Claim Missing Document
Check
Articles

Bahasa Sakai sebagai Variasi Melayu: Tinjauan Aspek Linguistik Diakronis Burhanuddin Burhanuddin
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.859

Abstract

This paper intends to explain the linguistic evidence (phonology and lexicon) which shows Sakai language as one of the diachronic linguistic Malay variations. Methodologically, data is collected using documentation method of Proto-Melayu (PM) and Sakai Language Dictionary. The collected data is then analyzed using a top-down approach of joint innovation methods. Based on the fact that the innovation and retention of phonology of PM in their respective BS are both regular (correspondence) and irregular (variation) In addition, the retention of the lexicon field reinforces the BS as one of the Malay variants. The comparison of BS with Minangkabau (MIN) language found quite a lot of correspondences and variations of both innovation and variation which implies that both isolates are variants of the same language, although there is a difference between the two isolates. This reinforces the view that the Sakai language is one of the Malay language variants. AbstrakTulisan ini bertujuan menjelaskan bukti linguistik (fonologi dan leksikon) yang menunjukkan bahasa Sakai sebagai salah satu variasi Melayu secara linguistik diakronis. Secara metodologis, data dikumpulkan menggunakan metode dokumentasi berupa Proto-Melayu (PM) dan Kamus Bahasa Sakai. Data yang terkumpulkan kemudian dianalisis menggunakan pendekatan top-down metode inovasi bersama (shared innovations). Berdasarkan kenyataan bahwa ditemukan inovasi dan retensi fonologi PM ke dalam BS masing-masing baik bersifat teratur (korespondensi) maupun tidak teratur (variasi) Di samping itu, retensi bidang leksikon menguatkan BS sebagai salah satu varian Melayu. Hasil perbandingan BS dengan bahasa Minangkabau (MIN) ditemukan cukup banyak korespondensi dan variasi baik yang bersifat inovasi maupun variasi yang menyiratkan bahwa kedua isolek tersebut adalah varian dari bahasa yang sama, meskipun terdapat perbedaan antara kedua isolek tersebut. Hal ini menguatkan pandangan bahwa bahasa Sakai merupakan salah satu varian bahasa Melayu.
Transcendence In Sasak Tarekat Literature: A Stylistic Analysis Aswandikari Aswandikari; Sukri Sukri; Burhanuddin Burhanuddin; Syaiful Musaddat; Suhaib Al Faruq; Muhammad Sastrawan Barmansyah
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/alinea.v6i2.2662

Abstract

This research is important to conduct because (1) "pupuh tembang Sasak" is one of the readings of the congregation of the Sasak tarekat assembly in Lombok; (2) "pupuh tembang Sasak" uses many expressions and teaches Sufism so that it is difficult to understand; (3) the Sasak community tends to learn at the inner level. Because, the use of symbols, metaphors, allegories is dominant. This research aims to explain the types and meanings of the language styles used so that the congregation can understand the meaning contained in "pupuh tembang Sasak". Methodologically, this research uses a hermeneutic approach for data analysis and data collection using library methods. There are several forms of expressions used in pupuh tembang Sasak, namely symbolism, metaphor, and allegory. The use of these three types of expressions is in accordance with the characteristics of the congregation of the tarekat which prioritizes inner experience. Expressions in "pupuh tarekat Sasak" use animal names, regional names, natural names, and names of trees and fruits. The use of these expressions through names carries moral and spiritual meanings, including repentance, asceticism, poverty, patience, gratitude, approval, self-awareness, optimism, fear, and longing. Given this, a figure capable of transmitting the expression "pupuh tarekat Sasak" to the Sasak congregation is needed.
Development of Local Wisdom–Based Digital Educational Games of the Sasak Tribe to Enhance Second-Grade Students’ Reading Skills Muna Iffat Nabilah; Asrin; Syaiful Musaddat; Burhanuddin; Fahruddin; Paniran
Jurnal Kependidikan : Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Pembelajaran Vol. 12 No. 1 (2026): March
Publisher : LPPM Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jk.v12i1.19186

Abstract

This study aims to develop a digital educational reading game based on the local wisdom of the Sasak tribe to improve the reading skills of second-grade elementary school students. The study employed a Research and Development (R&D) method using the ADDIE model, which consists of five stages: analysis, design, development, implementation, and evaluation. The research instruments included validation questionnaires for media and material experts, teacher and student response questionnaires, and an early reading skills test. Data were analyzed using descriptive statistical techniques to determine feasibility and practicality percentages, while effectiveness was measured using the Normalized Gain (N-Gain) formula to assess the improvement between pre-test and post-test scores. The results showed that the developed game was highly feasible, with a percentage of 97.8% from two media experts and 95% from two material experts. The game was also categorized as highly practical, with teacher response percentages of 98.6% and student response percentages of 95.7% and 97.8%. Furthermore, the N-Gain analysis indicated that the game was effective in improving students’ early reading skills in two schools, achieving 74.15% (moderately effective) at SDN 1 Buwun Mas and 76.37% (effective) at SDN 4 Buwun Mas. Therefore, the developed digital educational game is considered feasible, practical, and effective for second-grade reading instruction. The findings contribute theoretically to the literature on Game-Based Learning and Place-Based Education and provide practical implications for the design of culturally responsive instructional media.
Sosialisasi Penentuan Solusi untuk Peningkatan Mutu Pembelajaran bagi Guru SDN 1 Montong Beter Kecamatan Sakra Kabupaten Lombok Timur Burhanuddin Burhanuddin; Mahsun Mahsun; Sukri Sukri; Ahmad Sirulhaq; Johan Mahyudi; Syarifuddin Syarifuddin
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 8 No. 4 (2025): November
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppm.v8i4.11237

Abstract

Data guru SDN 1 Montong Beter Kecamatan Sakra Barat Kabupaten Lombok Timur menunjukkan jika 11 dari 13 guru disertifikasi. Hal tersebut mengindikasikan jika kemampuan guru dalam melakukan inovasi pembelajaran masih rendah. Sebab, seorang guru harus secara terus menerus melakukan inovasi pembelajaran dan hal tersebut dapat terjadi jika secara reflektif mampu menemukan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran. Bukan hanya itu, guru diharapkan mampu mengdiagnosis dan menentukan solusi yang tepat atas masalah yang dihadapi. Dengan demikian mutu pembelajaran dapat meningkatkan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (abdimas) ini ditujukan untuk membekali para guru SDN 1 Montong Beter Kecamatan Sakra Barat Kabupaten Lombok Timur bagaimana menemukan masalah pembelajaran, mengidentifikasi faktor penyebab, serta menemukan alternatif solusi pembelajaran. Kegiatan ini telah dilaksanakan pada Ahad, 20 September 2025 di Ruang Kelas Serba Guna SDN 1 Montong Beter Kabupaten Lombok Timur. Kegiatan persiapan dilakukan koordinasi dengan salah seorang guru dan kepala sekolah terkait waktu dan tempat pelaksanaan, serta sarana prasarana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan. Pemateri 1 menyampaikan tentang kondisi kemampuan belajar anak Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain, yang masih di bawah rata-rata dilihat dari Tingkat kemampuan berpikir. Anak-anak negara ASEAN mampu berpikir kritis dengan baik dan cepat, sedangkan anak-anak Indonesia masih berada pada kemampuan mengetahui dan menghapal. Perencanaan dan pelaksanaan harus dikembangkan tidak hanya untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kemampuan abad 21. Pemateri 2 menuntun peserta untuk menemukan masalah dan bentuk solusi sebagai tindakan untuk memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi para guru. Seluruh peserta secara mandiri dapat mengidentifikasi masalah hingga menentukan alternatif solusi pembelajaran. Kegiatan ini mendapatkan tanggapan positif dan memiliki arti penting bagi peningkatan mutu pembelajaran di kelas sehingga dapat direplikasi ditempat lain.
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS KEARIFAN LOKAL Muhammad Baidhawi; Aswandikari Aswandikari; Burhanuddin Burhanuddin
El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA Vol. 23 No. 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tsaqafah.v23i2.11712

Abstract

This study aims to identify and analyze the implementation of the Independent Curriculum (Kurikulum Merdeka) from the aspects of planning, execution, and evaluation in Indonesian language learning based on local wisdom, as applied at SMP Negeri 1 Bayan. A qualitative approach was used in this research. Data collection techniques involved direct observation, analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The results indicate that the planning stage has been executed very well, meeting the criteria outlined in six indicators on the observation instrument for planning. The planning activities carried out by teachers include the preparation of teaching modules, Learning Outcomes (Capaian Pembelajaran or CP), formulation of Learning Objectives (Tujuan Pembelajaran or TP), development of the Learning Objectives Flow (Alur Tujuan Pembelajaran or ATP), and design of instructional steps, learning media, and assessment tools for student learning. At the implementation stage, the curriculum was also executed very well, meeting the criteria outlined in twenty-nine indicators in the observation instrument for implementation. In this regard, the form of curriculum implementation in Indonesian language learning involved the teacher delivering instruction based on the prepared Indonesian language module, specifically a letter-text module designed in the planning phase. At the evaluation stage, the curriculum implementation was carried out very effectively, meeting the criteria in the observation instrument for evaluation, which includes diagnostic evaluation, formative assessment, and summative assessment.
PERBEDAAN FONOLOGIS DAN LEKSIKAL ISOLEK SAMBORI DAN TARLAWI DI KABUPATEN BIMA Utswatun Hasanah; Mahsun Mahsun; Burhanuddin Burhanuddin
El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA Vol. 24 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tsaqafah.v24i2.13209

Abstract

This study aims to describe the phonological and lexical differences between the Sambori and Tarlawi isolects. The type of research used is quantitative descriptive with a diachronic perspective. Data were collected using a research instrument that provided 200 basic Swadesh?Morish vocabulary items and 867 cultural and non-basic vocabulary items classified according to their semantic fields, employing the “cakap” method and the “simak” method. Data collection was conducted by selecting three informants from each village according to certain criteria. The data collection methods used were the “cakap” method and the “simak” method. The data analysis method employed intralingual matching with the basic technique of intralingual comparison. Further analysis calculated the percentage similarity (status) of isolects in the research area using a dialectometry method. Based on the results conducted, two phonological differences were found, namely vowel differences and consonant differences. Meanwhile, based on the calculated percentage determination of phonological differences in the research area (Sambori village and Tarlawi village) using dialectometry, a difference value of 12.5% was found, indicating a dialect difference between Tarlawi village and Sambori village at the phonological level. Then, at the lexical level, a difference value of 36.5% was found, meaning there is a sub-dialect difference between the Sambori isolect and the Tarlawi isolect.
TUTURAN SARKASME PADA ANAK-ANAK JOKI TO’I DALAM KOMUNITAS PECINTA PACUAN KUDA DI KABUPATEN BIMA Andri Adiman; Burhanuddin Burhanuddin; Saharudin Saharudin
El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA Vol. 24 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tsaqafah.v24i2.13212

Abstract

This research based on an interest in sarcasm in the community of horse racing lovers in Panda, Palibelo subdistrict, which is very cruel compared to sarcasm in the community in general. The aim of this research is to discover the forms and functions of sarcasm in this community. This research used a qualitative approach with data collection methods, namely the listening method through note-taking techniques, skilful involvement, free folding and skill methods through face-to-face techniques. The result of this research show that the community of horse racing fans useed sarcasm as a means to motivate each other. In addition, in the sarcasm speech used by the horse lover community in Panda village, meanwhile the general function of this study provides information that coarse language is not only bad in social life, there are also positive values contained in it, that is strengthen the sense of brotherhood in community life.
Studi Antropolinguistik Terhadap Nama Makanan Begawe Di Kecamatan Praya Barat Daya Rona Restu Victoria; Burhanuddin Burhanuddin; Saharudin Saharudin
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i4.7486

Abstract

Tradisi begawe orang Sasak di Praya Barat Daya mencerminkan nilai-nilai sosial-budaya dan spiritual yang mendalam, dengan leksikon kuliner berfungsi sebagai penanda identitas simbolis. Terlepas dari penelitian sebelumnya tentang penamaan makanan tradisional, tidak ada yang secara sistematis menganalisis hierarki semantik mereka dalam konteks ritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan istilah-istilah kuliner begawe menggunakan teori hiponimi-hipernimi, menjelaskan signifikansi budaya dan bahasanya. Diterapkan pendekatan deskriptif kualitatif, menggabungkan data primer (wawancara dengan informan) dan data sekunder (literatur), dianalisis melalui empat tahap: pengumpulan, pengurangan, presentasi, dan verifikasi. Studi ini mengidentifikasi 62 leksikon kuliner, mengkategorikannya berdasarkan metode persiapan (misalnya, tedang, tekulup), bahan, dan makna simbolis. Analisis semantik mengungkapkan begawe urip (perayaan) dan begawe pati (berkabung) sebagai hipernim, dengan sub-ritual (misalnya, nyongkol, nelung) sebagai hiponim, menunjukkan bagaimana bahasa mengkodekan nilai-nilai budaya. Penelitian ini berkontribusi untuk melestarikan warisan kuliner Sasak dan menawarkan model studi interdisipliner yang menghubungkan linguistik, antropologi, dan pengarsipan digital.
Co-Authors -, Ibrahim - -, Mintasrihardi - Abdul Wahab Agus Herianto Agus Kurniawan Ahmad Sirulhaq Ahmad Supriadi Guna Putra Ainul Yaqin Akhmad Syafruddin Amanatul Hidayah Andilolo, Imanuella Romaputri Andri Adiman Anwar Efendy Arifah Rahmatiah Ardianti Asrin Atika Almiana Ayidah Ayidah Ayu Nurmalayani Ayu Triana Putri Azanul Islam Azizah, Asma Baiq Dwi Intan Cahyani Chairani Syahrawati Djatmika . Dwi Purnanto Fahruddin Febrita Susanti Harry Irawan Johari Hayatul Nufus Heru Sudriansyah I Dewa Gede Bisma Ilham Ilham Imamul Haramain Irma Setiawan, Irma Ismi Aisyah Umami Johan Mahyudi Joni Safaat Adiansyah Junaidi A.M Junaidi Am Kamaluddin Kamaluddin Kasdin Kasdin Kusdiratin Laila Yuparni Durratun Yatimah Lalu Muhamad Helmi Lalu Taufan Halas M Sobry M. Saleh M. Sobry Mahsun Mahsun Mahsun Mahsup Mahsup Mahyudi, Johan Mahyuni Mahyuni Mardiarti Diniarti Mardiyah Hayati Mar’aini Wulandari Mas'ad Mas'ad Mas,ad, Mas,ad Mochammad Asyhar Muh. Khairussibyan Muhammad Ali Muhammad Baidhawi Muhammad Khalis Ilmi Muhammad Salahuddin Muhammad Saleh Muhammad Sastrawan Barmansyah Muhammad Sukri Muna Iffat Nabilah Musaddat, Syaiful Muslimin Muslimin Mustika Aprilia Muti’ah Muti’ah Nadila Urningsih Nasaruddin Ali Nurhayati, Nurhayati Nursainah Nurul Huda Nuryati Yuliana Pahrudin Arrozi Paniran Paniran Paridi, Khairul Putri Nur Fauziah Rahmawati Rahmawati Raudhatil Maulani Lani Rika Apriani Rina Nurjani Safitri Rohana Hariana Intiana Rona Restu Victoria S, Aswandikari Saharuddin Saharudin Salahuddin Salahuddin Sinta Muhardini Sintayana Muhardini Siti Hasanah Sri Rejeki Suhaib Al Faruq Sukuryadi Sulaiman Sarmo Sumarlam, Sumarlam Syaharuddin Syaharuddin Syaifuddin Iskandar Syamsinas Jafar Syarifuddin Syarifuddin Syarifuddin Syarifuddin Utswatun Hasanah Vera Mendalina Yessi Tri Marizka Amalia Zulfan Hatami Zulfan