Claim Missing Document
Check
Articles

TANGGUNG JAWAB BADAN ARBITRASE SYARIAH NASIONAL (BASYARNAS) DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN SYARIAH Sakti, Muthia; Wahyuningsih, Yuliana Yuli
Jurnal Yuridis Vol 4, No 1 (2017): Jurnal Yuridis
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.963 KB) | DOI: 10.35586/.v4i1.135

Abstract

National Sharia Arbitration Board established by the Majelis Ulama Indonesia. The reason the founding of the National Sharia Arbitration Board with their idea of Islamic Economics is characterized by the development of Islamic banking, such as the birth of the Islamic Bank, which certainly has a dispute must be resolved sharia and sharia, so the need to involve other parties to mediate in resolving the dispute sharia. In this thesis will be discussed on the responsibility of the National Sharia Arbitration Board (BASYARNAS) in resolving disputes regarding the authority of Islamic Banking and Religious Court against the execution and cancellation of the decision of the Arbitration Sharia in Indonesia. 
PERLINDUNGAN HUKUM ATAS HAK-HAK TERSANGKA PADA PROSES PENYIDIKAN PERKARA PIDANA DALAM PERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA Dinanti, Dinda; Wahyuningsih, Yuliana Yuli
Jurnal Yuridis Vol 3, No 2 (2016): Jurnal Yuridis
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.614 KB) | DOI: 10.35586/.v3i2.181

Abstract

The only rules to be the basis for the implementation of the criminal procedural law is the Law of the Republic of Indonesia No. 8 of 1981, the ice shelf (for eign) No. 3209 of the Law Criminal Procedure law enacted on December 31, 1981, often called the Book of the Law of Criminal Procedure Law. In the article-article it reflected the protection of Human Rights (Human Rights). Detention is often done without regard to the terms of subjective and objective requirements as contained in the Code of Criminal Procedure. Arbitrary action by the investigator an conducting forceful measures. This study uses the research literature and then described in the findings and analysis. Law in Indonesia has guaranteed rights of the accused in various laws and regulatons in force in Indonesia, including UUD 1945, Universal Declaration of Human Rights, ICCPR, CAT and others. And one of the principles that embraced known as ?the presumption of innocence?, which is no one maybe arrested, detained and was arbitrarily be considered guilty of committing before he was convicted by the Court through a decision which has legal force (in kracht van gewisjde).
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMANFAATAN TANAH UNTUK PEMUKIMAN DI WILAYAH GARIS SEMPADAN SUNGAI DKI JAKARTA Yuliana Yuli Wahyuningsih; Dwi Desi Yayi Tarina; Satino Satino; Muthia Sakti
Jurnal Hukum dan Kenotariatan Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.861 KB) | DOI: 10.33474/hukeno.v6i2.12281

Abstract

 Tanah mempunyai arti penting dalam kehidupan dan penghidupan manusia, bahkan dapat dikatakan manusia tidak dapat terpisahkan dengan tanah karena dari tempat manusia berpijak di atas tanah, tempat manusia mengambil semua kebutuhan sehari-hari untuk sandang, pandang dan papan semua berawal dari tanah bahkan sampai dengan manusia meninggal masih membutuhkan tanah. Dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan zaman, jumlah permintaan akan tanah terus meningkat. Ada tiga faktor yang mempengaruhinya, yaitu pertumbuhan penduduk, kemajuan teknologi dan pergeseran industri dan budaya. Secara geografis, DKI Jakarta merupakan Provinsi yang padat penduduk. Dengan melunjaknya jumlah kelahiran atau peledakan perkembangan penduduk di Ibu Kota Jakarta, maka banyak masyarakat yang mendirikan pemukiman di wilayah garis sempadan Sungai Ciliwung. Hal tersebut didukung dengan harga tanah yang lebih murah dibandingkan dengan harga tanah pemukiman di tengah kota. Namun dengan adanya pemukiman di wilayah garis sempadan Sempadan Sungai Ciliwung, membawa dampak negatif terhadap perkembangan ekosistem sungai dan juga memberikan dampak buruk pada kehidupan masyarakat sekitar pemukiman karena merusak sistem penyerapan air. Salah satu dampaknya adalah sering terjadi banjir. Dalam pemanfaatan tanah di perbatasan sungai menurut Undang-Undang Agraria dalam pemanfaatannya harus mengutamakan fungsi sosial yaitu prinsip yang menyatakan bahwa penggunaan tanah tidak boleh bertentangan dengan hak orang lain dan kepentingan umum serta agama.Kata-Kunci: Kebijakan, Sempadan Sungai, Lingkungan. Land has an important meaning in human life and livelihood, it can even be said that humans cannot be separated from land because from where humans stand on the ground, where humans take all their daily needs for clothing, views and boards, everything starts from the ground and even reaches humans. dead still need land. From time to time along with the times, the amount of demand for land continues to increase. There are three factors that influence it, namely population growth, technological progress and industrial and cultural shifts. Geographically, DKI Jakarta is a densely populated province. With the increasing number of births or the explosive population development in the capital city of Jakarta, many people have set up settlements in the Ciliwung River border area. This is supported by the cheaper land prices compared to residential land prices in the middle of the city. However, the presence of settlements in the Ciliwung River border area has a negative impact on the development of river ecosystems and also has a negative impact on the lives of communities around the settlements because it damages the water absorption system. One of the effects is frequent flooding. In the use of land on the river border, according to the Agrarian Law, in its use, it must prioritize social functions, namely the principle that land use must not conflict with the rights of others and public and religious interests.Keywords: Policy, River Border, Environment.
Penyelesaian Perkara Anak Berkonflik Dengan Hukum Melalui Diversi Pada Tahap Penyidikan Dalam Rangka Mewujudkan Keadilan Restoratif Kayus Kayowuan Lewoleba; Yuliana Yuli Wahyuningsih
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 9, No 6 (2022)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v9i6.28084

Abstract

This study aims to analyze the settlement of cases of children in conflict with the law through a diversion approach at the investigation stage in order to realize restorative justice. . Diversion efforts at the investigation stage need to be carried out if cases of children in conflict with the law meet the requirements for diversion. Diversion means the granting of authority to law enforcement officials to take policy actions in dealing with or resolving the problem of child violations by not taking formal steps, including stopping or not continuing from the criminal justice process or returning it to the community. Or in other words, diversion is the transfer of a child's case from the criminal justice process to a process outside of criminal justice. This effort is carried out, especially in the investigation stage, which needs to be carried out in order to provide protection for children in conflict with the law, especially if the crime committed meets the diversion requirements. However, in reality in the field there are still many law enforcers, especially the police, who do not use this authority, this is due to various factors such as a lack of understanding from law enforcement officials regarding the treatment and handling of children in conflict with the law at every stage of the legal process. If diversion can be carried out early, it can prevent children in conflict with the law from having to go through all the long legal processes that can ultimately affect the child's psychological development. Diversion efforts are also in the context of realizing restorative justice which emphasizes recovery back to its original state rather than retaliation. The research method used is a juridical-normative approach with a statute approach and a conceptual approach. The results of the study conclude that firstly, for the best interests of the child, both as the perpetrator and the victim, it is necessary to make diversion efforts at the investigation stage if it meets the requirements to protect children. Second, the concept of diversion at the investigation stage experienced problems or was not carried out due to several factors such as the lack of understanding of law enforcement officials and the absence of agreement in the diversion deliberation.
PERNIKAHAN DINI DIBAWAH UMUR DI INDRAMAYU Satino Satino; Yuliana Yuli Wahyuningsih; Dwi Aryanti Ramadhani; Kayus Kayowuan Lewoleba; Beni Harmoni Harefa; Mulyadi Mulyadi
Media Bina Ilmiah Vol. 17 No. 5: Desember 2022
Publisher : LPSDI Bina Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.466 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meberikan dasar pertimbangan kebijakan kepada pemerintah Kabupaten Indramayu, atas massifnya pernikahan dini yang terjadi di wilayah Indramayu. Pernikahan adalah Perjanjian suci yang dapat dilihat dari segi norma keagamaannya. Sedangkan norma agama tidak menghendaki pernikahan di bawah umur yang telah diejawantahkan dalam hukum positif yang telah ditentukan dengan Undang-undnag nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dan hal ini dilanggar oleh banyak warga di kabupaten indramayu. Tidak menutup kemungkinan pernikahan dini yang dilakukan oleh warga indramayu akan mempengaruhi sejauh mana efek buruk yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Indramayu. Atas dasar tersebut penelitian ini ingin menyelesaikan masalah pertama bagaimana pengaruh pernikahan dini di bawah umur terhadap anak yang melaksanakan pernikahan dini di wilayah indramayu, kedua apa saja kebijakan yang dapat dikeluarkan oleh pemerintah indramayu untuk menekan laju pernikahan usia dini di wilayah tersebut. Metodologi penelitian ini adalah kualitatif, dengan melaksanakan penelitian langsung kelapangan (field research) penelitian ini melakukan observasi serta wawancara untuk mendapatkan hasil yang valid sebagai sumber data penelitian, adapun sumber data yang digunakan adala sumber data primer dan sumber data sekunder dan pendekatan penelitian in menggunakan pendekatan penelitian undang-undang. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa banyak efek negative pernikahan usia dini yang banyak dilakukan oleh warga indramayu. Hal ini bukan tanpa sebab, terjadinya pernikahan dini tidak dapat dihindari karena faktor Pendidikan yang kurang diterima dengan baik oleh warga indramayu dan selain itu faktor ekonomi faktor yang menjadi akar masalah terjadinya pernikahan dini itu terjadi. Penelitian ini mengajak pemrintah indramayu untuk mempertegas pemberian dispensasi pernikahan kepada warganya, karena tanpaadanya dispensai pernikahan pernikahan usia dini tidak dapat dilaksanakan. Apabila tidak dilakukanoleh pemereintah setempat akan menimbulkan ketidak seriusan dalam melangsungkan pernikahan tersebut. Fenomena pernikahan dini terjadi menunjukan bahwa pasangan yang menikah dibawah umur tidak dapat dihindari karena orang tua sebelumnya juga merasakan hal yang sama dan masih labil dalam menghadapi masalah di kemudian hari.
ANALISIS SOSIO-LEGAL PERDAGANGAN ORANG DI KABUPATEN INDRAMAYU, PROVINSI JAWA BARAT Kayus Kayowuan Lewoleba; Yuliana Yuli Wahyuningsih; Dwi Aryanti Ramadhani; Mulyadi Mulyadi; Beni Harmoni Harefa; Satino Satino
Media Bina Ilmiah Vol. 17 No. 5: Desember 2022
Publisher : LPSDI Bina Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.981 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai maraknya kasus perdagangan manusia yang terjadi di Indonesia khususnya di wilayah Indramayu, masalah perdagangan orang tidak hanya menjadi isu domestik, namun sudah menjadi permasalahn global yang terjadi di hampir semua belahan dunia. Perdagangan manusia yang terjadi saat ini mengambil model dan bentuk yang tersamar dan merupakan bentuk dari perbudakan jaman modern. Perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang rentang dengan masalah perdagangan orang. Sebagai suatu tindak pidana, perdagangan orang perlu dilakukan upaya penangan secara komperehensif, mulai dari upaya pencegahan sampai dengan penindakan. Terjadinya perdagangan orang tidak dapat dilihat dari satu faktor saja. Banyak faktor yang menyebabkan maraknya kasus perdagnagn orang. Masalah kemiskinan merupakan salah satu dari sekian faktor yang dominan dalam praktek perdagangan orang. Banyak orang yang bersal dari keluarga miskin terutama para kelompok rentan yaitu perempuan dan anak-anak menjadi korban dari praktik illegal ini. Minimnya pengetahuan, lemahnya penegakan hukum juga menjadi faktor yang mendorong maraknya kasus perdagangan orang.
Pemberdayaan Masyarakat Nelayan di Desa Pabeanudik: Studi Kasus Perlindungan Hukum Mulyadi Mulyadi; Kayus K. Lewoleba; Yuliana Yuli Wahyuningsih; Satino Satino; Dwi Aryanti Ramadhani
SIGn Jurnal Hukum Vol 4 No 2: Oktober 2022 - Maret 2023
Publisher : CV. Social Politic Genius (SIGn)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37276/sjh.v4i2.221

Abstract

This study aims to examine the implementation of legal protection for the fishermen community in Pabeanudik Village. This research combines normative juridical and empirical research methods. The primary data were collected using direct interviews, while the secondary data was collected using literature study techniques. The data obtained in this research were then analyzed qualitatively to describe the problem and answer study purposes. The results show that there are contradictory explanations from several laws and regulations regarding the status of fishermen as legal subjects. In addition, most Fishers do not receive guarantees of safety and security from Fishing Vessel Owner when going to sea on the high seas. In addition to weak legal protection, Fishers also received less guidance and guarantees for legal assistance from the Local Government. Therefore, it is recommended that the Government make amendments to several laws and regulations. In this case, to equalize the explanation of the status of fishermen as legal subjects. Furthermore, the Local Government must implement protection and empowerment policies regulated in laws and regulations. These include business certainty, elimination of high-cost economic practices, provision of production facilities and infrastructure, guarantees against risks in the fishing business, and assistance for fishermen who have difficulty catching fish. In addition, support in the form of protection and empowerment is given exclusively to small fishermen and fishers so that the series of problems described can be minimized in the future.
Sosialisasi Batas Umur Untuk Melangsungkan Pernikahan: Socialization of Age Limits to Construction Marriage Sulastri; Yuliana Yuli Wahyuningsih; Satino; Suherman
Jurnal Abdimas Le Mujtamak Vol. 2 No. 2 (2022): Le MUJTAMAK 2022 : Juli - Desember
Publisher : Universitas Islam Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46257/jal.v2i2.440

Abstract

Seseorang pria serta seseorang wanita merambah sesuatu jalinan lahir serta batin yang diketahui selaku pernikahan buat menghasilkan keluarga ataupun sarang yang senang serta kekal yang bersumber pada Tuhan. Umur sah buat menikah diatur oleh hukum Indonesia. Umur 19 belas tahun merupakan persyaratan minimum untuk menikah. Sebab mereka belum menggapai umur pernikahan yang legal, pria serta wanita yang dikenai pembatasan ini umumnya diucap selaku kanak-kanak. Tiap perkawinan mempunyai tujuan untuk menghasilkan keluarga serta/ataupun rumah. Kelipatan persekutuan terendah dari laki-laki, perempuan, serta kanak-kanak hendak dibangun memakai ini. Pembuatan keluarga merupakan pengembangan jalinan kohesif antara suami, istri, serta kanak-kanak yang tinggal di rumah yang sama dengan orang tua serta kanak- kanak mereka. Pembelajaran terbaik wajib diberikan kepada kanak-kanak. Pelanggaran hukum yang bisa jadi terjalin merupakan suasana pernikahan anak. Kenyataan ini menampilkan, terencana ataupun tidak, kalau terdapat kerangka hukum yang digunakan buat mendesak momentum perkawinan anak. Sebab dikenal tahapan- tahapan pernikahan, hingga mencuat kekhawatiran hendak pergaulan leluasa antara calon mempelai serta suami, sehingga seluruhnya legal. Tetapi demikian, banyak orang yang masih belum menguasai seluruhnya proses registrasi tanah serta keuntungan- keuntungannya yang prospektif. Tata cara sosialisasi ini merupakan tahap tanya jawab terbuka. Informasi hendak dikumpulkan di kelurahan Palsigunung Selatan buat membenarkan konferenAsi berjalan dengan berhasil serta penuhi tujuannya.
Sosialisasi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak Sebagai Upaya dalam Pemenuhan Hak-Hak Anak menjadi Korban Diskriminasi dan Kekerasan: Socialization of Law Number 35 of 2014 concerning Child Protection as an Effort in Fulfilling the Rights of Children who Become Victims of Discrimination and Violence Yuliana Yuli Wahyuningsih; Satino; Iwan Erar Joesoef; Suherman; Marina Ery Setiyawati
Jurnal Abdimas Le Mujtamak Vol. 2 No. 2 (2022): Le MUJTAMAK 2022 : Juli - Desember
Publisher : Universitas Islam Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46257/jal.v2i2.441

Abstract

Anak adalah sebagai makluk Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai makluk sosial, menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, perlindungan anak sejak di dalam kandungan sampai dengan dilahirkan hingga umur 18 tahun mempunyai hak untuk dapat itu dari orangtua itu sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa maupun negara. Setiap manusia tidak diperbolehkan merampas hak atas untuk memperoleh perlindungan diantaranya dalam hak untuk kehidupan, hak dalam kemerdekaan, hak untuk memperoleh pendidikan dan hak bermain. Maka tidak boleh sampai terjadinya diskriminasi terhadap anak, faktor penyebab terjadinya diskriminasi terhadap anak di bawah umur, dan untuk menjelaskan upaya yang dilakukan untuk mengatasi diskriminasi terhadap anak sebagai akibat kurangnya perhatian terhadap anak. Apalagi jika anak telah dilahirkan dari orangtuanya maka anak tersebut sudah mempunyai hak untuk kehidupan dan hak untuk merdeka yang merupakan hak yang mendasar dan juga kebabasan mendasar tidak dapat dilenyapkan dan dihilangkan, anak juga harus selalu dilindungi dengan diberikan kebebasan untuk hidup dan hak untuk kemerdekaannya, karena hak asasi anak tersebut merupakan bagian dari hak asasi manusia yang mendapatkan jaminan dan perlindungan hukum, baik hukum internasional maupun hukum nasional. Maka Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak perlu disosialisasikn kepada masyarakat demi anak tersebut. Oleh sebab itu menyarankan melakukan perlindungan terhadap hukum bagi anak seperti melakukan kepatuhan dan kesadaran hukum, lingkungan sosial serta sosialisasi pemberlakuan tentang ketentuan UU yang mengatur tentang perlindungan anak tersebut.
PERTANGGUNGJAWABAN PRODUK OLEH PELAKU USAHA TERHADAP LABELISASI HALAL PADA PRODUK OLAHAN IMPOR Kayus Kayowuan Lewoleba; Dwi Aryanti Ramadhani; Yuliana Yuli Wahyuningsih
Arena Hukum Vol. 11 No. 2 (2018)
Publisher : Arena Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9268.118 KB) | DOI: 10.21776/ub.arenahukum.2018.01002.6

Abstract

AbstractThe inclusion of halal labeling is not mandatory or voluntary, but if there is a corporation who manufactures and / or imports processed food into Indonesian territory to be traded by declaring its products as halal products, the processed foodstuff is obliged to include halal labeling and responsible for the halal of its products. The purpose of this study is to analyze the effectiveness of halal labeling on the circulation of imported processed products and the consequence of the law of circulation of food that is not halal certified in the community. The research in this article uses empirical juridical research methods with data collection techniques through surveys and questionnaires. The results showed that the obligation of labeling in the circulation of imported processed products was less effective in providing legal protection to consumers and the legal consequence was to impose administrative sanctions up to the criminal to business actor.AbstrakPencantuman labelisasi halal pada dasarnya tidak wajib atau bersifat sukarela, namun jika terdapat pelaku usaha pangan olahan yang memproduksi dan/atau memasukkan pangan olahan ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan dengan menyatakan produknya sebagai produk halal, maka pelaku usaha pangan olahan tersebut wajib mencantumkan labelisasi halal dan bertanggungjawab atas kehalalan produknya. Tujuan penelitian dalamartikelini adalah untuk menganalisis efektifitas hukum labelisasi halal terhadap peredaran produkolahanimpor dan akibat hukum peredaran makanan yang tidak bersertifikat halal di masyarakat. Penelitian dalamartikelini menggunakan metode penelitian yuridis empiris dengan teknik pengumpulan data melalui survey dan kuisioner. Hasil penelitianmenunjukkanbahwa kewajibanlabelisasidalamperedaranprodukolahanimpor kurang efektif dalam memberikan perlindungan hukum kepada konsumen dan akibathukumnya adalah menjatuhkan sanksi administratifhinggapidanakepada pelaku usaha.
Co-Authors Abdul Kholiq Adil, Iswahyuni Agustanti, Rosalia Dika Agustinus PH, Agustinus Ahmad Hidayatullah Ahmad Muwafik Aidan Rafif Ali Djamhuri Amanda, Nur Septiana Amina, Frahnaz Andriyanto Adhi Nugroho Anggelica Regina Sinamora Ardiana, Oktavia Dwi Aria, Muhammad Gustaf Aryanti R, Dwi Atik Winanti Aulia, Padla Zan Putri Az Zahra, Shabrina Najla Beni Harmoni Harefa Beni Harmoni Harefa Beniharmoni Harefa Cong, Vannez Damareka, M Darrell Danil Erlangga Mahameru Darmawan, Abqary Faraz Dinanti, Dinda Dorinda S, Gabriel Dwi Desi Yayi Tarina Dwilaksono, Bimo Rizky Emri, Zaky Prasetio Fadillah, Fatma Putri Fahrozi, Muhammad Helmi Fairuz, Muhammad Gustaf Farabi, Ahmad Abdillah Fauziyyah, Laila Fedira, Revania Firda Amalia Ginting, Yovani Yolanda Putri Hamzah, Amanda Fitra Handar Subhandi Bakhtiar Huda, Genthala Rafik Ismail, Nazli bin Iwan Erar Joesoef Jamaila, Jasmine Fatiha Jeanny Anggita Fitriyani Jordan Fahran Brelian Kayus Kayowuan Lewoleba Kumoro, M Damar Setyo Kusuma, Nanda Putri Andana Latri, Akhdan Adityo M Ali Zaidan, M Ali Maharani, Sabilla Kusuma Maria Yohana Marina Ery Setyawati Marina Ery Setyawati Marina Ery Setyawati Martinus, Jeremy Pangihutan Benaya Maulinda, Rerin Mochamad Haikal Badjeber Mouna Suez Sianturi Muhammad Fadhlan Al Hafizh Mulyadi Mulyadi Mulyadi Mulyadi Mulyadi Mulyadi Mulyadi Mulyadi Muthia Sakti Narindra, Rochella Amalia Negara, Yasinta Diva Nirwana, Rena Putri Nur Al Fatir, Muhammad Nurhuda, Farhan Putra, Daffa Virgianto Putri, Aisyah Nikita Permata Putri, Citraresmi Widoretno Putri, Keisha Rafilah Putri, Maria Sylvia Qibtiya, Mauladiana Rahman, Naila Kamila Ramadhan, Niko Rafael Ramadhandiko, Difqa Alvi Ramadhani, Dwi Aryanti Reyhan, Maulana Arfidata Rianda, Puja Rivaldi, Chika Aurel S, Cristella Zevanya Rhadot S, Debby Nauly Rafeyfa Sachmaso, Hana Humaira Salma Agustina Sambarana, Ilyasa Laits Satino Satino Satino Shira Casta Aurellia, SHIRA CASTA AURELLIA Sianturi, Catherine Rosalina Sihombing, Suluganwata Suhaidi Suhaidi Suherman Suherman Suherman, Suherman Sulastri SULASTRI Sulastri - Sulastri Sulastri Suprima Surahmad Surahmad, Surahmad Syah, Aurelia Zerikha Syamsul Arifin Syfiyah, Shafa Talitha Atha Shakira Trihandoko, Ronaldindo Rifky Veronica, Ester Winati, Atik Yuman, Dara Aulia Zammara, Aurel Meidina