Claim Missing Document
Check
Articles

Wisata Keluarga dalam Program Acara Jateng Exotic di Cakra Semarang TV Bareta Hendy Pamungkas; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo; Djoko Setyabudi; I Nyoman Winata
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.914 KB)

Abstract

Program berita feature dianggap paling tepat dalam menggambarkan potensi wisata karena memiliki pengertian sama dengan softnews, demikian juga dengan cara membuatnya. Namun karena program berita feature bukan merupakan informasi yang harus cepat disajikan agar tidak basi informasinya, maka proses produksi program berita feature sangat fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan dapat disiarkan kapan saja, sehingga memproduksinya dapat disesuaikan dengan kesiapan tim produksi dan kebutuhan slot program.Produksi program berita feature pada karya bidang ini dibuat dengan tiga posisi pekerjaan berdasarkan tugas dan tanggung jawab masing-masing, yaitu produser, sutradara, dan juru kamera. Program ini dibuat empat episode dengan tiga segmen tiap tayangnya. Konsep yang diambil adalah wisata keluarga satu hari penuh tanpa menghabiskan banyak waktu, dimana tempat-tempat yang diangkat antara lain adalah Curug Tujuh Bidadari Bandungan, Kuliner Sate Kelinci Bandungan, Pasar Bandungan, The Sea Pantai Cahaya, Kuliner Ayam Goreng Gringsing Bu Bengat, Wisata Air Water Blaster Semarang, Pusat Oleh-Oleh Kampoeng Semarang, Kampung Batik Semarang, Kuliner Toko Oen, Wisata Sejarah Kota Lama, Kuliner Malam Pasar Semawis Semarang.Pengerjaan tayangan melalui tahap pra produksi, produksi, dan pasca produksi di mana media Cakra Semarang TV sebagai sarana publikasi dengan cara mengisi slot program pariwisata yang telah ada yaitu Jateng Exotic. Tayang setiap hari Minggu pada tanggal 23 Februari, 2 Maret, 9 Maret, dan 16 Maret 2014, diharapkan karya ini dapat memperkenalkan, memberitakan, dan menginformasikan tempat pariwisata di Kota Semarang dan sekitarnya.Kata kunci: wisata keluarga, jateng exotic, feature, jurnalistik
Hubungan antara Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pemahaman Pesan Kampanye Sosial Light On dengan Perilaku Menyalakan Lampu Utama Sepeda Motor Anggi Pramesthi Kusumarasri; Tandiyo Pradekso; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.388 KB)

Abstract

SUMMARY PENELITIANHubungan antara Tingkat Pendidikan dan Tingkat PemahamanPesan Kampanye Sosial Light On dengan Perilaku MenyalakanLampu Utama Sepeda MotorBAB IPENDAHULUAN1.1 LATAR BELAKANGMasalah sosial yang akhir-akhir ini banyak diberitakan media salahsatunya adalah kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas memakan korbantidak sedikit. Masalah ini memang merupakan masalah keselamatan berkendara dijalan. Namun menjadi masalah social kala menjadi sorotan dan perhatianmasyarakat. Polri sebagai salah satu lembaga pemerintahan yang bertugasmenangani langsung masalah lalu lintas tidak tinggal diam.Banyak upaya yang dilakukan oleh Polri dalam mengubah perilakumasyarakat agar lebih sadar tentang keselamatan berkendara. Bentuk kampanyePolri untuk menekan angka kecelakaan salah satunya yaitu kampanye sosial LightOn. Kampanye sosial Light On merupakan imbauan pada masyarakat penggunakendaraan sepeda bermotor untuk menyalakan lampu motornya pada siang danmalam hari. Asumsi dari menyalakan lampu sepeda motor pada siang dan malamhari tersebut adalah, sepeda motor akan lebih mudah terlihat oleh pengemudisepeda motor dan pengemudi kendaraan bermotor lainnya. Dengan demikian,pengemudi kendaraan bermotor lainnya akan lebih waspada dan berhati-hatisecara psikologis dalam berkendara (Lukas Adi Prasetya, 2009).Kewajiban menyalakan lampu tersebut sesuai dengan UU No 22/2009pasal 107, “Pengemudi kendaraan bermotor wajib menyalakan lampu utamakendaraan bermotor yang digunakan di jalan pada malam hari dan pada kondisitertentu (1), Pengemudi sepeda motor selain mematuhi ketentuan sebagaimanadimakusd pada ayat (1) wajib menyalakan lampu utama pada siang hari(2)”.Sejak disahkannya UU No 22/2009 pada 22 Juni 2009, kampanye sosialLight On disosialisasikan dan mulai diterapkan pada masyarakat. Namun, selamapertengahan tahun 2009 hingga akhir tahun 2010, Polri hanya memberikanimbauan pada masyarakat pengendara sepeda motor untuk menyalakan lampupada siang hari. Hingga akhirnya pada Januari 2011 mulai ada penindakan olehPolri dengan mengenakan sanksi pada pengendara yang tidak menyalakan lampumotor di siang hari.Meskipun telah intens dalam memberikan imbauan menyalakan lampumotor pada siang hari, masih banyak pelanggaran yang terjadi. Menurut datapelanggaran Light On tahun 2011 yang dipeoleh dari Ditlantas Polda JawaTengah, Polresta Surakarta menyajikan data dengan pelanggaran tertinggi yaitu3.105 kasus.Berbanding terbalik dengan kondisi di Kota Solo, Kabupaten Magelangmenyajikan data pelanggaran dengan kasus paling rendah. Pelanggaran diKabupaten Magelang pada tahun 2011 berjumlah 10 kasus. Selisih angka antaraKota Solo dan Kabupaten Magelang cukup tinggi. Dengan cara sosialisasi yangsama, namun hasil dari kampanye sosial Light On berbeda di setiap kota. Bedakota tentunya berbeda pula kondisi demografinya.1.2 PERUMUSAN MASALAHMenurut data pelanggaran Light On tahun 2011 yang dipeoleh dariDitlantas Polda Jawa Tengah, Polresta Surakarta menyajikan data denganpelanggaran tertinggi yaitu 3.105 kasus. Jumlah pelanggaran tersebut termasukangka yang tinggi mengingat sosialisasi yang dilakukan oleh Polri selama satusetengah tahun sudah sangat intens. Berbeda dengan Kota Surakarta, KabupatenMagelang memegang peringkat terendah terhadap jumlah pelanggaran Light Ondengan jumlah hanya 10 pelanggaran.Kondisi di tiap wilayah kota dan kabupaten di Jawa Tengah tentu saja berbedadari berbagai aspek. Salah satu perbedaan dari tiap daerah dapat diihat darikondisi demografisnya. Perbedaan tingkat pendidikan dan tingkat pemahamanpesan kampanye sosial Light On juga yang mungkin membuat masyarakatberbeda perilaku mengenai kepedulian keselamatan berkendara.Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka timbullah pertanyaansebagai berikut, “apakah terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkatpemahaman pesan kampanye social Light On dengan perilaku menyalakan lampusepeda motor?”BAB IIANALISIS HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DANPEMAHAMAN PESAN KAMPANYE SOSIAL LIGHT ON DENGANPERILAKU MENYALAKAN LAMPU SEPEDA MOTOR2.1 Landasan TeoriKecelakaan di jalan saat kita berkendara merupakan hal yang akhir-akhirini semakin sering terjadi. Banyak upaya yang telah dilakukan oleh Polri untukmenanggulangi angka kecelakaan yang terus meningkat setiap tahunnya. Upayayang pernah dilakukan oleh Polri salah satunya adalah menggalakkan Light On,yaitu imbauan bagi pengendara menyalakan lampu motornya pada siang danmalam hari. Agar segala sesuatu tentang Light On ini diketahu oleh masyarakat,maka perlu diadakan sosialisasi melalui penyampaian pesan dan informasi.Kegiatan yang paling tepat dalam hal ini yaitu dengan diadakannya kampanyekomunikasi.Rogers dan Storey mendefinisikan kampanye sebagai serangkaiantindakan komunukasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentupada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurunwaktu tertentu. Merujuk pada definisi ini, maka setiap aktivitas kampanyekomunikasi setidaknya harus mengandung empat hal yakni (1) tindakankampanye yang ditujukan untuk menciptakan efek atau dampak tertentu (2)jumlah khalayak sasaran yang besar (3) biasanya dipusatkan dalam kurun waktutertentu dan (4) melalui serangkaian tindakan komunikasi yang terorganisasi(Venus, 2009:7).Kampanye pada hakikatnya adalah tindakan komunikasi yang bersifat goaloriented (Venus, 2009:25). Semua kegiatan kampanye pasti ada tujuan yang ingindicapai oleh penyelenggara kampanye. Dalam menjalankan kampanye agar tujuandapat dicapai, tentu tidak bisa dilakukan tanpa perhitungan atau perencanaan.Pelaksana kampanye harus menyusun manajemen kampanye secara sistematis danefektif. Manajemen kampanye adalah proses pengelolaan kegiatan kampanyesecara efektif dan efisien dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang adaguna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Apapun latar belakang kampanye, suatu gagasan pada akhirnya akandiwujudkan dalam bentuk yang bisa disampaikan kepada khalayak. Pesan-pesaninilah yang akan dipersepsi, ditanggapi, diterima atau ditolak oleh khalayak.Pesan-pesan kampanye dirancang secara sistematis agar dapat memunculkanrespon tertentu dalam pikiran khalayak. Agar respon tersebut muncul, mkaprasyarat yang harus dipenuhi adalah adanya kesamaan pengertian danpemahaman tentang symbol-simbol yang digunakan antara pelaku dan penerima(Venus, 2009:70)Kampanye sosial sebenarnya adalah kegiatan persuasi terhadap targetsasaran agar menimbulkan efek dari segi sikap dan perilaku. Namun perlu diingatbahwa membuat seseorang untuk bertindak adalah lebih sulit daripada mendorongmereka untuk berpikir tentang suatu hal. Setiap kegiatan kampanye memerlukanstrategi komunikasi yang merupakan perencanaan dan manajemen untukmencapai tujuan tertentu dalam praktik operasionalnya (Ruslan, 2007:38). Dalamkampanye sosial Light On ini tentu dibutuhkan strategi komunikasi yang baikuntuk menyampaikan pesan guna mencapai tujuannya, yaitu agar masyarakat maumenyalakan lampu sepeda motor.Pesan atau informasi yang berasal dari kampanye sosial Light Ondisampaikan kepada masyarakat sebagai sasaran yang dituju oleh programkampanye tersebut. Kampanye ini memakai media untuk menyampaikan pesanatau informasi tersebut. Mempertimbangkan bagaimana cara menyampaikan isipesan kampanye termasuk ke dalam manajemen kampanye. Penggunaan mediapada proses berlangsungnya kampanye sosial tidak akan pernah lepas sebagai alatuntuk menyampaikan pesan. Fungsi media massa adalah menyampaikan informasitentang keadaan disekitarnya kepada masyarakat. Fungsi menyampaikaninformasi ini diartikan bahwa media massa adalah penyebar informasi bagipembaca, pendengar atau pemirsa. Proses penyebaran informasi ini disebutdengan komunikasi massa.Mass communicatin is the process whereby media organizations produceand transmit messages to large publics and the process by which thosemessagse are sought, used, and influenced by audiences. Mediaorganizations distribute messages that affect and reflect the cultures ofsociet, and they provide information simultaneously to largeheterogeneous audiences, making media part of society’s institutionalforces (Littlejohn, 2004:273).Komunikasi massa adalah proses di mana media memproduksi danmengirim pesan-pesan kepada khalayak luas dan proses yang mana pesan tersebutdicari, digunakan, dan dipengaruhi oleh audiens. Media mendistribusikan pesanpesanyang mempengaruhi dan mencerminkan budaya masyarakat, dan pesanpesantersebut menyediakan informasi secara berkelanjutan pada audiens yangluas, membuat media bagian dari perangkat institusi masyarakat.Iklan-iklan layanan masyarakat mengenai Light On yang dikeluarkan olehPolri merupakan komunikasi massa melalui surat kabar, majalah, radio, televisi,leaflet, poster, spanduk, MMT, billboards, dan lain-lain. Dikategorikan sebagaikomunikasi massa (nonpersonal) karena perusahaan sponsor (penyelenggarakampanye) tersebut secara simultan berkomunikasi dengan penerima pesan yangberanekaragam, bukan kepada individu tertentu atau personal atau kelompok kecil(Shimp, 2003:5). Demikian pula dengan publisitas, hampir sama dengan iklannamun penyelenggara kampanye tidak mengeluarkan biaya untuk waktu danruang beriklan. Publisitas biasanya dilakukan dalam bentuk berita atau komentareditorial mengenai produk atau jasa dari perusahaan. Bentuk-bentuk ini dimuatdalam media cetak atau televisi secara gratis karena perwakilan mediamenganggap informasi tersebut penting dan layak ditampilkan kepada khalayakmereka (Shimp, 2003: 6). Misalnya sosialisasi Light On diberitakan dalam mediacetak,media menginformasikan kepada khalayak bahwa menyalakan lampusepeda motor pada siang dan malam hari penting untuk mengurangi angkakecelakaan. Data dari Polri mengenai turunnya angka kecelakaan yang diberitakandi media juga merupakan publisitas kampanye sosial Light On karena dianggapinformasi ini penting bagi masyarakat.Selain iklan dan publisitas, kampanye sosial Light On juga menggunakanambient media untuk melengkapi sarana penyampaian pesan kampanye. ambientmedia yang menyerupai bat untuk bermain tenis meja. Di kedua sisi bet tersebutterdapat tulisan “Nyalakan Lampu Sepeda Motor Anda”. Bat tersebut dipegangoleh polisi lalu lintas dan ditunjukkan pada pengendara sepeda motor. Penggunaanambient media ini saat patroli polisi lalu lintas pada pagi dan sore hari.Produk yang ditawarkan dalam kampanye Light On adalah perubahanperilaku pengendara sepeda motor. Tujuan utama dari kampanye ini adalahterwujudnya perubahan perilaku masyarakat, yang awalnya hanya menyalakanlampu sepeda motor pada malam hari, diharapkan menyalakan lampu sepedamotor pada siang hari juga guna mengurangi angka kecelakaan. Oleh karena itudalam menyelenggarakan kampanye, pesan-pesan kampanye harus diautrsedemikian rupa agar lebih efektif untuk diterima dan mempengaruhi targetsasaran. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Stuyek (1990) bahwa, penggunaansesuatu yang jelas dan bahasa yang sederhana dalam membuat pesan akanmembuat pesan tersebut lebih mudah dimengerti (Venus, 2009:81).Pemahaman pesan pada kampanye sosial Light On akan mempengaruhiperilaku khalayak sasarannya. Pada tahap afektif, muncul sikap seseorangterhadap apa yang sudah diketahui dan dipahami. Muncul sikap positif ataunegative, percaya atau tidak percaya dalam menanggapi manfaat menyalakanlampu sepeda motor ini. Hingga sampai pada tahap seseorang akan berperilaku(behavior) sesuai dengan apa yang dirasakan dan disadarinya, yaitu menyalakanlampu sepeda motor pada siang dan malam hari.Khalayak atau target sasaran kampanye yang terterpa kegiatan komunikasipemasaran merupakan sasaran dari penyampaian pesan dan diharapkanberperilaku seperti kegiatan yang sedang dikampanyekan. Khalayak adalahindividu-individu yang berpikir, memiliki perasaan, mengevaluasi, menentukan,beraksi dan bereaksi atas sesuatu (Venus, 2009:116). Karena alasan ini makapesan-pesan kampanye akan dipersepsi secara berbeda oleh setiap individu danakhirnya menghasilkan efek yang beragam pula. Para pelaku kampanyemenyadari bahwa khalayak sasaran mereka tidaklah homogen. Mereka memilikikeragaman dari segi demografis maupun psikografis. Keragamaan inilah yangmemunculkan perbedaan keinginan, kebutuhan, dan cara mereka meresponlingkungan. Dengan demikian masing-masing kelompok khalayak memerlukanpendekatan yang berbeda, mulai desain pesan, cara menyampaikannya hinggasiapa komunikator yang cocok menyampaikan pesan tersebut. Pernyataan tersebutsesuai dengan bauran komunikasi yaitu who says what in which channel to whomwith what effect. Ini artinya segmentasi perlu dilakukan dalam menentukankhalayak sasaran kampanye (Venus, 2009:124). Target sasaran yang sudahditentukan oleh penyelenggara kampanye diharapkan mendapat pengetahuan yangcukup tentang kampanye melalui media, sehingga pesan secara efektif dapatmempengaruhi audiens sampai ke tahap yang diinginkan. Menurut McQuail(1972), salah satu fungsi media bagi individu yaitu sebagai identitas pribadi untukmenemukan model perilaku (McQuail, 2005:72). Jadi, segmentasi khalayaksasaran atau audience dilakukan agar kampanye tepat sasaraan. Setelah pesanyang diberikan tepat sasaran, khalayak sasaran bisa paham mengenai isi pesankampanye. Lalu audience mempunyai pilihan, setuju untuk mengadopsi perilakudari isi pesan tersebut atau tidak.Masyarakat sendiri menanggapi pesan kampanye berbeda satu denganyang lainnya. Respon khalayak terhadap pesan kampanye dipengaruhi oleh prosespenerimaan dan pengolahan pesan atau informasi yang dilakukan khalayak(Venus, 2009:78). Maka dari itu pesan harus memiliki kemampuan tertentu yangdapat mendorong khalayak untuk memberikan respon positif sesuai harapanpelaku kampanye. Menurut Venus (2009), ada beberapa aspek yang perlumendapat perhatian dalam membaut pesan, yaitu :a. Penekanan terhadap apa yang akan dipersepsi orangb. Bagaimana pesan tersebut dapat menarik perhatian khalayakc. Serta bagaimana informasi dalam pesan itu disimpan dan diingat olehpenerimanya.Selain itu, masyarakat juga menerima pesan dengan selektif. Orang akanmelihat apa yang ia lihat, mendengar apa yang ingin ia dengar. Maka, setiap orangakan menginterpretasikan pesan sesuai dengan latar belakang dan pengalamanyang dimilikinya. Garnett (1992) menyatakan bahwa persepsi selektif ditentukanoleh latar belakang keluarga, karakteristik kepribadian fisik, tingkat pendidikan,perbedaan budaya, dan factor lainnya (Venus, 2009:80). Tingkat pendidikanmerupakan salah satu faktor penting dalam mengasah kemampuan danketrampilan. Proses pendidikan diharapkan dapat menciptakan manusia terdidikyang mempunyai pola tingkah laku yang sesuai dengan tujuan pendidikan.Olehkarena itu proses pendidikan dilakukan dalam suatu system. Pendidikanformal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri ataspendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.Pendidikan memberikan kontribusi besar dalam berinteraksi denganlingkungan, ketrampilan dan pengetahuan yang diperoleh melalui bangku sekolahmembantu memperlancar daya tangkap seseorang dalam berkomunikasi.Pendidikan masyarakat mempengaruhi persepsinya dan kemampuan konsepsinyamengenai pesan yang diterima. Pada gilirannya akan berpengaruh pula terhadappengaturan pikiran dan perasaan ketika melaksanakan tanggapan ataumenyampaikan umpan balik kepada komunikator. Kemampuan yang dimiliki tiapindividu yang nantinya akan terlihat bagaimana ia berperilaku. Seluruh perilakumanusia adalah hasil belajar, artinya perubahan perilaku organisme sebagaipengaruh lingkungan (Rakhmat, 2007:21).Sesuai dengan aliran Behaviorisme, seluruh perilaku manusia selaininsting merupakan hasil belajar (Syam, 2011:75). Oleh para ilmuan Behaviorismealiran ini lebih dikenal dengan Teori Belajar, Behaviorisme hanya inginmengetahui bagaimana perilaku manusia dikendalikan oleh faktor-faktorlingkungan (Rakhmat, 2007:21). Salah satunya adalah media, sebagai salurankomunikasi massa yang menjadi perangkat institusi masyarakat. Media jugamerupakan salah satu media pembelajaran bagi manusia. Dalam kampanye sosialLight On, manusia belajar memahami pesan kampanye melalui media disekitarnya. Hasil belajar itu tidak semuanya sama. Semakin tinggi tingkatpendidikan seseorang, maka kualitas belajarnya juga semakin bagus. Semakinbanyak pula pengalaman yang diperoleh dari lingkungan belajarnya dan akanberpengaruh pada perilaku mereka. Demikian pula dalam kegiatan kampanyesosial Light On, para pengendara sepeda motor tidak serta merta menyalakanlampu sepeda motor. Namun merupakan hasil interaksi audiensnya denganlingkungan, yaitu melihat media yang berisi tentang imbauan menyalakan lampusepeda motor pada siang dan malam hari, serta pengetahuan manusia yangmerupakan hasil dari belajar dan pendidikan dalam memahami pesan tersebut.Dalam pertumbuhannya, manusia bukan saja mengalami perkembangandalam segi jasmaniahnya, tetapi juga rohaniahnya. Dan perkembangan inimembentuk jiwanya, sifat tabiat dan tingkahlakunya (Effendy, 1993:53). Lalumuncul berbagai sikap terhadap pesan atau rangsangan yang mereka terimaberupa sikap yang merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-caratertentu. Dengan kata lain, perilaku manusia adalah produk dari dorongandoronganlingkungan.Menurut De Fleur and Ball-Rokeach (1982) “Since individuals were notseen as socially active, psychological and biological factors became moreimportant than social ones in explaining the behavior of people in masssociety. For example, characteristics such as instincts and psychologicaldrives become crucial when describing audience members,” (Windahl,Signitzer with Olson, 2009:196)Menurut McQuail dalam bukunya Teori Komunikasi Massa, apa yangdiungkapkan oleh DeFleur tersebut relevan bila dikaitkan dengan kerumitan pesanmedia umumnya dan bila dibandingkan dengan jenis rangsangan yang digunakandalam hampir seluruh percobaan psikologi. Kedua, semakin jelas bahwa reaksi ituberbeda-beda secara sistematis sesuai dengan kategori sosial penerima, yangantara lain berdasarkan usia, pekerjaan, gaya hidup, jenis kelamin, agama, dansebagainya (2005:235).Manusia satu sama lain tentu tumbuh dan berkembang di lingkungan yangberbeda-beda. Dari lingkungan yang berbeda inilah akan terbentuk sikap, nilainilai,serta kepercayaan individu yang mendasari kepribadian mereka, kemudianakan mempengaruhi cara mereka memandang dan menghadapi sesuatu, sehinggapersepsi mereka pun berbeda. Begitu juga dalam kampanye sosial Light On dalamrangka mengurangi angka kecelakaan, pesan yang disampaikan melalui mediamassa menimbulkan rangsangan berupa persepsi dan respon berbeda pada tiapindividu.Menurut DeFleur (1970), “Individuals differences theory argued that,because of people vary greatly in their psychological makeup and becausethey have different perceptions of things, media influence differs fromperson to person. More specifically, media messages contain particularstimulus attributes that have differential interaction with personalitycharacteristics of members of the audience” (Baran & Davis, 2006:149).Teori tersebut menegaskan bahwa, setiap orang akan menanggapi isi media massaberdasarkan dengan kepercayaan serta nilai-nilai sosial mereka. atas dasar bahwatiap individu tidak sama perhatiannya, kepentingannya, kepercayaan maupunnilai-nilainya, maka dengan sendirinya selektivitas mereka terhadap komunikasimassa juga berbeda. Dalam hal ini adalah proses pemahaman pesan darikampanye sosial Light On, yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap tingkahlaku (behavioral) khalayak sasarannya.BAB IIIPENUTUPBerbagai cara telah diupayakan oleh Polri untuk terus mengurangi angkakecelakaan. Banyak program dan terobosan yang digalakkan oleh Polri agar angkakecelakaan tidak semakin bertambah. Namun masyarakat seringkali tidakmengindahkan bahkan menganggap sepele program-program dari Polri tersebut.Polri pun terus mengupayakan cara yang lebih efektif dan diharapkan masyarakatmau menerimanya. Melalui program Light On inilah Polri berupaya mengurangiangka kecelakaan, terutama kecelakaan sepeda motor.Jarak pandang manusia terhadap benda sangat terbatas, terlebih jika bendatersebut bergerak dalam kecepatan tinggi. Sepeda motor bila dilihat dari kacaspion kendaraan lain akan terlihat kecil dan kadang tidak terlihat jelas. Apalagijika pengendaranya mengendarai dengan kecepatan tinggi. Hal inilah yang seringmenyebabkan terjadinya kecelakaan sepeda motor, tidak terlihat oleh pengendarakendaraan lainnya. Jika lampu utama sepeda motor tersebut selalu menyala akanmembantu penglihatan pengemudi kendaraan bermotor lainnya karena cahayamudah tertangkap oleh indera penglihatan manusia. Dengan demikian diharapkandapat menurunkan angka kecelakaan.3.1 SIMPULAN1. Penelitian pada kabupaten Magelang menunjukkan bahwa terdapathubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan perilakumenyalakan lampu utama sepeda motor. Nilai korelasi antara tingkatpendidikan dengan perilaku menyalakan lampu utama sepeda motorsebesar 0,328. Sedangkan pada Kota Surakarta tidak ada hubungan yangsignifikan antara tingkat pendidikan dengan perilaku menyalakan lampuutama sepeda motor, dan nilai korelasinya hanya sebesar -0,093.2. Penelitian pada kabupaten Magelang menunjukkan bahwa terdapathubungan yang signifikan antara tingkat pemahaman pesan kampanyesosial Light On) dengan perilaku menyalakan lampu utama sepeda motordengan nilai korelasi sebesar 0,301. Begitu pula pada Kota Surakarta,terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pemahaman pesankampanye sosial Light On dengan perilaku menyalakan lampu utamasepeda motor dengan nilai korelasi sebesar 0,414.3. Masyarakat Kabupaten Magelang nampak lebih banyak yang menyalakanlampu utama sepeda motor pada siang dan malam hari jika dibandingkandengan masyarakat Kota Surakarta.3.2 SARAN1. Saran bagi Polri selaku penyelenggara kampanye hendaknya melakukanpendekatan lebih pada masyarakat di Kota Surakarta agar mereka lebihmemahami arti penting dari Light On ini. Cara kampanye danpenyampaian pesannya pun bisa lebih variatif agar bisa menarik perhatianmasyarakat. Namun sosialisasi yang dilakukan bisa dipertimbangkan darifactor lain karena tingkat pendidikan tidak memiliki hubungan denganperilaku masyarakat Kota Surakarta dalam menyalakan lampu utamasepeda motor. Sedangkan untuk Kabupaten Magelang yang masyarakatnyasudah lebih banyak yang menyalakan lampu utama sepeda motor padasiang dan malam hari tidak perlu ada sosialisasi lanjutan.2. Untuk penelitian yang akan datang disarankan tidak hanya menelitimengenai hubungan, tetapi juga pengaruh intensitas kampanye. Penellitiselanjutnya juga bisa menambahkan variable keefektifan kampanye karenakeefektifitasan kampanye juga mempengaruhi pemahaman pesanmasyarakat mengenai kampanye tersebut.ABSTRAKKampanye sosial akhir-akhir ini semakin marak di kalangan masyarakat yangbertujuan untuk membawa perubahan sosial atau perilaku masyarakat ke arah yang lebihbaik. Polri pun turut serta menjadi salah satu penyelenggara kampanye sosial. Kampanyesosial dari Polri adalah kampanye yang bertujuan untuk mengurangi angka kecelakaan dijalan raya, khususnya untuk kecelakaan kendaraan kecil seperti sepeda motor. Namuntidak semua masyarakat berperilaku seperti apa yang diharapkan dalam kampanye ini,yaitu menyalakan lampu utama sepeda motor. Factor yang mempengaruhi perilakumasyarakat antara lain tingkat pendidikan dan tingkat pemahaman pesan kampanye sosialLight On.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkatpendidikan dan tingkat pemahaman pesan kampanye sosial Light On dengan perilakumenyalakan lampu sepeda motor. Teori yang digunakan adalah teori Behaviorisme danIndividuals differences theory. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian iniadalah tipe explanatory dengan pendekatan metode penelitian kuantitatif. Populasipenelitian ini adalah pengendara sepeda motor di Kabupaten Magelang dan KotaSurakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan Non-Random Sampling dengansampel masing-masing kota sebanyak 50 responden.Hasil penelitian pada Kabupaten Magelang menunjukkan bahwa terdapathubungan antara tingkat pendidikan dan perilaku menyalakan lampu sepeda motordengan nilai korelasi sebesar 0,328, dan terdapat hubungan antara tingkat pemahamanpesan kampanye sosial Light On dengan perilaku menyalakan lampu utama sepeda motordengan nilai korelasi sebesar 0,301. Sedangkan hasil penelitian di Kota Surakartamenunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan tingkat pendidikan dan perilakumenyalakan lampu sepeda motor dengan nilai korelasi hanya -0,093. Namun terdapathubungan antara tingkat pemahaman pesan kampanye sosial Light On dengan perilakumenyalakan lampu utama sepeda motor dengan nilai korelasi sebesar 0,414.Melihat hasil penelitian di dua kota yang berbeda dan hasil yang berbeda pula,dapat dilihat bahwa masyarakat Kabupaten Magelang nampak lebih patuh dan tertibdalam menyalakan lampu utama sepeda motor pada siang dan malam hari jikadibandingkan dengan masyarakat Kota Surakarta.Saran bagi Polri selaku penyelenggara kampanye hendaknya melakukanpendekatan kepada masyarakat Kota Surakarta yang tidak berdasarkan tingkat pendidikankarena tingkat pendidikan tidak memiliki hubungan dengan perilaku menyalakan lampuutama sepeda motor. Bagi penelitian selanjutnya disarankan tidak hanya menelitimengenai hubungan, tetapi juga pengaruh intensitas kampanye. Penelliti selanjutnya jugabisa menambahkan variable keefektifan kampanye karena keefektifitasan kampanye jugamempengaruhi pemahaman pesan masyarakat mengenai kampanye tersebut.Kata Kunci : Tingkat Pendidikan; Tingkat Pemahaman Pesan Kampanye Sosial LightOn; Perilaku Menyalakan Lampu Sepeda MotorABSTRACTNowadays, social campaign becomes more popular in the society which has apurpose to bring the social changing or the public's behavior to be better. The IndonesianNational Police Department joins and becomes one of the organizers of social campaigns.The social campaign of the police department is a campaign that aims to reduce thenumber of accidents on the highway, especially for small vehicle accidents, likemotorcycle. However, not all people behave as what is expected in this campaign, whichis turning the motorcycle's main lamp on. The factors that influence people's behavior arethe level of education and the message comprehension level of Light On social campaign.The purpose of this study is to recognize the relationship between the levels ofeducation and comprehension of the Light On social campaign message and the behaviorof turning the motorcycle's main lamp on. The theory that is used is the theory ofbehaviorism and the individuals differences theory. This type of research used in thisstudy is the explanatory type with quantitative research method approach. The populationof this research were the bikers in Magelang regency and Surakarta city. The samplingtechnique was non-random sampling with the sample of 50 respondents in each town.The results showed that, in Magelang regency, there was a relationship betweenthe education level and the behavior of turning the motorcycle's main lamp on with thecorrelation value of 0.328, and also a relationship between the message comprehensionlevel of Light On social campaign and the behavior of turning the motorcycle's main lampon with a correlation value of 0.301. On the other hand, the results of the research inSurakarta showed that there was no correlation between the education level and thebehavior of turning the motorcycle's main lamp on with only -0.093 correlation value.However, there was no relationship between the message comprehension level of LightOn social campaign and the behavior of turning the motorcycle's main lamp on with thecorrelation value of 0.414.Considering these results in two different cities with different results, it could beconcluded that the people of Magelang regency seemed to be more dutiful and orderly inturning on the motorcycle's main lamp on on day and night compared to Surakarta'speople.The suggestion for the Indonesian National Police Department as the organizer ofthis campaign is to have a non educational-base approach, because the education level hasno relation with the behavior of turning the motorcycle's main lamp on. To the nextresearch, it is suggested that it is not only researching about the relationship, but alsoabout the campaign's intensity influence. The next researcher can also add the campaigneffectiveness variable, because the campaign effectiveness also influences the people'smessage comprehension about that campaign.Key words: education level; comprehension level of the light on social campaignmessage; behavior of turning on the motorcycle's lampDAFTAR PUSTAKAAhmadi, Abu. 2006. Pengantar Ilmu Kependidikan. Jakarta : Rieneka CiptaMunib, Ahmad. 2001. Ilmu Kependidikan. Semarang : UPT MKK UNNESBaran, Stanley J & Dennis K. Davis. 2006. Mass Communication Theory, 4th Edition.USA : Thomson WadsworthEffendy, Onong Uchjana. 1993. Human Relations & Public Relations. Bandung : CV.Mandar MajuGregory, Anne. 2001. Perencanaan dan Manajemen Kampanye Public Relations. Jakarta :ErlanggaGunawan, Ary H. 2000. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Rineka CiptaKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : KencanaLittlejhon, Stephen.W & Foss, Karen.A. 2004. Theories of Human Communication; EightEdition. Canada : Thomson WadsworthMcQuail, Denis. 2005. Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedua. Jakarta : ErlanggaNotoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : RinekaCiptaPriyanto, Duwi. 2009. 5 Jam Belajar Olah Data dengan SPSS 17. Yogyakarta : ANDIRakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja RosdakaryaSarwono, Sarlito Wirawan. 2002. Psikologi Sosial. Jakarta: Balai PustakaSarwono, Sarlito Wirawan. 2004. Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta : PT. Raja GrafindoPersadaSeverin, Werner J. & Tankard, James W. 2005. Teori Komunikasi; Sejarah, Metode, danTerapan di Dalam Media Massa. Jakarta : KencanaShimp, Terence A. 2003. Periklanan Promosi, Komunikasi Pemasaran Terpadu, Jilid I Edisike 5. Jakarta : ErlanggaSingarimbun, Masri & Sofian Effendi. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3ESSiswoyo, Dwi dkk. 2008. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : UNY PressSugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif. Bandung : CV. AlfabetaSyam, M.Noor dkk. 2003. Pengantar Dasar-dasar Pendidikan. Surabaya : Usaha NasionalVenus, Antar. 2009. Manajemen Kampanye, Panduan Teoritis dan Praktis dalamMengefektifkan Kampanye Komunikasi. Bandung : Simbiosa Rekatama MediaWindahl, Sven & Benno Signitizer. 2009. Using Communication Theory, 2nd Edition, AnIntroduction to Planned Communication. London : Sage PublicationsWitherington. 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka CiptaPrasetya, Adi Lukas. 2009. Nyalakan Lampu Motor Siang Hari, Menekan Kecelakaan.http://www.kompas.com/lipsus052009/antasariread/2009/09/27/19553723/Nyalakan.Lampu.Motor.Siang.Hari..Menekan.Kecelakaan, diunduh pada tanggal 8Februari 2012Polres Wonogiri. 2009. Polwil Pantau Sosialisasi Light On dan Lajur Kiri.http://polreswonogiri.com/beritakepolisian/detail/34/polwil-pantau-sosialisasilight-on-dan-lajur-kiri diunduh pada tanggal 8 Februari 2012Hapsari, Esti Dwi. 2011. Pengaruh Kampanye Keselamatan berkendara (Safety Riding)Terhadap Persepsi Kedisiplinan dalam Berlalu Lintas.http://etd.eprints.ums.ac.id/15932/1/2._HALAMAN_DEPAN.pdf, diunduh padatanggal 30 Mei 2012Munawaroh, Siti. 2009. Efektivitas Komunikasi Kampanye Program Safety RidingPolantas Polda Metro Jaya untuk Meningkatkan Pengetahuan (Studi PelajarSMK Binakarya Mandiri di Kabupaten Bekasi ).http://digilib.mercubuana.ac.id/skripsi1.php?ID_Skripsi=0000014044&NIM=44205010060, diunduh pada tanggal 30 Mei 2012
Aktivitas Promosi dalam Launching Produk Layanan Wisata Baru Buana Muda Pesona Tour Semarang Bidang Pekerjaan Program Manager Jaya Pramono Adi; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi; Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.893 KB)

Abstract

Backpacking merupakan salah pilihan dalam melakukan kegiatan wisata. Prinsip utama backpacking adalah kemandirian sehingga tidak bepergian bersama kelompok tur yang ditawarkan oleh agen perjalanan. Backpacker menekankan melakukan kegiatan wisata dengan cara dan biaya yang murah. Setiap pilihan tentu saja memiliki konsekuensi. Kegiatan wisata dengan menjadi seorang backpacker juga punya kekurangan. Karena liburan dilakukan secara mandiri maka resiko menjadi korban kejahatan, tersesat at au pun menjadi sasaran penipuan di tempat baru yang dikunjungipun semakin besar. Jika terjadi permasalahan dalam perjalanan maka backpackerharus menyelesaikan masalah secara mandiri. Selain itu, backpacker juga harus mempersiapkan dana cadangan kalau sewaktu-waktu muncul biaya yang diluar prediksi karena kondisi di lapangan seringkali berbeda dari infor masi yang didapatkan sebelumnya sehingga murah belum tentu menyenangkan.Pada bulan Januari 2014, Pesona Tour ingin melakukan pengembangan usaha. Mereka akan meluncurkan layanan wisata baru bernama Buana Muda. Buana Muda mengangkat konsep wisata yaitu Destination Management Company dan budgettravelling sehingga anak muda tetap dapat merasakan perjalanan wisata murah sesuai dengan daya beli yang mereka miliki tanpa harus repot mempersiapkan segala kebutuhan wisata dan tidak perlu merasa khawatir dengan munculnya biaya tambahan karena semua biaya telah dihitung di awal.Aktivitas promosi yang dilakukan menggunakan event marketing sebagai fondasi utama dan didukung oleh alat promosi lain seperti periklanan, marketing public relation,publisitas, point of purchase material, E communication dan relationship marketing. Event Marketing berbentuk kontes fotografi yang berjudul Buana Muda “Feel The New Experience” bertujuan untuk memperkenalkan dan menarik minat khalayak sasaran di semarang mengenai layanan wisata baru Buana Muda. Setelah aktivitas promosi dilakukan selama satu bulan terjadi kenaikan awaraness sebesar 39% dan minat sebesar 32%. Selain itu berhasil dibentuk komunitas buana muda guna menjaga keberlangsungan pesan komunikasi pemasaran. Keywords : Aktivitas, Promosi, Event, Tour
Communication Activities On Creating Shared Value (CSV) between Nestle Indonesia and Consumers Arfika Pertiwi Putri; Nuriyatul Lailiyah; Tandiyo Pradekso; NS Ulfa
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.553 KB)

Abstract

Nestle is a company which connects its business fields on its business chain through acts that help social issues which later was elaborated by Porter and Kreamer in 2006 into creating shared value (CSV). Michael Porter and Mark Kramer then formulate CSV as a business strategy concept to emphasize the importance of place social issues and needs intocompany strategy planning. It includes communication, interaction with consumers via manyways and channels. The purpose of the research is to recognize how communication activities on creating shared value Nestle Indonesia and consumers is carried out. The research used Berlo communication theory, Innovation Diffusion theory, marketing communication, involvement, one-way and two-way communication, and cause related marketing (CRM). The type of the research was qualitative descriptive using grounded research approach and case study as the research method. The result of the research shows that there is a communication strategy in the essence of CSV business strategy of Nestle Indonesia. CSV of Nestle Indonesia consists of agroup of programs where they are derived from marketing communications mix which delivers a consistent message that company’s values are intersected with global consumer’s values (create value). The communication process between consumers and Nestle is a dialog of co-learning and co-creation experience by diffusing innovation and knowledge to customers. Furthermore, there is a co-enrichment, co-production activities inthe CSV activity chain. Key element of the process are relevant contact point, virtual and non-virtual community role, and the role of opinion leaders and formers by sharing responses where customers interact with other customers (C2C). Mass media is also an essential factor to brace the existing values in the CSV programs so that they are more acknowledged by a larger audience. An interconnected network then is built between one element and another creating a communication network.
Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Yuk Keep Smile dan Bentuk Parental Mediation dengan Perilaku Kekerasan Yang Dilakukan Anak Annisa Aulia Mahari; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi; Sri Widowati; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.15 KB)

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah didasarkan pada tingginya kekerasan yang dilakukan anak, salah satu faktor anak melakukan kekerasan itu adalah karena dampak dari televisi. Anak menonton tayangan dan mengadopsi perilaku yang mereka lihat dalam adegan tayangan tersebut. disini, tayangan Yuk Keep Smile merupakan tayangan yang memberikan dampak negatif. Yuk Keep Smile merupakan acara hiburan, namun di dalam adegannya sering ditemukan kekerasan verbal dan kekerasan fisik. Orang tua haruslah memberikan mediasi antara anak dengan televisi, sehingga anak tidak serta merta menirukan apa yang mereka lihat. Bentuk parental mediation manakah yang berhubungan dengan adopsi perilaku anak dari tayangan yang mereka tonton.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas menonton tayangan Yuk Keep Smile dan bentuk parental mediation dengan perilaku kekerasan yang dilakukan anak. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori belajar sosial dari Bandura dan diperkuat dengan teori Powerfull Berdasarkan data dari lapangan didapatkan hasil bahwa intensitas menonton tayangan Yuk Keep Smile cukup tinggi dan 61persen responden mendapatkan coviewing mediation. Anak yang mendapatkan coviewing mediation kecenderungan melakukan kekerasan cukup tinggi, anak yang mendapatkan active mediation kecenderungan melakukan kekerasan rendah dan anak yang mendapatkan restrictive mediation kecenderungan melakukan kekerasan cukup rendah. Populasi dalam penelitian ini adalah anak-anak yang berdomisili di Semarang yang berusia 6 - 12 tahun dan pernah menonton tayangan Yuk Keep Smile. Sampel yang digunakan non random dengan tekhnik accidental sampling dikarenakan jumlah populasi yang tidak diketahui dengan jumlah sampel sebanyak 60 responden. Untuk menguji hubungan variabel X1 dengan Y dan variabel X2 dengan Y maka digunakan uji analisis Korelasi Pearson, dan uji formula dengan Chi Square, sedangkan untuk menguji variabel X1 dan X2 dengan Y, digunakan uji analisis Korelasi Konkordansi Rank Kendall (Kendall’s W Test). Berdasarkan hasil penelitian maka semakin tingginya intensitas menonton tayangan Yuk Keep Smile dan mendapatkan coviewing mediation semakin tinggi kecenderungan perilaku kekerasan yang dilakukan anak.Kata kunci: dampak televisi dengan anak, parental mediation,kekerasan oleh anak.
PRODUKSI PROGRAM ACARA "MUSICAHOLIC" EDISI SPESIAL TALK SHOW METAL SEBAGAI PRODUCER Mahendra Zulkifli; Tandiyo Pradekso; Muchammad Bayu widagdo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.419 KB)

Abstract

NAMA : Mahendra ZulkifliNIM : D2C007051JUDUL : PRODUKSI PROGRAM ACARA "MUSICAHOLIC" EDISISPESIAL TALK SHOW METAL SEBAGAI PRODUCERABSTRAKSIAcara yang bertajuk tentang musik hampir ada di semua stasiun televisi, namunprogram musik yang saat ini marak bukanlah sebuah produk jurnalistik dan hanyamenayangkan aliran musik mainstrem. Aliran musik non mainstream jarang diangkatkarena dianggap tidak mampu mendongkrak rating, oleh karean itualiran musik nonmainstream menjadi altenatif produk jusnalistik yang menarik dan segar untukdiangkat, karena tema yang diambil tidak terpaku kepada kebutuhan pasar.Program talk show tentang musik metal dibuat untuk mengangkat komunitas musikmetal dibuat dengan memadukan antara informasi dan entertainment atau lebihdikenal dengan edutaiment.Secara umum ada empat tahap dalam pembuatan talkshow yaitu pra produksi dimulaidari mencari ide produksi sampai mempersiapkan director treatment, dan melakukanpersiapan dan latihan yang bersifat teknis bersama dengan kerabat kerja, pada tahapproduksi tugas yg di lakukan antara lain mengarahkan acara dan memastikan seluruhgambar dapat digunakan, dan diakhiri dengan mengevaluasi hasil kerja sertamemastikan layak siar.Adapun kendala yang dihadapi selama proses produksi adalah adanya pergantiannarasumber karena salah satu narasumber berhalangan hadir, adanya perubahanjadwal pelaksanaan produksi, karena keterbatasan waktu liputan maka VT diambildari file yang sudah ada sebelumnya. Untuk anggaran justru terdapat penghematanuntuk sewa pick up, fee narasumber, fee presenter, namun ada penambahan anggaranuntuk biaya editing.Setelah kita mengkaji tugas dan tanggung jawab serta peran seorang produser, disebutkanbahwa seorang produser mempunyai andil yang sangat besar dalam terbentuknya suatu teamproduksi, selain itu seorang produser juga harus mengontrol secara teliti kerja team produksidemi lancarnya program acara yang telah direncanakan. Yang tidak kalah pentinya bahwaseorang produser adalah orang yang mendanai atau membiayai pada program acara yangdirencanakanKata Kunci: talk show, musik metal, produserABSTRACTThere is a lot tv program who use musik as it theme, but the musik program that iscurrently emerging is not a product of journalism and only broadcast mainstremmusik. Non-mainstream musik genre rarely broadcasted because they are not able toboost ratings, that is why non mainstream musik become an attractive alternativejusnalistik products which is interisting and fresh to be appointed, because the themeis taken is not glued to the needs of the market.Talk show programs about metal musik is made to lift the metal musik communitycreated with combination of information and entertainment, better known byedutainment.Generally there is three stage on talkshow production that is pre-production startedfrom ideas inquiry until preparing director treatment dan doing preparation andrehearsal which is technically with production crew, at production stage task that hasto be done are directing program and ensure every picture can be used and endedwith evaluate and ensure the program can be broadcastedThe obstacles encountered during the production process is a change of speaker asone speaker was unable to attend, a change in schedule of production, due to thelimited time of coverage, the VT derived from pre-existing file. For budget there is asaving that come from pick up rental, speaker fees, presenter fees, but no additionalbudget for the cost of editing.After reviewing duties and responsibilities of the role of a producer, it is stated that aproducer has contributed greatly to the establishment of a production team, other thanthat a producer must also carefully control production team work for programs thathave been planned. it Is no less important that a producer is a person who fund orfinance the programs plannedKeyword : talk show, metal musik, producerPRODUKSI PROGRAM ACARA "MUSICAHOLIC" EDISI SPESIAL TALK SHOWMETAL SEBAGAI PRODUCERKarya BidangDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikPenyusunNama : Mahendra ZulkifliNIM : D2C007051JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUAN1.1 LATAR BELAKANGSaat ini dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa terlepas dari televisi.Dengan televisi kita bisa mendapatkan banyak informasi baik politik, sosial, budaya,agama dan ekonomi. Dari sekian banyak media komunikasi massa seperti surat kabar,majalah, radio, televisi dan internet ternyata televisilah yang paling diminati banyakkhalayak. Karena kelebihan televisi yang mampu menampilkan informasi secaramenarik melalui audio visual memudahkan khalayak untuk menerima informasisecara cepat dan mudah.Televisi sangat berperan dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya dalambidang pendidikan, pada waktu tertentu sesuai dengan masing-masing jadwal televisiswasta ataupun negeri, ditampilkan acara yang bertemakan pendidikan, seperti kuiscerdas cermat, debat ataupun seminar yang mendukung edukasi. Kemudian dalambidang ekonomi, kita bisa mendapatkan informasi tentang nilai kurs dollar dansebagainya. Sedangkan dalam bidang jurnalistik sendiri yang terus menyiarkan beritasesuai dengan perkembangan dunia. Apalagi dalam dunia entertainment yangsekarang mendominasi bisnis pertelevisian, begitu mudah untuk mengkomunikasikanapa saja yang dilakukan oleh para selebritis melalui acara infotainment.Musik adalah salah satu konten acara yang digemari oleh semua kalangan.Seiring dengan berkembangnya industri pertelevisian di tanah air, mulai bermunculanacara-acara yang bertajuk tentang musik hampir di semua televisi baik lokal maupunnasional seperti Inbox (SCTV), Dahsyat (RCTI), Spektakuler (Indosiar). Namunacara-acara musik tersebut dikemas sebatas dalam bentuk entertainment saja denganmenampilkan band, penyanyi dan juga video klip sehingga terkesan monoton dantidak variatif. Musik yang ditampilkanpun sebagian besar musik mainstream sepertipop, apalagi dengan adanya demam K-pop yang berasal dari Negara Korea membuatmusik-musik popular semakin sering ditayangkan.Bisa dibilang program musik yang saat ini marak bukanlah sebuah produkjurnalistik namun hanya sebagai pemuas kebutuhan masyarakat akan musik, karenadidalamnya tidak ada kegiatan menyiapkan berita, menulis, maupun mengedit sesuatuyang berupa catatan atau laporan sebuah kejadian. Seharusnya acara musik di televisidapat dikemas lebih menarik dengan memadukan unsur informasi, edukasi danhiburan yang sesuai dengan fungsi televisi itu sendiri .Pada dasarnya setiap manusia memiliki rasa keingintahuan yang cukup besarterhadap semua hal, tidak terkecuali terhadap aliran musik non mainstream yang saatini kurang diangkat oleh media, karena dianggap hanya disukai oleh segelintir orangdan kurang menguntungkan.Aliran musik non mainstream dapat menjadi altenatif produk jusnalistik yangmenarik dan segar untuk diangkat, karena tema yang diambil tidak terpaku kepadakebutuhan pasar dan memiliki tempat tersendiri dihati audiensnya khususnya bagipenggemar musik non mainstream. Mengingat selama ini musik-musik nonmainstream jarang diangkat pada produk-produk jurnalistik baik lokal maupunnasional, karena stasiun televisi maupun radio lebih fokus pada acara yang sesuaidengan kemauan pasar demi meraih rating tinggi atau sponsor dalam jumlah yangbesar.Musik metal diangkat sebagai tema acara karena selain memiliki penggemarfanatik juga mempunyai berbagai hal menarik yang belum diketahui oleh banyak,seperti: Musik metal yang rumit Tekhnik bermusik yang tinggi Aksi panggung yang eksploratif Jarangnya plagiarisme Lirik musik metal kebanyakan fiksional Musik metal mempunyai banyak sub-genre(http://www.jelajahunik.us/2012/06/6-hal-menarik-tentang-aliran-death.html)Seperti jenis musik ekstrim lainnya, keberadaan musik metal juga seringmemunculkan opini negatif dari masyarakat karena gaya hidup yang keras dan bebas,namun mereka tetap bisa bertahan dengan idealismenya hingga sekarang terutamadalam bermusik. Oleh karena itu musik metal menjadi layak dan menarik untukdiangkat sebagai tema program acara Musikaholic.1.2 TUJUANTujuan program talkshow dengan tema musik metal ini adalah inginmengangkat komunitas musik Metal di Semarang dan memberikan informasi kepadapemirsa mengenai perkembangan musik Metal di Semarang.Munculnya berbagai acara talkshow yang saat ini banyak digemari olehmasyarakat dan memiliki rating dan share yang cukup tinggi seperti Bukan EmpatMata (Trans 7), Hitam Putih (Trans 7), Kick Andy (Metro TV), Radio Show (TVOne) dan masih sedikit acara talkshow yang mengangkat musik sebagai tema utamaacara terutama musik non mainstream, melatar belakangi dibuatnya acara talkshowyang bertemakan musik metal.Acara ini memadukan antara informasi dan entertainment atau lebih dikenaldengan edutaiment. Secara konseptual program ini berisi informasi yang berguna danbermakna dibalut dalam konsep hiburan yang santai sehingga informasi lebih bisaditerima oleh pemirsa serta pemirsa tidak akan merasa jenuh. Kearifan lokal sebagaiunsur dari budaya nasional menjadi menarik untuk dipelajari jika dikemas dalamprogram yang menarik pula sehingga pemirsa memperoleh manfaat secara tidaklangsung dari program yang mereka lihat, dalam hal ini adalah masyarakat akan lebihmengetahui kehidupan komunitas musik metal di Kota Semarang pada khususnya,dengan informansi yang berimbang dari beberapa narasumber yang berkompeten,baik dari aspek positif dan aspek negatifnya. Hal ini sesuai dengan definisi dariprogram talkshow itu sendiri.Pesan yang ingin disampaikan program ini adalah agar audiens dapatmenikmati acara musik yang lebih variatif dengan memperhatikan fungsi jurnalistikdi dalamnya tanpa perlu memperlebar jurang perbedaan karena genre musik.1.3 SIGNIFIKANSI1.3.1 Akademis : Secara akademis, pembuatan acara Talk Show inidapat digunakan sebagai sarana untukmengaplikasikan ilmu yang sudah di dapat selamaperkuliahan. Khususnya di bidang pemrogramanpenyiaran dan produksi studio. Talkshow ini menjadisalah satu kontribusi jurnalistik dalam bentuk audiovisual.1.3.2 Praktis : Sebagai rujukan bagi pekerja media televisi dalammengemas sebuah acara yang mengangkat sesuatubersifat lokal pada televisi lokal.1.3.3 Sosial : Membuka wawasan masyarakat mengenai musik danbudaya metal. Diharapkan setelah adanya acara inimasyarakat lebih memahami musik metal dan budayametal secara historis.1.4 KONSEP ACARAMetal adalah suatu aliran musik yang mulai berkembang di dunia pada awaltahun 1970 an. Genre ini muncul dari aliran musik rock yang dikembangkan padabeberapa unsurnya. Mulai dari tempo musik yang lebih cepat, komposisi musik yanglebih keras, serta lirik-lirik yang semakin berani. Musik jenis ini lantas berkembangpesat dan terbagi dalam beberapa sub genre musik diantaranya Heavy Metal, DeathMetal, Black Metal, Trash Metal dan Grindcore.Istilah musik metal dicetuskan pertama kali oleh band Hard Rock tahun 1960an, Steppenwolf. Salah satu lagu mereka yang berjudul " Born To Be Wild", terdapatlirik yang berbunyi "I like smoke and lightning heavy metal thunder racin with thewind and the feelin that I'm under." Namun istilah tersebut masih belum diterapkansecara tepat pada komposisi musik dan lagunya, hingga kemudian band rock asalInggris, yakni Black Sabbath, merilis album yang juga berjudul "Black Sabbath" ditahun 1970 an. Album inilah yang dianggap banyak pengamat sebagai album metalpertama di dunia.(http://seputarinfomusik.blogspot.com/2012/04/sejarah-musik-metal-dunia.html)Musik metal berakar pada jenis musik underground yang sering didefinisikansebagai musik non mainstream, dimana perkembangannya bukan lewat mediapopuler tapi lebih sering menggunakan jalan "bawah tanah". Karya-karya merekajuga dipentaskan melalui konser-konser yang sifatnya tertutup. Gaya musiknya yangekstrim serta lirik yang berani menjadikan musik jenis ini hanya digemari olehkalangan tertentu.Program ini akan menarik audiens karena program ini termasuk programlimited edition dimana tidak semua media eletronik mau untuk mengangkat musiknon mainstream sebagai tema suatu program, sehingga audiens diharapkan dapatmemanfaatkan kesempatan ini untuk mengetahui lebih jauh tentang perkembangankomunitas metal yang ada di Kota Semarang pada khususnya.Keberadaan televisi lokal mungkin bisa menjadi alternatif untuk memberiwadah bagi kreatifitas para musisi metal. Mengingat televisi lokal tidak mutlakberorientasi pada keuntungan, tapi lebih menonjolkan unsur kearifan dan budayalokal. Dengan mengadakan talkshow tentang komunitas SBS pada khususnya danmusik metal pada umumnya, diharapkan bisa memberikan dampak positif bagiperkembangan musik metal di Semarang dan sekitarnya.Untuk mengangkat musik dan komunitas metal di Jawa Tengah khususnya diSemarang. Kami akan bekerjasama dengan salah stasiun televisi lokal di Semarangdalam proses produksi dan penayangan acara talkshow kami. Karena televisi lokalmemiliki kedekatan (proximity) dan target audience yang sesuai dengan acara kami.Televisi lokal Semarang yang akan kami ajak untuk bekerja sama adalah PROTV, dengan berbagai pertimbangan antara lain televisi ini belum pernah membuatacara talkshow yang membahas musik metal ataupun komunitas metal. Sebagai salahsatu televisi lokal yang ada di Semarang, keberadaan PRO TV telah diakui olehmasyarakat Semarang dalam menyajikan tayangan yang berlandaskan pada nilai-nilaikebudayaan Jawa Tengah namun dikemas dengan tampilan dan sajian yang lebihmodern dan segar. Hal ini menjadi salah satu point tersendiri bagi PRO TV untukbisa betahan di dunia pertelevisian di Semarang, yang notabene juga telah banyakmemiliki televisi lokal yang sejenis.Sebagai televisi berjaringan yang tergabung dalam satu wadah MediaNusantara Citra, PRO TV memiliki akses ke televisi lain, seperti RCTI, MNCTV, danGlobal TV. Selain menjangkau lebih banyak khalayak, hal ini juga dapatmemudahkan penyebaran informasi berita. Di Semarang sendiri, PRO TV dapatmembuktikan eksistensinya sebagai salah satu televisi lokal yang memang bertahandi Semarang. Sebagai saluran televisi pilihan masyarakat Semarang menghadirkanberaneka ragam program yang memberikan informasi lengkap bagi warga Semarangdisertai berbagai program Feature dan Entertainment yang bersifat edukatif, sampaiberagam program Talkshow dengan isu-isu terkini dari fenomena yang terjadi disekitar kita.Dalam bidang pendidikan, PRO TV juga menunjukkan kepedulian yang besar.Hal ini dibuktikan dengan crew PRO TV yang sebagian besar adalah kaum muda ataufresh graduate yang masih memiliki ide dan kreativitas yang segar sehingga bisamemberikan tayangan yang original dan menarik.Keunggulan yang dimiliki PRO TV adalah kedekatan dengan pemirsa yangdijalin melalui muatan lokal yang tinggi, dimana budaya dan kedekatan (proximity)membuat PRO TV mampu memberi porsi yang lebih bagi hal-hal yang disukai danyang ingin diketahui oleh masyarakat setempat. Namun, bila dibandingkan dengantelevisi lokal lain yang berada di Kota Semarang, PRO TV memiliki jangkauan yanglebih luas, dengan program-program acara yang lebih variatif didukung pula dengankualitas produksi dan sumber daya manusia yang lebih unggul.Selain itu PRO TV memiliki program acara Musikaholic yang sesuai dengankonsep acara kami. Acara ini berdurasi tiga puluh menit yang terbagi dalam 4 segmendalam setiap episodenya berisi liputan event konser musik yang telah berlangsung diKota Semarang, lengkap dengan informasi konser yang akan dilangsungkan di kotatersebut. Ditambah dengan ulasan musik dan video klip band lokal, dan jugadilengkapi dengan profil band yang telah diliput dan beragam video klip lagu top dariband mancanegara.Pada awalnya acara ini ditayangkan pada hari minggu pukul 18.30 WIB. Akantetapi pada awal Agustus 2012 karena adanya kebijakan manajemen dari pusatmengingat PRO TV memiliki dua slot siaran yaitu lokal dan nasional maka secaraotomatis manajeman harus memilah program yang mungkin disiarkan siang hari ataumalam hari dan untuk acara Musikaholic pihak manajemen memandang sebagai acarayang sifatnya fleksibel artinya bisa ditayangkan malam hari atau siang hari makaacara ini akan pindah tayang pada hari kamis pukul 22.30. Oleh karena itu kami inginmencoba konsep Talkshow edisi spesial metal pada program acara Musikaholic.Selain agar lebih variatif dan tidak membosankan juga bertujuan untuk menyesuaikandengan perubahan jam tayang.1.5 KONSEP PRODUKSI1.5.1 Produksi Talkshowa. Lokasi di studio indoor yang terletak di lantai 3 kantor PRO TV.Studio berukuran 10 x 12 m dengan daya lighting lampu flourescent 4bank sebesar 200 watt dilengkapi dengan standar peredam suara untukproduksi acara televisi.b. Tinggi lighting dengan lantai 3 meter, jarak lighting denan kamera 1,5meter.c. Produksi akan menggunakan 3 kamera, yakni 2 kamera dengan merkJVC GY-DV550, serta 1 kamera dengan merk JVC KY-F560. Khususuntuk presenter, kamera akan dilengkapi dengan teleprompter denganLCD 15’ dengan software EZ PrompterXPd. Untuk perlengkapan audio, presenter dan narasumber masing-masingakan menggunakan clip on dengan merk SONY ECM 77Be. Pergerakan dan variasi angel kamera akan di mix menggunakanswitcher 8 channel.f. Seluruh kamera akan diposisikan kurang lebih 4 meter dari obyekbidikan. Kamera 1 dan 2 akan bergerak dinamis mengikuti alur dialog,kamera 3 akan berfungsi sebagai kamera master dan cenderung statis.g. Properti acara akan menggunakan satu set meja kursi dengandilengkapi karpet berukuran 3 x 4m, background set yang terbuat darikayu dan didesain khusus untuk acara talkshow.h. Talkshow akan dipandu dengan presenter wanita yang mempunyaikarakter muda dan ceria. Presenter akan mengenakan setelan baju alakomunitas musik metal.i. Narasumber berjumlah 3 orang, yakni Bambang Iss (Pengamat Musikdan Musisi Senior Semarang), Rudy Murdock (Vokalis band "RadicalCorps"), Imam Putre (Ketua SBS (Scattered Brains Society) dangitaris band Putre Faction).PEMBAHASANProgram acara Musikaholic Edisi Spesial Talkshow Metal ditayangkan pada19 mei 2013 pukul 22.30 WIB setelah program acara Kriminal Sepekan dan sebelumprogram acara Impact Musik Grace & favor di stasiun PRO TV. Program iniberdurasi 30 menit yang terbagi menjadi 4 segmen yaitu segmen pembukaan,pembahasan tema segmen pertama dan pembahasan tema segmen kedua, sertadiakhiri dengan pembahasan tema pada segmen ke tiga dan closing pada segmen ke4. Setiap segmen diakhiri dengan commercial break yaitu iklan Hotel GrasiaSemarang, iklan program acara Lestari Budaya, iklan program acara GebyarCampursari, iklan program acara Dibalik Kasus dan iklan program acara Jateng HariIni untuk segmen pertama, iklan program acara Cerita Muda, iklan program acaraBintang Atmo, iklan program acara Rono Rene, iklan program acara Prime Topicuntuk segmen kedua, dan untuk segmen ke tiga iklan program acara Gitaran Sore-Sore, iklan program acara Mungkin Magic, iklan program acara Jejak Jelajah Wisata.Program ini menghadirkan 3 narasumber yaitu Bambang Iss sebagai tokoh musiksekaligus pengamat musik senior di Semarang, Imam Putre selaku ketua ScatteredBarins Society (SBS), dan Kancil sebagai pengganti Rudy Murdock yangberhalangan hadir, dengan Aliska sebagai host.Tujuan program acara Musikaholic Edisi Spesial Talkshow Metal ini adalahingin mengangkat komunitas musik Metal di Semarang dan memberikan informasikepada pemirsa mengenai perkembangan musik Metal di Semarang.Program talkshow ini diawali dengan penjelasan sejarah musik metal olehhost dimana host menjelaskan bahwa musik metal mulai masuk ke Kota Semarangpada akhir sekitar tahun 80 an, dengan berbagai sub genrenya seperti Heavy Metal,Trash Metal, ataupun Death Metal. Sebagai generasi pertama musik metal di KotaSemarang adalah Brutalator dan Syndrome, sampai akhirnya dibentuklah komunitasmusik metal dengan nama Scattered Barins Society (SBS) yang resmi berdiri padatanggal 25 April 1996 dengan basis di Semarang.Bambang Iss menyatakan bahwa istilah metal adalah perkembangan dariistilah Rock, pada tahun 60 an sampai 70 an muncul beberapa band yang mengusungaliran musik rock yang akhirnya disebut dengan istilah metal. Kancil menambahkanbahwa musik metal, rock dan trash mulai merambah Semarang pada tahun 90 an.Mulai masuk pembahasan tentang Scattered Barins Society (SBS), Kancilmenjelaskan bahwa Scattered Barins Society (SBS) muncul pada tahun 1995 – 1996an ketika aliran musik ekstrim mulai masuk ke Indonesia, setelah konser Spultura.Komunitas Scattered Barins Society (SBS) mulai terbentuk dari ajakan-ajakan untukngumpul yang dilakukan melalui selebaran, berawal dari ngobrol dan sharing yangdilakukan setiap jumat malam maka muncullah ide untuk untuk membentukkomunitas Scattered Brains Society (SBS). Kegiatan yang dilakukan Scattered BarinsSociety (SBS) meliputi gathering, live musik, dan workshop. Hal ini menunjukkanbahwa mereka jauh dari anggapan masyarakat bahwa komunitas metal lebihcenderung kearah negative seperti narkoba, kekerasan, dan lain-lain.Untuk keanggotaan Scattered Barins Society (SBS) Imam sebagai ketuamenyatakan tidak ada syarat khusus untuk menjadi anggota, hanya saja calon anggotaminimal mengerti apa yang disebut dengan ektrim metal. Beberapa anggota yangmemiliki band pernah merilis album baik indie maupun label seperti Morbiddustdengan label Jakarta, Syndrome dengan label Proton, Radical dengan label Bandung,The Killer of Gods, dan lain sebagainya.Sebagai penutup acara Imam menjelaskan tentang project selanjutnya dariScattered Barins Society (SBS) yaitu event bertema charity yang rencana akandilaksanakan pada tanggal 8 Juli yang hasilnya akan digunakan untuk membiayaianggota Scattered Barins Society (SBS) yang akan berangkat ke Eropa sebagai dutaseni.Acara ini diproduksi di dalam ruangan studio, setting studio menyesuaikandengan tema acara yang diangkat yaitu musik metal. Dengan menggunakan beberapaposter yang mempertegas unsur musik metal sebagai background, selain itumenggunakan properti lainnya seperti sofa untuk narasumber yang berwarna hitam,untuk tempat duduk host sendiri menggunakan kotak kayu agar memunculkan kesanbebas dan santai. Disamping itu terdapat sepasang gitar yang difungsikan sebagaipemanis dengan tujuan untuk menutupi ruang-ruang kosong yang menggangguestetika dan memperkuat kesan bahwa acara membahas mengenai musik.Untuk host dan narasumber dari awal disarankan menggunakan kaos berwarnahitam agar menimbulkan kesan yang “garang” karena hal tersebut bisa menjadi nilaiplus terkait dengan tema acara yaitu musik metal.Dalam pembuatan acara ini menggunakan 4 kamera yang bertujuanmemperkaya variasi gambar dan mendapatkan hasil yang maksimal, mengingat acaraini mengahdirkan tiga narasumber. Untuk mendapatkan gambar yang jernih tentunyadidukung dengan lightning lampu flourescent 4 bank sebesar 200 watt dilengkapidengan standar peredam suara untuk produksi acara televisi yang di posisikanmenyorot area panggung agar pada saat pengambilan gambar tidak terdapat bayanganyang menggangu agar gambar yang dihasilkan memuaskan. Penataan lampu sengajadibuat agak temaram atau remang namun tetap sesuai kaidah-kaidah penyiaran.Nuansa temaram dimaksudkan untuk mencerminkan musik metal yang merupakanmusik minoritas, tidak umum dan unik.PENUTUPPra Produksi Konsep acara yang ditawarkan menarik dan sesuai dengan fungsi PROTV sebagai televisi lokal, karena tema yang diangkat tidak terpakupada tren yang berkembang saat ini dan tidak semua media eletronikmau untuk mengangkat musik non mainstream khususnya musik metalsebagai tema suatu program. Apalagi dengan image PRO TV sebagaitelevisi lokal yang berkonsentrasi pada budaya lokal maka tema yangmengangkat komunitas metal asli kota semarang akan mempertegasimgae Pro TV sebagai televisi lokal yang mengutamakan konten dankearifan lokal. Hal ini sesuai dengan Visi PRO TV untuk membangundan menyuarakan kepentingan masyarakat Jawa Tengah dengan siarantelevisi yang profesional, menguntungkan, berkualitas, bertanggungjawab, beretika, berkeadilan yang berlandaskan keimanan danketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam proses produksi acara ini melibatkan banyak orang,denganberbagai pertimbangan seluruh kru produksi diambil dari pihak PROTV yang tentunya professional dibidangnya dan sudah terbiasabekerjasama dalam suatu tim sehingga lebih mudah dalam prosespedekatan dan pengintegrasian. Hal ini terbukti lebih efektif daripadamembentuk tim baru yang terdiri dari orang luar, karena belum tentuorang-orang tersebut memiliki pengalaman yang memadai dan dapatbekerjasama dalam tim Dengan perencanan yang matang dan negosiasi yang baik denganpihak televisi, sangat menetukan keberhasilan dalam memproduksisuatu acara Dari bugetingpun dapat kita lihat keberhasilan dalam memproduksiacara ini. terjadi penghematan biaya produksi dimana biaya yangdikeluarkan lebih kecil dari anggaran yang telah direncanakan.Produksi .Isi dari tayangan Musikaholic Edisi Spesial Talkshow Metal yangtelah diproduksi sesuai dengan tujuan awal dibuatnya acara ini.Dimana acara ini ingin mengangkat komunitas musik metal disemarang dan ingin memberikan informasi kepada pemirsa mengenaiperkembangan musik metal di semarang. Hal ini dapat kita lihat darihasil dialog dengan ketiga narasumber selama acara ini berlangsung.Para narasumber menjelaskan awal mula musik metal masuk kesemarang hingga dapat berkembang sampai sekarang, selain itumereka juga membahas bagaimana peran komunitas metal disemarang dengan berbagai kegiatanya dalam menghidupi danmempertahankan eksistensi musik metal di semarang. Setelah mengkaji tugas dan tanggung jawab serta peran seorangproduser, disebutkan bahwa sebagai produser mempunyai andil yangsangat besar dalam terbentuknya suatu team produksi, selain ituseorang produser juga harus mengontrol secara teliti kerja teamproduksi demi lancarnya program acara yang telah direncanakan.Yang tidak kalah pentingnya bahwa seorang produser adalah orangyang bertanggung jawab terhadap kebutuhan dan biaya program acarayang direncanakan.Pasca ProduksiDengan telah ditayangkanya acara Musikaholic Edisi Spesial Talkshow Metaldi PRO TV pada 19 Mei 2013 pukul 22.30 dan tanggapan positif baik dari pihak PROTV maupun pemirsa, secara khusus merupakan representasi capaian keberhasilanseorang produser dalam menjalankan tugas dan kesuksesan acara ini secara umum.DAFTAR PUSTAKABukuBurton, Graeme. Membincangkan Televisi (Sebuah pengantar Kepada Studi televisi).Yogyakarta. Jalasutra. 2007Arifirii, Eva. Broadcasting to be broadcaster. Yogyakarta. Graha Ilmu. 2010Djamal, Hidajanto dan Andi Fachruddin. Dasar-Dasar Penyiaran (Sejarah,Organisasi, Operasional, dan Regilasi).Jakarta. Kencana. 2011Santana.K, Septiawan. (2003). Jurnalisme Investigatif. Jakarta: Yayasan OborIndonesia.Subroto, Darwanto Sastro. Produksi Acara Televisi. Yogyakarta. Duta WacanaUniversity Press. 1994Team AnneAhira.com. Mengenal Dasar Jurnalistik Adalah Penting. Dikutip dariWahyudi.J.B. Dasar-Dasar Jurnalistik Radio dan Televisi.Jakarta: PT Pusaka Utama Grafiti.1996Wibowo, Fred. Dasar-dasar Produksi Program Televisi. Jakarta Rasindo. 1997InternetPujilaksono, Setiyo . Mengenal Lebih Jauh Tentang Televisi. Dikutip dariAsiaaudiovisualra09setiyopujilaksono’s BlogDwi Lestari, Kristina. Dasar-Dasar Jurnalistik. Dikutip darihttp://pelitaku.sabda.org/dasar_dasar_jurnalistik(Diakses tanggal 7 April2012)http://asiaaudiovisualra09setiyopujilaksono.wordpress.com/2009/07/06/mengenallebih-jauh-tentang-televisi/ (Diakses tanggal 8 April 2012)http://www.anneahira.com/jurnalistik-adalah.htm (Diakses tanggal 7 April 2012)http://www.indoreggae.com/artikel4.html (Diakses tanggal 7 April 2012)http://www.seputarinfomusik.blogspot.com/sejarah-musik-metal-dunia.html (diaksestanggal 7 April 2012) oleh Beje “Sejarah Musik Metal Dunia”Team AnneAhira.com. Dasar Sebuah Produk Jurnalistik. Dikutip dariwww.anneahira.com/produk-jurnalistik.htm (Diakses tanggal 7 April 2012)
PT. erudeye Indonesia’s Pazcal Cloud Launching Activity Report (Project Officer) Pipin F.P. Lestari; Djoko Setyabudi; Nurrist Surayya Ulfa; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.02 KB)

Abstract

PT erudeye Indonesia is a B2B company with a business model that is established in the information technology and focuses on cloud computing and enterprise services. In 2014, PT. erudeye Indonesia plans to develop cloud computing services Pazcal (Spazio & Scala), spazio means space, scala is scale which is intended for enterprise IT in the Jakarta. PT erudeye Indonesia through Pazcal product want to enter the cloud computing market in Indonesia because Indonesian enterprise needs for a large data storage. But, Pazcal has not received the awareness because the product is still new. Furthermore, cloud providers in Indonesia are also very numerous and varied so that Pazcal must have a difference of positioning. Therefore PT erudeye Indonesia wants to do the right marketing communication activities for the Pazcal product to get attention and has a position of products in the mind of the target market.The goal of marketing communications activities is to foster awareness and create product positioning as efficient and reliable cloud computing products. Pazcal message strategy arranges the analytical survey considerations, competitors, SWOT, and the theoretical framework which will be delivered by multiple tools at three stages of the implementation strategy of positioning. There are the building stage, the stage of providing education and strengthen the positioning stage in the form of online and offline campaign. At building positioning stage, the tools used are the interface design websites, articles, e-books, social media and media relations. Education stage, the tools used are articles, webinars "PaaS for Quick Development, Collaboration & Deployment" and the seminar "Rainbow Rendezvous: Boost Your Experience with Pazcal". While on the strengthen positioning stage, the tools used are a video testimony, webinar "PaaS for Quick Development, Collaboration & Deployment "and the seminar" Rainbow Rendezvous: Boost Your Experience with Pazcal ". Whole of that marketing communications activities are designed to support the goal of launching Pazcal cloud products.
Pengaruh Terpaan Berita Negatif Joko Widodo di Media Massa dan Faktor Demografi (Usia, Jenis Kelamin, dan Tingkat Pendidikan) terhadap Citra Joko Widodo sebagai Presiden RI Asty Setiandini; Joyo NS Gono; Much Yulianto; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.365 KB)

Abstract

Since Joko Widodo was officially elected as Indonesia’s President on November 2014, the news about Joko Widodo often became headlines in various mass media such as prints, online, or television. However, some survey results showed that the news about Joko Widodo tend to be negative. This negative news could affect the image of Joko Widodo as a President in the eyes of the public. Although the mass media have the power to influence the image, the response given by public for every information they got from mass media was different. It is influenced by their demographical factors like age, gender, and educational level because those factors could determine how people accepting and processing the messages given by mass media. This is a quantitative research with explanative type, which aims to determine the effect of negative news exposure about Joko Widodo in mass media and demographical factors (age, gender, and educational level) toward Joko Widodo’s image as Indonesia’s President. The theories used in this research are The Theory of Dependency Mass Communication Effect and Social Category Theory. This research used a purposive non random sampling technique and taken a sample of 100 people in Semarang. The primary data was analyzed using hierarchical multiple regression with the help of SPSS program. The statistical calculations showed that there is a direct effect of negative news exposure about Joko Widodo in mass media toward Joko Widodo’s image as Indonesia’s President with significance score 0.000 (<0.05). Meanwhile, negative news exposure about Joko Widodo in mass media toward Joko Widodo’s image as Indonesia’s President through age and gender showed significance score 0.426 and 0.337 but through the educational level obtained significance score 0.049 (<0.05). The result showed that there is an effect of negative news exposure of Joko Widodo in mass media toward Joko Widodo’s image as Indonesia’s President through educational level but there is no effect through age and gender.
Hubungan Persepsi Kecantikan Tradisional, Persepsi Kecantikan Ideal dan Citra Merek Kosmetik Sariayu dengan Minat Beli Produk Kosmetik Sariayu Aike Ingget Pratiwi; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 9, No 4: Oktober 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Although Sariayu cosmetic products have been established for a long time, in 2016 until 2020, Sariayu’s cosmetic products have a lower Top Brand Index (TBI) than its 2 competitors, Wardah and Viva. Furthermore in the last 2 years, some of the products are not included in the Top Brand. This result is not in accordance with the previous and current efforts done by Sariayu to promote its produtcs and values. Starts with being main sponsor at Miss Indonesia, Miss Earth Indonesia, launched some innovations, and created web-series. Researcher presumes that Top Brand Index (TBI) drop is not solely caused by the communication strategy made by Sariayu but the shifting meaning of beauty and value carried by Sariayu with what beauty mean in today's society. This research aims to explain the linkages between traditional beauty perceptions, ideal beauty perceptions, and Sariayu cosmetics brand image with Sariayu cosmetics purchase intention. This research uses quantitative research with explanatory research type. The population in this study is women who lives in Semarang City, aged 17-35 years, and know Sariayu’s cosmetic products. This study uses non-probabililty sampling techniques with 100 respondents. Chi Square is used as statistical test. The theories used as references are the Self Congruity Theory by Sirgy and The Consumer Decision-Making Theory by George E. Belch and Michael A. Belch. The result showed that there is no linkages between traditional beauty perception with Sariayu cosmetics purchase intention (significance value 0.098 > 0.05), there is linkages between the ideal beauty perceptions with Sariayu cosmetics purchase intention (significant value 0.000 < 0.05), as well as there is no linkages between Sariayu cosmetic brand image with Sariayu cosmetics purchase intention (significance value 0.077 > 0.05.).
Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub, Intensitas Komunikasi Politik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensi terhadap Partisipasi Politik Pemilih Pemula pada Pilgub Jateng 2013 Awang Asmoro; Tandiyo Pradekso; Muchamad Yulianto
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.667 KB)

Abstract

Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub,Intensitas Komunikasi Politik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensiterhadap Partisipasi Politik Pemilih Pemula pada Pilgub Jateng 2013ABSTRACTOn May 26th, 2013, people of Central Java implemented the Gubernatorial Election.Various campaigns conducted to gain public sympathy. However, the number of abstentions wasvery high, reaching 44 percent. On the other hand, youth voters have a significant impact to thesuccess of the elections, or the victory of candidate, based on the relatively large amount.Adolescents at 17-18 years old, which when the Central Java Gubernatorial Election 2013, theyvote for the first time, most of them live with a family and at that age are also often involved insome reference groups.This study used quantitative research methods and the type is explanatory research,which examines the relationship between variables through hypothesis testing. The populationused in this study were high school students, Madrasah Aliyah, and vocational high schools inSemarang city, with multistage random sampling technique. This study used logistic regressionas statistical test. This test is used when the dependent variabel have dichotomous scale.The results showed that exposure to the candidates’ campaigns has no effect on youthvoters political participation, while political communication intencity in the family and politicalcommunication intencity in the reference group both has influence on youth voters politicalparticipation. Opened campaign or through the media can’t reach youth voters effectively. Onthe other side, youth voters need some party (but not political party) to mobilize their politicalparticipation. So, this study suggested that the target of the campaign are families or groups whohave access to the youth voters. Family and reference group had a significant influence on thepolitical socialization process to the youth voters, so that will be more effective when the politicor campaign informations delivered through the socialization agents.Keywords : campaign, family, reference group, youth votersABSTRAKSIPada tanggal 26 Mei 2013, masyarakat Jawa Tengah melaksanakan pemilihan Gubernurdan Wakil Gubernur secara langsung. Namun, angka golput ternyata sangat tinggi, yaitumencapai angka 44 persen. Di sisi lain, pemilih pemula memiliki pengaruh yang cukupsignifikan bagi kesuksesan pemilihan umum, ataupun bagi kemenangan salah satu kandidat,mengingat jumlah yang relatif besar. Remaja pada usia 17-18 tahun, di mana pada saat PilgubJateng 2013 menjadi pemilih untuk pertama kalinya, sebagian besar tinggal dengan keluarga danpada usia tersebut juga sering terlibat dalam suatu kelompok referensi.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan tipe penelitianeksplanatori, yaitu mengkaji hubungan antar variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi yangdigunakan dalam penelitian ini adalah siswa SMA, MA, dan SMK di Kota Semarang, denganteknik multistage random sampling. Uji statistik yang digunakan adalah uji regresi logistik. Ujiini digunakan ketika variabel tetap berskala dikotomi.Hasil penelitian menunjukan bahwa terpaan kampanye Cagub-Cawagub tidakmempunyai pengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula, sedangkan intensitaskomunikasi politik di dalam keluarga dan intensitas komunikasi politik di dalam kelompokreferensi memiliki pengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula. Kampanye terbuka ataumelalui media tidak dapat menjangkau pemilih pemula dengan efektif. Di sisi lain, pemilihpemula membutuhkan pihak-pihak untuk memobilisasi partisipasi politik mereka. Untuk itu,disarankan agar kampanye dilakukan untuk menyasar keluarga atau kelompok-kelompok yangmemiliki akses kepada pemilih pemula. Keluarga dan kelompok referensi memiliki pengaruhyang signifikan dalam proses sosialisasi politik kepada pemilih pemula sehingga akan lebihefektif ketika informasi politik atau informasi kampanye disampaikan melalui agen-agensosialisasi tersebut.Kata kunci: kampanye, keluarga, kelompok, pemilih pemulaPENDAHULUANKomunikasi merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Pertukaran pesandilakukan di antara manusia melalui komunikasi. Fungsi komunikasi untuk mempersuasi banyakdijumpai dalam dunia politik. Komunikasi berperan sebagai penghubung antara pemerintahdengan rakyat. Di Indonesia, dengan sistem pemerintahan yang republik, di mana republikdengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilihlangsung oleh rakyat, maka komunikasi digunakan sebagai alat untuk mempersuasi masyarakatagar memberi dukungan kepada suatu pihak atau golongan. Salah satu bentuk nyata dukunganmasyarakat terhadap suatu pihak atau golongan adalah melalui pemilihan umum (pemilu). Dalampemilu, para kandidat berlomba-lomba memperoleh suara rakyat untuk bisa menduduki jabatantertentu dalam pemerintahan. Komunikasi dalam kegiatan ini berperan penting untukmempersuasi masyarakat. Salah satu strategi komunikasi untuk mempersuasi masyarakat adalahkampanye. Upaya perubahan yang dilakukan kampanye selalu berkaitan dengan aspek kognitif,afektif, dan behavior. Namun, di tengah maraknya kampanye politik yang dilakukan partaipolitik dalam pemilu di tahun 1999, 2004, dan 2009, didapat data bahwa partisipasi politikmasyarakat Indonesia dalam pemilu justru mengalami penurunan. Tidak hanya dalam Pemilu,rendahnya partisipasi politik masyarakat dalam Pilgub juga terasa. Data hasil Pilgub di beberapadaerah juga menunjukkan bahwa tingkat Golput masyarakat sangat tinggi, yaitu Jawa Tengahdengan tingkat Golput paling tinggi dari provinsi lain dengan 45,25 persen(http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1432).Keluarga sebagai lingkungan terdekat bagi seseorang memiliki peran yang cukup pentingbagi perkembangan seseorang. Dalam dunia politik, keluarga, terutama orang tua memilikiperanan untuk mengedukasi anaknya tentang politik. Tidak hanya melalui keluarga, pemilihpemula yang masih berusia remaja cenderung terlibat dengan kelompok referensi dalampergaulannya. Kelompok referensi dalam bentuk kelompok teman sebaya, kelompok diskusi, dankomunitas memiliki peran penting juga dalam kesuksesan pemilihan umum. Sosialisasi tentangpolitik juga dapat terjadi dalam kelompok referensi, di mana dengan keberadaan kelompokreferensi, informasi, dalam hal ini informasi politik yang diperoleh masing-masing anggota dapatdibagikan kepada anggota lain, sehingga menambah pengetahuan bagi anggota, sehinggaanggota dapat menentukan sikapnya terhadap politik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terpaan kampanye Cagub-CawagubJateng 2013, intensitas komunikasi politik di dalam keluarga, dan intensitas komunikasi politikdi dalam kelompok referensi terhadap partisipasi politik pemilih pemula dalam Pilgub Jateng2013.Tipe penelitian ini adalah eksplanatori. Tipe penelitian ini digunakan untuk menjelaskanhubungan (korelasi) antar variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi dalam penelitian iniadalah siswa SMA, MA, dan SMK di Kota Semarang. Data diambil dari Profil Pendidikan KotaSemarang Tahun 2012 dengan mengambil data kelompok usia 16-18 tahun. Pada tahun 2013,usia terkecil dalam kelompok usia tersebut akan memenuhi syarat usia sebagai pemilih dalampemilihan umum, maka anggota kelompok usia tersebut pada Pemilihan Gubernur Jawa Tengah2013 dianggap sebagai pemilih pemula. Jumlah anggota populasi ini adalah 50.419 orang.Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah multistage random sampling.Kerangka TeoriBeberapa studi menunjukkan bagaimana agenda kampanye mempengaruhi isu yangmenonjol di kalangan pemilih (Iyengar & Simon; Togeby, dalam Hansen, 2008: 8). Kampanyesebagai sarana komunikasi persuasi kandidat digunakan untuk mengarahkan isu yang menonjoldi kalangan pemilih sesuai dengan keinginannya. Misalnya, De Vreese (dalam Hansen, 2008: 9)menunjukkan bagaimana isu dari kampanye jajak pendapat menyebabkan pemilih mengevaluasikinerja politisi terhadap isu kampanye. Johnston dkk. (dalam Hansen, 2008: 9) menunjukkanbagaimana isu perdagangan bebas meningkatkan isu yang menonjol selama kampanye danbagaimana pemilih mengevaluasi kandidat berdasar pengaruh yang kuat terhadap perdaganganbebas pada pilihan mereka. Freedman dkk (dalam Hansen, 2008: 7) menemukan bahwa terpaankampanye meningkatkan ketertarikan politik, kesadaran, pengetahuan, dan kecenderungan untukmemilih.Para peneliti secara tradisional berkonsentrasi pada keluarga sebagai agen sosialisasi utama,menemukan bahwa diskusi politik di dalam rumah, partisipasi orang tua dalam pemilihan, dansumber daya politik secara signifikan berdampak pada partisipasi politik remaja (Verba dkk;Brady dkk, dalam Pacheco, 2008: 415). . Menurut beberapa ilmuwan, anak muda hanya memilihseperti pilihan orang tua mereka (Rundio; dalam Armstrong, dkk, 2008: 1). Misalnya, jika orangtua mereka Partai Republik, mereka cenderung memilih Partai Republik juga. Studi telahmenunjukkan bahwa arah politik dikalahkan oleh paksaan orang tua yang lebih banyak padatahun-tahun awal seseorang bergabung dalam pemilihan umum dan perlahan-lahan berkurang,selalu tersisa sedikit pengaruh (Jennings; dalam Gross, 2007: 6).Kelompok referensi adalah seseorang atau sekelompok orang yang mempengaruhi perilakuindividu secara signifikan (Bearden dan Etzel, 2001: 184). Dalam studi merek pilihan konsumen,Witt (dalam Bearden dan Etzel, 2001: 183-184) menegaskan studi nonmarketing pada awalnyamengindikasi bahwa kohesivitas kelompok mempengaruhi perilaku. Baron dan Byrne (dalamRakhmat, 2009: 149) berpendapat bahwa pengaruh sosial terjadi ketika perilaku, perasaan, atausikap kita diubah oleh apa yang orang lain katakan atau lakukan.Hipotesis1. Terpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 (X1) secara signifikan berpengaruhterhadap partisipasi politik pemilih pemula (Y).2. Intensitas komunikasi politik di dalam keluarga (X2) secara signifikan berpengaruh terhadappartisipasi politik pemilih pemula (Y).3. Intensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi (X3) secara signifikanberpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula (Y).PEMBAHASANRegresi logistik merupakan pendekatan untuk memprediksi, seperti regresi Ordinary LeastSquare (OLS). Namun, dengan regresi logistik, peneliti memprediksi hasil yang dikotomi, dalampenelitian ini adalah partisipasi politik pemilih pemula, dengan nilai 1 untuk kategoriberpartisipasi dan nilai 0 untuk kategori tidak berpartisipasi. Situasi ini menimbulkan masalahbagi asumsi OLS yang mengharuskan varians eror (nilai residual) terdistribusi normal.Uji parsial dilakukan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara individu mempengaruhivariabel terikat.TabelPartial TestB Sig. Exp(B)x1 -.085 .633 .918x2 1.085 .000 2.959x3 1.239 .000 3.454Constant -6.209 .000 .002Ho : β = 0 (Variabel x tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen)Ha : β ≠ 0 (Variabel x signifikan mempengaruhi variabel dependen)Kriteria pengujian: Jika nilai signifikansi < 0,05, maka Ho ditolak, Ha diterima. Jika nilai signifikansi > 0,05, maka Ho diterima, Ha ditolak.Hasil pengujian :Nilai signifikansi X1 = 0,633, berarti > 0,05Nilai signifikansi X2 = 0,000, berarti < 0,05Nilai signifikansi X3 = 0,000, berarti < 0,05Karena ada satu variabel yang tidak signifikan, maka dilakukan penghitungan ulang denganmembuang variabel yang tidak signifikan. Hasilnya sebagai berikut:TabelPartial TestB Sig. Exp(B)x2 1.078 .000 2.938x3 1.226 .000 3.409Constant -6.526 .000 .001Interpretasi Odds RatioKoefisien regresi pada regresi logistik sulit diinterpretasikan karena regresi logistik berbicaramengenai probabilitas. Maka digunakan angka odds ratio, di mana nilai odds ratio ditunjukkanpada kolom Exp(B).1. Exp(B1) = 2,938Artinya, semakin tinggi intensitas komunikasi politik di dalam keluarga yang dilakukanpemilih pemula, maka kecenderungannya untuk ikut berpartisipasi politik meningkat.Atau,Kecenderungan pemilih pemula yang mengalami intensitas komunikasi politik di dalamkeluarga yang tinggi untuk berpartisipasi politik dalam Pilgub Jateng 2013 meningkat 2,938kali lipat lebih tinggi dibanding pemilih pemula yang memiliki intensitas komunikasi politikdi dalam keluarga yang lebih rendah.2. Exp(B2) = 3,409Artinya, semakin tinggi intensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi yangdilakukan pemilih pemula, maka kecenderungannya untuk ikut berpartisipasi politikmeningkat.Atau,Kecenderungan pemilih pemula yang mengalami intensitas komunikasi politik di dalamkelompok referensi yang tinggi untuk berpartisipasi politik dalam Pilgub Jateng 2013meningkat 3,409 kali lipat lebih tinggi dibanding pemilih pemula yang memiliki intensitaskomunikasi politik di dalam keluarga yang lebih rendah.Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013, Intensitas KomunikasiPolitik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensi terhadap Partisipasi Politik PemilihPemula dalam Pilgub Jateng 2013Berdasarkan hasil analisis statistik, diketahui bahwa dari tiga variabel bebas yaitu terpaankampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013, intensitas komunikasi politik di dalam keluarga, danintensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi, variabel terpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 tidak berpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula. Dari hasilperhitungan, tidak terdapat cukup bukti untuk menerima hipotesis yang menyatakan bahwaterpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 berpengaruh positif terhadap partisipasi politikpemilih pemula.Zaller (dalam Evans, 2004: 201) berpendapat bahwa dari sudut pandang statistika, meskipunkita tahu dari perspektif dunia nyata bahwa terpaan kampanye memiliki efek pada bagaimanaorang-orang memilih (pemilu), belum ada yang formalisasi nyata dari efek kampanye karenasurvey dengan ribuan responden pun tidak cukup besar untuk mendeteksi efeknya. Selarasdengan hasil penelitian ini, bahwa terpaan kampanye yang diterima oleh kelompok pemilihpemula ternyata tidak memiliki pengaruh terhadap partisipasi politik pada pemilihan umum. Efekkampanye pada Pilgub Jateng 2013 tidak terlihat pada kelompok pemilih pemula, karena tidakmendapat cukup bukti yang mendukung hipotesis yang diajukan. Lebih lanjut, Newton (dalamFarrell dan Beck, 2004: 184) berpendapat, pemilih membentuk preferensi mereka atas dasarinformasi selain yang disediakan dalam kampanye, dan terhadap informasi ini, pesan bias yangdipikirkan oleh spesialis pemasaran tidak bisa menang. Artinya adalah bahwa pemilih,memutuskan pilihan mereka pada pemilihan umum bukan berdasar informasi yang diberikandalam kampanye. Sedangkan pesan-pesan yang telah disusun oleh tim sukses kampanye, tidakdapat menang melawan informasi yang diperoleh di luar kampanye. Dalam penelitian ini,sumber informasi lain diperoleh melalui diskusi politik dalam keluarga dan kelompok referensi,di mana keduanya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi politik kelompokpemilih pemula. Semakin intensif diskusi yang dilakukan, baik di dalam keluarga maupunkelompok referensi, maka akan semakin tertanam dalam benak pemilih pemula, yang kemudianmempengaruhi pandangan politiknya, sehingga partisipasi politiknya sebagai pengamatterbentuk berdasarkan pandangan keluarga maupun kelompok referensi.Berdasarkan seminar “Voting” (1954), oleh Bernard Berelson, Paul F. Lazarsfeld, danWilliam N. McPhee, dan “The American Voter” (1960), oleh Angus Campbell, Philip E.Converse, Warren E. Miller, dan Donald E. Stokes, pada penelitian terbaru, banyak ahliberpendapat bahwa keputusan pemilihan bergantung pada identifikasi partisan dan sosiologiyang sudah ada sebelum kampanye dimulai dan kampanye hanya mengaktifkan preferensi yangtersembunyi ini (dalam Mayer, 2008: 59). Jadi, dalam sebuah keputusan partisipasi pemilih,kampanye tidak memiliki pengaruh yang berarti, namun keputusan lebih dipengaruhi olehmisalnya faktor lingkungan dan pandangan pribadi terhadap kandidat, di mana hal ini sudahmulai berkembang di dalam benak kalangan pemilih sebelum dilakukannya kampanye. Kegiatankampanye diperlukan untuk hanya mengaktifkan ingatan tentang pandangan pribadi danlingkungan yang mempengaruhinya saat sebelum dilakukannya pemungutan suara. Kampanyedalam hal ini tidak lebih sebagai pengingat saja tentang kegiatan pemilihan umum, hal inimenggambarkan tidak adanya pengaruh yang diberikan kepada keputusan pemilih.Kelompok yang menolak perlunya kampanye politik, berpendapat bahwa hasil pemiluditentukan oleh kinerja pemerintah dan bahwa kampanye hanya berarti sedikit dalammenentukan hasil pemilu. Mengikuti tradisi klasik dari V.O. Key (dalam Maisel dkk, 2007: 3),peneliti tersebut menekankan model reward atau hukuman berdasarkan indikator pemerintahanyang sebenarnya, seperti perekonomian atau perang dan damai. Jika perekonomian berjalandengan baik dan masyarakat puas dengan kinerja keseluruhan pemerintahan saat ini, merekaharus memilih anggota partai tersebut, dan jika mereka tidak puas, mereka harus menghukumpartai tersebut dengan menolak memilih partai tersebut. Model demokrasi ini, menurut Popkin(dalam Maisel dkk, 2007: 3) hanya membutuhkan informasi dan pilihan yang minim sebagaibagian dari pemilihan umum. Pemilih tidak diharuskan mengikuti debat dengan sangat hati-hatiatau mencari detail dari program kerja kandidat. Sebaliknya, mereka hanya harus mampu menilaiyang telah dilakukan pemerintah saat ini. Sesuai dengan konsep tersebut, analisis berbasis kinerjacenderung berpikir bahwa kualitas kampanye, janj-janji kandidat, dan liputan media massa tidakberarti dalam menentukan hasil pemilihan umum. Permasalahan yang menonjol (seperti tingkatpengangguran, inflasi, dan lain-lain) adalah yang menggerakan pemilih (Beck dan Nadeau,dalam Maisel dkk, 2007: 3). Kegiatan kampanye, ditujukan untuk meraih simpati masyarakatagar memilih suatu partai atau kandidat dalam pemilihan umum, namun, berdasarkan uraian diatas, kampanye politik tidak berpengaruh terhadap keputusan pemilih dikarenakan pemilihmengambil keputusan berdasarkan kinerja kandidat. Kegiatan kampanye yang lebih berfokuspada penyampaian program kerja atau hiburan-hiburan tidak memiliki dampak signifikanterhadap keputusan pemilih. Pemilih pemula, yang sebagian besar pelajar, memiliki cenderungmemiliki sedikit waktu untuk mengakses informasi mengenai kinerja kandidat. Namun denganadanya keluarga dan kelompok referensi, di mana di antaranya memiliki pengetahuan danpenilaian terhadap kandidat, maka dalam diskusi yang melibatkan pemilih pemula, pemilihpemula akan dapat menilai kinerja kandidat berdasarkan informasi yang diperoleh dari keluargaataupun kelompok referensi. Semakin banyak pemilih pemula memperoleh informasi, makapemilih pemula akan lebih obyektif dalam menentukan pilihan.Chaffe dkk (dalam Nimmo 2006: 112-113) berpendapat anak dari keluarga yang mendorongpengungkapan diri dan penyingkapan gagasan politik yang bertentangan; sementara mengecilkanhubungan sosial yang berupa penghormatan dan yang konformis, cenderung lebihberpengetahuan tentang politik, lebih besar kemungkinannya terlibat dalam politik, lebih percayakepada politik, lebih realistik dalam mengagumi pemimpin politik, dan lebih menaruh minatterhadap politik dibandingkan dengan anak dari keluarga tipe yang lain. Dalam diskusi keluarga,semakin intensif komunikasi yang dilakukan dalam rangka membahas masalah politik danmelibatkan pemilih pemula, maka pemilih pemula yang cenderung aktif dalam diskusi, misalnyadengan mengutarakan pandangan politiknya, akan cenderung berpartisipasi dalam politik.Hirsch (dalam Nimmo, 2006: 113) menyebutkan bahwa kelompok sebaya memiliki pengaruhyang memperkuat dan mendukung pandangan politik anak sehingga politik benar-benar menjadimasalah pembahasan yang relevan. Nimmo (2006: 113) berpendapat bahwa kelompok sebayajuga mempengaruhi belajar politik sehingga mereka memberikan bimbingan melaluikeanggotaan dalam asosiasi sukarela, perhimpunan kewarganegaraan, atau dengan rekan kerja diperusahaan, serikat, buruh, atau tempat kerja yang lain. Karena orang biasanya masuk dalampandangan sendiri, maka kemungkinan asosiasi seperti itu mengubah opini politik menjadiberkurang. Meskipun tidak selalu demikian, kecenderungan yang umum ialah bahwa orangmenyesuaikan kepercayaan, nilai, dan pengharapan politiknya dengan kawan sebaya untukmemelihara persahabatan yang ditunjukkan dengan menjadi kawan sebaya.Menurut Huntington dan Nelson (dalam Arifin, 2011: 213), sifat partisipasi politik yangterlihat berdasarkan hasil penelitian cenderung kepada partisipasi politik yang dimobilisasi ataudigerakan oleh pihak lain (mobilized participation). Namun, berbeda dengan pendapatHuntington dan Nelson, penggerak partisipasi politik kelompok pemilih pemula bukan olehpartai politik, kandidat, tim sukses, atau pejabat pemerintah, karena terpaan kampanye tidakmempengaruhi partisipasi politik kelompok ini. Penggerak yang berpengaruh terhadap kelompokpemilih pemula adalah keluarga dan kelompok referensi. Keluarga dan kelompok referensitermasuk dalam lingkungan terdekat bagi kelompok pemilih pemula. Ini artinya bahwakeputusan kelompok pemilih pemula dalam pemilihan umum dipengaruhi oleh lingkungan yangada di dekatnya. Dengan intensitas komunikasi yang tinggi di dalam keluarga maupun kelompok,pemilih pemula mendapat pengetahuan politik yang mana pengetahuan tersebut berdasar padaperspektif masing-masing keluarga atau kelompok, artinya pengetahuan yang diberikan bersifatsubjektif. Berdasarkan hal tersebut, menurut Dan Nimmo (dalam Arifin 2011: 223-224)kelompok pemilih pemula ini cenderung masuk dalam tipe pemilih rasional. Kelompok pemilihpemula yang berpartisipasi cenderung melakukan diskusi mendalam tentang politik baik dengankeluarga maupun kelompok referensi. Pemberi suara rasional berminat secara aktif terhadappolitik, rasa ingin tahu yang dimiliki kelompok pemilih pemula menjadikan diskusi denganlingkungan terdekat sebagai sarana mendapatkan informasi, dalam hal ini adalah informasipolitik. Melalui diskusi, pemilih pemula dapat memperoleh cukup informasi untuk menentukanalternatif yang dihadapkan padanya, alternatif pemimpin Jawa Tengah periode 2013-2018. Motifpartisipasi yang terlihat dalam penelitian ini, menurut Dan Nimmo (2006: 129-130) yaitusengaja, diarahkan dari dalam, dan diarahkan dari luar. Motif sengaja, artinya bahwa pemilihpemula secara sengaja terlibat dalam diskusi politik yang kemudian akan meningkatkanpengetahuan politiknya dan dapat mempengaruhi pandangan politiknya. Motif diarahkan daridalam, artinya bahwa orientasi atau kecenderungan partisipasi politiknya diperoleh melaluibimbingan orang tuanya. Pemilih pemula dengan intensitas komunikasi politik yang tinggi didalam keluarga cenderung terpengaruh untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum. Yangketiga, motif diarahkan dari luar, artinya bahwa kecenderungan partisipasi pemilih pemula,selain dipengaruhi oleh keluarga, juga dipengaruhi lingkungan yang lebih luas, dalam hal iniadalah kelompok referensi. Diskusi politik yang terjadi dalam kelompok yang melibatkanpemilih pemula, cenderung mempengaruhi partisipasi pemilih pemula dalam pemilihan umum.Partisipasi pemilih pemula dalam Pilgub Jateng 2013 ini termasuk rendah, di mana sebanyak59% menyatakan tidak berpartisipasi dalam pemilihan umum. Ini menunjukkan bahwa motifyang ada dalam diri pemilih pemula kurang dibangun. Jika intensitas komunikasi politik didalam keluarga dan kelompok referensi berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderunganpartisipasi dalam pemilihan umum, maka ketika intensitas komunikasi politik di dalam keluargadan kelompok referensi rendah, pemilih pemula cenderung tidak berpartisipasi. Ini berarti motifdiarahkan dari dalam dan luar, kurang berkembang dalam diri pemilih pemula. Keluarga dankelompok referensi kurang bisa memaksimalkan perannya sebagai agen sosialisasi politik kepadapemilih pemula. Sedangkan pemilih pemula, juga kurang termotivasi untuk secara aktif mencariinformasi politik sehingga kecenderungan partisipasinya rendah.PENUTUPBerdasarkan hasil analisis data menggunakan regresi logistik, maka dapat disimpulkansebagai berikut:1. Tidak terdapat pengaruh terpaan kampanye Cagub-Cawagub terhadap partisipasi politikpemilih pemula. Beberapa jawaban atas temuan ini yaitu antara lain, kegiatan kampanyeyang ditujukan kepada kelompok pemilih pemula sedikit, hal ini menyebabkan terpaan yangdiperoleh cenderung rendah, sehingga pengetahuan yang dimiliki pemilih pemula tentangkandidat juga minim. Kegiatan kampanye yang umum dilakukan seperti kampanye terbukadan melalui media massa maupun media luar ruang tidak dapat menjangkau kalangan remaja.2. Terdapat pengaruh yang signifikan dari intensitas komunikasi politik di dalam keluargaterhadap partisipasi politik pemilih pemula.3. Terdapat pengaruh yang signifikan dari intensitas komunikasi politik di dalam kelompokreferensi terhadap partisipasi politik pemilih pemula.4. Partisipasi politik pemilih pemula cenderung rendah dan hal itu lebih dipengaruhi padaintensitas komunikasi politik di dalam keluarga dan kelompok referensi yang cenderungrendah juga.Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:1. Para calon yang tampil dalam pemilihan umum, agar melakukan kampanye dengan cara lainuntuk menyasar pemilih pemula, hal ini karena dengan kegiatan kampanye yang telahdilakukan seperti kampanye terbuka, melalui media massa maupun media luar ruang, tidakdapat mempengaruhi partisipasi mereka. Untuk itu, disarankan agar melakukan kampanyemelalui agen sosialisasi bagi pemilih pemula atau remaja, yaitu keluarga dan kelompokreferensi, hal tersebut bisa menjadi alternatif yang efektif untuk menjangkau pemilih pemulaatau remaja.2. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pihak penyelenggara pemilihan umum bersamapemerintah, agar memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnyapendidikan politik bagi anak muda.3. Keberadaan keluarga dan kelompok referensi, sebagai lingkungan terdekat dan sebagai agensosialisasi bagi pemilih pemula, berpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula.Maka, keluarga dan kelompok referensi sebaiknya lebih aktif mengajak anak berkomunikasidan berdiskusi tentang politik, sehingga terjadi keterbukaan antar anggota keluarga danpemilih pemula dapat meningkatkan pengetahuan politik.4. Keberadaan pemilih pemula sebagai bagian baru dalam dunia politik memiliki peran pentinguntuk ikut membangun bangsa, maka pemilih pemula sebaiknya lebih aktif dan tertarik padadunia politik. Pemilih pemula sebaiknya terbuka terhadap informasi politik yang diterimabaik melalui media massa maupun dari orang lain. Hal ini sangat berguna untukmengembangkan pengetahuan politik para pemilih pemula.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. 2011. Komunikasi Politik: Filsafat-Paradigma-Teori-Tujuan-Strategi danKomunikasi Politik Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu.Armstrong, Abbigail dkk. 2008. Examining Trends in Youth Voting: The Effect of Turnout,Competition, and Candidate Attributes on 18-24 Voters from 1974-2004. University ofEvansville.Bearden, William O. dan Michael J. Etzel. 1982. Reference Group Influence on Product andBrand Purchase Decisions. Journal of Consumer Research: Volume 9.Evans, Jocelyn A.J. 2004. Voter & Voting: an Introduction. London: Sage Publications.Farrell, David M. dan Rudiger Schmitt-Beck. 2004. Do Political Campaigns Matter? CampaignEffects in Elections and Referendums. New York: Routledge.Gross, John. 2007. The Influence of Parents in the Voting Behavior of Young People: A Look atthe National Civic and Political Engagement of Young People Survey and the 2008Presidential Election. Public Opinion and Survey Research.Hansen, Kaper M. 2008. The Effect of Politial Campaigns: Overview of the Research OnlinePanel of Electoral Campaigning (OPEC). University of Copenhagen.Maisel, L. Sandy, Darrell M. West, dan Brett M. Clifton. 2007. Evaluating Campaign Quality:Can the Electoral Process be Improved. New York: Cambridge University Press.Mayer, William G. 2008. The Swing Voter in American Politics. Washington: The BrookingInstitution.Nimmo, Dan. 2006. Komunikasi Politik: Khalayak dan Efek. Bandung: Remaja Rosdakarya.Pacheco, Julianna Sandell. 2008. Political Socialization in Context: The Effect of PoliticalCompetition on Youth Voter Turnout. USA: Springer Science+Business Media.Rakhmat, Jalaluddin. 2009. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1432
Co-Authors Achmad Habibie Taufiqqur Rahman Adi Nugroho Adinda Sekar Cinantya Aditia Nurul Huda Aditya Iman Hamidi Adityo Cahyo Aji Afif Hazly Hasibuan Agraha Dwita Sulistyajati Agus Naryoso Ahda Hanif Fauzi Ahmad Fauzi Ahmad Fikar Harakan Aike Ingget Pratiwi Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Ajeng Rengganis, Sekar Albert Rivai Sinaga Aldi Atwinda Jauhar Aldiansyah, Duvit Aldila Leksana Wati Alexandra Parahita Bening Kesumaputri Alif Ibrahim Alya Anwar, Rizqika Alyssa Jasmine Aurelia Rahmiqatrunnada Amrina Rida Hapsari Ananda Erfan Musthafa Andrea Oktavia, Helga Anggi Pramesthi Kusumarasri Anggia Anggraini Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annisa Aulia Mahari Annisa Kusumawardhani Annisya Winarni Putri Aprida Mulya, Resti Ardelia Fitriani, Neysa Ardini Koesfarmasiana, Ardini Arfika Pertiwi Putri Arif Nurochman Arinda Putri Oktaviani Aryatama Wibawa, Michael Asep Virgo Asri Aulia Rachmawati Asri Nugraheningtyas Astrid Damayanti Asty Setiandini Atika Nabila Atina Primaningtyas Aulia Nur Awang Asmoro Ayu Puspitasari, Ramadhiana Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Azzahira Putri Zakaria, Grandhis Badri Ilham Ramadhan Bagoes Praswanda, Yusrizal Banun Diyah Ardani Bareta Hendy Pamungkas Bayu Widagdo, Muhammad Bella Yunita Binarso Budiono Budiono Bisma Alief Charisma Rahma Dinasih Chintya Dyah Meidyasari Daffa Satriowibowo Daniel Dwi Listantyo Dara Pramitha Darda Putranto, Addakhil Deansa Putri Deni Arifiin Destima Nursylva Anggraningrum Devi Pranasningtias Indriani Dhira Widya Prasya, Dhira Dhiyah Puspita Sari Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Muhammad Distian Jobi Ridwan Diyan Hafdinovianti Ayu Kinasih Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dwi Mulya Ningsih Dwi Purbaningrum Eggie Nurmahabbi Eka Ardianto Farasila, Iraisa Farisa Dian Utami Fariz Dewanto Fatma Izzatussayidati Febri Ariyadi Febriana Handayani Febriandani, Anisa Fitriyani, Putri Frida Asih Pratiwi Galuh Perwitasari Ghaliyah Julya Almira Ghana Pratama, Albert Ghela Rakhma Islamey Ghita Kriska Dwi Ananda Gilang Wicaksono Hajar Azizatun Niswah Hamidah, Nadiya Handi Aditia Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hardiyanto, Muhamad Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrikus Setya Pradhana Henny Novita Rumono Hilda Maisyarah I Nyoman Winata I Nyoman Winata Ibrahim Muhammad Ramadhan Ichsan Wahyu Pratama Imam Muttaqin Indah Puspawardhani Indra Septia BW Infra Ranisetya Intan Mashitasari Ira Astri Rasika Jaya Pramono Adi Jimmy Fachrurrozy Jody Suryamar Yudha Joyo Nur Suyanto Gono Kanaya Az Zahrah Karunia Yusuf, Kevin Kembang Soca Paranggani Khairani, Indah Khairunnisya Sholikhah Kinanati Bunga Wulansari Krisna Adryanto Lintang Jati Rahina Lintang Ratri Rahmiaji LISTIANTO HINDRA PRAMONO Lizzatul Farhatiningsih Lucia Eka Pravitasari Luh Rani Wijayanti M Bayu Widagdo Maharani Easter Mahendra Zulkifli Manggala Hadi Prawira Marcia Julifar Ardianto Marsha Fildzaishma Marshanda Putri, Tyara Martia Mutiara Tasuki Marwah Gayatri Purnado Maya Lestari Melinda Wita Satryani Meriza Lestari Meta Detiana Putri Mohammad Akbar Rizal Hamidi Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yulianto Muchammad Bayu widagdo MUHAMMAD ABDUSSHOMAD Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Bayu widagdo Muhammad Fadhel Raditya Muhammad Rofiuddin Muhamy Akbar Iedani Muliawati, Ditha N S Ulfa Naafisa Maulida Pratama Nabila Rezki, Anisa Nadia Dwi Agustina Nadia Hutaminingtyas Nanik Sudaryningtyas, Nanik Naura Kamila Prasetyanti Nicho Putera Gustantyo Nidya Aldila Nikita Putri Mahardhika Nikolas Prima Ginting Ninda Nadya Nur Akbar Noni Meisavitri Novi Rosmaningrum NS Ulfa Nungki Dwi Widyastuti Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nur Shafira, Hana Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurist Surrayya Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Avita Sari Nurwijayanti Otto Fauzie Haloho Pipin F.P. Lestari Prabowo Nurwidagdyo Pranamya Dewati Prescilla Roesalya Primada Qurrota Ayun Pungkas Dwitanto Purwoko, Agus R. Sigit Pandhu Kusumawardana Radika Oktavianti, Dina Raihan Triaffandra Ramadhan, Maulana Ramadhinda, Azzahra Randyani Rarasati Raymond Soelistiono Filemon Raynaldo Faulana Pamungkas Reichan Anantyo, Muhamad Resty Widyanty Revana Meylani Rhola Bachtiar Raharjo Rifki Nur Pratiwi Rifqah Nailah Rijalul Vikry Rizka Amalia Rizka Arsianti Rizky Amalya Hadiningtyas Rizqi Ganis Ashari Rohedy Ayucandra Rohmat Pambudi Roli Harni Purba, Juita Rony Kristanto Setiawan Rosita Kemala Sari Rosyada Setijawan, Amrina Rumi Aulia Rahmanisa S Rouli Manalu Safira Nurin Aghnia Santa Cicilia Sinabariba Septian Aldo Pradita Septiana Hadiwinoto, Jessica Septiana Wulandari Suparyo Setyabudi, Gunawan Shafira Inas Nurina Shahnaz Natasha Anya Sigit Haryadi Sofi Kumala Fatma Sofianisa Rahmawati Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tan Faizal Rachman Tasya Nadia Taufik Indra Ramadhan Taufik Reza Ardianto Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Teresia Kinta Wuryandini Theresia Dita Anggraini Thriyani Rahmania Titan Armaya Tiur Agata, Elisa Tjen Jocelyn Ivana Tri Muriati Harahap, Anggi Tri Utami Triangga Ardiyanto Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Uci Andriani Veriska, Veriska Vicho Whisnurangga Vinny Avilla Barus Wahyu Aji Hernawan, Dhimas Wahyu Kuncoro Aji, Danar Wahyu Nur R, Efrilia Wahyu Widiyaningrum Widya Andhika Aji Wina Natasya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yanu Angga Andaru, Yanu Yanuar Luqman Yoga Yuniadi Yohanes Rico Ananda Putra, Yohanes Yuan Stephanie Yuliantika Hapsari Yunita Indriyaswari Yusriana, Amida YUSUF AKBAR, MUHAMMAD Zainul Asngadah Fatmawati Zelda Elsa Khabibah Zulfikar Mufti