Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Kasus: Babesiosis (Piroplasmosis) disertai Infestasi Caplak yang Berat pada Anjing Gembala Jerman Amar Wira; I Wayan Batan; Sri Kayati Widyastuti; Hendro Sukoco
Jurnal Sains dan Teknologi Peternakan Vol 1 No 2 (2020): Jurnal Sains dan Teknologi Peternakan
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.801 KB) | DOI: 10.31605/jstp.v1i2.593

Abstract

Babesiosis is a parasitic disease in red blood cells due to protozoan infection of the genus Babesia which is transmitted through tick vectors. A 5-years-old male German shepherd had decreased appetite, weakness, and infestation of ticks throughout his body. Clinical examination showed Capillary Refill Time (CRT) <2 seconds, pale mouth mucosa, erythema throughout the body, philtrum was dry and slow skin turgor. The results of a complete blood examination of the dog had hyperchromic microcytic anemia and lymphocytopenia, while the results of blood smear showed the existence of intraerythrocyte inclusion bodies. The dog was diagnosed with Babesiosis and treated with Ringer Lactate fluid therapy, administration of Clindamycin (25mg/kg BW; PO), Oxytetracycline (15mg/kg BW; PO), Anti-inflammatory Dexamethasone (0.5-1mg/kg BW; PO) and Hematodine (1ml/5kg BB; IV) given for seven days. After treatment, the dog has increased appetite and after 14 days shows improvement in clinical signs.
Studi Kasus: Paraplegia Lumbosacral Akibat Traumatik pada Anak Kucing Lokal Kusumaning Arumsari Wimbavitrati; I Wayan Batan; I Made Suma Anthara
Jurnal Sains dan Teknologi Peternakan Vol 1 No 2 (2020): Jurnal Sains dan Teknologi Peternakan
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1199.254 KB) | DOI: 10.31605/jstp.v1i2.744

Abstract

A local female cat who was ±3 months old with a body weight of 1.5 kg presented to hind legs with complaints of being unable to stand. The inspection showed that the cat was not able to stand upright especially on its two hind legs. When palpated, the hind legs muscle tension begins to decrease. Based on the postural examination, pelvic limb reflexes, and nociceptive examinations, it was pointed to an abnormal disturbance in both hind legs and additionally, there was no response anal sphincter area. A series of neurological examinations indicated that the cat had a lumbosacral nerve disorder. Hematological examinations suggesting the anemia indicated. X-ray examination showed the fracture of an os. vertebrae lumbar I. The cat was diagnosed with paraplegia due to a trauma, where the muscles of the body are paralyzed and weak. The prognosis for this case was infausta. Medications and therapies provided were neurotropic vitamins, dexamethasone, and Hemobion®, and train cats to stand and walk every day. After being given treatment for ten days, the cat case did not show any changes in the two hind legs.
Laporan Kasus: Sparganosis dan Ankilostomiosis pada Kucing Lokal Burhan, Haris; Batan, I Wayan; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.713

Abstract

Sparganosis adalah penyakit zoonosis yang ditularkan melalui makanan yang disebabkan oleh larva plerocercoid (spargana) dari diphyllobothroid cacing pita yang termasuk dalam genus Spirometra sp.. Ankilostomiosis adalah penyakit zoonosis pada anjing dan kucing yang disebabkan oleh parasit yang termasuk dalam genus Ancylostoma sp.. Kucing kasus adalah seekor kucing lokal jantan berusia 3,5 tahun dengan bobot badan 4,1 kg. Pemilik mengeluhkan kucingnya kurang aktif dan tinja agak lunak serta belum pernah diberi obat cacing. Feses kucing kasus konsistensinya agak lunak, dengan skor 3,5. Pada pemeriksaan feses dengan metode natif ditemukan telur Spirometra sp. dan Ancylostoma sp.. Kucing kasus didiagnosis menderita sparganosis disertai ankilostomiosis. Kucing kasus diobati dengan menggunakan Caniverm® kaplet sebanyak 1/2 kaplet diberikan secara peroral dua kali dengan selang waktu tujuh hari. Evaluasi kucing setelah 10 hari pascaterapi terjadi perubahan feses dari skor 3,5 ke skor 2 terbentuk dengan baik dan tidak meninggalkan bekas saat diambil. Setelah 10 hari pascapengobatan dilakukan pemeriksaan feses dengan metode natif tidak ditemukan telur cacing. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan laboratorium dapat disimpulkan bahwa kucing kasus mengalami sparganosis disertai ankilostomiosis dengan prognosis fausta. Terapi kausatif dengan Caniverm® menunjukkan hasil yang baik. Pemeriksaan laboratorium pendukung lainnya yaitu hitung darah lengkap, yang menunjukkan bahwa kucing kasus tersebut mengalami trombositopenia. Dalam kasus ini tidak diberikan obat steroid yang membuat sistem kekebalan tubuh berhenti menyerang dan menghancurkan platelet, karena trombositopenia ringan bisa sembuh dengan sendirinya. Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk mendiagnosis dan mengetahui efektivitas pengobatan pada kucing lokal yang mengalami penyakit sparganosis dan ankilostomiosis.
Kajian Pustaka: Upaya Menelan Berlebihan dan Regurgitasi pada Anjing Penderita Akalasia Krikofaringealis Mahaputra, I Made; Juniartini, Wieke Sri; Bolla, Nelci Elisabeth; Nazara, Agustina Lesmauli; Robi, I Made; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.619

Abstract

Krikofaringeal akalasia adalah gangguan menelan langka dari sfingter esofagus bagian atas pada anjing dan hewan muda lainnya. Tanda klinis yang umum terjadi pada anjing yang terkena krikofaringeal akalasia adalah disfagia, regurgitasi setelah berusaha menelan, batuk, hipersalivasi, refluks hidung, nafsu makan menurun sehingga pertumbuhan buruk. Krikofaringeal akalasia merupakan kondisi yang jarang terjadi pada anjing, tetapi harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding dalam kasus disfagia dan regurgitasi. Krikofaringeal akalasia merupakan salah satu penyebab disfagia orofaringeal yang langka ditandai dengan ketidakmampuan untuk melewatkan bolus ke dalam esofagus cervical akibat kegagalan membuka sfingter esofagus bagian atas. Kejadian krikofaringeal akalasia dapat disebabkan oleh hipertrofi krikofaringeal atau myositis atau atrofi yang menyebabkan ketidakmampuan fisik pada esofagus bagian atas. Secara histologis dari fragmen otot menunjukkan myositis neutrofilik fokal dan atrofi otot. Anjing penderita krikofaringeal akalasia dilaporkan memiliki penyakit penyerta seperti hipertiroidisme dan pneumonia. Penanganan krikofaringeal akalasia dapat dilakukan dengan pendekatan bedah myectomy dan pascaoperasi dapat diberikan opioid, antibiotika, dan dexamethasone. Prognosis dapat diberikan baik pada kasus krikofaringeal akalasia yang terdeteksi lebih awal dengan kondisi hewan yang baik. Sedangkan prognosis tanpa perawatan bedah biasanya buruk karena kesulitan dalam memelihara dan mengendalikan pneumonia aspirasi secara efektif pada hewan. Sebanyak lima laporan kasus krikofaringeal akalasia pada anjing dipilih dan rekam medisnya dijadikan sebagai sumber informasi untuk kajian pustaka.
Kajian Pustaka: Radang Rahim Menular pada Kuda Anindya, Ainaya Luthfi; Islamiati, Feren Salsabila; Dharmawan, I Wayan Chandra; Berutu, Fazral Anshari; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.766

Abstract

Kuda yang terinfeksi bakteri Taylorella equigenitalis dapat mengalami penyakit Contagious Equine Metritis (CEM). Penyakit CEM adalah kondisi medis yang umumnya dikenal penyakit menular seksual pada kuda. Penyebab CEM pada mulanya disebut Contagious Equine Metritis Organism (CEMO), kemudian Haemophilus equigenitalis dan terakhir T. equigenitalis. Bakteri ini memiliki karakteristik Gram negatif dan berbentuk bacillus microaerophiliccocco. Pertumbuhan T. equigenitalis membutuhkan waktu minimal 48 jam hingga 13 hari, tetapi biasanya tidak lebih dari enam hari pada suhu 37°C pada media darah yang dipanasi dan diinkubasi dalam inkubator karbondioksida (CO2) 5-10%. Ukuran koloni bakteri T. equigenitalis sangat kecil, berdiameter 2-3 mm, berwarna abu-abu kekuningan, halus, dan tepinya rata. Bakteri T. equigenitalis tumbuh baik pada media peptone chocolate agar. Penularan T. equigenitalis pada umumnya menyerang kuda betina karena tertular oleh kuda jantan yang terinfeksi selama kawin alami. Namun, penularan T. equigenitalis juga dapat terjadi melalui perkawinan inseminasi buatan yang menggunakan cairan semen yang terinfeksi bakteri tersebut. Penularan bakteri ini juga dapat terjadi melalui transmisi fomites, yaitu melalui permukaan benda-benda yang tidak disengaja tertular selama penanganan kuda sehingga menjadi kontaminan. Pada kuda jantan, penyakit CEM tidak menunjukkan adanya tanda-tanda klinis, hal ini karena T. equigenitalis hanya mengkolonisasi alat kelamin luar hewan jantan, sehingga tidak menimbulkan respons imun pada tubuh hewan. Namun, berbeda pada kuda betina, bentuk akut penyakit ini memiliki gejala klinis yang ditandai dengan timbulnya keputihan mukopurulen dan peradangan yang dapat menyebabkan vaginitis, endometritis, servisitis, dan kemajiran (infertilitas) sementara atau kematian embrio dini. Penanganan pada hewan pembawa penyakit dapat dilakukan dengan membersihkan alat kelamin menggunakan disinfektan dan dikombinasikan menggunakan antimikroba lokal. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui perjalanan dan penanganan penyakit CEM berdasarkan berbagai sumber literasi.
Laporan Kasus: Penanganan Koinfeksi Skabiosis serta Toksokariosis dengan Sabun Belerang dan Pyrantel Pamoat pada Anak Kucing baskaradwaja, i gede mardawa; Batan, I Wayan; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (3) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.3.462

Abstract

Koinfeksi skabiosis dan toksokariosis terjadi pada anak kucing. Skabiosis merupakan penyakit kulit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei atau Notoedres cati pada kucing. Toksokariosis yang terjadi pada kucing disebabkan oleh infeksi cacing Toxocara cati. Cacing T. cati adalah kelompok cacing nematoda yang sering ditemukan pada usus kucing. Hewan kasus adalah kucing lokal betina, berumur 2,5 bulan, dengan berat 0,73 kg. Kucing kasus mengalami perut membuncit (distensi abdomen), telinga teramati ada keropeng, kucing pasif, dan konsistensi fesesnya seperti pasta berwarna kuning kecoklatan. Pemeriksaan kerokan kulit (skin scrapping) pada telinga yang mengalami keropeng menunjukkan adanya tungau S. scabiei. Pada pemeriksaan feses dengan metode natif ditemukan telur cacing T. cati. Pemeriksaan penunjanng berupa hematologi rutin menunjukkan hewan kasus mengalami leukositosis dan anemia makrositik hipokromik ditandai dengan penurunan hemoglobin 8,3 (9,5-15,3 g/dL), penurunan MCHC 27,3 (13-21 g/dL), dan peningkatan MCV 54,2 (39-55 fL). Berdasarkan serangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan, hewan kasus didiagnosis menderita penyakit skabiosis dan toksokariosis. Terapi yang diberikan adalah pengobatan antihelmitik menggunakan pyrantel pamoat dengan dosis 5 mg/kg bb secaraPO. Pengobatan suportif menggunakan vitamin B12 dan zat besi (Livron B-Plex® PT. Phapros Semarang, Indonesia) dengan dosis 1 tablet/ekor satu kali sehari secara peroral (PO). Pengobatan suportif menggunakan vitamin B12 dan zat besi dengan dosis 1 tablet/ekor satu kali sehari secara peroral (PO) selama 10 hari. Kucing kasus dimandikan tiga hari sekali dengan menggunakan sabun belerang. Setelah 14 hari pengobatan kucing kasus dinyatakan sembuh secara klinis.
Laporan Kasus: Keberhasilan Penanganan Mencret yang Positif Terinfeksi Virus Panleukopenia pada Kucing Kampung Dhika, I Gede Abijana Satya; Erawan, I Gusti Made Krisna; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.576

Abstract

Seekor kucing kampung, berjenis kelamin betina, berumur tiga tahun, memiliki bobot badan 3 kg, dengan warna rambut abu-abu bercampur hitam, dibawa ke Klinik Sunset Vet Kuta dengan keluhan diare, muntah, dan nafsu makan menurun sejak dua hari sebelum datang berobat. Keadaan umum tampak lemas dan tidak aktif. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan suhu tubuh kucing kasus 40°C, Capillary Refill Time (CRT) >2 detik. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan sel darah putih, limfosit, dan neutrofil menurun, diikuti dengan penurunan pada trombosit. Pemeriksaan test kit menunjukkan positif antigen Feline Panleukopenia Virus (FPV). Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, maka kucing kasus didiagnosis menderita FPV. Pengobatan yang diberikan adalah terapi suportif berupa infus Ringer Lactate (RL) sejumlah 370 mL/24jam lalu dilanjutkan dengan cairan RL manitenance 50 mL/kg BB/hari secara intravena (IV), antibiotik berupa metronidazole dengan dosis 15 mg/kg BB (IV) dua kali sehari selama satu minggu, ranitidine dengan dosis 2 mg/kg BB (IV) dua kali sehari selama satu minggu, maropitant dengan dosis 1 mg/kg BB (IV) satu kali sehari selama satu minggu, tolfenamic acid dengan dosis 4 mg/kg BB (IM) dua kali sehari selama satu minggu. Setelah pemberian pengobatan selama satu minggu menunjukkan perkembangan yang baik dengan adanya perbaikan keadaan umum yaitu kucing mulai aktif kembali dan nafsu makan kembali normal serta suhu tubuh 38,5°C dan CRT <2 detik.
Kajian Pustaka: Mendiagnosis Kejadian Stenosis Pilorus pada Anjing Maranata, Pieter Mbolo; R, Ni Wayan Ayu; Christiani, Zefanya; Br Sembiring, Irene Cristina; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.335

Abstract

Penyakit stenosis pilorus atau disebut juga gastropati pilorus hipertrofik kronis merupakan kejadian menyempitnya bagian lumen pilorus yang dikarenakan penebalan pada lapisan mukosa atau lapisan otot. Tanda klinis yang muncul pada anjing yang mengalami penyakit ini adalah muntah projektil, lemas, dan dehidrasi. Pada kasus kronis sering terjadi penurunan berat badan dan muntah yang berulang. Diagnosis penyakit ini dapat dilakukan dengan menggunakan radiografi dan ultrasonografi. Salah satu hal yang menciri pada kejadian pilorus stenosis adalah ditemukannya massa radiopak dengan ukuran bervariasi pada lambung anjing yang disebut dengan tanda gravel. Pemeriksaan menggunakan ultrasonografi lebih sensitif dikarenakan dapat mengamati kontraktibilitas antrum gastrik, pengosongan gastrik, aliran transpilorik, adanya benda asing, serta mengukur ketebalan dinding gastrik. Penanganan stenosis pilorus biasanya dilakukan tindak pembedahan dengan metode piloroplasti dan piloromiotomi. Prognosis kasus ini tergantung pada penyebab yang mendasarinya, tetapi hasil operasi pada anjing dapat dikatakan baik dan tidak menimbulkan gejala muntah dan distensi abdomen pascaoperasi.
Laporan Kasus: Pneumonia Disertai Infiltrasi Interstisial Noduler Non-Efusif pada Kucing Peliharaan Menyerupai Feline Infectious Peritonitis Nurmayani, Seli; Batan, I Wayan; Krisna Erawan, I Gusti Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.722

Abstract

Pneumonia adalah peradangan pada paru-paru dan saluran udara yang menyebabkan terjadinya kesulitan bernapas dan kekurangan oksigen dalam darah. Beragam penyebab pneumonia telah dilaporkan, tetapi penyebab paling umum adalah infeksi virus pada saluran pernapasan bagian bawah. Salah satu virus penyebab pneumonia adalah Feline infectious peritonitis virus (FIPV) yang merupakan mutasi dari Feline Corona Virus (FeCoV). Pada kasus FIP, pyogranulomatous pneumonia tampak secara radiografis sebagai infiltrat paru interstisial yang menyebar, tidak jelas, tidak merata atau noduler. Seekor kucing jantan berumur lima bulan dengan bobot badan 2,35 kg bernama Dana diperiksa di klinik Estimo karena mengalami muntah, diare, anoreksia, dan kelemahan. Pemeriksaan fisik menunjukkan kucing mengalami demam, dehidrasi sedang, dan takipnea dengan tipe pernapasan abdominal dan suara napas abnormal. Pemeriksaan radiografi toraks menunjukkan adanya infiltrat paru interstitial yang menyebar di seluruh bagian paru secara tidak merata atau berbentuk noduler. Hasil pemeriksaan darah lengkap menunjukkan semua parameter masih dalam nilai normal. Hasil pemeriksaan kimia serum menunjukkan kucing kasus mengalami hiperglikemia, Blood Urea Nitrogen, kreatinin rendah, dan penurunan rasio serum albumin-to-globulin (A/G<0,8). Berdasarkan anamnesis, tanda klinis, dan pemeriksaan penunjang, kucing kasus didiagnosis mengalami pneumonia yang mirip dengan pyogranulomatous pneumonia pada FIPV. Penanganan yang dilakukan pada kucing kasus yaitu pemberian oksigen dengan oxygen concentrator, terapi cairan intravena untuk mengatasi dehidrasi, pemberian hematodin (1 mL/hari, IV) dan vitamin C (1 mL/hari, IM) sebagai terapi suportif. Prednisolone (1 mg/kg BB, q24h, IM) diberikan pada hari pertama perawatan. Antibiotik Cefotaxime (35 mg/kg BB, q8h, IV) diberikan untuk mengatasi infeksi sekunder. Aminophylline (4 mg/kg BB, q8h, IV) sebagai bronkodilatator. Kucing kasus mengalami perbaikan kondisi setelah empat hari dirawat di klinik dan pemilik memutuskan untuk membawa pulang.
Laporan Kasus: Kolitis Hemoragik pada Kucing Ras Sphinx Akibat Infeksi Protozoa dan Bakteri Qutrotu ain, Salsabila; Batan, I Wayan; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (3) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.3.387

Abstract

Infeksi kolon oleh bakteri dan parasit merupakan penyebab sebagian besar kasus diare tipe inflamasi dengan gejala klinis buang air besar yang purulen, berdarah, dan berlendir. Seekor kucing ras Sphinx berjenis kelamin jantan umur satu tahun, berat badan 4 kg mengalami diare selama tiga bulan, konsistensi feses sangat lembek, serta adanya darah dan cairan mukus seperti lendir. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan Capillary Refill Time (CRT) normal, dan suhu 38,6°C. Hasil pemeriksaan feses menunjukkan adanya infeksi protozoa dan bakteri. Pemeriksaan Complete Blood Count (CBC) menunjukkan nilai White Blood Cell (WBC) meningkat jauh dari nilai normal. Kucing didiagnosis mengalami infeksi protozoa dan bakteri. Terapi yang diberikan pada kucing kasus adalah pemberian amoxicillin (10 mg/kg BB setiap 12 jam selama 7 hari), metronidazole (25 mg/kg BB setiap 12 jam selama 7 hari), vitamin B12 (25 mcg/ekor setiap 24 jam selama 7 hari), dan penggantian pakan dengan wet food khusus gastrointestinal. Pada hari keempat pasca-pengobatan feses kucing kasus mulai memadat, sedikit lembek, tidak disertai darah dan mukus. Pada hari ketujuh, kondisi kucing kasus semakin membaik ditandai dengan konsistensi feses yang padat, tidak disertai darah dan mukus. Pemeriksaan lebih lanjut penting dilakukan untuk mengidentifikasi protozoa yang menyerang kucing kasus dan untuk mengetahui sub-kelompok E. coli yang menyerang kucing kasus jika penyakit tersebut terulang kembali.
Co-Authors - HERBERT Abdul Azis Nasution Abdul Azis Nasution Abriansyah, Mohammad Ghaiz Adrian Hasan Rahmatullah Adryani Ris Agung, Mochamad Bale Aida Lousie Tenden Rompis Ainaya Luthfi Anindya Aisjiah Girinda Akbar, Muhammad Wilmar Al Ma'arif, M. Farhan Amar Wira Anindya, Ainaya Luthfi Annas Farhani Apsari, Ni Wayan Diah Archie Leander Maslim Ariandoko, Ariandoko Arief Boediono Azizah, Hidayatul Baiti, Nur baskaradwaja, i gede mardawa Berutu, Fazral Anshari Betharia Criselda Fanggidae Bhala, Anastasia Bibiana W Lay BIBIANA W LAY Bili, Maria Dolorosa Leta Bolla, Nelci Elisabeth Br Sembiring, Irene Cristina Bravanasta Glory Rahmadyasti Utomo Budiartawan, I Komang Alit Burhan, Haris Calvin Iffandi Calvin Iffandi Calvin Iffandi Caroline, Grace Christiani, Zefanya Coornelia, Gledys Daud, Richard Christian Dayanti, Marissa Divia Dharmawan, I Wayan Chandra Dhayanti, Ni Luh Evy Dhika, I Gede Abijana Satya Diana Mustikawati Diana, Kadek Leni Martha Distira, Luh Ayu Yasendra Ekowati Handayani Eldarya Envisari Depari Elpira Sukaratha, Elpira Emy Sapta Budiari Ene, Theresia Eustokia Yulisa Madu, Eustokia Yulisa FERDANIAR FAKHIDATUL ILMI Findri Andriani, Findri Firdaus, Muchammad Wildan Florensia, Dheadora Freitas, Merlinde da Costa Ginting, Regina Bonifasia Br Harvani, Bq. Harvani, Bq. Harvani Herbert . Herbert . Hernomoadi Hoeminto Humaira, Sarah Hutagaol, Wanda Della Oktarin I Gede Soma I Gusti Agung Gede Putra Pemayun I Gusti Made Krisna Erawan I Ketut Gunata I Ketut Suada I Ketut Suatha I Made Kardena I Made Suma Anthara i Nengah Wandia I Nyoman Suarsana I Nyoman Suartha I Putu Cahyadi Putra, I Putu Cahyadi I Putu Gede Yudhi Arjentinia I Putu Sampurna I Wayan Syartama Hadi Nugraha I Wayan Wirata Ida Bagus Ketut Indra Permana Ihtifazhuddini, Fiqi Manaya Tibyana Imam Sobari imam sobari Indrawan, Hieronimus INNA RAKHMAWATI Islamiati, Feren Salsabila Ita Djuwita Juniartini, Wieke Sri Kadek Karang Agustina Kakang, Dorteany Mayani Ketut Adnyane Mudite Kusumaning Arumsari Wimbavitrati Lailia, Milda Lase, Linus Putra Jaya Lestari, Devi Latifah Puji Luh Putu Listriani Wistawan Made Suma Anthara Maha Arta, I Komang Wira Kusuma Maha Putra, Anak Agung Gede Wahyu Mahaputra, I Made Mahasanti, I Gusti Puji Ayu Mahindra, Aditya Try Makrina Weni Misa Maranata, Pieter Mbolo Margaretha, Aloysiana Mas ruroh, Mas Mesquita, Nelviana Minda Nealma Mochammad Imron Awalludin Mu'ayyanah, Siti Muazdzam Lil Abrori Narendri, Kadek Anggita Puspa Natalia, Grace Kristin Nazara, Agustina Lesmauli Ni Nyoman Sutiati Ni Nyoman Widiasih Ni Wayan Listyawati Palgunadi Ni Wayan Listyawati Palgunadi Ni Wayan Sri Wiyanti Nicolas Yarisetouw, Nicolas Ningrum, Ni Made Adinda Arya Nining Handayani Nining Handhayani Novianti, Syinthia Arya Nugraha, Elisabeth Yulia Nurmayani, Seli Nurrohman, Fahmi Galuh NURUL FAIZAH Nurul Faiziah Nurul Faiziah Nurul Masyita, Nurul Oktaviviani, Syafiana Fairizca Paramita, Putu Wahyuni Patabang, Denselina Lilis Permatasari, Serly Nur Indah PRANSIKA EKSY YONITA Pratama, Rendi Tegar Priharyanthi, Luh Komang Ayu Puteri Puri Prihatiningsih, Nur Liliana Purwitasari, Made Santi Pusparini, Ni Putu Dyah Prashanti Putera, I Gusti Ngurah Dwipayana Putra, Widihantoro Gunawan Putri, Dwi Aprilia Putu Ayu Sisyawati Putriningsih Putu Devi Jayanti Putu Wirat Qutrotu ain, Salsabila R, Ni Wayan Ayu Rasdi yanah Rasdiyanah . Rasdiyanah . Rastiti, Ni Made Remontara, Al Afuw Niha Resman, Martin Pedro Krisenda Ridwan, Isabella Anjari Riesta, Baiq Deby Aprila Riza, Devand Ainur Robi, I Made Ruslie, Sabella Ivana Sadipun, Elizabeth Liliane Sari, Yeni Ratna Sayu Raka Padma Wulan Sari, Sayu Raka Padma Wulan Septianingsih, Rayni Septianira, Firnanda Silaban, Root Elisa Siswahyudianto Sousa, Rojelio Dias Trindade Sri Kayati Widiastuti, Sri Kayati Sri Kayati Widyastuti Sri Milfa Sri Milfa Sukoco, Hendro Supar - Supar . Suprabha, Kadek Dewi Suwartama, Beny Takariyanti, Dzikri Nurma'rifah Tama, Kevin Tri Tjokorda Sari Nindhia Umi Reston Utami, IGA Monica Rizki Utomo, Bravanasta Glory Rahmadyasti Utomo, Kurniawan Cahyo Wahono Esti Prasetyaningtyas Wahono Esti PrasetyoningtyaserB Wardani, Putu Intan Kusuma Wirawan, I Gede Yogiana, Wayan Yundari, Yundari Yunita Lestyorini Yunita Lestyorini