Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PERBANDINGAN METODE PCA (PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS) DAN INDEKS MINERAL LEMPUNG UNTUK PEMODELAN SEBARAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK TANAH MENGGUNAKAN CITRA SATELIT LANDSAT DI KABUPATEN KENDAL Nailatul Muna; Yudo Prasetyo; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.402 KB)

Abstract

ABSTRAK Tanah yang baik merupakan tanah yang subur, yang dapat ditanami berbagai macam tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tanah yang subur kaya akan unsur hara di dalamnya, salah satunya yaitu bahan organik. Bahan organik merupakan unsur yang dapat mengindikasikan kesuburan tanah. Oleh karena itu informasi tentang kandungan bahan organik suatu tanah sangat penting untuk diketahui terutama oleh masyarakat yang berada di sektor pertanian agar dapat meningkatkan produktivitas pertanianya.Dengan menggunakan sistem pengindraan jauh dapat diperoleh hasil dengan cakupan area yang luas dengan tidak membutuhkan waktu, tenaga dan biaya cukup banyak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear antara transformasi PCA, indeks mineral lempung dan kelerengan dengan data analisis kandungan bahan organik di lapangan, sebagai faktor indikasi adanya kandungan bahan organik dalam tanah untuk mendapatkan model terbaik antara metode PCA dan indeks mineral lempung dengan nilai Standard error Estimate  (SEE) yang kecil, serta ketelitian model jika dibandingkan dengan hasil laboratorium.Hasil dari penelitian ini adalah suatu bentuk pemodelan statistik yaitu – 29,099 + 22,969 X1 + 0,937 X2, dimana X1 merupakan indeks mineral lempung dan X2 merupakan kelerengan, dengan tingkat akurasi sebesar 72,2% berdasarkan matriks konfusi antara hasil laboratorium dan hasil pengolahan. Persebaran kandungan bahan organik didominasi oleh kelas sangat tinggi yaitu sebesar 74,5 % seluas 75642,429 Ha yang berada di Kecamatan Weleri, Ringinarum, Pegandon, Kaliwungu Selatan, Boja, Limbangan, Singorojo, Patean, Sukorejo, Plantungan dan Pagerruyung. Kata Kunci : Bahan organik, Indeks mineral lempung, PCA, Penginderaan jauh, Regresi  ABSTRACT Good soil is fertile soil, which can be planted with a variety of plants to meet human needs. Fertile soil is rich in nutrients, one of which is organic material. Organic matter is an element that can indicate soil fertility. Therefore information about the organic matter content of a soil is very important to be known especially by people who are in the agricultural sector in order to increase agricultural productivity.By using a remote sensing system results can be obtained with a wide area coverage without requiring considerable time, effort and cost. The method used in this study is a linear regression between PCA transformation, clay mineral index and slope with data analysis of organic matter content in the field, as an indication factor for the presence of organic matter content in the soil to get the best model between PCA method and clay mineral index with Standard values small Estimate error (SEE), and model accuracy when compared with laboratory results.The results of this study are a form of statistical modeling namely – 29,099 + 22,969 X1 + 0,937 X2, where X1 is the clay mineral index and X2 is slope, with an accuracy rate of 72.2% based on a confusion matrix between laboratory results and processing results. The distribution of organic matter content is dominated by a very high class of 74.5% covering an area of 75642,429 hectares in Weleri, Ringinarum, Pegandon, South Kaliwungu, Boja, Limbangan, Singorojo, Patean, Sukorejo, Plantungan and Pagerruyung Districts.Keywords: clay mineral index, organic matter, PCA, regression, remote sensing
VISUALISASI PETA FASILITAS UMUM KELURAHAN SUMURBOTO DENGAN ARCGIS ONLINE Muhammad Agam Cakra Donya; Bandi Sasmito; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSumurboto merupakan kelurahan di Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, provinsi Jawa Tengah dengan luas 1.70 km2. Kelurahan Sumurboto merupakan salah satu tempat strategis yang sering dilewati baik mahasiswa dan penduduk sekitar. Untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi fasilitas umum di Kelurahan Sumurboto, maka diperlukan aplikasi web berbasis SIG. Aplikasi SIG berbasis web atau Web GIS merupakan sebuah sistem kompleks yang memiliki akses internet, yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, mengintegrasi, memanipulasi, dan menampilkan data yang mengidentifikasikan lokasi objek tanpa adanya kebutuhan penggunaan software SIG. ArcGIS Online merupaan salah satu  platform teknologi yang kolaboratif dan berbasis cloud yang membantu pengguna dan organisasi penggunanya dalam menciptakan, berbagi, dan mengakses peta, aplikasi, dan data. ArcGIS Online memfasilitasi penerjemahan data statis menjadi peta yang berguna, bernilai, dan pintar. Data hasil survei toponimi kelurahan Sumurboto pada penelitian ini akan dikonversikan menjadi data shp melalui ArcGIS, yang kemudian dikonversikan kembali menjadi data zip file, data zip file tersebut akan di unggah ke ArcGIS Online dimana data yang telah dimasukkan sebagai hosted layer dapat disimpan, diubah, dibagi, dan diperbaharui sesuai dengan meningkatnya kebutuhan akan informasi. Mengkolaborasikan antara ArcGIS Online dengan Cloud Based Web Creator Wix, penelitian ini akan menghasilkan sebuah website yang didalamnya terdapat aplikasi Peta Fasilitias Umum Kelurahan Sumurboto yang dapat diakses melalui halaman website https://agamfpl.wixsite.com/fasumsumurboto. Uji tampilan dan kebergunaan dari aplikasi peta menyimpulkan bahwa penilaian kebergunaan atau fungsi aplikasi peta yang dibuat adalah “Baik”. Uji kebergunaan akan mejadi acuan untuk memperbaharui aplikasi peta berdasarkan saran, kritik, dan komentar yang masuk dari pengguna internet luas. Kata Kunci : ArcGIS, ArcGIS Online, Fasilitas Umum, Sumurboto, WebGIS ABSTRACTSumurboto is a village in the Banyumanik District, Semarang City, Central Java province with an area of 1.70 km2, is one of the strategic places that are often passed by both students and residents around . To make it easier for the public to access information of public facilities in Sumurboto Village, a GIS-based web application is needed. Web-based GIS application or Web GIS is a complex system that has internet access, which is used to collect, store, integrate, manipulate, and display data that identifies the location of objects without the need for GIS software. ArcGIS Online is a collaborative and cloud-based technology platform that helps users and their user organizations create, share and access maps, applications and data. ArcGIS Online facilitates the translation of static data into useful, valuable, and smart maps. Data from the toponimi survey of Sumurboto Village in this study will be converted into shp data through ArcGIS, which is then converted into a zip file data, the zip file data will be uploaded to ArcGIS Online where data will be entered as the hosted layer can be saved, modified, divided, and updated according to the needs for information. With collaborating between ArcGIS Online and Wix's Cloud Based Web Creator, this research will produce a website in which provide an information of an Map Application of the Public Facilities of Sumurboto Village which can be accessed at https://agamfpl.wixsite.com/fasumsumurboto. As for the test display and usability of the map application concludes that the assessment of the usability or function of the map application made is "Good". Usability testing will be a reference for the update of the map application based on suggestions, criticisms, and comments coming from wide internet users. Keywords: ArcGIS, ArcGIS Online, Public Facilities, Sumurboto, WebGIS
PEMETAAN SEDIMEN PERAIRAN DANGKAL MENGGUNAKAN DATA MULTIBEAM ECHOSOUNDER (STUDI KASUS: PANTAI KARTINI, JEPARA) Aulia Hafizh; Bandi Sasmito; Moehammad Awwaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSedimen merupakan hal penting untuk mengetahui dinamika yang terjadi di kawasan pesisir dimana morfologi pesisir dapat berubah akibat adanya persebaran sedimen. Aktifitas yang terjadi di pesisir pantai dapat mempengaruhi sebaran ukuran butir sedimen seperti pelayaran, pengerukan dan pembangunan terutama pada Kawasan Pantai Kartini, Jepara. Adanya pelabuhan penyebrangan serta objek destinasi wisata menjadi salah satu dasar tujuan penelitian untuk mengetahui bentuk topografi dan sebaran sedimen wilayah tersebut. Penggunaan alat multibeam echosounder untuk mengetahui kedalaman dan bentuk dasar perairan dan pengambilan sampel sedimen dengan menggunakan grab sampler dan pengujian dilaboratorium agar menghasilkan klasifikasi sedimen berdasarkan Skala Wentworth. Survei batimetri pada wilayah penelitian yang memiliki luas 2500 meter x 600 meter memiliki nilai kedalaman 6.8 meter – 11.5 meter dengan interval kontur 0.5 meter sehingga dapat diketahui bentuk topografi wilayah tersebut cenderung landai dengan tidak adanya perbedaan kedalaman yang signifikan. Wilayah penelitian juga memiliki jenis sedimen yang berbeda-beda, terdapat tiga jenis sedimen pada wilayah tersebut yaitu pasir (sand), pasir lanauan (silty sand) dan lanau (silt). Jenis sedimen yang paling mendominasi yaitu jenis sedimen lanau dengan persentase 52.14 % yang tersebar pada perairan yang lebih dalam dibandingkan dengan dua jenis sedimen lainnya. Hasil peta sebaran sedimen menunjukkan bahwa semakin menjauhi pesisir Pantai Kartini maka ukuran butir sedimen akan semakin halus, hal ini juga dipengaruhi oleh faktor pasang surut yang bertipe condong harian ganda dengan nilai Formzhal 1.3202 dan nilai MSL 0.92 meter serta faktor pergerakan angin yang ada di Kawasan Pantai Kartini, pengolahan Windrose selama lima tahun (2016-2020) menunjukkan pergerakan angin berhembus didominasi oleh angin darat. Kata Kunci: Batimetri, Multibeam Echosounder, Sedimen Dasar Laut, Windrose. ABSTRACTSediment is important to know the dynamics that occur in coastal areas where coastal morphology can change due to the distribution of sediment. Activities that occur on the coast can affect the distribution of sediment grain sizes such as shipping, dredging and development, especially in the Kartini Beach Area, Jepara. The existence of a crossing port and tourist destination objects is one of the basic objectives of the research to determine the topography and sediment distribution of the area. The use of a multibeam echosounder tool to determine the depth and shape of the bottom of the waters and taking sediment samples using a grab sampler and laboratory testing in order to produce sediment classification based on the Wentworth scale. The bathymetric survey in the study area which has an area of 2500 meters x 600 meters has a depth value of 6.8 meters - 11.5 meters with a contour interval of 0.5 meters so that it can be seen that the topography of the area tends to be sloping with no significant difference in depth. The research area also has different types of sediments, there are three types of sediment in the area, namely sand, silty sand and silt. The type of sediment that dominates the most is the type of silt sediment with percentage value is 52.14 % which is scattered in deeper waters compared to the other two types of sediment. The results of the sediment distribution map show that the further away from the coast of Kartini Beach, the size of the sediment grains will be smoother, this is also influenced by tidal factors that are of the double daily tilt type with a Formzhal value of 1.3202 and an MSL value of 0.92 meters as well as wind movement factors in the area Kartini Beach, Windrose processing for five years (2016-2020) shows that the movement of the wind blows is dominated by land winds.
PEMBUATAN PETA FOTO DENGAN FOTO UDARA FORMAT KECIL DI KOMPLEKS CANDI PRAMBANAN DENGAN WAHANA PESAWAT QUADCOPTER Harmeydi Akbar; Bandi Sasmito; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1218.688 KB)

Abstract

ABSTRAKCandi prambanan termasuk salah satu dari situs warisan dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama yang memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil. Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia (Wikipedia.Org).Mengingat kelebihan dan pentingnya pengawasan candi Prambanan ini, maka perlu dilakukan pemetaan di wilayah candi Prambanan.Pengawasan yang perlu dilakukan sesering mungkin, dengan mempertimbangkan kemudahan dan biaya yang relatif murah, metode pemetaan foto udara format kecil menggunakan quadcopter dengan ketelitian tertentu menjadi salah satu pilihan utamanya. Pelaksanaan pemetaan candi Prambanan dalam penelitian ini menggunakan metode pemetaan foto udara format kecil dengan RC multirotor (quadcopter), sehingga lebih mudah untuk ditentukan tempat dimulainya terbang (take off) dan mendarat (landing). Dengan RC quadcopter, masalah landasan tidak menjadi kendala lagi.Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengetahui tingkat ketelitian gambar yang didapat dengan menggunakan wahana pesawat aeromodelling quadcopter dan kamera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixel dengan hasildilapangan. Dan menganalisis kelebihan dan kekurangan pemetaan dengan menggunakan wahana pesawat aeromodelling quadcopter dan kamera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixel.Penelitian ini dilakukan selama 3 kali penerbangan dan menghasilkan lebih dari 768 dan hanya 404 foto yang dapat dipergunakan.Berdasarkan hasil penelitian, diketahui tingkat ketelitian gambar memiliki kisaran 0-2 pixel.Berdasarkan hasil kisaran tersebut, diketahui bahwa pemodelan tidak mengandung kesalahan kasar dan sistematik. Berdasarkan pengukuran hasil model dengan hasil lapangan memiliki selisih jumlah rata-rata 1,727 cmdan masing-masing foto memiliki selisih antara 2 cm dan 4 cm. Sedangkan kelebihan dan kekurangan pemetaan dengan menggunakan wahana pesawat aeromodelling quadcopter dan kamera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixel adalah cepat, hemat dan efisien, penerbangan dilakukan dibawah awan sehingga menekan biaya sewa sehingga tidak perlu pesawat khusus dengan lubang kamera. Biaya yang dipergunakan lebih murah dibandingkan dengan pemotretan udara biasa dan dapat dilakukan oleh SDM Indonesia terutama didaerah-daerah untuk menunjang program otonomi daerah. Sedangkan kelemahannya adalah untuk suatu daerah yang luas diperlukan frame foto yang lebih banyak dibandingkan dengan foto udara biasa, tidak cocok untuk pembuatan peta kontur.Kata kunci : quadcopter, kamera Go Pro Hero 3, foto udara format kecil.ABSTRACTPrambanan temple is one of  the UNESCO world heritage site, the largest Hindu temple in Indonesia, and one of the most beautiful temples in Southeast Asia. The architecture of the building is tal l and slender shaped according to the Hindu architecture in general with the main temple of  Shiva temple which has a height reaching 47 meters in the center of the complex cluster of to wering temples smaller. As one of the grandest temples in South east Asia, Prambanan temple is the main attraction of tourists visit from all over the world (Wikipedia. Org). Given the advantages and importance of monitoring this Prambanan temple, then need to be mapped in the area of Prambanan temple.Supervision needs to be done as often as possible, taking into account the ease and relatively low cost,  method of mapping a small format aerial photographs using a quadcopter with a certain precision to be one of the main options. Implementation mapping Prambanan in this study using small  format aerial photography mapping with RC multirotor (quadcopter), making it easier to set the starting fly (take off) and landing (landing). With RC quadcopter, the problem of  foundation is not an obstacle anymore.The objectives of this study was to determine the level of accuracy obtained by using the image of aeromodelling quadcopter and the camera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixels with field results. And analyze the advantages and disadvantages mapping using quadcopter aeromodelling planer ides and a camera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixels.This observation was conducted for 3 times the cost and generates more than 768 and only 404 photos that can be used. Based on the research results, the image has a known level of accuracy range of 0-2 pixels. Based on the results of these ranges, it is known that the modeling does not contain harsh and systematic errors. Based on the measurement results of the model with field results have a difference about 1,727 cm and each photo has a difference of between 2cm and4cm. While the advantages and disadvantages mapping using quadcopter aeromodelling planer ides and a camera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixels is fast, effective and efficient, so the flight was conducted under the clouds reduce the cost of the rental so do not need a special plane with a camera hole. The cost used is cheaper compared to regular aerial photography and can be done by Indonesian human resources, especially in areas to support the program of regional autonomy. The disadvantage is to a large area photo frame required more than the usual aerial photographs, is not suitable for the manufacture of a contour map.Keywords: quadcopter, camera Go ProHero3, small formataerial photographs
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI TANAH UNTUK MENENTUKAN NILAI OBJEK PAJAK BERDASARKAN HARGA PASAR MENGGUNAKAN APLIKASI SIG (Studi Kasus : Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga) Galuh Fitriarestu Santoso; Andri Suprayogi; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.398 KB)

Abstract

ABSTRAK Zona Nilai Tanah (ZNT) merupakan kumpulan area yang terdiri dari beberapa bidang tanah dengan nilai tanah yang relatif sama dan batasannya bersifat imajiner atau nyata sesuai penggunaan tanahnya. Setiap area ZNT mempunyai nilai yang berbeda berdasarkan analisis perbandingan harga pasar dan biaya. Mengingat ZNT berbasis nilai pasar, ZNT dapat dimanfaatkan untuk penentuan tarif dalam pelayanan pertanahan, referensi masyarakat dalam transaksi, penentuan ganti rugi, inventarisasi nilai aset publik maupun aset masyarakat, memonitor nilai tanah dan pasar tanah, dan referensi penetapan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) untuk Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), agar lebih adil dan transparan. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 2 Tahun 2013 tentang PBB, NJOP merupakan acuan penarikan PBB yang merupakan salah satu pendapatan daerah yang sangat penting untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu, perlu diwujudkan informasi nilai tanah untuk mewujudkan fungsi tanah. Salah satu perwujudannya adalah Peta ZNT.Dalam penelitian ini dibentuk peta ZNT dibentuk berdasarkan nilai tanah dengan penilaian masal (tidak memperhatikan properti dan karakteristik khusus dari objek pajak tersebut) dan menggunakan pendekatan perbandingan penjualan (sales comparative), dimana objek pajak yang akan dinilai dibandingkan dengan objek pajak lain sejenis yang sudah  diketahui nilai jualnya. Hasil penelitian ini berupa Peta ZNT yang terdiri dari 40 zona dari data NJOP dan data survei transaksi harga tanah. Perubahan selisih harga tanah transaksi dengan NJOP terendah sebesar 138,46% dengan selisih harga Rp 270.000 sedangkan tertinggi sadalah 2780,00% dengan selisih harga Rp 554.000.
ANALISIS SEA LEVEL RISE DAN PENENTUAN KOMPONEN PASUT DENGAN MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI JASON-2 TAHUN 2011-2014 (Studi Kasus : Perairan Sumatera Bagian Timur) Andri Yanto Parulian Tamba; Bandi Sasmito; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (944.216 KB)

Abstract

ABSTRAK                Pemanasan global merupakan faktor penyebab kenaikan permukaan air laut. Dalam kurun waktu lama mengakibatkan peningkatan abrasi pantai, erosi garis pantai, penggenangan suatu wilayah daratan dan bisa menenggelamkan pulau-pulau kecil serta meningkatnya intensitas dan frekuensi banjir. Pada Perairan Sumatera bagian Timur yang merupakan jalur pelayaran diperlukan data kenaikan muka laut untuk keamanan jalur laut.                Pada penelitian ini menggunakan data hasil pengamatan satelit altimetri Jason-2 periode 2011-2014 di tiga titik pengamatan, yaitu : Perairan Banda Aceh, Perairan Belawan dan Perairan Lampung.Interpolasi data satelit menggunakan metode pembobotan invers jarak dengan menggunakan perangkat lunak matlab. Penelitian ini menggunakan analisis trend linier dan analisis harmonik untuk mengetahui nilai kenaikan permukaan laut dan nilai komponen pasang surut air laut pada Perairan Sumatera bagian Timur.                Pada pengamatan Satelit Altimetri Jason-2 periode 2011-2014 menunjukkan adanya fenomena sea level rise pada Perairan Sumatera bagian Timur dengan rata-rata nilai kenaikan sebesar +15,4605 mm/tahun. Dengan kenaikan tertinggi berada di perairan Banda Aceh dengan nilai +23,5588mm/tahun dan terendah +7,3621 mm/tahun berada pada dua titik yaitu perairan Belawan dan perairan Lampung. Komponen pasang surut pada Perairan Sumatera bagian Timur dengan pengamatan Satelit Altimetri Jason-2 selama tahun 2011-2014 menghasilkan nilai amplitudo N2 rata-rata sebesar 0,0529 m, nilai amplitudo M2 rata-rata sebesar 0,3215 m, nilai amplitudo S2 rata-rata sebesar 0,1835 m, nilai amplitudo K2 rata-rata sebesar 0,1006 m, nilai amplitudo O1 rata-rata sebesar 0,066 m, nilai amplitudo P1 rata-rata sebesar 0,10504 m, nilai amplitudo K1 rata-rata sebesar 0,0174 m, nilai amplitudo M4 rata-rata sebesar 0,0507 m, nilai amplitudo MS4 rata-rata sebesar 0,1627 m,dan nilai elevasi HHWL rata-rata sebesar 1,1169 m,  nilai elevasi MHWL rata-rata sebesar 0,7037 m, nilai elevasi rata-rata MSL sebesar 0,0916 m, nilai elevasi rata-rata MLWL sebesar -0,5206 m, nilai elevasi CDL rata-rata sebesar -0,7118 m, nilai elevasi LLWL rata-rata sebesar -0,9337 m.Kata Kunci : laut,kenaikan muka laut, pasang surut, satelit altimetri ABSTRACT                Global warming is a factor contributing to sea level rise. In the period of time resulting in increased coastal erosion, shoreline erosion, sinking of coastal areas  and can submerge small islands and the increased intensity and frequency of floods. On the Eastern part of Sumatera Island Ocean is a cruise line to sea level rise data are necessary for the security of the sea lanes.                This research use sea surface observational data using the altimetry satellite Jason-2 2011-2014 at three observation points, namely: Banda Aceh Ocean, Belawan Ocean and Lampung Ocean. Interpolation satellite data using the inverse distance weighting method using matlab software. This study uses a linear trend analysis and harmonic analysis to determine the value of sea-level rise and the value component of the tide in the waters of eastern Sumatra.                Sea surface observations using Jason-2 altimetry satellites data in the 2011-2014 period showed the phenomenon of sea level rise on the eastern part of Sumatera Island Ocean with the average increase value by +15.4605 mm / year. The highest increase was in the Banda Aceh Ocean with the value + 23,5588mm / year and the lowest was +7.3621 mm / year at two points, namely Belawan Ocean and Lampung Ocean. The ocean tide components on  the Eastern part of Sumatra Island Ocean with observation satellites Jason-2 altimetry during 2011-2014 resulted in an average amplitude value N2 amounted to 0.0529 m, the average amplitude value M2 at 0.3215 m, the average amplitude value S2 at 0.1835 m, the average amplitude value K2 at 0.1006 m, the average amplitude value O1 at 0,066 m, the average amplitude value P1 at 0.10504 m, the average amplitude value K1 at 0.0174 m, the average amplitude value M4 at 0.0507 m, the average amplitude value MS4 at 0.1627 m, and the average HHWL elevation value at  1.1169 m, the average MHWL elevation value at 0,7037 m, the average MSL elevation value at 0.0916 m, the average MLWL elevation value at  -0.5206 m, the average CDL elevation value at -0.7118 m and the average LLWL elevation value at - 0.9337 m.Keyword : sea , sea level rise, ocean tide, altimetry satellite*) Penulis PenanggungJawab
ANALISIS SEA LEVEL RISE MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI JASON-2 PERIODE 2008-1012 (STUDI KASUS: LAUT UTARA JAWA DAN LAUT SELATAN JAWA) Yugi Limantara; Bambang Sudarsono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.42 KB)

Abstract

Sea level changes carried by tidal observations at the beach. But, the method as it still has some shortcomings in some ways such as limited coverage areas around the coast so the sea face of changing data is only accurate for a relatively shallow sea close to the shore. The existence of tidal palm should be tied to the tidal station and measured by GPS in order to be bound by such a reference ellipsoid..Advances in the development of satellite technology, especially satellite altimetry is intended to observe ocean phenomena, has helped many observations of sea level temporally. To see the trend of changes in sea level rise do linear regression. Calculating the regression process SLA and linear trend analysis of the data altimetry satellite Jason 2. In this final project  the results of this regression will be used also to compare the differences in sea level rise in the North Sea Java and South Sea Java. As long years 2008-2012 with satellite altimetry abservations shows that the phenomenon of sea level rise occurred in the North Sea Java and South Sea Java. Sea level rise occurred in the North Sea Java is equal +10.77 mm/yr. Lowest values occurred in Waters Semarang on pass number 64 is equal to +7.92 mm/yr and the highest occurred in the Waters of Madura on pass number 203 is equal to +15.84 mm/yr. For in the sea south of Java, sea level rise is at +16.79 mm/yr. Lowest values occurred in Waters Prigi on pass number 203 is equal to +12.60 mm/yr. As for the sea level rise occurred in the Waters of Cilacap is at +23.04 mm/yr.Keywords: Sea level rise, Altimetry, Sea
PEMBUATAN PROGRAM PERHITUNGAN PERATAAN JARING SIPAT DATAR Setiaji Nanang Handriyanto; Moehammad Awaluddin; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.44 KB)

Abstract

Sipat datar bertujuan menentukan beda tinggi antara titik-titik di atas permukaan teliti.Di dalam geodesi, tinggi suatu titik didefinisikan sebagai jarak terhadap suatu bidang referensi. Bidang referensi yang dipakai adalah bidang equipotensial gaya berat (bidang nivo) yang berimpit dengan muka air laut rata-rata yang tidak terganggu. Bidang tersebut dinamakan geoid.Dalam pengukuran jaringan Sipat Datar, untuk mendapatkan titik tinggi yang akurat terlebih dahulu dilakukan pengolahan beda tinggi kemudian dilakukan perataan jaringan (Network Adjustment).Perataan jaringan menggunakan metode kuadrat terkecil. Kuadrat terkecildimaksudkan untuk mencari suatu nilai akhir sehingga jumlah kuadrat dari residu adalah minimum. Sehingga tidak mungkin ada nilai hasil hitungan yang lain yang jumlah kuadrat residunya lebih kecil.Seiring dengan kemajuan di bidang komputer dan pemrograman, maka perhitungan perataan jaring Sipat Datar menjadi lebih praktis dalam pengolahannya. Aplikasi GLN 1.0 menggunakan bahasa pemrograman berbasis windows yaitu Visual Basic 2008. Aplikasi GLN 1.0 dapat meratakan jaring Sipat Datar dengan dua metode yaitu parameter dan Bersyarat. Hasil perataan pengamatan jaring Sipat Datar dari aplikasi GLN 1.0 dibandingkan dengan hasil perataan dari Adjust dan Microsoft Office Excel menunjukan hasil yang relatif sama. Berdasarkan hal tersebut, maka disimpulkan bahwa aplikasi yang dibuat dapat digunakan untuk keperluan perataan jaring Sipat Datar.Kata Kunci : visual basic, Sipat Datar, beda tinggi, perataan kuadrat terkecil.
ANALISIS POTENSI PANAS BUMI MENGGUNAKAN CITRA ASTER LEVEL 1 T TAHUN 2015 (Studi Kasus Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah) Alan Aji Bintang; Bandi Sasmito; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.587 KB)

Abstract

ABSTRAKEnergi panas bumi diperhitungkan dan dikembangkan sebagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari. Potensi energi panas bumi di Indonesia sangat besar yakni mencapai 28.000 Megawatt atau setara dengan 40% dari total panas bumi di dunia. Hingga saat ini Indonesia masih mengoperasikan setidaknya 1.643 Megawatt sehingga potensi energi panas bumi di Indonesia masih sangat besar untuk dimanfaatkan. Pengindraan jauh mempunyai peranan dalam kegiatan identifikasi panas bumi dengan menggunakan band thermal, salah satunya menggunakan citra ASTER. Proses identifikasi suhu permukaan dilakukan berdasarkan pengolahan band 13 dan band 14 citra ASTER serta klasifikasi tutupan lahan menggunakan VNIR ASTER. Pengambilan sampel suhu lapangan dilakukan untuk melihat korelasi suhu permukaan hasil citra dan suhu lapangan. Identifikasi panas bumi erat kaitanya dengan suhu permukaan tanah yang merupakan salah satu parameter indikator adanya potensi panas bumi. Selain berdasarkan parameter panas bumi penelitian ini berdasarkan pada parameter kompleksitas batuan dan lineament (kelurusan). Hasil dari pengolahan citra pada band 13 memberikan rentang suhu 8,01 oC hingga 46,94 oC, sedangkan nilai suhu pada band 14 memberikan rentang sebesar 8,01 oC hingga 44,70 oC. Hasil pengolahan suhu diuji dengan suhu lapangan sebanyak 93 sampel. Korelasi nilai suhu hasil pengolahan citra untuk band 13 dan 14 pengamatan lapangan sebesar 0,47 dan 0,48 termasuk dalam kriteria korelasi lemah. Nilai suhu yang melebihi 30 oC merupakan indikator adanya potensi panas bumi untuk daerah non-vulkanik. Hasil pengolahan memberikan nilai 26,58 oC untuk band 13 dan 24,09 oC  untuk band 14 serta  35,40 oC dari pengamatan lapangan  yang terletak pada sekitar sumur manifestasi. Pada Kecamatan Alian, Kecamatan Karangsambung, Kecamatan Karanggayam dan Kecamatan Sempor terdapat kompleksitas batuan tinggi, kerapatan lineament  yang tidak terhubung dengan manifestasi permukaan dan > 30 oC, sehingga peneliti tidak merekomendasikan untuk dieksplorasi.
IDENTIFIKASI MANIFESTASI PANAS BUMI DENGAN MEMANFAATKAN KANAL THERMAL PADA CITRA LANDSAT (Studi Kasus : Kawasan Dieng) Bram Ferdinand Saragih; Yudo Prasetyo; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.709 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan salah satu negara yang masih menggunakan sumber energi fosil sebagai sumber energi utama. Namun ketersediaan sumber energi fosil tersebut pastinya akan habis bila digunakan terus menerus. Selain sumber energi fosil yang melimpah, Indonesia juga dianugrahi sumber energi baru dan terbarukan. Sumber energi tersebut seperti air, panas bumi, biomassa, surya, angin, hingga uranium. Panas bumi yang ada di Indonesia diperkirakan menjadi yang terbesar ketiga di dunia. Hal tersebut erat kaitannya dengan posisi Indonesia dalam kerangka tektonik dunia. Dataran tinggi Dieng merupakan sebuah komplek gunung berapi, berbentuk dataran luas dengan panjang kurang lebih 14 km, lebar 6 km dan memanjang dari arah Barat Daya – Tenggara. Ketersediaan energi panas bumi tidak lepas dengan penampakan manifestasi yang ada dipermukaan. Manifestasi panas bumi dipermukaan berupa solfatar, fumarol, tanah beruap panas, sinter silika dan alterasi hidrotermal. Semua manifestasi permukaan tersebut memiliki suhu yang relatif lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya. Metode penginderaan jauh sangat efektif dalam menemukan manifestasi panas bumi mengingat daerah penelitian mencakup wilayah yang cukup luas. Hasil pengolahan citra landsat kanal termal akan menghasilkan titik – titik panas yang menunjukkan keberadaan manifestasi panas. Namun titik – titik panas yang didapat tidak semua merupakan manifestasi panas bumi. Oleh karena itu perlu dilakukan pemisahan titik panas yang berupa manifestasi panas bumi dan yang bukan merupakan manifestasi panas bumi.Hasil pengolahan citra landsat pada penelitian ini menunjukkan suhu terendah 11,180 0C pada citra landsat tahun 2006 dan suhu tertinggi 39,671 0C pada citra landsat tahun 2014. Rentang suhu manifestasi panas bumi yang terekam pada penelitian ini berada pada suhu 25,271 0C sampai dengan 39,671 0C. Ditinjau dari tingkat konsistensi penampakan panas manifestasi panas bumi pada penelitian ini maka manifestasi yang secara konstan menunjukkan produksi panas adalah Kawah Sileri dan Kawah Condrodimuko. Luas manifestasi yang terdeteksi oleh citra landsat lebih luas dari 30 m x 30 m sesuai dengan resolusi spasial kanal termal citra landsat. Kata Kunci : Manifestasi, Landsat, Penginderaan Jauh, Panas Bumi, Titik Panas.ABSTRACT          Indonesia is one country that still uses fossil energy sources as a primary energy source. However, the availability of fossil energy sources is surely will be depleted when used continuously.In addition to the abundant fossil energy sources, Indonesia is also gifted new and renewable energy sources. The energy sources such as water, geothermal, biomass, solar, wind, up to uranium. Geothermal energy in Indonesia is estimated to be the third largest in the world. It is closely related to the position of Indonesia in the tectonic framework of the world. Dieng Plateau is a complex of volcanoes, vast plains shaped with a length of approximately 14 km, 6 km wide and extends from the Southwestern - Southeast. The availability of geothermal energy is not separated by a manifestations exist on the surface. Surface geothermal manifestations such as solfatar, fumaroles, hot steamy soil, silica sinter and hydrothermal alteration. All the manifestations of the surface has a relatively higher temperature then the surrounding environment.             Remote sensing method is very effective in finding geothermal manifestations considering the research area covering a large area. Landsat image processing result of thermal band will generate hot spots that indicates the exist of geothermal manifestations. But the hot spots that gained are not all as  geothermal manifestations. Therefore it needs separation of the hot spots in the form of geothermal manifestations and not a manifestation of geothermal.             Landsat image processing results in this research showed the lowest temperature is 11,180 0C on Landsat imagery in 2006 and the highest temperature is 39,671 0C on Landsat imagery in 2014. The  temperature range of geothermal manifestation which is recorded in this research is at 25,271 0C up to 39,671 0C. According to the level of consistency hot sightings from  geothermal manifestations in this research, the manifestations of which are constantly showing the heat production is Sileri Crater and Condrodimuko Crater. Size manifestation that was detected by Landsat imagery wider than 30 m x 30 m in accordance with a spatial resolution of thermal band Landsat image.Keywords : Geothermal, Hot Spot, Manifestation, Landsat, Remote Sensing.*)Penulis, Penanggung Jawab
Co-Authors ., Hani'ah Abdi Sukmono, Abdi Adiasti Rizqi Hardini Adib Fahrul Arifin Ahmad Faishal Matazah Putra Ahmad Hidayat Ahmad Iqbal Maulana Lubis Akbar Kurniawan Alan Aji Bintang Alfian Putra Setiadarma Almira Delarizka Alvatara Partogi Hutagalung Amirul Hajri An Nisa Tri Rahmawati Andi Trimulyono Andri Suprayogi Andri Yanto Parulian Tamba Anggi Karismawati Anggoro Wahyu Utomo Angkoso Dewantoro Arfina Kusuma Putra Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Ariella Arima Aniendra Armenda Bagas Ramadhony Arnita Ikke Sari Arwan Putra Wijaya Arwan Putra Wijaya Asih, Nevi Tri Lestiyo Aulia Budi Andari Aulia Hafizh Aulia, Fatah Avini Sekha Rasina Ayu Hapsari Aditiyanti Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bashit, Nurhadi Bekti Noviana Bella Riskyta Arinda Bram Ferdinand Saragih Chusni Ansori David Jefferson Baris Denni Apriliyanto Desvandri Gunawan Devi Irsanti Devi Nilam Sari Deviana Putri Sunarernanda Dian Ika Aryani DIKA NUZUL RACHMAWATI Dimas Bagus Dita Ariani DITHO TANJUNG PRAKOSO Dwi Nugroho Eko Andik Saputro Eko Didik Purwanto, Eko Didik Elsa Regina Rizkitasari Esa Agustin Alawiyah Ety Parwati Fadhlan Hamdi Fajar Dwi Hastono Farrah - Istiqomah, Farrah - Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fauzi Janu Ammarohman Firman Hadi Firman Hadi Firman Hadi Fitra S Pandia Frandi Barata Simamora Fuad Hari Aditya Gabriel Yedaya Immanuel Ryadi Galih Pratiwi Galuh Fitriarestu Santoso Ghazian Hazazi Gilang Yudistira Hilman Gunita Mustika Hati Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hani'ah . Hani'ah Hani'ah Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Harianto Harianto Harmeydi Akbar Hartomo Haryo Kuncoro Haryo Daruwedho Hasan Mustofa Amirudin, Hasan Mustofa Hayu Rianasari Hestiningsih Hestiningsih Indah Prasasti Indriyanto, Ignatius Wahyu Innong Pratikina Akbaruddin Jaka Gumelar Jerson Otniel Purba Jhonson Paruntungan Matondang Johan Irawan Kalinda, Icha Oktaviana Putri Khofifatul Azizah Kurniantoro, Ridhwan L. M. Sabri Laode M Sabri Latifah Rahmadany LM. Sabri M. Alfarisi Handifa M. Andu Agjy Putra Mamei Saumidin Meiska Firstiara Maudi Miftakhul ‘Ulya Rimadhani Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohamad Jorgie Prasetyo Monica Apriliana Pertiwi Monika Maharani, Shang Bhetari Muchammad Misbachul Munir, Muchammad Misbachul Muhamad Dicky H. Muhammad Agam Cakra Donya Muhammad Al Kautsar Muhammad Dimas Aji N. Muhammad Fadhli Auliarahman Muhammad Helmi Muhammad Hudayawan Nur L Muhammad Ilman Fanani Muhammad Luthfi Muhammad Nur Khafidlin Mulawarman, Reza Al Arif Muna, Nailatul Mutiah Nurul Handayani Nainggolan, Yohana Christie Nanang Noviantoro Prasetyo Nandia Meitayusni Nabila Nasrul Arfianto Nevy Dyah Rustikasari Nila Hapsari Nawangwulan Nilasari, Monica NIRTANTO, ILHAAM CAHYA Niswatul Adibah NOFIANA DIAN RAHAYU Noviar Afrizal Wahyuananto Nur Itsnaini Nurfajrin Dhuha Andani Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nurul Huda Patriot Ginanjar Satriya Pinastika Nurandani Pitto Yuniar Maharsayanto Pratama Irfan Hidayat Prathanazal, Naufal Maziakiko Prya Adhi Surya Nugraha Putra, Muhammad Adisyah Putri Auliya Putri Mariasari Sukendar, Putri Mariasari Putri, Alifa Salsabilla Raditya Wahyu Utomo Ratih Kumala Dewi Restu Maheswara Ayyar Lamarolla Rina Emelyana Risa Bruri Utami Ryandana Adhiwuryan Bayuaji Sabri, L M Sabri, L.M. Sabri, LM Samuel Samuel Sari, Devi Nilam Sawitri Subiyanto Sawitri Suprayogi Selli Angelita Sitepu Seprila Putri Darlina Setiaji Nanang Handriyanto Sheehan Maladzi, Havi Shofiyatul Qoyimah, Shofiyatul Sinabutar, Julio Jeremia Sindi Rahma Erwanti Sitepu, Selli Angelita Siti Rahayuningsih Sri Purwatik Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Syafiri Krisna Murti Syarif Budhiman Theresia Niken Kurnianingsih Tika Murni Asih Tistariawan, Adji Chandra Titis Ismayanti Vauzul Rahmat Victor Andreas Tarigan Vira Febianti Wahyu Eko Saputro Wahyu Setianingsih Wenang Triwibowo, Wenang Wili Setiadi Wilma Amiruddin Wiryawan, Ainun Pujo Wisnu Wahyu Wijonarko Yenny Paras Dasuka Yoga Triardhana Yosevel Lyhardo Sidabutar Yudo Prasetyo Yugi Limantara