Claim Missing Document
Check
Articles

Nutrient content, fiber fractions, and rumen fermentation in vitro of mulato grass grown with different cutting age in lowland West Java, Indonesia Mayasari, Ph.D, Novi; Salman, Lia Budimulyati; Susilawati, Iin; Sandrawati, Apong; Ismiraj, Muhammad Rifqi; Firmansyah, Indra; Wulansari, Asri
Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran Vol 25, No 2 (2025): July
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v25i2.61097

Abstract

One of the major challenges in ruminant production in Indonesia is ensuring the availability of high-quality and adequate forage. Identifying forage varieties with good nutritive value that adapt well to local climate conditions is crucial. This study evaluated the nutrient composition, fiber fractions, and in vitro rumen fermentation of Mulato grass harvested at different cutting ages (30, 40, and 50 days) in the lowlands of West Java, Indonesia. The nutrient content, analyzed using proximate and fiber fraction analysis, showed no significant differences across cutting ages except for ash content, which was lower at 40 days. Mulato grass cut at 30 days had lower acid detergent fiber (ADF), neutral detergent fiber (NDF), acid detergent lignin (ADL), and hemicellulose levels, while its cellulose content was higher compared to grass cut at 40 or 50 days. Rumen fermentation results indicated that grass cut at 30 days had higher in vitro dry matter digestibility (IVDMD), organic matter digestibility (IVOMD), and total volatile fatty acids (TVFA). These findings suggest that Mulato grass harvested at 30 days offers better digestibility and rumen fermentation outcomes, making it a suitable forage choice for ruminants in the lowlands of West Java, Indonesia.
PENGARUH PROSES ENSILASE TERHADAP KUALITAS FISIK DAN pH SILASE BUNGA TELANG (Clitoria ternatea) DENGAN PENAMBAHAN STARTER DAN CAMPURAN BAHAN PAKAN YANG BERBEDA : The Effect of the Ensiling Process on the Physical Quality and pH of Clitoria ternatea Silage with the Addition of Starter and Different Feed Ingredient Mixtures Lingga, Novita Samaria; Iin Susilawati; Yulianri Rizki Yanza; Muhammad Ariana Setiawan
Wahana Peternakan Vol. 9 No. 2 (2025): Wahana Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, University of Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v9i2.1894

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proses ensilase terhadap kualitas fisik dan pH silase Bunga telang (Clitoria ternatea) dengan penambahan starter dan bahan pakan yang berbeda. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan Rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 perlakuan dan 4 ulangan yaitu P1 = Clitoria ternatea 100% + 0% Starter ; P2 = Clitoria ternatea 100% + 4% Starter; P3 = Clitoria ternatea 50% + Tebon Jagung 50% + 0% Starter; P4 = Clitoria ternatea 50% + Ampas tahu 50% + 0% Starter; P5 = Clitoria ternatea 50% + Tebon Jagung 50% + 4% Starter; P6 = Clitoria ternatea 50% + Ampas tahu 50% + 4% Starter. Variabel yang diamati adalah warna, aroma, tekstur, dan ada tidaknya jamur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap perlakuan penambahan tebon jagung, ampas tahu dan starter (EM4) memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap warna, aroma, tekstur, keberadaan jamur dan pH. Silase yang dihasilkan dengan penambahan tebon jagung dan starter (P3 dan P5) menunjukkan kualitas fisik yang lebih baik dibandingkan silase dengan penambahan ampas tahu (P4 dan P6). Sementara itu, pH silase yang baik diperoleh dari seluruh perlakuan, dengan P6 menghasilkan nilai pH terendah. Dengan demikian, terbukti bahwa penambahan campuran bahan pakan tebon jagung 50% dan starter 4% (P5) menghasilkan kualitas fisik dan pH silase terbaik.   Kata kunci: Bunga telang (Clitoria ternatea), silase, pH, kualitas fisik
KECERNAAN DAN FERMENTABILITAS IN VITRO RUMEN PADA RANSUM YANG MENGANDUNG KULIT MANGGA Triana, Mega Eva; Susilawati, Iin; Tanuwiria, Ujang Hidayat
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 13 No 2 (2025): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2025.13.2.102-110

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kulit mangga (Mangifera indica L.) dalam ransum terhadap kecernaan dan fermentabilitas pakan dalam rumen domba secara in vitro. Percobaan dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan terdiri dari R0 (60% rumput + 40% konsentrat), R1 (10% kulit mangga + 50% rumput + 40% konsentrat), R2 (20% kulit mangga + 40% rumput + 40% konsentrat), R3 (30% kulit mangga + 30% rumput + 40% konsentrat), dan R4 (40% kulit mangga + 20% rumput + 40% konsentrat). Variabel yang diamati meliputi kecernaan bahan kering dan bahan organik, produksi volatile fatty acids (VFA), dan konsentrasi amonia (NH3). Analisis data menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan Uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kulit mangga dalam ransum memiliki pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik, produksi volatile fatty acids (VFA), dan konsentrasi amonia (NH3). Peningkatan proporsi kulit mangga dalam ransum meningkatkan nilai kecernaan bahan kering dari 54,70% (R0) menjadi 61,66% (R4) dan kecernaan bahan organik dari 67,22% (R0) menjadi 74,29% (R4). Konsentrasi VFA menunjukkan peningkatan signifikan dengan nilai tertinggi pada perlakuan R4 sebesar 187,26 mM, sementara konsentrasi NH3 mnurun namun tetap berada dalam kisaran optimal untuk pertumbuhan mikroba rumen (5,49-8,88 mM). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kulit manga berpotensi sebagai bahan pakan alternatif yang dapat dimanfaatkan hingga level 40% dalam ransum. ABSTRACT This study was conducted to evaluate the effects of mango peel (Mangifera indica L.) incorporation in rations on digestibility and fermentability parameters in the sheep rumen using an in vitro method. The experiment employed a Completely Randomized Design with five treatments and five replications. Treatment formulations consisted of R0 (60% grass + 40% concentrate), R1 (10% mango peel + 50% grass + 40% concentrate), R2 (20% mango peel + 40% grass + 40% concentrate), R3 (30% mango peel + 30% grass + 40% concentrate), and R4 (40% mango peel + 20% grass + 40% concentrate). Variables observed included dry matter and organic digestibility, volatile fatty acids (VFA) production, and ammonia (NH3) concentration. Data were analyzed using Analysis of Variance, followed by Duncan's Multiple Range Test for treatments showing significant differences. Results demonstrated that mango peel supplementation had significant effects (P<0,05) on all measured parameters. Progressive increases in mango peel proportion systematically improved dry matter digestibility from 54,70% (R0) to 61,66% (R4) and organic matter digestibility from 67,22% (R0) to 74,29% (R4). VFA concentration exhibited significant enhancement with the highest value recorded in treatment R4 at 187,26 mM, while NH3 concentration decreased but remained within the optimal range for rumen microbial proliferation (5,49-8,88 mM). These findings suggest that mango peel shows considerable potential as an alternative feed ingredient that can be effectively incorporated up to 40% level in ruminant rations.
Analisis Bibliometrik Perkembangan Penelitian Kudzu Berbasis VOSviewer Krisna, Krisna; Fidriyanto, Rusli; Susilawati, Iin; Rizki Yanza, Yulianri
Journal of Comprehensive Science Vol. 4 No. 8 (2025): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v4i8.3519

Abstract

Kudzu (Pueraria montana) merupakan tanaman yang memiliki nilai penting di bidang pertanian, kesehatan, dan lingkungan, namun juga dikenal sebagai spesies invasif di beberapa wilayah. Meskipun potensinya besar, perkembangan riset mengenai kudzu masih perlu dipetakan secara komprehensif untuk mengidentifikasi tren dan kolaborasi penelitian terkini. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai aplikasi kudzu dalam berbagai bidang, baik untuk pengobatan tradisional, farmasi, maupun sebagai sumber energi terbarukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan bibliometrik dengan menganalisis data publikasi terkait kudzu dari database Scopus periode 2020–2024. Analisis dilakukan melalui pemetaan coauthorship penulis dan negara, co-occurrence author keywords, citation mapping, serta bibliographic coupling pada tingkat dokumen dan penulis. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan signifikan jumlah publikasi tentang kudzu dalam periode tersebut. China dan Amerika Serikat tercatat sebagai negara paling produktif dan kolaboratif dalam riset kudzu. Penulis seperti Zhu Weifeng dan Guan Yongmei menempati posisi sentral dalam jaringan kolaborasi global. Tema penelitian yang dominan meliputi fitokimia, manfaat kesehatan, aplikasi bioteknologi, serta isu ekologi terkait invasi kudzu. Visualisasi co-occurrence author keywords mengindikasikan integrasi multidisipliner antara bidang biokimia, ekologi, dan teknologi pangan. Analisis citation mapping dan bibliographic coupling berhasil mengidentifikasi dokumen serta penulis kunci yang menjadi fondasi perkembangan pengetahuan kudzu. Studi ini menyoroti pentingnya kolaborasi internasional dan lintas disiplin dalam mempercepat inovasi serta mengarahkan penelitian kudzu ke arah yang lebih strategis dan berkelanjutan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti dan pembuat kebijakan dalam mengidentifikasi tren, peluang kolaborasi, serta arah pengembangan riset kudzu di masa depan.  
Application of the DNA Molecular Markers RM20A and RM241 on King Grass (Pennisetum purpuphoides) and Dwarf Elephant Grass (Pennisetum pupureum cv. Mott) Islami, Romi Zamhir; Ari Zindhi, Muhammad Amrullah; Mansyur; Susilawati, Iin
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan Vol. 34 No. 2 (2024): August 2024
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiip.2024.034.02.15

Abstract

Feed, as the main element that provides livestock nutrition, is composed of two components, namely, concentrate and forage. Examples of commonly used forages are king grass and dwarf elephant grass. These grasses are very familiar among farmers because they have good crude protein (CP) content; specifically, the CP content of king grass is 13,50% (Siswanto et al., 2016), and the CP content of dwarf elephant grass is 14,35% (Erleli, 2020). Forage production can be disrupted by weather factors. In the dry season, the production of king grass and dwarf elephant grass decreases by 50%. As a result, there is a forage crisis in the dry season. To overcome this, genetic improvement of king grass and dwarf elephant grass is possible. Previous research has succeeded in finding primers RM20A and RM241, each of which can lead to new traits in rice plants, namely, leaf rolling and plant height. This primer can be applied to king grass and dwarf elephant grass to increase the production potential of these plants and increase plant resistance in the dry season. This research uses the PCR technique to amplify primers from the template DNA of king grass and dwarf elephant grass. Optimization was carried out via several procedures due to species differences among rice, king grass and dwarf elephant grass. The results revealed that the RM241 primer could not be amplified at all in king grass plants and was amplified only in dwarf elephant grass. Moreover, the RM20A primer produced better results, where amplification could occur in both plants. This may be due to several factors, such as the condition of the DNA template, the condition of the materials and the possibility of human error. Amplification of the two primers also revealed that they were polymorphic, indicating that these two primers could not accurately amplify SSRs in king grass and dwarf elephant grass. This also causes many smears in the visualization of the PCR results. Overall, this research was able to determine the plant height and leaf rolling characteristics of king grass and dwarf elephant grass.
Kajian biosintesis dan akumulasi beta-karoten pada tanaman makanan ternak serta implikasinya terhadap kualitas nutrisi hijauan Syafiradewi Yulianti; Mansyur; Iin Susilawati
Agrivet : Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian dan Peternakan (Journal of Agricultural Sciences and Veteriner) Vol. 14 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/agrivet.v14i1.18959

Abstract

Beta-carotene is the primary provitamin A carotenoid and natural antioxidant in forage plants, yet its biosynthesis and accumulation in tropical forages remain insufficiently characterised. This review systematically examined the biosynthetic pathways, regulatory factors, and nutritional implications of beta-carotene in forage plants using 45 peer-reviewed articles selected through a PRISMA-adapted protocol. Beta-carotene biosynthesis proceeds via the plastidial MEP pathway, with phytoene synthase (PSY) and lycopene beta-cyclase (LCYB) as principal regulatory enzymes. Accumulation varies substantially across forage species and is governed by harvest age, light intensity, temperature, and post-harvest management, with silage conserving up to 75–85% of initial beta-carotene content compared with losses of 70–90% during hay-making. In ruminants, an estimated 20–70% of ingested beta-carotene survives ruminal degradation (Wyss, 2020; Nozière et al., 2021; Calderón et al., 2020) and is subsequently absorbed and converted to vitamin A, supporting reproductive performance, immune function, and milk quality. Tropical legumes such as Leucaena leucocephala and Stylosanthes guianensis are rich beta-carotene sources, whereas data for Indonesian-specific cultivars of Napier grass, gamal (Gliricidia sepium), and indigofera (Indigofera zollingeriana) remain scarce. Strategic forage selection, optimised harvest intervals, and targeted supplementation are recommended to maximise beta-carotene delivery to ruminants under tropical conditions.
Eksplorasi fitogenik daun kari Murraya koenigii L. Spreng sebagai pakan fungsional berkelanjutan: kajian literatur Nyimas Popi Indriani; Iin Susilawati; Lizah Khairani; Mansyur; Romi Zamhir Islami
Agrivet : Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian dan Peternakan (Journal of Agricultural Sciences and Veteriner) Vol. 14 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/agrivet.v14i1.18988

Abstract

Curry leaf plant (Murraya koenigii) is an aromatic plant from the Rutaceae family found widely in South and Southeast Asia. Used as a culinary spice, curry leaves have great potential as phytogenics (bioactive compounds), natural plant-based used in animal feed to improve health and productivity. The use of phytogenics is a safer alternative to antibiotic growth promoters (AGPs) because it can reduce the risk of microbial resistance and drug residues in livestock products. Bioactive compounds in curry leaves include carbazole alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, phenolics, terpenoids, and essential oils, which act as antioxidants, antimicrobials, anti-inflammatories, immunomodulators, and metabolic promoters. Phytochemical analysis shows that alkaloids are dominant, accompanied by flavonoids, saponins, phenolics, and tannins, which contribute to their biological activity. Curry leaf extracts and powder help control pathogenic microflora in livestock digestive tract and reduce the risk of infection. Curry leaves can also suppress inflammation and boost the immune system by increasing antioxidant capacity and reducing oxidative stress. From a sustainability perspective, curry plants are easy to cultivate in tropical regions, can be harvested repeatedly, and have a relatively low environmental impact. However, further research is needed on optimal dosage, long-term safety, molecular mechanisms of action, and the standardization of ingredient quality and regulatory standards for their use as feed additives. In general, the curry leaves are a local phytogenic resource with multifunctional activities, potentially improving livestock health and productivity, and supporting sustainable and environmentally friendly livestock systems.
Pengaruh Level Konsorsium Mikroba terhadap Kandungan ADF, NDF, Selulosa, Hemiselulosa dan Lignin Jerami Jagung Kering Terfermentasi untuk Pakan Ruminansia Ika Sri hartati; Iman Hernaman; Iin Susilawati
COMPOSITE : Jurnal Ilmu Pertanian Vol. 8 No. 2 (2026): Juli
Publisher : University of Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh level konsorsium mikroba (EM4) terhadap kandungan ADF, NDF, selulosa, hemiselulosa, dan lignin pada jerami jagung kering hasil fermentasi anaerob. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas tiga perlakuan, yaitu P0 (0% EM4), P1 (5% EM4), dan P2 (10% EM4). Parameter yang diamati meliputi kandungan ADF, NDF, selulosa, hemiselulosa, dan lignin setelah fermentasi. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa peningkatan level EM4 berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap penurunan kandungan ADF, NDF, selulosa, dan lignin, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap hemiselulosa. Perlakuan P2 menghasilkan nilai terbaik dengan kandungan ADF 40,08%, NDF 59,00%, selulosa 37,01%, hemiselulosa 18,91%, dan lignin 3,08%. Disimpulkan bahwa penggunaan EM4 pada level 10% efektif menurunkan fraksi serat utama penyusun dinding sel sehingga berpotensi meningkatkan kualitas nutrisi jerami jagung kering sebagai pakan ruminansia.
PENGARUH IMBANGAN TEBON JAGUNG DAN KALIANDRA MERAH TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK, NILAI FLEIGH DAN PERUBAHAN BAHAN KERING SILASE CHANIAGO, LASYA ANANDA PUTRI; Susilawati, Iin; Tanuwiria, U Hidayat
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis dan Ilmu Pakan Vol 7, No 4 (2025)
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jnttip.v7i4.69678

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh imbangan tebon jagung dan kaliandra merah terhadap karakteristik fisik, nilai Fleigh, dan perubahan bahan kering silase. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan, yaitu P1 P1 (90% tebon jagung + 10% kaliandra merah), P2 (80% tebon jagung + 20% kaliandra merah), P3 (70% tebon jagung + 30% kaliandra merah), dan P4 (60% tebon jagung + 40% kaliandra merah). Data dianalisis menggunakan uji statistik analisis ragam (ANOVA) dan uji jarak berganda Duncan. Peubah yang diamati meliputi warna, aroma, tekstur, rasa, nilai Fleigh, serta perubahan bahan kering silase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan tebon jagung dan kaliandra merah berpengaruh nyata terhadap warna, rasa, dan nilai Fleigh silase (p < 0,05), namun tidak berpengaruh nyata terhadap aroma, tekstur, dan perubahan bahan kering silase (p > 0,05). Perlakuan terbaik diperoleh pada P2 (80% tebon jagung + 20% kaliandra merah) dengan rataan nilai Fleigh sebesar 106,31 dan karakteristik fisik yang baik (warna kecoklatan, aroma asam segar, dan tekstur lembut). Dapat disimpulkan bahwa kombinasi 80% tebon jagung dan 20% kaliandra merah menghasilkan kualitas silase terbaik.
Co-Authors A. A. Tarmidi Alamsyari . Alifah, Nabiilah Nur An An Nurmeidiansyah Ana Rochana Ana Rochana Tarmidi Ana Rochana, Ana Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Andi Mushawwir Anies Nuraeni Apong Sandrawati Apong Sandrawati Ari Zindhi, Muhammad Amrullah Asri Wulansari, Asri Bambang K Mutaqin Bambang Kholiq Mutaqin Bambang Kholiq Mutaqin Bambang Kholiq Mutaqin Budi Ayuningsih Budi Ayuningsih CHANIAGO, LASYA ANANDA PUTRI Dedeh Hudaya Arif Deden Zamzam Badruzzaman Denie Heriyadi Deny Saefulhadjar Didah Maidah Didin S Tasripin Didin Supriat Tasripin Didin Supriat Tasripin Didin Tasripin Diky Ramdani dudi, dudi Edianingsih, Primiani Efendi, Aprilianti Nur Ellin Harlia Eulis Tanti Marlina Ferdy Firmansyah Fidriyanto, Rusli Furqon Assalam Gina Salma Alghaniya Gumilar, Najwa Hegyra Hariyanti, Karsi Harun Djuned Herryawan Kemal Mustafa Herryawan Kemal Mustafa Herryawan Kemal Mustofa Heryawan Kemal Mustafa Hidayati Hidayati Ika Sri hartati Iman Hernaman Indiriani, Nyimas Popi Indra Firmansyah Irfan Dwi Aditya Ismiraj, Muhammad Rifqi Ken Ratu Gharizah Alhuur Kiki Rizqy Supriyadi Krisna, Krisna Lia Budimulyati Salman Lingga, Novita Samaria Lizah Khairani Lizah Khairani Mahfud Arifin Mansyur Mansyur Mansyur - Mansyur . Mansyur Mansyur Mansyur Mansyur Mansyur Mansyur Martina Tri Puspita Sari Mayasari, Ph.D, Novi Muhamad - Ramdhan Muhammad Ariana Setiawan Muhammad Rifqi Ismiraj Muhammad Rifqi Ismiraj Mushawir, Andi Mutaqin, Bambang Kholiq n N. Indriani Nena Hilmia Nina Uliyah Nisa Husnul Azizah Novi Mayasari Nurwildan, Shafa Nabila nyimas popi indriani Nyimas Popi Indriani Nyimas Popi Indriani Nyimas Popi Indriani Pangestu, Muhammad Syahid Panji Rahman, Salwa Rabbani Rahmanosa, Elvia Rija Sudirja Rini Widyastuti Romi Zamhir Romi Zamhir Islami Romi Zamhir Islami Romi Zamhir Islami Romi Zamhir Islami Sandrawati, Apong Sari Suryanah Sari Suryanah Setiawan, Muhammad Ariana Syafiradewi Yulianti Syifa Nurjannah, Syifa Tidi Dhalika Toni Pramulyandi Triana, Mega Eva Triputra, Kustiawan U Hidayat Tanuwiria Ujang Hidayat Tanuwiria Ujang Hidayat Tanuwiria1 Usamah, Arkan Wendry Setiyadi Putranto Yulianri Rizki Yanza Zahra Khairun Nisa Zain, Muhammad Fahmy Fachrul