Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN Martia Mutiara Tasuki; Tandiyo Pradekso; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.347 KB)

Abstract

PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIANSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata IJurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Martia Mutiara TasukiNIM : D2C 005 183JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIANABSTRAKMenu breakfast merupakan inovasi varian menu terbaru dari McDonald's Indonesia. Sebagai produk baru, menu breakfast McDonald's berusaha untuk memperoleh tempat dibenak masyarakat maka McDonald’s melakukan komunikasi pemasaran melalui berbagai media diantaranya melalui iklan, brosur, kupon berhadiah dan media display di setiap gerai McDonald’s. Dengan menggunakan merek McDonald’s menu breakfast McDonald’s telah menempatkan posisinya di benak konsumen. Kemudian keputusan pembelian pun dibuat.Tujuan penelitian ini adalah utuk mengetahui pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s dan citra produk terhadap keputusan pembelian. Dengan mengacu pada teori advertising exposure process dan teori perilaku konsumen. Tipe penelitian ini adalah eksplanatori. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode accidental sampling yaitu sebanyak 50 orang responden. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dengan kuesioner. Teknik pengolahan data menggunakan regresi logistik.Berdasarkan hasil perhitungan, variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s ( X1 ) masuk dalam kategori rendah dengan persentase sebesar 58%, variabel citra produk (X2) masuk dalam kategori baik dengan persentase sebanyak 70%, dan variabel keputusan pembelian (Y) masuk dalam kategori “ya” atau tinggi dengan persentase sebesar 66%. Adapun hasil pengujian hipotesa menunjukkan bahwa variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s (X1) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (Y). Sedangkan variabel citra produk (X2) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap vaeriabel keputusan pembelian (Y) dengan nilai signifikansi 0,012 dan nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346.Kata kunci : Terpaan Komunikasi Pemasaran, Citra Produk, Keputusan Pembelian.THE EFFECTS OF MCDONALD’S BREAKFAST MENU MARKETING COMMUNICATIONS EXPOSURE AND PRODUCT IMAGE TOWARDS THE PURCHASED DECISIONABSTRACTBreakfast menu is the latest variant of the innovation of McDonald's Indonesia. As a new product, McDonald's breakfast menu is trying to obtain a community then dibenak McDonald's doing marketing communications through a variety of media including advertising, brochures, through the lottery and the display in every media outlet McDonald 's. By using the brand McDonald's McDonald's breakfast menu has put his position in the minds of consumers. Then any buying decision is made. The purpose of this research is to know the influence of exposure to McDonald's breakfast menu of marketing communications and product imagery to the purchasing decision. With reference to the theory of advertising exposure process and theory of consumer behavior. This research type is eksplanatori. Sampling is performed using the method of accidental sampling that is as much as 50 people responden. While the data collection technique using observations with the questionnaire. Data processing techniques using logistic regression. Based on the results of the calculation, variable exposure to McDonald's breakfast menu of marketing communications (X 1) belongs to the category of low percentage of 58, with variable image products (x 2) belongs to the category either by percentage as much as 70, the purchase decision and variable (Y) belongs to the category 'Yes' or high with a percentage amounting to 66. As for the hypothesis test results indicating that the variable exposure to McDonald's breakfast menu of marketing communications (X 1) has no significant influence on the buying decision variable (Y). While the image of the products variable (x 2) have a significant influence on the buying decision vaeriabel (Y) with the value of the significance and value of 0.012 Exp (B) from X 2 of 1,346.Keywords: exposure to marketing communications, Product Image, purchase decisions.BAB IPENDAHULUAN Latar BelakangMcDonalds Indonesia mengadopsi menu breakfast untuk menjawab rasa bosan pelanggan dengan menu-menu yang sudah ada selama ini. Hal ini juga untuk memenuhi keinginan pelanggan agar menu McDonald’s yang terdapat di luar Indonesia kini dapat dinikmati pula di Indonesia. Menu sarapan ini disajikan sejak pukul 05.00 pagi hingga pukul 11.00 siang. Harga yang ditawarkan cukup beragam sekitar Rp 20.000,- hingga Rp 30.000,- per paket. (http://medantalk.com/may/19/2011//McD Indonesia Luncurkan Menu Baru/htm).Untuk itu McDonald’s melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan bidang pemasaran atau juga bisa disebut dengan promosi. Berbagai hal dilakukan mulai dari iklan, brosur, banner, kupon berhadiah, dan lain sebagainya. Semua ini dimaksudkan untuk mengkomunikasikan kepada masyarakat bahwa McDonalds memiliki varian produk baru yaitu menu breakfast atau menu sarapan pagi. Tidak hanya mengenai produk, masyarakat juga perlu diberikan informasi mengenai waktu yang ditetapkan untuk menjumpai menu breakfast.Berdasarkan data sales selama bulan April, Mei, dan Juni pencapaian penjualan menu breakfast baru menunjukkan angka 11% dari 18% yang ditargetkan. Pencapaian penjualan tidak bergerak jauh dari angka 11%. Perumusan MasalahSelama tiga bulan setelah diluncurkan persentase pembelian tidak beranjak jauh dari level 11%. Dari target sebesar 18%, angka 11% tentunya berada pada tingkatan yang rendah. Berdasarkan data talk to customer LSM (local store marketing) McDonald’s Ciputra Semarang, yang diambil melalui pendapat pelanggan (customer feedback), sebagian besar konsumen belum mengetahui keberadaan produk breakfast, menu yang terdapat di dalamnya dan promo yang sedang berlangsung. Data yang diperoleh selama tiga bulan terakhr yaitu Juni, Juli, dan Agustus 2011 menunjukkan dari 300 orang konsumen per bulan yang dimintai pendapatnya, hanya sebesar 35% konsumen yang mengetahui mengenai menu breakfast dan promosi menu breakfast yang sedang berlangsung.Namun, permasalahan di atas seperti jumlah konsumen dan pencapaian hasil penjualan bukanlah merupakan fokus dalam penelitian ini. Batasan dari penelitian ini adalah data hasil penjualan dan jumlah konsumen atau transaksi yang terjadi, digunakan sebagai tolok ukur dari sikap konsumen berupa perilaku atau tidakan pembelian. Keputusan pembelian dalam penelitian ini merupakan efek dari komunikasi yang dilakukan oleh McDonald’s Ciputra semarang kepada masyarakat. Fokus permasalahan terdapat pada efek komunikasi yang dilakukan. Efek yang dirasakan masih kurang atau masih rendah dari yang diharapkan, hal ini dapat dilihat dari datasales volume dan persentase pencapaian hasil penjualan menu breakfast yang dicapai oleh McDonald’s Ciputra Semarang. Tujuan PenelitianUntuk mengetahui pengaruh terpaan kegiatan komunikasi pemasaran mengenai menu breakfast di McDonald’s dan citra produk terhadap keputusan pembelian.BAB IIHASIL PENELITIAN Kerangka Teori1. Pengaruh Terpaan Komunikasi Pemasaran Terhadap Keputusan PembelianTeori yang digunakan dalam penelitian ini yang menghubungkan antara variabel terpaan komunikasi pemasaran terhadap keputusan pembelian adalah teori Advertising Exposure Process. Di dalam teori ini dikatakan bahwa apabila konsumen terkena terpaan iklan maka akan tercipta perasaan dan sikap tertentu terhadap merek yang kemudian akan menggerakan konsumen untuk membeli produk. Berdasarkan teori advertising exposure process tahapan pembentukan keputusan pembelian ialah pertama, terpaan iklan dapat menciptakan terjadinya brand awareness dalam benak konsumen, lalu konsumen juga akan mengetahui keuntungan dan sifat dari brand tersebut. Kedua, terpaan iklan juga dapat menciptakan citra dari brand tersebut. Ketiga, terpaan iklan dapat mengasosiasikan sesuatu dengan merek (brand association) dan keempat terpaan iklan dapat juga menciptakan kesan bahwa brand disukai oleh lingkungan sekitar kita. Semua efek ini mengakibatkan perubahan sikap tertentu yang berakhir pada terciptanya keputusan pembelian. Terpaan terhadap informasi sangat penting untuk proses interpretasi konsumen,2. Pengaruh Citra Produk terhadap keputusan pembelianTeori yang digunakan dalam penelitiaan ini yang mengaitkan antara variabel citra produk dan variabel keputusan pembelian adalah teori yang diungkapkan oleh Schiffman and Kanuk yaitu teori perilaku konsumen. Teori ini adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha dan energi). Perilaku konsumen menurut Winardi (dalam Sumartono, 2002:97) Menurut Assael (Sutisna, 2002 : 6), salah satu faktor yang mempengaruhi pilihan konsumen adalah konsumen individual. Artinya pilihan untuk membeli suatu produk dengan merek tertentu dipengaruhi oleh hal-hal yang ada pada diri konsumen. Hipotesis1. Hipotesis mayorHipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast di McDonald’s dan citra produk di benak masyarakat terhadap keputusan pembelian .2. Hipotesis MinorTerdapat pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast di McDonald’s terhadap keputusan pembelian dan terdapat pengaruh citra produk terhadap keputusan pembelian. Populasi dan SampelPopulasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang mengetahui mengenai Mc Donald’s atau mereka yang pernah membeli produk yang dipasarkan oleh McDonald’s dan memiliki rentang usia antara 17-50 tahun. Sampel penelitian berjumlah 50 responden dengan teknik non probability sampling dengan cara purposive accidental sampling. MetodologiAlat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dengan metode survey dan teknik analisis kuantitatif. Temuan penelitian1. Berdasarkan hasil pengolahaan kuesioner, ditemukan bahwa frekuensi variabel terpaan komunikasi pemasaran berada dalam kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran yang dilakukan McDonald’s masih kurang maksimal. Hal ini dapat dilihat dari skor yang diperoleh jawaban responden mengenai komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s tergolong dalam kategori rendah.2. Melihat dari data yang ada, dapat disimpulkan bahwa variabel citra produk berada dalam kategori baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa responden menilai menu breakfast McDonald’s baik dari segi bahan, kualitas, manfaat, dan harga produk. Oleh karena itu citra yang muncul dalam benak konsumen adalah baik.3. Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan, responden yang memutuskan untuk membeli produk menu breakfast McDonald’s adalah sebanyak 33 responden atau 66%. Hakl tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden dapat menerima keberadaan produk dan mau membeli produk menu breakfast McDonald’s.4. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan regresi logistic melalui SPSS. Sebelum teknik ini digunakana maka perlu dilakukan Goodness of fit untuk mengetahui apakah model ini dapat digunakan dalam penelitian ini. Pada pengolahan data dengan model Hosmer and Lemeshow test diperoleh nilai Sig = 0,394 > 0,05 yang berarti bahwa hipotesis H0 diterima sehingga dapat dipastikan bahwa terdapat minimal satu variabel independen yang berpengaruh dan model regresi logistik tersebut layak dipakai.5. Hasil uji hipotesis mayor : Berdasarkan pada Tabel Hosmer and Lemeshow dapat diketahui bahwa secara bersama-sama variabel X1 dan X2 memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y. Adapun pengaruhnya yaitu sebesar 25,9 %. Hal tersebut dapat diartikan bahwa secara bersama-sama terpaan komunikasi pemasaran dan citra produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian sebesar 25,9 %.6. Pada tabel Variables in the Equetion, dapat dilihat nilai Sig X1 = 0,085 > 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis H0 diterima atau dengan kata lain variabel X1 tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Y. dengan demikian dapat dikatakan variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s tidak berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian.7. Pada tabel Variables in the Equation, nilai Signifikansi X2 = 0,012 < 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis H0 ditolak atau dengan kata lain variabel X2 berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Y. Kemudian, dengan melihat nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346 memiliki arti bahwa jika citra produk terus dipertahankan atau ditingkatkan maka masyarakat yang memutuskan untuk melakukan pembelian adalah 1,346 kali lebih banyak dari yang tidak melakukan pembelian. Dengan kata lain, kenaikan nilai variabel X2 berpengaruh terhadap variabel Y. Semakin besar nilai variabel X2 maka semakin besar nilai variabel Y. dapat pula disimpulkan semakin baik citra produk dibenak masyarakat maka semakin banyak masyarakat yang memilih untuk membeli produk menu breakfast McDonald. Begitu sebaliknya jika citra produk semakin buruk maka masyarakat yang memilih membeli produk menu breakfast McDonald’s semakin sedikit.8. Hasil analisis penulis adalah melihat data mengenai terpaan komunikasi pemasaran dimana terlihat terpaan komunikasi pemasaran dalam posisi yang rendah, maka dapat dikatakan bahwa teori advertising exposure process tidak dapat diterapkan dalam penelitian ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terpaan kominikasi pemasaran tidak mempengaruhi secara signifikan keputusan masyarakat untuk membeli produk menu breakfast Mc.Donald’s. Hal ini menunjukkan bahwa yang menggerakkan konsumen untuk membeli produk tidak hanya terpaan komunikasi pemasaran. Ada unsur lain sebagai penggeraknya. Seperti yang tertuang dalam teori lingkungan informasi pembeli. Teori ini mengajarkan bahwa setiap orang dapat memutuskan membeli sesuatu atau memakai suatu produk tidak hanya berdasarkan iklan yang menerpanya. Dalam kenyataanya terdapat berbagai sumber informasi non iklan yang mungkin saja berdampak lebih luas dan positif dalam menentukan pengambilan keputusan terhadap produk, diantaranya adalah :a. Pengalaman pribadi pembelib. Komunikasi antar pribadi dalam jaringan keluargac. Berita media massa yang laind. Kredibilitas konsumene. Perusahaan saingannyaf. Kredibilitas media yang digunakan dalam masyarakatg. Lingkungan informasi yang beragam tentang produkh. Kegiatan personal selling, promotion, sales dan sejenisnyai. Informasi persaingan harga yang diperoleh dari media non massa.Berdasarkan teori tersebut, keputusan pembelian dipengaruhi oleh banyak faktor dari mulai diri si pembeli sendiri hingga lingkungan dimana si pembeli berada. Maka ketika terpaan komunikasi rendah, dalam penelitian menunjukkan bahwa pembeli atau masyarakat yang memilih untuk membeli produk jumlahnya justru diatas 50% dari jumlah responden. Namun, bagi McDonald’s hal ini tentunya menjadi bahan pertimbangan untuk meningkatkan volume penjualan. Sebagai perusahaan tentunya McDonald’s menargetkan tingkat volume penjualan yang lebih tinggi lagi. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi McDonald’s dan teori yang telah disebutkan dapat menjadi acuan dalam menentukan kebijakan.9. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara variabel citra produk dan variabel keputusan pembelian berjalan dengan berbanding lurus yaitu ketika citra produk meningkat maka keputusan pembelian akan meningkat pula. Penelitian ini sesuai dengan teori yang diungkapkan sebelumnya yaitu, teori perilaku konsumen. Teori ini adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha dan energi).BAB IIIPENUTUP Kesimpulan1. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel x dan y yaitu terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonalds dan citra produk terhadap keputusan pembelian. Pengaruhnya sebesar 25,9%.2. Terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s dengan keputusan pembelian.3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel citra produk dengan keputusan pembelian dengan nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346 Keterbatasan PenelitianKeterbatasan dalam penelitian ini adalah jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel yang belum dapat mewakili populasi secara pasti, hal ini dikarenakan populasi dalam penelitian ini tidak terhingga jumlahnya sehingga membuat peneliti kesulitan untuk menentukan secara tepat jumlah sampel yang dibutuhkan dan penggunaan teknik sampel yang digunakan. SaranBerdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, peneliti memberikan saran sebagai berikut1. McDonald’s menggunakan komunikasi pemasaran untuk membentuk dan menjaga citra produk di benak masyarakat. Citra positif yang ada sangat perlu untuk dijaga. Untuk meningkatkan jumlah masyarakat yang memberikan citra positif terhadap produk maka perlu dilakukan komunikasi pemasaran yang lebih intens lagi agar masyarakat semakin diterpa oleh informasi-informasi yang terkait dengan produk, kemudian memberi penilaian positif hingga akhirnya membeli produk. Hal ini dapat dilakukan dengan pemilihan media baik elektronik dan cetak yang tepat. Dalam hal ini perlu diperhatikan kesesuaian segmentasi media dengan segmentasi produk. Pastikan media yang digunakan memiliki jangkauan yang luas dan mudah diakses oleh masyarakat. Media lain yang digunakan adalah brosur dan kupon berhadiah, tingkatkan penyebaran brosur dan kupon berhadiah dengan pemerataan distribusi dan penyebaran yang lebih intens. Hal ini dapat dilakukan dengan mengerahkan karyawan untuk menyebarkan brosur dan kupon berhadiah di area mall, memastikan ketersediaan brosur dan kupon berhadiah di store McDonald’s dan tenant-tenant yang bekerjasama dengan McDonald’s serta mengerahkan karyawan delivery service untuk melakukan penyebaran langsung kepada masyarakat seperti di perumahan, sekolah, kantor, maupun traffic light. Penggunaan media display dalam store juga perlu diperhatikan, menggunakan tampilan yang menarik dan informasi mengenai produk dengan singkat dan jelas akan membantu masyarakat untuk mengingat display tersebut.2. Mempertahankan kualitas produk untuk menjaga kepercayaan konsumen dalam mengkonsumsi produk juga perlu dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan bahan-bahan yang berkualitas dan tidak mengurangi takaran bahan yang diperlukan, senantiasa menjaga kebersihan baik bahan, alat, maupun karyawan, dan menjaga keamanan produk dengan tidak menggunakan zat-zat berbahaya. Menjaga kualitas produk berarti mewujudkan apa yang menjadi citra positif produk dalam benak masyarakat.DAFTAR PUSTAKAFill, Chris. 1995. Marketing Communication Frame Works. London: Prentice HallFraenkel, J. dan Wallen, N. 1993. How To Design and Evaluate Research in Education. 2nd ed. New York: McGraw-Hill Inc.Jefkins, Frank. 1995. Periklanan edisi 3. Jakarta: Erlangga.Kasali, Rhenald. 1992. Manajemen Periklanan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kasali, Rhenald. 1995. Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya diIndonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kotler, Philip dan Amstrong, Gary. 1997. Dasar-dasar Pemasaran Principles ofMarketing edisi ketujuh jilid 3. Jakarta: Prenhelindo.Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Littlejohn, Stephen W, 2005, Theories of Human Communication, eighth edition,Thomson Learning Inc., Wadsworth, Belmont, USA.Mowen, John C dan Minor, Michael. 2002. Perilaku Konsumen edisi kelima jilid1. Jakarta: Erlangga.Mulyodiharjo, Sumartono. 2002. Terperangkap Dalam Iklan. Bandung: Alfabeta.Rakhmat, Jalaluddin. 1992. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Rakhmat, Jalaludin. 1994. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendi. (ed).1989. Metodologi Survey. Jakarta:LP3ESSoemirat, Soleh dan Elvinaro, Ardianto. 2008. Dasar-dasar Public Relation.Bandung: Remaja Rosdakarya.Sutisna, 2002. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran.Bandung:PT. Remaja RosdakaryaSwasta, Bayu. 1993. Manajemen Penjualan. Yogyakarta: Universitas Gajamada.Tjiptono, Fandy, dkk. 2008. Pemasaran Strategik. Yogyakarta: Andi Offset.Yamin, Sofyan dan Kurniawan, Heri. 2009. SPSS complete, Teknik AnalisisStatistik Terlengkap Dengan Software SPSS. Jakarta: Salemba Infotek.Millah, S. McD Indonesia Luncurkan Menu Baru. 2011.(http://medantalk.com/may/19/2011//McD Indonesia Luncurkan MenuBaru/htm). Diakses tanggal 12 September 2011 pukul 11.01 WIB.Harian Medan Bisnis. 2011. McDonald’s Tambah 4-5 Gerai Mandiri Baru di2011. (http//harianmedanbisnis.com//McDonald's Tambah 4-5 GeraiMandiri Baru di 2011). Diakses tanggal 9 September 2012 pukul 12.48WIB.Republika. 2011. Sarapan Pagi di Mcd.(http//republika-online.com//sarapan-pagidi-mcd//4-7-2011). Diakses tanggal 11 September 2011 pukul 07.28 WIB.Depari, Fidelia. 2011. KFC Luncurkan Menu Breakfast. (http//food.ghiboo.com/).Diakses 11 September 2011 pukul 12.00 WIB.McDonald’s. 2010. Our Company Inclision and Diversity.(http://www.aboutmcdonalds.com/mcd). Diakses 9 september 2011 pukul10.38 WIBPrayogo, Oginawa. 2011. Tepis Kabar Produk Jualannya Tidak Sehat. McdIndonesia Luncurkan Menu Baru. (http://industri.kontan.co.id/news/).Diakses tanggal 11 September pukul 07. 30 WIB.www.mcdonalds.co.id
PENGALAMAN KOMUNIKASI PELANGGAN ZALORA.CO.ID (Studi Fenomenologi Pelanggan Zalora.co.id) Widya Andhika Aji; Tandiyo Pradekso; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.911 KB)

Abstract

1PENGALAMAN KOMUNIKASI PELANGGAN ZALORA.CO.ID(Studi Fenomenologi Pelanggan Zalora.co.id)Oleh:Widya Andhika AjiFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas Diponegoro SemarangABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman komunikasi danpemahaman penerimaan konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id. Dengan menggunakan sampel pada lima informandan metode wawancara, dapat ditarik kesimpulan: Pelanggan Zalora.co.idmemiliki pengalaman komunikasi berkaitan dengan pesan promotif yang berupamedia iklan, direct marketing, dan sales promotion. Persepsi konsumen terkaitpesan komunikasi pemasaran dalam berbelanja di Zalora.co.id selama ini adalahbaik mengingat konsumen selalu merasa puas dengan harga dan kualitas produkyang ditawarkan pihak Zalora. Pesan yang ditangkap informan dari iklan yangdilakukan pihak Zalora adalah bahwa konsumen maupun calon konsumendidorong dan diajak untuk berbelanja dan berbelanja lagi Pesan yang ditangkapinforman dari iklan Zalora melalui direct marketing antara lain adalah: sangatefektif dan praktis karena tanpa harus bertatap muka dapat bertransaksi langsungdan mudah, kemudian juga tampilan web yang menarik membuat mereka inginberbelanja. Pesan yang ditangkap dari iklan melalui sales promotion ini adalahdiskon yang besar membuat konsumen untuk “terikat” pada Zalora dan merekamenjadi semakin tertarik untuk berbelanja di Zalora.co.id dengan adanya diskonyang besar tersebut.Keywords: pengalaman komunikasi, pesan komunikasi, direct marketing, salespromotion, iklan.2COMMUNICATION EXPERIENCE OF CONSUMERS ZALORA.CO.ID(Phenomenological Approach)ABSTRACTThis research purposed to analyze the consumers’ experience andunderstanding of acceptance communication message when they are shopping atZalora.co.id. Participants are five informan and the data technique used are depthinterview. The conclusion are: Consumers’ Zalora.co.id have communivationexperience related to the message through advertising, direct marketing, and salespromotion. Consumers’ perception related to the marketing communication whenthey are shopping at Zalora.co.id are good because they always satisfied with theproduct and quality product from Zalora. Message that participants can say fromZalora is that consumers always pursue to shop and shop more. The message thatconsumers’ understand from the advertising through direct marketing is that veryeffective and practival because without face to face, they can make transactionand this is easy to do, the website also make them more interested in shoppingmore and more. The message that consumers’ understanding from sales promotionis the big discount make them “tied” with Zalora and they more interesting to butproduct from Zalora.co.id.Keywords: experience, communication, messagem direct marketing, salespromotion, advertising.3PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangTrend belanja online menjadi fenomena baru dalam paradigma berbelanjamasyarakat Indonesia saat ini. Masyarakat lebih senang meluangkan waktu untukberbelanja online daripada berkunjung ke toko secara langsung untuk membelibarang yang mereka inginkan. Arnold Sebastian Egg yang merupakan pendirisitus jual beli tokobagus.com memprediksi bahwa nantinya semua orang akanberbelanja online, saat ini seluruh bisnis mulai mengusung tokonya ke online(BeritaBali.com, 2013). Pernyataan Arnold tersebut didukung dengan surveyyang dilakukan perusahaan e-commerce asal Jepang, Rakuten, bahwa 80%pengguna internet di Indonesia mulai berbelanja online dalam dua tahun terakhir.Sedangkan Survei lain yang dilakukan oleh VeriTrans dan DailySocialpada 584 pelanggan e-commerce di Indonesia mengenai tren belanja onlinemengungkap sebanyak 37% responden menyebutkan produk yang mereka belimelalui internet adalah pakaian (fashion). Di posisi berikutnya adalah pemesananlayanan perjalanan (20%) dan media yang dikonsumsi secara elektronik sepertimusik, video dan game (20%) dan lainnya (18%), elektronik (13%) dan buku(8%) (Rinaldi, 2013: 2).Di ranah online fashion store, Zalora yang muncul padaawal 2012langsung melejit menjadikannya sebagai salah satu dari sembilan e-commercepaling berjaya di Indonesia yang di antaranya adalah Lazada Indonesia, ZaloraIndonesia, Berybenka, PinkEmma, Bilna, Plasa, Reebonz, LivingSocial dan FoodPanda. Setelah sukses di 8 negara di dunia seperti Brazil, India, Australia, Zalorayang terhitung pemain baru di Indonesia siap meramaikan pasar bisnis fashionIndonesia. Mei 2013 menjadi sejarah bagi Zalora yang baru saja merayakanpemesanan ke 1 juta dan mencapai angka penjualan hingga USD 100 juta yangsetara dengan 1 Triliun Rupiah (Azmil, 2013: 2).Penjualan Zalora yang menjanjikan tersebut mengundang banyak investoruntuk berlomba menanamkan modal ke Zalora, salah satunya adalah TengelmannGroup, perusahaan retail Eropa yang sudah berdiri 145 tahun lalu dan memiliki4.000 toko di 15 negara, telah mengucurkan dana sebesar 249 miliar untuk tokoonline tersebut (Sawers, 2013: 1). Performa Zalora di pasar Indonesia dapatdibilang membuahkan hasil yang memuaskan dan menjanjikan untuk terusmengembangkan bisnis mereka di Indonesia. Hal ini didukung oleh pertumbuhankelas menengah di Indonesia yang merupakan pertumbuhan kelas menengahpaling tinggi yaitu mencapai 56,6% di regional Asia Pasifik dengan pengeluarantiap tahunnya mencapai USD 3000. Perilaku konsumen kelas menengah tersebutsangat mobile dan mudah berubah, mereka bisa dengan cepat berganti-gantimerek, dan ini menjadikan para pemasar harus terus bergerak mengikutimobilitas konsumen, harus ada penyempurnaan di produknya, berinovasi yangbaru, kemudian mengubahstrategi harganya, distribusinya, promosinyadikombinasikan sedemikian rupa, pesan-pesannya juga tidak monoton.Pengguna internet diperkirakan akan terus bertambah menjadi 149 jutapengguna serta terdapat indikasi bahwa berbelanja online akan semakin populer diIndonesia, Jepang, dan Thailand pada 2015. Hal tersebut didukung dengan4kemudahan akses internet yang semakin mobile menjadi salah satu pendorongbagi pebisnis Indonesia untuk terus menggeluti dunia ini. (Rahayu, 2012:2).iTeknologi Informasi tidak dipungkiri membawa perubahan yang signifikanterhadap bisnis dan gaya hidup masyarakat sekarang ini dalam mendukungbelanja online mereka. Berdasarkan survey dari Rakuten, orang Indonesia danThailand 50% lebih suka berbelanja dengan perangkat bergerak mereka,dibandingkan orang Taiwan. Bila dibandingkan dengan orang Amerika dan Eropa,orang Indonesia dua kali lebih suka berbelanja dengan perangkat bergerak.Sejalan dengan itu, riset lain dari BuzzCity pada awal 2012 mendapatibahwa 27% pebelanja online dari Indonesia sudah memakai perangkat bergerakmereka untuk berbelanja. survei itu juga mendapati bahwa orang Indonesia tigakali lebih suka merekomendasikan suatu barang kepada teman-temannya dijejaring sosial, ketimbang negara lain. (Rahayu, 2012: 4). Dalam perkembanganpertumbuhan situs web dikenal istilah Web 2.0 yang menunjukkan jenis web yang“hidup” dan diisi oleh penulis secara periodik sehingga menimbulkan fenomenabaru yaitu blog dan social networking services (SNS) atau lebih populer dengansebutan situs jejaring sosial. Dengan melihat kedudukan internet saat ini terjadiperubahan perilaku konsumen dalam mengkonsumsi media. Jika dulu konsumenhanya menonton televisi, membaca majalah, surat kabar dan sebagainya kinimereka juga menjelajah internet. Online media sudah menjadi point of contactyang tidak dapat diabaikan, sehingga para pemilik brand harus masuk ke dalampoint of contact tersebut. Oleh sebab itu dibutuhkan strategi pemasaran yang tepat.Populasi mall online atau e-retailerbaru semakin marak meramaikanMallonline ini sehinggadiperlukan strategi pemasaran untuk mendapatkan danmempertahankan customer mereka. Begitu juga Zalora yang memiliki websiteresmi www.zalora.co.id, portal e-commerce atau mall online ini adalah anakperusahaan asing yang dikenal dengan nama zalando.com. Perusahaan yangmerajai pasar Brazil dan Thailand ini, baru saja mengeluarkan laporan penjualanper akhir Desember 2012 dengan rata-rata pemesanan hariannya adalah 600-700transaksi, rata-rata pembeli mengeluarkan uang kisaran Rp 150-350 ribu.Zalora Indonesia adalah situs web belanja kebutuhan fashion yangmenawarkan produk-produk dari berbagai brand terkemuka, baik lokal maupuninternasional. Zalora Indonesia didirikan pada tahun 2012 dan merupakan salahsatu cabang dari situs belanja online terbesar Eropa Zalando. Kelebihan yangditawarkan oleh Zalora Indonesiayaitu, pelanggan tidak dikenakan biaya untukpengiriman ke seluruh Indonesia dan garansi pengembalian barang jika pelanggantidak puas atas produk yang diterimanya. Grup Zalora International di Asia terdiridari Zalora Indonesia, Zalora Singapura, Zalora Malaysia, Zalora Vietnam, ZaloraTaiwan, Zalora Thailand, Zalora Filipina. Zalando merupakan projek dari RocketInternet, yang merupakan e-commerce terkenal dari Rocket Internet. RocketInternet sendiri menyediakan bantuan teknologi, modal dan jasa lainnya untukmembuat perusahaan-perusahaan Internet yang inovatif. Kantor pusatnya terdapatdi Berlin, Jerman, projek yand dimiliki Rocket Internet antara lain Zalando,TopTarif, eDarling, Groupon (sebelumnya CityDeal), dan lain-lain.Penelitian ini akan difokuskan pada pelanggan Zalora.co.id dengan strategipemasarannya yang telah sukses menggeser positioningbeberapa pemain lama di5toko fashion online. Selain itu marketing communication yang baik melalui iklanonline yang kuat, branded product yang tidak lokal produk serta promosi gencarmenjadi strategi jitu Zalora dimata konsumennya untuk meningkatkanpenjualannya.1.2 Perumusan MasalahPenelitian ini berusaha untuk mengetahui pengalaman komunikasi danpemahaman penerimaan konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id.HASIL2.1. Deskripsi Tekstural Gabungan2.1.1. IklanIklan merupakan media promosi satu arah yang disalurkan kepadakonsumen dengan tujuan membujuk untuk membeli dan bersifat nonpersonal.Iklan Zalora.co.id yang dijumpai oleh informan penelitian iniadalah informan pertama dan kelima. Mereka menjumpai iklannya di salurantelevisi MNC TV, dan majalah Gogirl/dresscode. Menurut informan tersebutiklannya sangat menarik dan terutama karena gambarnya menarikdiperankan oleh model yang dianggap representatif dan eksklusif sertaadanya diskon yang dipromosikan secara gencar.Pesan yang ditangkap informan dari iklan yang dilakukan pihak Zaloraadalah bahwa konsumen maupun calon konsumen didorong dan diajakuntuk berbelanja dan berbelanja lagi terus sehingga mereka bisa “menggaet”banyak konsumen untuk membeli berbagai produk yang ditawarkan Zaloradari mulai produk sepatu, baju, aksesoris, maupun produk lainnya.2.1.2. Direct MarketingDirect marketing merupakan bagiandari program komunikasipemasaran dan dilakukan langsung pada customer, misalnya: Twitter,Instagram (sosial media),SEO (google ads, facebook ads), dan mailing list.Berdasarkan pada hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti, diketahuibahwa direct marketing yang ditemui adalah pada informan pertama, kedua,ketiga , keempat dan kelima. Jadi semua informan pernah menjumpainya.Direct marketing yang ditemukan antara lain di Twitter , PortalOnline dan SEO, kolom Google Ads, Facebook ads. Paling seringditemukan adalah di Facebook ads dan promo Twitter. Hal ini disebabkankarena jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter saat ini sangat boomingdi dunia maya dan menjadi direct marketing yang sangat efektif dalammerangkul konsumen dan calon konsumen untuk online shopping sepertiZalora.Pesan yang ditangkap informan dari iklan Zalora melalui directmarketing antara lain adalah: sangat efektif dan praktis karena tanpa harusbertatap muka dapat bertransaksi langsung dan mudah, kemudian juga6tampilan web yang menarik membuat mereka ingin berbelanja. Mereka yangpada awalnya tidak tertarik, lama kelamaan menjadi tertarik karena iklanterus menerus muncul ketika mereka sedang membuka facebook, google,maupun twitter.2.1.3. Sales PromotionSales promotion merupakan bentuk persuasi langsung melaluipenggunaan berbagai insentif, umumnya berjangka pendek, yang dapatdiatur untuk merangsang pembelian produk dengan segera ataumeningkatkan jumlah barang yang dibeli konsumen atau pedagang (kupon,undian, diskon, kontes). Sales promotion ditemukan oleh informan pertama,kedua, ketiga, keempat dan kelima. Jadi semua informan telah menemuisales promotion Zalora.co.id.Adapun bentuk dari sales promotion yang mereka temui adalah berupakupon pemberian teman, dari atasannya, dari voucher belanja, denganjumlah yang bervariasi dari Rp 50.000; Rp 100.000 hingga Rp 200.000.Informan yang telah menjadi member kemudian juga diberikan voucherlewat email setiap bulannya. Pesan yang ditangkap dari iklan melalui salespromotion ini adalah diskon yang besar membuat konsumen untuk “terikat”pada Zalora dan mereka menjadi semakin tertarik untuk berbelanja diZalora.co.id dengan iming-iming diskon yang besar tersebut.2.2. Deskripsi Struktural GabunganDalam menyusun deksripsi struktural, peneliti menggunakan langkahberupa interpretasi terhadap penyataan-pernyataan orisinil dari subjekpenelitian tentang pengalaman komunikasi berbelanja di Zalora co.id danpenerimaan komunikasi pemasaran yang diterimanya.Sedangkan ditinjau dari penerimaan komunikasi pemasaran informanpenelitian, dapat dikatakan bahwa pesan yang disampaikan Zalora kepadakonsumennya adalah untuk supaya mereka membeli kembali di Zalora untuksekarang dan kemudian hari atau seterusnya. Maka dapat dikatakan bahwapenerimaan komunikasi pemasaran telah baik dilakukan oleh subjek danpihak Zalora dapat disarankan untuk mempertahankan jenis promosi nyatersebut bahwa lebih sering melakukan bentuk promosi baru melalui saranaatau media baru lainnya. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan jumlahkonsumen di masa mendatang.Berdasarkan pada pesan yang ditangkap kelima informan diketahuibahwa ternyata muncul beberapa tema yang terkait promosi yang dilakukanZalora, yaitu e- shopping behavior, e-excitement dan impulsive buying.Dalam tiga tema tersebut, lima orang informan mendeskripsikan perilaku eshoppingbehavior dimana informan menghabiskan sebagian besarwaktunya berinteraksi dengan internet dan meluangkan waktu khusus untukberinteraksi dengan media promosi dari zalora.co.id, baik langsung kewebsitenya maupun lewat akun sosial media sehingga yang bersangkutanmempertimbangkan untuk belanja. Sedangkan tema e-shopping excitementdi tunjukkan oleh informan kedua, ketiga, keempat dan kelima dimana7keempat informan tersebut menyebutkan bahwa website zalora.co.idmemberikan penawaran menarik dan informasi produk yang lengkapsehingga yang bersangkutan berbelanja. Sedangkan tema impulsive buyingdi tunjukkan oleh informan kedua, ketiga dan kelima dimana yangbersangkutan melakukan pembelian berulang disaat yang bersangkutan tidakmembutuhkan produk yang dibeli karena tergiur diskon dan penawaranzalora.co.idPENUTUPPenelitian ini menggambarkan tentang pengalaman komunikasi danpemahaman penerimaan konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id. Wawancara mendalam dilakukan kepada limaresponden yang memenuhi kriteria sebagai subjek penelitian. Ditemukan hal-halyang menarik melalui komunikasi dan pemahaman penerimaan konsumen terkaitpesan komunikasi pemasaran dalam berbelanja di Zalora.co.id. Berdasarkanpenelitian dan analisis temuan penelitian, terdapat beberapa kesimpulan, danimplikasi, baik secara akademis maupun praktis, sebagai berikut:3.1. KesimpulanBerdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan pada bagian sebelumnya,maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:1. Pelanggan Zalora.co.id memiliki pengalaman komunikasi berkaitandengan pesan promosi yang berupa media iklan, direct marketing, dansales promotion.2. Iklan Zalora.co.id yang dijumpai oleh informan penelitian ini adalahinforman pertama dan kelima. Mereka menjumpai iklannya di salurantelevisi MNC TV, dan majalah Gogirl/dresscode. Menurut informantersebut iklannya sangat menarik dan terutama karena gambarnyamenarik diperankan oleh model yang dianggap representatif daneksklusif serta adanya diskon yang dipromosikan secara gencar. Pesanyang ditangkap informan dari iklan yang dilakukan pihak Zalora adalahbahwa konsumen maupun calon konsumen didorong dan diajak untukberbelanja dan berbelanja lagi terus sehingga mereka bisa “menggaet”banyak konsumen untuk membeli berbagai produk yang ditawarkanZalora.3. Direct marketing yang ditemui adalah pada informan pertama, kedua,ketiga , keempat dan kelima. Direct marketing yang ditemukan antaralain di Twitter , Portal Online dan SEO, kolom Google Ads, Facebookads. Paling sering ditemukan adalah di Facebook ads dan promoTwitter. Pesan yang ditangkap informan dari iklan Zalora melalui directmarketing antara lain adalah: sangat efektif dan praktis karena tanpaharus bertatap muka dapat bertransaksi langsung dan mudah, kemudian8juga tampilan web yang menarik membuat mereka ingin berbelanja.Mereka yang pada awalnya tidak tertarik, lama kelamaan menjaditertarik karena iklan terus menerus muncul ketika mereka sedangmembuka facebook, google, maupun twitter.4. Sales promotion ditemukan oleh informan pertama, kedua, ketiga,keempat dan kelima. Jadi semua informan telah menemui salespromotion Zalora.co.id. Pesan yang ditangkap dari iklan melalui salespromotion ini adalah diskon yang besar membuat konsumen untuk“terikat” pada Zalora dan mereka menjadi semakin tertarik untukberbelanja di Zalora.co.id dengan iming-iming diskon yang besartersebut.5. Persepsi konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id selama ini adalah baik mengingat konsumenselalu merasa puas dengan harga dan kualitas produk yang ditawarkanpihak Zalora. Selain itu mereka memahami adanya proses belanja yangpraktis serta kemudahan dalam pembayaran, serta yang paling menarikmereka adalah diskon dan gratis ongkos pengiriman, sehingga dengandemikian dapat dikatakan bahwa pihak Zalora telah sukses dalammenyampaikan kepada konsumen berbagai keunggulannyadibandingkan dengan pesaingnya.6. Berdasarkan pada pesan yang ditangkap kelima informan diketahuibahwa ternyata muncul beberapa tema yang terkait promosi yangdilakukan Zalora, yaitu mengarah kepada e-shopping behavior,excitement. dan impulsive buying. Jadi dapat dikatakan bahwa karenainforman merupakan heavy internet user yang aktivitasnya sebagianbesar menggunakan internet sehari-harinya maka menimbulkan perilakupembelian konsumen secara e-commerce. Selain itu juga karena fotoyang menarik dan bagus di iklannya, Zalora membuat konsumennyaterkesan atau terkesima untuk membeli dan hal ini mengarah kepada eshoppingexcitement. Jadi karena konsumen merasa terkesan baikdengan iklan yang dilakukan Zalora, maka mereka memutuskan untukmembeli produk dari Zalora. Kemudian ada informan yang melakukanimpulsive buying karena pada awalnya tidak merencanakan untukmembeli produk Zalora tetapi karena tertarik dengan iklan yangdilakukan Zalora misalnya pada foto yang menarik, iklan dengan katakata“menjanjikan” hal ini mendorong mereka untuk membeli produkZalora.3.2. SaranSedangkan saran yang dapat dikemukakan pada penelitian ini antaralain adalah sebagai berikut:1. Sebaiknya pihak Zalora dapat mempertahankan promosi melaluikomunikasi yang selama ini telah berhasil menarik di benakkonsumennya, dengan lebih menitikberatkan bentuk promosiyang menjadi pengalaman komunikasi di penelitian ini, atara lain: Iklan, direct marketing dan sales promotion92. Pada penelitian di masa mendatang diharapkan tema tema yangkeluar dalam penelitian ini seperti e-shopping behavior,excitement. dan impulsive buying bisa menjadi variable perilakuterkait dengan studi marketing komunikasi10Daftar PustakaAllen, C., Kania, D., and Yaeckel, B. (2001). One-to-One Web Marketing: build arelationship marketing strategy one customer at a time. New York:WIleyComputer Publishing.Azmil, F. (2013). 9 E-Commerce Yang Sedang Berjaya di Indonesia. Available onhttp://www.merdeka.com/teknologi/9-e-commerce-yang-sedang-berjayadi-indonesia.html diunduh pada 27 Mei 2013.Baum, Steven K. (1999). The Glossary: Cn-Cz.. Glossary of Oceanography andthe Related Geosciences with References. Texas A&M University.Bogdan, R.C. &Biklen S.K. (1982).Qualitative Research for Education : An.Introduction to Theory and Methode.Boston : Allyn and Bacon, Inc.C’elik, Hakan. (2010). Influence of social norms, perceived playfulness and onlineshopping anxiety on customers’ adoption of online retail shopping Anempirical study in the Turkish context.Childers, T. L., Carr, C.L., Peck, J., and Carson, S. (2001). Hedonic andUtilitarian Motivation for Online Retail Shopping Behavior. School ofManagement, University of Kentucky.Constantinides. (2004). Influencing the online consumer’s behavior: the Webexperience.Danaher, P.J. dan J.R.Rossiter. (2009). Comparing perceptions of marketingcommunication channels. European Journal of MarketingVol. 45 No. 1/2,2011pp. 6-42.Darmiyati, Zuchdi. (1997). Pembentukan Sikap . Yogyakarta: LPKM IKIP.Dawson dan Kim. (2009). External and internal trigger cues of impulse buyingonline, Direct Marketing: An International Journal, Vol. 2. No 3.Delafrooz. (2010). Students’ Online Shopping Behavior: An Empirical Study.Dennis, C. , Bill Merrilees, Chanaka Jayawardhena, Len Tiu Wright. (2008). Econsumerbehaviour. European Journal of MarketingVol. 43 No. 9/10,2009, pp. 1121-11.Dennis et al. (2010). The Influences of Social e-Shopping in Enhancing YoungWomen’s Online Shopping Behaviour.11Fajar, A. (2012). E-commerce Harus Siapkan Banyak Komponen ValueChain,http://swa.co.id/business-strategy/marketing/e-commerce-harussiapkan-banyak-komponen-value-chain diunduh pada 3 Mei 2013.Farag, S. (2005). E-Shopping and its Relationship with In-store Shopping:Empirical Evidence from the Netherlands and the USA.Hirschman dan Holbrook (1982). Channels of distribution), social influencethrough reference groups, perceived risk.Jayawardhena, C. dan L.T. Wright. (2008). An empirical investigation into eshoppingexcitement: antecedents and effects. European Journal ofMarketingVol. 43 No. 9/10, 2009, pp. 1171-1187.Johnson, (1986). Research report: the role of behavioral modelling in computerskills acquisition toward refinement of the model, Information SystemsResearch, Vol. 11 No. 4, pp. 402-17.Kacen dan Lee, (2002). Applying the E-Commerce on Online ConsumerBehavior, Information Systems Research, Volume forthcoming.Kartika, B. (2012). Survei Global Soroti Kebutuhan Konsumen Asia pada ECommercehttp://www.chip.co.id/news/startupspress_release/4439/survei_global_soroti_kebutuhan_konsumen_asia_pada_e-commerce.Kotler, Philip. (1984). Manajemen Pemasaran. Prenhalindo; Jakarta.Koufaris, M. dan W.H. Sosa (2002). Customer Trust Online: Examining the RoleOfthe Experience With the Web Site.Department of Statistics & ComputerInformation SystemsZicklin School of Business, Baruch College.Kuswarno, E. 2005. Metode penelitian Komunikasi. Bandung: RemajaRosdakarya.Liao and Cheung. (2000). Internet-based e-shopping and consumer attitudes: anempirical study.Moleong. (2005). Metodologi Kualitatif, Edisi Revisi. Bandung: PT RemajaRosdakarya.Muhadjir, Noeng. (1996). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: RakeSarasin.12Owen, R. dan P. Humphrey. (2008).The structure of online marketingcommunication channels. Journal of Management and Marketing ResearchPark, (2006). Applying the Technology Acceptance Model and Flow Theory toOnline Consumer Behavior, Information Systems Research.Rahayu, E. M. (2012). 4 Tren yang Harus Diperhatikan Pelaku ECommercehttp://tekno.kompas.com/read/2012/03/07/14270272/4 diunduhpada 2 Mei 2013.Rahayu, E. M. (2012). 4 Tren yang Harus Diperhatikan Pelaku ECommercehttp://tekno.kompas.com/read/2012/03/07/14270272/4 diunduhpada 2 Mei 2013.Rinaldi, D. (2013). Mengapa Brand Besar Harus Masuk E-Commerce?. Availableon http://swa.co.id/technology/mengapa-brand-besar-harus-masuk-ecommercediunduh pada 1 Mei 2013.Ruben dan Stewart.(2006). Communication and Human Behavior. United States:Allyn.Sawers, P. (2013). Tengelmann continues its Rocket Internet interest, this timeinvesting $26m in Asian Zappos clone Zalora available onhttp://thenextweb.com/insider/2013/03/12/tengelmann-continues-itsrocket-internet-interest-this-time-investing-26m-in-asian-zappos-clonezalora/diunduh pada 27 Mei 2013.Scissors, J.Z. dan R. B. Baron, (2010). Advertising, Media Planning. SevenEdition. McGraw Hill.Tuten, A. (2008). Personality determinants of online shopping: Explainingonline purchase intentions using a hierarchical approach.Van Manen, M. (1997). Phenomenological pedagogy and the question ofmeaning.Phenomenology & education discourse (pp. 41-68).Johannesburg,South Africa: Heinemann.Wakefield dan Baker. (1998). Creation of Favorable User Perceptions. MISQuarterly, Volume 23, Number 2.Wenats, A.E. dkk. 2002. Integrated Marketing Communications, KomunikasiPemasaran di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Komunkasi Pemasaran Program Berita Feature “Di Balik Nama” Di Cakra Semarang TV ( Marketing Officer ) Tri Utami; I Nyoman Winata; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.266 KB)

Abstract

Komunikasi pemasaran tidak hanya dibutuhkan oleh produk-produk yang manfaatnya dapat langsung dirasakan saat itu juga. Lebih dari itu, pemasaran juga dibutuhkan oleh intangible product yang manfaatnya tidak dapat dirasakan secara langsung namun dapat dirasakan di kemudian hari. Komunikasi pemasaran program televisi terdiri dari berbagai rangkaian kegiatan seperti advertising, online marketing, event, merchandising dan funding. Hal ini dibutuhkan oleh program televisi Di Balik Nama yang bertujuan untuk meningkatkan awareness atau pengetahuan penoton baru mengingat tayangan ini adalah tayangan yang baru diproduksi. Selain itu, untuk menunjang kinerja pemasaran dan produksi, kegiatan pemasaran ini juga bertujuan untuk mendapatkan dana atau funding yang digunakan selama masa pra produksi, produksi dan pasca produksi. Komunikasi pemasaran program televisi Di Balik Nama yang dilakukan selama 3 bulan berhasil meningkatkan pengetahuan target audiens sebesar 54% dari target awal sebesar 20%. Kegiatan ini juga mendapatkan pendanaan sebesar 93% dari target awal sebesar 80%. Dari seluruh rangkaian kegiatan ditemukan bahwa online marketing dirasa sangat relevan untuk digunakan saat ini dalam komunikasi pemasaran yang terintegrasi dengan media promosi lainnya.
VIVA.CO.ID dan KEPENTINGAN EKONOMI POLITIK ABURIZAL BAKRIE (Kajian analisis isi terhadap viva.co.id mengenai pemberitaan keluarga Bakrie, perusahaan-perusahaan Bakrie Group, Partai Golkar, dan sosok Aburizal Bakrie) R. Sigit Pandhu Kusumawardana; Wiwid Noor Rakhmad; Tandiyo Pradekso; Triyono Lukmantoro; Muhammad Rofiuddin
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKMasalah kepemilikan media muncul sebagai akibat kapitalisasi media. Salah satu media swasta yang dimiliki oleh seorang pengusaha sekaligus politisi adalah portal berita viva.co.id. portal berita ini dimiliki oleh Aburizal Bakrie. Bisnisnya menjamur ke berbagai industri. Lebih dari itu, sepak terjangnya di dunia politik begitu agresif. Dia terpilih sebagai ketua umum Partai Golkar. Dan kini dia memutuskan untuk maju sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014. Sebagai media massa swasta yang tergabung dalam sebuah kelompok usaha yang begitu besar dan dimiliki oleh Aburizal Bakrie, bagaimana kecenderungan pemberitaan viva.co.id mengenai lingkaran kekuasaan Aburizal Bakrie menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kecenderungan pemberitaan viva.co.idmengenai keluarga Bakrie, Partai Golkar, perusahaan-perusahaan milik Bakrie Group, dan sosok Abu Rizal Bakrie itu sendiri. Teori yang digunakan adalah teori-teori kritis, banyak pemikiran Karl Marx, Noam Chomsky, dan Arthur Asa Berger digunakan dalam penelitian ini. Metodologi yang digunakan adalah analisis isi kuantitatif. Hal ini relefan untuk digunakan karena sesuai dengan prinsip kontekstual dan fleksibilitas. Teknik sampling yang digunakan adalah random dengan total sampel sebesar 169 berita. Dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa dalam penulisan berita, viva.co.id memiliki kecenderungan yang positif atau mendukung keluarga Bakrie, Partai Golkar, perusahaan-perusahaan milik Bakrie Group, dan sosok Aburizal Bakrie itu sendiri. Indikator tersebut dapat dilihat dari aspek tema berita yang cenderung bertema bisnis. Sementara objek pemberitaan terbesar pada tema tersebut adalah perusahaan-perusahaan milik Bakrie Group. Dari aspek nilai berita viva.co.id tidak berani memasukkan nilai berita konflik ke dalam pemberitaannya, hal ini berarti viva.co.id tidak berani mengulas konflik yang terjadi di antara anggota dalam lingkaran kekuasaaan Aburizal Bakrie. Kemudian pada aspek narasumber, ditemukan fakta bahwa viva.co.id cenderung memilih “orang dalam” ketika membangun sebuah berita, sementara sebagian besar komentar ahli yang dijadikan narasumber bernada positif. Dilihat dari lead dan tubuh beritanya pun cenderung mendukung lingkaran kekuasaan Aburizal Bakrie. Lebih dari itu, selama rentang waktu 2009-2012 terjadi pergeseran topik berita dari bisnis ke politik. Hal ini terkait dengan pencalonan Aburizal Bakrie sebagai presiden. Kata kunci: viva.co.id, analisis isi kritis, Aburizal Bakrie, kecenderungan berita
Pengaruh Terpaan Pemberitaan Teror di Surakarta dan Faktor Demografi (Usia, Jenis Kelamin, Tingkat Pendidikan) Terhadap Citra Polisi Ira Astri Rasika; Taufik Suprihatini; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.445 KB)

Abstract

Pengaruh Terpaan Pemberitaan Teror di Surakarta dan Faktor Demografi (Usia, JenisKelamin, Tingkat Pendidikan) Terhadap Citra PolisiAbstrakPemberitaan mengenai teror terhadap anggota kepolisian yang terjadi di kota Surakartapada Agustus 2012 lalu menjadi topik utama di media massa. Hal ini dapat memengaruhipersepsi masyarakat mengenai citra polisi itu sendiri karena instansi kepolisian langsung menjadisorotan utama berkaitan dengan aksi teror yang menyerang anggotanya. Akan tetapi, tidak semuaorang memiliki persepsi yang sama, hal ini dikarenakan masyarakat terdiri dari berbagai macamkomposisi demografi seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pengaruh terpaan media tentang pemberitaan teror solo dan faktor demografi(usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan) terhadap citra polisi di mata masyarakat. Penelitimenggunakan teori efek komunikasi kognitif yang dapat menjelaskan bagaimana pembentukancitra dapat terjadi karena terpaan media massa yang diterima oleh khalayak (Ardianto, 2004),teori kategori sosial dan teori perbedaan individual dari Melvin DeFleur dan Ball Rokeachmampu menjelaskan bagaimana faktor demografi penduduk dapat berpengaruh terhadappembentukan citra (Rakhmat, 2011). Populasi dari penelitian ini adalah warga kota Surakartayang berusia 15-64 tahun. Penarikan sampel dilakukan secara aksidental sebanyak 70 orang.Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis Structural Equation Model (SEM)untuk melihat besarnya pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel terpaanpemberitaan (X) terhadap variabel citra polisi (Y) melalui variabel usia, jenis kelamin, tingkatpendidikan (intervening variable). Hasil pengujian hipotesis adalah terpaan pemberitaan terorSolo berpengaruh terhadap citra tidak melalui usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan,dengan nilai pengaruh langsung terpaan terhadap citra (standardized direct effect) sebesar 0,278lebih besar dari nilai pengaruh tidak langsung terpaan terhadap citra melalui usia, jenis kelamin,tingkat pendidikan (standardized indirect effect) sebesar – 0,048. Jadi, hipotesis yang diajukandalam penelitian ini ditolak. Dari pengujian Regression Weights diperoleh hasil parameterestimasi pengaruh antara terpaan terhadap citra sebesar 0,778, pengujian hubungan keduavariabel tersebut menunjukkan nilai C.R (critical ratio) sebesar 2,637 lebih besar dari 1,96 danprobabilitas = 0,008 (p < 0,05), ini berarti terpaan berpengaruh positif terhadap citra. PengujianSquared Multiple Correlation untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalammenerangkan variasi variabel dependen, hasilnya adalah citra dipengaruhi oleh terpaan,pendidikan, usia, dan jenis kelamin sebesar 24,8%, sedangkan sisanya sebesar 75,2% (100%-24,8%) dijelaskan oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini.Keywords: terpaan, citra polisi, faktor demografi, SEMThe Effect Of Exposure To News Coverage Of Terror In Surakarta and DemographicFactors (Age, Gender, Level of Education) To The Image Of The PoliceAbstractNews coverage of terror against members of the police force in the Surakarta on August 2012and became the main topic in the mass media. It can affect people's perception about the imageof the police because the police agency directly became highlights related to the terror actionagainst its members. However, not everyone has the same perception, this is because thecommunity is made up of a wide variety of demographic composition, such as age, gender, andlevel of education. This study aims to determine the effect of exposure to the news media aboutthe terror solo and demographic factors (age, gender, education level) on the image of the policein the eyes of society. Researchers using cognitive communication effects theory that can explainhow the image formation can occur because of mass media exposure received by audiences(Ardianto, 2004), social categories theory and the theory of individual differences and BallRokeach Melvin DeFleur able to explain how demographic factors can affect the imageformation (Rakhmat, 2011). The population of this research are the citizen of Surakarta aged 15-64 years. Accidental sampling conducted as many as 70 people.Hypothesis testing is done using analysis of Structural Equation Modelling (SEM) to seethe magnitude of the direct and indirect effect between news exposure variable (X) to the policeimage variable (Y) through the variables of age, gender, level of education (interveningvariable). Results of hypothesis testing is preaching terror Solo exposure influence the image notthrough age, gender, and education level, with the direct effect value of exposure to the image(standardized direct effect) of 0.278, is greater than the indirect effect value of exposure to theimage through the ages, gender, level of education (standardized indirect effect) of - 0.048. Thus,the hypothesis presented in this research was rejected. Regression Weights of test resultsobtained parameter estimates the effect of exposure to images of 0,778, the relationship testbetween the two variables indicate the value of C.R (critical ratio) of 2,637 greater than 1.96and probability = 0.008 (p < 0,05), it means the exposure has a positive effect to the image.Squared Multiple Correlation test to measure how far the model’s ability in explaining variationof the dependent variable, the result image is affected by exposure, education, age, and sex of24,8%, while the remaining 75.2% is explained by other factors not examined in this study.Keywords: exposure, image of the police, demographic factors, SEMPENGARUH TERPAAN PEMBERITAAN TEROR DI KOTA SURAKARTA DAN FAKTORDEMOGRAFI (USIA, JENIS KELAMIN, TINGKAT PENDIDIKAN) TERHADAP CITRAPOLISI DI MATA MASYARAKATPENDAHULUAN: Media memang mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadapmasyarakat, disadari atau tidak, media massa mampu membuat masyarakat mempunyai penilaiantersendiri terhadap suatu informasi, terutama dalam hal mengubah persepsi atau sikapmasyarakat atas suatu realita. Dampak ini diperkuat dengan keseragaman para wartawan dalammenyajikan berita yang cenderung sama. Khalayak akhirnya tidak mempunyai alternatif yanglain sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya darimedia massa (Rakhmat, 2011:199). Meskipun media memiliki kekuatan untuk membentuk ataumengubah persepsi, namun hal tersebut tetap tidak bisa memaksa semua masyarakat untukmemiliki respon yang sama dalam menerima setiap terpaan informasi yang diberikan oleh media.Hal ini dikarenakan, masyarakat terdiri dari berbagai macam komposisi demografi seperti usia,jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Komposisi demografi itulah yang akan mempengaruhicara dan pola pikir masyarakat dalam memberikan stimulus terhadap setiap informasi yangditerimanya. Pemberitaan tentang aksi teror Solo yang terjadi di Kota Surakarta beberapa waktulalu, menyedot perhatian media massa karena modus baru yang dilakukan oleh para teroris.Selama bulan Agustus, tercatat terdapat empat aksi teror yang dilakukan oleh teroris bersenjatayang melakukan penyerangan terhadap anggota kepolisian yang sedang bertugas jaga di pos- pospolisi, mulai dari melempar granat sampai penembakan yang menewaskan satu anggota polisi.Oleh sebab itu, seluruh masyarakat Indonesia, tidak hanya masyarakat Solo saja, serta parapejabat pemerintahan terus mengawasi dan memonitor kinerja instansi Kepolisian RepublikIndonesia dalam menyelesaikan dan mengusut kasus ini sampai tuntas, karena pemberitaan yangnegatif di media massa tersebut dapat membuat citra masyarakat terhadap polisi menjadi negatif.Sementara itu, menurut Psikolog Forensik, Reza Indragiri Amriel, seperti yang dikutip dari salahsatu situs online, isu terorisme yang belakangan marak muncul di media massa dinilai semakinmemperburuk citra Polri. Kondisi tersebut dinilai kian menguatkan anggapan bahwa Polrisemakin lemah, dan masyarakat terguncang akibat berita- berita terorisme di media massa. Iamengatakan,”akibatnya, masyarakat semakin bersikap negatif terhadap Korps Tribata. Publikmenafsirkan, sudah korup, gagal pula menangkal beranak pinaknya teroris” (sumber:http://berita.plasa.msn.com/nasional/republika/isu-terorisme-dinilai-justru-perburuk-citra-polisi).Dalam hal ini, media telah menunjukkan kekuatannya sebagai pembentuk persepsi masyarakat,karena melalui pemberitaan- pemberitaan yang terus menerus mengenai aksi teror ini dapatmembentuk atau mengubah persepsi masyarakat tentang bagaimana citra kepolisian Indonesia dimata mereka. Berdasarkan hal tersebut, lantas sejauh mana pengaruh terpaan pemberitaan terordi Kota Surakarta dan faktor demografi (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan) terhadap citrapolisi di mata masyarakat?PEMBAHASAN: Terpaan (exposure) merupakan kegiatan mendengar, melihat, dan membacapesan-pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesantersebut yang terjadi pada individu dan kelompok (Kriyantono, 2006 : 205). Masyarakat yangmengkonsumsi media massa dan mendapatkan informasi mengenai aksi teror Solo, baik itudengan melihat, mendengar, dan membaca, serta mempunyai perhatian dan pengalaman pribadisecara langsung terhadap aksi teror Solo dapat dikatakan sudah mendapatkan terpaanpemberitaan aksi teror Solo dari media massa. Proses bagaimana masyarakat mendapatkanterpaan pemberitaan aksi teror Solo tidak lepas dari faktor- faktor yang juga menjadi kekuatanbagi media massa dalam mempengaruhi masyarakat. Noelle- Neumann mencetuskan faktorfaktoryang saling bekerjasama dalam membentuk perspektif yang selektif (Rakhmat, 2011:198):ubiquity (serba ada), keseragaman wartawan, dan kumulasi pesan. Dalam pemberitaan aksi terorSolo hampir semua media massa, baik itu elektronik, media cetak, bahkan media online,memberitakan hal yang sama tentang kasus teror setiap harinya (keseragaman wartawan). Entahitu melaporkan langsung dari tempat kejadian perkara, wawancara dengan anggota instansikepolisian, hingga mengundang narasumber yang berbeda- beda dalam acara talk show danmembahas aksi teror. Hal yang dibahas pun semakin lama semakin merembet kemana- mana,dari aksi teror yang dilakukan, menyudutkan instansi kepolisian karena kelalaian kerjanya, motifdan tersangka aksi teror, hingga kontroversi seputar penangkapan teoris. Semua pesan- pesanmengenai aksi teror itu berakumulasi dan dapat mempengaruhi masyarakat. Namun menurutDeFleur dan Ball Rokeach tidak semua orang mempunyai respon yang sama terhadap terpaanpemberitaan di media massa. Hal tersebut dicetuskan dalam teori kategori sosial (social categorytheory) dan teori perbedaan individual (individual differences theory) (Rakhmat, 2011: 201-202).Menurut teori kategori sosial, respon setiap orang dalam menerima terpaan media tergantungdari faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Secara garis besar usiaadalah lamanya hidup individu yang terhitung sejak dia dilahirkan sampai berulang tahun. Usiadikelompokkan menjadi 3 yaitu usia belum produktif (0-14 tahun), usia produktif (15-64 tahun),dan usia tidak produktif (65 tahun ke atas). Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakatyang didasarkan pada perbedaan ciri fisik (organ reproduksi, bentuk tubuh) dan perbedaan sosial(perbedaan peranan), dan dikelompokkan menjadi laki- laki dan perempuan. Sedangkan tingkatpendidikan merupakan proses pembelajaran yang berstruktur yang mempunyai jenjang atautingkatan pada periode waktu tertentu, berlangsung dari sekolah dasar sampai perguruan tinggidan tercakup di dalamnya studi akademis umum. Asumsi dari teori kategori sosial adalah orangdengan usia dan jenis kelamin yang sama cenderung sama pula dalam merespon pesan yangdisampaikan oleh media massa. Orang dengan usia dewasa cenderung akan memiliki perhatianyang sama terhadap berita aksi teror Solo yang didapat melalui berbagai macam media,sedangkan orang dengan usia remaja yang lebih sering mengakses informasi melalui mediatelevisi dan online, cenderung merespon dengan biasa saja karena kejadian tersebut sedangmenjadi headline, tidak sampai terlalu mengikuti, karena orang dengan usia remaja cenderunglebih menyukai hal- hal yang bersifat hiburan. Tingkat pendidikan seseorang jika dilihat dariperspektif perbedaan individual (teori perbedaan individu), mempengaruhi respon atau stimulusyang diterima oleh setiap individu terhadap pesan yang disampaikan media massa. Perbedaanpengalaman belajar, yang ditentukan dari sekolah baik formal maupun informal yang berjenjangdari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, mampu mempengaruhi pola pikir dan prasangkaseseorang yang lebih baik, serta lebih mampu menerima informasi. Orang dengan pendidikanyang rendah cenderung lebih mudah terkena terpaan karena pengetahuannya yang terbatas.Sedangkan orang dengan pendidikan yang lebih tinggi, seperti eksekutif atau mahasiswa,cenderung lebih sulit terkena terpaan karena pengetahuannya lebih luas, lebih bisa berfikir, lebihmencari berbagai referensi sebelum membuat keputusan. Dominick (2000) menyebutkan tentangdampak komunikasi massa pada pengetahuan, persepsi dan sikap seseorang. Media massaterutama televisi yang menjadi agen sosialisasi memainkan peran penting dalam transmisi sikappersepsi dan kepercayaan (Ardianto, 2004 : 58). Efek kognitif sangat memengaruhi pembentukancitra oleh khalayak terhadap sesuatu karena efek kognitif terjadi apabila ada perubahan pada apayang diketahui, dipahami, atau dipersepsi khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisipengetahuan, ketrampilan, kepercayaan, dan keyakinan. Media massa bekerja untukmenyampaikan informasi, sedangkan untuk khalayak, informasi tersebut dapat membentuk,mempertahankan, atau mendefinisikan citra berdasarkan persepsi seseorang. Jadi, citra terbentukberdasarkan informasi yang kita terima. Tipe penelitian ini adalah eksplanatif yaitu untukmenemukan penjelasan tentang mengapa suatu kejadian atau gejala terjadi. Populasi daripenelitian adalah warga kota Surakarta yang berusia 15-64 tahun, tetapi karena peneliti tidakmemiliki kerangka sampel yang cukup, maka pengambilan sampel dilakukan dengan teknik nonprobability sampling dan ditetapkan besarnya sampel adalah 70 orang. Teknik penarikan sampeldilakukan dengan teknik accidental sampling, di mana sampel dapat terpilih karena berada padawaktu, situasi, dan tempat yang tepat. Instrumen penelitian yang digunakan adalah denganmenggunakan kuesioner yang berupa daftar pertanyaan yang disiapkan oleh peneliti untukdisampaikan kepada responden yang jawabannya diisi oleh responden sendiri. Sedangkan teknikpengumpul data adalah dengan teknik wawancara, di mana selain memberikan kuesioner,peneliti juga memberikan kesempatan kepada responden untuk menanyakan yang tidakdimengerti responden dalam menjawab kuesioner sehingga mendapatkan jawaban yang lebihmemuaskan dan mendalam. Selain itu, teknik wawancara digunakan untuk memastikan bahwaresponden menjawab semua pertanyaan dalam kuesioner secara lengkap, tidak sembarangan, dantidak diisikan orang lain. Karena dalam penelitian ini terdapat variabel antara (intervening),maka jenis analisis ini adalah analisis multivariat. Analisis multivariate yang digunakan adalahdengan menggunakan pendekatan Model Persamaan Struktural (Structural Equation Model/SEM). Model ini digunakan karena penelitian ini ingin menguji pengaruh terpaan (X) terhadapcitra polisi (Y) melalui usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan (intervening variabel). Sebelummelakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan evaluasi atas asumsi- asumsi SEMyang dapat menentukan criteria layak uji SEM. Dalam penelitian ini, semua asumsi- asumsiSEM diterima sehingga variabel- variabel tersebut layak diuji menggunakan SEM. Uji hipotesisdilakukan dengan melihat pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel eksogenterhadap variabel endogen. Analisis ini diperlukan untuk membuktikan variabel intervening.Variabel intervening dalam penelitian adalah pendidikan, usia, dan jenis kelamin. Variabelpendidikan, usia, dan jenis kelamin terbukti sebagai variabel intervening yang dapat dilaluiterpaan terhadap citra apabila koefisien pengaruh tidak langsungnya lebih besar daripadapengaruh langsung. Dari pengujian Regression Weights diperoleh hasil parameter estimasipengaruh antara terpaan terhadap citra sebesar 0,778, pengujian hubungan kedua variabeltersebut menunjukkan nilai C.R (critical ratio) sebesar 2,637 lebih besar dari 1,96 danprobabilitas = 0,008 (p < 0,05), ini berarti terpaan berpengaruh positif terhadap citra. PengujianSquared Multiple Correlation untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalammenerangkan variasi variabel dependen, hasilnya adalah citra dipengaruhi oleh terpaan,pendidikan, usia, dan jenis kelamin sebesar 24,8%, sedangkan sisanya sebesar 75,2% (100%-24,8%) dijelaskan oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil uji hipotesismenyatakan bahwa pengaruh langsung terpaan terhadap citra sebesar 0,278 lebih besar daripadapengaruh tidak langsungnya sebesar - 0,048. Jadi dapat disimpulkan bahwa terpaan berpengaruhterhadap citra tidak melalui pendidikan, usia, dan jenis kelamin, sehingga hipotesis yangdiajukan ditolak. Hasil hipotesis ini juga menunjukkan keperkasaan media (Noelle-Neumman,dalam Rakhmat, 2011:198). yang dapat memengaruhi hampir setiap orang dengan cara yangsama tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.PENUTUP: Polisi merupakan satu institusi pemerintahan yang mempunyai tugas berhubunganlangsung dengan masyarakat sebagai pelayan, pengayom, dan pelindung masyarakat. Oleh sebabitu, citra polisi di mata masyarakat pun harus dijaga agar hubungan antara masyarakat daninstansi kepolisian berlangsung dengan baik. Salah satu cara yang digunakan oleh kepolisianuntuk memperbaiki atau mempertahankan citranya di mata masyarakat adalah melalui mediamassa. Berkembangnya media massa sekarang ini, membuat media massa mempunyai perananpenting dalam membentuk persepsi dan keyakinan masyarakat tentang sesuatu. Kesimpulan daripenelitian ini adalah: 1. Hasil pengujian hipotesis adalah terpaan pemberitaan teror Soloberpengaruh terhadap citra tidak melalui usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan (hipotesisyang diajukan ditolak). Hasil ini diperoleh melalui berdasarkan pengolahan uji hipotesis yangdilakukan dengan menggunakan metode analisis Structural Equation Model (SEM), didapat hasilpengaruh langsung terpaan terhadap citra (standardized direct effect) sebesar 0,278 lebih besardari pengaruh tidak langsung terpaan terhadap citra melalui usia, jenis kelamin, tingkatpendidikan (standardized indirect effect) sebesar – 0,048; 2. Landasan teori yang diajukan untukmendukung hipotesis awal, yaitu teori kategori sosial dan teori perbedaan individual tidaksignifikan karena hasil uji hipotesis menyatakan bahwa terpaan berpengaruh terhadap citrasecara langsung tanpa melalui faktor- faktor demografi, seperti usia, jenis kelamin, dan tingkatpendidikan. Namun teori efek komunikasi dapat mendukung hasil uji hipotesis bahwa terpaanmempunyai pengaruh dalam pembentukan citra; 3. Berdasarkan temuan penelitian di lapanganyang didapatkan dengan membagikan kuesioner kepada 70 orang responden, sebanyak 44.3%menilai citra polisi cukup baik, disusul kemudian 27.1% menilai citra polisi kurang baik, 15.7%menilai citra polisi buruk, dan hanya 12. 9% yang menilai citra polisi baik. Berdasarkankesimpulan tersebut, maka sebaiknya media harus lebih berhati- hati dalam memberikaninformasi mengenai instansi kepolisian, misalnya dengan menyaring informasi mengenai instansikepolisian yang akan ditampilkan di media massa, tidak sembarangan mencari danmewawancarai narasumber, karena media memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhipersepsi masyarakat tentang citra kepolisian. Instansi kepolisian sebaiknya juga mempunyai jurubicara atau Humas yang bertugas memberikan informasi kepada masyarakat melalui mediasecara resmi melalui konferensi pers, tidak hanya di kantor pusat saja tetapi juga di daerahdaerah.Hal ini diperlukan agar informasi yang muncul di media massa dapat terkendali danterkontrol.DAFTAR PUSTAKA: Ardianto, Elvaro. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. SimbiosaRekatama Media: Bandung ; Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi.Kencana: Jakarta ; Rakhmat, Djalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya:Bandung ; Ferdinand, Augusty. 2006. Structural Equation Modeling dalam PenelitianManajemen, Edisi Keempat. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang ; Firdaus, M danFarid. 2008. Aplikasi Metode Kuantitatif Terpilih Untuk Manajemen dan Bisnis, Seri metodekuantitatif. IPB Press: Bogor ; Ghozali, Imam. 2008. Model Persamaan Structural: Konsep danAplikasi dengan Program Amos 16.0. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang ;Koentjaraningrat. 1977. Metode- metode Penelitian Masyarakat. PT Gramedia: Jakarta ;Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Kencana: Jakarta ; Muhidin,Sambas Ali dan Maman Abdurahman. 2007. Analisis Korelasi, Regresi, Dan Jalur DalamPenelitian (Dilengkapi Aplikasi Program SPSS). CV Pustaka Setia: Bandung ; Prasetyo,Bambang dan Lina Miftahul Jannah. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi.Rajawali Pers: Jakarta ; Rakhmat, Djalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. PT RemajaRosdakarya: Bandung ; Rakhmat, Djalaluddin. 1984. Psikologi Komunikasi. PT RemajaRosdakarya: Bandung ; Santoso, Singgih. 2007. Structural Equation Modelling, Konsep danAplikasi dengan Amos, Membuat dan Menganalisis Model SEM Menggunakan Program SPSS.PT Elex Media Komputindo: Jakarta ; Syah Putra, Dedi Kurnia. 2012. Media dan Politik:Menemukan Relasi Antara Dimensi Simbiosis- Mutualisme Media dan Politik. Graha Ilmu:Yogyakarta ; Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedelapan. Kencana: Jakarta ;http://berita.plasa.msn.com/nasional/republika/isu-terorisme-dinilai-justru-perburuk-citra-polisidiakses pada 20 Desember pukul 10.00 ;www.m.okezone.com/read/2012/09/01/337/683777/kapolri-aksi-di-solo-tidak-terkait-pilkada-DKI diakses pada 19 September pukul 13.00 ; http://suarapembaruan.com/home/teror-beruntundi-solo-polisi-ditembak-mati/24062 diakses pada 5 Maret 2013 pukul 18.00 ;http://m.tempo.co/read/news/2012/09/03/063427135/mabes-polri-motif-teror-solo-balas-dendamdiakses pada 5 Maret 2013 pukul 19.00 ; Laporan Harian Monitoring Isu Publik Depkominfodalam www.depkominfo.go.id di akses dan didownload pada 19 September 2012 pukul12.00.
HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TAYANGAN DRAMA SERI KOREA DI TELEVISI TERHADAP MODEL RAMBUT DI KALANGAN REMAJA Ghita Kriska Dwi Ananda; M Bayu Widagdo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.601 KB)

Abstract

Demam Korea (Korean wave) saat ini telah memasuki negeri Indonesia. Hal itu diakibatkan penyebaran dan pengaruh budaya Korea di Indonesia terutama dari Drama Korea yang muncul di tahun 2002. Para remaja cenderung ingin selalu mengikuti perkembangan mode yang sedang populer agar tampil modis, salah satunya adalah model rambut Hal ini dilakukan karena para remaja ingin seperti apa yang ditampilkan oleh tokoh yang dilihatnya Perilaku bergaya rambut Korea pada remaja tersebut disinyalir merupakan akibat dari faktor intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi terhadap model rambut di kalangan remaja. Peneliti menggunakan Teori Powerfull Effect. Responden pada penelitian ini berasal dari kalangan remaja di Kota Semarang yang berumur 16 hingga 22 tahun. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 50 orang dimana pengambilan sampel dilakukan dengan metode non random, serta accidental sampeluntuk teknik pengambilan sampel. Berdasarkan hasil penelitian, maka tingginya intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi tidak diikuti dengan model rambut yang modis pada remaja. Hal ini dikarenakan responden dengan intensitas menonton tinggi, sedang dan rendah tidak terpengaruh untuk mengikuti model rambut seperti apa yang ditampilkan dalam tayangan tersebut.  Kata kunci: Drama Seri Korea, Model Rambut, Semarang
Hubungan Terpaan Iklan Berniaga.com di Media Massa dan Intensitas Komunikasi Word Of Mouth dengan Minat Bertransaksi Indah Puspawardhani; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso; Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.132 KB)

Abstract

Maraknya kasus penipuan yang terjadi dalam transaksi jual beli online menjadi latar belakang penelitian ini. Berniaga.com sebagai salah satu situs jual beli online melakukan strategi komunikasi untuk meningkatkan minat khalayak bertransaksi dengan banyak beriklan di media massa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah ada hubungan terpaan iklan Berniaga.com di media massa dan intensitas komunikasi word of mouth dengan minat bertransaksi?Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan iklan Berniaga.com di media massa dan intensitas komunikasi word of mouth dengan minat khalayak untuk bertransaksi di forum jual beli online Berniaga.com. Dimana sebagai variabel independen yaitu terpaan iklan Berniaga.com di media massa dan intensitas komunikasi word of mouth berhubungan dengan minat bertransaksi sebagai variabel dependennya.Populasi dalam penelitian ini adalah khalayak yang pernah melihat iklan Berniaga.com di media massa. Sampel yang diambil sebanyak 100 orang responden dengan menggunakan teknik non-random accidental sampling. Data dikumpulkan denganmenggunakan metode melalui kuesioner yang diisi sendiri oleh responden. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi pearson. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara terpaan iklan Berniaga.com di media massa dengan minat bertransaksi dimana diperoleh korelasi pearson sebesar 0,854 yang berarti semakin tinggi terpaan iklan maka semakin tinggi minat bertransaksi. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara intensitas komunikasi word of mouth dengan minat bertransaksi dimana diperoleh korelasi pearson sebesar 0,902 yang berarti bahwa semakin tinggi intensitas komunikasi word of mouth maka semakin tinggi minat bertransaksi.Kata kunci : Terpaan iklan, word of mouth, minat bertransaksi
Kampanye Literasi Media “Cerdas Memilah dan Memilih Tayangan Televisi” Abstraksi Dhyah Shanti Nur Kartika; Tandiyo Pradekso; Turnomo Rahardjo; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.796 KB)

Abstract

Semakin banyak bermunculan stasiun penyiaran televisi yang dapat diaksesdengan mudah menimbulkan keprihatinan atas muatan isi siaran televisi khususnya bagianak. Diketahui bahwa tidak semua sajian isi siaran tayangan televisi berkualitas,terdapat tayangan yang cenderung membodohi bahkan masuknya materi orang dewasapada program anak dan penggunaan pemeran anak dalam tayangan. Hal tersebut tidaksesuai dengan kebutuhan perkembangan khususnya pada anak karena belum memilikifilter secara utuh pada pengalaman mengkonsumsi isi siaran televisi. Melalui kampanyeliterasi media dengan tema “Cerdas Memilah dan Memilih Tayangan Televisi” digunakansebagai alat komunikasi pemasaran yang memiliki tujuan agar anak memilikiketerampilan dalam memilah dan memilih tayangan televisi sesuai dengan usia. Hal inisebagai salah satu upaya mengurangi pengaruh negatif isi siaran televisi yang cenderungkurang ramah bagi anak. Sedangkan strategi yang digunakan pada kampanye literasimedia ini menggunakan pendekatan komunikasi persuasif.Kata Kunci : Kampanye, Literasi Media, Komunikasi Persuasif
Branding Komunitas Lumpia Komik Melalui Kegiatan Public Relations (Divisi General Affairs) Deni Arifiin; Djoko Setyabudi; Tandiyo Pradekso; Agus Naryoso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.248 KB)

Abstract

Sepanjang tahun 2013, keadaan industri komik Indonesia mulai bangkit,hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya bermunculan judul komik lokal seperti Si Juki, Tuti and Friends, Nebi, Si Gundul, Nusantaranger dan judul komik lainnya. Hal ini menyebabkan bermunculan komunitas penggemar komik baru, salah satunya adalah Lumpia Komik. Lumpia Komik adalah sebuah komunitas pecinta komik yang didirikan pada bulan Maret 2014 oleh beberapa pecinta komik dan komikus yang ingin mendukung dan memajukan industri komik lokal,khususnya di Jawa Tengah. Masih dininya usia dari Lumpia Komik menyebabkan kurangnya awareness masyarakat terhadap komunitas ini.Kegiatan public relations ini memiliki tujuan untuk meningkatkan awareness dan menumbuhkan minat atau interest untuk bergabung dengan komunitas Lumpia Komik. Audiens yang menjadi target primer adalah pelajar dan mahasiswa berusia 14-21 tahun yang menyukai komik dan berdomisili di Kota Semarang dan sekitarnya, target sekunder adalah masyarakat umum yang menyukai komik. Karya bidang ini menggunakan pendekatan persuasif serta menggunakan konsep brand activation dan IMC (Integrated Marketing Communication) untuk mencapai tujuan. Strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan adalah dengan menggunakan IMC dan tools yang digunakan adalah dengan PR dan brand activation.General affairs bertugas untuk mempersiapkan segala kebutuhan properti untuk menunjang program acara, melakukan kegiatan sponsorship, melakukan kegiatan periklanan, mengelola akun media sosial dan pembuatan video teaser. Hasil kegiatan marketing communication ini adalah peningkatan awarenessterhadap lumpia komik dari 8% menjadi 20% dan 21 orang bergabung dalam komunitas Lumpia Komik.Kata kunci : General Affairs, Public Relations, Lumpia Komik
Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi Terhadap Motivasi Kerja Karyawan PT. PLN (Persero) Area Sidoarjo Raymond Soelistiono Filemon; Tandiyo Pradekso; Muchamad Yulianto
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.965 KB)

Abstract

ABSTRAKJUDUL: Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi Terhadap MotivasiKerja Karyawan PT. PLN (Persero) Area SidoarjoNAMA: Raymond Soelistiono FilemonNIM : D2C007071Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh dari iklimkomunikasi organisasi terhadap motivasi kerja karyawan, karena motivasikerja karyawan yang optimal adalah modal utama dari suatu tujuan institusi.Selain itu juga bertujuan untuk memberikan bukti empiris adanya hubunganyang positif antara iklim komunikasi dengan motivasi kerja karyawan.Penelitian ini menggunakan populasi karyawan PT. PLN (Persero)APJ Area Sidoarjo. Sampel yang digunakan berjumlah 70 responden.Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linierberganda.Berdasarkan hasil pengujian dengan SPSS diperoleh untuk variabelkepercayaan terhadap motivasi kerja diperoleh nilai t = 2,702 dengansignifikansi 0,008 (p < 0,05). Pengaruh kejujuran terhadap motivasi kerjadiperoleh nilai t = 2,182 dengan signifikansi 0,031 (p < 0,05). Pengaruhpembuat keputusan bersama terhadap motivasi kerja diperoleh nilai t = 7,040dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05). Pengaruh keterbukaan dalamkomunikasi kebawah terhadap motivasi kerja diperoleh nilai t = 2,351 dengansignifikansi 0,021 (p < 0,05). Pengaruh mendengarkan dalam komunikasikeatas terhadap motivasi kerja diperoleh nilai t = 2,378 dengan signifikansi0,000 (p < 0,05). Pengaruh perhatian pada tujuan berkinerja tinggi terhadapmotivasi kerja diperoleh nilai t = 2,902 dengan signifikansi 0,005 (p < 0,05).Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh variabelindependen secara simultan berpengaruh positif terhadap variabel dependen.Variabel yang paling berpengaruh dalam peneitian ini adalah variabelpembuat keputusan bersama. Hal itu berarti bahwa iklim komunikasiorganisasi berpengaruh positif terhadap motivasi kerja. Semakin tinggi iklimkomunikasi organisasi maka semakin tinggi pula motivasi kerja yangdihasilkan.Kata Kunci : iklim komunikasi, motivasi kerja.ABSTRACTJUDUL: Organizational Communication Climate Influence on EmployeeMotivation PT. PLN (Persero) Sidoarjo AreaNAMA: Raymond Soelistiono FilemonNIM : D2C007071This study aimed to describe the influence of organizationalcommunication climate on employee motivation, because the optimalemployee motivation is the main capital of an institutional goal. It also aimsto provide empirical evidence of a positive relationship betweencommunication climate with karyawan.a work motivation.The population of this study of employees of PT. PLN (Persero) APJArea Sidoarjo. The samples used were 70 respondents. Testing thishypothesis using multiple linear regression analysis.Based on test results obtained with SPSS for confidence in the workmotivation variables obtained value t = 2.702 with a significance of 0.008 ( p< 0,05 ) . Honesty influence on work motivation obtained value t = 2.182with a significance of 0.031 ( p < 0,05 ) . Influence decision makers workingtogether to motivate obtained value t = 7.040 with a significance of 0.000 ( p< 0,05 ) . Effect of openness in communication down to the work motivationobtained value t = 2.351 with a significance of 0.021 ( p < 0,05 ) . Effect oflistening in communication up on work motivation obtained value t = 2.378with a significance of 0.000 ( p < 0,05 ) . Effect of attention on highperformancegoals on work motivation obtained value t = 2.902 with asignificance of 0.005 ( p < 0,05 ).The results of this study indicate that all the independent variablessimultaneously positive effect on the dependent variable . The mostinfluential variable in this fieldwork is variable with decision makers . Thatmeans that the positive effect of organizational communication climate onwork motivation . The higher the organizational communication climate , thehigher the resulting work motivation.Keywords: climate communication, work motivation.PENGARUH IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASITERHADAP MOTIVASI KERJA KARYAWAN PT. PLN(PERSERO) AREA SIDOARJOSkripsiPenyusun: Raymond Soelistiono Filemon NIM: D2C007071Dosen pembimbing: Drs. Tandiyo Pradekso, M. ScMuch. Yuliyanto, S. Sos. M. SiJurusan Ilmu KomunikasiFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroSemarang2013PENDAHULUANLembaga yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitasadalah salah satu cara organisasi untuk mempertahankan kelangsungan hiduporganisasinya, karena akan mempermudah suatu organisasi dalam mencapaitujuan yang diinginkan. Selain Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas,komunikasi dalam suatu organisasi juga merupakan hal utama yang tidak kalahpentingnya dalam mencapai tujuan organisasi.Hubungan komunikasi yang baikantara atasan dengan bawahan, bawahan dengan atasan, dan antara bawahandengan bawahan dalam suatu organisasi sangat berpengaruh besar dalammenjembatani terciptanya peningkatan produktivitas kerja karyawan di dalamorganisasi tersebut.PT. PLN (persero) Area Sidoarjo menyadari sebagai perusahaanpemerintah dituntut untuk meningkatkan kinerjanya dalam melayani masyarakatatau pelanggannya. Masalah gesekan dalam komunikasipun pernah terjadi antarkaryawan, sehingga perlu dimaksimalkan peran dari iklim komunikasi yangsehat.PT. PLN (persero) Area Sidoarjo masih merasa kurang optimal kondisiiklim komunikasi antar karyawan, sehingga merasa perlu ada peningkatan dalamhubungan antar karyawan dalam komunikasi yang baik. Dalam peningkatanpelayanan kerja motivasi terhadap bawahan sangatlah penting, sehingga apabilaiklim komunikasi tercipta maka motivasi karyawan dalam bekerjapun juga akantinggi. Dalam proses peningkatan motivasi karyawan perlu terjalinnya komunikasiyang baik antar pimpinan dan bawahan juga antar rekan kerja, denganadanyaiklim komunikasi yang baik diharapkan mampu terjalinnya kerja sama yang baiksehingga dapat mengatasi semua permasalahan-permasalahan kerja dan kinerjakaryawan dapat meningkat dengan baik.Berdasar pada latar belakang masalah penelitian di atas selanjutnyamasalah di atas dirumuskan kedalam pertanyaan penelitian (Research Question)seperti dibawah ini:Bagaimanakah pengaruh iklim komunikasi organisasi terhadap motivasi kerjakaryawan PT. PLN(Persero) APJ Area Sidoarjo?REVIEW LITERATURTeori Iklim KomunikasiFalcione dalam Pace dan Faules (2001: 149) menyatakan bahwa, “iklimkomunikasi merupakan suatu citra makro, abstrak dan gabungan dari suatufenomena global yang disebut komunikasi organisasi. Iklim berkembang dariinteraksi antara sifat-sifat suatu organisasi dan persepsi individu atas sifatsifatitu. Iklim dipandang sebagai suatu kualitas pengalaman subjektif yangberasal dari persepsi atas karakter-karakter yang relatif langgeng padaorganisasi”. Untuk menganalisis iklim komunikasi di suatu organisasi, Pace danFaules mengemukakan enam faktor besar yang bisa digunakan untukmenganalisis masalah tersebut, yaitu:1. Kepercayaan, personel disemua tingkat harus berusaha keras untukmengembangkan dan mempertahankan hubungan yang didalamnyakepercayaan, keyakinan, dan kredibilitas didukung oleh pernyataandan tindakan.2. Pembuatan keputusan bersama, para pegawai disemua tingkat dalamorganisasi harus diajak berkomunikasi dan berkonsultasi mengenai semuamasalah dalam semua wilayah kebijakan organisasi, yang relevan dengankedudukan mereka. Para pegawai disemua tingkat harus diberikankesempatan berkomunikasi dan berkonsultasi dengan manajemendiatas mereka agar berperan serta dalam proses pembuatan keputusandan penentuan tujuan. Di PT. PLN (Persero) Area Sidoarjo, Pimpinan unitlangsung dapat berkomunikasi dengan bawahan, karena iklim komunikasiyang baik tetap harus menyertakan pendapat atau masukan dari bawahan.3. Kejujuran, suasana umum yang diliputi kejujuran dan keterusteranganharus mewarnai hubungan-hubungan dalam organisasi, dan para pegawaimampu mengatakan apa yang ada dalam pikiran mereka tanpamengindahkan apakah mereka berbicara kepada teman sejawat, bawahan,atau atasan. Dalam hal ini pimpinan harus dapat dipercaya oleh bawahan.4. Keterbukaan dalam komunikasi ke bawah, kecuali untuk keperluaninformasi rahasia, anggota organisasi harus relatif mudah memperolehinformasi yang berhubungan langsung dengan tugas mereka saat itu,yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengkoordinasikanpekerjaan mereka dengan orang-orang atau bagian-bagian lainnya, danyang berhubungan luas dengan perusahaan, organisasi, para pemimpin,dan rencana-rencana.5. Mendengarkan dalam komunikasi keatas, personil disemua tingkat dalamorganisasi harus mendengarkan saran-saran atau laporan-laporan masalahyang dikemukakan personel disemua tingkat bawahan dalamorganisasi, secara berkesinambungan dan dengan pikiran terbuka.Informasi dari bawahan harus dipandang cukup penting untukdilaksanakan kecuali ada petunjuk yang berlawanan. Dalam hal ini harusada keselarasan komunikasi baik vertikal maupun horizontal.6. Perhatian pada tujuan-tujuan berkinerja tinggi, personel disemua tingkatdalam organisasi harus menunjukkan suatu komitmen terhadap tujuantujuanberkinerja tinggi-produktivitas tinggi, kualitas tinggi, biaya rendahdemikianpula menunjukkan perhatian besar pada anggota organisasilainnya. Maka dari itu ada harapan yang lebih baik, dimana karyawan tahubahwa organisasi tempat bekerjanya ini memiliki tujuan bagus.Peneliti tertarik untuk mengambil enam faktor besar tersebut sebagaivariabel dalam penelitian, yaitu : kepercayaan, pembuat keputusan bersama,kejujuran, keterbukaan dalam komunikasi ke bawah, mendengarkan dalamkomunikasi keatas, perhatian pada tujuan-tujuan berkinerja tinggi.Teori Motivasi Kerjaa. Teori Hierarki KebutuhanTeori motivasi yang paling terkenal adalah hierarki kebutuhan (hierarchyof needs) milik Abraham Maslow.Ia membuat hipotesis bahwa dalam setiap dirimanusia terdapat hierarki dari lima kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebutadalah:1. Fisiologis: meliputi rasa lapar, haus, berlindung, seksual, dan kebutuhan fisiklainya.2. Rasa aman: Meliputi rasa ingin melindungi dari bahaya fisik dan emosional.3. Sosial: Meliputi rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, danpersahabatan.4. Penghargaan: Meliputi faktor-faktor penghargaan internal seperti hormat diri,otonomi, dan pencapaian; dan faktor-faktor penghargaan eksternal sepertistatus, pengakuan dan perhatian.5. Aktualisasi diri: Dorongan untuk menjadi seseorang sesuai kecakapannya;meliputi pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan dirisendiri.Menurut teori tersebut mengatakan bahwa meskipun tidak ada kebutuhanyang benar-benar terpenuhi secara lengkap, sebuah kebutuhan yang pada dasarnyatelah dipenuhi tidak lagi memotivasi.Jadi bila ingin memotivasi seseorang,menurut Maslow, perlu memahami tingkat hierarki dimana orang tersebut beradasaat ini dan fokus untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan di atas tingkat tersebut.Kelima kebutuhan tersebut sangat penting dan terkait dalam bentuk tingkatanyang teratur.Satu tingkat kebutuhan menjadi kuat setelah tingkat kebutuhan yanglebih rendah terpenuhi kepuasannya.b. Teori McClellandTeori kebutuhan McClelland (Robbins, 2008:5) menyatakan bahwapencapaian, kekuatan, dan hubungan adalah tiga kebutuhan penting yangmembantu menjelaskan motivasi. Teori kebutuhan McClelland (McClelland’stheory of needs) di kembangkan oleh David McClelland dan rekan-rekannya.Teori tersebut berfokus pada tiga kebutuhan: pencapaian, kekuatan, danhubungan. Hal-hal tersebut di definisikan sebagai berikut:1. Kebutuhan pencapaian (need for achievement): Dorongan untuk melebihi,mencapai standar-standar, berusaha keras untuk berhasil.2. Kebutuhan kekuatan (need for power): Kebutuhan untuk membuat individulain berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilakusebaliknya.3. Kebutuhan hubungan (need for affiliation): Keinginan untuk menjalin suatuhubungan antar personal yang ramah dan akrab.Pada kelompok masing-masing karyawan akan mempunyai tingkatkebutuhan kekuasaan. Karyawan yang mempunyai tingkat kebutuhan kekuasaantinggi akan cenderung memilih situasi dimana mereka akan dapat memperolehdan mempertahankan kekuasaan untuk mempengaruhi orang lain.Berdasarkan teori di atas, ada persamaan mengenai motivasi yangdikemukakan oleh Maslow, dan McClelland yaitu mereka sama-samamengemukakan bahwa seseorang termotivasi atas dasar kebutuhan, bukan atasdasar keadilan maupun harapan.HIPOTESISBerdasarkan uraian diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalahterdapat pengaruh positifiklim komunikasiterhadapmotivasi kerja karyawan PT.PLN.METODE PENELITIANTipe PenelitianDalam penelitian ini dipergunakan tipe penelitian yang bersifatmenjelaskan hubungan antar variabel penelitian (variabel dependen dan variabelindependen) dan menguji hipotesis yang sudah dirumuskan.Dengan demikianpenilitian ini termasuk dalam kategori Explanatory Research atau penelitianpenjelasan. Dalam penelitian ini akan dijelaskan pengaruh antara iklimkomunikasi yang merupakan variabel independen terhadap motivasi kerja. Selainitu penelitian ini akan menguji apakah hipotesis yang diajukan diterima atauditolak.SamplingAdapun pengambilan sampling dilakukan dengan pertimbangan bahwapopulasi memiliki jumlah yang besar dan menyulitkan untuk meneliti seluruhpopulasi yang ada.Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari karyawan PT.Pembuat keputusanbersama (X3)Motivasi Kerja(Y)Kepercayaan (X1)Keterbukaan dalamkomunikasi kebawah (X4)Mendengarkandalam komunikasikeatas (X5)Perhatian padatujuan-tujuanberkinerja tinggi(X6)Kejujuran (X2)PLN (Persero) APJ Area Sidoarjo. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 79orang.HASIL EMPIRIS1. Pengujian Hipotesis 1Hasil pengujian pengaruh Kepercayaan terhadap motivasi kerja diperolehnilai t = 2,702 dengan signifikansi 0,008 (p <0,05). Dengan signifikansi yanglebih kecil dari 0,05 dan arah koefisien positif, maka diperoleh bahwa Hipotesis 1diterima. Hal ini berarti bahwa kepercayaan yang semakin tinggi akanmemberikan motivasi kerja yang lebih baik pula.2. Pengujian Hipotesis 2Hasil pengujian pengaruh kejujuran terhadap motivasi kerja diperoleh nilait = 2,182 dengan signifikansi 0,031 (p < 0,05). Dengan signifikansi yang lebihkecil dari 0,05 dan arah koefisien positif, maka diperoleh bahwa Hipotesis 2diterima. Hal ini berarti bahwa kejujuran yang lebih baik dari karyawan akanmemberikan motivasi kerja yang lebih baik pula.3. Pengujian Hipotesis 3Hasil pengujian pengaruh Pembuat keputusan bersama terhadap motivasikerja diperoleh nilai t = 7,040 dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05). Dengansignifikansi yang lebih kecil dari 0,05 dan arah koefisien positif, maka diperolehbahwa Hipotesis 3 diterima. Hal ini berarti bahwa Pembuat keputusan bersamayang lebih tinggi atau yang lebih banyak diperoleh dari karyawan akanmemberikan kualitas motivasi kerja yang lebih baik pula.4. Pengujian Hipotesis4Hasil pengujian pengaruh Keterbukaan dalam komunikasi kebawahterhadap motivasi kerja diperoleh nilai t = 2,351 dengan signifikansi 0,021 (p <0,05). Dengan signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 dan arah koefisien positif,maka diperoleh bahwa Hipotesis 4 diterima. Hal ini berarti bahwa factorketerbukaan dalam komunikasi keatas yang tinggi oleh karyawan akanmemberikan motivasi kerja yang lebih baik pula.5. Pengujian Hipotesis 5Hasil pengujian pengaruh Mendengarkan dalam komunikasi keatasterhadap motivasi kerja diperoleh nilai t = 2,378 dengan signifikansi 0,000 (p <0,05). Dengan signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 dan arah koefisien positif,maka diperoleh bahwa Hipotesis 5 diterima. Hal ini berarti bahwa factorMendengarkan dalam komunikasi keatas oleh karyawan akan memberikanmotivasi kerja yang lebih baik pula.6. Pengujian Hipotesis 6Hasil pengujian pengaruh Perhatian pada tujuan berkinerja tinggi terhadapmotivasi kerja diperoleh nilai t = 2,902 dengan signifikansi 0,005 (p < 0,05).Dengan signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 dan arah koefisien positif, makadiperoleh bahwa Hipotesis 6 diterima. Hal ini berarti bahwa factor Perhatianpada tujuan berkinerja tinggi yang tinggi oleh karyawan akan memberikanmotivasi kerja yang lebih baik pula.Hasil perhitungan regresi dapat diketahui bahwa koefisien determinasi(adjusted R2) yang diperoleh sebesar 0,522. Hal ini berarti 52,2% motivasi kerjadapat dijelaskan dari 6 variabel yaitu kepercayaan, kejujuran, pembuat keputusanbersama, keterbukaan dalam komunikasi kebawah, mendengarkan dalamkomunikasi keatas, dan perhatian pada tujuan-tujuan berkinerja tinggi dan 47,8%dipengaruhi oleh variabel lain.KESIMPULANPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan positif antaraiklim komunikasi dengan motivasi kerja. Hasil dari penelitian ini menunjukkanbahwa seluruh variabel independen secara simultan berpengaruh positif terhadapvariabel dependen. Variabel yang paling berpengaruh dalam peneitian ini adalahvariabel pembuat keputusan bersama. Hal itu berarti bahwa iklim komunikasiorganisasi berpengaruh positif terhadap motivasi kerja. Semakin tinggi iklimkomunikasi organisasi maka semakin tinggi pula motivasi kerja yang dihasilkan.DAFTAR PUSTAKAChatman, Jennifer and Bersade, 1997. Employee Satisfaction, Factor AssociatedDevito, A Joseph. 1997. Komunikasi antar Manusia. Jakarta: Profesional Books.Dharma, Surya.2009. Manajemen Kinerja Falsafah Teori danPenerapannya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Effendy, Onong Uchjana. 1981. Kepemimpinan dan Komunikasi. Bandung:Penerbit Alumni.Falcione, Raymond L., Lyle Sussman, and Richard P. Herden (2001)”Communication Climate in Organization,” dalam Frederic M. Jablin etal. (eds). Handbook of Organizational Communication: AnInterdisciplinary Perspective. Newbury Park, CA: Sage Publications, Inc.Gibson, Ivancevich, Donnnelly. 2007. OrganisasiPerilaku,Struktur,Proses.Jakarta: Erlangga.Goldhaber, GeraldM. 1990. Organizational Communication Fifth Edition: Iowa:Wm.C. Brown Publishers.Grensing Lin dan Pophal. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia.Jakarta: PT.Ina Publikatama.Hersey, Blancchard. 1995. Theory Organization. London: Mercury Books.Kartono, Kartini, 1994, Psikologi Sosial untuk Manajemen, Perusahaan danindustri, Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.Lund, Daulatram B., 2003, Organizational Culture and Job Satisfaction, Journalof Business & Industrial Marketing, Vol. 18 No. 3.Luthans E.A., 1998, Organizational Behavior, Sixth Edition, Singapore: McGrawill Book Co.Mangkunegara, AA Anwar Prabu, 2001, Manajemen Sumber Daya ManusiaPerusahaan.Bandung PT.Remaja Rosdakarya.Morissan. 2009. Teori Komunikasi Organisasi. Bogor: Ghalia Indonesia.Muhamad, Arni. 2001. Komunikasi Organisasi. Jakarta: PT. Bumi Aksara.Nawani, Hadari dan Hadari Martini.1992. Intrumen Penelitian Bidang Sosial.Yogyakarta: Gajah Mada University.Pace, Way R dan Faules, Don F. 2006.Komunikasi Organisasi strategiMeningkatkan Kinerja Perusahaan.Bandung : PT. Remaja Rosadakarya.PB.Triton.2007. Manajemen Seumber Daya Manusia. Yogyakarta: Tugu.Pool, Steven W., 1997 The Relationship of Job Satisfaction With Substitutes ofLeadership, Leadership Behavior, and Work Motivation, The JournalofPsychology, Vol. 13, MayRobbin, Stephen P dan Judge Timothy A. 2008.Perilaku Organisasi Jilid 2.Jakarta: Salemba Empat.Robbins, Stephen P dan Mary, Coulter. 2005. Manajemen. Jakarata: Gramedia.Siagian, P.S., 1997, Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi,Jakarta: Gunung AgungSingaribun, Masri dan Sofian Effendi. 1989. Metode Penelitian Survei. Jakarta :LP3ES.Thoha, Miftah. 2007. Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Website: Artikel Komunikasi Organisasi. (2009). Dalamhttp://www.infonuklir.com/ modules/news/article.php?storyid=154/Diunduh pada tanggal 17 Maret 2010 pukul 14.00 WIBWith Company Performance, Journal Of Applied Psychology, February, 29.
Co-Authors Achmad Habibie Taufiqqur Rahman Adi Nugroho Adinda Sekar Cinantya Aditia Nurul Huda Aditya Iman Hamidi Adityo Cahyo Aji Afif Hazly Hasibuan Agraha Dwita Sulistyajati Agus Naryoso Naryoso Agus Naryoso S.Sos, M.Si, Agus Naryoso Ahda Hanif Fauzi Ahmad Fauzi Ahmad Fikar Harakan Aike Ingget Pratiwi Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Ajeng Rengganis, Sekar Albert Rivai Sinaga Aldi Atwinda Jauhar Aldiansyah, Duvit Aldila Leksana Wati Alexandra Parahita Bening Kesumaputri Alif Ibrahim Alya Anwar, Rizqika Alyssa Jasmine Aurelia Rahmiqatrunnada Amrina Rida Hapsari Ananda Erfan Musthafa Andrea Oktavia, Helga Anggi Pramesthi Kusumarasri Anggia Anggraini Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annisa Aulia Mahari Annisa Kusumawardhani Annisya Winarni Putri Aprida Mulya, Resti Ardelia Fitriani, Neysa Ardini Koesfarmasiana, Ardini Arfika Pertiwi Putri Arif Nurochman Arinda Putri Oktaviani Aryatama Wibawa, Michael Asep Virgo Asri Aulia Rachmawati Asri Nugraheningtyas Astrid Damayanti Asty Setiandini Atika Nabila Atina Primaningtyas Aulia Nur Awang Asmoro Ayu Puspitasari, Ramadhiana Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Azzahira Putri Zakaria, Grandhis Badri Ilham Ramadhan Bagoes Praswanda, Yusrizal Bagoes Widjanarko Banun Diyah Ardani Bareta Hendy Pamungkas Bayu Widagdo, Muhammad Bella Yunita Binarso Budiono Budiono Bisma Alief Charisma Rahma Dinasih Chintya Dyah Meidyasari Daffa Satriowibowo Daniel Dwi Listantyo Dara Pramitha Darda Putranto, Addakhil Deansa Putri Deni Arifiin Destima Nursylva Anggraningrum Devi Pranasningtias Indriani Dhira Widya Prasya, Dhira Dhiyah Puspita Sari Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Muhammad Distian Jobi Ridwan Diyan Hafdinovianti Ayu Kinasih Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Djoko Setyabudi Djoko Setyabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dwi Mulya Ningsih Dwi Purbaningrum Eggie Nurmahabbi Eka Ardianto Farasila, Iraisa Farisa Dian Utami Fariz Dewanto Fatma Izzatussayidati Febri Ariyadi Febriana Handayani Febriandani, Anisa Fitriyani, Putri Frida Asih Pratiwi Galuh Perwitasari Ghaliyah Julya Almira Ghana Pratama, Albert Ghela Rakhma Islamey Ghita Kriska Dwi Ananda Gilang Wicaksono Hajar Azizatun Niswah Hamidah, Nadiya Handi Aditia Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S, Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hardiyanto, Muhamad Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrikus Setya Pradhana Henny Novita Rumono Hilda Maisyarah I Nyoman Winata I Nyoman Winata Ibrahim Muhammad Ramadhan Ichsan Wahyu Pratama Imam Muttaqin Indah Puspawardhani Indra Septia BW Infra Ranisetya Intan Mashitasari Ira Astri Rasika Jaya Pramono Adi Jimmy Fachrurrozy Jody Suryamar Yudha Joyo NS Gono Joyo Nur Suryanto Gono Joyo Nur Suryanto Gono Kanaya Az Zahrah Karunia Yusuf, Kevin Kembang Soca Paranggani Khairani, Indah Khairunnisya Sholikhah Kinanati Bunga Wulansari Krisna Adryanto Lintang Jati Rahina Lintang Ratri Rahmiaji LISTIANTO HINDRA PRAMONO Lizzatul Farhatiningsih Lucia Eka Pravitasari Luh Rani Wijayanti M Bayu Widagdo Maharani Easter Mahendra Zulkifli Manggala Hadi Prawira Marcia Julifar Ardianto Marsha Fildzaishma Marshanda Putri, Tyara Martia Mutiara Tasuki Marwah Gayatri Purnado Maya Lestari Melinda Wita Satryani Meriza Lestari Meta Detiana Putri Mohammad Akbar Rizal Hamidi Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yulianto Muchammad Bayu widagdo MUHAMMAD ABDUSSHOMAD Muhammad Bayu widagdo Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Fadhel Raditya Muhammad Rofiuddin Muhamy Akbar Iedani Muliawati, Ditha N S Ulfa Naafisa Maulida Pratama Nabila Rezki, Anisa Nadia Dwi Agustina Nadia Hutaminingtyas Nanik Sudaryningtyas, Nanik Naura Kamila Prasetyanti Nicho Putera Gustantyo Nidya Aldila Nikita Putri Mahardhika Nikolas Prima Ginting Ninda Nadya Nur Akbar Noni Meisavitri Novi Rosmaningrum NS Gono, Joyo NS Ulfa Nungki Dwi Widyastuti Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nur Shafira, Hana Nur Suryanto Gono, Joyo Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurist Surrayya Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Avita Sari Nurul Hasfi Otto Fauzie Haloho Pipin F.P. Lestari Prabowo Nurwidagdyo Pranamya Dewati Prescilla Roesalya Primada Qurrota Ayun Primada Qurrota Ayun Pungkas Dwitanto Purwoko, Agus R. Sigit Pandhu Kusumawardana Radika Oktavianti, Dina Raihan Triaffandra Ramadhan, Maulana Ramadhinda, Azzahra Randyani Rarasati Raymond Soelistiono Filemon Raynaldo Faulana Pamungkas Reichan Anantyo, Muhamad Resty Widyanty Revana Meylani Rhola Bachtiar Raharjo Rifki Nur Pratiwi Rifqah Nailah Rijalul Vikry Rizka Amalia Rizka Arsianti Rizky Amalya Hadiningtyas Rizqi Ganis Ashari Rohedy Ayucandra Rohmat Pambudi Roli Harni Purba, Juita Rony Kristanto Setiawan Rosita Kemala Sari Rosyada Setijawan, Amrina Rumi Aulia Rahmanisa S. Rouli Manalu Safira Nurin Aghnia Santa Cicilia Sinabariba Septian Aldo Pradita Septiana Hadiwinoto, Jessica Septiana Wulandari Suparyo Setyabudi, Gunawan Shafira Inas Nurina Shahnaz Natasha Anya Sigit Haryadi Sofi Kumala Fatma Sofianisa Rahmawati Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Suryanto Gono, Joyo Nur Tan Faizal Rachman Tasya Nadia Taufik Indra Ramadhan Taufik Reza Ardianto Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Teresia Kinta Wuryandini Theresia Dita Anggraini Thriyani Rahmania Titan Armaya Tiur Agata, Elisa Tjen Jocelyn Ivana Tri Muriati Harahap, Anggi Tri Utami Triangga Ardiyanto Trixie Salawati Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Turnomo Rahardjo Uci Andriani Veriska, Veriska Vicho Whisnurangga Vinny Avilla Barus Wahyu Aji Hernawan, Dhimas Wahyu Kuncoro Aji, Danar Wahyu Nur R, Efrilia Wahyu Widiyaningrum Widya Andhika Aji Wina Natasya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yanu Angga Andaru, Yanu Yanuar Luqman Yoga Yuniadi Yohanes Rico Ananda Putra, Yohanes Yuan Stephanie Yuliantika Hapsari Yunita Indriyaswari Yusriana, Amida YUSUF AKBAR, MUHAMMAD Zainul Asngadah Fatmawati Zelda Elsa Khabibah Zulfikar Mufti