Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Motivasi dan Intensitas Orang Tua yang Bermain Game dengan Perilaku Menyimpang dalam Keluarga Rizka Arsianti; Tandiyo Pradekso; Nurrist Surayya Ulfa; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.11 KB)

Abstract

Perkembangan penggunaan game yang kian pesat didukung oleh jumlahgame yang semakin banyak, akses yang mudah dengan berbagai platform,membuat game dikonsumsi oleh segala lapisan umur tidak terkecuali orang tua.Perlu disadari bahwa game tidak hanya membawa dampak positif saja namun jugadampak negatif. Motivasi dan intensitas dari seorang pemain game kemudianmemiliki andil dalam pembentukan perilaku, sehingga ada kekhawatiran berujungpada perilaku menyimpang. Keluarga sebagai lingkungan terdekat dari seorangindividu dimana orang tua menjalankan norma-normanya, tidak luput terkenadampak negatif dari game.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan tipe eksplanatori,yang bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasidanintensitas orang tua yangbermain game denganperilakumenyimpangdalamkeluarga.Teori yang digunakanadalah Self Determination Theory, dan Teori Belajar Sosial. Penelitian inimenggunakan teknik non random sampling dengan metode purposive samplingdan jumlah sampel sebanyak 100 responden orang tua yang bermain game di kotaSemarang.Hasil dari analisis korelasi Pearson dengan bantuan SPSS 22 menunjukanbahwa antara motivasi bermain game dengan perilaku menyimpang memilikihubungan yang signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikansi sebesar0,025 dimana tingkat signifikansinya lebih kecil dari 0,05 dan nilai koefisienkorelasinya sebesar 0,197. Sedangkan intensitas dengan perilaku menyimpangmemiliki hubungan yang juga signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilaisignifikansi sebesar 0,015 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 dan nilaikoefisien korelasinya sebesar 0,217.Keluarga sebagai lingkungan terdekat dari individu dalam hal ini orang tuasebaiknya melakukan tindakan preventif dengan mengarahkan orang tua yangbermain game ke aktivitas yang lebih positif dan mencari kesibukan lain yangmembuat orang tua yang bermain game dapat bersosialisasi denganlingkungannya, sehingga dapat meminimalisir motivasi dan intesitas bermaingame agar terhindar dari perilaku menyimpang.
Pengaruh Terpaan Berita Kriminal Dan Faktor Demografi Terhadap Tingkat Kecemasan Masyarakat Untuk Berinteraksi Dengan Lingkungan Arinda Putri Oktaviani; Adi Nugroho; Joyo NS Gono; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.815 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terpaan berita kriminal di televisi dan faktor demografi terhadap tingkat kecemasan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji faktor demografi yang memediasi terpaan berita kriminal di televisi dan tingkat kecemasan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungan.Penulis menggunakan Teori Depedensi Mengenai Efek Komunikasi Massa dan Teori Kategori Sosial untuk menjelaskan pengaruh terpaan berita kriminal di televisi dan faktor demografi terhadap tingkat kecemasan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungan. Populasi penelitian ini adalah khalayak yang berdomisili di Semarang dan menonton berita kriminal di televisi, yang diambil sebanyak 60 orang, dengan teknik purposive sampling.Dalam uji hipotesis, penulis menggunakan Analisis Regresi Hirarki Berganda. Uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi variabel terpaan berita kriminal di televisi terhadap variabel tingkat kecemasan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungan adalah 0.011, sehingga terdapat pengaruh langsung terpaan berita kriminal di televisi terhadap tingkat kecemasan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungan. Kemudian, nilai signifikansi variabel terpaan berita kriminal di televisi melalui variabel usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan adalah 0.000, 0.001, 0.000, 0.008 nilai signifikansi < 0.05, sehingga terpaan berita kriminal di televisi berpengaruh terhadap tingkat kecemasan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungan melalui variabel usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan.
Efektivitas Format Iklan Komparatif dan Non Komparatif Merek Market Leader Krisna Adryanto; Tandiyo Pradekso; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.107 KB)

Abstract

Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 2Efektivitas Format Iklan Komparatif dan Non KomparatifMerek Market LeaderKrisna Adriyanto, Tandiyo Pradekso1, dan Djoko Setyabudi2ABSTRACTField Experimental Research, 2 (Ad Formats) X 2 (The Difference between Men andWomen in Information-Proccessing Strategies) Randomized-Blocked Factorial Designwas conducted involving 120 participants (60 men and 60 women), who were assignedinto 4 (four) treatment groups. Stimulus used in this research are non-comparative andindirect comparative ads which used by the brand "Adem Sari" in the period mid-2012to mid-2013. The stimulus was combined with the Opera Van Java July 24, 2013Edition and involved several ads from other product categories. Furthermore, the dataanalysis techniques used as hypothesis testing tools are Two-Ways ANOVA, Mann-Whitney U Test, Two-Ways Friedman ANOVA By Rank and Structural EquationModelling with an alternative method of Partial Least Square (PLS).These studies suggest that indirect comparative ad formats result in unfavorableattitudes toward the ad and brand. In addition, the ability of this type of advertising toencourage favorable cognitive responses toward ads and encouraging purchaseintention, also did not differ significantly with non-comparative ad format. Cognitiveresponse toward ads on both types of ad formats (indirect comparative and noncomparative)is significantly affect consumer attitudes toward the ad and brand. In thenon-comparative advertising, attitudes toward ad have a significant effect on attitudestoward the brand, but this does not occur in indirect comparative advertising. In thiscases, consumer attitudes toward the ad and brand proved as a significant predictor ofconsumer purchase intention when indirect comparative advertising is used, but thisdoes not apply when non-comparative advertising is used. The differences between Mendan Women in Information-Proccessing Strategies and their interaction with the adformat, also did not significantly influence the effectiveness of both types of ad formats.Another interesting finding in this research, is the Men have more favorable attitudetowards the brand when exposed to indirect comparative advertising. While Womenwill have more favorable attitude towards the brand than Men when exposed to noncomparativeadvertising.Keywords : Ad Format, The Differences between Men and Woman in Information-Proccessing Strategies, Cognitive Response toward the Ad, Attitude toward the Ad,Attitude toward the Brand, Purchase Intention, Partial Least Square (PLS).1,2Corresponding authorJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 3PENDAHULUANPersaingan bisnis kategori produk minuman pereda panas dalam jenis serbuk yangsemakin ketat menuntut pemasar merek “Adem Sari”, sebagai market leader,menggunakan periklanan komparatif tidak langsung untuk membuat komparasi denganmerek “Segar Dingin Madu”. Adu klaim “Mencegah” versus “Menyembuhkan”mewarnai strategi periklanan yang digunakan merek “Adem Sari” untuk menyerangkompetitornya tersebut.Belch dan Belch (2009:197) mengungkapkan bahwa menampilkan produkpesaing/kompetitor dalam iklan merek market leader akan memberikan manfaat yangsedikit. Disamping itu, rekomendasi yang diberikan untuk memperoleh efektivitasmaksimal dari iklan komparatif adalah sebaiknya format iklan ini digunakan oleh merekbaru/merek berpangsa pasar rendah, dan bila merek berpangsa pasar besar inginmelakukan perbandingan dengan merek berpangsa pangsa pasar besar lainnya, makalebih baik menggunakan iklan komparatif tidak langsung. Dengan demikian, dapatdisimpulkan bahwa praktik penggunaan iklan komparatif tidak langsung oleh merek“Adem Sari”, tidak sesuai dengan rekomendasi yang diberikan untuk memperolehefektivitas maksimal dari penggunaan iklan tersebut.Hasil riset Women Insight Centre (WIC) pada Februari 2011 di 6 (enam) kotabesar di Indonesia, menunjukkan bahwa Wanita sering lebih banyak menghabiskanwaktu dan melakukan proses yang lebih komperhensif dibandingkan dengan Pria, padatahap keputusan awal proses pembelian. Wanita ingin membandingkan dan membelimerek yang lain untuk digunakan dalam situasi yang sama. Dengan demikian, Wanitamembutuhkan jaminan kesesuaian antara janji-janji pemasar, terutama yang muncul dariiklan dan/atau sumber lainnya, yang memunculkan harapan dan realitas yangditerimanya. Tentunya, perbedaan Pria dan Wanita dalam memproses informasi akanmemberikan konsekuensi evaluatif yang berbeda pula pada sebuah iklan, merek danpembeliannya. Di mana, diiindikasikan bahwa, terlepas dari format iklan yangdigunakan, Wanita akan terlibat lebih besar untuk mengevaluasi iklan dan merek, biladibandingkan dengan Pria, bila merujuk pada perbedaan cara memproses informasi,diantara Pria dan Wanita tersebut. Namun, terkait dengan efektivitas periklanankomparatif, Chang (2007:21) menemukan hal yang menarik, yaitu (1) Pria memilikiketerlibatan yang lebih besar dalam mengevaluasi-merek, dibandingkan dengan Wanita,ketika diekspose iklan komparatif. (2) Sebaliknya bagi Wanita, perhatian yang diperolehdari daya tarik komparatif mendorong kesimpulan mengenai maksud manipulatif dariiklan. Dengan demikian, pada Pria, keterlibatan dalam evaluasi-merek yang semakinbesar dibawa oleh daya tarik komparatif menyebabkan evaluasi iklan dan merek lebihmenguntungkan dan minat beli yang lebih besar. Sedangkan untuk Wanita, persepsiyang tinggi atas maksud manipulatif dari iklan yang dibawa oleh daya tarik komparatif,mendorong evaluasi negatif pada iklan dan merek, serta mengurangi niat pembelian.Kesimpulannya, format iklan komparatif tidak langsung yang digunakan olehmerek market leader, diindikasikan akan memberikan manfaat yang tidak berbedasecara signifikan dari penggunaan format iklan non-komparatif. Selanjutnya, perbedaandiantara Pria dan Wanita, dalam memproses informasi yang dibawa oleh daya tarikkomparatif, juga menimbulkan konsekuensi evaluatif yang berbeda pula. Maka,perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi, merupakan konseppenting yang perlu diperhatikan guna meramalkan efektivitas format iklan komparatifdan efektivitas format iklan non komparatif, yang digunakan oleh merek market leader.Pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini, adalah :1. Apakah format iklan komparatif tidak langsung merek market leader lebih efektifbila dibandingkan dengan format iklan non komparatif merek market leader?Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 42. Apakah perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi, secarasignifikan mempengaruhi efektivitas format iklan komparatif tidak langsung merekmarket leader dan efektivitas format iklan non komparatif merek market leader?TINJAUAN PUSTAKAModel Komunikasi (Communication Model) dalam Model Mikro Respon Konsumen(Micromodel of Consumer Response) menunjukkan bahwa konsumen/pembeli/khalayakmelalui beberapa tahapan, yaitu tahapan Kognitif (Eksposur, Penerimaan dan ResponKognitif), tahapan Afektif (Sikap dan Intensi) dan tahapan Behavioral (Perilaku). Modelini menyatakan bahwa tahap Kognitif, tahap Afektif dan tahap Behavioral dilalui secaraberurutan oleh konsumen/pembeli/khalayak (Kotler et al., 2009:532-533).Model Respon Kognitif (Cognitive-Response Approach Model) adalah salahsatu metode paling populer untuk memeriksa respon kognitif konsumen terhadap iklan.Dalam Model Respon Kognitif, pemikiran-pemikiran khalayak diarahkan kepadasetidaknya 3 (tiga) hal, yaitu : (1) Pemikiran terhadap Produk/Pesan, (2) Pemikiranterhadap Sumber Komunikasi, dan (3) Pemikiran terhadap Eksekusi Iklan (Belch danBelch, 2009:165-167).Merujuk pada Model Komunikasi dan Model Respon Kognitif tersebut, setelahrespon kognitif khalayak terhadap iklan terbentuk, maka selanjutnya respon kognitiftersebut mempengaruhi pembentukan sikap konsumen, yang dalam hal objek sikapberupa iklan adalah diarahkan kepada 2 (dua) jenis sikap, yaitu : (1) Sikap terhadapIklan, dan (2) Sikap Terhadap Merek.H1 : Ada pengaruh signifikan Respon Kognitif Khalayak terhadap Iklan (RK) atasSikap terhadap Iklan (SI), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (a)dan format iklan non komparatif digunakan (b).H2 : Ada pengaruh signifikan Respon Kognitif Khalayak terhadap Iklan (RK) atasSikap terhadap Merek (SM), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan(a) dan format iklan non komparatif digunakan (b).Fill (2009:148) mengungkapkan bahwa dalam Teori Psikologi Klasik, sikap dianggapterdiri dari 3 (tiga) komponen, yaitu : (1) Komponen Afektif, (2) Komponen Kognitif,dan (3) Komponen Konatif. Azwar (2011:28) menyatakan bahwa ketiga komponentersebut akan saling selaras dan konsisten satu sama lain dikarenakan apabiladihadapkan dengan suatu objek sikap yang sama, maka ketiga komponen tersebut harusmempolakan arah sikap yang seragam. Kemudian, ketika ketiga komponen tersebuttidak konsisten satu sama lain, maka akan terjadi mekanisme perubahan sikapsedemikian rupa sehingga konsistensi itu tercapai kembali.Hubungan diantara Sikap terhadap Iklan dan Sikap terhadap Merek, yangkeduanya merupakan Komponen Afektif Sikap, hingga kini masih menjadi perdebatan.Argumen MacKenzei, Lutz dan Belch, yang dikutip Grewal et al., (Setiyaningrum,2008:22) mendukung pernyataan bahwa perasaan dan sikap terhadap merek yangdiiklankan secara positif dipengaruhi oleh sikap terhadap merek. Beberapa buktiditunjukkan oleh MacInnis dan Jaworski (Hoyer dan MacInnis, 2008:142) bahwakeseluruhan sikap terhadap iklan di mana merek diiklankan akan mempengaruhi sikapkonsumen terhadap merek. Namun, meskipun demikian, temuan Droge, yang dikutipoleh Grewal et al., (Setiyaningrum, 2008:22) menunjukkan bahwa sikap terhadap iklanmempengaruhi sikap terhadap merek untuk iklan non komparatif, tetapi tidak untukiklan komparatif.H3 : Ada pengaruh signifikan Sikap Terhadap Iklan (SI) atas Sikap terhadap Merek(SM) ketika format iklan non komparatif digunakan (a), namun hal ini tidak terjadiketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (b).Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 5Minat/intensi pembelian, yang merupakan tahapan konatif sikap, seringdigunakan sebagai parameter pengukuran untuk meramalkan efektivitas periklanan. Halini disebabkan karena semua iklan tidak, seharusnya tidak dan tidak bisa di desain untukmenghasilkan pembelian secara langsung (immediate purchase) kepada siapa saja yangdiekspose iklan tersebut. Dengan kata lain, pembelian (purchase) sebagai tahapanbehavioral dari respon konsumen terhadap iklam, adalah efek jangka panjang. Asumsiini dilandasi sebuah pernyataan bahwa konsumen tidak dapat berubah dari individuyang tidak tertarik menjadi individu yang berminat pada sebuah merek atu produk yangdiiklankan secara instan. Dengan demikian, untuk meramalkan pembelian di masamendatang oleh konsumen, maka digunakan konstruk minat/intensi pembelian(purchase intention), yang ada pada komponen konatif sikap, dan merupakan ukuranyang ada pada tahapan hierarkis tertinggi yang dekat dengan pembelian aktual. Makadari itu, dapat disimpulkan bahwa minat/intensi pembelian merupakan ukuran tertinggiuntuk meramalkan efektivitas periklanan, di mana efek ini dapat segera diketahuidengan segera pasca khalayak diekspose oleh iklan.MacInnis dan Jaworski (Hoyer dan MacInnis (2008:142) menunjukkan bahwakeseluruhan sikap terhadap iklan di mana merek diiklankan, selain akan mempengaruhisikap konsumen terhadap merek, juga akan mempengaruhi perilaku terhadap merek.Disamping itu, temuan Droge yang dikutip Grewal et al., (Setiyaningrum, 2008:23) jugamenunjukkan bahwa ada hubungan yang lebih kuat diantara sikap terhadap merekdengan minat beli ketika iklan komparatif digunakan dibandingkan dengan ketikamenggunakan iklan non-komparatif.H4 : Ada pengaruh Ada pengaruh signifikan Sikap terhadap Iklan (RI) atas Minat beli(MB), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (a) dan format iklannon komparatif digunakan (b).H5 : Ada pengaruh signifikan Respon Sikap terhadap Merek (SM) atas Sikap Minat Beli(MB), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (a) dan format iklannon komparatif digunakan (b).Grewal et al., (Manzur et al., 2012:277) dalam meta-analisisnya untukmemeriksa efektivitas iklan komparatif di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa iklankomparatif dibandingkan dengan iklan non-komparatif, lebih efektif dalammeningkatkan perhatian, pemrosesan pesan, kesadaran merek, sikap menguntungkanterhadap merek dan meningkatkan minat beli konsumen. Disisi lain, iklan komparatifmenghasilkan kredibilitas sumber yang rendah dan sikap kurang menguntungkanterhadap iklan.Selanjutnya, di Spanyol oleh Del Barrio-Garcia dan Luque-Martinez dan diKorea oleh Lyi, juga menemukan hasil serupa di mana iklan komparatif memilikikredibilitas sumber yang rendah. Di Chile, tidak ditemukan adanya perbedaan yangsignifikan antara sikap terhadap merek dan minat beli, yang dihasilkan oleh iklankomparatif dan iklan non-komparatif. Disamping itu, sikap terhadap iklan terhadapiklan komparatif yang ditemukan di Chile juga secara parsial mirip dengan yangditemukan di Inggris (UK) dan India oleh Donthu, yaitu direspon secara kurangmenguntungkan, bila dibandingkan dengan sikap terhadap iklan yang dihasilkan olehiklan non komparatif (Manzur et al., 2012:278-288).H6 : Bila dibandingkan dengan format iklan non komparatif, khalayak merespon formatiklan komparatif tidak langsung secara kurang menguntungkan pada variabel ResponKhalayak terhadap Iklan (RK).H7 : Bila dibandingkan dengan format iklan non komparatif, khalayak merespon formatiklan komparatif tidak langsung secara kurang menguntungkan pada variabel Sikapterhadap Iklan (SI).Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 6H8 : Tidak ada perbedaan yang signifikan diantara format iklan komparatif tidaklangsung dan format iklan non komparatif, dalam kaitannya untuk menghasilkan Sikapterhadap Merek (SM).H9 : Tidak ada perbedaan yang signifikan diantara format iklan komparatif tidaklangsung dan format iklan non komparatif, dalam kaitannya untuk menghasilkanMinat/Intensi Pembelian (MB.Selanjutnya, dilihat dari perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi untukmemproses informasi, menurut Meyers-Levy, Maheswaran dan Sternthal, bahwa priacenderung dilihat sebagai pemroses selektif dan sedangkan wanita dilihat sebagaipemroses yang komprehensif. Kemudian, Meyers-Levy dan Sternthal menambahkanbahwa ambang elaborasi wanita lebih rendah dibandingkan dengan pria. SedangkanDuff dan Hampson menyatakan bahwa wanita membuat lebih sedikit kesalahandibandingkan dengan pria saat melakukan tugas yang menuntut kinerja ingatan. Di sisilain, sebagaimana dikemukakan oleh Chang, pria lebih banyak terlibat dalamketerlibatan untuk mengevaluasi merek, dibandingkan dengan wanita. Klinteberg,Levander dan Schalling menemukan bahwa wanita lebih menyukai strategi pemecahanmasalah reflektif-sekuensial, dan sedangkan pria lebih menyukai strategi pemecahanmasalah impulsif-global. Dalam studi lain oleh Chung dan Monroe, pria dibandingkanwanita lebih menyukai untuk mengadopsi strategi konfirmasi-hipotesis. Lebih lanjut,dalam konteks berbelanja, Laroche et al., mendemonstrasikan bahwa wanita akanterlibat dalam pencarian informasi yang komprehensif dan intensif, sedangkan priahanya terlibat dalam pencarian informasi yang selektif. Menurut Cleveland et al., wanitajuga menunjukkan penggunaan informasi makro dan mikro lebih besar dibandingkandengan pria ketika berbelanja di toko (Chang, 2007:21-22).H10 : Ada perbedaan signifikan diantara Pria dan Wanita, yang disebabkan olehperbedaan keduanya dalam strategi pemrosesan informasi, baik pada Respon KognitifKhalayak terhadap Iklan (a), Sikap terhadap Iklan (b), Sikap terhadap Merek (c), danMinat/Intensi Pembelian (d), terlepas dari format iklan yang digunakan.Sebagaimana diungkapkan oleh Thompson dan Hamilton, bahwa kecocokanantara format iklan dengan gaya pemrosesan informasi konsumen akan meningkatkanefektivitas periklanan. Begitupun sebaliknya, ketidakcocokan format iklan dengan gayapemrosesan informasi konsumen akan menurunkan efektivitas periklanan. Relatifterhadap iklan non-komparatif, iklan komparatif lebih efektif ketika konsumenmenggunakan pemrosesan secara analitis. Sedangkan iklan non-komparatif akan lebihefektif dibandingkan iklan komparatif ketika konsumen menggunakan pemrosesansecara imajinatif. MacInnis dan Price, mendeskripsikan gaya pemrosesan informasisebagai cara di mana informasi direpresentasikan dalam jalannya ingatan. MenurutOliver, Robertson dan Mitchell, pemrosesan secara imajinatif dan analitis secarakualitatif berbeda dalam gaya elaborasi, di mana MacInnis dan Price menambahkan halini terjadi dalam kontinum elaborasi rendah menuju elaborasi tinggi (Thompson danHamilton, 2006:530-531). Dalam kaitannya dengan perbedaan Pria dan Wanita dalamstrategi pemrosesan informasi, sebagaimana dikemukakan oleh Meyers-Levy danSternthal, bahwa ambang elaborasi wanita lebih rendah dibandingkan dengan pria(Chang, 2007:21), maka penulis menyimpulkan bahwa iklan komparatif mungkin lebihefektif bagi pria sebagai pemroses selektif dan pemilik ambang elaborasi yang lebihbesar, di mana disisi lain iklan komparatif juga lebih efektif ketika diproses secaraanalitis, yang pada akhirnya menyebabkan elaborasi tinggi pula. Sedangkan iklan nonkomparatifmungkin lebih efektif bagi wanita sebagai pemroses komprehensif, yangmengintegrasikan informasi secara mendetail, di mana disisi lain iklan non-komparatifjuga lebih efektif ketika diproses secara imajinatif, atau secara holistik menurutJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 7MacInnis dan Price, berdasarkan penggunaan konstruksi atas detail produk sebagaiskenario alternatif, dan sumber daya untuk memproses informasi pada merek laindikurangiH11 : Respon Kognitif Khalayak terhadap Iklan (RK) secara signifikan dipengaruhiinteraksi antara perbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategipemrosesan informasi.Merujuk pada temuan Chang (2007:21), bahwa keterlibatan dalam evaluasimerekoleh Pria, yang semakin besar, dibawa oleh daya tarik komparatif menyebabkanevaluasi iklan dan merek lebih menguntungkan dan minat beli yang lebih besar.Sedangkan untuk Wanita, persepsi yang tinggi atas maksud manipulatif dari iklan yangdibawa oleh daya tarik komparatif, mendorong evaluasi negatif pada iklan dan merek,serta mengurangi niat pembelian. Hal ini senada dengan temuan Campbell, di manataktik periklanan yang bertujuan mendapatakan perhatian, mendorong konsumenmenyimpulkan bahwa pengiklan mencoba memanipulasi pemirsa iklan.H12 : Sikap terhadap Iklan (SI) secara signifikan dipengaruhi interaksi antaraperbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi.H13 : Sikap terhadap Merek (SM) secara signifikan dipengaruhi interaksi antaraperbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi.H14 : Minat/Intensi Pembelian (MB) secara signifikan dipengaruhi interaksi antaraperbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi.METODE PENELITIANDefinisi Konseptual1. Format iklan merek market leader didefinisikan sebagai bentuk penyajian dayatarik pesan iklan yang digunakan sebagai strategi periklanan oleh pemasar, yangdiakui sebagai pemimpin pasar dari kategori produk tertentu, di mana pangsa pasaryang dimiliki merupakan yang terbesar (40%) dalam pangsa pasar relevan(Setiyaningrum, 2008:18; Tjiptono, 2002:303).2. Perbedaan Pria dan Wanita dalam Strategi Pemrosesan Informasididefinisikan sebagai perbedaan cara Pria dan Wanita mengolah informasi, yaituPria secara selektif dan Wanita secara komprehensif (Chang, 2007:21).3. Respon kognitif khalayak terhadap iklan didefinisikan sebagai pemikiranpemikiranyang muncul pada tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dankemudian pemikiran-pemikiran ini akhirnya mempengaruhi penerimaan seseorangterhadap stimulus iklan yang menerpanya (Blackwell, Engel dan Miniard, 1995:30).4. Sikap terhadap iklan didefinisikan sebagai perasaan konsumen dan sikap terhadapformat iklan secara keseluruhan (Setiyaningrum, 2008:22).5. Sikap terhadap merek didefinisikan sebagai perasaan konsumen dan sikapterhadap merek sponsor iklan secara keseluruhan (Setiyaningrum, 2008:22).6. Minat/Intensi pembelian didefinisikan sebagai sesuatu yang berhubungan denganrencana konsumen untuk membeli produk tertentu yang dibutuhkan pada periodetertentu (Durianto dan Liana, 2004:44).Definisi Operasional1. Format iklan merek market leader memiliki variasi nilai iklan non-komparatifmarket leader dan iklan komparatif tidak langsung merek market leader. Sertavariabel ini dioperasionalisasikan dengan cara menempatkan subjek penelitiansebagai unit analisis secara random pada kelompok-kelompok eksperimen untukJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 8diberi perlakuan (treatment) iklan non-komparatif merek market leader atau iklankomparatif tidak langsung merek market leader.2. Perbedaan Pria dan Wanita dalam Strategi Pemrosesan Informasi memilikivariasi nilai pria sebagai pemroses informasi yang selektif dan wanita sebagaipemroses informasi yang komprehensif. Serta variabel ini dioperasionalisasikandengan cara menempatkan subjek penelitian sebagai unit analisis secara randomdan dilakukan konstansi (blocking) berdasarkan jenis kelamin pada kelompokkelompokeksperimen untuk diberi perlakuan (treatment) iklan non-komparatifmerek market leader atau iklan komparatif tidak langsung merek merek marketleader.3. Respon kognitif khalayak terhadap iklan memiliki variasi nilai respon kognitifyang kurang menguntungkan dan respon kognitif yang menguntungkan. Sertavariabel ini dioperasionalisasikan dengan cara mengkalkulasi jumlah pemikiranpemikiranyang muncul berdasarkan dimensi-dimensi, seperti pemikiran terhadapproduk/pesan iklan, pemikiran terhadap sumber, dan pemikiran terhadap eksekusiiklan, yang kemudian sejumlah pemikiran-pemikiran tersebut dikategorikan sebagaipemikiran-pemikiran yang bertentangan dan pemikiran-pemikiran yangmendukung. Apabila pemikiran-pemikiran yang bertentangan lebih banyak munculmaka ini diacu sebagai respon kognitif yang kurang menguntungkan (unfavorable),dan sebaliknya ketika pemikiran-pemikiran yang mendukung lebih banyak munculmaka ini diacu sebagai respon kognitif yang menguntungkan (favorable).4. Sikap terhadap iklan memiliki variasi nilai sikap kurang menguntungkan dansikap menguntungkan yang ditujukan pada iklan. Serta, variabel inidioperasionalisasikan dengan cara menjumlahkan respon afeksi terhadap iklan yangmuncul berdasarkan indikator keinformatifan iklan, perasaan atau emosi yangmuncul sebagai pengalaman diterpa iklan dan kemenarikan iklan, yang kemudiansejumlah respon afeksi yang muncul tersebut dikategorikan sebagai sikap kurangmenguntungkan bila lebih banyak memunculkan respon afektif yang negatif dansikap menguntungkan bila lebih banyak memunculkan respon afektif yang positifterhadap iklan.5. Sikap terhadap merek memiliki variasi nilai sikap kurang menguntungkan dansikap menguntungkan yang ditujukan pada merek sponsor iklan. Serta, variabel inidioperasionalisasikan dengan cara menjumlahkan respon afeksi terhadap merekyang muncul berdasarkan indikator persepsi terhadap kualitas merek dan persepsiterhadap kemampuan merek untuk memenuhi kebutuhan produk yang relevandengan kondisi konsumen saat ini, yang kemudian sejumlah respon afeksi yangmuncul tersebut dikategorikan sebagai sikap kurang menguntungkan bila lebihbanyak memunculkan respon afektif yang negatif dan sikap menguntungkan bilalebih banyak memunculkan respon afektif yang positif terhadap merek yangsponsor iklan.6. Minat/intensi pembelian memiliki variasi nilai minat beli yang rendah dan minatbeli yang tinggi terhadap merek sponsor iklan. Serta, variabel inidioperasionalisasikan dengan cara menjumlahkan respon konatif yang ditujukanpada merek sponsor iklan, dilihat berdasarkan indikator-indikator seperti minattransaksional, minat referensial, minat preferensial dan minat eksploratif, yangkemudian dikategorikan sebagai minat beli yang rendah ketika respon konatif iturendah dan minat beli yang tinggi ketika respon konatif itu tinggi terhadap mereksponsor iklan.Desain Penelitian, Stimulus, Unit Analisis dan Teknik Analisis DataPenelitian Eksperimen Lapangan, 2 (Format Iklan) X 2 (Perbedaan Pria dan Wanitadalam Strategi Pemrosesan Informasi) Randomized-Blocked Factorial Design dilakukanJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 9dengan melibatkan 120 partisipan (60 Pria dan 60 Wanita), yang ditugaskan kedalam 4kelompok perlakuan. Stimulus yang digunakan adalah iklan komparatif dan iklan nonkomparatif yang digunakan oleh merek “Adem Sari” pada periode pertengahan tahun2012 hingga pertengahan tahun 2013. Stimulus tersebut dikembangkan denganmemadunya dalam program acara Opera Van Java Edisi 24 Juli 2013 dan melibatkanbeberapa iklan kategori produk lain. Selanjutnya, teknik analisis data yang digunakansebagai alat pengujian hipotesis antara lain Uji Two-Ways ANOVA, Uji Mann-WhitneyU, Uji Friedman Two-Ways ANOVA By Rank dan Model Persamaan Struktural BerbasisVarian (Komponen) dengan metode alternatif Partial Least Square (PLS).HASIL DAN PEMBAHASANBerdasarkan hasil pengujian hipotesis untuk format iklan komparatif tidak langsungmerek market leader, maka diambil keputusan untuk menerima H1a ( = 0,5836 dan tstatistic= 5,3782 > t-table = 1,96), menerima H2a ( = 0,7723 dan t-statistic = 10,8722> t-table = 1,96), menerima H3b ( = 0,1165 dan t-statistic = 1,2717 < t-table = 1,96),menerima H4a ( = 0,3482 dan t-statistic = 2,2615 > t-table = 1,96) dan menerima H5a( = 0,4214 dan t-statistic = 2,5429 > t-table = 1,96) dengan taraf signifikansi 0,05.Sedangkan hasil pengujian hipotesis untuk format iklan non komparatif merekmarket leader adalah menerima H1b ( = 0,5463 dan t-statistic = 7,0203 > t-table =1,96), menerima H2b ( = 0,2071 dan t-statistic = 2,1117 > t-table = 1,96), menerimaH3a ( = 0,5804 dan t-statistic = 4,9954 > t-table = 1,96), menolak H4b ( = 0,1470dan t-statistic = 0,7073 < t-table = 1,96) dan menolak H5b ( = 0,3919 dan t-statistic =1,8586 < t-table = 1,96) dengan taraf signifikansi 0,05.Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diatas, penulis menyimpulkan bahwasama dengan format iklan komparatif tidak langsung merek market leader, format iklannon komparatif merek market leader pun mampu menghasilkan respon kognitifkhalayak terhadap iklan (RK) yang mampu secara signifikan mempengaruhipembentukan sikap khalayak terhadap iklan (SI) dan sikap khalayak terhadap merek(SM). Berbeda dengan format iklan komparatif tidak langsung merek market leader,sikap khalayak terhadap iklan (SI) yang dibentuk oleh format iklan non komparatifmerek market leader secara signifikan mempengaruhi pembentukan sikap khalayakterhadap merek (SM). Temuan ini juga sama dengan temuan Droge yang dikutipGrewal et al., (Setiyaningrum, 2008:22), bahwa sikap terhadap iklan yang dibentukformat iklan non komparatif dapat ditransfer pada sikap terhadap merek, namun tidakuntuk iklan komparatif. Dengan demikian, penulis dapat mengasumsikan bahwa ketikakhalayak menyukai sebuah iklan yang dibuat dari format iklan non komparatif merekmarket leader, maka khalayak tersebut juga akan menyukai merek sponsor iklan, danhal ini tidak berlaku untuk iklan komparatif tidak langsung merek market leader.Selanjutnya, tidak seperti pada sikap terhadap iklan (SI) dan sikap terhadap merek (SM)yang dibentuk oleh format iklan komparatif tidak langsung merek market leader, dimana keduanya merupakan prediktor yang signifikan untuk meramalkan minat/intensipembelian (MB) khalayak terhadap produk atau merek sponsor iklan, sikap terhadapiklan (SI) dan sikap terhadap merek (SM) yang dihasilkan oleh format iklan nonkomparatif merek market leader bukan merupakan prediktor yang signifikan untukmeramalkan minat/intensi pembelian(MB) khalayak atas produk atau merek sponsoriklan. Penulis menduga ada variabel-variabel lain diluar dari model yang diajukan, yangjuga mempengaruhi minat/intensi pembelian (MB) khalayak terhadap produk ataumerek sponsor format iklan non komparatif merek market leader. Dengan demikian,penulis berasumsi bahwa ketika sikap khalayak yang menguntungkan terhadap iklan(SI) dan merek (SM) terbentuk pada format iklan non komparatif merek market leader,tidak menjamin bahwa khalayak memiliki minat/intensi pembelian (MB) yang besarpula terhadap produk atau merek sponsor iklan.Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page10Pada tahap respon kognitif, secara deskriptif iklan komparatif tidak langsungmerek market leader direspon secara kurang favorable dibandingkan iklan nonkomparatif merek market leader. Hal ini terlihat dari rerata respon kognitif iklankomparatif tidak langsung merek market leader sebesar 4,5500 dan sedangkan reratarespon kognitif iklan non komparatif merek market leader sebesar 4,9833. Namun,secara statistik perbedaan ini tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05 untuk uji onetail(Nilai Sig. 0,304/2 = 0,152 > 0,05). Maka, keputusan yang diambil adalah tidakdapat menolak H0 dan menolak H6. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwatidak ada perbedaan respon kognitif yang signifikan ketika kedua jenis format iklandigunakan.Diantara pria dan wanita, terlepas dari format iklan yang digunakan secaradeskriptif wanita lebih memiliki respon kognitif yang favorable dibandingkan denganpria. Hal ini dibuktikan dengan rerata respon kognitif wanita sebesar 4,9500 dan lebihdari respon kognitif pria yang hanya sebesar 4,5833. Namun, secara statistik perbedaanini tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05 untuk uji two-tail (Nilai Sig. 0,384 >0,05). Maka, keputusan yang diambil adalah tidak dapat menolak H0 dan menolakH10a. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa respon kognitif pria denganrespon kognitif wanita, terlepas dari format iklan yang digunakan, adalah tidak berbedasecara signifikan.Kemudian, pengaruh interaksi antara format iklan dengan perbedaan pria danwanita dalam strategi pemrosesan informasi atas respon kognitif khalayak terhadapiklan (RK) adalah tidak ada. Hal ini dibuktikan dengan nilai Sig. 0,428 > 0,05. Dengantaraf signifikansi 0,05 maka penulis memutuskan untuk menolak H11, dan menerimaH0. Hal ini berarti bahwa tidak ada pengaruh signifikan interaksi antara format iklandan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi atas responkognitif khalayak terhadap iklan (RK).Pada tahap sikap terhadap iklan (SI), secara deskriptif sikap terhadap iklan yangdibentuk oleh iklan non komparatif merek market leader tampak lebih favorabledibandingkan dengan sikap terhadap iklan yang dibentuk oleh iklan komparatif tidaklangsung merek market leader. Hal ini tampak pada mean rank sikap terhadap iklan nonkomparatif merek market leader sebesar 67,16 dan lebih besar dibandingkan denganmean rank sikap terhadap iklan komparatif tidak langsung merek market leader yanghanya sebesar 53,84. Maka, dengan Nilai Sig. 0,026/2 = 0,013 < 0,05 (One-Tail) penulismemutuskan untuk menolak H0 dan menerima H7 taraf signifikansi sebesar 0,05.Kesimpulan yang diperoleh adalah sikap terhadap iklan yang dibentuk oleh iklan nonkomparatif merek market leader lebih menguntungkan secara signifikan dibandingkandengan sikap terhadap iklan yang dibentuk iklan komparatif tidak langsung merekmarket leader.Terlepas dari jenis format iklan yang digunakan, sikap terhadap iklan yangdibentuk oleh pria dan wanita secara deskriptif tidak jauh berbeda. Hal ini tampak padamean rank sikap terhadap iklan pria sebesar 60,51 dan mean rank sikap terhadap iklanwanita sebesar 60,49. Senada dengan hal tersebut, secara statistik perbedaan tersebutjuga tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05. Nilai Sig. 0,998 > 0,05 (Two-Tail).Maka, dengan demikian penulis memutuskan untuk tidak dapat menolak H0 danmenolak H10b. Sehingga, penulis menyimpulkan bahwa diantara pria dan wanita tidakada perbedaan yang signifikan dalam sikap terhadap iklan, terlepas dari jenis formatiklan yang digunakan.Merujuk pada hasil perhitungan Uji Friedman Two-Way ANOVA By Rank,bahwa nilai Sig. 0,758 > 0,05 (Two-Tail). Maka penulis memutuskan untuk tidak dapatmenolak H0 dan menolak H12. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa tidakada pengaruh signifikan interaksi antara format iklan dan perbedaan Pria dan Wanitadalam strategi pemrosesan informasi atas sikap terhadap iklan (SI).Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page11Pada tahap sikap terhadap merek (SM), diketahui secara deskriptif sikapterhadap merek yang dibentuk iklan non komparatif merek market laeder lebihmenguntungkan dibandingkan dengan sikap terhadap merek yang dibentuk oleh iklankomparatif tidak langsung merek market leader. Hal ini dibuktikan dengan mean ranksikap terhadap merek yang dibentuk iklan non komparatif merek market leader adalahsebesar 65,62 dan ini lebih besar dibandingkan dengan mean rank sikap terhadap merekyang dibentuk oleh iklan komparatif tidak langsung merek market leader yang hanyasebesar 55,38. Secara statistik, perbedaan ini signifikan pada taraf signifikansi 0,05dengan Nilai Sig. 0,079/2 = 0,0395 < 0,05 (One-Tail). Dengan demikian, penulismemutuskan untuk menolak H8. Sehingga, penulis menyimpulkan bahwa sikapterhadap merek yang dibentuk iklan non komparatif merek market leader lebihmenguntungkan secara signifikan dibandingkan dengan sikap terhadap merek yangdibentuk oleh iklan komparatif tidak langsung merek market leader.Selanjutnya, diantara pria dan wanita terlepas dari jenis format iklan yangdigunakan, secara deskriptif menunjukkan bahwa wanita membentuk sikap terhadapmerek secara lebih menguntungkan dibandingkan dengan pria. Hal ini dibuktikandengan mean rank sikap terhadap merek wanita sebesar 63,82 dan ini lebih besardibandingkan dengan mean rank sikap terhadap merek pria yang hanya sebesar 57,18.Namun, secara statistik perbedaan ini dianggap tidak signifikan pada taraf signifikansisebesar 0,05. Nilai Sig. 0,225 > 0,05 (Two-Tail). Maka, penulis mengambil keputusanuntuk tidak dapat menolak H0 dan menolak H10c. Dengan demikian, penulismenyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan atas sikap terhadap merekyang dibentuk oleh pria dan wanita terlepas dari jenis iklan yang digunakan.Selanjutnya, untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh interaksi format iklan danperbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi atas sikap terhadapmerek (SM) maka perlu melihat hasil perhitungan Uji Friedman Two-Way ANOVA ByRank. Diketahui nilai Sig. 0,000 < 0,05 (Two-Tail) dan Chi-Square = 37,484 (df =3),maka diputuskan untuk dilakukan pengujian lanjut untuk mengetahui perbedaan antarkelompok-kelompok eksperimen. Hal ini didasari asumsi bahwa jika nilai hitung Fradalah signifikan, hal ini berarti ada paling sedikit ada satu kondisi yang berbeda darikondisi lainnya. Kemudian setelah dilakukan uji lanjutan, penulis mengetahui bahwapria akan membentuk sikap terhadap merek yang lebih menguntungkan ketikadiekspose iklan komparatif tidak langsung merek market leader dibandingkan jikadiekspose iklan non komparatif merek market leader. Selain itu, ketika diekpose iklannon komparatif merek market leader, wanita cenderung membentuk sikap terhadapmerek yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan pria. Terakhir, ketika wanitadiekspose iklan komparatif tidak langsung merek market leader akan membentuk sikapterhadap merek yang lebih menguntungkan dibandingkan pria ketika diekspose iklannon komparatif merek market leader. Perbedaan ketiga pasang kelompok eksperimentersebut secara statistik diterima secara signifikan pada taraf signifikansi 0,05 (One-Tail). Namun, hasil pengujian tersebut hanya sebagian mendukung H13, maka penulismengambil keputusan untuk tidak dapat menolak H0 dan menolak H13 pada tarafsignifikansi 0,05 (Two-Tail). Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa tidak adapengaruh signifikan interaksi format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalamstrategi pemrosesan informasi atas sikap terhadap merek (SM).Pada tahap minat/intensi pembelian (MB), iklan komparatif tidak langsungmerek market leader menghasilkan minat/intensi pembelian yang tidak jauh berbedadengan iklan non komparatif merek market leader. Hal ini dibuktikan dengan meanrank minat/intensi pembelian yang dibentuk iklan komparatif tidak langsung merekmarket leader sebesar 59,92 dan mean rank minat/intensi pembelian yang dibentukiklan non komparatif merek market leader sebesar 61,08. Secara statistik pun demikian,pada taraf signifikansi 0,05 (One-Tail) penulis memutuskan untuk menerima H9 (NilaiJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page12Sig. 0,845/2 = 0,4225 > 0,05). Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa tidakada perbedaan yang signifikan minat/intensi pembelian yang dibentuk oleh iklankomparatif tidak langsung merek market leader dengan minat/intensi pembelian yangdibentuk oleh iklan non komparatif merek market leader.Jika dilihat dari perbedaan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategipemrosesan informasi, secara deskriptif wanita menunjukkan minat/intensi pembelianyang lebih besar dibandingkan pria, terlepas dari jenis format iklan yang digunakan. Halini dibuktikan dengan mean rank minat/intensi pembelian wanita sebesar 66,25 dan inilebih besar dibandingkan dengan mean rank minat/intensi pembelian pria sebesar 54,75.Namun, secara statistik perbedaan ini tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05 (Two-Tail). Maka, penulis mengambil keputusan untuk tidak dapat menolak H0 dan menolakH10d (Nilai Sig. 0,054 > 0,05). Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwadiantara pria dan wanita, terlepas dari jenis iklan yang digunakan, akan membentukminat/intensi pembelian yang tidak berbeda secara signifikan.Terakhir, merujuk pada hasil perhitungan Uji Friedman Two-Way ANOVA ByRank, menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan interaksi format iklan danperbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi pada minat/intensipembelian (MB). Nilai Sig. 0,841 > 0,05 (Two-Tail). Dengan demikian, penulis tidakdapat menolak H0 dan menolak H14 pada taraf signifikansi sebesar 0,05. Maka dari itu,penulis menyimpulkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan interaksi format iklan danperbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi pada minat/intensipembelian (MB).Hasil pengujian hipotesis perbandingan efektivitas format iklan komparatif tidaklangsung merek market leader dengan format iklan non komparatif merek marketleader, menunjukkan bahwa format iklan komparatif tidak langsung merek marketleader direspon secara kurang menguntungkan pada variabel Sikap terhadap Iklan (SI)dan Sikap terhadap Merek (SM), bila dibandingkan dengan format iklan non komparatifmerek market leader. Temuan ini mirip dengan temuan Wright, Levine, Murphy danAmundsen (Rogers dan Williams, 1989:24), di mana iklan komparatif lemahmembentuk formasi sikap terhadap merek yang positif. Disamping itu, Respon KognitifKhalayak terhadap Iklan (RK) dan Minat/Intensi Pembelian (MB) yang dihasilkan olehkedua format iklan juga menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan. Tidakadanya perbedaan yang signifikan atas Respon Khalayak terhadap Iklan (RK) yangdihasilkan kedua format iklan, adalah mendukung pernyataan bahwa perbandingansecara tidak langsung mampu mengurangi hambatan ketidaksetujuan pemakai merekyang diperbandingkan dan mengurangi pengaruh yang merugikan dari penggunaanformat iklan komparatif. Sedangkan temuan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikanatas Minat/Intensi Pembelian (MB) yang dihasilkan kedua format iklan, mirip dengantemuan sebelumnya oleh Belch, Golden dan Swinyard (Rogers dan Williams, 1989:24)dan Manzur et al., (2012:288).Bila dilihat dari perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi, baik terlepas dari format iklan yang digunakan, maupun interaksinya denganformat iklan, menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Namun, temuan menarik padapenelitian ini menunjukkan bahwa Pria memberikan respon Sikap terhadap Merek (SM)yang lebih menguntungkan ketika diekspose format iklan komparatif tidak langsungbila dibandingkan ketika diekspose format iklan non komparatif. Sedangkan Wanita,bila dibandingkan dengan Pria, justru memberikan respon Sikap terhadap Merek (SM)yang lebih menguntungkan ketika diekspose format iklan non komparatif.REKOMENDASIBerikut ini adalah sejumlah rekomendasi yang diberikan atas penggunaan format iklankomparatif dan format iklan non komparatif oleh pemasar merek market leader,Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page13sehingga dapat diperoleh efektivitas yang maksimal sesuai dengan tujuan yang telahditetapkan oleh pemasar, yaitu :1. Iklan komparatif tidak langsung bermanfaat ketika merek market leader melakukaninovasi terhadap produknya, dan menggunakan iklan komparatif tidak langsunguntuk merangsang percobaan pembelian.2. Pemasar merek market leader dianjurkan untuk menggunakan iklan nonkomparatif, bila budget untuk beriklan jauh lebih besar dibandingkan alatkomunikasi pemasaran lainnya.3. Pemasar merek market leader dianjurkan untuk menggunakan iklan non komparatifjika bertujuan untuk membuat diferensiasi merek. Format iklan non komparatifakan lebih efektif ketika disertai insentif kepada audiens untuk mempelajari fiturfiturproduk secara rinci, dengan cara meningkatkan relevansi produk denganaudiensnya.4. Iklan komparatif tidak langsung bermanfaat untuk menyasar segmen pasar Pria daniklan non komparatif bermanfaat untuk menyasar segmen pasar Wanita. Dengandemikian, bila pemasar lebih berfokus pada salah satu segmen pasar tertentu, makaiklan komparatif tidak langsung memberikan manfaat lebih menguntungkan padaPria, dan iklan non komparatif memberikan manfaat yang lebih menguntungkanpada Wanita.KETERBATASAN PENELITIAN1. Validitas eksternal dari penelitian eksperimen lapangan yang dijalankan olehpenulis adalah lemah. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak bisa digunakanuntuk generalisasi fenomena-fenomena serupa. Namun, validitas eksternalpenelitian ini akan dipenuhi ketika dilakukan replikasi terhadap penelitianeksperimen ini oleh penelitian-penelitian mendatang, baik dengan mereplikasisecara keseluruhan atau mereplikasi sebagian dari penelitian eksperimen lapanganyang dijalankan oleh penulis ini.2. Konsekuensi atas penggunaan Metode Partial Least Square (PLS) adalah penelitimenurunkan tujuannya dari pengujian teori menjadi memprediksi hubungan linierantar variabel dengan segala keterbatasan yang ada dalam penelitian ini. Namunmeskipun demikian, model persamaan struktural yang diajukan dalam penelitian inidapat digunakan untuk pengembangan teori, karena memiliki nilai relevansiprediktif yang baik, yaitu Q2 = 9184 (Model SEM-PLS Format Iklan KomparatifTidak Langsung Merek Market Leader), dan Q2 = 0,7446 (Model SEM-PLSFormat Iklan Non Komparatif Merek Market Leader).REFERENSIAmerican Psychological Association.(2011). Definitions of Terms: Sex, Gender, GenderIdentity, Sexual Orientation. Dalamhttp://www.apa.org/pi/lgbt/resources/sexuality-definitions.pdf/. Diunduh padatanggal 10 Juli 2013 pukul 16.04 WIBAnonim. (2012). Interview with Mr. Bambang Soendoro of Enesis Group. Dalamhttp://www.gbgindonesia.com/en/manufacturing/directory/enesis_group/interview.php/. Diunduh pada tanggal 8 Juni 2013 pukul 10.53 WIBAnonim. (2013). Products: Adem Sari. Dalamhttp://www.enesis.com/product/detail/en/13/. Diunduh pada tanggal 2 Juli 2013pukul 12.07 WIB.Aruman, Akhmad Edi. (2011). Ini Dia Karakter Perempuan Konsumen Indonesia.Women Insight Centre (WIC). Dalam http://edhyaruman.blogspot.com/2011/10/ini-dia-karakter-perempuan-konsumen.html.Diunduh pada tanggal 27 September 2013 pukul 19.04 WIB.Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page14Azwar, Saiffudin. (2011). Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta :Pustaka PelajarBelch, George E. dan Michael A. Belch. (2009). Advertising and Promotions : AnIntegrated Marketing Communications Perspectives. 8th Editions. New York,USA : McGraw-Hill CompaniesCangara, Hafied. (2006). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : RajaGrafindo PersadaChang, Chingching. (2007). The Relative Effectiveness of Comparative andNoncomparative Advertising: Evidence for Gender Differences in Information-Processing Strategies. Journal of Advertising, Vol. 36 No. 1 (Spring): 21-35Chow, Cheris W. C., dan Chung-Leuk Luk. (2006). Effect of Comparative Advertisingin High and Low-Cognitive Elaboration Conditions. Journal of Advertising, Vol.35 No. 2 (Summer): 55-57Dewan Periklanan Indonesia. (2007). Etika Pariwara Indonesia. Jakarta : DewanPeriklanan IndonesiaDPI-PPPI Pusat. (2013). Kasus / Pelanggaran. Dalam http://www.p3ipusat.com/rambu-rambu/kasus. Diunduh pada tanggal 8 Juni 2013 pukul 12.35WIB.Durianto, Darmadi., dan C. Liana. (2004). Analisis Efetifitas Iklan Televisi SoftenerSoft & Fresh di Jakarta dan Sekitarnya dengan Mengunakan Consumer DecisionModel. Jurnal Ekonomi Perusahaan, Vol. 11 (1): 35-55Engel, James F., Roger D. Blackwell., dan Paul W. Miniard. (1995). PerilakuKonsumen. Jilid 2. Jakarta : Binarupa AksaraFill, Chris. (2009). Marketing Communication: Interactivity, Communities, andContent. 5th Edition. England : Prentice-Hall, Pearson EducationGhozali, Imam. (2006). Statistik Non-Parametrik: Teori & Aplikasi dengan ProgramSPSS. Semarang : Badan Penerbit Universitas DiponegoroGhozali, Imam. (2008). Desain Penelitian Eksperimental: Teori, Konsep dan AnalisisData dengan SPSS 16.0. Semarang : Badan Penerbit Universitas DiponegoroGhozali, Imam. (2011). Structural Equation Modelling: Metode Alternatif denganPartial Least Square (PLS). Semarang : Badan Penerbit Universitas DiponegoroHasan, M. Iqbal. (2002). Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya.Jakarta : Ghalia IndonesiaHoyer, Wayne D., dan Deborah J. MacInnis. (2008). Consumer Behavior. 5th Edition.Mason, OH USA: South-Western Cengage LearningFerdinand, Augusty. (2002). Metode Penelitian Manajemen. Semarang : BadanPenerbit Universitas DiponegoroFirst Postion Monitoring. (2012). B4-Adem Sari-2Pria&Org2-Warung-Tengok(30).mpg. Dalam http://www.youtube.com/watch?v=w_oq4YMOb24/. Diunduhpada tanggal 30 Mei 2013 pukul 11.45 WIB.Isnawijayani. (2011). Metode Eksperimen dalam Penelitian Ilmu Komunikasi. JurnalDinamika, Vol. 4, No. 7 (Juni): 1-8Jogiyanto HM., (2011). Konsep dan Aplikasi Structural Equation Modeling BerbasisVarian Dalam Penelitian Bisnis. Yogyakarta : UPP STIM YKPNKerlinger, Fred N. (1990). Asas-Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta : Gadjah MadaUniversity PressKotler, Philip., Kevin Lane Keller., Swee Hoon Ang., Siew Meng Leong., dan ChinTiong Tan. (2009). Marketing Management: An Asian Perspectives. 5thEditions. Singapore : Prentice-Hall, Pearson Education South AsiaKotler, Philip., dan Kevin Lane Keller. (2011). Marketing Management. 14th Edition.Upple Saddle River, New Jersey USA: Prentice-Hall, Pearson EducationJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page15Manzur, Enrique., Rodrigo Uribe., Pedro Hidalgo., Sergio Olavarieta dan Pablo Farias.(2012). Comparative Advertising Effectiveness in Latin America: Eveidencefrom Chile. International Marketing Review, Vol. 29 No. 3: 227-298Marliani, Rosleny. (2013). Psikologi Eksperimen. Bandung : Pustaka SetiaMindra Jaya, I Gede Nyoman., dan I Made Sumertajaya. (2008). Pemodelan PersamaanStruktural Dengan Partial Least Square. Proceeding. Seminar NasionalMatematika dan Pendidikan Matematika, Hal. 118-132Mustafa, Zaenal EQ. (2009). Mengurai Variabel Hingga Instrumentasi. Edisi Pertama.Yogyakarta : Graha IlmuNisfiannoor, Muhammad. (2009). Pendekatan Statistik Modern Untuk Ilmu Sosial.Jakarta : Salemba HumanikaPalupi, Dyah Hasto., dan Teguh Sri Pambudi. (2006). Advertising That Sells Dwi Sapta:Strategi Sukses Membawa Merek Anda Menjadi Pemimpin Pasar. Jakarta :Gramedia Pustaka UtamaPierro, Antonio., Mauro Giacomantonio., Gennaro Pica., Lucia Mannetti., Ariw W.Kruglanski., dan Tory Higgins. (2012). When Comparative Ads are MoreEffective: Fit with Audience’s Regulatory Mode. Journal of EconomicPsychology, page 1-14Pillai, Kishore Gopalakrishna., dan Ronald E. Goldsmith. (2008). How Brand AttributeTypicality and Consumer Commitment Moderate the Influence of ComparativeAdvertising. Journal of Business Research, Vol. 61: 933-941Prasetyo, Bambang dan Lina Miftahul Jannah. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif :Teori dan Aplikasi. Jakarta : Rajagrafindo PersadaRakhmat, Jalaluddin. (2007). Metode Peneltian Komunikasi: Dilengkapi ContohAnalisis Statistik. Bandung : Remaja RosdakaryaRogers, John C. dan Terrell G. Williams. (1989) Comparative AdvertisingEffectiveness: Practitioner’s Perceptions Versus Academic Research Findings.Journal of Advertising Research (October-November): 22-36Sarwono, Jonathan. (2012). Metode Riset Skripsi Pendekatan Kuantitatif: MenggunakanProsedur SPSS. Jakarta : Elex Media KomputindoSeniati, Liche., Aries Yulianto., dan Bernadette N. Setiadi. (2008). PsikologiEksperimen. Jakarta : IndeksSetiyaningrum, Ari. (2008). Menilai Efektivitas Iklan Komparatif. Jurnal MajalahUsahawan, No. 05 TH XXXVII: 16-26Severin, Werner J., dan James W. Tankard, Jr. (2009). Teori Komunikasi: Sejarah,Metode dan Terapan di dalam Media Massa. Edisi ke-5. Jakarta : KencanaPrenada MediaSmith, Robert E., Jiemiao Chen., dan Xiaojing Yang. (2008). The Impact of AdvertisingCreativity on The Hierarchy of Effects. Journal of Advertising, Vol. 37, 4(Winter): 47-61Soscia, Isabella., Simona Girolamo., dan Bruno Busacca. (2010). The Effect ofComparative Advertising on Consumer Perceptions: Similarity orDifferentiation?. Journal of Business Psychology, Vol. 25: 109-118Sukamto, Imam. (2013). Acara TV Ini Paling Digemari Penonton Indonesia .(2013).Dalam http://www.tempo.co/read/news/2013/03/06/090465467/Acara-TV-Ini-Paling-Digemari-Penonton-Indonesia. Diunduh pada tanggal 01 Mei 2013 Pkl.13.17 WIB.Sumarwan, Ujang., Ahmad Jauzi., Asep Mulyana., Bagio Nugroho Karno., PontiKurniawan Mawardi., dan Wahyu Nugroho. (2011). Riset Pemasaran danKonsumen, Seri : 1. Bogor: IPB PressJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page16Suprapto, Hadi dan Arie Dwi Budiawati. (2013). 2012, Belanja Iklan Media Rp 87Triliun. Dalam http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/395530-2012--belanjaiklan-media-rp87-triliun. Diunduh pada tanggal 8 Juni 2013 pukul 20.48 WIBThompson, Debora Viana., dan Rebecca W. Hamilton. (2006). The Effect ofInformation Processing Mode on Consumer’s Response to ComparativeAdvertising. Journal of Consumer Research, Vol. 32:530-540Tjiptono, Fandy. (2002). Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Penerbit AndiVeriveli. (2012). Iklan Adem Sari – Laboratorium. Dalamhttp://www.youtube.com/watch?v=6K1mZRxMYlg. Diunduh pada tanggal 2Juli 2013 pukul 11.15 WIBWhite Nye, Carolyn., Martin S. Roth., dan Terence A. Shimp. (2008). ComparativeAdvertising in Markets Where Brands and Comparative Advertising are Novel.Journal of International Business Studies, Vol. 39: 851-863Widyatama, Rendra. (2011). Teknik Menulis Naskah Iklan: Agar Tepat Sasaran.Yogyakarta: Cakrawala
STRATEGI KOMUNIKASI MUSEUM RANGGAWARSITA Prabowo Nurwidagdyo; Djoko Setyabudi; Tandiyo Pradekso; Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.686 KB)

Abstract

Latar belakang penelitian ini diawali dengan kesuksesan museum Ranggawarsita dalam meningkatkan jumlah pengunjung. Pada tahun 2012 pengunjung museum Ranggawarsita sebanyak 43.180 orang dan pada tahun 2013 meningkat menjadi 65.957 orang. Ditengah meredupnya daya apresiasi masyarakat tentang museum, ternyata museum ranggawarsita justru mampu meningkatkan jumlah pengunjungnya. Fenomena tersebut menjadi daya tarik bagi peneliti untuk mengkaji bagaimana strategi komunikasi yang telah dilakukan oleh museum Ranggawarsita.Tujuan penelitian adalah mengkaji bagaimana strategi komunikasi dalam meningkatkan jumlah pengunjung di museum Ranggawarsita. Tipe penelitian merupakan penelitian deskriptif kulitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Subjek penelitian adalah kepala museum, kepala seksi pelayanan, staf pelayanan, penanggung jawab kegiatan duta museum dan ketua komunitas Lopen.Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa museum Ranggawarsita telah menggunakan 6 tahapan perencanaan strategi komunikasi sebagai upaya meningkatkan jumlah pengunjungnya, yaitu analisis situasi, penentuan tujuan, menentukan target sasaran, pesan, program komunikasi dan evaluasi. Museum Ranggawarsita telah berhasil mengubah paradigma lama yang berbasis koleksi ke paradigm baru yang berbasis konsumen. Konsep marketing yang telah diterapkan adalah internal marketing, integrated marketing dan relationship marketing. Strategi komunikasi yang dilaksanakan oleh museum Ranggawarsita meliputi penyelengaraan event, pembuatan iklan, penggunaan media internet dan program pemberian diskon.Kata kunci: strategi komunikasi, museum, marketing
PENGARUH INTENSITAS MENONTON SINETRON REMAJA DAN MEDIASI ORANG TUA TERHADAP PERILAKU KEKERASAN Shahnaz Natasha Anya; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.125 KB)

Abstract

Maraknya sinteron remaja tidak hanya memberikan dampak positif saja, namun dapat membawa dampak negatif pula. Di dalam sinetron remaja banyak mengandung adegan kekerasan baik verbal maupun fisik di setiap episodenya. Hal ini tentu menghkhawatirkan karena penonton utamanya adalah para remaja. Remaja sangat mudah terpengaruh dan mencontoh apa yang mereka lihat. Disinilah peran mediasi orang tua dibutuhkan untuk menimimalisir dampak negatif dari sinetron remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas menonton sinetron remaja dan mediasi orang tua terhadap anak ketika menonton sinetron remaja terhadap perilaku kekerasan. Dasar pemikiran yang digunakan adalah social learning theory dan parental mediation theory. Penelitian kuantitaif ini menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sample 73 siswa dan siswi dengan usia 13-14 tahun di SMP Islam Hidayatullah Kota Semarang. Analisis data yang digunakan adalah regresi linier sederhana dan regresi linier berganda dengan bantuan spss 20. Uji hipotesis pertama menunjukkan bahwa intensitas menonton sinetron remaja berpengaruh positif dan sangat signifikan (sig. =0,000) terhadap perilaku kekerasan dengan persamaan regresi linier sederhana Y= Y=2,679 + 0,451 . Hasil uji hipotesis kedua menunjukkann bahwa bahwa variable intensitas menonton sinetron remaja jika dihitung bersama-sama menggunakan teknik analisis regresi berganda berpengaruh terhadap perilaku kekerasan remaja dengan nilai signifikansi untuk intensitas menonton sinetron remaja sebesar (sig.=0,000). Sedangkan variabel mediasi orang tua tidak berpengaruh terhadap perilaku kekerasan dengan nilai signifikansi untuk mediasi (sig.=0,628). Kesimpulan dari uji hipotesis adalah intensitas menonton sinetron remaja berpengaruh positif terhadap perilaku kekerasan. Semakin rendah intensitas menonton sinetron remaja maka semakin rendah perilaku kekersaan. Sedangkan intensitas menonton sinetron remaja dan mediasi orang tua tidak berpengaruh terhadap perilaku kekerasan. Saran yang diberikan penelitian ini adalah untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan variable lain seperti faktor internal dari pribadi remaja dan faktor eksternal seperti interaski peer group, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Orang tua di sarankan menerapkan diet televisi bagi anak dan waspada terhadap tontonan anak.
Strategi Komunikasi Komunitas IndoRunners Destima Nursylva Anggraningrum; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi; Nuriyatul Lailiyah
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.22 KB)

Abstract

Tidak mudah mengubah perilaku dan kebiasaan masyarakat untuk memulai hidup sehat dengan berolahraga lari. Oleh karena itu komunikasi kampanye dilakukan oleh IndoRunners untuk mencapai tujuannya, yaitu menyebarkan virus lari kepada masyarakat Indonesia. Banyak cara yang dilakukan oleh komunitas IndoRunners dalam menyebarkan virus lari tersebut. Dalam kenyataannya, IndoRunners telah tersebar diberbagai kota Indonesia bahkan luar Indonesia, dengan peningkatan yang cukup tajam pada member IndoRunners ditahun 2013-2014. Lalu bagaimanakah strategi komunikasi dijalankan IndoRunners, yang merupakan paduan dari proses perancanaan komunikasi dan manajemen komunikasi. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk melakukan kajian, menguraikan dan menjelaskan strategi komunikasi kampanye IndoRunners dalam menyebarkan virus lari.Penelitian ini menggunakan pendekatan metodologi kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif, mendeskripsikan strategi komunikasi kampanye IndoRunners dalam menyebarkan virus lari tanpa mengoperasionalisasi atau menguji konsep strategi komunikasi kampanye pada realitas yang diteliti. Subjek penelitian ini adalah komunitas IndoRunners sebagai pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendeketan studi kasus. Dengan analisa data yang digunakan adalah analisa data penjodohan pola, yaitu membandingkan suatu pola yang didasarkan atas empiri dengan pola yang diprediksikan atau dengan beberapa prediksi alternative. Peneliti memfokuskan penjodohan pola pada strategi komunikasi yang digunakan oleh IndoRunners sesuai dengan konseptual teori.Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas IndoRunners tidak menggunakan strategi sebagai pembimbing dalam taktiknya. Namun lanngsung mengaplikasikannya dalam sebuah taktik sehingga membuat nya tidak sistematis dan ringan karena tidak digunakan strategi sebagai pembimbing lahirnya ide-ide cerdas. Dan pada perencanaan komunikasi indorunners hanya melakukan proses analisis, perumusan tujuan, perumusan pesan, segmentasi sasaran, taktik, sumber daya dan evaluasi. Sedangkan pada proses manajemen komunikasi Indorunners melakukan tahapan perencanaan tanpa uji coba dilapangan, yang selanjutnya di organizing dan melaksanakan pelaksanaan tekhnis dilapangan, dan pada tahap evaluasi manajemen komunikasi IndoRunners tidak dapat mengukur apakah kegiatan komunikasi IndoRunners tepat sasaran atau tidak.
Pengaruh Terpaan Peringatan Pesan pada Iklan Rokok terhadap Sikap untuk Berhenti Merokok pada Remaja Zainul Asngadah Fatmawati; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi; Nuriyatul Lailiyah
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.719 KB)

Abstract

Peringatan kesehatan berbentuk gambar dan tulisan terbukti memiliki pengaruh yang positif dalam menurunkan angka prevalensi merokok. Peringatan kesehatan berbentuk gambar ternyata diperhatikan daripada peringatan kesehatan yang hanya berbentuk tulisan atau teks saja. Studi di berbagai negara membuktikan bahwa peringatan kesehatan berbentuk gambar adalah efektif untuk meningkatkan kesadaran perokok dan bukan perokok akan bahaya merokok bagi kesehatan. Hal tersebut sekaligus memberikan pendidikan yang efektif mengenai dampak buruk yang diakibatkan karena merokok, serta meningkatkan niat untuk berhenti merokok. Berdasarkan PP No 28 tahun 2013, mulai awal Januari 2014 peraturan mengenai peringatan kesehatan berbentuk gambar dan tulisan telah diberlakukan pada media iklan, dan mulai tanggal 24 Juni 2014 peringatan berbentuk gambar tersebut mulai diberlakukan pada seluruh bungkus rokok. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terpaan peringatan pesan kesehatan yang tercantum pada iklan rokok terhadap sikap untuk berhenti merokok pada kalangan remaja. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Protection Motivation Theory (PMT) dari Rogers dan Cognitive Response dari Greenwald. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan desain static groupcomparison. Sedangkan teknik pengambilan sampelnya adalah non random samplingdengan total sampel 65 responden yang terdiri dari 30 responden sebagai kelompok treatment dan 35 responden sebagai kelompok kontrol. Alat yang digunakan untuk analisis data adalah uji statistik Mann Whitney U Test.Hasil penelitian pada pengujian hipotesis menunjukkan adanya pengaruh antara terpaan peringatan pesan pada iklan rokok terhadap sikap untuk berhenti merokok pada remaja. Hal ini ditunjukkan pada angka signifikansi hasil pengujian hipotesis sebesar 0,000. Selanjutnya hasil uji Mann Whitney U Test menunjukkan adanya perbedaan sikap berhenti merokok pada kelompok treatment dan kelompok kontrol. Nilai rata-rata (mean) sikap berhenti merokok pada kelompok treatment lebihtinggi dibandingkan nilai rata-rata (mean) pada kelompok kontrol. Hal tersebut menunjukkan bahwa terpaan peringatan pesan kesehatan berbentuk gambar dan tulisan yang ada pada iklan rokok berpengaruh terhadap sikap untuk berhenti merokok pada remaja. Oleh karena itu pemerintah, produsen rokok, dan masyarakat hendaknya ikut berperan aktif mensosialisasikan peringatan pesan berbentuk gambar dan tulisan agar seluruh masyarakat mengetahui informasi bahaya merokok, sehingga dapat memberikan pengetahuan yang pada akhirnya mendorong masyarakat untuk berpikir dan termotivasi untuk berhenti merokok. Kata Kunci: Terpaan Peringatan Pesan pada Iklan Rokok, Peringatan Kesehatan Berbentuk Gambar dan Tulisan, Sikap untuk Berhenti Merokok pada Remaja.
Hubungan Antara Kualitas Komunikasi Dokter-Pasien dan Tingkat Pendidikan Pasien dengan Loyalitas Pasien. Septiana Wulandari Suparyo; Joyo NS Gono; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.694 KB)

Abstract

Masih banyaknya pasien yang mengeluhkan buruknya komunikasi dari dokter kepada pasien menjadi latar belakang dalam penelitian ini. Komunikasi yang buruk itu seperti dokter yang bersikap tidak ramah, atau komunikasi dimana terdapat kesenjangan kedudukan antara dokter dan pasien. Komunikasi dokter-pasien yang buruk tersebut mengakibatkan pasien berpindah dokter atau pasien tidak loyal. Tingkat pendidikan juga menjadi variabel penting dalam hubungan ini karena tingkat pendidikan ikut memengaruhi sikap pasien.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kualitas komunikasi dokter-pasien dengan loyalitas pasien dan hubungan antara tingkat pendidikan pasien dengan loyalitas pasien. Tipe penelitian ini adalah eksplanatori dengan pendekatan metode penelitian kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling dengan responden berjumlah 40 orang. Penelitian ini menggunakan metode statistik korelasi Kendall’s tau-b sebagai alat uji hipotesis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif tetapi lemah antara kualitas komunikasi dokter-pasien dengan loyalitas pasien dan tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan pasien dengan loyalitas pasien. Pada setiap tingkat pendidikan pasien, loyalitas pasien adalah tinggi. Kualitas komunikasi dokter pasien dan loyalitas pasien dalam penelitian ini masuk ke dalam kategori sangat tinggi.Disarankan kepada dokter pada praktik dokter umum untu meningkatkan lagi komunikasi antara dokter dengan pasien terutama pada saat melibatkan pasien ketika mengambil keputusan mengenai pengobatan yang diberikan atau dijalankan.
Program Acara Feature “Perempuan Bercerita” di iNews Semarang Sebagai Produser Pada Episode 2, 5, dan 10, Program Director, Reporter, Penulis Naskah, Juru Kamera, dan Editor Santa Cicilia Sinabariba; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.274 KB)

Abstract

Television nowaday has a high penetration compared with other mass media consumed by the community, including local television iNews Semarang. As one of the local television, iNews present as news television by displaying information about Central Java with broadcasting hour for two hours at 09.00-11.00 WIB every day. This is a challenge for journalistic people to produce quality programs to audiences, in addition to the news program that became the main item iNews Semarang. For that, an innovative and new program for viewer features by presenting the program. Perempuan Bercerita comes with a feature format and presents a program that raises two inspiring female figures in each episode. This program is present to show and show the existence of women in Semarang in various areas of life, including how women take role in society by raising the story of woman in Semarang according to different theme in each episode. In producing this program, teams are divided to perform different responsibilities in each episode from pre-production, production, and post-production processes to producers, program directors, reporters, scriptwriters, cameramen, editors and dubber so that all team members get different experiences in each episode. Perempuan Bercerita aired 13 episodes at iNews Semarang every Monday at 10.00 am which aired from March 5, 2018 until June 4, 2018. Through this program, people are expected to get information and education and get the spirit and inspiration to continue to work and play an active and positive role in the environment. In addition, it also provides new referrals to local television to bring new programs to the audience.
Hubungan Antara Kesesuaian Format Siaran Acara ZOOM dan Kredibilitas Penyiar dengan Loyalitas Mendengarkan Program Acara ZOOM di Radio Ichthus. Daniel Dwi Listantyo; Tandiyo Pradekso; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.305 KB)

Abstract

Hubungan Antara Kesesuaian Format Siaran Acara ZOOM dan Kredibilitas Penyiardengan Loyalitas Mendengarkan Program Acara ZOOM di Radio Ichthus.AbstraksiRadio sebagai salah satu media massa yang dikonsumsi orang setiap hari baik untukmendapatkan informasi maupun hiburan. Di radio Ichthus terdapat program acara ZOOMdengan format siaran yang disesuaikan segmentasinya supaya menarik loyalitas pendengaruntuk mendengarkan program acara tersebut. Selain format siaran yang sesuai, kredibilitaspenyiar menjadi faktor lain untuk membuat program acara ZOOM lebih menarik dan lebihhidup. Penelititan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesesuaian format siaranprogram acara ZOOM dan kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan program acaraZOOM di radio Ichthus. Peneliti menggunakan teori dari Geller yang menyatakan, Pendengaritu menyukai format. Format memberikan struktur, seperti dinding sebuah rumah. Orangorangingin sekali mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka dengarkan, dan merekajuga ingin mengetahui waktu (Geller, 2007 : 35), Kita membentuk gambaran tentang dirikomunikator dari pengalaman langsung dengan komunikator itu atau dari pengalamanwakilan (vicarious experiences), misalnya karena sudah lama bergaul dengan dia dan sudahmengenal integritas kepribadiannya atau karena kita sudah sering melihat atau mendengarnyadalam media massa (Rakhmat, 2009 : 258).Populasi dari penelitian ini adalah anak muda beragama kristen yang berusia 15-25 di kotaSemarang. Penarikan sampel dilakukan secara aksidental sebanyak 50 orang. Uji hipotesisdilakukan dengan menggunakan uji statistik Kendal Tau untuk melihat hubungan antarakesesuaian format siaran (X1) dan kredibilitas penyiar (X2) dengan loyalitas mendengarkan(Y). Hasil pengujian hipotesis adalah hubungan antara kesesuaian format siaran programacara ZOOM dengan loyalitas mendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau,diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,001 maka terdapat hubungan. Nilaikoefisien korelasi kesesuaian format siaran dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,428.Hal ini dapat dikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,01 yang berarti keduavariabel tersebut terdapat hubungan yang sangat signifikan dan hipotesis diterima. Dengandemikian, dapat dinyatakan bahwa “ada hubungan antara kesesuaian format siaran programacara ZOOM dengan loyalitas mendengarkan”. Sedangkan hubungan antara kredibilitaspenyiar dengan loyalitas mendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau, diperolehhasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 maka tidak ada hubungan. Nilai koefisienkorelasi kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,174. Hal ini dapatdikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 > 0,05 yang berarti kedua variabel tersebuttidak signifikan dan hipotesis ditolak. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa “tidak adahubungan antara kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan”.Keywords: kesesuaian, kredibilitas, loyalitasRelationship Between Compliance Programs Broadcast Format Zoom and Broadcaster Credibilitywith Loyalty Zoom Programs Listening On Radio Ichthus.AbstractionRadio as a mass media consumed a good person every day for information and entertainment. AtIchthus radio programs are broadcast format ZOOM with customized listener loyalty segmentationso interesting to listen to the event program. In addition to the appropriate broadcast format,broadcasters credibility is another factor to make the program more attractive ZOOM and morealive. This study was aimed to investigate the relationship between compliance programs broadcastformat ZOOM broadcaster with credibility and loyalty listening to radio programs in Ichthus ZOOM.Researchers used the theory of Geller stated, the audience liked the format. Format provides thestructure, such as the wall of a house. People want to know who and what they are hearing, andthey also want to know the time (Geller, 2007: 35), we form a picture of yourself communicatorsfrom direct experience with the communicator or representation of experience (vicariousexperiences), eg because it had long been hanging out with him and get to know the integrity of hispersonality or because we've seen or heard in the mass media (Rachmat, 2009: 258).The population is young people aged 15-25 who are Christians in the city of Semarang. Accidentalsampling conducted as many as 50 people. Hypothesis testing is done by using a statistical testKendal Tau to see the relationship between the suitability of the broadcast format (X1) and thecredibility of the broadcaster (X2) with loyalty listening (Y).Results of hypothesis testing is the relationship between the broadcast format compatibility withloyalty programs ZOOM listening using Kendall Tau calculation, the result that the significance valueof 0.001 then there is a relationship. Correlation coefficient values conformity with loyalty listeningto the broadcast format of 0.428. It can be said that the significance value of 0.001 <0.01 whichmeans that there is a relationship between the two variables are highly significant and thehypothesis is accepted. Thus, it can be stated that "there is a relationship between the broadcastformat compatibility with loyalty programs ZOOM listening". While the relationship betweencredibility and loyalty listening broadcasters using Kendall Tau calculation, the result that thesignificance value of 0.189 then there is no relationship. Correlation coefficient broadcaster withcredibility listening loyalty of 0.174. It can be said that the significance value of 0.189> 0.05, whichmeans that the two variables are not significant and the hypothesis is rejected. Thus, it can be statedthat "there is no relationship between the broadcaster with credibility listening loyalty".Keywords: suitability, credibility, loyaltyHubungan Antara Kesesuaian Format Siaran Program Acara ZOOM danKredibilitas Penyiar dengan Loyalitas Mendengarkan Program AcaraZOOM di Radio Ichthus.PENDAHULUAN : Peranan komunikasi massa melalui media massa pada saat sekarangsemakin penting dimana masyarakat berkaitan erat dengannya, media massa merupakansumber informasi bagi masyarakat. Dalam kehidupannya manusia tidak terlepas dari mediamassa yang setiap hari mengelilinginya. Orang cenderung menggunakan media seperti suratkabar, majalah, radio, televisi untuk menghubungkan diri mereka sendiri dengan masyarakatatau dengan kata lain untuk mendapatkan informasi tentang dunia diluar dirinya dan jugauntuk mendapatkan hiburan. Sama halnya dengan bentuk-bentuk media massa yang lainseperti koran, televisi, majalah, film. Radio sebagai salah satu media massa yang dikonsumsiorang setiap hari baik untuk mendapatkan informasi maupun hiburan. Radio termasuksebagai media mekanis, karena media ini menggunakan saluran tertentu secara teknis yaknipemancar. Melalui program-program siarannya, radio menjalankan fungsi-fungsi sebagaimedia massa. Fungsi media massa pada umumnya antara lain adalah memberi informasi,mendidik, membujuk dan memberi hiburan. Untuk media radio fungsi hiburan memiliki porsiyang lebih besar dibandingkan fungsi-fungsi yang lainnya. Jumlah media radio, khususnyaradio siaran swasta, sekarang ini semakin banyak dan semakin tersegmentasi. Seperti diSemarang, terdapat 5 radio rohani diantaranya : Ichthus FM, Goodnews FM, Agape FM,Rhema FM dan BeFM dengan segmentasi audiens merupakan umat Nasrani yang berbedabedadari segi usia, kelas ekonomi maupun jenis kelamin. Radio Ichthus adalah salah saturadio siaran swasta yang berdomisili di Semarang dengan segmentasi audiens umat Nasrani.Sebagai radio yang memiliki segmentasi audiens tertentu, maka program-program siaranyang disajikan disesuaikan terhadap pendengar. Seperti lagu-lagu yang diputar, topik-topikyang menjadi bahasan, informasi yang diberikan serta program siaran khusus, contohnyaacara siraman rohani yang menjadi mayoritas acara di radio Ichthus (radio rohani) dalammenjaga dan menumbuhkan iman para pendengar yang beragama Nasrani. Radio rohanimerupakan radio atau media yang dipakai sebagai perantara akan firman Tuhan bagi parapendengarnya yang kebanyakan umat Nasrani. Media ini mempunyai daya tarik tersendiridikalangan pendengar dikarenakan mempunyai kesamaan akan batin serta keyakinan.Terlebih lagi media radio rohani ini menjadi pilihan bagi umat Nasrani yang terlalu sibukakan pekerjaannya sehingga belum bisa meluangkan waktu untuk beribadah digereja. Selamaperjalanannya, pada tahun 2005 beberapa penyiar senior di radio Ichthus pindah ke radiorohani lain yang merupakan pesaing dari radio Ichthus itu sendiri, sehingga tidak jarangsebagian anggota monitor radio Ichthus yang dulu sering masuk on air sudah jarang sekaliterdengar saat ini dikarenakan mereka (pendengar) lebih mengikuti penyiar kesayangannyapergi. Radio Ichthus memperhitungkan jumlah anggota monitor yang ikut bergabung setiapbulannya, baik anggota monitor tersebut aktif atau pasif. Jumlah pendengar yang seringmasuk atau on air mempengaruhi pendapatan Ichthus melalui iklan karena pihak pengiklantidak mau mengiklankan produknya di radio yang sepi pendengar. Dengan adanya jumlahpendengar yang bergabung mempengaruhi pihak pengiklan untuk memakai jasa radioIchthus. ZOOM (Zona Orang-Orang Muda) merupakan sebuah program acara yang adadalam radio Ichthus. Fungsi dari acara ini yaitu berusaha mempererat hubungan anak mudaKristiani di kota Semarang dan sekitarnya bahkan siapa saja yang mendengarkan Ichthus.Selain tujuannya mempererat jalinan kasih, acara ini juga sebagai ajang untuk mengontrolkehidupan anak muda dalam bergereja serta kehidupan sosialnya, antara lain berupa prestasiatau segala hal yang berhubungan dengan luar gereja. Pendengar acara ini disebut Zoomers,karena acara ini bertema anak muda maka kata Zoomers yang berarti “pecinta ZOOM”dipakai untuk memberi semangat bagi para pecinta acara ini. Acara ZOOM hadir setiap hariSenin hingga Sabtu dengan tema yang berbeda-beda. Format siaran program acara ZOOMdisesuaikan dengan segmentasinya yaitu anak muda. Format siaran terbagi dalam 4 hal yaitu :acara, musik, informasi dan iklan yang ada pada sebuah acara. Acara ZOOM memiliki temayang yang berbeda dalam tiap harinya selama 6 hari mengudara. Acara yang membahasmengenai kehidupan anak muda, mengenai gaya berpakaian, teknologi, hobby serta prestasiyang diperoleh entah di akademik maupun di kalangan professional. Acara Zoom merupakanacara di radio Icthus yang memiliki rating tinggi dikarenakan feedback dari pendengar yangsangat antusias. Dibandingkan dengan acara lainnya, acara Zoom selalu mendapat respondalam bentuk telepon secara on air dan SMS terbanyak di setiap acara berlangsung. Karenaacara Zoom merupakan acara untuk anak muda, maka penyiarnya juga disesuaikan berusiasekitar 15-25 tahun. Penyiar Zoom yang telah melebihi usia 25 tahun di pindah ke acara yanglain, sehingga secara otomatis penyiar junior menggantikan posisi para seniornya. Dalampergantian beberapa penyiar senior dengan penyiar junior, acara Zoom pernah mengalamipenurunan feedback dalam bentuk telepon maupun SMS pada saat on air. Selama mengudarakredibilitas penyiar pada Acara Zoom di radio Ichthus juga sering mendapat kritikan daripendengar yang menelepon ke studio pada saat off air. Beberapa kritikan yang disampaikankepada sebagian penyiar antara lain : artikulasi kurang jelas, banyak bicara pada saat siaran /banyak bercanda, kurang pintar mengolah kata-kata, materi siaran kurang dipahami sehinggapenyampaian menjadi bias, terlalu cepat berbicara, lupa memutarkan lagu yang di request dll.Beberapa hal tersebut menjadi tolak ukur bagi Radio Ichthus sendiri untuk meningkatkankualitas penyiarnya. Meski program acara ZOOM di radio Ichthus memiliki rating tinggikarena feedback yang antusias, tidak berarti program acara tersebut akan selalu baik apabilaIchthus kurang jeli dan teliti dalam menjaga program acara di radio Ichthus. Dengan formatsiaran yang dimiliki program acara ZOOM bukan berarti acara ZOOM telah memenuhisemua keinginan audiens. Penurunan jumlah pendengar terjadi pada acara ZOOM di akhirtahun 2009 hingga 2011. Kenyataan ini dapat dilihat dari penerimaan SMS dan telepon secaraOn Air yang tidak stabil. Penyiar program acara ZOOM juga sering mendapat mendapatkritikan dari para pendengar, diantaranya terlalu banyak berbicara pada saat siaran,membahas topik-topik yang dirasa tidak perlu, banyak bercanda, kurang memahami materisiaran, kurang pintar mengolah kata-kata artikulasi kurang jelas, terlalu cepat berbicara lupamemutarkan lagu yang di-request dan lain-lain. Jika dilihat dari format siaran program acaraZOOM dan kredibilitas penyiar, mungkinkah ada ketidaksesuaian dengan kebutuhanpendengar sehingga mempengaruhi loyalitas? Dari hal tersebut, muncullah pertanyaanapakah ada hubungan antara kesesuaian format siaran program acara ZOOM dan kredibilitaspenyiar dengan loyalitas mendengarkan acara ZOOM di radio Ichthus?PEMBAHASAN : Komunikasi Radio, Para pelaku industri radio harus paham betulmengenai teori-teori komunikasi jika ingin menguasai pasar dan mendapat banyakpendengar. Pada intinya semua media termasuk radio adalah sarana penyampai pesan untukpara komunikan. Teori klasik yang berkatian dengan hal ini adalah sebuah teori yangdikemukakan oleh Aristoteles. Dia menyebutkan bahwa unsur sebuah komunikasi adalapembicara (speaker), dalam hal ini adalah penyiar (jika di media radio), kemudian pesantermasuk hasil menulis di radio (message), dan materi siaran serta pendengar (listener)(Prayudha, 2006 : 3). Kemudian sebuah teori yang umum dan sangat terkenal dari Lasswellyang menyebutkan bahwa who says what in which channel to whom with what effects. Modeltersebut lebih menitikberatkan pada kelompok khusus yang bertanggung jawab dalammelaksanakan fungsi korelasi. Misalnya, dalam lingkungan radio siaran, seorang penyiarmembantu mengkorelasikan atau mengumpulkan respon orang-orang teradap informasi baru.Jika teori tersebut diaplikasikan dalam siaran radio, model Lasswell terdiri dari atas unsurpengirim (who - komunikator/ penyiar) yang merangsang pertanyaan mengenai pengendalianpesan, unsur pesan (say what – pesan/ bahan) untuk analisis isi siaran radio, salurankomunikasi (in which cannel – media) yang dikaji dalam analisis media radio, unsurpenerima (to whom – receiver/ pendengar) yang dikaitkan dengan analisis khalayak, danunsur pengaruh (with what effect – influence akibat)yang ditimbulkan pesan komunikasi padapendengar (Prayudha, 2006 : 7). John R. Wenburg dan William W. Wilmot mengemukakantiga konseptualisasi komunikasi, yaitu komunikasi sebagai tindakan satu arah, interaksi (duaarah) dan transaksi. Komunikasi yang terjadi pada media, seperti radio dan televisimerupakan bentuk konseptualisasi komunikasi interaksi, yaitu komunikasi dengan suatuproses sebab akibat atau aksi-reaksi, yang arahnya bergantian (Mulyana, 2003 : 65). Sebagaicontoh di dunia radio, ketika penyiar memberikan topik atau bahasan kepada pendengarnya,hal itu menandakan bahwa penyiar sedang memberikan aksi atau sebab. Ketika pendengarmulai memberikan feedbacknya berupa SMS atau telepon, hal itu menandakan adanya reaksiatau akibat. Radio memiliki karakteristik yang unik. Meskipun hanya bisa didengarkanternyata efek mendengarkan radio tidak kalah dengan media audio visual yaitu televisi. Radiobisa menjadi media penyampaian pesan yang sangat efektif. Sculberg dalam bukunya RadioAdvertising – The Authoritative Handbook, mengatakan bahwa para ahli psikologi telahmenyimpulkan bahwa memori ingatan yang berasal dari aspek pendengaran manusia,ternyata jauh lebih kuat daripada ingatan yang diperoleh dari indera penglihatan ataupenciuman (Prayudha, 2006 : 12). Radio memiliki kekuatan yang dapat memunculkan theaterof mind bagi para pendengarnya. Radio dapat membuat pendengar merasa akrab dan dekatseperti seorang teman atau sahabat yang sedang mengajak bicara, juga dapat berinteraksimelalui SMS ataupun telepon. Memberi masukan ataupun sekedar membagi informasi danopini untuk pendengar lainnya dapat menjadi alternatif. Selain itu, juga dapat mendengarkanmusik favorit dari radio. Format Siaran Radio, Perkembangan media massa khususnyaradio yang semakin maju, merupakan tantangan bagi pelaku industri media massa untukmengembangkan media tersebut. Perkembangan ini kemudian menimbulkan persaingan yangketat sehingga konsekuensi bagi pelaku industri media adalah keharusan untuk menyajikanprogram acara dan lagu yang menarik dan diminati audien. Seiring dengan perkembanganjaman, saat ini industri radio sudah menjadi sebuah komoditi bisnis yang menguntungkan.Hal ini dikarenakan, radio memang dirancang untuk memiliki sebuah penataan format acaradan format musik yang sedemikian rupa, sehingga mampu menarik pendengar dari berbagaimacam latar belakang (Schament, 2002 : 811). Seperti yang sudah disinggung sebelumnya,bahwa format adalah penyajian program dan musik yang memiliki ciri-ciri tertentu olehstasiun radio. Secara lebih sederhana dapat dikatakan format stasiun penyiaran atau formatsiaran radio dapat didefinisikan sebagai upaya pengelola stasiun radio untuk memproduksiprogram siaran yang dapat memenuhi kebutuhan audiensnya (Morrisan, 2009 : 220). MenurutMorrisan dalam bukunya Pringle Starr McCavitt menjelaskan bahwa : the programming ofmost station is dominate by one principal content element or sound, known as format.Artinya, program sebagian besar stasiun radio didominasi oleh satu elemen isi atau suarayang utama yang dikenal dengan format (Morrisan, 2009 : 220). Geller mengatakan bahwapendengar itu menyukai format. Format memberikan struktur, seperti dinding sebuah rumah.Orang-orang ingin sekali mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka dengarkan, danmereka juga ingin mengetahui waktu (Geller, 2007 : 35). Artinya, pendengar lebih nyamanmemilih radio yang memang sudah jelas format dan strukturnya. Siapa penyiar dan informasiapa yang disampaikan semuanya jelas dan mudah dimengerti. If you can create qualityprogramming, consistently stick with a host, program, or format over the time it takes to findits audience, you will likely have your own success story (Geller, 2007 : 5). Artinya, jikasebuah stasiun radio mampu menciptakan program yang berkualitas termasuk program yangkreatif di dalamnya, selain itu dengan penyiar yang konsisten dan format yang sesuai, makadengan sendirinya pendengar akan menjadi konsumen yang loyal bagi radio tersebut danakan memunculkan persepsi bahwa format siaran radio tertentu sesuai dengan dirinya.Kredibilitas Penyiar, Penyiar adalah orang yang bertugas membawakan atau memanduacara di radio, menjadi ujung tombak radio dalam berkomunikasi atau berhubungan langsungdengan pendengar. Keberhasilan sebuah program acara dengan parameter jumlah pendengardan pemasukan iklan utamanya ditentukan oleh kepiawaian penyiar dalam membawakansekaligus menghidupkan acara tersebut (Rosalia, 2010 : 28-29). Penyiar merupakan ujungtombak keberhasilan sebuah radio. Melalui seorang penyiar, radio menyampaikan visi misi,informasi dan berita untuk kebutuhan dan konsumsi pendengar. Ibarat bermain film, penyiarmerupakan aktor yang memerankan suasana sebuah siaran radio. Sebagai aktor, penyiar harusmengendalikan empat senjata utama, yaitu pikiran, perasaan, suara dan raga (Masduki, 2004 :117). Sementara itu, modal yang harus dimiliki seorang penyiar adalah suara, percaya diri,hobi dan bakat (ngobrol-ngobrol dan bakat menghibur), wawasan dan pergaulan luas,penguasaan studio yang baik (Ningrum, 2007 : 23-27. Selain itu, penyiar juga dituntutmemiliki beberapa keterampilan yang mendukung performa siarannya. Secara umum ada tigaketerampilan yang harus dikuasai para DJ dan penyiar. Pertama announcing skill,keterampilan menuturkan segala sesuatu menyangkut musik, kata atau lirik lagu yangdisajikan. Kedua, operating skill, yaitu keterampilan mengoperasikan segala peralatan siaran.Ketiga, musical touch, yaitu keterampilan merangkai musik dalam tatanan yang menyentuhemosi pendengar, bercita rasa dalam seleksi, harmonis dalam rangkaian (Masduki, 2004 :119). Sedangkan dari segi kepribadian, announcer atau penyiar perlu membentuk sikap(attitude), bahasa (language), memiliki wawasan professional (knowledge). Sikap yang harusdimiliki adalah (1) sopan di udara sesuai dengan kebutuhan situasi acara, (2) menghargaiwaktu, (3) bertanggung jawab, rendah hati, (4) tidak mengurai (Masduki, 2004 : 120). Uraiandiatas menunjukan bahwa banyak sekali yang harus dipersiapkan dan dimiliki oleh seorangpenyiar. Hal ini dikarenakan seorang penyiar memiliki tanggung jawab dan tugas yang besar.Departemen perburuhan AS dalam paparan seputar lowongan pekerjaan diradio siaran diAmerika Serikat menggambarkan penyiar radio sebagai sosok dengan banyak aktivitas atautugas kerjanya, beberapa tugasnya adalah sebagai berikut (Masduki : 2004 : 121-122).Loyalitas Mendengarkan, Loyalitas adalah komitmen pelanggan bertahan secara mendalamuntuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang produk atau jasa terpilih secarakonsisten di masa yang akan datang, meskipun pengaruh situasi dan usaha-usaha pemasaranmempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan perilaku (Hartiti, 2003 : 129). Masihdalam buku yang sama, Griffin menjelaskan bahwa loyalitas lebih mengacu pada wujudperilaku dari unit-unit pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian secara terusmenerus terhadap barang atau jasa suatu perusahaan yang terpilih. Sama halnya denganperusahaan radio, ketika ada seorang pendengar yang dengan setia mendengarkan dari waktuke waktu, hal itu merupakan indikasi seorang pendengar yang loyal. Hal Ini menunjukkanbahwa usaha maksimal yang dilakukan oleh radio berhasil. Produk yang diproduksi olehradio berupa informasi atau berita, penyiar yang menyenangkan dan musik yang disajikandalam suatu program mampu menarik hati para pendengar. Kunci keberhasilan sebuah radioadalah kelokalan itu sendiri, sehingga bisa mempengaruhi hati pendengarnya. Sifat radioyang sangat pribadi seakan-akan mampu me-maintainance atau melayani pendengar denganperhatian yang maksimal. Geller mengatakan, bahwa the key to personality radio is logically,having a personality. This means having rich, full life and drawing or all of your experiences.How you relate to life is how your audience will relate to you. The best broadcaster are greatoservers of life. They filter what they see going on around them through their unique creativeproses and send it back to the world. Artinya, kunci radio secara logika, memilikikepribadian. Hal ini berarti kaya makna, penuh arti kehidupan dan gambaran akan semuapengalaman Anda. Bagaimana Anda berhubungan dengan kehidupan adalah bagaimanaaudiens Anda akan berhubungan dengan Anda. Penyiar terbaik adalah pembagi pengalamandalam kehidupan. Mereka menyaring apa yang mereka lihat, atau yang terjadi di sekitarmereka melalui proses kreatif yang unik dan memberikan kembali pada dunia (Geller, 2007 :3). Radio mampu menjadi teman sejati bagi pendengar, membagikan banyak sekalipengalaman (penyiar) dan memberikan gambaran hidup yang kadang berarti bagi pendengar.Dengan ini akan ada kedekatan emosi antara radio dan juga pendengarnya. Terlebih lagidengan sajian lagu-lagu yang banyak sesuai dengan hati sehingga membuat pendengarnyamakin nyaman. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian eksplanatori (penjelasan) karenamenjelaskan hubungan antara tiga variabel penelitian. Variabel itu meliputi kesesuaianformat siaran program acara ZOOM, kredibilitas penyiar dan loyalitas mendengarkanprogram acara ZOOM pada radio Ichthus. Populasi dalam penelitian ini adalah anak mudayang beragama Nasrani di kota Semarang berusia sekitar 15-25 tahun yang pernah atau seringmendengarkan siaran radio Ichthus terutama tentang program acara Zoom (Zona Orang-Orang Muda). Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 50 orang, sesuai denganteori Gay & Diehl (1992 : 146) mengenai ukuran sampel yang dapat diterima. Merekamengemukakan bahwa untuk penelitian korelasi, secara minimum tolok ukurannya sekitar 30subyek sebagai obyek penelitian (Ruslan, 2003 : 47). Karena besarnya populasi yang tidakdapat dketahui secara pasti, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik nonprobability sampling, yaitu metode sampling yang tidak memberi kesempatan atau peluangyang sama bagi setiap unsur atau populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik pengambilansampel menggunakan metode sampling Accidental, merupakan teknik penentuan sampelberdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/ incidental bertemu denganpeneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itucocok sebagai sumber data (Kriyantono, 2006 : 156). Adapun kriteria orang yang cocokmenjadi sampel adalah : beragama Kristen, berusia 15-25 tahun, pernah mendengarkanAcara Zoom di Radio Icthus. Uji Hipotesis, Analisis ini menggunakan tes statistik korelasiuntuk menguji apakah terdapat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikatdengan menggunakan rumus Kendal Tau (τ) karena data yang digunakan memakai skalaordinal. (Sugiyono, 2006 : 237). Perhitungan menggunakan SPSS 18. Berdasarkan hasil ujistatistik hubungan antara kesesuaian format siaran program acara ZOOM dengan loyalitasmendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau, diperoleh hasil bahwa nilaisignifikansi sebesar 0,001 maka terdapat hubungan. Nilai koefisien korelasi kesesuaianformat siaran dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,428. Hal ini dapat dikatakan bahwanilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,01 yang berarti kedua variabel tersebut terdapat hubunganyang sangat signifikan dan hipotesis diterima. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa“ada hubungan antara kesesuaian format siaran program acara ZOOM dengan loyalitasmendengarkan”. Teori yang digunakan juga sesuai, seperti yang dikatakan Geller bahwapendengar itu menyukai format. Format memberikan struktur, seperti dinding sebuah rumah.Orang-orang ingin sekali mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka dengarkan, karenapendengar lebih nyaman memilih radio yang memang sudah jelas format dan strukturnya.Terbukti bahwa format siaran program acara ZOOM yang bertema anak muda sesuai denganpendengar, mulai dari pembahasan acara, informasi, musik dan iklan disukai oleh pendengarsehingga membuat mereka (pendengar) loyal dalam mendengarkan program acara tersebutsecara bertahap atau berkali-kali. Sedangkan, berdasarkan hasil uji statistik hubungan antarakredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau,diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 maka tidak ada hubungan. Nilaikoefisien korelasi kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,174. Hal inidapat dikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 > 0,05 yang berarti kedua variabeltersebut tidak signifikan dan hipotesis ditolak. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa“tidak ada hubungan antara kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan”. Dengankata lain dalam penelitian ini, walaupun pendengar acara ZOOM telah mendengarkan secaralangsung ketika penyiar melaksanakan siaran, termasuk mengetahui kemampuan yangdimiliki oleh seorang penyiar mulai dari kompetensi, atraktif atau dinamis, kepercayaan dankesungguhan saat siaran, belum tentu menjamin mereka (pendengar) untuk loyal terhadappenyiar tersebut, melainkan pendengar loyal dalam mendengarkan program acara ZOOMkarena format siaran acara ZOOM telah sesuai dengan apa yang diinginkan pendengar, tidakpeduli siapapun penyiar yang membawakan program acara tersebut. PENUTUP : Karenaformat siaran program acara ZOOM ada hubungan dengan loyalitas mendengarkan maka halyang kurang sesuai dalam format siaran seperti iklan, untuk disesuaikan dengan segmentasiprogram acara ZOOM yaitu anak muda. Untuk itu kesimpulan dari pengujian hipotesis ialahTerdapat hubungan positif yang signifikan antara kesesuaian format siaran program acaraZOOM dengan loyalitas mendengarkan program acara ZOOM, hal tersebut ditunjukkandengan nilai signifikansi sebesar 0,001. Sehingga semakin sesuai format siaran program acaraZOOM maka pendengar semakin loyal mendengarkan program acara ZOOM di radioIchthus. Sedangkan hasil uji variable selanjutnya tidak terdapat hubungan yang signifikanantara kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan program acara ZOOM, haltersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0,189 atau melebihi dari ketentuanstandar siginifikasi 0,05. Sehingga hipotesis ditolak, dan beberapa hal untuk menilai ataumeneliti mengenai kredibilitas penyiar bisa dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain yang tidakditeliti dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA : Bramson, Robert. 2005. CustomerLoyaliti : 50 Strategi Ampuh Membangun dan Mempertahankan loyalitas Pelanggan. Jakarta: PT Prestasi Pustaka. Geller, Valerie. 2007. Creating Powerful Radio : Getting, Keeping &Growing Audiences. Jordan Hill Oxford : Elsevier Inc. Gray, Frank dan James, Ross. 1997.Radio Programming Roles; FEBC Perspectives. Yaski. Hartiti. 2003. Loyalitas Pelanggan.Bandung : Yayasan Nuansa Cendikia. Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis RisetKomunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Masduki. 2001. Jurnalistik Radio;Menata Profesionalisme Reporter dan Penyiar. Yogyakarta : LKIS. Masduki. 2004.Menjadi Broadcaster Profesional. Yogyakarta : LKIS. McQuail, Denis. 1987. TeoriKomunikasi Massa . Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga. Morrisan, MA. 2009. ManajemenMedia Penyiaran : Strategi Mengelola Radio dan Televisi. Jakarta : Kencana Prenada MediaGroup. Ningrum, Fatmasari. 2007. Sukses Menjadi Penyiar, Scriptwriter dan Reporter Radio.Depok : Penebar Swadaya. Prayudha, Harley. 2004. RADIO; Suatu Penghantar untukWacana dan Praktik Penyiaran. Malang : Bayumedia Publishing. Prayudha, Harley. 2006.Radio : Penyiar It’s not just a talk. Malang : Bayumedia Publishing. Rakhmat, Jalaluddin.2009. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya. Rakhmat, Jalaluddin. 2007.Metodologi Penelitian Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya. Sumarwan, Ujang.2003. Perilaku Konsumen; Teori dan Penerapannya Dalam Pemasaran. Jakarta : GhaliaIndonesia. Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:CV Alfabeta. Sunyoto, W. Daniels Handoyo. 1978. Seluk Beluk Programa Radio.Yogyakarta : Penerbitan Yayasan Kanisius. Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa.Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Wardhana, Ega. 2009. Sukses Menjadi PenyiarRadio Profesional. Yogyakarta : CV Andi Offset.
Co-Authors Achmad Habibie Taufiqqur Rahman Adi Nugroho Adinda Sekar Cinantya Aditia Nurul Huda Aditya Iman Hamidi Adityo Cahyo Aji Afif Hazly Hasibuan Agraha Dwita Sulistyajati Agus Naryoso Ahda Hanif Fauzi Ahmad Fauzi Ahmad Fikar Harakan Aike Ingget Pratiwi Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Ajeng Rengganis, Sekar Albert Rivai Sinaga Aldi Atwinda Jauhar Aldiansyah, Duvit Aldila Leksana Wati Alexandra Parahita Bening Kesumaputri Alif Ibrahim Alya Anwar, Rizqika Alyssa Jasmine Aurelia Rahmiqatrunnada Amrina Rida Hapsari Ananda Erfan Musthafa Andrea Oktavia, Helga Anggi Pramesthi Kusumarasri Anggia Anggraini Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annisa Aulia Mahari Annisa Kusumawardhani Annisya Winarni Putri Aprida Mulya, Resti Ardelia Fitriani, Neysa Ardini Koesfarmasiana, Ardini Arfika Pertiwi Putri Arif Nurochman Arinda Putri Oktaviani Aryatama Wibawa, Michael Asep Virgo Asri Aulia Rachmawati Asri Nugraheningtyas Astrid Damayanti Asty Setiandini Atika Nabila Atina Primaningtyas Aulia Nur Awang Asmoro Ayu Puspitasari, Ramadhiana Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Azzahira Putri Zakaria, Grandhis Badri Ilham Ramadhan Bagoes Praswanda, Yusrizal Banun Diyah Ardani Bareta Hendy Pamungkas Bayu Widagdo, Muhammad Bella Yunita Binarso Budiono Budiono Bisma Alief Charisma Rahma Dinasih Chintya Dyah Meidyasari Daffa Satriowibowo Daniel Dwi Listantyo Dara Pramitha Darda Putranto, Addakhil Deansa Putri Deni Arifiin Destima Nursylva Anggraningrum Devi Pranasningtias Indriani Dhira Widya Prasya, Dhira Dhiyah Puspita Sari Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Muhammad Distian Jobi Ridwan Diyan Hafdinovianti Ayu Kinasih Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dwi Mulya Ningsih Dwi Purbaningrum Eggie Nurmahabbi Eka Ardianto Farasila, Iraisa Farisa Dian Utami Fariz Dewanto Fatma Izzatussayidati Febri Ariyadi Febriana Handayani Febriandani, Anisa Fitriyani, Putri Frida Asih Pratiwi Galuh Perwitasari Ghaliyah Julya Almira Ghana Pratama, Albert Ghela Rakhma Islamey Ghita Kriska Dwi Ananda Gilang Wicaksono Hajar Azizatun Niswah Hamidah, Nadiya Handi Aditia Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hardiyanto, Muhamad Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrikus Setya Pradhana Henny Novita Rumono Hilda Maisyarah I Nyoman Winata I Nyoman Winata Ibrahim Muhammad Ramadhan Ichsan Wahyu Pratama Imam Muttaqin Indah Puspawardhani Indra Septia BW Infra Ranisetya Intan Mashitasari Ira Astri Rasika Jaya Pramono Adi Jimmy Fachrurrozy Jody Suryamar Yudha Joyo Nur Suyanto Gono Kanaya Az Zahrah Karunia Yusuf, Kevin Kembang Soca Paranggani Khairani, Indah Khairunnisya Sholikhah Kinanati Bunga Wulansari Krisna Adryanto Lintang Jati Rahina Lintang Ratri Rahmiaji LISTIANTO HINDRA PRAMONO Lizzatul Farhatiningsih Lucia Eka Pravitasari Luh Rani Wijayanti M Bayu Widagdo Maharani Easter Mahendra Zulkifli Manggala Hadi Prawira Marcia Julifar Ardianto Marsha Fildzaishma Marshanda Putri, Tyara Martia Mutiara Tasuki Marwah Gayatri Purnado Maya Lestari Melinda Wita Satryani Meriza Lestari Meta Detiana Putri Mohammad Akbar Rizal Hamidi Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yulianto Muchammad Bayu widagdo MUHAMMAD ABDUSSHOMAD Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Bayu widagdo Muhammad Fadhel Raditya Muhammad Rofiuddin Muhamy Akbar Iedani Muliawati, Ditha N S Ulfa Naafisa Maulida Pratama Nabila Rezki, Anisa Nadia Dwi Agustina Nadia Hutaminingtyas Nanik Sudaryningtyas, Nanik Naura Kamila Prasetyanti Nicho Putera Gustantyo Nidya Aldila Nikita Putri Mahardhika Nikolas Prima Ginting Ninda Nadya Nur Akbar Noni Meisavitri Novi Rosmaningrum NS Ulfa Nungki Dwi Widyastuti Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nur Shafira, Hana Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurist Surrayya Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Avita Sari Nurwijayanti Otto Fauzie Haloho Pipin F.P. Lestari Prabowo Nurwidagdyo Pranamya Dewati Prescilla Roesalya Primada Qurrota Ayun Pungkas Dwitanto Purwoko, Agus R. Sigit Pandhu Kusumawardana Radika Oktavianti, Dina Raihan Triaffandra Ramadhan, Maulana Ramadhinda, Azzahra Randyani Rarasati Raymond Soelistiono Filemon Raynaldo Faulana Pamungkas Reichan Anantyo, Muhamad Resty Widyanty Revana Meylani Rhola Bachtiar Raharjo Rifki Nur Pratiwi Rifqah Nailah Rijalul Vikry Rizka Amalia Rizka Arsianti Rizky Amalya Hadiningtyas Rizqi Ganis Ashari Rohedy Ayucandra Rohmat Pambudi Roli Harni Purba, Juita Rony Kristanto Setiawan Rosita Kemala Sari Rosyada Setijawan, Amrina Rumi Aulia Rahmanisa S Rouli Manalu Safira Nurin Aghnia Santa Cicilia Sinabariba Septian Aldo Pradita Septiana Hadiwinoto, Jessica Septiana Wulandari Suparyo Setyabudi, Gunawan Shafira Inas Nurina Shahnaz Natasha Anya Sigit Haryadi Sofi Kumala Fatma Sofianisa Rahmawati Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tan Faizal Rachman Tasya Nadia Taufik Indra Ramadhan Taufik Reza Ardianto Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Teresia Kinta Wuryandini Theresia Dita Anggraini Thriyani Rahmania Titan Armaya Tiur Agata, Elisa Tjen Jocelyn Ivana Tri Muriati Harahap, Anggi Tri Utami Triangga Ardiyanto Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Uci Andriani Veriska, Veriska Vicho Whisnurangga Vinny Avilla Barus Wahyu Aji Hernawan, Dhimas Wahyu Kuncoro Aji, Danar Wahyu Nur R, Efrilia Wahyu Widiyaningrum Widya Andhika Aji Wina Natasya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yanu Angga Andaru, Yanu Yanuar Luqman Yoga Yuniadi Yohanes Rico Ananda Putra, Yohanes Yuan Stephanie Yuliantika Hapsari Yunita Indriyaswari Yusriana, Amida YUSUF AKBAR, MUHAMMAD Zainul Asngadah Fatmawati Zelda Elsa Khabibah Zulfikar Mufti