Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

AKOMODASI BAHASA MASYARAKAT KECAMATAN ALAS SUKU SAMAWA-SASAK-BAJO DALAM RANAH PERDAGANGAN Lani, Raudhatil Maulani; Burhanuddin; Mahsun; Saharudin; Ahmad Sirulhaq
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 2 No. 1 (2025): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2025
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v2i1.414

Abstract

Akomodasi bahasa pertama kali dikembangkan oleh Howard Giles yang berfokus pada penyesuaian tingkatan percakapan, aksen, dan jeda dalam berbicara. Kemudian dikembangkan menjadi teori komunikasi antar budaya. Akomodasi Bahasa merupakan kemampuan untuk menyesuaikan, memoodifikasi, atau mengatur prilaku seseorang dalam merespon orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud pilihan bahasa, mendeskripsikan pola akomodasi bahasa, dan penyimpulan hasil analisis data. Data dikumpulkan dengan metode simak dan teknik sadap sebagai teknik dasarnya, kemudian diteruskan dengan teknik lanjutan berupa teknik simak libat cakap, teknik simak bebas libat cakap, dan teknik rekam. Wujud pilihan bahasa yang digunakan meliputi tunggal bahasa, alih kode, dan campur kode. Pola akomodasi bahasa yang dilakukan suku Samawa melakukan divergensi sebab berperan sebagai mayoritas dan suku asli tersebut. Suku Sasak dan suku Bajo melakukan konvergensi sebab berperan sebagai minoritas dan suku pendatang.
Partisipasi Stakeholder Dalam Manajemen Pendidikan Islam Azimah, Nurul; Mahsun; Moh. Khoirul Fatihin
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 2: Februari 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i2.8100

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan kontribusi berbagai stakeholder dalam Manajemen Pendidikan Islam di Indonesia. Dalam konteks pendidikan Islam, partisipasi stakeholder mencakup keterlibatan berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat, guru, orang tua, dan lembaga pendidikan dalam proses pengelolaan, pengembangan kurikulum, serta pemantauan dan evaluasi program pendidikan. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini mengungkapkan bahwa partisipasi yang efektif dari stakeholder dapat meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya dalam mencapai tujuan pendidikan Islam yang holistik. Temuan menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat memiliki dampak signifikan terhadap penyediaan fasilitas yang memadai, peningkatan kompetensi tenaga pendidik, serta penguatan nilai-nilai Islam dalam pendidikan. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam mengoptimalkan partisipasi stakeholder, seperti keterbatasan komunikasi dan perbedaan persepsi tentang tujuan pendidikan. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pembentukan forum komunikasi yang lebih intensif dan penguatan peran masyarakat dalam setiap aspek manajemen pendidikan Islam untuk mencapai hasil yang lebih maksimal.
Konsep Ruang dan Waktu dalam Bahasa Sasak Dialek A-E di Lombok Tengah Kurnia Kasih, Mitha; Mahsun; Saharudin
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v6i2.5988

Abstract

Persoalan ruang dan waktu adalah dua dimensi yang sangat penting dalam kehidupan manusia sehingga ditandai dengan bahasa yang sangat rinci. Penelitian ini mendeskripsikan sisi kebahasaan tentang konsep ruang dan waktu dalam Bahasa Sasak (dialek a-e) di dusun Polak Penyayang, Lombok Tengah dan pandangan budaya masyarakatnya. Penyediaan data dilakukan dengan metode simak, cakap, dan introspeksi. Lalu dilakukan reduksi data, display data, dan pengambilan kesimpulan secara interaktif. Hasil penelitian menemukan bahwa satuan lingual yang dipakai untuk menandai konsep ruang dan waktu dalam Bahasa Sasak (di Polak Penyayang) berbentuk kata dasar dan berbentuk kata kompleks. Konsep ruang yang termasuk bentuk dasar, yaitu leksikon bat ‘barat’, boloq ‘atas, sumber aliran air’, dereq ‘bawah, arah air mengalir’; sementara bentuk kompleks meliputi leksikon běbat ‘ke arah barat’ dan bětimuq ‘ke arah timur’. Konsep waktu yang termasuk bentuk dasar, yaitu leksikon baruq ‘barusan’, uiq ‘kemarin’, dan laeq ‘dulu’; bentuk kompleks meliputi leksikon baruq kělemaq ‘tadi pagi’, jělo ni ‘hari ini’, dan lemaq aru ‘besok pagi’. Selain itu, ditemukan pula konsep waktu yang dilihat dari tanda-tanda alam dan ritual siklus kehidupan tertentu, seperti leksikon kêtaun ‘musim hujan’, kêbalit ‘musim kemarau’, rorampaq ‘antara musim penghujan dan kemarau’, serta nyiwaq ‘hari kesembilan dari hari kematian’. Adapun pandangan budaya masyarakat setempat terkait konsep ruang dan waktu, seperti konsep ruang boloq ‘atas/tinggi’ yang tidak hanya dipandang sebagai sumber mata air, tetapi sebagai sesuatu yang dimuliakan (sakral) dan ini mengacu pada gunung Rinjani sebagai iněn paer ‘induknya bumi Sasak’. Juga pandangan budaya tentang konsep waktu sêrêp jêlo ‘menjelang matahari terbenam’ sebagai waktu pantangan untuk beraktivitas
Kategori Definisi Lema: Ke Arah Penyempurnaan Kamus Besar Bahasa Indonesia Burhanuddin; Mahsun; Sukri; Sirulhaq, Ahmad; Syarifuddin
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v7i1.7599

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang kateogri definisi lema yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (Edisi IV) Tahun 2008. Kategori definsi lema yang dimaksud apakah berdefinisi nomina, realis, atau praktis. Data penelitian ini dikumpulan dari KBBI dengan metode dokumentasi atau kepustakaan, sedangkan analisis data menggunakan metode padan ekstralingual karena membandingkan antara sifat makna dengan sifat sesuatu yang diacu oleh makna atau kata tersebut (referen) yang terdpat diluar bahasa. Hasil penelitian menunjukkan jika terdapat sejumlah perbedaan kategori definisi lema dalam KBBI, yaitu ada yang berdefinisi nomina, realis, dan praktis. Kata yang berdefinisi nominalis contohnya: abadi, abah, abakus, abur, badong, badut, dan sebagainya. Kata yang berdefinisi realis di antaranya: abaksial, abangan, abdas, abdikasi, aberasi, abisopelagik, dan sebagainya, (3) Adapun kata yang berdefinisi praktis di antaranya analgesic, amiloglukasidase, ammeter, dan sebagainya. Selain itu, ditemukan kata yang berdefinisi praktis-nominalis, realis-nominalis, dan realis-nominalis. Selain itu, ditemukan beberapa lema yang memiliki definisi yang kurang baik sehingga perlu direvisi
Toponimi Nama Tempat Wisata Di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur, NTB: Kajian Linguistik Antropologi Rini Idayanti; Mahsun; Burhanudin; Saharudin; Sirulhaq
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 6 No. 4 (2025): November
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap asal-usul dan makna penamaan tempat wisata di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, serta menganalisis aspek budaya, sosial, dan fisik yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berdasarkan teori linguistik antropologis (Mahsun) dan toponimi, diperkaya dengan perspektif Sapir-Whorf mengenai hubungan antara bahasa dan persepsi manusia. Data penelitian diperoleh dari sumber lisan berupa informasi masyarakat lokal (tokoh adat, sesepuh, aparat desa, dan pengelola wisata), serta sumber tertulis berupa dokumen desa, arsip, peta wilayah, dan literatur sejarah lokal. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi dengan teknik simak, sadap, dan rekam. Analisis data dilakukan dengan metode padan intralingual menggunakan teknik hubung banding menyamakan (HBS) dan hubung banding membedakan (HBB), kemudian dipaparkan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 35 nama objek wisata di Kecamatan Sembalun terdapat variasi aspek toponimi yang mencerminkan budaya, masyarakat, dan manifestasi lingkungan. Dari jumlah tersebut, 8 nama objek wisata memuat aspek budaya, 9 nama objek wisata memuat aspek sosial, dan 18 nama objek wisata merupakan bentuk manifestasi lingkungan.