Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

TANTANGAN KEBERLANJUTAN PEKEBUN KELAPA SAWIT RAKYAT DI KABUPATEN PELALAWAN, RIAU DALAM PERUBAHAN PERDAGANGAN GLOBAL Sakti Hutabarat
Masyarakat Indonesia Vol 43, No 1 (2017): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v43i1.713

Abstract

Oil palm smallholders are potential actors to be included in the global palm oil market. Smallholder plantations account for 41.4% of total oil palm plantation areas and represents 36.6% of total CPO produced in Indonesia in 2015. The number of farmers involves in oil palm plantation encompass 2.3 million farmers which have been  an important driver for economic growth in rural areas. However, oil palm smallholders are vulnerable from issues related to unsustainable production including environmental, social and legal issues which might lower access and exclude smallholder access to global market. The objective of this study is to analyze position and capacity of oil palm smallholders in facing global change in international market. Population of this study is oil palm smallholder farmers in Ukui Subdistrict, Pelalawan District, Riau Province which consist of RSPO-certified independent smallholders, Non-certified independent smallholders, and RSPO-certified scheme smallholders. The sample size were 220 farmers and chosen randomly from each group (80, 60 and 80 farmers for each group respectively). The study found that majority of the farmers still apply traditional practices in their plantations and far below the standard of good agricultural practices and certification standards. The challenges faced by the Amanah Association to obtain RSPO certificate is not easy to follow by other smallholders. Therefore, external supports from government and private actors are needed to improve farmers’ capacity to meet and comply with certification and to include small-scale farmers in the palm oil global supply chain.Keywords: Independent smallholders, scheme smallholders, oil palm, certification, global market ABSTRAKPekebun kelapa sawit merupakan aktor yang berpotensi menjadi bagian penting dari perdagangan minyak sawit global. Luas perkebunan kelapa sawit rakyat mencapai 41,4% dari seluruh area perkebunan sawit Indonesia dengan produksi 36,6% dari total produksi minyak sawit Indonesia pada 2015. Jumlah pekebun kelapa sawit rakyat mencapai 2,3 juta; ini merupakan jumlah yang cukup signifikan sebagai penggerak perekonomian di pedesaan. Namun, pekebun kelapa sawit rakyat sangat rentan terhadap berbagai isu (lingkungan, sosial, dan legalitas) yang dapat menghambat akses pasar di rantai suplai internasional. Studi ini bertujuan menganalisis posisi dan kapasitas pekebun kelapa sawit rakyat dalam menghadapi perubahan global perdagangan internasional. Populasi penelitian ini adalah pekebun kelapa sawit rakyat di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, yaitu pekebun kelapa sawit swadaya bersertifikat RSPO, pekebun kelapa sawit swadaya non-RSPO, dan pekebun kelapa sawit plasma bersertifikat RSPO. Jumlah sampel ditentukan sebesar 220 pekebun dan dipilih secara acak untuk setiap grup (80, 80, dan 80 pekebun). Studi ini memperlihatkan sebagian besar pekebun masih menjalankan bisnis kelapa sawit secara tradisional. Praktik pertanian yang dilakukan masih jauh dari praktik pertanian yang terbaik (good agricultural practices) ataupun dari standar sertifikasi yang ada. Perjuangan pekebun kelapa sawit swadaya Amanah di Kecamatan Ukui untuk memperoleh sertifikasi RSPO memperlihatkan bahwa tantangan tak mudah dicapai pekebun swadaya lain. Campur tangan pemerintah dan aktor lain sangat dibutuhkan pekebun kelapa sawit swadaya untuk dapat disertifikasi dan menjadi bagian dari rantai suplai kelapa sawit internasional.Kata kunci: Pekebun kelapa sawit rakyat, pekebun swadaya, pekebun plasma, kelapa sawit, sertifikasi, perdaganganglobal 
Ispo Certification and Indonesian Oil Palm Competitiveness in Global Market: Smallholder Challenges Toward ISPO Certification Sakti Hutabarat
Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2017): DECEMBER 2017
Publisher : Department of Agricultural Socio-Economics Faculty of Agriculture Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.755 KB) | DOI: 10.22146/jae.27789

Abstract

Certification becomes a prerequisite for tradable products to get legality and access to global market. Each tradable product can choose certificate according to its market destination. However, the application of certification standards are very low in both international (RSPO and ISCC) and domestic (ISPO) standards. This study was focused on the ISPO certification. How large is the gap between current practices and ISPO standard? What are factors that affect adoption of ISPO certification? Does ISPO deliver more access to market for oil palm smallholders? Do smallholders have adequate capacity to meet ISPO standard? These questions have been assessed and discussed in this paper to find answer and alternative way out for smallholders to meet the ISPO standard. The objective of this study is to assess capacity and willingness of oil palm independent smallholders to meet the standard of ISPO certification. This study was conducted in Pelalawan District, Riau Province using a survey method. The result shows that a number of barriers are faced by smallholders to obtain ISPO certification while the opportunity to get better access to local and global market is still uncertain. The adoption of ISPO certificate was influenced by farmers’ knowledge on agricultural practices, business  legality, household income, and land-size.
Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit di Riau Sakti Hutabarat
Unri Conference Series: Agriculture and Food Security Vol 1 (2019): Seminar Nasional Pembangunan Pertanian dan Pedesaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.18 KB) | DOI: 10.31258/unricsagr.1a7

Abstract

Permintaan minyak sawit yang meningkat dengan pesat sejak tahun 2000an telah direspon oleh investor dan masyarakat di Indonesia dengan membangun kebun-kebun baru. Tingkat pengetahuan masyarakat yang rendah menyebabkan peningkatan produktivitas kebun sawit dirasakan lebih sulit dibandingkan dengan membangun kebun baru. Permasalahan timbul ketika ekspansi kebun-kebun baru terjadi secara ilegal sehingga tidak terkontrol oleh pemerintah. Pengembangan kebun kelapa sawit tidak saja dilakukan di kawasan yang sesuai dan dialokasikan untuk budidaya kelapa sawit tetapi juga merambah ke kawasan hutan dan lahan gambut. Lahan mineral yang ada sebagian besar telah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar sehingga pengembangan kebun-kebun baru oleh perusahaan menengah dan kecil dilakukan pada lahan-lahan gambut. Tingkat deforestasi hutan dan degradasi lahan gambut yang sangat masif menjadi isu penting pemanfaatan lahan yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis optimalisasi pemanfaatan lahan oleh perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau. Studi ini dilakukan dengan menggunakan studi literature terutama dokumen-dokumen pemerintah dan hasil penelitian terdahulu. Dengan menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif, studi ini mengamati penggunaan lahan perkebunan kelapa sawit, faktor-faktor yang mempengaruhi ekspansi perkebunan kelapa sawit, produktivitas kebun-kebun kelapa sawit dibandingkan dengan potensi produksi, dan alternatif tindakan yang mungkin dilakukan untuk mengurangi deforestasi hutan dan degradasi lahan gambut.
PENGARUH PREMI PANEN DAN KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PANEN DI PTPN V KEBUN TANDUN KABUPATEN KAMPAR Citra Sania Ginting; Sakti Hutabarat; Jum’atri Yusri
JURNAL AGRIBISNIS Vol. 11 No. 2 (2022): Jurnal Agribisnis Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/agribisnis.v11i2.2246

Abstract

Karyawan panen merupakan salah satu faktor produksi yang dibutuhkan di dalam perusahaan perkebunan. Karyawan panen harus memberikan prestasi kerja yang baik dengan cara meningkatkan kinerjanya yang dilihat dari kualitas dan kuantitas hasil panen. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan kinerja karyawan panen yaitu dengan adanya sistem premi panen dan kepuasan kerja di dalam perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan kerja karyawan panen, menganalisis pengaruh premi panen dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan panen. Penelitian ini dilakukan di PTPN V Kebun Tandun, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar dengan menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria karyawan panen yang bekerja di kelompok tanaman kelapa sawit yang memiliki umur tanaman, topografi, dan teknik pemanen yang sama. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 karyawan panen harian tetap. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis skala likert dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi kepuasan kerja karyawan panen sangat puas. Secara simultan premi panen dan kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan panen. Secara parsial hanya premi panen yang berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan panen. Harvest employees are one of the factors of production needed in plantation companies. Harvest employees must provide good work performance by improving their performance as seen from the quality and quantity of the harvest. One of the factors that can improve the performance of harvest employees is the existence of a harvest premium system and job satisfaction within the company. This study aims to determine the level of job satisfaction of harvest employees, analyze the effect of harvest premiums and job satisfaction on the performance of harvest employees. This research was conducted at PTPN V Kebun Tandun, Tapung Hulu District, Kampar Regency using a purposive sampling method with the criteria of harvesting employees working in groups of oil palm plantations that have the same plant age, topography, and harvesting techniques. The sample in this study were 30 permanent daily harvest employees. The collected data were analyzed using the Likert scale analysis method and multiple linear regression analysis. The results showed that the perceptions of job satisfaction of harvest employees were very satisfied. Simultaneously harvest premium and job satisfaction have a significant effect on harvest employee performance. Partially, only the harvest premium has a significant effect on harvest employee performance.
ANALISIS HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN MANDOR PANEN DAN MOTIVASI KERJA PEMANEN DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA PEMANEN KELAPA SAWIT DI PT. TUNGGAL PERKASA PLANTATIONS Agatha Kristia; Jumatri Yusri; Sakti Hutabarat
Jurnal Agribisnis Vol. 23 No. 2 (2021): Jurnal Agribisnis
Publisher : UNIVERSITAS LANCANG KUNING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.315 KB) | DOI: 10.31849/agr.v23i2.5595

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi gaya kepemimpinan mandor panen, mengidentifikasi kondisi motivasi kerja pemanen, menganalisis hubungan antara gaya kepemimpinan mandor panen dengan produktivitas kerja pemanen dan menganalisis hubungan antara motivasi kerja pemanen dengan produktivitas kerja pemanen di PT. Tunggal Perkasa Plantations. Objek penelitian adalah tenaga kerja panen. Data didapat dari sampel yang diambil dengan teknik purposive sampling. Ada dua kelompok sampel, yaitu (1) tenaga kerja panen yang bekerja di kebun dengan umur tanaman 15 tahun, topografi datar dan teknik pemanenan mekanisasi, dan (2) tenaga kerja panen yang bekerja di kebun dengan umur tanaman 10 tahun, topografi rolling satu dan teknik pemanenan konvensional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum mandor panen di kebun Sei Sagu terkategori gaya kepemimpinan partisipatif. Kondisi motivasi kerja pemanen di kebun Sei Sagu terkategori motivasi tinggi yang disebabkan karena tenaga kerja panen merasa bahwa kebutuhannya yang terbentuk dari sembilan indikator menurut teori hierarki kebutuhan dari Abraham Maslow dapat terpenuhi. Selanjutnya, didapatkan hasil penelitian bahwa tidak ada hubungan antara gaya kepemimpinan mandor panen dengan produktivitas kerja pemanen dan terdapat hubungan antara motivasi kerja pemanen dengan produktivitas kerja pemanen.
Persepsi Pekebun Swadaya terhadap Peremajaan Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Rokan Hulu Dame Rohani Siahaan; Evy Maharani; Sakti Hutabarat
JURNAL TRITON Vol 14 No 1 (2023): JURNAL TRITON
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/jt.v14i1.277

Abstract

Tanaman kelapa sawit di Desa Batas Kecamatan Tambusai sebagian besar hampir memasuki umur non-ekonomis sehingga perlu direncanakan kegiatan peremajaan (replanting). Peremajaan kelapa sawit di Desa Batas merupakan kegiatan baru bagi pekebun sehingga perlu dianalisis persepsi pekebun terhadap peremajaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis persepsi pekebun swadaya terhadap peremajaan kebun kelapa sawit dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi pekebun terhadap peremajaan perkebunan kelapa sawit. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria umur tanaman kelapa sawit telah berusia minimal 22 tahun. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 40 sampel. Tujuan penelitian pertama dianalisis menggunakan Skala Likert’s Summated Rating (SLR) dengan menggunakan metode skor untuk setiap pilihan jawaban. Terdapat enam aspek peremajaan yang diteliti yaitu aspek input, aspek finansial, aspek pasar, aspek kelembagaan, aspek teknologi, dan aspek teknis. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis persepsi dan analisis linear berganda. Hasil yang diperoleh memperlihatkan persepsi pekebun terhadap peremajaan kelapa sawit secara keseluruhan termasuk dalam kategori sangat baik. Persepsi ini menunjukkan bahwa pelaksanaan peremajaan dapat diterima oleh pekebun di Desa Batas. Persepsi pekebun yang termasuk dalam kategori sangat baik terdapat pada aspek input, aspek pasar, aspek teknologi dan aspek teknis. Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap persepsi pekebun terhadap peremajaan adalah umur, pendidikan, keaktifan mengikuti penyuluhan, tabungan, dan keikutsertaan dalam kelompok tani.
Efisiensi Biaya Peremajaan Kelapa Sawit Pola Swadaya di Desa Sei Putih Daniel Noviardi Sitorus; Sakti Hutabarat; Didi Muwardi
JURNAL TRITON Vol 14 No 1 (2023): JURNAL TRITON
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/jt.v14i1.289

Abstract

Efisiensi biaya yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengendalikan biaya agar pertindak efisien yaitu hasil akhir tidak jauh menyimpang dari standar yang telah ditentukan dengan cara membandingkan biaya sesungguhnya denga biaya standar sehingga dapat dicapai suatu efisiensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan standar biaya peremajaan nasional dengan biaya peremajaan kelapa sawit swadaya dan mengetahui efisiensi biaya peremajaan pekebun swadaya. Penelitian ini dilakukan di Desa Sei Putih Kecamatan Tapung yang terletak di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan November 2020 sampai bulan Mei 2022. Studi ini menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sensus, dimana semua pekebun yang tergabung dalam kelompok tani Rezeki Baru dijadikan sampel. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif, untuk menjawab tujuan pertama, sedangkan untuk tujuan kedua menggunakan analisis efisiensi biaya peremajaan. Hasil penelitian ini memperlihatkan standar biaya nasional peremajaan kelapa sawit di daerah Riau pada tahun 2015 dan 2016 adalah sebesar Rp 62.762.000,-/ha, sedangkan biaya rata-rata yang dikeluarkan pekebun pada peremajaan kelapa sawit sebesar Rp 52.045.898,-/ha. Selisih biaya rata-rata peremajaan yang dikeluarkan pekebun dengan biaya yang ditetapkan pemerintah yaitu sebesar 17,07%. Rasio efisiensi biaya menunjukkan nilai 82,93%, yang artinya peremajaan yang dilakukan pekebun kelompok tani Rezeki Baru tidak baik. Biaya peremajaan yang kurang efisien ini dikarenakan adanya kegiatan peremajaan yang telah ditetapkan oleh pemerintah tidak dilakukan oleh pekebun sebagaimana mestinya, sehingga mengakibatkan adanya perbedaan biaya yang dikeluarkan oleh pekebun.
Strategi Peremajaan Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat Kabupaten Rokan Hilir Brilliant Thesalonich Panggabean; Sakti Hutabarat; Didi Muwardi
JURNAL TRITON Vol 14 No 1 (2023): JURNAL TRITON
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/jt.v14i1.382

Abstract

Tanaman kelapa sawit Desa Bagan Sapta Permai di tanaman pada tahun 1981, 1983, dan 1984. Umur tanaman kelapa sawit Desa Bagan Sapta Permai saat ini sudah lewat 12-15 tahun dari umur ekonomis dan perlu segera dilakukan peremajaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor keterlambatan peremajaan perkebunan kelapa sawit rakyat, mengetahui sumber pendapatan pekebun selama masa peremajaan, dan merumuskan strategi peremajaan perkebunan kelapa sawit rakyat. Penelitian ini dilakukan di Desa Bagan Sapta Permai yang terletak di Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Studi ini menggunakan metode survei. Teknik pengambilan sampel untuk tujuan pertama dan kedua menggunakan purposive sampling dengan kriteria “pekebun yang sudah melakukan peremajaan namun terlambat” sebanyak 30 pekebun, sampel diambil dari anggota Koperasi Unit Desa (KUD) Anugerah. Tujuan ketiga menggunakan sampel expert yang dinilai ahli dalam peremajaan kelapa sawit sebanyak 5 orang. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif, untuk menjawab tujuan pertama dan kedua, sedangkan tujuan ketiga menggunakan analisis AWOT (AHP-SWOT). Hasil penelitian ini memperlihatkan faktor keterlambatan peremajaan terbesar di perkebunan kelapa sawit rakyat Desa Bagan Sapta Permai ialah pekebun merasa hasil kebun sawitnya masih mencukupi kebutuhan keluarga sebesar 45%. Sumber pendapatan pekebun rakyat Desa Bagan Sapta Permai selama masa peremajaan terbanyak ialah dari hasil tanaman kelapa sawit yang masih produktif sebesar 51,85%. Strategi peremajaan yang dapat diterapkan di perkebunan kelapa sawit rakyat Desa Bagan Sapta Permai ialah pekebun dan KUD melaksanakan program peremajaan mandiri bersama serta KUD memfasilitasi pelatihan dan penyuluhan terkait peremajaan bagi pekebun dengan nilai prioritas tertinggi sebesar 0,378.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPANSI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI PROVINSI RIAU Jumatri Yusri Jum; Deya Rizki Rahmadani; Sakti Hutabarat
JURNAL AGRIBISNIS Vol. 12 No. 1 (2023): Jurnal Agribisnis Volume 12 No 1 Tahun 2023
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/agribisnis.v12i1.2305

Abstract

Minat masyarakat dalam mengusahakan perkebunan kelapa sawit dipengaruhi oleh harga kelapa sawit itu sendiri. Harga yang tinggi dianggap menguntungkan pekebun, sehingga pekebun melakukan pembangunan kebun-kebun baru untuk meningkatkan pendapatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspansi perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau dan mengetahui nilai elastisitasnya. Data penelitian merupakan data sekunder berupa time series dengan jangka waktu tahun 2000-2020. Analisis data terdiri dari spesifikasi model, estimasi model, uji asumsi klasik, uji hipotesis, dan perhitungan elastisitas. Hasil penelitian diperoleh berdasarkan analisis regresi berganda harga TBS, karet dan CPO Malaysia tahun sebelumnya signifikan terhadap pertumbuhan luas perkebunan kelapa sawit rakyat, dengan nilai elastisitas harga TBS (0,0031%), harga karet (-0,0028), dan harga CPO (0,0014%). Pertumbuhan luas perkebunan kelapa sawit oleh perkebunan besar swasta secara signifikan dipengaruhi oleh harga TBS dan CPO Malaysia tahun sebelumnya, dengan nilai elastisitas harga TBS (0,0030%) dan harga CPO Malaysia (0,0028%). Kontribusi harga TBS, karet dan CPO Malaysia tahun sebelumnya terhadap perkebunan rakyat signifikan sebesar 88,6% dan pada perkebunan besar swasta signifikan sebesar 59,6%. Harga karet relatif lebih berpengaruh terhadap perkebunan rakyat daripada perkebunan swasta, sedangkan harga CPO Malaysia lebih berpengaruh terhadap perkebunan swasta daripada perkebunan rakyat. Community interest in cultivating oil palm plantations is influenced by the price of the oil palm itself. High prices are considered to be profitable for the smallholders, so the smallholders build new plantations to increase their income. The purpose of this study was to analyze the factors that influence the expansion of oil palm plantations in Riau Province and determine their elasticity. The research data is secondary data in the form of a time series with a period of 2000-2020. Data analysis consists of model specification, model estimation, classic assumption test, hypothesis test, and elasticity calculation. The results of the study were obtained based on multiple regression analysis of the previous year's FFB, rubber and Malaysian CPO prices significantly to the growth of smallholder oil palm plantations, with price elasticity values ​​of FFB (0.0031%), rubber prices (-0.0028), and CPO prices ( 0.0014%). The growth in the area of ​​oil palm plantations by large private estates was significantly influenced by the prices of Malaysian FFB and CPO in the previous year, with price elasticity values ​​for FFB (0.0030%) and Malaysian CPO prices (0.0028%). The contribution of Malaysian FFB, rubber and CPO prices in the previous year to smallholder plantations was significant at 88.6% and to large private plantations it was significant at 59.6%. The price of rubber relatively has more influence on smallholder plantations than private plantations, while the price of Malaysian CPO has more influence on private plantations than smallholders.
Implementasi Deep learning untuk Identifikasi Daun Tanaman Obat Menggunakan Metode Transfer learning Noveri Lysbetti Marpaung; Rio Juan Hendri Butar Butar; Sakti Hutabarat
JEPIN (Jurnal Edukasi dan Penelitian Informatika) Vol 9, No 3 (2023): Volume 9 No 3
Publisher : Program Studi Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jp.v9i3.63895

Abstract

Tanaman obat adalah tanaman yang memiliki khasiat untuk digunakan sebagai obat penyembuhan atau pencegahan berbagai penyakit. Pemanfaatan tanaman obat di Indonesia sudah sangat umum dilakukan oleh masyarakat sejak zaman dahulu. Pengetahuan tentang tanaman obat juga diwariskan oleh nenek moyang sejak dulu. Tanaman obat memiliki bentuk daun yang hampir serupa antara satu tanaman dengan tanaman lainnya, terutama dari bentuk morfologi daun. Hal ini membuat beberapa masyarakat memiliki kekeliruan dalam mengidentifikasi daun tanaman obat. Dalam beberapa dekade terakhir, deep learning telah menjadi metode yang populer untuk mengidentifikasi objek. Deep learning memiliki kemampuan untuk dapat mengidentifikasi objek dengan tepat, sehingga sangat cocok digunakan untuk mengidentifikasi daun tanaman obat. Pada penelitian ini, metode transfer learning digunakan untuk mengidentifikasi tanaman obat. Transfer learning menggunakan model yang telah dilatih sebelumnya, sehingga dapat digunakan untuk data yang lebih sedikit dan memiliki waktu komputasi yang relatif lebih cepat. Pretrained model yang digunakan pada penelitian ini adalah MobileNetV2. Pada penelitian ini, teknik fine tune diterapkan untuk meningkatkan performa model. Beberapa percobaan dilakukan dengan parameter yang berbeda seperti epoch dan layer fine tune untuk mendapatkan hasil terbaik. Hasil penelitian ini mendapatkan akurasi 99% untuk training, 98% untuk validasi, dan 94% untuk pengujian.