Claim Missing Document
Check
Articles

Tampilan Tubuh Perempuan Dalam Game Online pada Situs www.girlsgogames.co.id Febriana Handayani; Tandiyo Pradekso; Nurist Surayya Ulfa; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.878 KB)

Abstract

Abstraksi - Penelitian ini berangkat dari kepopuleran game online yang sekarang ini digandrungi oleh berbagai kalangan usia termasuk anak-anak. Selain sebagai sarana hiburan, ternyata game yang merupakan bagian dari media baru mengandung pesan-pesan yang ada di dalamnya. 260 game yang menampilkan tubuh perempuan pada situs game online www.girlsgogame.co.id digunakan sebagai sampel dari analisis isi. Analisis isi dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggambaran tubuh perempuan dalam game online yang sering dimainkan oleh anak-anak, khususnya anak perempuan. Dengan menggunakan metode analisis isi deskriptif kuantitatif, penelitian ini mengasilkan temuan, yaitu 99,6% karakter perempuan ditampilkan dengan tubuh langsing, 85% memiliki tubuh bertipe jam pasir. 96,5% ditampilkan dengan pinggul besar, 93,5% pinggang ramping, dan 66,5% berpayudara besar. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar karakter perempuan ditampilkan dalam warna kulit putih(81,5%) dan sisanya adalah karakter perempuan dengan kulit coklat. Bahkan tidak ada satupun karakter perempuan dalam game yang diteliti ditampilkan dengan kulit hitam.Karakter perempuan juga lebih sering ditampilkan dengan rambut yang panjang (77,7%) dan lurus (65,4%). Selain itu, ditemukan pula bahwa seluruh game yang dianalisis ini menampilkan karakter perempuan dengan pakaian yang minim dan nyaris telanjang sehingga tubuh mereka sengaja ditampilkan dengan bentuk yang ideal. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa karakter perempuan dalam game online ditampilkan dengan tubuh ideal yang fantastis. Dari penelitian ini diharapkan ada penelitian lebih lanjut mengenai dampak permainan yang menampilkan tubuh perempuan terhadap pemain khusunya anak perempuan.
KOMUNIKASI SENIOR DAN JUNIOR PADA KELOMPOK PELAJAR DALAM UPAYA MEMPERTAHANKAN BUDAYA TAWURAN Rizka Amalia; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.128 KB)

Abstract

Latar BelakangDi sekolah yang kerap terlibat aksi tawuran terdapat kelompok pelajar informal yang anggotanya terdiri dari senior dan juga junior. Senior memiliki peranan penting dalam mempertahankan keberadaan aksi tawuran pelajar. Senior melakukan komunikasi dengan juniornya untuk menyampaikan berbagai pesan yang umumnya dilaksanakan pada kegiatan- kegiatan tertentu yang telah menjadi tradisi di sekolah tersebut. Budaya tawuran pelajar seakan sengaja dibentuk dan diturunkan kakak- kakak kelas kepada siswa yang baru masuk sekolah, agar tradisi tersebut tetap terjaga. Biasanya, siswa yang baru masuk diajarkan melakukan tawuran di hari terakhir seusai Masa Orientasi Sekolah (MOS).Senior pada kelompok pelajar di setiap sekolah memiliki tradisi yang berbeda dalam melakukan komunikasi kepada juniornya. Namun cara senior dalam berkomunikasi untuk menyampaikan pesan cenderung bersifat koersif. Komunikasi koersif merupakan proses penyampaian pesan (pikiran dan perasaan) oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap orang atau kelompok lain untuk mengubah sikap, opini, perilaku, dengan gaya yang mengandung paksaan (Effendy,1992: 83-84). Senior cenderung melakukannya disertai dengan ancaman bahkan juga menggunakan kekerasan agar pesan- pesan tersebut diterima. Banyak pesan yang disampaikan selain rasa cinta terhadap sekolah seperti diantaranya adalah penanaman identitas sosial, norma- norma yang berlaku di dalam pergaulan yang mengatur hubungan dan perilaku mereka dalam kelompok, juga stereotip terhadap sekolah- sekolah tertentu yang dianggap „rival‟ dan harus dimusuhi.Komunikasi antara senior dan junior dalam kelompok dapat dilihat seperti sebuah pertukaran antara manfaat yang diperoleh dan pengorbanan yang dikeluarkan. Hubungan antara dua pihak tersebut mirip dengan pertukaran ekonomis dimana orang merasa puas ketika mereka menerima kembalian yang sesuai dengan pengeluaran mereka (West and Turner, 2008: 217). Senior dapat tampil sebagai pihak yang memiliki kekuasaan dan kekuatan atas juniornya, menerapkan senioritas, dan dapat menurunkan nilai- nilai yang berlaku dalam kelompoknya. Namun mereka juga mengeluarkan pengorbanan yakni memperoleh perlakuan yang sama dariseniornya ketika mereka masih menjadi junior. Sedangkan junior mengeluarkan pengorbanan atau biaya berupa bersedia melakukan tawuran dan diposisikan di garis depan, mengikuti kegiatan- kegiatan yang ditetapkan oleh senior, serta mematuhi norma- norma yang berlaku. Junior juga memperoleh keuntungan atau ganjaran berupa diterima dan diakui sebagai bagian dari kelompok. Menjadi bagian dari kelompok memberikan kebanggaan bagi mereka, karena memperoleh prestige dari keanggotaannya terebut. Pelajar yang menjadi bagian kelompok tersebut umumnya menjadi populer dan lebih eksis dibandingkan dengan yang tidak bergabung dengan kelompok tersebut.Terkadang tawuran pelajar terjadi secara spontan ketika dua kelompok pelajar secara sengaja maupun tidak sengaja bertemu atau berpapasan di sebuah tempat. Namun terkadang tawuran terjadi karena dipicu oleh alasan sederhana seperti balas dendam karena ada pelajar yang diganggu oleh pelajar dari sekolah lain, keributan setelah pertandingan, atau hanya karena saling ejek. Bahkan seringkali tawuran terjadi karena sudah menjadi sebuah kebiasaan atau tradisi pada hari- hari tertentu di tempat yang menjadi titik rawan tawuran.Hampir setiap minggu terjadi tawuran di berbagai tempat, sehingga menggelisahkan masyarakat. Sarana umum seperti gedung, bus, dan sebagainya rusak berat akibat ulah oknum-oknum pelajar itu. Korban pun berjatuhan dari luka ringan, berat hingga tewas. (Yayasan penerus nilai-nilai perjuangan 1945,1998: 67). Dapat terlihat dengan jelas bahwa dampak tawuran merugikan banyak pihak, baik dari pelajar itu sendiri, sekolah, dan masyarakat pada umumnya. Tawuran menjadi sebuah permasalahan sosial yang tidak kunjung usai hingga saat ini.II. Perumusan MasalahAnggota dalam kelompok pelajar senantiasa selalu berganti setiap tahunnya, namun aksi tawuran pelajar tetap terjadi, bahkan jumlah kasus yang terjadi cenderung besar dan korban yang berjatuhan meningkat. Hal tersebut terjadi karena adanya komunikasi yang dilakukan oleh senior ke juniornya dalam mentransmisikan budaya kelompoknya termasuk tawuran dari generasi ke generasi. Senior sebagai pihak yang terlebih dahulu menjadi bagian dalam kelompok berperan dalam menyampaikan budaya kelompoknya tersebut kepada junior. Maka permasalahan dalampenelitian ini adalah bagaimana pengalaman komunikasi antara senior dan junior pada kelompok pelajar dalam upaya mempertahankan budaya tawuran?III. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman komunikasi antara senior dan junior pada kelompok pelajar, khususnya dalam upaya mempertahankan budaya tawuran.IV. Signifikansi penelitian1. Signifikansi teoritisSecara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi penelitian ilmu komunikasi khususnya dalam pengembangan pemikiran teoritis menggunakan teori komunikasi koersif dan pertukaran sosial (social exchange theory).2. Signifikansi praktisSecara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan menjadi rujukan dalam memahami pengalaman komunikasi yang terjadi antara senior dan junior pada kelompok pelajar dalam mempertahankan budaya tawuran.3. Signifikansi SosialPenelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kehidupan sosial. Tawuran sendiri merupakan fenomena konflik antar kelompok pelajar yang tidak kunjung usai hingga saat ini. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk membantu mencari alternatif solusi dalam permasalahan tersebut.V. Metoda PenelitianTipe penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Data primer dikumpulkan menggunakan teknik wawancara mendalam (in-depth interview) kepada 8 informan yang terdiri atas 4 senior dan 4 junior dari 2 sekolah yang berbeda di Jakarta Selatan, sedangkan data sekunder diperoleh dari media massa dan data kepolisian. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis data pada pendekatan fenomenologi Moustakas (dalam Creswell, 2007:159).VI. Kesimpulan Berdasarkan temuan penelitian di lapangan dan analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa komunikasi yang dilakukan oleh senior dan junior dalam kelompok pelajar memiliki tujuan tertentu yakni sebagai upaya untuk mempertahankan budaya kelompok termasuk tawuran. Budaya dipertahankan dengan cara diturunkan dari generasi ke generasi, seniorlah yang bertugas mentransmisikan budaya tersebut kepada junior. Senior menggunakan teknik komunikasi koersif yaitu dengan ancaman, paksaan hingga kekerasan fisik saat menyampaikan pesan kepada junior.Selain itu, senior melakukan beberapa teknik komunikasi persuasif yaitu pay off idea dan fear arousing. Pay off dilakukan dengan memberikan harapan kepada junior bahwa mereka akan diterima sebagai bagian kelompok serta dapat menggantikan posisi seniornya kelak. Sedangkan fear arousing dilakukan dengan memanfaatkan ketakutan junior atas konsekuensi yang akan diterima jika tidak mematuhi hal yang disampaikan senior yaitu berupa hukuman mulai bentakan hingga kekerasan fisik.Junior tidak secara instan menerima budaya yang ditransmisikan oleh senior, melainkan diawali dengan keterpaksaan serta rasa takut terhadap senior. Namun, lambat laun junior dapat menerima budaya kelompok dan menerapkannya bukan karena tuntutan senior, namun karena telah terinternalisasi ke dalam dirinya.Dalam hubungan antara senior dan junior dalam kelompok, terdapat pertukaran sosial meliputi pengorbanan yang dikeluarkan dan imbalan yang diterima. Penerapan senioritas merupakan imbalan bagi senior dan merupakan pengorbanan dari junior. Dari hal tersebut, junior memperoleh imbalan dengan diakui sebagai bagian dari kelompok. Tidak semua junior memperoleh perlakuan yang sama dari seniornya, hanya mereka yang ditunjuk atau memang menginginkan keanggotaan dalam kelompok saja. Bagi junior yang merasa memperoleh keadilan dalam hubungannya dengan senior akan terus bertahan dalam kelompok, dan juga sebaliknya.Tawuran pelajar merupakan budaya yang diturunkan oleh senior sebagai upaya untuk melindungi sekolah luar dan dalam. Senior mengenalkan bahkan memberikan didikan kepadajuniornya mengenai tawuran. Solidaritas sesama teman, stereotip, dan ‘sense of belonging’ yang sangat kuat terhadap kelompok serta sekolahnya merupakan faktor pendorong bagi pelajar untuk tawuran. Namun, meskipun menanamkan budaya tawuran pada junior, senior menganggap bahwa saat ini tawuran tidak lagi perlu untuk dilakukan karena telah banyak menimbulkan korban. Tawuran hanya berguna untuk melindungi diri dan kesenangan masa remaja saja.VII. Bagan TeoritikVIII.IX.X.XI.Pertukaran Sosial Senior dan Junior dalam Kelompok Pelajar Cost RewardSeniorMemperoleh perlakuan yang sama saat juniorPenerapan senioritas Junior Penerapan Senioritas Diterima sebagai anggota kelompokKomunikasi Koersif (senior menggunakan paksaan dan ancaman dan kekerasan fisik)Komunikasi persuasif (Teknik pay off dan fear arousing)•kesediaan junior untuk diberikan pengaruh oleh seniorComplience•junior mulai melakukan hal-hal yang disampaikan oleh senior.Identification•pengaruh yang diberikan senior terinternalisasi pada diri juniorInternalizationTawuran sebagai Budaya Kelompok stereotipsolidaritaskonformitas normaDAFTAR PUSTAKAAdler, Ronald B dan Rodman, George. 2006. Understanding Human Communication, 9th Edition. New York: Oxford University PressAlwasilah, A Chaedar. 2000. Pokoknya Kualitatif. Jakarta: Pustaka JayaAw,Suranto. 2010. Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta: Graha IlmuAzwar, Saifuddin. 1995. Sikap manusia Teori dan Pengukurannya. Edisi ke 2. Yogyakarta: pustaka pelajarBaxter, Leslie A dan Babbie, Earl. 2004. The Basics of Communication Research. The University of OtawaBeebe, Steven A dan Masterson, John T. 2003. Communicating in Small Groups: Principles dan Practices, 7th Edition. USA: Pearson Education, IncCreswell, John W. 2007. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. Thousand Oaks, California: SAGE PublicationsDenzim, Norman K dan Yvonna S. Lincoln. 2000. Qualitative Research, 3rd Edition. Thousand Oaks, California: Sage Publication, IncDeVito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia Edisi 5. Jakarta: Professional BooksEffendi, Onong Uchana. 1988. Hubungan Insani. Bandung: Remaja RosdakaryaEffendi, Onong Uchjana. 1992. Kepemimpinan dan Komunikasi. Bandung: Mandar MajuEffendi, Onong Uchana. 1992. Ilmu Komunikasi, teori, dan praktek. Bandung: Remadja KaryaEffendi, Onong Uchana. 1992. Hubungan Masyarakat. Bandung: Remadja KaryaHuraerah, Abu & Purwanto. 2006. Dinamika Kelompok: Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT Refika AditamaHurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi Kelima. Jakarta: ErlanggaKriyantono, Rachmat. 2010. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaKuswarno, Engkus. 2009. Fenomenologi: Konsepsi, Pedoman dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjadjaran Liaw, Ponijan. 2005. Understanding Your Communication Style. Jakarta: PT Elex Media KomputindoLiliweri, Alo. 2002. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LkiSLittlejohn, Stephen W. 1999. Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, 6th Edition. USA: Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W. 2009. Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, 9th Edition. Jakarta: Salemba HumanikaMoleong, Lexy J. 2009. Metode Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja RosdakaryaPratikto, Riyono. 1987. Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi. Bandung: Remadja KaryaRahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural: kompetesi Komunikasi Antarbudaya dalam Komunikasi Antaretnis. Yogyakarta: Pustaka PelajarRakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja RosdakaryaSobirin, Achmad. 2007. Budaya Organisasi. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan sekolah tinggi ilmu manajemen YKPNSusetyo, Budi D. P. 2010. Stereotip dan Relasi Antar Kelompok. Yogyakarta: Graha IlmuSunarjo dan Sunarjo, Djoenaesih S. 1983. Komunikasi, Persuasi, dan Retorika. Yogyakarta: LibertyTubbs, Steward L & Sylvia Moss. 2005. Human Communication: Konteks-konteks komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya OffsetWest, Richard & Turner, Lynn H. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi Buku 1. Jakarta: Salemba HumanikaWiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: GrasindoYayasan Penerus Nilai- Nilai Perjuangan 1945. 1998. Reformasi Pendidikan Mencegah Kenakalan Remaja antar Pelajar. Jakarta: Yayasan Penerus Nilai- Nilai Perjuangan 1945.Yusuf, Yusman. 1989. Dinamika Kelompok. Bandung: Armiko.Skripsi:Iffah Irsyadina. 2007. ”Komunikasi Persuasif Pendamping dalam Program Pendampingan Anak Jalanan”. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Diponegoro. SemarangRini, Yohana Susetyo. 2011. “Komunikasi Orangtua- Anak dalam Pengambilan Keputusan Pendidikan”. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Diponegoro. SemarangReferensi dari Media:1. CetakKompas, 25 September 2012. “Tawuran SMA 1 tewas 2 luka”, hal 1.Kompas, 27 September 2012. “Keberingasan Pelajar Kian Meresahkan”, hal 1.Kompas, 19 Oktober 2012. “Sekolah Ramah Anak Atasi Tawuran”, hal 34.Kompas, 19 Oktober 2012. “Dari Juara Menjadi Tersangka”, hal 34.2. TelevisiRCTI, 27 September 2012. Seputar Indonesia Pagi.RCTI, 30 September 2012. Seputar Indonesia Petang.3. InternetAfriyanti, Desi dan Ruqoyah, Siti. (2011). Jejak Bentrok SMA 6 dan SMA 70. Dalam http://metro.news.viva.co.id/news/read/248472-jejak-bentrok-sma-6-dan-sma-70 diakses pada 11 Januari 2013Amelia, Mei. (2012). 5 Pelajar Tewas dalam Tawuran Sepanjang Januari-September 2012. Dalam http://news.detik.com/read/2012/09/27/160351/2040707/10/5-pelajar-tewas-dalam-tawuran-sepanjang-januari-september-2012 diakses pada 11 Januari 2013Berindra, Susie. (2011) Tawuran: Tradisi Buruk Tak Berkesudahan. Dalam http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/23/10210953/Tawuran.Tradisi.Buruk.Tak.Berkesudahan diakses pada 8 Mei 2012Cara Menanggulangi/ Mengatasi Tawuran Antar Siswa Pelajar SD, SMP, SMK, SMK, dll. (2011). Dalam http://organisasi.org/cara-menanggulangi-mengatasi-tawuran-antar-siswa-pelajar-sekolah-sd-smp-sma-smk-dll diakses pada 30 April 2012Daniel, Wahyu. 2011. Pelajar SMA 70 dan SMA 6 Tawuran di GOR Bulungan, Tiga Luka. Dalam http://news.detik.com/read/2011/07/15/232328/1682402/10/pelajar-sma-70-sma-6-tawuran-di-gor-bulungan-tiga-luka diakses pada 11 Januari 2013Edwin, Nala. (2012). Di Tengah Ujian Nasional, 4 Tawuran Terjadi di Jakarta. dalam http://news.detik.com/read/2012/04/18/175757/1895640/10/di-tengah-ujian-nasional-4-ta wuran-terjadi-di-jakarta diakses pada 11 Januari 2013More, Immanuel. (2011). tawuran Pelajar di Tengah Kemacetan. Dalam http://megapolitan. kompas.com/read/2012/07/18/2245554/Tawuran.Pelajar.di.Tengah.Kemacetan diakses pada 11 Januari 2013Muhaimin, Ramdhan. (2012). Awas! Tawuran Pecah antara SMA 70 vs SMA 6 di Bulungan. Dalam http://news.detik.com/read/2012/03/09/195404/1863198/10/awas-tawuran-pecah-antara-sma-70-vs-sma-6-di-bulungan diakses pada 11 Januari 2013Penyebab Terjadinya Tawuran Antar Sekolah. (2011). Dalam http://wartawarga.gunadarma. ac.id/2011/09/penyebab-terjadinya-tawuran-antar-sekolah/ diakses pada 3 Mei 2012Santosa, Bagus. (2012). Usai MOS, dua Tawuran Terjadi di Jakarta Selatan. Dalam http://jakarta. okezone.com/read/2012/07/18/500/665338/usai-mos-dua-tawuran-terjadi-jakarta-selatan diakses pada 30 April 2012Setiawan, Aris dan Ruqoyah, Siti. (2011). Tawuran SMA 70 dan SMA 6 Warisan Puluhan Tahun. Dalam http://metro.news.viva.co.id/news/read/248410-tawuran-sma-70-dan-sma-6-warisan diakses pada 11 Januari 2013Setiawan, Bambang Budi. (2011). Tawuran Antar Pelajar di Jakarta. Dalam http://www.indosiar.com/ragam/salah-satu-potret-bangsa-kita-21384.html diakses pada 3 Mei 2012SMA 70 dan SMA 87 Jakarta Terlibat Tawuran. (2012). Dalam http://www.metrotvnews. com/read/newsvideo/2012/04/25/149827/SMA-70-dan-SMA-87-Jakarta-TerlibatTawuran diakses pada 8 Mei 2012Supandi, Arofah. (2011). Ratusan Pelajar ditangkap di Blok M. Dalam http://berita.liputan6.com/read/366562/ratusan-pelajar-ditangkap-di-blok-m diakses pada 10 Mei 2012Surjaya, Abdullah M. (2012). Tawuran Pelajar, Satu Tewas Dua Kritis. Dalam http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/492125/ diakses pada 8 Mei 2012 Triyuda, Pandu. (2012). Berkas 6 Tersangka Tawuran Pancoran dilimpahkan ke Kejaksaan. Dalam http://news.detik.com/read/2012/11/09/163954/2087490/10/berkas-6-tersangka-tawuran-pancoran-dilimpahkan-ke-kejaksaan diakses pada 11 Januari 2013Wahono, Tri . (2011). Kehidupan Pelajar di Jakarta Meresahkan. Dalam http://nasional. Kompas. com/read/2011/12/21/06110685/Kehidupan.Pelajar.di.Jakarta.Meresahkan diakses pada 30 April 2012Wirakusuma, K. Yudha. (2011). 105 siswa SMKN 29 Jakarta ditangkap, 4 Bom Molotov Disita. Dalam http://news.okezone.com/read/2011/12/08/338/539868/105-siswa-smkn-29-jakart- ditangkap-4-bom-molotov-disita diakses pada 11 januari 2013
Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dan Motif Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dengan Perilaku Berpakaian Remaja Deansa Putri; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri Korea diTelevisi dan Motif Menonton Tayangan Drama Seri Korea diTelevisi dengan Perilaku Berpakaian RemajaPENDAHULUANPersaingan media televisi saat ini semakin gencar dan jumlah stasiun televisi semakinbertambah seiring dengan perkembangan jaman. Stasiun televisi di tanah air bermunculanmulai dari hanya satu stasiun televisi, yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI) sampaimuncul stasiun televisi baru yang mengudara secara nasional dan berkantor di IbukotaJakarta. Stasiun televisi tersebut antara lain Rajawali Citra Televisi (RCTI), Surya CitraTelevisi (SCTV), Media Nusantara Citra (MNC TV), Andalas Televisi (ANTV), Indosiar,Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV), TRANS 7, METRO TV, TV ONE, danGLOBAL TV.Belakangan ini, musik, drama, serta budaya Korea sedang merebak di beberapanegara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, musik maupun dramaseri Korea menjadi sesuatu yang sangat digemari di Indonesia saat ini. Bahkan sakingantusiasnya banyak yang mencari dan mempelajari hal-hal yang berbau Korea. Fenomenamenyebarluasnya drama, musik, serta budaya Korea secara global ini disebut Koreanwave atau dalam bahasa Korea disebut Hallyu.Fenomena Hallyu melalui drama seri Korea sedang menjadi tren di stasiun televisiswasta Indonesia. Beberapa stasiun televisi swasta tanah air kini tengah gencar bahkanbersaing menayangkan drama seri Korea. Drama seri Korea datang membawa tontonanringan dengan berbagai konflik di dalamnya, yang dibungkus sedemikian rupa sehinggamenarik untuk ditonton. Tentu drama Korea ini segera digandrungi masyarakat yangmemang menginginkan sesuatu yang baru. Dan memang kenyataannya, masyarakatsangat antusias menonton drama seri Korea. Selain itu episode-nya juga tidak sepanjangsinetron Indonesia, hanya sekitar 16 hingga 25 episode saja. Masyarakat yang tengahjenuh dengan tayangan sinetron-sinetron Indonesia langsung menyambut baik masuknyadrama seri Korea di Indonesia. Keberhasilan drama seri Korea mengambil hatimasyarakat Indonesia terbukti dengan tingginya minat penonton terhadap drama seriKorea yang pertama kali ditayangkan saat itu, yaitu Endless love. Berdasarkan survey ACNielsen Indonesia, serial Endless Love ratingnya mencapai 10 (ditonton sekitar 2,8 jutapemirsa di lima kota besar), mendekati Meteor Garden dengan rating 11 (sekitar 3,08 jutapemirsa). (http://www.slideshare.net/AHD/fenomena-ratingshare-televisi).Dalam menggunakan media massa, manusia didorong oleh beraneka ragam motif.Motif merupakan suatu tenaga yang terdapat dalam diri manusia yang menimbulkan,mengarahkan, dan mengorganisasi tingkah laku (perilaku). Motif yang mendorongkonsumsi media pada setiap orang berbeda. Dorongan kebutuhan yang berbeda akanmembuat orang memiliki motif yang berbeda pula dalam menggunakan televisi.(Rakhmat, 2006:216). Motif yang berbeda tersebut akan menimbulkan efek yangberlainan pada setiap orang.Drama seri Korea yang masuk ke Indonesia tidak hanya sekedar tontonan di waktuistirahat, namun drama Korea juga telah memberikan pengaruh di Indonesia. Begitubooming-nya drama seri Korea di tanah air, tidak heran jika pada saat ini banyak remajayang mulai terpengaruh dengan budaya-budaya Korea, terutama dari segi mode ataufashion. Dalam drama seri Korea sering menonjolkan mode-mode yang sedang populer diKorea. Penampilan para artis dalam drama seri Korea selalu didukung dengan gayaberbusana yang “Korea banget”, mulai dari model rambut, warna rambut, caraberpakaian, tas, sepatu, aksesoris yang dikenakan, dan masih banyak lagi. Mode alaKorea kerap disebut dengan Korean Style.Pada akhirnya masalah mode merupakan hal yang menarik untuk dibicarakankhususnya di kalangan remaja yang memiliki kedinamisan dalam mengikutiperkembangan berbagai mode yang sedang menjadi trend karena ingin tampil menarik,menambah percaya diri, dapat diterima dilingkungannya, dan supaya tidak dikatakanketinggalan jaman. Intensitas menonton drama seri Korea tersebut akan tetap berlangsungselama ada motif yang mendorongnya dan remaja mempunyai harapan akan memperolehsuatu keuntungan dari kegiatan menonton acara tersebut. Motif remaja menontontayangan drama seri Korea bisa dilihat dari motif untuk mendapatkan informasi, identitaspribadi, integrasi dan interaksi sosial, serta hiburan.Melalui televisi, remaja terinspirasi oleh perilaku idola mereka. Tahapan ini dimulaidari melihat gaya berpakaian atau tingkah laku yang diperbuat oleh seorang tokoh ditelevisi, kemudian para remaja berusaha mengadaptasi gaya berpakaian para artisidolanya dengan harapan penampilannya menjadi seperti penampilan para artis dalamtayangan drama seri Korea di televisi. Berdasarkan hal tersebut, lantas apakah adahubungan antara intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi dan motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja ?ISIMunculnya media televisi dalam kehidupan manusia memang menghadirkan suatuperadaban, khususnya dalam proses komunikasi dan informasi yang bersifat massa.Proses komunikasi massa tersebut dikatakan efektif apabila menghasilkan pengaruhkepada khalayaknya. Pengertian pengaruh itu sendiri adalah perbedaan antara apa yangdipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sesudah menerima pesan. Bersamaandengan jalannya proses penyampaian isi pesan media massa kepada pemirsa, maka isipesan akan diinterpretasikan secara berbeda–beda oleh pemirsa, serta efek yangditimbulkan juga beraneka ragam. (Bungin, 2008:72).Menurut Powerfull Effect Theory, dimana didasarkan pada asumsi Walter Lippman(dalam Vivian, 2008:465), bahwa gambaran realita dibentuk dengan sangat kuat olehmedia massa. Powerfull Effect Theory juga menjelaskan tentang media massamempunyai pengaruh langsung dan mendalam terhadap seseorang. Pada konsep HaroldLasswell yang terkenal “who says what in which channel to whom with what effect,”pada titik yang ekstrem teori ini mengasumsikan bahwa media dapat menyuntikkaninformasi, ide, dan bahkan propaganda kepada publik. Water Lippman mengatakanbahwa “gambaran” tentang dunia di benak kita yang tidak kita alami secara personaldibentuk oleh media massa, sehingga khalayak pun akan menerima pemuasan yangberagam dari media. Kepuasan yang berbeda-beda, juga akan menghasilkan efek yangberbeda pula.Dengan demikian, kegiatan menonton televisi dapat memberikan pengaruh tetapi haltersebut tergantung dengan tingkat intensitasnya. Diungkapkan oleh Burhan Bungin(2001:125-126), bahwa intensitas atau frekuensi remaja dalam menonton televisi dapatmempengaruhi besarnya pengaruh televisi terhadap perilaku remaja. Semakin tinggiintensitas menonton televisi maka semakin cepat dan besar pula pengaruhnya terhadapperilaku remaja. Begitu pula dengan keadaan sebaliknya, semakin rendah intensitasmenonton televisi maka semakin rendah pula pengaruhnya terhadap perilaku remajatersebut.Dalam kaitannya dengan menonton televisi, para remaja memiliki motif yangberagam. Motif-motif tersebut adalah motif untuk mendapatkan informasi, identitaspribadi, integritas dan interaksi sosial, serta hiburan. Motif merupakan salah satuindikator yang dapat mempengaruhi perilaku individu dalam menonton televisi.Woodhworth (dalam Petri, 135:1981) mengungkapkan bahwa perilaku terjadi karenaadanya motif atau dorongan yang mengarahkan individu untuk bertindak sesuai dengankepentingan atau tujuan yang ingin dicapai. Karena tanpa dorongan tersebut tidak akanada suatu kekuatan yang mengarahkan individu pada suatu mekanisme timbulnyaperilaku.Pandangan lain dikemukakan oleh Hull (dalam As’ad, 140:1995) yang menegaskanbahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh motif atau dorongan oleh kepentinganmengadakan pemenuhan atau pemuasan terhadap kebutuhan yang ada pada diri individu.Lebih lanjut dijelaskan bahwa perilaku muncul tidak semata-mata karena dorongan yangbermula dari kebutuhan individu saja, tetapi juga adanya faktor belajar.Hal ini dapat diperkuat dengan penjelasan dari Teori Pembelajaran Sosial.Berdasarkan hasil penelitian Albert Bandura, teori ini menjelaskan bahwa mereka meniruapa yang mereka lihat di televisi, melalui suatu proses observational learning(pembelajaran hasil pengamatan) atas tingkah laku yang ditampilkan oleh individuindividulain yang menjadi model. Titik mula dari proses belajar sosial adalah peristiwayang bisa diamati, baik langsung maupun tidak langsung oleh seseorang. Peristiwatersebut mungkin terjadi pada kegiatan orang sehari–hari, dapat pula disajikan secaralangsung oleh televisi, buku, film dan media massa lain. (Liliweri, 1991:174).Adapun yang penting dari teori Bandura, bahwa proses belajar mengikuti sesuatudimulai dari tahap; (1) proses memperhatikan; (2) proses mengingatkan kembali; (3)proses gerakan untuk menciptakan kembali; dan (4) proses mengarahkan gerakan sesuaidengan dorongan. (Liliweri, 1991:179). Jelasnya bahwa remaja masih suka mencaritokoh atau model untuk dijadikan panutan dalam berperilaku maupun berpenampilan,maka seringkali remaja akan memperhatikan dan mengingat perilaku model yangdilihatnya di televisi. Sering adegan-adegan dalam drama yang dilihat, atau perilakuyang digambarkan dapat menarik perhatian, sehingga dari ucapan, gerakan, bahkan jugapakaian yang dikenakan oleh sang tokoh akan diamatinya dan kemudian dapat sajamereka gunakan pada penampilan diri mereka.Monks (1969:109) menyatakan bahwa suatu tindakan atau tingkah laku dapatdipelajari melalui melihat saja. Melalui televisi remaja dapat melihat peristiwa, perilaku,dan segala sesuatu yang baru yang pada akhirnya diikuti oleh khalayak dan menjadi trendi kalangan masyarakat. Berkaitan dengan penelitian ini maka perilaku yang munculadalah gaya berpakaian yang dilakukan oleh remaja. Remaja berpenampilan mengikutitrend yang ada, mulai dari model rambut, pakaian, tas, sepatu, dan aksesoris lainnya.Jelasnya, bahwa remaja akan terinspirasi dengan apa yang dilihat dan ditawarkan olehmedia, dalam hal ini termasuk bagaimana perilaku berpakaian remaja.Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi (X1) dengan perilaku berpakaian remaja (Y), maka dilakukan pengujianstatistik melalui analisis korelasi Rank Kendall. Berdasarkan hasil pengujian makahipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara intensitasmenonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remajadapat diterima. Hal ini menjelaskan tingginya intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.Dengan menggabungkan unsur hiburan dan informasi drama seri Korea yangditayangkan di televisi secara tidak langsung telah menyajikan berbagai referensimengenai mode ala Korea yang sedang menjadi kecenderungan atau trend. Respondenyang menonton tayangan drama seri Korea dengan intensitas menonton yang tinggitermasuk dalam kelompok heavy viewers dimana mereka melihat gagasan mengenaimode tersebut sebagai realitas, sehingga akan lebih mudah terpengaruh dan berperilakuseperti apa yang ditampilkan dalam drama seri tersebut.Sementara responden yang menonton drama seri Korea dengan intensitas menontonyang rendah termasuk dalam kelompok light viewers, dimana mereka hanya memandangdrama seri Korea sebagai sebuah tayangan, tanpa melihatnya sebagai realitas, sehinggapengaruh yang diterima pada kelompok ini tidak sebesar kelompok heavy viewers.Perbedaan diantara keduanya terdapat dalam konsep mainstreaming (mengikuti arus)pada kelompok heavy viewers.Hubungan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi (X2) denganperilaku berpakaian remaja (Y) dapat diketahui dengan melakukan pengujian statistikdengan menggunakan uji formula Chi Square Test. Berdasarkan hasil pengujian makahipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja dapatditerima. Hal ini menjelaskan ragam motif menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.Responden yang tertarik dengan mode ala Korea dapat mengikuti perkembanganmode tersebut melalui tayangan drama seri Korea di televisi. Para remaja memilikikecenderungan ingin mengikuti terus perkembangan mode yang sedang menjadi trendagar dapat tampil stylish dan modis. Motif identitas pribadi dalam menonton tayangandrama seri Korea di televisi dapat mengarahkan remaja untuk berperilaku modis,sehingga ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi akanmempengaruhi perilaku berpakaian modis pada remaja.Hubungan intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi (X1) dan motifmenonton tayangan drama seri Korea (X2) di televisi dengan perilaku berpakaian remaja(Y) dapat diketahui dengan melakukan pengujian statistik melalui analisis korelasikonkordansi Rank Kendall.Setelah dilakukan perhitungan diperoleh hasil koefisien korelasi konkordansi sebesar0,194 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 kurang dari 0,01 maka hubungan dinyatakansangat signifikan. Serta hasil uji dengan Chi Square Test didapatkan nilai X2 hitungsebesar 19,387 (dengan df = 2), dan nilai signifikansi sebesar 0,000 kurang dari 0,01.Dengan demikian dapat dinyatakan Ha diterima dan Ho ditolak. Maka hasil pengujiantersebut menunjukkan bahwa variabel bebas (intensitas menonton tayangan drama seriKorea dan motif menonton tayangan drama seri Korea) secara bersama-sama memilikihubungan yang sangat signifikan dengan variabel terikat (perilaku berpakaian remaja).Hal ini berarti bahwa baik berdiri sendiri maupun bersama-sama, kedua variabelbebas (intensitas menonton tayangan drama seri Korea dan motif menonton tayangandrama seri Korea) mempunyai hubungan dengan variabel terikat (perilaku berpakaianremaja), sehingga tingginya intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisidan ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi akan mempengaruhiperilaku berpakaian modis pada remaja.PENUTUPPenelitian tentang hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi dan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi DENGANperilaku berpakaian pada remaja, dilakukan terhadap para remaja putri di Semarangyang berusia 17-20 tahun yang pernah menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi selama tiga bulan terakhir ini.Metode penarikan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara nonrandom sampling, dengan pertimbangan jumlah populasi dalam penelitian ini tidakdapat diketahui secara pasti. Penelitian ini menggunakan alat pengumpul data berupakuesioner. Teknik pengumpulan data berupa penyebaran Angket dan dengan bantuanpanduan observasi berupa checklist (daftar cocok) yang digunakan untuk mengamativariabel perilaku berpakaian pada remaja.Alat yang digunakan untuk menganalisa data kuantitatif yang telah didapatadalah dengan statistika, untuk kemudian dideskripsikan menggunakan corelasi untukmenguji hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisidan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaianpada remaja. Adapun kesimpulan dan saran yang dapat penulis berikan adalah sebagaiberikut:5.1. Kesimpulan1. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel intensitas menontontayangan drama seri Korea dengan variabel perilaku berpakaian remaja. Halini berdasarkan nilai koefisiensi korelasi sebesar 0,540 dan nilai signifikansisebesar 0,000. Dengan demikian, tingginya intensitas menonton tayangandrama seri Korea di televisi mendorong remaja melihat gagasan yang disajikandalam tayangan tersebut sebagai realitas dan berperilaku seperti apa yangditampilkan dalam tayangan tersebut. Semakin tinggi intensitas menontontayangan drama seri Korea di televisi maka akan semakin modis pula perilakuberpakaian pada remaja.2. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel motif menontontayangan drama seri Korea di televisi dengan variabel perilaku berpakaianremaja. Hal ini didapatkan dari hasil X2 hitung sebesar 31,222 dengan df = 6,dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Serta hasil uji korelasi ContingencyCoefficient (C) sebesar 0,620 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal tersebutmenjelaskan ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di televisiakan diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.3. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel intensitas menontontayangan drama seri Korea di televisi dan variabel motif menonton tayangandrama seri Korea di televisi dengan variabel perilaku berpakaian remaja.Berdasarkan hasil uji korelasi diperoleh informasi nilai koefisiensi sebesar0,194 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Serta didapatkan nilai X2 hitungsebesar 19,387 (dengan df = 2), dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal iniberarti bahwa baik berdiri sendiri maupun bersama-sama, kedua variabelbebas (intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi dan motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi) mempunyai hubungandengan variabel terikat (perilaku berpakaian remaja), sehingga tingginyaintensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi dan ragam motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi akan mempengaruhi perilakuberpakaian modis pada remaja.4. Pada penelitian ini penonton tayangan drama seri Korea di televisi denganpersentase terbanyak adalah remaja putri yang berada pada kisaran usia 20tahun sebanyak 36%, sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan persentaseterbanyak adalah para remaja putri yang duduk di bangku perkuliahan atauperguruan tinggi sebanyak 80%.5.2. Saran1. Berdasarkan kesimpulan di atas maka tayangan drama seri Korea di televisisebetulnya mampu membantu remaja untuk memberikan inspirasi dalampencarian model bagi remaja, yang berkaitan dengan gaya berpakaian ataupenampilan melalui “sosok” artis yang menjadi pemeran dalam tayangandrama seri Korea di televisi. Namun audiens juga diharapkan mampumemfilter dengan bijak informasi yang terkandung dalam tayangan tersebutdan bersikap selektif terhadap tayangan – tayangan yang mereka konsumsi,agar dapat membedakan antara realitas media dengan realitas sosial, sehinggatidak serta merta mengikuti segala sesuatu yang ada dalam tayangan tersebut.2. Pada penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan perilaku berpakaian remajahendaknya dapat dilakukan dengan melihat faktor – faktor lain yang bisamenjadi penyebab terjadinya perilaku tersebut, di luar intensitas menonton danmotif menonton, misalnya tingkat pendidikan, status sosial, atau interaksi peergroup. Disamping itu, penelitian juga dapat dilakukan dengan menggunakanteknik pengambilan sampel yang berbeda pula.DAFTAR PUSTAKABUKUArdianto, Elvinaro dan Erdinaya, Liluati Komala. 2004. Komunikasi Massa SuatuPengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.As’ad, M. 1989. Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: Dep.Dik.Bud Direktoral JendralPendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Dan Lembaga Tenaga.Bungin, Burhan. 2006. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Kencana PrenadaMedia Group.Bungin, Burhan. 2001. Erotika Media Massa. Jakarta: Kencana Prenada MediaGroup.Barnard, Malcomm. 2007. Fashion dan Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Cangara, Hafied. 1998. Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta. Raja grafindo persada.Effendi, Onong. U. 1993. TV Siaran Teori dan Praktek. Bandung: Mandar Maju.Effendy, Onong. U. 2003. Ilmu komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT.RemajaRosdakarya.Gerungan ,W.A. 1991. Psikologi Sosial. Bandung: Eresco.Kaunang, Claudia. 2010. Keliling Korea dalam 9 Hari. Yogyakarta: B – Fierst.Khadijah, Nyanyu. 2006. Psikologi Pendidikan. Palembang: Grafika Telindo Press.Kuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa Sebuah Analisis Media Televisi.Jakarta: Rhineka Cipta.Liliweri, Alo. 1997. Memahami Peran Komunikasi Massa Dalam Masyarakat.Bandung: Citra Aditya Bakti.McQuail, Dennis. 1996. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Jakarta:Erlangga.Monks, F. J, dkk. 1982. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gajah MadaUniversity Press.Morissan. 2008. Manajemen Media Penyiaran. Jakarta: Kencana Prenada MediaGroup.Nuruddin. 2000. Sistem Komunikasi Indonesia. Malang: BIGRAFF publishing.Petri, H.L. 1981. Motivation Theory and Research. Belmont, California: WadsworthPublishing Company.Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: RemajaRosdakarya.Rakhmat, Jalaluddin. 2006. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Rakhmawati, Dede. 2011. Jago Berbahasa Korea dalam 1 Hari. Jakarta: GudangIlmu.Sugiyono. 2002. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Alfabeta.Singarimbun Masri dan Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian dan Survey. Jakarta:LP3ES.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Prenada Media:Jakarta.Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: PT Grasindo.Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Grasindo.INTERNEThttp://www.slideshare.net/AHD/fenomena-ratingshare-televisi.www.geocities.com/dramakorean.http://www.facebook.com/pages/PENYUKA-DRAMA-KOREA/.http://tvguide.co.id/mobile-new//home.http://www.facebook.com/koreanbutik.shopiing/,http://www.facebook.com/ballegirls.shop.http://www.facebook.com/tomoya.koreanbutik.http://id.wikipedia.org/wiki/Drama_Korea.id.wikipedia.org/wiki/Hallyu.www.koreanstylefashion.com/.http://www.saranghaeyo.biz.www.saranghaeyo.biz › fashion › lifestyle.ABSTRAKJudul : Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi danMotif Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dengan PerilakuBerpakaian RemajaMode ala Korea yang masuk dan berkembang di Indonesia melalui tayangandrama seri Korea pada tahun 2002, banyak digemari dan diterapkan oleh remaja. Pararemaja cenderung ingin selalu mengikuti perkembangan mode yang sedang populeragar tampil modis. Hal ini dilakukan karena para remaja ingin seperti apa yangditampilkan oleh tokoh yang dilihatnya, yaitu berupa pakaian yang dikenakan olehseorang model, serta aksesoris-aksesoris lainnya yang dapat memperbaiki penampilandirinya. Perilaku berpakaian modis pada remaja tersebut disinyalir merupakan akibatdari beberapa faktor, antara lain intensitas menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi dan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas menontontayangan drama seri Korea di televisi dan motif menonton tayangan drama seri Koreadi televisi dengan perilaku berpakaian remaja. Peneliti menggunakan Teori PowerfullEffect dan didukung oleh Teori Pembelajaran Sosial dari Bandura. Responden padapenelitian ini berasal dari kalangan remaja putri di Kota Semarang yang berumur 17hingga 20 tahun. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 50 orang dimanapengambilan sampel dilakukan dengan metoden non random, serta accidental sampeluntuk teknik pengambilan sampel.Untuk menguji hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja dan hubungan antara motifmenonton tayangan drama seri Korea dengan perilaku berpakaian remaja, makadigunakan uji analisis Koefisiensi Korelasi Rank Kendall, dan uji formula denganChi-Square, sedangkan untuk menguji korelasi antara dua variabel bebas dengan satuvariabel terikat, digunakan uji analisis Korelasi Konkordasi Rank Kendall (Kendall’sW Test).Berdasarkan hasil penelitian, maka tingginya intensitas menonton tayangandrama seri Korea di televisi akan diikuti pula dengan perilaku berpakaian yang modispada remaja. Hal ini dikarenakan responden dengan intensitas menonton yang tinggiakan lebih mudah terpengaruh dan berperilaku seperti apa yang ditampilkan dalamtayangan tersebut. Selain itu, ragam motif menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi akan diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.Motif tersebut dapat mengarahkan remaja untuk mengetahui penampilan atau modeala Korea yang sedang menjadi kecenderungan (trend), mendapat kepuasan denganmelihat penampilan bintang idolanya, serta menemukan sosok model yang bisadijadikan inspirasi dan pedoman dalam bergaya seperti penampilan para artis dalamtayangan drama seri Korea di televisi.Kata kunci: Drama Seri Korea, Perilaku berpakaian, Korelasi.ABSTRACTTitle: The Relationship of The Intensity of Watching Korean Drama Series onTelevision and Motives Watching Korean Drama Series on Television withTeens Dressed Behavior.Korean fashion style in and growing in Indonesia through Korean dramaseries in 2002, much-loved and adopted by teenagers. The teens tend to want toalways continue to follow the development of fashion that is popular in order to lookfashionable and stylish. This is done because the teen wanted to like what is shown bythe figures he saw, in the form of clothing worn by a model, as well as otheraccessories that can improve the appearance of her day-to-day. Fashionable dress onteen behavior is alleged to be the result of several factors, including the intensity ofwatching a Korean drama series on television and motives watching Korean dramaseries on television.This study aims to determine the relationship of the intensity of watching aKorean drama series on television and motives watching Korean drama series ontelevision with the behavior of teenagers dressed. Researchers used a Powerful EffectTheory and supported by Bandura's Social Learning Theory. Respondents in thisstudy come from the young women in the city of Semarang ever watch a Koreandrama series over the past three months and aged 17 to 20 years. The study samplesize of 50 people where the sampling is done with non-random methode, withconsideration has’t complete information on population size, as well as samples foraccidental sampling technique.To examine the relationship between the variable of intensity of watching aKorean drama series on television with a teenager dressed behavioral variables andrelationships between variables of motives watching Korean drama series with thevariable of behavior of teenagers dressed, then used the test Kendall RankCorrelation Coefficient analysis, and testing with Chi-Square formula, while for thetest and explain the correlation between the two independent variables with thedependent variable, used test correlation analysis Konkordasi Rank Kendall(Kendall's W Test).Based on the results of the study, the high intensity of watching a Koreandrama series on television will be followed by a fashionable dressing behavior inadolescents. This is because respondents with a high intensity watch will be easilydistracted and behave like what is shown in the display. In addition, the variety ofmotives watching Korean drama series on television will be followed by a fashionabledressed behavior among adolescents. The motive may lead adolescents to determinethe appearance or Korean-style fashion is a trend, the satisfaction and pleasure to seehis idol star appearance, as well as to discover the figure of a model that could beused as inspiration and guidance in the style of artists like appearance in the dramashow Korea in the television series.Keywords: Korean Drama Series, Behavior of dressed, Correlation.
ANALISIS FAKTOR IKLAN TRUEVIEW IN STREAM YOUTUBE Atika Nabila; Djoko Setyabudi; Tandiyo Pradekso; Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.559 KB)

Abstract

Beriklan merupakan salah satu cara agar sebuah produk atau merek dikenal dan mampu mempersuasi audiens. Namun, beberapa peneliti terdahulu, menemukan bahwa penghindaran terhadap iklan cukup besar. Termasuk pada iklan TrueView in Stream YouTube. Padahal, iklan diharapkan mampu mempersuasi audiens. Selain itu, belanja iklan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa iklan merupakan salah satu cara yang sangat diminati oleh perusahaan atau produsen dalam memasarkan produknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang terdapat dalam iklan TrueView in Stream YouTube. Penelitian eksploratif kuantitatif ini menghimpun data primer sebanyak 100 orang responden dengan instrumen penelitiannya adalah kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Faktor. Sebanyak 21 faktor telah diuji dengan KMO dan Bartlett’s diketahui nilainya 0,728 dengan signifikansi 0,000. Lalu melalui perhitungan model Principal Component Analysis (PCA) diperoleh 7 kelompok faktor yang memuat 21 faktor yang diuji, dengan kata lain, seluruh faktor yang diuji lolos. Keseluruhan faktor yang lolos ini memberikan kontribusi sebesar 63,750 persen dalam iklan TrueView in Stream. Stimulus Factor adalah faktor yang paling berpengaruh dalam iklan TrueView in Stream YouTube. Diketahui dari 2 kelompok pertama dengan nilai tertinggi dari keseluruhan kelompok faktor, merupakan faktor-faktor dari stimulus factor. Kelompok pertama berkontribusi sebesar 22,818 persen dan kelompok ke-2 sebesar 10,514 persen yang terdapat dalam iklan TrueView in Stream. Faktor-faktor tersebut adalah Visual yang jelas dan detil sehingga tidak membuat bingung, Bintang iklan yang menarik, W arna iklan yang menarik, Banyaknya bagian/topik yang berbeda yang saling terhubung, Pengaruh persuasi merek iklan, Respon emosional terhadap iklan (sedih, senang, marah), menegangkan atau membuat penasaran, Iklan yang baru, kreatif, dan tidak biasa, dan pergerakan gambar video yang cepat.Sesuai dengan Activation Theory of Information Exposure bahwa pesan adalah sumber stimulasi.Keywords: YouTube, Analisis Faktor, Iklan, Stimulus
PEJUANG HAK ANAK DALAM PROGRAM TOKOH DI CAKRA SEMARANG TV Nur Dyah Kusumawardhani Putri; I Nyoman Winata; Tandiyo Pradekso; Hedi Pudjo Santosa; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.487 KB)

Abstract

Isu mengenai anak berkebutuhan khusus dan anak jalanan menjadi sebuah topik yang menarik untuk diangkat dalam sebuah news features. Bentuk news features dipilih karena pengemasan informasinya ringan dan mudah dicerna oleh masyarakat. Dengan tema human interest, tayangan ini mengangkat tentang perjuangan pengajar anak berkebutuhan khusus dan anak jalanan untuk memenuhi hak-hak anak. Narasumber yang diangkat yaitu Drs. Ciptono, Kepala SLBN Semarang dan Yuli Sulistyanto (BDN), fasilitator anak dari Yayasan Setara Semarang.Konsep news features ini disesuaikan dengan program Tokoh yang sudah ada di Cakra Semarang TV. Namun ada beberapa tambahan yang membuatnya berbeda yaitu liputan profil dan voxpop dari orang terdekat. Ada dua episode yang ditayangkan yaitu "Pengajar Manusia Murni" dan "Merajut Asa Anak Jalanan". Posisi pekerjaan dibagi berdasarkan tugas dan tanggung jawab masing-masing, yaitu produser, reporter, juru kamera, dan editor.Setelah melalui tahapan praproduksi, proses produksi, pascaproduksi, karya ditayangkan di Cakra Semarang TV pada hari Senin, tanggal 14 Mei dan 21 Mei 2014, pukul 18.00 WIB. Melalui karya ini diharapkan masyarakat memiliki cara pandang yang lebih baik dalam melihat dan memperlakukan anak berkebutuhan khusus dan anak jalanan.Kata kunci: news features, human interest, Tokoh, penyandang disabilitas, anak jalanan
Hubungan Terpaan Berita Iklan Tokopedia BTS dan Terpaan Word of Mouth dengan Minat Menggunakan Aplikasi Tokopedia Rhola Bachtiar Raharjo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 9, No 1: Januari 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the relationship of each variable, exposure to Tokopedia BTS advertising news (X1), word of mouth exposure (X2) with interest in using the Tokopedia (Y) application. This research uses quantitative research methods. The data collection technique used non probability sampling with a sample size of 50 respondents. The analysis used to test the hypothesis is the Pearson correlation test. Hypothesis testing that has been carried out shows that Tokopedia BTS advertising news exposure with interest in using the Tokopedia application is 0.012 (<0.05) with a correlation coefficient of 0.354, so there is a positive relationship between news exposure and interest in using Tokopedia. The significance result of word of mouth exposure with interest in using is 0.019 (<0.05) with a correlation coefficient of 0.330, so there is a positive relationship between word of mouth exposure and interest in using the Tokopedia application.
Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yang Disampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitter Banun Diyah Ardani; Tandiyo Pradekso; Muhammad Bayu widagdo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

1Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterMemahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yang Disampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBanun Diyah ArdaniUniversitas Diponegoro Semarang2Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterMEMAHAMI PENGALAMAN FOLLOWER DALAM MENERIMA PESAN TWEET BERBAYAR YANG DISAMPAIKAN OLEH BUZZER DI MEDIA SOSIAL TWITTERBanun Diyah Ardani11Universitas Diponegoro Semarang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,Departemen Ilmu Komunikasi,Jl Prof. H. Soedarto, SH Tembalang Semarang Indonesiabanundiyah@gmail.comAbstraksiTweet berbayar merupakan sebuah fenomena yang muncul seiring dengan perkembangan media sosial Twitter. Twitter memiliki kerumunan massa dimana dilihat sebagai peluang bagi sebuah perusahaan produk untuk berpromosi di Twitter. Memanfaatkan Buzzer yang telah memiliki banyak follower, perusahaan produk menyewa jasa Buzzer untuk menyampaikan pesan promosi dengan menggunakan bahasa dan gaya berbicara khas Buzzer. Follower dapat mengidentifikasi pesan tweet berbayar walaupun dikemas bukan seperti pesan promosi yang bersifat hard-selling.Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman follower dari Buzzer dalam menerima pesan tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer sehingga dapat menjadi rekomendasi bagi para brand company untuk mmilih Buzzer dan format komuniasi yang tepat agar kampanye produk yang dilakukan berhasil. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam (in-depth interview) dan menggunakan model komunikasi Maletzke sebagai rujukan kerangka berpikir.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi follower masuk di media sosial Twitter adalah untuk mendapatan informasi dan hiburan. Follower cenderung follow Buzzer dengan interest yang sama. Dalam menerima pesan tweet berbayar, follower melihat beberapa aspek yang melekat pada diri Buzzer sehingga pesan dapat diterima dengan baik oleh follower. aspek tersebut diantaranya adalah Image yang dilihat dari avatar dan bio, Reputasi yang dilihat dari karakter personal dan kompetensi profesional, Jaringan Pertemanan, Jaringan Buzzer, dan Interest. Follower melihat aspek tersebut sebagai kesatuan yang dimiliki oleh Buzzer dalam menyampaikan tweet berbayar. Dalam menyampaikan pesan tweet berbayar, Buzzer dituntut untuk menulis tweet yang padat, jelas, menarik. Follower juga melakukan pengawasan terhadap pesan yang disampaikan oleh Buzzer sehingga apabila terdapat tweet yang tida patut maka follower langsung menegur.Kata Kunci: Buzzer, tweet berbayar, Twitter, Follower3Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterUNDERSTANDING FOLLOWER EXPERIENCE WHEN RECEIVING PAID TWEET WHICH IS DELIVERED BY BUZZER IN SOCIAL MEDIA TWITTERBanun Diyah Ardani11Universitas Diponegoro Semarang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,Departemen Ilmu Komunikasi,Jl Prof. H. Soedarto, SH Tembalang Semarang Indonesiabanundiyah@gmail.comAbstractPaid tweet is the rising phenomenon while the social media Twitter is rising up. Twitter has a mass crowd which is viewed by product company as an opportunity to promote the product in Twitter. Using Buzzer who has may followers, product company contract Buzzer to deliver promotion message using their own language and character. Follower can identify paid tweet although Buzzer deliver the message unlike hard-selling promotion message.This research was aimed to understand follower experience when receiving paid tweet from Buzzer so that brand company could use is as recommendation in order to choose Buzzer and how to communicate with follower to success product campaign. The type of research is descriptive-qualitative with phenomenological approach. The collection of data uses in-depth interview technique. Research is using Maletzke Communication Model as reference to frame the mind.The result showed that the follower motivation while entering Twitter is to get information and entertainment. Follower tend to follow Buzzer who has same interest. While receiving paid tweet, follower observe some aspects from Buzzer. The aspects are Image which is viewed by follower from avatar and bio, Reputation which is viewed from personal character and professional competence, Friend Network, Buzzer Network, and Interest. Follower observe those aspects as the whole package from Buzzer when deliver paid tweet. Buzzer has to deliver clearly interesting paid tweet less than 140 character. Follower watch the message which delivered by Buzzer so if there is inappropriate message, Follower will warn Buzzer.Key words: Buzzer, paid tweet, Twitter, Follower4Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterDAFTAR ISICover Dalam 1Abstrak Versi Bahasa Indonesia 2Abstrak Versi Bahasa Inggris 3Daftar Isi 4BAB IPENDAHULUAN 51.1 Latar Belakang 51.2 Permasalahan 71.3 Tujuan Penelitian 81.4 Signifikansi Penelitian 8BAB II 9KERANGKA TEORITIS 9BAB III 11 METODE PENELITIAN3.1 Metode Penelitian 113.2 Paradigma Penelitian 113.3 Sifat Penelitian 113.4 Informan dan Lokasi Penelitian 123.5 Metode Pengumpulan Data 123.6 Metode Analisis Data 12BAB IV 14HASIL PENELITIANBAB V 17PENUTUPDAFTAR PUSTAKA 185Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang PenelitianTwitter merupakan situs jejaring sosial yang telah mengalami pertambahan fungsi, tidak hanya sebagai situs jejaring biasa, tetapi juga merupakan media komunikasi pemasaran online. Bahkan, karakteristik yang dimiliki Twitter memungkinkan terjadinya pola komunikasi Online Word of Mouth atau oleh sebagian kalangan dikenal sebagai buzzing. Banyak perusahaan yang ingin produknya menjadi topik pembicaraan di Twitter. Mereka berusaha mengikuti dan beradaptasi dengan perubahan perilaku mengkonsumsi media dari konsumen.Dalam komunikasi buzzing individu yang melakukan aktivitas buzzing disebut dengan Buzzer. Buzzer dalam arti yang umum dijelaskan sebagai alat atau suatu benda yang menghasilkan suara yang bisisng sehingga menarik perhatian. Dalam dunia Twitter pengertian Buzzer tidak persis seperti penjelasan tersebut. Buzzer di Twitter adalah seseorang yang memiliki akun di media sosial Twitter yang memiliki pengaruh besar, pengikut (follower) fanatik, kicauan (tweet) sering dikucaukan ulang (retweet) oleh follower, memiliki jumlah follower yang banyak dan mampu berinteraksi dengan mereka. (“Tertarik Menjadi Buzzer di Twitter”, oleh Rahadian P. Paramita, ditulis pada 4 Februari 2012, dalam http://salingsilang.com/baca/tertarik-menjadi-Buzzer-di-Twitter).Twitter tidak hanya digunakan sebagai media komunikasi antar penggunanya untuk memberi tahu aktivitas yang sedang mereka kerjakan, namun juga para pengguna mulai menggunakannya untuk aktivitas promosi (Majalah Digital Business, volume 02/2009 halaman 46). Brand Company menggunakan Twitter untuk aktivitas promosi. Melalui Buzzer, brand company menyampaikan tweet yang berkaitan dengan pesan promosi produk. Tweet dari Buzzer memiliki kecendurungan untuk disebarluaskan kembali oleh follower melalui fitur Reply dan Retweet sehingga pesan tweet berbayar memiliki potensi viral marketing sehingga banyak orang yang mengetahui dan membaca tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer.6Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitter1.2 Permasalahan PenelitianFenomena tweet berbayar merupakan fenomena yang unik karena tidak terjadi di media sosial lain. Twitter memiliki media usage yang berbeda dengan media sosial lain dimana Twitter merupakan media sosial yang bersifat cepat, praktis, dan selalu up-to-date sehingga memunginkan pengguna untuk mendapatkan informasi terbaru. Selain itu, Twitter adalah media personal dimana Buzzer tidak hanya bisa menyampaikan tweet yang bersifat pribadi namun juga tweet tentang suatu produk yang dikemas secara personal dan sesuai dengan karakter dan gaya berbicara. Berangkat dari keunikan (uniqueness) fenomena tweet berbayar di media sosial Twitter, penelitian ini cukup signifikan untuk diteliti yakni memahami bagaimana pengalaman yang dialami oleh follower dalam menerima pesan tweet berbayar yang dilakukan oleh Buzzer dalam media sosial Twitter untuk digunakan sebagai rekomendasi bagi brand company dalam memilih Buzzer dalam program kampanye produk sehingga tujuan komunikasi brand company terhadap follower tepat sasaran.1.3 Tujuan PenelitianTujuan penelitian ini adalah untuk memahami pengalaman follower (komunikan) dalam menerima pesan tweet berbayar yang dilakukan oleh Buzzer di media sosial Twitter sehingga dapat menjadi rekomendasi bagi brand company dalam memilih dan menempatkan posisi Buzzer dalam kampanye produk agar tujuan komunikasi tepat sasaran.1.4 Signifikansi PenelitianPenelitian ini secara teoritis diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi penelitian ilmu komunikasi khususnya dalam mengadopsi pemikiran teoritis Model Komunikasi Maletzke dalam konteks komunikasi buzzing di media sosial Twitter dimana akan dilihat sebagai Bangunan Teoritik baru dalam proses komunikasi buzzing sehingga dapat menjadi referensi bagi Brand company dan Advertising/Digital Agency dalam memahami pengalaman follower dalam memahami tweet berbayar.BAB IIKERANGKA TEORI2.1 Model Komunikasi MaletzkeDalam penelitian yang bertujuan memahami pemaknaan follower terhadap tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer dalam media sosial Twitter akan menggunakan model komunikasi Maletzke dimana pengalaman seseorang dalam memahami tweet berbayar tentu berbeda-beda. Terdapat banyak model komunikasi yang ada menjelaskan fenomena proses komunikasi. Model komunikasi Maletzke ini7Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitterdikemukakan oleh seorang peneliti dari Jerman, Maletzke (1963) yang menyampaikan perspektif dengan menggunakan skema “Schema des Feldes der Massenkommunikation”. Secara metodologis, model komunikasi ini merupakan proses yang kompleks dalam area sosial-psikologis dimana memiliki multi-eksplanasi. Maletzke membuat model berdasarkan elemen tradisional dasar yakni yang meliputi komunikator, pesan, medium, dan komunikan. Diantara medium dan komunikan terdapat dua komponen yakni tekanan (pressure/constraint) dari medium dan citra komunikan (receiver’s image) terhadap medium (McQuails dan Windahl, 1993: 46). Gambar 1.6 Model Komunikasi MaletzkeSumber: McQuails dan Windahl, 1993: 52Dari gambar diatas, Maletzke memperlihatkan secara menyeluruh mengenai komunikasi massa sebagai sebuah proses yang secara psikologis dan sosiologis dengan kompleks sifatnya. Mengandung elemen-elemen tradisional dimana kita menemukan tanda yakni C (Communicator), M (Message), Medium, dan R (Response). Dalam masing-masing bagian tersebut terdapat hal-hal yang mempengaruhi (McQuails dan Windahl, 1993: 52).8Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBAB IIIMETODOLOGI3.1 Metode PenelitianPenelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menggambarkan secara mendetail mengenai objek sehingga mendapatkan gambaran mengenai proses bagaimana follower selaku komunikan dalam model komunikasi Maletzke komunikasi memiliki image atau penilaian teorrsendiri terhadap Buzzer selaku komunikator3.2 Paradigma PenelitianPenelitian menggunakan paradigma interpretif menggunakan fenomenologi. Paradigma interpretif digunakan pada penelitian ini karena bertujuan untuk melihat fenomena dan menggali pengalaman follower dalam memahami tweet berbayar yang dilakukan oleh Buzzer di media sosial Twitter.3.3 Sifat PenelitianPenelitian yang dilakukan ini bersifat interpretif. Penelitian interpretif mencoba menafsirkan isi pesan yang muncul dalam wawancara sehingga dapat mengungkap pola tentang gejala secara rinci dan pada sejumlah informasi. Data-data yang dikumpulkan bukan berupa penyajian angka melainkan kata sebagai sebuah penggambaran. Sehingga, sajian berupa kutiapan dan data-data untuk memberikan gambaran tentang laporan penelitian. Secara harfiah, metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian.3.4 Informan dan Lokasi PenelitianPenelitian dilakukan dengan beberapa informan dari latar belakang yang berbeda. Informan yang diambil peneliti adalah follower Buzzer yang memiliki akun Twitter serta secara aktif berpartisipasi dalam Twitter minimal selama satu tahun terakhir, dengan jumlah follower minimal 200, dan rata-rata jumlah tweet perhari minimal 10 tweet.3.5 Metode Pengumpulan Dataa. Data Primer dalam penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam (indepth interview) dengan pengguna Twitter yang merupakan follower dari Buzzer.b. Data sekunder riset ini adalah jurnal, artikel, internet, makalah, tulisan di blog, dan data pengguna internet.9Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitter3.6 Metode Analisis DataMetode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data fenomenologi Stevick-Colaizzi-Keen (dalam Kuswarno, 2009: 70) yakni membuat deskripsi lengkap peristiwa atau fenomena yang dialami langsung oleh narasumber, menelaah setiap pernyataan verbal yang berhubungan dengan permasalahan penelitian, mengelompokkan setiap unit makna ke dalam tema-tema tertentu kemudian membuat deskripsi tekstural dan deskripsi structural, menggabungkan deskripsi tekstural dan struktural untukk menentukan makna dan esensi dari fenomena, membuat penjelasan menyeluruh dari setiap makna dan esensi fenomena yang didapat.BAB IVPEMBAHASAN HASIL PENELITIANBerdasarkan temuan penelitian di lapangan dan analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa Brand Company menggunakan jasa Buzzer untuk menyampaikan tweet berbayar yang berisi pesan promosi produk perusahaan tersebut. Buzzer tidak hanya berasal dari kalangan selebritis atau orang terkenal namun juga orang biasa yang memiliki banyak follower. Follower tidak hanya melihat Buzzer melalui apa yang disampaikan namun juga beberapa faktor yang melekat pada diri Buzzer sehingga follower percaya terhadap apa yang disampaikan oleh Buzzer. Buzzer memiliki image, reputasi, jaringan pertemanan, jaringan buzzer, dan interest. Follower menilai bahwa Buzzer membangun image dengan baik melalui avatar dan Bio. Dengan menampilkan diri dengan menarik melalui avatar dan Bio membuat impresi Follower terhadap Buzzer baik. Reputasi merupakan faktor yang mempengaruhi bagaimana follower memahami Buzzer. Reputasi ini dibentuk oleh atribut personal yang terdiri dari karakter personal (sifat Buzzer dan karakter Buzzer) dan kompetensi professional (pekerjaan, keahlian dan prestasi). Karakter personal Buzzer dalam Twitter dipengaruhi oleh sifat diri dan lingkungan sosial dimana Buzzer berinteraksi. Sifat Buzzer seringkali dapat ditangkap oleh follower karena terlihat dalam menyampaikan pesan. Follower cenderung follow Buzzer yang memiliki interest di bidang yang sama. Alasan follower follow Buzzer adalah seringkali Buzzer tidak hanya menyampaikan tweet berbayar namun juga tweet yang berkaitan dengan keahlian dan pekerjaannya. Follower merasakan manfaat ketika Buzzer menyampaikan informasi yang bisa memperkaya pengetahuannya. Seringkali follower memberikan feedback yakni me-RT tweet Buzzer atau reply tweet Buzzer yang berisi informasi tambahan10Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitteratau pandapat dirinya mengenai topic tertentu. Prestasi Buzzer merupakan suatu penguat bagi follower bahwa ternyata telah follow orang yang tepat. Seperti layaknya follower Buzzer juga berinteraksi dengan jaringan pertemanannya. Follower terpaksa sering mengikuti percakapan Buzzer dan teman-temannya karena sering munculo di Twitter.Buzzer tidak bekerja sendiri dalam menyampaikan tweet berbayar, terdapat Buzzer lain yang menyampaikan tweet berbayar mengenai produk yang sama. Hal tersebut diidentifikasi follower dari penggunaan hashtag yang sama dalam tweet berbayar. Buzzer saling bekerjasama untuk meramaikan tweet berbayar di Twitter. Hal tersebut berhasil membuat follower penasaran dan lalu merasa ingin tahu terhadap apa diperbincangkan sehingga membuat follower kepo dan mencari informasi terkait.Dalam proses komunikasi dimana Buzzer menyampaikan tweet berbayar, Buzzer mengalami tekanan dari sisi pesan dan medium. Dari segi pesan Buzzer dituntut untuk membuat tweet berbayar yang menarik agar mencuri perhatian follower. Tidak hanya itu bahasa maupun penggunaan kata yang disampaikan Buzzer dalam tweet berbayar tidak lagi bisa seenaknya seperti menyampaikan tweet pribadi. Dari segi medium, Twitter memiliki karakteristik yang khas yang bisa menjadi kelebihan maupun kekurangan. Twitter hanya memiliki 140 karakter sehingga tekanan dari medium muncul ketika Buzzer harus menyampaikan pesan yang singat, jelas, padat sehingga tidak menimbulkan twit-longer. Twit-longer merupakan hal yang dihindari oleh Buzzer dimana follower akan malas membaca pesan yang terpotong dan harus membuka sebuah tautan link. Follower juga melakukan pengawasan terhadap pesan tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer, apabila berisi konten yang tidak etis maka follower langsung memberikan feedback (RT/Reply).Adanya fenomena tweet berbayar membuat brand company untuk menyusun strategi komunikasi melalui Buzzer. Penerimaan pesan yang dilakukan oleh follower akan menjadi aspek pertimbangan brand company dalam menyusun pesan dan memiliki Buzzer sehingga kampanye produk yang dilakukan berhasil.11Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBAB VPENUTUPKesimpulanBerdasarkan pembahasan hasil penelitian, maka Model Komunikasi Maletzke masih relevan untuk diadopsi sehingga bisa menjelaskan bagaimana memahami follower dalam menerima pesan tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer. Model Komunikasi Maletzke merupakan model komunikasi lama yang masih mampu relevan dengan era sekarang dimana asumsinya adalah orang menggunakan media untuk memuaskan kebutuhan akan informasi. Social media Twitter justru malah semakin mempermudah siapapun untuk menyampaikan pesan promosi.DAFTAR PUSTAKABoone, L.E., & Kurtz. D.L. (1999). Contemporary Marketing. Florida:Harcourt Brace and CompanyDenzin, Norman K. & Yvonne S. Lincoln. (2005). The Sage Handbook of QualitativeHawkins, Delbert. (2007). Consumer Behavior: Building Marketing Strategy. New York: McGraw-HillKartajaya, Hermawan. (1996). Marketing Plus 3: Serial Marketing Populer. Jakarta: Sinar harapanKartajaya, Hermawan. (2002). Marketing in Venus. Jakarta: Gramedia Pustaka UtamaKotler, Philip. (2000). Marketing Management: Analysis, Planning, Implementation and Control. New Jersey: Prentice HallKotler, Philip. (1971). Marketing Decision Making, A Model, Building Approach . New York: Richart and Winston, IncLincoln, Yvonna S dan Egon G. Guba. (1989). Naturalistic Inquiry: 1stMc Quails, Daniel and Sven Windahl. (1993). Communication Models. New York: Longman Publishing
Pengaruh Terpaan Iklan Situs Jual Beli Online dan Faktor Demografi terhadap Minat Bertransaksi Online Yuliantika Hapsari; Hedi Pudjo Santosa; M Bayu Widagdo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.337 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terpaan iklansitus jual beli online terhadap minat bertransaksi online. Selain itu, penelitianini juga bertujuan untuk menguji faktor demografi yang memediasi terpaaniklan situs jual beli online dan minat bertransaksi online.Penulis menggunakan Teori Respon Kognitif dan Teori KategoriSosial untuk menjelaskan pengaruh terpaan iklan situs jual beli online danfaktor demografi terhadap minat bertransaksi online. Populasi penelitian iniadalah khalayak yang pernah melihat iklan situs jual beli online dan sampelyang diambil sebanyak 100 orang, dengan teknik purposive sampling.Dalam uji hipotesis, penulis menggunakan Analisis Regresi HirarkiBerganda. Uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi variabel terpaan iklanterhadap variabel minat bertransaksi online adalah 0.000, sehingga terdapatpengaruh langsung terpaan iklan terhadap minat bertransaksi. Sedangkannilai signifikansi variabel terpaan iklan terhadap minat bertransaksi onlinemelalui variabel usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan adalah0.296;0.234;0.131 nilai signifikansi > 0.05 sedangkan variabel terpaan iklanterhadap variabel minat bertransaksi melalui tingkat pendapatan sebesar0.001, nilai signifikansi < 0.05, sehingga terpaan iklan berpengaruh terhadapminat bertransaksi hanya melalui tingkat pendapatan.
KOMUNIKASI STRATEGIS JOKOWI DALAM PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012 Rizky Amalya Hadiningtyas; Tandiyo Pradekso; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.098 KB)

Abstract

KOMUNIKASI STRATEGIS JOKOWI DALAM PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012AbstrakKondisi masyarakat yang dinamis dan semakin kritis dengan perkembangan politik membawa dampak perubahan cara atau pola yang biasanya dilakukan oleh partai politik untuk memenangkan perhatian masyarakat sebagai pendukung partai. Untuk itu, institusi politik membutuhkan metode dan konsep baru sebagai sarana pendekatan alternatif guna membangun hubungan yang lebih efektif dengan konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan masyarakat non partisan yang menjadi target audiens kontestan, yakni marketing politik. Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama adalah tim pemenang yang menggunakan konsep dan metode dalam marketing politik Newman untuk mencapai tujuan komunikasi dengan kemenangannya dalam pertarungan politik pada Pemilukada DKI Jakarta 2012 yang berlangsung dua putaran.Berawal dari situlah maka, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara komprehensif pelaksanaan komunikasi strategis dalam konteks politik pada kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dalam memenangkan pemilihan umum kepala daerah secara langsung di wilayah DKI Jakarta tahun 2012. Konsep dasar yang digunakan untuk menganalisis data adalah Marketing Politik (Firmanzah) dan Handbook of Political Marketing (Newman). Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, rekaman arsip, dan perangkat fisik.Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama sangat memerhatikan elemen strategi pemasaran dalam marketing politik terutama segmentasi pemilih karena ketepatan pembagian pasar pemilih, berperan besar dalam ketepatan penyampaian pesan politik dan pembentukan image politik kandidat dalam menciptakan, membentuk dan memperkuat persepsi target pemilih kontestan untuk memenangkan pertarungan politik yang ketat dengan menggunakan bauran komunikasi pemasaran yang efektif dan efisien pada target pemilih.Kata kunci: strategi pemasaran, bauran pemasaran, persepsiTHE STRATEGIC COMMUNICATION OF JOKOWI IN PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012AbstractThe condition of society, nowadays, become more dynamic and more critical in the political development. It is make a changes for the impact of the way or the pattern, that is usually use by the political party to win attention of the society as a supporter of the party. For that, the political institutions need a new methods and concepts as a means of alternative approaches to build more effective relationship with constituents candidate, contituents other party, and non partisan as a public target audience, it is called a political marketing. The campaign team of Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama used concepts and methods in Newman’s political marketing to achieve their communication goals with his victory in the Pemilukada DKI Jakarta 2012 which held two rounds.This research aims to describe implementation of strategic communication of Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama to win in Pemilukada DKI Jakarta 2102. The basic concepts which used to analyze the data is the Political Marketing by Firmanzah and the Handbook of Political Marketing by Newman. The research method is descriptive qualitative research with the case study approach. The data was collected through in depth interviews, documentation, archival footage, and physical tools.Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama’s campaign team is very concerned about the marketing strategy especially segmentation. Because the accuracy of segmentation voters market, played a major role in accuracy of political message and image of political candidate for creating, shaping and strengthening the perception of the target audiences to win the election used marketing communication mix for more effective and more efficient.Keywords: marketing strategic, marketing mix, perceptionPENDAHULUANPerubahan pemilihan kepala daerah dari dipilih oleh DPRD secara bersamaan menjadi dipilih langsung oleh rakyat membawa situasi politik terutama di tataran lokal (daerah) menjadi semakin dinamis. Pemilukada secara langsung yang menjadi bagian integral dari akselarasi demokratisasi di tingkat nasional dinilai dapat mengakomodasi sistem seleksi terpadu yang saling melengkapi untuk melahirkan kepala daerah terpilih yang berkualitas, mulai dari seleksi sistem kenegaraan, partai politik, administratif, hukum administratif sampai seleksi politis.Di sisi lain, sistem multipartai menjadikan kompetisi antar kandidat di daerah semakin tinggi dalam era globalisasi dengan kondisi masyarakat yang semakin kritis terhadap perkembangan politik Indonesia. Untuk itu, politisi yang ikut serta dalam persaingan politik yang ketat tidak hanya semata – mata menonjolkan kemampuan kandidat atau kapasitas organisasional dari politisi tetapi juga membutuhkan dukungan dan jaringan dari pihak lain. Kondisi ini menuntut politisi untuk menerapkan cara – cara yang lebih tepat dan relevan dengan melakukan pendekatan yang lebih persuasif dalam berkampanye untuk memenangkan persaingan politik.Marketing politik yang merupakan komunikasi strategis dalam kajian komunikasi politik ialah perencanaan yang matang dalam menggunakan elemen – elemen yang terkandung pada strategi pemasaran dan bauran pemasaran sehingga dapat menghasilkan sebuah komunikasi yang efektif dan efisien. Keberhasilan marketing politik dalam berkomunikasi akan menciptakan dampak yang lebih tinggi kadarnya dibanding dengan komunikasi informatif, meliputi dampak kognitif, dampak afektif, dan dampak behavioral.Sebagaimana dengan komunikasi strategis yang berperan membujuk, menggerakkan, dan meyakinkan target audiens dalam mencapai tujuan, metode dan konsep dalam marketing politik juga memiliki peran membantu partai politik dan kandidat membangun hubungan dua arah yang efisien dan efektif dengan masyarakat agar menjadi lebih baik dalam mengenal masyarakat terutama yang menjadi target audiens sehingga dalam pengembangan program kerja partai sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat.Terdapat fenomena menarik di antara Pemilukada yang terjadi sepanjang tahun 2012, yakni Pemilukada DKI Jakarta 2012 yang diikuti oleh enam pasangan calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur, dimana Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama adalah Gubernur – Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih dengan masa jabatan 2012 – 2017 menjadi bukti bahwa penggunaan metode kampanye yang tepat, relevan, dan sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang ini akan menentukan kalah – menang kontestan pemilihan umum.Marketing politik yang digunakan tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dalam menghadapi Pemilukada DKI Jakarta 2012 sesuai dengan konsep marketing politik yang disampaikan oleh Newman (1999: 8) bahwa terdapat enam langkah, meliputi: (1) environmental research; (2) internal & external assessment analysis; (3) strategic marketing; (4) goal setting & campaign strategy; (5) communication, distribution, and organization plan; (6) key markets & outcomes.Keberhasilan marketing politik yang diterapkan tim kampanye dalam berkomunikasi dengan masyarakat Jakarta terutama yang menjadi target audiens mampu menciptakan dampak behavioral. Salah satunya adalah menggiring Addie MS, seorang konduktor ternama di Indonesia, menjadi salah seorang simpatisan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama melalui kicauan tweet-nya yang menjadi virus liar positif dengan pengaruh yang sangat kuat dalam perang media sosial antara kubu Fauzi Bowo dengan kubu Joko Widodo, antara lain terkait slogan Fokoke Jokowi dan hastag JOKOWINNERS (Leinad, 2012).Partisipasi yang tinggi dari masyarakat Jakarta dalam keikutsertaan kegiataan pengadaan baju kotak – kotak yang menjadi ikon Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama hingga mampu berubah menjadi trend di semua kalangan masyarakat Jakarta yang menghiasi di setiap sudut jalan di wilayah DKI Jakarta (Rizal, 2012). Adapula eksposure yang tinggi dari media massa terkait pemberitaan aktivitas komunikasi Joko Widodo. Pasalnya Joko Widodo menjadi sosok media darling bagi media massa nasional karena kampanye yang menarik dari kandidat sehingga membuat audiens mencari – cari berita tentang kandidat. Untuk itu, semua pemberitaan mengenai kandidat adalah pemberitaan dengan nilai berita yang tinggi bagi media (Saut, 2012).PEMBAHASANMarketing politik merupakan sebuah perencanaan dan pelaksanaan kampanye untuk mengatasi isu tertentu yang akan menghasilkan suatu rencana komunikasi yang saling terkait satu sama lain. Rencana komunikasi tersebut dalam wujud strategi komunikasi yang dibuat secara hati – hati berdasarkan tujuan yang dikembangkan disertai dengan sasaran audiens yang spesifik, kebutuhan akan informasi yang telah diidentifikasi secara cermat dan ketat, dan penggabungan secara optimal strategi pemasaran dan komunikasi pemasaran yang dibuat dengan biaya yang efektif dan efisien dengan hasil yang diinginkan.Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama merupakan tim pemenang yang menggunakan konsep dan metode dalam marketing politik Newman untuk mencapai tujuan komunikasi dengan kemenangannya pada Pemilukada DKI Jakarta 2012 yang berlangsung dua putaran. Melalui berbagai langkah strategis dalam marketing politik, timkampanye sangat memerhatikan elemen strategi pemasaran dalam marketing politik terutama segmentasi pemilih karena ketepatan pembagian pasar pemilih, berperan besar dalam ketepatan penyampaian pesan dan pembentukan image politik dalam menciptakan, membentuk, dan memperkuat persepsi publik atas kelayakan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama memimpin Jakarta, yang didukung dengan penggunaan bauran komunikasi pemasaran yang efektif dan efisien.Tentu saja, sebelum menerapkan metode dan konsep strategi pemasaran dan bauran pemasaran dalam marketing politik, tim kampanye telah lebih dulu mengenal publik terutama target audiens baik secara internal maupun eksternal melalui riset pasar dan analisis situasi. Hasil riset pasar melalui kunjungan langsung tersebut, memberikan pertimbangan bagi tim dan kandidat sebagai aktivitas monitoring pencarian dan pengumpulan informasi atas perkembangan isu – isu dalam opini publik salah satunya terkait kandidat yang diajukan dalam pemilihan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atas figur pemimpin yang mampu membawa perubahan kota dan kehidupan masyarakat khususnya keadaan ekonomi. Selain itu, riset pasar juga berperan membantu tim untuk memahami masyarakat dalam identifikasi kondisi heterogenitas masyarakat Jakarta. Kemudian berdasarkan identifikasi masyarakat dalam riset pasar tersebut, tim melakukan segmentasi pasar pemilih pada masyarakat Jakarta guna mengidentifikasi khalayak mana yang sanggup dilayani dan menguntungkan bagi kandidat dalam memperoleh dukungan suara saat pemilihan umum. Tim melakukan pembagian pasar berdasarkan pengembangan pendekatan etnis Jawa, etnis China, dan non muslim pada konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non partisan. Berdasarkan segmen pemilih tersebut, kemudian tim melakukan pembidikan dan pemilihan pada masing – masing wilayah yang meliputi wilayah Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Jakarta Selatan.Pemilih dibanjiri oleh informasi politik dalam jumlah besar dan beragam yang berasal dari masing – masing kandidat pada Pemilukada DKI Jakarta 2012. Kondisi tersebut menyulitkan pemilih untuk memilah – milah informasi guna membuat keputusan perilaku pemilih saat pemilihan umum karena adanya kesamaan pada masing – masing informasi politik dari kandidat. Untuk itu, tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama melakukan upaya untuk memposisikan kandidat pada tempat yang jelas, berbeda, dan diinginkan dalam benak pemilih dibandingkan dengan tempat kandidat lain. Tim kampanye melakukan upaya memposisikan kandidat yang memberikan keunggulan paling besar dalam benak pemilih dengan menempatkan image politik kandidat dan produk politik yang sesuai dengan masing – masing kelompok masyarakat yang telah ditetapkan sebagai target audienskandidat. Tim yang memiliki tujuan komunikasi strategis, yakni mengubah opini publik menjadi persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta, melakukan upaya positioning pada segmen kelompok masyarakat konstituen kandidat melalui image politik bahwa Joko Widodo adalah sosok pemimpin yang menjunjung tinggi empat pilar kebangsaan yang menjamin keberagaman dan sosok pemimpin yang jujur dan amanah dalam kepemimpinannya. Untuk memperkuat persepsi dalam pembentukan image politik tersebut, tim mewujudkannya dalam dua tahapan produk politik, yakni core product bahwa kelayakan kandidat tersebut karena kandidat memimpin Jakarta dengan menjamin keberagaman dalam kebersamaan pada heterogenitas masyarakat Jakarta dengan didukung actual product kandidat melalui hasil kinerja Joko Widodo selama menjabat sebagai wali kota Solo yang mendapat peringkat ketiga sebagai walikota terbaik tingkat internasional. Pembentukan image politik yang diperuntukkan segmen kelompok masyarakat konstituen kandidat yang berperan memperkuat persepsi yang diwujudkan dalam bentuk dua tahapan produk politik tersebut memiliki keterkaitan dengan past records kandidat yang terekam dalam benak pemilih (Nursal, 2004: 153).Tim kampanye juga membentuk image politik yang sama dengan konstituen kandidat pada konstituen partai lain dan non partisan sebagai langkah awal mengenalkan sosok kandidat dalam benak pemilih tersebut. Karena, kondisi kognitif dan afektif pada segmen kelompok masyarakat konstituen partai lain dan non partisan yang berbeda dengan konstituen kandidat maka tim perlu melakukan aktivitas positioning dengan membentuk image politik kandidat secara bertahap. Setelah konstituen partai lain dan non partisan berusaha mengenali sosok Joko Widodo melalui image politik sebelumnya, tim kembali membentuk image politik bahwa Joko Widodo adalah sosok pemimpin yang mewakilkan diri setiap individu dalam masyarakat Jakarta terutama individu yang tergolong konstituen partai lain dan non partisan. Pembentukan image politik ini diperkuat dengan karakter Joko Widodo sebagai pribadi yang sederhana, apa adanya, tulus, ikhlas, dan mengutamakan komunikasi yang humanis dalam berkomunikasi dengan siapa saja. Karakter tersebut dibangun dan ditunjukkan ketika kandidat melakukan kunjungan langsung ke pasar, kawasan tua/kawasan padat, cagar budaya maupun rumah penduduk yang telah ditetapkan sebagai tempat kampanye guna berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk mengenal maupun hanya sekedar memperkenalkan diri Joko Widodo kepada basis pemilihnya. Kemudian, tim membentuk image politik selanjutnya bahwa Joko Widodo adalah sosok pemimpin pendengar dan dibutuhkan Jakarta saat itu. Terbentuknya image politik tersebut semakin memungkinkan konstituen partai lain dan nonpartisan mengenal kandidat yang memungkinkan pula terbentuknya persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta dalam benak mereka.Positioning politik tidak akan dapat dilakukan tanpa adanya proses penciptaan dan komunikasi politik. Karenanya, ketepatan dan konsistensi yang jelas pada elemen branding, produk politik, dan pesan politik akan membantu tim dalam pembentukan identitas politik kandidat yang kuat dan jelas guna membentuk persepsi publik atas kelayakan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama memimpin Jakarta dalam benak basis pemilih kandidat yang telah ditetapkan sebagai target audiens. Pesan politik bukan hanya sekedar jargon politik melainkan di dalamnya berisikan tujuan dan harapan yang diberikan kandidat sebagai daya tarik bagi basis pemilih. Dalam marketing politik, strategi pengelolaan dan perancangan pesan merupakan faktor yang perlu diperhatikan oleh tim kampanye dalam melakukan aktivitas branding dengan menonjolkan image politik kandidat sehingga menjadi pembeda dibanding pesaing. Image politik yang bagus di benak basis pemilih akan memberikan efek positif bagi pemilih guna memberikan prioritas keputusan perilaku politik mereka dengan memberikan dukungan suara pada kandidat saat pemilihan umum.Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama membentuk dan menyampaikan konsistensi pesan politik, yaitu Jakarta membutuhkan perubahan yang dapat diwujudkan dengan Jakarta Bersih, Jakarta Bangkit, dan Jakarta Bersama menjadi Jakarta Baru bersama Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama. Untuk mempercepat dan memperkuat penyampaian pesan politik dalam benak basis pemilih, tim kemudian mewujudkannya dalam tiga produk politik. Core product berupa penjaminan hak masyarakat atas penyelesaian problema Jakarta dan penjaminan keberagaman dalam kebersamaan masyarakat Jakarta, didukung dengan actual product berupa sembilan unggulan dan enam puluh delapan ribu kegiatan pemerintah daerah (PemDa) DKI Jakarta serta augmented product berupa perwujudan perubahan Jakarta dengan Jakarta Bersih, Jakarta Bangkit, dan Jakarta Bersama menjadi Jakarta Baru bersama dengan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama.Komunikator sebagai orang yang menyampaikan pesan politik juga memiliki peran dan ikut andil pada proses positioning dengan membentuk image politik dan produk politik yang sesuai dengan harapan pemilih. Faktor komunikator yang meliputi kredibilitas dan daya tarik komunikator yang diperoleh dengan adanya etos dan sikap komunikator sangat berperan dalam pembentukan image politik di benak basis pemilih (Effendy, 2007: 38-39). Karena, pemilih akan tertarik dengan suatu hal yang ditawarkan secara politik jika hal tersebut memiliki kedekatan ideologi dengan diri pemilih, yang kemudian dibangun oleh tim dengan merepresentasikan kedekatan ideologis pemilih pada diri Joko Widodo selaku komunikator.Terbentuknya persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta di benak basis pemilih menciptakan daya tarik baru sendiri bagi basis pemilih terhadap aktivitas komunikasi tim atas penawaran solusi alternatif penyelesaian problema Jakarta. Daya tarik tersebut dibentuk dan diperkuat tim hingga mampu menciptakan komitmen dalam benak basis pemilih untuk mendukung dan memilih kandidat saat pemilihan umum. Pembentukan komitmen tersebut merupakan bentuk konsistensi image politik, pesan politik, dan produk politik kandidat sehingga mampu meminimalisasi bauran pemasaran price untuk berkomitmen memilih Joko Widodo saat pemilihan oleh basis pemilih, yang kemudian tim dapat meningkatkan manfaat yang diperoleh pemilih atas price tersebut dalam kegiatan pengadaan baju kotak – kotak. Hal ini karena kegiatan pengadaan baju kotak – kotak menciptakan wirausahawan dari masyarakat Jakarta kalangan menengah ke bawah yang ikut serta dan menamakan diri mereka sebagai relawan kandidat. Kegiatan pengadaan baju kotak – kotak semakin memperkuat persepsi publik atas kelayakan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama memimpin Jakarta. Kelayakan tersebut salah satunya bahwa kandidat adalah pemimpin yang bisa dan mampu membawa perubahan Jakarta khususnya keadaan ekonomi masyarakat Jakarta terutama rakyat kecil sehingga semakin memperkuat terbentuknya bauran pemasaran price di benak pemilih, hingga mampu menciptakan arus besar masyarakat Jakarta akan solidaritasnya mendukung kandidat di setiap kawasan di DKI Jakarta, yang menamakan diri mereka sebagai relawan kandidat.Semua kegiatan yang dilakukan tim guna mengubah opini publik menjadi persepsi publik juga diperlukan perancangan kegiatan promosi dengan penetapan bauran komunikasi pemasaran yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan image politik, produk politik, dan pesan politik pada pemilih. Pemilihan media perlu dipertimbangkan karena tidak semua media tepat sebagai sarana untuk melakukan promosi. Kandidat perlu memerhatikan dengan seksama dan bijak atas media yang paling efektif dalam mentransfer pesan politik pada masing – masing segmen konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non partisan dalam etnis Jawa, etnis China, dan non muslim. Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama melakukan promosi terbagi menjadi dua media, yakni above the line dan below the line. Above the line adalah media komunikasi yang digunakan tim kampanye untuk menjangkau basis pemilih terutama masyarakat non partisan, seperti kalangan elit, kalangan profesional, dan sebagainya yang tergolong dalam kalangan menengah ke atas. Tim kampanye menggunakan media massa televisi untuk berkomunikasi dalam penyampaian pesan dengan jangkauan luasnya sehingga komunikasi antara komunikator dan komunikan menjadi lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan komunikasi strategis. Adapula mediasosial facebook dan twitter yang digunakan tim untuk mengenalkan kandidat dan berbagi informasi terkait dengan kandidat dan produk politik. Sedangkan below the line adalah media komunikasi yang menggunakan personal selling melalui kunjungan langsung sosial tatap muka dan bersama yang dilakukan oleh kandidat untuk berkomunikasi dengan basis pemilih yang terdiri dari tiga kelompok masyarakat, meliputi konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non partisan dalam etnis Jawa, etnis China, dan non muslim. Kunjungan langsung sosial tatap muka dan bersama yang dilakukan di pasar, kawasan padat/kawasan tua, dan cagar budaya dengan diskusi dan kumpul bersama untuk bersilaturahmi dan berkenalan maupun membahas mengenai problema Jakarta dan solusinya. Kunjungan langsung kandidat yang dilakukan secara berkala dan terus menerus semakin memperkuat persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta dalam benak basis pemilih. Terbentuknya persepsi publik yang semakin kuat, semakin menciptakan dan memperluas arus besar masyarakat Jakarta untuk mendukung dan memilih kandidat yang kemudian menamakan diri mereka sebagai relawan kandidat. Relawan kandidat berperan sales promotion kandidat yang ikut serta menyampaikan pesan politik kepada basis pemilih kandidat. Adapula stiker merupakan media yang digunakan tim melakukan evaluasi terhadap setiap aktivitas komunikasi strategis yang membantu pemilih untuk menentukan prioritas yang besar di benak basis pemilih atas perilaku politik. Media stiker dipasang pada lingkungan basis pemilih yang telah berkomitmen untuk memilih Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama pada Pemilukada DKI Jakarta 2012.PENUTUPDinamika politik modern dengan masyarakat yang semakin kritis terhadap perkembangan dunia politik menuntut politisi untuk menerapkan cara yang lebih efisien dan efektif dalam berkampanye untuk memenangkan persaingan politik. Marketing politik yang digunakan tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dalam menghadapi Pemilukada DKI Jakarta 2012, membangun hubungan dua arah yang efisien dan efektif dengan masyarakat Jakarta yang memungkinkan tim untuk mengenal masyarakat dengan baik terutama kantong pemilih. Hubungan tersebut membantu tim dalam proses penyampaian pesan politik dengan menggunakan pengelolaan dan perancangan pesan yang memiliki konsistensi dengan image politik dan produk politik pada masing – masing segmen basis pemilih tim.Marketing politik yang digunakan tim kampanye berperan pada proses membangun dan menciptakan citra politik kandidat melalui tahapan strategi pemasaran dengan konsistensi pada proses branding yang diwujudkan dalam bauran pemasaran. Langkah awal dalam proses strategi pemasaran; segmentasi, membantu tim melakukan pembagian pasar pemilih ke dalamkelompok pemilih yang sesuai etnis pada kelompok masyarakat Jakarta, meliputi konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non muslim untuk dibidik dan ditetapkan tim sebagai kantong pemilih (target audiens). Penetapan audiens mempermudah dalam proses positioning yang berbeda pada masing – masing kelompok masyarakat yang telah ditetapkan sebagai target audiens tersebut guna mencapai tujuan komunikasi strategis tim, yaitu mengubah opini publik menjadi persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta. Penyampaian produk politik tim yang terbagi menjadi tiga tahapan; core product, actual product, dan augmented product memungkinkan adanya diferensiasi produk di benak pemilih dibanding produk politik lainnya yang akan semakin memperkuat terbentuknya persepsi publik.Marketing politik membantu tim dalam proses pencapaian tujuan komunikasi tim dengan merancang kegiatan promosi yang diakhiri penetapan bauran komunikasi pemasaran, meliputi personal selling tim kampanye dan kandidat melalui kunjungan langsung pada lingkungan kantong pemilih yang hanya sekedar untuk bersialturahmi dan berkenalan maupun membahas mengenai problema Jakarta dan solusinya, relawan kandidat sebagai sales promotion yang berperan serta dalam membentuk persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta pada benak basis pemilih, serta media massa televisi dan media sosial facebook dan twitter sebagai media komunikasi antara kandidat dengan masyarakat Jakarta guna mencapai tujuan komunikasi strategis tim.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. (2003). Komunikasi Politik. Jakarta: PT. Balai Pustaka.Baxter, Leslie A., and Earl Babbie. (2004). The Basics of Communication Research. Wadsworth: Thomson.Bryman, Alan. (2008). Social Research Methods (3rd ed.). Oxford University Press.Cangara, Hafied. (2009). Komunikasi Politik. Jakarta: Rajawali Pers.Denzin, Norman K., and Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (4th ed.). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Effendy, Onong Uchjana. (1999). Hubungan Masyarakat. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Effendy, Onong Uchjana. (2007). Ilmu Komunikasi & Teori. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Firmanzah. (2007). Marketing Politik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Firmanzah. (2008). Mengelola Partai Politik: Komunikasi dan Positioning Ideologi Partai di Era Demokrasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Griffin, EM. (2011). A First Look at Communication Theory (8th ed.). New York: McGraw-Hill.Heryanto, Gun Gun., and Irwa Zarkasy. (2012). Public Relations Politik. Bogor: Ghalia Indonesia.Kennedy, John E., dan R. Dermawan Soemanagara. (2009). Marketing Communication: Taktik & Strategi. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.Kriyantono, Rachmat. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana.Kotler, Philip, and Gary Amstrong. (2004). Dasar – Dasar Pemasaran Jilid I (9th ed.). Jakarta: PT Indeks.Kotler, Philip, and Gary Amstrong. (2004). Dasar – Dasar Pemasaran Jilid II (9th ed.). Jakarta: PT Indeks.Littlejohn, Stephen W., and Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi (9th ed.). Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexy J. (1991). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Nimmo, Dan. (2005). Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan, dan Media. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Newman, Bruce I. (Eds.). (1999). Handbook of Political Marketing. London: SAGE Publications Ltd.Nursal, Adman. (2004). Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Percy, Larry. (2008). Strategic Integrated Marketing Communication: Theory and Practice. USA: Elsevier.Perpustakaan Nasional RI Data Katalog Dalam Terbitan (KDT). (2012). Demokrasi Lokal: Evaluasi Pemilukada di Indonesia. Jakarta: Konstitusi Press.Ruslan, Rosady. (2008). Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.Severin, Werner J., and James W. Tankard, Jr. (2009). Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, & Terapan Di Dalam Media Massa (5th ed.). Jakarta: Kencana.Sulaksana, Uyung. (2003). Integrated Marketing Communications. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Upe, Ambo. (2008). Sosiologi Politik Kontemporer. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.Yin, Robert K. (2006). Studi Kasus. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.West, Richard., and Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi (3rd ed.). Jakarta: Salemba Humanika.Skripsi, Tesis, dan JurnalAttia, Ashraf M. et al. (2011). Commentary: The Impact of Social Networking Tools on Political Change in Egypt’s “Revolution 2.0”. Electronic Commerce Research and Applications, 10 (June): 369-374. New York: Elsevier B.V.Chu, Chih-Chung et al. (2012). The Effect of Advertisement Frequency on the Advertisement Attitude-The controlled Effects of Brand Image and Spokesperson’s Credibility. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 57: 352-359. Elseiver Ltd.Lariscy, Ruth Ann Weaver and Spencer F. Tinkham. (1996). Use and Impact of Direct Mail in the Context of Integrated Marketing Communications: U.S. Congressional Campaigns in 1982 and 1990. Journal of Business Research, 37: 233-244. New York: Elsevier Science Inc.Nuriyatul Lailiyah. (2011). Komunikasi Strategis Dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah, Studi Kasus: Kampanye Pasangan Widya Kandi – M. Mustamsikin dalam Pemilihan Bupati Kendal 2010. Tesis. Universitas Diponegoro.Seravica Molasita Mahu. (2010). Marketing Politik Partai Demokrat Dalam Pemilu Legislatif 2009. Skripsi. Universitas Diponegoro.InternetAnggadha, Ary., dan Fajar Sodiq. (2012). Dalam http://metro.news.viva.co.id/news/read/342548-ibunda-jokowi--bang-haji-rhoma-mungkin-khilaf. Diunduh pada 8 Oktober pukul 22.15 WIB.Febriyan. (2012). Dalam http://www.tempo.co/read/news/2012/03/19/214391119/Nasib-Ahok-Dampingi-Jokowi-Masih-Tunggu-Mega. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 02.21 WIB.Fokoke Jokowi Mantra Ampuh di Jagat Maya. (2012). Dalam http://ahok.org/berita/news/fokoke-jokowi-mantra-ampuh-di-jagat-maya/. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Hartawan, Tony. (2012). Dalam http://www.tempo.co/read/news/2012/03/19/214391063/Pertemuan-Rahasia-Foke-dan-Calon-Gubernur-Lain. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 22.30 WIB.Leinad, Sam. (2012). Jokowi Menang Lagi di Twitter. Dalam http://media.kompasiana.com/new-media/2012/09/20/jokowi-menang-lagi-di-twitter-494958.html. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Noviansyah, Aditia. (2012). Dalam http://www.tempo.co/read/news/2012/07/16/078417190/Dana-Kampanye-Foke-Tujuh-Kali-Lipat-dari-Jokowi. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 23.00 WIB.Rizal, Ade. (2012). Dalam http://jogja.tribunnews.com/2012/04/05/baju-kotak-kotak-jokowi-jadi-trend/. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Saut, Prins David. (2012). Dalam http://news.detik.com/read/2012/09/21/013101/2028702/10/jokowi-menangkan-pilgub-dki-karena-jadi-kesayangan-media. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Sodikin, Amir. (2012). Addie MS Ternyata Pemicu “Fokoke Jokowi”. Dalam http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/26/10010016/Addie.MS.Ternyata.Pemicu.Fokoke.Jokowi. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Wiwoho, Laksono Hari. (2012). Dalam. http://pilkada.kompas.com/berita/read/2012/09/19/02371093/Peta.Kekuatan.Foke.Versus.Jokowi.2. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 02.30 WIB.www.lsi.or.id. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 21.00 WIB.www.lsi.co.id. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 21.30 WIB.
Pengaruh Terpaan Social Media Marketing , Sales Promotion , Inovasi terhadap Loyalitas Konsumen dalam Menggunakan Layanan Go-Pay Nikita Putri Mahardhika; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 8, No 2: April 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.253 KB)

Abstract

This study aims to determine whether there is an influence of social media marketing exposure, sales promotion, innovation toward consumers’ loyalty in using Go-Pay as a digital payment. Sample for conducting the research was chosen from Go-Pay users who live in Semarang, aged 20-35 years, have been exposed to Go-Pay’s social media marketing, sales promotion, innovation, and follow @gopayindonesia social media. The collected data were analyzed by the linear regression analysis method. The result indicates that social media marketing exposure did not have any significant influence on consumers’ loyalty in using Go-Pay as a digital payment with a significance level of 0,117. Meanwhile, sales promotion and innovation exposure have a significant influence on consumers’ loyalty. The sales promotion exposure has a significance level of 0,000 with a regression coefficient of 0,170 on consumers’ loyalty. On the other side, innovation exposure has a significance level of 0,001 with a regression coefficient of 0,365.
Co-Authors Achmad Habibie Taufiqqur Rahman Adi Nugroho Adinda Sekar Cinantya Aditia Nurul Huda Aditya Iman Hamidi Adityo Cahyo Aji Afif Hazly Hasibuan Agraha Dwita Sulistyajati Agus Naryoso Ahda Hanif Fauzi Ahmad Fauzi Ahmad Fikar Harakan Aike Ingget Pratiwi Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Ajeng Rengganis, Sekar Albert Rivai Sinaga Aldi Atwinda Jauhar Aldiansyah, Duvit Aldila Leksana Wati Alexandra Parahita Bening Kesumaputri Alif Ibrahim Alya Anwar, Rizqika Alyssa Jasmine Aurelia Rahmiqatrunnada Amrina Rida Hapsari Ananda Erfan Musthafa Andrea Oktavia, Helga Anggi Pramesthi Kusumarasri Anggia Anggraini Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annisa Aulia Mahari Annisa Kusumawardhani Annisya Winarni Putri Aprida Mulya, Resti Ardelia Fitriani, Neysa Ardini Koesfarmasiana, Ardini Arfika Pertiwi Putri Arif Nurochman Arinda Putri Oktaviani Aryatama Wibawa, Michael Asep Virgo Asri Aulia Rachmawati Asri Nugraheningtyas Astrid Damayanti Asty Setiandini Atika Nabila Atina Primaningtyas Aulia Nur Awang Asmoro Ayu Puspitasari, Ramadhiana Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Azzahira Putri Zakaria, Grandhis Badri Ilham Ramadhan Bagoes Praswanda, Yusrizal Banun Diyah Ardani Bareta Hendy Pamungkas Bayu Widagdo, Muhammad Bella Yunita Binarso Budiono Budiono Bisma Alief Charisma Rahma Dinasih Chintya Dyah Meidyasari Daffa Satriowibowo Daniel Dwi Listantyo Dara Pramitha Darda Putranto, Addakhil Deansa Putri Deni Arifiin Destima Nursylva Anggraningrum Devi Pranasningtias Indriani Dhira Widya Prasya, Dhira Dhiyah Puspita Sari Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Muhammad Distian Jobi Ridwan Diyan Hafdinovianti Ayu Kinasih Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dwi Mulya Ningsih Dwi Purbaningrum Eggie Nurmahabbi Eka Ardianto Farasila, Iraisa Farisa Dian Utami Fariz Dewanto Fatma Izzatussayidati Febri Ariyadi Febriana Handayani Febriandani, Anisa Fitriyani, Putri Frida Asih Pratiwi Galuh Perwitasari Ghaliyah Julya Almira Ghana Pratama, Albert Ghela Rakhma Islamey Ghita Kriska Dwi Ananda Gilang Wicaksono Hajar Azizatun Niswah Hamidah, Nadiya Handi Aditia Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hardiyanto, Muhamad Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrikus Setya Pradhana Henny Novita Rumono Hilda Maisyarah I Nyoman Winata I Nyoman Winata Ibrahim Muhammad Ramadhan Ichsan Wahyu Pratama Imam Muttaqin Indah Puspawardhani Indra Septia BW Infra Ranisetya Intan Mashitasari Ira Astri Rasika Jaya Pramono Adi Jimmy Fachrurrozy Jody Suryamar Yudha Joyo Nur Suyanto Gono Kanaya Az Zahrah Karunia Yusuf, Kevin Kembang Soca Paranggani Khairani, Indah Khairunnisya Sholikhah Kinanati Bunga Wulansari Krisna Adryanto Lintang Jati Rahina Lintang Ratri Rahmiaji LISTIANTO HINDRA PRAMONO Lizzatul Farhatiningsih Lucia Eka Pravitasari Luh Rani Wijayanti M Bayu Widagdo Maharani Easter Mahendra Zulkifli Manggala Hadi Prawira Marcia Julifar Ardianto Marsha Fildzaishma Marshanda Putri, Tyara Martia Mutiara Tasuki Marwah Gayatri Purnado Maya Lestari Melinda Wita Satryani Meriza Lestari Meta Detiana Putri Mohammad Akbar Rizal Hamidi Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yulianto Muchammad Bayu widagdo MUHAMMAD ABDUSSHOMAD Muhammad Bayu widagdo Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Fadhel Raditya Muhammad Rofiuddin Muhamy Akbar Iedani Muliawati, Ditha N S Ulfa Naafisa Maulida Pratama Nabila Rezki, Anisa Nadia Dwi Agustina Nadia Hutaminingtyas Nanik Sudaryningtyas, Nanik Naura Kamila Prasetyanti Nicho Putera Gustantyo Nidya Aldila Nikita Putri Mahardhika Nikolas Prima Ginting Ninda Nadya Nur Akbar Noni Meisavitri Novi Rosmaningrum NS Ulfa Nungki Dwi Widyastuti Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nur Shafira, Hana Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurist Surrayya Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Avita Sari Nurwijayanti Otto Fauzie Haloho Pipin F.P. Lestari Prabowo Nurwidagdyo Pranamya Dewati Prescilla Roesalya Primada Qurrota Ayun Pungkas Dwitanto Purwoko, Agus R. Sigit Pandhu Kusumawardana Radika Oktavianti, Dina Raihan Triaffandra Ramadhan, Maulana Ramadhinda, Azzahra Randyani Rarasati Raymond Soelistiono Filemon Raynaldo Faulana Pamungkas Reichan Anantyo, Muhamad Resty Widyanty Revana Meylani Rhola Bachtiar Raharjo Rifki Nur Pratiwi Rifqah Nailah Rijalul Vikry Rizka Amalia Rizka Arsianti Rizky Amalya Hadiningtyas Rizqi Ganis Ashari Rohedy Ayucandra Rohmat Pambudi Roli Harni Purba, Juita Rony Kristanto Setiawan Rosita Kemala Sari Rosyada Setijawan, Amrina Rumi Aulia Rahmanisa S Rouli Manalu Safira Nurin Aghnia Santa Cicilia Sinabariba Septian Aldo Pradita Septiana Hadiwinoto, Jessica Septiana Wulandari Suparyo Setyabudi, Gunawan Shafira Inas Nurina Shahnaz Natasha Anya Sigit Haryadi Sofi Kumala Fatma Sofianisa Rahmawati Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tan Faizal Rachman Tasya Nadia Taufik Indra Ramadhan Taufik Reza Ardianto Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Teresia Kinta Wuryandini Theresia Dita Anggraini Thriyani Rahmania Titan Armaya Tiur Agata, Elisa Tjen Jocelyn Ivana Tri Muriati Harahap, Anggi Tri Utami Triangga Ardiyanto Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Uci Andriani Veriska, Veriska Vicho Whisnurangga Vinny Avilla Barus Wahyu Aji Hernawan, Dhimas Wahyu Kuncoro Aji, Danar Wahyu Nur R, Efrilia Wahyu Widiyaningrum Widya Andhika Aji Wina Natasya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yanu Angga Andaru, Yanu Yanuar Luqman Yoga Yuniadi Yohanes Rico Ananda Putra, Yohanes Yuan Stephanie Yuliantika Hapsari Yunita Indriyaswari Yusriana, Amida YUSUF AKBAR, MUHAMMAD Zainul Asngadah Fatmawati Zelda Elsa Khabibah Zulfikar Mufti