p-Index From 2021 - 2026
6.172
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

KONTRIBUSI PEMBELAJARAN APRESIASI PROSA FIKSI BERBASIS BUDAYA DALAM INTERNASIONALISASI BAHASA INDONESIA MAHASISWA IAIN TULUNGAGUNG Muyassaroh, Muyassaroh
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia SPECIAL EDITION: SEMINAR NASIONAL LALONGET I
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.v0i0.3767

Abstract

Education becomes an important aspect in the life of people and nation. Through this education, the character of students will be formed to contribute the development of Indonesian national identity. This value or character inculcation involves three important elements; family, school and community environment. For the in instilment of character in schools, it can be integrated in a learning process including character values to be grasped directly by students. One of ways the lecturer can do is by learning to appreciate fiction prose. Students will communicate intensely with various characters from the fiction prose they read, packaged interestingly to be studied. The learning fiction prose appreciation needs to be taught and developed based on culture because it is expected by studying culture, the students will grow in love with Indonesian national culture. In this course, students are asked to find cultural values in Indonesian fiction prose. By learning this value, love of national culture, especially Bahasa, is getting stronger. This is based on the spirit that a great nation is a nation that upholds its culture. Therefore, the use of fiction prose as a means of instilling a love of the Indonesian nation's culture has proven to be effective in the dignification and internationalization of Bahasa because its status as a national language and the language of the country must be upheld.
Pemberdayaan Tim Pendamping Keluarga dalam Upaya Pencegahan Risiko Stunting untuk Mewujudkan Desa Siaga Bebas Stunting di Desa Parseh Kecamatan Socah Kabupaten Bangkalan Mardiyanti, Ika; Budiarti, Rizqi Putri Nourma; Putri, Endah Budi Permana; Annabila, Zulfa Nida Asma; Haryantin, St.; Rahmi, Rizki Nur; Muyassaroh, Muyassaroh; Vaiza, Vira Amelia Jenylaf
Abdi Wiralodra : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2024): Abdi Wiralodra
Publisher : universitas wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/abdi.v6i2.179

Abstract

Stunting merupakan kondisi kekurangan gizi kronis dikarenakan oleh asupan gizi yang kurang dalam jangka waktu yang cukup lama. Kurangnya pengetahuan tentang pertumbungan dan perkembangan balita, informasi kecukupan gizi, penyebab dan dampak kekurangan gizi, serta kurang optimalnya peran tim pendamping keluarga serta kader kesehatan khususnya dalam program pencegahan stunting menyebabkan angka kejadian stunting masih tinggi. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan upaya pencegahan stunting di Desa Parseh Kecamatan Socah Kabupaten Bangkalan. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan bersama tim pendamping keluarga di Desa Parseh Kecamatan Socah Kabupaten Bangkalan sebanyak 20 orang. Kegiatan ini dilakukan dengan cara pelatihan pada tim pendamping keluarga untuk menjadi kader siaga bebas stunting serta pendampingan tata kelola stunting (Konselor stunting, deteksi status gizi bayi dan balita melalui optimalisasi buku KIA dan aplikasi NU-Stunting, pengelolaan makanan pendamping ASI dengan bahan lokal, model pendampingan keluarga stunting serta peningkatan ketrampilan pijat Tuina). Pengukuran tingkat pengetahuan dan tingkat keterampilan dengan pre test dan post test sebelum dan sessudah pemberian edukasi. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat saat pre test dan post test didapatkan bahwa pengetahuan tim pendamping keluarga mengalami peningkatan dari 30% menjadi 85% sedangkan untuk ketrampilan juga mengalami peningkatan dari 20% menjadi 90%. Pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat menguatkan upaya pencegahan risiko stunting dengan peningkatan keberdayaan masyarakat melalui kader kesehatan setempat terkait status gizi, pengelolaan makanan pendamping ASI dengan bahan lokal, serta pijat komplementer (Pijat Tuina) untuk meningkatkan nafsu makan pada balita dengan resiko dan terindikasi stunting. Kesimpulan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah ada peningkatan pengetahuan serta keterampilan tim pendamping keluarga yang nantinya menjadi kader siaga bebas stunting diharapkan mampu mencegah terjadinya stunting.
Hubungan Kebisingan Dengan Gangguan Pendengaran Dan Kejiwaan Para Pekerja Terpapar Bising Subekti, Rohmatullah; Muyassaroh, Muyassaroh; Naftali, Zulfikar
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 6 No. 2 (2019): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.313 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v6i2.391

Abstract

Latar belakang: Kebisingan di tempat kerja seringkali menjadi problem bagi tenaga kerja. Paparan bising dapat menyebabkan gangguan auditori yaitu noise-induced hearing loss (NIHL) dan gangguan non auditori berupa gangguan kejiwaan seperti depresi, kecemasan serta stress. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kebisingan terhadap kejadian gangguan pendengaran dan kejiwaan pada pekerja terpapar bising. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan design belah lintang. Tingkat kebisingan diukur dengan menggunakan alat sound level meter (SLM), gangguan pendengaran dinilai dari hasil audiometri, gangguan kejiwaan dinilai dari jawaban kuesioner Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42) dari WHO. Analisis data dengan uji chi square. Hasil : Data yang didapatkan dari 326 sampel menunjukkan bahwa 179 (54.9%) subjek mempunyai masa kerja lebih dari 10 tahun dan 147 (45.1%) subjek mempunyai masa kerja kurang dari 10 tahun. Sebanyak 51 (15.6%) pekerja mengalami NIHL dan 154 (47.2%) pekerja mengalami gangguan jiwa. Terdapat hubungan antara lama paparan bising (P= 0.000) dan intensitas kebisingan (P= 0.022) terhadap kejadian NIHL, dan intensitas kebisingan terhadap derajat keparahan depresi (P= 0.007) Kesimpulan: Lama paparan dan intensitas bising berhubungan dengan gangguan pendengaran sedangkan intensitas bising berhubungan dengan derajat keparahan depresi. Dibandingkan dengan intensitas bising, lama paparan bising mempunyai hubungan yang lebih besar terhadap kejadian NIHL. Kata kunci : Kebisingan, NIHL, depresi, ansietas, stres Background: Noise can raise significant issues in the workplaces. It can affect either auditory disturbance called Noise Induce Hearing Loss (NIHL) or non-auditory disturbance involving psychiatric disorders such as depression, anxiety and stress. Objective: To examine the relationship between noise in the workplace and the incidence of hearing impairment and psychiatric disorders. Method: The study design is analitic desciptive with cross-sectional approach. The noise level was measured with sound-level-metre (SLM), hearing disorders was assessed with audiometric and psychiatric disorder was assessed with Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42). The data were analized with chi square. Results : A total of 326 workers were sampled during this study showing that 179 (54.9%) workers have worked over 10 years and 179 (54.9%) workers have worked less than 10 years. It was found that 51 (15.6%) workers suffered from NHIL and 154 (47.2%) workers suffered from mental disorders. A significant relationship was found between the incidence of NIHL and years of noise exposure (P= 0.000) and noise intensity (P= 0.022). A significant relationship was found between noise intensity and depression severity (P= 0.007) Conclusion: The years of noise exposure and noise intensity were related to haring disorders. The noise intensity were related to the depression severity. In comparison with noise intensity, a stronger relationship was found between years of noise exposure and the incidence of NIHL. Keywords : Noise, NIHL, depression, anxiety, stress
Pengaruh Perawatan Paliatif Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup Penderita Karsinoma Nasofaring Stadium Lanjut di RSUP Dr. Kariadi Semarang Muyassaroh, Muyassaroh; Lestari, Tri
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 6 No. 2 (2019): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.62 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v6i2.393

Abstract

Background: Palliative care can improve the quality of life for patients with end stage nasopharyngeal carcinoma (NPC). Palliative care includes handling nutrition, relieving pain and reducing the severity of symptoms from the disease, side effects of therapy or other complaints. It also improve psychological, social and spiritual aspects. The purpose of this study was to analyze the effect of palliative care on improving the quality of life for end stage NPC patients. Methods: Observational cohort study in 15-70 years old NPC patients included in the screening criteria for palliative care (total score 4). The sample was divided into 2 groups, 20 sampels per group. Quality of life was assessed with modified Gill scale questionnaire. Data was analyzed with t test. Results: The quality of life of NPC patients increased after palliative care (score 31,8 to 35,6). Decreased in groups without palliative care (score 33,0 to 30,9). Statistical analysis found significant differences between before and after palliative care (p = 0.055). Conclusion: Palliative care improves the quality of life for end stage NPC patients. Key word: Quality of life, Palliative care, Nasopharyngeal carcinoma Latar belakang : Perawatan paliatif dapat meningkatkan kualitas hidup penderita karsinoma nasofaring (KNF) stadium lanjut. Perawatan paliatif meliputi penanganan nutrisi, menghilangkan nyeri dan mengurangi keparahan gejala yang timbul akibat penyakit tersebut ataupun akibat efek samping terapi atau keluhan lain yang tidak lagi responsif terhadap terapi kuratif, serta mengupayakan perbaikan dalam aspek psikologis, sosial dan spiritual. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh perawatan paliatif terhadap peningkatan kualitas hidup penderita KNF stadium lanjut. Metode : Penelitian kohort observasional pada penderita KNF stadium lanjut usia 15 – 70 tahun yang masuk dalam kriteria penapisan perawatan paliatif (total skor 4). Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Besar sampel ditentukan sebanyak 20 tiap kelompok. Kualitas hidup dinilai dengan kuesioner modifikasi skala mc Gill. Analisis data dengan Uji t test. Hasil : Kualitas hidup penderita KNF meningkat setelah dilakukan perawatan paliatif (skor 31,8 menjadi 35,6). Menurun pada kelompok tanpa perawatan paliatif (skor 33,0 menjadi 30,9). Analisis statistik didapatkan perbedaan bermakna antara sebelum dan sesudah dilakukan perawatan paliatif p=0,055. Simpulan : Perawatan paliatif meningkatkan kualitas hidup penderita KNF stadium lanjut. Key word : Kualitas hidup, Perawatan paliatif, Karsinoma Nasofaring
HUBUNGAN LAMA WAKTU PASCA KEMORADIASI DENGAN DERAJAT DISFAGIA OROFARINGEAL PADA KARSINOMA NASOFARING Kusuma, Lirans Tia; Antono, Dwi; Muyassaroh, Muyassaroh
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 8 No. 1 (2021): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.617 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v8i1.400

Abstract

Abstract Background : Dysphagia can occur as a side effect in patients with nasopharyngeal carcinoma (NPC) receiving chemoradiation therapy. The reported incidence rate up to 83%. The degree of oropharyngeal dysphagia accosiated with the long time of post-chemoradiation in NPC is not yet clearly known. Objective : To analysis the degree of oropharyngeal dysphagia accosiated with the long time of post-chemoradiation in NPC. Method : Analysis observational research with cross sectional design. The subjects were patients with post-chemoradiation NPC at RSUP Dr. Kariadi Semarang who met the inclusion criteria. Determination of dysphagia status and degree of dysphagia by Gugging Swallowing Screen (GUSS). The complete details of the subjects were obtained from history and medical records. Chi-Squared is used for the statistical test. Outcome : Fifty five (100%) subjects had dysphagia, 48 (87.3%) subjects had mild degrees of dysphagia, no subjects with moderate degree of dysphagia were found, and 7 (12.7%) subjects had severe dysphagia. Long time of post-chemoradiation (p = 0.451), type of chemotherapy (p = 0.267), and therapeutic modality (p = 0.402) were not related to the degree of oropharyngeal dysphagia in NPC. Conclusion : The majority of subjects had mild degree dysphagia. Long time of post-chemoradiation, type of chemotherapy, and modality of therapy are not related to the degree of oropharyngeal dysphagia in NPC. Keywords: NPC, chemoradiation, degree of dysphagia, GUSS.
Faktor Risiko Infeksi Citomegalovirus Pada Anak Yang Dicurigai Kurang Pendengaran Al Masyrukhi, Nanang Arrahman; Widodo, Pujo; Muyassaroh, Muyassaroh
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 7 No. 1 (2020): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.339 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v7i1.428

Abstract

Latar belakang : Infeksi Citomegalovirus (CMV) merupakan infeksi kongenital tersering pada bayi dan anak, 1 – 6% bayi lahir hidup. Infeksi CMV menimbulkan kecacatan permanen, salah satunya kurang pendengaran. Tujuan: Mengetahui faktor risiko infeksi CMV pada anak yang dicurigai kurang pendengaran. Metode: Penelitian cross sectional di Clinic Diagnostic RSUP Dr Kariadi Semarang periode Januari-Maret 2019. Sampel ditentukan sebanyak 97 anak dengan kecurigaan kurang pendengaran, yang memenuhi kriteria inklusi, ekslusi. Diagnosis dan derajat kurang pendengaran berdasar pemeriksaan Brainstem Evoked Response Audiometry, Otoacustic Emission dan timpanometri. Infeksi CMV ditentukan dengan pemeriksaan laboratorium. Analisis data menggunakan uji Chi- square. Hasil: Didapatkan 56 (57,7%) anak kurang dengar, kurang pendengaran derajat berat-sangat berat didapatkan pada 48 (85,71%) anak. Infeksi CMV didapatkan pada 59 (60,8%) anak dengan kadar IgG CMV diatas 25UI/ml sebanyak 43(72,88%) anak. Infeksi CMV merupakan faktor resiko kurang pendengaran (p<0,001 RP 16,364 IK 95% 5,9-45,31). Infeksi CMV tidak berpengaruh pada jumlah telinga yang terganggu (p=0,470) dan umur saat dilakukan pemeriksaan BERA (p=0,428). Kadar IgG CMV berpengaruh terhadap kurang pendengaran (p<0,001), namun tidak berpengaruh pada derajat kurang pendengaran (p=0,370) dan umur saat dilakukan pemeriksaan BERA (p=0,516) dengan kadar IgG CMV. Simpulan: Infeksi CMV merupakan faktor resiko kurang pendengaran pada anak yang dicurigai kurang dengar. Kadar IgG CMV berpengaruh terhadap kurang pendengaran. Kata kunci : Infeksi CMV, Faktor risiko, Kurang pendengaran Background : Citomegalovirus (CMV) infection is the most common congenital infection, 1 - 6% born alive infant. CMV infection causes permanent disability, one of which is hearing loss. Objective: To determine CMV infection risk factors in suspected hearing loss children. Method: Cross-sectional study at the Clinic Diagnostic Centre of Dr. Kariadi Hospital Semarang, January-March 2019. Samples were determined as 97 children with suspicion of hearing loss, fulfill inclusion and exclusion criteria. Diagnosis and severity of hearing impairment are based on an examination of Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA), Otoacustic Emission (OAE) and Tympanometry. CMV infection is determined by laboratory examination. Data analysis using Chi-square test. Results: Obtained 56 (57.7%) children with hearing loss, 48 (85.71%) children with severe-profound hearing loss. CMV infection was found in 59 (60.8%) children, IgG CMV titers above 25UI / ml found in 43 (72.88%) children. CMV infection is a risk factor for hearing loss (p<0.001 RP 16.364 95% CI 5.9-45.31). CMV infection had no effect on laterality of hearing loss (p=0.470) and age at the BERA examination performed (p=0.428). IgG CMV titers had an effect on hearing loss (p <0.001), but had no effect on severity of hearing loss (p = 0.370) and age at the BERA examination performed (p = 0.516). Conclusion: CMV infection is a hearing loss risk factor in suspected of hearing loss children. IgG CMV titers affect hearing loss. Keywords: CMV infection, risk factor, hearing loss
Gambaran audiogram pada anak dengan penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis Muyassaroh, Muyassaroh; Muryawan, Heru; Cahyani, Nastiti Dwi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 7 No. 2 (2020): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.947 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v7i2.512

Abstract

Latar belakang: Penyakit ginjal kronis (PGK) adalah kerusakan ginjal atau penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR) kurang dari 60 mL / min / 1,73 m2 paling sedikit 3 bulan. Pasien PGK memiliki resiko kejadian kurang pendengaran yang tinggi. Tujuan: Mengetahui gambaran audiogram anak dengan PGK yang menjalani hemodialisis. Metode : Diskriptif retrospektif 7 kasus PGK ada anak yang menjalani hemodialisis di RSUP Dr.Kariadi Semarang Juli 2017. Hasil : didapatkan 5 kasus(71,4%) kurang pendengaran sensorineural, 1 kasus (14,3%) kurang pendengaran campuran (MHL) dan 1 kasus (14,3%) normal. Derajat kurang pendengaran bervariasi dari derajat ringan sampai sangat berat. Kesimpulan: Kurang pendengaran sensorineural sebagian besar terjadi pada anak dengan PGK yang menjalani hemodialisis. Kata kunci : Audiogram, SNHL, PGK Background: Chronic kidney disease (CKD) is kidney damage or a decrease in glomerular filtration rate (GFR) of less than 60 mL / min / 1.73 m2 for at least 3 months. Patients with CKD have a high risk of hearing loss. Objective: The aim of illustrate the audiogram on children with chronic kidney disease undergoing hemodialysis. Methode : Descriptif retrospective to seven cases of children with chronic kidney disease who undergoing hemodialysis in Karyadi hospital juli 2017. Result : Five cases (71,4%) with sensorineural hearing loss. One case(14,3%) showed severe mix hearing loss, one cases(14,3%) with normal audiogram. The degree of hearing loss from mild to profound Conclusion: Sensorineural hearing loss may occur in the majority of children with CKD on hemodialysis Keywords : Audiogram, SNHL, PGK
DETEKSI DINI KEJADIAN OTOTOKSIK PADA ANAK DENGAN KEGANASAN YANG MENDAPAT KEMOTERAPI PLATINUM BASED: Ototoxicity Incidence in Children with Malignancy Who Received Platinum-Based Chemotherapy Asthika, Ismiar; Marliyawati, Dwi; Muyassaroh, Muyassaroh
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.345 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.690

Abstract

Latar belakang : Kejadian ototoksik pada anak dengan keganasan yang mendapatkan kemoterapi cisplatin 60–70%. Ototoksik pada anak menyebabkan gangguan perkembangan bahasa, kemampuan verbal dan komunikasi pada anak sehingga dapat menurunkan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kejadian ototoksik pada anak dengan keganasan yang mendapat kemoterapi platinum based. Metode : Penelitian observasional analitik dengan design belah lintang pada anak dengan keganasan yang diberi kemoterapi platinum based periode Agustus – September 2020. Data diambil dari rekam medik pasien Klinik Onkologi Kasuari RSUP dr. Kariadi Semarang, ototoksik bila hasil OAE refer pada frekuensi ≥ 8KHz pada satu atau kedua telinga. Analisis data dengan uji Chi-Square. Hasil : Didapatkan 38 sampel terdiri dari 22 laki-laki (57,89%) dan 16 perempuan (42,11%), dengan jenis kemoterapi cisplatin sebanyak 21 pasien (55,26%) dan jumlah pemberian kemoterapi ≥ 3 kali sebanyak 23 pasien (60,53%). Kejadian ototoksik lebih banyak pada jenis kelamin laki-laki, banyak terjadi pada pemberian kemoterapi cisplatin dan banyak terjadi pada pemberian ≥ 3 siklus. Jenis kelamin (p=0,248) dan Jenis kemoterapi (p=0,344) tidak berhubungan dengan kejadian ototoksik. Frekuensi siklus kemoterapi (p = 0,0005) berhubungan dengan kejadian ototoksik. Simpulan : Kejadian ototoksik banyak pada anak laki laki, dengan keganasan yang mendapat kemoterapi cisplatin, banyak terjadi ototoksik pada pemberian ≥ 3 siklus, frekuensi siklus kemoterapi berhubungan dengan kejadian ototoksik
Kurang Pendengaran Pada Anak Sindrom Down: Hearing Loss in Down Syndrome Damayanti, Maya; Muyassaroh, Muyassaroh
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.09 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.780

Abstract

Latar belakang: Sindrom down merupakan kelainan kromosomal genetik yang disebut trisomi dimana terdapat tambahan kromosom pada kromosom 21. Pertumbuhan anak dengan sindrom down cenderung mengalami perlambatan diberbagai sektor, salah satunya adalah gangguan pendengaran ( 65 - 75%) . Tujuan penulisan laporan kasus ini untuk mengetahui kurang pendengaran pada anak dengan sindrom down serta tatalaksana yang seharusnya diberikan. Laporan kasus: Dilaporkan anak usia 11 bulan dengan sindrom down disertai kecurigaan kurang dengar. Hasil pemeriksaan brain evoked response auditory (BERA) didapatkan gangguan pendengaran sensory neural hearing loss (SNHL) derajat sangat berat pada telinga kanan dan derajat ringan pada telinga kiri. Pasien disarankan menggunakan alat bantu dengar, terapi wicara dan evaluasi perkembangan bahasa dan bicara tiap 6 bulan oleh TS tumbuh kembang anak. Pembahasan: Kurang pendengaran menyebabkan berbagai gangguan pada aspek mental emosional, perkembangan bahasa maupun perkembangan sosial bermasyarakat. Intervensi awal dengan fisioterapi, terapi wicara dan terapi okupasi. Rehabilitasi pendengaran dengan alat bantu dengar (ABD), Bone Anchored hearing Aid (BAHA), dan implant koklea. Kurang dengar pada kasus ini dilakukan habilitasi dengan ABD, terapi wicara dan evaluasi perkembangan bahasa dan bicara. Kesimpulan : Habilitasi pendengaran pada kasus ini dengan penggunaan ABD, terapi wicara dan evaluasi perkembangan bahasa dan bicara.
Satu Kasus Diagnostik Disfagia pada Bayi dengan Pemeriksaan FEES (Flexible Endoscopy Evaluation of Swallowing: A case of dysphagia diagnostic in baby with FEES (Flexible endoscopy evaluation of swallowing) Dewi, Nila Santia; Budiarti, Rery; Muyassaroh, Muyassaroh
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 9 No. 2 (2022): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.855 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v9i2.781

Abstract

Latar belakang : Disfagia adalah gangguan proses menelan yang dapat mengganggu keselamatan dan kecukupan nutrisi. Disfagia pada bayi terjadi 85% pada anak-anak penyandang cacat dan 5% anak-anak perkembangan biasa. Tujuan penulisan laporan kasus ini untuk mengetahui sejak dini penyebab disfagia pada bayi sehingga dapat dilakukan tatalaksana segera agar tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan bayi. Laporan kasus : Dilaporkan satu kasus anak laki-laki usia 2 bulan dengan disfagia fase orofaringeal e.c curiga komplikasi iatrogenik dan perilaku. Hasil pemeriksaan Fiberoptic Endoscopic Evaluation of Swallow (FEES) didapatkan kesan kelemahan otot daerah sinus piriformis sisi kiri. Pembahasan : Disfagia pada bayi dapat merugikan dan berpengaruh terhadap asupan nutrisi makanan sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Penyebab disfagia pada bayi yaitu prematur, kelainan neurologi, masalah maternal & perinatal, abnormalitas kongenital, gangguan pernafasan & jantung, gangguang saluran cerna, dan komplikasi iatrogenik. Diagnosis disfagia pada bayi ditegakkan dengan evaluasi klinis, instrumental alat dengan pemeriksaan Videofluoroscopic Swallowing Study (VFSS) sebagai standar emas dan Fiberoptic Endoscopic Evaluation of Swallow (FEES) sebagai alternatif. Simpulan : Disfagia pada kasus ini termasuk disfagia fase orofaringeal dicurigai terjadi karena komplikasi iatrogenik (pemakain NGT) dengan FEES sebagai pemeriksaan penunjang.
Co-Authors Aidha, Fakhriyyah Asmay Akla Akla Al Masyrukhi, Nanang Arrahman Alfadilla, Aisyah Alfiansyach, Ari Aminuyati Angraini, Hani Nur Anitarakhmi Handaratri Annabila, Zulfa Nida Asma Antono, Dwi Antono, Dwi Arsita, Cynthia Arwanto, Arwedi Asri Masitha Arsyati Asthika, Ismiar Aulia, Feby Nurma Azka, Aditya Fadillah Azzahra, Zulfa Aditya Budiarti, Rery Budiarti, Rery Budiarti, Rizqi Putri Nourma Cahyani, Nastiti Dwi Chite, Lavatee Dewi, Anna Mailasari Kusuma Dewi, Nila Santia Dylan, Moatti Elsania, Farin Elvianto Dwi Daryono Endah Budi Permana Putri Endah Kusuma Rastini Fahriani, Dita Karisma Faidliyah Nilna Minah Farikha, Laiyin Farokah, Farokah Febriani, Ridha Patria Fitriyanti, Silvia Gerin Orviyanti Hanifa, Hanifa Harimbi Setyawati Haryantin, St. Hendro Purnomo Heru Muryawan Ika Mardiyanti Ilyas, M Indhirawaty, Helvia Yugi Indri Rahmawati Kartika, Rini Krishnasari, Erneza Dewi Kusumaningrum, Lely Larassati, Galuh Ayu Latifatunnadhiroh, Muntik Liemiyah, Rikha Lirans Tia Kusuma Makki, Abd Aziz Maria Belladonna, Maria Marliyawati, Dwi Maya Damayanti Meilani, Susan Mohammad Istnaeny Hudha Mufida, Choirotul Muhammad Yusuf Muhammad, Fathimah Azzahra Mukhlisin, Muhammad Khoirul Murbani, Ita Mustafiyanti, Mustafiyanti Nabiilah, Nabiilah Nanadiwardhana S, M. Nabil Tsalatsaputra Noviani, Dwi Nugroho, Nur Iman Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro Nurajizah, Hanifah Nurul Ulfatin Pramana, Chrisma Prameswari, Sekar Natasya Pratama, Aditya Agung Pratomo, Santo Mudha Pujo Widodo, Pujo Putri , Mesi Pramesia Putri, Aldila Rahmita Rachmawati, Nurul Aisyah Rahma Yunita, Rahma Rahmah, Sitalaila Rahmi, Rizki Nur Ramayanti, Rizka Ridwan, Ridwan Rofiana, Reine Ruspita, Dian Ayu Salsabila, Frida Samudra, Raihan Ahmad Sari, Nungki Merinda sayuti, fajri imam Siswi Astuti Situmorang, Rosanti Putri Subekti, Rohmatullah Sudiyatno Sudiyatno Syafiqurrahman, Syafiqurrahman Thahirah, Aisyah Tri Lestari Tri Poespowati Ulfa, Loriana Vaiza, Vira Amelia Jenylaf Willy Yusmawan, Willy Yunika, Kanthi Zalukhu, Putri Krisdayanti Zulfikar Naftali, Zulfikar