Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Produksi Usahatani Padi Lokal Pasang Surut Tipe A dan Pasang Surut Tipe B di Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan Muhammad Ariza Fahlefi Alfadillah; Muzdalifah Muzdalifah; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 6, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i3.7804

Abstract

Kecamatan Aluh-Aluh di Kabupaten Banjar merupakan salah satu tempat produksi padi lokal terbanyak. Usaha tani padi lokal memiliki beberapa kendala. Diantaranya, hama, penyakit dan penggunaan faktor-faktor produksi yang digunakan petani kurang efisien. Tujuan dari penelitian ini menganalisis proses produksi usahatani padi lokal pasang surut tipe A dan tipe B dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani padi lokal pasang surut tipe A dan tipe B. Jumlah populasi petani padi lokal yang ada di kecamatan tersebut sebanyak 3.593 petani. Dari jumlah tersebut diambil masing-masing sebanyak 30 petani pada lahan tipe A 30 petani dan lahan tipe B 30 petani dengan teknik proporsional. Analisis data dilakukan dengan menggunakan persamaan fungsi produksi Cobb-Douglas dengan model persamaan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses produksi usahatani padi lokal pasang surut, pada fase pembibitan memerlukan waktu 2 bulan , perawatan memerlukan waktu 5 bulan, pase panen memerlukan waktu 1 bulan dan pascapanen 4 bulan. Mengetahui faktor-faktor produksi dengan menggunakan model regresi diperoleh pada Lahan Pasang surut Tipe A penggunaan benih berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produksi padi, sementara lahan pasang surut tipe B penggunaan pupuk mempengaruhi secara nyata terhadap peningkatan produksi padi di Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar
ANALISIS PENDAPATAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN PETANI KARET DI KECAMATAN LIMPASU KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH Purnama Sari; Nina Budiwati; Luki Anjardiani
Frontier Agribisnis Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i3.640

Abstract

Potensi pengembangan dari salah satu sub-sektor perkebunan, salah satunya adalah perkebunan karet tanaman ini merupakan tanaman perkebunan yang bernilai ekonomis tinggi, dan memiliki peranan yang cukup penting dalam kehidupan perekonomian rakyat. PerkebunanIkaret salah satu pekerjaan utamaIyang diusahakan kebanyakanImasyarakat diIKecamatan Limpasu. Penelitian ini bertujuan mengetahuiIpendapatanIpetani karet diIKecamatan Limpasu dan mengetahui tingkat kesejahteraan petani karet di Kecamatan Limpasu KabupatenIHulu Sungai Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Jumlah sampel responden yang diambil berjumlah 30 sampel dengan metode proportionate random sampling. Berdasarkan hasil penelitian pendapatan yang diperoleh petani karet di Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah rata-rata sebesar Rp 18.545.336/tahun, pendapatan usahatani padi rata-rata sebesar Rp 4.459.000/tahun, dan rata-rata untuk pendapatan nonusahatani sebesar Rp 5.164.000/tahun. Kemudian untuk rata-rata pendapatan rumah tangga petani di Kecamatan Limpasu adalah Rp 28.168.336/tahun. Tingkat kesejahteraan petani di Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah berdasarkan indikator BKKBN rata-rata termasuk dalam sejahtera II sebanyak 30% dan sejahtera III sebanyak 70%. Menurut acuan dari BPS petani di katakan tidak miskin karena rata-rata pendapatan yang di terima petani diatas acuan dari BPS yaitu sebesar Rp 4.092.288/kapita/tahun. Sedangkan menurut acuan dari Bank Dunia terdapat 80% petani yang pendapatan dibawah Rp 9.651.600/kapita/tahun, sisanya 20% yang memiliki pendapatan diatas acuan Bank Dunia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa petani di Kecamatan Limpasu tergolong tidak sejahtera atau miskin dan tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.Kata kunci : pendapatan, tingkat kesejahteraan
ANALISIS PENDAPATAN PETANI PADI LOKAL DAN PETANI PADI UNGGUL DI DAERAH PENGEMBANGAN PAJALE PADA KELOMPOK TANI BERUNTUNG DESA PEJAMBUAN KECAMATAN SUNGAI TABUK KABUPATEN BANJAR Arif Sabila Rosyad; Emy Rahmawati; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 2, No 4 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i4.674

Abstract

Indonesia merupakan negara agraris, artinya pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Sebagai upaya peningkatan hasil padi Kementerian Pertanian telah merancang dan menetapkan Upaya Khusus (Upsus) untuk peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai (PAJALE) secara nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaran usahatani, biaya usahatani, penerimaan, pendapatan, keuntungan dan permasalahan yang dihadapi oleh penyelenggara usahatani. Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Penelitian ini menggunakan metode survey. Pengambilan contoh melalui tiga tahap, pertama menentukan kecamatan mana yang akan diteliti, kecamatan yang dipilih adalah Kecamatan Sungai Tabuk, kedua dilakukan pemilihan dengan wilayah yang lebih kecil, desa yang terpilih adalah Desa Pejambuan, ketiga penentuan kelompok tani, kelompok tani yang terpilih adalah Kelompok Tani Beruntung. Penentuan pemilihan anggota kelompok tani dilakukan secara acak (random sampling) dari 25 anggota kelompok tani diambil masing-masing 10 orang petani padi lokal, dan 10 orang petani padi unggul. Biaya usahatani padi unggul Rp 12.528.700 sedangkan padi lokal Rp 8.489.200. Total biaya eksplisit padi unggul Rp 12.523.700 sedangkan padi lokal Rp 8.489.200. Biaya benih padi unggul Rp 113.029,41 sedangkan padi lokal Rp 163.113,21. Biaya pupuk padi unggul Rp 1.697.970 sedangkan padi lokal Rp 784.800. Biaya pestisida padi unggul Rp 1.215.126,05 sedangkan padi lokal Rp 1.144.340. Biaya tenaga kerja padi unggul Rp 8.860.250 sedangkan padi lokal Rp 6.118.000. Biaya penyusutan alat padi unggul Rp 241.300 sedangkan padi lokal Rp 200.500. Biaya pengairan lahan padi unggul Rp 143.675 sedangkan padi lokal tidak dilakukan pengairan. Biaya total padi unggul Rp 10.269.426,23 sedangkan padi lokal Rp 7.860.370,37. Penerimaan petani padi unggul Rp 20.475.000 sedangkan padi lokal Rp 16.009.259,3. Keuntungan padi unggul Rp 10.205.573,77 sedangkan padi lokal Rp 8.148.888,93. Kendala/permasalahan yaitu pengairan tidak lancar, tanaman padi unggul lebih rentan hama penyakit, perawatan tanaman padi unggul lebih rumit dibandingkan padi lokal, harga jual padi unggul rendah dan belum ada pasar yang pasti.Kata kunci : upsus pajale, usahatani padi, biaya usahatani, penerimaan, pendapatan bersih
Analisis Pemasaran Selada Hidroponik di Banjarbaru (Studi Kasus Iyin Hidroponik) Rahman Robiansyah; Kamiliah Wilda; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i3.10318

Abstract

Hidroponik merupakan metode pertanian inovatif yang melibatkan budidaya tanaman tanpa bergantung pada media tanah tradisional lahan yang sempit dapat dimanfaatkan untuk menanam secara hidroponik. Iyin Hidroponik merupakan salah satu produsen sayuran hidroponik di Kota Banjarbaru terletak di Kelurahan Guntung Payung, Kecamatan Landasan Ulin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis saluran pemasaran dan fungsi pemasaran yang. dan menganalisis besar biaya, margin, keuntungan pemasaran, farmer's share dan efisiensi pemasaran pada Iyin hidroponik. Metode pengumpulan sampel yang digunakan dalampenelitian ini adalah metode Snowball Sampling (bola salju). Berdasarkan hasil penelitian, Saluran pemasaran pada usahatani Iyin Hidroponik terdapat tiga fungsi pemasaran meliputi fungsi pertukaran, fisik, dan fasilitas. Pada saluran I farmer share sebesar 100% dan pada saluran II sebesar 87,5%, pada saluran II biaya pemasaran sebesar Rp578,00/batang dan Rp2.890,00/Kg, keuntungan Rp422,00/Batang dan Rp2.110,00/Kg, margin Rp1.000,00/Batang dan Rp5.000,00/Kg, dengan efisiensi 7,22%. pada saluran III farmer share 70%, biaya pemasaran Rp355,43/Batang dan Rp1.777,15/Kg, keuntungan Rp264,457/Batang dan Rp1.322,285/Kg, margin Rp3.000,00/Batang dan Rp15.000,00/Kg dengan efisiensi 3,55%.
FAKTOR-jaFAKTORkaYANGiiMEMPENGARUHIKONSUMEN DALAMili KEPUTUSANPEMBELIAN BAHAN KEBUTUHAN POKOK SEHARI-HARI DI PASAR MODERN MARTAPURA Muhammad Hamdani; Nina Budiwati; Nurmelati Septiana
Frontier Agribisnis Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i2.2776

Abstract

Penelitiann ini untuk mengidentifikasii karakteristik konsumen untuk melakukan keputusan pembelian kebutuhan pokok sehari-hari dipasar modern Martapura, menganalisis proses pengambilan keputusan pembelian konsumen di pasar modern Martapura, untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam pembelian kebutuhan makanan pokok sehari-hari di pasar modern Martapura, dan mengetahui barbagai permasalahan yang dihadapi konsumen dalam membeli kebutuhan makanan pokok sehari-hari di pasar modern Martapura. Metode pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis faktor. Berdasarkan hasil penelitian, karakteristik konsumen didominasi oleh perempuan (80%) dengan rentang usia 24 hingga 30 tahun (35%), sudah menikah (82%), berdomisili di Sungai Sipai (20%), pendidikan terakhir SMA (42%), berprofesi sebagai ibu rumah tangga (23%), dan mempunyai tingkat pendapatan rrata-ratanya perbulan dengan 2.000.000 - 4.000.000 (57%). Proses keputusan pembelian terdiri dari 5 tahapan yaitu: tahapan pengenalan kebutuhan, tahap pencarian informasi, tahap evaluasi alternatif, tahap keputusan pembelian, tahap pasca pembelian. Keputusan pembelian konsumen pasar modern di Martapura dipengaruhi oleh 7 faktor utama, yaitu: 1) faktor promosi dan Budaya, 2) faktor produk, 3) faktor sumber daya konsumen, 4) faktor pelayanan, 5) faktor harga, 6) faktor tempat dan fasilitas, 7) faktor pengaruh lingkungan.Kata kunci: pasar modern, karakteristik responden, analisis proses keputusan pembelian
Analisis Keuntungan Usaha Sayuran Hidroponik Dengan Media Sosial Dalam Upaya Peningkatan Volume Penjualan (Studi Kasus Pada Usahatani Sayuran Hidroponik “Casual Farmer”) Bela Tiara; Muhammad fauzi; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i1.8270

Abstract

Media sosial pada saat ini sangat cocok dan mendukung bagi bisnis atau usaha yang baru dilakukan. Hal ini dikarenakan dapat menghemat biaya, dapat dikendalikan sendiri tanpa harus merekrut karyawan, waktu atau jam kerja yang tidak terbatas, sert memiliki jangkauan pasar yang luas karena pemasaran online. Pada sisi lain, kehidupan manusia saat ini juga tidak terlepas dari penggunaan platform media sosial sehingga mudah diakses dan memberikan velue positif dalam pengembangan usaha. Tujuan dari penelitian untuk mengidentifikasi penggunaan media sosial dalam upaya peningkatan volume penjualan sayuran hidoponik Casual Farmer, menganalisis saluran pemasaran penjualan sayuran hidroponik Casual Farmer menggunakan media sosial dan pemasaran secara langsung, serta mengetahui biaya pemasaran, marjin pemasaran, dan keuntungan pemasaran dari penjualan sayuran hidroponik Casual Farmer menggunakan media sosial dan pemasaran secara langsung. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan penjualan menggunakan media sosial digunakan untuk melakukan promosi. Saluran pemasaran Casual Farmer melalui media sosial atau pun pemasaran secara langsung memiliki dua saluran yaitu produsen - pengecer - konsumen, produsen - pedagang kebab - konsumen. Biaya pemasaran secara langsung pada saluran I sebesar Rp. 2.656/Kg, marjin pemasaran Rp. 13.000/Kg, dan keuntungan pemasarannya sebesar Rp. 10.344/Kg. Sementara pada saluran I (produsen ke pedagang kebab) tidak dapat dihitung karena pedagang menjual sayuran hidroponiknya dalam bentuk olahan dan pada saluran I (produsen ke pengecer) penjualan melalui media sosial biaya pemasarannya sebesar Rp. 1.383/Kg, marjin pemasaran sebesar Rp. 14.000/Kg, dan Keuntungan pemasaran sebesar Rp. 12.617/Kg.
PENGARUH PENGGUNAAN TEKNOLOGI RICE TRANSPLANTER DAN COMBINE HARSVESTER TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI PADI UNGGUL DI DESA BUNGUR BARU KECAMATAN BUNGUR KABUPATEN TAPIN I Ketut Gegel Ruci Riasa; Hairi Firmansyah; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 4, No 4 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i4.2934

Abstract

Petani sebagai pengelola usahatani menggunakan teknologi rice transplanter dan combine harsvester dengan tujuan untuk memudahkan petani dari segi menanam dan memanen padi dan untuk mengefesienkan tenaga kerja, waktu serta biaya. Tujuan penelitian mengetahui tingkat motivasi petani  yang belum menggunakan teknologi rice transplanter dan combine harsvester, menganalisis pendapatan usahatani petani pengguna teknologi rice transplanter dan combine hasvester sebelum dan sesudah penggunaan, serta mengetahui permasalahan yang dihadapi dan solusi apa saja yang baik untuk  pengguna teknologi rice transplanter dan combine hasvester. Penelitian dilaksanakan di Desa Bungu Baru Kecamatan Bungur Kabupaten Tapin yang pada bulan Agustus 2018 sampai dengan September 2019. Metode sampling yang digunakan Proportionate  Random Sampling. Alat analisis yang digunakan biaya total, peneriman, pendapatan usahatani dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan tingkat motivasi petani yang belum menggunakan teknologi rice transplanter dan combine hasvester berada pada kategori sedang, yaitu 73,26% yang berada pada interval 55,5%£  TM < 77,77%. Rata-rata pendapatan sesudah menggunakan teknologi rice transplanter dan combine hasvester sebesar Rp17.543.155,04/hektar, sedangkan petani sebelum menggunakan teknologi tersebut rata-rata pendapatan yang diperoleh sebesar Rp13.328.419,68/hektar. Masalah utama yang dijumpai dalam menggunakan teknologi pertanian, yaitu mahalnya nilai biaya operasional dan jumlah teknologi pertanian yang relatif sedikit.
PERSEPSI PETANI PADI TERHADAP PERAN PENYULUH PERTANIAN DI KECAMATAN CEMPAKA KOTA BANJARBARU Nor Asiyah; Nina Budiwati; Usamah Hanafie
Frontier Agribisnis Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i2.622

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi petani padi terhadap peran penyuluh pertanian dan kenadala yang dihadapi penyuluh pertanian di Kecamatan Cempaka kota Banjarbaru. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. analisis data mengunaka Skala Likert yang berdasarkan dari 16 pernyataan , dengan total respoden 25 petani. Dari hasil didapat bahwa total skor adalah 1.464 dengan indeks 73,2% dengan demikian persepsi petani padi tergolong baik. Secara umum, Permasalahan yang sering dihadapi penyuluh dalam melaksankan tugasnya di Kecamatan Cempaka yaitu sulitnya merubah perilaku petani dalam menerima masukkan-masukkan dari penyuluh, petani yang umumnya sulit merubah perilaku ini berada pada kisaran umur diatas 45 tahun. Keadaan iklim yang berubah-berubah merupakan masalah lain yang dihadapi oleh penyuluh dalam meningkatkan produktivitas petani binaanya. Permasalahan lain yang di hadapi penyuluh yaitu masih kurang sarana dan prasarana penyuluhan, terkadang pembiayaan dalam melengkapi sarana kelompok tani dikeluarkan oleh paran petani, bukan dari anggaran pemerintah.Kata kunci : peran penyuluh pertanian, persepsi petani padi.
Analisis Komparatif Keuntungan Padi Unggul (Vub) Inpari 30 Menggunakan Hand Tractor dan Non Hand Tractor pada Persawahan Pasang Surut Kelurahan Selat Dalam, Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah Ferry Julianandra; Muhammad Fauzi; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i3.1271

Abstract

Abstrak. Padi merupakan komoditas pangan strategis di Indonesia, sehingga dari tahun ke tahun kebutuhan akan padi semakin meningkat sehingga usahatani padi juga berkembang agar memenuhi kebutuhan. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui perbedaan produktivitas, keuntungan dan pendapatan, serta mengetahui hasil produktivitas padi dan keuntungan menggunakan uji T usahatani petani padi hand tractor dan non hand tractor di Kelurahan Selat Dalam. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan November 2018 sampai dengan Februari 2019 di Kecamatan Selat. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Responden sebanyak 30 orang petani padi hand tractor dan 30 orang petani padi non hand tractor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produktivitas usahatani padi hand tractor adalah 4.760 kg/usahatani dan 4.644 kg/ha, sedangkan produktivitas usahatani padi non hand tractor adalah 3.448 kg/usahatani dan 2.893 kg/ha. Rata-rata pendapatan petani padi hand tractor adalah sebesar Rp 15.775.773,-/usahatani dan Rp 15.390.998,-/ha. Rata-rata pendapatan petani padi non hand tractor adalah sebesar Rp 11.281.240,-/usahatani dan Rp 9.466.775,-/ha. Rata-rata keuntungan petani padi hand tractor adalah sebesar Rp 10.893.040,-/usahatani dan Rp 10.627.356,-/ha. Sedangkan untuk keuntungan petani padi non hand tractor sebesar Rp 5.908.907,-/usahatani dan Rp 4.958.523,-/ha. Berdasarkan pengujian untuk hasil produktivitas padi menunjukkan bahwa nilai T hitung (16,814) lebih besar dibandingkan  dengan nilai T tabel (2,002), dan untuk keuntungan menunjukkan bahwa nilai T hitung (4,062) lebih besar dari pada T tabel (2,002). Sehingga secara uji statistik produtivitas dan  keuntungan per usahatani maupun per hektar yang diterima petani padi hand tractor signifikan lebih besar dibandingkan dengan petani padi non hand tractor.Kata kunci: Komparatif, keuntungan, pendapatan, produktivitas, uji T
Analisis Pendapatan Petani Program Serasi di Desa Karya Bersama, Kecamatan Kapuas Murung Kabupaten Kapuas Adi Adi; Nina Budiwati; Muzdalifah Muzdalifah
Frontier Agribisnis Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i1.5994

Abstract

Program SERASI (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani) merupakan salah satu program dari Kementerian Pertanian untuk mengoptimalkan fungsi lahan rawa sebagai suatu usaha meningkatkan produktivitas petani. Program ini dilakukan melalui kegiatan optimasi lahan dengan perbaikan infrastruktur air, bantuan budidaya padi, dan bantuan alsintan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pendapatan petani Program SERASI, pelaksanaan Program SERASI, serta kendala yang dihadapi petani. Metode pengambilan contoh yang digunakan adalah random sampling (sampel acak) dengan menggunakan 30 responden. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya variabel sebesar Rp. 1.837.922/ha yang terdiri dari biaya input produksi sebesar Rp. 174.952/ha dan biaya TKLK Rp. 1.662.970/ha. Penerimaan yang diperoleh petani sebesar Rp. 6.622.632/ha dengan produksi rata-rata 1.416kg/ha. Pendapatan yang diperoleh sebesar Rp. 4.784.710/ha. Pelaksanaan Program SERASI belum optimal. Kegiatan yang terlaksana meliputi: Bantuan alsintan pra panen, bantuan budidaya padi. Terjadi peningkatan indeks pertanaman menjadi dua kali musim tanam selama setahun (IP 180) dan petani mendapatkan tambahan poduksi padi varietas unggul sebesar 1,4 t/ha. Kendala yang dihadapi petani meliputi: infrastruktur air minum, benih padi diduga kurang berkualitas, serangan hama tikus dan burung pipit, curah hujan tinggi, lahan sawah tergenang saat panen, dan tingkat kesuburan tanah rendah.
Co-Authors Abdurrahman Abdurrahman Abdussamad Abdussamad Adi Adi Agus Agus Agus Tri Handayani Ahmad Yousuf Kurniawan Amelia Amelia Andri Hidayat Arif Sabila Rosyad Artahnan Aid Aslamiah Aslamiah Asmawati Asmawati Ayda Iriani Ayu Yuli Yanti Bayu Nurkholis Bela Tiara Bella Anggraini Borneo Ayu Apriyani Dhea Widyasari Djoko Santoso Edwin Thomas Ramadhany Eka Husna Aulia Eka Radiah Emy Rahmawati Erma Fuzianti Eva Dwi Suryati Fadhillah Saputra Ferrianta, Yudi Ferry Julianandra Hairi Firmansyah Hairin Fajeri Hamdani I Ketut Gegel Ruci Riasa Insinul Riki Kamiliah Wilda Komariah Komariah Lalan Suprila Leni Anggriani Luki Anjardiani mahdaniah mahdaniah Mahrita Mahrita Marhamah Marhamah Mariana Pebriana Simanjuntak Mariani Mariani Masyhudah Rosni Meidila Mazaya Amajida Mira Yulianti Mochammad Misbakhul Khoiron Mufi Jatur Rahmi Muhammad Amin Badali Muhammad Ariza Fahlefi Alfadillah Muhammad Fauzi Muhammad Firdaus Muhammad Hamdani Muhammad Husaini Muhammad Husaini Muhammad Lutfi Hapiz Muhammad Mubasyir Muhammad Rifani Muzdalifah Muzdalifah Nor Asiyah Nor Latifah Novia Rahmadanti Noviani Wulandari Nur Anisah Nur Rusdi Utami Nurin Nisa Farah Diena Nurlina Ayu Hasanah Nurlina Nurlina Nurmelati Septiana Nurul Fitriani Purnama Sari Rahman Robiansyah Rahmat Rizkianor Rahmatullah Ridhani Raihanah Raihanah Rayyan Reyhan Anwar Reny Wijayanti Rifiana Rifiana Ristiani Ristiani Rita Puspitasari Saputra, Riza Adrianoor Shofia Maulida Sidiq Rahmadi Sriyono Sriyono Suherli Suherli Suprijanto Suprijanto Syarbini, Muhammad Tasya Hulwa Laili Wahyu Putri Tasya Zhara Prillia Tegar Rosyadi Umi Salawati Untung Santoso Usamah Hanafie Widiyas Astuti Winda Sari Auliaturridha Yanti, Nuri Dewi Yusuf Azis Zulkarnain Zulkarnain