Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Remediasi Pencapaian Mahasiswa di Pendidikan Kedokteran: Rika Lisiswanti, Oktafany, Dewi Rusnita, Selfi Renita Rusdi, Rizki Anisa Lisiswanti, Rika
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 2 (2025): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i2.pp232-237

Abstract

Setiap institusi pendidikan akan dihadapkan dengan adanya mahasiswa yang belum mencapai standar pendidikan yang sudah ditetapkan. Mahasiswa pencapaian rendah saat awal pendidikan menentukan keberhasilan mahasiswa untuk tahap selanjutnya sehingga diperlukan remediasi untuk mendukung mahasiswa mencapai standar yang sudah ditetapkan tersebut. Berbagai metode remediasi diusulkan oleh para ahli pendidikan. Metode yang digunakan antara lain dengan refleksi, keterampilan pembelajaran sepanjang hayat, identifikasi mahasiswa, professional development comitte, student support system dan sebagainya. Institusi pendidikan dapat mengembangkan metode remediasi berdasarkan kerangka konsep pendidikan yang sesuai.
DIFFERENCES IN BURNOUT AMONG NURSES WORKING IN OUTPATIENT, INPATIENT, AND EMERGENCY DEPARTMENT UNITS AT IMANUEL WAY HALIM HOSPITAL Evryna Sipahutar; Bayu Anggileo Pramesona; Septia Eva Lusina; Rika Lisiswanti
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Burnout among nurses varies across hospital units, with emotional exhaustion particularly higher in the emergency department due to acute workload. This study compared burnout rates among nurses in the outpatient, inpatient, and emergency departments of Imanuel Way Halim Hospital. Using a comparative cross-sectional design, 115 nurses were selected proportionally from a population of 161 through stratified random sampling. Burnout was measured using the Maslach Burnout Inventory-Human Services Survey (MBI-HSS; 22 items, three dimensions), analyzed using the Kruskal-Wallis test and post-hoc Bonferroni test after normality testing. Results showed a significant difference only in emotional exhaustion (H = 7.559, p = 0.023), with the highest score in ED nurses (mean = 41.00) versus inpatient (34.01) and outpatient (35.89); post-hoc analysis confirmed the inpatient-ER difference (p = 0.006). Depersonalization and personal accomplishment did not differ (p > 0.05). The conclusion emphasizes specific interventions for emotional exhaustion in the ED through staffing adjustments and psychosocial support, addressing unit-specific risks in Indonesian type B hospitals.
Hubungan antara Pengetahuan dengan Perilaku Kesehatan Reproduksi pada Mahasiswi Nisrina Anindya Taufik; Suharmanto Suharmanto; Tetra Arya Saputra; Rika Lisiswanti
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 4 (2025): Journal of Language and Health: December 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mahasiswi pada masa transisi menghadapi berbagai perubahan yang menjadikan pengetahuan kesehatan reproduksi sangat penting. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengetahuan yang belum optimal masih berkaitan dengan munculnya perilaku reproduksi berisiko. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku kesehatan reproduksi pada mahasiswi Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional dan mengikutsertakan 109 mahasiswi yang terpilih melalui simple random sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner pengetahuan kesehatan reproduksi dan kuesioner perilaku kesehatan reproduksi yang telah valid dan reliabel, dengan nilai r=0,457 sampai dengan 0,875 dan alpha Cronbach 0,98. Analisis bivariat menggunakan uji Kruskal-Wallis. Penelitian menunjukkan bahwa 54,1% mahasiswi memiliki pengetahuan pada kategori sedang dan 87,2% memiliki perilaku kesehatan reproduksi baik, serta terdapat hubungan bermakna antara keduanya (p-value<0,001). Hal tersebut menunjukkan hubungan linear, semakin tinggi tingkat pengetahuan mahasiswi, semakin baik perilaku kesehatan reproduksinya.
Perspektif Stakeholder terhadap Kompetensi Dokter: Implikasi bagi Pengembangan Kurikulum Pendidikan Kedokteran: Rika Lisiswanti, Oktafany, Tri Umiana Soleha, Winda Trijayanthi Utama, Soraya Rahmanisa Rika Lisiswanti
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp159-166

Abstract

Latar Belakang: Analisis kebutuhan berbasis stakeholder merupakan langkah penting dalam pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan saat ini dan masa depan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi perspektif stakeholder mengenai kompetensi yang diperlukan oleh dokter serta implikasinya terhadap pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran. Metode: Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2025 dengan menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan metode Focus Group Discussion (FGD). Jumlah partisipan sebanyak 20 responden dibagi menjadi dua kelompok FGD. Partisipan terdiri atas stakeholder eksternal yang meliputi pengelola rumah sakit, dokter pendidik klinis, kepala puskesmas, perwakilan dinas kesehatan, pengelola program kesehatan, dan pengguna lulusan. Data dikumpulkan melalui FGD semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan pendekatan thematik. Hasil: Analisis menghasilkan lima tema utama kebutuhan pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran, yaitu: (1) Pembentukan identitas profesional yang mencakup etika, profesionalisme, karakter, motivasi, dan digital professionalism; (2) Soft Skills dan Komunikasi yang meliputi komunikasi dokter-pasien, komunikasi interprofesional, dan kolaborasi tim; (3) Kesiapan klinik dan penalaran klinis yang mencakup kesiapan praktik klinis, penalaran klinis, pengalaman klinis, dan supervisi; (4) Ilmu sistem kesehatan yang meliputi pemahaman sistem kesehatan, kebijakan kesehatan, regulasi janiman kesehatan, serta patient safety; dan (5) Kesehatan digital and literasi AI yang mencakup literasi kesehatan digital, pemanfaatan teknologi kesehatan, dan kompetensi kecerdasan buatan. Stakeholder juga menekankan pentingnya orientasi pelayanan kesehatan berbasis masyarakat serta kemampuan dalam menghadapi tantangan kesehatan di masa depan. Kesimpulan: Stakeholder mengharapkan kurikulum pendidikan kedokteran yang mampu menghasilkan dokter yang kompeten secara klinis, profesional dan beretika, komunikatif, memahami sistem kesehatan, berorientasi pada masyarakat, serta siap menghadapi transformasi digital.
Peran Identitas Profesional dalam Adaptasi Mahasiswa Kedokteran di Kepaniteraan Klinik: Tinjauan Literatur Aina Wijdan Chairunisa; Rika Lisiswanti; Septia Eva Lusina; Oktadoni Saputra
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 2 (2026): April: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i2.9855

Abstract

Pendidikan kedokteran tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan klinis tetapi juga pada aspek profesionalisme, salah satunya adalah identitas profesional sebagai dasar dalam menjalankan peran sebagai dokter. Identitas profesional berperan penting dalam membantu mahasiswa kedokteran beradaptasi dengan lingkungan kepaniteraan klinik yang kompleks dan penuh tuntutan. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengkaji peran identitas profesional dalam mendukung adaptasi mahasiswa kedokteran di lingkungan klinik. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur dengan menganalisis 20 artikel yang diperoleh melalui basis data Google Scholar dan PubMed dengan rentang publikasi tahun 2016–2025. Analisis dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan identitas profesional serta keterkaitannya dengan kemampuan adaptasi mahasiswa. Hasil kajian menunjukkan bahwa identitas profesional terbentuk melalui interaksi antara faktor individu, lingkungan pembelajaran klinik, pengalaman emosional, dan interaksi sosial. Identitas profesional yang berkembang secara optimal berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan adaptasi mahasiswa, termasuk dalam hal pengelolaan tekanan, kepercayaan diri, dan kemampuan berinteraksi dalam praktik klinik. Dengan demikian, pembentukan identitas profesional menjadi aspek penting dalam pendidikan kedokteran untuk mendukung kesiapan mahasiswa dalam menghadapi lingkungan klinik.
Hubungan Stres terhadap Kemampuan Refleksi Diri Mahasiswa Kepaniteraan Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Nandini Amerta Putri; Rika Lisiswanti; Laisa Azka; Merry Indah Sari
Gudang Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2026): GJIK - AGUSTUS
Publisher : PT. Gudang Pustaka Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/gjik.v4i2.2210

Abstract

Mahasiswa kepaniteraan klinik menghadapi tuntutan akademik dan klinis yang tinggi sehingga rentan mengalami stres yang berpotensi memengaruhi kemampuan refleksi diri sebagai keterampilan metakognitif penting dalam pendidikan kedokteran. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara tingkat stres dan kemampuan refleksi diri pada mahasiswa kepaniteraan klinik Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional yang melibatkan 82 mahasiswa kepaniteraan klinik yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Tingkat stres diukur menggunakan Medical Student Stressor Questionnaire (MSSQ) dan kemampuan refleksi diri diukur menggunakan Reflection-in-Learning Scale (RLS). Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Fisher-Freeman-Halton Exact Test. Hasil uji bivariat menunjukkan nilai p=0,302 yang menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat stres dan kemampuan refleksi diri pada mahasiswa kepaniteraan klinik. Faktor lain seperti mekanisme koping, dukungan sosial, dan pengalaman klinis perlu dipertimbangkan pada penelitian selanjutnya.
Peningkatan Peran Usaha Kesehatan Sekolah untuk Pencegahan Nomophobia di SMPN 30 Kecamatan Panjang Ta Larasati; Rika Lisiswanti; Nurul &#039;Afifah Hijami
Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/ba-jpm.v6i1.3982

Abstract

Penggunaan smartphone yang semakin meluas di kalangan remaja menimbulkan risiko kesehatan mental, salah satunya adalah nomophobia, yaitu kecemasan berlebihan ketika jauh dari ponsel. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan fisik, psikologis, dan interaksi sosial siswa sehingga diperlukan upaya pencegahan melalui peran sekolah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang nomophobia melalui penyuluhan di SMPN 30 Kecamatan Panjang. Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest post test pada 30 siswa. Evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah penyuluhan untuk menilai perubahan pengetahuan terkait definisi, faktor risiko, dampak kesehatan, dan pencegahan nomophobia. Hasil menunjukkan rata-rata nilai pre-test sebesar 82,99% dan meningkat menjadi 84,33% pada post-test, dengan selisih 1,33%. Peningkatan terbesar terdapat pada aspek dampak kesehatan fisik (16,7%) dan cara pencegahan (13,3%). Beberapa aspek seperti faktor risiko dan dampak sosial mengalami penurunan kecil, namun secara keseluruhan penyuluhan mampu mempertahankan serta meningkatkan pemahaman siswa. enyuluhan berperan positif dalam memperluas pengetahuan siswa mengenai nomophobia, terutama pada dampak kesehatan fisik dan pencegahannya. Intervensi ini relevan untuk diintegrasikan dalam program Sekolah Sehat sebagai upaya promotif dan preventif terhadap permasalahan kesehatan mental akibat penggunaan smartphone berlebihan.
Stress Kerja pada Perawat di Rumah Sakit Fairuz Khanza Amalia; Fitria Saftarina; Putri Damayanti; Rika Lisiswanti
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2026): Maret : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v6i1.9647

Abstract

Work-related stress among nurses is a critical issue in modern healthcare, directly affecting patient safety, quality of care, and the well-being of nursing personnel. Work-related stress emerges from organizational factors such as high workload, unbalanced nurse-to-patient ratios, understaffing, and increased administrative demands. Operational stressors including night shifts, rapid rotations, and long working hours further intensify stress through disruptions in sleep patterns and circadian rhythms. Psychosocial pressures, such as constant exposure to critically ill patients, clinical trauma, death, and workplace violence add substantial emotional burden. Global studies consistently report high prevalence of moderate to severe stress among nurses. The impacts include emotional exhaustion, anxiety, depression, burnout, sleep disturbances, reduced immunity, and heightened clinical errors. Effective stress management requires comprehensive interventions at organizational, individual, and policy levels. Structural improvements, personal resilience training, and strong regulatory frameworks for healthcare worker protection are essential to build a safe, healthy, and sustainable work environment. Through an integrated approach, nurse stress management can enhance healthcare quality while ensuring the resilience of the broader health system.