Claim Missing Document
Check
Articles

Spiral Of Silence di Era Digital: Ketakutan Berpendapat di Media Sosial Dalam Konteks Kebebasan Berekspresi di Indonesia Aliyah Jasmine Rifa Riyanti; Muhammad Danda Mulia; Arini; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqomah; Deni Aries Kurniawan
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6226

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena Spiral of Silence (spiral keheningan) dalam konteks media sosial di Indonesia, khususnya berkaitan dengan ketakutan berpendapat yang dialami oleh individu di ruang digital. Kebebasan berekspresi di Indonesia menghadapi tantangan baru berupa ancaman digital seperti doxing, serangan buzzer, dan regulasi seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang seringkali menimbulkan efek pembungkaman (chilling effect) bagi pengguna media sosial. Teori Spiral of Silence yang dikemukakan oleh Elisabeth Noelle-Neumann menjelaskan bagaimana individu yang merasa pendapatnya berbeda dari opini mayoritas cenderung memilih diam untuk menghindari isolasi sosial. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menganalisis berbagai penelitian yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa fenomena spiral of silence terbukti terjadi di media sosial Indonesia, terutama diperkuat oleh faktor-faktor seperti ketakutan akan doxing, ancaman buzzer, dan potensi jeratan UU ITE. Meski demikian, ketakutan-ketakutan tersebut tidak selalu secara langsung memengaruhi keinginan berpendapat individu. Di sisi lain, gerakan kolektif seperti petisi civitas akademika menunjukkan bahwa spiral keheningan dapat diputus ketika individu bersatu dan merasa didukung oleh kelompoknya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan penguatan literasi digital, reformasi regulasi, dan perlindungan hukum yang lebih komprehensif untuk menjamin kebebasan berekspresi di ruang digital Indonesia.
Media Sosial Kampus dan Disiplin Mahasiswa: Analisis Foucault Yogi Alja'is Fadillah; Shalsa Badisyafitri; Rangga Pratama; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqoma; Deni Aries Kurniawan
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6316

Abstract

Penelitian ini mengkaji perilaku mahasiswa di media sosial kampus dalam perspektif kuasa dan disiplin. Perkembangan platform digital seperti Instagram, TikTok, dan grup pesan telah menciptakan ruang sosial baru yang memberikan kesan kebebasan berekspresi bagi mahasiswa. Namun, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah kebebasan tersebut benar-benar nyata atau justru dibentuk oleh pengawasan dan kontrol sosial yang tidak terlihat. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan mengkaji dan mensintesis berbagai sumber ilmiah yang relevan, seperti jurnal, buku, dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan media sosial, pengawasan, dan relasi kuasa. Analisis dilakukan melalui proses identifikasi, evaluasi, dan interpretasi terhadap literatur yang ada. Hasil kajian menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung mengatur perilaku digitalnya dengan menyesuaikan konten terhadap ekspektasi sosial, rasa takut terhadap penilaian negatif, serta norma institusi. Interaksi seperti likes, komentar, dan visibilitas menciptakan bentuk pengawasan tidak langsung yang mendorong disiplin diri. Selain itu, kuasa bekerja secara tidak terlihat melalui proses normalisasi yang membentuk perilaku tanpa paksaan langsung. Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan di media sosial sebenarnya berada dalam batasan tertentu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media sosial kampus menjadi ruang disiplin modern yang membentuk perilaku mahasiswa melalui mekanisme kuasa dan pengawasan.
Kasih Sayang dan Ketidakadilan Hukum sebagai Realitas Sosial dalam Film Miracle in Cell No. 7 Nadilah Miskah Somahapsari; Ahmad Yusuf Pratama; Muhammad Faiz Naufal; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqomah; Deni Aries Kurniawan
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6449

Abstract

Film Miracle in Cell No. 7 sering dipahami sebagai kisah hubungan ayah dan anak yang mengharukan, namun juga memuat gambaran kondisi sosial dan proses hukum yang tidak setara bagi kelompok rentan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji representasi ketidakadilan hukum terhadap penyandang disabilitas dalam film tersebut berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu. Metode yang digunakan adalah literature review kritis dengan menganalisis sejumlah artikel ilmiah relevan yang diterbitkan dalam jurnal bereputasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kajian lebih menekankan aspek emosi dan nilai kemanusiaan, sehingga persoalan ketidakadilan hukum sering dipahami sebagai bagian dari alur cerita. Representasi penyandang disabilitas cenderung dilihat sebagai persoalan personal yang mengundang simpati, bukan sebagai akibat dari kondisi sosial yang tidak setara. Selain itu, proses hukum dalam film digambarkan berjalan secara sepihak tanpa memberikan ruang yang memadai bagi tokoh utama untuk membela diri. Temuan ini dapat dipahami sebagai bentuk penerimaan sosial terhadap ketimpangan yang berlangsung secara halus, sebagaimana dijelaskan dalam konsep hegemoni oleh Antonio Gramsci. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga berperan dalam membentuk cara pandang penonton terhadap keadilan dan posisi kelompok rentan dalam masyarakat.
Standar Kecantikan sebagai Modal Simbolik Difa Dwi Sanjaya; Ghania Salsabilla Nihel Fazila; Nesa Utami; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqomah Istiqomah; Deni Aries Kurniawan
Jurnal Sadewa : Publikasi Ilmu Pendidikan, Pembelajaran dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 2 (2026): Mei: Publikasi Ilmu Pendidikan, Pembelajaran dan Ilmu Sosial
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/sadewa.v4i2.2789

Abstract

The development of social media and popular culture has influenced how society interprets Beauty. Beauty standards are no longer purely subjective, but have become a social construction that tends to be homogeneous and shaped by media and capitalist interests. In this context, Beauty is understood not only as an aesthetic attribute, but also as a form of symbolic capital that holds social value and can influence an individual’s position in society. This study aims to analyze how Beauty standards function as symbolic capital and how the processes of construction and internalization occur within social life. The method used is a qualitative approach with a literature review of five scientific journals discussing Beauty, body commodification, and power relations. The findings show that Beauty standards are constructed by media and continuously reproduced in everyday practices. Beauty functions as symbolic capital that provides social advantages through the phenomenon of Beauty privilege. In addition, these standards are internalized within individuals’ habitus and contribute to the reproduction of social inequality in society.
Fenomena Nongkrong sebagai Gaya Hidup di Kalangan Mahasiswa Lidya Shela Agustin; Nadya Difriana; Putri Elya Jumiati; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqoma; Deni Aries Kurniawan
QAWIUN : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publiseher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qw.v2i1.782

Abstract

Fenomena nongkrong di kalangan mahasiswa saat ini menunjukkan adanya pergeseran makna dari sekadar aktivitas sosial menjadi bagian dari gaya hidup modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena nongkrong sebagai gaya hidup mahasiswa serta memahami faktor pendorong, bentuk aktivitas, dan dampaknya terhadap kehidupan sosial dan akademik. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi literatur (library research), melalui analisis berbagai sumber seperti jurnal ilmiah, buku, dan artikel akademik yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa budaya nongkrong tidak hanya berfungsi sebagai sarana interaksi sosial, tetapi juga sebagai media ekspresi identitas diri, simbol status sosial, serta bagian dari konsumsi simbolik sebagaimana dijelaskan dalam teori Jean Baudrillard. Faktor lingkungan sosial, perkembangan kafe modern, serta pengaruh media sosial menjadi pendorong utama terbentuknya gaya hidup ini. Selain memberikan dampak positif seperti relaksasi, peningkatan kreativitas, dan perluasan relasi sosial, budaya nongkrong juga berpotensi menimbulkan perilaku konsumtif, pemborosan, serta menurunnya fokus akademik apabila dilakukan secara berlebihan. Oleh karena itu, diperlukan sikap bijak dalam menyikapi budaya nongkrong agar tetap memberikan manfaat tanpa mengganggu keseimbangan kehidupan mahasiswa.
Peran Algoritma Dalam Membentuk Standarisasi Selera Di Media Sosial: Analisis Kritis Perspektif Theodor Adorno Sahara; Gea Lestari; Aisyah Regita Putri; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqomah; Deni Aries Kurniawan
QAWIUN : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publiseher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qw.v2i1.787

Abstract

Penelitian ini menganalisis peran algoritma dalam membentuk standarisasi selera di media sosial dengan menggunakan perspektif teori kritis Theodor Adorno. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan menelaah berbagai jurnal nasional dan internasional yang relevan dengan budaya algoritmik, media sosial, dan perilaku pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa algoritma tidak hanya berfungsi sebagai alat teknis, tetapi sebagai instrumen industri budaya yang secara aktif membentuk, mereproduksi, dan menstandarisasi preferensi pengguna. Melalui mekanisme personalisasi, eksposur berulang, optimasi keterlibatan, dan filter bubble, algoritma menghasilkan pola selera yang homogen, meskipun tampak beragam di permukaan. Kondisi ini mencerminkan konsep pseudo-individualization dari Adorno. Selain itu, algoritma juga membentuk identitas digital, opini publik, serta interaksi sosial pengguna. Penelitian ini menekankan pentingnya literasi digital dan kesadaran kritis dalam menghadapi dominasi algoritma dalam masyarakat digital kontemporer.
Hiperrealitas dalam Penggunaan Filter Wajah di Media Sosial pada Representasi Identitas Digital Nur Rahma Vadila; Nara Zatty; Meisy Novianti; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqomah; Deni Aries Kurniawan
QAWIUN : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publiseher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qw.v2i1.788

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah cara individu membangun dan merepresentasikan identitas diri di ruang digital. Penggunaan filter wajah pada platform seperti Instagram dan TikTok memungkinkan pengguna memodifikasi tampilan visual secara instan sehingga menciptakan representasi diri yang tidak selalu mencerminkan realitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran penggunaan filter wajah dalam membentuk identitas digital melalui perspektif teori hiperrealitas Jean Baudrillard. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur terhadap berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filter wajah berfungsi sebagai simulakra yang menghasilkan identitas digital yang ideal dan estetis, sehingga individu cenderung menginternalisasi citra digital sebagai bagian dari identitas dirinya. Fenomena ini menyebabkan kaburnya batas antara realitas dan simulasi, serta mendorong terbentuknya standar kecantikan hiperreal, ketergantungan terhadap validasi sosial, dan munculnya kesenjangan antara identitas nyata dan identitas digital. Temuan ini menegaskan bahwa media sosial tidak hanya menjadi ruang representasi, tetapi juga ruang produksi realitas berbasis citra yang membentuk identitas secara konstruktif, performatif, dan dinamis dalam masyarakat digital.
Perhatian sebagai Komoditas dalam Media Sosial Anggie Elma Acintya; Keysha Mutia Ranandityas; Gita Permatasari; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqoma; Deni Aries Kurniawan
QAWIUN : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publiseher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qw.v2i1.789

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat berinteraksi sekaligus membentuk mekanisme baru dalam produksi nilai di era digital. Perhatian pengguna tidak lagi sekadar aktivitas personal, tetapi menjadi sumber daya ekonomi yang dimanfaatkan oleh platform digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana perhatian dikomodifikasi dalam media sosial serta dampaknya terhadap kehidupan sosial. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi literatur terhadap berbagai jurnal ilmiah dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa media sosial mengelola keterlibatan pengguna melalui algoritma dan fitur yang mendorong interaksi berkelanjutan. Aktivitas seperti melihat dan menyukai konten berkontribusi pada nilai ekonomi melalui sistem iklan dan monetisasi. Selain itu, perhatian juga berfungsi sebagai kapital baru yang dapat menghasilkan keuntungan. Fenomena ini turut mempengaruhi pola interaksi, pembentukan identitas, dan cara masyarakat memaknai informasi di ruang digital.
Ritual Chat Formal: Ketika Kesantunan Mahasiswa Hanya Sebatas Template Digital Fadillah Nur Habibah M; Miftahul Janna; Sari Septia Ningsih; Vieronica Varbi Sununianti; Deni Aries Kurniawan; Istiqoma
QAWIUN : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publiseher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qw.v2i1.796

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi fenomena etika komunikasi mahasiswa kepada dosen melalui media digital dalam perspektif Jean Baudrillard dengan menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap tiga informan mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi akademik telah memasuki tahap simulakra, di mana penggunaan template pesan kaku menciptakan "topeng digital" yang tidak lagi merepresentasikan rasa hormat tulus, melainkan sekadar produksi citra untuk memenuhi ekspektasi formalitas. Kondisi hiperrealitas juga ditemukan melalui fakta bahwa mahasiswa lebih mencemaskan kesalahan teknis pada layar daripada kesalahan sikap dalam interaksi fisik, yang membuktikan bahwa representasi digital kini dianggap lebih nyata dalam menentukan status etis seseorang. Fenomena ini berujung pada matinya makna, di mana ungkapan santun direduksi menjadi sekadar "kode akses" administratif demi kelancaran urusan birokrasi akademik. Secara keseluruhan, melimpahnya simbol kesantunan di ruang digital justru menyembunyikan kekosongan makna dan mengakibatkan alienasi karakter mahasiswa akibat mekanisasi hubungan pedagogis yang kering akan nilai kemanusiaan.
Praktik Disiplin dan Normalisasi Mahasiswa FISIP Universitas Sriwijaya Perspektif Michel Foucault M Redho Nopansyah; Yusela Anida; Cantika; Viero Varbi Sununianti; Istiqoma; Deni Aries Kurniawan
QAWIUN : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publiseher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qw.v2i1.840

Abstract

Penelitian ini membahas praktik disiplin dan normalisasi dalam kehidupan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya dengan menggunakan perspektif Michel Foucault. Perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai ruang transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai arena relasi kuasa yang bekerja melalui mekanisme disiplin untuk membentuk perilaku dan kesadaran mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk praktik disiplin, proses normalisasi, serta relevansi konsep panoptikon dalam memahami pengawasan dalam kehidupan kampus. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi dan studi dokumentasi terhadap aktivitas akademik, organisasi mahasiswa, serta aturan kampus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik disiplin diterapkan melalui sistem kehadiran, evaluasi akademik, batas waktu pengumpulan tugas, dan norma organisasi yang mendorong mahasiswa menyesuaikan diri dengan standar institusi. Pengawasan tidak hanya dilakukan oleh dosen dan institusi, tetapi juga berlangsung melalui interaksi antar mahasiswa serta penggunaan media digital. Selain itu, proses normalisasi membentuk standar mengenai “mahasiswa ideal” yang disiplin, aktif, dan produktif. Perkembangan teknologi digital juga memperluas praktik pengawasan melalui panoptikon digital dalam media sosial dan platform pembelajaran daring. Praktik disiplin tersebut mampu menciptakan keteraturan dan efektivitas akademik, namun pada saat yang sama juga membentuk subjektivitas mahasiswa dan membatasi ruang kebebasan individu. Dengan demikian, disiplin dalam kehidupan kampus dapat dipahami sebagai bentuk kekuasaan yang bekerja secara halus melalui pengawasan dan normalisasi yang berlangsung secara berkelanjutan.
Co-Authors Adelia Lucky Pratiwi Afifa Humaira Agestya Petra Amelia Agung Permadi Agustin, Nanda Riski Agustin, Nur Shafira Agustrianda, Deva Ahmad Wildan Habibi Ahmad Yusuf Pratama Aisa Rosa Aisyah Arrahma Aisyah Regita Putri Ajizah, Tary Hadisti Aliyah Jasmine Rifa Riyanti Ananda Meylisha Anastasya Silangit, Maureen Angga Aji Saputra Anggie Elma Acintya Anizzah Meisyah Putri Arini ARISKA, IIS Asni Sari, Kurnia Aulia Novita Aulia Novita Rizki Aulia Salma Aura Tsabitah Azizah Azzahro Berliana Martasya Cantika Carelina Ephifania Siagian Catherine Felisha Pramadita Daniel Theodore Sparringa Dea Anggraini Desi Nurmasari Difa Dwi Sanjaya Dwi Arif Prasetyo Dwi Hapsari, Yuanita Eko Mulyono Emil Pinata Fadillah Nur Habibah M Fatimah Azzahra Surga Fela Syakirania Femei Rahmilija Florensya Angelica Delarosa Zalukhu Gea Lestari Ghania Salsabilla Nihel Fazila Ghina Reftantia Gita Permatasari Hapsari , Yuanita Dwi Hapsari, Yuanita Dwi Hikmat, Rohman Ilal Ilham Inasyah Mutia Putri Istiqoma Istiqoma Istiqoma Istiqoma Istiqoma Istiqoma Istiqomah Istiqomah Istiqomah Istiqomah Istiqomah Istiqomah Izzaty Nagita Putri Jonathan Raymond Frederick Julyanti Katerina Saragih Jurena Hasibuan Kayla Chelsie Anindra Kevin Erik Hasiholan Keysha Mutia Ranandityas Khafifah Mujahidah Lazuardi Bim Mahdi Lidya Shela Agustin Lili Maimunah Lisya Septiani Putri M Redho Nopansyah M. Alif Awaluddin M. Budi Pratama M. Nabil Suhendra M. Taufiqurrahman Akbar M.Rafli Dwi Mahesa Maharani Safitri Mallia Hartani Maulana, Ridho Adji Maulida Masyitoh Meilani Rizka Mutiarani Meisy Novianti Meza Herlianti Miftahul Janna Mikha Yunita Puteri Mirna Delli Septiana Muhammad Danda Mulia Muhammad Faiz Naufal Muhammad Fajri Muhammad Rifai Mulyani Istiqomah Nadilah Miskah Somahapsari Nadya Difriana Nandea Khodijah Napinurul Azizah Nara Zatty Naura Putri Utaya Nayla Amaliah Nazela Nazela Nesa Utami Nesya Dwi Ramadhani Noor Annisa Suci Lestary Nur Rahma Vadila Nurul Kalima Nurwahyu Al Imani, Geneva Nyayu Tania Wulandari Octaria, Deby Febrina Oktanedi, Aldri Oktaviana Br Ginting M Purbasari, Verbena Ayuningsih Putri Adinda Putri Elya Jumiati R.A. Amelya Salsabila Rachel Meriah Piouli M Rachma Mardana Rahmawati , Triana Rahmawati, Zulfatri Rangga Pratama Retno Pangesti Reva Zikri Fahlevi Reza Anada Putri Rienika Putri Rika Maryam Rina Melkhanda Rizki, Putri Meylina Safitri, Indy Sahala Immanuel D. P Sahara Salsabila Nanda Fadya Sari Septia Ningsih Shalsa Badisyafitri Silvia Annisa Simanullang, Inelda SISCA INDRIANI Sisy Viola Gendis Nasution Situmeang, Debora Sofinaycila Andina, Anissa Suci Hatika Syarlla Zenia Aliah Tasya Wulandari Teguh Imami Tiara Resta Lapina Tresno Tresno TRI PUSPA AGUSTINA Triana Rahmawati Tuti Budirahayu Umi Khasanah Varbi Sununianti , Vieronica Varbi Sununianti, Vieronica Venny Salsabela Wijaya Veronica Varbi Sununianti Viero Varbi Sununianti Viero Varbi Sununianti Vieronica Varbi Sununianti Vieronica Varbi Sununianti Vieronica Varbi Sununianti Vieronica Varbi Sununianti, Vieronica Varbi Vieronica Varbi Sununianti4 Vieronica Varbi Sununiati Vieronica Verbi Sununianti Vini Anggun Pratiwi Vivienne Loke Pei Wen Yenis Alda Yogi Alja'is Fadillah Yuanita Dwi Hapsari Yuanita Dwi Hapsari Yunita Maharani Yusela anida Zahra, Adellia Ayu Zahwa Alya Putri Zairindra Anggun Safitri