Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS NILAI TAMBAH DODOL BUAH NAGA (Hylocereus polyrhizus) DI DESA PEMUDA, KECAMATAN PELAIHARI, KABUPATEN TANAH LAUT (Studi Kasus Pada UMKM Berkat Motekar) Eva Dwi Suryati; Nina Budiwati; Hairin Fajeri
Frontier Agribisnis Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i2.2907

Abstract

Agroindustri yaitu industri yang mengolah bahan baku dari hasil pertanian yang kemudian diolah sedemikian rupa sehingga mempunyai nilai tambah dan dapat di konsumsi oleh semua kalangan masyarakat. UMKM yang mengolah olahan pangan lokal di Berkat Motekar yang berada di Desa Pemuda Kecamatan Pelaihari dimana industri ini bergerak pada pembuatan hasil pertanian yang mengolah olahan pangan lokal menjadi produk jadi yaitu dodol buah naga. Usaha rumah tangga ini berdiri pada tahun 2015 dan mempunyai 5 orang pekerja dimana pekerja ini adalah keluarga dan kerabat dari pemilik usaha tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2019 sampai Oktober 2019 di Desa Pemuda, Kecamatan Pelaihari. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui biaya, penerimaan dan keuntungan serta nilai tambah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan mempertimbangkan bahwa usaha ini satu-satunya yang mengolah olahan dodol dari buah naga. Besarnya biaya yang dikeluarkan di UMKM Berkat Motekar dengan berproduksi 24 kali selama 6 bulan pada bulan Januari 2019 sampai bulan Juni 2019 adalah sebesar Rp10.682.125,00 dan rata-rata yang dikeluarkan perbulannya sebesar Rp1.817.298,00 untuk penerimaan bersih yang diterima pengusaha UMKM Berkat Motekar selama 6 bulan adalah sebesar Rp15.890.000,00 dan rata-rata yang didapatkan setiap bulannya sebesar Rp2.648.333, dan  keuntungan yang didapatkan pengusaha UMKM Berkat Motekar sebesar Rp4.986.207,00 dan  rata-rata perbulannya sebesar Rp831.035,00 serta nilai tambah yang didapatkan tertinggi pada bulan April 2019 dan bulan Maret 2019 dengan nilai tambah  sebesar Rp1.701.693,00 dengan  rasio nilai tambah yang didapat sebesar 51,57% dan Rp1.637.543,00 dengan rasio nilai tambah sebesar 51,99%.
Analisis Usahatani Cabai Rawit (Capsicum frutescens) di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut Bayu Nurkholis; Masyhudah Rosni; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9426

Abstract

Cabai merupakan salah satu komoditas holtikultura yang dibutuhkan dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Cabai rawit merupakan jenis cabai yang banyak digunakan dalam masakan sehari-hari. Beragamnya masakan Indonesia yang menggunakan cabai rawit sebagai bahan baku membuat meningkatnya kebutuhan atau permintaan pasar akan cabai rawit. Hal ini berpotensi dapat meningkatkan penerimaan petani karena cabai rawit memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Panyipatan merupakan salah satu daerah dengan penanaman cabai terbesar di Tanah Laut dengan total luas lahan 42 ha pada tahun 2020. Hal ini membuat Kecamatan Panyipatan dijadikan tempat penelitian dalam usahatani cabai rawit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya, penerimaan, serta keuntungan usahatani cabai rawit di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut. Disisi lain, penelitian ini juga menganalisis tentang kelayakan usahatani cabai rawit. Metode penarikan contoh yang digunakan dalam penelitian yaitu Simple Random Sampling dengan pengambilan secara acak 30 orang dari 72 orang sebagai sampel penelitian. Hasil dari penelitian, diketahui bahwa rata-rata dalam 1 periode tanam, biaya yang dikeluarkan petani per usahatani sebesar sebesar Rp18.923.150,00/ut atau Rp75.525.525,44/ha dengan rincian Rp197.750,00/ut atau Rp811.625,23/ha untuk biaya tetap dan Rp18.725.400,00/ut atau Rp74.713.900,20/ha untuk biaya variabel. Penerimaan usahatani cabai rawit rata-rata sebanyak Rp84.311.666,67/ut atau Rp336.201.020,61/ha. Keuntungan yang diperoleh setiap usahatani rata-rata yaitu Rp65.388.516,67/ut atau Rp260.675.495,18/ha dengan nilai RCR 4,52. Nilai ini berarti setiap 1 rupiah yang dikeluarkan petani, maka petani akan mendapat penerimaan sebanyak 4,52 rupiah. Dengan nilai lebih daripada 1, maka usahatani cabai rawit di Kecamatan Panyipatan layak untuk diusahakan.
Analisis Usaha Pengolahan Karet Lump di Desa Maluka Baulin Kecamatan Kurau Kabupaten Tanah Laut (Studi Kasus Pada Usaha Karet Lump Milik Ibu Gina Faizah) Rahmatullah Ridhani; Nina Budiwati; Hamdani Hamdani
Frontier Agribisnis Vol 5, No 4 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i4.5999

Abstract

Karet merupakan komoditi ekspor yang berkontribusi dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaraan usaha pengolahan karet lump, untuk mengetahui biaya, penerimaan dan keuntungan komoditas karet serta untuk mengetahui permasalahan dan solusi atau alternatif dalam usaha komoditas karet milik Ibu Gina Fauziah di Desa Maluka Baulin, Kecamatan Kurau, Kabupaten Tanah Laut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juni 2020. Usaha yang diamati dan dianalisis yakni 1 kali periode pemanenan atau selama 3 bulan mulai dari bulan Februari sampai April 2020. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa biaya yang dikeluarkan yaitu terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel yang besarnya masing-masing sebesar Rp 5.177.969 dan Rp 29.400.450. Kemudian penerimaan yang diperoleh dalam 1 periode atau 3 bulan yaitu sebesar Rp 50.373.900 sehingga keuntungan yang diperoleh petani (Ibu Gina Faizah) pada usaha pengolahan karet (lump) di Desa Maluka Baulin Kecamatan Kurau Kabupaten Tanah Laut adalah sebesar Rp 15.795.481/periode. Hambatan yang dihadapi yaitu harga karet mengalami pemerosotan sehingga pendapatan menjadi menurun; tidak ada pembukuan; dan rendemen produksi karet yang dinilai rendah.
KAJIAN TATANIAGA KARET RAKYAT DI KECAMATAN WANARAYA KABUPATEN BARITO KUALA Andri Hidayat; Hairi Firmansyah; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i3.639

Abstract

Potensi pengembangan dari salah satu sub-sektor perkebunan, salah satunya adalah perkebunan karet, tanaman karet memiliki peranan yang cukup penting dalam kehidupan perekonomian rakyat, Perkebunan karet merupakan salah satu mata pencaharian sebagian besar masyarakat di Kecamatan Wanaraya Kabupaten Barito Kuala. Penelitian ini bertujuan mengetahui saluran tataniaga, biaya, marjin, bagian(share) harga dan kendala – kendala atau permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh petani maupun pedagang pengumpul di Kecamatan Wanaraya. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Jumlah sampel responden yang diambil berjumlah 32 sampel,terdiri dari 30 orang petani karet dan 2 orang pedagang pengumpul. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei dan snowball. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 2 saluran tataniaga karet rakyat di Kecamatan Wanaraya yang teridiri dari petani karet(produsen), pedagang pengumpul ditingkat desa pengumpul ditingkat kecamatan dan Pabrik olah karet. Biaya rata-rata dalam tataniaga karet dari dua saluran yang ada adalah sebesar Rp 335,-/kg dan Rp 707,-/kg. Marjin tataniaga yang diterima dari pedagang pengumpul memiliki perbedaan yaitu sebesar Rp 739,-/kg. Keuntungan yang diperoleh dari dua pedagang pengumpul yaitu Rp 4.665,-/kg dan Rp 5.032,-/kg dan bagian (share) harga yang diterima petani pada saluran I dan II masing-masing sebesar 62% dan 59% dan ditingkat pedagang pengumpul tingkat desa maupun kecamatan sama besarnya yaitu sebesar 82,5%. Kendala/permasalahan yang dihadapi oleh petani karet dan pedagang pengumpul yaitu harga yang tidak stabil dan kualitas bahan olah karet hasil produksi yang kurang baik.Kata kunci : tataniaga, saluran tataniaga, biaya, marjin, keuntungan
Analisis Usahatani Jagung Hibrida di Desa Kandangan Lama Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut Insinul Riki; Nina Budiwati; Kamiliah Wilda
Frontier Agribisnis Vol 7, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i4.11546

Abstract

Jagung hibrida atau jagung dengan benih unggul merupakan upay apemerintah untuk mengembangkan budidaya jagung. Selain dikonsumsi, jagung juga dapat dijadikan pakan ternak. Penelitian ini bertujuan menganalisis biaya, penerimaan, keuntungan dan permasalahan serta solusi apa yang diberikan pada usahatani jagung hibrida di Desa Kandangan Lama Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut. Populasi terdiri dari 150 petani yang ada di Desa Kandangan Lama dan diambil sampel secara bertingkat yaitu sebanyak 30 orang petani. Dari hasil penelitian, diketahui ada 3 jenis kategori luas lahan yaitu lahan sempit, sedang dan luas. Biaya total usahatani jagung hibrida untuk lahan sempit, yaitu Rp 24.948.650/usahatani (Rp14.101.413/ha), dan untuk penerimaan Rp35.113.846/usahatani (Rp19.846.956/ha) sehingga keuntungan yang diperoleh oleh petani lahan sempit Rp10.165.196/usahatani (Rp5.745.543/ha). Untuk lahan sedang, biaya total usahatani jagung hibrida sebesar Rp41.220.926/usahatani (Rp13.740.309/ha) dan penerimaan yaitu Rp61.688.571/usahatani (Rp20.562.857/ha), sehingga memperoleh keuntungan Rp20.467.645/usahatani (Rp6.822.548/ha). Sedangkan lahan luas, total biaya usahatani jagung hibrida yaitu, Rp56.765.300/usahatani (Rp13.515.547/ha) dan penerimaan yaitu sebesar Rp79.862.000/usahatani (Rp19.014.761/ha), sehingga diperoleh keuntungan yang diperoleh petani Rp23.096.700/usahatani (Rp 5.499.214/ha). Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan usahatani jagung hibrida adalah kurangnya modal untuk pengadaan pupuk, kurangnya sarana alat mesin pertanian traktor roda 4 dan kualitas benih yang kurang baik.
Analisis Tataniaga Benih Jagung Manis “Sweet Lady” Pada PT BISI International Tbk di Kabupaten Hulu Sungai Tengah Dan Hulu Sungai Selatan Muhammad Lutfi Hapiz; Nina Budiwati; Masyhudah Rosni
Frontier Agribisnis Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i3.1309

Abstract

Abstrak. Penggunaan benih unggul bermutu mutlak diperlukan untuk meningkatkan produktivitas hasil jagung manis. Benih unggul jagung manis dihasilkan melalui kegiatan pemuliaan tanaman. PT BISI International Tbk adalah perusahaan penanaman modal asing yang bergerak dalam bidang produksi benih pertanian. Salah satu produk benih jagung manis yang banyak dicari oleh kalangan petani jagung di Kalimantan Selatan adalah Sweet Lady. Penjualan Sweet Lady pada PT BISI International Tbk selalu mengalami peningkatan di 3 tahun terakhirnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran tataniaga, biaya, marjin, keuntungan dan share yang diterima oleh setiap lembaga tataniaga yang menjual produk Sweet Lady di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Selatan. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Jumlah sampel responden yang diambil berjumlah 19 sampel, terdiri dari 2 lembaga R1 (pedagang besar), 9 lembaga R2 (pedagang pengecer) dan 8 lembaga R3 (pedagang pengecer kedua). Pengumpulan data dilakukan dengan metode sensus dan wawancara langsung. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 5 saluran tataniaga produk Sweet Lady di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan hulu Sungai Selatan. Perbedaan biaya rata-rata di 5 saluran tataniaga Sweet Lady adalah Rp2.437,50 /250 gram untuk lembaga R1, Rp800,00 /250 gram untuk lembaga R2 dan Rp500,00 /250 gram untuk lembaga R3. Marjin tataniaga yang diterima oleh setiap lembaga memiliki perbedaan yaitu pada lembaga R1 marjin tataniaga yang diterima sebesar Rp7.500,00 /250 gram, pada lembaga R2 sebesar Rp3.000,00 /250 gram dan pada lembaga R3 sebesar Rp2.000,00 /250 gram. Keuntungan yang diterima dari lembaga R1, R2 dan R3 yaitu sebesar Rp5.062,50 /250 gram, Rp2.200,00 /250 gram dan Rp1.500,00 /250 gram. Bagian (share) yang diterima oleh setiap lembaga tataniaga R1, R2 dan R3 pada 5 saluran tataniaga adalah 90%, 96% dan 90%.Kata kunci: benih jagung manis Sweet Lady , saluran tataniaga, biaya, marjin, keuntungan
ANALISIS USAHA MAKARONI DI KELURAHAN JAWA KECAMATAN MARTAPURA KABUPATEN BANJAR (STUDI KASUS PADA USAHA MAKARONI KERING CAP “ONENG” MILIK BAPAK SYAIFUL) Mochammad Misbakhul Khoiron; Umi Salawati; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 4, No 4 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i4.2935

Abstract

Sektor industri dan perdagangan merupakan sektor penting dalam perekonomian negara dan diyakini sebagai sektor yang dapat memimpin sektor-sektor lainnya dalam sebuah perekonomian menuju kemajuan. Sektor industri perdagangan lebih diminati karena proses dan penanganannya lebih bisa dikendalikan oleh manusia serta produk pada industri juga mempunyai nilai tambah dan lebih menguntungkan dibandingkan produk-produk sektor lain. Salah satunya yang termasuk dalam jenis sektor industri, yang terdapat di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar adalah usaha makaroni kering cap “Oneng”. Cemilan makaroni ini permintaannya cukup tinggi dan juga menjadi produk andalan pada usaha cap “Oneng”, dengan melihat prospek dari usaha makaroni kering cap “Oneng”, perlu adanya penyelesaian yang tepat agar kedepannya usaha berkembang dan mampu bersaing dengan usaha yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar biaya, penerimaan, keuntungan, titik impas, kelayakan usaha dan permasalahan yang dihadapi perusahaan dan juga alternatifnya. Analisis ini dilakukan selama satu bulan yaitu pada bulan November 2019. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus yaitu peneliti hanya fokus kepada satu kasus saja. Berdasarkan hasil penelitian didapat biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 39.331.199, penerimaan sebesar         Rp 43.260.000, keuntungan sebesar Rp 3.928.801. Usaha makaroni kering cap “Oneng” mengalami kondisi seimbang atau kondisi tidak mendapatkan laba dan juga tidak mengalami kerugian (Break even point) adalah pada saat jumlah produksi minimal 150 kg atau pada nilai penjualan minimal sebesar sebesar Rp 5.255.539 dan untuk tingkat kelayakan dinyatakan bahwa RCR >1 yaitu 1,09 yang artinya bahwa usaha makaroni kering cap “Oneng” ini menguntungkan dan layak diteruskan. Permasalahan yang dihadapi adalah cabai bubuk hanya didapatkan di luar daerah/Tasikmalaya, harga minyak goreng, kenaikan harga akan dapat mempengaruhi peningkatan biaya produksi, dan masih kurangnya jaringan kemitraan dan promosi yang dimiliki. Pengembangan produk disarankan dengan dilakukan variasi ukuran yang akan dijual.
Analisis Nilai Tambah Usaha Pengolahan Teh Celup Bawang Dayak (Eleutherine Palmofilia) Kota Palangka Raya (Studi Kasus Umkm Berkat Uhat Kayu) Tasya Hulwa Laili Wahyu Putri; Nina Budiwati; Masyhudah Rosni
Frontier Agribisnis Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i1.8262

Abstract

Usaha Pengolahan Teh Celup Bawang dayak merupakan salah satu usaha yang bergerak di bidang industri minuman herbal dengan produk yang dihasilkan yaitu teh celup dari tanaman bawang Dayak. Rumah produksi teh celup bawang Dayak ini berlokasi di Kota Palangka Raya dan dipasarkan semenjak tahun 2017. Tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis biaya, penerimaan, keuntungan dan nilai tambah pada usaha pegolahan teh celup bawang dayak Berkat Uhat Kayu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dari sumber data yang digunakan yakni data primer dan data sekunder. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari 2022 sampai dengan bulan Oktober 2022. Data yang digunakan dalam penelitian ini dari 05 September 2022 - 04Oktober 2022 - Oktober terhitung selama satu bulan produksi. Berdasarkan hasil penelitian biaya total yang dikeluarkan oleh usaha pengolahan teh celup bawang dayak Berkat Uhat Kayu pada 05 September 2022 - 05 Oktober 2022 sebesar Rp10.398.041,00 dengan biaya tetap yaitu sebesar Rp208.541,00 dan biaya variabel sebesar Rp10.189.500,00. Penerimaan yang diperoleh usaha pengolahan teh celup bawang dayak Berkat Uhat Kayu yakni Rp14.000.000,00 dan keuntungan sebesar Rp3.601.959,00. Nilai tambah teh celup bawang dayak sebesar Rp168.000,00/kg dengan rasio sebesar 88,42%, pendapatan tenaga kerja sebesar Rp118.652,00/kg dengan pangsa tenaga kerja sebesar 70,63%. Keuntungan teh celup bawang dayak sebesar Rp49.348,00/kg dengan tingkat keuntungan 25,79%, sumbangan input lain 0% dan keuntungan perusahaan sebesar 29,37%.
Analisis Neraca Beras di Kota Banjarbaru Tahun 2015-2019 Eka Husna Aulia; Nina Budiwati; Ahmad Yousuf Kurniawan
Frontier Agribisnis Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i1.5995

Abstract

Beras mempunyai peranan yang sangat penting dalam pemantapan ketahanan pangan. Pertumbuhan penduduk berbanding lurus dengan besarnya konsumsi, artinya semakin meningkat jumlah penduduk maka jumlah konsumsi beras akan semakin meningkat sehingga ketersediaan beras harus tercukupi. Keseimbangan antara ketersediaan dan konsumsi beras sangat dipengaruhi oleh jumlah penduduk. Oleh karena itu, pembahasan tentang neraca ketersediaan dan konsumsi beras perlu untuk dianalisa lebih lanjut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketersediaan beras, jumlah konsumsi beras serta neraca ketersediaan dan konsumsi beras di Kota Banjarbaru pada tahun 2015-2019. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis dekskriptif kuantitatif menggunakan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait. Dengan menggunakan data time series dalam kurun waktu 5 tahun terakhir yakni mulai tahun 2015 hingga tahun 2019, diperoleh hasil penelitian rata-rata ketersediaan beras sebesar 3.429 ton yang cenderung mengalami penurunan setiap tahunnya. Jumlah konsumsi beras rata-rata yang diperoleh sebesar 21.687 ton dengan persentase peningkatan sebesar 4,4% per tahun. Dilihat dari rata-rata jumlah ketersediaan beras dengan rata-rata konsumsi beras penduduk, maka Kota Banjarbaru belum mampu memenuhi kebutuhan berasnya sendiri. Untuk itu, ketersediaan beras di Banjarbaru dipenuhi melalui kabupaten yang memiliki wilayah sentra produksi beras seperti dari Kabupaten Banjar, Kabupaten Tapin, Kabupaten Barito Kuala dan dari pulau Jawa sehingga daerah yang produksinya rendah mendapat pasokan beras dari daerah atau kabupaten lain yang menjadi daerah surplus beras. Dengan ini diharapkan hasil panen dapat terserap oleh seluruh masyarakat dan kebutuhan beras masyarakat dapat terpenuhi.
Analisis Usaha Nugget Jamur Tiram Putih di Desa Bumujaya Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut (Studi Kasus Pada Home Industry “Gila Rasa”) Meidila Mazaya Amajida; Nina Budiwati; Mira Yulianti
Frontier Agribisnis Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i1.6030

Abstract

Agribisnis merupakan bagian dari sistem ekonomi yang bertumpu pada segala kegiatan yang melibatkan pembuatan dan pendistribusian sarana pertanian, kegiatan produksi unit pertanian, penyimpanan, pengolahan, penjualan, dan pendistribusian hasil pertanian dengan menggunakan berbagai produk yang dihasilkan. “Gila Rasa” merupakan home industry yang bergerak di bidang agribisnis. “Gila Rasa” bergerak sebagai petani jamur dan sekaligus pengolah jamur tiram menjadi olahan pangan sejak Tahun 2017. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui biaya, penerimaan, besarnya keuntungan, titik impas (BEP), serta permasalahan yang dihadapi dan alternatif penyelesaian permasalahan dari usaha nugget jamur tiram putih pada home industry “Gila Rasa”. Hasil penelitian menunjukkan biaya total yang dikeluarkan selama bulan Agustus 2020 adalah sebesar Rp6.101.865. Penerimaan yang diperoleh pada bulan Agustus 2020 adalah sebesar Rp7.195.000. Keuntungan yang diperoleh pada bulan agustus 2020 sebesar Rp1.093.135. Titik impas (Break Even Point) pada usaha nugget jamur tiram “Gila Rasa” adalah 255 unit, titik impas pada satuan rupiah adalah sebesar  Rp3.627.200 Permasalahan yang di hadapi ialah penurunan permintaan masyarakat terhadap produk dikarenakan wabah COVID-19.
Co-Authors Abdurrahman Abdurrahman Abdussamad Abdussamad Adi Adi Agus Agus Agus Tri Handayani Ahmad Yousuf Kurniawan Amelia Amelia Andri Hidayat Arif Sabila Rosyad Artahnan Aid Aslamiah Aslamiah Asmawati Asmawati Ayda Iriani Ayu Yuli Yanti Bayu Nurkholis Bela Tiara Bella Anggraini Borneo Ayu Apriyani Dhea Widyasari Djoko Santoso Edwin Thomas Ramadhany Eka Husna Aulia Eka Radiah Emy Rahmawati Erma Fuzianti Eva Dwi Suryati Fadhillah Saputra Ferrianta, Yudi Ferry Julianandra Hairi Firmansyah Hairin Fajeri Hamdani I Ketut Gegel Ruci Riasa Insinul Riki Kamiliah Wilda Komariah Komariah Lalan Suprila Leni Anggriani Luki Anjardiani mahdaniah mahdaniah Mahrita Mahrita Marhamah Marhamah Mariana Pebriana Simanjuntak Mariani Mariani Masyhudah Rosni Meidila Mazaya Amajida Mira Yulianti Mochammad Misbakhul Khoiron Mufi Jatur Rahmi Muhammad Amin Badali Muhammad Ariza Fahlefi Alfadillah Muhammad Fauzi Muhammad Firdaus Muhammad Hamdani Muhammad Husaini Muhammad Husaini Muhammad Lutfi Hapiz Muhammad Mubasyir Muhammad Rifani Muzdalifah Muzdalifah Nor Asiyah Nor Latifah Novia Rahmadanti Noviani Wulandari Nur Anisah Nur Rusdi Utami Nurin Nisa Farah Diena Nurlina Ayu Hasanah Nurlina Nurlina Nurmelati Septiana Nurul Fitriani Purnama Sari Rahman Robiansyah Rahmat Rizkianor Rahmatullah Ridhani Raihanah Raihanah Rayyan Reyhan Anwar Reny Wijayanti Rifiana Rifiana Ristiani Ristiani Rita Puspitasari Saputra, Riza Adrianoor Shofia Maulida Sidiq Rahmadi Sriyono Sriyono Suherli Suherli Suprijanto Suprijanto Syarbini, Muhammad Tasya Hulwa Laili Wahyu Putri Tasya Zhara Prillia Tegar Rosyadi Umi Salawati Untung Santoso Usamah Hanafie Widiyas Astuti Winda Sari Auliaturridha Yanti, Nuri Dewi Yusuf Azis Zulkarnain Zulkarnain