Pendidikan inklusif menuntut adanya penguatan karakter toleransi pada siswa dalam menghadapi keberagaman, khususnya terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK) di lingkungan dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi penguatan karakter toleransu siiswa terhadap anak berkebutuhan khusus berbasis budaya sekolah di SD Negeri Tenggulunan. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif deskriptif dengan melibatkan tiga kelompok informan yaitu guru kelas 4, siswa berkebutuhan khusus, dan siswa reguler di SD Negeri Tenggulunan. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara terstruktur, dan dokumentasi, kemudian divalidasi menggunakan triangulasi sumber. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa pembentukan karakter toleransi ditanamkan melalui empat strategi utama, Pertama pembiasaan 6S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun, dan Silaturrahmi), kedua internalisasi nilai kearifan local, ketiga pelaksanaan program PPKSP, yang terakhir penciptaan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif. Selain itu, keteladanan guru, Kerjasama dalam kelompokheterogen, serta interaksi sosial yang positis berperan dalam menumbuhkan sikap empati, saling menghargai, dan penerimaan terhadap perbedaan diantara siswa. Penguatan karakter toleransi terbukti lebih efektif apabila dilakukan secara holistic melalui pembiasaan pengalaman langsung, dan budaya sekolah yang konsisten.