Claim Missing Document
Check
Articles

Objek Wisata Rammang-Rammang Kabupaten Maros 2012-2021 Rohim, Nur Fatimah; Ahmadin, Ahmadin; Ridha, M. Rasyid
Attoriolong Vol 19, No 2 (2021): Attoriolog Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberian gambaran latar belakang keberadaan awal Objek Wisata Rammang-Rammang di Kabupaten Maros, proses perkembangan Objek Wisata Rammang-Rammang di Kabupaten Maros, dan dampak keberadaan Objek Wisata Rammang-Rammang di Kabupaten Maros bagi masyarakat sekitar maupun bagi pemerintah kabupaten maros. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, sehingga dalam proses penelitiannya menggunakan metode penelitian yang sesuai dengan kaidah keilmuan sejarah yang terdiri tas beberapa tahapan. Tahapan tersebut ialah heuristik, kritik, intrepetasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Kabupaten Maros memiliki potensi Pariwisata yang dapat dikembangkan secara maksimum oleh kelompok sadar wisata dan unit ekowisata badan usaha milik desa Desa Salenrang, sehingga objek wisata rammang-rammang resmi memiliki izin pengelolaan sejak tahun 2015 oleh pemerintah Kabupaten Maros. Keberadaan objek wisata rammang-rammang memberikan dampak bagi kehidupan perekonomian, baik bagi masyarakat sekitar pada khususnya dan kabupaten maros pada umumnya yang dapat dilihat melalui meningkatnya taraf hidup masyarakat.
Dinamika Kabupaten Dompu Pada Masa Pemerintahan Abubakar Ahmad Tahun (2000-2005) Azis, Abdul; Najamuddin, Najamuddin; Ahmadin, Ahmadin
Phinisi Integration Review Volume 4 Nomor 3 Tahun 2021
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pir.v4i3.24392

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (i) Gambaran Umum Kabupaten Dompu (ii) Proses pemilihan Bupati Dompu Tahun 2000-2005 (iii) Perkembangan Kabupaten Dompu Masa Pemerintahan Abubakar Tahun 2000-2005 (iv) Perkembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Kabupaten Dompu Tahun 2000-2005 (v). Hasil Penelitian menunjukan bahwa: DPRD Kabupaten Dompu menetapkan pemilihan Kepala Daerah dengan mengacu pada Keputusan Mendagri No. 36 Tahun 1995 pada pasal 8 dan pasal 14 ayat 1. Terjadinya perubahan dalam sistem ketatanegaraan pusat, diharapkan agar dapat terfokus dalam penyelenggaraan pemerintah daerahpun mengalami perubahan. Perubahan itu dilakukan dengan penetapan presiden (panpres No 6 tahun 1959) tentang pemerintah daerah disempumakan dengan penyelenggaraan pemerintah daerah dibidang urusan rumah daerah (Otonomi) dan tugas. Struktur pemerintahan tersebut berlaku seragam di yang baru terbentuk integral termasuk Dompu. Pemerintah Kabupaten Dompu telah membangun delapan (8) puskesmas dan sembilan (9) puskesmas keliling. Puskesmas yang dimaksud adalah Puskesmas Kecamatan Dompu,Puskesmas Dompu Timur, Puskesmas Pajo,Puskesmas Hu,u, Puskesmas Woja, Puskesmas Kempo, Puskesmas Manggelewa, Puskesmas Kilo, dan Puskesmas Pekat, dan masing-masing menpunyai mobil Puskesmas untuk membantu pekerjaan Puskesmas Tiap -tiap kecamatan Dan rumah sakit umum ada satu dan puskesmas pembantu ada 12 serta jumlah puskesmas keliling Pada tahun 2001-2005. Laju pertumbuhan ekonomi kabupaten dompu sangat meningkat,
PT. Semen Tonasa : Kajian Sejarah Dampak Sosial Ekonomi Bagi Masyarakat Desa Biringere 1998-2011 Jannah. A., Sitti Miftahul; Kesuma, Andi Ima; Ahmadin, Ahmadin
Phinisi Integration Review Volume 4 Nomor 3 Tahun 2021
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pir.v4i3.24418

Abstract

Hasil penelitian ini menunjukkan kondisi masyarakat desa Biringere sebelum masuknya industri PT. Semen Tonasa, masyarakat masih bersifat homogen yang terdiri dari penduduk asli saja dengan sistem gotong royong yang masih sangat kental. Kondisi desa yang masih tertinggal ditandai dengan sarana dan prasarana yang masih belum memadai. Pola mata pencaharian masyarakat sebagai petani dan pekebun masih belum mampu untuk menghidupi kebutuhan mereka. Tingkat pendidikan yang masih tergolong rendah karena pada saat itu hanya sebagian orang tua yang mampu menyekolahkan anaknya dengan pertimbangan kurangnya biaya hidup dan jauhnya jarak sekolah dari tempat tinggal mereka.Pihak PT. Semen Tonasa yang diwakilkan oleh CSRnya berusaha untuk memperbaiki dan menjalankan aktivitasnya yaitu berupa Program Kemitraan (bantuan kredit usaha), Bina Lingkungan (bantuan sosial), dan Tanggung Jawab Persahaan (lingkungan dan masyarakat). Bantuan yang disalurkan tersebut sebagai wujud kepedulian pihak perusahaan demi kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak secara langsung dari pengoperasian perusahaan di wilayah ring I, II, maupun III.Dengan masuknya industri PT. Semen Tonasa (1989-2011) telah membawa perubahan terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat di desa Biringere yaitu perubahan terhadap lingkungan fisik dengan pembangunan sarana dan prasarana secara besar-besaran, pertambahan penduduk dengan masuknya masyarakat luar yang lebih modern, perubahan pendidikan, perubahan pola kerja dari sektor pertanian beralih ke sektor industri, Perubahan pendapatan masyarakat, terjadinya pergereseran budaya gotong royong, menyempitnya lahan pertanian masyarakat, serta terjadinya pencemaran lingkungan.
Maudu' Lompoa : Studi Sejarah Perayaan Maulid Nabi Terbesar di Cikoang Kabupaten Takalar (1980-2018) Hermin Hermin; Ahmadin Ahmadin; Asmunandar Asmunandar
PATTINGALLOANG Vol. 7, No. 3, Desember 2020
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v7i3.16321

Abstract

Penelitian dan penulisan ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang Maudu` Lompoa sebagai perayaan maulid terbesar di Cikoang Kabupaten Takalar,  mengetahui pandangan masyarakat terhadap perayaan Maudu` Lompoa di Cikoang KabupatenTakalar, mengetahuidampak keberadaan yang ditimbulkan dari perayaan Maudu` Lompoa bagi masyarakat di Cikoang Kabupaten Takalar. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan perayaan maulid ini dilaksanakan dengan maksud untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad yang bertepatan pada 12 Rabiul Awal, Dimana upacara Maudu’ Lompoa merupakan ajaran yang dibawa oleh Syekh Jalaluddin yang merupakan seorang ulama berasal dari Aceh yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW yang datang ke Desa Cikoang untuk menyebarkan agama Islam. Bertahannya upacara peringatan Maulid Nabi ini karena adanya dorongan berupa motivasi keagamaan dan motivasi sosial yang merupakan dua faktor yang mendorong masyarakat Desa Cikoang untuk tetap melestarikan tradesi Maudu’ Lompoa ini, sehingga menimbulkan dampak pada masyarakat yaitu terlihat dalam bidang sosial, ekonomi dan wisata budaya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas empat tahapan yaitu : heuristik (pengumpulan data atau sumber), kritik sumber yang terdiri dari kritik intern dan ekstern, interprtasi atau penafsiran sumber dan historiografi yaitu penulisan sejarah.Kata Kunci : Maudu` Lompoa, Cikoang, perayaanAbstractResearch and writing aims to determine the background of Maudu` Lompoa as the biggest maulid celebration in Cikoang, Takalar Regency, to know the public's view of the Maudu` Lompoa celebration in Cikoang, Takalar Regency, to know the appearance of the existence of the Maudu` Lompoa celebration for the people in Cikoang, Takalar Regency. This study uses a historical research method which consists of four stages, namely: heuristics (data collection or sources), source criticism consisting of internal and external criticism, interpretation or interpretation of sources and historiography, namely writing history. Based on the results of the research, it shows that the existence of this maulid celebration is carried out with the intention to commemorate the birthday of the Prophet Muhammad which coincides with the 12th of Rabiul Awal, where the Maudu 'Lompoa ceremony is a teaching brought by Syekh Jalaluddin who is a scholar from Aceh who is a descendant of the Prophet Muhammad SAW. who came to Cikoang Village to spread Islam. The persistence of the commemoration ceremony of the Prophet's birthday is due to encouragement in the form of religious motivation and social motivation, which are two factors that encourage the people of Cikoang Village to continue to preserve the Maudu 'Lompoa tradition, resulting in an impact on society, which is seen in the social, economic and cultural tourism fields.Keywords: Maudu` Lompoa, Cikoang, Celebration
Herman Nicolas Ventje Sumual: Studi tentang Keterlibatannya dalam Permesta (1957-1961) Nur Alfi Laila Badru; Mustari Bosra; Ahmadin Ahmadin
PATTINGALLOANG Vol. 7, No. 3, Desember 2020
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v7i3.16319

Abstract

Herman Nicolas Ventje Sumual dibesarkan oleh keluarga yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. Jiwa pemimpin dan prestasi yang dimiliki Ventje  mempermudah dalam menyelesaikan pendidikannya dan hal tersebut menjadi penunjang keberhasilan dalam dunia organisasi. Riwayat organisasi dalam dunia keamanan dan pertahanan memberikan kemudahan dalam menjalani karir militernya hingga mendirikan Permesta. Terjadinya berbagai ketimpangan di berbagai daerah menjadi tujuan utama Permesta untuk memperbaiki keadaan tersebut. Permesta berakhir dengan tindak penyerahan diri terhadap Pemerintah pusat. Penelitian ini menggunakan metodologi sejarah dengan tahap yaitu heuristik (pengumpulan data), kritik (verifikasi), interpretasi (penafsiran) dan historiografi (penulisan sejarah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga Herman Nicolas Ventje Sumual memperoleh faktor terpenting yang menunjang keberhasilan pendidikan hingga karir militernya. Awal berdirinya Permesta lahir dari tindakan penentangan terhadap rezim Sukarno yang anti demokrasi oleh para politisi hingga para intelektual di kalangan militer dan ingin memperbaiki kembali pembangunan daerah yang terbengkalai serta kesejahteraan rakyat. Ventje memegang posisi penting dalam Permesta sebagai proklamator Piagam Perjuangan Permesta dan dijadikan sebagai ikon Permesta.Kata Kunci: Herman Nicolas Ventje Sumual, Permesta, Proklamasi Permesta AbstractHerman Nicolas Ventje Sumual was raised by a family that upheld the value of kinship. Ventje's leadership and achievements make it easier to complete his education and that supports success in the organization. The organization's history in the world of security and defense made it easier to pursue his military career until founding Permesta. The onsany of inequality in various regions became permesta's main goal to improve the situation. Permesta ended with a surrender to the central government. This research uses historical methodology with stages namely heuristics (data collection), criticism (verification), interpretation (interpretation) and historiography (historical writing). The results showed that Herman Nicolas Ventje Sumual's family had the most important factors that supported his educational success to his military career. The beginning of Permesta was born out of opposition to sukarno's anti-democracy regime by politicians to intellectuals in military circles and wanted to improve the rebuilding of abandoned areas and the welfare of the people. Ventje held an important position in Permesta as a proclamation of the Permesta Struggle Charter and became an icon of Permesta.Keywords: Herman Nicolas Ventje Sumual, Permesta, Permesta Proclamation
Bulukumba di Tengah Pergolakan DI/TII 1952-1965 Widia Astuti Ansar; Ahmadin Ahmadin; M. Rasyid Ridha
PATTINGALLOANG Vol. 4, No. 3, Desember 2017
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.185 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i1.6679

Abstract

This paper discusses the background of the DI/TII in Bulukumba, the activity of the DI/TII, as well as the impact of the existence of the DI/TII to the community Bulukumba for a period of 1952-1965. The results showed the existence of the DI/TII in Bulukumba be supported by the state of the geographical area Bulukumba the part of the hills and forests so thick. The demographic with the majority of the Islamic and are strong among the public and DI/TII the factors the existence of the DI/TII in the region. In this study were presented also factor in the Bulukumba in motion DI/TII the leadership of the Kahar Muzakkar. During its existence, a variety of activities be done, among others, kidnapping, robbery on the ground and at sea, the burning of the people's houses, facilities and infrastructure of government, as well as acts of sabotage in the form of the destruction of the bridge, felling trees, digging the road to hamper the mobility which is “enemy” of DI/TII. The impact of the DI/TII in Bulukumba to its velocity of the economy because the closing of the access between “town and village”, education did not good well because most of the teachers and school students were abducted by a gang of DI/TII, the removal of the social strata and activities that deviate from the teachings of Islam. The method used in this study the method of historical research with through four stages, namely : heuristics, the criticism, an interpretation, and historiography. Heuristik is an activity of collecting the history associated with the topic of discussion through research library and an interview. Criticism of the form of criticism external and criticism of internal matters in order to get an authentic. Then the interpretation or the provision of the meaning of the data obtained as to be compiled into the historical facts, which was written into works of history are arranged in chronological order. 
Petani Kopi Robusta di Desa Basseang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang (1970-2018) Sriyuni Wahyuningsih Ripal; Rasyid Ridha; Ahmadin Ahmadin
PATTINGALLOANG Vol. 8, No. 1, April 2021
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v8i1.18396

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang keberadaan Petani Kopi Robusta di Desa Basseang, dinamika produksi kopi, sistem pengolahan hasil panen dan dampak keberadaan pertanian kopi robusta. Penelitian ini bersifat Deskriptif Analitik menggunakan metode penelitian sejarah, yaitu heuristik, kritik ekstern dan kritik intern, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Belanda membawa bibit kopi Robusta dikarenakan hampir seluruh perkebunan di dataran rendah di Indonesia rusak terkena hama. Tahun 1907 Kerajaan Sawitto telah ditaklukkan oleh pemerintah Kolonial Belanda mendatangkan bibit kopi Robusta ke daerah tersebut yang disebut Kawa Balanda. Tahun 1970 merupakan awal baru bagi pertanian kopi yang ada di Desa Basseang. Ambe’ Mine sebagai pelopor pertanian kopi di Desa tersebut mengajak petani lainnya memulai membudidayakan kopi yang sebelumnya rusak karena perang dan ditinggalkan ketika terjadi bentrok fisik antara TKR pada masa DI/TII. hasil produksi pertanian kopi Robusta semakin meningkat tiap tahunnya, dikarenakan kondisi cuaca dan iklim yang mendukung pertanian tersebut. Hasil panen petani kopi di Desa Basseang diolah secara tradisional dan modern. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa petani kopi merupakan salah satu profesi yang sejak dahulu dilakoni oleh masyarakat di Desa Basseang sejak zaman kolonial hingga era milenial. Profesi petani kopi diyakini meningkatkan taraf hidup masyarakat di Desa Basseang.
Penetrasi Nelayan Tradisional Panaikang 1955-1970 Haerianty Rezky Sani; Ahmadin Ahmadin; Amirullah Amirullah
PATTINGALLOANG Vol. 4, No. 3, Desember 2017
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.363 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i1.6705

Abstract

This paper discusses about the traditional fishermans penetration in the village of Panaikang subdistrict of Sinjai Timur the regency of  Sinjai (1955-1970). The result of research indicates that in 1955 the people began to looking for fish in the sea. They live in groups according to the area where they make a living. The traditional fisherman in the Panaikang village were referred to as the pa’panja because of the used of the payang (panja). Originally, traditional fishing grounds were not far from the shoreline. As it progresses to the operational terrority far enough to the Tanjung Pandang and Bangka. A single months journey with compass instructions, the position of the sun and the moon. A boat that used a Biruang boat, pagatang boat, and soppe’ bajo with oars and sails. Fishermen of 8-12 people on each boat. There are also components of a fishermans work and as well as the class of the fishermen, had payang (panja), and the sawi, who were founded on the basis of family activities. The fishing orientation is still subsisten. The economic conditions of the fishermen in the village of Panaikang were the prosperous, and this was felt by punggawa. This can be seen from the existence of a system of 50% for punggawa, the have panja and sawi gets a 25%. There were a traditional of survival by making sulo fesse when going to sea, it was a matter of catch. This study used the method historical research, namely: heuristic, criticism of the source, interpretation and historiography. Data collection methods are done by how a field research is made up of interviews (punggawa, sawi and the fishermens wife) and collect the source of the archives (Sinjai archives, documents from the village and fishing offices) and the literature related.
Jejak Aroma Kopi Arabika di Massenrempulu 1970-2016 Ismail Muslimin; Ahmadin Ahmadin; Patahuddin Patahuddin
PATTINGALLOANG Vol. 4, No. 3, Desember 2017
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.785 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i1.7075

Abstract

This study aims to determine the background of coffee farming, coffee agriculture development to agricultural impacts of Arabica Coffee in Benteng Village Alla Utara District Baroko. This type of research is qualitative research. This research is done through interview and literature study using historical method through several stages: heuristic (source collection), source critic, interpretation, and historiography. The results showed that the existence of Arabica Coffee farm in Benteng North Alla Village began in 1750 after the Dutch managed to colonize the North Alla Fort Village. The development of coffee plantations began to be re-enacted when the arrival of Ir. Sugiyo from Jember, East Java. Ir. Sugiyo is an agricultural employee from Java. Ir. Sugiyo introduced a kind of Arabica Coffee that has good quality. Based on the result of the research, it can be concluded that Arabica Coffee has an impact to the society economy in Benteng Alla Utara village which is providing employment such as season laborer and day laborer, ownership of property for Arabica coffee farmer, and giving impact to regional income.
Cucu Nabi Muhammad Menikah dengan Orang Makassar : Studi Pernikahan Perempuan Islam Sayyid di Cikoang, Takalar Mustika Sari Wulandari; Abdul Rahman; Ahmadin Ahmadin; Rifal Rifal
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.986 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v7i2.5499

Abstract

Abstract This article discusses the marriage of Muslim woman Sayyid in Cikoang, Takalar, South Sulawesi. Sayyid Islam is believed to have originated from the Prophet's grandson, Muhammad, who believed that he could only marry Sayyid's own Muslims. The study focused on women who married people outside of Sayyid. For this purpose, this article discusses (1) the background to a woman of Sayyid descent so that she chooses to marry a non-Sayyid man by reason of their own choice and for liking each other with her partner (2) the way of the descendants of Sayyid girls carry out their marriages with non-Sayyid men have differences with the processes commonly carried out by the community in general, the difference in the marriage process is not running a series of processes carried out before the wedding day which is usually done by the Makassar people (3) The marriage was also not attended and not witnessed by the family of the Sayyid woman. As for the relationship between Sayyid's daughter and her family, it can be said that she has broken up or has no family ties, even the daughter has been considered dead by her family since she chose to marry a non-Sayyid man, as well as the relationship between her husband and children towards the family the great Sayyid woman.Keywords: Sayyid Islam, Marriage, Anthropology of Religion.
Co-Authors A. Octamaya Tenri Awaru A. Reni Agustina. M Aba, Akbar Abdul Azis Abdul Rahman Abdul Rahman Abdul Rahman Abdul Rahman Abdul Rahman Abdul Rahman Abdul Rahman Abidin, Abdi Dermawan Achmad Idrus Al Islami Agustang, Andi Ahmad Syahrir Amiruddin Amiruddin Amiruddin Amiruddin Amirullah -, Amirullah Amirullah Amirullah Amirullah Amirullah Ana Fajarningsi Andi Asrullah Andi Ima Kesuma Andi Tenrile Annisa Pratiwi, Zulfira Anrical Anrical April Cahaya Ashari Ramlan Asmunandar Asmunandar Asmunandar Asmunandar Asmunandar Asmunandar Asmunandar, Asmunandar Bahri Bahri Bahri bahri Bahri Bahri Bosra, Mustari Bustan Bustan Dahlia Pinem Dandi Bahtiar Darman Manda Manda Fatimah Irhas Haerianty Rezky Sani Halfiah Halfiah Haryono, Indriani Hermin Hermin Ismail Muslimin Ita Musfirowati Hanika Jannah. A., Sitti Miftahul Jejen, Atep Jovita Oktaviani Putri Jumadi Jumadi Jumadi Jumadi Jumadi Jumadi Jumadi Jumadi Khaer , Fajrul La Malihu M. Nur Aidil Fitri M. Rasyid Ridha M. Rasyid Ridha M. Yunasri Ridhoh Madjid, Saleh Maemunah Maemunah Malihu, La Mansyur, Khumairah Mardi Lestari A Mrs Musdalifah Muh Nur Fajri Ramadhana Muh Rasyid Ridha Muh. Zainuddin Badollahi Muh.Rasyid Ridha Muhammad Hidayatullah Muhammad Ikbal Muhammad Syukur Muhammad Yahya Muhaimin Syarifuddin Mustari Bosra Mustika Sari Wulandari Najamuddin Najamuddin Najamuddin Najamuddin, Najamuddin Nasuhan, Najamuddin Nur Alfi Laila Badru Nur Atika Nurainun Nurainun Nurfatmawati Nurfatmawati Nurkasri Wulan Nurwina S Nurwira, Nurwira Omedetho Jermias, Emanuel Patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuddin Raden Mohamad Herdian Bhakti Rahmatul Yushar Reksawan, M. Diant Reski ayu Lestari Rifal Rifal Rifal, Rifal Rifal, Rifal Rismawati Rismawati Rohim, Nur Fatimah Rosdiana Hafid Rusdi Rusdi Salmiyati, Mrs Samudra Sanur, Ilham Sanur, Ilham Samudra Satria Wulandari Sofyan, Hady Sriyuni Wahyuningsih Ripal Supriadi Torro Syahrir Kila Syamsu Andi Kamaruddin Wahyudi Ishak Widia Astuti Ansar Yulia, Irma Denada Yusuf, Indriani Pratiwi