cover
Contact Name
Sarkadi
Contact Email
sarwahita@unj.ac.id
Phone
+6285881133995
Journal Mail Official
sarwahita@unj.ac.id
Editorial Address
Kampus A Universitas Negeri Jakarta Gedung Ki Hajar Dewantara Lt.6 - 7, Jalan Rawamangun Muka, Jakarta 13220
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
ISSN : 02167484     EISSN : 25978926     DOI : https://doi.org/10.21009/sarwahita
The aim of this journal publication is to disseminate the conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the area of community services. Sarwahita, particularly focuses on the main problems in the development of the sciences of community services areas as follows: Community Services, People, Local Food Security; Training, Marketing, Appropriate Technology, Design; Community Empowerment, Social Access; Student Community Services; Border Region, Less Developed Region; Education for Sustainable Development.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 296 Documents
Implementasi Program Rumah Pintar dalam Meningkatkan Keterampilan Literasi dan Numerasi Dasar Siswa SD Damayanti, Amelia Eka; Nurrochma, Novenntya Putri Prastiwi; Khansa, Nur Aqila; Persada, Yuris Indria; Wulandari, Septi
Bahasa Indonesia Vol 22 No 02 (2025): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/sarwahita.222.3

Abstract

This community service activity aims to address the challenges of low reading, writing, and arithmetic (literacy and numeracy) skills at SDN 1 Surodakan elementary school, especially in rural areas. The community service activity was carried out at SDN 1 Surodakan, Trenggalek Regency, by describing the implementation of the "Smart House" program which aims to improve basic literacy and numeracy skills of students in grades 1-3. The community service program was implemented for 12 weeks involving 27 students in creative and interactive literacy-based learning, facilitated by Elementary School Teacher Education (PGSD) students from Malang State University using descriptive qualitative methods. These activities included reading picture stories, creative writing, dictation, and arithmetic with concrete media, such as counting wheels. The results showed significant improvements in reading (28%), writing (28%), and arithmetic (43%), with an average total increase of 33%, accompanied by increased student activity and self-confidence. However, this program faced obstacles such as difficulty in maintaining student focus and minimal parental support at home. The effectiveness of the approach was measured by comparing students' pre-test and post-test results on the three basic skills. Furthermore, effectiveness was also observed through increased student participation in direct learning. The program's sustainability requires integration of the method into regular learning and synergy between schools, families, and communities as the primary supporters of children's education.   Abstrak Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengatasi tantangan rendahnya kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (literasi dan numerasi) di sekolah dasar SDN 1 Surodakan, khususnya di wilayah pedesaan. Kegiatan pengabdian dilaksanakan di SDN 1 Surodakan, Kabupaten Trenggalek, dengan mendeskripsikan implementasi program “Rumah Pintar” yang bertujuan meningkatkan keterampilan literasi dan numerasi dasar siswa kelas 1-3. Program pengabdian dilaksanakan selama 12 minggu dengan melibatkan 27 siswa dalam pembelajaran berbasis literasi yang kreatif dan interaktif, difasilitasi oleh mahasiswa PGSD Universitas Negeri Malang menggunakan metode kualitatif deskriptif. Kegiatan ini mencakup membaca cerita bergambar, menulis kreatif, dikte, dan berhitung dengan media konkret, seperti kincir berhitung. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada membaca (28%), menulis (28%), dan berhitung (43%), dengan rata-rata total peningkatan 33%, disertai peningkatan aktivitas dan kepercayaan diri siswa. Meskipun demikian, program ini menghadapi kendala seperti sulitnya siswa menjaga fokus dan minimnya dukungan orang tua di rumah. Efektivitas pendekatan diukur melalui perbandingan hasil pre-test dan post-test siswa pada tiga aspek keterampilan dasar. Selain itu, efektivitas juga diamati melalui peningkatan partisipasi siswa dalam pembelajaran langsung. Keberlanjutan program membutuhkan integrasi metode ke pembelajaran reguler serta sinergi antara sekolah, keluarga, dan komunitas sebagai pendukung utama pendidikan anak.
Psikoedukasi Psikologi Positif: Sebuah Intervensi “Grit” pada Siswa SMA X di Tangerang Marganel, Brendha; Ilyas, Putri Ardhiyyah Muammar; Justine, Leticia; Hidayat, Ivana Tatiana; Khong, Zorryhazel; Novanto, Yusak
Bahasa Indonesia Vol 22 No 02 (2025): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/sarwahita.222.6

Abstract

The transition period from high school to university level is a critical time for individual development among students, particularly to begin the emerging adulthood period. The aim of implementing the Grit Up! 2024 is to measure the effectiveness of the "grit" psychoeducation program in preparing high school students to face the challenges of the study period, especially in terms of adaptation and academic achievement area. The psychoeducation program uses presentation methods and group activities. This program was evaluated by using a pre-test-post-test evaluation design. The results used Wilcoxon and Mann-Whitney statistical analysis to determine differences in grit levels based on gender and understanding of the material. The result of the study shows there’s a difference in level of understanding from the students before and after the program. On the other side, the result also shows there’s no significant difference in grit level based on gender differentiation. The Grit Up! psychoeducational program 2024 has succeeded in increasing students' motivation and understanding of the importance of grit. For further researchers, it is recommended to use measuring instruments specifically designed for academic purposes, implement them in different cultural backgrounds, and design further training for teachers and parents.   Abstrak Masa transisi dari sekolah menengah atas ke jenjang universitas merupakan masa krusial bagi perkembangan individu siswa, terutama untuk memulai masa dewasa awal. Tujuan pelaksanaan Grit Up! 2024 adalah untuk mengukur efektivitas program psikoedukasi "grit" dalam mempersiapkan siswa sekolah menengah atas menghadapi tantangan masa studi, terutama dalam hal adaptasi dan pencapaian akademik. Program psikoedukasi ini menggunakan metode presentasi dan aktivitas kelompok. Program ini dievaluasi dengan desain evaluasi pra-tes-pasca-tes. Hasilnya menggunakan analisis statistik Wilcoxon dan Mann-Whitney untuk menentukan perbedaan tingkat grit berdasarkan gender dan pemahaman materi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat pemahaman siswa sebelum dan sesudah program. Program psikoedukasi Grit Up! 2024 telah berhasil meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa tentang pentingnya grit. Di sisi lain, hasil penelitian juga menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan dalam tingkat grit berdasarkan diferensiasi gender. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan alat ukur yang dirancang khusus untuk keperluan akademis, melaksanakan di latar belakang budaya yang berbeda, dan merancang pelatihan lanjutan bagi guru dan orang tua.
Pemberdayaan Keuangan Masyarakat Pedesaan Melalui Literasi Finansial Studi Program di Kabupaten Jeneponto Aslam, Annisa Paramaswary; Amin, Andi Mustika; Mushawwir, Shaleh Afief A; Aslam, Achmad Yassin Zidan Akram; Anwar, Indah Lestari
Bahasa Indonesia Vol 22 No 02 (2025): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/sarwahita.222.8

Abstract

*Penulis korespondensi Abstract Low levels of financial literacy remain a challenge in many regions of Indonesia, including Jeneponto Regency, South Sulawesi. This community service program aimed to improve the basic understanding and skills of local communities in managing personal finances through contextual and participatory financial literacy socialization and training.The implementation methods included problem identification, material preparation, direct training, simple mentoring, and evaluation through pre-test and post-test. The results indicated a significant improvement in participants’ financial knowledge, behavioral changes toward wiser financial management, and increased access to formal financial services such as savings accounts. The main challenges encountered were limited digital literacy and the persistence of traditional financial management habits within the community. This activity demonstrates that simple yet contextual educational approaches can create a tangible impact on the financial empowerment of rural communities. Similar programs are recommended to be further developed on a sustainable basis with cross-sectoral support, particularly from local governments, financial institutions, universities, and community organizations. Cross-sectoral synergy is expected to expand program outreach, strengthen continuous mentoring, and create an inclusive and resilient financial literacy ecosystem to support the welfare of rural communities.   Abstrak Tingkat literasi keuangan yang rendah masih menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dasar masyarakat dalam mengelola keuangan melalui sosialisasi dan pelatihan literasi keuangan berbasis kontekstual dan partisipatif. Metode pelaksanaan meliputi identifikasi masalah, penyusunan materi, pelatihan langsung, pendampingan sederhana, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan keuangan peserta, perubahan perilaku ke arah yang lebih bijak dalam mengelola keuangan, serta peningkatan akses terhadap layanan keuangan formal seperti rekening tabungan. Tantangan utama yang dihadapi antara lain keterbatasan literasi digital dan kebiasaan lama masyarakat dalam pengelolaan keuangan. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan edukatif yang sederhana namun kontekstual dapat memberikan dampak nyata terhadap pemberdayaan finansial masyarakat desa. Program serupa direkomendasikan untuk dikembangkan lebih lanjut secara berkelanjutan dengan dukungan lintas sektor, khususnya pemerintah daerah, lembaga keuangan, perguruan tinggi, serta organisasi masyarakat. Sinergi lintas sektor diharapkan mampu memperluas jangkauan program, memperkuat pendampingan berkelanjutan, dan menciptakan ekosistem literasi keuangan yang inklusif serta berdaya tahan dalam mendukung kesejahteraan masyarakat desa.
Pelatihan Kewirausahaan Teknologi Digital untuk Menumbuhkan Minat Berwirausaha Pekerja Migran Indonesia di Korea Selatan Irwanto, Irwanto; Cahyana, Ucu; Allanas, Edith; Purwanto, Anto
Bahasa Indonesia Vol 22 No 02 (2025): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/sarwahita.222.7

Abstract

This community service program aimed to foster entrepreneurial interest among Indonesian Migrant Workers (IMWs) in South Korea through digital technology-based entrepreneurship training. The activity was conducted offline on July 13, 2025, at the Wongok Community Center in Ansan, South Korea, involving 21 participants (16 males and 5 females) with an average age of 25.95 years. The training employed an interactive and group discussion-based approach, designed to stimulate participants’ interest and equip them with fundamental knowledge of digital entrepreneurship. The results indicated a high level of entrepreneurial interest and motivation among the participants, as reflected in an overall average score of 4.55 out of 5. Most participants expressed a strong desire to become entrepreneurs and to deepen their understanding of the entrepreneurial world. Their primary motivations for starting a business included meeting market needs, achieving personal ownership, generating employment, and obtaining financial gain. However, challenges in starting a business included a lack of ideas, limited business knowledge, high risk factors, and capital constraints. These findings highlight the need for follow-up training focusing on business idea development, business planning, and risk management. This program holds significant implications for empowering IMWs through innovation, technology-based training, and the sustainable development of entrepreneurial capacities.   Abstrak Program pengabdian ini bertujuan untuk mengembangkan minat berwirausaha Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Korea Selatan melalui pelatihan kewirausahaan teknologi digital. Kegiatan dilaksanakan secara luring pada 13 Juli 2025 di Wongok Community Center, Ansan, Korea Selatan, dengan jumlah peserta sebanyak 21 orang (16 laki-laki dan 5 perempuan), berusia rata-rata 25,95 tahun. Metode pelatihan menggabungkan pendekatan interaktif dan berbasis diskusi kelompok, yang dirancang untuk membangkitkan minat serta membekali peserta dengan pengetahuan dasar kewirausahaan digital. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa para peserta memiliki minat dan motivasi yang sangat tinggi terhadap kewirausahaan, tercermin dari skor rata-rata keseluruhan sebesar 4,55 (dari skor maksimal 5). Sebagian besar peserta juga menyatakan keinginan kuat untuk menjadi pengusaha dan belajar lebih dalam mengenai kewirausahaan. Motivasi utama peserta dalam memulai usaha adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar, menciptakan kepemilikan pribadi, serta menyediakan lapangan kerja dan memperoleh keuntungan finansial. Namun, hambatan yang dihadapi dalam memulai usaha meliputi kurangnya ide, pengetahuan bisnis, serta faktor risiko dan keterbatasan modal. Temuan ini menunjukkan perlunya pelatihan lanjutan yang berfokus pada pengembangan ide usaha, perencanaan bisnis, dan manajemen risiko. Program ini memiliki implikasi penting dalam memberdayakan PMI melalui inovasi, pelatihan berbasis teknologi, dan pembangunan kapasitas kewirausahaan berkelanjutan.
Pelatihan Berbusana Jawa Gagrag Ngayogyakarta bagi Pelajar: Upaya Meluruskan Pemahaman dan Keterampilan Berbusana Adat Purbosari, Riris; Nadzari, Puput Fatikhah; Ningrum, Dela Octavia; Handayani, Wuri; Sari, Gita Indah; Saputra, Nur Ahmad; Yoni, Aisa; Munif, Muhammad Robiul; Nurhayati, Endang
Bahasa Indonesia Vol 22 No 02 (2025): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/sarwahita.222.10

Abstract

The training on Javanese attire of the Ngayogyakarta style serves as a response to students’ mistakes in practicing the proper way of dressing in the Ngayogyakarta Javanese style during Thursday Pon at schools in the Special Region of Yogyakarta. The aim of implementing the training is to correct and improve the understanding and skills of training participants who are middle school and high school students in wearing Ngayogyakarta Javanese style clothing. The training was held in Bangunrejo Hamlet, Merdikorejo Village, Tempel District, Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta. This training was organized by students of Javanese Language B Professional Teacher Education for Prospective Teachers, Yogyakarta State University. The method used in this activity is Service Learning (SL). There are four stages of activities, namely planning, implementation, monitoring and evaluation. There are four main points of discussion in this article, namely the socialization of Ngayogyakarta style Javanese fashion, the practice of tying techniques for Ngayogyakarta style fabric, the practice of wearing Javanese Ngayogyakarta style clothing, and the training participants' achievements in understanding the material. Based on the pretest and posttest conducted before and after the training, this program was able to correct and improve the participants’ understanding of Javanese fashion in Ngayogyakarta style. The participants’ skills also improved, namely in draping and dressing in Ngayogyakarta Javanese fashion properly and correctly. Sustainability of the program is carried out through monitoring the consistency and development of the Javanese Ngayogyakarta style of dress by students during Thursday Pon or other activities by program organizers who are part of the community and educators.   Abstrak Pelatihan berbusana Jawa gagrag Ngayogyakarta merupakan bentuk tanggapan terhadap kesalahan penggunaan busana Jawa gagrag Ngayogyakarta oleh peserta didik pada Kamis Pon di sekolah-sekolah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan pelaksanaan pelatihan adalah meluruskan dan meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta pelatihan yang merupakan peserta didik SMP dan SMA dalam berbusana Jawa gagrag Ngayogyakarta. Pelatihan dilaksanakan di Dusun Bangunrejo, Kelurahan Merdikorejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelatihan ini diselenggarakan oleh mahasiswa Pendidikan Profesi Guru bagi Calon Guru Bahasa Jawa B Universitas Negeri Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Service Learning (SL). Terdapat empat tahapan kegiatan, yakni perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi. Terdapat empat pokok bahasan dalam artikel ini, yakni sosialisasi busana Jawa gagrag Ngayogyakarta, praktik mewiru jarik gagrag Ngayogyakarta, praktik berbusana Jawa gagrag Ngayogyakarta, dan ketercapaian peserta pelatihan dalam memahami materi. Berdasarkan pretest dan posttest yang dilaksanakan sebelum dan setelah pelatihan, pelatihan ini dapat meluruskan dan meningkatkan pemahaman peserta pelatihan dalam hal busana Jawa gagrag Ngayogyakarta. Keterampilan peserta pelatihan juga bertambah, yakni terkait keterampilan mewiru dan berbusana Jawa gagrag Ngayogyakarta dengan baik dan benar. Keberlanjutan program dilaksanakan melalui pemantauan konsistensi dan perkembangan cara berbusana Jawa gagrag Ngayogyakarta oleh peserta didik ketika Kamis Pon atau kegiatan lainnya oleh penyelenggara program yang merupakan bagian dari masyarakat dan pendidik.
Peran Mahasiswa dalam Edukasi Anti Korupsi: Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Service Learning Afandi, Muhamad Ridwan; Rizqullah, Muhammad Naufan
Bahasa Indonesia Vol 22 No 02 (2025): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/sarwahita.222.9

Abstract

Corruption remains a serious challenge in realizing clean and accountable governance in Indonesia. Higher education institutions play a strategic role in instilling anti-corruption values through the curriculum, as mandated by Regulation of the Ministry of Research, Technology, and Higher Education No. 33 of 2019. This study aimed to equip students with both knowledge and practical experience in anti-corruption education through a service learning approach. The program involved 20 students of the Environmental Health Study Program at Universitas Sriwijaya under the guidance of two field supervisors, implemented at two secondary schools: SMAN 1 Indralaya (representing a suburban context) and SMAN 15 Palembang (representing an urban context). The activities were conducted in three stages: pre-implementation (classroom learning and action planning), implementation (counseling and socialization using presentations, posters, and interactive games), and post-implementation (evaluation through pre-tests, post-tests, and feedback questionnaires). The results showed a significant increase in students’ knowledge and awareness, with 97% of participants stating that the program was beneficial and 100% committing to uphold integrity values and reject corruption. This program not only strengthened awareness among secondary school students but also enhanced university students’ skills in communication, leadership, and integrity values. Thus, integrating anti-corruption education through service learning provides a concrete contribution to shaping student change agents in society’s collective effort to prevent corruption.   Abstrak Korupsi masih menjadi persoalan serius dalam upaya mewujudkan tata pemerintahan yang bersih dan berintegritas di Indonesia. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai antikorupsi melalui kurikulum, sebagaimana diamanatkan dalam Permenristekdikti No. 33 Tahun 2019. Penelitian/pengabdian ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pengetahuan sekaligus pengalaman praktis dalam edukasi antikorupsi melalui pendekatan service learning. Kegiatan dilaksanakan oleh 20 mahasiswa Program Studi Kesehatan Lingkungan Universitas Sriwijaya dengan bimbingan dua dosen lapangan di dua sekolah menengah, yaitu SMAN 1 Indralaya (pinggiran) dan SMAN 15 Palembang (perkotaan). Metode pelaksanaan meliputi tahap pra-implementasi (pembelajaran kelas dan perencanaan aksi), implementasi (penyuluhan dan sosialisasi dengan media presentasi, poster, dan permainan interaktif), serta pasca-implementasi (evaluasi melalui pre-test, post-test, dan kuesioner umpan balik). Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan dan kesadaran siswa, dengan 97% peserta menyatakan kegiatan bermanfaat dan 100% berkomitmen menolak praktik korupsi. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman pelajar, tetapi juga mengembangkan keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan nilai integritas mahasiswa. Dengan demikian, integrasi pendidikan antikorupsi melalui service learning berimplikasi nyata dalam membentuk agen perubahan yang berkontribusi pada upaya pencegahan korupsi di masyarakat.
Efektifitas Pelatihan “Sekolah Otak Papua” untuk Meningkatkan Kemampuan Belajar Mandiri Siswa Sekolah Menengah Pertama Bolly, Hendrikus Masang Ban; Rumboirusi, Ricky Lazarus; Dewi, Made Ratna
Bahasa Indonesia Vol 22 No 03 (2025): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/sarwahita.223.2

Abstract

Physical, mental, and hormonal changes in junior high school students have a particular impact on learning performance. Students are vulnerable to biological changes that affect learning motivation, academic stress, and even procrastination tendencies. All learning activities require optimal brain performance at this level. Students need soft skills, including learning skills based on the performance of the human brain. The Papua Brain School (SOP) is a practical training program specifically designed for junior high school students to learn neuroscience-based learning strategies to improve independent learning performance. The “Sekolah Otak Papua” training aims to equip students with knowledge-based learning strategies and the ability to optimize brain performance. The training was conducted at SMP 5 Jayapura, attended by 31 students over two days. The material consisted of eight topics delivered interactively through direct face-to-face classroom sessions, interspersed with simple practices, video sessions, and games. Evaluation of the training results showed an increase in participants' knowledge related to the topics presented, from 40% correct answers in the pre-test to 86.67% correct answers in the post-test. In the evaluation of the effectiveness and performance of the training, 70.97% agreed that the use of audio-visual media (PPT) was good, 87.09% considered the presenters competent and performed well; 61.29% agreed that the training atmosphere and facilities were good; 77.42% agreed that the training duration was sufficient; and 93.55% agreed that they were motivated to change their brain-based learning strategies and overall material content according to the relevance of the need for changes in learning strategies in junior high schools.   Abstrak Perubahan fisik, mental dan hormonal pada siswa jenjang sekolah menengah pertama memiliki dampak khusus pada performa pembelajaran. Siswa rentan terjadap perubahan biologis yang mempengaruhi motivasi belajar, stres akademik bahkan kecenderungan prokastinasi. Seluruh aktivitas pembelajaran memerlukan kinerja otak yang optimal pada jenjang tersebut. Siswa memerlukan bekal soft skill keterampilan belajar berbasis kinerja otak manusia. Sekolah otak Papua (SOP) merupakan program pelatihan praktis yang dirancang khusus untuk siswa SMP mempelajari strategi belajar berbasis neurosains untuk meningkatkan kinerja pembelajaran mandiri. Pelatihan SOP memiliki tujuan untuk membekali siswa tentang bagaimana strategi pembelajaran berbasis pengetahuan dan kemampuan mengoptimalkan kinerja otak. Pelatihan dilakukan di SMP Negeri 5 Jayapura, diikuti oleh 31 siswa selama dua hari. Materi terdiri atas delapan topik yang disampaikan secara interaktif melalui tatap muka langsung dalam ruang kelas, diselingi dengan praktik sederhana, sesi video dan permainan. Evaluasi hasil pelatihan menunjukkan terjadi perubahan peningkatan pengetahuan peserta terkait dengan topik yang disampaikan dari pre-test menjawab 40% benar menjadi 86,67% benar pada post-test. Pada evaluasi efektifitas dan performa pelatihan sebanyak 70,97% setuju bahwa penggunaan media audio visual (PPT) sudah baik, 87,09% menilai bahwa pemateri kompeten dan berperforma baik; 61,29% setuju bahwa suasana dan fasilitas pelatihan baik; 77,42% setuju bahwa durasi waktu pelatihan cukup; dan 93,55% setuju bahwa mereka termotivasi untuk mengubah strategi belajar berbasis otak dan konten materi secara keseluruhan sesuai dengan relevansi kebutuhan perubahan strategi pembelajaran di SMP.
Strategi Pelatihan Penguatan Kapasitas Petugas Tuberculosis untuk Meningkatkan Kinerja dan Pencatatan Kasus di Puskesmas Kebun Lada Binjai Aini, Rahma; Khairunisa, Zafira; Parinduri, Saskya Nabila; Salsabila, Asya; Hutabarat, Siti Rahmah; Lubis, Humairah Medina Liza
Bahasa Indonesia Vol 22 No 03 (2025): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/sarwahita.223.8

Abstract

Tuberculosis (TB) remains a significant public health challenge in Indonesia affecting approximately 1 million individuals and resulting in around 134,000 death annualy. Indonesia became a country with the second-highest TB rates globally. In response to this urgent matter, the government has voiced an ambitious objective to eliminate TB by 2030. However, several obstacles must be navigated, including social stigma, insufficient healthcare infrastructure, and a general unawareness regarding the disease and available treatment options. The roles and competencies of TB officers are crucial in enchancing the quality of care, staying abreast of new regulatory policies, and effectively utilizing the TB case recording system. To strengthen their capabilities, the method chosen was a face-to-face training sessions were implemented, with 18 tb officers the effectiveness of these sessions assessed via pre and pos training tests. After the training, a significant increase in the officers’ understanding of the material has increased. Pre-posttest results showed an average pretest score of 56.11, increasing to 68.11 in the posttest, with a decreasing range from 70.00 to 50.00, indicating a more even understanding among TB officers. Furthermore, the questionnaire showed improvements in case recording, management, patient support, and overall positive performance of TB officers; nonetheless 6% expressed a need for additional training, 5% called for program support, and 11% encountered difficulties with the case recording system. These finding underscore the necessity for training and support for enchancing performance of TB officers, ultimately contributing to more effective and sustainable TB control efforts.   Abstrak Tuberkulosis (TB) masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, yang memengaruhi sekitar 1 juta orang dan menyebabkan sekitar 134.000 kematian setiap tahun. Indonesia menjadi negara dengan tingkat TB tertinggi kedua di dunia. Sebagai respons terhadap masalah mendesak ini, pemerintah telah menetapkan tujuan untuk mengeliminasi TB pada tahun 2030. Namun, terdapat beberapa hambatan yang harus diatasi, termasuk stigma sosial, fasilitas kesehatan yang tidak memadai dan kurangnya kesadaran masyarakat mengenai penyakit ini serta opsi kesehatan yang tersedia. Peran dan kompetensi petugas TB sangat penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan, update kebijakan terbaru dan memanfaatkan sistem pencatatan kasus TB secara efektif. Untuk memperkuat kemampuan, metode yang dipilih adalah sesi pelatihan tatap muka yang dilaksanakan kepada 18 petugas TB, dengan efektivitas sesi tersebut melalui pre-posttest. Setelah pelatihan, pemahaman petugas terhadap materi mengalami peningkatan yang signifikan. Hasil pre-posttest menunjukkan nilai rata rata pretest sebesar 56.11 meningkat menjadi 68.11 pada posttest, dengan range menurun dari 70.00 menjadi 50.00, menandakan pemahaman petugas TB lebih merata. Selain itu, kuisioner menunjukkan perbaikan pencatatan kasus, penanggulangan, pendampingan pasien dan kinerja petugas TB secara umum positif, 6% membutuhkan pelatihan tambahan dan 5% membutuhkan dukungan program dan 11% mengalami kesulitan dengan sistem pencatatan kasus. Temuan ini menyoroti pentingnya pelatihan dan dukungan untuk meningkatkan kinerja petugas TB, yang pada akhirnya berkontribusi pada upaya pengendalian TB yang efektif dan berkelanjutan.
Kolaborasi Lintas Negara untuk Kemajuan Pendidikan: Inisiatif Indonesia-Filipina untuk Mendorong Pengajaran Kreatif di Zamboanga Listyasari, Winda Dewi; Rosyidi, Unifah; Fuad, Nurhattati; Fadholi, Muhammad; Mestika, Gelar Gelora; Saher, Rayma S.
Bahasa Indonesia Vol 22 No 03 (2025): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/sarwahita.223.1

Abstract

Cross-border educational partnerships play a crucial role in enhancing teaching quality, particularly in regions facing structural challenges and limited resources. This article outlines the results of a collaborative community service program between Universitas Negeri Jakarta (Indonesia) and Western Mindanao State University (Philippines), aimed at improving the pedagogical capacity of madrasah teachers in Zamboanga, Southern Philippines. Addressing the prevalence of fixed mindsets and reliance on conventional teaching methods, the program adopted a participatory action framework with a two-pronged intervention: (1) fostering a creative mindset and (2) equipping teachers with innovative and contextual teaching methods. Through a series of workshops, mentoring, and pre/post-test evaluations, the program demonstrated significant change. The program findings reveal that transforming the teachers' mindset was an essential foundation for the adoption of practical skills. Teachers not only showed a significant increase in conceptual understanding (85%) but also demonstrated the ability to design creative lesson plans (>80%) by maximizing local resources. This program proves that an approach focused on psychological empowerment and adaptive practical skills can effectively transform teachers into resilient agents of innovation in their communities, with significant implications, including the need for continued collaboration with local partners (WMSU) to establish a Community of Practice and policy advocacy to educational stakeholders to ensure the sustainability of interventions and curriculum adaptation to meet regional educational dynamics.   Abstrak Kemitraan pendidikan lintas negara memegang peran krusial dalam meningkatkan kualitas pengajaran, terutama di wilayah dengan tantangan struktural dan sumber daya terbatas. Artikel ini menguraikan hasil dari program pengabdian masyarakat kolaboratif antara Universitas Negeri Jakarta (Indonesia) dan Western Mindanao State University (Filipina), yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pedagogis guru madrasah di Zamboanga, Filipina Selatan. Menghadapi masalah berupa dominasi pola pikir statis (fixed mindset) dan ketergantungan pada metode mengajar konvensional, program ini mengadopsi kerangka kerja tindakan partisipatif dengan intervensi dwicabang: (1) membangun pola pikir kreatif (creative mindset) dan (2) membekali guru dengan metode pembelajaran inovatif yang kontekstual. Melalui serangkaian lokakarya, pendampingan, dan evaluasi pre-test/post-test, program ini berhasil menunjukkan perubahan signifikan. Temuan program mengungkapkan bahwa transformasi pola pikir guru menjadi fondasi esensial yang memungkinkan adopsi keterampilan praktis. Para guru tidak hanya menunjukkan peningkatan pemahaman konseptual (85%), tetapi juga kemampuan untuk merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kreatif (>80%) dengan memanfaatkan sumber daya lokal secara maksimal. Program ini membuktikan bahwa pendekatan yang berfokus pada pemberdayaan psikologis dan keterampilan praktis yang adaptif dapat secara efektif mengubah guru menjadi agen inovasi yang tangguh di lingkungan mereka , dengan implikasi penting, termasuk perlunya kolaborasi lanjutan dengan mitra lokal untuk membentuk Komunitas Praktisi dan advokasi kebijakan kepada pemangku kepentingan pendidikan untuk menjamin keberlanjutan intervensi dan adaptasi kurikulum untuk memenuhi dinamika pendidikan regional.
Pendampingan Perguruan Tinggi dalam Rangka Peningkatan Profesi dan Karir Dosen Sesuai dengan Kebijakan Mendiktisainteks 2025 Effendi, Mohammad Sofwan; Mayasari, Linda Ika; Soraya, Evitha; Wibowo, Agus; Suparno; Suratno, Ujang; Faqih, Achmad
Bahasa Indonesia Vol 22 No 03 (2025): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/sarwahita.223.6

Abstract

The national policy stipulated in the Regulation of the Minister of Education, Culture, Research, and Technology Number 44 of 2024 on the Profession, Career, and Income of Lecturers, although its implementation has been postponed through the Decree of the Minister of Higher Education, Science, and Technology Number 63/M/2025, requires higher education institutions to enhance the governance of lecturers’ career management in a more accountable, transparent, and performance-based manner. Universitas Wiralodra Indramayu and Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon, as partner private universities in this Community Service Program, still face challenges related to the alignment of internal regulations, operational procedures, and human resource capacity in managing lecturers’ careers. This program aimed to strengthen institutional readiness and improve the understanding of lecturers and academic administrators through institutional mentoring. The methods employed included situation analysis, problem mapping, development of Standard Operating Procedures (SOPs) for lecturers’ professional and career services, socialization activities, focus group discussions (FGDs), and implementation assistance. The initial survey results indicated that only approximately 18–30% of lecturers had a good understanding of career-related regulations and mechanisms prior to the program. Following the mentoring activities, an improvement in understanding was observed, as reflected in a higher proportion of lecturers who comprehended functional rank promotion mechanisms, performance assessment based on the tridharma of higher education, and career service procedures in accordance with the established SOPs. In addition to enhancing human resource understanding, this program produced an agreed and implementable SOP for lecturers’ career services and increased the institutional readiness of the partner universities to respond to national policy implementation.   Abstrak Kebijakan Kebijakan nasional melalui Permendikbudristek Nomor 44 Tahun 2024 tentang Profesi, Karir, dan Penghasilan Dosen, meskipun penetapannya ditunda melalui Keputusan Mendiktisainteks Nomor 63/M/2025, menuntut perguruan tinggi untuk meningkatkan kesiapan tata kelola karir dosen yang lebih akuntabel, transparan, dan berbasis kinerja. Universitas Wiralodra Indramayu dan Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon sebagai perguruan tinggi swasta mitra dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) masih menghadapi kendala dalam penyelarasan regulasi internal, prosedur operasional, serta kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan karir dosen. Kegiatan PkM ini bertujuan untuk memperkuat kesiapan kelembagaan dan meningkatkan pemahaman dosen serta pengelola melalui pendampingan institusional yang sistematis. Metode yang digunakan meliputi analisis situasi, penyusunan peta masalah, perumusan Prosedur Operasional Standar (POS) layanan profesi dan karir dosen, sosialisasi, Focus Group Discussion (FGD), serta pendampingan implementasi. Hasil survei awal menunjukkan bahwa hanya sekitar 18–30% dosen memiliki pemahaman yang baik terhadap regulasi dan mekanisme karir dosen sebelum kegiatan. Setelah pendampingan, terjadi peningkatan pemahaman yang ditunjukkan oleh bertambahnya jumlah dosen yang memahami mekanisme kenaikan jabatan fungsional, penilaian kinerja berbasis Tridharma, dan prosedur layanan karir sesuai POS. Selain peningkatan pemahaman sumber daya manusia, kegiatan ini menghasilkan dokumen POS layanan karir dosen yang disepakati dan siap diimplementasikan, serta meningkatkan kesiapan institusional perguruan tinggi mitra dalam menghadapi implementasi kebijakan nasional.

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 22 No 03 (2025): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 22 No 02 (2025): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 22 No 01 (2025): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 21 No 03 (2024): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 21 No 02 (2024): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 21 No 01 (2024): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 20 (2023): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 20 Edisi Khusus Tahun 2023 Vol 20 No 02 (2023): Sarwahita : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 20 No 01 (2023): Sarwahita : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 19 (2022): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 19 Edisi Khusus Tahun 2022 Vol 19 No 03 (2022): Sarwahita : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 19 No 02 (2022): Sarwahita : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 19 No 01 (2022): Sarwahita : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (Edisi Khusus) Vol 18 No 02 (2021): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 18 No 01 (2021): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 17 No 02 (2020): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 17 No 01 (2020): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 16 No 02 (2019): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 16 No 01 (2019): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 15 No 02 (2018): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 15 No 01 (2018): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 14 No 02 (2017): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 14 No 01 (2017): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 13 No 2 (2016): SARWAHITA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 13 No 1 (2016): SARWAHITA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 12 No 2 (2015): SARWAHITA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 12 No 1 (2015): SARWAHITA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 11 No 2 (2014): SARWAHITA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 11 No 1 (2014): SARWAHITA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat More Issue