Claim Missing Document
Check
Articles

PEMANFAATAN NILAI WILLINGNESS TO PAY UNTUK PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN SITUS KERAJAAN MAJAPAHIT MENGGUNAKAN TRAVEL COST METHOD DAN CONTINGENT VALUATION METHOD ( Studi Kasus : Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur) Tri Rahmawati Winda Kusuma; Bambang Sudarsono; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.522 KB)

Abstract

ABSTRAK           Situs Kerajaan Majapahit sebagai calon situs warisan dunia UNESCO (UNESCO world culture and heritage) memiliki potensi sebagai obyek wisata. Lokasi yang strategis  terletak di jalan utama Surabaya-Solo dan nilai sejarah yang dimiliki, membuat situs ini khususnya Candi Brahu, Museum Majapahit, Candi Bajangratu dan Candi Tikus menjadi salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) Kabupaten Mojokerto. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) pada situs Kerajaan Majapahit untuk menduga  nilai ekonomi dan manfaat berdasarkan keinginan untuk membayar (Willingness To Pay: WTP) wisatawan dan masyarakat yang memperoleh manfaat dari kawasan tersebut.          Metode penarikan sampel (responden) yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah non probability sampling dengan teknik sampling insidental, dimana responden merupakan siapa saja yang secara kebetulan/insidental ditemui di lokasi penelitian dan dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungan WTP menggunakan perangkat lunak Maple 14.            Dalam penelitian tugas akhir ini, diperoleh hasil berupa peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan. Candi Brahu dengan surplus konsumen sebesar Rp 633.234,- dan nilai WTP sebesar Rp 34.457,-. sehingga diperoleh nilai ekonomi total Candi Brahu sebesar Rp 97.157.349.770,-. Museum Majapahit dengan surplus konsumen sebesar Rp 242.472,- dan nilai WTP sebesar Rp 41.532,-. sehingga diperoleh nilai ekonomi total Museum Majapahit sebesar Rp 107.741.863.410,-. Sedangkan untuk Candi Bajangratu diperoleh surplus konsumen Rp 574.613 dan nilai WTP sebesar Rp 34.360,- sehingga diperoleh nilai ekonomi total kawasan Candi Bajangratu sebesar Rp 117.710.064.850,-. Selanjutnya untuk Candi Tikus diperoleh besaran surplus konsumen Rp 987.991,- dan nilai WTP Rp 39.842,- sehingga diperoleh nilai ekonomi total kawasan Candi Tikus sebesar Rp 162.503.279.320,-.(nilai surplus konsumen per individu dikalikan dengan jumlah pengunjung tahun 2013). Kata kunci : Willingness To Pay, Zona Nilai Ekonomi Kawasan, Situs, Regresi Linear Berganda, Maple 14. ABSTRACT             Majapahit Empire Site as a  world culture and heritage UNESCO has potential as a tourist attraction. The location is strategically located on the main street of Solo and Surabaya which have historical value, makes this particular site Brahu Temple, Majapahit Museum, Bajangratu Temple and Tikus Temple became one tourist destination areas Mojokerto. Based on this, we need a  Zone Map Economic Value Areas (ZNEK) to the site of the Majapahit Kingdom to estimate the economic value and benefits based on willingness to pay (WTP) tourists and the people who benefit from the region            Sampling method (respondents) were used in this research is non probability sampling with incidental sampling technique, where respondents are those who by chance / incidental encountered in the study area and can be used as a sample, if it is deemed that the person who happened to be found suitable as a data source. Data processing method used is multiple linear regression analysis and calculation software WTP using Maple 14.            In this research, the results obtained in the form of a map Zone Economic Value Area. The consumer surplus of Brahu Temple is Rp 633.234,-, and WTP value of Rp 34.457,- in order to obtain the total economic value of Brahu Temple Rp 97.157.349.770,-. Museum of Majapahit with consumer surplus of Rp 242.472,- and WTP value of Rp 41.532,-. in order to obtain the total economic value of Majapahit Museum is Rp 107.741.863410,-. As for the Bajangratu Temple consumer surplus obtained Rp 574.613,- and WTP value of Rp 34.360,- in order to obtain the total economic value is Rp 117.710.064.850,-. Further to the Tikus Temple gained massive consumer surplus Rp 987.991,- and the value of WTP Rp 39.842,- in order to obtain the total economic value of the Tikus  Temple area is Rp 162.503.279.320,-. (Consumer surplus value per individual multiplied by the number of visitors in 2013).
KAJIAN PEMETAAN TINGKAT KERAWANAN BANJIR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : DAS Beringin, Kota Semarang) Wicke Widyanti Santosa; Andri Suprayogi; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.639 KB)

Abstract

ABSTRAKBanjir merupakan permasalahan yang umum yang terjadi di sebagian wilayah Indonesia.Sungai Beringin merupakan salah satu sungai di Semarang yang menyumbang bencana banjir tiap tahunnya.Seiring dengan berkembangnya teknologi, maka untuk mengetahui tingkat kerawanan banjir dilakukan penelitian dengan menggunakan dua metode yaitu metode pembobotan dan metode rasional. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi kerawanan banjir DAS Beringin secara umum termasuk dalam kondisi cukup rawan dengan luas sebesar 1795,003 ha (59,89%). Tingkat rawan banjir dengan kategori rawan dengan luas sebesar 875,441 ha (29,21%) dari total luas DAS. Tingkat agak rawan dan tidak rawan dengan luas sebesar 299,691 ha (40,13%) dan 22,566 ha (0,75%). Tingkat sangat rawan mempunyai persentase dengan luas sebesar 4,441 ha (0,1%) dari total luas kawasan DAS. Air larian yang terjadi pada kelurahan-kelurahan pada Sub–DAS 1 yang menghasilkan debit yang paling tinggi sebesar 357,766 m3/det (68,048%), Sub–DAS 2 debit maksimum sebesar 124,964 m3/det (23,769%), dan pada Sub –DAS 3 menghasilkan debit yang paling rendah yaitu 43,0227 m3/det (8,183%). Pengaruh debit maksimum terhadap tingkat kerawanan banjir adalah pada faktor lanjutan dari hasil penggunaan lahan dan curah hujan. Pada kecepatan air yang tinggi, berlangsung cepat dan jumlah air sedikit, mengakibatkan tingginya debit air yang mengalir sehingga alirannya sangat deras dan berdampak destruktif.Kata Kunci : DAS Beringin, Banjir, Debit Maksimum, Tingkat Kerawanan ABSTRACT Flood is a common problem that occurs in some parts of Indonesia. Beringin River is one of the rivers in Semarang that contributed floods every year. Along as the development technology, then to determine level of flood conducted research by using 2 method, the weighting method and rational method. The research result were showed that condition of flood DAS Beringin commonly included in condition vulnerable with an area of 1795.003 hectares (59.89%). Level of risk flood with risk category an area of 875.441 hectares (29.21%) of the total DAS area. The level rather risk having percentace an area of 299.691 hectares (40.13%) and 22.566 hectares (0.75%). the higher level risk have percentage of the area of 4,441 hectares (0.1%) of total DAS area. Water runoff that occurs in village  Sub -DAS 1 that generate highest discharge of 357.766 m3/sec (68.048%), Sub -DAS 2 maximum discharge of 124.964 m3/sec (23.769%), and the Sub -DAS 3 produces the lowest discharge is 43.0227 m3/sec (8.183%). Effect of the maximum discharge is the advanced factor of the result of land use and rainfall. At speed of high water occur fast and a little amount of water, resulting a high flow of water is flowing, so that the flow is very heavy and destructive impact. Keywords : DAS Beringin, Flood, Maximum Debit, Vulnerability
ANALISIS PERBANDINGAN PENINGKATAN SEDIMENTASI DI WADUK MRICA DENGAN PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) MERAWU MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT LANDSAT Muhammad Asadullah Al Fathin; Bambang Sudarsono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1040.101 KB)

Abstract

Waduk Mrica terletak di Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah. Pembangunan waduk Mrica memiliki tujuan untuk PLTA dan irigasi. Namun Waduk Mrica mengalami sedimentasi yang cukup tinggi sehingga perlu dilakukan pengamatan terhadap peningkatan sedimentasi yang terjadi di Waduk Mrica. Pengamatan tersebut dilakukan dengan pemetaan batimetri waduk secara berkala. Di sisi lain, teknologi pengindraan  jauh merupakan salah satu teknologi yang efektif dan efisien dalam pemetaan batimetri perairan dangkal, diantaranya dengan menggunakan algoritma Van Hengel dan Spitzer. Pengolahan algoritma tersebut dianalisis dengan uji regresi menggunakan data pemeruman yan dilakukan pihak pengelola waduk, yakni Indonesia Power UP Mrica. Analisis klasifikasi tutupan lahan dilakukan dengan menggunakan metode klasifikasi terbimbing dan analisis kerapatan vegetasi menggunakan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Hasil analisis regresi menunjukkan nilai R2 pada data Landsat 7 tahun 2003 sebesar 0,741 atau 74,1%, sedangkan pada data tahun 2013 sebesar 0,440 atau 44,0%. Hasil algoritma Van Hengel dan Spitzer, diperkirakan terjadi peningkatan sedimen sebesar 76.243.184,23 m3. Perubahan tutupan lahan dan kerapatan vegetasi DAS Merawu memiliki hubungan korelasi yang tidak konsisten terhadap peningkatan sedimentasi Waduk Mrica dimana terjadi peningkatan sedimentasi namun pada beberapa kelas tutupan lahan terjadi perubahan yang tidak sejalan.
VERIFIKASI LETAK SEGMEN BATAS INDIKATIF BERDASARKAN ASPEK TEKNIS DAN NON-TEKNIS (Studi Kasus : Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang) Faizal Hafidz Muslim; Bambang Sudarsono; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1748.798 KB)

Abstract

ABSTRAK UU No. 06 Tahun 2014 tentang Desa berimplikasi bahwa desa harus mandiri (otonom) dalam hal pembangunan, pembangunan membutuhkan perencanaan, perencanaan membutuhkan peta dan salah satu unsur dalam peta adalah batas wilayah yang jelas dan pasti (batas definitif). Ketidakjelasan batas wilayah berpotensi konflik bahkan sengketa. Kecamatan Getasan yang memiliki 13 desa dan semua segmen batasnya masih bersifat indikatif dibuat oleh 2 versi instansi berbeda yaitu BIG dan Bappeda.Penataan batas wilayah menjadi solusi untuk ketidakjelasan batas yang terdiri dari tahapan penetapan dan penegasan batas wilayah. Dalam Permendagri No. 27 Tahun 2006 tentang Penetapan dan Penegasan Batas Desa dan No. 76 Tahun 2012 tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah proses penataan batas terdiri dari 3 tahapan utama yaitu pengumpulan dokumen, pembuatan peta dasar dan delineasi garis batas, yang didasarkan aspek teknis (berdasarkan prinsip geodesi) dan aspek non-teknis (administratif dan geografis).Hasil penelitian didapatkan skala maksimal peta yang bisa dibuat adalah 1:5.000, ketelitian planimetris 0,5mm diatas peta dilakukan uji t-student dengan Ha (hipotesis alternatif) = selisih rata-rata < 2,5 m, diperoleh hasil t tabel = -1,691 dan t hitung = -35,205 m (masuk daerah penolakan) maka Ha diterima. Batas versi RBI dan Bappeda pada aspek administratif (blok pajak) seluruh segmennya tidak sesuai dan aspek geografis pada unsur alam 2 segmen versi RBI dan Bappeda tidak sesuai, untuk unsur buatan 2 segmen versi BIG dan 4 segmen versi Bappeda tidak sesuai, secara visual berubah dan secara kuantitatif setelah dilakukan adjudikasi dan dibandingkan dengan batas versi BIG luas betambah 37,095 Ha, dengan Bappeda berkurang sebesar 49,931 Ha sedangkan dengan data BPS 2015 bertambah 10,207 Ha.                Kata Kunci: Batas Indikatif, Batas Definitif, Aspek Teknis dan Non-Teknis ABSTRACT Law No. 06/2014 about Village implies that the village must be autonomous in development, development requires planning, planning requires a map and one of the elements of the map is the exact and certainboundaries (definitive boundary).The boundary vagueness potentiallyinduces conflict even disputes. District Getasan which has 13 villages and indicative boundaries segment created by 2 different agencies such as BIG and Bappeda.Boundary regulation is the solution to the boundary vagueness problem which consist of determination and averment boundary. Minister of Home Affairs Law No. 27/2006 about Determination and Averment of Village Boundary and No. 76/2012 about Guidelinesof Averment Region Boundary mentioned about there are three steps in boundary determination, they are collecting document, creating base map, and delineating boundary line, which based on the technical aspects (geodetic principle) and non-technical aspects (administrative and geographical).The result showed the maximum scale that can be made is 1:5.000, with planimetric accuracy 0.5 mm above map tested using t-student,Ha = mean difference < 2.5 m and  obtained t table = -1.691 and t statistic= -35.205 (in denial area) so Ha is accepted. The boundarylines in BIG and Bappeda version are not suitableobserved from the administrative aspect (block tax map) in all segments,there are two segments observed from geographical aspectsin natural element which showsthe RBI and Bappeda version are not suitable, in the artificial elements there are 2 segments of RBI and four segmentsof BAPPEDAversion are not suitable. There are changes in visual and quantitative wide of the area in BIG version (37.095 Ha larger) and Bappeda version (49.931 Ha smaller) compared to BPS 2015 data (10.207 Ha larger).  Key Word : Indicative Boundary, Definitiv Boundary, Technical and Non-Thecnical aspect
ANALISIS KESESUAIAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP RENCANA TATA RUANG/WILAYAH DI KECAMATAN PENJARINGAN KOTA ADMINISTRATIF JAKARTA UTARA MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Restu Fadilla; Bambang Sudarsono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.825 KB)

Abstract

ABSTRAK Kecamatan Penjaringan merupakan sebuah kecamatan di Jakarta dengan lokasi dan akses yang sangat strategis karena terletak di antara bandara dan pelabuhan. Hal tersebut yang membuat banyaknya pengembang untuk membangun perumahan baru sehingga pertumbuhan penduduk semakin meningkat, dimana pertumbuhan penduduk berbanding lurus dengan bertambahnya tuntutan permukiman. Akibatnya penggunaan lahan di Kecamatan Penjaringan akan mengalami perubahan penggunaan lahannya sehingga kawasan perumahan akan membuat masalah dalam penataan ruangnya, yaitu akan timbul lahan yang fungsinya tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang/Wilayah (RTRW). Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana kesesuaian antara rencana dengan keadaan yang ada di lapangan dengan pemetaan. Proses yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu membuat peta penggunaan lahan Kecamatan Penjaringan pada tahun 2013 dan 2017 dengan melakukan digitasi on-screen berdasarkan interpretasi citra satelit SPOT 6 yang hasilnya akan dianalisis perubahan dan kesesuaiannya dengan RTRW. Berdasarkan analisis perubahan penggunaan lahan didapatkan hasil berupa peningkatan dan penurunan luas penggunaan lahan. Luas lahan yang bertambah yaitu Kawasan Industri dan Pergudangan sebesar 18,674 ha (3,81%), Kawasan Perkantoran, Perdagangan dan Jasa sebesar 40,903 ha (9,87%) dan Kawasan Ruang Terbuka Biru sebesar 15,242 ha (6,11%), sedangkan luas lahan yang berkurang yaitu Kawasan Perumahan sebesar 14,026 ha (1,05%), Kawasan Hijau Budidaya sebesar 58,714 ha (6,35%) dan Kawasan Hijau Lindung sebesar 2,079 ha (0,97%). Sementara itu, berdasarkan analisis kesesuaian perubahan penggunaan lahan dengan RTRW didapatkan sebesar 2.848,019 (77,84%) penggunaan lahan pada tahun 2013 sesuai dengan RTRW dan sebesar 2.890,246 ha (79,00%) penggunaan lahan pada tahun 2017 sesuai dengan RTRW sehingga dalam kurun waktu 4 tahun kesesuaian perubahan penggunaan lahan Kecamatan Penjaringan mengalami peningkatan sebesar 42,227 ha (1,16%).Kata Kunci : Citra Satelit SPOT, Penggunaan Lahan, Rencana Tata Ruang/Wilayah ABSTRACT Penjaringan Sub-district is a sub-district in Jakarta with a strategic location and access as it is located between the airport and the port. That makes many developers eager to build new housing which resulted in an increasing of population growth. In addition, human population growth is directly proportional to the increasing demand of settlements. The land use of Penjaringan Sub-district will experience changes in land use. Moreover, the residential area will create problems in the spatial arrangement, which will lead to the emergence of land that is not in accordance with Spatial Planning. This study aims to see how the suitability between the plan and the implementation in site. The conducted process involved with create a map of Penjaringan Sub-district’s land use in 2013 and 2017 by doing on-screen digitization based on SPOT 6 satellite image interpretation that the results will be analyzed for changes and suitability with Spatial Planning. Based on the analysis of land use change, the result is increase and decrease of land use area. The increased land areas are Industrial and Warehousing Area of 18.674 ha (3.81%), Office, Trade and Services Area of 40.903 ha (9.87%) and Blue Open Space Area of 15.242 ha (6.11%). While decreased land areas are Housing Area of 14,026 ha (1.05%), Green Area of Cultivation of 58,714 ha (6,35%) and Protected Green Area of 2,079 ha (0,97%). Meanwhile, based on the analysis of the suitability of land use change with Spatial Planning obtained 2,848,019 (77.84%) of land use in 2013 in accordance with RTRW and 2,890,246 ha (79,00%) of land use in 2017 in accordance with Spatial Planning. So that during the period of 4 years the suitability of land use change Penjaringan Sub-district was increased by 42,227 ha (1.16%).Keywords: Spatial Planning, SPOT Image, Land-Use
ANALISIS PERBANDINGAN KEPADATAN PEMUKIMAN MENGGUNAKAN KLASIFIKASI SUPERVISED DAN SEGMENTASI (Studi Kasus: Kota Bandung) Nizma Humaidah; Bambang Sudarsono; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.637 KB)

Abstract

ABSTRAKPemukiman merupakan kawasan tempat tinggal yang terdiri lebih dari satu satuan perumahan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sekarang ini semakin lahan kosong dan lahan hijau semakin berkurang karena kawasan pemukiman yang semakin padat, terutama dikota-kota besar salah satunya di Kota Bandung.Teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis (SIG) dapat membantu untuk mendapatkan informasi pemukiman padat tersebut dengan melakukan analisis pada citra resolusi tinggi Quickbird. Pada penelitian ini metode yang digunakan untuk menganalisis adalah metode segmentasi dan klasifikasi supervised.Informasi luas pemukiman padat di Kota Bndung pada tahun 2012 dengan menggunakan metode segmentasi dan klasifikasi supervised kemudian membandingkan hasil keduanya. Hasil luasan pemukiman padat Kota Bandung pada tahun 2012 menggunakan metode segmentasi adalah 115.949.487,2 m² sedangkan berdasarkan hasil klasifikasi supervised adalah 117.233.067,02 m². berdasarkan uji ketelitian metode segmentasi sebesar 100% sedangkan klasifikasi supervised sebesar 98,418%. Apabila dilihat dari uji statistik keduanya memiliki korelasi yang sangat kuat dan searah dengan nilai 0,998, dengan hipotesis bahwa luas pemukiman padat yang didapat dari metode segmentasi berbeda dengan metode klasifikasi supervised secara signifikan. Kata Kunci : Klasifikasi Supervised, Penginderaan jauh, Pemukiman Padat dan Segmentasi,.                                                                                   ABSTRACTSettlements are residential area consisting of more than one housing unit which is very important in human life. Nowadays, vacant area and green area are decreasing because of the higher density of settlements, especially in big cities such as Bandung.Remote sensing technology and geographic information system (GIS) can help obtaining the dense settlement information by analyzing the image of high resolution Quickbird. In this study, the method used to analyze is segmentation and supervised classification.Information of the dense settlement wide area in Bandung in 2012 is obtained using segmentation method and supervised classification. The result of both methods is compared. The Result of dense settlement area of Bandung in 2012 using segmentation method is 115,949,487.2 m², while according to the result of supervised classification is 117,233,067.02 m². Based on the accuracy test of segmentation method, it is 100% whereas supervised classification is 98,418%. In statistical test point of view, both of the methods have a remarkably strong correlation and the same direction with the value of 0.998, with the hypothesis that the wide of dense settlements area obtained from segmentation method was different with supervised classification method was significantly different with. Keywords: Dense Settlements, Remote sensing, Segmentation and Supervised Classification.   *) Penulis, Penanggung Jawab
ANALISIS PENGARUH POLA PERUBAHAN LAHAN AKIBAT PERPINDAHAN RUANG PUBLIK TERHADAP ZONA NILAI TANAH DI KECAMATAN UNGARAN TIMUR KABUPATEN SEMARANG Adi Nur Ikhsan; Bambang Sudarsono; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Semarang memiliki alun-alun sebagai ruang publik di Kecamatan Ungaran Timur, tepatnya di Kelurahan Sidomulyo. Namun pada tahun 2011 sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Semarang, ruang publik yang semula di Kelurahan Sidomulyo, dipindahkan ke Kelurahan Kalirejo. Hal ini akan berpengaruh terhadap meningkatnya aktifitas masyarakat yang akan mengakibatkan terjadinya perubahan penggunaan lahan. Tentu saja akibat dari perubahan penggunaan lahan tersebut adalah perubahan nilai/harga tanah, sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai perubahan penggunaan lahan dan pengaruhnya terhadap perubahan nilai tanah.Penelitian ini menggunakan citra tahun 2009, citra tahun 2013, dan Peta Tata Guna Lahan Kabupaten Semarang tahun 2011. Data tersebut digunakan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan tahun 2009-2014. Selanjutnya analisis perubahan nilai tanah menggunakan peta zona nilai tanah hasil data transaksi dan penawaran survei lapangan tahun 2009 dan 2014. Dari hasil tersebut, dilakukan analisis perubahan penggunaan lahan terhadap zona nilai tanah yang dikaitkan dengan pengaruh perpindahan alun-alun di Kecamatan Ungaran Timur.Hasil analisis dalam penelitian ini yaitu, terjadi perubahan penggunaan lahan tertinggi yang terdapat pada zona 40 dengan perubahan penggunaan lahan tegalan/ladang menjadi tanah kosong sebesar 11,87 ha. Namun kenaikan harga tanah tertinggi tidak terletak pada zona tersebut melainkan terletak pada zona 28 sebesar Rp. 2.726.000 /m². Hal ini dapat dianalisis karena zona 28 merupakan lokasi perpindahan ruang publik yang baru (alun-alun baru Bung Karno), sehingga wajar jika kenaikan harga tanah tertinggi terletak pada zona tersebut. Kata Kunci : Zona Nilai Tanah, Perubahan Lahan  ABSTRACT Semarang Regency has a plaza or square as a public space in the District of East Ungaran, precisely in the Village Sidomulyo. But in 2011 according to the Medium Term Development Plan (RPJMD) of Semarang Regency, a public space that was originally in the Village Sidomulyo, moved to Village Kalirejo. This will increase the activity of the community that would result in changes in land use. As the result, there will be changes in the value or price of land, so it is necessary to research on land use changes and its effects on the value of land changes.This study used the satellite image of the year 2009 and 2013, and the map of Semarang Regency’s land use in 2011 to analyze its changes in 2009-2014. To analyse the changes in the value of land, the zone map of land values is used resulted from data transactions and field surveys offers in 2009 and 2014. From these result, an analysis of land use changes on land value zone associated with the effect of displacement of the square to East Ungaran District.The result of this these study is the location of maximum changes in land use is zone 40 with changes in land use fields into a wasteland of 11.87 ha. However, the highest increase in the price of land is not located in the same zone. It lies in zone 28 with the change of value by Rp. 2,726,000 /m². It can be concluded that zone 28 is the new location of the public space (Bung Karno New Square), so it is rational that the zone has the highest price of land increase. Keywords : Value of Land Zones, Land Changes *) Penulis, Penanggung Jawab
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP PENGELOLAAN WILAYAH LAUT DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN DAN KOTA PEKALONGAN Oki Samuel Damanik; Bambang Sudarsono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.988 KB)

Abstract

Memasuki era otonomi daerah pasal 18 Undang-Undang No.32 tahun 2004 yang diperbarui dengan Undang-Undang No.23 Tahun 2014 pasal 27, menyatakan bahwa daerah yang memiliki wilayah laut diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya alam pada sekitar wilayah lautnya. Penentuan dan penegasan wilayah laut diatur berdasarkan dengan Permendagri No.76 Tahun 2012. Garis pantai menjadi faktor utama dalam penarikan batas pengelolaan. Tetapi keadaan garis pantai yang fluktuasi dapat berubah-ubah mengikuti kondisi alam seperti dinamika pasangsurut, abrasi dan akresi. Oleh sebab itu, diperlukan adanya penelitian mengenai pengaruh perubahan garis pantai terhadap batas pengelolaan wilayah laut. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan batas pengelolaan wilayah laut Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan dengan menggunakan metode kartometrik di atas peta LPI dan citra Landsat yang diamati secara time series. Citra yang digunakan menerapkan rumus BILKO dan AGSO dalam mempermudah interpretasi garis pantai. Penarikan batas pengelolaan wilayah laut dilakukan dengan prinsip equidistance ( sama jarak) untuk daerah berdampingan. Dari hasil pengamatan citra Landsat tahun 2008 sampai 2018, terjadi perubahan garis pantai di wilayah Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan dikarenakan adanya abrasi dan akresi. Perubahan garis pantai mempengaruh pada garis batas pengelolaan wilayah laut dan luas pengelolaan wilayah laut. Hal ini diperkuat dengan sampel luasan pada penerepan rumus AGSO kurun waktu tahun 2008 dan 2018  di Kabupaten Pekalongan bertambah 1.714,581 Ha, sedangkan untuk Kota Pekalongan berkurang 272,033 Ha.
STUDI DEFORMASI WADUK PENDIDIKAN DIPONEGORO TAHUN 2016 Rizki Fadillah; Bambang Darmo Yuwono; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (942.328 KB)

Abstract

 Menurut SNI No. 1731-1989 bendungan adalah setiap penahan buatan, jenis urugan atau jenis lainnya yang menampung air atau dapat menampung air baik secara alamiah maupun buatan. Selain manfaatnya yang sangat banyak bendungan juga mempunyai resiko yang tinggi karena mengandung potensi bahaya keruntuhan yang dapat mengakibatkan kehilangan jiwa dan kerugian materil yang besar, oleh karena itu perlu dilakukan  pengamatan deformasi untuk mengetahui kondisi dari bendungan.Dalam penelitian ini akan dilakukan pengamatan deformasi terhadap Waduk Pendidikan Diponegoro, dengan metode pengamatan GPS (Global Positioning System) dilakukan pengamatan terhadap 9 titik pantau deformasi (bench mark) yang tersebar di sekitar tubuh bendungan, data hasil pengamatan GPS diolah dengan menggunakan scientific software GAMIT 10.6, titik pantau deformasi juga diamati perubahan jarak dan tingginya terhadap titik kontrol yang dipasang diluar tubuh bendungan, pengamatan deformasi dilakukan dari bulan April sampai dengan Juni 2016 dengan dua kali periode pengamatan.Hasil pengamatan GPS selama periode pengamatan menunjukkan titik pantau deformasi mengalami perubahan koordinat dengan nilai perubahan berkisar antara 0,06 cm sampai dengan 1,4 cm untuk sumbu X, 0,03 cm sampai dengan 1,9 cm untuk sumbu Y, dan 0,4 cm sampai dengan 1,3 cm untuk sumbu Z. Perubahan jarak dan tinggi dari hasil pengamatan total station dan waterpass selama periode pengamatan berkisar antara 0,09 mm sampai dengan 1,7 mm dan 0,15 mm sampai dengan 1,8 mm. Dari hasil pengamatan deformasi bendungan dengan metode pengamatan GPS, total station, dan waterpass secara nilai terjadi deformasi terhadap titik pantau deformasi selama periode pengamatan, namun berdasarkan hasil uji statistik dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan tidak terjadi deformasi terhadap semua titik pantau deformasi.Kata Kunci: Bendungan, Deformasi, GAMIT, GPS, Velocity rateABSTRACT According to SNI No. 1731-1989 dam is any artificial barrier, urugan type or any other type that can hold or store water both natural and artificial. In addition to benefits are very much dams also have a high risk because has the potential danger of collapse that could result in the loss of life and material losses, therefore it needs to be observed deformation to determine the condition of the dam.In this research will be observation of the deformation of Pendidikan Diponegoro dam, with GPS (Global Positioning System) observation methods will be observed of 9 monitoring points deformation (bench mark) spread around the body of the dam, the GPS observed data will be processing using scientific software GAMIT 10.6, deformation monitoring points were also observed changes in distance and height from the control points are placed outside the body of the dam, deformation observations carried out from April to June 2016, with twice the period of observation.The results of GPS observations during the observation period showed deformation monitoring points change the coordinate value with ranging from 0.06 cm to 1.4 cm for the X axis, 0.03 cm to 1.9 cm for the Y axis, and 0.4 cm to 1.3 cm for the Z axis. Distance and height changes based on total station and waterpass measurement during the observation period ranging from 0.09 mm to 1.7 mm and 0.15 mm to 1.8 mm. From the result of the dam deformation observation by GPS observation methods, total station, and waterpass shows deformation of the deformation monitoring points during the observation period, but based on the statistical test with 95% confidence level showed that there is no deformation of all the deformation monitoring points.Keywords: DAM, Deformation, GAMIT, GPS, Velocity rate
ANALISIS KOMBINASI CITRA SENTINEL-1A DAN CITRA SENTINEL-2A UNTUK KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN (STUDI KASUS: KABUPATEN DEMAK, JAWA TENGAH) Dini Ramanda Putri; Abdi Sukmono; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1291.156 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan salah satu negara yang telah memanfaatkan perkembangan teknologi citra satelit untuk memudahkan pengambilan keputusan dalam bidang pemetaan. Namun, dikarenakan letak Indonesia yang berada pada daerah dengan iklim tropis dan kondisi cuaca yang seringkali tertutup awan dan kabut, hal ini dapat menghilangkan informasi penting dari obyek di balik area yang tertutup oleh awan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini akan mencoba melakukan kombinasi citra radar dengan citra optis. Kedua citra ini digunakan untuk saling melengkapi kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.Pelaksanaan kombinasi kedua citra ini, menggunakan metode teknik fusi citra transformasi PCA, IHS dan Brovey untuk menggabungkan citra Sentinel-1A GRDH product dengan citra Sentinel-2A komposit band 432 serta mencoba melakukan kombinasi nilai indeks (NDVI, NDBI dan NDWI). Hasil dari pengolahan data kombinasi tersebut selanjutnya dilakukan pengklasifikasian tutupan lahan menggunakan metode supervised classification.Berdasarkan penelitian serta kajian yang telah dilakukan pada kedua citra tersebut, hasil proses fusi citra antara Sentinel-1A dengan Sentinel-2A dari metode PCA, Brovey dan IHS memiliki tampilan visual yang terlihat dari segi pewarnaan, mengadopsi warna dari citra Sentinel-2A, tetapi dengan perentangan kontras yang berbeda, sedangkan dari segi kualitas piksel terintegrasi oleh citra Sentinel-1A. Pada daerah perbukitan, hasil fusi citra memperlihatkan adanya kenampakan relief yang tidak terlihat pada citra Sentinel-2A, sehingga sangat tepat untuk menganalisis morfologi dan struktur geologi suatu kawasan di area perbukitan atau pegunungan. Citra baru yang dihasilkan dari ketiga metode tersebut memiliki keunggulan yang lebih terlihat pada wilayah yang mengandung vegetasi rapat atau lebat, pemukiman serta perairan dan menguntungkan jika digunakan untuk melihat bentuk serta lekukan sungai. Sedangkan pada kombinasi nilai indeks dapat digunakan untuk menganalisis obyek sawah, hutan rawa, hutan, perairan dan lahan terbangun.
Co-Authors . Widayat Abdi Sukmono, Abdi Abdul Latif Adi Nur Ikhsan Adirama, Alfian Zamzami Adnan Khairi Adri Panjaitan Agree Isnasatrianto Agus Supriyanto Ahmad Rizki, Ahmad Ajeng Dwi Maturinsih Aji Apri Setiawan Alfajrin, Achmad Chalid Alif Afif Alfin Nandaru Amalia Permata Dewi, Amalia Permata Amalia Tyo, Almaas Zain Andika Malik Andini, Risnaida Ratri Andri Suprayogi Annisa Usolikhah Archita Permata Santynawan Arga Fondra Oksaping Arief Ghozali, Fanani Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Arliandy Pratama Arliandy Pratama Aruma Hartri Arwan Putra Wijaya Aryawan, Adi Asti Mulasari, Surahma Aulia Imania Sukma Aulia Rizky Auliya Azfin, Tazkiya Awwaluddin, Moehammad Ayu Nur Safi&#039;i Aziz Anjar Santoso Bagas S, Naldius Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Benita Roseana Bledug Kusuma Budi Prayitno Camelia, Nabila Putri David Beta Putra DEDI SETYAWAN Diana, Riska Dina Puspitasari, Arianti Dina Wahyuningsih Dinda Anisa Anggraini Dini Ramanda Putri Djoko Saryono Dody Hartanto Dwi Yulinanda Pratiwi Dwiputra, Mohammad Ashari Dyah Widyaningrum Ega Siva Bellamy Eko Susanto Elsa Regina Rizkitasari Enersia Ihda K. U Fadlil Zen, Alif Ahmad Faidal, Faidal Faiz Mubina, Muhammad Faizal Hafidz Muslim Fajar Rudi Purwoko Fajri Ramadhan Fanani Arif Ghozali Fathul Qodir, Fathul Fatwa Tentama Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fetra Kristina Harianja Fistcar, Wawarisa Alnu Fitriani Mutmainah, Nur Galih Rakapuri Ghazali, Fanani Arief Ghozali, Fanani Arief Gita Amalia Sindhu P. Guntur Bagus Pamungkas Habiburrahman, Nawal Hadi Winoto Hamdani Hamdani Hamid Nasrullah Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Handoko Dwi Julian HARDIAN ASTIANINGRUM Hasanah, Enung Hasbie Rachmat Bachtiar Herlambang, Andy Rahmadi Herman Yuliansyah, Herman Hidayati, Dian Hidayatun Nafi'ah, Hilda Hisni Theresia Br Sinuraya Imam Mudita Indramayanti, Vivi Silvi Indriyanto, Ignatius Wahyu Irfan Yunianto Ita Asriani Izzakah, Ita Izzati, Elsarina Nur JACKIE SUPRAWITO NABABAN Jamal Jamal Jiyah Jiyah Jolangga Agung Budiman Juwita, Okky Syahfira Kartiko Ardhi Widananto Khoirul Isnaini Aulia Kurniawan, Moh. Zaki Laode M Sabri Lisa Nur Nur Istiqomah Listyaningrum, Prabandari Lukman Jundi Fakhri Islam M. Ishaq, M. machmudah, Naili Maschoer, Maschoer Ma’ruf, Anang Mega Dwijayanti Meita Arddinatarta Mhd Muhajir Hasibuan Michel Christiansen Sipayung Miftakhul ‘Ulya Rimadhani Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Moh. Toifur MOHAMMAD YUSUP LUTFI Mualif Marbawi Muhammad Annis Wichi Luthfina Muhammad Arizar Hidayat Muhammad Asadullah Al Fathin Muhammad Fadhli Auliarahman Muhammad Haris Febriansya Mutmainah, Nur Fitri Nafiati, Lu'lu' Nafiati, Lu’lu’ Nainggolan, Paolo M. Nizma Humaidah Nur Aris Adi Nugroho Nur Rizal Adhi Nugroho Nur Wahidah Sudarsono, Nur Wahidah Nuraini, Febritesna Nurhadi Bashit Nurul Huda Oki Samuel Damanik Okimustava Okimustava Panusunan Nauli Siregar Patriot Ginanjar Satriya Permana, Rizki Dimas Pratama, Wegig Pratiwi Purba, Eleven Eleven Priyanta Priyanta, Priyanta Purnomo, Ajis Putri Ardianti Kinasih Putri, Erni Dwi Hapsari R. Hafid Hardyanto, Settings Rahmawati, Rahmawati Raka Angga Prawira Rama Aditya Wiwaha Restu Fadilla Rianingsih, Firma Ridho Alfirdaus Rika Enjelina Pidu Riski Kadriansari Riski, Fildzatu Rizki Fadillah Rizki Widya Rasyid Rudi Cahyono Putro S Anugrahini Irawati Sanches Budhi Waluyo sari, nurika arum Sari, Putri Regita Permata Sasongko Adhi Sawitri Subiyanto Sendy Brammadi Setiabudi, Hino Setyanto, Barry Nur Shindy Mariska Zulkarnain Siti Fathimah Siti Haeriah Sonny Mawardi Sri Wahyuni Subardjo Subardjo, Subardjo Sulistyawati Sulistyawati Surahma Asti Mulasari Surbakti, Christman Sutomo Kahar Sutomo Kahar Suyatno Suyatno Syafiri Krisna Murti Syamsuddin, Arief Sylvia Tri Yuliani Theodorus Satriyo Singgih Tika Christy Novianty Tito Wisnu Pramono Aji Tjiong Susilo Dinoto Togi Pardo Siagian Tri Rahmawati Winda Kusuma Tri Wahyuni Sukesi Tristika Putri Tristika Putri Try Jokosantoso Tsana’a Alifia Nauthika Ummi Athiyyah Yuniarti Vinsensia Hutagaol Virgus - Arisondang Virgus Arisondang Virgus Arisondang Wahyuddin, Yasser Wahyuni Sukesi, Tri Wicke Widyanti Santosa Wijayanti Hutomo Putri Windarta, Jaka Wirayudha Pramana Bhakti Witjaya, Oka Rani Yahya Hanafi Yasser Wahyuddin Yogi Wahyu Aji Yovi Adyuta Isdiantoro Yudo Prasetyo Zain, Azizah Binti Zamili, Abdi Oktarian