Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Antara Intensitas Menonton Tayangan Sinetron Kekerasan di Televisi dan Pola Komunikasi Keluarga dengan Tingkat Agresivitas oleh Anak Pungkas Dwitanto; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 9, No 4: Oktober 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the relationship between the intensity of watching violent soap operas on television and family communication patterns with the level of aggressiveness by children. This research uses explanatory quantitative method. The data collection technique used is non-probability sampling with a sample of 50 respondents. The theory used in this research is social learning and relationship schemes in the family. Hypothesis testing using Kendall's Tau_b analysis and Chi-Square Tests. The results of the hypothesis test show that the significance value for the variable intensity of watching violent soap operas on television is 0.278, which means that there is a relationship between the intensity of watching violent soap operas on television (X1) and the level of aggressiveness by children (Y). Meanwhile, the results of the hypothesis test for the family communication pattern variable show that the significance value is 0.000, which means that there is a relationship between the parent's communication pattern (X2) and the child's level of aggressiveness (Y).
Hubungan Terpaan Pemberitaan Korupsi di Televisi dan Pernyataan Presiden SBY di Televisi dengan Tingkat Kepercayaan Masyarakat pada Pemerintah LISTIANTO HINDRA PRAMONO; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.938 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Dewasa ini pers Indonesia mengalami perubahan yang luar biasa dalam mengekspresikan kebebasan. Fenomena itu ditandai dengan munculnya media baru baik cetak maupun elektronik dengan berbagai kemasan dan segmen. Keberanian pers dalam mengkritik penguasa juga menjadi ciri baru pers Indonesia. Hal ini juga terlihat akhir-akhir ini ketika pers berani mengungkapkan kasus-kasus korupsi maupun skandal-skandal yang diduga melibatkan beberapa pejabat publik, menteri, anggota dewan sampai ketua partai, baik yang dilakukan sendiri maupun secara “berjamaah”, dari tingkat paling atas sampai ke tingkat paling bawah.Melalui peran media, kini kasus-kasus tersebut dapat diketahui oleh masyarakat luas. Media sekarang berani membongkar kompleksitas kasus korupsi dengan mencoba mengungkap keganjilan-keganjilan yang terjadi melalui liputan, tayangan, dan investigasi sendiri secara mendalam, sehingga pemberitaan yang disajikan terkadang kritis terhadap pemerintah. Dengan gencarnya pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi di televisi yang semakin hari semakin marak, kredibilitas pemerintahan SBY benar-benar diuji. Hal tersebut sebenarnya bisa mengindikasikan seberapa seriuskah pemerintahan SBY jilid II ini dalam memberantas kasus-kasus korupsi. Selain itu, yang menarik dari kebebasan pers yang selama ini dinikmati, adalah tak luputnya sang kepala negara menjadi isu dan pemberitaan yang panas, seperti pernyataan-pernyataan SBY yang dimuat di media. Melalui media, pernyataan-pernyataan SBY ketika menyampaikan pidato di depan umum, terkadang di tanggapi beragam oleh media (dalam hal ini media televisi yang paling gencar).Menurut data yang dikutip dari detiknews.com (27/6/2011), riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada 2011, kepuasan publik atas kinerja Presiden SBY terus merosot. Menurut lembaga survey tersebut salah satu penyebabnya adalah sikap reaktif SBY jika sedang diserang isu di mana SBY menyampaikan kegelisahannya dengan curhat di depan publik. Selama ini, suka atau tidak suka, media televisi sebagai “opinion leader” telah membentuk interpretasi berdasarkan pandangannya bahwa pernyataan-pernyataan SBY tersebut merupakan “cuhat/curahan hati sang presiden”. Media menjustifikasi SBY sebagai “tukang curhat”, “lamban”, “kurang gesit”, “terlalu reaktif”, dan berbagai sebutan yang dapat melemahkan citra SBY.Namun, di Istana Negara pada Senin (8/10) malam, melalui pidatonya Presiden SBY menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam bersikap. SBY yang kerap dianggap absen ketika terjadi konflik, kali ini hadir di saat kekisruhan antara KPK dan Polri semakin memanas. Pangkal persoalannya adalah ketika pemberitaan kasus korupsi simulator SIM ditubuh POLRI mulai melebar dan menjadi isu panas serta memunculkan istilah “Cicak vs Buaya Jilid II” dalam berbagai pemberitaan hingga menyulut pertikaian antara KPK dan POLRI.Sontak peristiwa tersebut juga diliput berbagai media termasuk televisi, bahkan berbagai stasiun televisi seperti Metro TV, TV One, TVRI menayangkan pidato tersebut secara penuh dan langsung. Pernyataan Presiden SBY tersebut memang ditunggu-tunggu. Banyak kalangan yang meminta agar konflik yang melanda dua institusi penegak hukum tersebut harus segera diakhiri dan presiden menepati janjinya untuk buka suara dalam menyelesaikan konflik ini. Dalam pidatonya tersebut Presiden SBY menyampaikan Lima Keputusan (solusi) Presiden soal konflik Polri dan KPK. Setelah pidato tersebut banyak kalangan dan masyarakat yang mengapresiasi/memuji substansi pidato tersebut, mereka menilai pidato tersebut cukup tegas. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi dan menimbulkan opini publik serta persepsi yang berbeda-beda dari para audiensnya.Penelitian ini hanya untuk menguji hipotesis di mana diasumsikan sementara bahwa terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Namun tidak untuk mengetahui efektivitas atau pengaruh dari ketiga variabel di atas. Pembatasan penelitian kali ini hanya dilakukan terhadap masyarakat yang pernah terterpa pemberitaan korupsi di televisi, serta pernah menerima terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi (dalam hal ini tentang pernyataan presiden SBY dalam menengahi konflik KPK-POLRI pada tanggal 8 Oktober 2012), serta yang telah berusia 18 tahun ke atas. Diharapkan pada pembahasan kita dapat mengetahui hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.PEMBAHASANTerdapat beberapa teori yang mendasari dari terbentuknya hipotesis di atas, yaitu:McQuail (1987: 263) menyatakan bahwa efek yang ditimbulkan oleh berita sendiri adalah kebanyakan efek yang ditimbulkannya berupa tambahan pengetahuan tentang informasi faktual berjangka waktu pendek; barangkali juga pembentukan cara pandang terhadap gambarandunia dan masyarakat yang berjangka waktu panjang, serta kerangka berfikir untuk menafsirkan makna pelbagai peristiwa. Berita memiliki kecenderungan yang normatif dan dirancang atau didayagunakan untuk membentuk dan menunjang nilai-nilai dan pandangan tertentuMenurut teori hierarki efek (Liliweri, 1991:39) secara umum terdapat tiga efek dari komunikasi massa, yaitu: (a) efek kognitif, pesan komunikasi massa mengakibatkan khalayak berubah dalam hal pengetahuan, pandangan, dan pendapat terhadap sesuatu yang diperolehnya; (b) efek afektif, di mana pesan komunikasi massa mengakibatkan berubahnya perasaan tertentu dari khalayak. Orang dapat menjadi lebih marah dan berkurang rasa tidak senangnya terhadap sesuatu akibat membaca surat kabar, mendengarkan radio, atau menonton televisi; (c) efek konatif, akibat pesan komunikasi massa mengakibatkan orang mengambil keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.Sedangkan terpaan sendiri, menurut pendapat Shore (Kriyantono, 2006: 204-205), lebih dari sekedar mengakses media. terpaan tidak hanya menyangkut apakah seseorang secara fisik cukup dekat dengan kehadiran media massa, akan tetapi apakah seseorang itu benar-benar terbuka terhadap pesan-pesan media massa tersebut. Terpaan merupakan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan tersebut yang dapat terjadi pada tingkat individu maupun kelompok.Menurut Baldoni (Kaban, 2009:51) keberhasilan seorang pemimpin, termasuk presiden, sesungguhnya sangat ditentukan oleh kepiawaiannya berkomunikasi, karena melalui komunikasi, pemimpin membangun trust (kepercayaan) kepada rakyat atau pengikutnya. Pernyataan-pernyataan Presiden SBY yang dikutip oleh media tersebut adalah bagian dari naskah/teks pidatonya sebagai kepala negara, di mana pidato sendiri dapat digolongkan sebagai sebuah retorika politik. Heryanto dan Zarkasy dalam bukunya Public Relations Politik (2012:118) mendefinisikan retorika politik sebagai seni berbicara pada khalayak politik dalam upaya mempengaruhi khalayak tersebut agar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh komunikator politik.Secara konseptual, ketiga variabel pada penelitan ini memiliki definisi sebagai berikut:1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisiKemampuan seseorang untuk menceritakan/menjelaskan kembali pemberitaan tentang korupsi di televisi tersebut setelah mereka melakukan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan pemberitaan tentang korupsi di televisi.2. Terpaan pernyataan Presiden SBY di televisiKhalayak, dalam hal ini masyarakat, menonton televisi kemudian terkena terpaan pernyataan Presiden SBY sehingga mereka mampu untuk menceritakan/menjelaskan kembali pesan-pesan yang terkandung dalam terpaan pernyataan tersebut.3. Tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintahAdalah penilaian masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY dalam menerapkan dan menjalankan sejumlah program aksi prioritas yang merupakan rumusan dan penjabaran yang lebih operasional dari Visi dan Misi pemerintah 2009-2014.Dalam penelitian ini, terdapat beberapa indikator yang digunakan untuk mencari tahu varibel terpaan pemberitaan korupsi di televisi, pernyataan Presiden SBY di televisi, dan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisiMerupakan kemampuan khalayak menjelaskan kembali pemberitaan tentang korupsi di televisi. Variabel ini diukur dengan melihat seberapa jauh pemahaman/pengetahuan responden/khalayak terhadap kasus-kasus korupsi yang diberitakan di televisi.Tolok ukur:a. pemahaman/pengetahuan responden/khalayak terhadap pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi :- Korupsi Al Qur’an- Korupsi Sport Centre Hambalang- Korupsi Simulator SIM- Korupsi Suap Bupati Buol- Korupsi Wisma Atlet di Palembangb. siapa pelaku dan siapa saja yang terlibat2. Terpaan pernyataan Presiden SBY di televisiTerpaan pernyataan Presiden SBY di televisi diukur dengan indikator:Pengetahuan responden/khalayak mengenai pemberitaan tentang pernyataan pernyataan SBY. Tolok ukurnya adalah khalayak/masyarakat mengetahui dan bisa menerangkan kembali isi pesan pernyataan Presiden SBY di televisi, pada pernyataan SBY tentang konflik KPK-POLRI.3. Tingkat Kepercayaan Masyarakat pada PemeritahVariabel ini diukur dengan indikator:Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam menerapkan dan menjalankan :a. Program Aksi Perbaikan dan Pelaksanaan Tata Kelola Pemerintahan yang BaikTolok ukurnya:1) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam melakukan pengawasan kinerja dan dampak reformasi, termasuk pemberantasan korupsi dan penerapan disiplin dan hukuman yang tegas bagi pelanggaran sumpah jabatan, aturan, disiplin, dan etika kerja birokrasi. (Misalnya: Pemerintah dalam hal ini Presiden SBY berani menegur bahkan mencopot pejabat yang melanggar sumpah jabatan /termasuk terlibat korupsi).2) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas layanan pemerintahan dengan perumusan standar pelayanan minimum yang diketahui masyarakat beserta pemantauan pelaksanaannya oleh masyarakat (misalnya: perekrutan pegawai/tender sampai pengangkatan pejabat struktural dalam sebuah lembaga/ departemen/pemerintah daerah dilaksanakan secara transparan dan akuntabel sehingga dapat dipantau masyrakat luas).b. Program aksi Penegakan HukumTolok ukurnya:1) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam memperbaiki law enforcement (misal: memperbaiki mutu dan integritas aparat penegak hukum baik di Kepolisian, Kejaksaan maupun Pengadilan)2) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam meninjau ulang dan memperbaiki peraturan yang menyangkut penegakan hukum termasuk pengaturan hak-hak polisi, peraturan-peraturan pelaporan, dan aturan pelayanan dari aparat penegak hukum. (misal: membuat aturan main/peraturan perundang-undangan yang tegas termasuk terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh oknum penegak hukum serta memberi jaminan kepastian hukum dan keadilan bagi semua)3) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam melakukan pencegahan dan penindakan korupsi secara konsisten dan tanpa tebang pilih.Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanatori, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguji hipotesis mengenai hubungan kausal antar variabel yang diteliti, yaitu hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi (X1) dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (X2) dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang pernah melihat pemberitaan korupsi di televisi, serta pernah menerima terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 40 orang, dengan teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling (metode tak acak) dengan proses sampling purposif. Sampling purposif adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kriteria yang telah dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti. Teknik ini mencakup orang-orang yang diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian.Digunakan analisis yang bersifat kuantitatif untuk menguji hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (variable X) dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah (variabel Y). Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan uji statistik yang menggunakan analisis koefisien korelasi dan konkordansi Rank Kendall dengan menggunakan perhitungan dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solution).Hasil dari penelitian ini, menyatakan bahwa terpaan pemberitaan korupsi di televisi ternyata tidak berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik di mana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,805 dan koefisien korelasi sebesar -0,037. Oleh karena sig sebesar 0,805 > 0,05; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menolak hipotesis alternatif (Ha) dan menerima hipotesis nol (Ho). Pernyataan presiden SBY di televisi ternyata berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hal ini berdasarkan data uji hipotesis, diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,050 dan koefisien korelasi sebesar -0,294. Oleh karena sig sebesar 0,050 = 0,05 (tidak lebih besar dari 0,05); maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima hipotesis alternatif (Ha) dan menolak hipotesis nol (Ho). Sedangkan apabila ketiganya dikaitkan dengan uji Konkordansi Kendall ternyata hasil penelitianmenunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah,Jadi artinya bahwa ketika terpaan pemberitaan korupsi di televisi tinggi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (dalam hal ini pernyataan Presiden SBY dalam pidatonya tentang konflik KPK-POLRI) tinggi maka tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah cenderung rendah.Berdasarkan uji statistik didapati bahwa ternyata tidak terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, hal ini bisa dijelaskan dengan menggunakan teori perbedaan-perbedaan individu mengenai pengaruh komunikasi massa (the individual differences theory of mass communication effect), di mana menurut teori ini bahwa tiap individu tidak sama perhatiannya, kepentingannya, kepercayaannya maupun nilai-nilainya, maka dengan sendirinya selektivitas mereka terhadap komunikasi massa juga berbeda (Liliweri, 1991:106). Bahkan menurut De Fleur (Liliweri, 1991:105) menambahkan bahwa setiap individu memilki kepribadian masing-masing yang akan mempengaruhi juga perilaku mereka dalam menanggapi sesuatu.Setelah dilakukan pencarian dan pengolahan data, diperoleh hasil bahwa terdapat kecenderungan hubungan negatif antara terpaan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hasil tersebut cukup beralasan karena meskipun dalam kenyataannya banyak kalangan yang menilai pidato SBY kali ini cukup baik (karena dari poin-poin yang disampaikan SBY yang berpihak pada keinginan publik dan media), namun timing/waktu SBY yang tidak cepat (terkesan terlambat) dalam memberikan pernyataan dalam menengahi konflik KPK-POLRI, membuat persepsi masyarakat terhadap kinerja pemerintah menjadi negatif. Seperti yang dingkapkan Priyatno Harsasto, Pengajar Universitas Diponegoro, Semarang dalam tanggapannya mengenai konflik KPK-Polri terkait kasus simulator SIM ini, bahwa menurutnya keterlambatan dalam mengambil keputusan, hanya akan menimbulkan kesan bahwa Presiden kurang berpihak pada upaya pemberantasan korupsi. (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/10/09/mbluo0-pernyataan-presiden-dinilai-terlambat).Artinya ada penanganan manajemen krisis yang lamban oleh pemerintah. Kekisruhan hukum dan politik dalam kasus KPK-POLRI “jilid II” dengan mempertontonkan dramaturgi sosok penguasa dan penegak hukum yang saling antagonistik di ruang publik melalui media inijustru semakin memberikan banyak pengetahuan masyarakat akan apa yang sebenarnya terjadi pada kasus tersebut. Pemberitan tersebut menjadi isu panas, dan selalu menempati menu pemberitaan utama media dalam waktu yang cukup lama (frekuensi penayangan/pembahasan yang sering). Dengan berlarut-larutnya konflik pada akhirnya justru semakin meneguhkan kesan kekurangseriusan pemerintah dalam menangani kasus korupsi.Hal tersebut sesungguhnya juga tak bisa dilepaskan dari citra/image negatif SBY yang selama ini melekat pada dirinya. Melalui media, SBY memang sering digambarkan sebagai seorang presiden yang “peragu”, “tukang curhat”, “lamban”, “kurang gesit”, “terlalu reaktif”, “mementingkan pencitraan” dan berbagai sebutan minor lainnya. Hal ini sebenarnya menyiratkan bahwa komunikasi politik yang dilakukan SBY melalui pidato/pernyataannya di media mengalami apa yang disebut oleh Liliweri (1991:27) sebagai hambatan prasangka. Menurut Rose (Liliweri, 1991:27) prasangka merupakan suatu sikap dari seseorang yang mencurigai orang lain dengan membanding-bandingkannya dengan diri sendiri atau orang lain yang lain yang mengarah kepada suatu perasaan yang negatif. Kalau saja hal ini terjadi maka setiap pesan yang disampaikan oleh seseorang, ataupun komunikator dalam komunikasi tidak dipercayai karena penerima telah mempunyai sikap apriori terlebih dahulu.Melalui hasil pencarian dan pengolahan data dalam penelitian ini ternyata membuktikan bahwa terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, namun begitu arah hubungan pada variabel terpaaan pernyataan presiden SBY dan tingkat kepercayaan memiliki arah kecenderungan hubungan negatif. Kedua variabel tersebut merupakan faktor yang mendorong rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan SBY kali ini, yaitu dalam menjalankan visi misi seperti yang diusungnya dalam memenangkan Pemilu 2009, di antaranya mewujudkan good governance melalui perbaikan dan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik serta penegakan hukum. Rakhmat (2001:130) menyatakan bahwa ada tiga faktor utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya atau mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya, yaitu: menerima, empati dan kejujuran.Masyarakat menilai bahwa pemerintahan SBY tidak memiliki ketiga hal tersebut, melalui gencarnya pemberitaan tentang korupsi menandakan bahwa tidak adanya kejujuran dalam penyelenggaraan pemerintahan, serta keseriusan dalam memberantas praktek-praktek korupsi. Selain itu pidato/pernyataan-pernyataan SBY selama ini (yaitu pernyataan SBY tentang konflikKPK-POLRI) yang merupakan bentuk empati terhadap keinginan masyarakat di mana pernyataan SBY dalam pidato ini sesungguhnya merupakan bentuk komitmen pemerintahan SBY Jilid II ini dalam upaya pemberantasan korupsi, karena poin-poin dalam pidato tersebut sesungguhnya mencerminkan keberpihakan SBY pada keinginan masyarakat, namun ternyata juga tak diterima dengan baik oleh masyarakat.PENUTUP1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisi ternyata tidak berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.2. Terdapat hubungan negatif antara pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata terdapat hubungan negatif antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, Jadi artinya bahwa ketika terpaan pemberitaan korupsi di televisi tinggi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (dalam hal ini pernyataan Presiden SBY dalam pidatonya tentang konflik KPK-POLRI) tinggi maka tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah cenderung rendah.SARAN1. Media massa dapat berperan penting dalam membongkar korupsi, dalam keadaan seperti ini media diharapkan dapat menjadi fasilitas penyampaian informasi serta menegakkan transparansi. Karena jika kurang adanya transparansi, hal ini akan menyebabkan buruknya kinerja aparat pemerintah dan penyebab maraknya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Untuk itu media massa dalam hal ini televisi diharapkan mampu memberikan informasi yang objektif, faktual dan tanpa bertendensi, maka check and rechek, akurasi, keberimbangan dan independensi harus selalu dilakukan semua perusahaan media massa (televisi) di Indonesia dalam sebuah produksi pemberitaan termasuk menyangkut sebuah opini dan perspektif atas suatu kasus. Selain itu dengan semakin banyak publikasi dan pemberitaan tersebut nantinya diharapkan akan memberikan beban bagi pemerintah untuk membuktikan itikadnya.2. Bagi presiden SBY disarankan untuk perlu memperbaiki citra/kredibilitasnya, yaitu dengan lebih membuktikan keseriusanya pada masyarakat dalam melaksanakan visi misi pemerintahannya yang dulu diusungnya dalam memenangkan Pemilu 2009, di antaranyamewujudkan good governance melalui perbaikan dan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik serta penegakan hukum. Perlu juga dicatat bahwa bebagai strategi komunikasi politik dalam rangka untuk meningkatkan citra akan sia-sia jika tidak disertai dengan kinerja nyata dari pemerintah. Dalam kaitannya dengan kegiatan komunikasi politik terutama berkaitan dengan pidato di depan umum/media, yang perlu diperhatikan adalah bahwa tindakan retorika tidak hanya cukup berbekal argumen yang meyakinkan belaka melainkan juga harus mampu menampilkan sosok komunikator sebagai komunikator yang kredibel dan terpercaya.3. Pemerintah dalam hal ini presiden SBY harus cepat dalam mengambil keputusan, termasuk dalam memberikan pernyataan melalui pidato dengan tujuan memberikan penjelasan kepada publik sekaligus sebagai instruksi bagi penanganan kasus tersebut. Hal ini didasarkan pada kasus korupsi Simulator SIM yang berujung pada konflik KPK-POLRI serta kaitannya dengan pidato/pernyataan SBY terkait konflik tersebut, ini membuktikan bahwa krisis yang berlarut-larut justru akan menjadi bahan konsumsi/sorotan publik melalui media massa, sehingga akan berpengaruh terhadap kredibilitas pemerintah di mata masyarakat, untuk itu perlu adanya manajemen krisis yang tepat dan cepat dari pemerintah dalam hal ini presiden selaku pimpinan.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. 2011. Komunikasi Politik: Filsafat-Paradigma-Teori-Tujuan-Strategi dan Komunikasi Politik Indonesia. Yogyakarta: Graha IlmuFahmi, A. Alatas. 1997. Bersama Televisi Merenda Wajah Bangsa. Jakarta: YPKMDHamad, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta: GranitHeryanto, Gun Gun dan Irwa Zarkasy. 2012. Public Relations Politik. Bogor: Ghalia IndonesiaKartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung : Mandar MajuKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : KencanaLiliweri, Alo.1991. Memahami Peran Komunikasi dalam Masyarakat. Bandung: Citra Aditya BaktiLuwarso,Lukas dkk. 2004. Media dan Pemilu 2004. Jakarta: SEAPAMcQuail, Denis.1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : ErlanggaMuhtadi, Asep Saeful. 2008. Komunikasi Politik Indonesia: Dinamika Islam Politik Pasca-Orde Baru. Bandung: Remaja RosdakaryaMulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Massa : Kontroversi, Teori dan Aplikasi. Bandung : Widya PadjajaranNugroho D, Riant. 2004. Komunikasi Pemerintahan. Jakarta: Elex Media KomputindoNurudin. 2003. Komunikasi Massa. Malang : CespurRakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja RosdakaryaSamsuri. 2004. Media dan Transparansi. Jakarta: SEAPASeverin, Werner J. dan James W. Tankard Jr. 2005. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode dan Terapan di dalam Media Massa. Jakarta: KencanaSingarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3SSudibyo, Agus. 2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta : LKISSuparmo, Ludwig. 2011. Crisis Management dan Public Relations. Jakarta: IndeksSuwardi, Harsono dan Sasa Djuarsa Sandjaja dan Setio Budi (eds). 2002. Politik, Demokrasi dan Manajemen Komunikasi. Yogyakarta: Galang PressWest, Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi Edisi 3 Buku 2. Jakarta : Salemba HumanikaWinarni. 2003. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Malang: UMM PressWiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : GrasindoLain-LainKaban, Ramon, “Komunikasi Politik Presiden RI: Dari Soekarno sampai Susilo Bambang Yudhoyono (Perspektif Karakteristik Tokoh)”. Observasi, vol. 7, No.2, tahun 2009, hal. 60Kompas, Minggu 24 Januari 2010. Berita Menggeser Sinetron.http://bisnis-jabar.com/index.php/berita/kpk-vs-polri-pidato-sby-banjir-pujian-maupun-sindiranhttp://jambi.tribunnews.com/m/index.php/2012/10/04/koruptor-makan-uang-negara-rp-122-triliun-satu-semesterhttp://m.antaranews.comberita-fokushttp://mediacenter.kpu.go.id/images/mediacenter/VISI_/VISI_MISI_SBY-Boediono__ FINAL__ke_KPU_25_Mei_2009__A4_.pdfhttp://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/07/22/132616/Nazaruddin-Muncul-di-Metro-TVhttp://nasional.kompas.com/read/2012/10/06/2020573/Abraham.Berharap.Presiden.Selesaikan.Konflik.KPK-Polrihttp://nasional.kompas.com/read/2009/07/23/18004364/SBY-Boediono.Menang.60.80. Persenhttp://news.detik.com/read/2011/06/27/113024/1669317/10/sby-diminta-stop-curhat-dan-politik-pencitraanhttp://news.detik.com/read/2012/10/09/065802/2057818/10/sby-pantas-menuai-pujian?nd771108bcjhttp://news.detik.com/read/2012/10/09/060346/2057812/10/icw-pidato-sby-sudah-tegas-pelaksanaannya-harus-dikawal-bersama?nd771108bcjhttp://news.okezone.com/read/2011/06/14/339/468071/pemberantasan-korupsi-di indonesia-peringkat-2-dari-bawahhttp://politik.kompasiana.com /2011/01/25/paradoks-komunikasi-sby/http://pustakawan.pnri.go.id/uploads/media/5/APLIKASIFILSAFATDALAMILMUKOMUNIKASI.dochttp://www.antaranews.com/berita/1295860097/pakar-media-berlebihan-soal-pernyataan-presidenhttp://www.bisnis-kti.com/index.php/2012/10/kpk-vs-polri-pidato-sby-dinilai-terlalu-berhati-hati/http://www.indonesiafinancetoday.com/read/13548/Berita-Nazaruddin-Dorong-Pertum buhan-Pemirsa-TV-di-Juli-Agustushttp://www.kpi.go.id/component/content/article/14-dalam-negeri-umum/30399-partai-demokrat-adukan-tv-one-dan-metro -tv-ke-kpihttp://www.metrotvnews.comreadnewsprograms2012061512932121Kegalauan-Yudhoyono-.htmhttp//www.metrotvnews.com/readnews/2012031885449SBY-Ada-Gerakan-Aneh-untukJatuhkan-Pemerintah1http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/10/09/mbluo0-pernyataan-presiden-dinilai-terlambathttp://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/09/12/lrevtp-perkara-korupsi-di-indonesia-mencapai-1018-kasushttp://www.tempo.co/read/news/2009/07/22/078188554/SBY-Pidato-Saya-Dipelintir-dan-Diputarbalikanhttp://www.youtube.com/watch?v=qikfqfktb-8http://video.tvonenews.tv/arsip/view/62583/2012/10/07/ketua_kpk_berharap_presiden_turun_tangan_dalam_konflik_kpk _dan_ polri.tvOnehttp://video.tvonenews.tv/arsip/view/62639/2012/10/08/pidato_presiden_ri_terkait_kisruh_polri_dan_kpk.tvOne
Co-Creation dengan Komunitas Bike to Work Indonesia Sebagai Strategi Komunikasi Pemasaran Polygon Muhamy Akbar Iedani; Djoko Setyabudi; Nurist Surraya Ulfa; Tandiyo Pradekso; Eka Ardianto
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.238 KB)

Abstract

Konsumen yang aktif berkomunitas memiliki kecenderungan untuk secara aktif mencari informasi, membagikannya, serta saling mempengaruhi antar anggota komunitas. Selain itu konsumen yang saling terhubung secara aktif meningkatkan nilai produk yang mereka konsumsi, sehingga perusahaan harus memberikan ruang gerak lebih luas bagi komunitas dalam proses penciptaan ide, aktifitas promosi, merek, atau produk bersama mereka dalam rangka meningkatkan loyalitas konsumen, mengurangi resiko kegagalan produk, mengurangi biaya promosi, dan menjaga stabilitas keuangan perusahaanatau yang disebut dengan istilah co-creationseperti yang dilakukan oleh produsen sepeda Polygo n dan komunitas Bike to Work Indonesia. Kolaborasi yang dilakukan Polygon dan Bike to Work merupakan salah satu contoh impelementasi strategi co-creationdengan pendekatan penciptaan produk. Tujuan penelitian iniadalah untuk mendeskripsikan implementasi co-creationsebagai strategi komunikasi pemasaran Polygon dengan komunitas Bike to Work Indonesia. Penelitian ini menggunakan konsep Consumunity Marketing (Ardianto dan Soehadi, 2013), Brand Co-creation(Hatch dan Schultz, 2010), DART Model in Co-creation(Prahalad dan Ramaswamy, 2004), Co-creationof Value (Ardianto dan Soehadi, 2013), dan Engagement in Co-creation(Smith dan Zook, 2011). Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi partisipan serta analisis data menggunakan grounded theoryHasil penelitian menunjukkan bahwa engagementmerupakan langkah awal dalam melakukan co-creationsekaligus sebagai faktor utama dalam proses tersebut. Faktor pendukung co-creationberupa kesamaan nilai dan pesan, adanya dialog, transparansi, akses, dan pengelolaan resiko. Proses co-creationharus berlanjut pada proses co-communicationuntuk mengkomunikasikan hasil co-creationkepada khalayak luas (pasar) sehingga tujuan dari co-creationdapat tercapai. Semua proses awal co-creationhingga keberlangsungannya tersaji dalam model co-creation. Kata kunci: komunikasi pemasaran, konsumen, komunitas, engagement, co-creation
PENGALAMAN KOMUNIKASI WANITA PENJAJA SEKS (WPS) SEBAGAI PEER EDUCATOR DALAM UPAYA PENCEGAHAN HIV Maharani Easter; Tandiyo Pradekso; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.634 KB)

Abstract

PENGALAMAN KOMUNIKASI WANITA PENJAJA SEKS (WPS) SEBAGAI PEEREDUCATOR DALAM UPAYA PENCEGAHAN HIVAbstrakSosialisasi menjadi komunikasi persuasif yang paling sering dipilih oleh LSM maupunpemerintah dalam mempersuasif masyarakat atas isu-isu tertentu seperti pencegahan HIVmelalui penggunaan kondom, sayangnya mensosialisasi penggunaan kondom bagi para WanitaPenjaja Seks (WPS) tidak semudah mensosialisasikannya pada kelompok masyarakat lainnya.Sikap skeptis ditunjukkan WPS akibat tanggapan masyarakat atas pekerjaan mereka sertabanyaknya salah kaprah mengenai penyakit HIV yang membuat WPS menutup diri dariinformasi luar. Hadirnya Peer Educator (PE) yang merupakan WPS juga dalam program peereducation diharapkan dapat membantu mempersuasi WPS menggunakan kondom. masalahyang muncul: Bagaimana cara PE tersebut mempersuasif WPS lainnya hingga tujuan merubahperilaku dapat tercapai?Tujuan penelitian ini menggambarkan pengalaman komunikasi WPS sebagai PE dalammempersuasif WPS lainnya untuk menggunakan kondom 100% dalam upaya pencegahan HIVserta bagaimana seorang PE menjadi persuader yang baik. Upaya untuk menjawabpermasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan menggunakan teori dialog dan retortikaajakan serta teori kompetensi komunikasi. Penelitian ini bertipe deskriptif kualitatif denganmetode fenomenologi untuk mengungkap pengalaman komunikasi PE kepada peer-nya.Hasil dari penelitian menunjukkan bagaimana komunikan bertipe skeptis seperti WPSdapat menerima informasi dari pihak luar dengan cara persuasif menggunakan ajakan sertadialog dimana dalam interaksi tersebut WPS dapat mengemukakan pendapat, alasan, sertapandangannya terhadap isu yang diangkat seperti penggunaan kondom untuk mencegah HIV.Selain itu kompetensi komunikasi PE sangat mempengaruhi keberhasilan komunikasi persuasifdimana ketiga faktor: pengetahuan, motivasi, serta keterampilan menjadi satu kesatuan yangharus dimiliki PE secara maksimal. Perlu adanya pemahaman mengenai peran PE oleh setiapWPS sehingga peran WPS tidak hanya penyedia kondom melainkan sesuai dengan tujuanadanya PE yaitu mengedukasi dan mempersuasif sesamanya untuk merubah perilaku.Kata kunci : Peer Educator; WPS; kompetensi komunikasiTHE EXPERIENCE OF WPS COMMUNICATION AS PEER EDUCATORIN PREVENTION OF HIVAbstractThis research aims to describe the communication between WPS (Wanita Pekerja Seks) as PeerEducator (PE) and her peer, the another WPS about using condom to prevention of HIV and toexplain how to be a good persuader in this situation. This research based on the experiencecommunication of female sex worker in Resosialisasi Argorejo, Semarang. Using the TheoryRhetoric of Persuasion, Theory Dialog and Theory Communication Competence for answer thequestion of this research. The type of this research is qualitative descriptive by usingphenomenology method. Phenomenological approach is used to reveal experiencecommunication of PE to her peer.The result of this research is how to persuade the communicant of skeptic type like WPS toaccept the information from the others is with persuasion and dialog in interaction so WPS cantell what her opinion, reason, and perspective, about using condom for prevention of HIV.Moreover, communication competence of PE is affective for the success of persuasivecommunication, which three factors of communication competence : knowledge, motivation,and skill is union and PE must have them maximum. There needs to be an understanding of therule that PE by any WPS, that PE isn’t only just a condom providers but according to purposeof PE is to educate and persuasion the other.Keywords: Peer Educator; WPS; communication competenceI. PENDAHULUANSosialisasi merupakan bentuk komunikasi persuasif yang sering dipilih pemerintah maupunLembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kepada masyarakat dalam berbagai isu penting. Meskibegitu, tidak sedikit dari sosialisasi tersebut yang menciptakan polemik dimasyarakat karenamenimbulkan pro dan kontra. Salah satunya adalah sosialisasi penggunaan kondomdimasyarakat. Ada yang mendukung tindakan tersebut, namun tidak sedikit yang mengecamtindakan tersebut.Human Immunedefficiency Virus atau yang disingkat HIV adalah penyakit mematikanyang menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. BerdasarkanDitjen PP dan PL Kemenkes RI pada laporan statistik HIV/AIDS di Indonesia, jumlah kasusbaru HIV/AIDS pada 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2012 adalah 21.511 kasus HIVdan 5.686 kasus AIDS. Provinsi Jawa Tengah pun tidak luput dari penyakit mematikan ini.Dalam artikel berita di lensaindonesia.com, Jawa Tengah malahan menjadi peringkat ke-6nasional dari segi jumlah kasus HIV/AIDS setelah Bali, dengan jumlah penderita hingga Juni2012 yang baru terungkap mencapai 5.301 orang dari estimasi sebanyak 10.815 kasus.Pengelola Program Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Jateng, Ridha Citra Turyanimengatakan, jumlah penderita tersebut masih separuh ditemukan karena penyakit yangmematikan ini masih sangat sulit terdeteksi bagaikan gunung es. (Gawat! 436 Ibu RumahTangga di Jateng Terjangkit HIV/AIDS. (2012). Dalamhttp://www.lensaindonesia.com/2012/10/17/gawat-436-ibu-rumah-tangga-di-jateng-terjangkithivaids.html diunduh 3 September 2013 pukul 20.30 WIB)Terdapat banyak penyebab penularan HIV, antara lain : ibu hamil dan pemberian ASI dari ibuyang menjadi penderita HIV kepada bayi, penggunaan jarum suntik, transfusi darah, dan yangmenduduki persentase terbesar (70%-80%) adalah hubungan seksual. Menteri KesehataNafsiah Mboi menanggapi bahwa salah satu penyebab mengapa angka penderita HIB masihtinggi adalah karena masih rendahnya kesadara masyarakat terhadap seks berisiko. Tingginyapenulara HIV dan AIDS disebabkan oleh banyaknya pria dewasa yang memelihara kebiasaan“belanja seks” dan kurangnya penggunaan kondom. Menurutnya perilaku negatif inimenyebabkan 1,6 juta penduduk menikah dengan pria berisiko menderita HIV dan AIDS.(HIV/AIDS Tinggi karena Pria Doyan Jajan Seks. (2012) dalamhttp://www.tempo.co/read/news/2012/06/25/173412771/HIVAIDS-Tinggi-karena-Pria-Doyan-Jajan-Seks diunduh 3 September 2013 pukul 20.35 WIB).Sosialisasi penggunaan kondom yang dilakukan oleh pemerintah maupun LSMkhususnya bidang kesehatan guna mencegah dan menanggulangi penyebaran penyakit HIVakibat “kebiasaan jajan pria” ini sayangnya tidak berjalan mulus, timbulnya pro dan kontramembuat sosialisasi ini kurang berdampak untuk menekan angka penderita HIV. Kini tindakansosialisasi penggunaan kondom sebagai pencegahan penyakit HIV dilakukan di beberapatempat lokalisasi (atau saat ini disebut resosialisasi), dengan kegiatan peer education.PE sebagai komunikator dalam kegiatan komunikasi berupa peer education yangdipaparkan diatas, menunjukkan betapa penting peranannya dalam mencapai keberhasilandalam mempengaruhi perilaku seseorang/kelompok, dalam hal ini yaitu WPS maupun PSK.LSM Griya Asa PKBI Kota Semarang yang merupakan salah satu LSM yang bergerakdi bidang Keluarga Berencana (KB), pencegahan Infeksi Menular Seksual (IMS) danHIV/AIDS di Kota Semarang. PKBI Semarang telah mendampingi wanita yang dikategorikankelompok Risiko Tinggi (RisTi) di wilayah Kota Semarang. Salah satu bentuk kegiatanpencegahan HIV yang dilakukan oleh LSM Griya Asa PKBI bekerjasama dengan FHI (FamilyHealth International) pada tahun 2003 adalah mengunakan peer education sebagai salah satustrategi komunikasi dalam pencegahan HIV di Lokalisasi Sunan Kuning. Alasan awal mengapadibentuk PE karena PE yang berasal dari sesama WPS, karena WPS sendiri memilikikecendurungan menutup diri, namun lebih terbuka dengan lingkungan dalamnya, khususnyasesama WPS. Hal tersebut tentu akan memudahkan LSM dalam mempengaruhi WPS untukmerubah tingkah lakunya sesuai dengan program pencegahan HIV. Selain itu, pemikiranlainnya bahwa tidak selamanya LSM Griya Asa ada di daerah lokalisasi tersebut. Harapannya,dengan adanya PE, edukasi mengenai program pencegahan HIV akan terus berlangsung meskiLSM tidak lagi ada disana.Sayangnya terdapat lack of communicator di Lokalisasi Sunan Kuning. Sejakdibentuknya kegiatan peer education pada tahun 2003 hingga saat ini 2013, tercatat sebanyak60 WPS sebagai PE. Namun kenyataannya dari 60 WPS tersebut, kurang lebih hanya 15 orangyang aktif sebagai PE.Peer Educator yang terdapat di Lokalisasi Sunan Kuning mempunyai fungsi untukmengajak dan mengedukasi sesama WPS, untuk menjaga kesehatan reproduksi denganmenggunakan kondom dan menjalani scanning secara rutin. Sayangnya fungsi tersebut kiniberalih. “PE di Lokalisasi Sunan Kuning kini hanyalah penyetok kondom saja,” pengakuan Ari,salah satu relawan LSM Griya Asa yang mengikuti program ini sejak awal. Menurutnyadibutuhkan peran aktif dan dukungan penuh dari para pengurus resos dalam menjalankanprogram PE tersebut.Masalah yang timbul kemudian adalah bagaimana interaksi yang dilakukan WPSsebagai PE dalam mempersuasif sesama WPS serta bagaimana kompetensi komunikasi yangseharusnya dimiliki WPS tersebut sebagai persuader yang baik. Dalam menjawab pertanyaantersebut peneliti melakukan penelitian kepada 6 (enam) WPS sebagai informan dimana merekaterdiri dari 2 (dua) orang yang berperan sebagai peer, 2 (dua) orang yang berperan sebagai PEnon aktif, dan 2 (dua) orang yang berperan sebagai PE aktif. Penelitian ini sendiri dilakukan diLokalisasi Sunan Kuning, dimana peer education pertama kali diterapkan dilingkunganlokalisasi di Semarang. Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang menggunakanmetode fenomenologi dengan paradigma interpretif. Paradigma interpretif dapat dimengertimerupakan proses aktif dalam pemberian makna dari suatu pengalaman. Peneliti menggunakanparadigma ini dan berusaha mengungkapkan dan memahami pengalaman WPS sebagai peer PEdalam upaya pencegahan HIV.Data yang dikumpulkan dalam penelitian kualitatif berupa catatan di lapangan dan hasilwawancara (Denscombe, 2007:289). Studi ini berusaha mendeskripsikan pemahaman wanitaWPS sebagai PE dan menyimpulkan pentingnya peran peer educator sebagai komunikatorkhususnya dalam upaya merubah tingkah laku sebagai tujuan pencegahan HIV. Sehingga dapatdirumuskan pengalaman WPS sebagai PE dalam upaya pencegahan HIV.II. ISISetelah melakukan depth interview, peneliti kemudian melakukan deskripsi tekstural danstruktural dari hasil wawancara tersebut. Setelah individual textural-structural descriptiontersusun, maka dibuat suatu composite description dari makna dan esensi pengalaman sehinggamenampilkan gambaran pengalaman kelompok sebagai satu kesatuan. Sehingga tahap akhirdari studi fenomenologi adalah mempersatukan pandangan dari deskripsi tekstural danstruktural guna membangun sintesis makna dan intisari dari sebuah fenomena dan pengalaman(Moustakas, 1994:181).Dalam penelitian didapatkan pemahaman WPS mengenai peran PE sangatmempengaruhi keputusannya untuk mengikuti arahan dari PE atau tidak. Ketika seorang WPSmenganggap PE hanyalah seorang “penyetok” kondom maka dirinya merasa tidak perluterbuka kepada PE mengenai kesehatan reproduksinya. Baginya keputusan menggunakankondom merupakan keputusan pribadi dimana tidak seorang pun berhak mendiktenya.Selain pemahaman peran PE di lingkungan resos, penelitian ini juga mendapatibagaimana interaksi yang dilakukan antara PE dan WPS. Dalam mempersuasif WPS, PE perlumemulai interaksi dengan menyatakan pandangannya mengenai kegunaan kondom, bagaimanamanfaat dari penggunaan kondom 100%, dan bagaimana dampak yang dirasakan PE secarapribadi selama menggunakan kondom 100%. Penjelasan tersebut dilakukan PE sebagai bentukpersuasif menggunakan kalimat mengajak dimana PE tidak serta merta memaksa WPSmenggunakan kondom, tapi sebaliknya membiarkan WPS memutuskan menggunakan kondom100% secara pribadi meski harapan dari PE mereka mengikuti program pencegahan tersebut.Ketika timbul konflik diantara PE dan WPS, PE dan PE, bahkan PE dengan pihak LSMmaupun resos, dialog menjadi pilihan utama sebagai problem solving, dimana setiap pihak yangberselisih paham dapat bebas mengutarakan pendapat dan alasannya sesuai dengan konteksyang menjadi masalah. Seperti halnya ketika ada WPS yang menolak menggunakan kondom,PE akan menanyakan alasan mengapa ia tidak mau menggunakan kondom. Terjepitnya WPSakan kebutuhan yang semakin meningkat serta kondisi sepi tamu membuat WPS seringkaliberkompromi dalam menggunakan kondom atau tidak. Setelah mendengarkan penjelasan WPStersebut, PE kemudian memilih mengutarakan alasan-alasan yang rasional mengapa WPS tetapharus menggunakan kondom, seperti bagaimana penyakit HIV saat ini belum ada obat yangdapat menyembuhkannya, sehingga berapa pun uang yang dimiliki WPS tidak akan bisamenyembuhkannya ketika terjangkit HIV. Dengan penjelasan-penjelasan yang rasional sertamenyertakan contoh dan trik-trik (merayu tamu menggunakan kondom atau menggunakankondom wanita) akan membuat WPS mau terbuka atas pendapat orang lain (PE) dan mengikutiapa yang PE sampaikan karena merasa itu juga untuk kesehatan reproduksi WPS itu sendiri.Kompetensi komunikasi yang harus dimiliki oleh seorang PE dapat dipenuhi ketikafaktor-faktor dari kompetensi komunikasi tersebut dimiliki secara keseluruhan. pengetahuan,motivasi, serta keahlian komunikasi harus dimiliki PE untuk dapat menjadikannya seorangpersuader yang berhasil. ketika seorang PE kurang memiliki kompetensi komunikasi makadirinya pun masuk kedalam kategori PE non aktif. Adanya trauma yang dimiliki ketikamenghadapi respon negatif WPS ketika sedang dipersuasif menjadi salah satu alasan mengapaseorang PE menjadi non aktif.III. PENUTUPKomunikasi merupakan cara terbaik dalam mempersuasif seseorang agar mau merubahperilakunya sesuai dengan harapan yang diinginkan. Meski demikian tidak semua komunikasidapat berhasil. Banyaknya elemen dalam komunikasi memiliki peran tersendiri dalam mecapaikeberhasilan, namun dalam komunikasi persuasif, peran seorang komunikator mengambil andilpaling besar dibandingkan elemen komunikasi yang lainnya.Keberhasilan seorang WPS sebagai PE didalam mempersuasif WPS untuk mengikutiprogram pencegahan HIV dengan cara menggunakan kondom 100% perlu didukung olehsegala pihak, tidak hanya bagaimana seorang PE menjalankan tugas dan tanggungjawabnya,melainkan juga respon positif dari WPS lain sebagai peer-nya serta bagaimana LSM sertapengurus resos yang konsen dalam memberdayakan PE dimana terus meng-upgrade PEkhususnya agar memiliki kompetensi komunikasi adalah faktor penentu keberhasilan programpeer education di lingkungan resosialisasi.DAFTAR PUSTAKAAw., Suranto. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta : Graha IlmuJans, Molly. (1999). Comm 3210: Human Commucation Theory, Martin Buber’s DialogicCommunication. Research Report. University of Colorado at BoulderKuswarno.Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi: Konsepsi,Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung:Widya PadjadjaranLittlejohn, Stephen W. & Foss, Karen A. (2009). Theories of Human Communication (9thedition) Teori Komunikasi (diterjemahkan oleh : Mohammad Yusuf Hamdan) . Jakarta:Salemba HumanikaMiller, Robert and Williams, Gary. (2004). The 5 Paths To Persuasion: The Art of Selling YourMessage. Summaries.comMoleong, Lexy J. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja RosdakaryaMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. London: SAGE Publications,Inc.Pawito. (2007). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta : Lembaga Kajian Islam danSosial (LKIS)Rahmat, Jalaluddin. (1999). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya OffsetTubbs, Stewart L. & Moss, Sylvia. (1994). Human Communication:Prinsip-Prinsip Dasar.(diterjemahkan oleh: Dr. Deddy Mulyana). Bandung: PT Remaja Rosdakarya OffsetWest, Richard & Turner, Lynn H. (2007). Introducing Theory: Analysis and Application (3rdedition). (diterjemahkan oleh: Maria Natalia Damayanti Maer). Jakarta : SalembaHumanikaJurnalAgustina, Rakhmawati. (2011). Pelaksanaan Kegiatan Peer Educator Dalam Upaya Pencegahan HIVdan AIDS di SMK Ibu Kartini Kota Semarang. Skripsi. Semarang : Universitas DiponegoroIka Setya Purwanti dan Rika Suarniati, The Indonesian Journal of Public Health vol. 2 no. 3, Mar.2006 : 98Jubaedah, Edah. (2009). Jurnal Ilmu Administrasi (pdf), Analisis Hubungan Gaya Kepemimpinan danKompetensi Komunikasi Dalam Organisasi. 370-375Murti, Elly Swandewi,dkk. (2006). Efektivitas Promosi Kesehatan Dengan Peer Education PadaKelompok Dasawisma Dalam Upaya Penemuan Tersangka Penderita TB Paru. BeritaKedokteran Mayarakat, Vol. 22 No. 3 September 2006, hal 128-134Zuhriyyah, L.Z. Penggunaan Kondom pada Wanita Pekerja Seks (WPS) Di Kawasan ResosialisasiGambilangu Kabupaten Kendal Tahun 2010. Skripsi. Semarang : Universitas NegeriSemarangInternetIndah,dkk. (2009). Peran Komunitas AIDS Peduli HIV/AIDS. Dalamhttp://theonlinejournalism.blogspot.com/2009/01/hivaids-siapkah-solomelawan_13.html 21/05/2013. Diunduh pada 20 Mei 2013 pukul 20.45 WIBFarihah. (2010). Dampak Psikologis PSK. Dalamhttp://ulfahfarihah51.blogspot.com/2011/07/dampak-psikologis-yang-dialami-psk.html.Diunduh pada 23 Mei 2013 pukul 18.30 WIBPeer Education (2000). Dalam http://www.unicef.org/lifeskills/index_12078.html. Diunduh 2Juni 2013 pukul 17.20 WIBIriyanto,Yuwana. (2011). Ibu Rumah Tangga di Jateng Terjangkit HIV/AIDS. Dalamhttp://www.lensaindonesia.com/2012/10/17/gawat-436-ibu-rumah-tangga-di-jatengterjangkit-hivaids.html. Diunduh 3 September 2013 pukul 23.00 WIB
Pengaruh Terpaan Promosi Penjualan, Citra Merek dan Nilai Pelanggan terhadap Loyalitas Konsumen Aplikasi OVO di Semarang Ichsan Wahyu Pratama; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 8, No 4: Oktober 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of each variable, sales promotion exposure (X1), brand image (X2) and customer value (X3) on consumer loyalty in the OVO application (Y). In this study using quantitative research methods. The sampling technique used non-probability sampling with a total sample of 50 respondents using the OVO application in Semarang. The analysis used to test the hypothesis is a simple linear regression test. Hypothesis testing shows sales promotion exposure to consumer loyalty is 0.000 (<0.05), so there is an effect of sales exposure on consumer loyalty. The result of the significant value of brand image on consumer loyalty is 0.001 (<0.05), so there is an effect of brand image on consumer loyalty. While the significant value of customer value on customer loyalty is 0.037 (<0.05), so there is an effect of customer value on customer loyalty.
Produksi Program "Di Balik Nama" di Cakra Semarang TV ( Scriptwriter dan Narator ) Pranamya Dewati; I Nyoman Winata; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.19 KB)

Abstract

Televisi memiliki potensi yang besar sebagai sarana untuk menyampaikan isu-isusejarah yang cenderung membosankan melalui penyajian tayangan news feature, yangbertujuan menyampaikan informasi sekaligus menghibur pemirsanya. Dari beberapastasiun TV lokal yang ada di Semarang, belum ada tayangan news feature bertemakansejarah lokal yang pembahasannya berangkat dari sebuah nama. Program acara newsfeature “Di Balik Nama” yang mengangkat tema seputar sejarah dibalik nama-namakawasan/tempat, kuliner, dan tradisi yang ada di kota Semarang dan sekitarnya, dapatmenjadi referensi tayangan baru yang segar dan informatif.Proses produksi karya bidang program acara “Di Balik Nama” melibatkan empatorang mahasiswa dengan pembagian tugas sebagai produser, kameramen, penulis naskah,pengisi suara, pengarah program, dan penyunting gambar. Laporan ini fokus menjabarkanapa saja tugas penulis naskah dan pengisi suara program “Di Balik Nama” mulai daritahap pra produksi, produksi, hingga paskaproduksi beserta hambatan dan solusinya.Program acara ini diproduksi sebanyak 13 episode dengan 3 tema dalam setiapepisodenya. Disajikan dengan narasi yang efektif dan ragam visual yang menarik,program ini menampilkan narasumber-narasumber yang kompeten untuk memperkuatinformasi yang disampaikan.Karya bidang ini tayang di stasiun televisi lokal Cakra Semarang TV setiap hariJumat jam 19.00 WIB mulai tanggal 17 April sampai dengan 24 Juli 2015. Tayangan inidiharapkan mampu memberikan dampak positif kepada masyarakat dalam rangkapemenuhan informasi dan pengetahuan mengenai sejarah lokal dari nama-namakawasan/tempat, kuliner, dan tradisi yang ada di kota Semarang dan sekitarnya.
TERPAAN PEMBERITAAN MEDIA MASSA DAN TINGKAT KEPERCAYAAN MASYARAKAT PADA KOMPETENSI JOKOWI SEBAGAI PEMIMPIN TERHADAP MINAT MASYARAKAT MEMILIH JOKOWI SEBAGAI CAPRES Titan Armaya; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso; Much. Yulianto
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.588 KB)

Abstract

Pemberitaan mengenai Joko Widodo seringkali menjadi headline pada media massa nasional, baik media cetak, online dan televisi. Pemberitaan menjadi semakin bervariatif ketika secara resmi Joko Widodo dicalonkan sebagai capres pada pemilu 2014 yang diusung oleh partai PDI-P. Tidak hanya sejumlah keberhasilan yang dicapai selama menjadi pemimpin, namun sejumlah isu seperti konsistensi, korupsi hingga SARA terkait Jokowi mulai diangkat dan dikritisi oleh banyak pihak. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan tipe eksplanatori, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh terpaan pemberitaan media massa dan tingkat kepercayaan masyarakat pada kompetensi Jokowi sebagai pemimpin terhadap minat masyarakat memilih Jokowi sebagai capres. Teori yang digunakan adalah teori Dependensi Efek Komunikasi Massa. Jumlah populasi sebanyak 36.711 penduduk yang berada di kelurahan Sendangmulyo, Semarang. Penelitian ini menggunakan teknik multistage random sampling diambil sampel sebanyak 100 orang. Data primer dianalisis menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik dan regresi linier sederhana dengan bantuan program SPPS.Perhitungan statistik menunjukkan bahwa signifikansi level terpaan pemberitaan media massa terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada kompetensi Jokowi sebagai pemimpin melebihi batas toleransi yaitu 0,075. Sementara, persamaan regresi linier sederhana antara tingkat kepercayaan masyarakat pada kompetensi Jokowi sebagai pemimpin terhadap minat masyarakat memilih Jokowi sebagai capres adalah Y = -0,501+0,021Z dengan nilai signifikansi 0.000. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa terpaan pemberitaan media massa tidak berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada kompetensi Jokowi sebagai pemimpin, namun tingkat kepercayaan masyarakat pada kompetensi Jokowi berpengaruh positif terhadap minat masyarakat memilih Jokowi sebagai capres.Media massa hendaknya melakukan tugas sesuai dengan fungsinya yaitu fungsi sebagai media informasi, pendidikan, dan kontrol sosial dan melaksanakan praktik jurnalisme yang bertanggung jawab. Hal ini bertujuan untuk membangun masyarakat yang kritis dalam memperoleh dan mengolah informasi bagi keberlangsungan sistem demokrasi yang lebih baik.Kata kunci : Terpaan Pemberitaan, Tingkat Kepercayaan, Minat Memilih, Kompetensi Jokowi.
Hubungan Terpaan Gambar Bahaya Merokok pada Bungkus Rokok dan Motivasi dari Pasangan Terhadap Upaya untuk Berhenti Merokok Bisma Alief; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.992 KB)

Abstract

Jumlah perokok aktif di Indonesia termasuk yang paling besar di dunia. Pemerintah melakukan berbagai cara untuk mengurangi jumlah perokok, salah satunya dengan mengganti pesan peringatan yang ada pada kemasan rokok. Awalnya pesan peringatan hanya berupa tulisan saja, namun sekarang diganti dengan pemberian gambar bahaya yang ditimbulkan dari kebiasaan merokok.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan tipe eksplanatori, yang bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan gambar bahaya merokok pada bungkus rokok dan motivasi dari pasangan terhadap upaya untuk berhenti merokok. Teori yang digunakan adalah teori The Extended Parallel Process Model, teori Motivasi Proteksi, dan teori Disonansi Kognitif. Penelitian ini menggunakan teknik non random sampling dengan metode purposive sampling dan jumlah sampel sebanyak 50 responden dengan usia 15-24 tahun di kota Jakarta yang menjadi perokok aktif dan memiliki pasangan.Hasil dari analisis korelasi Pearson dengan bantuan SPSS 22 menunjukan bahwa antara terpaan gambar bahaya merokok pada bungkus rokok dengan upaya untuk berhenti merokok memiliki hubungan yang signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikansi sebesar 0,031 dimana tingkat signifikansinya lebih kecil dari 0,05 dan nilai koefisien korelasinya sebesar 0,265. Sedangkan motivasi dari pasangan dengan upaya untuk berhenti merokok memiliki hubungan yang juga signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikansi sebesar 0,042 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 dan nilai koefisien korelasinya sebesar 0,247.Pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus secara konsisten melakukan upaya-upaya untuk mengurangi jumlah perokok, seperti dengan memperbesar gambar bahaya merokok yang sekarang hanya 40% dari kemasan rokok. Selain itu, memperbanyak jenis gambar bahaya merokok bisa dilakukan sehingga perokok tahu lebih banyak penyakit yang akan ditimbulkan dari kebiasaan mereka.
LAPORAN EVENT MARCOMM TOURING MERDEKA YZF R-25 (JABATAN PROJECT OFFICER) Yunita Indriyaswari; Djoko Setyabudi; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.182 KB)

Abstract

PT. Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), yang merupakan perusahaan otomotif asal Jepang meluncurkan produk terbaru yaitu YZFR-25. Sebagai salah satu wujud apresiasi YIMM terhadap konsumennya, YIMM membuat rangkaian event berupa touring dan launching yang bernama Touring Merdeka YZF R-25. Event ini melibatkan 20 konsumen indent online terpilih untuk touring dari Bali ke Solo dengan YZF R-25 secara gratis. Tujuan diselenggarakan rangkaian event tersebut adalah untuk menjaga konsistensi komunikasi dengan para konsumen dan memberi pengalaman langsung kepada masyarakat terhadap YZF R-25.Tujuan dari event ini tercapai karena rangkaian acara “Touring Merdeka YZF R-25” merupakan alat marketing yang efektif karena fokus pada pengalaman konsumen (experimental) dan mendorong terjadinya proses konsumsi secara emosional dan rasional.Di dalam rangkaian acara “Touring Merdeka YZF R-25” keterlibatan konsumen indent online yang merupakan ridersselama touring sangat berpengaruh, karena kesan dan penilaian mereka terhadap acara dan YZF R-25 dapat mempengaruhi pandangan dari calon konsumen mengenai YZF R-25. Selain itu, adanya test ride di area launching YZF R-25 juga sangat efektif untuk mendorong calon konsumen untuk memutuskan pembelian. Tak sekedar mendapatkan pengetahuan produk darisales promotion, tetapi melalui test ride calon konsumen juga dapat merasakan langsung performa dari YZF R-25 sehingga dapat meyakinkan calon konsumen untuk memutuskan pembelian.Kata kunci : Event, Marketing , Promotion
Pemaknaan Maskulinitas Dalam Iklan Produk Kosmetik Untuk Laki-laki Wahyu Widiyaningrum; Hapsari Dwiningtyas; Tandiyo Pradekso; Hedi Pudjo Santosa
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.781 KB)

Abstract

Maskulinitas merupakan sebuah produk kultural yang dihasilkan masyarakat untuk memberikan hak-hak istimewa terhadap laki-laki dalam kehidupansosialnya. Tradisi gender sangat mengunggulkan maskulin dan melarang adanya persamaan antara maskulin dan feminin. Laki-laki maskulin sering digambarkan media sebagai laki-laki yang jantan, tampil natural, tidak mementingkan keindahan fisiknya, memiliki tubuh yang besar, dominan, kuat, berpikir rasional, sosok seorang pemimpin, kompetitif, dan sifat-sifat lain yang lebih unggul dari perempuan. Iklan produk kosmetik untuk laki-laki kemudian menampilkan pemaknaan maskulinitas yang berbeda dari nilai-nilai maskulinitas dominan yang ditampilkan oleh media. Iklan produk kosmetik untuk laki-laki justru menghadirkan laki-laki feminin sebagai laki-laki yang maskulin.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap makna dominan mengenai maskulinitas pada iklan produk kosmetik untuk laki-laki dan melihat representasi laki-laki yang kehadirannya menjadi terpinggirkan karena tidak termasuk kedalam kategori maskulinitas yang ditawarkan iklan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika model Roland Barthes melalui tahapan analisis denotasi dan analisis konotasi.Hasil penelitian memperlihatkan bahwa iklan produk kosmetik untuk laki-laki menunjukkan makna dominan mengenai maskulinitas laki-laki dengan menampilkan laki-laki yang maskulin sebagai laki-laki yang memperlihatkan sisi femininnya dengan berdandan, memiliki sifat narsis atau memuja diri, berkulit putih, tampil lebih modern dengan gaya berbusana dan tatanan rambut terbaru, heteroseksual, memiliki tubuh berotot, berasal dari lingkungan menengah ke atas, dan bekerja di wilayah publik. Iklan menambahkan laki-laki yang berdandan dan berkulit putih sebagai kriteria baru dalam maskulinitas laki-laki. Iklan juga membuat laki-laki yang tidak termasuk kategori yang ditawarkan oleh iklan produk kosmetik untuk laki-laki menjadi terpinggirkan.Selain itu penelitian ini juga menunjukkan ideologi maskulinitas yang tidak lagi tunggal, melainkan terbagi berdasarkan kelas sosial laki-laki di masyarakat. Kata kunci : gender, maskulininitas, maskulin, laki-laki, iklan, kosmetik
Co-Authors Achmad Habibie Taufiqqur Rahman Adi Nugroho Adinda Sekar Cinantya Aditia Nurul Huda Aditya Iman Hamidi Adityo Cahyo Aji Afif Hazly Hasibuan Agraha Dwita Sulistyajati Agus Naryoso Ahda Hanif Fauzi Ahmad Fauzi Ahmad Fikar Harakan Aike Ingget Pratiwi Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Ajeng Rengganis, Sekar Albert Rivai Sinaga Aldi Atwinda Jauhar Aldiansyah, Duvit Aldila Leksana Wati Alexandra Parahita Bening Kesumaputri Alif Ibrahim Alya Anwar, Rizqika Alyssa Jasmine Aurelia Rahmiqatrunnada Amrina Rida Hapsari Ananda Erfan Musthafa Andrea Oktavia, Helga Anggi Pramesthi Kusumarasri Anggia Anggraini Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annisa Aulia Mahari Annisa Kusumawardhani Annisya Winarni Putri Aprida Mulya, Resti Ardelia Fitriani, Neysa Ardini Koesfarmasiana, Ardini Arfika Pertiwi Putri Arif Nurochman Arinda Putri Oktaviani Aryatama Wibawa, Michael Asep Virgo Asri Aulia Rachmawati Asri Nugraheningtyas Astrid Damayanti Asty Setiandini Atika Nabila Atina Primaningtyas Aulia Nur Awang Asmoro Ayu Puspitasari, Ramadhiana Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Azzahira Putri Zakaria, Grandhis Badri Ilham Ramadhan Bagoes Praswanda, Yusrizal Banun Diyah Ardani Bareta Hendy Pamungkas Bayu Widagdo, Muhammad Bella Yunita Binarso Budiono Budiono Bisma Alief Charisma Rahma Dinasih Chintya Dyah Meidyasari Daffa Satriowibowo Daniel Dwi Listantyo Dara Pramitha Darda Putranto, Addakhil Deansa Putri Deni Arifiin Destima Nursylva Anggraningrum Devi Pranasningtias Indriani Dhira Widya Prasya, Dhira Dhiyah Puspita Sari Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Muhammad Distian Jobi Ridwan Diyan Hafdinovianti Ayu Kinasih Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dwi Mulya Ningsih Dwi Purbaningrum Eggie Nurmahabbi Eka Ardianto Farasila, Iraisa Farisa Dian Utami Fariz Dewanto Fatma Izzatussayidati Febri Ariyadi Febriana Handayani Febriandani, Anisa Fitriyani, Putri Frida Asih Pratiwi Galuh Perwitasari Ghaliyah Julya Almira Ghana Pratama, Albert Ghela Rakhma Islamey Ghita Kriska Dwi Ananda Gilang Wicaksono Hajar Azizatun Niswah Hamidah, Nadiya Handi Aditia Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hardiyanto, Muhamad Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrikus Setya Pradhana Henny Novita Rumono Hilda Maisyarah I Nyoman Winata I Nyoman Winata Ibrahim Muhammad Ramadhan Ichsan Wahyu Pratama Imam Muttaqin Indah Puspawardhani Indra Septia BW Infra Ranisetya Intan Mashitasari Ira Astri Rasika Jaya Pramono Adi Jimmy Fachrurrozy Jody Suryamar Yudha Joyo Nur Suyanto Gono Kanaya Az Zahrah Karunia Yusuf, Kevin Kembang Soca Paranggani Khairani, Indah Khairunnisya Sholikhah Kinanati Bunga Wulansari Krisna Adryanto Lintang Jati Rahina Lintang Ratri Rahmiaji LISTIANTO HINDRA PRAMONO Lizzatul Farhatiningsih Lucia Eka Pravitasari Luh Rani Wijayanti M Bayu Widagdo Maharani Easter Mahendra Zulkifli Manggala Hadi Prawira Marcia Julifar Ardianto Marsha Fildzaishma Marshanda Putri, Tyara Martia Mutiara Tasuki Marwah Gayatri Purnado Maya Lestari Melinda Wita Satryani Meriza Lestari Meta Detiana Putri Mohammad Akbar Rizal Hamidi Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yulianto Muchammad Bayu widagdo MUHAMMAD ABDUSSHOMAD Muhammad Bayu widagdo Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Fadhel Raditya Muhammad Rofiuddin Muhamy Akbar Iedani Muliawati, Ditha N S Ulfa Naafisa Maulida Pratama Nabila Rezki, Anisa Nadia Dwi Agustina Nadia Hutaminingtyas Nanik Sudaryningtyas, Nanik Naura Kamila Prasetyanti Nicho Putera Gustantyo Nidya Aldila Nikita Putri Mahardhika Nikolas Prima Ginting Ninda Nadya Nur Akbar Noni Meisavitri Novi Rosmaningrum NS Ulfa Nungki Dwi Widyastuti Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nur Shafira, Hana Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurist Surrayya Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Avita Sari Nurwijayanti Otto Fauzie Haloho Pipin F.P. Lestari Prabowo Nurwidagdyo Pranamya Dewati Prescilla Roesalya Primada Qurrota Ayun Pungkas Dwitanto Purwoko, Agus R. Sigit Pandhu Kusumawardana Radika Oktavianti, Dina Raihan Triaffandra Ramadhan, Maulana Ramadhinda, Azzahra Randyani Rarasati Raymond Soelistiono Filemon Raynaldo Faulana Pamungkas Reichan Anantyo, Muhamad Resty Widyanty Revana Meylani Rhola Bachtiar Raharjo Rifki Nur Pratiwi Rifqah Nailah Rijalul Vikry Rizka Amalia Rizka Arsianti Rizky Amalya Hadiningtyas Rizqi Ganis Ashari Rohedy Ayucandra Rohmat Pambudi Roli Harni Purba, Juita Rony Kristanto Setiawan Rosita Kemala Sari Rosyada Setijawan, Amrina Rumi Aulia Rahmanisa S Rouli Manalu Safira Nurin Aghnia Santa Cicilia Sinabariba Septian Aldo Pradita Septiana Hadiwinoto, Jessica Septiana Wulandari Suparyo Setyabudi, Gunawan Shafira Inas Nurina Shahnaz Natasha Anya Sigit Haryadi Sofi Kumala Fatma Sofianisa Rahmawati Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tan Faizal Rachman Tasya Nadia Taufik Indra Ramadhan Taufik Reza Ardianto Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Teresia Kinta Wuryandini Theresia Dita Anggraini Thriyani Rahmania Titan Armaya Tiur Agata, Elisa Tjen Jocelyn Ivana Tri Muriati Harahap, Anggi Tri Utami Triangga Ardiyanto Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Uci Andriani Veriska, Veriska Vicho Whisnurangga Vinny Avilla Barus Wahyu Aji Hernawan, Dhimas Wahyu Kuncoro Aji, Danar Wahyu Nur R, Efrilia Wahyu Widiyaningrum Widya Andhika Aji Wina Natasya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yanu Angga Andaru, Yanu Yanuar Luqman Yoga Yuniadi Yohanes Rico Ananda Putra, Yohanes Yuan Stephanie Yuliantika Hapsari Yunita Indriyaswari Yusriana, Amida YUSUF AKBAR, MUHAMMAD Zainul Asngadah Fatmawati Zelda Elsa Khabibah Zulfikar Mufti