Claim Missing Document
Check
Articles

Efektifitas Terpaan Publisitas Kegiatan Filantropi PT Sido Muncul dan Brand Trust Terhadap Loyalitas Konsumen Tolak Angin di Kota Semarang Teresia Kinta Wuryandini; Tandiyo Pradekso; Wiwid Noor Rakhmad; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.649 KB)

Abstract

Loyalitas konsumen Tolak Angin dapat dikatakan rendah, oleh karena itu PT SidoMuncul melakukan berbagai kegiatan untuk mendekatkan Tolak Angin pada masyarakat,salah satunya adalah dengan melakukan kegiatan filantropi dan menumbuhkan kepercayaankonsumen akan merek Tolak Angin. Lalu, seberapa besar efektifitas terpaan publisitaskegiatan filantropi PT Sido Muncul dan brand trust terhadap loyalitas konsumen TolakAngin di Kota Semarang?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji seberapa besar efektifitas terpaanpublisitas kegiatan filantropi PT Sido Muncul dan brand trust terhadap loyalitas konsumenTolak Angin di Kota Semarang.Boundary Spanning Public Relations Theory dan Commitment-Trust Theorydigunakan untuk menjelaskan efektifitas terpaan publisitas kegiatan filantropi PT SidoMuncul dan brand trust terhadap loyalitas konsumen Tolak Angin di Kota Semarang.Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen Tolak Angin di Kota Semarang yang terterpapublisitas kegiatan filantropi yang dilakukan oleh PT Sido Muncul yang diambil sebanyak 50orang, dengan teknik purposive sampling.Analisis Regresi Linear Berganda digunakan untuk melakukan uji hipotesis. Ujihipotesis menunjukkan nilai signifikansi variabel terpaan publisitas kegiatan filantropi PTSido Muncul adalah 0,158 atau lebih besar dari α (0,05), sehingga terpaan publisitas kegiatanfilantropi PT Sido Muncul tidak mempengaruhi loyalitas konsumen Tolak Angin di Kotasemarang. Sedangkan, nilai signifikansi variabel brand trust adalah 0,000 atau lebih kecildari α (0,05), sehingga brand trust mempengaruhi loyalitas konsumen Tolak Angin di KotaSemarang.Variasi variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh kedua variabel independenadalah sebesar 34%, brand trust memberikan sumbangan relatif sebesar 32, 7% dansumbangan efektif sebesar 11,11 %.
HUBUNGAN MENGAKSES MEDIA MASSA DENGAN ADOPSI OLAHRAGA FLAG FOOTBALL Agraha Dwita Sulistyajati; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.751 KB)

Abstract

Berdasarkan pada teori Powerfull Effect, penelitian ini berasumsi bahwa terdapat hubungan antara media massa dengan adopsi olahraga. Peneliti bertujuan untuk menentukan hubungan intensitas membaca komik Eyeshield 21, intensitas menonton film Hollywood yang memuat olahraga American Football, dan intensitas memainkan video game Madden NFL dengan adopsi olahraga Flag Football. Target penelitian adalah 83 orang anggota komunitas Indonesian Flag Football Association di Semarang. Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dan menggunakan uji normalitas dengan uji Kendall’s Tau-b untuk memeriksa hubungan diantara variabel.Hasil data menunjukkan bahwa intensitas membaca komik Eyeshield 21 tergolong tinggi. Intensitas menonton film bertemakan American Football tidak terlalu tinggi. Sedangkan Intensitas memainkan video game Madden NFL terbilang rendah. Meskipun begitu, intensitas mengadopsi olahraga Flag Football tergolong tinggi. Mayoritas responden memainkan olahraga Flag Fooball.Uji normalitas menunjukkan bahwa data pada penelitian ini tidak berdistribusi normal, sehingga peneliti menggunakan analisis non parametrik. Uji korelasi menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara komik Eyeshield 21 dan adopsi olahraga Flag Football. Sebaliknya, film bertemakan olaharaga American Football dan video game Madden NFL memiliki hubungan dengan adopsi 2olahraga Flag Football, meskipun hubungannya lemah. Hasil ini mengungkapkan bahwa media tidak memiliki efek powerfull di setiap kondisi. Pada beberapa kasus, media hanya memberi implikasi kecil kepada khalayak. Orang juga lebih mempercayai kerabat dekat dibandingkan media. Peneliti menggunakan teori minimalis efek dan teori kontrol sosial untuk menjelaskan temuan penelitian.Keyword : intensitas, media, komik, film, video game, hubungan, adopsi, olahraga
Audit Media Relations Humas Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah untuk Peningkatan Publisitas Lizzatul Farhatiningsih; Tandiyo Pradekso; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.895 KB)

Abstract

Nama : Lizzatul FarhatiningsihNIM : D2C009011Judul : Audit Media Relations Humas Sekretariat Daerah ProvinsiJawa Tengah untuk Peningkatan PublisitasABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi karena kurang berperannya Biro HumasSetda Jawa Tengah dalam melakukan fungsi kehumasan terhadap PemerintahProvinsi Jawa Tengah. Humas telah melakukan banyak kegiatan namun efeknyapada pemberitaan tentang Pemerintah Provinsi yang muncul belum terasa. Namunkesesuaian melakukan banyak kegiatan tersebut belum diimbangi denganpemberitaan-pemberitaan positif yang muncul di media massa baik cetak maupunelektronik. Hal tersebut menyebabkan terjadinya aksi di masyarakat yangmemperburuk citra Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.Metode yang digunakan adalah metode audit komunikasi. Tipe penelitianini adalah tipe penelitian deskriptif, di mana tipe penelitian ini terbatas pada usahamengungkapkan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan bertujuanuntuk membuat deskripsi gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, danakurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena ataukegiatan yang dilakukan oleh Biro Humas Setda Provinsi Jawa Tengah yangberkaitan dengan media relations. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalahteknik wawancara mendalam kepada delapan orang yang terdiri dari pimpinan danstaf Biro Humas serta wartawan baik dari media massa cetak maupun elektronikyang berkaitan dengan Humas.Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa kinerja Humas Setda JawaTengah belum efektif. Kegiatan media relations yang dilakukan masih terbataspada kegiatan yang biasa dari tahun ke tahun mereka lakukan. Padahal,semestinya Humas mampu memahami, memiliki pengetahuan yang terusberkembang dan maju, serta melakukan lebih dari itu. Hal ini dikarenakanbanyaknya ketimpangan yang terjadi di Humas. Pemahaman mengenai mediarelations masih menitik beratkan pada fokus tujuan Humas saja yaitu untukmendapatkan publisitas, pemahaman mengenai tools media relations yang belumberkembang, belum adanya SDM yang kompeten dalam melaksanakan tugaspokok dan fungsi, minimnya anggaran, dan kewenangan yang terbatas membuatkinerja Humas menjadi kurang efektif. Dengan hasil audit komunikasi ini, pihakPemerintah Provinsi Jawa Tengah terutama Sekretariat Daerah Jawa Tengah perlumelakukan perbaikan terhadap fungsi maupun kewenangan Humas agar kinerjaHumas menjadi lebih efektif dan meningkatkan publisitas positif di media massa.Kata kunci: Audit Komunikasi, Media Relations, Public Relations, Publisitas.Nama : Lizzatul FarhatiningsihNIM : D2C009011Judul : Media Relations Audit of Public Relations in Region SecretariatCentral Java Province for Increasing The PublicityABSTRACTThis research is backgrounded of less contribution from Public Relations RegionSecretary Central Java Province when they do their function. Public Relationshave been doing many activities but the effect in news mass media about theGovernment of Central Java Province is nothing yet. However, doing moreactivity is not balance with appearing the good news in mass media, both printand electronic media. It causes many actions in society that make the bad imageof Government of Central Java Province.Communications audit methods is used in this research. Reseacher usesdescriptif research type that this research limited to the efforts to reveals aproblem or situation as it is and aims to create a picture or description of thepainting in a systematic, factual, and accurate information on the facts,characteristics, and relations between phenomena or activities conducted byPublic Relations in Region Secretariat Central Java Province related to mediarelations. In this research, used indepth interview technique to collect theinformation to eight people that consist of head, leader, staf of Public Relationeither reporters from print and electronic media.The outcomes from this research is the activity in Public Relations RegionSecretariat Central Java Province is not effective. Media relations activity thatconducted are limited to their annual activity. Besides, Public Relations should beable to understand, develop the knowledge, and do more than it. It is caused muchunbalances in Public Relations. Understanding of media relations is still focusedon the goal of Public Relations is only to get publicity, undevelop ofunderstanding media relations tools, nothing humans resources that competencewith main duty and functions of Public Relations, minimum budgeting andfacilities, and limited authority that makes the performance of Public Relations isnot effective. The outcome of this communication audit, Central Java Province,espescially Region Secretariat of Centra Java need an improvement in PublicRelations’function and competence. In order to make Public Relations’s task bemore effective and increasing positive publicity in mass media.Keywords: Communication Audit, Media Relations, Public Relations, Publicity.JURNALAudit Media Relations Humas Setda Jawa Tengah untukPeningkatan PublisitasLIZZATUL FARHATININGSIHD2C009011JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANKeberadaan Public Relations atau Humas sangat dibutuhkan olehperusahaan-perusahaan maupun instansi pemerintah. Fungsi-fungsi dan tugastugasHumas sangat menunjang kelangsungan hidup dan mempengaruhi citra darisuatu instansi pemerintah. Humas merupakan suatu profesi dengan proseskomunikasi kepada publik atau dengan kata lain Humas menghubungkan antaralembaga/instansi dengan publiknya baik eksternal maupun internal. Dalamkonteks lembaga publik seperti pemerintah, peran melayani dan mengembangkandukungan publik guna mencapai tujuan organisasi merupakan hal yang sangatpenting. Pemberitaan yang beredar mengenai instansi pemerintah merupakansalah satu tanggung jawab besar bagi Humas.Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah (Setda ProvJateng) merupakanunsur pembantu pimpinan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dipimpin olehSekretaris Daerah, berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur.Sekretariat Daerah Provinsi bertugas membantu Gubernur dalam melaksanakantugas penyelenggaraan pemerintahan, administrasi, organisasi dan tata laksanaserta memberikan pelayanan administrasi kepada seluruh Perangkat DaerahProvinsi. Divisi Humas Setda Jateng bertugas memberikan informasi danpenjelasan mengenai kebijakan-kebijakan yang akan atau telah dilakukan olehpemerintah/instansi, menciptakan hubungan yang harmonis antara pemerintahdengan publiknya. Untuk dapat melakukan tugas-tugas tersebut Humas harusmelakukan berbagai macam kegiatan komunikasi yang berbeda untuk masingmasingpublik, baik internal maupun eksternal.Media massa memegang peran dalam tugas Humas tersebut karena mediamassa dapat menimbulkan kesadaran terhadap sesuatu, mempersuasi ataumengajak untuk melakukan hal tertentu, serta mengubah sikap, pendapat, atauperilaku seseorang. Menurut Wasesa dalam Political Branding and PublicRelations (2011 : 18) agar suatu citra sebuah merek baik komersial maupunpolitik dapat melekat di benak konsumen atau audiens, perlu dilakukanrehabilitasi setiap 3 bulan sekali agar loyalitas konsumen pun tercipta. Haltersebut dapat diartikan menjadi institusi pemerintah, khususnya Humas SetdaJateng perlu melakukan pembaharuan, pencerahan, analisis, atau evaluasi di setiap3 bulan untuk dapat mempertahankan loyalitas dalam hal ini adalah loyalitaspihak-pihak eksternal terhadap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, seperti pers danmasyarakat.Pemerintah Provinsi Jateng yang dipimpin oleh Gubernur Bibit Waluyobanyak menuai prestasi selama melaksanakan tugas memimpin Jawa Tengah,akan tetapi, pemberitaan mengenai prestasi yang diraih oleh Pemerintah ProvinsiJawa Tengah tersebut rupanya tidak terlalu mendapat perhatian publik ketikamedia menyiarkan pemberitaan tersebut, justru beberapa kasus yang dialami olehPemerintah Provinsi Jawa Tengah baik Gubernur Bibit Waluyo besertajajarannyalah yang belakangan ini lebih menjadi sorotan dan kemudianberpengaruh terhadap sikap masyarakat dan opini masyarakat kepada pemerintah.Seperti kasus yang terjadi ketika Gubernur Bibit Waluyo memberikan pernyataanmengenai kesenian Jathilan atau jaran kepang dengan menyebut Jathilan sebagaikesenian terjelek di dunia.Kegiatan media relations yang selama ini telah dilakukan oleh HumasSetda Pemprov Jateng antara lain konferensi pers, press release, press luncheon,dan talk show. Selain itu ada pula anggaran APBD dengan jumlah yang cukupbesar yang diberikan kepada organisasi-organisasi wartawan Jawa Tengah, sertapembuatan Forum Komunikasi Wartawan Jawa Tengah yang dipimpin olehSekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah. Beberapa kebijakan dan kegiatantersebut merupakan upaya menjalin hubungan yang baik sehingga kiranya dapatmeningkatkan publisitas dan meminimalisir pemberitaan negatif di media massa.Tetapi, meskipun Humas Setda Jateng sudah melakukan berbagai kegiatan danupaya tersebut, pada kenyataannya pemberitaan mengenai Pemerintah ProvinsiJawa Tengah masih didominasi oleh munculnya pemberitaan yang negatif baik dimedia cetak maupun elektronik.Oleh sebab itu, yang kemudian menjadi pokok permasalahan adalahbagaimana kegiatan Media Relations Humas Sekretariat Daerah PemerintahProvinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan publisitas?Penelitian ini diharapkan dapat memperdalam kajian Teori MediaRelations yang berkaitan dengan audit media relations serta diharapkanmemberikan kontribusi bagi Humas Setda Provinsi Jawa Tengah pada khususnyadan humas di seluruh instansi pemerintah daerah pada umumnya untukmenentukan langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menjalin hubunganyang baik dengan media massa agar dapat meningkatkan publisitas instansitersebut. Penelitian ini mengambil pemikiran-pemikiran tentang media relationsIriantara, teori media relations Lesley suatu hubungan dengan media komunikasiuntuk melakukan publisitas atau merespon kepentingan media terhadap organisasidan berguna untuk memberikan informasi kepada masyarakat karena kaitannyadengan media massa dan pers selain itu juga bermanfaat untuk memperolehdukungan dan kepercayaan masyarakat. Kegiatan-kegiatan media relations antaralain, Press Conference, Press Tour, Press Reception, Press Briefing, PressStatement, Press Interview, Press Gathering, Press Release, Media Advisory,Press Kit, Press Room, Media List, Talkshow. Ada pula teori-teori tentang auditkomunikasi, Jane Gibson dan Richard Hodgetss (1991 : 453) dalam bukunyaOrganizational Communication: A Manajerial Perspective dalam Hardjana (2000: 10) yaitu suatu analisis yang lengkap atas sistem-sistem komunikasi internal daneksternal dari suatu organisasi.Audit public relations merupakan komponen reguler dari banyak programpublic relations. Mereka menyediakan data input bagi perencanaan programpublic relations pada masa mendatang dan membantu mengevaluasi efektivitaskerja sebelumnya. Agensi Joyece F.Jones dan Ruder Finn Rotmann yang dikutipBakin, Aronoff & Lattimore (1997 : 124) menjelaskan proses audit dalam empatproses :1. Mencari tahu apa yang “kita” pikirkan (finding out what “we” think)2. Mencari tahu apa yang “mereka” pikirkan (finding out what “they” think)3. Mengevaluasi kesenjangan sudut pandang di antara keduanya (Evaluatingthe disparity)4. Memberi Rekomendasi (Recomending)ISIPenelitian ini terbagai ke dalam dua bab pembahasan yang membahas mengenaikesesuaian kinerja Humas atau kegiatan-kegiatan media relations yang dilakukandengan konsep dan mencari tahu mengenai kebutuhan Humas dalam rangkapeningkatan kerja dan jika diperlukan perbaikan di dalamnya. Pembahasantersebut antara lain sebagai berikut :1. Pemahaman media relations : Humas Setda Jawa Tengah sendiri memahamimedia relations sebagai upaya menjalin hubungan baik dengan media massauntuk mempublikasikan kegiatan pimpinan daerah seperti Gubernur, WakilGubernur, Setda, dan lainnya kepada masyarakat sesuai dengan kedudukanHumas sebagai Kominfo, Komunikasi dan Informasi. Humas perlu jugamemahami tools media relations dan bahwa media relations merupakanupaya menjalin hubungan yang baik dengan wartawan serta bagaimanamenyampaikan informasi-informasi kepada masyarakat dengan tepat.2. Tujuan kegiatan media relations : bertujuan untuk menjalin hubungan yangbaik dengan media, bekerja sama, memaksimalkan publisitas dari kegiatankegiatanpara pejabat pimpinan daerah seperti Gubernur, Wakil Gubernur,Sekretaris Daerah dan Asisten Daerah. Humas seharusnya perlu memahamitujuan-tujuan kegiatan media relations yang lain, yaitu perlunya memperolehumpan balik dari masyarakat mengenai upaya dan kegiatanlembaga/organisasi yang telah dilakukan karena hal tersebut akan menjadisalah satu dasar bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan-perbaikankinerja yang dilakukan.3. Target audience kegiatan media relations : menyasar seluruh media massabaik lokal maupun nasional dan baik cetak maupun elektronik yang memilikikredibilitas, dapat memberitakan suatu berita secara objektif, serta ikutmelakukan fungsi informatif dan edukatif kepada masyarakat. Humasseharusnya menerapkan absensi bagi wartawan yang hadir dalam setiapkegiatan yang dilaksanakan, karena hal tersebut merupakan salah satu carauntuk melakukan kontrol terhadap ketepatan sasaran Humas.4. Jenis kegiatan media relations : Hanya sedikit dari kegiatan media relationsyang diketahui dan dilakukan dengan baik oleh Humas. Humas kurangmemaksimalkan sebagian besar kegiatan media relations dan terlihat hanyasekedar formalitas dalam melaksanakannya. Banyak persiapan yang tidakdilakukan secara matang seperti persiapan tempat, waktu, yang lebihmengandalkan keseluruhan kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secaraincidental. Perlu dipahami bahwa saat ini kegiatan media relations mulaiberkembang dan lebih beraneka ragam. Selain itu, Humas harus mengetahuikarakteristik dan perbedaan teknik pelaksanaan masing-masing kegiatanmedia relations. Anggaran dana dan fasilitas yang disediakan oleh pemerintahjuga bisa lebih dimanfaatkan untuk memaksimalkan kegiatan.5. Analisis Masalah : Pendekatan research maping media dengan melakukanmonitoring belum dapat dilakukan dengan baik oleh Humas karena saat iniyang dilakukan oleh Humas adalah sekedar melakukan kliping berita tanpamenganalisis, sehingga hal tersebut akan berdampak pada kurangmaksimalnya pelaksanaan respon krisis pemberitaan. Biro Humasmembutuhkan staf-staf yang lebih mengerti mengenai pekerjaan kehumasan.Bagaimanapun juga, Biro Humas harus melakukan maping media secaraperiodik dengan melakukan analisis pada pemberitaan-pemberitaan yang dikliping setiap harinya. Selain itu respon pada krisis pemberitaan juga harussegera dilakukan jika diperlukan. Humas harus memahami bahwa mapingmedia bukan hanya sekedar kliping, tetapi mengumpulkan pemberitaan, sertapembuatan analisis dari pemberitaan tersebut dan membuat kecenderungan isimasing-masing media massa secara periodik6. Indikator berita : Indikator berita yang diterapkan Humas yaitu visi misi daripemerintah rupanya belum dapat dimaksimalkan karena analisis berita sendiritidak dilakukan dengan baik. Humas harus memahami bahwa indikatorpemberitaan yang merupakan visi misi dari pemerintah menjadi salah satufaktor penentu bagaimana hasil dari maping media yang dilakukan olehHumas. Baik pimpinan maupun staf perlu menangani secara seriusterhambatnya proses maping media tersebut. Selain merupakan visi dan misi,harusnya Humas juga memiliki indikator-indikator tetap yang akan selaluberlaku meski terjadi pergantian pemerintahan sebagai tolok ukur mendasarpenilaian terhadap suatu berita.7. Budgeting kegiatan media relations : Perencanaan anggaran kegiatan mediarelations di Humas telah dilakukan namun memang masih kurang maksimal.Humas dalam melakukan budgeting perlu memperhatikan beberapa hal yaituperencanaan yang ditulis secara rinci dan lebih mendetail untuk anggaranbagi setiap kebutuhan yang mungkin diperlukan. Selain itu, dalam melakukanperencanaan anggaran seharusnya Humas juga mempertimbangkan danacadangan yang sekiranya dibutuhkan, terlebih jika terdapat wartawanwartawanyang memang meminta upah kepada Humas setelah melakukanpeliputan8. Time schedule : Humas tidak memiliki time schedule yang jelas denganalasan bahwa mereka bekerja incidental sesuai dengan kegiatan-kegiatanyang dilakukan oleh Gubernur yang tidak bisa direncanakan pada jauh harisebelumnya. Humas seharusnya membuat time table perencanaan suatukegiatan atau event yang akan diselenggarakan. Selain itu, pembagian kerjadalam setiap kegiatan juga harus diperjelas dengan membuat job descriptionyang lebih rinci bagi masing-masing orang karena selama ini terlihat ketidakteraturan koordinasi yang memang berjalan berdasarkan kebiasaan. Pimpinanjuga harus mengecek kesiapan staf dalam menangani kegiatan tersebut dariawal hingga evaluasi dilakukan.9. Strategi dan taktik : Humas masih mengandalkan sistem menghafal dankebiasaan dalam melakukan setiap kegiatan media relations. Oleh sebab itu,Humas perlu memiliki SOP secara tertulis yang menjadi pedoman pengerjaandari setiap kegiatan. Pembagian tugas kerja yang jelas juga harus diterapkandari awal perencanaan hingga evaluasi kegiatan. Sebagai pimpinan, KepalaBiro dapat menjadi fasilitator untuk saling tukar menukar pikiran danpendapat mengenai kinerja Humas antara bagian satu dengan yang lain agartidak terjadi pemikiran atau pemahaman yang subyektif. Selain itu, Humasjuga harus memahami bahwa pelaksanaan kegiatan kehumasan menyangkuthubungan antara instansi dengan pihak luar dalam hal ini adalah media.Humas harus memiliki cara untuk dapat memaksimalkan publisitas yangpositif dengan melakukan pendekatan dengan media.10. Pemilihan Tempat Pelaksanaan : Pemilihan tempat pelaksanaan yangmemang ikut menyesuaikan tempat kegiatan yang dilaksanakan pimpinandaerah pada saat itu memang sudah biasa dilakukan. Dengan begitu faktorkenyamanan wartawan memang cenderung dikesampingkan. Humasseharusnya menyelenggarakan kegiatan media relations dalam hal ini PressConference di tempat yang nyaman.11. Penanggungjawab Pelaksanaan : Kepala Biro Humas sebagaipenanggungjawab meskipun banyak menghabiskan waktu di luar ruangansetidaknya harus dapat melakukan monitoring setiap kegiatan dari paraKepala Bagian. Di sini peran pimpinan sangat dibutuhkan untuk memberikanpengarahan di mana masih banyaknya staf yang merasakan kebingungan dancenderung asal kerja sesuai dengan pemahaman subyektif mereka.12. Evaluasi : Evaluasi yang dilakukan oleh Humas yaitu check list kesesuaianrencana dan pelaksanaan yang meliputi pencapaian tujuan, narasumber, isimateri rencana anggaran, target yang datang serta rekomendasi. Humas sudahmemahami dan melakukan evaluasi pada keseluruhan hal-hal tersebut. Tetapi,dalam laporan pertanggungjawaban tahunan, evaluasi dari kekurangan tidakdicantumkan. Humas seharusnya merinci segala kekurangan dalampencapaian target dari setiap kegiatan media relations. Humas juga harusterbuka dengan pimpinan atas pencapaian dan kegagalan yang terjadi. Selainitu, Humas juga harus mengetahui bahwa evaluasi dilakukan setelah akhirkegiatan dan secara berkala yaitu tiga bulan sekali untuk dapat membuatrekomendasi bagi kegiatan yang akan dilaksanakan selanjutnya.13. Proses Pendokumentasian : Selama ini memang Humas baru melakukandokumentasi pemberitaan di media cetak saja. Humas perlu memahamibahwa saat ini media televisi dan internet merupakan media yang banyakdigunakan dan diakses oleh masyarakat. Dokumentasi media televisi pun saatini sebenarnya sudah cukup mudah, melalui youtube, rekaman pemberitaandapat diakses dan didokumentasikan. Selain itu, untuk media internet, situssituspemberitaan kini mulai banyak dan mudah diakses kapan dan di manasaja oleh masyarakat, melihat bahwa saat ini pun banyak isu bermula darimedia internet. Humas harus mengikuti perkembangan isu di media massauntuk menjadi suatu pertimbangan langkah-langkah yang akan dilakukan.14. Model Respon Krisis Pemberitaan : Respon krisis pemberitaan yangdilakukan oleh Humas selama ini dilakukan hanya jika pemberitaan negatifsudah menyebabkan akibat tergeraknya massa dalam aksi-aksi demonstrasi.Hal tersebut juga menunjuk ke arah maping dan monitoring media yangmemang belum dilaksanakan oleh Humas dengan baik. Penyatuanpemahaman antara melakukan respon dengan release dan melakukan respondengan membuat pemberitaan tandingan juga perlu dilakukan, seharusnyaHumas memiliki kategori-kategori tertentu pemberitaan yang memang akandirespon dengan release dan kriteria-kriteria pemberitaan yang akan direspondengan membuat pemberitaan lain di media massa. Humas juga seharusnyalebih memahami bagaimana cara melakukan respon krisis yang efektif danefisien. Setidaknya dalam membuat release, setelah itu mereka harusmelakukan cross check dengan memantau dimuat atau tidaknya pemberitaantersebut di media massa. Humas seharusnya mendapatkan feedback darimedia atas kegiatan yang telah dilaksanakan bagaimana pun juga mediarelations melibatkan komunikasi dua arah.PENUTUPPenelitian mengenai audit media relations Humas Setda Jawa Tengah untukpeningkatan publisitas ini adalah penelitian yang berfokus pada kajian tentangkegiatan media relations yang dilakukan oleh Humas Setda. Kegiatan-kegiatanmedia relations yang diteliti adalah kegiatan-kegiatan media relations yangmemang dilakukan oleh Humas selama ini demi terjalinnya hubungan yang baikdengan wartawan dan mendapatkan publisitas di media massa. Penelitian tersebutdilakukan karena melihat banyaknya pemberitaan-pemberitaan negatif tentangPemprov Jateng akhir-akhir ini.Pada penelitian ini, hal-hal yang dibahas adalah kegiatan-kegiatan mediarelations dari proses awal perencanaan hingga tahap evaluasi beserta jenisjenisnyaserta cara melakukan respon pada krisis pemberitaan yang terjadi.Mengacu pada pendapat dari Lesley bahwa media relations adalah suatuhubungan dengan media komunikasi untuk melakukan publisitas atau meresponkepentingan media terhadap organisasi.Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Humas selama ini masihmemunculkan pemberitaan-pemberitaan negatif mengenai pemerintah provinsi.Terlebih-lebih pada beberapa kasus yang terjadi seperti kasus pembangunan jalantol, kuda kepang, parcel lebaran, serta masih banyak lagi hal-hal yang kemudianmenjadikan munculnya pemberitaan negatif di media massa meski memiliki sisipositif pada faktanya.Penelitian mengambil kesimpulan bahwa Humas sudah dapat memahamimedia relations. Hanya saja pemahaman tersebut masih berfokus padakepentingan yang ingin dicapai oleh Humas yaitu sekedar untuk mendapatkanpublisitas di media massa. Selain itu, Dalam fokus dan sasaran kegiatan mediarelations, Humas belum menguasai keseluruhan maksud dan tujuan dilakukannyamedia relations. Hal tersebut yang kemudian membuat Humas dalammelaksanakan pekerjaannya kurang memperhatikan prosedur-prosedurpelaksanaan kegiatan media relations secara teknis yang tepat.Kesimpulan lain yang sekaligus merupakan kritik kepada Humas adalahHumas belum memahami adanya perkembangan dari jenis-jenis kegiatan-kegiatanmedia relations. Humas masih bertahan dengan kegiatan-kegiatan yang biasadilakukan dari tahun ke tahun dengan tata cara pelaksanaan yang juga kurangdipahami oleh sebab itu tidak dipersiapkan dengan baik. Kinerja Humas yangkurang efektif juga dikarenakan rendah dan lemahnya kemampuan di manaHumas kurang memiliki sumber daya manusia yang kompeten dalammelaksanakan tugas-tugas kehumasan seperti dalam Bagian Analisis Media danInformasi Humas, kegiatan menganalisis media belum dilakukan karena stafmerupakan lulusan Sekolah Menengah Atas yang tidak mendapatkan pengetahuanmengenai konsep-konsep kehumasan. Humas tidak melakukan perencanaan danpelaksanaan kegiatan dengan baik. Banyak kegiatan yang dilakukan tidakmenggunakan perencanaan komunikasi strategis yang benar, lebih kepada hanyamengikuti perintah atasan, sehingga tidak terkoordinir dengan baik. Evaluasi yangdilakukan oleh Humas cenderung formalitas dan kurang maksimal. Tidak adarekomendasi yang dicantumkan dalam setiap laporan pertanggungjawaban yangdibuat.Hubungan antara Humas dengan media sejauh ini baik, hanya saja masihselalu terjadi perbedaan pendapat yang disebabkan oleh perbedaan kepentinganantara Humas dengan media massa. Seperti perbedaan pendapat ketika terjadikasus kuda kepang, dan pembangunan proyek tol Semarang-Solo. Selain itu,media juga masih bertindak pasif dalam kegiatan-kegiatan komunikasi denganHumas.Kepala Biro juga kurang memahami media relations, sehingga kurangnyakontrol pimpinan membuat pelaksanaan kegiatan-kegiatan media relations tidakberjalan dengan baik. Tidak ada pertemuan rutin untuk membahas mengenaievaluasi kegiatan dan hasil dari pelaksanaan kegiatan media relations.Humas belum dapat memanfaatkan fasilitas, sarana dan prasarana yangdimiliki dan diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan baik.Seperti dalam melakukan dokumentasi pemberitaan, Humas tidakmelaksanakannya pada media selain media cetak. Hal tersebut terjadi dikarenakantidak adanya pendidikan dan pelatihan mengenai kegiatan pendokumentasianberita yang baik yang seharusnya diberikan kepada baik pimpinan maupun stafHumas. Humas belum dapat melakukan respon terhadap krisis pemberitaandengan efektif dan efisien dikarenakan sistem kerja Humas yang belumterkoordinir dengan baik. Banyak pemberitaan negatif yang kemudian hanyalewat tanpa mendapat penanganan.Biro Humas perlu mendapatkan penataran dan pelatihan berkala yangdiikuti oleh baik Kepala Bagian maupun staf, mengenai pemahaman serta tugastugaspenting yang harus dilaksanakan seperti bagaimana praktek analisis mediaseharusnya dilakukan dan dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan media relationsdengan baik dan benar. Apabila pimpinan tidak dapat meminta bantuan penatardari kantor regional, maka pimpinan dapat menyewa tenaga ahli komunikasiuntuk memberikan pelatihan.DAFTAR PUSTAKAAnggoro, M. Linggar. 2002. Teori dan Profesi Kehumasan serta Aplikasi diIndonesia. Jakarta : Bumi AksaraArdianto, E.L. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: SimbiosaArdianto, Elvinaro & Soemirat, Soleh. (2008). Dasar-Dasar Public Relations.Bandung: PT Remaja RosdakaryaBaskin Otis, Aronoff Craig, dan Lattimore. 1997. Public relations: The Professionand the Practice 4 Edition. United state of America: McGraw Hill CompaniesBungin, Burhan H.M. 2007. Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi,Kebijakan. Publik, dan Ilmu social. Jakarta : Kencana Prenama Media GroupDarmastuti, Rini. 2012. Media Relations : Konsep, Strategi Dan Aplikasi.Yogyakarta : ANDIDennis L. Wilcox, Glen T. Cameron, Phillip H. Ault, and Warren K. Agee. PublicRelations: Strategies and Tactics. Seventh Edition, Pearson Education, Inc., USA,2003Effendy, Onong Uchjana. 2002. Hubungan Masyarakat suatu StudyKomunikologis. Bandung : PT Remaja RosdakaryaF, Rachmadi. 1994. PR dalam Teori dan Praktek : Aplikasi dalam Badan Swastadan Lembaga Pemerintah. Jakarta : Gramedia Pustaka UtamaIriantara, Yosal. 2005. Media Relations: Konsep, Pendekatan, dan Praktik.Bandung: Simbiosa Rekatama MediaIriantara, Yosal. 2007. Community Relations (Konsep dan Aplikasinya). Bandung: Simbiosa RekatamaHamidi. 2010. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi. 3rd. Malang : HamidiHardjana, Andre. 2000. Audit Komunikasi Teori dan Praktek. Jakarta: GrasindoJefkins, Frank. 2004. Public Relations. Jakarta : ErlanggaKriyantono, Rachmat.2008. Public Relations Writing. Cetakan ke-2. Jakarta :Fajar InterpratamaLarkin, Judy, 2003, Risk Issues and Crisis Management: A Casebook of BestPractice. London: Kogan PageMoleong. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : RosdakaryaNurudin.2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaNova, Firsan.2011. Crisis Public Relations. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaNova, Firsan. 2009. Crisis Public Relations. Jakarta : PT. GrasindoPuspandani, Kartika Dewi. 2006. Pengukuran Publicity Effectiveness Level danPemanfaatannya dalam Perencanaan Strategi dan Taktik Komunikasi.Yogyakarta: Fisipol Universitas Gajah Mada.Ruslan, Rosady. 1997. Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations. Jakarta : PTRaja Grafindo PersadaRuslan, Rusady. 2006. Manajemen Humas dan Komunikasi, Konsepsi danAplikasi. Jakarta : PT Rajagrafindo PersadaRusady, Ruslan. 2007. Manajemen Public Relations & Media KomunikasiKonsepsi dan Aplikasi. Jakarta : PT Rajagrafindo PersadaRuslan, Rosady. 2010. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi.Jakarta : PT Rajagrafindo PersadaWardhani, Diah. 2008. Media Relations : Sarana Membangun ReputasiOrganisasi. Yogyakarta : Graha IlmuWasesa, Silih Agung. 2011. Political Branding & Public Relations. Jakarta : PTGramedia Pustaka UtamaWidjaja. 1997. Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta : Bumi AksaraSumber internethttp://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/04/11/115146/Pemprov-Jateng-Gagal-Entaskan-Kemiskinan diunduh pada tanggal 04 Februari 2013pukul 19.11 WIBhttp://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=69893#.URMs-R1QFVYdiunduh pada tanggal 04 Februari 2013 pukul 19.15 WIBhttp://regional.kompas.com/read/2012/09/12/13433283/Gubernur.Jateng.Menyinggung.Seniman.Jathilan diunduh pada tanggal 04 Februari 2013 pukul 19.16 WIBhttp://www.solopos.com/2011/05/17/komisi-d-peringatkan-gubernur-soal-jalantol-98292 diunduh pada tanggal 04 Februari 2013 pukul 19.17 WIBhttp://www.tempo.co/read/news/2010/10/22/177286567/Pemberian-Dana-ke-Wartawan-Tradisi-Lama diunduh pada tanggal 07 Februari 2013 pukul 15.00WIBhttp://news.detik.com/read/2012/11/22/174732/2098697/10/kpk-sebut-banyakpejabat-korupsi-gubernur-jateng-sepertinya-tidak-ada diunduh pada tanggal 14Februari 2013 pukul 22.00 WIBhttp://eprints.undip.ac.id/29126/1/SUMMARY_PENELITIAN_Wiwid_Adiyanto.pdf diunduh pada tanggal 21 Februari 2013 pukul 20.28 WIBhttp://tvku.tv/v2010b/index.php?page=stream&id=6444 diunduh pada tanggal 19Maret 2013 pukul 20.14 WIBhttp://efkawejete.blogspot.com/ diunduh pada tanggal 05 Maret 2013 pukul 21.00WIBhttp://kabar17.com/2012/05/gubernur-jawa-tengah-dikecam-petani-tembakau/diunduh pada tanggal 05 Maret 2013 pukul 21.28 WIBhttp://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/04/27/61199/Pers-Diminta-Tak-Hanya-Tulis-Berita-Negatif- diunduh pada tanggal 05 Maret 2013pukul 21.59 WIBhttp://news.detik.com/read/2012/11/29/123142/2104844/10/warga-menolakeksekusi-tanah-lemah-ireng-semarang-ricuh diunduh pada tanggal 05 Februari2013 pukul 01.00 WIBhttp://repository.upnyk.ac.id/2306/1/Nunung_Prajarto.pdfhttp://ahmadyusuf-fpsi08.web.unair.ac.id/artikel_detail-46452-Umum-Metode%20Penelitian.html(http://www.solopos.com/2012/11/28/gubernur-jateng-raih-planinum-gold-darisby-351805 05 Maret 2013 pukul 23.00 WIB(http://news.detik.com/read/2011/06/27/180047/1669850/10/sebut-walikota-solobodoh-gubernur-jateng-akan-ditolak-masuk-solo diunduh pada tanggal 05Februari 2013 pukul 01.00 WIB)(http://www.youtube.com/watch?v=miDtNj_JIwg diunduh pada tanggal 08 Maret2013 pada pukul 19.00 WIB)(http://www.youtube.com/watch?v=3H0aQzl8M1w diunduh pada tanggal 08Maret 2013 pada pukul 19.01 WIB(http://birohumas.jatengprov.go.id/portal/view/struk2 diunduh pada tanggal 11Maret 2013 pada pukul 00.04 WIB)http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/04/27/61199/Pers-Diminta-Tak-Hanya-Tulis-Berita-Negatif- diunduh pada tanggal 11 Maret 2013pada pukul 00.05 WIB)http://web.undp.org/comtoolkit/reaching-the-outside-world/outside-world-coreconcepts-working-media.shtml diunduh pada tanggal 13 Juli 2013 pukul 16:51 WIBhttp://prinyourpajamas.com/how-to-build-your-own-media-list/ diunduh padatanggal 13 Juli 2013 pukul 16:51 WIB
PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN Martia Mutiara Tasuki; Tandiyo Pradekso; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.347 KB)

Abstract

PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIANSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata IJurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Martia Mutiara TasukiNIM : D2C 005 183JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIANABSTRAKMenu breakfast merupakan inovasi varian menu terbaru dari McDonald's Indonesia. Sebagai produk baru, menu breakfast McDonald's berusaha untuk memperoleh tempat dibenak masyarakat maka McDonald’s melakukan komunikasi pemasaran melalui berbagai media diantaranya melalui iklan, brosur, kupon berhadiah dan media display di setiap gerai McDonald’s. Dengan menggunakan merek McDonald’s menu breakfast McDonald’s telah menempatkan posisinya di benak konsumen. Kemudian keputusan pembelian pun dibuat.Tujuan penelitian ini adalah utuk mengetahui pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s dan citra produk terhadap keputusan pembelian. Dengan mengacu pada teori advertising exposure process dan teori perilaku konsumen. Tipe penelitian ini adalah eksplanatori. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode accidental sampling yaitu sebanyak 50 orang responden. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dengan kuesioner. Teknik pengolahan data menggunakan regresi logistik.Berdasarkan hasil perhitungan, variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s ( X1 ) masuk dalam kategori rendah dengan persentase sebesar 58%, variabel citra produk (X2) masuk dalam kategori baik dengan persentase sebanyak 70%, dan variabel keputusan pembelian (Y) masuk dalam kategori “ya” atau tinggi dengan persentase sebesar 66%. Adapun hasil pengujian hipotesa menunjukkan bahwa variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s (X1) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (Y). Sedangkan variabel citra produk (X2) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap vaeriabel keputusan pembelian (Y) dengan nilai signifikansi 0,012 dan nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346.Kata kunci : Terpaan Komunikasi Pemasaran, Citra Produk, Keputusan Pembelian.THE EFFECTS OF MCDONALD’S BREAKFAST MENU MARKETING COMMUNICATIONS EXPOSURE AND PRODUCT IMAGE TOWARDS THE PURCHASED DECISIONABSTRACTBreakfast menu is the latest variant of the innovation of McDonald's Indonesia. As a new product, McDonald's breakfast menu is trying to obtain a community then dibenak McDonald's doing marketing communications through a variety of media including advertising, brochures, through the lottery and the display in every media outlet McDonald 's. By using the brand McDonald's McDonald's breakfast menu has put his position in the minds of consumers. Then any buying decision is made. The purpose of this research is to know the influence of exposure to McDonald's breakfast menu of marketing communications and product imagery to the purchasing decision. With reference to the theory of advertising exposure process and theory of consumer behavior. This research type is eksplanatori. Sampling is performed using the method of accidental sampling that is as much as 50 people responden. While the data collection technique using observations with the questionnaire. Data processing techniques using logistic regression. Based on the results of the calculation, variable exposure to McDonald's breakfast menu of marketing communications (X 1) belongs to the category of low percentage of 58, with variable image products (x 2) belongs to the category either by percentage as much as 70, the purchase decision and variable (Y) belongs to the category 'Yes' or high with a percentage amounting to 66. As for the hypothesis test results indicating that the variable exposure to McDonald's breakfast menu of marketing communications (X 1) has no significant influence on the buying decision variable (Y). While the image of the products variable (x 2) have a significant influence on the buying decision vaeriabel (Y) with the value of the significance and value of 0.012 Exp (B) from X 2 of 1,346.Keywords: exposure to marketing communications, Product Image, purchase decisions.BAB IPENDAHULUAN Latar BelakangMcDonalds Indonesia mengadopsi menu breakfast untuk menjawab rasa bosan pelanggan dengan menu-menu yang sudah ada selama ini. Hal ini juga untuk memenuhi keinginan pelanggan agar menu McDonald’s yang terdapat di luar Indonesia kini dapat dinikmati pula di Indonesia. Menu sarapan ini disajikan sejak pukul 05.00 pagi hingga pukul 11.00 siang. Harga yang ditawarkan cukup beragam sekitar Rp 20.000,- hingga Rp 30.000,- per paket. (http://medantalk.com/may/19/2011//McD Indonesia Luncurkan Menu Baru/htm).Untuk itu McDonald’s melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan bidang pemasaran atau juga bisa disebut dengan promosi. Berbagai hal dilakukan mulai dari iklan, brosur, banner, kupon berhadiah, dan lain sebagainya. Semua ini dimaksudkan untuk mengkomunikasikan kepada masyarakat bahwa McDonalds memiliki varian produk baru yaitu menu breakfast atau menu sarapan pagi. Tidak hanya mengenai produk, masyarakat juga perlu diberikan informasi mengenai waktu yang ditetapkan untuk menjumpai menu breakfast.Berdasarkan data sales selama bulan April, Mei, dan Juni pencapaian penjualan menu breakfast baru menunjukkan angka 11% dari 18% yang ditargetkan. Pencapaian penjualan tidak bergerak jauh dari angka 11%. Perumusan MasalahSelama tiga bulan setelah diluncurkan persentase pembelian tidak beranjak jauh dari level 11%. Dari target sebesar 18%, angka 11% tentunya berada pada tingkatan yang rendah. Berdasarkan data talk to customer LSM (local store marketing) McDonald’s Ciputra Semarang, yang diambil melalui pendapat pelanggan (customer feedback), sebagian besar konsumen belum mengetahui keberadaan produk breakfast, menu yang terdapat di dalamnya dan promo yang sedang berlangsung. Data yang diperoleh selama tiga bulan terakhr yaitu Juni, Juli, dan Agustus 2011 menunjukkan dari 300 orang konsumen per bulan yang dimintai pendapatnya, hanya sebesar 35% konsumen yang mengetahui mengenai menu breakfast dan promosi menu breakfast yang sedang berlangsung.Namun, permasalahan di atas seperti jumlah konsumen dan pencapaian hasil penjualan bukanlah merupakan fokus dalam penelitian ini. Batasan dari penelitian ini adalah data hasil penjualan dan jumlah konsumen atau transaksi yang terjadi, digunakan sebagai tolok ukur dari sikap konsumen berupa perilaku atau tidakan pembelian. Keputusan pembelian dalam penelitian ini merupakan efek dari komunikasi yang dilakukan oleh McDonald’s Ciputra semarang kepada masyarakat. Fokus permasalahan terdapat pada efek komunikasi yang dilakukan. Efek yang dirasakan masih kurang atau masih rendah dari yang diharapkan, hal ini dapat dilihat dari datasales volume dan persentase pencapaian hasil penjualan menu breakfast yang dicapai oleh McDonald’s Ciputra Semarang. Tujuan PenelitianUntuk mengetahui pengaruh terpaan kegiatan komunikasi pemasaran mengenai menu breakfast di McDonald’s dan citra produk terhadap keputusan pembelian.BAB IIHASIL PENELITIAN Kerangka Teori1. Pengaruh Terpaan Komunikasi Pemasaran Terhadap Keputusan PembelianTeori yang digunakan dalam penelitian ini yang menghubungkan antara variabel terpaan komunikasi pemasaran terhadap keputusan pembelian adalah teori Advertising Exposure Process. Di dalam teori ini dikatakan bahwa apabila konsumen terkena terpaan iklan maka akan tercipta perasaan dan sikap tertentu terhadap merek yang kemudian akan menggerakan konsumen untuk membeli produk. Berdasarkan teori advertising exposure process tahapan pembentukan keputusan pembelian ialah pertama, terpaan iklan dapat menciptakan terjadinya brand awareness dalam benak konsumen, lalu konsumen juga akan mengetahui keuntungan dan sifat dari brand tersebut. Kedua, terpaan iklan juga dapat menciptakan citra dari brand tersebut. Ketiga, terpaan iklan dapat mengasosiasikan sesuatu dengan merek (brand association) dan keempat terpaan iklan dapat juga menciptakan kesan bahwa brand disukai oleh lingkungan sekitar kita. Semua efek ini mengakibatkan perubahan sikap tertentu yang berakhir pada terciptanya keputusan pembelian. Terpaan terhadap informasi sangat penting untuk proses interpretasi konsumen,2. Pengaruh Citra Produk terhadap keputusan pembelianTeori yang digunakan dalam penelitiaan ini yang mengaitkan antara variabel citra produk dan variabel keputusan pembelian adalah teori yang diungkapkan oleh Schiffman and Kanuk yaitu teori perilaku konsumen. Teori ini adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha dan energi). Perilaku konsumen menurut Winardi (dalam Sumartono, 2002:97) Menurut Assael (Sutisna, 2002 : 6), salah satu faktor yang mempengaruhi pilihan konsumen adalah konsumen individual. Artinya pilihan untuk membeli suatu produk dengan merek tertentu dipengaruhi oleh hal-hal yang ada pada diri konsumen. Hipotesis1. Hipotesis mayorHipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast di McDonald’s dan citra produk di benak masyarakat terhadap keputusan pembelian .2. Hipotesis MinorTerdapat pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast di McDonald’s terhadap keputusan pembelian dan terdapat pengaruh citra produk terhadap keputusan pembelian. Populasi dan SampelPopulasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang mengetahui mengenai Mc Donald’s atau mereka yang pernah membeli produk yang dipasarkan oleh McDonald’s dan memiliki rentang usia antara 17-50 tahun. Sampel penelitian berjumlah 50 responden dengan teknik non probability sampling dengan cara purposive accidental sampling. MetodologiAlat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dengan metode survey dan teknik analisis kuantitatif. Temuan penelitian1. Berdasarkan hasil pengolahaan kuesioner, ditemukan bahwa frekuensi variabel terpaan komunikasi pemasaran berada dalam kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran yang dilakukan McDonald’s masih kurang maksimal. Hal ini dapat dilihat dari skor yang diperoleh jawaban responden mengenai komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s tergolong dalam kategori rendah.2. Melihat dari data yang ada, dapat disimpulkan bahwa variabel citra produk berada dalam kategori baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa responden menilai menu breakfast McDonald’s baik dari segi bahan, kualitas, manfaat, dan harga produk. Oleh karena itu citra yang muncul dalam benak konsumen adalah baik.3. Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan, responden yang memutuskan untuk membeli produk menu breakfast McDonald’s adalah sebanyak 33 responden atau 66%. Hakl tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden dapat menerima keberadaan produk dan mau membeli produk menu breakfast McDonald’s.4. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan regresi logistic melalui SPSS. Sebelum teknik ini digunakana maka perlu dilakukan Goodness of fit untuk mengetahui apakah model ini dapat digunakan dalam penelitian ini. Pada pengolahan data dengan model Hosmer and Lemeshow test diperoleh nilai Sig = 0,394 > 0,05 yang berarti bahwa hipotesis H0 diterima sehingga dapat dipastikan bahwa terdapat minimal satu variabel independen yang berpengaruh dan model regresi logistik tersebut layak dipakai.5. Hasil uji hipotesis mayor : Berdasarkan pada Tabel Hosmer and Lemeshow dapat diketahui bahwa secara bersama-sama variabel X1 dan X2 memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y. Adapun pengaruhnya yaitu sebesar 25,9 %. Hal tersebut dapat diartikan bahwa secara bersama-sama terpaan komunikasi pemasaran dan citra produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian sebesar 25,9 %.6. Pada tabel Variables in the Equetion, dapat dilihat nilai Sig X1 = 0,085 > 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis H0 diterima atau dengan kata lain variabel X1 tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Y. dengan demikian dapat dikatakan variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s tidak berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian.7. Pada tabel Variables in the Equation, nilai Signifikansi X2 = 0,012 < 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis H0 ditolak atau dengan kata lain variabel X2 berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Y. Kemudian, dengan melihat nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346 memiliki arti bahwa jika citra produk terus dipertahankan atau ditingkatkan maka masyarakat yang memutuskan untuk melakukan pembelian adalah 1,346 kali lebih banyak dari yang tidak melakukan pembelian. Dengan kata lain, kenaikan nilai variabel X2 berpengaruh terhadap variabel Y. Semakin besar nilai variabel X2 maka semakin besar nilai variabel Y. dapat pula disimpulkan semakin baik citra produk dibenak masyarakat maka semakin banyak masyarakat yang memilih untuk membeli produk menu breakfast McDonald. Begitu sebaliknya jika citra produk semakin buruk maka masyarakat yang memilih membeli produk menu breakfast McDonald’s semakin sedikit.8. Hasil analisis penulis adalah melihat data mengenai terpaan komunikasi pemasaran dimana terlihat terpaan komunikasi pemasaran dalam posisi yang rendah, maka dapat dikatakan bahwa teori advertising exposure process tidak dapat diterapkan dalam penelitian ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terpaan kominikasi pemasaran tidak mempengaruhi secara signifikan keputusan masyarakat untuk membeli produk menu breakfast Mc.Donald’s. Hal ini menunjukkan bahwa yang menggerakkan konsumen untuk membeli produk tidak hanya terpaan komunikasi pemasaran. Ada unsur lain sebagai penggeraknya. Seperti yang tertuang dalam teori lingkungan informasi pembeli. Teori ini mengajarkan bahwa setiap orang dapat memutuskan membeli sesuatu atau memakai suatu produk tidak hanya berdasarkan iklan yang menerpanya. Dalam kenyataanya terdapat berbagai sumber informasi non iklan yang mungkin saja berdampak lebih luas dan positif dalam menentukan pengambilan keputusan terhadap produk, diantaranya adalah :a. Pengalaman pribadi pembelib. Komunikasi antar pribadi dalam jaringan keluargac. Berita media massa yang laind. Kredibilitas konsumene. Perusahaan saingannyaf. Kredibilitas media yang digunakan dalam masyarakatg. Lingkungan informasi yang beragam tentang produkh. Kegiatan personal selling, promotion, sales dan sejenisnyai. Informasi persaingan harga yang diperoleh dari media non massa.Berdasarkan teori tersebut, keputusan pembelian dipengaruhi oleh banyak faktor dari mulai diri si pembeli sendiri hingga lingkungan dimana si pembeli berada. Maka ketika terpaan komunikasi rendah, dalam penelitian menunjukkan bahwa pembeli atau masyarakat yang memilih untuk membeli produk jumlahnya justru diatas 50% dari jumlah responden. Namun, bagi McDonald’s hal ini tentunya menjadi bahan pertimbangan untuk meningkatkan volume penjualan. Sebagai perusahaan tentunya McDonald’s menargetkan tingkat volume penjualan yang lebih tinggi lagi. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi McDonald’s dan teori yang telah disebutkan dapat menjadi acuan dalam menentukan kebijakan.9. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara variabel citra produk dan variabel keputusan pembelian berjalan dengan berbanding lurus yaitu ketika citra produk meningkat maka keputusan pembelian akan meningkat pula. Penelitian ini sesuai dengan teori yang diungkapkan sebelumnya yaitu, teori perilaku konsumen. Teori ini adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha dan energi).BAB IIIPENUTUP Kesimpulan1. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel x dan y yaitu terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonalds dan citra produk terhadap keputusan pembelian. Pengaruhnya sebesar 25,9%.2. Terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s dengan keputusan pembelian.3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel citra produk dengan keputusan pembelian dengan nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346 Keterbatasan PenelitianKeterbatasan dalam penelitian ini adalah jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel yang belum dapat mewakili populasi secara pasti, hal ini dikarenakan populasi dalam penelitian ini tidak terhingga jumlahnya sehingga membuat peneliti kesulitan untuk menentukan secara tepat jumlah sampel yang dibutuhkan dan penggunaan teknik sampel yang digunakan. SaranBerdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, peneliti memberikan saran sebagai berikut1. McDonald’s menggunakan komunikasi pemasaran untuk membentuk dan menjaga citra produk di benak masyarakat. Citra positif yang ada sangat perlu untuk dijaga. Untuk meningkatkan jumlah masyarakat yang memberikan citra positif terhadap produk maka perlu dilakukan komunikasi pemasaran yang lebih intens lagi agar masyarakat semakin diterpa oleh informasi-informasi yang terkait dengan produk, kemudian memberi penilaian positif hingga akhirnya membeli produk. Hal ini dapat dilakukan dengan pemilihan media baik elektronik dan cetak yang tepat. Dalam hal ini perlu diperhatikan kesesuaian segmentasi media dengan segmentasi produk. Pastikan media yang digunakan memiliki jangkauan yang luas dan mudah diakses oleh masyarakat. Media lain yang digunakan adalah brosur dan kupon berhadiah, tingkatkan penyebaran brosur dan kupon berhadiah dengan pemerataan distribusi dan penyebaran yang lebih intens. Hal ini dapat dilakukan dengan mengerahkan karyawan untuk menyebarkan brosur dan kupon berhadiah di area mall, memastikan ketersediaan brosur dan kupon berhadiah di store McDonald’s dan tenant-tenant yang bekerjasama dengan McDonald’s serta mengerahkan karyawan delivery service untuk melakukan penyebaran langsung kepada masyarakat seperti di perumahan, sekolah, kantor, maupun traffic light. Penggunaan media display dalam store juga perlu diperhatikan, menggunakan tampilan yang menarik dan informasi mengenai produk dengan singkat dan jelas akan membantu masyarakat untuk mengingat display tersebut.2. Mempertahankan kualitas produk untuk menjaga kepercayaan konsumen dalam mengkonsumsi produk juga perlu dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan bahan-bahan yang berkualitas dan tidak mengurangi takaran bahan yang diperlukan, senantiasa menjaga kebersihan baik bahan, alat, maupun karyawan, dan menjaga keamanan produk dengan tidak menggunakan zat-zat berbahaya. Menjaga kualitas produk berarti mewujudkan apa yang menjadi citra positif produk dalam benak masyarakat.DAFTAR PUSTAKAFill, Chris. 1995. Marketing Communication Frame Works. London: Prentice HallFraenkel, J. dan Wallen, N. 1993. How To Design and Evaluate Research in Education. 2nd ed. New York: McGraw-Hill Inc.Jefkins, Frank. 1995. Periklanan edisi 3. Jakarta: Erlangga.Kasali, Rhenald. 1992. Manajemen Periklanan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kasali, Rhenald. 1995. Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya diIndonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kotler, Philip dan Amstrong, Gary. 1997. Dasar-dasar Pemasaran Principles ofMarketing edisi ketujuh jilid 3. Jakarta: Prenhelindo.Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Littlejohn, Stephen W, 2005, Theories of Human Communication, eighth edition,Thomson Learning Inc., Wadsworth, Belmont, USA.Mowen, John C dan Minor, Michael. 2002. Perilaku Konsumen edisi kelima jilid1. Jakarta: Erlangga.Mulyodiharjo, Sumartono. 2002. Terperangkap Dalam Iklan. Bandung: Alfabeta.Rakhmat, Jalaluddin. 1992. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Rakhmat, Jalaludin. 1994. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendi. (ed).1989. Metodologi Survey. Jakarta:LP3ESSoemirat, Soleh dan Elvinaro, Ardianto. 2008. Dasar-dasar Public Relation.Bandung: Remaja Rosdakarya.Sutisna, 2002. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran.Bandung:PT. Remaja RosdakaryaSwasta, Bayu. 1993. Manajemen Penjualan. Yogyakarta: Universitas Gajamada.Tjiptono, Fandy, dkk. 2008. Pemasaran Strategik. Yogyakarta: Andi Offset.Yamin, Sofyan dan Kurniawan, Heri. 2009. SPSS complete, Teknik AnalisisStatistik Terlengkap Dengan Software SPSS. Jakarta: Salemba Infotek.Millah, S. McD Indonesia Luncurkan Menu Baru. 2011.(http://medantalk.com/may/19/2011//McD Indonesia Luncurkan MenuBaru/htm). Diakses tanggal 12 September 2011 pukul 11.01 WIB.Harian Medan Bisnis. 2011. McDonald’s Tambah 4-5 Gerai Mandiri Baru di2011. (http//harianmedanbisnis.com//McDonald's Tambah 4-5 GeraiMandiri Baru di 2011). Diakses tanggal 9 September 2012 pukul 12.48WIB.Republika. 2011. Sarapan Pagi di Mcd.(http//republika-online.com//sarapan-pagidi-mcd//4-7-2011). Diakses tanggal 11 September 2011 pukul 07.28 WIB.Depari, Fidelia. 2011. KFC Luncurkan Menu Breakfast. (http//food.ghiboo.com/).Diakses 11 September 2011 pukul 12.00 WIB.McDonald’s. 2010. Our Company Inclision and Diversity.(http://www.aboutmcdonalds.com/mcd). Diakses 9 september 2011 pukul10.38 WIBPrayogo, Oginawa. 2011. Tepis Kabar Produk Jualannya Tidak Sehat. McdIndonesia Luncurkan Menu Baru. (http://industri.kontan.co.id/news/).Diakses tanggal 11 September pukul 07. 30 WIB.www.mcdonalds.co.id
PENGALAMAN KOMUNIKASI PELANGGAN ZALORA.CO.ID (Studi Fenomenologi Pelanggan Zalora.co.id) Widya Andhika Aji; Tandiyo Pradekso; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.911 KB)

Abstract

1PENGALAMAN KOMUNIKASI PELANGGAN ZALORA.CO.ID(Studi Fenomenologi Pelanggan Zalora.co.id)Oleh:Widya Andhika AjiFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas Diponegoro SemarangABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman komunikasi danpemahaman penerimaan konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id. Dengan menggunakan sampel pada lima informandan metode wawancara, dapat ditarik kesimpulan: Pelanggan Zalora.co.idmemiliki pengalaman komunikasi berkaitan dengan pesan promotif yang berupamedia iklan, direct marketing, dan sales promotion. Persepsi konsumen terkaitpesan komunikasi pemasaran dalam berbelanja di Zalora.co.id selama ini adalahbaik mengingat konsumen selalu merasa puas dengan harga dan kualitas produkyang ditawarkan pihak Zalora. Pesan yang ditangkap informan dari iklan yangdilakukan pihak Zalora adalah bahwa konsumen maupun calon konsumendidorong dan diajak untuk berbelanja dan berbelanja lagi Pesan yang ditangkapinforman dari iklan Zalora melalui direct marketing antara lain adalah: sangatefektif dan praktis karena tanpa harus bertatap muka dapat bertransaksi langsungdan mudah, kemudian juga tampilan web yang menarik membuat mereka inginberbelanja. Pesan yang ditangkap dari iklan melalui sales promotion ini adalahdiskon yang besar membuat konsumen untuk “terikat” pada Zalora dan merekamenjadi semakin tertarik untuk berbelanja di Zalora.co.id dengan adanya diskonyang besar tersebut.Keywords: pengalaman komunikasi, pesan komunikasi, direct marketing, salespromotion, iklan.2COMMUNICATION EXPERIENCE OF CONSUMERS ZALORA.CO.ID(Phenomenological Approach)ABSTRACTThis research purposed to analyze the consumers’ experience andunderstanding of acceptance communication message when they are shopping atZalora.co.id. Participants are five informan and the data technique used are depthinterview. The conclusion are: Consumers’ Zalora.co.id have communivationexperience related to the message through advertising, direct marketing, and salespromotion. Consumers’ perception related to the marketing communication whenthey are shopping at Zalora.co.id are good because they always satisfied with theproduct and quality product from Zalora. Message that participants can say fromZalora is that consumers always pursue to shop and shop more. The message thatconsumers’ understand from the advertising through direct marketing is that veryeffective and practival because without face to face, they can make transactionand this is easy to do, the website also make them more interested in shoppingmore and more. The message that consumers’ understanding from sales promotionis the big discount make them “tied” with Zalora and they more interesting to butproduct from Zalora.co.id.Keywords: experience, communication, messagem direct marketing, salespromotion, advertising.3PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangTrend belanja online menjadi fenomena baru dalam paradigma berbelanjamasyarakat Indonesia saat ini. Masyarakat lebih senang meluangkan waktu untukberbelanja online daripada berkunjung ke toko secara langsung untuk membelibarang yang mereka inginkan. Arnold Sebastian Egg yang merupakan pendirisitus jual beli tokobagus.com memprediksi bahwa nantinya semua orang akanberbelanja online, saat ini seluruh bisnis mulai mengusung tokonya ke online(BeritaBali.com, 2013). Pernyataan Arnold tersebut didukung dengan surveyyang dilakukan perusahaan e-commerce asal Jepang, Rakuten, bahwa 80%pengguna internet di Indonesia mulai berbelanja online dalam dua tahun terakhir.Sedangkan Survei lain yang dilakukan oleh VeriTrans dan DailySocialpada 584 pelanggan e-commerce di Indonesia mengenai tren belanja onlinemengungkap sebanyak 37% responden menyebutkan produk yang mereka belimelalui internet adalah pakaian (fashion). Di posisi berikutnya adalah pemesananlayanan perjalanan (20%) dan media yang dikonsumsi secara elektronik sepertimusik, video dan game (20%) dan lainnya (18%), elektronik (13%) dan buku(8%) (Rinaldi, 2013: 2).Di ranah online fashion store, Zalora yang muncul padaawal 2012langsung melejit menjadikannya sebagai salah satu dari sembilan e-commercepaling berjaya di Indonesia yang di antaranya adalah Lazada Indonesia, ZaloraIndonesia, Berybenka, PinkEmma, Bilna, Plasa, Reebonz, LivingSocial dan FoodPanda. Setelah sukses di 8 negara di dunia seperti Brazil, India, Australia, Zalorayang terhitung pemain baru di Indonesia siap meramaikan pasar bisnis fashionIndonesia. Mei 2013 menjadi sejarah bagi Zalora yang baru saja merayakanpemesanan ke 1 juta dan mencapai angka penjualan hingga USD 100 juta yangsetara dengan 1 Triliun Rupiah (Azmil, 2013: 2).Penjualan Zalora yang menjanjikan tersebut mengundang banyak investoruntuk berlomba menanamkan modal ke Zalora, salah satunya adalah TengelmannGroup, perusahaan retail Eropa yang sudah berdiri 145 tahun lalu dan memiliki4.000 toko di 15 negara, telah mengucurkan dana sebesar 249 miliar untuk tokoonline tersebut (Sawers, 2013: 1). Performa Zalora di pasar Indonesia dapatdibilang membuahkan hasil yang memuaskan dan menjanjikan untuk terusmengembangkan bisnis mereka di Indonesia. Hal ini didukung oleh pertumbuhankelas menengah di Indonesia yang merupakan pertumbuhan kelas menengahpaling tinggi yaitu mencapai 56,6% di regional Asia Pasifik dengan pengeluarantiap tahunnya mencapai USD 3000. Perilaku konsumen kelas menengah tersebutsangat mobile dan mudah berubah, mereka bisa dengan cepat berganti-gantimerek, dan ini menjadikan para pemasar harus terus bergerak mengikutimobilitas konsumen, harus ada penyempurnaan di produknya, berinovasi yangbaru, kemudian mengubahstrategi harganya, distribusinya, promosinyadikombinasikan sedemikian rupa, pesan-pesannya juga tidak monoton.Pengguna internet diperkirakan akan terus bertambah menjadi 149 jutapengguna serta terdapat indikasi bahwa berbelanja online akan semakin populer diIndonesia, Jepang, dan Thailand pada 2015. Hal tersebut didukung dengan4kemudahan akses internet yang semakin mobile menjadi salah satu pendorongbagi pebisnis Indonesia untuk terus menggeluti dunia ini. (Rahayu, 2012:2).iTeknologi Informasi tidak dipungkiri membawa perubahan yang signifikanterhadap bisnis dan gaya hidup masyarakat sekarang ini dalam mendukungbelanja online mereka. Berdasarkan survey dari Rakuten, orang Indonesia danThailand 50% lebih suka berbelanja dengan perangkat bergerak mereka,dibandingkan orang Taiwan. Bila dibandingkan dengan orang Amerika dan Eropa,orang Indonesia dua kali lebih suka berbelanja dengan perangkat bergerak.Sejalan dengan itu, riset lain dari BuzzCity pada awal 2012 mendapatibahwa 27% pebelanja online dari Indonesia sudah memakai perangkat bergerakmereka untuk berbelanja. survei itu juga mendapati bahwa orang Indonesia tigakali lebih suka merekomendasikan suatu barang kepada teman-temannya dijejaring sosial, ketimbang negara lain. (Rahayu, 2012: 4). Dalam perkembanganpertumbuhan situs web dikenal istilah Web 2.0 yang menunjukkan jenis web yang“hidup” dan diisi oleh penulis secara periodik sehingga menimbulkan fenomenabaru yaitu blog dan social networking services (SNS) atau lebih populer dengansebutan situs jejaring sosial. Dengan melihat kedudukan internet saat ini terjadiperubahan perilaku konsumen dalam mengkonsumsi media. Jika dulu konsumenhanya menonton televisi, membaca majalah, surat kabar dan sebagainya kinimereka juga menjelajah internet. Online media sudah menjadi point of contactyang tidak dapat diabaikan, sehingga para pemilik brand harus masuk ke dalampoint of contact tersebut. Oleh sebab itu dibutuhkan strategi pemasaran yang tepat.Populasi mall online atau e-retailerbaru semakin marak meramaikanMallonline ini sehinggadiperlukan strategi pemasaran untuk mendapatkan danmempertahankan customer mereka. Begitu juga Zalora yang memiliki websiteresmi www.zalora.co.id, portal e-commerce atau mall online ini adalah anakperusahaan asing yang dikenal dengan nama zalando.com. Perusahaan yangmerajai pasar Brazil dan Thailand ini, baru saja mengeluarkan laporan penjualanper akhir Desember 2012 dengan rata-rata pemesanan hariannya adalah 600-700transaksi, rata-rata pembeli mengeluarkan uang kisaran Rp 150-350 ribu.Zalora Indonesia adalah situs web belanja kebutuhan fashion yangmenawarkan produk-produk dari berbagai brand terkemuka, baik lokal maupuninternasional. Zalora Indonesia didirikan pada tahun 2012 dan merupakan salahsatu cabang dari situs belanja online terbesar Eropa Zalando. Kelebihan yangditawarkan oleh Zalora Indonesiayaitu, pelanggan tidak dikenakan biaya untukpengiriman ke seluruh Indonesia dan garansi pengembalian barang jika pelanggantidak puas atas produk yang diterimanya. Grup Zalora International di Asia terdiridari Zalora Indonesia, Zalora Singapura, Zalora Malaysia, Zalora Vietnam, ZaloraTaiwan, Zalora Thailand, Zalora Filipina. Zalando merupakan projek dari RocketInternet, yang merupakan e-commerce terkenal dari Rocket Internet. RocketInternet sendiri menyediakan bantuan teknologi, modal dan jasa lainnya untukmembuat perusahaan-perusahaan Internet yang inovatif. Kantor pusatnya terdapatdi Berlin, Jerman, projek yand dimiliki Rocket Internet antara lain Zalando,TopTarif, eDarling, Groupon (sebelumnya CityDeal), dan lain-lain.Penelitian ini akan difokuskan pada pelanggan Zalora.co.id dengan strategipemasarannya yang telah sukses menggeser positioningbeberapa pemain lama di5toko fashion online. Selain itu marketing communication yang baik melalui iklanonline yang kuat, branded product yang tidak lokal produk serta promosi gencarmenjadi strategi jitu Zalora dimata konsumennya untuk meningkatkanpenjualannya.1.2 Perumusan MasalahPenelitian ini berusaha untuk mengetahui pengalaman komunikasi danpemahaman penerimaan konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id.HASIL2.1. Deskripsi Tekstural Gabungan2.1.1. IklanIklan merupakan media promosi satu arah yang disalurkan kepadakonsumen dengan tujuan membujuk untuk membeli dan bersifat nonpersonal.Iklan Zalora.co.id yang dijumpai oleh informan penelitian iniadalah informan pertama dan kelima. Mereka menjumpai iklannya di salurantelevisi MNC TV, dan majalah Gogirl/dresscode. Menurut informan tersebutiklannya sangat menarik dan terutama karena gambarnya menarikdiperankan oleh model yang dianggap representatif dan eksklusif sertaadanya diskon yang dipromosikan secara gencar.Pesan yang ditangkap informan dari iklan yang dilakukan pihak Zaloraadalah bahwa konsumen maupun calon konsumen didorong dan diajakuntuk berbelanja dan berbelanja lagi terus sehingga mereka bisa “menggaet”banyak konsumen untuk membeli berbagai produk yang ditawarkan Zaloradari mulai produk sepatu, baju, aksesoris, maupun produk lainnya.2.1.2. Direct MarketingDirect marketing merupakan bagiandari program komunikasipemasaran dan dilakukan langsung pada customer, misalnya: Twitter,Instagram (sosial media),SEO (google ads, facebook ads), dan mailing list.Berdasarkan pada hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti, diketahuibahwa direct marketing yang ditemui adalah pada informan pertama, kedua,ketiga , keempat dan kelima. Jadi semua informan pernah menjumpainya.Direct marketing yang ditemukan antara lain di Twitter , PortalOnline dan SEO, kolom Google Ads, Facebook ads. Paling seringditemukan adalah di Facebook ads dan promo Twitter. Hal ini disebabkankarena jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter saat ini sangat boomingdi dunia maya dan menjadi direct marketing yang sangat efektif dalammerangkul konsumen dan calon konsumen untuk online shopping sepertiZalora.Pesan yang ditangkap informan dari iklan Zalora melalui directmarketing antara lain adalah: sangat efektif dan praktis karena tanpa harusbertatap muka dapat bertransaksi langsung dan mudah, kemudian juga6tampilan web yang menarik membuat mereka ingin berbelanja. Mereka yangpada awalnya tidak tertarik, lama kelamaan menjadi tertarik karena iklanterus menerus muncul ketika mereka sedang membuka facebook, google,maupun twitter.2.1.3. Sales PromotionSales promotion merupakan bentuk persuasi langsung melaluipenggunaan berbagai insentif, umumnya berjangka pendek, yang dapatdiatur untuk merangsang pembelian produk dengan segera ataumeningkatkan jumlah barang yang dibeli konsumen atau pedagang (kupon,undian, diskon, kontes). Sales promotion ditemukan oleh informan pertama,kedua, ketiga, keempat dan kelima. Jadi semua informan telah menemuisales promotion Zalora.co.id.Adapun bentuk dari sales promotion yang mereka temui adalah berupakupon pemberian teman, dari atasannya, dari voucher belanja, denganjumlah yang bervariasi dari Rp 50.000; Rp 100.000 hingga Rp 200.000.Informan yang telah menjadi member kemudian juga diberikan voucherlewat email setiap bulannya. Pesan yang ditangkap dari iklan melalui salespromotion ini adalah diskon yang besar membuat konsumen untuk “terikat”pada Zalora dan mereka menjadi semakin tertarik untuk berbelanja diZalora.co.id dengan iming-iming diskon yang besar tersebut.2.2. Deskripsi Struktural GabunganDalam menyusun deksripsi struktural, peneliti menggunakan langkahberupa interpretasi terhadap penyataan-pernyataan orisinil dari subjekpenelitian tentang pengalaman komunikasi berbelanja di Zalora co.id danpenerimaan komunikasi pemasaran yang diterimanya.Sedangkan ditinjau dari penerimaan komunikasi pemasaran informanpenelitian, dapat dikatakan bahwa pesan yang disampaikan Zalora kepadakonsumennya adalah untuk supaya mereka membeli kembali di Zalora untuksekarang dan kemudian hari atau seterusnya. Maka dapat dikatakan bahwapenerimaan komunikasi pemasaran telah baik dilakukan oleh subjek danpihak Zalora dapat disarankan untuk mempertahankan jenis promosi nyatersebut bahwa lebih sering melakukan bentuk promosi baru melalui saranaatau media baru lainnya. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan jumlahkonsumen di masa mendatang.Berdasarkan pada pesan yang ditangkap kelima informan diketahuibahwa ternyata muncul beberapa tema yang terkait promosi yang dilakukanZalora, yaitu e- shopping behavior, e-excitement dan impulsive buying.Dalam tiga tema tersebut, lima orang informan mendeskripsikan perilaku eshoppingbehavior dimana informan menghabiskan sebagian besarwaktunya berinteraksi dengan internet dan meluangkan waktu khusus untukberinteraksi dengan media promosi dari zalora.co.id, baik langsung kewebsitenya maupun lewat akun sosial media sehingga yang bersangkutanmempertimbangkan untuk belanja. Sedangkan tema e-shopping excitementdi tunjukkan oleh informan kedua, ketiga, keempat dan kelima dimana7keempat informan tersebut menyebutkan bahwa website zalora.co.idmemberikan penawaran menarik dan informasi produk yang lengkapsehingga yang bersangkutan berbelanja. Sedangkan tema impulsive buyingdi tunjukkan oleh informan kedua, ketiga dan kelima dimana yangbersangkutan melakukan pembelian berulang disaat yang bersangkutan tidakmembutuhkan produk yang dibeli karena tergiur diskon dan penawaranzalora.co.idPENUTUPPenelitian ini menggambarkan tentang pengalaman komunikasi danpemahaman penerimaan konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id. Wawancara mendalam dilakukan kepada limaresponden yang memenuhi kriteria sebagai subjek penelitian. Ditemukan hal-halyang menarik melalui komunikasi dan pemahaman penerimaan konsumen terkaitpesan komunikasi pemasaran dalam berbelanja di Zalora.co.id. Berdasarkanpenelitian dan analisis temuan penelitian, terdapat beberapa kesimpulan, danimplikasi, baik secara akademis maupun praktis, sebagai berikut:3.1. KesimpulanBerdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan pada bagian sebelumnya,maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:1. Pelanggan Zalora.co.id memiliki pengalaman komunikasi berkaitandengan pesan promosi yang berupa media iklan, direct marketing, dansales promotion.2. Iklan Zalora.co.id yang dijumpai oleh informan penelitian ini adalahinforman pertama dan kelima. Mereka menjumpai iklannya di salurantelevisi MNC TV, dan majalah Gogirl/dresscode. Menurut informantersebut iklannya sangat menarik dan terutama karena gambarnyamenarik diperankan oleh model yang dianggap representatif daneksklusif serta adanya diskon yang dipromosikan secara gencar. Pesanyang ditangkap informan dari iklan yang dilakukan pihak Zalora adalahbahwa konsumen maupun calon konsumen didorong dan diajak untukberbelanja dan berbelanja lagi terus sehingga mereka bisa “menggaet”banyak konsumen untuk membeli berbagai produk yang ditawarkanZalora.3. Direct marketing yang ditemui adalah pada informan pertama, kedua,ketiga , keempat dan kelima. Direct marketing yang ditemukan antaralain di Twitter , Portal Online dan SEO, kolom Google Ads, Facebookads. Paling sering ditemukan adalah di Facebook ads dan promoTwitter. Pesan yang ditangkap informan dari iklan Zalora melalui directmarketing antara lain adalah: sangat efektif dan praktis karena tanpaharus bertatap muka dapat bertransaksi langsung dan mudah, kemudian8juga tampilan web yang menarik membuat mereka ingin berbelanja.Mereka yang pada awalnya tidak tertarik, lama kelamaan menjaditertarik karena iklan terus menerus muncul ketika mereka sedangmembuka facebook, google, maupun twitter.4. Sales promotion ditemukan oleh informan pertama, kedua, ketiga,keempat dan kelima. Jadi semua informan telah menemui salespromotion Zalora.co.id. Pesan yang ditangkap dari iklan melalui salespromotion ini adalah diskon yang besar membuat konsumen untuk“terikat” pada Zalora dan mereka menjadi semakin tertarik untukberbelanja di Zalora.co.id dengan iming-iming diskon yang besartersebut.5. Persepsi konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id selama ini adalah baik mengingat konsumenselalu merasa puas dengan harga dan kualitas produk yang ditawarkanpihak Zalora. Selain itu mereka memahami adanya proses belanja yangpraktis serta kemudahan dalam pembayaran, serta yang paling menarikmereka adalah diskon dan gratis ongkos pengiriman, sehingga dengandemikian dapat dikatakan bahwa pihak Zalora telah sukses dalammenyampaikan kepada konsumen berbagai keunggulannyadibandingkan dengan pesaingnya.6. Berdasarkan pada pesan yang ditangkap kelima informan diketahuibahwa ternyata muncul beberapa tema yang terkait promosi yangdilakukan Zalora, yaitu mengarah kepada e-shopping behavior,excitement. dan impulsive buying. Jadi dapat dikatakan bahwa karenainforman merupakan heavy internet user yang aktivitasnya sebagianbesar menggunakan internet sehari-harinya maka menimbulkan perilakupembelian konsumen secara e-commerce. Selain itu juga karena fotoyang menarik dan bagus di iklannya, Zalora membuat konsumennyaterkesan atau terkesima untuk membeli dan hal ini mengarah kepada eshoppingexcitement. Jadi karena konsumen merasa terkesan baikdengan iklan yang dilakukan Zalora, maka mereka memutuskan untukmembeli produk dari Zalora. Kemudian ada informan yang melakukanimpulsive buying karena pada awalnya tidak merencanakan untukmembeli produk Zalora tetapi karena tertarik dengan iklan yangdilakukan Zalora misalnya pada foto yang menarik, iklan dengan katakata“menjanjikan” hal ini mendorong mereka untuk membeli produkZalora.3.2. SaranSedangkan saran yang dapat dikemukakan pada penelitian ini antaralain adalah sebagai berikut:1. Sebaiknya pihak Zalora dapat mempertahankan promosi melaluikomunikasi yang selama ini telah berhasil menarik di benakkonsumennya, dengan lebih menitikberatkan bentuk promosiyang menjadi pengalaman komunikasi di penelitian ini, atara lain: Iklan, direct marketing dan sales promotion92. Pada penelitian di masa mendatang diharapkan tema tema yangkeluar dalam penelitian ini seperti e-shopping behavior,excitement. dan impulsive buying bisa menjadi variable perilakuterkait dengan studi marketing komunikasi10Daftar PustakaAllen, C., Kania, D., and Yaeckel, B. (2001). One-to-One Web Marketing: build arelationship marketing strategy one customer at a time. New York:WIleyComputer Publishing.Azmil, F. (2013). 9 E-Commerce Yang Sedang Berjaya di Indonesia. Available onhttp://www.merdeka.com/teknologi/9-e-commerce-yang-sedang-berjayadi-indonesia.html diunduh pada 27 Mei 2013.Baum, Steven K. (1999). The Glossary: Cn-Cz.. Glossary of Oceanography andthe Related Geosciences with References. Texas A&M University.Bogdan, R.C. &Biklen S.K. (1982).Qualitative Research for Education : An.Introduction to Theory and Methode.Boston : Allyn and Bacon, Inc.C’elik, Hakan. (2010). Influence of social norms, perceived playfulness and onlineshopping anxiety on customers’ adoption of online retail shopping Anempirical study in the Turkish context.Childers, T. L., Carr, C.L., Peck, J., and Carson, S. (2001). Hedonic andUtilitarian Motivation for Online Retail Shopping Behavior. School ofManagement, University of Kentucky.Constantinides. (2004). Influencing the online consumer’s behavior: the Webexperience.Danaher, P.J. dan J.R.Rossiter. (2009). Comparing perceptions of marketingcommunication channels. European Journal of MarketingVol. 45 No. 1/2,2011pp. 6-42.Darmiyati, Zuchdi. (1997). Pembentukan Sikap . Yogyakarta: LPKM IKIP.Dawson dan Kim. (2009). External and internal trigger cues of impulse buyingonline, Direct Marketing: An International Journal, Vol. 2. No 3.Delafrooz. (2010). Students’ Online Shopping Behavior: An Empirical Study.Dennis, C. , Bill Merrilees, Chanaka Jayawardhena, Len Tiu Wright. (2008). Econsumerbehaviour. European Journal of MarketingVol. 43 No. 9/10,2009, pp. 1121-11.Dennis et al. (2010). The Influences of Social e-Shopping in Enhancing YoungWomen’s Online Shopping Behaviour.11Fajar, A. (2012). E-commerce Harus Siapkan Banyak Komponen ValueChain,http://swa.co.id/business-strategy/marketing/e-commerce-harussiapkan-banyak-komponen-value-chain diunduh pada 3 Mei 2013.Farag, S. (2005). E-Shopping and its Relationship with In-store Shopping:Empirical Evidence from the Netherlands and the USA.Hirschman dan Holbrook (1982). Channels of distribution), social influencethrough reference groups, perceived risk.Jayawardhena, C. dan L.T. Wright. (2008). An empirical investigation into eshoppingexcitement: antecedents and effects. European Journal ofMarketingVol. 43 No. 9/10, 2009, pp. 1171-1187.Johnson, (1986). Research report: the role of behavioral modelling in computerskills acquisition toward refinement of the model, Information SystemsResearch, Vol. 11 No. 4, pp. 402-17.Kacen dan Lee, (2002). Applying the E-Commerce on Online ConsumerBehavior, Information Systems Research, Volume forthcoming.Kartika, B. (2012). Survei Global Soroti Kebutuhan Konsumen Asia pada ECommercehttp://www.chip.co.id/news/startupspress_release/4439/survei_global_soroti_kebutuhan_konsumen_asia_pada_e-commerce.Kotler, Philip. (1984). Manajemen Pemasaran. Prenhalindo; Jakarta.Koufaris, M. dan W.H. Sosa (2002). Customer Trust Online: Examining the RoleOfthe Experience With the Web Site.Department of Statistics & ComputerInformation SystemsZicklin School of Business, Baruch College.Kuswarno, E. 2005. Metode penelitian Komunikasi. Bandung: RemajaRosdakarya.Liao and Cheung. (2000). Internet-based e-shopping and consumer attitudes: anempirical study.Moleong. (2005). Metodologi Kualitatif, Edisi Revisi. Bandung: PT RemajaRosdakarya.Muhadjir, Noeng. (1996). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: RakeSarasin.12Owen, R. dan P. Humphrey. (2008).The structure of online marketingcommunication channels. Journal of Management and Marketing ResearchPark, (2006). Applying the Technology Acceptance Model and Flow Theory toOnline Consumer Behavior, Information Systems Research.Rahayu, E. M. (2012). 4 Tren yang Harus Diperhatikan Pelaku ECommercehttp://tekno.kompas.com/read/2012/03/07/14270272/4 diunduhpada 2 Mei 2013.Rahayu, E. M. (2012). 4 Tren yang Harus Diperhatikan Pelaku ECommercehttp://tekno.kompas.com/read/2012/03/07/14270272/4 diunduhpada 2 Mei 2013.Rinaldi, D. (2013). Mengapa Brand Besar Harus Masuk E-Commerce?. Availableon http://swa.co.id/technology/mengapa-brand-besar-harus-masuk-ecommercediunduh pada 1 Mei 2013.Ruben dan Stewart.(2006). Communication and Human Behavior. United States:Allyn.Sawers, P. (2013). Tengelmann continues its Rocket Internet interest, this timeinvesting $26m in Asian Zappos clone Zalora available onhttp://thenextweb.com/insider/2013/03/12/tengelmann-continues-itsrocket-internet-interest-this-time-investing-26m-in-asian-zappos-clonezalora/diunduh pada 27 Mei 2013.Scissors, J.Z. dan R. B. Baron, (2010). Advertising, Media Planning. SevenEdition. McGraw Hill.Tuten, A. (2008). Personality determinants of online shopping: Explainingonline purchase intentions using a hierarchical approach.Van Manen, M. (1997). Phenomenological pedagogy and the question ofmeaning.Phenomenology & education discourse (pp. 41-68).Johannesburg,South Africa: Heinemann.Wakefield dan Baker. (1998). Creation of Favorable User Perceptions. MISQuarterly, Volume 23, Number 2.Wenats, A.E. dkk. 2002. Integrated Marketing Communications, KomunikasiPemasaran di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Komunkasi Pemasaran Program Berita Feature “Di Balik Nama” Di Cakra Semarang TV ( Marketing Officer ) Tri Utami; I Nyoman Winata; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.266 KB)

Abstract

Komunikasi pemasaran tidak hanya dibutuhkan oleh produk-produk yang manfaatnya dapat langsung dirasakan saat itu juga. Lebih dari itu, pemasaran juga dibutuhkan oleh intangible product yang manfaatnya tidak dapat dirasakan secara langsung namun dapat dirasakan di kemudian hari. Komunikasi pemasaran program televisi terdiri dari berbagai rangkaian kegiatan seperti advertising, online marketing, event, merchandising dan funding. Hal ini dibutuhkan oleh program televisi Di Balik Nama yang bertujuan untuk meningkatkan awareness atau pengetahuan penoton baru mengingat tayangan ini adalah tayangan yang baru diproduksi. Selain itu, untuk menunjang kinerja pemasaran dan produksi, kegiatan pemasaran ini juga bertujuan untuk mendapatkan dana atau funding yang digunakan selama masa pra produksi, produksi dan pasca produksi. Komunikasi pemasaran program televisi Di Balik Nama yang dilakukan selama 3 bulan berhasil meningkatkan pengetahuan target audiens sebesar 54% dari target awal sebesar 20%. Kegiatan ini juga mendapatkan pendanaan sebesar 93% dari target awal sebesar 80%. Dari seluruh rangkaian kegiatan ditemukan bahwa online marketing dirasa sangat relevan untuk digunakan saat ini dalam komunikasi pemasaran yang terintegrasi dengan media promosi lainnya.
VIVA.CO.ID dan KEPENTINGAN EKONOMI POLITIK ABURIZAL BAKRIE (Kajian analisis isi terhadap viva.co.id mengenai pemberitaan keluarga Bakrie, perusahaan-perusahaan Bakrie Group, Partai Golkar, dan sosok Aburizal Bakrie) R. Sigit Pandhu Kusumawardana; Wiwid Noor Rakhmad; Tandiyo Pradekso; Triyono Lukmantoro; Muhammad Rofiuddin
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKMasalah kepemilikan media muncul sebagai akibat kapitalisasi media. Salah satu media swasta yang dimiliki oleh seorang pengusaha sekaligus politisi adalah portal berita viva.co.id. portal berita ini dimiliki oleh Aburizal Bakrie. Bisnisnya menjamur ke berbagai industri. Lebih dari itu, sepak terjangnya di dunia politik begitu agresif. Dia terpilih sebagai ketua umum Partai Golkar. Dan kini dia memutuskan untuk maju sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014. Sebagai media massa swasta yang tergabung dalam sebuah kelompok usaha yang begitu besar dan dimiliki oleh Aburizal Bakrie, bagaimana kecenderungan pemberitaan viva.co.id mengenai lingkaran kekuasaan Aburizal Bakrie menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kecenderungan pemberitaan viva.co.idmengenai keluarga Bakrie, Partai Golkar, perusahaan-perusahaan milik Bakrie Group, dan sosok Abu Rizal Bakrie itu sendiri. Teori yang digunakan adalah teori-teori kritis, banyak pemikiran Karl Marx, Noam Chomsky, dan Arthur Asa Berger digunakan dalam penelitian ini. Metodologi yang digunakan adalah analisis isi kuantitatif. Hal ini relefan untuk digunakan karena sesuai dengan prinsip kontekstual dan fleksibilitas. Teknik sampling yang digunakan adalah random dengan total sampel sebesar 169 berita. Dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa dalam penulisan berita, viva.co.id memiliki kecenderungan yang positif atau mendukung keluarga Bakrie, Partai Golkar, perusahaan-perusahaan milik Bakrie Group, dan sosok Aburizal Bakrie itu sendiri. Indikator tersebut dapat dilihat dari aspek tema berita yang cenderung bertema bisnis. Sementara objek pemberitaan terbesar pada tema tersebut adalah perusahaan-perusahaan milik Bakrie Group. Dari aspek nilai berita viva.co.id tidak berani memasukkan nilai berita konflik ke dalam pemberitaannya, hal ini berarti viva.co.id tidak berani mengulas konflik yang terjadi di antara anggota dalam lingkaran kekuasaaan Aburizal Bakrie. Kemudian pada aspek narasumber, ditemukan fakta bahwa viva.co.id cenderung memilih “orang dalam” ketika membangun sebuah berita, sementara sebagian besar komentar ahli yang dijadikan narasumber bernada positif. Dilihat dari lead dan tubuh beritanya pun cenderung mendukung lingkaran kekuasaan Aburizal Bakrie. Lebih dari itu, selama rentang waktu 2009-2012 terjadi pergeseran topik berita dari bisnis ke politik. Hal ini terkait dengan pencalonan Aburizal Bakrie sebagai presiden. Kata kunci: viva.co.id, analisis isi kritis, Aburizal Bakrie, kecenderungan berita
Pengaruh Terpaan Pemberitaan Teror di Surakarta dan Faktor Demografi (Usia, Jenis Kelamin, Tingkat Pendidikan) Terhadap Citra Polisi Ira Astri Rasika; Taufik Suprihatini; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.445 KB)

Abstract

Pengaruh Terpaan Pemberitaan Teror di Surakarta dan Faktor Demografi (Usia, JenisKelamin, Tingkat Pendidikan) Terhadap Citra PolisiAbstrakPemberitaan mengenai teror terhadap anggota kepolisian yang terjadi di kota Surakartapada Agustus 2012 lalu menjadi topik utama di media massa. Hal ini dapat memengaruhipersepsi masyarakat mengenai citra polisi itu sendiri karena instansi kepolisian langsung menjadisorotan utama berkaitan dengan aksi teror yang menyerang anggotanya. Akan tetapi, tidak semuaorang memiliki persepsi yang sama, hal ini dikarenakan masyarakat terdiri dari berbagai macamkomposisi demografi seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pengaruh terpaan media tentang pemberitaan teror solo dan faktor demografi(usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan) terhadap citra polisi di mata masyarakat. Penelitimenggunakan teori efek komunikasi kognitif yang dapat menjelaskan bagaimana pembentukancitra dapat terjadi karena terpaan media massa yang diterima oleh khalayak (Ardianto, 2004),teori kategori sosial dan teori perbedaan individual dari Melvin DeFleur dan Ball Rokeachmampu menjelaskan bagaimana faktor demografi penduduk dapat berpengaruh terhadappembentukan citra (Rakhmat, 2011). Populasi dari penelitian ini adalah warga kota Surakartayang berusia 15-64 tahun. Penarikan sampel dilakukan secara aksidental sebanyak 70 orang.Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis Structural Equation Model (SEM)untuk melihat besarnya pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel terpaanpemberitaan (X) terhadap variabel citra polisi (Y) melalui variabel usia, jenis kelamin, tingkatpendidikan (intervening variable). Hasil pengujian hipotesis adalah terpaan pemberitaan terorSolo berpengaruh terhadap citra tidak melalui usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan,dengan nilai pengaruh langsung terpaan terhadap citra (standardized direct effect) sebesar 0,278lebih besar dari nilai pengaruh tidak langsung terpaan terhadap citra melalui usia, jenis kelamin,tingkat pendidikan (standardized indirect effect) sebesar – 0,048. Jadi, hipotesis yang diajukandalam penelitian ini ditolak. Dari pengujian Regression Weights diperoleh hasil parameterestimasi pengaruh antara terpaan terhadap citra sebesar 0,778, pengujian hubungan keduavariabel tersebut menunjukkan nilai C.R (critical ratio) sebesar 2,637 lebih besar dari 1,96 danprobabilitas = 0,008 (p < 0,05), ini berarti terpaan berpengaruh positif terhadap citra. PengujianSquared Multiple Correlation untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalammenerangkan variasi variabel dependen, hasilnya adalah citra dipengaruhi oleh terpaan,pendidikan, usia, dan jenis kelamin sebesar 24,8%, sedangkan sisanya sebesar 75,2% (100%-24,8%) dijelaskan oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini.Keywords: terpaan, citra polisi, faktor demografi, SEMThe Effect Of Exposure To News Coverage Of Terror In Surakarta and DemographicFactors (Age, Gender, Level of Education) To The Image Of The PoliceAbstractNews coverage of terror against members of the police force in the Surakarta on August 2012and became the main topic in the mass media. It can affect people's perception about the imageof the police because the police agency directly became highlights related to the terror actionagainst its members. However, not everyone has the same perception, this is because thecommunity is made up of a wide variety of demographic composition, such as age, gender, andlevel of education. This study aims to determine the effect of exposure to the news media aboutthe terror solo and demographic factors (age, gender, education level) on the image of the policein the eyes of society. Researchers using cognitive communication effects theory that can explainhow the image formation can occur because of mass media exposure received by audiences(Ardianto, 2004), social categories theory and the theory of individual differences and BallRokeach Melvin DeFleur able to explain how demographic factors can affect the imageformation (Rakhmat, 2011). The population of this research are the citizen of Surakarta aged 15-64 years. Accidental sampling conducted as many as 70 people.Hypothesis testing is done using analysis of Structural Equation Modelling (SEM) to seethe magnitude of the direct and indirect effect between news exposure variable (X) to the policeimage variable (Y) through the variables of age, gender, level of education (interveningvariable). Results of hypothesis testing is preaching terror Solo exposure influence the image notthrough age, gender, and education level, with the direct effect value of exposure to the image(standardized direct effect) of 0.278, is greater than the indirect effect value of exposure to theimage through the ages, gender, level of education (standardized indirect effect) of - 0.048. Thus,the hypothesis presented in this research was rejected. Regression Weights of test resultsobtained parameter estimates the effect of exposure to images of 0,778, the relationship testbetween the two variables indicate the value of C.R (critical ratio) of 2,637 greater than 1.96and probability = 0.008 (p < 0,05), it means the exposure has a positive effect to the image.Squared Multiple Correlation test to measure how far the model’s ability in explaining variationof the dependent variable, the result image is affected by exposure, education, age, and sex of24,8%, while the remaining 75.2% is explained by other factors not examined in this study.Keywords: exposure, image of the police, demographic factors, SEMPENGARUH TERPAAN PEMBERITAAN TEROR DI KOTA SURAKARTA DAN FAKTORDEMOGRAFI (USIA, JENIS KELAMIN, TINGKAT PENDIDIKAN) TERHADAP CITRAPOLISI DI MATA MASYARAKATPENDAHULUAN: Media memang mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadapmasyarakat, disadari atau tidak, media massa mampu membuat masyarakat mempunyai penilaiantersendiri terhadap suatu informasi, terutama dalam hal mengubah persepsi atau sikapmasyarakat atas suatu realita. Dampak ini diperkuat dengan keseragaman para wartawan dalammenyajikan berita yang cenderung sama. Khalayak akhirnya tidak mempunyai alternatif yanglain sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya darimedia massa (Rakhmat, 2011:199). Meskipun media memiliki kekuatan untuk membentuk ataumengubah persepsi, namun hal tersebut tetap tidak bisa memaksa semua masyarakat untukmemiliki respon yang sama dalam menerima setiap terpaan informasi yang diberikan oleh media.Hal ini dikarenakan, masyarakat terdiri dari berbagai macam komposisi demografi seperti usia,jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Komposisi demografi itulah yang akan mempengaruhicara dan pola pikir masyarakat dalam memberikan stimulus terhadap setiap informasi yangditerimanya. Pemberitaan tentang aksi teror Solo yang terjadi di Kota Surakarta beberapa waktulalu, menyedot perhatian media massa karena modus baru yang dilakukan oleh para teroris.Selama bulan Agustus, tercatat terdapat empat aksi teror yang dilakukan oleh teroris bersenjatayang melakukan penyerangan terhadap anggota kepolisian yang sedang bertugas jaga di pos- pospolisi, mulai dari melempar granat sampai penembakan yang menewaskan satu anggota polisi.Oleh sebab itu, seluruh masyarakat Indonesia, tidak hanya masyarakat Solo saja, serta parapejabat pemerintahan terus mengawasi dan memonitor kinerja instansi Kepolisian RepublikIndonesia dalam menyelesaikan dan mengusut kasus ini sampai tuntas, karena pemberitaan yangnegatif di media massa tersebut dapat membuat citra masyarakat terhadap polisi menjadi negatif.Sementara itu, menurut Psikolog Forensik, Reza Indragiri Amriel, seperti yang dikutip dari salahsatu situs online, isu terorisme yang belakangan marak muncul di media massa dinilai semakinmemperburuk citra Polri. Kondisi tersebut dinilai kian menguatkan anggapan bahwa Polrisemakin lemah, dan masyarakat terguncang akibat berita- berita terorisme di media massa. Iamengatakan,”akibatnya, masyarakat semakin bersikap negatif terhadap Korps Tribata. Publikmenafsirkan, sudah korup, gagal pula menangkal beranak pinaknya teroris” (sumber:http://berita.plasa.msn.com/nasional/republika/isu-terorisme-dinilai-justru-perburuk-citra-polisi).Dalam hal ini, media telah menunjukkan kekuatannya sebagai pembentuk persepsi masyarakat,karena melalui pemberitaan- pemberitaan yang terus menerus mengenai aksi teror ini dapatmembentuk atau mengubah persepsi masyarakat tentang bagaimana citra kepolisian Indonesia dimata mereka. Berdasarkan hal tersebut, lantas sejauh mana pengaruh terpaan pemberitaan terordi Kota Surakarta dan faktor demografi (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan) terhadap citrapolisi di mata masyarakat?PEMBAHASAN: Terpaan (exposure) merupakan kegiatan mendengar, melihat, dan membacapesan-pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesantersebut yang terjadi pada individu dan kelompok (Kriyantono, 2006 : 205). Masyarakat yangmengkonsumsi media massa dan mendapatkan informasi mengenai aksi teror Solo, baik itudengan melihat, mendengar, dan membaca, serta mempunyai perhatian dan pengalaman pribadisecara langsung terhadap aksi teror Solo dapat dikatakan sudah mendapatkan terpaanpemberitaan aksi teror Solo dari media massa. Proses bagaimana masyarakat mendapatkanterpaan pemberitaan aksi teror Solo tidak lepas dari faktor- faktor yang juga menjadi kekuatanbagi media massa dalam mempengaruhi masyarakat. Noelle- Neumann mencetuskan faktorfaktoryang saling bekerjasama dalam membentuk perspektif yang selektif (Rakhmat, 2011:198):ubiquity (serba ada), keseragaman wartawan, dan kumulasi pesan. Dalam pemberitaan aksi terorSolo hampir semua media massa, baik itu elektronik, media cetak, bahkan media online,memberitakan hal yang sama tentang kasus teror setiap harinya (keseragaman wartawan). Entahitu melaporkan langsung dari tempat kejadian perkara, wawancara dengan anggota instansikepolisian, hingga mengundang narasumber yang berbeda- beda dalam acara talk show danmembahas aksi teror. Hal yang dibahas pun semakin lama semakin merembet kemana- mana,dari aksi teror yang dilakukan, menyudutkan instansi kepolisian karena kelalaian kerjanya, motifdan tersangka aksi teror, hingga kontroversi seputar penangkapan teoris. Semua pesan- pesanmengenai aksi teror itu berakumulasi dan dapat mempengaruhi masyarakat. Namun menurutDeFleur dan Ball Rokeach tidak semua orang mempunyai respon yang sama terhadap terpaanpemberitaan di media massa. Hal tersebut dicetuskan dalam teori kategori sosial (social categorytheory) dan teori perbedaan individual (individual differences theory) (Rakhmat, 2011: 201-202).Menurut teori kategori sosial, respon setiap orang dalam menerima terpaan media tergantungdari faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Secara garis besar usiaadalah lamanya hidup individu yang terhitung sejak dia dilahirkan sampai berulang tahun. Usiadikelompokkan menjadi 3 yaitu usia belum produktif (0-14 tahun), usia produktif (15-64 tahun),dan usia tidak produktif (65 tahun ke atas). Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakatyang didasarkan pada perbedaan ciri fisik (organ reproduksi, bentuk tubuh) dan perbedaan sosial(perbedaan peranan), dan dikelompokkan menjadi laki- laki dan perempuan. Sedangkan tingkatpendidikan merupakan proses pembelajaran yang berstruktur yang mempunyai jenjang atautingkatan pada periode waktu tertentu, berlangsung dari sekolah dasar sampai perguruan tinggidan tercakup di dalamnya studi akademis umum. Asumsi dari teori kategori sosial adalah orangdengan usia dan jenis kelamin yang sama cenderung sama pula dalam merespon pesan yangdisampaikan oleh media massa. Orang dengan usia dewasa cenderung akan memiliki perhatianyang sama terhadap berita aksi teror Solo yang didapat melalui berbagai macam media,sedangkan orang dengan usia remaja yang lebih sering mengakses informasi melalui mediatelevisi dan online, cenderung merespon dengan biasa saja karena kejadian tersebut sedangmenjadi headline, tidak sampai terlalu mengikuti, karena orang dengan usia remaja cenderunglebih menyukai hal- hal yang bersifat hiburan. Tingkat pendidikan seseorang jika dilihat dariperspektif perbedaan individual (teori perbedaan individu), mempengaruhi respon atau stimulusyang diterima oleh setiap individu terhadap pesan yang disampaikan media massa. Perbedaanpengalaman belajar, yang ditentukan dari sekolah baik formal maupun informal yang berjenjangdari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, mampu mempengaruhi pola pikir dan prasangkaseseorang yang lebih baik, serta lebih mampu menerima informasi. Orang dengan pendidikanyang rendah cenderung lebih mudah terkena terpaan karena pengetahuannya yang terbatas.Sedangkan orang dengan pendidikan yang lebih tinggi, seperti eksekutif atau mahasiswa,cenderung lebih sulit terkena terpaan karena pengetahuannya lebih luas, lebih bisa berfikir, lebihmencari berbagai referensi sebelum membuat keputusan. Dominick (2000) menyebutkan tentangdampak komunikasi massa pada pengetahuan, persepsi dan sikap seseorang. Media massaterutama televisi yang menjadi agen sosialisasi memainkan peran penting dalam transmisi sikappersepsi dan kepercayaan (Ardianto, 2004 : 58). Efek kognitif sangat memengaruhi pembentukancitra oleh khalayak terhadap sesuatu karena efek kognitif terjadi apabila ada perubahan pada apayang diketahui, dipahami, atau dipersepsi khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisipengetahuan, ketrampilan, kepercayaan, dan keyakinan. Media massa bekerja untukmenyampaikan informasi, sedangkan untuk khalayak, informasi tersebut dapat membentuk,mempertahankan, atau mendefinisikan citra berdasarkan persepsi seseorang. Jadi, citra terbentukberdasarkan informasi yang kita terima. Tipe penelitian ini adalah eksplanatif yaitu untukmenemukan penjelasan tentang mengapa suatu kejadian atau gejala terjadi. Populasi daripenelitian adalah warga kota Surakarta yang berusia 15-64 tahun, tetapi karena peneliti tidakmemiliki kerangka sampel yang cukup, maka pengambilan sampel dilakukan dengan teknik nonprobability sampling dan ditetapkan besarnya sampel adalah 70 orang. Teknik penarikan sampeldilakukan dengan teknik accidental sampling, di mana sampel dapat terpilih karena berada padawaktu, situasi, dan tempat yang tepat. Instrumen penelitian yang digunakan adalah denganmenggunakan kuesioner yang berupa daftar pertanyaan yang disiapkan oleh peneliti untukdisampaikan kepada responden yang jawabannya diisi oleh responden sendiri. Sedangkan teknikpengumpul data adalah dengan teknik wawancara, di mana selain memberikan kuesioner,peneliti juga memberikan kesempatan kepada responden untuk menanyakan yang tidakdimengerti responden dalam menjawab kuesioner sehingga mendapatkan jawaban yang lebihmemuaskan dan mendalam. Selain itu, teknik wawancara digunakan untuk memastikan bahwaresponden menjawab semua pertanyaan dalam kuesioner secara lengkap, tidak sembarangan, dantidak diisikan orang lain. Karena dalam penelitian ini terdapat variabel antara (intervening),maka jenis analisis ini adalah analisis multivariat. Analisis multivariate yang digunakan adalahdengan menggunakan pendekatan Model Persamaan Struktural (Structural Equation Model/SEM). Model ini digunakan karena penelitian ini ingin menguji pengaruh terpaan (X) terhadapcitra polisi (Y) melalui usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan (intervening variabel). Sebelummelakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan evaluasi atas asumsi- asumsi SEMyang dapat menentukan criteria layak uji SEM. Dalam penelitian ini, semua asumsi- asumsiSEM diterima sehingga variabel- variabel tersebut layak diuji menggunakan SEM. Uji hipotesisdilakukan dengan melihat pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel eksogenterhadap variabel endogen. Analisis ini diperlukan untuk membuktikan variabel intervening.Variabel intervening dalam penelitian adalah pendidikan, usia, dan jenis kelamin. Variabelpendidikan, usia, dan jenis kelamin terbukti sebagai variabel intervening yang dapat dilaluiterpaan terhadap citra apabila koefisien pengaruh tidak langsungnya lebih besar daripadapengaruh langsung. Dari pengujian Regression Weights diperoleh hasil parameter estimasipengaruh antara terpaan terhadap citra sebesar 0,778, pengujian hubungan kedua variabeltersebut menunjukkan nilai C.R (critical ratio) sebesar 2,637 lebih besar dari 1,96 danprobabilitas = 0,008 (p < 0,05), ini berarti terpaan berpengaruh positif terhadap citra. PengujianSquared Multiple Correlation untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalammenerangkan variasi variabel dependen, hasilnya adalah citra dipengaruhi oleh terpaan,pendidikan, usia, dan jenis kelamin sebesar 24,8%, sedangkan sisanya sebesar 75,2% (100%-24,8%) dijelaskan oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil uji hipotesismenyatakan bahwa pengaruh langsung terpaan terhadap citra sebesar 0,278 lebih besar daripadapengaruh tidak langsungnya sebesar - 0,048. Jadi dapat disimpulkan bahwa terpaan berpengaruhterhadap citra tidak melalui pendidikan, usia, dan jenis kelamin, sehingga hipotesis yangdiajukan ditolak. Hasil hipotesis ini juga menunjukkan keperkasaan media (Noelle-Neumman,dalam Rakhmat, 2011:198). yang dapat memengaruhi hampir setiap orang dengan cara yangsama tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.PENUTUP: Polisi merupakan satu institusi pemerintahan yang mempunyai tugas berhubunganlangsung dengan masyarakat sebagai pelayan, pengayom, dan pelindung masyarakat. Oleh sebabitu, citra polisi di mata masyarakat pun harus dijaga agar hubungan antara masyarakat daninstansi kepolisian berlangsung dengan baik. Salah satu cara yang digunakan oleh kepolisianuntuk memperbaiki atau mempertahankan citranya di mata masyarakat adalah melalui mediamassa. Berkembangnya media massa sekarang ini, membuat media massa mempunyai perananpenting dalam membentuk persepsi dan keyakinan masyarakat tentang sesuatu. Kesimpulan daripenelitian ini adalah: 1. Hasil pengujian hipotesis adalah terpaan pemberitaan teror Soloberpengaruh terhadap citra tidak melalui usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan (hipotesisyang diajukan ditolak). Hasil ini diperoleh melalui berdasarkan pengolahan uji hipotesis yangdilakukan dengan menggunakan metode analisis Structural Equation Model (SEM), didapat hasilpengaruh langsung terpaan terhadap citra (standardized direct effect) sebesar 0,278 lebih besardari pengaruh tidak langsung terpaan terhadap citra melalui usia, jenis kelamin, tingkatpendidikan (standardized indirect effect) sebesar – 0,048; 2. Landasan teori yang diajukan untukmendukung hipotesis awal, yaitu teori kategori sosial dan teori perbedaan individual tidaksignifikan karena hasil uji hipotesis menyatakan bahwa terpaan berpengaruh terhadap citrasecara langsung tanpa melalui faktor- faktor demografi, seperti usia, jenis kelamin, dan tingkatpendidikan. Namun teori efek komunikasi dapat mendukung hasil uji hipotesis bahwa terpaanmempunyai pengaruh dalam pembentukan citra; 3. Berdasarkan temuan penelitian di lapanganyang didapatkan dengan membagikan kuesioner kepada 70 orang responden, sebanyak 44.3%menilai citra polisi cukup baik, disusul kemudian 27.1% menilai citra polisi kurang baik, 15.7%menilai citra polisi buruk, dan hanya 12. 9% yang menilai citra polisi baik. Berdasarkankesimpulan tersebut, maka sebaiknya media harus lebih berhati- hati dalam memberikaninformasi mengenai instansi kepolisian, misalnya dengan menyaring informasi mengenai instansikepolisian yang akan ditampilkan di media massa, tidak sembarangan mencari danmewawancarai narasumber, karena media memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhipersepsi masyarakat tentang citra kepolisian. Instansi kepolisian sebaiknya juga mempunyai jurubicara atau Humas yang bertugas memberikan informasi kepada masyarakat melalui mediasecara resmi melalui konferensi pers, tidak hanya di kantor pusat saja tetapi juga di daerahdaerah.Hal ini diperlukan agar informasi yang muncul di media massa dapat terkendali danterkontrol.DAFTAR PUSTAKA: Ardianto, Elvaro. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. SimbiosaRekatama Media: Bandung ; Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi.Kencana: Jakarta ; Rakhmat, Djalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya:Bandung ; Ferdinand, Augusty. 2006. Structural Equation Modeling dalam PenelitianManajemen, Edisi Keempat. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang ; Firdaus, M danFarid. 2008. Aplikasi Metode Kuantitatif Terpilih Untuk Manajemen dan Bisnis, Seri metodekuantitatif. IPB Press: Bogor ; Ghozali, Imam. 2008. Model Persamaan Structural: Konsep danAplikasi dengan Program Amos 16.0. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang ;Koentjaraningrat. 1977. Metode- metode Penelitian Masyarakat. PT Gramedia: Jakarta ;Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Kencana: Jakarta ; Muhidin,Sambas Ali dan Maman Abdurahman. 2007. Analisis Korelasi, Regresi, Dan Jalur DalamPenelitian (Dilengkapi Aplikasi Program SPSS). CV Pustaka Setia: Bandung ; Prasetyo,Bambang dan Lina Miftahul Jannah. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi.Rajawali Pers: Jakarta ; Rakhmat, Djalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. PT RemajaRosdakarya: Bandung ; Rakhmat, Djalaluddin. 1984. Psikologi Komunikasi. PT RemajaRosdakarya: Bandung ; Santoso, Singgih. 2007. Structural Equation Modelling, Konsep danAplikasi dengan Amos, Membuat dan Menganalisis Model SEM Menggunakan Program SPSS.PT Elex Media Komputindo: Jakarta ; Syah Putra, Dedi Kurnia. 2012. Media dan Politik:Menemukan Relasi Antara Dimensi Simbiosis- Mutualisme Media dan Politik. Graha Ilmu:Yogyakarta ; Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedelapan. Kencana: Jakarta ;http://berita.plasa.msn.com/nasional/republika/isu-terorisme-dinilai-justru-perburuk-citra-polisidiakses pada 20 Desember pukul 10.00 ;www.m.okezone.com/read/2012/09/01/337/683777/kapolri-aksi-di-solo-tidak-terkait-pilkada-DKI diakses pada 19 September pukul 13.00 ; http://suarapembaruan.com/home/teror-beruntundi-solo-polisi-ditembak-mati/24062 diakses pada 5 Maret 2013 pukul 18.00 ;http://m.tempo.co/read/news/2012/09/03/063427135/mabes-polri-motif-teror-solo-balas-dendamdiakses pada 5 Maret 2013 pukul 19.00 ; Laporan Harian Monitoring Isu Publik Depkominfodalam www.depkominfo.go.id di akses dan didownload pada 19 September 2012 pukul12.00.
HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TAYANGAN DRAMA SERI KOREA DI TELEVISI TERHADAP MODEL RAMBUT DI KALANGAN REMAJA Ghita Kriska Dwi Ananda; M Bayu Widagdo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.601 KB)

Abstract

Demam Korea (Korean wave) saat ini telah memasuki negeri Indonesia. Hal itu diakibatkan penyebaran dan pengaruh budaya Korea di Indonesia terutama dari Drama Korea yang muncul di tahun 2002. Para remaja cenderung ingin selalu mengikuti perkembangan mode yang sedang populer agar tampil modis, salah satunya adalah model rambut Hal ini dilakukan karena para remaja ingin seperti apa yang ditampilkan oleh tokoh yang dilihatnya Perilaku bergaya rambut Korea pada remaja tersebut disinyalir merupakan akibat dari faktor intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi terhadap model rambut di kalangan remaja. Peneliti menggunakan Teori Powerfull Effect. Responden pada penelitian ini berasal dari kalangan remaja di Kota Semarang yang berumur 16 hingga 22 tahun. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 50 orang dimana pengambilan sampel dilakukan dengan metode non random, serta accidental sampeluntuk teknik pengambilan sampel. Berdasarkan hasil penelitian, maka tingginya intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi tidak diikuti dengan model rambut yang modis pada remaja. Hal ini dikarenakan responden dengan intensitas menonton tinggi, sedang dan rendah tidak terpengaruh untuk mengikuti model rambut seperti apa yang ditampilkan dalam tayangan tersebut.  Kata kunci: Drama Seri Korea, Model Rambut, Semarang
Hubungan Terpaan Iklan Berniaga.com di Media Massa dan Intensitas Komunikasi Word Of Mouth dengan Minat Bertransaksi Indah Puspawardhani; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso; Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.132 KB)

Abstract

Maraknya kasus penipuan yang terjadi dalam transaksi jual beli online menjadi latar belakang penelitian ini. Berniaga.com sebagai salah satu situs jual beli online melakukan strategi komunikasi untuk meningkatkan minat khalayak bertransaksi dengan banyak beriklan di media massa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah ada hubungan terpaan iklan Berniaga.com di media massa dan intensitas komunikasi word of mouth dengan minat bertransaksi?Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan iklan Berniaga.com di media massa dan intensitas komunikasi word of mouth dengan minat khalayak untuk bertransaksi di forum jual beli online Berniaga.com. Dimana sebagai variabel independen yaitu terpaan iklan Berniaga.com di media massa dan intensitas komunikasi word of mouth berhubungan dengan minat bertransaksi sebagai variabel dependennya.Populasi dalam penelitian ini adalah khalayak yang pernah melihat iklan Berniaga.com di media massa. Sampel yang diambil sebanyak 100 orang responden dengan menggunakan teknik non-random accidental sampling. Data dikumpulkan denganmenggunakan metode melalui kuesioner yang diisi sendiri oleh responden. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi pearson. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara terpaan iklan Berniaga.com di media massa dengan minat bertransaksi dimana diperoleh korelasi pearson sebesar 0,854 yang berarti semakin tinggi terpaan iklan maka semakin tinggi minat bertransaksi. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara intensitas komunikasi word of mouth dengan minat bertransaksi dimana diperoleh korelasi pearson sebesar 0,902 yang berarti bahwa semakin tinggi intensitas komunikasi word of mouth maka semakin tinggi minat bertransaksi.Kata kunci : Terpaan iklan, word of mouth, minat bertransaksi
Co-Authors Achmad Habibie Taufiqqur Rahman Adi Nugroho Adinda Sekar Cinantya Aditia Nurul Huda Aditya Iman Hamidi Adityo Cahyo Aji Afif Hazly Hasibuan Agraha Dwita Sulistyajati Agus Naryoso Ahda Hanif Fauzi Ahmad Fauzi Ahmad Fikar Harakan Aike Ingget Pratiwi Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Ajeng Rengganis, Sekar Albert Rivai Sinaga Aldi Atwinda Jauhar Aldiansyah, Duvit Aldila Leksana Wati Alexandra Parahita Bening Kesumaputri Alif Ibrahim Alya Anwar, Rizqika Alyssa Jasmine Aurelia Rahmiqatrunnada Amrina Rida Hapsari Ananda Erfan Musthafa Andrea Oktavia, Helga Anggi Pramesthi Kusumarasri Anggia Anggraini Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annisa Aulia Mahari Annisa Kusumawardhani Annisya Winarni Putri Aprida Mulya, Resti Ardelia Fitriani, Neysa Ardini Koesfarmasiana, Ardini Arfika Pertiwi Putri Arif Nurochman Arinda Putri Oktaviani Aryatama Wibawa, Michael Asep Virgo Asri Aulia Rachmawati Asri Nugraheningtyas Astrid Damayanti Asty Setiandini Atika Nabila Atina Primaningtyas Aulia Nur Awang Asmoro Ayu Puspitasari, Ramadhiana Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Azzahira Putri Zakaria, Grandhis Badri Ilham Ramadhan Bagoes Praswanda, Yusrizal Banun Diyah Ardani Bareta Hendy Pamungkas Bayu Widagdo, Muhammad Bella Yunita Binarso Budiono Budiono Bisma Alief Charisma Rahma Dinasih Chintya Dyah Meidyasari Daffa Satriowibowo Daniel Dwi Listantyo Dara Pramitha Darda Putranto, Addakhil Deansa Putri Deni Arifiin Destima Nursylva Anggraningrum Devi Pranasningtias Indriani Dhira Widya Prasya, Dhira Dhiyah Puspita Sari Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Muhammad Distian Jobi Ridwan Diyan Hafdinovianti Ayu Kinasih Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dwi Mulya Ningsih Dwi Purbaningrum Eggie Nurmahabbi Eka Ardianto Farasila, Iraisa Farisa Dian Utami Fariz Dewanto Fatma Izzatussayidati Febri Ariyadi Febriana Handayani Febriandani, Anisa Fitriyani, Putri Frida Asih Pratiwi Galuh Perwitasari Ghaliyah Julya Almira Ghana Pratama, Albert Ghela Rakhma Islamey Ghita Kriska Dwi Ananda Gilang Wicaksono Hajar Azizatun Niswah Hamidah, Nadiya Handi Aditia Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hardiyanto, Muhamad Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrikus Setya Pradhana Henny Novita Rumono Hilda Maisyarah I Nyoman Winata I Nyoman Winata Ibrahim Muhammad Ramadhan Ichsan Wahyu Pratama Imam Muttaqin Indah Puspawardhani Indra Septia BW Infra Ranisetya Intan Mashitasari Ira Astri Rasika Jaya Pramono Adi Jimmy Fachrurrozy Jody Suryamar Yudha Joyo Nur Suyanto Gono Kanaya Az Zahrah Karunia Yusuf, Kevin Kembang Soca Paranggani Khairani, Indah Khairunnisya Sholikhah Kinanati Bunga Wulansari Krisna Adryanto Lintang Jati Rahina Lintang Ratri Rahmiaji LISTIANTO HINDRA PRAMONO Lizzatul Farhatiningsih Lucia Eka Pravitasari Luh Rani Wijayanti M Bayu Widagdo Maharani Easter Mahendra Zulkifli Manggala Hadi Prawira Marcia Julifar Ardianto Marsha Fildzaishma Marshanda Putri, Tyara Martia Mutiara Tasuki Marwah Gayatri Purnado Maya Lestari Melinda Wita Satryani Meriza Lestari Meta Detiana Putri Mohammad Akbar Rizal Hamidi Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yulianto Muchammad Bayu widagdo MUHAMMAD ABDUSSHOMAD Muhammad Bayu widagdo Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Fadhel Raditya Muhammad Rofiuddin Muhamy Akbar Iedani Muliawati, Ditha N S Ulfa Naafisa Maulida Pratama Nabila Rezki, Anisa Nadia Dwi Agustina Nadia Hutaminingtyas Nanik Sudaryningtyas, Nanik Naura Kamila Prasetyanti Nicho Putera Gustantyo Nidya Aldila Nikita Putri Mahardhika Nikolas Prima Ginting Ninda Nadya Nur Akbar Noni Meisavitri Novi Rosmaningrum NS Ulfa Nungki Dwi Widyastuti Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nur Shafira, Hana Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurist Surrayya Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Avita Sari Nurwijayanti Otto Fauzie Haloho Pipin F.P. Lestari Prabowo Nurwidagdyo Pranamya Dewati Prescilla Roesalya Primada Qurrota Ayun Pungkas Dwitanto Purwoko, Agus R. Sigit Pandhu Kusumawardana Radika Oktavianti, Dina Raihan Triaffandra Ramadhan, Maulana Ramadhinda, Azzahra Randyani Rarasati Raymond Soelistiono Filemon Raynaldo Faulana Pamungkas Reichan Anantyo, Muhamad Resty Widyanty Revana Meylani Rhola Bachtiar Raharjo Rifki Nur Pratiwi Rifqah Nailah Rijalul Vikry Rizka Amalia Rizka Arsianti Rizky Amalya Hadiningtyas Rizqi Ganis Ashari Rohedy Ayucandra Rohmat Pambudi Roli Harni Purba, Juita Rony Kristanto Setiawan Rosita Kemala Sari Rosyada Setijawan, Amrina Rumi Aulia Rahmanisa S Rouli Manalu Safira Nurin Aghnia Santa Cicilia Sinabariba Septian Aldo Pradita Septiana Hadiwinoto, Jessica Septiana Wulandari Suparyo Setyabudi, Gunawan Shafira Inas Nurina Shahnaz Natasha Anya Sigit Haryadi Sofi Kumala Fatma Sofianisa Rahmawati Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tan Faizal Rachman Tasya Nadia Taufik Indra Ramadhan Taufik Reza Ardianto Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Teresia Kinta Wuryandini Theresia Dita Anggraini Thriyani Rahmania Titan Armaya Tiur Agata, Elisa Tjen Jocelyn Ivana Tri Muriati Harahap, Anggi Tri Utami Triangga Ardiyanto Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Uci Andriani Veriska, Veriska Vicho Whisnurangga Vinny Avilla Barus Wahyu Aji Hernawan, Dhimas Wahyu Kuncoro Aji, Danar Wahyu Nur R, Efrilia Wahyu Widiyaningrum Widya Andhika Aji Wina Natasya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yanu Angga Andaru, Yanu Yanuar Luqman Yoga Yuniadi Yohanes Rico Ananda Putra, Yohanes Yuan Stephanie Yuliantika Hapsari Yunita Indriyaswari Yusriana, Amida YUSUF AKBAR, MUHAMMAD Zainul Asngadah Fatmawati Zelda Elsa Khabibah Zulfikar Mufti