Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Inovasi Kurikulum

Integrating PjBL and service-learning to improve 21st-century skills in tourism education R. Rosita; Armandha Redo Pratama; Erry Sukriah; Rudi Susilana; R. Rusman
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.69249

Abstract

Students must master 21st-century skills in preparation for success in a digital society. The development of these skills is closely related to deep learning, such as analytical reasoning, problem-solving, and teamwork. Learning models such as PjBL and service-learning are two constructivist learning models that have the potential to improve student learning outcomes in all cognitive, affective, and psychomotor aspects. This research aimed to assess tourism students’ learning outcomes in these three aspects in one of the courses that integrate PjBL and service-learning. The assessment results showed optimal learning outcomes in all three aspects of competency. These findings support the results of previous studies regarding the effectiveness of using PjBL and service-learning. Achieving optimal learning outcomes using these two learning models requires teachers who are ready to be open to changes in teaching practices, and flexible in planning students' learning experiences. However, there are still several significant obstacles in the implementation process that need further research.  AbstrakKeterampilan abad 21 harus dikuasai siswa sebagai persiapan untuk sukses dalam masyarakat digital yang berubah cepat. Pengembangan keterampilan ini terkait erat dengan pembelajaran mendalam, seperti penalaran analitik, pemecahan masalah, dan kerja tim. Model pembelajaran seperti PjBL dan service-learning merupakan dua model pembelajaran konstruktivis yang memiliki potensi meningkatkan capaian pembelajaran siswa di semua aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang mendukung keterampilan abad 21. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi capaian pembelajaran mahasiswa di ketiga aspek tersebut pada mata kuliah yang menerapkan penggabungan PjBL dan service-learning di Program Studi Manajemen Resort Leisure, Universitas Pendidikan Indonesia. Hasil evaluasi menunjukkan capaian pembelajaran yang optimal di ketiga aspek kompetensi. Mahasiswa mampu mencapai tingkat teratas capaian pembelajaran baik pada aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Hal ini berarti pencapaian yang diperlukan pada tingkat yang lebih rendah pun telah berhasil dicapai. Meskipun demikian, pencapaian learning outcome yang optimal menggunakan kedua model pembelajaran ini membutuhkan pengajar yang siap bersikap terbuka terhadap perubahan dalam praktik pengajaran, dan fleksibel dalam merencanakan pengalaman belajar siswa.Kata Kunci: capaian pembelajaran; pendidikan pariwisata; project-based learning; PjBL; service-learning
Infusion PCTS Syntax in the Implementation of the Middle School Science Curriculum Nia Kurniawati; Rudi Susilana; Budi Setiawan
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.62812

Abstract

Curriculum implementation is an important stage in supporting the success of a curriculum designed by educational institutions. This research aims to apply the PCTS syntax in one of the science learning materials in junior high schools. PCTS is a learning model that focuses on improving students' critical thinking abilities through solving contextual problems. The method used in this research is a qualitative method using a descriptive approach. Data was collected through document study. Data analysis techniques through reduction, presentation, and conclusion. The findings obtained are that the PCTS model is quite easy to apply to science learning as a form of curriculum implementation, and is very supportive of improving students' critical thinking through the PCTS syntax, especially in the last two steps of the syntax. The conclusion is that the PCTS model is believed to support the implementation of the Merdeka Science Curriculum for Middle Schools in improving the critical thinking of individual students through the infusion of PCTS model syntax in science learning at the middle school level. AbstrakImplementasi kurikulum merupakan tahapan penting dalam menunjang keberhasilan suatu kurikulum yang dirancang oleh institusi pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan syntax PCTS dalam salah satu materi pembelajaran IPA di SMP. PCTS merupakan model pembelajaran yang berfokus pada peningkatan kemampuan berfikir kritis siswa melalui penyelesaian masalah kontekstual. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui study dokumen. Teknik analisis data melalui reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan. Temuan yang didapat yaitu model PCTS ini cukup mudah diaplikasikan kedalam pembelajaran IPA sebagai bentuk implementasi kurikulum, dan sangat mendukung terhadap peningkatan critical thinking siswa melalui syntax PCTS, khusunya pada dua langkah terakhir syntax tersebut. Kesimpulannya bahwa Model PCTS ini diyakini akan mendukung implementasi Kurikulum Merdeka IPA SMP dalam meningkatkan critical thinking siswa secara individu melalui infusi syntax model PCTS dalam pembelajaran IPA tingkat SMP.Kata kunci: Critical thinking; implementasi kurikulum; model PCTS; pembelajaran IPA
Student perspectives of MOOCs process M. Ridwan Sutisna; Arie Susanty; Paulina Pannen; Gatot Fatwanto Hertono; Rahayu Dwi Riyanti; Rini Febrianti; Rudi Susilana
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.76161

Abstract

This study investigates participants' experiences in Massive Open Online Courses (MOOCs). In the last decade, online learning has experienced rapid growth, and MOOCs have become one of the most popular forms of online learning. The digital transformation led to increased mobile and internet users, facilitating the adoption of online learning platforms. As one of the digital transformation products, this study aims to describe the use of Massive Open Online Courses from the perspectives of higher education students. Despite the increase of MOOCs use in the higher education, the dropout rates tend to be high. Students play an essential role in that case. This study focuses on MOOCs prior to learning, the activity during learning, and how the learning assessment is delivered from student perspectives. Using descriptive method, with the involvement of twelve MOOCs students from higher education. This study has concluded that the information presented in the prior learning process is essential regarding choosing specific MOOCs courses. Students value interaction and engage in content during the learning process, especially real-world examples. Although some participants found the assessment process challenging, it was perceived as relevant to the course objectives. At the same time, easy navigation and access to learning resources are essential for MOOCs platforms to be considered user-friendly courses. Overall, the study suggests that MOOCs students should be well informed initially. Then MOOCs courses should be delivered dynamically to maintain student motivation and provide relevant assessment. AbstrakSelama sepuluh tahun terakhir, telah terjadi pertumbuhan yang signifikan dalam pendidikan daring, dengan MOOCs muncul sebagai salah satu opsi yang paling populer. Transformasi digital, yang ditandai dengan peningkatan langganan seluler, pengguna internet, dan akses pita lebar, telah mendorong munculnya platform pembelajaran daring. Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman individu yang berpartisipasi dalam Massive Open Online Courses (MOOCs). Sebagai salah satu produk transformasi digital, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan Massive Open Online Courses dari perspektif mahasiswa pendidikan tinggi. Meskipun penggunaan MOOCs meningkat di universitas yang lebih tinggi, tingkat penyelesaian kursus cenderung tinggi. Sangat jelas bahwa mahasiswa memainkan peran penting dalam kasus tersebut. Fokus penelitian ini adalah pada pembelajaran sebelumnya melalui MOOCs, aktivitas selama pembelajaran, dan bagaimana penyampaian asesmen pembelajaran dari perspektif mahasiswa. Dengan menggunakan metode deskriptif, penelitian ini melibatkan dua belas mahasiswa pendidikan tinggi yang mengikuti MOOCs. Temuan menunjukkan bahwa materi pembelajaran awal sangat penting dalam memengaruhi keputusan untuk mendaftar di kursus MOOCs tertentu. Selama fase pembelajaran, mahasiswa menghargai konten yang interaktif dan menarik, terutama jika mencakup aplikasi dunia nyata. Meskipun beberapa peserta menganggap proses penilaian sulit, mereka menganggapnya relevan dengan tujuan kursus. Selain itu, navigasi yang mudah dan akses ke materi pembelajaran sangat penting agar platform MOOCs dianggap sebagai kursus yang mudah digunakan. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menyoroti pentingnya memberikan informasi yang memadai kepada siswa di awal dan menyarankan agar MOOCs disampaikan dengan cara yang menarik untuk mempertahankan motivasi siswa dan menawarkan penilaian yang relevan di akhir.Kata Kunci: desain pembelajaran; kursus daring; MOOCs; pembelajaran di perguruan tinggi
Patterns of planning and implementation of PJOK curriculum in elementary schools in the post-COVID-19 pandemic period Mohammad Faruk; Mohammad Ali; Rudi Susilana; Laksmi Dewi; Norlidah Alias; I Made Sriundy M; Imam Syafi’i
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.63395

Abstract

Learning planning must be adjusted to students’ conditions to achieve educational goals. The COVID-19 pandemic brought significant changes requiring high adaptability, especially in education. This study aims to identify planning and implementation patterns of the Physical Education and Health (PJOK) curriculum in elementary schools during the post-COVID-19 pandemic. Using a descriptive survey method, the research explored how PJOK teachers plan and implement home-based learning during this period. Data was collected via a Google Forms questionnaire from 33 PJOK teachers who participated in a Focus Group Discussion on post-pandemic curriculum planning. The study’s findings reveal that most teachers adjusted their planning based on the available facilities and infrastructure in students' homes. The curriculum was simplified to emphasize life skills relevant to the post-pandemic context. Implementing the PJOK curriculum requires collaboration with parents to monitor and support student learning at home. Teachers predominantly use WhatsApp to deliver instructional materials and rely on YouTube as a learning resource. This research highlights the need for adaptive curriculum strategies that accommodate challenges in post-pandemic education while ensuring effective learning despite limited resources. AbstrakPerencanaan pembelajaran harus menyesuaikan dengan kondisi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pandemi COVID-19 menyebabkan perubahan lingkungan yang memerlukan adaptasi tinggi, terutama dalam pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pola perencanaan dan implementasi kurikulum Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di sekolah dasar pada masa pasca pandemi COVID-19. Metode yang digunakan adalah metode survei deskriptif untuk menggambarkan pola perencanaan yang dilakukan oleh guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan serta implementasi dalam pembelajaran di rumah pada masa pasca pandemi COVID-19. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang diterapkan menggunakan google form kepada 33 guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan yang mengikuti Focus Group Discussion perencanaan kurikulum Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di masa pasca pandemi COVID-19. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan melakukan penyesuaian perencanaan berdasarkan kondisi sarana dan prasarana pendukung yang dimiliki orangtua. Penyederhanaan kurikulum yang berfokus pada kecakapan hidup peserta didik dalam situasi dan kondisi pasca pandemi COVID-19. Implementasi kurikulum PJOK di masa pasca pandemi COVID-19 membutuhkan kolaborasi dengan orang tua dalam proses penyampaian dan pemantauan kegiatan belajar siswa selama di rumah. Guru banyak menggunakan media aplikasi WhatsApp dalam menyampaikan informasi bahan ajar dan menggunakan YouTube sebagai sumber belajar.Kata Kunci: COVID-19; implementasi kurikulum; pendidikan jasmani dan kesehatan
Analysis of problem-solving ability: Pólya's strategy and positive attitude Wenny Fitria; Rudi Susilana; Nanang Priatna
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.74803

Abstract

Problem-solving is essential for individuals to face various challenges in the 21st century. Therefore, problem-solving has become a primary goal in mathematics curricula worldwide. However, despite its importance, problem-solving remains one of the most challenging aspects to grasp in mathematics education. Several studies have shown that appropriate strategies and a positive attitude toward problem-solving can help improve students' problem-solving abilities. In this study, the author will examine the implementation of Pólya's mathematical problem-solving strategy. Additionally, the study will explore students' attitudes toward problem-solving and how these attitudes influence their performance. Finally, the research will assess the combined impact of Pólya's strategy and students' attitudes on their problem-solving abilities. This study employs a qualitative approach using content analysis methods. The results show that the top ten students from one of the best schools in Siak Regency still struggle to solve simple problems. This failure is attributed to inappropriate strategies and a lack of a positive attitude toward problem-solving. The study concludes that mastering problem-solving strategies and fostering a positive attitude are crucial for students to become effective problem solvers. AbstrakPemecahan masalah adalah keterampilan penting yang dibutuhkan individu untuk menghadapi berbagai tantangan di abad ke-21, sehingga menjadi tujuan utama dalam kurikulum matematika di banyak negara. Meskipun penting, aspek ini tetap menjadi bagian yang paling sulit dipahami dalam pendidikan matematika. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa secara terpisah, strategi yang tepat serta sikap positif terhadap pemecahan masalah, dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan strategi Pólya dalam pemecahan masalah matematika. Selain itu, penelitian ini juga akan mengeksplorasi sikap siswa terhadap pemecahan masalah dan bagaimana sikap tersebut mempengaruhi kinerja mereka. Akhirnya, penelitian ini akan menilai dampak gabungan dari strategi Pólya dan sikap siswa terhadap kemampuan pemecahan masalah mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten. Hasilnya menunjukkan bahwa sepuluh siswa terbaik di salah satu sekolah terkemuka di Kabupaten Siak masih kesulitan menyelesaikan masalah sederhana. Kesulitan ini disebabkan oleh penggunaan strategi yang kurang tepat dan sikap positif yang rendah terhadap pemecahan masalah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguasaan strategi pemecahan masalah dan pengembangan sikap positif secara bersamaan sangat penting agar siswa dapat menjadi pemecah masalah yang lebih efektif.Kata Kunci: heuristic pólya; pemecahan masalah matematika; sikap positif.