Claim Missing Document
Check
Articles

Understanding the Tendency of Media Users to Consume Fake News Rouli Manalu; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi
Jurnal ILMU KOMUNIKASI Vol. 15 No. 1 (2018)
Publisher : FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.907 KB) | DOI: 10.24002/jik.v15i1.1322

Abstract

This research investigates the ways in which different groups of media users have different tendencies in consuming and believing fake news. These tendencies are examined through: (1) analysis of association of age and income level with the pattern of media consumption; (2) analysis of association of age and income level with types of media that is perceived as the most trustworthy. Using systematic random sampling, this study examines 400 households in Semarang, Central Java, with level of confidence of 95%. 
PERSEPSI TENTANG RISIKO BREAKTHROUGH INFECTION COVID-19 DALAM LINGKUNGAN HEALTH RISK MESSAGES Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi
KINESIK Vol. 8 No. 3 (2021): December
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ejk.v8i3.234

Abstract

The Covid-19 vaccination rate continues to increase, it is important to pay attention to the possibility of a breakthrough infection, which is a viral infection that occurs after a person has been vaccinated. This is a case that is expected to occur in some of those who have received the vaccine, as no vaccine for any disease is 100 percent effective. During the time of living in this period of the Covid-19 pandemic, people are always exposed to information about the dangers or threats of exposure to the virus, known as health risk messages. This study was conducted to explain how a number of individual characteristics in the health risk message information environment correlate to their attitudes towards the risk of exposing Covid-19. This online survey of people who have received the Covid-19 vaccine found that several variables related to lifestyle and disease history were correlated to perceptions of the risk of exposure to Covid-19. It also confirms that there is a positive correlation between awareness of the amount of risk an individual has and perceptions of the risk of exposing Covid-19.
Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dan Motif Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dengan Perilaku Berpakaian Remaja Deansa Putri; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.594 KB)

Abstract

PENDAHULUANPersaingan media televisi saat ini semakin gencar dan jumlah stasiun televisi semakinbertambah seiring dengan perkembangan jaman. Stasiun televisi di tanah air bermunculanmulai dari hanya satu stasiun televisi, yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI) sampaimuncul stasiun televisi baru yang mengudara secara nasional dan berkantor di IbukotaJakarta. Stasiun televisi tersebut antara lain Rajawali Citra Televisi (RCTI), Surya CitraTelevisi (SCTV), Media Nusantara Citra (MNC TV), Andalas Televisi (ANTV), Indosiar,Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV), TRANS 7, METRO TV, TV ONE, danGLOBAL TV.Belakangan ini, musik, drama, serta budaya Korea sedang merebak di beberapanegara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, musik maupun dramaseri Korea menjadi sesuatu yang sangat digemari di Indonesia saat ini. Bahkan sakingantusiasnya banyak yang mencari dan mempelajari hal-hal yang berbau Korea. Fenomenamenyebarluasnya drama, musik, serta budaya Korea secara global ini disebut Koreanwave atau dalam bahasa Korea disebut Hallyu.Fenomena Hallyu melalui drama seri Korea sedang menjadi tren di stasiun televisiswasta Indonesia. Beberapa stasiun televisi swasta tanah air kini tengah gencar bahkanbersaing menayangkan drama seri Korea. Drama seri Korea datang membawa tontonanringan dengan berbagai konflik di dalamnya, yang dibungkus sedemikian rupa sehinggamenarik untuk ditonton. Tentu drama Korea ini segera digandrungi masyarakat yangmemang menginginkan sesuatu yang baru. Dan memang kenyataannya, masyarakatsangat antusias menonton drama seri Korea. Selain itu episode-nya juga tidak sepanjangsinetron Indonesia, hanya sekitar 16 hingga 25 episode saja. Masyarakat yang tengahjenuh dengan tayangan sinetron-sinetron Indonesia langsung menyambut baik masuknyadrama seri Korea di Indonesia. Keberhasilan drama seri Korea mengambil hatimasyarakat Indonesia terbukti dengan tingginya minat penonton terhadap drama seriKorea yang pertama kali ditayangkan saat itu, yaitu Endless love. Berdasarkan survey ACNielsen Indonesia, serial Endless Love ratingnya mencapai 10 (ditonton sekitar 2,8 jutapemirsa di lima kota besar), mendekati Meteor Garden dengan rating 11 (sekitar 3,08 jutapemirsa). (http://www.slideshare.net/AHD/fenomena-ratingshare-televisi).Dalam menggunakan media massa, manusia didorong oleh beraneka ragam motif.Motif merupakan suatu tenaga yang terdapat dalam diri manusia yang menimbulkan,mengarahkan, dan mengorganisasi tingkah laku (perilaku). Motif yang mendorongkonsumsi media pada setiap orang berbeda. Dorongan kebutuhan yang berbeda akanmembuat orang memiliki motif yang berbeda pula dalam menggunakan televisi.(Rakhmat, 2006:216). Motif yang berbeda tersebut akan menimbulkan efek yangberlainan pada setiap orang.Drama seri Korea yang masuk ke Indonesia tidak hanya sekedar tontonan di waktuistirahat, namun drama Korea juga telah memberikan pengaruh di Indonesia. Begitubooming-nya drama seri Korea di tanah air, tidak heran jika pada saat ini banyak remajayang mulai terpengaruh dengan budaya-budaya Korea, terutama dari segi mode ataufashion. Dalam drama seri Korea sering menonjolkan mode-mode yang sedang populer diKorea. Penampilan para artis dalam drama seri Korea selalu didukung dengan gayaberbusana yang “Korea banget”, mulai dari model rambut, warna rambut, caraberpakaian, tas, sepatu, aksesoris yang dikenakan, dan masih banyak lagi. Mode alaKorea kerap disebut dengan Korean Style.Pada akhirnya masalah mode merupakan hal yang menarik untuk dibicarakankhususnya di kalangan remaja yang memiliki kedinamisan dalam mengikutiperkembangan berbagai mode yang sedang menjadi trend karena ingin tampil menarik,menambah percaya diri, dapat diterima dilingkungannya, dan supaya tidak dikatakanketinggalan jaman. Intensitas menonton drama seri Korea tersebut akan tetap berlangsungselama ada motif yang mendorongnya dan remaja mempunyai harapan akan memperolehsuatu keuntungan dari kegiatan menonton acara tersebut. Motif remaja menontontayangan drama seri Korea bisa dilihat dari motif untuk mendapatkan informasi, identitaspribadi, integrasi dan interaksi sosial, serta hiburan.Melalui televisi, remaja terinspirasi oleh perilaku idola mereka. Tahapan ini dimulaidari melihat gaya berpakaian atau tingkah laku yang diperbuat oleh seorang tokoh ditelevisi, kemudian para remaja berusaha mengadaptasi gaya berpakaian para artisidolanya dengan harapan penampilannya menjadi seperti penampilan para artis dalamtayangan drama seri Korea di televisi. Berdasarkan hal tersebut, lantas apakah adahubungan antara intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi dan motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja ?ISIMunculnya media televisi dalam kehidupan manusia memang menghadirkan suatuperadaban, khususnya dalam proses komunikasi dan informasi yang bersifat massa.Proses komunikasi massa tersebut dikatakan efektif apabila menghasilkan pengaruhkepada khalayaknya. Pengertian pengaruh itu sendiri adalah perbedaan antara apa yangdipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sesudah menerima pesan. Bersamaandengan jalannya proses penyampaian isi pesan media massa kepada pemirsa, maka isipesan akan diinterpretasikan secara berbeda–beda oleh pemirsa, serta efek yangditimbulkan juga beraneka ragam. (Bungin, 2008:72).Menurut Powerfull Effect Theory, dimana didasarkan pada asumsi Walter Lippman(dalam Vivian, 2008:465), bahwa gambaran realita dibentuk dengan sangat kuat olehmedia massa. Powerfull Effect Theory juga menjelaskan tentang media massamempunyai pengaruh langsung dan mendalam terhadap seseorang. Pada konsep HaroldLasswell yang terkenal “who says what in which channel to whom with what effect,”pada titik yang ekstrem teori ini mengasumsikan bahwa media dapat menyuntikkaninformasi, ide, dan bahkan propaganda kepada publik. Water Lippman mengatakanbahwa “gambaran” tentang dunia di benak kita yang tidak kita alami secara personaldibentuk oleh media massa, sehingga khalayak pun akan menerima pemuasan yangberagam dari media. Kepuasan yang berbeda-beda, juga akan menghasilkan efek yangberbeda pula.Dengan demikian, kegiatan menonton televisi dapat memberikan pengaruh tetapi haltersebut tergantung dengan tingkat intensitasnya. Diungkapkan oleh Burhan Bungin(2001:125-126), bahwa intensitas atau frekuensi remaja dalam menonton televisi dapatmempengaruhi besarnya pengaruh televisi terhadap perilaku remaja. Semakin tinggiintensitas menonton televisi maka semakin cepat dan besar pula pengaruhnya terhadapperilaku remaja. Begitu pula dengan keadaan sebaliknya, semakin rendah intensitasmenonton televisi maka semakin rendah pula pengaruhnya terhadap perilaku remajatersebut.Dalam kaitannya dengan menonton televisi, para remaja memiliki motif yangberagam. Motif-motif tersebut adalah motif untuk mendapatkan informasi, identitaspribadi, integritas dan interaksi sosial, serta hiburan. Motif merupakan salah satuindikator yang dapat mempengaruhi perilaku individu dalam menonton televisi.Woodhworth (dalam Petri, 135:1981) mengungkapkan bahwa perilaku terjadi karenaadanya motif atau dorongan yang mengarahkan individu untuk bertindak sesuai dengankepentingan atau tujuan yang ingin dicapai. Karena tanpa dorongan tersebut tidak akanada suatu kekuatan yang mengarahkan individu pada suatu mekanisme timbulnyaperilaku.Pandangan lain dikemukakan oleh Hull (dalam As’ad, 140:1995) yang menegaskanbahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh motif atau dorongan oleh kepentinganmengadakan pemenuhan atau pemuasan terhadap kebutuhan yang ada pada diri individu.Lebih lanjut dijelaskan bahwa perilaku muncul tidak semata-mata karena dorongan yangbermula dari kebutuhan individu saja, tetapi juga adanya faktor belajar.Hal ini dapat diperkuat dengan penjelasan dari Teori Pembelajaran Sosial.Berdasarkan hasil penelitian Albert Bandura, teori ini menjelaskan bahwa mereka meniruapa yang mereka lihat di televisi, melalui suatu proses observational learning(pembelajaran hasil pengamatan) atas tingkah laku yang ditampilkan oleh individuindividulain yang menjadi model. Titik mula dari proses belajar sosial adalah peristiwayang bisa diamati, baik langsung maupun tidak langsung oleh seseorang. Peristiwatersebut mungkin terjadi pada kegiatan orang sehari–hari, dapat pula disajikan secaralangsung oleh televisi, buku, film dan media massa lain. (Liliweri, 1991:174).Adapun yang penting dari teori Bandura, bahwa proses belajar mengikuti sesuatudimulai dari tahap; (1) proses memperhatikan; (2) proses mengingatkan kembali; (3)proses gerakan untuk menciptakan kembali; dan (4) proses mengarahkan gerakan sesuaidengan dorongan. (Liliweri, 1991:179). Jelasnya bahwa remaja masih suka mencaritokoh atau model untuk dijadikan panutan dalam berperilaku maupun berpenampilan,maka seringkali remaja akan memperhatikan dan mengingat perilaku model yangdilihatnya di televisi. Sering adegan-adegan dalam drama yang dilihat, atau perilakuyang digambarkan dapat menarik perhatian, sehingga dari ucapan, gerakan, bahkan jugapakaian yang dikenakan oleh sang tokoh akan diamatinya dan kemudian dapat sajamereka gunakan pada penampilan diri mereka.Monks (1969:109) menyatakan bahwa suatu tindakan atau tingkah laku dapatdipelajari melalui melihat saja. Melalui televisi remaja dapat melihat peristiwa, perilaku,dan segala sesuatu yang baru yang pada akhirnya diikuti oleh khalayak dan menjadi trendi kalangan masyarakat. Berkaitan dengan penelitian ini maka perilaku yang munculadalah gaya berpakaian yang dilakukan oleh remaja. Remaja berpenampilan mengikutitrend yang ada, mulai dari model rambut, pakaian, tas, sepatu, dan aksesoris lainnya.Jelasnya, bahwa remaja akan terinspirasi dengan apa yang dilihat dan ditawarkan olehmedia, dalam hal ini termasuk bagaimana perilaku berpakaian remaja.Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi (X1) dengan perilaku berpakaian remaja (Y), maka dilakukan pengujianstatistik melalui analisis korelasi Rank Kendall. Berdasarkan hasil pengujian makahipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara intensitasmenonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remajadapat diterima. Hal ini menjelaskan tingginya intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.Dengan menggabungkan unsur hiburan dan informasi drama seri Korea yangditayangkan di televisi secara tidak langsung telah menyajikan berbagai referensimengenai mode ala Korea yang sedang menjadi kecenderungan atau trend. Respondenyang menonton tayangan drama seri Korea dengan intensitas menonton yang tinggitermasuk dalam kelompok heavy viewers dimana mereka melihat gagasan mengenaimode tersebut sebagai realitas, sehingga akan lebih mudah terpengaruh dan berperilakuseperti apa yang ditampilkan dalam drama seri tersebut.Sementara responden yang menonton drama seri Korea dengan intensitas menontonyang rendah termasuk dalam kelompok light viewers, dimana mereka hanya memandangdrama seri Korea sebagai sebuah tayangan, tanpa melihatnya sebagai realitas, sehinggapengaruh yang diterima pada kelompok ini tidak sebesar kelompok heavy viewers.Perbedaan diantara keduanya terdapat dalam konsep mainstreaming (mengikuti arus)pada kelompok heavy viewers.Hubungan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi (X2) denganperilaku berpakaian remaja (Y) dapat diketahui dengan melakukan pengujian statistikdengan menggunakan uji formula Chi Square Test. Berdasarkan hasil pengujian makahipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja dapatditerima. Hal ini menjelaskan ragam motif menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.Responden yang tertarik dengan mode ala Korea dapat mengikuti perkembanganmode tersebut melalui tayangan drama seri Korea di televisi. Para remaja memilikikecenderungan ingin mengikuti terus perkembangan mode yang sedang menjadi trendagar dapat tampil stylish dan modis. Motif identitas pribadi dalam menonton tayangandrama seri Korea di televisi dapat mengarahkan remaja untuk berperilaku modis,sehingga ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi akanmempengaruhi perilaku berpakaian modis pada remaja.Hubungan intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi (X1) dan motifmenonton tayangan drama seri Korea (X2) di televisi dengan perilaku berpakaian remaja(Y) dapat diketahui dengan melakukan pengujian statistik melalui analisis korelasikonkordansi Rank Kendall.Setelah dilakukan perhitungan diperoleh hasil koefisien korelasi konkordansi sebesar0,194 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 kurang dari 0,01 maka hubungan dinyatakansangat signifikan. Serta hasil uji dengan Chi Square Test didapatkan nilai X2 hitungsebesar 19,387 (dengan df = 2), dan nilai signifikansi sebesar 0,000 kurang dari 0,01.Dengan demikian dapat dinyatakan Ha diterima dan Ho ditolak. Maka hasil pengujiantersebut menunjukkan bahwa variabel bebas (intensitas menonton tayangan drama seriKorea dan motif menonton tayangan drama seri Korea) secara bersama-sama memilikihubungan yang sangat signifikan dengan variabel terikat (perilaku berpakaian remaja).Hal ini berarti bahwa baik berdiri sendiri maupun bersama-sama, kedua variabelbebas (intensitas menonton tayangan drama seri Korea dan motif menonton tayangandrama seri Korea) mempunyai hubungan dengan variabel terikat (perilaku berpakaianremaja), sehingga tingginya intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisidan ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi akan mempengaruhiperilaku berpakaian modis pada remaja.PENUTUPPenelitian tentang hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi dan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi DENGANperilaku berpakaian pada remaja, dilakukan terhadap para remaja putri di Semarangyang berusia 17-20 tahun yang pernah menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi selama tiga bulan terakhir ini.Metode penarikan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara nonrandom sampling, dengan pertimbangan jumlah populasi dalam penelitian ini tidakdapat diketahui secara pasti. Penelitian ini menggunakan alat pengumpul data berupakuesioner. Teknik pengumpulan data berupa penyebaran Angket dan dengan bantuanpanduan observasi berupa checklist (daftar cocok) yang digunakan untuk mengamativariabel perilaku berpakaian pada remaja.Alat yang digunakan untuk menganalisa data kuantitatif yang telah didapatadalah dengan statistika, untuk kemudian dideskripsikan menggunakan corelasi untukmenguji hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisidan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaianpada remaja. Adapun kesimpulan dan saran yang dapat penulis berikan adalah sebagaiberikut:5.1. Kesimpulan1. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel intensitas menontontayangan drama seri Korea dengan variabel perilaku berpakaian remaja. Halini berdasarkan nilai koefisiensi korelasi sebesar 0,540 dan nilai signifikansisebesar 0,000. Dengan demikian, tingginya intensitas menonton tayangandrama seri Korea di televisi mendorong remaja melihat gagasan yang disajikandalam tayangan tersebut sebagai realitas dan berperilaku seperti apa yangditampilkan dalam tayangan tersebut. Semakin tinggi intensitas menontontayangan drama seri Korea di televisi maka akan semakin modis pula perilakuberpakaian pada remaja.2. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel motif menontontayangan drama seri Korea di televisi dengan variabel perilaku berpakaianremaja. Hal ini didapatkan dari hasil X2 hitung sebesar 31,222 dengan df = 6,dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Serta hasil uji korelasi ContingencyCoefficient (C) sebesar 0,620 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal tersebutmenjelaskan ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di televisiakan diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.3. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel intensitas menontontayangan drama seri Korea di televisi dan variabel motif menonton tayangandrama seri Korea di televisi dengan variabel perilaku berpakaian remaja.Berdasarkan hasil uji korelasi diperoleh informasi nilai koefisiensi sebesar0,194 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Serta didapatkan nilai X2 hitungsebesar 19,387 (dengan df = 2), dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal iniberarti bahwa baik berdiri sendiri maupun bersama-sama, kedua variabelbebas (intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi dan motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi) mempunyai hubungandengan variabel terikat (perilaku berpakaian remaja), sehingga tingginyaintensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi dan ragam motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi akan mempengaruhi perilakuberpakaian modis pada remaja.4. Pada penelitian ini penonton tayangan drama seri Korea di televisi denganpersentase terbanyak adalah remaja putri yang berada pada kisaran usia 20tahun sebanyak 36%, sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan persentaseterbanyak adalah para remaja putri yang duduk di bangku perkuliahan atauperguruan tinggi sebanyak 80%.5.2. Saran1. Berdasarkan kesimpulan di atas maka tayangan drama seri Korea di televisisebetulnya mampu membantu remaja untuk memberikan inspirasi dalampencarian model bagi remaja, yang berkaitan dengan gaya berpakaian ataupenampilan melalui “sosok” artis yang menjadi pemeran dalam tayangandrama seri Korea di televisi. Namun audiens juga diharapkan mampumemfilter dengan bijak informasi yang terkandung dalam tayangan tersebutdan bersikap selektif terhadap tayangan – tayangan yang mereka konsumsi,agar dapat membedakan antara realitas media dengan realitas sosial, sehinggatidak serta merta mengikuti segala sesuatu yang ada dalam tayangan tersebut.2. Pada penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan perilaku berpakaian remajahendaknya dapat dilakukan dengan melihat faktor – faktor lain yang bisamenjadi penyebab terjadinya perilaku tersebut, di luar intensitas menonton danmotif menonton, misalnya tingkat pendidikan, status sosial, atau interaksi peergroup. Disamping itu, penelitian juga dapat dilakukan dengan menggunakanteknik pengambilan sampel yang berbeda pula.DAFTAR PUSTAKABUKUArdianto, Elvinaro dan Erdinaya, Liluati Komala. 2004. Komunikasi Massa SuatuPengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.As’ad, M. 1989. Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: Dep.Dik.Bud Direktoral JendralPendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Dan Lembaga Tenaga.Bungin, Burhan. 2006. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Kencana PrenadaMedia Group.Bungin, Burhan. 2001. Erotika Media Massa. Jakarta: Kencana Prenada MediaGroup.Barnard, Malcomm. 2007. Fashion dan Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Cangara, Hafied. 1998. Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta. Raja grafindo persada.Effendi, Onong. U. 1993. TV Siaran Teori dan Praktek. Bandung: Mandar Maju.Effendy, Onong. U. 2003. Ilmu komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT.RemajaRosdakarya.Gerungan ,W.A. 1991. Psikologi Sosial. Bandung: Eresco.Kaunang, Claudia. 2010. Keliling Korea dalam 9 Hari. Yogyakarta: B – Fierst.Khadijah, Nyanyu. 2006. Psikologi Pendidikan. Palembang: Grafika Telindo Press.Kuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa Sebuah Analisis Media Televisi.Jakarta: Rhineka Cipta.Liliweri, Alo. 1997. Memahami Peran Komunikasi Massa Dalam Masyarakat.Bandung: Citra Aditya Bakti.McQuail, Dennis. 1996. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Jakarta:Erlangga.Monks, F. J, dkk. 1982. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gajah MadaUniversity Press.Morissan. 2008. Manajemen Media Penyiaran. Jakarta: Kencana Prenada MediaGroup.Nuruddin. 2000. Sistem Komunikasi Indonesia. Malang: BIGRAFF publishing.Petri, H.L. 1981. Motivation Theory and Research. Belmont, California: WadsworthPublishing Company.Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: RemajaRosdakarya.Rakhmat, Jalaluddin. 2006. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Rakhmawati, Dede. 2011. Jago Berbahasa Korea dalam 1 Hari. Jakarta: GudangIlmu.Sugiyono. 2002. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Alfabeta.Singarimbun Masri dan Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian dan Survey. Jakarta:LP3ES.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Prenada Media:Jakarta.Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: PT Grasindo.Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Grasindo.INTERNEThttp://www.slideshare.net/AHD/fenomena-ratingshare-televisi.www.geocities.com/dramakorean.http://www.facebook.com/pages/PENYUKA-DRAMA-KOREA/.http://tvguide.co.id/mobile-new//home.http://www.facebook.com/koreanbutik.shopiing/,http://www.facebook.com/ballegirls.shop.http://www.facebook.com/tomoya.koreanbutik.http://id.wikipedia.org/wiki/Drama_Korea.id.wikipedia.org/wiki/Hallyu.www.koreanstylefashion.com/.http://www.saranghaeyo.biz.www.saranghaeyo.biz › fashion › lifestyle.ABSTRAKJudul : Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi danMotif Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dengan PerilakuBerpakaian RemajaNama : Deansa PutriNIM : D2C009110Mode ala Korea yang masuk dan berkembang di Indonesia melalui tayangandrama seri Korea pada tahun 2002, banyak digemari dan diterapkan oleh remaja. Pararemaja cenderung ingin selalu mengikuti perkembangan mode yang sedang populeragar tampil modis. Hal ini dilakukan karena para remaja ingin seperti apa yangditampilkan oleh tokoh yang dilihatnya, yaitu berupa pakaian yang dikenakan olehseorang model, serta aksesoris-aksesoris lainnya yang dapat memperbaiki penampilandirinya. Perilaku berpakaian modis pada remaja tersebut disinyalir merupakan akibatdari beberapa faktor, antara lain intensitas menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi dan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas menontontayangan drama seri Korea di televisi dan motif menonton tayangan drama seri Koreadi televisi dengan perilaku berpakaian remaja. Peneliti menggunakan Teori PowerfullEffect dan didukung oleh Teori Pembelajaran Sosial dari Bandura. Responden padapenelitian ini berasal dari kalangan remaja putri di Kota Semarang yang berumur 17hingga 20 tahun. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 50 orang dimanapengambilan sampel dilakukan dengan metoden non random, serta accidental sampeluntuk teknik pengambilan sampel.Untuk menguji hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja dan hubungan antara motifmenonton tayangan drama seri Korea dengan perilaku berpakaian remaja, makadigunakan uji analisis Koefisiensi Korelasi Rank Kendall, dan uji formula denganChi-Square, sedangkan untuk menguji korelasi antara dua variabel bebas dengan satuvariabel terikat, digunakan uji analisis Korelasi Konkordasi Rank Kendall (Kendall’sW Test).Berdasarkan hasil penelitian, maka tingginya intensitas menonton tayangandrama seri Korea di televisi akan diikuti pula dengan perilaku berpakaian yang modispada remaja. Hal ini dikarenakan responden dengan intensitas menonton yang tinggiakan lebih mudah terpengaruh dan berperilaku seperti apa yang ditampilkan dalamtayangan tersebut. Selain itu, ragam motif menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi akan diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.Motif tersebut dapat mengarahkan remaja untuk mengetahui penampilan atau modeala Korea yang sedang menjadi kecenderungan (trend), mendapat kepuasan denganmelihat penampilan bintang idolanya, serta menemukan sosok model yang bisadijadikan inspirasi dan pedoman dalam bergaya seperti penampilan para artis dalamtayangan drama seri Korea di televisi.Kata kunci: Drama Seri Korea, Perilaku berpakaian, Korelasi.ABSTRACTTitle: The Relationship of The Intensity of Watching Korean Drama Series onTelevision and Motives Watching Korean Drama Series on Television withTeens Dressed Behavior.Name: Deansa PutriNIM: D2C009110Korean fashion style in and growing in Indonesia through Korean dramaseries in 2002, much-loved and adopted by teenagers. The teens tend to want toalways continue to follow the development of fashion that is popular in order to lookfashionable and stylish. This is done because the teen wanted to like what is shown bythe figures he saw, in the form of clothing worn by a model, as well as otheraccessories that can improve the appearance of her day-to-day. Fashionable dress onteen behavior is alleged to be the result of several factors, including the intensity ofwatching a Korean drama series on television and motives watching Korean dramaseries on television.This study aims to determine the relationship of the intensity of watching aKorean drama series on television and motives watching Korean drama series ontelevision with the behavior of teenagers dressed. Researchers used a Powerful EffectTheory and supported by Bandura's Social Learning Theory. Respondents in thisstudy come from the young women in the city of Semarang ever watch a Koreandrama series over the past three months and aged 17 to 20 years. The study samplesize of 50 people where the sampling is done with non-random methode, withconsideration has’t complete information on population size, as well as samples foraccidental sampling technique.To examine the relationship between the variable of intensity of watching aKorean drama series on television with a teenager dressed behavioral variables andrelationships between variables of motives watching Korean drama series with thevariable of behavior of teenagers dressed, then used the test Kendall RankCorrelation Coefficient analysis, and testing with Chi-Square formula, while for thetest and explain the correlation between the two independent variables with thedependent variable, used test correlation analysis Konkordasi Rank Kendall(Kendall's W Test).Based on the results of the study, the high intensity of watching a Koreandrama series on television will be followed by a fashionable dressing behavior inadolescents. This is because respondents with a high intensity watch will be easilydistracted and behave like what is shown in the display. In addition, the variety ofmotives watching Korean drama series on television will be followed by a fashionabledressed behavior among adolescents. The motive may lead adolescents to determinethe appearance or Korean-style fashion is a trend, the satisfaction and pleasure to seehis idol star appearance, as well as to discover the figure of a model that could beused as inspiration and guidance in the style of artists like appearance in the dramashow Korea in the television series.Keywords: Korean Drama Series, Behavior of dressed, Correlation.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh terpaan iklan promosi penjualan melalui media sosial (Facebook, Twitter, dan Instagram) dan Reference Group terhadap minat belanja secara online. Kinanati Bunga Wulansari; Tandiyo Pradekso; Djoko Setiabudi; Dwi Purbaningrum
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.127 KB)

Abstract

Technology Acceptance Model Theory dan Darley, Blankson dan Luethge’s Model digunakan untuk menjelaskan pengaruh terpaan iklan promosi penjualan melalui media sosial (Facebook, Twitter, dan Instagram) dan Reference Group terhadap minat belanja secara online. Populasi dalam penelitian ini adalah wanita usia 18 hingga 26 tahun yang memiliki akun media sosial Facebook, Twitter, dan Instagram sebanyak 50 orang, dengan teknik purposive sampling.Analisis Regresi Linear Berganda digunakan untuk melakukan uji hipotesis. Uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi variabel terpaan iklan promosi penjualan melalui Facebook adalah 0.02, nilai signifikansi terpaan iklan promosi penjualan melalui Twitter adalah 0.08, nilai signifikansi terpaan iklan promosi penjualan melalui Instagram adalah 0.022, dan nilai signifikansi reference group adalah 0.019 atau semua nilai signifikansi lebih kecil dari α (0.05), sehingga terpaan iklan promosi penjualan melalui Facebook, Twitter, dan Instagram dan reference group mempengaruhi minat belanja secara online.Iklan promosi penjualan melalui Instagram adalah iklan melalui media sosial yang paling berpengaruh terhadap minat belanja secara online. Pengaruh iklan promosi melalui Instagram diketahui sebesar 28.6%.
PENGARUH PERINGATAN KESEHATAN BERGAMBAR PADA KEMASAN ROKOK TERHADAP MOTIVASI PEROKOK UNTUK BERHENTI MEROKOK Septian Aldo Pradita; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.789 KB)

Abstract

Kampanye anti-rokok dengan menggunakan peringatan kesehatan bergambar terbukti memiliki dampak positif yang besar. Penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa peringatan kesehatan bergambar lebih diperhatikan daripada hanya teks/ tertulis, lebih efektif untuk pendidikan bagi perokok tentang resiko kesehatan akibat merokok dan untuk meningkatkan pengetahuan perokok tentang resiko kesehatan akibat merokok serta adanya peningkatan motivasi untuk berhenti merokok. Di Indonesia, menurut PP No 109/2012 dan Permenkes No 28/2013, mulai pertengahan tahun 2014 peringatan kesehatan pada kemasan rokok di Indonesia harus disertai dengan gambar dan tulisan yang memiliki pesan tunggal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh peringatan kesehatan bergambar dalam kampanye anti-rokok terhadap motivasi perokok untuk berhenti merokok. Teori yang digunakan adalah teori EPPM (Extended Parallel Process Model) dari Kim Witte. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe penelitian Eksperimen dengan desain One Group Pretest Posttest. Sedangkan teknik pengambilan sampelnya adalah Non Random dengan total sampel sebanyak 30 responden. Alat yang digunakan untuk analisis data adalah uji statistik Sign Test (Uji Tanda).            Hasil penelitian pada pengujian hipotesis menunjukkan adanya pengaruh positif peringatan kesehatan bergambar pada kemasan rokok terhadap motivasi perokok untuk berhenti merokok. Hal ini ditunjukkan pada angka signifikansi hasil pengujian hipotesis sebesar 0,028. Indikator motivasi perokok untuk berhenti merokok yang mengalami perubahan positif adalah; (1) Kebutuhan dari dalam diri perokok yang mendorong untuk berhenti merokok, (2) Pengalaman selama merokok yang mendorong untuk berhenti merokok, (3) Pertimbangan pemikiran terhadap informasi tentang bahaya merokok pada kemasan rokok, (4) Keyakinan bahwa merokok dapat menyebabkan penyakit, (5) Keyakinan bahwa dirinya dan perokok lain dapat terkena penyakit akibat merokok, (6) Keyakinan bahwa dirinya dapat terhindar dari penyakit akibat merokok jika tidak merokok, (7) Keyakinan bahwa seseorang dapat terhindar dari penyakit akibat merokok jika ia tidak berada di dekat orang yang sedang merokok, dan (8) Keyakinan bahwa dirinya dapat dengan mudah berhenti merokok agar terhindar dari penyakit. Sedangkan indikator motivasi perokok untuk berhenti merokok yang mengalami perubahan negatif adalah; informasi tentang bahaya merokok dianggap penting bagi perokok.Kata Kunci : Kampanye Anti-Rokok, Peringatan Kesehatan Bergambar, Motivasi Berhenti Merokok
LAPORAN KEGIATAN LAUNCHING PRODUK PAZCAL CLOUD PT. ERUDEYE INDONESIA Chintya Dyah Meidyasari; Tandiyo Pradekso; Nurrist Surayya Ulfa; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.733 KB)

Abstract

PT. erudeye Indonesia mulai mengembangkan layanan cloud computing Pazcal (Spazio & Scala), spazio berarti ruang, scala berarti skala. Sebagai layanan baru yang belum direlease, Pazcal belum mendapatkan perhatian (awareness) dari target market. Padahal di Indonesia sudah terdapat beberapa cloud provider, hal ini membuat PT. erudeye Indonesia semakin sulit untuk menentukan differensiasi pada layanan Pazcal. Menurut hasil survey yang dilakukan pada 35 IT enterprise menunjukkan bahwa Pazcal belum mendapatkan awareness dari pasar (0%).Maka dari itu itu PT erudeye Indonesia harus melakukan aktivitas komunikasi pemasaran yang tepat bagi produk Pazcal agar Pazcal mendapat perhatian (awareness) dan memiliki posisi produk di dalam pikiran target market. Melalui kegiatan komunikasi pemasaran, PT. erudeye Indonesia dapat mencipatakan positioning yang tepat untuk produk Pazcal. Untuk menciptakanawareness dan membangun positioning target pasar diperlukan adanya aktifitaskomunikasi pemasaran dan salah satu caranya dengan merencanakan penggunaanmedia yang tepat dan efektif dan hal ini menajdi tugas dari media manager.Kegiatan yang dilakukan media manager merupakan bagian darirangkaian kegiatan “Launching Pazcal Cloud dari PT erudeye Indonesia”. Tujuankegiatan media manager dalam kegiatan ini adalah merancang penguunaan mediayang tepat dan efektif untuk dapat mencapai tujuan umum dari kegiatan ini, yaknimembangun awareness dan membangun positioning (Pazcal sebagai produkefisien dan reliable) target market terhadap produk. Kegiatan yang dilakukan olehmedia manager yaiu redesign interface website dan posting artikel, sosial mediadan solution day, dan media relations. Kegiatan tersebut untuk membangunpositioning produk Pazcal di benak target maket.
Strategic Communication Museum Kereta Api Ambarawa Divisi Communication ( Humas ) Hilda Maisyarah; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.024 KB)

Abstract

Karya bidang ini dilatarbelakangi oleh kurangnya promosi museum kereta api Ambarawa yang merupakan aset sejarah yang memiliki potensi pariwisata di Jawa Tengah. kurangnya informasi yang didapat oleh masyarakat mengenai museum ini membuat aset sejarah yang merupakan tempat wisata yang hanya 3 di dunia ini membuat kurangnya masyarakat untuk mengunjungi tempat ini. Divisi komunikasi melakukan tujuan untuk menyebarkan informasi akan museum Kereta Api Ambarawa melalui beberapa media dan menjalin relasi dengan komunitas. Berdasarkan teori magic bullet theory (teori peluru), dilakukan pengiriman satu arah mengenai museum kereta api Ambarawa dari single point oringin terhadap khalayak yang diinginkan Selain itu, divisi komunikasi bertugas melakukan dealing dengan media.Kegiatan ini diangkat dalam Strategic Communication Museum Kereta Api Ambarawa, guna meningkatkan informasi kepada masyarakat dan mendapatkan publisitas dari media.Kegiatan ini dilaksanakan selama 1 bulan dan berhasil mendapatkan publisitas total 30 publikasi dari 17 perusahaan media dengan rincian 11 media cetak lokal, 2 media eletronik dan 18 media online. Kegiatan promosi berhasil dilakukan dengan menggunakan 3 media cetak, elektronik dan online melalui 7 media partner. Berhasil melakukan relasi kepada 5 komunitas yang berkaitan dengan kereta api, budaya dan fotografi serta mampu menyebarkan informasi lewat akun sosial media komunitas tersebut. Selain itu, Karya bidang ini menunjukkan bahwa “Strategic Communication Museum Kereta Api Ambarawa ‘Sepoorheroes’ berhasil dilakukan.
Pengaruh Terpaan Berita Satwa Laut yang Mati Akibat Sampah Plastik dan Kampanye Zero Waste terhadap Perilaku Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik Randyani Rarasati; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.895 KB)

Abstract

This study aims to determine the effect of news exposure about marine animals that killed by plastic pollution and zero waste campaigns toward the behavior of reducing the use of plastic bags. The theory used in this research is the effect of mass communication theory and Cognitive response theory. To determine the sample, this study uses a non-probability sampling technique by accidental sampling. The number of samples studied amounted to 60 people with the characteristics of men/women domiciled in the city of Semarang, aged 19-34 years, had heard and/or read news of marine animals killed by plastic pollution and had heard/known of the zero waste campaign. The results showed that the exposure of marine animals that killed by plastic pollutions to the behavior of reducing the use of plastic bags had no significance value, it showed that the hypothesis and the theory are rejected. Furthermore, the effect of zero waste campaign exposure on the behavior of reducing the use of plastic bags showed a significant influence with the positive regression, which means that the increase of zero waste campaign exposure directly proportional to the behavior of reducing the use of plastic bags.
HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN SINETRON REMAJA DI TELEVISI DAN INTERAKSI PEER GROUP DENGAN PERILAKU HEDONIS PADA REMAJA Asri Nugraheningtyas; Sunarto Sunarto; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.532 KB)

Abstract

Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang1HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN SINETRONREMAJA DI TELEVISI DAN INTERAKSI PEER GROUP DENGANPERILAKU HEDONIS PADA REMAJAAsri (2013)Mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas DiponegoroABSTRAKSIDitinjau dari sisi psikologis, perilaku hedonis sangat membahayakan remaja, remajaakan mengambil simplifikasi kehidupannya menjadi parameter perkembangan kehidupannya dimasa mendatang, sehingga nafsu kemewahan dan kemegahan membudaya dalam dirinya,akibatnya apabila semua bentuk kemewahan dan kemegahan tersebut tidak dapat dipenuhiakan membuat remaja frustrasi dan kecewa yang berkepanjangan. Dari beberapa faktor yangdianggap menyebabkan perilaku hedonis remaja, maka tujuan penelitian ini adalah mengetahuihubungan antara intensitas menonton sinetron remaja di televisi yang sarat dengan sajiankemewahan dan kemegahan serta tingginya interaksi remaja bersama peer group denganperilaku hedonis.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan paradigma positistik dengan tradisi sosiopsikologis,sehingga tipe penelitiannya kuantitatif. Teori yang digunakan ialah hirarki of effectdan teori belajar sosial Bandura, diharapkan mampu menjawab tujuan penelitian. Obyekpenelitian adalah siswa SMA Negeri 1 Kota Semarang, yang kesehariannya sarat denganindikasi perilaku hedonis, yang kepadanya diberikan kuesioner. Sampel diambil menggunakanproportional random sampling yaitu 77 siswa, dengan rumus statistik korelasi rank Kendall.Hasil penelitian adalah: 1) Terdapat hubungan antara intensitas intensitas menontontayangan sinetron remaja di televisi dengan perilaku hedonis pada remaja. Semakin tinggiintensitas menonton sinetron remaja di televisi, maka semakin rendah perilaku hedonis dariremaja tersebut; 2) Terdapat hubungan antara interaksi sosial dengan peer group denganperilaku hedonis pada remaja. Semakin tinggi interaksi sosial peer group, maka akan semakinrendah perilaku hedonis pada remaja tersebut.LATAR BELAKANGKecenderungan masyarakat untuk hidup mewah, berfoya -foya, bersuka ria, dan bergayahidup secara berlebih-lebihan, begitu terlihat di lingkungan masyarakat kita sehari-hari.Kecenderungan tersebut sering diistilahkan sebagai budaya hedonisme, yang mempunyai artisuatu budaya yang mengutamakan aspek keseronokan diri, misalnya, freesex, minum-minumankeras, berjudi, berhura-hura, berhibur di club-club malam, dan sebagainya. Berbagai bentukperwujudan dari budaya hedonisme tersebut begitu mempesonakan dan menggiurkan bagibanyak orang, dan dapat dikatakan menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat yang merasadirinya sebagai masyarakat modern (Ayuningtias, 2013:2).Perilaku hedonistik pada remaja tersebut seperti; membawa mobil saat ke sekolah,menggunakan handphone bermerk dan mahal (Black Berry) dan secara proporsional kuranglayak buat remaja, dandanan yang terkesan kurang sopan dan seronok ala artis, main ke mallmall,dinner di McDonald, dan perilaku hura-hura tanpa makna lainnya yang sudah sepertimembudaya pada remaja akhir-akhir ini.Menurut Titi Said, sinteron yang diklaim sebagai sinteron remaja tersebut, banyakmenyajikan perilaku remaja yang mengajari anak-anak dan remaja untuk berpenampilan seksi,berorientasi hedonistic dan berpola hidup senang, serba mudah dan serba mewah. Adegansinetron pun seringkali ditiru dalam perilaku mereka sehari-hari, atau jika tidak ditiru, minimalakan mengkontaminasi pikiran polos anak-anak, karena sebenarnya orientasi yang relevan bagiremaja adalah nilai-nilai budaya kerja keras dan menghargai karya. Apalagi, sekitar 60 juta anakIndonesia menonton acara seperti itu di televisi selama berjam-jam hampir sepanjang hari.Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang2Sebagian besar masyarakat sudah tahu bahwa sinetron hanya fiksi belaka, tetapi yangtidak disadari adalah efek imitasi/peniruan yang bisa ditimbulkannya. Memang karakter setiapremaja berbeda, tapi pada kenyataannya reaksi yang ditimbulkan media cenderung seragam.Misalnya sinetron yang mempertontonkan siswa SMA yang pergi ke sekolah dengan mobilmewah, banyak ditiru para pelajar saat ini dengan membawa mobil ke sekolah. Begitu jugadengan cara berpakaian para pelajar perempuan dalam sinetron, mulai ditiru para remaja saatini. Fenomena lain yang meniru sinetron adalah westernisasi (aksi kebarat-baratan) sepertibahasa, kuliner dan pakaian yang saat ini jadi trend di kalangan remaja. Hal ini bisa disaksikandi mall-mall, bagaimana anak-anak remaja berdandan bagaikan artis sinetron. Bahkan sebagaiakibat kegemaran remaja mengunjungi mall-mall di pusat perbelanjaan harus sampai membolossekolah, sehingga tidak jarang remaja yang masih siswa SMA/SMK terjaring razia disiplin yangdilakukan oleh pemerintah daerah setempat. Fenomena semacam ini dirasakan sangat getir bagisemua pihak, khususnya; orangtua, pendidik, ulama, tokoh agama dan masyarakat dan pihakpemerintah sendiri.Ketatnya pergaulan remaja dalam ikatan teman sebaya yang cenderung represif, semakinmengindikasikan bahwa tayangan sinetron hedonis tersebut memang merupakan parameterpergaulan remaja pada umumnya, sehingga bilamana ada salah seorang remaja yang tidakmampu mengadopsi nilai-nilai hedonis tersebut, sudah barang tentu akan diisolasi olehkelompok teman sebayanya (peer group). Menonton sinteron remaja yang hedonis, bagi siswadiibaratkan sebagai tolok ukur tentang perkembangan sikap dan perilaku metropolis yang layakuntuk diadopsi sebagai salah satu bagian dari dirinya, sehingga agar tidak ketinggalan jaman,maka perlu dan wajib untuk ditonton, dan akibatnya terpaan menonton tayangan sinetronsemacam itu menjadi tinggi dan sudah dianggap sebagai sebuah kebutuhan. Tolok ukur yangdiperolehnya dari hasil melihat tayangan sinetron kemudian dijadikan bahan masukan dandiskusi di lingkungan teman sebaya, sebagai sebuah wacana yang layak atau tidak untuk ditiru.Dengan dominasi pergaulan teman sebaya yang cenderung homogen yang disertai denganintensitas menonton tayangan sinetron yang tinggi, diduga akan mewarnai perilaku hedonisremaja.Perilaku hedonisme dan konsumtif telah melekat pada kehidupan kita. Pola hidup sepertiini sering dijumpai di kalangan remaja dan mahasiswa, di mana orientasinya diarahkankenikmatan, kesenangan, serta kepuasan dalam mengkonsumsi barang secara berlebihan.Manusiawi memang ketika manusia hidup untuk mencari kesenangan dan kepuasan, karena itumerupakan sifat dasar manusia. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapainya. Salah satunyadengan mencari popularitas dan membelanjakan barang yang bukan merupakan kebutuhanpokok. Pada kenyataannya pola kehidupan yang disajikan adalah hidup yang menyenangkansecara individual. Inilah yang senantiasa didorong oleh hedonisme dan konsumenisme, sebuahkonsep yang memandang bahwa tingkah laku manusia adalah mencari kesenangan dalam hidupdan mencapai kepuasan dalam membelanjakan kebutuhan yang berlebihan sesuai arus gayahidup. Penelitian ini akan mengkaji hubungan intensitas menonton tayangan sinteron remajadan interaksi dengan peer group dengan perilaku hedonis pada remaja.PERUMUSAN MASALAHDari beberapa faktor yang dianggap menyebabkan perilaku hedonis remaja, maka faktortingginya intensitas menonton sinetron remaja yang sarat dengan sajian kemewahan dankemegahan serta tingginya interaksi remaja bersama peer group yang berkecenderungan untukmelakukan soliditas dan homogenitas perilaku sebagai perwujudan solidaritas sosial, dianggapsebagai prediktor. Dengan demikian permasalahan yang diajukan adalah “Apakah intensitasmenonton tayangan sinetron remaja di televisi dan interaksi dengan peer group berhubungandengan perilaku hedonis pada remaja?”.Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang3TUJUAN PENELITIANPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas menonton tayangansinteron remaja di televisi dan interaksi dengan peer group dengan perilaku hedonis padaremaja.KERANGKA TEORIParadigma PenelitianParadigma penelitian yang dipakai adalah positivistik dengan ttradisi sosiopsikologis.State of The Art (Penelitian Terdahulu)No Nama Judul Variabel Hasil1 Yuyun (2002) Pengaruh IntensitasKomunikasi Keluarga danKonformitas peer groupterhadap Persepsi Remajamengenai InformasiErotikaVariabel bebas:1. Intensitas Komunikasikeluarga2. konformitas peer groupVariabel terikat:1. Persepsi remajamengenai informasierotika1. Intensitas komunikasi keluargaberpengaruh positif terhadappersepsi remaja mengenaiinformasi erotika2. Konformitas peer groupberpengaruh positif terhadappersepsi remaja mengenaiinformasi erotika3. Intensitas komunikasi keluargadan konformitas peer groupberpengaruh terhadap persepsiremaja mengenai informasi erotika2 Yudha (2009) Hubungan IntensitasMenonton TayanganPornografi di Internet danInteraksi dengan PeerGroup terhadap PerilakuImitasi Remaja dalamPacaranVariabel bebas:1. Intensitas MenontonTayangan Pornografi diInternet (X1)2. Interaksi dengan PeerGroup (X2)Variabel terikat:Perilaku Imitasi Remajadalam Pacaran (Y)1. Terdapat hubungan antaraIntensitas Menonton TayanganPornografi di Internet denganPerilaku Imitasi Remaja dalamPacaran2. Terdapat hubungan antaraInteraksi dengan peer groupdengan Perilaku Imitasi Remajadalam Pacaran3 Anggarizaldy,(2007)Hubungan IntensitasMendengarkan ProgramAcara Skuldesak di RadioTRAX FM danPenggunaan Bahasa GaulOleh Penyiar SkuldesakRadio TRAX FM denganPerilaku Imitasi BahasaGaul Pada RemajaVariabel bebas:1. IntensitasMendengarkanProgram Skuldesak(X1)2. Penggunaan BahasaGaul oleh PenyiarSkuldesak (X2)Variabel terikat:Perilaku Imitasi BahasaGaul pada Remaja (Y)1. Terdapat hubungan positif antaraintensitas mendengarkan ProgramSkuldesak dengan Perilaku ImitasiBahasa Gaul pada Remaja2. Terdapat hubungan positif antarapenggunaan bahasa gaul olehpenyiar Skuldesak denganPerilaku Imitasi Bahasa Gaul padaRemajaHubungan antara Intensitas Menonton Sinetron Remaja dengan Perilaku Hedonis padaRemajaIntensitas menonton media televisi tidak hanya menyangkut apakah seseorang secara fisikcukup dekat dengan kehadiran media massa, tetapi apakah seseorang itu benar-benar terbukaterhadap pesan-pesan media tersebut. Intensitas menonton media televisi merupakan kegiatanmendengarkan, melihat, dan membaca pesan media massa atapun mempunyai pengalaman danperhatian terhadap pesan tersebut, yang dapat terjadi pada tingkat individu ataupun kelompok(Shore, 2005:26).Menurut pendapat Rosengren, penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yangdigunakan dalam berbagai media, jenis isi media yang dikonsumsi, dan berbagai hubunganJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang4antara individu konsumen dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media secarakeseluruhan. Intensitas adalah banyaknya informasi yang diperoleh melalui media, yangmeliputi frekuensi, atensi dan durasi penggunaan pada setiap jenis media yang digunakan(Rakhmat, 2004:66). Dengan demikian intensitas menonton sinetron remaja adalah banyaknyainformasi yang diperoleh dari aktivitas menonton sinetron remaja di televisi, yang meliputi;frekuensi, atensi dan durasi penggunaan.Rogers (1996:192) mengatakan bahwa dampak sosial dari teknologi komunikasi baruadalah sesuatu yang diharapkan, tidak langsung dan memenuhi, sering bersamaan denganterjadinya dampak yang tidak diharapkan tidak langsung dan tidak memenuhi keinginan).Televisi memiliki efek secara hirarkis terhadap pemirsanya yaitu:1. Kognitif. Kemampuan pemirsa menyerap atau memahami acara yang ditayangkan televisiyang melahirkan pengetahuan bagi pemirsa. Remaja akan menyerap dan memahamiinformasi serta pesan-pesan yang mengandung nilai-nilai hedonis dari televisi, misalnyatentang bagaimana orang-orang berperilaku mewah, serba mudah dan serba instan, yangmana hal-hal tersebut akan menjadi semacam pengetahuan bagi siswa remaja.2. Afektif. Pemirsa dihadapkan pada trend aktual yang ditayangkan televisi. Dalam hal iniremaja akan meniru simbol, properties, gaya rambut, cara bergaul dan sebagainya, daribintang idola mereka di televisi.3. Overt behavior (perilaku). Proses tertanamnya nilai-nilai budaya hedonis dalam hal iniyang berkaitan dengan nilai-nilai hedonistik dalam kehidupan sehari-hari (Rakhmat,2004:57).Hubungan antara Interaksi Sosial Peer Group dengan Perilaku Hedonis pada RemajaProses terjadinya imitasi dalam interaksi sosial, sebagaimana dikatakan oleh Banduradalam Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial) bahwa orang belajar dari yang lain,melalui observasi, peniruan, dan pemodelan. Teori belajar sosial ini banyak berbicara mengenaiperhatian, identifikasi, dan imitasi. Teori belajar sosial menjelaskan perilaku manusia dalam halinteraksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku, dan pengaruhlingkungan (Rakhmat, 2004:74)Teori belajar sosial dari Bandura juga menyatakan bahwa individu akan meniru perilakuorang lain jika situasinya sama dengan ketika peristiwa yang ditirunya diperkuat di masa lalu.Sebagai contoh, ketika seorang anak muda meniru perilaku orangtuanya atau saudara tuanya,imitasi ini sering diperkuat dengan senyuman, pujian, atau bentuk-bentuk persetujuan lain.Demikian juga, ketika anak-anak menirukan perilaku teman-temannya, bintang olah raga, atauselebritis, peniruan ini akan diperkuat dengan persetujuan teman sebayanya.Dalam penelitian ini model yang dimaksudkan dalam teori belajar sosial adalah di manasiswa akan belajar mengenai nilai-nilai sosial yang berkembang dari lingkungan temansebayanya, di mana jika lingkungan teman sebayanya menganut nilai hedonis, maka individulain yang terlibat dalam interaksi dalam peer group mencoba untuk melakukan perhatian,identifikasi dan imitasi, sehingga bilamana nilai hedonis tersebut sesuai dengan keinginannya,besar kemungkinan siswa akan belajar tentang nilai-nilai dan perilaku hedonis. Namun jikainteraksi dengan lingkungan teman sebayanya menganut nilai-nilai religius, maka besarkemungkinan individu akan memiliki nilai dan perilaku yang religius pula. Dalam hal ini,individu, khususnya siswa remaja yang masih berada dalam tahap transisi akan senantiasamencari jati dirinya sehingga menemukan apa yang dicarinya dari lingkungan sosial di manasiswa atau remaja tersebut menaruh respek. Dalam tinjauan literatur, lingkungan sosial primeryang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku remaja antara lain; orangtua, lingkungan sekolahdan lingkungan teman sebaya (peer group). Semakin tinggi individu berinteraksi dengan peergroup, maka akan semakin tinggi pula tingkat kesesuaian perilakunya dengan nilai-nilai peergroup.Dari teori belajar sosial Bandura di atas maka dapat dikatakan bahwa lingkungan sosialyang primer dari individu akan mengajarkan pada para remaja untuk bersikap dan berperilakusebagaimana yang diyakini dan dipercayai oleh lingkungan sosial tersebut, di mana lingkunganJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang5sosial tersebut berasal dari teman sebaya dan media televisi. Dalam perspektif teori belajarsosial, remaja yang berada dalam transisi mengalami suatu fase yang dinamakan pencarian jatidiri, sehingga lingkungan sosial di mana remaja bergaul akan banyak mewarnai nilai dan sikaphidupnya, selain pengaruh dari orangtua dan sekolah. Perubahan ini apabila tidak mendapatkansuatu respon yang bijak dari segenap pengajar, orangtua dan lingkungan sosial di mana siswabertempat tinggal dikhawatirkan akan mampu mempengaruhi mental siswa kepada norma dannilai sosial yang menyimpang.Penyimpangan tersebut akan semakin kentara bilamana remaja bergaul dalam lingkunganpeer group yang menganut nilai dan paham hedonis, di mana secara perlahan-lahan proses jatidiri yang belum ditemukannya akan dicoba diaplikasikannya ke dalam peniruan sikap danperilaku yang dianut oleh kelompok peer groupnya. Nilai-nilai hedonis, seperti; caraberpakaian, assesories, properties, sarana dan prasarana, gaya hidup dan hobby yang dibawaoleh kelompok peer groupnya, secara perlahan akan diadopsi sebagai salah satu bagian darinilainya, dan di sini barangkali remaja berani mengatakan inilah proses pencarian jati dirinya,yaitu sebagaimana yang dilakukan sikap dan perilaku anggota peer group lainnya.Gambar 1Kerangka Pemikiran TeoritisHIPOTESIS1. Terdapat hubungan antara intensitas intensitas menonton tayangan sinetron remaja ditelevisi dengan perilaku hedonis pada remaja2. Terdapat hubungan antara interaksi sosial dengan peer group dengan perilaku hedonis padaremaja.DEFINISI OPERASIONAL1. Intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisi (X1), indikator:a. Frekuensi menonton tayangan sinetron remaja di televisib. Atensi, tingkat perhatian individu dalam menonton sinetron remaja di televisic. Durasi, lama waktu yang dihabiskan individu untuk menonton sinetron remaja ditelevisi.2. Interaksi dengan peer group (X2), akan diukur dengan indikator:a. Frekuensi, seberapa sering individu berinteraksi dengan peer group.b. Durasi, yaitu lamanya waktu yang dihabiskan individu setiap kali berinteraksi denganpeer groupc. Keteraturan, yaitu kontinuitas individu dalam berinteraksi dengan peer group-nya.d. Keterbukaan, yaitu kesediaan untuk membuka diri tentang informasi yang tersembunyimengenai diri sendiri terhadap anggota lain dalam peer groupe. Empathy, yaitu kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi anggota lain di dalampeer group.f. Dukungan, yaitu sikap mendung yang terdiri dari sikap deskriptif, bersikap spontandan bersikap provisional dengan berpikiran terbuka serta bersedia mendengarpandangan yang berlawanan dengan anggota lain dalam peer group3. Perilaku hedonis pada remaja (Y), dengan indikator:a. Sikap (afektif), diukur dengan:1) Kecenderungan terhadap kemewahan2) Kecenderungan untuk berfoya-foya3) Kecenderungan terhadap kemudahanb. Perilaku (overt behavior), diukur dengan:Intensitas Menonton TayanganSinetron (X1)Perilaku Hedonis padaRemaja (Y)Interaksi dengan Peer Group(X2)Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang61) Tingkat menghindari kesukaran2) Tingkat pemuasan hasrat3) Tingkat pemenuhan keinginan4) Tingkat pemuasan hawa nafsuMETODE PENELITIANTipe PenelitianPenelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian eksplanatori (pengujian hipotesis).Populasi dan Sampel1. PopulasiPopulasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Semarang,sebanyak 334 siswa2. Sample sizeDengan rumus Yamane diketahui sample size sebesar 77 responden.Alat dan Teknik Pengumpulan DataSebagai alat atau instrumen pengumpulan data dalam penelitian ialah kuesioner yangdibagikan kepada responden untuk diisi jawabannya dengan bantuan teknik wawancara.Teknik Analisis DataTeknik analisis data akan berupa:1. Analisis deskriptifDalam analisis kualitatif atau deskriptif adalah penyajian deskripsi temuan penelitiansecara naratif dengan bantuan tabel frekuensi (tabel univariat) dan tabel silang (tabelmultivariat).2. Analisis inferensialAnalisis kuantitatif atau inferensial akan digunakan untuk pengujian hipotesispenelitian. Dalam penelitian ini menggunakan rumus korelasi rank Kendall.HASIL PENELITIAN1. Temuan Deskriptif (kualitatif)a. Sebagian besar responden tergolong memiliki intensitas menonton tayangan sinetronremaja di televisi menengah ke bawah. Fenomena seperti ini memberikan arahanbahwa secara umum tayangan sinetron remaja di televisi kurang diminati olehkalangan remaja. Hal ini dikarenakan sinetron dimaksud memiliki jam tayang yangbersamaan dengan aktivitas responden yang lain, seperti; saat bersantai bersamakeluarga, bersama teman, jalan-jalan ke tempat hiburan, mall, juga belajar dan lainsebagainya.b. Tingkat interaksi sosial dalam peer group pada responden tergolong menengah ke atas.Tingginya tingkat interaksi sosial tersebut disebabkan adanya perasaan kebersamaan,baik dalam perkembangan psikologis, sosial, edukatif maupun ekonomi, sehinggamenjadi daya perekat sosial di antara mereka. Fenomena ini memberikan arahan bahwawalaupun secara fisik, intensitas pertemuan dan komunikasi berlangsung tinggi, namundalam aspek afektif dan behavior, bentuk ikatan sosial antara anggota kelompok dalampeer group tergolong masih kurang, yang dikarenakan adanya keterbatasansosiopsikologis pada masing-masing anggota akibat adanya kepentingan dankebutuhan yang bersifat individual dan sosial, seperti masih adanya kebutuhan untukberinteraksi dengan lingkungan keluarga dan lingkungan sosial di luar lingkungan peergroup.c. Temuan memperlihatkan sebagian besar responden tergolong memiliki perilakuhedonis tingkat menengah ke atas. Adanya kecenderungan semacam ini dikarenakanpada responden ditemukan tentang tingginya sikap menghindari kesulitan, tingginyakecenderungan untuk mencari kemudahan, adanya kecenderungan pada individu untukJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang7menggunakan bantuan orang lain apabila mengalami kesulitan. Pilihan-pilihan sikapresponden tersebut merupakan karakteristik perilaku hedonis, di mana perilakuindividu yang memiliki kecenderungan untuk bermegah-megah, kehidupan mewahdengan mengesampingkan kerja keras, tekun dan giat dalam meraihnya.2. Temuan Inferensial (Kuantitatif)a. Berdasarkan uji hipotesis penelitian di atas, menunjukkan bahwa hipotesis penelitianditerima. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil penelitian yang diperoleh pada koefisienkorelasi Kendall antara intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisi (X1)dengan perilaku hedonis remaja (Y) sebesar -0,1331 dan setelah ditransformasikan kedalam rumus Z menghasilkan nilai Z sebesar -1,713. Hasil konsultasi memperlihatkanbahwa nilai Z-hitung -1,713 > nilai Z-tabel5% -1,64, sehingga Ho ditolak dan Haditerima pada taraf kepercayaan 95 persen. Dengan demikian, hipotesis yangmenyatakan terdapat hubungan antara intensitas menonton tayangan sinetron remajatelevisi dengan perilaku hedonis remaja dapat diterima. Hal ini dapat dikatakan bahwaketika individu mempunyai intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisitinggi, maka berpotensi menurunkan perilaku hedonis remaja yang bersangkutan.Begitu juga sebaliknya, ketika intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisirendah, maka akan berpotensi menaikkan perilaku hedonis remaja yang bersangkutan.b. Dari perhitungan manual ditemukan koefisien  sebesar -0,2608 yang menghasilkannilai Z sebesar -3,356. Sedangkan nilai Z-tabel (lihat lampiran-7) pada tarafsignifikansi 5% (Zt5%) sebesar |-1,64|, sehingga hasil konfirmasi antara kedua nilai Ztersebut memperlihatkan nilai Z-hitung |-3,356| > Zt5% |-1,64|, sehingga hipotesispenelitian (Ha) diterima pada taraf signifikansi 5%. Dengan demikian antara interaksipeer group dengan perilaku hedonis remaja terdapat hubungan yang sangat signinikan.Variabel intensitas sosial peer group secara statistik berhubungan negatif denganperilaku hedonis siswa SMA di Semarang. Semakin tinggi interaksi sosial peer group,semakin rendah perilaku hedonis pada siswa. Hasil perhitungan statistik ini bersesuaiandengan temuan berdasarkan analisis tabel silang. Fenomena semacam ini memilikimakna bahwa interaksi sosial peer group dengan dengan segala dinamika sosialekonomi dan budaya, justru berpotensi menurunkan sikap dan perilaku hedonis siswaremaja yang bersangkutan.3. Diskusia. Implikasi TeoritikDari hasil hubungan variabel intensitas menonton sinetron remaja di televisiberhubungan negatif dengan perilaku hedonis remaja, memberikan arahan ketikaremaja mempunyai intensitas menonton sinetron remaja di televisi yang tinggi, secaraotomatis dapat dikatakan bahwa waktunya untuk merealisasikan (manifestasi) perilakuhedonis menjadi berkurang, karena adanya aktivitas lain pada waktu yang bersamaandengan spasial yang berbeda. Hal ini sejalan dengan pendapat Rakhmat yangmengatakan bahwa intensitas menonton adalah banyaknya informasi yang diperolehmelalui media, yang meliputi frekuensi, atensi dan durasi penggunaan pada setiap jenismedia yang digunakan (Rakhmat, 2004:66). Intensitas menonton sinetron remajaadalah banyaknya informasi yang diperoleh dari aktivitas menonton sinetron remaja ditelevisi, yang meliputi; frekuensi, atensi dan durasi penggunaan.Terbuktinya hipotesis penelitian ini, mengasumsikan ketika ada remajamengalami intensitas menonton sinetron remaja di televisi yang tinggi, maka otomatisremaja yang bersangkutan alam memiliki perilaku hedonis yang tinggi pula, namundemikian hasil dari penelitian ini tidak menyatakan demikian, justru sebaliknya, dimana semakin tinggi intensitas menonton sinetron remaja di televisi, maka akansemakin rendah perilaku hedonis pada remaja. Peneliti melakukan kemungkinankemungkinanyang terjadi ketika hasil penelitian ini menyatakan bahwa intensitasmenonton tayangan sinetron di televisi berhubungan negatif dengan perilaku hedonisJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang8remaja. Peneliti menarik kembali teori yang digunakan untuk menjelaskan hubunganantara keduanya, yaitu hirarki efek media, di mana pertemuan media dengan khalayakakan berlangsung dalam tiga tingkatan (level) intensitas, yaitu; kognitif, sikap dan overbehavior. Dalam ketiga level (tingkatan) ini terdapat salah satu faktor yangmempengaruhi perilaku hedonis tersebut terjadi. Menurut hirarki efek dan teori belajarsosial (yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antara interaksi peer groupdengan perilaku hedonis remaja) bahwa kita belajar tidak hanya dari pengalamanlangsung tetapi dari peneladanan atau peniruan, dibuktikan dalam hubungan keduavariabel ini. Televisi bukan salah satu faktor penentu lingkungan yang kuat dalammunculnya perilaku hedonis. Remaja tidak hanya melakukan peniruan dari televisisaja, walaupun dalam penelitian ini menyatakan bahwa televisi berkorelasi negatifdengan perilaku hedonis remaja. Faktor lingkungan lain seperti keluarga juga menjadipenentu dalam proses perilaku hedonis.Berdasarkan kajian yang telah diuraikan di atas, maka dapat dimaknai bahwahubungan yang timbul akibat adanya tayangan sinetron di televisi dengan perilakuhedonis remaja dapat berupa pengaruh positif dan negatif. Mereka dapat terpengaruhke arah yang positif atau ke arah yang negatif tergantung pada pribadi masing-masingdari remaja tersebut. Sinetron di televisi berpengaruh terhadap remaja karenakemampuan menciptakan kesan dan persepsi bahwa suatu muatan dalam layar kacamenjadi lebih nyata dari realitasnya, sehingga mereka ingin mencoba apa yang merekalihat di televisi itu agar dapat disebut sebagai remaja gaul di lingkungannya.Implikasi teoritik yang bisa diajukan adalah karena hubungan menonton sinetronremaja di televisi dengan perilaku hedonis negatif, maka memunculkan pemikiranbahwa pertemuan antara anak dengan media massa (khususnya saat menonton remajadi televisi), diduga tidak lebih hanya dimanfaatkan untuk mengetahui trend dan gayahidup populer di kalangan remaja perkotaan, yang sekaligus dianggap sebagai aktivitaskatarsis atas rutinitas anak (siswa) terhadap tingkat kepadatan proses belajar belajar disekolah. Hal ini sejalan dengan ditandai semakin banyaknya aktivitas ekstra kurikulerdan pelajaran tambahan yang seringkali membuat anak (remaja) menjadi bosan(boring).b. Implikasi praktisImplikasi praktis dari hasil penelitian adalah terlepas dari besar kecilnyapengaruh yang disebabkan oleh tayangan sinetron remaja di televisi yang saratmengumbar sikap dan perilaku hedonis, maka optimalisasi peranan keluarga dalammembentengi anak remajanya mutlak semakin ditingkatkan. Hal ini bisa dilakukansalah satunya adalah melalui pendampingan yang selalu disertai dengan diskusi antaraorangtua dengan anak remaja, terkait dampak perilaku hedonis bagi pencapaian masadepan anak remaja yang bersangkutan. Dalam hal ini maka intensitas komunikasiantara anak remaja dengan orangtua bukan saja optimal pada saat melakukanpendampingan, akan tetapi bisa juga dilakukan melalui media-media lainnya, seperti;saat makan bersama, saat berwisata, bersantai dan forum komunikasi interpersonallainnya, yang sudah barang tentu diikuti adanya peningkatan perhatian orangtuaterhadap kebutuhan dan kepentingan studi anaknya.c. Implikasi SosialDengan terbuktinya hipotesis penelitian, implikasi sosial yang bisa diambiladalah tayangan sinetron remaja di televisi memang memiliki potensi destruktif(merusak) bilamana khalayak mengalami terpaan yang sangat tinggi, dalam artipertemuan antara dengan tayangan dimaksud berlangsung dalam intensitas yang sangattinggi. Namun bilamana pertemuan tersebut hanya berlangsung dalam durasi yangrelatif singkat (pendek), apalagi selama menonton diselingi dengan seringnyamelakukan pergantian channel televisi, potensi merusak dari tayangan sinetron remajadi televisi dinilai masih sangat lemah. Namun demikian, sinyalemen dari Titi Said,tetap relevan untuk dicermati, khususnya bagi pendidik, orangtua, pemerhati sosial,Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang9tokoh masyarakat dan tokoh agama, untuk senantiasa mewaspadai bahaya dari isitayangan sinetron remaja di televisi tersebut, yang dalam hal ini lebih intensif dalammemberikan pembinaan, pengertian dan pemahaman kepada putra-putrinya untuk tidakterlalu mempercayai kebenaran tayangan sinetron dimaksud, berikut content-contentdestruktif yang terkandung.Bandura dalam Rakhmat (2004) juga menjelaskan bahwa perilaku, lingkungandan individu itu sendiri saling berinteraksi satu dengan yang lain. Hal ini berartiperilaku individu dapat mempengaruhi individu itu sendiri, di samping itu perilakujuga berpengaruh pada lingkungan, demikian pula lingkungan dapat mempengaruhiindividu, demikian sebaliknya (Walgito, 2003:15). Bilamana berbicara peer group ituadalah panutan, maka ini menyangkut hubungan antara perilaku peer group dengananggotanya, peer group dijadikan model bagi anggotanya, apalagi anggota dalamkelompok umumnya para remaja.PENUTUP1. Kesimpulana. Terdapat hubungan negatif antara intensitas intensitas menonton tayangan sinetronremaja di televisi dengan perilaku hedonis pada remaja.b. Terdapat hubungan negatif antara interaksi sosial dengan peer group dengan perilakuhedonis pada remaja.2. Sarana. Saran AkademisDalam rangka mengurangi atau bahkan mengeliminasi perilaku hedonis pada remaja,seharusnya intitusi televisi swasta tetap menyelenggarakan atau menayangkan acarasinetron remaja di saat prime time, agar supaya perhatian remaja untuk menontonyatetap rendah.b. Saran SosialLingkungan sosial primer siswa merupakan pengaruh utama, maka upayapembentukan sikap dan perilaku remaja dalam berbagai aspekdan isu, sebaiknya disosialisasikan melalui kelompok peer group, karena akanmendapatkan perhatian dan respon yang positif.c. Saran PraktisLingkungan sosial di mana remaja itu bergaul akan banyak mewarnai nilai dan sikaphidupnya, selain pengaruh dari orangtua dan sekolah. Perubahan ini apabila tidakmendapatkan suatu respon yang bijak dari segenap pengajar, orangtua dan lingkungansosial di mana siswa bertempat tinggal dikhawatirkan akan mampu mempengaruhimental siswa kepada norma dan nilai sosial yang menyimpang. Penyimpangantersebut akan semakin terlihat bilamana remaja bergaul dalam lingkungan peer groupyang menganut nilai dan paham hedonis, di mana secara perlahan-lahan proses jati diriJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang10yang belum ditemukannya akan dicoba diaplikasikannya ke dalam peniruan sikap danperilaku yang dianut oleh kelompok peer groupnya.DAFTAR PUSTAKAAmalia, Lia. (2009). Mitos Cantik di Media. STAIN Press. Ponorogo.Azwar, Saefuddin. (2008). Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar.Yogyakarta.Haryatmoko. (2007). Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi. Kanisius.Yogyakarta.Hujbers, Theo. (1992). Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah. Kanisius. Yogyakarta.Liliweri, Alo. (2001). Komunikasi Massa dalam Masyarakat. Citra Aditya Bakti. Bandung.Littlejohn, Stephen W. (2004). Theories of Human Communication. Fairfield Graphics.California.Marwan. (2008). Dampak Siaran Televisi terhadap Kenakalan Remaja. Yayasan Kanisius.Yogyakarta.Mc Quail, Denis. (1997). Teori Komunikasi Massa, Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta.Mulyana, Deddy. (2007). Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Remaja Rosdakarya. Bandung.Rakhmat, Jalaluddin. (2004). Psikologi Komunikasi, Remaja Rosdakarya. Bandung.Shore, Larry. (2005). Mass Media For Development A Rexamination of Acces, Exposure andImpact, Communication The Rural Third World. Preagur. New York.Soekanto, Soerjono. (2002). Sosiologi suatu Pengantar. Rajawali Press. Jakarta.Surbakti, EB. (2008). Sudah Siapkah Menikah?. Elek Media Komputindo. Jakarta.Tubbs, Stewart L & Moss, Sylvia, (1996). Human Communication. Remaja Rosdakarya.Bandung.Walgito, Bimo. (2003). Psikologi Sosial. Andi Offset. Yogyakarta.Walgito, Bimo. (2004). Pengantar Psikologi Umum. Andi Offset. Yogyakarta.Muhyidi, Muhammad. (2004) Remaja Puber di Tengah Arus Hedonis. Mujahid Press. Bandung.Jurnal dan Artikel IlmiahAyuningtias, Prasdianingrum. (2013). Pesan Hedonisme dalam Film Layar Lebar “Realita Cinta& Rock N’Roll” eJournal lmu Komunikasi, 2013, 1 (2): 14-27 ISSN 0000-0000,ejournal.ilkom.fisip-unmul.org.Liandra, Dwi Tasya. (2013). Pengaruh Televisi Publik dan Swasta terhadap Perilaku Remaja.Skripsi. Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat-FakultasEkologi Manusia Institut Pertanian Bogor.Oetomo, R. Koesmaryanto. (2013). Pengaruh Tayangan Sinetron Remaja di Televisi terhadapAnak. Artikel Ilmiah. Departemen Sains Komunikasi dan PengembanganMasyarakat-Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.
Hubungan Tingkat Pendidikan dan Intensitas Mengakses Pemberitaan melalui Media Online dengan Citra DPR RI Rosita Kemala Sari; Tandiyo Pradekso; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.964 KB)

Abstract

Hubungan Tingkat Pendidikan dan Intensitas MengaksesPemberitaan melalui Media Online dengan Citra DPR RIABSTRAKLatar belakang penelitian ini didasarkan pada tingginya tingkat ekspos mediaonline terhadap penyimpangan – penyimpangan yang dilakukan DPR (korupsi,gratifikasi). Media mencitrakan seolah-olah DPR memang lembaga yang buruk.Akibatnya persepsi masyarakat mengenai citra DPR juga ikut buruk. Bagaimanaseseorang mencitrakan berasal dari kognisi seseorang dan di tandai dengan adanyapersepsi. Persepsi seseorang ditentukan oleh dua faktor yaitu media dan faktorpersonal seseorang. Dalam penelitian ini faktor personal yang sangat pentingdalam menilai kinerja DPR adalah tingkat pendidikan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikandan intensitas mengakses pemberitaan melalui media online dengan citra DPR RI.Teori utama yang digunakan pada penelitian ini adalah teori ekologi media dariMcLuhan. Pada asumsi kedua teori ekologi media mengatakan bahwa mediamemperbaiki dan memperjelas persepsi seseorang, walaupun ada faktor lain yangmempengaruhi yaitu faktor personal atau diasumsikan adalah tingkat pendidikan.Tingkat pendidikan akan berdampak pada bagaimana seseorang mempersepsikandan bagaimana mempersepsikan isu-isu yang berkembang.Penelitian ini merupakan tipe penelitian eksplanatif dengan pendekatankuantitatif, dan menggunakan paradigma positivistik. Populasi dalam penelitianini adalah warga kota Semarang yang berusia 16 – 50 tahun yang pernahmengakses pemberitaan melalui media online selama satu tahun terakhir. Sampelyang digunakan adalah non random dengan tekhnik accidental samplingdikarenakan jumlah populasi yang tidak diketahui dengan jumlah sampelsebanyak 50 responden. Berdasarkan perhitungan statistik dengan menggunakanrumus uji korelasi Rank kendall, maka diperoleh terdapat hubungan negatif yangsignifikan antara tingkat pendidikan(X1) dengan citra DPR RI (Y) dan antaraintensitas mengakses pemberitaan melalui media online (X2) dengan citra DPR RI(Y). Jadi semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin burukpersepsinya mengenai citra DPR RI dan semakin tinggi intensitas mengaksespemberitaan melalui media online maka semakin buruk persepsi masyarakatmengenai citra DPR RI.Kata kunci: Tingkat Pendidikan, Intensitas dan CitraRelationship of Level of Education and Accesing Intensity onOnline Media with DPR’s imageABSTRACTThe background of the research is based on online expose of media to distorsionsthat DPR’s done all time high (corruption and dividend). Media Tells us that DPRis bad bureau. So people’s perception to DPR be bad, also. How people consider itfrom people cognition and marked with perception. People’s perception has beendefined by two factors are media and personal. In this research personal factor,that has a significant effect to price DPR’s performance is level of educations.The purpose of this research is to figure out the connection between thelevel of education and accesing intensity of online media with DPR’s image. Usedmajor theory to this research is ecological theory of media from McLuhan. In thesecand assumption of that theory says that media corrects and clear the peopleperception. Although, there is another factor which is personal factor that isconsidered as level of education. It impacts to how people percept and howpercept the developing issues.This reaserch is type of explanatory with a quantitative, and uses paradigmof positivisme. The reaserch's subjects are the people who reach 16-50 years oldaccesing news on online media in a last year. The used sample is non-randomwith accidental sampling technique that caused by unknown population numberwith 50 respondents. Based on the statistic computation with Rank Kendall'scorrelation of correction, then there is known a significant negative connectionbetween education level and DPR's image, and between online media accesingintensity and DPR' image. So, the higher of education level is the worseperception of DPR's image and the higher of accesing online media is the worseperception of DPR's image.Keywords: Level of education, Intensity and ImagePENDAHULUANSaat ini media online sudah menjadi sesuatu yang wajib bagi masyarakat, dengantujuan yang berbeda – beda. Tujuan masyarakat mengakses pemberitaan adalahmencari informasi, hiburan dan tak kalah pentingnya adalah mengawasi danmengkontrol kinerja pemerintahan. Hal ini dilakukan masyarakat agar pemerintahdalam hal ini DPR untuk selalu berada pada koridor yang benar, ketika terjadipenyimpangan maka masyarakat dapat dengan cepat mengetahuinya. Padakenyataannya media lebih sering mengekspos pemberitaan negatif jikadibandingkan dengan pemberitaan positif, media mencitrakan bahwa DPR adalahlembaga yang buruk.Pemberitaan yang sedang hangat – hangatnya adalah kasus Hambalangyang menyeret beberapa anggota dewan, kasus korupsi pengadaan simulator SIMoleh Djoko Susilo yang menyeret beberapa anggota dewan pada komisi hukum.Selain korupsi adanya gratifikasi seks dikalangan DPR, gratifikasi ini dilakukanoleh perusahaan yang diberikan oleh anggota dewan demi memuluskan sebuahproyek dan suap yang diberikan adalah berupa wanita, kemudian ditemukannyakondom bekas pakai di gedung Nusantara. Serta survey – survey yang dilakukanoleh beberapa instasi terkait DPR, SSS (Soegang Sarjadi Syndicate) yangmengungkapkan bahw DPR merupakan lembaga terburuk, survey LSI yangmengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat sering mendengar masalahmoralitas di kalangan masyarakat, dan yang tak kalah menghebohkan adalahsurvey LSI mengenai persepsi masyarakat terkait kinerja DPR dan hasilnya punsebagian responden menganggap bahwa kinerja DPR masih buruk.Jika melihat persepsi masyarakat terhadap kinerja DPR, tentunya tidakbisa dilepaskan dari tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang beragam.Tingkat pendidikan beruhubungan dengan banyak hal seperti bagaimanaseseorang akan mempersepsikan apa yang terjadi di lingkungannya, tingkatpendidikan juga akan mempengaruhi keterbukaan terhadap informasi-informasiyang ada kemudian akan berdampak pada perilaku atau responnya kepadalembaga negara tersebut. Tingkat pendidikan bisa dilihat dari jenjang pendidikanyang ditempuh, yaitu SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.Ketika seseorang yang menempuh pendidikan maka akan berdampak padapersepsi yang dianutnya. Persepsi adalah penginderaan terhadap suatu kesan yangtimbul dalam lingkungannya. Kemampuan seseorang dalam mempersepsi segalasesuatunya pasti berbeda antar satu dengan lainnya bergantung pada tingkatpendidikan yang dimiliki, karena tingkat pendidikan akan menentukan intelegensiseseorang dan bagaimana seseorang menelaah mengenai apa yang terjadi padalingkungannya.Krech dan Crutchfield juga menerangkan bahwa ada dua faktor yangmembentuk persepsi seseorang yaitu faktor fungsional dan faktor struktural.Faktor fugsional sendiri berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hallain yang termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal salahsatunya adalah tingkat pendidikan seseorang, sedangkan faktor struktural berasaldari sifat stimulus fisik dan efek-efek saraf pada sistem saraf Individu.Keterbukaan masyarakat mengenai isu-isu DPR juga merupakan hal yangpenting. Salah satu faktor yang mempengaruhi keterbukaan masyarakat adalahtingkat pendidikan masing-masing individu. Semakin tinggi tingkat pendidikanseseorang maka lebih terbuka dengan isu-isu yang ada dan semakin tinggi pulainteraksi sosial yang kemudian akan memungkinkan adanya penggalian informasidan penerimaan informasi dari orang lain akan lebih terbuka banyak. Jadi tingkatpendidikan tidak hanya mempengaruhi seseorang dalam menerima informasi yangada, tetapi juga ia akan lebih banyak berinteraksi dengan cara tidak hanya melihatdari satu sudut pandang dan lebih melihat dari berbagai sudut dengan menggaliinformasi dari berbagai pihak.Penelitian ini menggunakan teori ekologi media dari Marshall McLuhanyang berpusat pada prinsip bahwa tekhnologi akan tetap menjadi pusat perhatianbagi semua bidang profesi dan kehidupan. Teori ekologi media dari McLuhanberkaitan dengan persimpangan antara tekhnologi dan hubungan manusia danbagaimana media mempengaruhi persepsi dan pemahaman manusia. Ada duaprinsip yang dikemukakan dalam teori ekologi media yaitu kita tidak dapatmelarikan diri dari media di dalam hidup kita, bahwa dalam keadaan apapun kitapasti selalu dekat dengan media. Saat ini media online merupakan media yangtidak bisa dipisahkan oleh masyarakat, bertambahnya pengguna internet setiaphari membuat internet dapat mengisolasi orang seperti yang dilakukan olehtelevisi. Dan asumsi yang kedua adalah media dapat memperbaiki ataumemperjelas persepsi dan mengorganisasikannya dalam kehidupan kita. Samaseperti ketika seseorang mengaskes pemberitaan pada media online, dimana orangyang mengakses pemberitaan lebih sering pasti akan berbeda persepsinya denganorang yang mengaksesnya dalam kategori ringan atau jarang. Persepsi dan sikapkita secara tidak langsung dapat dipengaruhi oleh apa yang kita ketahui darimedia, selain dari media tentunya ada banyak faktor lainnya yang akanmempengaruhi sikap dan persepsi seseorang. West dan Turner mencontohkanfaktor lain yang mempengaruhi adalah faktor individu seseorang.Asumsi kedua ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Jalaludin Rakhmatbahwa persepsi ditentukan oleh adanya beberapa faktor yaitu faktor fungsionaldan struktural dimana faktor struktural berasal dari stimulus fisik yang datangsalah satunya adalah dari media dan faktor fungsional yang merupakan faktor daripersonal seseorang salah satunya adalah tingkat pendidikan individu. Ketikamedia online memberitakan mengenai kepercayaan masyarakat yang mulaimenurun kepada DPR, maka kita sebagai audiens akan secara tidak langsungmembahas mengenai korupsi yang dilakukan DPR, kemudian perilaku anggotadewan dan media membuat atau seolah-olah kinerja DPR buruk. MenurutMcLuhan hal ini bisa terjadi, karena kita sebagai audiens telah termanipulasi olehberita yang ada pada media online.Tingkat pendidikan adalah tahapan pendidikan formal terakhir dariseseorang yang sudah ditempuh dengan suatu kelulusan. Sedangkan IntensitasMengakses Pemberitaan melalui Media Online adalah keteraturan seseorangmenonton/mendengarkan/ mengakses informasi dengan menggunakan mediaonline secara berkali-kali disertai dengan variasi, dimana tingkat keteraturantersebut terdiri dari aspek kuantitas dan kualitas. Dan citra DPR RI adalahpersepsi seseorang terhadap DPR mengenai fungsi dan tugas DPR.Tipe penelitian ini adalah tipe penelitian eksplanatif dengan metodesurvey, dimana metode ini berusaha untuk mengevaluasi hubungan dua atau lebihvariabel. Populasi yang digunakan adalah kota Semarang, dimana kota Semarangmerupakan kota dengan masyarakat yang heterogen dilihat dari segi demografisdan psikografisnya. Sedangkan sampel yang digunakan adalah non probabilitasatau non random dengan usia 16 – 50 tahun karena merupakan usia yang aktifdalam mengakses informasi, menggunkan teknik accidental sampling, sedangkanjumlah sampel sebesar 50 responden.Validitas dilakukan dengan mengkonsulkan teori yang digunakan daninstrumen kepada para ahli, jika menggunakan spss dapat melalui correlated item– total correlation, sedangkan untuk reabilitas menggunakan uji coba kepada 10responden dan menggunakan uji crocobanch alfa.Tekhnik analisis data menggunakan beberapa uji coba. Untuk mengujihubungan tingkat pendidikan (X1) dengan citra DPR RI (Y) dan hubunganintensitas mengakses pemberitaan melalui media online (X2) dengan citra DPR RI(Y) menggunakan uji coba rank Kendall. Sedangkan untuk menguji bagaimanakeselarasan ketiga variabel menggunaka uji coba konkordansi Rank Kendall.ISIDari hasil kuesioner yang disebar kepada 50 responden didapatkan hasil bahwaterdapat hubungan negatif yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan citraDPR RI dan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara intensitasmengakses pemberitaan melalui media online dengan citra DPR RI. Berartisemakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin negatif persepsi masyarakatmengenai citra DPR RI dan semakin tinggi intensitas mengakses pemberitaanmelalui media online maka semakin negatif persepsi mereka mengenai citra DPRRI. Sedangkan hubungan ketiga variabel, didapatkan bahwa variabel bebas(tingkat pendidikan, intenistas mengakses pemberitaan melalui media online)secara bersama – sama berhubungan dengan citra DPR RI.Seperti halnya yang dijelaskan pada teori ekologi media dari Marshall McLuhanbahwa media dapat memperjelas, memperbaiki persepsi seseorang danmengorganisasikannya dalam kehidupan kita (Lihat Bab I, hal 20). Pada CitraDPR RI, disini media berusaha memberikan berita yang dapat membukapandangan masyarakat mengenai DPR, dan media mencitrakan seolah – olahbahwa DPR memang lembaga yang buruk, sehingga masyarakat punmempercayai dan mempersepsikan sama dengan apa yang dikatakan oleh media.Semakin seseorang mengakses media online maka akan semakin sering tertepaberita mengenai DPR dan sayangnya pemberitaan yang ada lebih sering beritanegatif mengenai DPR sehingga membaut persepsi mereka buruk mengenai citraDPR. berbeda dengan responden yang jarang mengakses pemberitaan melaluimedia online, tentunya mereka hanya sedikit tertepa mengenai berita buruk DPR.Salah satu efek yang ditimbulkan oleh media massa adalah efek kognitif,dimana efek ini memberikan perubahan pada apa yang diketahui, dipahami dandipersepsikan. Semakin tinggi responden mengakses maka semakin negatif pulacitra yang didapat dan begitupula sebaliknya (lihat Bab III, hal 23). Efek yangditimbulkan berbeda-beda setiap responden juga dipengaruhi oleh seberapa seringintensitas yang dilakukan dalam mengakses pemberitaan melalui media online.Responden yang mengakses media online termasuk dalam heavy viewersdimana mereka akan lebih sering terterpa dengan berbagai pemberitaan yang adapada situs media online termasuk pemberitaan mengenai DPR RI, sehinggamereka akan lebih mudah terpengaruh untuk memberikan kesan buruk kepadaDPR RI sesuai dengan apa yang dicitrakan oleh media mengenai DPR saat ini.Bahwa media mencitrakan DPR merupakan lembaga yang banyak sekalimenerima suap, gratifikasi dan hal – hal lain yang cenderung negatif. Sementarabagi responden yang mengakses pemberitaan melalui media online dalam kategorirendah atau masuk kategori light viewers, dimana mereka tidak terlalu seringtertepa pemberitaan negatif mengenai DPR dan memandang bahwa DPR hanyasekedar lembaga negara tanpa mengerti tugas, kewajiban dan fungsi yang harusdijalankan.Dengan demikian, kegiatan mengakses pemberitaan melalui media onlinedapat memberikan pengaruh tetapi hal tersebut bergantung pada intensitasnya.Diungkapkan oleh Burgin (Lihat Bab I, hal 28) bahwa intensitas seseorang dalammengakses media dapat mempengaruhi besarnya pengaruh media terhadapbagaimana seseorang mempersepsikan dan berperilaku. Begitupula dengankeadan sebaliknya, semakin rendah intensitas seseorang dalam mengaksespemberitaan maka semakin rendah pula pengaruhnya terhadap persepsi danperilaku orang tersebut.Namun pada asumsi ekologi media yang kedua menjelaskan bahwapersepsi dan sikap kita secara tidak langsung dapat dipengaruhi oleh apa yang kitaketahui dari media, tetapi ada faktor lain yang mempengaruhi yaitu faktorpersonal. Disini yang dimaksud faktor personal adalah tingkat pendidikan yangdapat mempengaruhi bagaimana tingkat pendidikan dapat berpengaruh padapersepsi mengenai Citra DPR RI.Responden yang memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung terbukaterhadap sebuah isu yang memungkin adanya penggalian informasi lebih dalamsehingga menerima lebih banyak informasi dan membuat masyarakat yangberpendidikan tinggi tidak hanya melihat dari satu sudut pandang melainkanmelihat dari sudut pandang lainnya. Responden yang berpendidikan tinggi sudahmemiliki kebutuhan akan politik yang terbukti bahwa responden berpendidikantinggi lebih mengerti mengenai fungsi dan tugas DPR itu seperti apa, berbedadengan responden berpendidikan rendah yang hanya mengetahui DPR tanpamengerti tugas dan fungsi yang harus dijalankan.PENUTUPKesimpulan dari hasil pembagian kuesioner yang dilakukan didapatkan hasilsebagai berikut:1. Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara variabel tingkatpendidikan dengan variabel citra DPR RI. Dengan demikian,tingginya tingkat pendidikan membuat persepsi masyarakat mengenaicitra DPR RI semakin buruk.2. Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara variabel intensitasmengakses pemberitaan melalui media online dengan variabel citraDPR RI. Maka intensitas mengakses pemberitaan melalui mediaonline mendorong masyarakat untuk mempersepsikan mengenai citraDPR RI. Semakin tinggi intensitas mengakses pemberitaan melaluimedia online maka semakin buruk persepsi masyarakat mengenaicitra DPR RI.3. Tingkat pendidikan dan intensitas mengakses pemberitaan melaluimedia online dengan citra DPR secara bersama – sama berhubungandengan citra DPR RI.Sedangkan saran ditujukan kepada media, masyarakat dan penelitianselanjutnya, berupa:1. Media sebaiknya tidak hanya menampilkan keburukan danpenyelewengan yang dilakukan DPR RI melainkan juga prestasi –prestasi yang didapatkan DPR. Selain itu, media dalammemberitakan sebuah kasus DPR hendaknya tidak dilebih – lebihkanatau dengan kata lain harus memberikan berita yang seimbang, akuratdan objektif.2. Masyarakat pun harus lebih jeli dalam menilai kinerja DPR, tidakhanya melihat dari satu sudut pandang (sudut pandang media)melainkan juga dari sudut pandang lain.3. Pada penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan citra DPR RI,hendaknya dapat dilakukan dengan melihat faktor – faktor lain yangberhubungan, di luar intensitas mengakses dan tingkat pendidikan,misalnya persepsi terhadap pemberitaan, keterlibatan masyarakatdalam pembuatan kebijakan, dll. Disamping itu, penelitian juga dapatdilakukan dengan menggunakan teknik pengembilan sampel yangberbeda.
Co-Authors Achmad Habibie Taufiqqur Rahman Adi Nugroho Adinda Sekar Cinantya Aditia Nurul Huda Aditya Iman Hamidi Adityo Cahyo Aji Afif Hazly Hasibuan Agraha Dwita Sulistyajati Agus Naryoso Ahda Hanif Fauzi Ahmad Fauzi Ahmad Fikar Harakan Aike Ingget Pratiwi Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Ajeng Rengganis, Sekar Albert Rivai Sinaga Aldi Atwinda Jauhar Aldiansyah, Duvit Aldila Leksana Wati Alexandra Parahita Bening Kesumaputri Alif Ibrahim Alya Anwar, Rizqika Alyssa Jasmine Aurelia Rahmiqatrunnada Amrina Rida Hapsari Ananda Erfan Musthafa Andrea Oktavia, Helga Anggi Pramesthi Kusumarasri Anggia Anggraini Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annisa Aulia Mahari Annisa Kusumawardhani Annisya Winarni Putri Aprida Mulya, Resti Ardelia Fitriani, Neysa Ardini Koesfarmasiana, Ardini Arfika Pertiwi Putri Arif Nurochman Arinda Putri Oktaviani Aryatama Wibawa, Michael Asep Virgo Asri Aulia Rachmawati Asri Nugraheningtyas Astrid Damayanti Asty Setiandini Atika Nabila Atina Primaningtyas Aulia Nur Awang Asmoro Ayu Puspitasari, Ramadhiana Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Azzahira Putri Zakaria, Grandhis Badri Ilham Ramadhan Bagoes Praswanda, Yusrizal Banun Diyah Ardani Bareta Hendy Pamungkas Bayu Widagdo, Muhammad Bella Yunita Binarso Budiono Budiono Bisma Alief Charisma Rahma Dinasih Chintya Dyah Meidyasari Daffa Satriowibowo Daniel Dwi Listantyo Dara Pramitha Darda Putranto, Addakhil Deansa Putri Deni Arifiin Destima Nursylva Anggraningrum Devi Pranasningtias Indriani Dhira Widya Prasya, Dhira Dhiyah Puspita Sari Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Muhammad Distian Jobi Ridwan Diyan Hafdinovianti Ayu Kinasih Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dwi Mulya Ningsih Dwi Purbaningrum Eggie Nurmahabbi Eka Ardianto Farasila, Iraisa Farisa Dian Utami Fariz Dewanto Fatma Izzatussayidati Febri Ariyadi Febriana Handayani Febriandani, Anisa Fitriyani, Putri Frida Asih Pratiwi Galuh Perwitasari Ghaliyah Julya Almira Ghana Pratama, Albert Ghela Rakhma Islamey Ghita Kriska Dwi Ananda Gilang Wicaksono Hajar Azizatun Niswah Hamidah, Nadiya Handi Aditia Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hardiyanto, Muhamad Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrikus Setya Pradhana Henny Novita Rumono Hilda Maisyarah I Nyoman Winata I Nyoman Winata Ibrahim Muhammad Ramadhan Ichsan Wahyu Pratama Imam Muttaqin Indah Puspawardhani Indra Septia BW Infra Ranisetya Intan Mashitasari Ira Astri Rasika Jaya Pramono Adi Jimmy Fachrurrozy Jody Suryamar Yudha Joyo Nur Suyanto Gono Kanaya Az Zahrah Karunia Yusuf, Kevin Kembang Soca Paranggani Khairani, Indah Khairunnisya Sholikhah Kinanati Bunga Wulansari Krisna Adryanto Lintang Jati Rahina Lintang Ratri Rahmiaji LISTIANTO HINDRA PRAMONO Lizzatul Farhatiningsih Lucia Eka Pravitasari Luh Rani Wijayanti M Bayu Widagdo Maharani Easter Mahendra Zulkifli Manggala Hadi Prawira Marcia Julifar Ardianto Marsha Fildzaishma Marshanda Putri, Tyara Martia Mutiara Tasuki Marwah Gayatri Purnado Maya Lestari Melinda Wita Satryani Meriza Lestari Meta Detiana Putri Mohammad Akbar Rizal Hamidi Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yulianto Muchammad Bayu widagdo MUHAMMAD ABDUSSHOMAD Muhammad Bayu widagdo Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Fadhel Raditya Muhammad Rofiuddin Muhamy Akbar Iedani Muliawati, Ditha N S Ulfa Naafisa Maulida Pratama Nabila Rezki, Anisa Nadia Dwi Agustina Nadia Hutaminingtyas Nanik Sudaryningtyas, Nanik Naura Kamila Prasetyanti Nicho Putera Gustantyo Nidya Aldila Nikita Putri Mahardhika Nikolas Prima Ginting Ninda Nadya Nur Akbar Noni Meisavitri Novi Rosmaningrum NS Ulfa Nungki Dwi Widyastuti Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nur Shafira, Hana Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurist Surrayya Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Avita Sari Nurwijayanti Otto Fauzie Haloho Pipin F.P. Lestari Prabowo Nurwidagdyo Pranamya Dewati Prescilla Roesalya Primada Qurrota Ayun Pungkas Dwitanto Purwoko, Agus R. Sigit Pandhu Kusumawardana Radika Oktavianti, Dina Raihan Triaffandra Ramadhan, Maulana Ramadhinda, Azzahra Randyani Rarasati Raymond Soelistiono Filemon Raynaldo Faulana Pamungkas Reichan Anantyo, Muhamad Resty Widyanty Revana Meylani Rhola Bachtiar Raharjo Rifki Nur Pratiwi Rifqah Nailah Rijalul Vikry Rizka Amalia Rizka Arsianti Rizky Amalya Hadiningtyas Rizqi Ganis Ashari Rohedy Ayucandra Rohmat Pambudi Roli Harni Purba, Juita Rony Kristanto Setiawan Rosita Kemala Sari Rosyada Setijawan, Amrina Rumi Aulia Rahmanisa S Rouli Manalu Safira Nurin Aghnia Santa Cicilia Sinabariba Septian Aldo Pradita Septiana Hadiwinoto, Jessica Septiana Wulandari Suparyo Setyabudi, Gunawan Shafira Inas Nurina Shahnaz Natasha Anya Sigit Haryadi Sofi Kumala Fatma Sofianisa Rahmawati Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tan Faizal Rachman Tasya Nadia Taufik Indra Ramadhan Taufik Reza Ardianto Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Teresia Kinta Wuryandini Theresia Dita Anggraini Thriyani Rahmania Titan Armaya Tiur Agata, Elisa Tjen Jocelyn Ivana Tri Muriati Harahap, Anggi Tri Utami Triangga Ardiyanto Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Uci Andriani Veriska, Veriska Vicho Whisnurangga Vinny Avilla Barus Wahyu Aji Hernawan, Dhimas Wahyu Kuncoro Aji, Danar Wahyu Nur R, Efrilia Wahyu Widiyaningrum Widya Andhika Aji Wina Natasya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yanu Angga Andaru, Yanu Yanuar Luqman Yoga Yuniadi Yohanes Rico Ananda Putra, Yohanes Yuan Stephanie Yuliantika Hapsari Yunita Indriyaswari Yusriana, Amida YUSUF AKBAR, MUHAMMAD Zainul Asngadah Fatmawati Zelda Elsa Khabibah Zulfikar Mufti