Claim Missing Document
Check
Articles

Tradisi Mappanre Temme’ Pada Pernikahan Masyarakat Suku Bugis Dusun Labose Desa Laskap Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur, 1967-2021. Nurwina S; Jumadi Jumadi; Ahmadin Ahmadin
Attoriolong Vol 20, No 2 (2022): Attoriolong Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang munculnya tradisi mappanre temme’  pada pernikahan adat suku Bugis dikalangan masyarakat Bugis, untuk mengetahui makna-makna yang terkandung di dalam tradisi ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif ialah suatu proses penelitian untuk memahami fenomena-fenomena manusia atau sosial menciptakan gambaran yang menyeluruh dan kompleks yang dapat disajikan dengan kata-kata, melaporkan pandangan terperinci yang diperoleh dari sumber informan, serta dilakukan dalam latar setting yang alamiah. Tahun 1967 diambil dan dijadikan batasan tahun dengan alasan objek penelitian yakni Dusun Labose secara resmi masuk menjadi salah satu dusun di Desa Laskap, sedangkan batasan waktu penelitian diambil yakni tahun 2021 karena tahun tersebut merupakan waktu pling mutakhir dalam pengumpulan data penelitian. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam upacara tradisi mappanre temme’ pada pernikahan adat masyarakat suku Bugis di Dusun Labose ada beberapa alasan sehingga tradisi ini masih dilaksanakan, diantaranya adalah masih adanya kepercayaan dari nenek moyang terdahulu, faktor turun-temurun atau warisan dari para tetua sehingga harus dilaksanakan sehari sebelum menjelang akad pernikahan dilangsungkan. Di dalam tradisi mappanre temme’ kedua mempelai pengantin melaksanakan tradisi ini di rumahnya maing-masing yang didampingi oleh guru mengaji dan kedua orang tuanya. Calon pengantin memakai baju adat suku Bugis yang biasanya dikenal dengan sebutan baju Bo’do khas suku Bugis, kemudian calon pengantin mengikuti bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh guru mengaji yang telah di amanahkan oleh orangtua calon pengantin untuk memandu berlangsungnya acara mappanre temme’. Dalam tradisi ini juga terdapat makna-makna simbol yang terdapat pada hidangan yang disajikan. 
Aroeppala dalam Panggung Politik Pemerintahan di Sulawesi Selatan 1945 –1966 Rahmatul Yushar; Ahmadin Ahmadin; Patahuddin Patahuddin
Attoriolong Vol 20, No 2 (2022): Attoriolong Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang, peran, kedudukan Aroeppala, awalkarir Aroeppala dalam pemerintahan, kemudian perkembangan karir Aroeppala dalam Politik Pemerintahan di daerah Selayar dan beberapa daerah di Sulawesi Selatan, serta akhir karirpolitik dari Aroeppala. Penelitian ini adalah penelitian sejarah dengan pendekatan deskriptifanalisis. Penelitian ini dilakukan melalui studi lapangan dan kajian pustaka dengan menggunakan metode penelitian sejarah yang mempunyai tahapan kerja, yaitu heuristik, kritiksumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakangkeluarga Aroeppala mempunyai garis keturunan bangsawan yang secara status sosial tergolongtinggi di tengah masyarakat. Hal inilah yang menjadi peluang bagi Aroeppala untuk mampumelanjutkan pendidikannya yang tidak mampu dijangkau oleh orang lain. Aroeppala pun bersekolah di OSVIA yang lulusannya bekerja sebagai pegawai administrasi pemerintahan. Kebutuhan akan sumber daya manusia pasca proklamasi kemerdekaan sangatlah besar gunamenjalankan pemerintahan yang ditinggalkan oleh pemerintahan militer Jepang. Oleh karenaitu Aroeppala pun mengisi beberapa tempat –tempat di bagian administrasi pemerintahan mulai dari pegawai administarsi pemerintahan biasa hingga menjadi anggota DPR-GR/MPRS padatahun 1966-1971. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa tidak lamanya masa jabatan Aroeppala di setiap tempat dikarenakan kondisi keamanan belum sepenuhnyapulih pasca kemerdekaan dikarenakan adanya NICA. Aroeppala merupakan sosok dengan kepribadian yang sangat bermasyarakat, adil, disiplin dan jujur sehingga selalu menjadi pilihan untuk ditempatkan di berbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Nelayan Rajungan di Kampung Lantebung Kota Makassar 2000-2019 Nurainun Nurainun; Najamuddin Najamuddin; Ahmadin Ahmadin
Attoriolong Vol 20, No 2 (2022): Attoriolong Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan tentang : pentingnya Rajungan bagi masyarakat Lantebung, latar belakang perdagangan rajungan di Kampung Lantebung, dan dinamika perdagangan rajungan di Kampung Lantebung pada tahun 2000-2019. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rajungan memiliki nilai penting karena menangkap rajungan adalah bagian dari warisan masa lalu. Selain itu, rajungan merupakan penopang kehidupan masyarakat Lantebung. Adapun yang melatarbelakangi masyarakat Lantebung menangkap rajungan dimulai ketika munculnya perusahaan besar yang melirik hasil tangkapan rajungan di awal tahun 2000-an sehingga masyarakat setempat menjadikan rajungan sebagai komoditas utama di samping hasil tangkapan laut lainnya. Dijadikannya rajungan sebagai komoditas memberikan pemahaman pada masyarakat setempat untuk melestarikan habitat rajungan, yakni hutan mangrove (bakau). Pelestarian hutan bakau ini pula membawa dampak ekonomi tersendri seperti adanya eko-wisata mangrove, kemudian dapat merangsang roda ekonomi masyarakat pesisir Kampung Lantebung. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa secara umum rajungan memberikan banyak manfaat tidak hanya dari segi ekonomi, segi sosial-masyarakat, tetapi juga pelestarian lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri atas tahapan: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara studi arsip dan studi pustaka.
Bulukumba pada Masa Pemerintahan Zainuddin Hasan, 2010-2015 Andi Asrullah; Patahuddin Patahuddin; ahmadin Ahmadin
Attoriolong Vol 20, No 1 (2022): Attoriolong Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menunjukkan bagaimana perkembangan pembangunan, konsep pembangunan dan implementasi pembangunan, dan pandangan masyarakat Bulukumba terhadap masa pemerintahan Zainuddin Hasan. Hasil dari penelitian ini, Sesuai dengan konsep pembangunannya termuat dalam visinya yakni “Sejahterakan Masyarakat dengan membangun Desa, menata Kota, melalui Kemandirian Lokal yang Bernafaskan Keagamaan”, pemerintahan Zainuddin Hasan melaksanakan pembangunan  pada semua bidang kehidupan dengan titik berat dibidang ekonomi, sosial, dan budaya. Dapat disimpulkan bahwa Bulukumba pada masa pemerintahan Zainuddin Hasan mengalami kemajuan atau peningkatan dalam berbagai bidang, seperti dalam bidang sarana dan prasarana dengan banyaknya pembangunan fisik yang bisa dilihat seperti Masjid Islamic Center Dato’ Tiro yang menjadi ikon baru Kabupaten Bulukumba, bidang ekonomi dengan meningkatnya PDRB (Pendapatan Daerah Rural Bruto) Kabupaten Bulukumba yang didominasi sektor pertanian,   bidang sosial budaya dari sektor kesehatan dengan adanya pembangunan atau peningkatan fasilitas kesehatan yang menentukan derajat kesehatan masyarakat, dari sektor pendidikan dengan adanya pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang tersebar di berbagai pelosok daerah, dan serta sektor – sektor lainnya yang mendorong  peningkatan  kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat.
Upacara Adat Siklus Hidup Masyarakat Adat Marena di Kabupaten Enrekang, 1953-2018. Nur Atika; Mustari Bosra; Ahmadin Ahmadin
Attoriolong Vol 20, No 1 (2022): Attoriolong Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penenlitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana upacara adat  Masyarakat Adat Marena di Enrekang (1953-2018) dengan menguraikan bagaimana latar belakang terbentuknya masyarakat adat, wujud dan dinamika upacara adat siklus hidup  Masyarakat Adat Marena, dampak upacara adat siklus hidup pada masyarakat adat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas empat tahap yakni: heuristik (pengumpulan data dan sumber), kritik sumber yang terdiri dari kritik intern dan kritik ekstren, interprestasi atau penafsiran dan historiografi atau penulisan sejarah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Marena adalah sebuah tempat di mana bermukim masyarakat adat yang disebut dengan Masyarakat Adat Marena sesuai dengan tempat bermukimnya. orang yang pertama kali ada di wilayah ini bernama Pagunturan (laki-laki) dan Paccanono (perempuan). Keturunan dari pasangan inilah yang kemudian disebut orang Marena. Menurut kepercayaan orang Marena Paccanno berasal dari To Malendung, orang yang tidak Nampak. Seiring dengan berjalannya waktu mengalami banyak perubahan diantaranya pada masa Belanda, masa DI/TII, masa orde baru dan bahkan sampai sekarang mengalami perubahan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa masyarakat adat Marena masih melaksanakan tradisi diantaranya Mangpadali, Manganta, Mangpaotting, Lolo Barangngapa dan Lolo Lise’, Mangbongi-bongi tomate. yang didukung dengan adanya pemangku adat di masing-masing batu ariri sebagai pemegang peranan penting untuk terlaksanya tradisi dalam masyarakat tersebut.
Sejarah Hutan Mangrove Tongke-Tongke di Kabupaten Sinjai Reski ayu Lestari; Amirullah Amirullah; Ahmadin Ahmadin
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 1, April 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i1.10687

Abstract

Penelitian dan penulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang keberadaan hutan mangrove, perkembangan hutan mangrove, menguraikan dampak keberadaan hutan mangrove terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan pariwisata di Desa Tongke – Tongke Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari 4 tahap, yakni: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian lapangan terdiri dari wawancara dan studi pustaka. Penulisan skripsi ini digolongkan sebagai sejarah ekowisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang keberadaan hutan mangrove di Desa Tongke – Tongke karena terjadinya abrasi yang melanda wilayah pesisir Tongke – Tongke. Pada tahun 1985 masyarakat mulai menanam mangrove untuk mencegah terjadinya abrasi. Hutan mangrove ini merupakan hasil rehabilitasi masyarakat secara swadaya. Perkembangan hutan mangrove Tongke – Tongke terjadi tahun 1995 setelah mendapat piagam penghargaan Kalpataru sebagai penyelamat lingkungan hingga menjadi sebuah obyek wisata. Obyek wisata hutan mangrove Tongke – Tongke ramai dikunjungi oleh wisatawan serta menjadi laboratorium pengembangan mangrove di Sulawesi Selatan. Keberadaan hutan mangrove ini memberi dampak sosial, ekonomi dan pariwisata bagi masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan hutan mangrove hingga mengalami perkembangan pesat terutama setelah menjadi obyek wisata alam yang menyebabkan banyak wisatawan yang datang berkunjung ataupun melakukan penelitian dan ini berdampak pada pelaku ekonomi yang turut berpartisipasi serta memanfaatkan peluang untuk meningkatkan kehidupan ekonomi yang lebih baik.Kata kunci: Mangrove, Wisata, Tongke-tongke
Sekolah Berasrama SMA Negeri 11 Pinrang, 2012-2020. Achmad Idrus Al Islami; Najamuddin Najamuddin; Ahmadin Ahmadin
Attoriolong Vol 21, No 1 (2023): Attoriolong Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Latar belakang didirikannya, (2) Perkembangan sekolah, dan (3) Dampak keberadaan sekolah tersebut pada alumni dan masyarakat sekitar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dan menggunakan analisis pendekatan sejarah yang terdiri dari empat tahapan yaitu: heuristik (pengumpulan data atau sumber), kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa: (1) Latar belakang didirikannya Sekolah berasrama SMA Negeri 11 Pinrang berawal dari adanya dana infrastruktur daerah (DID) Kabupaten Pinrang. Dan juga didasari oleh dukungan masyarakat dan para pakar-pakar pendidikan yang sangat ingin jika di kabupaten Pinrang dibangun sekolah dengan model semi pesantren negeri atau kata lain sekolah berasrama. Gagasan ini juga diperkuat dengan realita belum adanya sekolah dengan model “Boarding School”. (2) Selama didirikannya Sekolah berasrama SMA Negeri 11 Pinrang pada tahun 2012 sampai sekarang ini telah banyak mengalami perkembangan dari segala aspek, mulai dari perkembangan peserta didik, tenaga pengajar, sarana dan prasarana, kurikulum, dan bahkan prestasi peserta didiknya mulai dari prestasi akademik maupun non akademik. (3) Keberadaan Sekolah berasrama SMA Negeri 11 Pinrang memberikan dampak bagi masyarakat kabupaten Pinrang dan sekitarnya, terutama bagi orang tua peserta didik yang sangat merasakan dampaknya, dan dampak Sekolah berasrama SMA Negeri 11 Pinrang tidak hanya berdampak bagi masyarakat sekitar, tetapi juga berdampak langsung bagi kehidupan para siswa setelah selesai atau kata lain alumni. 
Pelaksanaan Ritual Sipulung pada Masyarakat Towani Tolotang di Amparita masa Covid 19 Andi Tenrile; Najamuddin Najamuddin; Ahmadin Ahmadin
Attoriolong Vol 21, No 1 (2023): Attoriolong Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas 3 hal pokok yakni latar belakang dilakukannya acara Sipulung, dinamika pelaksanaan acara Sipulung, serta dampak Covid-19 terhadap pelaksanaan acara Sipulungmasyarakat Towani Tolotang di Amparita Kabupaten Sidenreng Rappang. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa acara Sipulung dilaksanakan karena sebuah wasiat dari leluhur masyarakat Towani Tolotang  yang bernama Ipabbere. Ipabbere berpesan kepada anak cucunya bahwa kelak jika dia meninggal maka kuburanya harus di ziarahi setahun sekali. Sipulung juga sebagai media permohonan keselamatan dalam setahun. Pelaksanaan Sipulung telah mengalami banyak dinamika mulai dari sebelum adanya Covid-19 sampai saat adanya Covid-19. Sipulung yang biasanya ramai di hadiri oleh masyarakat Towani Tolotang baik dari daerah Sidrap maupun luar daerah Sidrap juga merasakan dampak akibat adanya Covid-19. Tidak semua masyarakat dapat mengikuti acara Sipulung ini seperti anak-anak, lanjut usia, dan masyarakat yang memiliki gejala seperti Covid-19 tidak diperbolehkan untuk ikut. Terdapat beberapa rangkaian acara yang biasa mereka lakukan terpaksa harus ditiadakan seperti acara Masempe’ bahkan ada rombongan kepemangkuan yang hanya datang ziarah di makam Ipabbere dan melakukan pelaporan kepada Dewata Seuwa’e kemudian langsung pulang tanpa manre sipulung seperti. Sipulung yang biasanya bisa dihadiri oleh tamu dari luar masyarakat Towani Tolotang pada acara kali ini sudah tidak diperbolehkan. Waktu keberangkatan ke lokasi Sipulung juga berubah menjadi lebih awal dan pulang lebih cepat.
Peran Datuk Ri Bandang Dalam Menyebarkan Islam di Selayar Study Historis Masuknya Islam di Selayar A. Reni Agustina. M; Mustari Bosra; Ahmadin Ahmadin
Attoriolong Vol 21, No 1 (2023): Attoriolong Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang dan awal mula Datuk ri Bandangmenyebarkan agama Islam diSelayar, proses Datuk ri Bandang menyebarkan agama Islam diSelayar, dan faktor pendukung dan penghambat Datuk ri Bandang dalam menyebarkan agamaIslam di Selayar. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Latar belakang dan awal mulamasuknya Islam di Selayar khususnya di Gantarang Lalang Bata tidak bisa dilepaskan dari sejarahmasuknya Islam di Nusantara itu sendiri. Ini dapat dilihat dari penerimaan agama Islam sebagaiagama resmi di Kerajaan Gowa pada abad ke XVI M atau lebih tepatnya pada tahun 1605 M yangditandai dengan masuknya raja Gowa pada saat itu I Mangerangi Daeng Mara’bia atau yangkemudian dikenal sebagai Sultan Alauddin. (2) Proses Datuk ri Bandang Menyebarkan Islam diSelayar adalah ketika Datuk ri Bandang mengawali kedatangannya di kepulauan Selayar, dimanasetelah itu ia berangkat dengan Fuso (seorang nelayan) ke Gantarang,berlayar ke Babaere untukmengislamkan raja Gantarang. Raja Gantarang bertanya kepada Datuk ri Bandang tentang apamaksud dan tujuannya sebagaimana yang dijelaskan dalam stambong (tulisan Arab yang berbahasa Makassar) dalam bahasa Jawa disebut tambo atau babat yang menerangkan tentangsejarah Datuk ri Bandang dan Masuknya Agama Islam di daerah Kepulauan Selayar. Faktor pendukung dan penghambat Datuk ri Bandang dalam menyebarkan agama Islam di Selayar adalah: 1) Faktor pendukung yaitu ajaran tasawuf menjadi faktor terpenting bagi tersebarnya Islam secara luas di Pulau Selayar. Karena Islam Pertama yang diperkenalkan di Selayar, adalah Islam dalam corak tasawuf. Faktor penghambat yaitu kebiasaan masyarakat yang bertentangan denganajaran Islam seperti minum ballo’.
Nama Diri dan Identitas Sosial Orang Selayar (Suatu Kajian Sosiologi) Ahmadin Ahmadin
Seminar Nasional LP2M UNM 2017
Publisher : Seminar Nasional LP2M UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.505 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui hakikat nama diri bagi Orang Selayar, transformasi nilai dan degradasi makna pada nama-nama kultur masyarakat selayar, dan prospek serta bentuk-bentuk upaya mempertahan nama kultur di era modern. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Selayar memiliki alasan-asalan sosio-kultural dalam mereproduksi identitas sosial pada pemilihan dan pemberian nama bagi anaknya yang baru lahir. Dalam tradisi masyarakat Selayar tempo dulu dan sebagian masih berlaku hingga sekarang, nama seseorang merupakan bagian penting yang menentukan derajat sosial mereka. Dengan demikian, berbagai latar sikap eklektif dalam menentukan nama, menjadi menarik dijadikan bidang telaah terutama dalam perspektif ilmu sosial. Dalam perkembangannya, nilai-nilai sosio-kultural di balik nama diri di kalangan masyarakat Selayar mengalami perubahan seiring terjadinya transformasi sosial karena pengaruh Islam dan modernisasi dalam berbagai aspek serta dimensi kehidupan sosial. Karena itu, diperlukan berbagai upaya mempertahankan nama-nama kultur tersebut. Kata kunci: Nama Diri, Identitas Sosial, Orang Selayar
Co-Authors A. Octamaya Tenri Awaru A. Reni Agustina. M Aba, Akbar Abdul Azis Abdul Rahman Abdul Rahman Abdul Rahman Abdul Rahman Abdul Rahman Abdul Rahman Abdul Rahman Abidin, Abdi Dermawan Achmad Idrus Al Islami Agustang, Andi Ahmad Syahrir Amiruddin Amiruddin Amiruddin Amiruddin Amirullah -, Amirullah Amirullah Amirullah Amirullah Amirullah Ana Fajarningsi Andi Asrullah Andi Ima Kesuma Andi Tenrile Annisa Pratiwi, Zulfira Anrical Anrical April Cahaya Ashari Ramlan Asmunandar Asmunandar Asmunandar Asmunandar Asmunandar Asmunandar Asmunandar, Asmunandar Bahri Bahri Bahri bahri Bahri Bahri Bosra, Mustari Bustan Bustan Dahlia Pinem Dandi Bahtiar Darman Manda Manda Fatimah Irhas Haerianty Rezky Sani Halfiah Halfiah Haryono, Indriani Hermin Hermin Ismail Muslimin Ita Musfirowati Hanika Jannah. A., Sitti Miftahul Jejen, Atep Jovita Oktaviani Putri Jumadi Jumadi Jumadi Jumadi Jumadi Jumadi Jumadi Jumadi Khaer , Fajrul La Malihu M. Nur Aidil Fitri M. Rasyid Ridha M. Rasyid Ridha M. Yunasri Ridhoh Madjid, Saleh Maemunah Maemunah Malihu, La Mansyur, Khumairah Mardi Lestari A Mrs Musdalifah Muh Nur Fajri Ramadhana Muh Rasyid Ridha Muh. Zainuddin Badollahi Muh.Rasyid Ridha Muhammad Hidayatullah Muhammad Ikbal Muhammad Syukur Muhammad Yahya Muhaimin Syarifuddin Mustari Bosra Mustika Sari Wulandari Najamuddin Najamuddin Najamuddin Najamuddin, Najamuddin Nasuhan, Najamuddin Nur Alfi Laila Badru Nur Atika Nurainun Nurainun Nurfatmawati Nurfatmawati Nurkasri Wulan Nurwina S Nurwira, Nurwira Omedetho Jermias, Emanuel Patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuddin Raden Mohamad Herdian Bhakti Rahmatul Yushar Reksawan, M. Diant Reski ayu Lestari Rifal Rifal Rifal, Rifal Rifal, Rifal Rismawati Rismawati Rohim, Nur Fatimah Rosdiana Hafid Rusdi Rusdi Salmiyati, Mrs Samudra Sanur, Ilham Sanur, Ilham Samudra Satria Wulandari Sofyan, Hady Sriyuni Wahyuningsih Ripal Supriadi Torro Syahrir Kila Syamsu Andi Kamaruddin Wahyudi Ishak Widia Astuti Ansar Yulia, Irma Denada Yusuf, Indriani Pratiwi