Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Jurnal Himasapta

Optimasi blending batubara untuk meningkatkan kualitas dan memenuhi target market PT Multi Tambangjaya Utama Kholis, Nur; Santoso, Eko; Novianti, Yuniar Siska
Jurnal Himasapta Vol 8, No 3 (2023): Jurnal Himasapta Volume 8 Nomor 03 Desember 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v8i3.11155

Abstract

Dalam operasionalnya, penting untuk memahami kualitas batubara sebelum melakukan kegiatan blending, karena kualitas batubara menjadi faktor kunci dalam pengambilan keputusan terkait blending tersebut. PT Multi Tambangjaya Utama memiliki lima kualitas batubara berbeda, terdiri dari Hijau Kananai, Merah Kananai, Kuning Kananai sebagai kualitas tinggi, serta Biru Kananai dan Abu-abu Kananai sebagai kualitas rendah. Untuk memperoleh data kualitas batubara selama proses produksi, dilakukan kegiatan blending dengan memperhatikan parameter seperti Ash, Total Moisture (TM), Total Sulfur (TS), dan Calorific Value (CV). Penelitian dilakukan untuk menentukan perbandingan yang optimal antara batubara kualitas rendah dan tinggi agar hasil blending sesuai dengan target pasar. Pengambilan sampel batubara dilakukan langsung di lapangan dan diuji laboratorium untuk mendapatkan data TM, TS, Ash, dan CV. Hasil uji laboratorium digunakan dalam analisis data untuk menentukan proporsi perbandingan pencampuran batubara berbeda kualitas. Berdasarkan analisis, perbandingan yang tepat untuk blending batubara adalah Kananai Merah (23%), Kananai Kuning (38%), Kananai Hijau (29%), Kananai Biru (7%), dan Kananai Abu-abu (2%), dengan berat aktual 94.917,71 ton (100%). Rencana produksi batubara dan blending akan didasarkan pada perbandingan ini untuk mencapai kualitas yang diinginkan.
Pengaruh powder factor terhadap fragmentasi batuan hasil peledakan overburden di PT Amanah Anugerah Adi Mulia Putera, Wahyu Tri Wardani; Santoso, Eko; Annisa, Annisa
Jurnal Himasapta Vol 9, No 2 (2024): Jurnal Himasapta Volume 9 Nomor 02 Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v9i2.13281

Abstract

Powder Factor (PF) merupakan perbandingan antara jumlah bahan peledak yang digunakan terhadap volume batuan yang akan diledakkan. PF dapat dijadikan acuan dalam menilai keberhasilan dari suatu kegiatan peledakan karena PF berpengaruh terhadap fragmentasi batuan hasil peledakan. Studi kasus peledakan overburden dilakukan di PT Amanah Anugerah Adi Mulia. Analisis nilai persentase aktual fragmentasi batuan menggunakan bantuan software Split Desktop 2.0. Perusahaan mentargetkan nilai PF berada pada rentang 0,20 – 0,30 kg/m3 dan persentase fragmentasi batuan ukuran boulder ≥ 80 cm tidak lebih dari 15%. Hasil perhitungan menunjukkan nilai aktual PF berada pada rentang 0,22 – 0,29 kg/m3 dan persentase fragmentasi batuan ukuran boulder ≥ 80 cm berada pada rentang 2,85 – 13,54%. Hasil perbandingan antara target dan aktual menunjukkan PF dan persentase fragmentasi batuan telah memenuhi standar perusahaan. Berdasarkan peninjauan fragmentasi batuan aktual diperoleh nilai PF optimal adalah 0,22 kg/m3.
Analisis nilai powder factor untuk optimalisasi kegiatan peledakan di area pit tutupan PT Saptaindra Sejati Kahfi, Muhammad; Santoso, Eko; Arief, Muhammad Zaini
Jurnal Himasapta Vol 9, No 1 (2024): Jurnal Himasapta Volume 9 Nomor 01 April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v9i1.12181

Abstract

Powder Factor (PF) adalah salah satu faktor yang sangat diperhatikan dalam suatu kegiatan peledakan. Pada kegiatan peledakan nilai powder factor ini dapat dijadikan suatu acuan dalam menilai keberhasilan dari suatu kegiatan peledakan. Dari nilai powder factor ini, akan mempengaruhi beberapa faktor diantaranya fragmentasi batuan hasil peledakan dan digging time alat gali muat. Metode analisis fragmentasi batuan hasil peledakan yang digunakan adalah dengan menggunakan software split desktop 4.0 untuk mengetahui nilai persentase fragmentasi aktual menggunakan image analysis. PT Saptaindra Sejati menetapkan standar nilai powder factor yakni 0,15 – 0,30 Kg/m3 dan persentase fragmentasi ukuran boulder 75-100 cm yang ditargetkan tidak lebih dari 15% dan digging time yang di rencanakan PT Adaro selaku owner yaitu 12 detik. Berdasarkan hasil penelitian di 8 kali peledakan, didapatkan nilai powder factor berada pada 0,19-0,27 Kg/m3. Kemudian fragmentasi boulder 75-100 cm didapatkan persentase 8-36% belum memenuhi target fragmentasi karena ada faktor lain yang mempengaruhi yaitu bahan peledak yang memerlukan geasing. Kemudian digging time aktual didapatkan nilai rata-rata dari 9-12 detik memenuhi target optimum perusahaan, nilai powder factor yang paling optimum adalah 0.27 kg/m3.
Monthly plan design west madhani block III PD Baramarta Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar, Kalimantan selatan Bramastasurya, Daud; Santoso, Eko; Annisa, Annisa
Jurnal Himasapta Vol 9, No 3 (2024): Jurnal Himasapta Volume 9 Nomor 03 Desember 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v9i3.14689

Abstract

PD Baramarta telah mencapai batas usia tambang dan batas izin penambangan tahunan pada Pit West Madhani Blok III, sehingga diperlukan kelanjutan aktivitas penambangan pada bukaan pit yang sudah ada. Pit limit yang dirancang akan dibagi menjadi unit-unit kecil (sequence) untuk menggambarkan tahapan penambangan dari awal hingga akhir sesuai rancangan tambang. Berdasarkan pemodelan batubara, terdapat tujuh seam potensial, yaitu seam A, BUP, B, B5, C1, DUP, dan D, dengan penyebaran ke arah timur laut-barat daya, kemiringan 10⁰-35⁰, ketebalan batubara 0,5 m-5 m, dan nilai kalori 6.000-7.400 Kcal/Kg adb. Cadangan batubara berdasarkan desain final pit mencapai 1.216.535,02 ton, dengan volume overburden sebesar 5.179.548,32 BCM. Rasio pengupasan (stripping ratio) penambangan adalah 4,26, dengan luas area tambang 33,12 Ha. Penambangan dimulai dari elevasi 141 Mdpl hingga mencapai kedalaman 0 Mdpl. Umur tambang berdasarkan final pit design adalah satu tahun. Penimbunan material untuk semester pertama dilakukan di outpit waste dump di timur laut, yang merupakan area backfilling bekas pit dengan kapasitas 2.991.216,77 LCM dan luas 13,95 Ha. Pada semester kedua, penimbunan dilakukan di inpit waste dump pada bukaan pit tidak aktif dengan kapasitas 3.108.138,82 LCM dan luas 14,82 Ha. Penggalian overburden menggunakan 2 unit Excavator Komatsu PC 2000 dan 2 unit Excavator Komatsu PC 1250, sedangkan penggalian batubara menggunakan 2 unit Excavator Komatsu.
Kestabilan lereng kritis pada tambang terbuka batubara menggunakan metode kesetimbangan batas Akbar, Muhammad Fadlillah; Santoso, Eko; Melati, Sari
Jurnal Himasapta Vol 10, No 1 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i1.16533

Abstract

Genangan air dalam bekas pit (void) akan mempengaruhi re-distribusi tegangan dan kondisi massa batuan pada lereng. Adanya creek di sisi luar lereng tersebut menyebabkan interaksi antara creek, lereng, dan void, menjadi lebih kompleks dan berdampak pada kestabilan lereng. Pada penelitian ini mengaplikasikan metode Limit Equilibrium dengan kriteria Mohr-Coulomb serta prangkat lunak MineScape 5.7 dan Rocsience Slide 6.0 untuk menganalisis Lereng X yang langsung berbatasan dengan sungai. Membuat simulasi pesimistik yang mempengaruhi tingkat kestabilan lereng aktual dengan membuat simulasi pengaruh level muka air sungai dan void terhadap lereng, membuat pengaruh pelapukan material penyusun lereng dan pengaruh jarak sungai terhadap tingkat kestabilan lereng. Hasil analisis kondisi aktual pada Lereng X nilai FK semua penampang >2,0 dengan kondisi lereng di antara sungai dan ­void. Hasil simulasi penurunan level muka air sungai 11 m dan ­void 39 m hingga surut mempengaruhi tingkat kestabilan lereng di indikasikan adanya gaya hidrostatis terhadap lereng yang mempengaruhi nilai FK dari 2,011 menjadi 0,927. Lereng yang terlapukan oleh air juga mempengaruhi nilai FK dari 1,773 menjadi 0,790 kondisi kritis. Simulasi penambahan jarak sungai terhadap lereng berdampak baik bagi lereng dari faktor keamanan awal 0,927 pada jarak 6,4 m menjadi 1,977 pada jarak 500 m. ABSTRACTThe accumulation of water in former pit (void) affects stress redistribution and rock mass condition of the slope. The presence of a creek on the outer side of slope further increases the complexity of interaction between creek, slope, and void, thereby influencing overall slope stability. This study applies Limit Equilibrium Method with the Mohr-Coulomb failure criterion, utilizing MineScape and Rocscience Slide 6.0 software to analyze Slope X, which is directly adjacent to the creek. A series of pessimistic simulations were conducted to assess actual slope stability, including the effects of creek and void water level fluctuations, the effects of material weathering on slope stability, and the impact of creek distance on slope safety factor. The analysis of actual condition of Slope X indicates that Factor of Safety (FoS) in all cross-sections is >2.0, with the slope located between creek and void. The simulation results show that a decrease in creek water level by 11 m and void water level by 39 m significantly affects slope stability, as indicated by hydrostatic forces acting on the slope, reducing the FoS from 2.011 to 0.927. Furthermore, slope material weathering due to water infiltration decreases FoS from 1.773 to a critical value of 0.790. Increasing distance between creek and slope improves its stability, which is the initial FoS of 0.927 at a distance of 6.4 m increases to 1.977 at a distance of 500 m.
Kajian powder factor peledakan terhadap fragmentasi hasil peledakan pada pit Aster PT Madhani Talatah Nusantara Amrullah, Risky; Santoso, Eko; Ramadhan, Satrio; Melati, Sari
Jurnal Himasapta Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i2.16338

Abstract

Powder Factor (PF) adalah salah satu faktor yang sangat diperhatikan dalam suatu kegiatan peledakan. Powder Factor (PF) adalah perbandingan antara jumlah bahan peledak yang digunakan terhadap volume batuan yang akan diledakkan. Pada kegiatan peledakan nilai powder factor ini dijadikan suatu acuan dalam menilai keberhasilan dari suatu kegiatan peledakan. Dari nilai powder factor ini, akan mempengaruhi beberapa faktor diantaranya fragmentasi batuan hasil peledakan dan digging time alat gali muat.Metode analisis fragmentasi batuan hasil peledakan yang digunakan adalah dengan menggunakan software split desktop 2.0 untuk mengetahui nilai persentase fragmentasi aktual peledakan. Peledakan overburden pada PT Madhani Talatah Nusantara menetapkan standar nilai powder factor yakni 0,17 – 0,24 Kg/m3 dan persentase fragmentasi ukuran boulder ≥ 117 cm yang ditargetkan tidak lebih dari 15%. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 7 hari peledakan, didapatkan nilai powder factor berada pada 0,21 – 0,24 Kg/m3. Kemudian fragmentasi aktual boulder ≥ 117 cm didapatkan persentase rata-rata sebesar 0.1% dan sudah memenuhi standar perusahaan. Ditinjau dari fragmentasi batuan aktual setelah dilakukan uji coba peledakan dengan nilai PF 0,21 sampai 0,24 didaptkan  nilai powder factor yang paling optimal adalah 0,21 Kg/m3. ABSTRACTPowder Factor (PF) is one of factors that is highly considered in blasting activities. Powder Factor (PF) is the ratio between amount of explosives used and volume of rock to be blasted. In blasting operations, Powder Factor value serves as a benchmark for assessing the success of a blasting operation. This value influences several factors, including fragmentation of the blasted rock and digging time of excavation equipment.The method used to analyze rock fragmentation resulting from blasting is to use Split Desktop 2.0 software to determine actual percentage of fragmentation from blasting. Blasting of overburden at PT Madhani Talatah Nusantara sets the standard powder factor value at 0.17–0.24 kg/m³ and targets a fragmentation percentage for boulder-sized fragments (≥117 cm) of no more than 15%.Based on the results of research in 7 days of blasting, powder factor value was found between 0.21 and 0.24 kg/m3. Then, the actual fragmentation of boulders ≥ 117 cm was found to have an average percentage of 0.1% and met Ccompany standards. Based on the actual rock fragmentation after conducting blasting tests with a powder factor (PF) of 0.21 to 0.24, the most optimal powder factor value was found to be 0.21 kg/m³. 
Analisis Korelasi antara Ground Vibration dengan Fragmentasi Aktual Hasil Peledakan pada PT Borneo Alam Semesta Jobsite PT Binuang Mitra Bersama Afifah, Sukma; Santoso, Eko; Hakim, Romla Noor
Jurnal Himasapta Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i2.5862

Abstract

ABSTRAKFragmentasi dan ground vibration merupakan indikator penting hasil peledakan. Fragmentasi yang distribusi ukuran fragmen dan ground vibration yang dinyatakan dengan nilai PPV (peak particel velocity), harus memenuhi kriteria dan ambang batas yang efektif dan aman. Usaha pencapaian target distribusi fragmentasi seringkali berbenturan dengan upaya untuk mencegah tingginya tingkat ground vibration. Oleh karena itu, pada penelitian ini korelasi antara ukuran fragmen dan PPV dikaji tingkat pengaruh dan korelasinya. Korelasi tersebut adalah antara besar energi yang dilepaskan saat peledakan dengan ukuran fragmentasi juga nilai getaran tanah yang dihasilkan. Sebagaimana hipotesa awal dari penelitian ini adalah “PPV yang semakin besar dihasil dari energi yang semakin besar dan energi yang semakin besar akan menghasilkan fragmentasi yang semakin kecil, maka seharusnya semakin besar PPV menghasilkan fragmentasi yang semakin kecil”. Kegiatan penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data berupa nilai PPV ground Vibration terbesar di setiap peledakan, juga pengambilan foto beraian batuan hasil peledakan. Image anlaysis menggunakan aplikasi Split Dekstop dilakukan terhadap foto-foto beraian batuan hasil peledakan guna mendapatkan distribusi fragmentasi aktual, dengan output distribusi fragmentasi aktual berupa persentase fragmen berukuran kurang dari 50 cm dan persentase boulder. Setelah didapatkan nilai PPV Ground Vibration tertinggi, analisis korelasi linear dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antar variabel PPV maksimum dan persentase fragmen berukuran < 50 cm. Nilai PPV ground vibration selama penelitian berkisar antara 0,49 mm/s sampai 1,56 mm/s. Data ukuran fragmen aktual rata-rata baik, boulder kurang dari 15%. Korelasi antara Ground Vibration terhadap fragmentasi batuan size  kurang dari 50 cm membentuk hubungan linear dengan persamaan y = 8,5967x + 79,237, dengan koefisien determinasi R2 = 0,5359. Artinya, keduanya memiliki hubungan yang positif, dimana apabila nilai PPV ground vibration semakin besar, maka persentase fragmentasi size kurang dari 50 cm semakin banyak. Apabila nilai PPV ground vibration semakin kecil, maka persentase fragmentasi batuan size kurang dari 50 cm semakin sedikit. Korelasi antara ground vibration terhadap persentase fragmentasi batuan boulder berupa hubungan linear dengan persamaan y = -8,5967x + 20,763. Artinya, memiliki hubungan yang negatif, dimana apabila nilai PPV ground vibration semakin besar maka persentase fragmentasi boulder semakin kecil, apabila nilai PPV ground vibration semakin kecil maka persentase fragmentasi boulder semakin besar. Kata-kata kunci: Peledakan, getaran, fragmentasi, korelasi linier ABSTRACTFragmentation and ground vibration are critical indicators of blasting performance. Fragmentation, represented by the fragment size distribution, and ground vibration, quantified by the Peak Particle Velocity (PPV), must both satisfy effective and safe operational thresholds. However, efforts to achieve optimal fragmentation distribution often conflict with the necessity to minimize excessive ground vibration levels. This study investigates the correlation between fragment size and PPV, examining both the influence and degree of their relationship. The correlation is assessed based on the energy released during blasting and its simultaneous effect on fragmentation size and ground vibration intensity. The initial hypothesis of this research posits that: “Larger PPV values result from higher explosive energy, and higher energy levels produce finer fragmentation; therefore, higher PPV should be associated with smaller fragment sizes.” The research began with data collection, including the highest PPV value recorded in each blast and photographs of blasted rock piles. Image analysis was conducted using Split-Desktop software to determine the actual fragmentation distribution. The outputs include the percentage of fragments smaller than 50 cm and the percentage of boulders. Subsequently, a linear correlation analysis was performed between maximum PPV and the percentage of fragments smaller than 50 cm. During the study, PPV values ranged from 0.49 mm/s to 1.56 mm/s. Overall, the actual fragment size distribution was satisfactory, with boulders accounting for less than 15%. The correlation between ground vibration (PPV) and the percentage of fragments smaller than 50 cm showed a positive linear relationship, described by the equation: y = 8.5967x + 79.237, with a coefficient of determination R² = 0.5359. This indicates that an increase in PPV is associated with a higher percentage of fragments smaller than 50 cm. Conversely, lower PPV values correspond to a reduced proportion of fine fragmentation. On the other hand, the correlation between PPV and the percentage of boulders exhibited a negative linear relationship, described by the equation: y = -8.5967x + 20.763. This implies that higher PPV values result in a lower proportion of boulders, while lower PPV values lead to a higher boulder content. Keywords: Blasting, Fragmentation, Ground Vibration, Linear Correlation 
Perancangan pit dan penjadwalan tambang batubara menurut analisis sensitivitas Break Even Stripping Ratio Adiatma, Diyan; Santoso, Eko; Melati, Sari
Jurnal Himasapta Vol 10, No 3 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i3.18170

Abstract

Sektor pertambangan merupakan salah satu sektor usaha yang memiliki potensi pendapatan tinggi, namun juga diikuti oleh tingkat risiko yang besar. Risiko tersebut dapat berasal dari fluktuasi kondisi ekonomi, khususnya perubahan harga komoditas, serta keterbatasan dan karakteristik bahan galian yang ditambang. Oleh karena itu, sebelum kegiatan penambangan dilakukan, diperlukan beberapa alternatif desain pit agar rencana penambangan dapat disesuaikan dengan kondisi ekonomi yang terjadi selama umur tambang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sensitivitas Break Even Stripping Ratio (BESR) sebagai kriteria utama dalam perancangan Pit Alfa, merancang Pit Alfa berdasarkan tiga nilai BESR, serta menyusun penjadwalan penambangan untuk masing-masing desain pit. Analisis sensitivitas dilakukan dengan memvariasikan nilai BESR sebesar ±10%. Alternatif rancangan pit disusun dalam tiga skenario, yaitu kondisi yang diharapkan, kondisi peningkatan sebesar 10%, dan kondisi penurunan sebesar 10%. Perancangan pit dilakukan menggunakan perangkat lunak Minescape dengan model topografi dan endapan batubara yang telah tersedia. Geometri lereng Pit Alfa mengikuti geometri lereng yang diterapkan pada Pit Clara. Tahapan penambangan dirancang untuk memenuhi target produksi sebesar 50.000 ton batubara per bulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa BESR paling sensitif terhadap perubahan harga batubara. Pada harga batubara USD 42,39/ton, Pit Alfa dirancang dengan BESR 5,31, menghasilkan luas pit 24,4 ha, cadangan batubara 770.135 ton, dan umur tambang 14 bulan. Pada kondisi harga turun 10%, BESR sebesar 4,24 menghasilkan luas pit 18,2 ha, cadangan 546.884 ton, dan umur tambang 11 bulan. Sebaliknya, pada harga naik 10%, BESR sebesar 6,39 menghasilkan luas pit 30 ha, cadangan 936.780 ton, dan umur tambang 18 bulan. Kata kunci : analisis sensitivitas, BESR, penjadwalan tambang, perancangan pit ABSTRACTThe mining sector is one of the industries with high revenue potential; however, it is also associated with significant risks. These risks arise from fluctuations in economic conditions, particularly changes in commodity prices, as well as the availability and characteristics of the mined mineral resources. Therefore, prior to mining operations, several alternative pit designs must be prepared to allow flexibility in adapting to economic conditions throughout the mine life.This study aims to analyse the sensitivity of the Break Even Stripping Ratio (BESR) as a key criterion in the design of Pit Alfa, to develop Pit Alfa designs based on three BESR values, and to establish mining schedules for each pit design. The sensitivity analysis was conducted by varying the BESR parameter by ±10%. Three pit design scenarios were evaluated, representing the expected condition, a 10% increase, and a 10% decrease.Pit design was performed using Minescape software, utilizing available topographic and coal deposit models. The slope geometry of Pit Alfa was designed to follow the slope geometry applied at Pit Clara. Mining stages were developed to achieve a production target of 50,000 tons of coal per month.The results indicate that BESR is most sensitive to changes in coal price. At a coal price of USD 42.39 per ton, Pit Alfa was designed with a BESR of 5.31, resulting in a pit area of 24.4 ha, coal reserves of 770,135 tons, and a mine life of 14 months. When coal prices decrease by 10%, a BESR of 4.24 produces a pit area of 18.2 ha, coal reserves of 546,884 tons, and a mine life of 11 months. Conversely, when coal prices increase by 10%, a BESR of 6.39 yields a pit area of 30 ha, coal reserves of 936,780 tons, and a mine life of 18 months. Keywords: sensitivity analysis, break even stripping ratio, mine scheduling, pit design
Estimasi biaya operasional kegiatan coal getting dan match factor Komatso PC400 pada PT Semesta Centramas Sari, Meilita; Santoso, Eko; Putri, Karina Shella; Ramadhan, Satrio
Jurnal Himasapta Vol 10, No 3 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i3.17962

Abstract

 ABSTRAK Pencapaian target produksi pada kegiatan penggalian batubara sangat dipengaruhi oleh produktivitas peralatan serta keseimbangan antara unit muat dan unit angkut, yang dikenal sebagai match factor. Match factor yang tidak sesuai dapat menurunkan efisiensi dan meningkatkan biaya operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh berbagai kondisi match factor terhadap produktivitas dan biaya operasi guna menentukan konfigurasi peralatan yang paling optimal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui analisis match factor untuk mengevaluasi alternatif komposisi peralatan. Operasi penambangan menggunakan satu unit excavator PC400 dengan kapasitas bucket 2,2 m³ sebagai alat muat dan dump truck Hino DT500 sebagai alat angkut dengan kapasitas muatan 20 ton dan 30 ton. Tiga skenario operasi dianalisis, yaitu kondisi under-trucking (match factor = 0,8), kondisi serasi (match factor = 1,0), dan kondisi over-trucking (match factor = 1,1). Perhitungan produktivitas dan biaya operasional dilakukan untuk masing-masing skenario. Pada kondisi under-trucking, produktivitas yang dihasilkan sebesar 189,22 ton/jam atau 95% dari target produksi. Kondisi seimbang menghasilkan produktivitas sebesar 216,84 ton/jam (109% dari target), sedangkan kondisi over-trucking menghasilkan produktivitas tertinggi sebesar 227,64 ton/jam (115% dari target). Biaya operasional masing-masing kondisi berturut-turut adalah USD 0,03745/ton, USD 0,003357/ton, dan USD 0,00361/ton. Meskipun kondisi over-trucking menghasilkan produktivitas tertinggi, kondisi seimbang memberikan biaya operasional terendah. Biaya paling optimal sebesar USD 0,003357/ton dicapai dengan penggunaan sepuluh unit dump truck berkapasitas muatan 30 ton, yang menunjukkan bahwa match factor yang seimbang memberikan kombinasi terbaik antara produktivitas dan efisiensi biaya. Kata-kata Kunci: faktor keserasian, produktivitas, biaya operasi  ABSTRACTThe achievement of production targets in coal getting activities depends on equipment productivity and the balance between loading and hauling units, commonly expressed by the machinery match factor. An inappropriate match factor can reduce efficiency and increase operational costs. This study evaluates the influence of different match factor conditions on productivity and operating costs in order to identify the most optimal equipment configuration. This study applied quantitative match factor analysis to assess alternative equipment compositions. The mining operation utilizes a PC400 excavator with a bucket capacity of 2.2 m³ as the loading unit and Hino DT500 dump trucks as hauling units with payload capacities of 20 tons and 30 tons. Three operating scenarios were analyzed: under-trucking (match factor = 0.8), matched condition (match factor = 1.0), and over-trucking (match factor = 1.1). Productivity and operational cost calculations were performed for each scenario. Under the under-trucking condition, productivity reached 189.22 tons/hour, equivalent to 95% of the production target. The matched condition resulted in a productivity of 216.84 tons/hour (109% of target), while the over-trucking condition achieved the highest productivity of 227.637 tons/hour (115% of target). Operational costs were USD 0.03745/ton, USD 0.003357/ton, and USD 0.00361/ton for under-trucking, matched, and over-trucking conditions, respectively. Although over-trucking produced the highest productivity, the matched condition yielded the lowest operational cost. The most optimal cost of USD 0.003357/ton was achieved using ten dump trucks with a payload capacity of 30 tons, indicating that a balanced match factor provides the best trade-off between productivity and cost efficiency. Keywords: match factor, productivity, operation costs
Co-Authors Abdul Afif Abdul Rochman Adelline Fibriana Adi, Trijoko Wahyu Adiatma, Diyan Adip Mustofa Aditya Galih Sekaring Putri Hartin Afifah, Sukma Afin Fatikhatul Munashiroh ahmad yani Aida Fitri Larasati Ajeng Nugrahaning Dewanti Akbar, Muhammad Fadlillah Ali, Badrut Tamam Ibnu Alvynia Vinthesa Fahmi Amalia Medina Amrullah, Risky Annisa Annisa Ansi Arivia Rahma Anugrah Dimas Susetyo Arief, Muhammad Zaini Arwi Yudhi Kuswara Aryanto, Ananda Aulia Widari Ayu Nur Rohmawati Azillatin Qisthian Diny Azizah Faridha Elisa Azzauqy, Muhammad Guruh Baiq Septi Maulida Sa&#039;ad baruji, teguh Belinda Ulfa Aulia Benyamin Yacob Bramastasurya, Daud Budi Prasetyo Budiyanto Budiyanto Chichik Ilmi Annisa Chichik Ilmi Annisa Chichik Ilmi Annisa Chinsia A, Lona Chinsia A., Lona Daniel William Manurung Desi Rahmawati Dian Rahmawati Dwi Agustina Wantika Sari Dwi Retno Ariyanti Ema Umilia Ema Umilia Endro Elmanuah Fajar Sri Lestari Pangukir Fauzi, Resti Fendri Hisbullah Febrianto Fikri, Hafidz Noor Gema Patria Mahaputra Gunawan, Cakti Indra Hakim, Romla Noor Handayani, Kristanti Haryo Sulistyarso Haryo Sulistyarso Haryo Sulistyarso Heriyanti, Septina Is Hitapriya Suprayitno, Hitapriya Ibnu Sodiq Ima Rahmawati Sushanti Indradewa, Rhian Irwan Bisri Rianto Ivan Agusta Farizkha Kadek Adi Kurniawan Karina Pradinie Kartika Dwi Ratna Sari Kaswari . Koswara, Arwi Yudhi Laksmita Dwi Hersaputri Lukman Yusuf Lusiana Resantie M. Dirhamsyah Machiya, Intan Marindi Briska Yusni Marlena Medina, Amalia Miftakul, Nur Alfida Mochamad Yusuf Mochammad Reyhan Firlandy Mokhamad Eldon Muhammad Kahfi, Muhammad Myrna Augusta Aditya Dewi Nilasari, Nilasari Nirwanto K. Rahim Noerwasito, Vincentius Totok Novianti, Yuniar Siska Nur Kholis Nurhakim Nurhakim Pamungkas, Adjie Pati, Senda Semuel Pramita Rosyida Priambodo, Trisaksono Bagus Prianti Prianti Primeia, Sandia Purnamastuti, Fithri Nur Putera, Wahyu Tri Wardani Putri, Karina Shella Putu Ayu Vindytha Amanda Putri Putu Ayu Vindytha Amanda Putri Rahel Putri Pamungkas Ramadhan, Satrio Ratnawati, Yohana Raykhan Rizqullah Nurdin Renny Ratna Dewi Rezza Perdana Al Hanif Riezky Ayudia Trinanda Rimadewi Suprihardjo Rimadewi Supriharjo Rini Ratna Widya Nirmala Rivan Aji Wahyu Dyan Syafitri Rizki Adriadi Ghiffari Rizky Arif Nugroho Rizky Arif Nugroho Rohman, Mohammad Arif Rulli Pratiwi Setiawan Salmina Wati Ginting Sari Melati, Sari Sari, Meilita Serlyaninda Setiaji, Jatmiko Siti Rahayu Suryadi Muchlis Susetyo, Cahyono Sutikno Sutikno Teti Hariyati Tiara Irawanti Tiara Irawanti Tisa Angelia Tisa Angelia Tita Almira Desiana Ummi Fadlilah Kurniawati, Ummi Fadlilah Utari Sulistyandari Valentino, Novio Vely Kukinul Siswanto Wilda Al Aluf Yacob, Benyamin Yanti, Fusia Mirda Yuliani, Yuliani Yuwono, Hendro Zainamantasya Ghaida Istiqomah Zulkifli B. Pomalango