Claim Missing Document
Check
Articles

Aktivitas Promosi dalam Launching Produk Layanan Wisata Baru Buana Muda Pesona Tour Semarang Bidang Pekerjaan Project Officer Jody Suryamar Yudha; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi; Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.641 KB)

Abstract

Backpacking merupakan salah pilihan dalam melakukan kegiatan wisata. Prinsip utama backpacking adalah kemandirian sehingga tidak bepergian bersama kelompok tur yang ditawarkan oleh agen perjalanan. Backpacker menekankan melakukan kegiatan wisata dengan cara dan biaya yang murah. Setiap pilihan tentu saja memiliki konsekuensi. Kegiatan wisata dengan menjadi seorang backpacker juga punya kekurangan. Karena liburan dilakukan secara mandiri maka resiko menjadi korban kejahatan, tersesat at au pun menjadi sasaran penipuan di tempat baru yang dikunjungipun semakin besar. Jika terjadi permasalahan dalam perjalanan maka backpackerharus menyelesaikan masalah secara mandiri. Selain itu, backpacker juga harus mempersiapkan dana cadangan kalau sewaktu-waktu muncul biaya yang diluar prediksi karena kondisi di lapangan seringkali berbeda dari infor masi yang didapatkan sebelumnya sehingga murah belum tentu menyenangkan.Pada bulan Januari 2014, Pesona Tour ingin melakukan pengembangan usaha. Mereka akan meluncurkan layanan wisata baru bernama Buana Muda. Buana Muda mengangkat konsep wisata yaitu Destination Management Company dan budgettravelling sehingga anak muda tetap dapat merasakan perjalanan wisata murah sesuai dengan daya beli yang mereka miliki tanpa harus repot mempersiapkan segala kebutuhan wisata dan tidak perlu merasa khawatir dengan munculnya biaya tambahan karena semua biaya telah dihitung di awal.Aktivitas promosi yang dilakukan menggunakan event marketing sebagai fondasi utama dan didukung oleh alat promosi lain seperti periklanan, marketing public relation,publisitas, point of purchase material, E communication dan relationship marketing. Event Marketing berbentuk kontes fotografi yang berjudul Buana Muda “Feel The New Experience” bertujuan untuk memperkenalkan dan menarik minat khalayak sasaran di semarang mengenai layanan wisata baru Buana Muda. Setelah aktivitas promosi dilakukan selama satu bulan terjadi kenaikan awaraness sebesar 39% dan minat sebesar 32%. Selain itu berhasil dibentuk komunitas buana muda guna menjaga keberlangsungan pesan komunikasi pemasaran. Keywords : Aktivitas, Promosi, Event, Tour
Hubungan Intensitas Menonton Film Animasi dan Peran Orangtua Sebagai Gatekeeper terhadap Tingkat Agresivitas Anak Marcia Julifar Ardianto; Tandiyo Pradekso; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.516 KB)

Abstract

Hubungan Intensitas Menonton Film Animasi dan Peran Orangtua SebagaiGatekeeper terhadap Tingkat Agresivitas AnakABSTRAKSaat ini banyak film animasi yang ditayangkan untuk anak-anak dan pada jammenonton anak. Film animasi tersebut tidak hanya ditayangkan di televisi nasional saja,bahkan televisi berlangganan pun mempunyai beberapa channel yang khususmenayangkan film animasi. Akan tetapi, tidak semua film animasi mengandung muatanpositif. Film animasi yang mengandung muatan-muatan negatif, dikhawatirkan dapatmemicu perilaku agresif pada anak. Faktor yang mempengaruhi tingkat agresivitas anakantara lain intensitas menonton film animasi dan peran orangtua sebagai gatekeeper.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara intensitasmenonton film animasi terhadap tingkat agresivitas anak yang disertai dengan peranorangtua sebagai gatekeeper. Teori yang digunakan adalah teori belajar sosial (sociallearning theory) dan parental mediation theory. Tipe penelitian yang digunakan dalampenelitian ini adalah tipe eksplanatori dengan pendekatan metode penelitian kuantitatif.Populasi penelitian ini adalah anak sekolah dasar kelas 4, 5, dan 6 di kota Semarang.Teknik pengambilan sampel menggunakan multistage random sampling dengan sampelsebanyak 73 responden.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antaraintensitas menonton film animasi terhadap tingkat agresivitas anak dengan signifikansi0,04 dan terdapat hubungan yang negatif antara peran orangtua sebagai gatekeeperterhadap tingkat agresivitas anak dengan signifikansi 0,521. Akan tetapi terdapathubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi dan peran orangtuasebagai gatekeeper terhadap tingkat agresivitas anak dengan signifikansi 0,021.Persentase sumbangan variabel intensitas menonton film animasi dan variabel peranorangtua sebagai gatekeeper terhadap variabel tingkat agresivitas anak sebesar 10,4%.Saran bagi Komisi Penyiaran Indonesia, hendaknya bisa membatasi penayanganfilm animasi yang mengandung muatan negatif. Bagi penelitian selanjutnya disarankanuntuk melakukan penelitian dengan variabel yang berbeda, misalnya intensitaskomunikasi interpersonal, pola asuh orangtua, atau faktor demografis, karenavariabel-variabel tersebut dimungkinkan bisa mempengaruhi tingkat agresivitas anak.Kata kunci : intensitas menonton film animasi; peran orangtua sebagai gatekeeper;tingkat agresivitas anakABSTRACTToday there’s a lot of animated films are aired for the children and in thechildren’s spare time. The animated film is not only aired on national television,but also in subscription television that have channels that broadcast animatedfilms. However, not all animated films contains positive values. Animated filmsthat contained negative values, it is feared could trigger aggressive behavior inchildren. Factors that affected the level of children’s aggressivity include theintensity of watching animated films and the parent’s role as gatekeeper.The purpose of this study was to recognize the relationship between theintensity of watching the animated films and the parent’s role as gatekeeper andthe level of children’s aggressivity. The theory that is used is the social learningtheory and parental mediation theory. This type of research used in this study isthe explanatory type with quantitative research method approach. The populationof this research were primary school childrens grades 4, 5, and 6 in Semarang.The sampling technique was multistage random sampling with the sample of 73respondents.The results showed that there was a realtionship between the intensity ofwatching the animated movie and the level of children’s aggresivity with asignificance level of 0,04, and also a relationship between the parent’s role asgatekeeper and the level of children’s aggressivity with a significance level of0,521. However, there’s a relationship between the intensity of watching animatedmovie and the parent’s role as gatekeeper and the level of children’s aggresivitywith a significance level of 0.021. The contribution from independence variableand intervening variable toward dependence variable are 10,4%The suggestion for Komisi Penyiaran Indonesia is to limit the animatedfilms with negative values. To the next research, it is suggested to do a researchwith different variables, such as interpersonal communication intensity, parent’sparenting method, or children’s demographic factors, because these variables canalso influence the level of children’s aggressiveness.Keywords: the intensity of watching the animated films;parent’s role asgatekeeper; levels of children’s aggressivity1. PENDAHULUANFilm animasi merupakan tayangan TV bergenre program anak yang mempunyaipersentase paling besar dibandingkan tayangan anak lainnya. Ironisnya, tidaksedikit film animasi yang ditayangkan mengandung lebih banyak muatan negatif,seperti kekerasan, mistik, dan seks.Menurut Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) terdapat tigakategori tayangan televisi untuk anak, yaitu : a). Aman: kategori tayangan yangtidak hanya menghibur bagi anak, tapi juga memberikan manfaat lebih, sepertipendidikan, motivasi, mengembangkan sikap percaya diri dan penanamannilai-nilai positif dalam kehidupan (persahabatan, penghargaan terhadap dirisendiri dan orang lain, kejujuran). b). Hati-hati : tayangan yang relatif seimbangantara muatan positif dan negatif. c). Bahaya : tayangan yang mengandung jauhlebih banyak muatan negatif daripada muatan positif.Di Indonesia pada tahun 2010, menurut YPMA tayangan anak berlabelmerah masih 30%, idealnya 70% adalah aman, padahal angka 30% tersebut belumtermasuk tayangan berkategori hati-hati. Menurut Wayne Danielson dalamNational Television Violence Study 1995-1997, disimpulkan bahwa anak-anaklebih rawan daripada orang dewasa ketika menonton kekerasan. Anak-anak yangmemiliki kecenderungan untuk meniru apa yang dilihat, mempunyaikemungkinan untuk meniru adegan kekerasan di televisi (Vivian, 2008 : 487).Salah satu penyebab anak melakukan kekerasan, menurut Ketua KomnasPerlindungan anak adalah adegan kekerasan yang dipertontonkan pada anak.Adegan kekerasan tersebut menjadi role model bagi anak yang kemudiandiaplikasikan anak dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan anak senangmeniru apa yang dilihatnya(http://m.merdeka.com/jakarta/tawuran-pelajar-dampak-adegan-kekerasan-yang-dilihat-remaja.html. diakses pada tanggal 12 April 2013).Orangtua sebagai pembimbing anak saat menonton televisi sangatlahpenting. Orangtua perlu menyeleksi program-program, menghidupkan hanya padaacara tertentu, melakukan diet televisi, juga mengajari anak untuk mengkritisiacara yang ada di televisi. Selain itu, orangtua pun harus tahu banyak mengenaiacara apa saja yang berkaitan dengan anak (Hidayati, 1998 : 90). Peran orangtuasebagai gatekeeper dilihat sebagai penyaring dan pengontrol tayangan televisiyang ditonton anak. Gatekeeper dapat berupa seseorang atau sekelompok yangdilalui suatu pesan dalam perjalanannya dari pengirim ke penerima. Fungsi utamagatekeeper adalah menyaring pesan yang diterima seseorang (DeVito, 1997:530).Hal ini dapat dilakukan orangtua dengan memberi batasan mana yang ditontonoleh anak dan mana yang tidak, serta mendampingi dan memberi penjelasanmengenai adegan atau peristiwa yang ada dalam film kepada anak.Perumusan masalahApakah terdapat hubungan antara intensitas menonton film animasi dan peranorang tua sebagai gatekeeper dengan tingkat angresivitas anak-anak?Tujuan penelitianUntuk mengetahui hubungan intensitas menonton film animasi dan peranorangtua sebagai gatekeeper dengan tingkat agresivitas anak.Kerangka teoriTeori belajar sosial oleh Bandura mengatakan bahwa kita belajar denganmengamati apa yang dilakukan oleh orang lain. Melalui belajar observasi(modeling atau imitasi), kita secara kognitif mempresentasikan tingkah laku oranglain dan kemudian mungkin meniru tingkah laku tersebut (Santrock, 2003 : 53).J. L. Singer menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara parentalmediation, tingkat agresivitas anak, dan seringnya anak menonton televisi. Anakprasekolah yang jarang menonton televisi menunjukkan tingkat agresivitas danparental mediation yang rendah. Anak yang sering menonton televisi denganorangtua yang melakukan parental mediation menunjukkan tingkat agresivitasyang lebih rendah daripada anak yang sering menonton televisi dengan orangtuayang jarang melakukan parental mediation (Moeller, 2001 : 144).Parental mediation merupakan mediasi yang dilakukan orangtua pada anakmengenai televisi. Parental mediation diuraikan sebagai salah satu cara yangpaling efektif dalam mengatur pengaruh televisi pada anak. Terdapat tiga bentukparental mediation menurut Nathanson (Mendoza, 2009 : 30), antara lain:Coviewing mediation (orangtua menonton televisi dengan anak tanpa adanyadiskusi), Restrictive mediation (orangtua menetapkan aturan dan batasan padakonsumsi televisi anak, termasuk jenis program dan isi dari televisi), Activemediation (orangtua mendiskusikan dengan anak mengenai apa yang dilihat ditelevisi).Geometri Hubungan Antar VariabelHipotesis· Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi(X1) terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Semakin tinggi intensitasmenonton film animasi akan menyebabkan semakin tingginya tingkatagresivitas anak.· Terdapat hubungan yang positif antara peran orangtua sebagai gatekeeper(X2) terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Semakin tinggi peran orangtuasebagai gatekeeper akan menyebabkan semakin rendahnya tingkatagresivitas anak.· Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi(X1) dan peran orangtua sebagai gatekeeper (X2) terhadap tingkatagresivitas anak (Y).MetodologiTipe / jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplanatori.Populasi dalam penelitian ini adalah anak sekolah dasar kelas 4, 5 dan 6 di kotaSemarang yang tersebar di 16 subrayon. Untuk penelitian ini menggunakanmultistage random sampling dengan teknik pengambilan sampel menggunakansimple random sampling, jumlah sampel yang diperoleh adalah 73 siswa.INTENSITASMENONTON FILMANIMASI (X1)PERAN ORANGTUASEBAGAIGATEKEEPER (X2)TINGKATAGRESIVITASANAK(Y)2. HASIL PENELITIANFrekuensi Menonton Film Animasi Durasi Menonton Film AnimasiIndikator Peran Orangtua Sebagai GatekeeperPeran Orangtua Sebagai Gatekeeper Tingkat Agresivitas Responden3. PEMBAHASANHubungan X1 dengan YPengujian adanya hubungan intensitas menonton film animasi (X1) terhadaptingkat agresivitas anak (Y) didasarkan pada nilai korelasi yang diperoleh yaitu0,311, nilai korelasi mendekati angka 1 dengan signifikansi yang diperoleh, yaitusebesar 0,04, yang artinya lebih kecil dari 0,05, maka Ho ditolak. Sehinggahipotesis yang menyatakan bahwa intensitas menonton film animasi berpengaruhterhadap tingkat agresivitas anak diterima.Hubungan X2 dengan YPengujian adanya hubungan intensitas menonton film animasi (X1) terhadaptingkat agresivitas anak (Y) didasarkan pada nilai korelasi yang diperoleh yaitu -0,073, nilai korelasi mendekati angka 0, menunjukkan hubungan yang lemah.Signifikansi yang diperoleh, yaitu sebesar 0,521, yang artinya lebih besar dari0,05, maka Ho diterima. Sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa peranorangtua sebagai gatekeeper berpengaruh terhadap tingkat agresivitas anakditolak.Hubungan X1 dan X2 dengan YPengujian adanya pengaruh intensitas menonton film animasi dan peran orangtuasebagai gatekeeper terhadap tingkat agresivitas anak didasarkan pada signifikansiyang diperoleh, yaitu sebesar 0,021. Karena signifikansi < 0,05, maka Ho ditolak.Sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa intensitas menonton film animasi danperan orangtua sebagai gatekeeper berpengaruh terhadap tingkat agresivitas anakditerima. persentase sumbangan pengaruh variabel intensitas menonton filmanimasi dan peran orangtua sebagai gatekeeper terhadap variabel tingkatagresivitas anak sebesar 10,4%. Sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lainyang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.4. PENUTUPSimpulan1. Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi (X1)terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Semakin tinggi intensitas menontonfilm animasi, menyebabkan semakin tingginya tingkat agresivitas anak.2. Terdapat hubungan yang negatif antara peran orangtua sebagai gatekeeper(X2) terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Tingkat agresivitas anak rendahwalaupun parental mediation yang dilakukan orangtua rendah.3. Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi (X1)dan peran orangtua sebagai gatekeeper (X2) terhadap tingkat agresivitas anak(Y). Semakin tinggi intensitas menonton film animasi, semakin tinggi tingkatagresivitas anak, apabila peran orangtua sebagai gatekeeper rendah.SaranSecara teoriris, disarankan tidak hanya meneliti mengenai hubungan, tetapi jugapengaruh intensitas menonton film animasi. Peneliti selanjutnya juga bisamenambahkan variabel yang berbeda, misalnya intensitas komunikasiinterpersonal, pola asuh orangtua, atau faktor demografis, karena variabel-variabeltersebut dimungkinkan bisa mempengaruhi tingkat agresivitas anak.Secara praktis, untuk Komisi Penyiaran Indonesia adalah supaya bisa membatasipenayangan film animasi yang mengandung muatan negatif, dan memberikanklasifikasi tayangan pada film animasi yang ditayangkan.Secara sosial, untuk masyarakat khususnya orang tua agar lebih waspada terhadaptontonan anak, khususnya film animasi. Orangtua harus bisa memperhatikaninformasi yang dikonsumsi melalui program televisi beserta dampak negatifnyapada anak dengan memberikan bimbingan pada anaknya (parental mediation).Bagi orang tua yang memiliki kesibukan karena bekerja, sehingga tidak memilikiwaktu untuk selalu bisa menemani anak menonton televisi, sebaiknya bimbingankepada anak tetap dilakukan dengan melakukan restrictive mediation yaitumemberi aturan-aturan pada anak mengenai tayangan televisi. Selain itu, orangtuadapat melakukan coviewing mediation dan active mediation pada hari libur,seperti sabtu dan minggu.5. DAFTAR PUSTAKADeVito, Joseph. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta : Profesional BooksHidayati, Arini. 1998. Televisi dan Perkembangan Sosial Anak. Yogyakarta :Pustaka PelajarMendoza, Kelly. 2009. Journal of Media Literacy Education : Surveying ParentalMediation: Connections, Challenges and Questions for MediaLiteracyMoeller, Thomas G. 2001. Youth Aggresion and Violence: A PsychologicalApproachSantrock, John W. 2003. Adolescence : Perkembangan Remaja, Edisi 6. Jakarta :ErlanggaSilalahi, Laurel Benny Saron. 2012. Tawuran Pelajar, Dampak Adegan Kekerasanyang Dilihat Remaja dalamhttp://m.merdeka.com/jakarta/tawuran-pelajar-dampak-adegan-kekerasan-yang-dilihat-remaja.html . Diakses pada tanggal 12 April 2013Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedelapan. Prenada MediaGroup
Hubungan Intensitas Komunikasi Orangtua - Anak dan Kelompok Referensi Dengan Minat Memililh Jurusan Ilmu Komunikasi Pada Siswa Kelas XII Henny Novita Rumono; Agus Naryoso Naryoso; Djoko Setyabudi; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.363 KB)

Abstract

Setiap siswa yang akan  menyelesaikan studinya di Sekolah Menengah Atas (SMA) akan diperhadapkan pada berbagai pilihan. Salah satunya adalah jurusan atau program studi mana yang akan dipilih setelah Ujian Akhir Nasional (UAN) dilaksanakan. Masalahnya banyak siswa SMA yang sulit ambil keputusan karena tidak tahu apa bakat dan minatnya, dan banyak yang belum menemukan potensi dirinya, tidak terbiasa mengambil keputusan sendiri bahkan untuk hal-hal yang terkait dengan kepentingannya, sehingga bingung ketika harus memilih jurusan dan perguruan tinggi. Pemilihan jurusan atau program studi tentu bukanlah persoalan mudah karena banyak faktor yang mempengaruhi. Faktor tersebut antara lain adalah pengaruh dari orang tua, rekan siswa atau teman sepergaulan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas komunikasi orangtua-anak dan kelompok referensi dengan minat memilih jurusan Ilmu Komunikasi pada siswa kelas XII. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Konvergensi oleh William Stern dan teori Kelompok Rujukan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitaif dan tipe penelitian yang digunakan adalah eksplanatori. Sample dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas XII SMU Negeri 3 Semarang sebanyak 80 orang dan diambil menggunakan teknik simple random sampling. Analisis penelitian ini menggunakan analisis korelasi.Hasil temuan penelitian ini adalah: 1) tidak terdapat hubungan antara intensitas komunikasi orangtua – anak dengan minat memilih jurusan Ilmu Komunikasi pada siswa kelas XII. Hal itu terbukti dengan nilai pengujian korelasi Rank Kendall dimana variabel X1 dengan Y memiliki nilai signifikansi >0,05 (0,154). 2) Ada hubungan antara intensitas komunikasi kelompok referensi dengan minat memilih jurusan Ilmu Komunikasi. Hal ini terbukti dengan nilai pengujian koefisien korelasi Rank Kendall dimana variabel X2 dengan Y memiliki nilai signifikansi ≤ 0,05 (0,001) dan nilai korelasi Rank Kendall (τ) sebesar 0,318. Semakin tinggi intensitas komunikasi kelompok referensi, maka semakin tinggi pula minat siswa memilih jurusan Ilmu Komunikasi. 
Pengaruh Intensitas Menonton Televisi dan Pendampingan Orangtua dalam Menonton Televisi Terhadap Kedisiplinan Belajar Donik Agus Setiyanto; Nurist Surayya Ulfa; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.777 KB)

Abstract

Televisi sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat sekarang ini, hal ini terlihat dari jumlah pengguna televisi yang selalu meningkat setiap tahunnya. Kedisiplinan belajar anak dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan pendampingan orangtua yang baik dalam menonton televisi yang berperan besar didalam lingkungan keluarga juga memiliki peran dalam membentuk perilaku dan sikap anak untuk disiplin belajar.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas menonton televisi dan pendampingan orangtua dalam menonton televisi terhadap kedisiplinan belajar. Dasar pemikiran yang digunakan adalah displacement effect theory dan Parental mediation. Penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling. Sampel penelitian adalah anak berusia 12 – 14 tahun, dengan jumlah sebesar 138 siswa di SMP Negeri 5 Purwodadi.Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana dengan bantuan SPSS 22. Uji hipotesis antara intensitas menonton televisi menunjukkan hasil yang sangat signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,001 dan berpengaruh negatif terhadap kedisiplinan belajar. Sedangkan variabel pendampingan orang tua dalam menonton televisi menunjukkan hasil yang signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,001 dan memiliki pengaruh yang positif terhadap kedisiplinan belajar. Kesimpulan dari uji hipotesis ini adalah semakin rendah intensitas menonton televisi maka semakin tinggi kedisiplinan belajar dan semakin tinggi pendampingan orangtua maka kedisiplinan belajar akan semakin tinggi.Saran yang dapat diberikan adalah orang tua sebagai pendidik di rumah sebaiknya mengarahkan anak untuk melakukan kegiatan atau aktivitas lain yang lebih positif dan bermanfaat seperti berolahraga, berinteraksi dengan teman sebaya dilingkungannya dan belajar sehingga dapat mengurangi intensitas menonton televisi.
Hubungan antara Terpaan Berita Negatif BPJS Kesehatan di Media Massa dan Intensitas Komunikasi Word of Mouth di Masyarakat dengan Tingkat Kepercayaan Masyarakat pada Kualitas Pelayanan BPJS Kesehatan Fatma Izzatussayidati; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.034 KB)

Abstract

The efforts that made by the government to resolve the problem of health in Indonesia is not easy because it often gets negative news in various mass media, the news is a bit influential on the level of public confidence to BPJS Health Care's service quality that shown through the many circulation of negative word of mouth. The purpose of this research is to determine the relationship between news exposure and word of mouth intensity with the level of public confidence in BPJS Health Care's service quality. Sampling in this research is purposive sampling. The population in this study were all society in Semarang City who had seen, heard or read negative news about BPJS Health Care and ever talked about service quality of BPJS Health Care. The number of samples researched as many as 100 respondents.Based on the hypothesis conducted using data anlysis Pearson correlation analysis. The results showed that there was a negative correlation between news exposure in mass media and the level of public confidence in BPJS Health Care’s service quality starter with significance value 0,025 (<0,05). The results showed a negative relationship between the news exposure in mass media with the level of public confidence in BPJS Health Care's service quality with a significance value of 0.025 (<0.05) and Pearson correlation value of -0.224. Furthermore, Pearson's correlation test of word of mouth intensity and level of public confidence in BPJS Health Care's service quality showed a negative relationship with significance value of 0.000 (<0.001) and correlation value of -0.426. This means that the more intense word of mouth in society then the public confidence in BPJS Health Care's service quality will be lower. The suggestion that given is to build relationships with the mass media so that the negative issues can be confirmed in advance and not become a bad word of mouth in society.
Karya Bidang Jurnalistik Feature Program Acara “TOKOH” di Stasiun Cakra Semarang TV Aditia Nurul Huda; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo; I Nyoman Winata
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.966 KB)

Abstract

Setiap stasiun televisi di Indonesia saat ini sedang bersaing ketat dalam meraih perhatian pemirsa. Untuk menghadapi persaingan, televisi memproduksi tayangan yang berbeda, dinamis, dan disukai para penonton. Program berita feature adalah salah satu program kreatif yang bisa menarik perhatian dan tidak membosankan untuk ditonton. Feature sebagai program reportase yang dikemas secara mendalam dan luas disertai sedikit sentuhan aspek human interest. Konsep feature ini disesuaikan dengan program acara “TOKOH” yang sudah ada di Cakra Semarang TV namun ada yang berbeda sebagai tambahan yaitu penambahan voxpop dari orang terdekat dan liputan profil. Ada 6 episode yang ditayangkan yaitu “Sastrawan Muda Berbakat”, “Ibu Anak Jalanan”, “Kyai Penjaga Makam”, “Tangan Kedua”, “Metode Belajar Berbahasa Melalui Bawah Sadar”, “Pembudidaya BuLe (Jambu dan Lele)”. Pembagian tugas dalam tim ini mendapat peran sebagai produser, juru kamera, dan editor.Setelah melalui proses pra produksi, proses produksi, dan paska produksi, karya ditayangkan di stasiun Cakra Semarang TV setiap hari senin pukul 18.00 WIB, dari tanggal 9 Juni 2014 sampai dengan 21 Juli 2014 dengan satu kali penayangan ulang episode 1 karena kesalahan teknis dari pihak Cakra Semarang TV. Melalui tayangan ini diharapkan dapat menjadikan tayangan ini sebagai media untuk mengedukasi masyarakat.Kata kunci : feature,human interest,Tokoh
Hubungan Intensitas Menonton Youtube Beauty Vlogger dan Persepsi Mengenai Kredibilitas Beauty Vlogger dengan Perilaku menggunakan Makeup oleh Remaja Asri Aulia Rachmawati; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.193 KB)

Abstract

Makeup trends in Indonesia are developing through beauty vlogger content, which is mostly watched by teenagers. Teenagers tend to always follow the latest makeup trends to look beautiful. This is done because teenagers want to be like what the model they see, both the style of makeup and using various beauty products. Teen makeup behavior was allegedly a result of several factors such as the intensity of watching beauty vloggers on YouTube and one's perception of the credibility of beauty vloggers. This research aims to explain the intesity relationship of wathcing youtube beauty vlogger and perception regarding the credibility of the beauty vlogger with the behavior of using makeup by teenegers. The theory used is social learning theory and source credibility theory. The sample technique this research is using the non probability sampling with purposive sampling method. The number of sample is 60 people with criteria of female adolencests aged 13-18 years, watching the beauty vlogger and domiciled in the city of Semarang. The data analysis is using Pearson’s Correlation. The first hypothesis testing result showed there is no correlation between the intensity of wathcing youtube beauty vlogger with the behavior of using makeup by teenagers, with significance value of 0,404. The second hypothesis testing result showed there is correlation between perception on the credibility of the beauty vlogger with the behavior of using makeup by teenagers, with a value 0,002 of significance and 0,396 of correlation coefficient. With this result, further research is recommended using other variables, such as peergroup communication intensity or social status variables. Teen audiences are also expected to filter and be selective with all the information conveyed by beauty vloggers regarding the use of makeup.
PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM KERAGAMAN BAHASA KOMUNIKASI MASA KINI DONNA RADITA MERITSEBA; Turnomo Rahardjo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM KERAGAMANBAHASA KOMUNIKASI MASA KINIAbstrakBerkurangnya masyarakat keturunan Jawa sebagai penutur bahasa Jawa terutama padaanak menjadi latar belakang dalam penelitian ini. Apalagi dengan beragam bahasakomunikasi masa kini yang dinilai lebih penting untuk dikuasai. Masalah yang timbuladalah mengenai bagaimana penggunaan bahasa Jawa pada anak di keluarga Jawa dalamkeragaman bahasa komunikasi masa kini serta mengapa hal itu dapat terjadi.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan bahasa yangditerapkan oleh orang tua kepada anak di keluarga Jawa. Kapan dan kepada siapa anakmenggunakan pilihan bahasa mereka tersebut. Selain itu, bertujuan pula untukmengetahui alasan orang tua keturunan Jawa dalam menentukan pilihan bahasa yangdiajarkan kepada anak dari beragam bahasa komunikasi masa kini.Upaya menjawab permasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan kajiansosiolinguistik dalam tradisi sosiokultural yang membantu menjelaskan mengenaipenggunaan bahasa. Penelitian etnografi komunikasi ini menggunakan paradigmainterpretif dengan menggunakan metode analisis fenomenologi. Subjek penelitian adalahkeluarga Jawa status sosial atas hingga bawah agar mendapatkan variasi hasil penelitian.Hasil penelitian menunjukkan adanya penggunaan bahasa Jawa yang tidak lagisempurna pada anak karena adanya upaya alih kode dari ragam bahasa yangdikuasainya. Keluarga sebagai tempat anak dalam menerapkan bahasa Jawa sudah tidaklagi mengutamakan bahasa Jawa sebagai bahasa keluarga. Orang tua justru merasa lebihpenting mengajarkan anak mengenai bahasa asing. Keluarga Jawa lebih mementingkanagar anak dapat menerapkan bahasa komunikasi yang banyak digunakan di masyarakatluas. Hal itu terjadi di seluruh lapisan keluarga, baik yang terjadi di keluarga sosialekonomi atas, menengah, maupun bawah.Kata kunci : sosiolinguistik, keluarga Jawa, komunikasi budayaJAVANESE LANGUAGE USE IN DIVERSITY OFCOMMUNICATION LANGUAGES AT PRESENTAbstractJavanese language speakers is reduced, especially children. This is the background ofthis research. Communication languages of the present more important to use. Theproblem is how to use the Javanese language to children in Javanese families in diversityof communication languages at present and why it can happen.The purpose of this study is to investigate the use of language that applied byparents to children in their family. When and to whom their children use choice of thelanguage. In addition, the aim is also to find out why parents of Javanese determiningthe choice of language to be taught for children from diverse of communicationlanguages today.Efforts to answer the problems and goals of research done in the tradition ofsociocultural, sociolinguistic study can helps to explain the use of language. Thiscommunication ethnographic research using interpretive paradigm withphenomenological analysis in the method. Subjects were Javanese family in social statustop to bottom in order to get a variety of results.The results showed the use of the Java language is no longer perfect in childrendue to the efforts of code switching from diversity of languages mastered. Family as aarea where children can applying the Java language, is no longer prioritizing the Javalanguage as a family language. Parents feel more important to teach children aboutforeign languages. Using communication languages which also used in many peoplemore important. So, that is happen in all of Javanese families.Key words : sociolinguistic, Javanese families, cultural communicationPENDAHULUANKebudayaan Jawa merupakan kebudayaan yang dianut oleh masyarakat Jawa. BahasaJawa sebagai salah satu wujud budaya dari suku bangsa Jawa. Suku bangsa Jawamenggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Namun pada masa kini,penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi sehari-hari dinilai sudah mulaiberkurang, terutama komunikasi pada anak.Seperti pada pengalaman yang ditulis oleh Sutardi MS Dihardjo dalam artikel diMajalah Nusa Indah, ia menuliskan, sekitar tahun ’70-an, ’80-an, ketika ia masih anakanakatau remaja, para orang tua yang mempunyai kedudukan, meskipun tidak begitutinggi, misalnya PNS tidak harus golongan tiga atau empat, perangkat desa, atau guru,yang sering disebut sebagai priyayi (dalam pengertian orang awam), dapat dipastikanmereka akan mengajari putra-putrinya berbicara dengan bahasa krama yang halusdisertai sikap yang hormat dan sopan santun kepada orang tua. Tetapi yang terjadisekarang di tahun dua ribuan, mengajari anak berbahasa Jawa, menggunakan bahasakrama halus dianggap kuno, tidak demokratis, menghambat keberanian dan kreatifitas.Para priyayi kelahiran di atas tahun ’60-an, lebih bangga anak-anaknya tidak bisaberbahasa Jawa, tapi selalu berbahasa Indonesia kalau ditanya. Apalagi kalau anak-anakmereka dapat menghafal hitungan one, two, three, four (satu, dua, tiga, empat dalambahasa Inggris), mereka akan lebih bangga lagi. Meskipun mereka masih bertuturdengan bahasa Jawa kalau berbicara antara suami istri atau dengan orang-orang yangsebaya dan lebih tua. Ironisnya kakek dan neneknya pun ikut-ikutan berbicara denganbahasa Indonesia kepada cucu-cucunya yang baru belajar bicara. Akibatnya anak-anakmengalami gagap bahasa. Anak-anak tahu apa maksudnya kalau orang tua berbicaradengan sesamanya menggunakan bahasa Jawa, tetapi mereka tidak dapat menjawabdengan bahasa Jawa kalau ditanya. Apalagi kalau harus berbicara, bercerita, ataumenjelaskan dengan bahasa Jawa.Keberadaan sebuah bahasa lokal atau bahasa daerah sangat erat denganeksistensi suku bangsa yang melahirkan dan menggunakan bahasa tersebut. Bahasamenjadi unsur pendukung utama tradisi dan adat istiadat. Bahasa juga menjadi unsurpembentuk sastra, seni, kebudayaan, hingga peradaban sebuah suku bangsa. Bahasadaerah dipergunakan dalam berbagai upacara adat, bahkan dalam percakapan seharihari.Kelestarian, perkembangan, dan pertumbuhan bahasa daerah sangat tergantungdari komitmen para penutur atau pengguna bahasa tersebut untuk senantiasa secarasukarela mempergunakan bahasanya dalam pergaulan kehidupan sehari-hari. Jikapenutur suatu bahasa daerah masih berjumlah banyak, dan merekapun menurunkanbahasa daerah yang dikuasainya kepada anak-anak dan generasi remaja, makakelestarian bahasa yang bersangkutan akan lebih terjamin dalam jangka panjang.Sebaliknya, jikalau penutur suatu bahasa daerah semakin berkurang dan tidak ada upayaregenerasi kepada generai muda, maka sangat besar kemungkinan secara perlahan-lahanakan terjadi gejala degradasi bahasa yang mengarah kepada musnahnya suatu bahasa.Orang tua pasti akan memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknyatermasuk agar anaknya dapat berkomunikasi dengan beragam bahasa komunikasi masakini apalagi untuk menguasai bahasa asing. Meskipun demikian, sebuah keluargadimana anak-anak tinggal bersama orang tua keturunan Jawa, dalam interaksi yangterjadi antara mereka masih ada kemungkinan penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasadaerah maupun bahasa nasional dan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari mereka.Sehingga akan mengakibatkan penggunaan bahasa komunikasi yang variatif pula padabahasa komunikasi sehari-hari anak di keluarga Jawa.Penelitian ini bermaksud merumuskan masalah, yaitu bagaimana penggunaanbahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari pada anak di keluarga Jawa dalam keragamanbahasa komunikasi masa kini serta mengapa hal itu terjadi. Sesuai dengan permasalahantersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan bahasa yangdiajarkan oleh orang tua kepada anak di keluarga Jawa sebagai bahasa komunikasisehari-hari, untuk mengetahui kapan dan kepada siapa anak dari keluarga Jawamenggunakan pilihan bahasa komunikasi sehari-hari, serta untuk mengetahui alasanorang tua keturunan Jawa dalam menentukan pilihan bahasa sehari-hari yang diajarkankepada anak dari beragam bahasa komunikasi masa kini.ISIPenelitian mengenai penggunaan bahasa Jawa dalam keragaman bahasa komunikasimasa kini ini menggunakan paradigma interpretif. Penelitian interpretif tidakmenempatkan objektivitas sebagai hal terpenting, melainkan mengakui bahwa demimemperoleh pemahaman mendalam, maka subjektivitas para pelaku harus digalisedalam mungkin hal ini memungkinkan terjadinya trade‐off antara objektivitas dankedalaman temuan penelitian (Efferin,2004 dalam Chariri, 2009:5). Teori yangdigunakan berfokus pada masalah-masalah budaya, sehingga ada pertalian tradisi-tradisiyang dihadirkan. Meskipun ada bantahan bahwa teori yang digunakan merupakan tradisisemiotik, hanya dapat dikatakan bahwa teori-teori ini adalah tradisi sosiokultural.Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat tidak harus menggunakan bahasauntuk berkomunikasi agar dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan dalam kehidupansosial dan kultural. Bahasa menghubungkan semua manusia dalam hubungan sosial(identitas sosial dan kultural, interaksi, pergaulan, sosialisasi, pertukaran kepentingansosial, stereotip, dan jarak sosial), kultural (proses belajar dan mengajar nilai-nilaikehidupan), ekonomi (pertukaran barang dan jasa), psikologi (sosial) seperti persepsi(sosial), perubahan sikap, stimulus dan respons, dan atribusi. Bahasa memainkanperanan dalam interaksi antara stimulus dan respons. Inilah kegunaaan bahasa sebagaialat komunikasi (Liliweri, 2011 :339).Perbedaan-perbedaan suku bangsa, bahasa, agama, dan adat istiadat sering kalidisebut sebagai ciri masyarakat multikultural atau masyarakat majemuk (Tim Sosiologi,2006: 119). Secara sosiolinguistik, masyarakat Indonesia mempergunakan tidak hanyasebuah bahasa, tetapi paling sedikit dua bahasa, yaitu bahasa ibu dan bahasa nasional.Pada umumnya pemakai bahasa di Indonesia menguasai bahasa ibu sebelum mereka itumenguasai bahasa Indonesia (Samsuri, 1978:54).Salah satu warisan budaya Jawa adalah bahasa, dimana bahasa Jawa sebagaibahasa daerah menjadi media dalam menjalin hubungan sosial diantara mereka. Dalammasyarakat mana pun keluarga adalah jembatan antara individu dan budayanya.Kelompok keluarga terdekat dan jaring-jaring kekeluargaan yang lebih luas bagi tiaptiappribadi tersebut memberikan corak dasar bagi hubungan sosial dengan seisi dunia(Geertz, 1985:150).Etika adalah bagian dari falsafah aksiologi. Oleh karena hidup itu harusberhubungan dengan orang lain, agar hidup memenuhi fungsinya, maka dibingkaidengan etika. Etika tersebut meliputi segala hal, mulai dari manusia Jawa sebagaianggota keluarga, masyarakat, dan negara. Etika sosial setiap strata sosial memiliki etikayang berbeda. Perbedaan ini didasarkan pada “unen-unen” negara mawa tata, desamawa cara, artinya masing-masing tempat memiliki etika yang berbeda-beda. Etika inimenyangkut sikap, tingkah laku, etika bahasa, dan etika pertemuan. Etika sosialbiasanya berbentuk anjuran-anjuran dan larangan-larangan untuk bersikap dan berbuatsesuatu (Endraswara, 2010:138).Sosiolinguistik atau kajian bahasa dan budaya temasuk dalam tradisisosiokultural. Hal yang penting dalam tradisi ini adalah bahwa manusia menggunakanbahasa secara berbeda dalam kelompok budaya dan kelompok sosial yang berbeda.Bahasa, seperti yang digunakan sehari-hari, merupakan permainan bahasa karenamanusia mengikuti aturan-aturan dalam mengerjakan sesuatu melalui bahasa (Littlejohn& Foss, 2009:67). Sosiolinguistik interaksional terutama menyangkut bagaimana latarbelakang pengetahuan dan pengalaman dari para pelaku sosial berfungsi sebagai sumberdaya dalam interaksi tertentu (Littlejohn & Foss, 2009: 903).Penggunaan bahasa merupakan fenomena sosial yang melekat pada kehidupanmanusia. Dengan kata lain, ketika seseorang berkomunikasi secara lisan maupun tertulismaka dari situlah dapat diketahui siapakah dia sebenarnya, darimana dilahirkan dandibesarkan, termasuk asal-usul ras dan etnis, apakah seorang perempuan atau laki-laki,tingkat pendidikan, profesi, dan fungsi. Bahasa menunjukkan identitas seseorang(Liliweri, 2011:363). Konsep-konsep dasar sosiolinguistik diantaranya mengenai bahasaucapan komunitas, bahasa dan prestise, jaringan sosial, bahasa internal versus bahasaeksternal, bahasa dan perbedaan kelas, kode bahasa sosial, deviasi bahasa, bahasa dankelompok umur, bahasa dan perbedaan geografi, serta bahasa dan gender (2011:364).Menurut Hipotesis Sapir-Whorf, sebenarnya setiap bahasa menunjukkan suatudunia simbolik yang khas, yang melukiskan realitas pikiran, pengalaman batin, dankebutuhan pemakainya. Jadi bahasa yang berbeda sebenarnya mempengaruhipemakainya untuk berpikir, melihat lingkungan, dan alam semesta di sekitarnya dengancara yang berbeda pula (Littlejohn, 2009:449). Salah satu cara menggambarkan dimanaperbedaan bahasa melukiskan perbedaan budaya, Basil Bernstein, dalam serangkaiankajian sastra tentang sosiologi bahasa, menemukan perbedaan penting dalampenggunaan bahasa di antara kelas sosial. Teori Basil Bernstein tentang kode-kode rumitdan terbatas menunjukkan bagaimana susunan bahasa yang digunakan dalampembicaraan sehari-hari mencerminkan dan membentuk asumsi-asumsi dari sebuahkelompok sosial. Asumsi dasar dari teori ini adalah bahwa hubungan yang dijalin dalamsebuah kelompok sosial memengaruhi tindak tutur yang digunakan oleh kelompoktersebut. Terkadang, susunan tindak tutur yang digunakan oleh sebuah kelompokmembuat banyak hal yang berbeda menjadi relevan atau signifikan (Littlejohn, 2009:450).Kelas sosial dan pekerjaan adalah tanda-tanda linguistik yang paling pentingyang ditemukan dalam hampir setiap masyarakat. Kelas sosial menentukan pula kelasbahasa yang mereka gunakan (Liliweri, 2011:366). Dalam Teori Aturan dijelaskanmengenai peraturan-peraturan yang dimiliki suatu keluarga dapat membentuk polakomunikasi keluarga tersebut. Peran membimbing perilaku, hal ini sebagai bentukaturan komunikasi tentang bagaimana kita berkomunikasi dengan berbagai anggotakeluarga (Le Poire, 2006:79). Aturan-aturan ini dapat berupa eksplisit atau implisit.Aturan eksplisit dalam sebuah keluarga bersifat terbuka, tegas, jelas dan mudahdipahami. Aturan-aturan eksplisit dinyatakan dengan jelas dan dipahami secara baik.Sedangkan aturan implisit lebih halus dan dipahami dengan cara-cara tertentu. Peraturanjelas dan dapat dipahami dengan sendirinya (Le Poire, 2006:80).PENUTUPBahasa Jawa sebagai bahasa identitas keluarga Jawa tidak lagi digunakan secara intensif,terutama yang terjadi dalam komunikasi pada anak. Dengan adanya beragam bahasakomunikasi masa kini, orang tua lebih mementingkan untuk membiasakan kepada anakmengenai bahasa tersebut. Diantaranya, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yangbanyak digunakan oleh masyarakat luas dalam satu negara. Selain itu, orang tuaberusaha untuk mengajarkan bahasa asing yang dinilai lebih penting untuk dikuasai olehanak. Dalam keluarga Jawa ini, bahasa Arab dan bahasa Inggris dipilih orang tua untukdiajarkan kepada anak dan kemudian dibiasakan untuk diterapkan sebagai bahasakomunikasi sehari-hari.Orang tua dalam keluarga Jawa ini membebaskan terhadap bahasa komunikasiyang digunakan oleh anak-anak mereka. Orang tua tidak lagi mengharuskan anak untukmenguasai bahasa komunikasi tertentu, apalagi menggunakan bahasa Jawa secarasempuna. Bahasa yang digunakan oleh anak merupakan bahasa yang juga digunakanoleh masyarakat luas, sehingga anak tidak merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengansiapapun dan dalam situasi apapun. Anak tidak perlu memikirkan kepatutan bahasakomunikasi karena dapat digunakan kepada siapapun lawan bicara dan dalam situasiformal maupun non formal. Akibatnya, bahasa Jawa sebagai bahasa identitas budayaJawa tidak lagi diprioritaskan dalam penggunaannya oleh para generasi muda.Keluarga Jawa tidak lagi menerapkan bahasa Jawa secara sempurna. BahasaJawa terlalu sulit untuk dipelajari dengan berbagai tingkatan bahasanya. Orang tuamenganggap bahasa Indonesia lebih tepat digunakan dalam komunikasi sehari-hari.Selain itu, orang tua lebih mengutamakan mengajari anak dengan bahasa asing.Penggunaan bahasa Arab bertujuan agar anak lebih memahami agamanya serta bahasaInggris untuk lebih membuka wawasan dan memperluas ilmu pengetahuan. Denganbahasa Arab yang diterapkan oleh keluarga Jawa, maka keluarga lebih menjunjungtinggi nilai agama dibandingkan nilai budaya, sedangkan penerapan bahasa Inggris lebihmencerminkan keluarga modern yang mengikuti perkembangan zaman.Penelitian ini bukan hanya menggunakan pendekatan etnografi, melainkan jugamembutuhkan pendekatan fenomenologi dalam hal menjelaskan hasil penelitian. Hal inidilakukan untuk memperoleh data yang lebih utuh dalam pandangan peneliti terhadapobjek penelitian melalui pendekatan etnografi. Serta menganalisis hasil penelitian secaralebih sistematis melalui pendekatan fenomenologi. Etnografi adalah pendekatan dimanapeneliti berinteraksi langsung dengan masyarakat sosial penelitian, yang dapat dilakukanmelalui interaksi dan observasi langsung seperti wawancara formal (Moustakas,1994:27).Etnografi komunikasi adalah metode aplikasi etnografi sederhana dalam polakomunikasi sebuah kelompok. Etnografi komunikasi melihat pada pola komunikasi yangdigunakan oleh sebuah kelompok; mengartikan semua kegiatan komunikasi ini adauntuk kelompok; kapan dan di mana anggota kelompok menggunakan semua kegiatanini; bagaimana praktik komunikasi menciptakan sebuah komunitas; dan keragaman kodeyang digunakan oleh sebuah kelompok. Semua isu ini membutuhkan sebuah pendekatanfenomenologis, tetapi hasilnya sangat berorientasi sosial budaya, sehingga etnografikomunikasi mencampurkan kedua tradisi tersebut (Littlejohn & Foss, 2009: 460).Keluarga Jawa dapat menanamkan identitas budaya Jawa, salah satunyamengenai bahasa. Keluarga sebagai tempat penerapan awal pada anak untuk melakukankomunikasi secara verbal. Komunikasi verbal berkaitan erat dengan penggunaan bahasasebagai media komunikasi. Dengan adanya perkembangan zaman, penggunaan bahasadaerah yaitu bahasa Jawa sudah mengalami pergeseran dengan beralihnya keluargauntuk membiasakan berbahasa nasional dalam komunikasi sehari-hari. Bahasa Indonesiadigunakan sebagai bahasa komunikasi karena digunakan oleh masyarakat dalam wilayahsecara luas, dalam satu negara. Keluarga Jawa merasa lebih setara ketika menggunakanbahasa Indonesia dengan siapapun lawan bicara mereka. Pada akhirnya, perkembanganzaman membawa keragaman bahasa pada keluarga Jawa. Bukan hanya bahasa Jawasebagai bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, melainkan adapula penambahan bahasa asing sebagai bahasa komunikasi yang penting untuk dikuasai.DAFTAR PUSTAKAChariri, Anis . 2009 . Landasan Filsafat dan Metode Penelitian Kualitatif . WorkshopPenelitian Kuantitatif dan Kualitatif Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro .31 Juli-1 Agustus 2009Endraswara, Suwardi . 2010 . Falsafah Hidup Jawa . Yogyakarta : Penerbit CakrawalaGeertz, Hildred . 1983 . Keluarga Jawa . Jakarta : Grafiti PersLe Poire, Beth A . 2006 . Family Communication: Nurturing and Control in a ChangingWorld . California : Sage PublicationLiliweri, Alo . 2011 . Komunikasi Serba Ada Serba Makna . Jakarta : Kencana PrenadaMedia GroupLittlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss . 2009 . Teori Komunikasi . Jakarta : SalembaHumanikaMoustakas, Clark . 1994 . Phenomenological Research Method . California : SagePublicationsNusa Indah . 2012 . Semarang : Tim Penggerak PKK Prov Jawa Tengah Bank BPDJatengSamsuri . 1978 . Analisa Bahasa Memahami Bahasa Secara Ilmiah . Jakarta : ErlanggaTim Sosiologi . 2006 . Sosiologi 2: Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat . Jakarta :Yudhistirahttp://bahasa.kompasiana.com/2012/09/25/bahasa-indonesia-dan-bahasa-daerah-496 640.html, diakses 7 April 2013 pukul 10.40 WIB
STRATEGIC COMMUNICATION MUSEUM KERETA API AMBARAWA MANAJER KEUANGAN DAN AKUNTANSI Taufik Reza Ardianto; Djoko Setyabudi; M Bayu Widagdo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Museum is no longer become the main option by the public to visit. Museum regardedas a boring place when its compared with natural tourist attraction. Visitors could get alot of things at Ambarawa Train Museum, which is one of the three largest trainmuseum in the world. Because of their lack of knowledge, the number of visitors of thismuseum practically very small. For that, this activities carried out.Finance and Accounting Division is a field that manage the financial activities ofStrategic Communication Ambarawa Train Museum. This division is responsible fortransparency, clarity and neatness of the financial statements. Successful performance ofthis division is when the financial account balance from pre, during until post-event, thesmooth of cash flows and all the needs can be fulfilled.Some plans didn’t run properly due to some emerging issues. In the midst of theemergence of the issues, finance and accounting managers are able to develop atransparent and reliable (accountable) finance management. Activities that is not muchcontribute to the objectives of this series of activities, reduced or eliminated altogether.The problems such as delays and uncertainties can be solved by the finance andaccounting manager.Although this activity was in the absence or shortage of funds in the beginning, awhole activities can still be carried out. Until the end of this activities, finance andaccounting managers successfully carry out their duties. Evidenced by the balanced ofbalance sheet and all the needs can be met that make all the activities implemented. Thissuccess is the result of cooperation and coordination with all team members in orderwith all its limitations, and any problems encountered, the main purpose of thisactivities still achieved.
LAPORAN EVENT MARCOMM TOURING MERDEKA YZF R-25 (Jabatan Marketing Communication) Farisa Dian Utami; Djoko Setyabudi; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.813 KB)

Abstract

PT. Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), yang merupakan perusahaan otomotif asal Jepang meluncurkan produk terbaru yaitu YZFR-25. Sebagai salah satu wujud apresiasi YIMM terhadap konsumennya, YIMM membuat rangkaian event berupa touring dan launching yang bernama Touring Merdeka YZF R-25. Event ini melibatkan 20 konsumen indent online terpilih untuk touring dari Bali ke Solo dengan YZF R-25 secara gratis. Tujuan diselenggarakan rangkaian event tersebut adalah untuk menjaga konsistensi komunikasi dengan para konsumen dan memberi pengalaman langsung kepada masyarakat terhadap YZF R-25.Tujuan dari event ini tercapai karena rangkaian acara “Touring Merdeka YZF R-25” merupakan alat marketing yang efektif karena fokus pada pengalaman konsumen (experimental) dan mendorong terjadinya proses konsumsi secara emosional dan rasional.Di dalam rangkaian acara “Touring Merdeka YZF R-25” keterlibatan konsumen indent online yang merupakan riders selama touring sangat berpengaruh, karena kesan dan penilaian mereka terhadap acara dan YZF R-25 dapat mempengaruhi pandangan dari calon konsumen mengenai YZF R-25. Selain itu, adanya test ride di area launching YZF R-25 juga sangat efektif untuk mendorong calon konsumen untuk memutuskan pembelian. Tak sekedar mendapatkan pengetahuan produk dari sales promotion, tetapi melalui test ride calon konsumen juga dapat merasakan langsung performa dari YZF R-25 sehingga dapat meyakinkan calon konsumen untuk memutuskan pembelian.Kata kunci : event, marketing, promotion.
Co-Authors Achmad Habibie Taufiqqur Rahman Adi Nugroho Adinda Sekar Cinantya Aditia Nurul Huda Aditya Iman Hamidi Adityo Cahyo Aji Afif Hazly Hasibuan Agraha Dwita Sulistyajati Agus Naryoso Ahda Hanif Fauzi Ahmad Fauzi Ahmad Fikar Harakan Aike Ingget Pratiwi Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Ajeng Rengganis, Sekar Albert Rivai Sinaga Aldi Atwinda Jauhar Aldiansyah, Duvit Aldila Leksana Wati Alexandra Parahita Bening Kesumaputri Alif Ibrahim Alya Anwar, Rizqika Alyssa Jasmine Aurelia Rahmiqatrunnada Amrina Rida Hapsari Ananda Erfan Musthafa Andrea Oktavia, Helga Anggi Pramesthi Kusumarasri Anggia Anggraini Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annisa Aulia Mahari Annisa Kusumawardhani Annisya Winarni Putri Aprida Mulya, Resti Ardelia Fitriani, Neysa Ardini Koesfarmasiana, Ardini Arfika Pertiwi Putri Arif Nurochman Arinda Putri Oktaviani Aryatama Wibawa, Michael Asep Virgo Asri Aulia Rachmawati Asri Nugraheningtyas Astrid Damayanti Asty Setiandini Atika Nabila Atina Primaningtyas Aulia Nur Awang Asmoro Ayu Puspitasari, Ramadhiana Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Azzahira Putri Zakaria, Grandhis Badri Ilham Ramadhan Bagoes Praswanda, Yusrizal Banun Diyah Ardani Bareta Hendy Pamungkas Bayu Widagdo, Muhammad Bella Yunita Binarso Budiono Budiono Bisma Alief Charisma Rahma Dinasih Chintya Dyah Meidyasari Daffa Satriowibowo Daniel Dwi Listantyo Dara Pramitha Darda Putranto, Addakhil Deansa Putri Deni Arifiin Destima Nursylva Anggraningrum Devi Pranasningtias Indriani Dhira Widya Prasya, Dhira Dhiyah Puspita Sari Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Muhammad Distian Jobi Ridwan Diyan Hafdinovianti Ayu Kinasih Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dwi Mulya Ningsih Dwi Purbaningrum Eggie Nurmahabbi Eka Ardianto Farasila, Iraisa Farisa Dian Utami Fariz Dewanto Fatma Izzatussayidati Febri Ariyadi Febriana Handayani Febriandani, Anisa Fitriyani, Putri Frida Asih Pratiwi Galuh Perwitasari Ghaliyah Julya Almira Ghana Pratama, Albert Ghela Rakhma Islamey Ghita Kriska Dwi Ananda Gilang Wicaksono Hajar Azizatun Niswah Hamidah, Nadiya Handi Aditia Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hardiyanto, Muhamad Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrikus Setya Pradhana Henny Novita Rumono Hilda Maisyarah I Nyoman Winata I Nyoman Winata Ibrahim Muhammad Ramadhan Ichsan Wahyu Pratama Imam Muttaqin Indah Puspawardhani Indra Septia BW Infra Ranisetya Intan Mashitasari Ira Astri Rasika Jaya Pramono Adi Jimmy Fachrurrozy Jody Suryamar Yudha Joyo Nur Suyanto Gono Kanaya Az Zahrah Karunia Yusuf, Kevin Kembang Soca Paranggani Khairani, Indah Khairunnisya Sholikhah Kinanati Bunga Wulansari Krisna Adryanto Lintang Jati Rahina Lintang Ratri Rahmiaji LISTIANTO HINDRA PRAMONO Lizzatul Farhatiningsih Lucia Eka Pravitasari Luh Rani Wijayanti M Bayu Widagdo Maharani Easter Mahendra Zulkifli Manggala Hadi Prawira Marcia Julifar Ardianto Marsha Fildzaishma Marshanda Putri, Tyara Martia Mutiara Tasuki Marwah Gayatri Purnado Maya Lestari Melinda Wita Satryani Meriza Lestari Meta Detiana Putri Mohammad Akbar Rizal Hamidi Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yulianto Muchammad Bayu widagdo MUHAMMAD ABDUSSHOMAD Muhammad Bayu widagdo Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Fadhel Raditya Muhammad Rofiuddin Muhamy Akbar Iedani Muliawati, Ditha N S Ulfa Naafisa Maulida Pratama Nabila Rezki, Anisa Nadia Dwi Agustina Nadia Hutaminingtyas Nanik Sudaryningtyas, Nanik Naura Kamila Prasetyanti Nicho Putera Gustantyo Nidya Aldila Nikita Putri Mahardhika Nikolas Prima Ginting Ninda Nadya Nur Akbar Noni Meisavitri Novi Rosmaningrum NS Ulfa Nungki Dwi Widyastuti Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nur Shafira, Hana Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurist Surrayya Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Avita Sari Nurwijayanti Otto Fauzie Haloho Pipin F.P. Lestari Prabowo Nurwidagdyo Pranamya Dewati Prescilla Roesalya Primada Qurrota Ayun Pungkas Dwitanto Purwoko, Agus R. Sigit Pandhu Kusumawardana Radika Oktavianti, Dina Raihan Triaffandra Ramadhan, Maulana Ramadhinda, Azzahra Randyani Rarasati Raymond Soelistiono Filemon Raynaldo Faulana Pamungkas Reichan Anantyo, Muhamad Resty Widyanty Revana Meylani Rhola Bachtiar Raharjo Rifki Nur Pratiwi Rifqah Nailah Rijalul Vikry Rizka Amalia Rizka Arsianti Rizky Amalya Hadiningtyas Rizqi Ganis Ashari Rohedy Ayucandra Rohmat Pambudi Roli Harni Purba, Juita Rony Kristanto Setiawan Rosita Kemala Sari Rosyada Setijawan, Amrina Rumi Aulia Rahmanisa S Rouli Manalu Safira Nurin Aghnia Santa Cicilia Sinabariba Septian Aldo Pradita Septiana Hadiwinoto, Jessica Septiana Wulandari Suparyo Setyabudi, Gunawan Shafira Inas Nurina Shahnaz Natasha Anya Sigit Haryadi Sofi Kumala Fatma Sofianisa Rahmawati Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tan Faizal Rachman Tasya Nadia Taufik Indra Ramadhan Taufik Reza Ardianto Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Teresia Kinta Wuryandini Theresia Dita Anggraini Thriyani Rahmania Titan Armaya Tiur Agata, Elisa Tjen Jocelyn Ivana Tri Muriati Harahap, Anggi Tri Utami Triangga Ardiyanto Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Uci Andriani Veriska, Veriska Vicho Whisnurangga Vinny Avilla Barus Wahyu Aji Hernawan, Dhimas Wahyu Kuncoro Aji, Danar Wahyu Nur R, Efrilia Wahyu Widiyaningrum Widya Andhika Aji Wina Natasya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yanu Angga Andaru, Yanu Yanuar Luqman Yoga Yuniadi Yohanes Rico Ananda Putra, Yohanes Yuan Stephanie Yuliantika Hapsari Yunita Indriyaswari Yusriana, Amida YUSUF AKBAR, MUHAMMAD Zainul Asngadah Fatmawati Zelda Elsa Khabibah Zulfikar Mufti