Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Management of Abdominal Management of abdominal Typhoid in a 22 years old women without regular diet and lack of PHBS knowladge. especially washing hands before eating: Typoid fever, PHBS and Diet Dewi, Tri Agustina; Lisiswanti, Rika
Medula Vol 16 No 2 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i2.1750

Abstract

Typhoid fever is a potentially fatal multisystem infectious disease that remains a significant public health problem in Indonesia, particularly in areas with poor sanitation and inadequate implementation of clean and healthy living behavior (PHBS). We report a case of a 22-year-old woman who presented with continuous fever for approximately three days prior to admission, worsening in the afternoon and evening, accompanied by chills, headache, dizziness, nausea, vomiting, epigastric pain, and constipation. The patient had a history of irregular dietary habits, frequent consumption of street food, and poor hand hygiene practices, especially failure to wash hands before meals. Physical examination revealed a coated tongue and epigastric tenderness, while laboratory findings showed a Widal O titer of 1/320 supporting the diagnosis of abdominal typhoid fever. The patient was managed with chloramphenicol, antipyretics, intravenous fluids, bed rest, and a low-fiber diet, along with comprehensive education regarding PHBS implementation, particularly proper handwashing and regular dietary patterns. This case highlights that irregular eating habits and inadequate knowledge and practice of PHBS play an important role in the occurrence of abdominal typhoid fever, emphasizing the need for comprehensive management combining medical therapy and health behavior education to prevent recurrence and disease transmission.
Remediasi Pencapaian Mahasiswa di Pendidikan Kedokteran: Rika Lisiswanti, Oktafany, Dewi Rusnita, Selfi Renita Rusdi, Rizki Anisa Lisiswanti, Rika
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 2 (2025): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i2.pp232-237

Abstract

Setiap institusi pendidikan akan dihadapkan dengan adanya mahasiswa yang belum mencapai standar pendidikan yang sudah ditetapkan. Mahasiswa pencapaian rendah saat awal pendidikan menentukan keberhasilan mahasiswa untuk tahap selanjutnya sehingga diperlukan remediasi untuk mendukung mahasiswa mencapai standar yang sudah ditetapkan tersebut. Berbagai metode remediasi diusulkan oleh para ahli pendidikan. Metode yang digunakan antara lain dengan refleksi, keterampilan pembelajaran sepanjang hayat, identifikasi mahasiswa, professional development comitte, student support system dan sebagainya. Institusi pendidikan dapat mengembangkan metode remediasi berdasarkan kerangka konsep pendidikan yang sesuai.
DIFFERENCES IN BURNOUT AMONG NURSES WORKING IN OUTPATIENT, INPATIENT, AND EMERGENCY DEPARTMENT UNITS AT IMANUEL WAY HALIM HOSPITAL Evryna Sipahutar; Bayu Anggileo Pramesona; Septia Eva Lusina; Rika Lisiswanti
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Burnout among nurses varies across hospital units, with emotional exhaustion particularly higher in the emergency department due to acute workload. This study compared burnout rates among nurses in the outpatient, inpatient, and emergency departments of Imanuel Way Halim Hospital. Using a comparative cross-sectional design, 115 nurses were selected proportionally from a population of 161 through stratified random sampling. Burnout was measured using the Maslach Burnout Inventory-Human Services Survey (MBI-HSS; 22 items, three dimensions), analyzed using the Kruskal-Wallis test and post-hoc Bonferroni test after normality testing. Results showed a significant difference only in emotional exhaustion (H = 7.559, p = 0.023), with the highest score in ED nurses (mean = 41.00) versus inpatient (34.01) and outpatient (35.89); post-hoc analysis confirmed the inpatient-ER difference (p = 0.006). Depersonalization and personal accomplishment did not differ (p > 0.05). The conclusion emphasizes specific interventions for emotional exhaustion in the ED through staffing adjustments and psychosocial support, addressing unit-specific risks in Indonesian type B hospitals.
Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Kualitas Tidur Pada Mahasiswa Kedokteran Angkatan 2024 Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Widjaja, Jovan; Jovan Widjaja, Jovan Widjaja; Berawi, Khairun Nisa; Prabowo, Arif Yudho; Lisiswanti, Rika
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026) : Article i
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1074

Abstract

Pendahuluan: Aktivitas fisik diketahui memengaruhi kualitas tidur melalui pengaturan ritme sirkadian. Mahasiswa kedokteran mengalami penurunan aktivitas fisik karena tingginya beban akademik. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan aktivitas fisik dengan kualitas tidur pada mahasiswa angkatan 2024. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 192 mahasiswa angkatan 2024, dengan 142 responden yang diperoleh melalui perhitungan Lemeshow, koreksi populasi, dan tambahan 10% dropout. Pengambilan data dilakukan pada September–November 2025. Aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire Short Form (IPAQ-SF) dan kualitas tidur dinilai menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data dikumpulkan melalui kuesioner terstandar dan dianalisis secara univariat serta uji Chi-square dengan signifikansi 0,05. Hasil: Sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik sedang (46,5%). Kualitas tidur juga didominasi kategori baik, yaitu pada 52,1% responden. Analisis Chi-square menunjukkan adanya hubungan bermakna antara aktivitas fisik dan kualitas tidur (p = 0,041). Pembahasan: Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang lebih tinggi cenderung diikuti kualitas tidur yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan mekanisme fisiologis dimana aktivitas fisik membantu regulasi ritme sirkadian dan hormon tubuh, sehingga mendukung tidur yang lebih optimal. Simpulan: Aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan kualitas tidur, di mana tingkat aktivitas yang lebih tinggi menyebabkan kualitas tidur yang lebih baik
Peningkatan Peran Usaha Kesehatan Sekolah untuk Pencegahan Nomophobia di SMPN 30 Kecamatan Panjang Larasati, Ta; Lisiswanti, Rika; Hijami, Nurul 'Afifah
Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/ba-jpm.v6i1.3982

Abstract

Penggunaan smartphone yang semakin meluas di kalangan remaja menimbulkan risiko kesehatan mental, salah satunya adalah nomophobia, yaitu kecemasan berlebihan ketika jauh dari ponsel. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan fisik, psikologis, dan interaksi sosial siswa sehingga diperlukan upaya pencegahan melalui peran sekolah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang nomophobia melalui penyuluhan di SMPN 30 Kecamatan Panjang. Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest post test pada 30 siswa. Evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah penyuluhan untuk menilai perubahan pengetahuan terkait definisi, faktor risiko, dampak kesehatan, dan pencegahan nomophobia. Hasil menunjukkan rata-rata nilai pre-test sebesar 82,99% dan meningkat menjadi 84,33% pada post-test, dengan selisih 1,33%. Peningkatan terbesar terdapat pada aspek dampak kesehatan fisik (16,7%) dan cara pencegahan (13,3%). Beberapa aspek seperti faktor risiko dan dampak sosial mengalami penurunan kecil, namun secara keseluruhan penyuluhan mampu mempertahankan serta meningkatkan pemahaman siswa. enyuluhan berperan positif dalam memperluas pengetahuan siswa mengenai nomophobia, terutama pada dampak kesehatan fisik dan pencegahannya. Intervensi ini relevan untuk diintegrasikan dalam program Sekolah Sehat sebagai upaya promotif dan preventif terhadap permasalahan kesehatan mental akibat penggunaan smartphone berlebihan.