Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Journal of Marine Research

Kandungan Nutrisi Selama Pengolahan Haliotis asinina Linnaeus, 1758 (Gastropoda:Haliotidae) Maharani, Maharani; Patadjai, Andi Besse; Hasidu, La Ode Abdul Fajar; Riska, Riska; Muis, Muis; Anindita, Faradisa; Disnawati, Disnawati
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.32275

Abstract

Kerang Abalone termasuk dalam Famili Haliotidae juga dikenal dengan sebutan kerang mata tujuh, mempunyai kandungan nutrisi yang cukup tinggi.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrisi selama pengolahan abalon (H.asinina) kering. Kerang Abalon yang digunakan yaitu abalon berukuran 7 cm yang diperoleh dari Pulau Saponda Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara.  Rangkaian pengolahan abalon kering dimulai dari pembersihan abalon segar dengan memisahkan cangkang dari dagingnya, penggaraman selama  ±12 jam, pengukusan selama ± 30 menit hingga pengeringan oven selama  ±2-3 hari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa  berat daging  abalon segar yang dapat dikonsumsi seberat 4.586,00 g atau sebesar 45,86% dan  yang tidak dapat dikonsumsi seberat 5414,12 g atau sekitar 54,14% berupa cangkang 7,88% dan organ visera 46,25%. Kandungan air yang terus mengalami penurunan mulai dari abalon segar, setelah penggaraman, setelah pengukusan hingga kering masing-masing 83,9%; 76,14%; 71,90% dan 28,47%, diikuti oleh kadar lemak masing-masing 7,86%; 2,87%; 2,12% dan 1,71%. Sementara, proporsi kandungan protein terus mengalami peningkatan masing-masing 11,22%; 16,90%; 20,65% dan 42,38%. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kandungan nutrisi Abalon semakin meningkat setelah melalui proses pengolahan.   Abalone shells are included in Haliotidae family, also known as seven eye shells, have a fairly high nutritional content. This study aims to determine the nutritional content during the processing of dried abalone (H. asinina). The abalone shells used were abalone measuring 7 cm which was obtained from Saponda Island, Konawe Regency, Southeast Sulawesi Province. The series of dried abalone processing starts from cleaning fresh abalone by separating the shell from the meat, salting for ± 12 hours, steaming for ± 30 minutes to oven drying for ± 2-3 days. The results showed that the weight of fresh abalone meat that could be consumed was 4.586,00 g or 45.86% and the uneaten weight was 5414.12 g or about 54.14% in the form of shell 7.88% and visceral organs 46.25. %. The water content which continued to decrease starting from fresh abalone, after salting, after steaming to drying was 83.9% respectively; 76.14%; 71.90% and 28.47%, followed by fat content of 7.86%, respectively; 2.87%; 2.12% and 1.71%. Meanwhile, the proportion of protein content continued to increase by 11.22% respectively; 16.90%; 20.65% and 42.38%. Based on the results of the study, the nutritional content of abalone increased after going through the processing process. 
Struktur Komunitas, Biomassa Permukaan dan Status Simpanan Karbon Biru di Kawasan Mangrove Terdegradasi Kabupaten Kolaka La Ode Abdul Fajar Hasidu; Arif Prasetya; Maharani Maharani; Nur Anisa; Risnita Tri Utami; Laode Muhamad Hazairin Nadia
Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i4.35058

Abstract

: Ekosistem mangrove memiliki potensi yang cukup besar dalam menyerap emisi karbon dari atmosfer. Karbon tersebut mampu tersimpan di dalam biomassa maupun sedimen, dan dikenal sebagai blue carbon. Meskipun demikian, degradasi mangrove dapat mengganggu potensi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas, biomassa permukaan (AGB), simpanan karbon biru vegetasi mangrove, serta kemampuan serapan karbon ekosistem mangrove yang telah mengalami degradasi di sepanjang pesisir Kabupaten Kolaka. Ekosistem mangrove di kawasan tersebut merupakan mangrove tepian (Fringe Mangrove), dan ketebalannya kurang dari 100 meter. Penelitian ini menggunakan metode transek kuadrat sejajar garis pantai. Sebanyak 5 plot berukuran 100m2 diletakkan disepanjang transek. Data yang dikoleksi di setiap plot berupa diameter batang (dbh), jenis, dan jumlah jenis. AGB diestimasi menggunakan persamaan allometrik yang telah dikembangkan oleh beberapa peneliti terdahulu. Sementara itu stok karbon diestimasi menggunakan data AGB dan konstanta karbon dari bahan organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di pesisir Kolaka tersusun atas 8 spesies mangrove. Kerapatan mangrove tertinggi berturut-turut stasiun 3 (2180 ind/ha; kategori baik), stasiun 4 (2160 ind/ha; kategori baik), stasiun 1 (1520 ind/ha; kategori baik), dan stasiun 2 (1160 ind/ha; kategori sedang). Total AGB untuk seluruh stasiun sebesar 1242,29 ton/ha dengan AGB tertinggi pada stasiun 4 (455,58 ton/ha). Total stok karbon vegetasi mangrove untuk seluruh stasiun yaitu sebesar 583,85 ton/ha, dengan stok karbon tertinggi terdapat pada stasiun 4 (214,11 ton/ha). Sementara itu, total serapan karbon untuk seluruh stasiun sebesar 1362,46 ton/ha, dengan serapan karbon tertinggi terdapat pada stasiun 4 (499,65 ton/ha). Nilai AGB berbanding lurus dengan nilai stok karbon dan serapan karbon.  Mangrove ecosystem has a great potential to absorb carbon emission from atmosphere. Those carbon could be stored into the biomass as well as into the sediment, and it’s well known as blue carbon. Nevertheless, mangrove degradation could disturb those mangrove potential. The aims of this study were to knows the community structure, aboveground biomass (AGB), blue carbon stocks of mangrove vegetation, as well as the ability of carbon absorbtion of degraded mangrove ecosystem along Kolaka Coastal Line. The mangrove ecosystem at those areas was a fringe mangrove, and the mangrove thickness less than 100 meters. This study using quadratic transect method prependicular to the coastal line. 5 plots sized 100m2 were placed along transect line. The data were collected in each plot were stem diameter (dbh), species and total of species. The AGB were estimated using allometric equation that has been developed by previous researcher. Meanwhile, the carbon stock was estimated by using the AGB data and carbon constant value from organic matter. The results of this study showed that mangrove ecosystem of Kolaka coastal line constructed by 8 mangrove species. The highest mangrove density were station 3 (2180 ind/ha; good category), station 4 (2160 ind/ha; good category), station 1 (1520 ind/ha; good category), and station 2 (1160 ind/ha; medium category) respectively. The AGB total for all stations was about 1242,29 ton/ha, with the highest AGB was in the station 4 (455,58 ton/ha). The total of carbon stock of mangrove vegetation for all stations was about 583,85 ton/ha, with the highest carbon stock was in the station 4 (214,11 ton/ha). Meanwhile, the total of carbon absorbtion for all stations was about 1362,46 ton/ha, with the highest carbon absorbtion was in the station 4 (499,65 ton/ha). The AGB values has directly proportional to the carbon stock and carbon absorbtion.
Stok Karbon dan Status Kondisi Komunitas Mangrove Pulau Simuang Kepulauan Tiworo Sulawesi Tenggara Maharani, Maharani; Kharisma, Gaby Nanda; Hasidu, La Ode Abdul Fajar; Ardiansyah, Indra; Prasetya, Arif; Riska, Riska; Agusrinal, Agusrinal; Rosalina, Dwi; Ansar, Soehardiman
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.41024

Abstract

Pulau Simuang merupakan salah satu pulau kecil yang ada di guguan Kepulauan Tiworo dengan potensi mangrove yang cukup besar. Sayangnya, studi mengenai status kondisi komunitas dan stok karbon mangrove di Kepulauan Tiworo masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status kondisi komunitas mangrove, biomassa, stok karbon, dan penyerapan CO2 oleh vegetasi mangrove. Penelitian ini dilakukan di Pulau Simuang, Kepulauan Tiworo, dengan total empat stasiun penelitian. Analisis struktur komunitas mangrove menggunakan metode transek kuadrat. Garis transek dibentangkan tegak lurus dengan garis pantai. Disetiap transek diletakkan empat plot berukuran 100m2. Data yang dikoleksi berupa jenis, jumlah jenis, dan diameter batang (dbh). Analisis data dilakukan untuk menentukan kerapatan, status kondisi, biomassa, stok karbon, dan penyerapan CO2 oleh vegetasi mangrove. Hasil penelitian ini yaitu status kondisi komunitas mangrove di Pulau Simuang masih dalam kategori baik/padat (kerapatan berkisar antara 1825-2775 ind/ha2). Biomassa mangrove diperoleh berkisar antara 213,26 ton/ha2 sampai 506,24 ton/ha2. Stok karbon dan penyerapan CO2 di setiap stasiunberbanding lurus dengan data biomassanya. Stok karbon diperoleh berkisar antara 100,23 ton C/ha2 sampai 237,84 ton C/ha2. Selain itu, penyerapan CO2 oleh vegetasi mangrove berkisar antara 367,51 ton CO2/ha2 sampai 872,08 ton CO2/ha2. Meskipun kondisi mangrove masih dalam kategori baik/padat, masih terdapat sisa aktivitas penebangan mangrove di beberapa lokasi. Untuk itu diperlukan upaya perlindungan kawasan untuk menjaga fungsi ekosistem mangrove di kawasan tersebut. 
Co-Authors Adi Parman Rudia, La Ode Aditya Hikmat Nugraha Ady Jufri Agus Putra AS Agusrinal Agusriyadin, Agusriyadin Al Muzafri Alghi, Anugerah Febryan Alya Dina Wilujeung Andi Besse Patadjai Andi Septiana Ansar, Soehardiman Anti Landu Anwar Anzani, Luthfi Ardiansyah, Indra Ari Anggoro Arianto Arianto Arif Prasetya Arif, Arif Prasetya Arina Ruzanna Asni Asni Asni Asni Awal, Samsi Ayub Sugara Azwar Sidiq Basiruddin, Basiruddin Cakra Rahardjo Chandrika Eka Larasati Dandi Saleky Disnawati Disnawati Disnawati Disnawati, Disnawati Dwi Rosalina Eldin, Hasan Endi Ardianto FAJAR NUGROHO Fajar Nugroho Faradisa Anindita Fatur Rahman Rustan Firman syah Fitra, Ramad Arya Gaby Nanda Kharisma Gaby Nanda Kharisma Hamid, Fanul Harsanto Mursyid Hasan Eldin Hasan Eldin Adimu Hasria Hasria, Hasria Hening, Egiyanti Nur Widhia I Gusti Bagus Wiksuana Ibrahim, Akhmad Fadli Iis Afrianty Ilham Antariksa Tasabaramo Ilham Antariksa Tasabaramo, Ilham Antariksa Indra Ardiansyah Iradaf Mandaya Izal jafar, Maharani Jafar, Maharani ' Jepri Agung Priyanto, Jepri Agung Kamaruddin, Anggi Ashari Kamur, Sudarwin Kangkuso Analuddin, Kangkuso La Aba La Ode Huli La Ode Muhamad Hazairin Nadia Laode Muhamad Hazairin Nadia Laode Muhamad Hazairin Nadia Laode Muhamad Hazairin Nadia Latifa Fekri Lebrina Ivantry Boikh Maharani Maharani Maharani Maharani Maharani Maharani, Maharani Masitah Minsaris, La Ode Alam Mizwar, Muh. mubarak, azhar aras Muhamad Azwar Syah Muhamad Jalil Baari Muhammad Hatta Muhammad Syaiful Muis Muis Muis Mujiyanto Mujiyanto Mutmainnah Muchtar Nur Anisa Nur Ikhsan Nurhuda Annaastasia Patadjai, Andi Besse Permatasari, Vera Phradiansyah Prastya, Muhammad Eka Primahana, Gian Putri Cahyani Putri Grace Simamora Rahardjo, Cakra Rahmat Karim Rahmat Karim, S.Si., M.Si Ramad Arya Fitra Ramlah Ramlah Ramlah Ramlah Saleh Rhesi Kristiana Rika Anggraini Riska Riska Riska Riska Riska Riska Risnita Tri Utami Rizna Triana Dewi Safar, Muhammad Saleh, Ramlah Sarimuddin, Sarimuddin Sety, La Ode Muhamad Simbolon, Sumihartati Sri Rezeki Suharsono Bantun Suryanti, Erma Syahrial Syahrial Teddy Triandiza Tezza Fauzan Waode Nilda Arifiana Effendy Wica Elvina Wilujeung, Alya Dina Windi Syahrian Wulandari Wulandari Yulfiperius, Yulfiperius Yulianti, Eva Tri Yunialdi Hapynes Teffu Yuwanda Purnamasari Pasrun Zibar, Zan Zulfathri Randhi