p-Index From 2021 - 2026
9.728
P-Index
This Author published in this journals
All Journal LAW REFORM Syiar Hukum: Jurnal Ilmu Hukum Spektrum Hukum Jurnal Pamator : Jurnal Ilmiah Universitas Trunojoyo Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Al-Jinayah: Jurnal Hukum Pidana Islam SOEPRA Jurnal Hukum Kesehatan Jambe Law Journal Lex Lata: Jurnal Ilmah Ilmu Hukum Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Interdental Jurnal Kedokteran Gigi (IJKG) LEGAL BRIEF Jurnal Hukum Lex Generalis Journal La Sociale Multidiciplinary Output Research for Actual and International Issue (Morfai Journal) Indonesian Journal of Social Science Research Law Development Journal Collegium Studiosum Journal Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Jurnal Riset Ilmu Hukum Iustitia Omnibus (Jurnal Ilmu Hukum) Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik (JIHHP) Journal of Law, Poliitic and Humanities Journal of Sharia (JOSH) Yuris: Journal of Court and Justice Jurnal Hukum Prioris Literacy : International Scientific Journals of Social, Education, Humanities Bandung Conference Series: Law Studies Journal of Scientific Research, Education, and Technology Jurnal Smart Hukum (JSH) Innovative: Journal Of Social Science Research Sinergi International Journal of Law Influence: International Journal of Science Review Jurnal Multidisiplin Indonesia Jurnal Hukum Islam Journal of Law and Social Politics Konstruksi Sosial: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial Amwaluna: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences Sultan Adam : Jurnal Hukum dan Sosial Jurnal Cendekia Ilmiah Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora Sharia: Jurnal Kajian Islam Al Qodiri: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Claim Missing Document
Check
Articles

Reconsidering the Death Penalty for Bribery in Law Enforcement to Prevent and Eradicate Corruption in Indonesia Ridwan, Ridwan; Setiadi, Edi; Sambas, Nandang; Kartika, Arie; Anditya, Ariesta Wibisono
Jambe Law Journal Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Law, Jambi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/41zyxg03

Abstract

Corruption is classified as an extraordinary crime due to its destructive impact on state administration, economic development, and public trust. Among the various forms of corruption in Indonesia, bribery constitutes the most fundamental and systemic offense, serving as the primary mechanism through which corruption is initiated, maintained, and normalized within public institutions. Within the justice system, bribery in law enforcement represents one of the most dangerous and corrosive forms of corruption, as it directly undermines the integrity of investigations, prosecutions, and judicial decisions. For this reason, extraordinary legal measures – including the death penalty – can serve as an alternative means to address severe bribery offenses. Nevertheless, its application in Indonesia faces legal challenges, mainly due to the shortcomings of the formulation of the death penalty provisions in the current Law on the Eradication of Corruption Crimes. Comparing with neighbouring countries concerning legal provisions for bribery, the author will assess how the reformulation or reconstruction of death penalty provisions could enhance the deterrent effect on corrupt officials in Indonesia. This study demonstrates that, despite ongoing debates over its implementation, the death penalty for bribery takers in Indonesia has a sound legal and rational foundation. Within law enforcement, it could strengthen the decisiveness of existing regulations and enhance their deterrent effect against such practices
Pemberatan Sanksi Pidana Kekerasan terhadap Tenaga Medis: Tinjauan Yuridis Undang Undang Kesehatan 2023 Opan Rusyanto; Nandang Sambas; Arinto Nurcahyono
Konstruksi Sosial : Jurnal Penelitian Ilmu Sosial Vol. 5 No. 4 (2025): Volume 5 Nomor 4 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/konstruksisosial.v5i4.4064

Abstract

Fenomena meningkatnya kasus kekerasan terhadap tenaga medis merupakan persoalan serius yang berpotensi mengganggu keberlangsungan dan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Tenaga medis, sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan, kerap berada pada posisi rentan akibat tekanan situasional, ketidakpuasan pasien, maupun rendahnya kesadaran hukum masyarakat. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan telah memberikan penguatan terhadap hak dan perlindungan hukum bagi tenaga medis. Namun demikian, pengaturan mengenai kekerasan terhadap tenaga medis dalam regulasi tersebut masih bersifat umum dan belum dirumuskan secara eksplisit sebagai delik khusus dalam sistem hukum pidana Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis urgensi pengaturan kekerasan terhadap tenaga medis sebagai delik khusus serta kebutuhan pemberatan sanksi pidana pasca berlakunya UU Nomor 17 Tahun 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan perbandingan hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiadaan pengaturan delik khusus mengakibatkan lemahnya efek jera, ketidakpastian hukum dalam penegakan pidana, serta belum optimalnya perlindungan hukum bagi tenaga medis. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan adanya reformulasi kebijakan hukum pidana melalui pengaturan kekerasan terhadap tenaga medis sebagai delik khusus yang disertai dengan pemberatan sanksi pidana, guna menjamin kepastian hukum, rasa keadilan, serta perlindungan terhadap profesi medis dalam menjalankan tugasnya.
INTEGRITAS APARAT PENEGAK HUKUM DAN KEPERCAYAAN PUBLIK: ANALISIS SOSIOLOGI HUKUM DI INDONESIA Adinda Nurrizkia Hijriani; Nandang Sambas
JOSH: Journal of Sharia Vol. 5 No. 01 (2026): Vol. 05 No. 01 Januari 2026
Publisher : Universitas Sunan Drajat Lamongan, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55352/josh.v5i01.2641

Abstract

Integrity of law enforcement officers plays a crucial role in shaping public trust toward the legal system. From the perspective of sociology of law, law is not merely a set of written norms but also a social practice influenced by the behavior, values, and culture of legal actors. This article aims to analyze the relationship between the integrity of law enforcement officers and public trust in law enforcement in Indonesia. This research employs a normative juridical method combined with a sociological approach, examining legal doctrines, sociological theories of law, and empirical social phenomena related to law enforcement practices. The study finds that low integrity among law enforcement officers significantly undermines public trust, which in turn weakens the legitimacy and effectiveness of law. Therefore, strengthening the integrity of law enforcement officers is a fundamental prerequisite for building a credible and socially legitimate legal system in Indonesia.
The Dialectic of Natural Law and Fiqh Al-Mu'amalah in Determining Copyright as A Fair Marital Property Lily Andayani; Nandang Sambas
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 24 No. 2 (2026): Al Qodiri: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53515/alqodiri.v24i2.224

Abstract

Copyright has increasingly become an economically valuable intangible asset, yet its legal status as marital property remains uncertain within Indonesia's pluralistic legal system. This study examines how the dialectical interaction between Western Natural Law and fiqh al-mu'amalah can establish a coherent normative framework for determining copyright as fair marital property. Employing normative legal research, the study applies statutory, conceptual, comparative, philosophical, and Islamic legal approaches to analyze primary, secondary, and tertiary legal materials through doctrinal interpretation and dialectical synthesis. The findings reveal that both legal traditions converge in recognizing copyright as an intangible property rissght while distinguishing between its moral and economic dimensions. Moral rights remain exclusively attached to the creator, whereas economic rights and royalties acquired during marriage may constitute marital property subject to equitable distribution based on each spouse's contribution. The study proposes an integrated normative framework grounded in distributive justice, maqashid al-shari'ah, hifzh al-mal, and maslahah to address existing legal uncertainty and strengthen coherence between intellectual property law and family law. By bridging Western legal philosophy and Islamic jurisprudence, this research contributes a theoretically grounded and practically applicable framework that supports judges, legislators, and legal practitioners in resolving copyright-related marital property disputes more consistently and equitably.
Pertanggungjawaban Hukum Bidan Praktik Mandiri Terhadap Pelanggaran Hukum Dalam Pelayanan Praktik Bidan Mandiri Anggraini Pandu Winata. SY; H. Nandang Sambas
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.14835

Abstract

Praktik kebidanan mandiri sebagai bagian dari pelayanan kesehatan berpotensi menimbulkan implikasi hukum apabila tindakan yang dilakukan tidak selaras dengan standar profesi dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Penilaian terhadap adanya malpraktik tidak dapat didasarkan semata-mata pada timbulnya kerugian pada pasien, melainkan harus ditentukan melalui pembuktian unsur perbuatan melawan hukum dan kesalahan yang dapat dipertanggungjawabkan secara yuridis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk pertanggungjawaban hukum bidan dalam praktik mandiri serta mekanisme perlindungan hukum bagi pasien. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan deskriptif analitis, berbasis pada data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, doktrin hukum, dan literatur hukum kesehatan. Analisis data dilakukan secara kualitatif normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanggungjawaban hukum bidan, baik dalam ranah pidana maupun perdata, hanya dapat dikenakan apabila terbukti adanya pelanggaran kewajiban hukum yang disertai unsur kesalahan, baik berupa kesengajaan maupun kelalaian, serta hubungan kausal dengan kerugian yang dialami pasien. Perlindungan hukum terhadap pasien diwujudkan melalui pengakuan hak-hak pasien, mekanisme pengaduan, serta peran organisasi profesi dan penegakan hukum sesuai ketentuan yang berlaku. Penelitian ini menegaskan pentingnya standar profesi sebagai tolok ukur utama dalam menilai tanggung jawab hukum bidan, sekaligus sebagai sarana untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan pasien dan kepastian hukum bagi tenaga kesehatan.
Filsafat Hukum dan Filsafat Hukum Islam - Daa107 Edwin Darmawansyah; Rahmat Syafii; Nandang Sambas; Panji Alam
Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 8 (2026): Jurnal Multidisiplin Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jmi.v5i8.2852

Abstract

Ketidakpastian hukum yang dihadapi dokter dalam tindakan medis darurat di Indonesia, sebagaimana tercermin dalam inkonsistensi antara Putusan Kasasi Mahkamah Agung Nomor 365 K/Pid/2012 dan Putusan Peninjauan Kembali Nomor 79 PK/Pid/2013, menimbulkan urgensi untuk mengkaji secara filosofis perlunya hak imunitas hukum bagi dokter melalui penerapan Good Samaritan Law. Artikel ini bertujuan menganalisis urgensi hak imunitas tersebut dengan menggunakan dua kerangka filsafat hukum sekaligus, yang dipandang saling melengkapi mengingat karakter sistem hukum Indonesia yang plural dan berakar pada berbagai tradisi pemikiran, yaitu filsafat hukum Barat, melalui teori keadilan John Rawls, teori utilitarianisme Jeremy Bentham, dan teori tujuan hukum Gustav Radbruch yang menekankan keseimbangan antara kepastian, kemanfaatan, dan keadilan, serta filsafat hukum Islam, melalui konsep maqashid syariah, khususnya hifz an-nafs (perlindungan jiwa) sebagai salah satu tujuan primer syariat, dan kaidah fikih al-darurat tubih al-mahzurat (kondisi darurat membolehkan yang dilarang) serta al-dharar yuzal (bahaya harus dihilangkan). Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan filosofis (philosophical approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach), yang menelaah bahan hukum primer, sekunder, dan literatur filsafat hukum secara sistematis. Hasil kajian menunjukkan bahwa hak imunitas dokter dalam tindakan darurat memiliki landasan filosofis yang kuat baik dari perspektif Barat maupun Islam, di mana keduanya secara konsisten menempatkan perlindungan nyawa dan keselamatan pasien sebagai nilai tertinggi yang harus diutamakan atas risiko hukum bagi penolong. Kedua kerangka tersebut, alih-alih bertentangan, justru saling memperkuat argumentasi bagi rekonstruksi regulasi yang berorientasi pada kepastian hukum sekaligus keadilan substantif bagi dokter di Indonesia, sekaligus menjadi dasar bagi perumusan kebijakan yang lebih protektif terhadap tenaga medis.
TANGGUNG JAWAB HUKUM NOTARIS DAN PPAT ATAS PENGGELAPAN BPHTB OLEH KARYAWAN DALAM AKTA JUAL BELI Jiman; Nandang Sambas; Yenni Yunithawati Rukmana
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 4 No 2 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sultan.v4i2.2416

Abstract

Artikel ini mengkaji tanggung jawab hukum Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) terhadap perbuatan karyawan yang melakukan penggelapan dana Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dalam proses pembuatan akta jual beli. Permasalahan ini muncul karena dalam praktik para pihak sering menitipkan pengurusan pembayaran BPHTB kepada kantor Notaris/PPAT demi efisiensi, sementara pemenuhan kewajiban pembayaran BPHTB merupakan syarat penting sebelum akta ditandatangani dan peralihan hak dapat didaftarkan. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Bahan hukum yang digunakan terdiri atas bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab Notaris dan PPAT tidak bersifat otomatis. Tanggung jawab perdata dapat timbul apabila terdapat kelalaian pengawasan atau hubungan kausal antara sistem pengelolaan kantor dengan kerugian klien, terutama berdasarkan prinsip perbuatan melawan hukum dan vicarious liability. Tanggung jawab pidana pada prinsipnya melekat pada karyawan sebagai pelaku langsung; Notaris/PPAT hanya dapat dimintai pertanggungjawaban pidana apabila terbukti terdapat keterlibatan, perintah, penyertaan, atau pembiaran yang disengaja. Secara administratif, sanksi dapat dikenakan apabila Notaris/PPAT tidak menerapkan prinsip kehati-hatian, verifikasi, dan pengawasan profesional. Penyelesaian hukum dapat ditempuh melalui jalur perdata, pidana, dan administratif yang berjalan paralel, sementara restorative justice dapat dipertimbangkan secara terbatas dengan orientasi pemulihan kerugian. Artikel ini merekomendasikan penguatan pengawasan internal, verifikasi pembayaran BPHTB yang terdokumentasi, serta penggunaan sistem pembayaran transparan untuk menjaga kepastian hukum dan kepercayaan publik.
Penyalahgunaan Upaya Rehabilitasi Terhadap Anak Pelaku Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang SPPA Jo UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Penyalahgunaan Narkotika yusriz akbar as syawal; Nandang Sambas
Bandung Conference Series: Law Studies 1265 - 1270
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsls.v6i2.26192

Abstract

Abstract.  This study examines narcotics abuse committed by children as a legal issue requiring special treatment, considering that children are legal subjects entitled to protection, guidance, and rehabilitation to ensure their optimal growth and development. The legal framework governing children in conflict with the law is regulated under Law Number 11 of 2012 concerning the Juvenile Criminal Justice System (SPPA Law), which emphasizes the principles of restorative justice and diversion. Meanwhile, Law Number 35 of 2009 concerning Narcotics stipulates that narcotics addicts and victims of narcotics abuse are entitled to and required to undergo both medical and social rehabilitation. This study aims to examine the legal provisions governing the implementation of rehabilitation for child offenders involved in narcotics abuse based on Law Number 11 of 2012 in conjunction with Law Number 35 of 2009, as well as to analyze the obstacles encountered in its implementation. This research employs a normative legal research method using a statutory approach and a conceptual approach. The findings indicate that rehabilitation constitutes a form of legal protection that better reflects the principle of the best interests of the child than the imposition of imprisonment. Rehabilitation aims not only to restore the physical and psychological condition of the child but also to support their social reintegration. Nevertheless, the implementation of rehabilitation continues to face challenges, including the absence of a uniform understanding among law enforcement officials, limited availability of rehabilitation facilities, and lack of optimal inter-agency coordination. Therefore, strengthening synergy among competent institutions is essential to optimize the implementation of rehabilitation.   Abstrak. Penelitian ini mengkaji penyalahgunaan narkotika oleh anak sebagai permasalahan hukum yang memerlukan penanganan khusus. Anak merupakan subjek hukum yang berhak atas perlindungan, pembinaan, dan pemulihan demi menjamin tumbuh kembangnya secara optimal. Penanganan anak yang berhadapan dengan hukum diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) yang mengedepankan prinsip keadilan restoratif (restorative justice) dan diversi. Di sisi lain, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika menegaskan bahwa pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika berhak dan wajib memperoleh rehabilitasi medis maupun sosial. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaturan hukum pelaksanaan rehabilitasi terhadap anak pelaku tindak pidana penyalahgunaan narkotika berdasarkan UU No. 11 Tahun 2012 juncto UU No. 35 Tahun 2009 serta menganalisis berbagai kendala dalam implementasinya. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan konseptual (conceptual approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rehabilitasi merupakan bentuk perlindungan hukum yang lebih mencerminkan prinsip kepentingan terbaik bagi anak (the best interests of the child) dibandingkan pidana penjara. Rehabilitasi bertujuan memulihkan kondisi fisik dan psikis anak serta mendukung reintegrasi sosialnya. Namun, implementasinya masih menghadapi hambatan berupa kurangnya keseragaman pemahaman aparat penegak hukum, keterbatasan sarana rehabilitasi, dan koordinasi antarinstansi yang belum optimal. Oleh karena itu, penguatan sinergi antarlembaga sangat diperlukan untuk mengoptimalkan pelaksanaan rehabilitasi.
MODEL PENEGAKAN HUKUM PROGRESIF DALAM PENGEMBALIAN KERUGIAN NEGARA MELALUI PIDANA UANG PENGGANTI Nandang Sambas; Ade Mahmud
Lex LATA Vol. 2 No. 3 (2020): November 2020
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/lexl.v2i3.568

Abstract

Tujuan utama pembayaran pidana uang pengganti adalah memulihkan kerugian keuangan negara akibat tindak pidana korupsi yang wajib dibayarkan terpidana sesuai dengan nilai kerugian negara yang ditimbulkan. Pidana uang pengganti semestinya dibayar untuk mengembalikan kerugian negara secara utuh, tetapi eksekusi uang pengganti terbentur persoalan yuridis yang memberi ruang terpidana mengganti dengan menjalani pidana subsider. Metode penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif. Spesifikasi penelitian deskriptif analitis, menggunakan data sekunder. Teknik pengumpulan data studi kepustakaan dengan teknik analisis secara kualitatif. Kendala yang mempengaruhi proses pembayaran pidana uang pengganti meliputi pertama, Undang-Undang c.q Pasal 18 ayat (3) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Kedua,  penegak hukum tidak segera melakukan pelacakan, pembekuan dan penyitaan uang/aset hasil tindak pidana korupsi. Ketiga, modus operandi pelaku melalui pencucian uang. Model penegakan hukum progresif mengembalikan kerugian negara adalah mengubah paradigma penegak hukum bahwa sanksi pidana yang tepat adalah sanksi yang berorientasi pada uang/aset hasil korupsi (follow the money and asset recovery) dengan melakukan pelacakan, pembekuan dan penyitaan aset hasil tindak pidana korupsi sejak tahap penyidikan diikuti dengan putusan kewajiban membayar uang pengganti tanpa mensubsidairkannya dengan pidana penjara sehingga tetap membebankan tanggung jawab hukum kepada terdakwa untuk mengembalikan kerugian negara
The Right to Breastfeed as a Manifestation of Maqashid Sharia in the Implementation of Lactation Room Policy in Indonesia: Hak Menyusui Sebagai Manifestasi Maqashid Syariah dalam Implementasi Kebijakan Ruang Laktasi di Indonesia Meti Sulastri; Sambas, Nandang; Panji Adam Agus Putra
Al-Jinayah : Jurnal Hukum Pidana Islam Vol. 12 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Islamic Criminal Law Study Program, Faculty of Sharia and Law, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya, Surabaya, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/aj.2026.12.1.84-101

Abstract

This article aims to examine the right to breastfeed within the framework of Maqashid Sharia and to analyze the extent to which lactation room policies in Indonesia reflect the principles of public benefit and protection. This study uses a normative-juridical method supported by conceptual and comparative approaches. Data were obtained through literature research on statutory regulations, Islamic legal sources, fiqh literature, and relevant scientific publications. The findings show that breastfeeding rights are closely related to hifz al-nafs, hifz al-nasl, and hifz al-‘aql because breastfeeding contributes to the protection of life, lineage, health, and child development. Although Indonesian regulations have normatively supported the provision of lactation rooms, their implementation remains limited due to weak enforcement mechanisms and the absence of strong institutional commitment. This article concludes that lactation room policy should not only be understood as an administrative obligation, but also as a manifestation of Maqashid Sharia that protects mothers and children. The novelty of this study lies in integrating Islamic legal philosophy with Indonesian positive law to strengthen the ethical and normative basis of lactation room policy.  
Co-Authors A. Harits Nu’man Abdul Wahab Ade Mahmud Adib Gunawan Adib Gunawan Adinda Nurrizkia Hijriani adjeng kristinawati Agus Gede Sutamaya Agus Hadian Rahim Alya Tsania Aprillianti Amalul Arifin Slamet Amri, Qoonitah Anan, Moh. Shofi Anditya, Ariesta Wibisono Anggraini Pandu Winata. SY Arie Kartika Arifton, Arifton Arinto Nurcahyono Ashuri Ashuri Beny Harkat Bima Guntara Bulan, Dewi Nawang Caecielia Wagiono Chepi Ali Firman Z Chepy Firman Ali Zakaria Clarissa Yudhanetta Dey Ravena Dian Alan Setiawan Dias Ayustie Munandar Dikha Anugrah Dini Dewi Heniarti Dini Dewi Herniati Diva Aulia Rizky Imani Durahman Manurung Edi Setiadi Edwin Darmawansyah Efik Yusdiansyah Eman Suparman Endang Sutrisno Ermania Widjajanti Faizul Idris Farel Mochammad Zafrullah Fitria Rahma Azahra Girly Farsyadiva Althaira Nurahim Girly Farsyadiva Althaira Nurahim Hamja Hamja Handayani, Suci Hati Hariyadi, Nazla Shafira Haspada, Deni Havid Zul Aswad Havid Helmi Jabbaar Aziiz Hernawati RAS Herniati, Dini Dewi Ida Bagus Nyoman Dhedy Widyabawa Inneke Dwi Cahya Inneke Dwi Cahya Irzan Haryono Jamila, Lina Jiman Kharisma Fajar Ilmperdana Koswara, Indra Yudha Kusumah, R. Windi Rachmawati Lily Andayani Meriyan Nuurhayyan Meti Sulastri Mochamad Dendy Anugrah mochamad fadhil fahrezi Mochamad Farrel Nurrahman Sahid Mohamad Ihsan Ramdani Mohammad Fakhri Abdul Malik Muchamad Nur Adnan Muhamad Agung Prayoga Muhamad Irfan Florid Muhammad Adhi Yudha Prawira Nani Widya Sari Neni Ruhaeni Neni Sri Imaniyati Novianti Nunna, Bhanu Prakash Nu’mani, Harits Oksidelfa Yanto Oktadiana, Viri Opan Rusyanto Panji Adam Agus Putra Panji Alam Pratama Maulidyawanto Rahmah, Annida Rahmat Syafii Rasinih Ratna Januarita Ridwan Ridwan Ridwan, Ridwan Rimsyahtono Rimsyahtono Rimsyahtono Rini Irianti Sundary Ronggo Prasetyo Rully Hanafi Dahlan Sianipar, Ferry Agus Siti Nurjanah Sri Ratna Suminar Syavira Maharani Kiswanda Syifa Anggita Ahimsa Putri Try Ahmad Mirza Widya Ismi Anjani Wulandari, Arsem Yenni Yunithawati Rukmana Yeti Sumiyati Yoel Latif Yudha Prawira Ramadhan yusriz akbar as syawal Zainur Arifin Syah Zhetira Rizkika