Claim Missing Document
Check
Articles

CULTURE BASED FISHERIES (CBF) SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PRODUKSI IKAN DI WADUK Aisyah Aisyah Aisyah; Setiya Triharyuni; Eko Prianto; Rudy Masuswo Purwoko; Husnah Husnah
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 11, No 1 (2019): (Mei) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1100.489 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.1.1.2019.53-63

Abstract

Sistem pangan global semakin dituntut untuk memenuhi permintaan ikan seiring meningkatnya tingkat konsumsi ikan di masa depan. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran bahwa CBF sebagai solusi cepat dalam meningkatkan produksi ikan termasuk mengoptimalkan produktivitas di suatu perairan sehingga mempersempit kesenjangan antara permintaan akan sumber protein hewani dan pasokan sumberdaya ikan melalui peningkatan produksi. Melalui analisis deskriptif terhadap data statistik perikanan nasional tahun 2002-2017, kajian pustaka terkait dengan CBF dan hasil tangkapan yang didaratkan di Waduk Malahayu tahun 2008-2016, diperoleh gambaran bahwa upaya meningkatkan produksi ikan melalui CBF di Indonesia dengan mengikuti kaidah ilmiah merupakan opsi yang tepat untuk meningkatkan produksi perikanan tangkap. Penerapan CBF memerlukan penguatan kelembagaan, petunjuk teknis yang jelas dan tersosialisasi dengan baik serta penguatan peran lembaga penyedia benih. The global food system is increasingly being demanded to meet demand as the level of fish consumption increases in the future. The purpose of this paper is to provide an overview of CBF as a solution in narrowing the gap between the demand for sources of animal protein and the supply of fish resources through increased the production include maximizing the productivity. Through descriptive analysis of the national fisheries statistical data for 2002-2017, literature review related to CBF and catches landed in Malahayu reservoir in 2008-2016, an illustration is that efforts to increase fish production through CBF in Indonesia by following scientific rules are the right option to increase capture fisheries production respectively. Implementation of CBF requires institutional strengthening, clear technical guidance and well-socialized and strengthening the role of seed provider institutions.
PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN MELALUI PENDEKATAN EKOSISTEM DI PAPARAN BANJIRAN GIAM SIAK KECIL Kamaluddin Kasim; Eko Prianto; Husnah Husnah; Setiya Triharyuni
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 9, No 2 (2017): (November, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.435 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.9.2.2017.115-124

Abstract

Cagar biosfir Giam Siak Kecil (GSK) merupakan ekosistem paparan banjiran yang unik dengan sumberdaya ikan yang beragam. Terdapat beberapa permasalahan terkait pemanfaatan sumberdaya perikanan diantaranya penurunan jumlah dan jenis sumberdaya perikanan. Salah satu upaya pengelolaan perikanan yang digunakan adalah pendekatan ekosistem (Ecosystem Approach to Fisheries Management/EAFM). Tulisan ini bertujuan untuk merumuskan pengelolaan sumberdaya perikanan melalui pendekatan ekosistem di rawa banjiran GSK Provinsi Riau. Jenis ikan yang ditemukan sebanyak 37 jenis ikan, 10 jenis diantaranya merupakan ikan ekonomis penting, sementara 5 jenis ikan mengalami kelangkaan diantaranya arwana (Schleropages aureus), belida (Chitala sp), patin (Pangasius sp), jalai (Channa maruliodes). Nilai beberapa domain pada pengelolaan perikanan GSK menunjukkan skor pada kategori buruk (dibawah reference point) yakni pada domain penangkapan, kelembagaan dan ekonomi. Namun, secara umum kondisi pengelolaan rawa banjiran GSK tergolong dalam kategori sedang (nilai 1,53). Focus group discussion merumuskan langkah-langkah pengelolaan yang diperlukan diantaranya: 1) restocking ikan asli. 2) pengembangan kawasan suaka perikanan, 3) peningkatan pengawasan terhadap praktek-praktek penangkapan ikan ilegal dan merusak, 4) penguatan kelembagaan pengelolaan perikanan, dan 5) monitoring hasil tangkapan ikan beserta evaluasi pengelolaannya.Giam Siak Kecil Biosphere Reserve is a part of unique floodplain ecosystem, which is inhabited by various fresh water fish species. The catches of some native species have curtailed over the last decade since the local fishers often use destructive fishing practices and gears. A sustainable management approach needs to be addressed to avoid over-exploitation and to restore the stock. This research aimed to formulate proper management approach that can be applied to the floodplain ecosystem of Giam Siak Kecil Biosphere Reserve. The research found that at least 37 species of fish were recorded, 10 of them were economically important species. There were five species categorized as rare species such as Arwana (Schleropages aureus), Belida (Chitala sp), Patin (Pangasius sp), and Jalai (Channa maruliodes). EAFM indikators showed that the lowest score (below the reference point) were found on fishery domain, organization domain, and economy domain. Nevertheless, it could be concluded that floodplain ecosystem of Giam Siak Kecil Biosphere Reserve was categorized in middle class category, with average scores of 1.53. Based on the findings above, the formulation of management purposed should be addressed to: 1) restocking native fishes, 2) developing fishery sanctuary, 3) increase surveillance of illegal fishing practices, 4) strengthening fishers organizations, 5) monitoring and evaluating the catch on weekly or monthly basis.
“PANGLIMA DANAU” SEBAGAI MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN BERKELANJUTAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI DANAU ANEUK LAOT Rudy Masuswo Purwoko; Husnah Husnah; Aisyah Aisyah; Setiya Tri Haryuni; Kamaluddin Kasim; Eko Prianto
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 13, No 1 (2021): (Mei) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.13.1.2021.%p

Abstract

Perikanan di perairan daratan bersifat open access di mana setiap orang atau kelompok nelayan memanfaatkan sumberdaya ikan untuk memaksimalkan manfaat ekonomi, namun mengabaikan manfaat ekologi dan sosial. Pemanfaatan perikanan yang demikian dapat memperburuk stok sumberdaya ikan, menjadi tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Pemanfaatan perikanan di Danau Aneuk Laot bersifat rentan sehingga diperlukan model pengelolaan perikanan yang tepat. Kearifan lokal seperti “Panglima Danau” merupakan salah satu model pengelolaan perikanan berbasis komunitas yang dapat digunakan untuk mengatur upaya penangkapan ikan di Danau Aneuk Laot. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui peran Panglima Danau sebagai instrumen pengelolaan sumberdaya perikanan perairan daratan berbasis kearifan lokal di Danau Aneuk Laot Kota Sabang. Berdasarkan hasil wawancara dan literature review, kearifan lokal “Panglima Danau” yang berbasis komunitas menunjukkan performa yang baik menjaga keberlanjutan sumberdaya ikan nila di Danau Aneuk Laot dan mampu meningkatkan pendapatan nelayan lokal. Danau Aneuk Laot memiliki keanekaragaman jenis ikan yang rendah, dan didominasi spesies introduksi. Potensi tangkapan diperkirakan 315 kg/ha/tahun, dengan potensi hasil tangkapan maksimum lestari 33.49 ton/tahun. Upaya pemulihan stok ikan di Aneuk Laot dilakukan oleh nelayan dan pemerintah melalui kegiatan restocking secara regular. Kearifan lokal “Panglima Danau” dinilai berhasil karena dilengkapi dengan aturan pengelolaan yang cukup jelas dalam hal kapan dan bagaimana cara yang baik menangkap ikan, serta adanya denda yang diberikan kepada nelayan yang melanggar kesepakatan bersama. The inland fishery generally practices open access where an individual or a fisher group may extract the resources to maximize the economic rent but disobeying the ecological and social benefits. Extracting the Nile tilapia resources that exceed its Maximum Sustainable Yield may increase the fishers’ income in the short run, but it could also exacerbate those resources; end up in unsustainable stock in the long run. Since Aneuk Laot fishery is vulnerable, its management approach should consider a proper management model. The local wisdom “Panglima Danau” is a well-known local management approach that regulates fishing efforts with community right-based model. This research evaluates the role of the “Panglima Danau” local wisdom by collecting the related information through questionnaires interviews and reviewing the related previous studies and research projects. The results show that Panglima Danau performs well in maintaining the fish stock sustainability while leveraging the local income. We found that Aneuk Laot Lake has low fish species diversity, but abundance in introduced fishes. The potential catch is about 315 kg/ha/year, with a sustainable catch potential is about 33.49 tons/year. The government and fishers restored the fish stock in Lake Aneuk Laot by conducting regular fish stocking. It is concluded that this local wisdom seems to be useful since it is community-based fishery management approached, equipped with clear guidance on when and how to fish and the penalties that might be imposed on the fishers who break the responsibility. 
STATUS PEMANFAATAN DAN UPAYA PELESTARIAN IKAN ENDEMIK AIR TAWAR DI PULAU SUMATERA Eko Prianto; Reni Puspasari; Dian Oktaviani; Aisyah Aisyah
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 8, No 2 (2016): (November, 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2347.593 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.8.2.2016.101-110

Abstract

Ikan endemik Pulau Sumatera tersebar di beberapa wilayah dengan tipe habitat yang berbeda-beda. Saat ini beberapa jenis ikan endemik terancam punah akibat degradasi lingkungan, hilang atau berubahnya habitat dan eksploitasi yang berlebihan. Tujuan penulisan untuk mengetahui status sumberdaya ikan endemik Pulau Sumatera dan upaya pelestariannya. Metodologi pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan studi literatur yang dianalisis secara deskriptif. Hasil sintesis menunjukkan, jumlah jenis ikan endemik di Pulau Sumatera mengalami peningkatan disebabkan adanya penemuan jenis ikan baru selama 20 tahun terakhir. Komposisi jenis ikan endemik Sumatera sebanyak 66 jenis yang terdiri dari 13 famili dan didominasi oleh famili Cyprinidae sebanyak 21 jenis dan famili Osphronemidae sebanyak 16 jenis. Status pemanfaatan ikan endemik Pulau Sumatera terdiri dari genting (critically endangered) sebanyak 5 jenis, rawan (vulnerable) sebanyak 7 jenis, bahaya (endangered) sebanyak 1 jenis, kurang data (data deficient) sebanyak 1 jenis dan belum dievaluasi (not evaluated) sebanyak 52 jenis. Untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan endemik di Pulau Sumatera diperlukan pelestarian secara in-situ dan ex-situ. Upaya pelestarian secara in-situ diantaranya melalui: a) suaka perikanan, b) rehabilitasi lingkungan dan modifikasi habitat, c) pengendalian ikan introduksi, d) menyusun regulasi penangkapan ikan sedangkan ex-situ yaitu melalui domestikasi. Sebagai rekomendasi kedepannya perlu upaya perlindungan melalui: i) penyusunan regulasi tentang perlindungan habitat ikan endemik dan upaya konservasi jenis ikan: dan ii) pengembangan hatchery untuk domestikasi dan re-stocking.Freshwater endemic fish of Sumatra island are distributed and inhabitedt in various habitat. The sustainability of this fish are under threat due to environmental degradation, habitat modification and loss, also over exploitation. Desk study in order to understand the conservation state and effort of this freshwater endemic fishes in Sumatra Island was conducted by collecting secondary data and literature review then analyzed descriptively. There is an increment number of freshwater endemic fish with several new species are recorded during the last two decades. The endemic fishes recorded in Sumatera Island are 66 species from 13 different families. Cyprinidae is the most dominant family consisting of 21 species followed by Osphronemidae consisting of 16 species. The conservation state of this freshwater endemic fish is divided into five categories; critically endangered (5 species), vulnerable (7 species), endangered (1 species), data deficient (1 species) and not yet evaluated (52 species). To date, the conservation management of endemic fishes in Indonesia, specially in Sumatra Island is still limited. Therefore, management effort, such as in-situ and ex-situ conservation should be proposed in the near future. In-situ fish conservation are: a) fish sanctuary or conservation, b) environmental rehabilitation and habitat modification, c) introduction of fish controlling, d) arrangement of fishing regulation. Ex-situ fish conservation can be carried out through domestication program. it is also recommendated that the preservation of the are endemic fishes can be done through: i) arrangement of endemic fishes habitat regulation and conservation and ii) support for hatchery development, domestication and re-stocking programs.
PENGUATAN KEARIFAN LOKAL SEBAGAI LANDASAN PENGELOLAAN PERIKANAN PERAIRAN UMUM DARATAN DI SUMATERA Dian Oktaviani; Eko Prianto; Reny Puspasari
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 8, No 1 (2016): (Mei 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.961 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.8.1.2016.1-12

Abstract

Kearifan lokal merupakan suatu nilai budaya yang tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Indonesia dan diakui keberadaannya oleh hukum negara. Kearifan lokal yang masih berlakudi dalam kehidupan masyarakat Sumatera terkait dengan pengelolaan perikanan perairan umum daratan terdiri dari lelang lebak lebung (Sumatera Selatan), lubuk larangan (Jambi dan Sumatera Barat), rantau larangan (Riau), ma’uwo (Riau), dan upacara semah terubuk (Riau).Dari kelima kearifan lokal tersebut, lubuk larangan termasuk sistem pengelolaannya sudah menjadi salah satu kegiatan pemerintah sampai di tingkat nasional.Penguatan kearifan lokal dengan kajian ilmiah dapat menjadikan kearifan lokal sebagai bagian dari sistem pengelolaan perikanan yang efektif dan efisien berbasis masyarakat.Kajian ilmiah terhadap kearifan lokal yang berhubungan dengan pengelolaan perikanan dapat didekati dengan etnobiologi (analisis emik dan analisis etik).Selanjutnya, kearifan lokal dapat diperkuat secara hukum dan perundang-undangan yang berlaku secara nasional.Local wisdom is a cultural value that can not be separated from the life of the Indonesian people and its existence is recognized by state law. Local wisdoms found in Sumatra related to inland fisheries management are lebak lebung (South Sumatra), lubuk larangan (Jambi and West Sumatra), rantau larangan (Riau), ma'uwo (Riau), and upacara semah terubuk (Riau).Lubuk larangan including its management system has become one of the government's activities to the national level. Strengthening local wisdom with scientific studies can make it is as part of effective and efficient community-based fisheries management system. Scientific studies on local wisdom related to fisheries management could be analyzed by applying ethnobiology approach (emic and etic analysis).
PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN DI SUNGAI SERKAP KABUPATEN PELALAWAN PROVINSI RIAU Chairulwan Umar; Eko Prianto; Priyo Suharsono Sulaiman
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 7, No 2 (2015): (November 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.083 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.7.2.2015.71-77

Abstract

Sungai Serkap memiliki sumberdaya ikan yang unik dan beragam. Jumlah jenis ikan di Sungai Serkap pada tahun 2013 ditemukan sebanyak 54 jenis yang sebagian besar merupakan ikan perairan asam. Selain memiliki sumberdaya ikan yang melimpah, Sungai Serkap merupakan habitat ikan merah (Pectenocypris sp), ikan arwana kuning (Scleropages aureus) dan labi-labi (Amyda cartilagynea), dimana arwana kuning dan labi-labi termasuk biota yang dilindungi sedangkan ikan merah diduga ikan endemik dan merupakan spesies baru dari genus Pectenocypris. Walaupun ekosistem perairan Sungai Serkap masih alami namun aktifitas manusia disekitarnya dapat mengancam kualitas lingkungan dan kelestarian sumberdaya ikan di sungai tersebut. Beberapa faktor yang dapat mengancam kelestarian sumberdaya ikan antara lain: i) pembalakan liar, ii) kebakaran hutan, iii) penutupan kanal atau anak-anak sungai, iv) penangkapan pada musim pemijahan, v) eksploitasi jenis ikan tertentu dan vi) belum adanya reservat atau suaka perikanan. Untuk menjamin keberlanjutan sumberdaya perikanan di masa mendatang diperlukan langkah-langkah pengelolaan sebagai berikut: (1) penetapan suaka perikanan, (2) rehabilitasi hutan rawa, (3) penetapan waktu dan lokasi penangkapan ikan, (4) re-stocking ikan arwana kuning dan (5) pengembangan co-managemen. Serkap river has been unique and diverse of fish resources. In 2013, the number of fish that found in Serkap River were 54 species which mostly are acidic water fish. Besides of having abundant resources, the Serkap River is a habitat for red fish (Pectenocypris sp), arwana yellow fish (Scleropages aureus) and labilabi (Amyda cartilagynea), where arwan yellow fish and labi-labi including protected biota while the red fish suspected as an endemic fish and represent a new species from Pectenocypris genus. Although the ecosystems in Serkap River is still natural/clean/unspoiled but human activity around there could threaten the environmental quality and preservation of fish resources in the river. Some factors that could threaten the sustainability of fish resources are: i) illegal logging, ii) forest fire, iii) the closure of canals or creeks, iv) fishing on spawning season, v) exploitation of certain fish and vi) the absence of reservat or fish santuary. Special treatment of fisheries management is needed to ensure the sustainability of fisheries resources in the future as follows: (1) the determination of fish santuary, (2) the rehabilitation of swamp forest, (3) determination of time and location of fishing, (4) restocking of arwana yellow fish and (5) development of comanagement.
PEMANFAATAN IKAN NAPOLEON (Cheilinus undulatus Rüppell 1835) MELALUI SISTEM PERIKANAN BUDIDAYA DI KABUPATEN NATUNA Eko Prianto; Reny Puspasari; Dian Oktaviani; Priyo Suharsono Sulaiman; Regi Fiji Anggawangsa
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 11, No 2 (2019): (November) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.472 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.11.2.2019.101-111

Abstract

Indonesia merupakan salah satu daerah penyebaran dan pengekspor ikan napoleon (Cheilinus undulatus Rüppell 1835) di dunia. Pemanfatan jenis ikan ini telah diatur baik ditingkat nasional yang dilindungi terbatas berdasarkan ukuran dan ditingkat internasional masuk di dalam daftar Appendiks II CITES. Salah satu kabupaten di Indonesia yang memiliki sumber daya ikan napoleon melimpah adalah Kabupaten Natuna. Pemanfaatan sumber daya ikan napoleon dengan cara membesarkan anakan yang ditangkap dari alam. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan kegiatan pemanfaatan dan opsi pengelolaan sumber daya ikan napoleon di Kabupaten Natuna. Metodologi pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan studi literatur yang dianalisis secara deskriptif. Hasil sintesis menunjukkan, kegiatan pemanfaatan ikan napoleon di Kabupaten Natuna terdiri atas penangkapan benih di alam dan pembesaran di karamba. Kedua kegiatan tersebut merupakan sebagai rangkaian kegiatan yang tidak terpisahkan sehingga membentuk sistem perikanan budidaya. Hasil identifikasi terhadap kode sumber produksi hasil kegiatan budidaya ikan napoleon di Kabupaten Natuna sebagai penangkaran (ranching/”R”). Oleh karena itu, volume kuota ekspor ikan napoleon dari Kabupaten Natuna diberikan di luar volume kuota yang selama ini berlaku. Pengembangan sistem budidaya tersebut harus mempertimbangkan prinsip kehati-hatian di dalam penangkapan anakan dari alam. Keadaan ini perlu dilakukan upaya pengelolaan yang tepat melalui: i) pembatasan ukuran anakan ikan yang ditangkap; ii) membentuk kawasan suaka perikanan; iii) restoking hasil budidaya ke alam; iv) pengendalian penangkapan dan v) pengembangan kelembagaan pemanfaat.Indonesia is one of the distribution regions and exporter country of napoleon fish (Cheilinus undulatus Rüppell 1835) in the world. The utilization of this species has been regulated at the national level with limited protection based on size and at the international level included in the CITES Appendix II. Natuna waters are one of distribution area of napoleon fish in Indonesia, where it could be found in the high abundance. Utilization of napoleon resources by raising juvenile were captured from nature. The aim of this paper is to described the utilization activities and management options of napoleon in Natuna Regency. Data and information were collected through literature study then descriptively analized. Result showed that the sea ranching activity are divided into two main steps, there are catch of juvenile in nature and growing up the juvenile in cage. The both of these activities are as a series of activities that are inseparable part, so establish aquaculture system. Identification results to the source code of aquaculture activity production of napoleon in Natura Regency as a rancing/R. Therefore, the quota volume of napoleon export from Natuna regency is given outside the quota volume that has been in force. The development of the aquaculture system must consider the precautionary principle in the capturing juvenile from nature. To improve the management measures of napoleon fish in Natuna waters, the sea ranching activity is need to be combined with: i) limitation of fish size caught in nature, ii) develop napoleon fish sanctuary in nature to protect napoleon fish brooder, iii) restocking of sea ranched fish, iv) effort control, v) governance development of napoleon fish stake holder.
Sosialisasi peranan sertifikat halal bagi masyarakat Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru Irdha Mirdhayati; Wieda Nurwidada H. Zain; Eko Prianto; Muhammad Fauzi
Unri Conference Series: Community Engagement Vol 2 (2020): Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/unricsce.2.117-122

Abstract

The purpose of this community service was to provide knowledge and understanding of halal certificates to the public, increase public awareness of the importance of halal certificates and motivate the community to have halal certificates for those who have businesses in the scope of halal products. The service method was carried out by socializing the role of the halal certificate, giving questionnaires to participants and evaluating the questionnaire. The parameters of public halal awareness are reviewed from general knowledge about halal law, public awareness about the implementation of halal products and knowledge about the role of halal certificates. The results showed that all participants had good general knowledge of halal law, had high level of awareness of the implementation of the use of halal products and all participants have good knowledge about the role and management of halal certificates. The results of direct discussions with participants explained that micro business actors do not have a halal certificate due to the lack of socialization regarding halal certificate management by the Government. It can be concluded that basic knowledge of halal law and high awareness of halal are not sufficient to guarantee the high desire of micro-entrepreneurs to apply for halal certificates.
Penerapan iptek melalui kukerta terintegrasi guna mengakselerasi pengembangan wisata bahari di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru Muhammad Fauzi; Eko Prianto; Budijono Budijono; Iskandar Putra; Muhammad Farhan Surez; Zuriati Murni
Unri Conference Series: Community Engagement Vol 2 (2020): Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/unricsce.2.146-152

Abstract

Kampung Baru is one of the villages in Pekanbaru city that has the potential to develop large marine tourism. Its strategic location on the coast of Siak River and has a cultural reserve "RumahBatin" makes Kampung Baru as one of the new destinations of future historical tourism. The existence of Kampung Baru as a tourist destination is still not well exposed so there needs to be a touch of Science and improvement to accelerate its development. The purpose of this activity is to accelerate the development of marine tourism in Kampung Baru Village, Pekanbaru City. The method used is a survey method to identify activities and counseling methods to convey Science to the community. The stages of the implementation of the activity are divided into three stages of preparation, implementation and evaluation. The results of a quick survey conducted, to accelerate the development of marine tourism activities in Kampung Baru through the socialization of halal certificates, making and dividing trash cans, making and enforcing plank boards, planting trees and vegetable seedlings and cleaning inner houses. The implementation of the activity is doing well and on target this can be seen from the community and village officials in supporting this activity. With the integrated KUKERTA (Community Service), the neglected tourism potential of Kampung Baru can be reappointed as a marine tourism. This leads to the fact that the touch of Science through integrated KUKERTA (Community Service) is able to accelerate the development of marine tourism in Kampung Baru.
Penerapan Iptek melalui kukerta terintegrasi pengembangan mata pencaharian alternatif dengan teknologi “bule empal” bersama kelompok usaha mandiri Kota Pekanbaru Muhammad Fauzi; Eko Prianto; Bintal Amin; Andri Hendrizal; Iskandar Putra; Muhammad Bintang Anto Mycawa; Nona Mutiara Sari
Unri Conference Series: Community Engagement Vol 3 (2021): Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/unricsce.3.549-555

Abstract

The economic level of the city of Pekanbaru experienced a significant increase in 2019 which was 6.01% from previous years, but since the Covid-19 pandemic outbreak in 2020, the economic condition of the city of Pekanbaru has decreased by around 2.3%. This figure is considered quite worrying for the economic condition of the people of Pekanbaru City if there are no efficient steps to overcome it.Currently the people of Pekanbaru City are required to be more innovative in utilizing existing resources by considering the narrow and limited urban conditions. Cultivation of catfish (Clarias gariepinus) by utilizing tarpaulin buckets "Bule Empal - Catfish Cultivation Bucket Tarpaulin" is one of the innovations in developing alternative livelihoods for people in urban areas who have narrow land with a relatively short maintenance time of about 3 months. In order to implement the Tri Dharma of Higher Education, namely Education, Research, and Service. Academics can provide guidance through knowledge transfer activities, applications and assistance to community business groups to apply Bule Empal "Catfish Aquaculture with Tarpaulin Buckets" in the context of developing alternative livelihoods for the community in the midst of economic problems due to the COVID-19 pandemic. With this integrated Kukerta, the potential for neglected yards can be raised for cultivation. This shows that the touch of science and technology through integrated Kukerta is able to accelerate the development of catfish farming in the Binawidya Village of Kota Pekanbaru.
Co-Authors . Juliana A. Ma'suf Adriman Adriman Adriman, Adriman Aisyah Aisyah Aisyah Aisyah Aisyah Aisyah Aisyah Aisyah Aisyah Ali Suman Ali Suman amelia fauziah husna, amelia fauziah amri, khairul Andri Hendrizal Artika, Media Asep Ma'mun Asep Priatna Asep Priatna Atika, Berliana Awal Subandar Berliana Atika Bintal Amin Budijono, Budijono Chairulwan Umar Chairulwan Umar Chairulwan Umar Desvind, Elfahra Dyta Putri Dewi, Yuni Sukma Dian Oktaviani Dian Oktaviani Eddiwan Kamaruddin Efriyeldi, Efriyeldi Eko Purwanto Eko Purwanto Eko Swi Damarwan Endi S. Kartamihardja Endi Setiadi Kartamihardja Endi Setiadi Kartamihardja Endi Setiadi Kartamihardja Endi Setiadi Kartamihardja Eni Sumiarsih Eti Nurhayati Fahreza, Rizki Fatmawati, Riska Fattah, Husain Abdul Febrina Rismawati Guritno, Wulan Harmelita Harmelita Harmelita, Harmelita Helmi, Luhlu Aprilia Herlambang Sigit Pramono Hilda Z. Dahlan Husnah Asyari Husnah Husnah Husnah Husnah Husnah Husnah Husnah Husnah Husnah Husnah Husnah Husnah Ikhsan kurniawan Indradewa, Rhian Intan Purnama Sari Irdha Mirdhayati Isma Mulyani Ismudi Muchsin Ismudi Muchsin Israk, Radiatun Joko Purwanto Kamaluddin Kasim Kamaluddin Kasim Kamaluddin Kasim Kamil, Hasan Rahmat Karnila, Rahman Karnila Ketut Ima Ismara Khairul Amri Khairunnisa, Rizka Lubis, Najiyya Sahilda M. Mukhlis Kamal Ma?mun, Asep Makri Makri Mega Ramadhani Miswadi Miswadi Miswadi Miswadi Miswadi Mohammad Mukhlis Kamal Muchlizar Muchlizar Muchlizar, Muchlizar Muhammad Akmal Muhammad Arifan Rakhshanjani Muhammad Bintang Anto Mycawa Muhammad Farhan Surez Muhammad Fauzi Muhammad Fauzi Muhammad Hasbi Muhammad Luthfi Muhammad Mukhlis Kamal Mustaqim, Ilmawan Ni Komang Suryati Ni Komang Suryati Nona Mutiara Sari Nora Saulina Noralisa Nilam Sari Nur El Fajri Nur El fajri Nuraini El Fajri Nurhening Yuniarti Nurwijayanti Oktaviana, Della Pandera, Cici Pranata, Eka Prasetyo, Kurnifan Adhi Priyo Suharsono Sulaiman Priyo Suharsono Sulaiman Putri, Melza Adika Putri, Riska Yana Rahmatdillah Rahmatdillah Rakhshanjani, Muhammad Arifan Ramadhani, Mega Ramadhani, Wahyu Ikma Regi Fiji Anggawangsa Reni Puspasari Reny Puspasari Reny Puspasari Ridwan Manda Putra Rina D’rita Sibagariang Riska Yana Putri Risma Amelia, Risma Rismawati, Febrina Rizka Khairunnisa Rizka Khairunnissa Romie Jhonnerie Rudi Masuswo Purwoko Rudy Masuswo Purwoko Rudy Masuswo Purwoko Saputri, Ratih Okta Sari, Bella Puspita Sari, Noralisa Saulina, Nora Setiya Tri Haryuni Setiya Triharyuni Setiya Triharyuni Simanjuntak, Mega Sri Devi Sinaga, Owen Rivaldi Siswanta Kaban Siti Nurul Aida Sitinjak, Yuannito Rick Yorda Situmorang, Icha Regina Siwolo, Apria Bodhi Sofian, Alifa Khansa Solekha Aprianti Solekha Aprianti Syafawani, Wan Fauziyah Syamsiar, Syamsiar Syarifah Nurdawati Syarifah Nurdawaty Tengku Dahril, Tengku Tumanggor, Rosalina Utami, Tiara Vini Volcherina Darlis Wan Fauziyah Syafawani Wibawa, Wisnu Alfianta Widhiastika, Dhita Wieda Nurwidada H. Zain Windarti Windarti Yela, Yayang Febri Yossi Oktorini Yudho Harjoyudanto Yuliati - Yuliati Yuliati Yunizar Ernawati Zuriati Murni