Claim Missing Document
Check
Articles

Pemanfaatan Daun Jamblang Sebagai Bahan Pembuatan Handsinitizer Dalam Bentuk Cair Zurrahmi, Zurrahmi; Ibrahim, Ishak; Dewi, Rozanna; Jalaluddin, Jalaluddin; Sulhatun, Sulhatun
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 5 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - October 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i5.16619

Abstract

Syzygium cumini L yaitu nama pohon dan buah dari keluarga jambu yang diketahui di berbagai daerah yang meiliki sebutan berbeda: duwet di Jawa Timur, jembolan di Jawa Barat, jambe kleng di Aceh, dan javaplum di Amerika. Selain memiliki nilai gizi, S. cumini L juga memiliki manfaat sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri. Hand sanitizer biasanya mengandung alkohol dengan konsentrasi 65-95%, yang dapat menyebabkan iritasi kulit. Tujuan penelitian ini yaitu untuk pengembangan sanitizer dengan jumlah alkohol antara 60% hingga 80%, dengan tambahan triklosan dan ekstrak daun jamblang. Kandungan daun jamblang meliputi flavonoid, alkaloid, steroid, tanin, dan saponin yang memiliki kemampuan untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk merumuskan dan menguji efektivitas antiseptik tangan yang dibuat dari daun jamblang (Syzygium cumini L), menggunakan empat variasi konsentrasi etanol (60%, 70%, 75%, dan 80%) serta lima durasi perebusan (30, 45, 60, 75, 90 menit).Dimana Penelitian ini sudah dilakukan sebelumnya oleh (Bahri, Syamsul dkk, 2021) dengan judul Formulasi Sediaan Gel Minyak Atsiri Tanaman Nilam (Pogostemon Cablin Benth) Sebagai Antiseptik Tangan (Hand Sanitizer), yang belum dilakukan adalah membuat sanitizer dalam bentuk cair. Pengujian dilakukan terhadap keempat formulasi meliputi pengujian pH, organoleptik, kemampuan penyebaran, dan efek antibakteri. Komposisi sanitizer yang natural dan  diperoleh pada formula dengan konsentrasi etanol 80% (U2) dengan waktu perebusan 30 menit (mengandung 40 ml filtrat daun jamblang, 10 ml etanol, 10 ml gliserin, dan 10 ml aloe vera). Formulasi ini efektif menghambat Staphylococcus aureus tumbuh dengan diameter zona hambat sebesar 16,8 mm, menunjukkan hasil yang homogen, memiliki pH 5,4 yang mendekati pH kulit, dan daya sebar sekitar 5 cm sampai 8 cm, menunjukkan konsistensi semisolid yang nyaman digunakan.
ANALISA PENGARUH KONSENTRASI DELIGNIFIKASI DENGAN PELARUT ETHANOL PADA GULA REDUKSI DARI KULIT KOPI ROBUSTA (Coffea canephora L.) Ardiansyah, Zul Fadly; Azhari, Azhari; Bahri, Syamsul; Dewi, Rozanna; Zulnazri, Zulnazri
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 5 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - October 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i5.17353

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengekspolari potensi kulit kopi robusta sebagai sumber gula reduksi. Kulit kopi, sering dianggap sebagai limbah dalam industry kopi, mengandung beberapa senyawa bioaktif termasuk gula reduksi seperti glukosa dan fruktosa. Proses penghilangan lignin dilakukan dengan proses organosolv menggunakan pelarut ethanol dan proses extraksinya dengan hidrolisa asam menggunakan katalis asam sulfat. uji metode luff shcrool untuk menghitung berapa jumlah gula reduksi yang terkandung di kulit kopi Robusta,Dimana Penelitian ini sudah dilakukan sebelumnya oleh Suryati Dkk, 2021 dengan judul Pembuatan Gula Reduksi Dari Kulit Kopi Arabika Dengan Proses Organosolv Menggunakan Pelarut Ethanol yang membedakan adalah bahan utama kulit kopi. Hasil menunjukkan bahwa kandungan gula tertinggi terdapat pada konsentrasi 40%, waktu delignifikasi 2 jam dengan kadar gula reduksi yang dihasilkan 23,311%. Untuk gula reduksi terendah terdapat padakonsentrasi 20%, 1 jam dengan kadar gula reduksi yang dihasilkan 20,816%. Untuk kadar yield terbesar  terdapat pada konsentrasi 40%  waktu delignifikasi 2 jam dengan kadar yang yield yang dihasilkan sebesar 40,87%. Kadar terendah untuk yield pada percobaan ini pada konsentrasi 20% selama 1 jam dengan kadar yield sebanyak 40,78%. Dari percobaan diatas dapat diketahui makin lama waktu penghilaangan lignin, maka makin besar pula kadar gulanya, hal ini terjadi karna lignin akan tergradasi dan selulosa akan berubah menjadi gula reduksi.ANALISA PENGARUH KONSENTRASI DELIGNIFIKASI DENGAN PELARUT ETHANOL PADA GULA REDUKSI DARI KULIT KOPI ROBUSTA (Coffea canephora L.)
PERBANDINGAN PEREKAT BIOKOMPOSIT KITOSAN DAN PATI UBI KAYU UNTUK PEMBALUT LUKA PRIMER DENGAN MENGGUNAKAN PEREKAT ASAM SITRAT DAN PEKTIN Tarigan, Jhodi Okta Albiqho; Jalaluddin, Jalaluddin; Dewi, Rozanna; Faisal, Faisal; Muhammad, Muhammad
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 5 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - October 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i5.16453

Abstract

Pembalut luka primer adalah produk seperti lapisan tipis yang berguna untuk pelindung luka. Memiliki sifat biokompotabilitas, rendah toksisitas, aktivitas anti bakteri, dan kestablian kimia yang baik, sehingga mempercepat penyembuhan luka. Dalam penelitian ini, kitosan-pati ubi kayu dan bahan ikat silang asam sitrat dan pektin digunakan untuk membuat pembalut luka primer. Dengan mempertimbangkan perbandingan perekat asam sitrat dan pektin, penelitian yang belum dilakukan bertujuan untuk membuat pembalut luka biokomposit kitosan-pati ubi kayu. Penelitian ini sudah pernah dilakukan dengan menggunakan bahan dasar Pati jagung/pati kentang/pati sagu, maka dari itu penelitian ini digunakan pati ubi kayu. Dalam penelitian ini, beberapa pendekatan digunakan, termasuk persiapan bahan baku, pengelolaan biokomposit pembalut luka primer, dan uji daya serap air. Dalam uji daya serap air, biokomposit kitosan-pati ubi kayu dengan ikatan silang asam sitrat mencapai variasi komposisi(50:50:2) sebesar 15% dan biokomposit kitosan-pati ubi kayu dengan ikatan silang pektin mencapai variasi komposisi (50:50:10) sebesar 734,00%. Uji ketebalan menunjukkan bahwa biokomposit kitosan-pati ubi kayu dan bahan ikat silang asam sitrat memiliki hasil terbaik pada variasi komposisi (50:50:10) sebesar 0,3725 mm, sedangkan biokomposit kitosan-pati ubi kayu dan bahan ikat silang pektin memiliki hasil terbaik pada variasi komposisi (50:50:10) sebesar 0,325 mm. Oleh karena itu, gugus fungsi OH dan CO ditemukan dalam uji gugus fungsi (FTIR) pada sampel, merupakan sifat hidrofilik pada pembalut luka. Selain itu, gugus-gugus menunjukkan bahwa pembalut luka mudah terurai dan ramah lingkungan.  
PENGARUH VARIASI NaOH TERHADAP KUALITAS SABUN TRANSPARAN AROMATERAPI ROSEMARY BERBASISI VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DAN OLIVE OIL Ainun, Sarifah; Sylvia, Novi; Zulnazri, Zulnazri; Dewi, Rozanna; Kamar, Iqbal
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 5 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - October 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i5.15280

Abstract

Sabun merupakan kebutuhan sekunder yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk membersihkan kotoran. Sabun transparan dihasilkan melalui reaksi saponifikasi antara trigliserida yang berasal dari asam lemak pada minyak dengan basa alkali, khususnya Natrium Hidroksida. Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, yang belum pernah dilakukan adalah fokus pada penggunaan Virgin Coconut Oil (VCO) dan Olive Oil sebagai bahan dasar, serta penerapan aroma terapi rosemary dalam sabun transparan. Penelitian ini menggunakan metode saponifikasi dengan hot process, yang melibatkan pemanasan dalam prosesnya. Fokus penelitian adalah untuk memahami dampak variasi NaOH dan rasio minyak VCO dan olive oil terhadap kualitas sabun transparan aromaterapi. Rasio VCO:olive oil yang digunakan adalah 1:1; 3:1; 5:1, sedangkan larutan NaOH divariasikan antara 20 ml, 25 ml, dan 30 ml. Temuan penelitian menunjukkan bahwa peningkatan variasi NaOH meningkatkan pH, kadar air, alkali bebas, dan kadar klorida, sementara menurunkan kadar asam lemak bebas. Selanjutnya, peningkatan rasio minyak VCO terhadap olive oil meningkatkan nilai pH, alkali bebas, dan mengurangi kadar asam lemak bebas pada sabun transparan aromaterapi. Sabun padat yang memenuhi standar SNI 3532:2016 ditemukan dengan variasi NaOH 20 ml dan 25 ml, serta rasio minyak 1:1; 3:1; 5:1.
Opportunities and challenges in the sustainable integration of natural fibers and particles in friction materials for eco-friendly brake pads Imran, Al Ichlas; Siregar, Januar Parlaungan; Mat Rejab, Mohd Ruzaimi; Cionita, Tezara; Hadi, Agung Efriyo; Jaafar, Jamiluddin; Fitriyana, Deni Fajar; Dewi, Rozanna
Mechanical Engineering for Society and Industry Vol 4 No 3 (2024): Special Issue on Technology Update 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/mesi.12271

Abstract

The high concentration of metallic components in the pad composite improves breaking ability at elevated temperatures and frequencies, bolstering the automobile's braking system. The brake pad operates through friction mechanisms, generating PM 10 and PM 2.5 particulate matter that is emitted into the atmosphere, adversely affecting the well-being of humans and animals. Therefore, eco-friendly materials like natural fiber and organic particles are being used as substitutes for the metal in brake pads. However, natural fibers and particles exhibit unique characteristics when interacting with other materials, presenting significant challenges in brake pad composites such as variations in physical properties, limited thermal resistance, and potential degradation at high temperatures and humid environments. These aspects play a crucial role and can affect the structural strength, wear resistance, and overall performance of composite brake pads, especially when operating under extreme braking conditions. This paper review critically discusses automotive braking systems, the benefits of non-natural fiber brake pads, the process of particle emission formation, the components and manufacturing factors of composite brake pads, and the environmentally friendly qualities of brake pads. This study provides an exciting opportunity to advance our knowledge of the presence of natural fibers and organic particles in composite brake pads, which greatly improves the performance of automotive brake systems because they have super physical and mechanical properties, as well as great tribological and thermal endurance. Moreover, eco-friendly brake pads are typically biodegradable, which helps reduce ecological damage, minimize health concerns for humans and animals, and promote a sustainable automobile sector. Furthermore, eco-friendly brake pads show great potential for further advancement in reducing pollutant emissions and enhancing performance.
Advancements in sustainable material development: A Comprehensive review of coir fiber and its composites Imran, Al Ichlas; Siregar, Januar Parlaungan; Cionita, Tezara; Hadi, Agung Efriyo; Setiyo, Muji; Mat Rejab, Mohd. Ruzaimi; Jaafar, Jamiluddin; Fitriyana, Deni Fajar; Dewi, Rozanna
Mechanical Engineering for Society and Industry Vol 4 No 3 (2024): Special Issue on Technology Update 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/mesi.12556

Abstract

Derived from Coir coconut waste, coir fiber offers an environmentally friendly response to ecological challenges in various industries. Its application aligns with achieving Sustainable Development Goals (SDGs), such as eliminating extreme poverty, ensuring food security, and promoting decent employment and economic expansion. It also fosters environmentally friendly consumption and production, mitigates global warming, and conserves biodiversity. The study involves a comprehensive review of current literature, examining the methodologies including extraction techniques, surface modifications, and manufacturing processes like hand layup, casting, compression molding, hot pressing, and injection molding. The analysis identifies key improvements in mechanical, thermal, and physical properties of coir fiber composites, particularly enhanced tensile strength, thermal stability, and reduced water absorption due to chemical treatments. This confirms previous findings and contributes toward enhancing our understanding that coir fiber is extensively utilized in multiple industries, including housing, construction, transportation, biomedical, wrapping, electrical power, communication technology, biofuel, and bioenergy due to their natural abundance, affordability, ease of shaping, superior durability, and eco-friendly characteristics. Another crucial practical implication is that coir fiber and its composites offer numerous advantages that have significant consequences for the development of coir fiber in various fields.
PENGARUH SUHU DAN WAKTU REAKSI TERHADAP HASIL SINTESIS BIODIESEL DARI MINYAK JELANTAH DENGAN PENAMBAHAN KATALIS CANGKANG TELUR AYAM Muarif, Agam; Fatnia, Fatnia; Meriatna, Meriatna; Dewi, Rozanna; Bahri, Syamsul
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol. 13 No. 1 (2024): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2024
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v13i1.16432

Abstract

Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif hasil sintesis dari sumber yang dapat diperbaharui seperti minyak nabati dan lemak hewani. Minyak jelantah adalah salah satu minyak nabati yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk produksi biodiesel. Pada proses transesterifikasi untuk menghasilkan biodiesel dari minyak jelantah dibutuhkan katalis untuk mempercepat laju reaksi. Salah satu katalis yang digunakan bersumber dari limbah cangkang telur. Cangkang telur memiliki kandungan kalsium karbonat (CaCO3) yang tinggi hingga mencapai 90%. Hal tersebut menjadi salah satu potensi cangkang telur untuk dijadikan sebagai katalis. Pada penelitian ini keefektifan limbah cangkang telur sebagai katalis ditentukan berdasarkan hasil sintesis biodiesel dari minyak jelantah. Selain itu, reaksi transesterifikasi pada produksi biodiesel dari minyak jelantah dilakukan dengan memvariasikan suhu (55, 60, 65 dan 70°C) dan waktu (30, 60, 90 dan 120 menit) reaksi.  Kualitas biodiesel yang dihasilkan ditentukan berdasarkan nilai yield, viskositas, kadar Asam Lemak Bebas (ALB), densitas, kadar air, titik nyala dan Gas Chromatography (GC).  Hasil sintesis biodiesel terbaik pada penelitian ini didapatkan pada suhu reaksi 60°C selama 120 menit berdasarkan nilai densitas sebesar 886 kg/ml, yield 8,35%, viskositas 2,9814 cSt, kadar ALB 0,423%, dan kadar air 0,0321% . Berdasarkan hasil uji dengan menggunakan GC diketahui bahwa metil ester pada biodiesel yang dihasilkan terdiri dari asam linoleat sebesar 27,53%, asam oleat 34,70%, asam palmitat 12,36%.
Modification of Recycled HDPE Composite with OPEFB Microfibers Through the Melt Blend Extruder Process Zulnazri Zulnazri; Rozanna Dewi; Agam Muarif; Ahmad Fikri
The International Conference on Education, Social Sciences and Technology (ICESST) Vol. 3 No. 2 (2024): The International Conference on Education, Social Sciences and Technology
Publisher : International Forum of Researchers and Lecturers

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/icesst.v3i2.494

Abstract

This study describes the manufacture of modified composites from recycled HDPE plastic waste and TKKS fibers. The comparison of matrix composition with TKKS fibers used is (70:30); (80:20) and (90:10) %. The mixing process of HDPE with OPEFB was carried out using the melt blending method and extruded to obtain composite pellets. Composite characterization obtained high tensile strength in HDPE composites: OPEFB ratio (70:30) % of 36.50 Mpa, while the tensile strength of HDPE: OPEFB ratio (80:20) and HDPE: OPEFB ratio (90:10) % were obtained respectively 23.50 MPa and 26.50 MPa. The results of the surface structure test with SEM showed that there was a bond between the HDPE matrix and TKKS fibers which was marked by a brittle fracture shape on the surface of the composite and the fibers were not uniformly broken. The impact test results of HDPE composite: OPEFB ratio (80:20) % have a high impact value of 0.363168 Joules. The FT-IR test results show deformation of C-H vibrations and pyranose C-O-C which are typical of OPEFB at wave numbers 1070.49 & 1151.50 cm- and intermolecular O-H bending in TKKS at wave numbers 3672.47 cm-. The TGA test results of HDPE composite: OPEFB ratio (70:30) and HDPE: TKKS (80:20) obtained degradation temperature values (Te) of 535.57ᴼC and 529.74ᴼC, respectively.
Effect of Gondorukem (Arpus) Adhesive Composition on Organic Waste-Based Briquettes using Biodrying Technology Ridwandi; Dewi, Rozanna; Zulnazri, Zulnazri; Sylvia, Novi; Riza, Medyan
Indonesian Journal of Chemical Analysis (IJCA) Vol. 8 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Chemical Analysis
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/ijca.vol8.iss1.art1

Abstract

Briquettes are an alternative to coal, wood, and fossil fuels. Briquettes can be made with simple, inexpensive materials. The adhesive is gondorukem (arpus), which is easy to find. Making briquettes involves preparing raw materials, mixing adhesives with organic waste, and testing the finished product. The adhesive variations used were 5, 10, 15, 20 and 25%. Briquettes made with 5% gondorukem (arpus) adhesive had the lowest ash content. Briquettes with 25% gondorukem (arpus) had the highest ash content at 8.31%. Adhesives affect ash content. Moisture content analysis obtained with a value of 9.49% to 10.30%, the value is stable. The volatile content is 3.41-4.66%, which meets the SNI 01-6235 2000 standard. Calorimetry, all samples except 5% adhesive meet SNI 01-6235 2000 with minimum 5000 Cal/g (20934 J/g). Briquettes had density values of 0.0034176-0.004359 g/cm³, affecting energy content and combustion. Bound carbon analysis showed that all samples met the standard value of SNI 4931-2010. The burning rate of organic waste-based briquettes with different adhesives is 27 to 39 minutes, with a weight of 3.108 to 4.753 g/min. Briquettes take 66-111 seconds to ignite. SEM analysis shows rod-shaped substances, indicating organic waste and adhesives. The fibers visible are from the organic waste.
Karakteristik Biopelet Dari Campuran Limbah Kelapa Muda Dengan Bottom Ash Menggunakan Getah Pinus Sebagai Perekat Wiyani, Sri; Ginting, Zainuddin; Muthawali, Dede Ibrahim; Dewi, Rozanna; Jalaluddin, Jalaluddin; Ishak, Ishak
Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Vol 2 No 2 (2023): JURNAL PERSEGI BULAT
Publisher : FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI - UTND

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/jurnalpersegibulat.v2i2.1162

Abstract

Lebih kecil dari briket, biopellet merupakan bahan bakar padat yang dihasilkan dari limbah biomassa. Sampah organik yang banyak berakhir di pantai-pantai kawasan pesisir Lhokseumawe adalah limbah kelapa muda, sedangkan bottom ash merupakan sisa abu boiler dari saat PT. Blang ketumbar sempat beroperasi namun sudah tidak digunakan lagi. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi potensi pembuatan biopellet dalam konteks limbah abu ampas kelapa muda dengan menggunakan lem resin pinus. Pembuatan biopellet dilakukan dengan menggabungkan berbagai perbandingan antara sampah kelapa muda dan abu dasar, seperti 100:0, 75:25, 50:50, 25:75, atau 0:100, dengan lem resin pinus. Persentase perekatan campuran mungkin 10%, 20%, atau 30%. Langkah selanjutnya adalah menentukan nilai kalor biopellet, massa jenis, laju pembakaran, kadar air, kadar abu, bahan mudah menguap, dan karbon tetap. Meskipun penelitian serupa telah dilakukan di masa lalu, belum ada yang menggunakan kombinasi abu dasar, yang merupakan produk sampingan pembakaran boiler, dan resin pinus. Penelitian ini menemukan bahwa biopellet terbaik dibuat dari bahan kompos yang mengandung 100% ampas kelapa muda dan memiliki kandungan perekat 10%. Kompos juga mengandung bahan-bahan lain sebagai berikut: 2,94% air, 1,40% abu, 16,44% bahan mudah menguap, 79,22% karbon tetap, massa jenis 1,238 gr/cm3, laju pembakaran 0,007 gr/s, dan nilai kalor 6,132 kal/gr. Temuan biopellet dengan nilai kalor minimal 4.000 kal/gr memenuhi persyaratan SNI 8021:2014.
Co-Authors Abrar Muslim Adha, Muhammad Ikhwanul Adi Saputra Ismy Adi Setiawan Adrin, Prista Agam Muarif Agustinus Purna Irawan Ahmad Fikri Ahmad Fikri Ahmadi Ahmadi Aida Safitri Ainun, Sarifah Almia Permata Putri Amalia, Nabuia Amiratul Husna Amri Amri Ananda Monarita Ananda, Aldila Angga Tri Agusna PA Anggi Dwi Safitri Anggraini, Dea Riski Annisa Ramadina Anugrah Yunika Tambunan Ardiansyah, Zul Fadly Ari Irawan Ari Salahudin Arif Maulana Aulia, Rauzatul Authar, Mhammad Azhari Azhari Azhari Azhari Chairina Chairina Chatarina Umbul Wahyuni Cionita, Tezara Cut Milya Dahliana Abdullah Deasy Siska Desriani, Chintiara Devi, Sri Marlia Dewi Lestari Dinda Humaira Eddy Kurniawan Effendy, Ahmad Hidayat Eni Suryani Etanto Heiliano Wijayanto Fachry Abda El Rahman Fadhli Syamsudin Fahirul Muhar Faisal . Faisal Faisal Faisal Faisal Faisal Faisal Faisal Faisal Farah Irda Farid Yoanda Fatnia, Fatnia Faturrahman, Muhammad Feni Lestari Berutu Fibarzi, Wiza Ulfa Firda, Hanisyah Fitriani Fitriani Fitriani Fitriani Fitriyana, Deni Fajar Gunawati Gunawati Hadi, Agung Efriyo Halimatus Sakdiah Hanif, Hanif Harahap, Nurul Aulia Hendi Setiawan Holila, Manna Husni Husin Ibrahim, Ishak Ilhami, Gita Ayu Imran, Al Ichlas Indra Nofriadi Iqbal Kamar Ishak Ishak Ishak Ishak Jalaluddin Jalaluddin Jalaluddin Jalaluddin Jalalul Akbar, Said Jamiluddin, Jamiluddin Jannah, Rouzatul Janni, Miftahul Jasmani Jasmani Jullimursyida Junaedi, Thomas Kalatharan, Sujentheran Nair Kamar, Iqbal Khalsiah Khalsiah Kuniawan, Eddy Leni Maulinda, Leni Lidia Manik Lukman Hakim Lukman Hakim M Ali Anto M Riza Mahdayani Sinaga, Citra Puspita Maizuar Maizuar Masrullita Masrullita Masrullita Masrullita Masrullita, Masrullita Mat Rejab, Mohd Ruzaimi Mat Rejab, Mohd. Ruzaimi Mawardati Mawardati Medyan Riza Medyan Riza Melan Amanah, Ananda Meriatna Meriatna Milarahma Yulianti Mohd Ruzaimi Mat Rejab Muammar Khadafi Muhammad Abrar Muhammad Daud Muhammad Farhan Muhammad Ikhwanul Adha Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad nur Ichsan Tamiogy Muhammad Subhan Muhammad, Muhammad Muji Setiyo Muliadi Mulyawan, Rizka Muthawali, Dede Ibrahim Muthia Septiana Muthia Septiana, Muthia Mutia Reza Nabila Adhani Nainggolan, Yuni O Nasrul ZA Nasrul ZA, Nasrul Nasrun, Mahdalena Novi Sylvia Nur Annisa Nur rizqi Fattah Lubis Nurdiah, Ika Nurlaila, Rizka Nurmazaya, Vini Nurul Khumaida Oktaviani oktaviani Pane, Nurul Anisa Prayogo, Wisnu Putri, Balqis Eka putri, intan nanda Putri, Melani Annisa Rafika Rafika Rahayu Retnowulan, Sri Rahmi Rahmi Rahmi, Delfi Ramadhan, Cindia Ramdhani, Nevia Arbi Ratna Sari Raudhatul Ulfa Reci Anggraini Retnowulan, Sri Rahayu Ridwandi Rizka Mulyawan Rizka Mulyawan Rizka Mulyawan Rizka Mulyawan Rizka Nurlaila Rizkya Faradaiza Rizqon Hasibuan Rouzatul Jannah Samsudin Anis Shintia Clarita Sigian, Zikri Husni Silitonga, Hanna Amaliah Siregar, Januar Parlaungan Siti Maulidya Salsabila Sry Rahmadani Sulhatun Sulhatun Suryati Suryati Syamsul Bahri Syamsul Bahri Syamsul Bahri Syarifah Yulisa Syurvani Else Putri Tarigan, Jhodi Okta Albiqho Tasya Maidayanti Teuku Rihayat Tezara Cionita Vania, Sherryl Veithzal Rivai Zainal Wijayanto, Etanto Heiliano Wisnu Prayogo Wiyani, Sri Wiza Ulfa Fibarzi Wusnah Wusnah, Wusnah Yani, Firda Tirta yanti, eva Yopi Aji Akbar Yulia Yulia Yunardi, Y Yuris Setyoadi Zahratun Mauliza Zainuddin Ginting Zikri Amarullah Surbakti Zulnazri Zulnazri, Z Zurrahmi, Zurrahmi