Claim Missing Document
Check
Articles

DETEKSI GEN-GEN PENYANDI FAKTOR VIRULENSI PADA BAKTERI VIBRIO Ince Ayu Khairani Kadriah; Endang Susianingsih; Sukenda Sukenda; Munti Yuhana; Enang Harris
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.041 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.1.2011.119-130

Abstract

Penelitian untuk mendeteksi gen-gen penyandi virulensi dilakukan denganmenggunakan isolat bakteri yang diisolasi dari budidaya udang windu di berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan Jawa. Pada penelitian ini digunakan primer spesifik untuk mendeteksi gen-gen virulen toxR gene, hemolysin (vvh) gene, dan GyrB gene dengan metode PCR. Dari 35 isolat yang diisolasi, 20 isolat terdeteksi memiliki gen virulensi dan 8 di antaranya memiliki dua gen virulen. Spesies bakteri yang memiliki gen virulen adalah: V.harveyi, V. parahaemolyticus, V. mimicus, dan V. campbelli
UJI IN VITRO BAKTERI ANTI QUORUM SENSING PENDEGRADASI ACYL HOMOSERINE LACTONE Aeromonas hydrophila Hessy Novita; Iman Rusmana; Munti Yuhana; Fachriyan Hasmi Pasaribu; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.921 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.291-296

Abstract

Anti quorum sensing (AQS) adalah proses inaktivasi atau degradasi molekul sinyal quorum sensing (QS) yaitu acyl homoserine lactone (AHL) tanpa memengaruhi pertumbuhan bakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan uji kultur bersama dan uji penghambatan faktor virulensi secara in vitro antara bakteri AQS dengan Aeromonas hydrophila sebagai patogen yang menyebabkan Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) pada ikan air tawar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji in vitro dengan kultur bersama antara bakteri AQS Bacillus sp. dan A. hydrophila tidak ada penghambatan pertumbuhan pada kedua bakteri, tetapi bakteri AQS dapat menghambat produksi faktor virulensi dari A. hydrophila yaitu protease dan hemolisin. AQS merupakan salah satu strategi yang potensial untuk diaplikasikan dalam pengendalian penyakit infeksius atau bakteri patogen resisten antibiotik pada budidaya ikan air tawar.Anti quorum sensing (AQS) was process of inactivation or degradation of Quorum sensing signal molecules of acyl homoserine lactone (AHL) without affecting growth of the bacteria. The aim of the reseach was to study in vitro assay of co-culture and inhibition of virulence factors between AQS bacteria which Aeromonas hydrophila as pathogen caused motile aeromonad septicaemia (MAS) in fresh water fish. The result showed that in vitro assay of co culture between AQS bacteria Bacillus sp. and A. hydrophila without inhibited of growth in both bacteria but bacteria AQS could suppressed production A. hydrophila virulence factors, protease, and hemolysin. The AQS is one of potential strategies to inhibit QS for application to control of infectious diseases or antibiotic resistant bacterial pathogens in fresh water aquaculture.
SUPLEMENTASI PREBIOTIK FRUKTOOLIGOSAKARIDA (FOS) MENINGKATKAN EKSPRESI GEN TERKAIT METABOLISME SERTA PERTUMBUHAN UDANG VANAME, Litopenaeus vannamei Yanti Inneke Nababan; Hasan Nasrullah; Widanarni Widanarni; Munti Yuhana; Alimuddin Alimuddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.38 KB) | DOI: 10.15578/jra.16.4.2021.203-210

Abstract

Fruktooligosakarida (FOS) merupakan salah satu jenis prebiotik yang berpotensi menjadi feed additive dalam budidaya udang vaname. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi suplementasi prebiotik FOS melalui pakan terhadap tingkat ekspresi gen terkait metabolisme dan performa pertumbuhan udang vaname. Pakan uji berupa pakan komersil yang disuplementasi prebiotik FOS (Pre) dengan empat dosis berbeda dan masing-masing terdiri atas tiga ulangan yaitu: Pre-0% (kontrol), Pre-0,5%; Pre-1%, dan Pre-2%. Udang dengan bobot rata-rata 1,58 ± 0,21 g dipelihara dalam bak fiber (volume 1 m3) dengan kepadatan 100 ekor per bak. Pemberian pakan dilakukan selama 30 hari dengan dosis 6% dari bobot biomassa udang. Bobot tubuh diukur setiap 10 hari (n=10) dan tingkat ekspresi gen diukur dari hepatopankreas pada akhir pemeliharaan (n=3) dengan metode quantitative-realtime PCR (qPCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian prebiotik FOS dapat meningkatkan ekspresi gen terkait metabolisme pada udang vaname. Suplementasi prebiotik FOS memberikan bobot rata-rata, pertumbuhan harian, dan tingkat sintasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol (p>0,05). Perlakuan Pre-0,5% menunjukkan rata-rata tingkat ekspresi gen tertinggi, namun performa pertumbuhan, dan sintasan tidak berbeda (p>0,05) dengan perlakuan Pre-2%.Fructooligosaccharides (FOS) are natural feed additives with potential application in feed for Pacific white shrimp. This study aimed to evaluate the effects of prebiotic FOS supplementation on the modulation of metabolism-related gene expression and growth performance of Pacific white shrimp. A trial feed consisted of commercial feed supplemented with different doses of FOS: Pre-0% (control), Pre-0.5%, Pre-1%, and Pre-2%; each with triplicate. Pacific white shrimp with an average body weight of 1.58 ± 0.21 g were reared in fiber tanks (d=1.5 m3) with a density of 100 shrimp/tank for each treatment. The shrimp were given the treatment feed five times per day at 6% of the total body mass for 30 days. Shrimp body weight was measured every ten days (n=10). The gene expression level was measured from the hepatopancreas (n=3) by the quantitative-real time PCR (qPCR) method. The results showed that FOS supplementation increased the metabolism-related gene expression levels. FOS supplementation improved the average body weight, average daily growth, and survival higher than control (p<0.05). Pre-0.5% treatment showed the highest average gene expression despite growth performance and survival were not significantly different (p>0.05) compared to Pre-2% treatment. This study concludes that the application of FOS in the feed improves the growth performance of Pacific white shrimp, notably in gained weight, reduced FCR and improved survival rate.
SKRINING DAN IDENTIFIKASI BAKTERI ANTI QUORUM SENSING ASAL TAMBAK UDANG VANAME PENGHAMBAT VIRULENSI Vibrio parahaemolyticus Emei Widiyastuti; Iman Rusmana; Munti Yuhana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.16.1.2021.61-69

Abstract

Vibriosis dapat dicegah dan dikendalikan dengan memanfaatkan mekanisme anti quorum sensing (AQS). Salah satu strategi anti quorum sensing dalam menghambat ekspresi faktor virulen dari Vibrio parahaemolyticus yaitu dengan mendegradasi sinyal komunikasi sel bakteri menggunakan AHL laktonase. Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi dan mengindentifikasi bakteri penghasil AHL laktonase yang berpotensi mampu menghambat virulensi bakteri patogen V. parahaemolyticus. Isolasi bakteri dilakukan dari sampel saluran pencernaan udang vaname, air, dan sedimen tambak. Sebanyak 18 dari 111 isolat yang diisolasi menunjukkan adanya aktivitas AQS terhadap bioindikator Chromobacterium violaceum. Hasil uji patogenitas secara in vitro pada agar darah didapatkan tiga isolat yang tidak menunjukkan aktivitas hemolisis yaitu B5, K4, dan S12. Hasil konfirmasi dan analisis gen aiiA menggunakan Blast-X menunjukkan bahwa isolat B5 dan S12 memiliki kesamaan dengan AHL laktonase pada Bacillus cereus, sedangkan K4 memiliki similaritas dengan AHL laktonase pada multispesies Bacillus sp. Hasil pensejajaran sekuen gen 16S rRNA ketiga isolat tersebut dengan data pada GenBank, teridentifikasi sebagai Bacillus siamensis (B5), Bacillus cereus (K4), dan Bacillus amyloliquefaciens (S12). Berdasarkan hasil uji antagonis dan uji kultur bersama disimpulkan bahwa isolat K4 bekerja dengan mekanisme AQS sedangkan isolat B5 dan S12 diduga berjalan dua mekanisme secara bersama yaitu antibiosis dan anti quorum sensing. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut memiliki potensi sebagai kandidat agen biokontrol pada akuakultur sehingga perlu dilakukan uji lanjutan.Vibriosis can be prevented and controlled by utilizing the anti-quorum sensing (AQS) mechanism. One of the anti-quorum sensing mechanisms to inhibit the expression of virulent factors of Vibrio parahaemolyticus is by degrading the quorum sensing communication signals using AHL lactonase. The study aimed to select and identify AHL lactonase-producing bacteria that have the potentials to inhibit the virulence of V. parahaemolyticus. Several batches of bacteria were isolated from the digestive tract of vannamei shrimp, water, and sediment of shrimp ponds. There were 18 out of 111 isolates that showed AQS activity against Chromobacterium violaceum used as a bioindicator. In vitro pathogenicity test on blood agar showed that B5, K4, and S12 isolates showed gamma hemolysis activity. The results of confirmation and analysis of aiiA genes using Blast-X showed that B5 and S12 isolates have AHL lactonase similarities with Bacillus cereus, whereas K4 has similarities with multispecies Bacillus sp. Alignment results of the 16S rRNA gene sequences with GenBank data showed that B5, K4, and S12 isolates were identified as Bacillus siamensis, Bacillus cereus, and Bacillus amyloliquefaciens, respectively. The follow up antagonistic and coculture tests revealed that K4 uses the AQS mechanism, while B5 and S12 likely use antibiotic mechanism and anti quorum sensing to inhibit the virulent expression of V. parahaemolyticus. This study concludes that the three isolates have the potential to be used as biocontrol agents in brackishwater aquaculture. Further research is needed to determine the pathogenicity of AQS bacteria to vannamei shrimp and the effective concentration of AQS bacteria to inhibit the virulence of V. parahaemolyticus to vannamei shrimp by in vivo treatment.  
DESAIN PRIMER SPESIFIK UNTUK DETEKSI DINI PENYAKIT VIBRIOSIS PADA UDANG PENAEID Ince Ayu Khairana Kadriah; Endang Susianingsih; Sukenda Sukenda; Munti Yuhana; Enang Harris
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.543 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.1.2013.131-143

Abstract

Serangan Vibriosis, yang disebabkan oleh Vibrio harveyi berpendar pada budidaya udang telah menyebabkan penurunan yang signifikan dalam produksi, baik pada pembenihan maupun di tambak pembesaran. Pengembangan metode deteksi cepat berbasis PCR (Polymerase Chain Reaction) sangat penting untuk mencegah penularan vibriosis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan metode cepat deteksi vibriosis pada udang penaeid dengan menggunakan penanda molekuler yang spesifik. PCR berbasis deteksi gen spesifik dilakukan menggunakan primer spesifik toxR, haemolysin (vvh), dan gyrB. Dari 35 isolat, 22 isolat yang terdeteksi memiliki gen spesifik toxR, haemolysin (vvh) dan gen gyrB dan 9 isolat terdeteksi memiliki dua gen tertentu. Penanda molekuler spesifik telah dirancang menggunakan data urutan gen penyandi protein haemolysin dan gyrase. Desain pasangan primer yang didasarkan pada program perangkat lunak dari Primer3 dan secara manual menggunakan program perangkat lunak Bioedit. Tiga pasangan primer untuk gen haemolysin dan dua primer gyrase telah diperoleh dan dipilih sebagai primer.
PENGARUH PENAMBAHAN ASAM HUMAT PADA PAKAN MENGANDUNG KADMIUM (Cd) DARI KERANG HIJAU TERHADAP BIOELIMINASI Cd, STATUS KESEHATAN, DAN PERTUMBUHAN IKAN KAKAP PUTIH Lates calcarifer Rasidi Rasidi; Dedi Jusadi; Mia Setiawati; Munti Yuhana; Muhammad Zairin Jr.; Ketut Sugama
Jurnal Riset Akuakultur Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.15.1.2020.31-40

Abstract

Asam humat (AH) terdiri atas AH alami (AHA) dan sintetik (AHS), namun efektivitasnya sebagai feed additive pada pakan ikan kakap putih belum dikaji. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas penambahan AH pada pakan yang mengandung kadmium (Cd) dari kerang hijau Perna viridis terhadap status kesehatan dan pertumbuhan ikan kakap putih, Lates calcarifer. Percobaan dirancang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas lima pakan uji mengandung AH yang berbeda, yaitu 0; 1.600; 10.000; dan 20.000 mg.kg-1 (AHA) dan sebagai pembanding menggunakan AHS sebesar 1.600 mg.kg-1 pakan. Benih ikan kakap putih (4,18 ± 0,25 g) dipelihara dalam akuarium ukuran 80 cm x 35 cm x 28 cm yang diisi air laut dengan sistem resirkulasi selama 70 hari. Ikan diberi pakan uji sesuai perlakuan tiga kali sehari sampai kenyang. Hasil penelitian menunjukkan penambahan AH baik jenis AHA maupun AHS pada pakan dapat menurunkan akumulasi Cd dalam daging, ginjal, dan hati; kedua jenis AH tersebut mampu mengeliminasi Cd di dalam daging ikan. Pada dosis 1.600 mg.kg-1 kedua jenis AH tersebut mampu meningkatkan performa pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan, namun pada dosis AHA > 1.600 mg.kg-1 pertumbuhannya relatif menurun. Pola respons pertumbuhan ikan bersesuaian dengan parameter hematologi, enzim pencernaan, dan status antioksidan di hati ikan. Kesimpulan penelitian ini, penambahan asam humat pada dosis yang sama (1.600 mg.kg-1) pada pakan, AHS lebih efisien dibandingkan AHA dalam hal meningkatkan pertumbuhan. Penambahan AH dari jenis asam humat alami dan sintetik dalam pakan uji dapat meningkatkan status kesehatan dan mengeliminasi Cd di dalam daging ikan. Penambahan AHA pada dosis tinggi pada pakan memberikan respons negatif terhadap status kesehatan, kelangsungan hidup, dan kinerja pertumbuhan ikan kakap putih.Humic acids (HAs) are available in natural and synthetic forms. HA has potential applications in aquaculture, yet its effectiveness as a feed additive in Asian seabass, Lates calcarifer has not well studied. The purpose of this study was to asses the effectiveness of the addition of natural and synthetic humic acids to reduce cadmium (Cd) concentration in green mussels Perna viridis used for Asian seabass feed and evaluate the fish health status and growth performance. The experiment was designed using a completely randomized design (CRD) with five treatments and three replications. Five test feeds containing different levels of humic acid, i.e., 0; 1,600; 10,000; and 20,000 mg natural humic acid kg-1 feed. As a comparison, a test feed was added with 1,600 mg synthetic humic acid kg-1 feed. Asian seabass juveniles (4.18 ± 0.25 g) were cultivated in seawater aquarium equipped with a recirculation system for 70 days. Fifteen aquaria of 80 cm x 35 cm x 28 cm were used as the culture tanks. The fish were fed with the experimental diet three times every day at the satiation level. The results showed that the addition of both HAs (natural, AHA and synthetic, AHS) in feed could reduce Cd level in the fish meat, kidneys, and liver. At a dose of 1,600 mg.kg-1, both HAs were able to improve the growth performance and survival of fish. However, at doses > 1,600 mg.kg-1, fish growth was relatively suppressed. Fish growth response patterns were concomitant with the hematological parameters, digestive enzymes, and antioxidant status in fish liver. This study concludes that the addition of AHS at 1,600 mg.kg-1 feed is more efficient in terms of increasing growth compared with the same AHA level. The addition of HA, either natural and synthetic humic acid in the feed, can improve the health status of Asian seabass and eliminate Cd in the fish meat. The addition of AHA at higher doses (> 1,600 mg.kg-1 feed) might cause a negative response to health status, survival, and growth performance of Asian seabass. 
PERFORMANSI PERTUMBUHAN IKAN BANDENG DENGAN PEMBERIAN PAKAN TEPUNG BIOFLOK YANG DISUPLEMENTASI ASAM AMINO ESENSIAL Usman Usman; Enang Harris; Dedi Jusadi; Eddy Supriyono; Munti Yuhana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.513 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.2.2014.271-282

Abstract

Bioflok merupakan campuran heterogen dari mikroba, partikel, koloid, polimer organik, kation yang saling berintegrasi dan memiliki kandungan nutrisi yang dapat dimanfaatkan oleh ikan bagi pertumbuhannya. Namun beberapa kandungan asam amino esensial (AAE) tepung bioflok seperti histidine, lysine, dan methionine masih defisiensi untuk ikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan tepung bioflok yang disuplementasi beberapa asam amino esensial sebagai pakan ikan bandeng. Ikan uji yang digunakan adalah yuwana bandeng berukuran rata-rata 18,4 g yang dipelihara dalam bak serat kaca bervolume 250 L dengan kepadatan awal 15 ekor/bak, selama 60 hari. Perlakuan yang dicobakan adalah jenis pakan berupa: (A) tepung bioflok + asam amino esensial (histidine, lysine, dan methionine), (B) tepung bioflok, dan (C) pakan komersil, masing-masing 3 ulangan yang didisain dengan rancangan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kecernaan dan konsumsi pakan harian kedua pakan uji bioflok lebih rendah daripada pakan komersil. Laju pertumbuhan ikan, efisiensi pakan, efisiensi protein, retensi protein, retensi lemak, dan retensi methionine berbeda nyata (P<0,05) di antara perlakuan dan tertinggi terjadi pada ikan yang diberi pakan komersil diikuti berturut-turut pakan tepung bioflok + AAE dan terendah pakan tepung bioflok. Laju eskresi total ammonia nitrogen pada ikan yang diberi pakan tepung bioflok + AAE cenderung memiliki nilai yang lebih rendah daripada ikan yang diberi pakan tepung bioflok saja dan pakan komersil. Penambahan asam amino esensial (histidine, lysine, dan methionine) dalam tepung bioflok mampu memperbaiki pemanfaatan protein bioflok untuk pertumbuhan ikan bandeng.
ANALISIS TINGKAT KECERNAAN PAKAN DAN LIMBAH NITROGEN (N) BUDIDAYA IKAN BANDENG SERTA KEBUTUHAN PENAMBAHAN C-ORGANIK UNTUK PENUMBUHAN BAKTERI HETEROTROF (BIOFLOK) Usman Usman; Neltje Nobertine Palinggi; Enang Harris; Dedi Jusadi; Eddy Supriyono; Munti Yuhana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.627 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.481-490

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kecernaan pakan dan beban limbah nitrogen (N) dan karbon organik (C) pada pembesaran ikan bandeng untuk dijadikan acuan penumbuhan bakteri heterotrof (bioflok). Pakan uji yang digunakan adalah pakan komersial yang memiliki kadar protein berbeda yaitu 17%, 21%, dan 26%. Pakan tersebut digiling ulang, lalu ditambahkan kromium oksida (Cr2O3) sebagai indikator kecernaan. Untuk menentukan total limbah N termasuk ekskresi amonia, dilakukan juga pemeliharaan ikan bandeng selama 45 hari dan menghitung retensi N. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecernaan ketiga pakan tersebut tidak berbeda nyata yaitu antara 77,2%-78,2% untuk bahan kering; 88,6%-90,0% untuk protein; dan 81,6%-83,1% untuk C-organik. Namun total limbah N per 100 g pakan yang masuk ke perairan meningkat secara nyata dengan meningkatnya kadar protein pakan yaitu 2,27 g N untuk pakan berprotein 17%; 2,76 g N untuk pakan berprotein 21%; dan 3,28 g N untuk pakan berprotein 26%. Untuk mengkonversi limbah N dari budidaya bandeng ini menjadi bakteri heterotrof (bioflok), diperlukan aplikasi C-organik sebanyak 22,7 g; 27,6; dan 33 g per 100 g pakan berturut-turut untuk pakan yang berprotein 17%, 21%, dan 26%.This experiment was conducted to analyze the feed digestibility and nitrogen (N) waste of milk fish grow-out and assessment of organic-C addition to promote heterotrophic bacteria (biofloc). The three commercial diets were used containing different protein levels i.e. (A) 17%, (B) 21%, and (C) 26%. Chromic oxide was used as the digestibility marker. To assess the total nitrogen waste, the milk fish with initial weight of 48 g/fish were reared for 45 days and the protein retention was calculated. The results showed that the apparent digestibility of the all three tested diets was not significantly different (>0.05) i.e. 77.2%-78.2% for dry matter, 88.6%-90% for protein, and 81.6%-83.1% for organic-C. However, the total nitrogen waste per 100 g of feed released to the waters tended to increase with the increase of protein content of the feed, i.e. 2.27g N for 17% of diet protein content; 2.76 g N for 21% of diet protein content, and 3.28 g N for 26% of diet protein content. Conversion of the total N waste of milk fish grow-out to promote heterotrophic bacteria needed additional organic-C of 22.7 g; 27.6 g; 33 g per 100 g of feed which have 17%, 21%, and 26% protein contents.
PENUMBUHAN BIOFLOK DALAM MEDIA BUDIDAYA IKAN BANDENG Usman Usman; Enang Harris; Dedi Jusadi; Eddy Supriyono; Munti Yuhana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.224 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.1.2011.41-50

Abstract

Bioflok merupakan agregat campuran heterogen mikroba yang diinisiasi oleh bakteri heterotrof dan memiliki nutrisi yang cukup baik yang dapat dimanfaatkan sebagai makanan oleh beberapa jenis ikan. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi metode menumbuhkan bioflok dalam media budidaya ikan bandeng intensif. Penumbuhan bakteri heterotrof dilakukan dengan mempertahankan keseimbangan rasio Karbon/Nitrogen (C/N) sebesar 10 dalam media budidaya. Sumber nitrogen berasal dari limbah 40 ekor ikan bandeng (bobot rata-rata 75 g/ekor) yang dipelihara dalam bak fibre glass berisi air bersalinitas 25 ppt sebanyak 625 L. Ikan uji diberi pakan komersial dengan kadar protein 26%. Molase digunakan sebagai sumber Corganik. Perlakuan yang dicobakan adalah: (A) tanpa inokulasi bakteri heterotrof (0 cfu/mL), (B) inokulasi bakteri heterotrof sebanyak 102 cfu/mL, (C) inokulasi bakteri heterotrof sebanyak 104 cfu/mL, dan (D) inokulasi bakteri heterotrof sebanyak 106 cfu/mL. Hasil percobaan selama masa 30 hari menunjukkan bahwa penambahan inokulasi bakteri heterotrof sebanyak 106 cfu/mL cenderung lebih meningkatkan laju konversi limbah N menjadi bioflok dibandingkan jumlah inokulasi bakteri yang lebih rendah dan kontrol. Indikator utamanya dapat dilihat dari pola penurunan konsentrasi TAN dan peningkatan VSS. Penambahan inokulasi bakteri heterotrof (Bacillus sp.) cenderung meningkatkan kandungan asam amino bioflok
PERFORMA PERTUMBUHAN DAN RESPONS IMUN IKAN LELE (Clarias sp.) DENGAN PEMBERIAN PROBIOTIK, PREBIOTIK, DAN SINBIOTIK Iis Sumartini; Widanarni Widanarni; Munti Yuhana; Ayi Santika
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.4.2018.329-336

Abstract

Penerapan sistem budidaya intensif seringkali dihadapkan pada penurunan performa pertumbuhan dan kejadian infeksi penyakit. Upaya untuk meningkatkan status kesehatan ikan agar dapat tumbuh dengan baik dan tahan terhadap serangan penyakit sangat diperlukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian probiotik Bacillus sp. ND2 dan prebiotik madu terhadap performa pertumbuhan dan respons imun ikan lele (Clarias sp.). Ikan lele dengan bobot awal 20,94 ± 1,13 g dipelihara pada akuarium volume 60 L dengan kepadatan 15 ekor per akuarium. Ikan diberi empat jenis pakan yaitu pakan kontrol (+) dan (-) (tidak ada penambahan Bacillus sp. ND2 dan madu), probiotik Bacillus sp. ND2 1%; prebiotik madu 0,5%; dan sinbiotik (Bacillus sp. ND2 1% + madu 0,5%). Setelah 45 hari masa pemeliharaan, 10 ekor ikan dari masing-masing akuarium diuji tantang dengan A. hydrophila 107 cfu mL-1 kecuali kontrol (-). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang diberi sinbiotik memiliki nilai laju pertumbuhan harian (LPH) paling tinggi (3,00 ± 0,04%) dan nilai feed convertion ratio (FCR) paling rendah (1,00 ± 0,01) (P<0,05). Aktivitas lisozim (52,59 ± 2,57 UI mL-1 menit-1) dan respiratory burst (0,61 ± 0,05) menunjukkan nilai yang paling tinggi pada perlakuan sinbiotik (P<0,05). Ekspresi gen IL-1b meningkat pada perlakuan prebiotik (1,25 ± 0,10) pada hari ke-45. Semua perlakuan menunjukkan peningkatan ekspresi pada hari ke-52 dengan nilai tertinggi pada perlakuan sinbiotik (5,50 ± 2,77). Perlakuan sinbiotik memiliki sintasan yang paling tinggi (86,67 ± 5,77%) setelah diuji tantang dengan A. hydrophila. Aplikasi sinbiotik (Bacillus sp. ND2 1% dan madu 0,5%), mampu meningkatkan performa pertumbuhan, respons imun, serta resistensi ikan lele terhadap A. hydrophila. Intensive aquaculture system is continually challenged with some problems such as a decrease in growth performance and disease infection incidences. A substantial effort is needed to improve fish health status to improve the growth performance and disease resistance of cultured fish. To overcome the problems, a feeding trial was conducted to investigate the effects of dietary Bacillus sp. ND2 and honey on the growth performance, immune responses, and disease resistance of Clarias sp. Fish with an initial body weight of 20.94 ± 1.13 g were fed with four practical diets: control diet (+) and (-) (no addition of Bacillus sp. ND2 and honey), probiotic Bacillus sp. ND2 1%, prebiotic honey 0.5%, and synbiotic diets (Bacillus sp. ND2 1% + honey 0.5%). After 45 days of feeding experimental period, ten fish per aquarium were challenged with A. hydrophila except for control (-). The results showed that fish fed with synbiotic produced the highest specific growth rate (SGR) (3.00 ± 0.04%) and had the lowest feed conversion ratio (FCR) (1.00 ± 0.01) which were significantly different from the control (P<0.05). The immune assay showed that fish fed with synbiotic produced the highest lysozyme activity (52.59 ± 2.57 UI mL-1 minute-1), respiratory burst activity (0.61 ± 0.05) which were significantly different from the control groups (P<0.05). The fish IL-1b gene expression was enhanced in prebiotic (1.25 ± 0.10) treatment at the end of the culture period. All treatments showed the enhancement of IL-1b gene expression at the end of A. hydrophila-challenge test, with the highest value attained by fish treated with synbiotic treatment (5.50 ± 2.77). Fish fed with synbiotic diet showed the highest survival rate (86.67 ± 5.77%) after seven days infected with A. hydrophila. In conclusion, synbiotic treatment (Bacillus sp. ND2 1% and honey 0.5%) could improve growth performance, immune responses and disease resistance of Clarias sp. against A. hydrophila infection. 
Co-Authors , Alimuddin , Rahman, , Achmad Farouq Ade Dwi Sasanti Adna Sumadikarta ADNI OKTAVIANA Afif, Usamah Afiff , Usamah Agus Alim Hakim Aldy Mulyadin Aliati Iswantari Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Angela M Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti Angela Mariana Lusiastuti ANGELA MARIANA LUSIASTUTI Anis Zubaidah Anja Meryandini Annisa Astri Anggraeni Arief Muhammad Arini Resti Fauzi Aris Tri Wahyudi Ayi Santika Ayi Santika Bako, Surandha Claritha Madonsa Claritha Madonsa Darna Andrian Ramadhan DEDI JUSADI Destianingrum, Nurin Dalilah Ayu Dinamella Wahjuningrum Eddy Supriyono Efianda, Teuku Reza Emei Widiyastuti Enang Harris Enang Harris Enang Harris Endang Susianingsih Endang Susianingsih Endang Susianingsih Engelhaupt, Martin Fachriyan Hasmi Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Faoziyatunnisa, Nurul Fauzi, Arini Resti Filibertus Tantio Firdausi, Amalia Putri Fitriana Nazar Gustilatov, Muhamad Hamida Pattah Hamsah Hamsah Hary Krettiawan Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah Hermawaty Abubakar Hessy Novita Hessy Novita HORATH, THOMAS Iis Sumartini Iman Rusmana Ince Ayu Khairana Kadriah Ince Ayu Khairana Kadriah Ince Ayu Khairani Kadriah Inem Ode Inka Destiana Sapitri Irzal Effendi Istiqomah, Amalia Jr., Muhammad Zairin Julie Ekasari Ketut Sugama Ketut Sugama Khasanah, Noviati Rohmatul KURT HANSELMANN Kustiariyah Tarman La Ode Baytul Abidin La Ode Muhammad Arsal Laely Nuzullia Lili Sholichah Lilik Setiyaningsih Linuwih Aluh Prastiti M. Zairin Junior Majariana Krisanti Marini Wijayanti Mia Setiawati Mira Mawardi Muhammad Arif Mulya Muhammad Zairin Jr. Muharijadi Atmomarsono Nasrullah, Hasan Neltje Nobertine Palinggi Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nuri Kamaliah, Syarifah Nuzullia, Laely Ode, Inem Pariakan, Arman Putra, The Best Akbar Esa Putri Shandra Ramhirez Ramhirez, Putri Shandra Ranta Sumadi Rasidi Rasidi Rasidi, Rasidi Ricko Reynalta Rini, Adityawati Fajar Ronald Kriston Sauttua Nainggolan Rr. Bellya Anasti Maharani S.H. Dwinanti Salamah Salamah Sefti Heza Dwinanti Soko Nuswantoro Sri Hariati Sri Nuryati Sudrajat, R Herman Sugeng Santoso Sukenda . Sukenda . Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Suleman, Gabriella Augustine Syamsiar, Syamsiar Tambun, Andreas Tri Heru Prihadi Tsani Untsa, Agista Usman Usman Usman Usman UTUT WIDYASTUTI WAODE MUNAENI WAWAN ABDULLAH SETIAWAN Wicaksono, Baref Agung WIDANARNI WIDANARNI Woro Nur Endang Sariati Yanti Inneke Nababan Yunarty Yunarty Yusli Wardiatno Zakki Zainun Zulfani, Anisa