Claim Missing Document
Check
Articles

VERIFIKASI PENARIKAN GARIS BATAS PROVINSI KALIMANTAN BARAT, KALIMANTAN TENGAH, DAN KALIMANTAN TIMUR SESUAI DENGAN PERMENDAGRI NO. 76 TAHUN 2012 MENGGUNAKAN METODE KARTOMETRIK Aulia Imania Sukma; Bambang Sudarsono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1231.913 KB)

Abstract

ABSTRAK Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan pembagian wilayah terdiri dari 34 Provinsi, 397 Kabupaten dan 98 Kota, dengan total pembagian segmen batas daerah sebesar 966 segmen batas, yaitu terdiri dari 215 segmen definitive, 384 segmen yang sudah dilakukan pelacakan dan pengukuran, serta 367 segmen yang belum dilakukan pelacakan. Permasalahan batas daerah muncul salah satunya dikarenakan konflik yang dapat berujung menuju sengketa. Kesalahan dan tidak akuratnya gambar garis batas wilayah di peta berpotensi menimbukan sengketa posisional antar daerah yang berbatasan (Adler, 1995).Salah satu permasalahan terkait penegasan batas daerah adalah pada kasus perselisihan sengketa batas antara Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur, sengketa ini berada pada batas yang membatasi ketiga wilayah tersebut (simpul batas), yang membatasi 3 Kabupaten yang berbeda mewakili tiap provinsi yaitu Kabupaten Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah, Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, dan Kabupaten Mahakam Ulu Provinsi Kalimantan Timur. Dalam penetapan simpul batas berpedoman pada Permendagri No. 76 tahun 2012. Peletakkan titik simpul batas dan penarikan garis batas dilakukan dari segi aspek teknis dengan menggunakan metode kartometrik. Data yang digunakan dalam penelitian berupa, peta RBI digital skala 1:50.000, dan DEM SRTM.Menurut hasil penelitian, terdapat dua titik simpul batas yang diletakkan sesuai dengan metode kartometrik yang pertama adalah pada Gunung Liang Tanjung, dan yang ke dua adalah dengan mengikuti garis batas sesuai peta lampiran UU No. 2 tahun 2013. Kata Kunci : Metode Kartometrik, Simpul Batas, Sengketa Wilayah, Aspek Teknis.   ABSTRACT                    Indonesia is the largest archipelagic country with a division of 34 Provinces, 397 Districts and 98 Cities, indeed the divisions insist of 966 border segments, consisting with 215 definitive segments, 384 tracked and measured segments, and 367 unidentified segments. Regional boundary issues caused conflict that could possibly take the lead into sort of disputess. According to an inacurate the delineation on map caused positional dispute between the borderline areas (Adler, 1995).                     One of the problems related to the affirmation of regional borders is in the case of a dispute over the boundary disputes between West Kalimantan, Central Kalimantan and East Kalimantan provinces, this dispute lies within the boundary limiting the three regions (boundary node), which are divide into 3 different districts that representing each provinces, Murung Raya District, Central Kalimantan Province; Kapuas Hulu District, West Kalimantan Province; and Mahakam Ulu District, East Kalimantan Province. Permendagri No. 76 tahun 2012 in charge on  precept of  boundary making. Boundary position of point and delineation, takes charge from the point of view off technical aspect which is used kartometrik method. The data that used in this study are RBI digital map with scale 1 :50.000, and DEM SRTM  and  kartometrik method.                    According to the study, there are two alternative boundaries based on kartometrik methods. First, take a place in Liang Tanjung Mountain, and the second is attached to UU No. 2 tahun 2013. Keywords: Kartometrik Method, Boundary Node, Territory’s Dispute, Technical Aspect.
ANALISIS KERAWANAN BANJIR PADA KAWASAN TERBANGUN BERDASARKAN KLASIFIKASI INDEKS EBBI (ENHANCED BUILT-UP AND BARENESS INDEX) MENGGUNAKAN SIG (Studi Kasus di Kabupaten Demak) David Beta Putra; Andri Suprayogi; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.11 KB)

Abstract

Kabupaten Demak merupakan salah satu daerah yang sering mengalami banjir. Hal ini terjadi karena topografi Demak yang lebih rendah dari daerah di sekitarnya sehingga sering mendapatkan banjir kiriman akibat luapan sungai ataupun karena intensitas hujan yang tinggi. Data BPBD Kabupaten Demak tahun 2017-2018 mencatat terdapat 30 kejadian banjir terjadi di wilayah Demak dalam waktu 1,5 tahun. Salah satu dampak kerugian dari banjir tersebut adalah kawasan terbangun yang dapat terendam banjir sehingga perlu dilakukan identifikasi untuk mengetahui luasan kawasan terbangun yang rawan banjir. Metode yang digunakan yaitu metode EBBI dan SIG. Metode Enhanced Built-Up and Bareness Index (EBBI) digunakan untuk mendapatkan hasil kawasan terbangun sedangkan metode SIG digunakan untuk mendapatkan hasil kerawanan banjir. Adapun parameter penentuan kerawanan banjir terdiri dari enam parameter yaitu kelerengan, jenis tanah, curah hujan, tata guna lahan, kerapatan sungai, dan jarak dari sungai. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah peta kawasan terbangun rawan banjir di Kabupaten Demak. Tingkat kerawanan banjir di Kabupaten Demak dibagi menjadi tiga kelas, yaitu kerawanan banjir rendah sebesar 5,10%, kerawanan banjir sedang sebesar 32,37%, dan kerawanan banjir tinggi sebesar 62,64%. Adapun jumlah luasan kawasan terbangun yang masuk kedalam kelas kerawanan rendah sebesar 628,113 ha, masuk kedalam kelas kerawann sedang sebesar 5.108,351 ha dan masuk kedalam kelas kerawanan tinggi sebesar 9.158,762 ha. Validasi dilakukan dengan cara melihat kesesuaian pengolahan kerawanan banjir dengan data banjir BPBD serta dengan validasi lapangan. Kesesuaian pengolahan kerawanan banjir dengan data banjir BPBD sebesar 71,42%. Adapun kesesuaian hasil validasi kawasan terbangun dengan hasil pengolahan sebesar 85,71% sedangkan kesesuaian hasil validasi kawasan terbangun rawan banjir dengan hasil pengolahan sebesar 72,86%.
ANALISIS PENGOLAHAN DATA MULTIBEAM ECHOSOUNDER MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK MB-SYSTEM DAN CARIS HIPS AND SIPS BERDASARKAN STANDAR S-44 IHO 2008 Sendy Brammadi; Arief Laila Nugraha; Bambang Sudarsono; Imam Mudita
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.808 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengolahan data multibeam echosounder memiliki proses yang kompleks karena memerlukan beberapa koreksi untuk mendapatkan nilai kedalaman yang akurat, selain itu perangkat lunak yang digunakan untuk pemrosesan data multibeam memiliki harga lisensi yang mahal. MB-System sebagai perangkat lunak pengolah data multibeam berbasis open source dapat menjadi alternatif bagi yang mengalami kendala dalam memperoleh lisensi perangkat lunak berbayar seperti Caris HIPS and SIPS. Setiap perangkat lunak memiliki prosedur, kemampuan dan keterbatasan masing-masing, sehingga perlu dikaji perbandingan proses pengolahan data, visualisasi hasil setelah pemrosesan serta ketelitian yang dihasilkan dari pemrosesan menggunakan kedua perangkat lunak tersebut.Proses pengolahan data multibeam echosounder menggunakan perangkat lunak MB-System dan Caris HIPS and SIPS, hasil pengolahan menghasilkan titik kedalaman terkoreksi. Titik kedalaman selanjutnya divisualkan ke dalam model permukaan 2D menggunakan perangkat lunak ArcGIS dan model 3D menggunakan perangkat lunak Surfer. Titik kedalaman hasil pengolahan dilakukan uji ketelitian berdasarkan standar IHO S-44 tahun 2008 orde 2 untuk mengetahui kualitas data multibeam dan uji statistik menggunakan uji-Z untuk mengetahui signifikansi perbedaan antara kedua data hasil pengolahan.Dari pengolahan data multibeam menggunakan MB-System dan Caris HIPS and SIPS secara visual tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Ketelitian hasil pengolahan data multibeam menggunakan kedua perangkat lunak berada di dalam batas toleransi yang mengacu pada standar IHO S-44 tahun 2008 orde 2. Nilai kedalaman hasil pengolahan secara numerik memiliki perbedaan pada titik yang sama, namun secara statistik menggunakan uji-Z dengan tingkat kepercayaan 95% didapat nilai Z0 sebesar 0,099611 yang berarti nilai kedalaman hasil pengolahan tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, sehingga kedua model permukaan tersebut dianggap telah mewakili kondisi permukaan dasar laut yang sebenarnya. Kedua perangkat lunak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, Caris HIPS and SIPS memiliki tampilan antarmuka yang profesional serta mudah digunakan, sedangkan MB-System memiliki fitur untuk menyajikan peta batimetri hasil pengolahan data multibeam serta kebebasan untuk menggunakan.
ANALISIS PENURUNAN MUKA TANAH KOTA SEMARANG METODE SURVEI GNSS TAHUN 2019 Lisa Nur Nur Istiqomah; L.M Sabri; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.32 KB)

Abstract

ABSTRAKPenurunan muka tanah (land subsidence) telah banyak terjadi di berbagai kota termasuk Kota Semarang. Kota Semarang merupakan kota yang mempunyai peran penting yaitu sebagai ibukota yang menjadi pusat pembangunan, pemerinahan, perekonomian di provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar penurunan muka tanah yang terjadi di Kota Semarang dengan melakukan survei menggunakan metode pengamatan GNSS. Penurunan tanah adalah salah satu fenomena deformasi permukaan bumi secara vertikal di samping terjadi fenomena uplift. Penurunan tanah dapat berlangsung dalam kurun waktu yang lama, sehingga jika terjadi terus menerus, daerah yang mengalami penurunan tanah akan mengalami dari penurunan itu sendiri, sedangkan penurunan tanah itu sendiri tidak merata di setiap daerah. Penelitian ini memanfaatkan patok-patok pengamatan yang berada di sekitar objek penelitian. Pengamatan GNSS ini dilakukan dengan metode statik selama kurang lebih 6 jam di 9 titik di Kota Semarang. Nilai penurunan muka tanah diperoleh dengan pengolahan data survei tahun 2018 dan tahun 2019 metode survei GNSS yang diolah menggunakan perangkat lunak ilmiah GAMIT yang titik pengamatnnya diikatkan dengan 5 stasiun CORS. Nilai laju penurunan muka tanah yang paling besar terdapat pada titik B061 sebesar 7,796 cm/tahun dan yang paling kecil yaitu titik T447 sebesar 1,795 cm/tahun. Kata Kunci : Semarang, Penurunan Muka Tanah, GNSS, GAMIT   ABSTRACTLand subsidence has occurred in many cities including Semarang City. Semarang City is a city that has an important role, namely as the capital which is the center of development, government and economy in the province of Central Java. This study aims to determine how much land subsidence occurred in the city of Semarang by conducting a survey using the GNSS observation method. Land subsidence is one of the phenomena of vertical surface deformation in addition to the uplift phenomenon. Land subsidence can take place over a long period of time, so that if it occurs continuously, areas that experience land subsidence will experience a decline itself, whereas land subsidence itself is uneven in each region. This study utilizes observational benchmarks that are around the research object. This GNSS observation was carried out by the static method for approximately 6 hours at 9 points in the city of Semarang. Land subsidence value was obtained by processing survey data in 2018 and in 2019 the GNSS survey method which was processed using GAMIT scientific software whose observation points were tied to 5 CORS stations. The highest land subsidence rate is at point B061 of 7,796 cm / year and the smallest point is T447 point of 1,795 cm / year. Keywords: Semarang, Land Subsidence, GNSS, GAMIT
PENENTUAN BATAS DAERAH KECAMATAN TANJUNG REDEB, GUNUNG TABUR, SAMBALIUNG DAN TELUK BAYUR DI KABUPATEN BERAU DENGAN METODE KARTOMETRIK (Studi Kasus : Kawasan Perkotaan Kabupaten Berau) Andika Malik; Bambang Sudarsono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.427 KB)

Abstract

ABSTRAKKabupaten Berau adalah kabupaten yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan tersebar di beberapa kecamatan yang ada di dalamnya, akan tetapi belum ada garis batas administrasi yang jelas, sehingga sering terjadi masalah dalam penentuan letak dan posisi suatu objek antara kecamatan-kecamatan di Kabupaten BerauDalam penelitian ini dilakukan penentuan garis batas wilayah antara empat kecamatan di kawasan perkotaan Kabupaten Berau menggunakan metode kartometrik dengan mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri  Nomor 76 Tahun 2012 tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah. Metode kartometrik adalah penentuan garis batas dan pilar batas suatu daerah dengan menggunakan data dari citra satelit. Citra satelit yang digunakan adalah Citra Worldview-2, Ikonos dan Aster GDEM serta data pendukung lainnya seperti Peta RBI, Peta RTRWK dan Peta RDTR Kabupaten Berau.Penelitian ini menghasilkan  batas wilayah di darat dan di sungai. Panjang garis batas di darat diperoleh hasil sepanjang 14.833 meter, yang membatasi 3 batas kecamatan, dan panjang garis batas di sungai diperoleh hasil sepanjang 25.843 meter yang membatasi 4 batas kecamatan. Untuk luas area terjadi perubahan, perubahan tersebut terjadi di 4 kecamatan yang ada di kawasan perkotaan Kabupaten Berau. Pertambahan luas area terjadi di dua kecamatan yaitu Kecamatan Tanjung Redeb dan Kecamatan Teluk Bayur, sedangkan Kecamatan Gunung Tabur dan Kecamatan Sambaliung mengalami pengurangan luas area.Kata Kunci : Batas Wilayah, Citra Worldview-2, Citra Ikonos, Kartometrik ABSTRACT Berau is a district that has a wealth of natural resources that are abundant and spread across several subdistricts in it, but there is no clear administration boundary makes frequent occurrence of problems in determining the location and position of an object between sub-districts in Berau.In this research, the determination of the boundaries between the four districts in urban areas in Berau are done by using Kartometrik method with reference to Minister Regulation No. 76 Year 2012 on Guidelines Region Emphasis. Kartometrik method is a method to detemine the boundary line and pillar limits of the area using data from satellite imagery. The Satellite images that were used are WorldView-2 imagery and Ikonos and other supporting data such as RBI maps, RTRWK Maps and RDTR Berau Maps.This thesis resulted in the boundaries line on land and the river. The length of the land boundary obtained is 14 833 meters, which restricting the 3 sub-district boundaries, and the length of the boundary line in the river is 25 843 meters showed that restricting 4 sub-district boundary. There is a change for area wide length, the changes occurred in 4 districts on urban areas in Berau. The increasing area length, occurs in two sub-districts, Tanjung Redeb and Teluk Bayur, while the other sub-district as Gunung Tabur and Sambaliung experienced a reduction of area length. This is because the previous boundary line determination is not done by a professional.Keywords: Borders, WorldView-2 imagery, Ikonos imagery, Kartometrik 
ANALISIS KESESUAIAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) DI KABUPATEN CIANJUR MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Adri Panjaitan; Bambang Sudarsono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.915 KB)

Abstract

Kabupaten Cianjur merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Barat. Pertumbuhan penduduk yang semakin pesat mengakibatkan peningkatan kebutuhan sarana dan prasarana, sehingga membuat terjadinya perubahan penggunahan lahan dan akan berpengaruh pada pola ruang. Perubahan penggunaan lahan menyebabkan terjadinya masalah dalam penataan ruangnya, dimana perubahan yang ada belum sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah ditetapkan. Akibat adanya perubahan lahan ini perlu dilakukan pemetaan, dimana proses yang dilakukan yaitu membuat peta penggunaan lahan pada wilayah penelitian  tahun 2011 dan 2017 dengan melakukan digitasi on-screen berdasarkan  interpretasi citra satelit IKONOS dan SPOT 7 yang hasilnya akan dianalisis perubahan dan kesesuaiannya dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana kesesuaian antara rencana dengan keadaan yang ada di lapangan sehingga mempermudah dalam melakukan pengawasan dan membuat kebijakan terkait penataan ruang. Berdasarkan analisis perubahan penggunaan lahan tahun 2011 dan 2017 didapatkan hasil berupa peningkatan dan penurunan luas penggunaan lahan. Luas lahan yang bertambah yaitu hutan konservasi sebesar 14,332 ha (0,04%), hutan produksi sebesar 840,813 ha (2,1%), permukiman pedesaan sebesar 605,858 ha (1,51%), permukiman perkotaan sebesar 172,969 ha  (0,43%) dan  industri sebesar 7,592 ha (0,02%), sedangkan luas lahan yang berkurang yaitu perairan sebesar 4,376 ha (0,01%), perkebunan/tanaman tahunan sebesar 14,582 ha (0,04%), pertanian lahan kering sebesar 1.394,808 ha (3,38%), pertanian lahan basah sebesar 200,4 ha (0,50%) dan sempadan sungai dan danau sebesar 27,399 ha (0,07%). Kesesuaian penggunaan lahan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Cianjur Tahun 2011-2031 pada tahun 2011 sebesar 18.886,975 ha atau 47,072 % sedangkan pada tahun 2017 sebesar 19.183,538 ha atau 47,81 % dari total luas wilayah penelitian, sehingga kesesuaian Penggunaan lahan wilayah penelitian mengalami peningkatan dalam rentang waktu 6 tahun sebesar 296,563 ha atau 0,739 %.
ANALISIS SPASIAL PERKEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN PATI TAHUN 2030 MENGGUNAKAN MODEL CELLULAR AUTOMATA MARKOV Tristika Putri; Bambang Sudarsono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKDi Kabupaten Pati khususnya wilayah sekitar jalan lingkar selatan selatan selatan yang melingkupi 4 Kecamata terjadi perubahan penggunaan lahan akibat aktivitas dan mobilitas masyarakat yang semakin kompleks membutuhkan infrstruktur yang memadai dalam mendukung produktifitas masyarakat agar terlaksana secara maksimal. Salah satu infrastruktur yang harus diperhatikan adalah infrastruktur jalan lingkar selatan sebagai pendukung perkembangan wilayah. Analisis spasial dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan lahan yang selanjutnya ditinjau kesesuaiannya dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang ketelitian peta RTRW. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh adanya jalan lingkar selatan terhadap perkembangan wilayah Kabupaten Pati dengan metode CA Markov serta melakukan prediksi kondisi wilayah perkembangan Kabupaten Pati Tahun 2030 dan mengetahui pola perkembangan wilayah Kabupaten Pati dengan Global Moran’s Index. Hasil penelitian berupa analisis kesesuaian prediksi penggunaan lahan Tahun 2030 dengan RTRW dengan katagori sesuai sebesar 21144,98 Ha (95,41%). Persebaran pola perkembangan pola pada prediksi Tahun 2030 sesudah dibangun jalan lingkar selatan membentuk pola clustered di Kecamatan Margorejo dan Kecamatan Jakenan. Kata Kunci: CA Markov, Global Moran’s Index, Jalan lingkar selatan, Kabupaten Pati, Perkembangan Wilayah, Penggunaan Lahan ABSTRACTIn Pati Regency, especially the area around the southern southern ring road which covers 4 districts, there has been a change in land use due to increasingly complex community activities and mobility requiring adequate infrastructure to support community productivity so that it is carried out optimally. One of the infrastructure that must be considered is the ring road infrastructure to support regional development. Spatial analysis is carried out to identify land changes which are then reviewed for compliance with the Regional Spatial Plan (RTRW) in accordance with Government Regulation Number 8 of 2013 concerning the accuracy of the RTRW map. This study aims to determine the effect of a ring road on the development of Pati Regency with the CA Markov method and to predict the condition of the development area of Pati Regency in 2030 and determine the development pattern of Pati Regency with the Global Moran's Index. The result of the research is the analysis of the suitability of the prediction of land use in 2030 with the RTRW with the appropriate category of 21144,98 Ha (95,41%). The distribution of the pattern development pattern in the 2030 predictions after the construction of the ring road forms a clustered pattern in Margorejo District and Jakenan District. Keywords:  CA Markov, Global Moran’s Index, Pati Regency, Regional Development, Land Use
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PEMETAAN INVENTARIS ASET TANAH DAN BANGUNAN KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT DIREKTORAT JENDRAL SUMBER DAYA AIR BALAI BESAR WILAYAH SUNGAI BENGAWAN SOLO (Studi Kasus : Kabupaten Wonogiri) Theodorus Satriyo Singgih; Bambang Sudarsono; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1253.875 KB)

Abstract

ABSTRAK             Kabupaten Wonogiri, secara geografis berlokasi di bagian tenggara Provinsi Jawa Tengah. Bendungan Gajah Mungkur adalah salah satu ikon Kabupaten Wonogiri yang berada dalam tanggung jawab Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Bukan hanya Bendungan Gajah Mungkur, kantor-kantor pendukung, gudang alat berat, aset tanah dan bangunan lainnya yang tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Wonogiri perlu dipetakan keberadaan lokasi dan kondisinya.            Inventarisasi aset tanah dan bangunan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo ini dapat dilakukan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Sistem Informasi Geografis merupakan terobosan pemetaan modern. Dengan perkembangan teknologi pemetaan dan teknologi komputer/informatika memungkinkan dibuat sistem informasi persebaran aset tanah dan bangunan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo dengan basis SIG.            Dari hasil penelitian dapat diketahui persebaran lokasi aset terdapat pada 5 (lima) kecamatan yang berbeda. Aset tanah dan bangunan yang tersebar tersebut kondisinya dikategorikan dalam 3 (tiga) golongan yaitu baik, rusak ringan dan rusak berat. Sistem informasi Geografis memliki peranan yang penting untuk inventarisasi aset BBWSBS khususnya di Kabupaten Wonogiri dalam menampilkan peta lokasi persebaran aset tanah dan bangunan karena akan mempermudah dalam melakukan analisa kondisi aset dan monitoring.           Kata Kunci : Aset, Bendungan Gajah Mungkur, Inventarisasi, Sistem Informasi Geografis, Monitoring ABSTRACT          Wonogiri District, geographically located in the southeast part of Central Java, had Gajah Mungkur DAM well-known as one of notable icons which was being responsible by Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) under Kementrian Pekerjaan Umum and Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Not only does Gajah Mungkur DAM, the locations and conditions of supported offices, heavy equipment warehouses, field assets, and other buildings are also needed to be mapped.            Inventory of field and building assets of Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo can be conducted by Geographic Information System (GIS). By sophistication of mapping and information technologies, GIS appears as a modern mapping system which is enable to create the distribution of information system.            According to the result, it was known that the distribution of asset location was divided into five districts. Those distributed field and building were categorized into three types; proper, slight broken, and weight broken. GIS has an important roles in order to invest the BBWSBS’ asset particularly in Wonogiri District. It is related to display the location map of field asset’s distribution in order to easily analyze the condition of monitoring and asset. Keywords: Asset, Gajah Mungkur DAM, Inventory, Geographic Information System, Monitoring
ANALISIS PERKEMBANGAN WISATA DI KABUPATEN SEMARANG BERDASARKAN NILAI FREKUENSI KUNJUNGAN DARI TAHUN 2015-2017 DENGAN PENDEKATAN TRAVEL COST METHOD DAN CONTINGENT VALUATION METHOD MENGGUNAKAN SIG (STUDI KASUS : ELING BENING DAN KAMPOENG RAWA) JACKIE SUPRAWITO NABABAN; Sawitri Subiyanto; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1265.18 KB)

Abstract

Kabupaten Semarang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah dengan ibukotanya adalah Kota Ungaran. Perkembangan ekonomi di Kabupaten Semarang antara lain ditinjau dengan peningkatan pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata yang tidak lepas dari banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Semarang. Sebagai contoh adalah objek wisata Eling Bening dan Kampoeng Rawa yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) untuk menilai dan mengetahui seberapa besar keinginan seseorang untuk memberikan nilai fungsi ekonomi kawasan dan masyarakat sekitar yang memperoleh manfaat dari kawasan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah TCM (Travel Cost Method) untuk menentukan nilai penggunaan langsung (Direct Use Value, DUV) dan CVM (Contingent Valuation Method) untuk menentukan nilai keberadaan (Existence Value, EV). Penarikan sampel (responden) yang digunakan adalah non probability sampling dengan teknik sampling incidental, yang berarti siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Penelitian Eling Bening sebesar 120 responden untuk TCM dan 70 responden untuk CVM, sedangkan Kampoeng Rawa sebesar 60 responden untuk TCM dan CVM. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan melakukan perhitungan menggunakan perangkat lunak Maple 20I7 sehingga dapat digunakan untuk pembuatan Peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan. Kemudian dilakukan survei toponimi untuk pembuatan Peta Utilitas dan Peta Persebaran Responden. Dalam penelitian tugas akhir ini, diperoleh nilai ekonomi kawasan dengan nilai surplus konsumen Eling Bening sebesar Rp3.717.137,389 dan nilai WTP sebesar Rp100.764 sehingga diperoleh nilai total ekonomi Eling Bening tahun 2017 sebesar Rp790.138.113.900. Dan nilai surplus konsumen Kampoeng Rawa sebesar Rp1.071.502,494 dengan nilai WTP sebesar Rp48.495 sehingga diperoleh nilai ekonomi total Kampoeng Rawa tahun 2017 sebesar Rp340.763.356.490.
ANALISIS KESESUAIAN PENGGUNAAN LAHAN KAWASAN INDUSTRI DAN LAHAN TERBANGUN TERHADAP RTRW DI KECAMATAN BAWEN DAN KECAMATAN PRINGAPUS MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Rika Enjelina Pidu; Bambang Sudarsono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.784 KB)

Abstract

ABSTRAKPerkembangan penduduk di  suatu daerah berdampak pada meningkatnya pembangunan daerah. Oleh karena pembangunan yang pesat maka akan membuat masalah dalam penataan ruang. Semakin banyak lahan yang dibangun maka akan menimbulkan pembangunan yang tidak sesuai dengan RTRW. Salah satu Kecamatan yang kawasan industrinya berkembang pesat yaitu Kecamatan Bawen dan Kecamatan Pringapus yang berada di Kabupaten Semarang. Mendukung perkembangan industri di Kecamatan Bawen dan Kecamatan Pringapus maka dikembangkan beberapa kawasan industri yang cukup banyak seperti industri garmen dan industri tekstil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kesesuaian antara rencana penggunaan lahan kawasan industri dan lahan terbangun dengan keadaan lapangan. Proses yang dilakukan dalam penelitian ini adalah peta penggunaan lahan tahun 2015 dan 2018 dengan melakukan proses digitasi on screen. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode overlay intersect untuk medapatkan data informasi perubahan, kesesuaian penggunaan lahan dan kesesuaian perubahan penggunaan lahan terhadap RTRW. Data yang digunakan pada penelitian adalah data  Citra Worldview-3 Tahun 2015 dan Citra SPOT-6 Tahun 2018. Analisis dari interpretasi citra yang hasilnya dianalisis perubahan dan kesesuaian terhadap RTRW. Hasil dari penelitian didapatkan peningkatan dan penurunan luas persebaran penggunaan lahan. Jumlah perubahan penggunaan lahan sebesar 471,678 ha (3,86%). Jumlah perubahan penggunaan lahan yang bertambah ± 181,897 ha (1,93%). Sedangkan jumlah perubahan penggunaan lahan yang berkurang ± 235,839 ha (1,93%). Sementara itu, Kesesuaian penggunaan lahan terhadap RTRW pada tahun 2015 sebesar 9.828,567 ha (80,42%) dan pada tahun 2018 sebesar 9.675,471 ha (79,16%) dari luas wilayah penelitian. Selama kurun waktu 3 tahun kesesuaian penggunaan lahan terhadap RTRW terjadi penurunan sebesar 153,096 ha (1,26%). Kata Kunci: Analisis Kesesuaian , Penggunaan Lahan, RTRW, SIG. ABSTRACTThe development of population in an area has an impact on increasing regional development. The impact of the rapid development will create problems in spatial planning. The more land that is developed, it will lead to incompatibility development that is not in accordance with the RTRW. One of the subdistricts that rapidly growing is Bawen and Pringapus Districts in Semarang regency. Several industrial estates have been developed, such as the garment and textile industry to support industrial development in Bawen and Pringapus District. This study aims to analyze how the suitability of industrial estate land use plans with built up land with field conditions. The process carried out in this research is the land use maps in 2015 and 2018 by digitizing on screen. The method used in this study is the intersect overlay method to obtain information on changes in data, the suitability of land use and land use change with RTRW. The data used in the study are the 2015 Worldview Image 2 and 2018 SPOT-6 Image. Analysis of the image interpretation whose results are analyzed changes and conformity to the RTRW. The results of the study found an increasing and decreasing in the spread of land use. Total land use change was 471,678 ha (3.86%). The number of changes in land use increased ± 181,897ha (1.93%). While the number of changes in land use is reduced ± 235,839 ha (1.93%). Meanwhile, the suitability of land use to the RTRW in 2015 amounted to 9.828,567 ha (80,42%) and in 2018 amounted to 9.675,471 ha (79,16%) of the area of the study area. Over this 3 years period, the suitability of land use to the RTRW decreased by 153.096 ha (1.26%).  Keywords: Suitability Analysis, Land Use, RTRW, GIS.
Co-Authors . Widayat Abdi Sukmono, Abdi Abdul Latif Adi Nur Ikhsan Adirama, Alfian Zamzami Adnan Khairi Adri Panjaitan Agree Isnasatrianto Agus Supriyanto Ahmad Rizki, Ahmad Ajeng Dwi Maturinsih Aji Apri Setiawan Alfajrin, Achmad Chalid Alif Afif Alfin Nandaru Amalia Permata Dewi, Amalia Permata Amalia Tyo, Almaas Zain Andika Malik Andini, Risnaida Ratri Andri Suprayogi Annisa Usolikhah Archita Permata Santynawan Arga Fondra Oksaping Arief Ghozali, Fanani Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Arliandy Pratama Arliandy Pratama Aruma Hartri Arwan Putra Wijaya Aryawan, Adi Asti Mulasari, Surahma Aulia Imania Sukma Aulia Rizky Auliya Azfin, Tazkiya Awwaluddin, Moehammad Ayu Nur Safi'i Aziz Anjar Santoso Bagas S, Naldius Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Benita Roseana Bledug Kusuma Budi Prayitno Camelia, Nabila Putri David Beta Putra DEDI SETYAWAN Diana, Riska Dina Puspitasari, Arianti Dina Wahyuningsih Dinda Anisa Anggraini Dini Ramanda Putri Djoko Saryono Dody Hartanto Dwi Yulinanda Pratiwi Dwiputra, Mohammad Ashari Dyah Widyaningrum Ega Siva Bellamy Eko Susanto Elsa Regina Rizkitasari Enersia Ihda K. U Fadlil Zen, Alif Ahmad Faidal, Faidal Faiz Mubina, Muhammad Faizal Hafidz Muslim Fajar Rudi Purwoko Fajri Ramadhan Fanani Arif Ghozali Fathul Qodir, Fathul Fatwa Tentama Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fetra Kristina Harianja Fistcar, Wawarisa Alnu Fitriani Mutmainah, Nur Galih Rakapuri Ghazali, Fanani Arief Ghozali, Fanani Arief Gita Amalia Sindhu P. Guntur Bagus Pamungkas Habiburrahman, Nawal Hadi Winoto Hamdani Hamdani Hamid Nasrullah Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Handoko Dwi Julian HARDIAN ASTIANINGRUM Hasanah, Enung Hasbie Rachmat Bachtiar Herlambang, Andy Rahmadi Herman Yuliansyah, Herman Hidayati, Dian Hidayatun Nafi'ah, Hilda Hisni Theresia Br Sinuraya Imam Mudita Indramayanti, Vivi Silvi Indriyanto, Ignatius Wahyu Irfan Yunianto Ita Asriani Izzakah, Ita Izzati, Elsarina Nur JACKIE SUPRAWITO NABABAN Jamal Jamal Jiyah Jiyah Jolangga Agung Budiman Juwita, Okky Syahfira Kartiko Ardhi Widananto Khoirul Isnaini Aulia Kurniawan, Moh. Zaki Laode M Sabri Lisa Nur Nur Istiqomah Listyaningrum, Prabandari Lukman Jundi Fakhri Islam M. Ishaq, M. machmudah, Naili Maschoer, Maschoer Ma’ruf, Anang Mega Dwijayanti Meita Arddinatarta Mhd Muhajir Hasibuan Michel Christiansen Sipayung Miftakhul ‘Ulya Rimadhani Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Moh. Toifur MOHAMMAD YUSUP LUTFI Mualif Marbawi Muhammad Annis Wichi Luthfina Muhammad Arizar Hidayat Muhammad Asadullah Al Fathin Muhammad Fadhli Auliarahman Muhammad Haris Febriansya Mutmainah, Nur Fitri Nafiati, Lu'lu' Nafiati, Lu’lu’ Nainggolan, Paolo M. Nizma Humaidah Nur Aris Adi Nugroho Nur Rizal Adhi Nugroho Nur Wahidah Sudarsono, Nur Wahidah Nuraini, Febritesna Nurhadi Bashit Nurul Huda Oki Samuel Damanik Okimustava Okimustava Panusunan Nauli Siregar Patriot Ginanjar Satriya Permana, Rizki Dimas Pratama, Wegig Pratiwi Purba, Eleven Eleven Priyanta Priyanta, Priyanta Purnomo, Ajis Putri Ardianti Kinasih Putri, Erni Dwi Hapsari R. Hafid Hardyanto, Settings Rahmawati, Rahmawati Raka Angga Prawira Rama Aditya Wiwaha Restu Fadilla Rianingsih, Firma Ridho Alfirdaus Rika Enjelina Pidu Riski Kadriansari Riski, Fildzatu Rizki Fadillah Rizki Widya Rasyid Rudi Cahyono Putro S Anugrahini Irawati Sanches Budhi Waluyo sari, nurika arum Sari, Putri Regita Permata Sasongko Adhi Sawitri Subiyanto Sendy Brammadi Setiabudi, Hino Setyanto, Barry Nur Shindy Mariska Zulkarnain Siti Fathimah Siti Haeriah Sonny Mawardi Sri Wahyuni Subardjo Subardjo, Subardjo Sulistyawati Sulistyawati Surahma Asti Mulasari Surbakti, Christman Sutomo Kahar Sutomo Kahar Suyatno Suyatno Syafiri Krisna Murti Syamsuddin, Arief Sylvia Tri Yuliani Theodorus Satriyo Singgih Tika Christy Novianty Tito Wisnu Pramono Aji Tjiong Susilo Dinoto Togi Pardo Siagian Tri Rahmawati Winda Kusuma Tri Wahyuni Sukesi Tristika Putri Tristika Putri Try Jokosantoso Tsana’a Alifia Nauthika Ummi Athiyyah Yuniarti Vinsensia Hutagaol Virgus - Arisondang Virgus Arisondang Virgus Arisondang Wahyuddin, Yasser Wahyuni Sukesi, Tri Wicke Widyanti Santosa Wijayanti Hutomo Putri Windarta, Jaka Wirayudha Pramana Bhakti Witjaya, Oka Rani Yahya Hanafi Yasser Wahyuddin Yogi Wahyu Aji Yovi Adyuta Isdiantoro Yudo Prasetyo Zain, Azizah Binti Zamili, Abdi Oktarian