p-Index From 2021 - 2026
11.415
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

FENOMENA FEAR OF MISSING OUT (FOMO) DALAM GAYA HIDUP THRIFTING BERMEREK PADA MAHASISWA UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA DI ERA MEDIA SOSIAL Serly Putri Hidayat; Stevany Afrizal
SABANA: Jurnal Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sabana.v5i1.7797

Abstract

This study examines the phenomenon of Fear of Missing Out (FOMO) within branded thrifting practices among students at Sultan Ageng Tirtayasa University. Thrifting, which was initially driven by the need to find affordable secondhand clothing, has now developed into a consumption pattern strongly shaped by social media. This research aims to explore students’ experiences, motivations, and the meanings they construct when engaging in branded thrifting using a qualitative phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews, observations of social media content, and documentation related to thrifting activities. Pierre Bourdieu’s theory of social practice is used to understand how habitus, capital, and field influence these practices. The findings show that social media plays a significant role in encouraging students’ interest in branded thrifting through review content, fashion hauls, shop recommendations, and live shopping sessions. Continuous exposure to these trends creates a sense of urgency for some students to keep up with certain styles so as not to feel left behind by their peers. This condition fosters FOMO, which later shapes students’ decisions when selecting and purchasing branded thrift items. Ultimately, branded thrifting becomes not only an economical choice but also a medium for self-expression, identity formation, and maintaining social presence both on campus and in digital spaces.
FENOMENA STANDAR KECANTIKAN DI TIKTOK SERTA RESPONS KRITIS MAHASISWA PENDIDIKAN SOSIOLOGI UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA Siti Rahmah Indriyani; Stevany Afrizal
SABANA: Jurnal Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sabana.v5i1.7812

Abstract

The phenomenon of beauty standards on TikTok, such as fair skin, smooth faces, and ideal bodies, cannot be separated from the role of algorithms that continuously display content with certain beauty images. This study aims to describe how Sociology Education students at Sultan Ageng Tirtayasa University, class of 2023, assess these beauty standards and how they respond to them whether by accepting, rejecting, or criticizing them from a sociological perspective. This study uses a descriptive qualitative method with data collection techniques through in-depth interviews with five students, supplemented by observation and documentation. The results show that most students view beauty standards on TikTok as a social construct that is not entirely realistic and tends to be shaped by digital media. The students' responses to this phenomenon also varied, ranging from selective acceptance, rejection of the pressure of beauty standards, to being critical in shaping their identity. This phenomenon can be understood through Berger and Luckmann's social construction theory, which explains the processes of externalization, objectification, and internalization in the formation of social meaning.
BUDAYA HEALING SEBAGAI GAYA HIDUP DI KALANGAN GEN-Z Nida Musyarofah; Stevany Afrizal
SABANA: Jurnal Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sabana.v5i1.7838

Abstract

This study aims to understand healing culture as a lifestyle among Gen Z, particularly students at Sultan Ageng Tirtayasa University. Using a qualitative approach through in-depth interviews with seven informants, this study analyzes the meaning of healing, its driving factors, and its impact on the daily lives of Gen Z. The results show that healing is interpreted as an effort to calm oneself from academic and social pressures through simple activities such as resting, watching, and traveling. Social media also shapes how Gen Z practices healing, shifting it into a lifestyle trend. The culture of healing has a positive impact in the form of increased psychological comfort and reduced stress, but it also has negative effects such as consumptive behavior, procrastination, and the tendency to use healing as an escape. This study confirms that healing not only functions as mental recovery, but also as an expression of the identity of the younger generation in the digital age. Furthermore, the findings indicate that the practice of healing among Gen Z cannot be separated from the influence of digital culture and social interaction in online spaces. The representation of healing activities on social media platforms also contributes to shaping new social norms and expectations regarding how young people manage stress and express their well-being. Therefore, understanding healing culture is important to see how lifestyle, media influence, and psychological needs intersect in shaping the daily experiences of Gen Z.
Analisis Ketidaksetaraan Gender dalam Pembagian Peran keluarga Adelia Raya Ainurizka Salsabilla; Stevany Afrizal
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 1: April (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i1.2495

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bentuk ketidaksetaraan gender dalam pembagian peran keluarga pada tiga keluarga di Kabupaten Serang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam dan observasi terhadap tiga informan keluarga yang diberi kode Informan G, Informan K, dan Informan L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembagian peran domestik dan publik masih sangat dipengaruhi oleh budaya patriarki, kebiasaan turun-temurun, dan konstruksi sosial yang menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama pekerjaan rumah tangga. Seluruh informan memperlihatkan pola bahwa istri mengerjakan seluruh tugas domestik, sementara suami berfokus pada peran public sebagai pencari nafkah. Ketidaksetaraan ini berdampak pada beban ganda bagi perempuan, memicu kelelahan emosional dan fisik, serta berpotensi menimbulkan konflik rumah tangga. Selain itu, pola tersebut diwariskan kepada anak-anak, sehingga norma ketidaksetaraan gender terus direproduksi antargenerasi. Temuan penelitian ini menguatkan teori konstruksi sosial, teori peran sosial, dan teori patriarki yang menjelaskan bagaimana peran gender dibentuk, dipertahankan, dan dijalankan dalam kehidupan keluarga.
Upaya Peningkatan Pendidikan Formal Anak Dari Keluarga Pra-sejahtera Jihaan Kaamiliaa; Stevany Afrizal; Subhan Widiansyah
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 32 No. 1 (2026): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v32i1.3734

Abstract

Pendidikan merupakan faktor penting dalam meningkatkan masa depan seseorang. Namun, keluarga pra-sejahtera masih menghadapi kendala dalam meningkatkan pendidikan formal anak. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis upaya orangtua dalam meningkatkan pendidikan formal anak kemudian menggunakan modal sosial untuk mendukung keberlanjutannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deksriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan berjumlah 10 orang yang dipilih menggunakan purposive sampling, terdiri dari orangtua sebagai informan kunci, serta anak dan masyarakat menjadi informan pendukung. Hasil penelitian menemukan bahwa orangtua melakukan berbagai upaya seperti pengelolaan keuangan keluarga, mencari pekerjaan tambahan, memanfaatkan bantuan pemerintah dan keluarga, serta memberikan dukungan kepada anak. Temuan ini sejalan dengan teori modal sosial James Coleman yang memiliki kewajiban dan harapan orangtua terhadap pendidikan anak, pemanfaatan saluran informasi mengenai bantuan pendidikan, dan norma yang mendorong anak agar tetap bersekolah. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperbanyak kajian modal sosial dalam konteks keluarga pra-sejahtera
Catcalling sebagai Praktik Kontrol Sosial Maskulin di Ruang Publik Kampus: Studi Fenomenologi pada Mahasiswi FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Talitha Damayanti; Stevany Afrizal; Saryono Saryono
Jurnal Citizenship Virtues Vol. 6 No. 1 (2026): Transformasi Nilai Kewargaan, Karakter, dan Praktik Sosial dalam Dinamika Pendi
Publisher : LPPM STKIP Kusuma Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37640/jcv.v6i1.2806

Abstract

FFenomena catcalling merupakan bentuk pelecehan verbal di ruang publik yang sering menargetkan perempuan sebagai objek interaksi seksual yang tidak diinginkan. Meskipun kerap dianggap sebagai candaan, praktik ini memiliki implikasi sosial dan psikologis bagi perempuan yang mengalaminya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis catcalling sebagai bentuk kontrol sosial maskulin di ruang publik kampus serta memahami pengalaman mahasiswi yang mengalaminya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi terhadap enam mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang pernah mengalami catcalling di sekitar kampus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa catcalling muncul dalam bentuk siulan, panggilan bernada menggoda, serta komentar terhadap penampilan fisik yang merefleksikan objektifikasi tubuh perempuan dan relasi kuasa gender di ruang publik. Pengalaman tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman dan mendorong mahasiswi mengembangkan strategi adaptasi ketika berada di ruang publik. Temuan ini memperluas pemahaman mengenai catcalling sebagai praktik sosial yang mereproduksi dominasi maskulin serta memiliki implikasi bagi pengembangan Pendidikan Sosiologi dan Pendidikan Kewarganegaraan.
Analisis Disfungsi Komunikasi Ayah-Anak Pada Kompetensi Sosial Mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNTIRTA Zahra Aliefa Ramadhanty; Stevany Afrizal
Kalam Cendekia: Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol 14, No 1 (2026): Kalam Cendekia: Jurnal Ilmiah Kependidikan
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jkc.v14i1.116246

Abstract

Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus ini bertujuan untuk menganalisis disfungsi komunikasi ayah-anak dan kaitannya dengan kompetensi sosial mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNTIRTA, melalui perspektif Teori Interaksionisme Simbolik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 4 informan kunci yang dipilih secara purposive dengan kriteria memiliki hambatan komunikasi dengan ayah. Ditemukan empat pola disfungsi: Dingin/Kaku, Otoriter/Dominasi, Minim Dukungan Emosional, dan Trauma Kehilangan Peran. Analisis Teori Interaksionisme Simbolik menyimpulkan adanya Pola Pembentukan Dualistik Kompetensi Sosial yang kompleks. Pola ini mencakup Jalur Maladaptif (Hambatan), yang menunjukan bahwa pola otoriter menciptakan 'Me' yang rentan, termanifestasi sebagai Rendah Percaya Diri dan Ragu Mengungkapkan Pendapat di kampus; serta Jalur Adaptasi Proaktif (Kompensasi), hal ini menunjukan ketiadaan dukungan emosional memicu mahasiswa untuk melakukan kompensasi simbolik mandiri, yang terwujud dalam Empati Tinggi dan Inisiatif Membantu (Prososial). Teori Interaksionisme Simbolik menjelaskan bahwa disfungsi komunikasi primer tidak hanya menghambat, tetapi juga mendorong mekanisme survival diri yang kompleks pada interaksi sosial mahasiswa. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun disfungsi komunikasi ayah menyebabkan kerentanan psikologis, lingkungan kampus berfungsi sebagai tempat negosiasi simbolik yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk meningkatkan keterampilan sosial alternatif. Maka dari itu, sangat penting bagi institusi pendidikan untuk memiliki peran yang aktif dalam memberikan dukungan sosial kepada mahasiswa yang berasal dari keluarga yang disfungsional, guna menjamin keberhasilan adaptasi mereka.
Pemanfaatan Konten Edukasi Tiktok dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar pada Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2023 Zahrah Salsabila; Stevany Afrizal
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 4: Juni 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i4.16434

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola konsumsi informasi, di mana platform video pendek seperti TikTok bergeser dari hiburan menjadi sumber belajar alternatif. Penelitian ini berupaya menjawab masalah mengenai bagaimana mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2023 memanfaatkan konten edukasi TikTok dan sejauh mana pemanfaatan tersebut berkontribusi dalam menumbuhkan motivasi belajar mereka. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan pengalaman interaksi mahasiswa dengan konten edukasi dan menganalisis efektivitasnya dibandingkan media konvensional. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus intrinsik. Landasan teoretis utama yang digunakan adalah Teori Interaksionisme Simbolik Herbert Blumer (1969), yang menganalisis bagaimana makna (motivasi belajar) dikonstruksi melalui interaksi simbolik mahasiswa dengan konten TikTok. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap lima informan kunci yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memanfaatkan konten edukasi TikTok baik terkait Sosiologi maupun tips akademik umum sebagai suplemen belajar yang ringan, visual, dan relevan. Konten ini berperan krusial dalam memicu rasa ingin tahu, mempermudah visualisasi konsep abstrak, dan mendorong motivasi intrinsik. Kesimpulan menunjukkan bahwa keberhasilan pemanfaatan TikTok bergantung pada kemampuan mahasiswa untuk menginterpretasikan dan memilah konten secara sadar, mengubah platform tersebut menjadi simbol belajar yang efektif.
Co-Authors Adelia Raya Ainurizka Salsabilla Adisha Anindiva Faizal Aenunnisa Aenunnisa Agustin, Nurmalasari Agustina, Fera Anggun Biyanti Ani Handayani Anten Fhabella Ardila, Ira Ari Fathin Maulana Ashilah, Hana Athallaisya Adinda, Inez Azzahra, Tifani Shofa Bahrudin, Febrian Alwan Balqis, Azmelia Putri Cahya, Nilam Cahyo Kartiko Adi Nugroho Choirunnisa Sasa Dahlia Bela Novanza Delvina Raissa Dema Tesniyadi Destianti, Kavita Diah Utamy Empat Siti Fatimah Fauziah, Nine Febrian Alwan Bahrudin Firnanda, Ayu Fitria Wulandari Haerullah, Fiqri Alamsyah Halimatusa Diyah Halyma Wynda Hanifah, Destri Aulia Hapid TA, Ahmad hardiyanti hardiyanti Hari Prasetya, Bayu HARYONO Haryono Haryono Haryono Haryono Hatami, Muhammad Hayat, Nurul Hermalia, Rini Hermsen, Sheila Hidayat, Sholeh Ilham Maulana Indah Sastia Putri jedah nurlatifah Jihaan Kaamiliaa Kudus, Wahid Abdul KUNTARI, SEPTI Latifa, Jamilatul Lindawati, Yustika Irfani Lisdayanti, Lisdayanti LULUK ASMAWATI Maulana Fikri Rachmadi Meilla Dwi Nurmala Meilla Dwi Nurmala Meitami Sofiyanti Mudinillah, Adam Muhammad Agus Hardiansyah Musahwi Musahwi Muttaqin, Tiara Indriyani Nabilah, Rifa Nada, Syahirrah Nadia Afifah Nafisah, Nada Nasiroh, Nasiroh Nida Musyarofah Nida, Nabila Afro Nine Fauziah Nurmala, Nisa Nursaidah, Siti Nurul Hayat Nurul Hayat Hayat Nuryasin, Muhammad Jamil Polelah Lelah Putri Tunggal Dewi Putri, Dea Pebriani Rahma Azzahra rahmawati rahmawati Ramdhini, Siti Agni Ratu Dina Qonitah Risdiana, Ria Robiatussoleha, Ratu Aulia Rusdana, Rusdana Sabrina Mustika Putri Salsabilla, Sekar Sari, Nawang Saryono Saryono Sastra Juanda sastra juanda Septiana, Deta Serly Putri Hidayat Setiawan, Rizki Setiawan, Rizky Shinta Bella Angelina Siti Rahmah Indriyani Siti Saniah, Siti Subhan Widiansyah Talitha Damayanti Tia Astuti Tubagus Umar Wibowo Ukhroniyah, Ukhroniyah Utami, Rezza Widia Viecena, Anwar Fikri Wanda Marsella Wardah Alivia Wikanti Widianingsih, Sekar Rifdah Wika Hardika Legiani Wikanti, Wardah Alivia Yulianto Yulianto Yustika Irfani Lindawati Zahra Aliefa Ramadhanty Zahrah Salsabila Zeba, Shahnaz Aqeela