelatihan dilaksanakan di Kantor Lurah Tanjung Karang Permai. Dilanjutkan  pendampingan kader untuk PGDM pada Posyandu tempat kader bertugas. Keterampilan kader dalam melaksanakan PGDM dinilai menggunakan daftar tilik evaluasi keterampilan PGDM. Evaluasi didapatkan sebanyak 20 orang kader posyandu di Kelurahan Tanjung Karang Permai sudah memenuhi syarat sebagai pelaksana PGDM.
Edukasi Masyarakat Desa Jelantik Lombok Tengah Sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Tidak Menular Melalui pemeriksaan Laboratorium Sederhana Agrijanti, Agrijanti; Inayati, Nurul; Khusuma, Ari
Jurnal Indonesia Mengabdi Vol. 6 No. 1 (2024): June Edition
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STKIP Nurul Huda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30599/jimi.v6i1.3351

Abstract

Desa Jelantik Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah memiliki kasus penderita penyakit tidak menular sebanyak 4,198% kadar gula darah, asam urat dan kolestrol dari jumlah penduduk dan ketercapaian deteksi penyakit tidak menular masih kurangnya yaitu masih dibawah 22 % dari total jumlah penderita. Penggunakan alat sederhana Point Of Care Tests (POCT) lebih praktis, mudah dibawa dan memungkinkan digunakan pasien untuk self-monitoring. Metode pengabdian kepada masyarakat ialah penyuluhan dan pelatihan pengetahuan kader tentang tentang penyakit tidak. Hasil yang dicapai ialah terjadi peningkatan pengetahuan mengenai penyakit tidak menular dan pemeriksaan laboratorium sederhana serta terjadi peningkatan keterampilan penggunaan alat sederhana POCT. Terjadi juga peningkatan ketercapaian pemeriksaan penyakit tidak menular dari 22% menjadi 50%. Saran dari hasil pengabdian kepada masyarakat ini ialah pada kegiatan posyandu keluarga pemeriksaan glukosa/kolesterol dan asam urat dapat dilaksanakan oleh kader posyandu terlatih, sehingga meningkatkan ketercapaian deteksi penyakit tidak menular.
Penyuluhan Bahaya Hiperurisemia dan Pemanfaatan Jamu Herbal Songgak bagi Penderita Hypeurisemia di Tanjung Karang Mataram Nusa Tenggara Barat Khusuma, Ari; Kusuma Dewi, Lale Budi; Agrijanti, Agrijanti
Jurnal Indonesia Mengabdi Vol. 7 No. 1 (2025): June Edition
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STKIP Nurul Huda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30599/whr4se09

Abstract

Skrining penyakit tidak menular (PTM) seperti hiperurisemia memerlukan partisipasi berbagai pihak. Namun, masyarakat sering enggan melakukan skrining, meski data Puskesmas Tanjung Karang tahun 2021 menunjukkan hiperurisemia sebagai salah satu dari tiga penyakit terbanyak. Masyarakat cenderung mengandalkan obat-obatan untuk terapi gout, meskipun terapi non-farmakologi juga efektif. Penelitian tahun 2021 menunjukkan herbal tradisional Sasak, songgak, dapat menurunkan kadar gula darah pada tikus, dan penelitian 2022 membuktikan efektivitasnya dalam menurunkan kadar asam urat darah tikus. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengendalikan kadar asam urat penderita hiperurisemia dengan songgak. Dari 30 peserta, 25 mengalami penurunan kadar asam urat dari rata-rata 8,98 mg/dL menjadi 6,52 mg/dL. Lima peserta tidak melanjutkan konsumsi karena alasan kesehatan. Mahasiswa berperan aktif dalam pelaksanaan dan evaluasi kegiatan, sekaligus mempromosikan songgak sebagai jamu herbal tradisional Lombok, mendukung upaya prioritas Kementerian Kesehatan dalam pengendalian PTM.  
Hubungan Hasil Pemeriksaan Kultur Urin terhadap Hasil Protein dan Berat Jenis Urin sebagai Pemeriksaan Fungsi Ginjal pada Pasien Infeksi Saluran Kemih Supriyanti, Ispi; Agrijanti; Ari Khusuma; Lalu Srigede
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 4 No. 1 (2025): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v4i1.146

Abstract

Background : Laboratory examination for UTI consists of urine culture and dipstick urinalysis consisting of glucose, protein, bilirubin, urobilinogen, erythrocytes, pH, ketones, specific gravity, leukocytes and nitrites. In this study, only protein and urine specific gravity were examined, because one of the causes of proteinuria is post-renal which occurs due to infection in the urinary tract. Meanwhile, for urine specific gravity, patients who are suspected of having a urinary tract infection usually have a high urine specific gravity due to an increase in the number of leukocytes in the urine. UTI can cause a decrease in kidney function due to the risk of infection in the ureters which can cause several complications of kidney disease. Research Objective : To find out whether there is a relationship between the results of urine culture examination and the results of protein and specific gravity of urine as an examination of kidney function in UTI patients. Research Method : This research is an analytical observational research with a cross sectional research design. By examining urine culture and urinalysis using the dipstick method and analyzed using the chi square test. Results of the study : The results of data analysis showed a significant relationship in the positive direction with the strength of the relationship being quite strong between urine culture examination and urine protein results in UTI patients (p 0.030˂0.05). And there is a significant relationship in the positive direction with the strength of the relationship being quite strong between urine culture examination and urine specific gravity results in UTI patients (p 0.021<0.05). Conclusion : There is a significant relationship in the positive direction with the strength of the relationship being quite strong between the results of the protein examination and the urine culture results in UTI patients, as well as the results of the specific gravity examination and the strength of the urine culture results in UTI patients, there is a significant relationship in the positive direction with the strength of the relationship being quite strong.
Immune Response Analysis of Children with Pulmonary TB Using Immuno Chromatography Test -Tuberculosis (ICT - TB) Ariami, Pancawati; Astriani, Astriani; Inayati, Nurul; Khusuma, Ari
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Vol 12, No 1 (2025): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jambs.v12i1.361

Abstract

Risk factors that increase the spread of Mycobacteria tuberculosis to family members are a history of contact with tuberculosis sufferers and overcrowding at home. If the child has family or close contact with a positive TB sufferer, screening is necessary. Close contact means children live in the same house or often meet the patient. TB testing involves taking sputum samples, but in reality officers often have difficulty taking sputum samples, especially children, so they have to carry out an immunochromatography-tuberculosis (ICT-TB) test. ICT-TB is a serological examination that functions as an alternative screening examination for children who have difficulty collecting sputum. To determine the immune response in children suffering from tuberculosis using the immunochromatography tuberculosis test (ICT-TB). This research is an analytical observational study with a cross-sectional design and uses a saturated sampling method where the entire population is sampled. Purposive sampling was then used to select samples during household visits so that a total sample of 44 samples was obtained.In a sample of 44 children suffering from pulmonary tuberculosis, all ICT-TB test results were negative. 55% of children with suspected pulmonary TB were boys and 45% were boys, the number of children with suspected TB in the 1st, 2nd, 3rd, 4th, 5th and 6th months of treatment was 4.2% and 16.7% respectively. %, 21%, 16.7 %, 33.3%, 8.3% and 18.3%. Based on observations of the children's health status, 43% were healthy and 2% were sick, and in terms of physical factors, the suspect's house had good physical environmental factors. All 44 suspected children had negative ICT-TB test results. Further research needs to be carried out using cohort studies, observing the development of children with tuberculosis over a period of ± 1 to 2 years, and studying contacts in families of non-children aged 0 to 14 years.  
Lipid Profile Animal Trial Model of Metabolic Syndrome with Soggak Coffee Intervention Dewi, Lale Budi Kusuma; Permatasari, Lina; Khusuma, Ari; Agrijanti, Agrijanti
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 1 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i1.712

Abstract

Sindrom metabolik adalah suatu kondisi yang berhubungan dengan obesitas, diabetes, dislipidemia (hiperkolesterolemia dan hipertrigliseridemia), dan tekanan darah tinggi. Stres oksidatif memiliki keterkaitan dengan sindrom metabolik, makanan kaya flavonoid bermanfaat untuk pencegahan dan perbaikan sindrom metabolik. Songgak adalah kopi yang dicampur dengan rempah-rempah dengan kandungan flavonoid dan fenolik total yang berkorelasi dengan aktivitas antioksidannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek kopi songgak dalam mencegah sindrom metabolik. Parameter yang diuji adalah profil lipid yang terdiri dari kadar kolesterol total, kadar trigliserida, kadar low-density lipoprotein (LDL), dan kadar high-density lipoprotein (HDL). Sebanyak 24 ekor hewan coba dibagi menjadi 4 kelompok (kelompok kontrol, P1, P2, dan P3).  Semua hewan diberikan makanan tinggi, lipid, dan Propylthiouracil (PTU). Kelompok P1, P2, dan P3 masing-masing diberi 8 gram, 12 gram, dan 16 gram kopi Songgak sedangkan kelompok kontrol tidak diberi kopi Songgak. Setelah perlakuan selama 21 hari, hewan coba diterminasi dan profil lipid diukur. Uji statistik dengan Kruskal Wallis pada kadar total kolesterol dan HDL kolesterol dengan hasil uji nilai P berturut-turut adalah 0,205 dan 0,637 (P>0,05), disimpulkan tidak ada perbedaan antar kelompok perlakuan. Sedangkan kadar trigliserida dan LDL diuji dengan uji parametrik ANOVA, hasil uji nilai sig berturut-turut adalah 0,068 dan  0,748 >0,05 disimpulkan tidak ada perbedaan antar kelompok perlakuan. Walaupun menurut uji ststistik disimpulkan tidak ada perbedaan antar kelompok perlakuan, namun kadar kolesterol total, trigliserida, kolesterol LDL dan kolesterol HDL pada kelompok perlakuan lebih baik daripada kelompok kontrol. Kelompok P2 menunjukkan kadar kolesterol total, gliserida, dan LDL yang terendah dengan kadar secara berurutan yaitu 69,67±11,86; 51,00±892; dan 9,33±3,01 mg/dL. Sementara itu, kadar HDL tertinggi pada kelompok P3. Terdapat penurunan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida, serta peningkatan kadar kolesterol HDL pada kelompok perlakuan. Oleh karena itu, kopi songgak dapat dikembangkan menjadi minuman tradisional untuk mencegah sindrom metabolik.
Pengaruh Lama Senam terhadap Kadar Trigliserida pada Kelompok Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS)  di Puskesmas Dasan Tapen Viefa Avrilian Alifah; Lale Budi Kusuma Dewi; Lalu Srigede; Ari Khusuma
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2025): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v1i2.32

Abstract

Sindrom metabolik ditandai oleh salah satunya kadar trigliserida tinggi yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Aktivitas fisik seperti senam merupakan upaya non-farmakologis untuk menurunkan trigliserida. Program Pengelolaan Penyakit Kronis (prolanis) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan menyediakan kegiatan senam secara rutin sebagai bagian dari upaya pengendalian penyakit kronis. Namun, efektivitas senam prolanis terhadap kadar trigliserida masih belum banyak diteliti, terutama dalam kaitannya dengan lama partisipasi senam. Untuk mengetahui ada pengaruh lama senam terhadap kadar trigliserida pada kelompok program pengelolaan penyakit kronis (prolanis) di Puskesmas Dasan Tapen. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 23 responden yang mengikuti senam setiap 1x setiap minggu dengan variasi lama partisipasi. Pemeriksaan trigliserida menggunakan metode enzimatik GPO-PAP, sedangkan data mengenai lama mengikuti senam diperoleh melalui kuesioner. Analisis data menggunakan uji Shapiro-Wilk, Anova, dan uji lanjutan Tukey HSD. Terdapat penurunan kadar trigliserida berdasarkan variasi lama bulan mengikuti senam. Hasil Anova menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p = 0,000 < 0,05). Kadar trigliserida tertinggi ditemukan pada bulan ke-3 yaitu 247,50 mg/dL, sedangkan kadar terendah pada bulan ke-9 yaitu 111,33 mg/dL. Lama mengikuti senam berpengaruh signifikan terhadap penurunan kadar trigliserida. Efek penurunan terlihat nyata setelah 6 bulan partisipasi rutin. Namun, faktor lain seperti pola makan, konsumsi obat-obatan, dan aktivitas fisik tambahan juga turut memengaruhi hasil.