p-Index From 2021 - 2026
9.222
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Language and Education Journal Humanus: Jurnal ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Diglossia Mozaik Humaniora KEMBARA KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra CaLLs : Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics Lire journal (journal of linguistics and literature Kandai Indonesian Journal of English Language Teaching and Applied Linguistics SPHOTA: Jurnal Linguistik dan Sastra WIDYABHAKTI Jurnal Ilmiah Populer SASTRANESIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Janaru Saja : Jurnal Program Studi Sastra Jepang Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Pioneer: Journal of Language and Literature JPKMI (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Indonesia) Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Community Development Journal: Jurnal Pengabdian Masyarakat Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Tunas Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Omiyage: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Jepang Kulturistik : Jurnal Bahasa dan Budaya Jurnal WIDYA LAKSMI (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Jurnal Abdi Dharma Masyarakat SPHOTA: Jurnal Linguistik dan Sastra Fakultas Bahasa Asing Universitas Mahasaraswati Denpasar Jurnal Daruma : Linguistik, Sastra dan Budaya Jepang Journal of Education for All Japanology Jurnalistrendi: Jurnal Linguistik, Sastra dan Pendidikan Abdi Humaniora: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Humaniora Indonesian Journal of English Language Teaching and Applied Linguistics
Claim Missing Document
Check
Articles

Tata Kelola Pramuwisata Khusus Sebagai Bentuk Pelibatan Masyarakat Lokal Ely Triasih Rahayu; Bagus Reza Hariyadi; Hartati Hartati; Anggita Stovia; Anak Agung Ayu Dian Andriyani
JPKMI (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Indonesia) Vol 2, No 3: Agustus (2021)
Publisher : ICSE (Institute of Computer Science and Engineering)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36596/jpkmi.v2i3.228

Abstract

Abstrak: Adanya regulasi Dinas Pariwisata Propinsi Bali mengenai kebijakan pengkategorian pramuwisata umum dan khusus menimbulkan permasalahan baru. Permasalahan yang muncul adalah makin berkembangnya pramuwisata ilegal (non formal) yang tidak memiliki Kartu Tanda Pengenal Pramuwisata (KTPP). Pramuwisata illegal tidak hanya dilakukan oleh orang Indonesia yang memiliki kemampuan berbahasa asing, tetapi juga dilakukan oleh wisatawan asing yang sudah mengenal pariwisata Bali karena sering melakukan kunjungan ke Bali. Permasalahan yang lain adalah tidak adanya pelimpahan tugas dari pramuwisata umum ke khusus. Pramuwisata umum di Bali adalah pramuwisata yang bekerja di tingkat provinsi, sedangkan pramuwisata khusus adalah pramuwisata yang bekerja di daerah tujuan wisata di tingkat kabupaten. Penyebab permasalahan ini karena tidak adanya regulasi yang berupa peraturan Bupati untuk mengatur pramuwisata khusus. Di Bali terdapat Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2016 yang mengatur pramuwisata secara umum, tetapi di tingkat kabupaten belum dilakukan kajian pramuwisata khusus sehingga pembagian kerja antara pramuwisata umum dan khusus tidak jelas. Ketidakjelasan inilah yang menyebabkan banyak permasalahan yang muncul terutama di daerah tujuan wisata tingkat kabupaten. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) melakukan pengabdian di kabupaten Bangli dengan pertimbangan bahwa kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten yang memiliki kontribusi besar bagi income daerah pada sektor pariwisata. Kabupaten Bangli merupakan salah satu kabupaten yang siap menelaah Peraturan Daerah nomor 5 tahun 2016 tersebut untuk dapat diturunkan menjadi peraturan Bupati Bangli mengenai tata kelola pramuwisata khsusus. Tujuan PKM ini adalah untuk mengiventarisir ecxiting codition dikaitkan dengan permasalahan yang ada. Hasil dari iventarisir ini dijadikan dasar pembuatan model tata kelola pramuwisata khusus. Model tata kelola pramuwisata diusulkan kepada Bupati Bangli sebagai dasar pembuatan peraturan Bupati tentang pramuwisata khusus.Abstract: The regulation issued by the Bali Province Tourism Office on policy related to the categorization of both general and special tour guides resulted in new problems. The arising problems included the recently growing illegal (non-formal) tour guides without Tour Guide Identity Card. Illegal Tour guides were not only performed by the Indonesia people with foreign language competencies but also foreigners familiar with Bali tourism and frequently visited Bali. The other problem was related to the entrustments from the general to the special tour guides. The general tour guides in Bali are those working at the provincial level, while special tour guides are those working in the tourism destinations at regency level. These arising problems were due to the inexistence of regulation in the form of Regent Regulation to regulate the special tour guides. The Regional Regulation No. 5 Year 2016 only regulates the general tour guides, yet the special tour guides have not been discussed, thus, there is no clear division of duties for the general and special tour guides in Bali and results in various problems in the tourism destinations at regency level. The Community Service Team has made various community services in Bangli Regency by considering that this regency has a great contribution to its regional income, especially in tourism sector. Bangli is a regency which is ready to review and downgrade the Regional Regulation No. 5 Year 2016 into Bangli Regent Regulation on Special Tour Guide Management. The purpose of this community service is to inventory the existing problems, formulate a special tour guide management model, and propose the model to the Bangli Regency as a basic reference in formulating the Regent Regulation on Special Tour Guides.
Pelatihan Berkomunikasi Lisan Melalui Tata Bahasa Jepang bagi Pemandu Wisata Khusus di Kabupaten Bangli Anak Agung Ayu Dian Andriyani; Ely Triasih Rahayu; Hartati Hartati; I Dewa Ayu Devi Maharani Santika
JPKMI (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Indonesia) Vol 2, No 4: November (2021)
Publisher : ICSE (Institute of Computer Science and Engineering)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36596/jpkmi.v2i4.280

Abstract

Abstrak: Kegiatan pengabdian dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Jepang bagi pemandu wisata di Kabupaten Bangli. Kurangnya kemampuan berkomunikasi lisan menggunakan bahasa Jepang, disebabkan karena pemandu wisata khusus belajar secara otodidak.. Hal ini sangat berdampak pada kualitas interaksi dengan wisatawan. Pentingnya dosen dan mahasiswa mengimplementasikan perannya berdasarkan pada Tri darma perguruan tinggi sehingga diadakan kegiatan pengabdian di Kabupateng Bangli dengan tujuan agar pemandu wisata khusus mampu berkomunikasi sesuai tata bahasa Jepang, sehingga dapat memberikan pelayanaan jasa yang sesuai dengan harapan wisatawan Jepang. Pada masa pandemi COVID-19, metode yang digunakan saat kegiatan pelatihan dilakukan secara dua arah sehingga terjalin komunikasi yang baik. Kegiatan pengabdian dilakukan secara daring menggunakan aplikasi Zoom. Meskipun tidak dilaksanakan tatap muka, namun pemandu wisatawan khusus sangat antusias mengikuti kegiatan pelatihan selama enam bulan yang dilaksanakan setiap hari minggu dengan dua sesi pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran peserta dari berbagai kelompok sadar wisata di kabupaten Bangli dengan usia yang bervariasi tetap tekun mengikuti pelatihan sampai akhir. Hasil dari pelatihan ini memberikan suatu perubahan cara berkomunikasi pemandu wisata khusus dalam menggunakan tata bahasa Jepang dengan cepat dan tepat. Dampak yang telah dirasakan oleh pemandu wisata khusus adalah munculnya rasa percaya diri yang tinggi saat berkomunikasi karena telah memahami tata bahasa yang tepat sehingga maksud dapat tersampaikan dengan baik dan dapat mengimplementasikan etika berkomunikasi lisan menurut budaya masyarakat Jepang.Abstract: Grammar is a basic reference for foreign language learners to communicate orally properly and correctly. The lack of oral communication skills using a foreign language, namely Japanese, is caused by most of the tour guides learning Japanese on a self-taught basis, so that the understanding of the importance of applying grammar in communicating is minimal. This greatly impacts the quality of interaction with tourists. Due to the importance of lecturers and students implementing their roles based on the Tri dharma of higher education, community service activity were held in Bangli Regency with the aim that the special tour guides were able to communicate in accordance with Japanese grammar, so that they could provide services that were in line with the expectations of Japanese tourists. During the pandemic, service activities can be carried out online using the Zoom application. Although it is not carried out face-to-face, the special tourist guides are very enthusiastic about participating in the six-month training activities which are held every Sunday with two learning sessions. This is evidenced by the presence of participants from various tourism-aware groups in Bangli district in varying age ranges. They persisted in following the training until the end. Teaching modules that are arranged according to needs provide a change for tour guides in communicating using the right Japanese language. This condition is evidenced by the ability to answer questions and make sentences that are in accordance with grammar for the beginner level. By understanding proper grammar, messages can be conveyed properly and can implement oral communication ethics based on Japanese culture.
PELATIHAN DARING BAHASA JEPANG PERHOTELAN KARYAWAN HOTEL DI BALI Ni Wayan Meidariani; Anak Agung Ayu Dian Andriyani; Ida Ayu Putri Gita Ardiantari
RESWARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.709 KB) | DOI: 10.46576/rjpkm.v3i1.1106

Abstract

Pandemi covid-19 yang melanda dunia membawa dampak yang buruk terhadap perekonomian negara, salah satu negara yang mengalami dampak pademi covid-19 adalah Indonesia. Bali yang merupakan salah satu pulau di Indonesia, sebagian besar penduduknya bekerja di bidang pariwisata. Adanya wabah covid-19 ini menyebabkan kebangkrutan usaha pariwisata khususnya bidang akomodasi sehingga banyak karyawan hotel yang mengalami putus hubungan kerja. Dalam situasi yang sulit ini, peran masyarakat lainnya sangat diperlukan untuk saling membantu. Bentuk bantuan yang diperlukan masyarakat tidak hanya sebatas pengadaan sembako atau bantuan uang tunai saja. Salah satu upaya untuk membantu para karyawan hotel adalah memberikan pelatihan gratis kepada mereka tentang pengenalan budaya Jepang dan bahasa Jepang perhotelan. Tujuan pelatihan bahasa Jepang perhotelan untuk menambah kemampuan berbahasa Jepang sehingga dapat meningkatkan hospitality para pekerja hotel dalam melayani wisatawan Jepang. Pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan tidak akan habis dan dapat meningkatkan SDM karyawan hotel saat pariwisata dibuka. Pelatihan dilakukan secara online menggunakan media jitsi. Berdasarkan hasil evaluasi disimpulkan bahwa 80% karyawan hotel tidak mengetahui etika dalam melayani wisatawan Jepang karena mereka tidak paham tentang perbedaan budaya Jepang. Bahasa Jepang yang digunakan oleh para karyawan hotel masih menggunakan ragam santai tanpa memperhatikan kedudukan lawan bicara karena menganggap bahasa Jepang seperti bahasa Indonesia yang tidak mengenal tingkatan berbahasa
Analysis of Original Japanese ‘Uchisoto’ Concept Used by Indonesian Speaker as Tourism Actors in Bali Anak Agung Ayu Dian Andriyani; Djatmika Djatmika; Sumarlam Sumarlam; Ely Triasih Rahayu
IJELTAL (Indonesian Journal of English Language Teaching and Applied Linguistics) Vol 3, No 2 (2019): Indonesian Journal of English Language Teaching and Applied Linguistics
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4484.73 KB) | DOI: 10.21093/ijeltal.v3i2.196

Abstract

This study aimed to analyze the implementation of uchi ‘ingrup’ soto‘outgrup’ from dialogue between tourism actors and Japanese tourists in Bali. The research site was characterized by formal situation at one of the largest Japanese travel agencies in Bali and by non-formal situations carried out in the Kuta beach in Badung regency. This case study grappled with linguistic data in the form of dialogues between tourism actors and Japanese tourists that was laden with the Uchisoto concept. The data collection technique included recording techniques, reference and record techniques, and in-depth interview techniques with 25 tourism actors in an unstructured way to get data in their natural contexts. The data transcribed were classified according to the context of the speech situation and then analyzed using domain, taxonomy, compound and cultural analysis. The research results highlighted the errors in implementing the Uchisoto concept because of differences in mindset and culture, within both formal and non-formal situations. This is evident from the level of speech markers used which still respect the leaders in front of customers. Despite these mistakes, tourism actors are able to carry out maximum hospitality so Japanese tourists understand this condition. They understand the different concepts of thinking and minimum understanding of these tourism actors. These findings help tourism actors in the Japanese business to use the Uchisoto concept when communicating with Japanese tourists and for tour guides, travel agencies and also language schools to provide trainings related to Japanese language and business culture.
Pembelajaran Omotenashi Bagi Pramuwisata Travel Standard Japan A. A. Ayu Dian Andriyani; Ni Wayan Meidariani
WIDYABHAKTI Jurnal Ilmiah Populer Vol. 2 No. 3 (2020): Juli
Publisher : STIKOM Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30864/widyabhakti.v2i3.191

Abstract

Pulau Bali merupakan destinasi wisata baik lokal maupun mancanegara. Guna meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan salah satunya Jepang, Bali membutuhkan pramuwisata yang profesional dalam memberi pelayanan kepada wisatawan. Pramuwisata tidak saja harus memahami budaya lokal tetapi juga harus mengerti tentang budaya wisatawan yang dilayani. Apabila terjadi kesalahpahaman akibat kurangnya pemahaman budaya khususnya dalam hal pelayanan atau disebut omotenashi ketika berinteraksi dengan wisatawan Jepang akan berdampak pada kualitas pelayanan yang diberikan. Pramuwisata sangat membutuhkan pengetahuan lebih tentang tata cara memberikan pelayanan jasa kepada konsumen karena Jepang memiliki tata cara pelayanan yang berbeda dengan Indonesia. Oleh karena itu Program Studi Sastra Jepang Fakultas Bahasa Asing Universitas Mahasaraswati Denpasar turut serta bertanggung jawab membantu meningkatkan kualitas pelayanan menurut budaya Jepang dengan memberikan pelatihan omotenashi Jepang yang selama ini selalu menjadi kendala saat berinteraksi. Pelatihan dalam memahami omotenashi Jepang menggunakan metode pembelajaran student centered didukung pendekatan communicative language teaching dengan dasar pertimbangan bahwa menggunakan metode ini mampu memberikan suasana belajar lebih komunikatif dalam memahami omotenashi bagi peningkatan pelayanan berbahasa pramuwisata saat memberikan pelayanan jasa kepada wisatawan Jepang menurut budaya Jepang, karena dalam pelatihan peserta diharapkan mampu mempraktekkan teori yang telah didapat dengan peserta lainnya. Hasil pelatihan omotenashi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan saat peserta berinteraksi dengan wisatawan.
KESANTUNAN RANAH KELUARGA PERKAWINAN ANTAR BANGSA JEPANG DAN BALI Anak Agung Ayu Dian Andriyani; Ladycia Sundayra; Ni Wayan Meidariani; I Dewa Ayu Devi Maharani Santika
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 13 No. 2 (2022): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v13i2.2583

Abstract

Kesantunan dalam ranah keluarga perkawinan antar bangsa sangat penting untuk dikaji agar terjalin komunikasi harmonis tanpa terjadi kesalahpahaman. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kesantunan yang digunakan ranah keluarga perkawinan antar bangsa Jepang dengan Bali. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode observasi dengan teknik pengumpulan data menyimak, mencatat, merekam dan mewawancarai keluarga perkawinan campur secara natural. Untuk meningkatkan validitas data, maka teknik triangulasi data yang sesuai dengan pola pikir secara fenomenologi yang bersifat multiperspektif digunakan Analisis data induktif kualitatif menggunakan analisis domain untuk membedakan jenis data sebenarnya dilanjutkan dengan analisis taksonomi, analisis komponensial, dan analisis tema budaya. Teknik penyajian hasil analisis data menggunakan teknik analisis secara informal menggunakan kata-kata biasa. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada kesantunan yang digunakan pada ranah keluarga perkawinan campur Jepang dan Bali. Meskipun memiliki budaya yang berbeda, namun Ibu Jepang mengimplementasikan pola kesantunan ala masyarakat Bali. Strategi kesantunan yang digunakan adalah strategi kesantunan negatif ditandai dengan pilihan ragam hormat, kalimat interogatif sedangkan wujud dari strategi kesantunan positif ditunjukkan dengan perhatian, rasa simpati dan strategi tutura secara tidak langsung untuk menghindari kesalahpahaman. POLITENESS IN THE REALM OF JAPANESE AND BALINESE INTERMARRIAGE FAMILYPoliteness in the realm of family intermarriage is very important to be studied in order to create harmonious communication without having misunderstandings. This study aims to find out the politeness used in the realm of the marriage family between the Japanese and Balinese. This qualitative research uses the observation method with data collection techniques: listening, recording, recording, and interviewing mixed marriage families naturally. To increase the validity of the data, data triangulation techniques that are in accordance with the phenomenological mindset that is multi-perspective are used. Qualitative inductive data analysis uses domain analysis to distinguish the actual data types, followed by taxonomic analysis, componential analysis, and cultural theme analysis. The technique of presenting the results of data analysis is using analysis techniques informally with ordinary words. The results of the analysis show that politeness is implied in the Japanese and Balinese mixed marriage families. Although they have different cultures, Japanese mothers implement the Balinese style of politeness patterns. The politeness strategy used is a negative politeness strategy characterized by the choice of a variety of respect, interrogative sentences, while the form of a positive politeness strategy is indicated by attention, sympathy, and indirect speech strategies to avoid misunderstandings.
FOBIA LAKI-LAKI TOKUJIRA AOI PADA MANGA OOKAMI SHOUNEN WA KYOU MO USO WO KASANERU KARYA NAMO I Putu Gede Aditya Djanardhana; Anak Agung Ayu Dian Andriyani; Ni Luh Gede Meilantari
Omiyage : Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Jepang Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/omg.v5i1.452

Abstract

This study examines the phobia phenomenon on character Tokujira Aoi from manga Ookami Shounen wa Kyou mau Uso wo Kasaneru created by namo. The reason for this study is because, amongst the character with phobia in any anime or manga, Tokujira Aoi is one of androphobia character that not using any violence nor passive-aggressive behaviour toward the subject of her fear, which is male. Therefore, the purpose of the study of this study is to examine how reaction of androphobia occurs on Tokujira Aoi. The data source of this study is using the dialogues between Tokujira Aoi and other characters on manga Ookami Shounen wa Kyou mau Uso wo Kasaneru. Reading and note-taking procedures are used in this study, which also utilized a qualitative descriptive analysis method. The data analysis presentation is by using informal method which the data presented by word-by-word descriptive explanation. The result on this study are concluded that androphobia phenomenon on Tokujira Aoi is classified a specific phobia. Tokujira Aoi has two reaction regarding her fear of man, which are physical and emotional reaction, that caused by trauma.
Analisis Makna Adverbia Tama Ni dan Metta Ni dalam Kalimat Bahasa Jepang Ladycia Sundayra; Anak Agung Ayu Dian Andriyani
Janaru Saja: Jurnal Program Studi Sastra Jepang (Edisi Elektronik) Vol 10 No 2 (2021): November 2021
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v10i2.4737

Abstract

AbstractThis research aims to analyze the meaning of tama ni and metta ni. These two words are Japanese adverbs having the similar lexical meaning ‘rarely / seldom’, but contextually the meaning are different. The method used in this research is the descriptive qualitative method. The data were collected from sentences that posted on asahi.com and jakartashinbun.com by observation method and note-taking techniques. They were analyzed using distributional method with substitution technique. The meanings of these two adverbs were analyzed using contextual meaning theory. The results show that tama ni and metta ni have the similar meaning that is ‘something that rarely do or happen’. The difference is on specific context. The adverb tama ni is more likely to have a positive connotation with more time frequency than metta ni. Metta ni has the meaning of ‘rarely’ with a less time frequency than tama ni. However, if tama ni is accompanied by the particle ‘shika’ which means ‘only’ the meaning will be ‘only accasionally’ which can be matched with ‘rarely’.Keywords: Adverbs, contextual meaning, Japanese language AbstrakPenelitian ini menganalisis makna adverbia tama ni dan metta ni. Kedua kata tersebut merupakan adverbia bahasa Jepang yang secara leksikal menyatakan ‘jarang’, tetapi secara kontekstual dapat memiliki makna yang berbeda. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data berupa kalimat diperoleh dari laman online asahi.com dan jakartashinbun.com menggunakan metode simak dan teknik catat. Data dianalisis menggunakan metode agih, yaitu alat penentunya ada di dalam dan merupakan bagian dari bahasa yang diteliti dan disertai dengan teknik perluas, yaitu memperluas satuan lingual menggunakan unsur tertentu. Teori yang digunakan adalah teori makna kontekstual. Hasil analisis menunjukkan tama ni dan metta ni sama-sama memiliki makna “sesuatu yang jarang dilakukan atau jarang terjadi”. Perbedaan kedua adverbia tersebut terdapat pada konteks tertentu. Adverbia tama ni lebih cenderung memiliki konotasi positif dengan frekuensi waktu lebih dibandingkan metta ni, sementara metta ni secara utuh memiliki makna ‘jarang’ dengan frekuensi waktu lebih sedikit dibandingkan dengan tama ni. Namun, jika adverbia tama ni dibarengi dengan partikel shika yang berarti ‘hanya’ maknanya akan menjadi ‘hanya sesekali’ yang mana mendekati makna ‘jarang’.Kata Kunci: Adverbia, bahasa Jepang, makna kontekstual
Hierarki Kebutuhan Motivasi Tokoh Utama Anime Shigatsu Wa Kimi No Uso Ni Luh Gede Yuliantarini; Anak Agung Ayu Dian Andriyani; Betty Debora Aritonang
Janaru Saja: Jurnal Program Studi Sastra Jepang (Edisi Elektronik) Vol 10 No 2 (2021): November 2021
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v10i2.5230

Abstract

AbstractThe research entitled Hierarchy of Needs for the Main Character Kousei Arima of anime Shigatsu Wa Kimi No Uso Study of Humanistic Psychology, aims to describe the hierarchy of needs Kousei Arima in achieving his real self. Data source of this research uses a dialogue that shows the hierarchy of needs Kousei Arima in the anime Shigatsu Wa Kimi No Uso. Theory used in this research is the theory hierarchy of needs proposed by Abraham Harold Maslow. Data collection method and technique used is listening method which is followed by note-taking technique. Furthermore, the research is presented with an informal method. The result of this research is the achievement of Kousei Arima in fulfilling his hierarchy of needs well and can achieve his real self.Keywords: Anime, main character, motivation AbstrakPenelitian yang berjudul Hierarki Kebutuhan Tokoh Utama Kousei Arima pada Anime Shigatsu Wa Kimi No Uso Kajian Psikologi Humanistik ini bertujuan untuk mendeskripsikan hierarki kebutuhan Kousei Arima dalam mencapai real self nya. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data dari penelitian ini menggunakan dialog yang memperlihatkan hierarki kebutuhan Kousei Arima pada anime Shigatsu Wa Kimi No Uso. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow (2018). Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak yang kemudian dilanjutkan dengan teknik catat. Selanjutnya, penelitian disajikan dengan metode informal. Hasil dari penelitian ini adalah pencapaian Kousei Arima dalam memenuhi hierarki kebutuhannya dengan baik dan dapat mencapai real self nya.Kata kunci: Anime, motivasi, tokoh utama
PKM: Penyusunan Paket Wisata Lintas Desa Dalam Mewujudkan Desa Wisata Kerambitan Terintegrasi I GD Yudha Partama; I Dewa Gede Agung Pandawana; Dewa Gede Agung Gana Kumara; Ni Made Dwi Puspitawati; Anak Agung Ayu Dian Andriyani; I Made Wahyu Wijaya
Jurnal TUNAS Vol 4, No 1 (2022): Edisi November
Publisher : LPPM STIKOM Tunas Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30645/jtunas.v4i1.72

Abstract

Tourism Awareness Groups (Pokdarwis) have been established in each and every village in the Kerambitan District as part of the government's ongoing effort to promote village tourism. The economic potential of the village's natural resources is underutilized because the Pokdarwis party does a poor job of managing and capitalizing on tourism opportunities to tap into these resources. Each of the Kerambitan District's villages features a Tourist Destination of Interest (DTW), which represents a golden opportunity to earn from tourism by creating and selling a customized tour package. Kerambitan District's DTW is mostly made up of natural tourism possibilities, such as rice fields and beaches. Kerambitan District's attractions rely only on entrance fees from tourists for revenue, hence there are no tour packages available at this time. The objective is that this package would encourage more people to visit Kerambitan District and enjoy its many attractions. SIGADis, a web-based tool, is used to aid partners in the Kerambitan District with promotions, reservations, and ticket sales. To develop an integrated system in the Kerambitan District, this SIGADis app provides details on DTW in the form of narratives and visuals, as well as tour packages, ancillary services, lodging options, and geographic coordinates. Partners receive support and training as they learn to use the SIGADis application. The effectiveness of the SIGADis application training was evaluated by administering surveys to course participants, with scores averaging between 80% and 90%. These results indicate that individuals now comprehend how to utilize the SIGADis application better than previously
Co-Authors Agung Pandawana, I Dewa Gede Anak Agung Istri Candrawati Anak Agung Putu Wahyu Adiarta Anggita Stovia Anita Sari Ade Bagus Reza Hariyadi Betty Debora Aritonang Burhanuddin Burhanuddin Dea Luna Valerina, Ni Komang Desak Putu Eka Pratiwi, Desak Putu Devina Cahya Putri Sondang Dewa Gede Agung Gana Kumara Dewa Gede Agung Gana Kumara Dewa Gede Agung Gana Kumara Kumara Dharma, Wilyem Dian Nugraha, I Gusti Komang Dian Puspita Candra Djatmika Djatmika Djatmika Djatmika, Djatmika Dwi Putra, I Made Kembang Dwipa, I Made Suryana Dwiyana Putra, I Gusti Kadek Adrian Eka Susylowati Ely Triasih Rahayu Farisysa Rizkah Rachman Gema Sukana Putra Hadiah, Bedriany Yedesilva Hajimia, Hafizah Hartati Hartati Hartati Hartati I Dewa Ayu Devi Maharani Santika I Dewa Ayu Devi Maharani Santika I Dewa Gede Agung Pandawana I GD Yudha Partama I Gede Agus Dewangga I Gusti Ayu Vina Widiadnya Putri I Komang Sulatra I Made Vikananda Satrya Wibawa I Made Wahyu Wijaya I Made Yawara Sumi Putra I Made Yogi Marantika I Putu Agus Putra Wirawan I Putu Gede Aditya Djanardhana I Wayan Arip Kertanegara I Wayan Juniarta Juniarta I Wayan Wahyu Cipta Widiastika I Wayan, Juniartha Ida Ayu Putri Gita Ardiantari Ida Ayu Putri Gita Ardiantari Ida Ayu Putri Gita Ardiantari Ida Ayu Putu Ita Febriyanti Ida Ayu, Putri Gita Ardiantari Ida Bagus Made Satya Swabawa Kadek Ayu, Diah Krisnayanti Kadek Yonita Yona Komang Ayu Nuriasih Ladycia Sundayra Made Henra Dwikarmawan Sudipa Made Henra Dwikarmawan Sudipa Made, Adi Arta Sudarta Megawati Dewi Ni Ketut Ni Kadek Adiari Ni Kadek Novianti Ayu Purnami Ni Ketut Prihantini Widianingsih Ni Kompyang Widi Pradnyani Ni Kompyang Widi Pradnyani Ni Luh Ayu Aprilita Ni Luh Gede Meilantari Ni Luh Gede Yuliantarini Ni Luh Kristy Ariani Ni Luh Meliyanty Ni Luh Soniartini Soniartini Ni Made Adriyani Resti Wiratami Ni Made Dwi Puspitawati Ni Made Indah Mentari Ni Made Indah Mentari, Ni Made Ni Made Intan Maulina Ni Nengah Megayanti Ni Putu Ayu Diantari Ni Putu Wahyu Srijayanti Ni Wayan Meidariani Ni Wayan Vera Purnamasari Norika, Putu Dian Nova Winarta, Ida Bagus Gde Permana, I Putu Andri Putra, Bagus Putu Pramana Putra, Gusti Made Mega Adi Putri Agung Permata Sari Putri, Widyawati Hema Mona Putu Nur Ayomi Putu Pradiva Putra Salain, Putu Pradiva Putu Sita Juniantini Raharjo, Mentari Nur Addinda Raharjo, Yusuf Muflikh Rahmat Wisudawanto Rai Subawa, Kadek Krisna Rifaldo Antonio Nicholas Vianey Ronald Umbas Ryaw Tiwu, Ni Made Anjhelia Sandra Dewi, Ni Putu Laksmi SANG AYU ADE ARIE DEWAYANTI Shahizan Ali, Mohd. Nor Sharita, Jasmine Sri Rwa Jayantini, I Gusti Agung Sugiarto, Alvin Jonathan Sumarlam Sumarlam Sumarlam Sumarlam, Sumarlam Susila, I Putu Dipa Pranata System, Administrator Tri Rokhani Utami Putri, Ni Putu Sri Wayan Nurita Wayan Nurita Wayan Nurita Widhiantara, Oka Winarta, Ida Bagus Gde Nova Yogi Marantika, I Made Yulianti, Wiwik Yusuf Muflikh Raharjo