p-Index From 2021 - 2026
7.479
P-Index
This Author published in this journals
All Journal International Journal of Public Health Science (IJPHS) Jurnal Teknologi Dan Industri Pangan Nurse Media Journal of Nursing Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Jurnal Pendidikan NUTRIRE DIAITA Jurnal Kesehatan Masyarakat (JKM) CENDEKIA UTAMA Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education Majalah Kedokteran Sriwijaya Public Health of Indonesia Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) AcTion: Aceh Nutrition Journal Jurnal Kesehatan Komunitas Jurnal Gizi dan Pangan Soedirman (JGPS) ARKESMAS [Arsip Kesehatan Masyarakat] Journal of Islamic Medicine JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis) Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (The Public Health Science Journal) Manuju : Malahayati Nursing Journal JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia Journal of Ultimate Public Health Jurnal Bidang Ilmu Kesehatan PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat Jurnal Ners ASEAN Journal of Community Engagement Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Indonesian Journal of Public Health Nutrition (IJPHN) Lentera Perawat Pharmaceutical Sciences and Research (PSR) Makara Journal of Science Jurnal Kesehatan Reproduksi Borneo Journal of Pharmacy Jurnal Kefarmasian Indonesia Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (The Public Health Science Journal) Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal) Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Jurnal Kesehatan Jurnal Ilmu Pendidikan
Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Pemanfaatan Program Pelayanan Kesehatan Status Gizi Balita Sartika, Ratu Ayu Dewi
Kesmas Vol. 5, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gizi merupakan faktor determinan utama yang berhubungan dengan kualitas sumber daya manusia. Anak-anak berusia kurang dari lima tahun adalah kelompok rentan untuk masalah gizi dan kesehatan. Tujuan penelitian ini mendapatkan faktor status gizi yang paling dominan anak usia dibawah lima tahun. Penelitian ini dilakukan terhadap sumber data sekunder data riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007. Penelitian ini menggunakan metode analisis multivariat untuk menilai berbagai faktor risiko yang berhubungan dengan status nutrisi. Menggunakan berat badan untuk umur, faktor risiko paling dominan adalah diare setelah dikontrol dengan sumber air minum, ketersediaan latrine, status sosioekonomi, ukuran keluarga, gender, pemanfaatan pelayanan kesehatan, penyakit saluran napas, pekerjaan ibu dan waktu pemberian air susu ibu sampai dua tahun. Menggunakan tinggi untuk tinggi badan faktor risiko dominan adalah ketersediaan latrines setelah dikendalikan oleh perilaku cuci tangan, status sosial ekonomi, sumber air minum, durasi pemberian ASI sampai dua tahun. Untuk mengatasi masalah gizi pada anak usia di bawah lima tahun dibutuhkan kebijakan yang terfokus memulihkan pertumbuhan dan status kesehatan anak usia di bawah lima tahun dengan korelasi antara program gizi dan program lain, seperti kesehatan lingkungan dan imunisasi. Selain itu, pemerintah harus mengatur peranan posyandu sebagai fasilitas yang membantu pemerintah untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat. Nutrition is one of the major determinant factors related to human resources quality. Under-five years old children are susceptible to nutrition and health problems. The purpose of this study is to identify the most dominant factor of nutritional status of under five children using Riskesdas data in 2007. Multivariate analysis results showed that the risk factor which mostly associated with nutritional status using weight for age was a diarrheal illness after being controlled by the source of drinking water, latrine availability, socio-economic status, family size, gender, utilization of health services, respiratory diseases, maternal employment, and duration of breastfeeding up to 2 years. Using height for age was the availability of latrines after being controlled by hand-washing habits, socioe-conomic status, source of drinking water, duration of breastfeeding up to 2 years, diarrheal disease, family size and gender. Using weight for height was sex after being controlled by age, drinking water sources, distance and time to health services and respiratory disease. To overcome malnourished problem in children under five years old, it is needed to establish a policy focusing on the recovery of the growth and health status for under-five children with correlation between nutrition program and other programs, such as environmental health (clean and healthy life style) and immunization. Beside that, the government should arrange the role of the posyandu as a facility that help government to increase the health status of community.
Prevalensi dan Determinan Kelebihan Berat Badan dan Kegemukan pada Anak Berusia 5-15 Tahun Sartika, Ratu Ayu Dewi
Kesmas Vol. 5, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelebihan berat badan dan kegemukan, suatu keadaan lemak tubuh yang berlebihan, merupakan masalah kesehatan di negara-negara maju dan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan determinan kelebihan berat badan dan kegemukan anak usia 5-15 tahun menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007. Ditemukan bahwa prevalensi kelebihan berat badan dan kegemukan pada anak berusia usia 5-15 tahun masing-masing 7,4% dan 8,3%. Jika dikontrol oleh jenis kelamin, tingkat pendidikan, riwayat kegemukan ibu, kebiasaan konsumsi buah mingguan, kebiasaan merokok, dan asupan energi, faktor paling dominan yang berhubungan dengan kelebihan berat badan (> 85% persentil) anak adalah riwayat kegemukan ayah. Disimpulkan bahwa keturunan merupakan faktor penting kelebihan berat badan dan kegemukan pada anak-anak. Program intervensi kesehatan masyarakat sebaiknya ditujukan pada keluarga dan determinan sosial yang difokuskan pada perubahan gaya hidup seperti membiasakan untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi kalori dan gula serta orang tua sebaiknya mengembangkan suatu pola aktivitas fisik anak yang dapat merangsang gerakan olah tubuh. Overweight and obesity, a condition where the amount of body fat is in excess, are health problems in both developed and developing countries including Indonesia. The purpose of this study was to determine the prevalence and determinant of overweight and obesity in children using 2007 Basic Health Research data. It was found that the prevalence of overweight and obesity in children aged 5 to 15 years old are 7,4% and 8,3%, respectively. If controlled by sex, education level, history of mother’s obesity, weekly habit to consume fruit, smoking habit, and energy intake, the most dominant factor related to children overweight (> 85%) is the history of father’s obesity. It is concluded that genetics are important factors of overweight and obesity in children. Public health intervention should address family and social determinants with a focus on the change in life style i.e not too much eating high calories and sugar and parents should develop physical activity patterns to stimulate their activity.
Penerapan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Gizi terhadap Perilaku Sarapan Siswa Sekolah Dasar Sartika, Ratu Ayu Dewi
Kesmas Vol. 7, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sarapan pagi merupakan kegiatan makan yang paling penting dalam memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi dalam sehari. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) gizi terhadap perilaku sarapan pagi siswa sekolah dasar di Kabupaten Bogor. Desain studi penelitian ini adalah kuasi-eksperimental, pre-post intervention. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan kegiatan KIE gizi diperoleh peningkatan skor rata-rata pengetahuan dan perilaku siswa terhadap kebiasaan sarapan pagi (nilai p < 0,05). Media yang digunakan adalah kartu bergambar, kartu kuartet, ular tangga, tebak gambar, teka teki silang (TTS), leaflet, poster, dan lomba cerdas cermat. Peran ibu sebagai penyedia sarapan pagi bagi siswa sangat penting terutama dalam menghindari kebosanan siswa terhadap menu yang disediakan. Sebaiknya pihak sekolah bekerja sama dengan Persatuan Orang Tua Murid dan puskesmas untuk menggiatkan kembali Usaha Kesehatan Sekolah dengan melakukan kegiatan promosi kesehatan bagi ibu/pengasuh siswa, khususnya tentang bagaimana merencanakan menu sarapan pagi yang enak, praktis, dan sehat bagi siswa. Breakfast as the most important meal of the day, contributing substantially to daily nutrient intake and energy needs. This study was conducted to determine the effect of communication, information, and education toward the breakfast behavior of primary school students in Bogor. The study design was quasi-experimental design with pre and post intervention. The study results showed that there were increased knowledge and attitudes towards the habit of breakfast (p value < 0,05). The media used were picture card, quartet card, the ladder snake, guess the picture, crossword puzzle, leaflet, poster, and quizes. Mother’s role as a breakfast provider for students is important in avoiding students who are bored with menu provided. Collaboration needed between school unit, parents, and staff of public health center to revitalize the School Health Program with health promotion activities for mothers/caregivers of students, especially about how to plan and serve a delicious breakfast menu, easy making, and healthy for students.
Asupan Gizi dan Mengantuk pada Mahasiswa Rasmada, Sada; Triyanti, Triyanti; M. Indrawani, Yvonne; Sartika, Ratu Ayu Dewi
Kesmas Vol. 7, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asupan nutrisi dan energi, status nutrisi, serta aktivitas harian berpengaruh pada kejadian mengantuk yang berpengaruh negatif pada konsentrasi dan produktivitas belajar pada mahasiswa. Kejadian mengantuk berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif yang disebabkan oleh defisiensi zat besi. Seseorang yang mengantuk akan mengalami penurunan aktivitas fisik yang menyebabkan kelebihan berat badan sehingga berisiko lebih tinggi untuk terkena penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor dominan yang berpengaruh pada kejadian mengantuk di kalangan mahasiswa. Penelitian dengan desain studi cross sectional ini dilakukan terhadap sampel 139 mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Proporsi mahasiswa yang hampir mengantuk sekitar 28,80%. Terdapat hubungan yang signifikan antara durasi tidur dan masalah kantuk (nilai p = 0,048). Mahasiswa dengan durasi tidur < 8 jam per hari mengalami kejadian mengantuk 0,50 kali lebih besar daripada mahasiswa dengan durasi tidur > 8 jam per hari. Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian mengantuk adalah durasi tidur setelah dikontrol dengan asupan protein dan lemak, aktivitas fisik, dan paparan media. Mahasiswa yang sering mengantuk memperlihatkan asupan zat besi rendah sehingga disarankan untuk meningkatkan asupan zat besi yang berasal dari sumber makanan yang mengandung heme. Nutrient and energy intake, nutrition status, and daily activity could give impact for sleepiness problem. Sleepiness related to the decreasing of cognitive ability that caused by iron deficiency. A person who feels sleepy will have a lack of physical activities that lead to overweight and therefore has a higher risk to suffer degenerative diseases such as cardiovascular and diabetes mellitus. This study aimed to analyze dominant factor that can give influence to sleepiness problem among students. The cross sectional research used 139 students of Faculty of Public Health University of Indonesia. The percentage of students who is almost sleepy was 28,80%. This research showed the association between sleep duration and somnolence problem is significant (p value = 0,048). Students with sleep duration < 8 hours a day could be 0,50 times more sleepy than students with sleep duration > 8 hours a day. The dominant factor is sleep duration after controlled by protein and fat intake, physical activity, and media exposure. Students that frequently feels sleepy indicated low iron intake so that suggested to increase the iron intake through consuming heme contained food.
Obesitas pada Pekerja Minyak dan Gas Christina, Dilla; Sartika, Ratu Ayu Dewi
Kesmas Vol. 6, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa tahun terakhir angka obesitas di Indonesia cenderung meningkat. Obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan dan output energi dalam jangka waktu cukup lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko kejadian obesitas pada pekerja on shore di perusahaan minyak dan gas. Desain penelitian ini adalah studi cross sectional. Sampel yang diteliti adalah seluruh pekerja on shore (laki-laki maupun perempuan) berusia 35 – 55 tahun yang sesuai dan memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi yang telah ditetapkan (n = 378). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi obesitas (IMT ³ 25 kg/m2) pada pekerja on-shore sebesar 49,5%. Variabel umur, tingkat pendidikan, status pegawai, asupan energi, karbohidrat, dan serat memiliki hubungan signifikan dengan kejadian obesitas (nilai p < 0,05). Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian obesitas adalah tingkat pendidikan (OR = 2,85; 95%CI = 1,240 – 6,502). Tingginya prevalensi obesitas pada pekerja memerlukan perhatian yang lebih serius dari pihak perusahaan dalam menanggulangi masalah obesitas melalui upaya peningkatan program komunikasi, informasi, dan edukasi gizi yang lebih terarah dan terprogram serta perlu dilakukan sosialisasi untuk memantau berat badan dan lingkar pinggang-panggul secara rutin untuk mencegah timbulnya penyakit jantung koroner. In the last few years the incidence of obesity in Indonesia tends to increase. Obesity is caused by an imbalance between energy intake and output in a long term. The purpose of this study was to identify risk factors in the incidence of obesity of the workers on-shore oil and gas companies. This research designed by cross sectional study.The subject of this research was on shore workers of oil and gas company (male and female) aged 35 – 55 years old in East Kalimantan and were eligible for inclusion and exclusion criteria (n = 378). The results showed that the prevalence of obesity of on-shore workers was as high as 49.5% (BMI ³ 25 kg/m2). Age, level of education, employement status, energy, carbohydrate, and fiber intake were associated with obesity (p value < 0,05). The most dominant factor associated with obesity was level of education (OR = 2,85; 95%CI = 1,240 - 6,502). The high prevalence of obesity in the workers need more serious attention from the company in overcoming the problem of obesity, by enhancing the EIC program with more focused and sustainable, and need to socialize monitoring of body weight and waist-hip circumference regularly to prevent coronary heart disease.
Perbandingan Tingkat Kepuasan Kerja Perawat dan Kepuasan Pasien Noras, Jamilla Upik; Sartika, Ratu Ayu Dewi
Kesmas Vol. 6, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perawat adalah ujung tombak pemberi pelayanan langsung pada pasien selama 24 jam. Tujuan penelitian adalah untuk membandingkan tingkat kepuasan kerja perawat dengan kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan kelas 3 di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) X Jakarta. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain studi cross sectional, pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Populasi adalah seluruh perawat yang bertugas sebagai pelaksana keperawatan kelas 3 sebanyak 40 orang ser- ta pasien yang dirawat di ruang rawat inap kelas 3 sebanyak 120 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil pengukuran kuantitatif menunjukkan bah- wa tingkat kepuasan kerja perawat pelaksana di kelas 3 dikategorikan “ren- dah”, (22,5%) sedangkan tingkat kepuasan pasien terhadap layanan keperawatan sebesar 85,0% (nilai p > 0,05). Ketidakpuasan kerja perawat yang tinggi tidak berdampak pada kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan. Untuk perbaikan ketidakpuasan kerja perawat, manajemen rumah sakit sebaiknya meninjau kembali kebijakan tentang pakaian dinas, menu makanan pada saat jaga, dan merancang kamar ganti perawat. Selain itu, perlu dilakukan perhitungan jasa pelayanan perawat dengan memperhatikan risiko keterpaparan terhadap penyakit. Supervisor diharapkan dapat lebih membuka diri untuk mendengarkan masalah yang dihadapi perawat pelaksana melalui komunikasi dan hubungan interpersonal secara informal. Nurses are front liner in providing nursing services directly to customers for 24 hours. The purpose of this study was to compare the level of job sa- tisfaction of nurses to patient satisfaction in the third class departement in general hospital of Jakarta. This study was a cross sectional study designed with quantitative and qualitative approaches. The study population was all nurses who served as executive nurses (40 nurses) and patients treated in the inpatient (120 patients). Sampling was conducted purposively according to inclusion and exclusion criteria. The results of quantitative measurements showed that the level of job satisfaction of nurses categorized as “low” (22,5%), while the level of patient satisfaction on nursing service at 85,0% (p value > 0,05). The high job dissatisfaction of nurses had no impact on patient satisfaction. To decrease the job dissatisfaction of nurses, hospital management should review the policy on official clothing, meals at the guard, and design the locker room of nurses. It also performed the cal- culation of nursing services with the risk of exposure to disease and supervisors more open to listen the problems faced by nurses with communication and informal interpersonal relationships.
Exclusive Breastfeeding Intention among Pregnant Women Permatasari, Tria Astika Endah; Sartika, Ratu Ayu Dewi; Achadi, Endang Laksminingsih; Purwono, Urip; Irawati, Anies; Ocviyanti, Dwiana; Martha, Evi
Kesmas Vol. 12, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Intensi pemberian ASI eksklusif adalah intensi ibu untuk memberikan hanya ASI pada bayinya sejak dilahirkan hingga berusia enam bulan. Intensi pada periode prenatal merupakan penentu langsung pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor paling dominan berhubungan dengan intensi pemberian ASI eksklusif pada ibu hamil di sebuah rumah sakit ibu dan anak di Kota Tangerang Selatan. Penelitian dengan desain studi potong lintang dilakukan secara primer. Sampel berjumlah 143 ibu hamil trimester ketiga dipilih secara purposive sampling. Intensi pemberian ASI eksklusif diukur menggunakan kuesioner the Infant Feeding Intentions scale. Sedangkan sikap, norma subjektif dan persepsi kontrol perilaku dinilai menggunakan modifikasi kuesioner Breastfeeding Attrition Prediction Tool. Data dianalisis menggunakan analisis regresi logistik ganda. Sebanyak 61,5% ibu memiliki intensi kuat memberikan ASI eksklusif. Persepsi kontrol perilaku paling dominan berhubungan dengan intensi pemberian ASI eksklusif, (p=0,007; Odds Ratio 3,030; 95% CI 1,361-6,746). Faktor lainnya yang berhubungan dengan intensi adalah sikap, keterpaparan ibu terhadap ASI eksklusif dari media sosial, dukungan tenaga kesehatan, pengalaman menyusui sebelumnya, dan pekerjaan ibu dengan persepsi kontrol perilaku tinggi berpeluang tiga kali lebih besar memiliki ‘intensi tinggi’ untuk memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu berpersepsi kontrol perilaku rendah. Exclusive breastfeeding intention is a mother’s intention to provide her baby only breast milk since the infant was born until at the age of 6 months. Intention in prenatal period is the direct affirmation of exclusive breastfeeding. This study aimed to find out the most dominant factor related to exclusive breastfeeding intention among pregnant women at a mother and child hospital in South Tangerang. A cross-sectional study design was conducted primarily. The samples were 143 pregnant women on their third trimester pregnancy selected by purposive sampling. Intention was measured by the Infant Feeding Intention scale questionnaire. Meanwhile, attitude, subjective norms, and perceived behavioral control were measured by the modified Breastfeeding Attrition Prediction Tool questionnaire. Data were analyzed using the multivariate logistic regression analysis. It was 61.5% mother had strong exclusive breastfeeding intention. Perceived behavioral control dominantly influenced the exclusive breastfeeding intention (p value = 0.007; Odds Ratio 3.030; 95% CI = 1.361 6.746). The other factors influencing intention were attitude, exposure to exclusive breastfeeding from social media, health workers’ support, previous breastfeeding experience and mothers’ occupation. A mother with high perceived behavioral control has three times more likely to have ‘high exclusive breastfeeding intention’ than those having the low ones.
Obesity as Type 2 Diabetes Common Comorbidity: Study of Type 2 Diabetes Patients’ Eating Behaviour and Other Determinants in Jakarta, Indonesia Fajarini, Isna Aulia; Sartika, Ratu Ayu Dewi
Kesmas Vol. 13, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obesity is one of the comorbidities widely occurred among type 2 diabetes patients. It is one of the most modifiable risk factors for the prevention of other comorbid conditions such as diabetic nephropathy and cardiovascular disease. The aim of this study was to recognize eating behaviour, physical activity, and other related factors, also their correlation with obesity as comorbidity among type 2 diabetes patients. Using cross-sectional design, data were collected from purposively selected 133 members of “PROLANIS” in Jatinegara Primary Health Care, East Jakarta. Food intake was assessed by 1x24 hours food recall and FFQ, physical activity by GPAQ. The result showed 63,9% of adult with type 2 diabetes were obese (BMI ≥25 kg/m2), fat intake was higher than recommendation (30,77±9,06%), but mean energy intake was insufficient compared to energy requirement (62,06±23,67%). The prevalence of obesity among adults with type 2 diabetes is found associated with nutrition knowledge, level of education, and length of suffering type 2 diabetes. Nutrition education is important to reduce the prevalence of obesity among adults with type 2 diabetes.
Exclusive Breastfeeding Intention among Pregnant Women Permatasari, Tria Astika Endah; Sartika, Ratu Ayu Dewi; Achadi, Endang Laksminingsih; Purwono, Urip; Irawati, Anies; Ocviyanti, Dwiana; Martha, Evi
Kesmas Vol. 12, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Intensi pemberian ASI eksklusif adalah intensi ibu untuk memberikan hanya ASI pada bayinya sejak dilahirkan hingga berusia enam bulan. Intensi pada periode prenatal merupakan penentu langsung pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor paling dominan berhubungan dengan intensi pemberian ASI eksklusif pada ibu hamil di sebuah rumah sakit ibu dan anak di Kota Tangerang Selatan. Penelitian dengan desain studi potong lintang dilakukan secara primer. Sampel berjumlah 143 ibu hamil trimester ketiga dipilih secara purposive sampling. Intensi pemberian ASI eksklusif diukur menggunakan kuesioner the Infant Feeding Intentions scale. Sedangkan sikap, norma subjektif dan persepsi kontrol perilaku dinilai menggunakan modifikasi kuesioner Breastfeeding Attrition Prediction Tool. Data dianalisis menggunakan analisis regresi logistik ganda. Sebanyak 61,5% ibu memiliki intensi kuat memberikan ASI eksklusif. Persepsi kontrol perilaku paling dominan berhubungan dengan intensi pemberian ASI eksklusif, (p=0,007; Odds Ratio 3,030; 95% CI 1,361-6,746). Faktor lainnya yang berhubungan dengan intensi adalah sikap, keterpaparan ibu terhadap ASI eksklusif dari media sosial, dukungan tenaga kesehatan, pengalaman menyusui sebelumnya, dan pekerjaan ibu dengan persepsi kontrol perilaku tinggi berpeluang tiga kali lebih besar memiliki ‘intensi tinggi’ untuk memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu berpersepsi kontrol perilaku rendah. Exclusive breastfeeding intention is a mother’s intention to provide her baby only breast milk since the infant was born until at the age of 6 months. Intention in prenatal period is the direct affirmation of exclusive breastfeeding. This study aimed to find out the most dominant factor related to exclusive breastfeeding intention among pregnant women at a mother and child hospital in South Tangerang. A cross-sectional study design was conducted primarily. The samples were 143 pregnant women on their third trimester pregnancy selected by purposive sampling. Intention was measured by the Infant Feeding Intention scale questionnaire. Meanwhile, attitude, subjective norms, and perceived behavioral control were measured by the modified Breastfeeding Attrition Prediction Tool questionnaire. Data were analyzed using the multivariate logistic regression analysis. It was 61.5% mother had strong exclusive breastfeeding intention. Perceived behavioral control dominantly influenced the exclusive breastfeeding intention (p value = 0.007; Odds Ratio 3.030; 95% CI = 1.361 6.746). The other factors influencing intention were attitude, exposure to exclusive breastfeeding from social media, health workers’ support, previous breastfeeding experience and mothers’ occupation. A mother with high perceived behavioral control has three times more likely to have ‘high exclusive breastfeeding intention’ than those having the low ones.
Gangguan Kepadatan Tulang pada Orang Dewasa di Daerah Urban dan Rural Mardiyah, Sarah; Sartika, Ratu Ayu Dewi
Kesmas Vol. 8, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan kepadatan tulang atau osteoporosis dan osteopenia merupakan masalah kesehatan masyarakat utama yang disebabkan oleh banyak faktor. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui berbagai faktor yang berhubungan dengan gangguan kepadatan tulang pada kelompok usia dewasa di daerah urban dan rural terpilih di Provinsi Jawa Barat tahun 2012. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan sampel 142 responden. Penelitian dilakukan pada bulan Mei - Juni 2012 di Pesona Khayangan, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, sebagai daerah urban dan Desa Pabuaran, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor sebagai daerah rural. Prevalensi gangguan kepadatan tulang dalam penelitian ini adalah sekitar 31,7% (4,2% osteoporosis dan 27,5% osteopenia). Analisis multivariat menemukan responden yang mempunyai indeks massa tubuh (IMT) < 23,49 kg/m2 berisiko mengalami gangguan kepadatan tulang 5,5 kali lebih tinggi daripada responden dengan IMT > 27,36 kg/m2. Responden yang mempunyai IMT 23,49 _ 27,36 kg/m2 berisiko mengalami gangguan kepadatan tulang 2,2 kali lebih tinggi daripada responden yang mempunyai IMT > 27,36 kg/m2 setelah dikontrol variabel usia, asupan vitamin D, dan asupan protein. Pada penelitian ini, IMT merupakan faktor yang paling berhubungan dengan gangguan kepadatan tulang setelah dikontrol variabel usia, asupan vitamin D, dan asupan protein. Semakin rendah IMT,maka semakin tinggi risiko gangguan kepadatan tulang. Bone density disorder (osteoporosis and osteopenia) is a major public health problem caused by multifactor. The purpose of this study was to find out factors related to adult bone density disorder in the selected urban and rural area, West Java Province, 2012. It used cross-sectional method and the samples were 142 respondents. The data was taken from 2012 May to June in Pesona Khayangan, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok as the urban area and Desa Pabuaran, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor as the rural area. Prevalence of bone density disorder in this study was 31.7% (4.2% osteoporosis and 27.5% osteopenia). Multivariate analysis verified that respondent with body mass index (BMI) < 23.49 kg/m2 will 5.5 times higher to have bone density disorder than respondent with BMI > 27.36 kg/m2. Respondent with BMI 23.49 _ 27.36 kg/m2 will 2.2 times higher to have bone density disorder than respondent with BMI > 27.36 kg/m2 after controlled by age, vitamin D and protein intake variable. In this study, BMI is the most related factor of bone density disorder after controlled by age, vitamin D and protein intake variable. The lower BMI, the higher risk of bone density disorder.
Co-Authors Adeline Vashtianada Agnia Nurul Hikmah Ahmad Syafiq Aini, Wita Nurul Akbar, M. Agung Alfiandary, Amalia Ratna Andini Retno Yunitasari Anies Irawati Anies Irawati Anis Kurniawati Annisa Nursita Angesti Aprilianti, Ririn Citra Asih Setiarini Asih Setiarini Asti Shafira Ayu Anisadiyah Bambang Setiaji Berna Elya Bernadette Victoria Damayanthie, Nasriah Diah Mulyawati Utari Diah Utari Dian Ayubi Didi Kurniawan Dilla Christina Dilla Christina Dwiana Ocviyanti Endang L. Achadi Endang Laksminingsih Achadi Endang Laksminingsih Achadi Etty Rekawati Evi Martha Fadila Wirawan Fajarini, Isna Aulia Fatma Syukrina Fatmah Fatmah Fety Fathimah Al Mubarokah Fitri Hudayani Gupta, Prateek Hafshah Farah Fadhilah Haifa, Alifia Fauziyyah Hanita Rizki Tuzahra Hasbullah Thabrany Hermawan Saputra Hikmah, Agnia Nurul Hudayani, Fitri Iche Andriyani Liberty, Iche Andriyani Ilham Ibrahim Ira Primona Simarmata Irgananda, Anisa Ilhami Isna Aulia Fajarini Ivans Panduwiguna Jamilla Upik Noras Jamilla Upik Noras Jufran Juanda Junaiti Sahar Junengsih Junengsih Kalinaki Hanifar Kelvin Halim Kusharisupeni Djokosujono Mizna Sabilla Muhammad Ridho Nugroho Mukhlidah Hanun Siregar Nabbila Dinda Pramesti Nabilla Atelya Nadia Husnul Khotima Neilva Lailatusyifa Nia Apsari Ningsih, Winda M Norma B Toduho Nur Intania Sofianita Nurul Dina Rahmawati Nurul Dina Rahmawati Nuryandari, Primasti Nuryati, Tati Panduwiguna, Ivans Prateek Gupta Prihantinah, Wenty Primasti Nuryandari Putri Primasti Nuryandari Putri Primasti Nuryandari Putri Primasti Nuryandari Putri Primasti Nuryandari Putri Primastri Nuryandari Putri Puspitasari, Rara Merinda Putri, Primasti Nuryandari Putri, Rizti Millva Qomariyanti, Khairunisa Qomariyanti, Khairunnisa Qori Az- Zahra Rahmawati, Nurul Dina Rahmi Safyanty Rani Sauriasari Rani Sauriasari, Rani Ratih Dewanti -Hariyadi Renaldi, Fransiskus Samuel Retnosari Andrajati Retnosari Andrajati Ririn Akmal Sari Ririn Arminsih Wulandari Riris Sakinah Rissa Rizkiia Z Rizti Millva Putri Rizti Millva Putri Rizti Millva Putri Rooslanda, Elfrida Ruth Desinta Purnamasari Sada Rasmada Sada Rasmada Safyanty, Rahmi Salsabila Kurnianingtyas Sandra Fikawati Santoso, Cornelia Lugita Sarah Mardiyah Sarah Mardiyah Sholihah, Lini Anisfatus Shukri, Nurul Husna Mohd Siska Maytasari Siti A Pujonarti Siti Chodijah Siti Hana Suci Hajati Husma Suci Reno Monalisa Sudibyo Supardi Sudibyo Supardi Suryani, Tatiek Tria Astika Endah Permatasari Trini Sudarti Trini Sudiarti Trini Sudiarti Triyanti Triyanti Triyanti Triyanti Triyanti Triyanti Triyanti Triyanti Triyanti Triyanti Urip Purwono Urip Purwono Veryanti, Putu Rika Victoria, Bernadette Wawan Gunawan Wilis, Nabila Sekar Winda Mulia Ningsih Winda Mulia Ningsih Winda Mulianingsih Wirawan, Fadila Wita Nurul Aini Woro Riyadina Woro Riyadina Yessy Nur Handayani Youvita Indamaika Simbolon Yuliyani Yuliyani YUSNITA YUSNITA Yvonne M. Indrawani Yvonne M. Indrawani Yvonne M. Indrawani