Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH LINGKUNGAN SEKOLAH TERHADAP KESEJAHTERAAN EMOSIONAL DAN PRESTASI AKADEMIK Hajrani; Kamaruddin, Syamsu A; Mustafa
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 4 (2025): Volume 10. No4, Desember 2025.
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i4.36248

Abstract

School environment is a crucial determinant in supporting students’ emotional well-being and academic achievement. This study aims to analyze the influence of various aspects of the school environment including school climate, physical conditions, social relationships, and the implementation of social-emotional learning (SEL) programson students’ emotional well-being and academic performance. Using a narrative literature review approach, the study synthesizes key theories and empirical findings from international and local research. The review shows that a positive school environment consistently contributes to improved emotional well-being among students through mechanisms such as enhanced sense of safety, reduced stress, greater sense of belonging, and better teacher-student relationships. Adequate physical conditionssuch as lighting, ventilation, and classroom comfortare found to enhance focus, motivation, and engagement in learning. Furthermore, SEL programs play a significant role in strengthening emotional regulation skills, empathy, and social interaction, which then impact academic performance. Empirical evidence from prior studies indicates that emotional well-being acts as a critical mediator between the school environment and academic achievement; students with high well-being are more likely to exhibit better motivation, attendance, and persistence. Therefore, strengthening the school environment through infrastructural improvements, enhanced quality of social relationships, and implementation of SEL programs is a key strategy to sustainably improve students’ emotional well-being and academic achievement. This review provides important implications for teachers, school principals, and policymakers in designing holistic, evidence-based interventions.
EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN ANTI BULLYING DALAM MENCEGAH PERILAKU BULLYING DI BEBERAPA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) DI KOTA MAKASSAR Ismayanti; Kamaruddin, Syamsu A
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 4 (2025): Volume 10. No4, Desember 2025.
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i4.36380

Abstract

This study aims to evaluate the effectiveness of anti-bullying education programs in preventing bullying behavior in several junior high schools (SMP) in Makassar City, as well as to identify the factors that influence their success and the challenges faced during implementation. Using a literature review method, this research analyzes journals, policy documents, and previous studies related to anti-bullying programs implemented between 2015 and 2024. The findings show that Makassar’s anti-bullying initiatives such as the Child-Friendly School program, school-based anti-bullying task forces, teacher training, public awareness campaigns, counseling services, and student-led initiatives like Roots Indonesia have contributed significantly to reducing bullying incidents, particularly in schools with strong administrative support, well-trained teachers, active student engagement, and parental involvement. However, program effectiveness remains limited in schools experiencing challenges such as inadequate resources, inconsistent implementation, lack of safe reporting mechanisms, and school cultures that tolerate mild verbal aggression. Overall, the study concludes that program success is strongly influenced by implementation quality and cross-stakeholder collaboration. Therefore, continuous evaluation, enhanced teacher capacity, and strengthened cooperation among schools, parents, and communities are essential to create safe and violence-free learning environments.
Feminisasi Maritim Di Kawasan Tempat Pelelangan Ikan Lappa Kabupaten Sinjai Tamrin, Sopian; Kamaruddin, Syamsu A; Adam3, Arlin
JURNAL PARADIGMA : Journal of Sociology Research and Education Vol. 6 No. 2 (2025): JURNAL PARADIGMA: Journal of Sociology Research and Education
Publisher : Labor Program Studi Pendidikan Sosiologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/wj30e118

Abstract

Pekerjaan sebagai nelayan masih didominasi oleh aktor laki laki Hal tersebut terlihat pada hampir semua Masyarakat maritim termasuk di desa Lappa Kabupaten Sinjai Perempuan tidak jarang hanya berdiam di rumah sebagai ibu rumah tangga Sehingga tidak jarang konstruksi peran melanggengkan proses domestifikasi bagi perempuan Penelitian ini berupaya menyingkap bagaimana dominasi laki laki dalam kerangka kerja kemaritiman melalui analisis teori hegemoni maskulinitas dari Raewyn Connel Penelitian ini merupakan jenis kualitatif dengan pendekatan deskriptif Data dikumpulkan melalui kegiatan observasi wawancara dan pendokumentasian situasi lapangan Hasil menunjukkan bahwa sektor kemaritiman telah didominasi oleh laki laki sebagai nelayan; baik mereka yang berperan sebagai punggawa maupun sebagai sawi Sama sekali tidak ada Perempuan yang terlibat dalam pekerjaan sebagai nelayan Namun dengan keberadaan Tempat Pelelangan Ikan TPI di Desa Lappa Sinjai telah mengkanalisasi ruang penghidupan social ekonomi terutama bagi perempuan Di Kawasan TPI Perempuan muncul sebagai pihak yang menopang ekosistem kawasan dengan mendirikan rumah makan Hanya saja mereka memilih kondisi yang bergaman ada yang berperan sebagai pemilik usaha rumah makan ada pemilik tempat dan ada juga yang hanya sebagai pekerja rumah makan atau berjualan Penelitian menyimpulkan bahwa memang terjadi maskulinitas hegemonic tapi sifatnya terbatas Hegemoni tidak mengusai keseluruhan kompleksitas kegiatan ekonomi maritim Artinya patriarki yang tumbuh ditengah masyarakat tidak mengekang seutuhnya namun tetap terbuka adanya negosiasi peran antara laki laki dan Perempuan pada kehidupan social yang lebih kompleks Pada akhirnya TPI Lappa mendorong feminisasi sektor kemaritiman yang menjadikan Perempuan sebagai aktor yang berkonstribusi dalam kegiatan social dan ekonomi nbsp;< p>
Pengaruh Representasi Gender dalam Media Massa terhadap Persepsi Masyarakat tentang Peran Gender Nugrawan Rusadi, Andi Syahreza; Kamaruddin, Syamsu A; Tenri Awaru, A. Octamaya
Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Vol 6, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtamps.v6i1.18825

Abstract

This study aims to analyze how gender representation in mass media affects public perception of gender roles in social life. This study uses library research the research method is carried out by collecting and analyzing various relevant written sources. These sources can be scientific journals, books, online articles, research reports, or official publications. The results or discussions discussed in this study are: 1) Gender representation; 2) The role of mass media; 3) Gender roles. Why impact because gender representation in mass media has the power to shape people's perspectives on the roles of men and women. This understanding is important so that people are more critical of gender bias and can encourage the creation of equality in social roles
Konstruksi Sosial Praktik Konsumsi Vape dalam Ruang Pariwisata: Studi Sosiologi pada Wisatawan di Kawasan Legian Bali Arsyad, Ernawati; Kamaruddin, Syamsu A; Adam, Arlin; Ahmadin, Ahmadin
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7388

Abstract

Fenomena penggunaan rokok elektrik atau vape semakin berkembang dalam berbagai ruang sosial modern, termasuk dalam konteks pariwisata. Kawasan Legian di Bali sebagai salah satu destinasi wisata internasional menunjukkan meningkatnya praktik konsumsi vape di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara. Ruang pariwisata merupakan ruang sosial yang unik karena mempertemukan individu dari berbagai latar belakang budaya dan sosial. Interaksi antara wisatawan dengan masyarakat lokal menciptakan dinamika sosial yang memungkinkan munculnya praktik budaya baru. Dalam konteks ini, praktik konsumsi seperti vaping dapat berkembang menjadi bagian dari budaya wisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana praktik konsumsi vape dikonstruksi secara sosial dalam ruang pariwisata serta bagaimana interaksi sosial wisatawan mempengaruhi normalisasi perilaku tersebut.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan wisatawan pengguna vape, serta dokumentasi pada berbagai lokasi wisata di kawasan Legian. Analisis data menggunakan pendekatan konstruksi sosial dari Berger dan Luckmann yang menekankan proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi dalam pembentukan realitas sosial.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik konsumsi vape di kawasan wisata Legian tidak hanya dipengaruhi oleh preferensi individu, tetapi juga oleh interaksi sosial dalam ruang pariwisata. Vape dipahami sebagai simbol gaya hidup modern, identitas wisatawan global, serta bentuk ekspresi kebebasan dalam ruang rekreasi. Selain itu, ruang pariwisata memberikan legitimasi sosial yang lebih longgar terhadap praktik tersebut dibandingkan ruang sosial lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi vape dalam konteks pariwisata merupakan bagian dari konstruksi budaya wisata kontemporer yang terbentuk melalui interaksi sosial, simbolisme konsumsi, dan dinamika ruang wisata.
Fenomena Sosial Masyarakat Desa Adat Legian Bali Sebagai Laboratorium Pendidikan Akhiruddin, Akhiruddin; Kamaruddin, Syamsu A; Adam, Arlin; Ahmadin, Ahmadin
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7431

Abstract

Masyarakat desa adat di Bali memiliki berbagai praktik sosial dan budaya yang mencerminkan nilai solidaritas, partisipasi, dan integrasi sosial yang kuat. Praktik-praktik sosial tersebut tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat, tetapi juga memiliki potensi sebagai sumber pembelajaran kontekstual dalam pendidikan sosiologi. Salah satu komunitas yang memperlihatkan dinamika sosial tersebut adalah masyarakat Desa Adat Legian yang dikenal sebagai kawasan pariwisata dengan kehidupan sosial budaya yang masih terjaga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena sosial masyarakat Desa Adat Legian sebagai laboratorium pendidikan dalam pembelajaran sosiologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk memahami secara mendalam dinamika kehidupan sosial masyarakat desa adat. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi pada februari 2026. Informan penelitian meliputi bendesa adat, tokoh masyarakat, pengurus banjar, pelaku pariwisata lokal, serta warga masyarakat yang terlibat dalam aktivitas sosial desa adat. Analisis data menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa fenomena sosial utama dalam kehidupan masyarakat Desa Adat Legian, yaitu tradisi ngayah sebagai bentuk solidaritas sosial, keberadaan banjar sebagai ruang interaksi dan partisipasi masyarakat, ritual adat sebagai sarana integrasi sosial, serta perkembangan pariwisata yang mempengaruhi perubahan struktur sosial dan ekonomi masyarakat. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa berbagai praktik sosial tersebut memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai laboratorium pendidikan dalam pembelajaran sosiologi. Melalui pemanfaatan fenomena sosial masyarakat sebagai sumber belajar, peserta didik dapat memahami konsep-konsep sosiologi secara lebih kontekstual dan relevan dengan realitas kehidupan masyarakat.
Perspektif Budaya dan Medis: Keterkaitan Tradisi Potong Gigi dengan Risiko Karies Gigi pada Masyarakat Pedesaan Bali Zulkarnain, Zulkarnain; Kamaruddin, Syamsu A; Adam, Arlin; Ahmadin, Ahmadin
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7440

Abstract

Tradisi potong gigi yang dikenal sebagai mepandes atau metatah merupakan salah satu ritual penting dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali yang menandai peralihan individu menuju kedewasaan. Ritual ini memiliki makna simbolik sebagai upaya pengendalian enam sifat negatif manusia (Sad Ripu) dan masih banyak dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat Bali. Namun, dari perspektif kesehatan, proses pengikisan gigi dalam ritual tersebut berpotensi mempengaruhi struktur enamel gigi yang dapat meningkatkan risiko karies apabila tidak dilakukan dengan prosedur yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara praktik tradisi potong gigi dengan risiko karies gigi pada masyarakat Desa Legian, Bali.  Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan desain cross-sectional yang dilaksanakan pada Februari 2026. Penelitian melibatkan 15 informan yang terdiri atas masyarakat yang telah menjalani ritual potong gigi, tokoh adat, dan pelaku ritual (sangging). Data dikumpulkan melalui pemeriksaan kesehatan gigi menggunakan indeks DMFT (Decayed, Missing, Filled Teeth), wawancara mendalam, serta observasi praktik ritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 46,7% informan memiliki tingkat karies sedang, 33,3% karies tinggi, dan 20% karies rendah. Faktor yang mempengaruhi risiko karies meliputi teknik pengikisan gigi tradisional, sterilisasi alat ritual yang kurang memadai, keterbatasan pengetahuan kesehatan gigi masyarakat, serta kebiasaan konsumsi makanan dan minuman manis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa praktik budaya potong gigi memiliki implikasi terhadap kesehatan gigi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan integrasi antara pendekatan budaya dan kesehatan masyarakat melalui edukasi kesehatan gigi serta kolaborasi antara tokoh adat dan tenaga kesehatan untuk memastikan bahwa pelaksanaan tradisi tetap terjaga tanpa mengabaikan aspek kesehatan masyarakat.
Peran sekolah dalam membentuk literasi digital dan kesadaran kritis pada siswa SMAN di Kota Makassar:Analisis Teori Perubahan Sosial William F Ogburn Arsyad, Ernawati; Kamaruddin, Syamsu A; Adam, Arlin
EDU SOCIATA ( JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI ) Vol 8 No 2 (2025): Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi
Publisher : EDU SOCIATA ( JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan dampak besar terhadap dunia pendidikan, terutama dalam cara peserta didik memperoleh serta memanfaatkan informasi. Situasi ini menuntut lembaga pendidikan untuk berperan lebih aktif dalam menumbuhkan kemampuan literasi digital dan kesadaran kritis siswa agar mampu beradaptasi dengan dinamika era digital sekaligus terhindar dari dampak negatif penggunaan teknologi yang tidak bijak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran sekolah dalam membentuk literasi digital siswa, mengidentifikasi berbagai tantangan yang muncul, serta menjelaskan faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya.Ogburn menjelaskan bahwa perubahan sosial terutama dipicu oleh kemajuan teknologi, namun nilai, norma, dan institusi sosial sering kali tertinggal dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut. Dalam konteks pendidikan, fenomena ini tampak pada siswa yang sudah mahir menggunakan teknologi digital untuk hiburan, tetapi belum sepenuhnya memiliki kemampuan berpikir kritis dan kesadaran etis terhadap informasi yang mereka konsumsi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada beberapa SMA Negeri di Kota Makassar. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sekolah telah berusaha mengintegrasikan literasi digital ke dalam kurikulum dan kegiatan pembelajaran berbasis teknologi, meskipun masih dihadapkan pada kendala seperti keterbatasan sarana, rendahnya kemampuan digital guru, serta minimnya dukungan orang tua terhadap pentingnya pendidikan digital. Faktor pendukung utama meliputi ketersediaan fasilitas teknologi dan komitmen sekolah dalam meningkatkan kompetensi warga sekolah. Penelitian ini menegaskan bahwa literasi digital dan kesadaran kritis perlu diperkuat secara sistematis di lingkungan pendidikan untuk menghadapi tantangan perubahan sosial di era digital.