Claim Missing Document
Check
Articles

TATALAKSANA PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR PASIEN ANAK DENGAN SINDROM NEFROTIK RESISTEN STEROID Ardiansyah, Miko; Muniroh, Lailatul
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i2.27196

Abstract

Sindrom nefrotik merupakan salah satu sindrom yang ditandai adanya kelainan pada ginjal sehingga memerlukan asuhan gizi guna menurunkan risiko komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil implementasi tatalaksana proses asuhan gizi terstandar pada pasien anak sindrom nefrotik resisten steroid, syok hipovolemik, vomiting, gastroenteritis, leukositosis, trombositosis, acute kidney injury (AKI), hiperuricemia, hipoalbumin, hiponatremia, dan asidosis metabolik. Studi kasus ini dilakukan di RS X berlokasi di Surabaya selama tiga hari pada 26 Oktober-28 Oktober 2023. Metode penelitian ini adalah studi kasus dengan desain observasional analitik. Tatalaksana asuhan gizi yang dilakukan meliputi asesmen, diagnosis gizi, intervensi, monitoring dan evaluasi. Data yang diperoleh saat asesmen serta monitoring evaluasi berupa data asupan makan, hasil pengukuran antropometri, hasil pemeriksaan biokimia, dan hasil pemeriksaan fisik klinis yang didapatkan melalui wawancara dan data rekam medis pasien. Kemudian, data dianalisis secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah pengamatan selama tiga hari menunjukkan bahwa asupan pasien belum memenuhi target asupan yang diberikan, hasil pemeriksaan biokimia menunjukkan mayoritas parameter terjadi penurunan menuju nilai normal apabila dibandingkan dengan hasil pemeriksaan biokimia saat dilakukan asesmen, hasil pemeriksaan fisik klinis pasien menunjukkan perbaikan meskipun masih terjadi penumpukan cairan di seluruh tubuh. Simpulan dari penelitian ini adalah hasil tatalaksana proses asuhan gizi terstandar mampu membantu memperbaiki kondisi pasien meskipun belum memenuhi target yang ditetapkan. Dengan demikian, perlu dilakukannya pengkajian gizi secara berulang sesuai dengan hasil pemantauan kondisi pasien untuk memberikan asupan makanan yang sesuai sehingga memaksimalkan asupan pasien.
HUBUNGAN TINGKAT KECUKUPAN ZAT GIZI (E, P, L, K) DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK PRASEKOLAH Endriano, Firn Al Taftazani; Hakiki, Muchammad Insan Kharisma; Muniroh, Lailatul
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i2.29602

Abstract

Anak prasekolah memerlukan kondisi dan stimulasi yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Perhatian terhadap nutrisi dan pola makan yang tepat sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang anak. Namun, seringkali terdapat masalah kesulitan makan pada anak, seperti perilaku picky eater, yang berdampak pada status gizi anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku picky eater dengan status gizi pada anak prasekolah di Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross- sectional yang dilakukan pada bulan Juni tahun 2023. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 198 siswa dengan besar sampel sebanyak 64 siswa. Pengambilan sampel menggunakan teknik proportional random sampling. Pengumpulan data meliputi pengukuran antropometri dan pengisian kuesioner Child Eating Behaviour Questionnaire. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman Rank Correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 51,6% subjek memiliki perilaku picky eater. Sebagian besar subjek dalam penelitian ini memiliki status gizi yang tergolong berat badan normal dan gizi baik. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku picky eater dengan status gizi BB/U (p=0,018), namun tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan status gizi IMT/U (p=0,105). Dapat disimpulkan bahwa semakin anak tidak memiliki perilaku picky eater, maka semakin tinggi Z-score status gizi (BB/U) pada anak prasekolah. Sebaiknya orang tua tetap mendukung proses tumbuh kembang anak secara optimal dengan cara memerhatikan pola makan dan asupan nutrisi anak.
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KECENDERUNGAN ANOREXIA NERVOSA PADA SISWI SMA 2 SURABAYA Christa, Theresa Angelina; Muniroh, Lailatul
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.29808

Abstract

Status gizi merupakan ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi dan penggunaan zat-zat gizi yang dikaitkan dengan berat badan dan tinggi badan seseorang. Masa remaja merupakan fase transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Masa remaja dapat dicirikan dengan adanya perubahan biologis, psikologis, dan sosial. Pemenuhan nutrisi bagi remaja sangat penting diperhatikan untuk memiliki kondisi tubuh yang sehat dan terhindar dari kondisi-kondisi yang memicu seseorang kekurangan energi, salah satunya anorexia nervosa yang biasa terjadi pada remaja putri. Hal ini dikarenakan adanya krisis identitas sosial yang menjadi masalah utama yang harus dihadapi oleh remaja khususnya remaja putri dimulai dengan pembentukan awal kepribadian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi dengan kecenderungan anorexia nervosa pada siswi di SMA 2 Surabaya. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 75 siswi, yang dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Pengumpulan data mencakup pengukuran antropometri, pengisian kuesioner tentang pengetahuan Anorexia Nervosa, Body Shape Questionnaire-34 (BSQ-34), dan kuesioner kecenderungan Anorexia Nervosa. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank Correlation. Terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kecenderungan anorexia nervosa dengan derajat cukup (r=0,556) dan arah hubungan positif, yang artinya semakin tinggi Z-score status gizi berdasarkan IMT/U pada remaja perempuan, maka semakin tinggi tingkat kecenderungan anorexia nervosa. Oleh karena itu, diperlukan adanya peningkatan awareness terhadap kecenderungan anorexia nervosa serta perlu dilakukannya deteksi dini terhadap kecenderungan anorexia nervosa pada remaja untuk mencegah terjadinya keparahan.
The PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR PASIEN ANAK DENGAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DAN BRONKITIS Rahmah, Aulia; Muniroh, Lailatul
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diet Tinggi Kalori dan Tinggi Protein (TKTP) dapat diberikan kepada pasien anak yang menderita penyakit infeksi seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan bronktis. Diet TKTP diberikan dengan jumlah energi dan protein tinggi sesuai dengan kondisi penyakit yang diderita pasien dengan tujuan mencegah kerusakan jaringan akibat penyakit infeksi yang diderita oleh pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil implementasi tatalaksana Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) pada pasien anak demam berdarah dan bronkitis. Studi kasus ini dilakukan di RS X di Surabaya selama tiga hari berturut-turut pada bulan September 2023. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan desain observasional analitik. Tatalaksana asuhan gizi yang dilakukan meliputi asesmen, diagnosis gizi, intervensi, monitoring dan evaluasi. Data yang diperoleh meliputi data identitas pasien, asupan makan, antropometri, biokimia, fisik/klinis, serta hasil monitoring dan evaluasi yang didapatkan melalui food recall, food record, visual comstock, wawancara, pengukuran antropometri, dan rekam medis pasien. Selanjutnya, data dianalisis secara deskriptif. Hasil pemantauan selama tiga hari menunjukkan bahwa asupan pasien mengalami peningkatan dan beberapa zat gizi telah memenuhi target, hasil pemeriksaan biokimia menunjukkan beberapa parameter sudah mencapai nilai normal yang diharapkan, dan hasil pemeriksaan fisik/klinis pasien juga menunjukkan perbaikan dengan suhu tubuh normal, nadi normal, dan tidak muntah. Diet tinggi kalori dan tinggi protein dapat terus dilanjutkan dengan pengkajian ulang terhadap perkembangan kondisi pasien seiring waktu
HUBUNGAN TINGKAT STRES DAN EMOTIONAL EATING DENGAN STATUS GIZI PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR Fadilah, Nurul; Muniroh, Lailatul; Zulkarnain, Shamarayunda
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.30163

Abstract

Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan peningkatan masalah overweight dan obesitas pada individu 18 tahun ke atas dari 2007 hingga 2018. Meski mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat telah memperoleh pengetahuan tentang kesehatan dan gizi selama perkuliahan, permasalahan gizi masih terjadi. Penyusunan skripsi membawa kendala dan tuntutan, meningkatkan tingkat stres pada mahasiswa tingkat akhir. Makanan sering dijadikan pelarian untuk mengatasi tekanan, dan memicu perilaku makan emotional eating. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara tingkat stres, emotional eating dan status gizi pada mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini berjenis observasional dengan desain cross-sectional di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Sampel berjumlah 53, diambil melalui teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui Google-form yang mencakup karakteristik responden, kuesioner tingkat stres dan emotional eating. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson melalui SPSS versi 25. Hasilnya menunjukkan mayoritas responden mengalami tingkat stres sedang (54,3%), melakukan emotional eating (67,4%) dan 43,4% memiliki status gizi kurang baik. Terdapat hubungan signifikan antara tingkat stres (p=0,040) dan emotional eating (p=0,010) dengan status gizi. Kesimpulannya, mahasiswa tingkat akhir dengan status gizi kurang baik cenderung mengalami tingkat stres lebih tinggi dan melakukan emotional eating dibandingkan dengan yang memiliki status gizi normal. Disarankan bagi responden untuk melakukan manajemen stres, mengonsumsi makanan sehat, serta berolahraga teratur.
STUDY OF Coleus amboinicus STEM EXTRACT IN INHIBITING MACROPHAGE CD-68 EXPRESSION IN WISTAR RATS WITH URIC ACID-INDUCED NEPHROPATHY Solfaine, Rondius; Mubarokah, Wida Wahidah; Muniroh, Lailatul
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 13, No 3 (2019): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v13i3.14266

Abstract

The purpose of this study was to evaluate effect of Coleus amboinicus (CA) stem extracts on uric acid-induced nephropathy by comparingthe levels of Macrophage CD-68 expression and concentration of serum Cystatine C (CYS C ) in Wistar rats. Twenty-four male Wistar rats(Rattus norvegicus) with a body weight (bw) of 200-250 g, were allocated into three groups, with eight animals per group. The rats in controlgroup (PO) received 0.1% carboxymethyl cellulose (CMC) solution orally The rats in group 2 (P1) were orally induced with uric acid (UA) (500mg/kg) and oxonic acid (OA) (750 mg/kg.) and the rats in group 3 (P2) received uric acid (500 mg/kg), oxonic acid (750 mg/kg), and 500 mg/kgof the CA stem extracts for 35 days. Bloods were collected for analysis of serum CYS C expression and concentration of serum creatinine andblood nitrogen urea (BUN). The rats in all groups were sacrificed for kidney tissue extractions for macrophage CD-68 identification andhistopathology analysis. The levels of CYS C concentrations were analyzed by Avidin-Horseradish Peroxidase (HRP) Sandwich-ELISA. Theresults showed that Coleus amboinicus stem extract at dose of 500 mg/kg bw can significantly reduce BUN and creatinine levels (P0.05), whileCys C levels were not different. In the treatment group (P2) compared with group (P1). CD-68 (ED-1) macrophage activity decreasedsignificantly (P0.05) in the treatment group (P2) compared to the control group and (P1). Nephrophaty induction using UA and OA causessevere kidney lesions characterized by degeneration, necrosis and inflammation of the renal tubules and glomerulus in the treatment group.
Hubungan Perilaku Ibu dalam Pemberian MP-ASI Dengan Kejadian Gerakan Tutup Mulut dan Status Gizi pada Baduta Maulidya, Hikmah; Muniroh, Lailatul
Media Gizi Kesmas Vol 9 No 1 (2020): MEDIA GIZI KESMAS (JUNE 2020)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v9i1.2020.23-28

Abstract

Latar Belakang: Gerakan Tutup Mulut atau lebih dikenal dengan istilah GTM yaitu kesulitan makan atau menolak makan yang sering kali dialami anak pada tahun pertama. Usia 6 – 9 bulan merupakan masa kritis dalam memperkenalkan makanan padat secara bertahap. Perilaku ibu dalam pemberian makanan pendampain ASI (MPASI) pada anak akan mempengaruhi ibu untuk memilih dan menyiapkan makanan anak untuk mendapatkan status gizi yang baik.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan perilaku ibu dalam pemberian MPASI dengan kejadian GTM dan status gizi pada baduta di wilayah kerja Puskesmas Bulukandang Kabupaten Pasuruan.Metode: Penelitian ini adalah obeservasional analitik dengan desain cross sectional. Responden  dalam penelitian ini sebanyak 72 responden ibu dengan anak usia 6 – 24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Bulukandang Kabupaten Pasuruan. Variabel penelitian meliputi perilaku ibu dalam pemberian MPASI kejadian gerakan tutup mulut (GTM) dan status gizi baduta. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan pengukuran antropometri. Analisi data menngunakan uji statistik chi-Square.Hasil: Perilaku responden di atas 70% menunjukkan kategori baik. Masalah GTM terjadi hampir pada semua baduta dengan presentase 75%. Status gizi baduta rata – rata memiliki status gizi yang baik diatas 80%. Terdapat hubungan antara perilaku (p = 0,024) ibu dalam pemberian MPASI dengan kejadian GTM pada baduta. Tidak terdapat hubungan antara perilaku dengan status gizi baduta.Kesimpulan: Perilaku ibu dalam pemberian MPASI masih menggunakan distraksi berupa tontonan youtube sebagai pengalihan agar anak mau makan serta memilih menggendong anak dalam proses makan dari pada meletakkan anak dengan posisi duduk yang benar. Perilaku tersebut dapat menjadi faktor GTM pada anak.ABSTRACTBackground: Mouth Shut Movement, better known as GTM, is an eating difficulty or refusing to eat which is often experienced by children in the first year. Age 6-9 months is a critical period in introducing solid foods gradually. Mother's behavior in giving complementary feeding to the child will influence the mother to choose and prepare the child's food to get good nutritional status.Objective: This study aims to analyze the relationship between the maternal behavior in giving complementary feeding with the case of GTM and nutritional status of under two in the working area of the Bulukandang Health Center in Pasuruan Regency.Methods: This research is an observational analytic with cross sectional design. The respondents in this study were 72 mothers with children in aged 6-24 months in the working area of the Bulukandang Health Center in Pasuruan Regency. The research variables include the maternal behavior in the administration of MPASI, the case of the movement to shut up (GTM) and nutritional status of the under two years old. Data collection techniques uses questionnaires and anthropometric measurements. Data analysis uses the chi-square statistical testResults: The behavior of respondents above 70% shows a good category. The GTM problem occurs in almost all under two children with a 75% percentage. Nutritional status of child under two years old, on average, has a good nutritional status above 80%. There is a relationship between the behavior (p = 0.024) of the mother in giving complementary feeding with the case of GTM in the under two years. There is no relationship between behavior and nutritional status of child under two years old.Conclusion: Mother's behavior in giving MPASI still uses distractions in the form of youtube watching as a diversion, so that the child wants to eat. Moreover, the mother chooses to carry the child in the process of eating rather than putting the child in the correct sitting position. This behavior can be a factor of GTM to children.
Proses Asuhan Gizi Terstandar pada Pasien dengan Autoimun dan Sirosis Hepatis Thalita, Kanasya; Muniroh, Lailatul
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 24, No 3 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v24i3.5451

Abstract

Liver cirrhosis is a pathological condition of the liver that defines the end stage of hepatic fibrosis. Liver cell damage will lead to disruption of the liver structure and increased vascularization, causing enlargement of blood vessels in the gastric and esophageal areas. Liver cirrhosis is often caused by history of infection with hepatitis B virus or hepatitis C virus. Other causes include a family history of liver disease, excessive alcohol consumption, and a history of autoimmune disease. Providing a liver diet as one of the standardized Nutrition Care Process (NCP) for this disease aims to achieve and maintain optimal nutritional status without burdening liver function. The purpose of the case study is to find out the process of standardized nutritional care process for patients with autoimmune and liver cirrhosis through providing a liver diet. The case study was conducted in September 2023 at patients in Hospital X Surabaya. After monitoring and evaluation, the patient’s energy, protein, fat, and carbohydrates intake domains increased even though they had not yet reached the fulfillment target (<80%), the patient’s biochemistry domain was not received because the monitoring time was short, the patient’s physical/clinical condition continued to improve until the third day. The progress of the patient’s recovery over three days always increases. Starting with the stabilized appetite, the food intake received by patient increases so the patient’s physical and clinical condition continues to improve.
Analisis Faktor Predisposing, Enabling, dan Reinforcing terhadap Kecukupan dan Jumlah Asupan Zat Gizi Mahasiswa Asing di Surabaya, Indonesia Ilyas Ibrahim, Fitriyah Shuci Rahmawaty; Muniroh, Lailatul; Levina, Airin
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 24, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v24i1.4524

Abstract

Dietary habits or consumption patterns refers to the arrangement and quantity of food consumed by individuals or groups within a specific period. Dietary habits can influence daily patterns, affecting an individual’s nutritional intake and adequacy. For foreign college students, the process of adapting to environmental changes can alter their eating habits. The purpose of the study was to analyze the relationship between predisposing, enabling, and reinforcing factors of dietary habits with the nutritional intake and adequacy of foreign college students in Surabaya. This study adopts a cross-sectional design with a sample size 30 foreign students selected through snowball sampling. Data was collected using in-depth interviews and questionnaires with Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire and Dietary History as instruments. Statistical analysis includes Pearson correlation test and chi-square test. According to the results, there was a weak correlation between gender and energy adequacy. Weak correlation was also found between age, food expenditure, income, and cooking habits with nutritional intake. A weak correlation was identified between residential area and energy adequacy. There was also a moderate correlation between food access and levels of energy adequacy, while a strong correlation between social environment and energy adequacy. The conclusion of this study is predisposing, enabling, and reinforcing factors related to dietary habits of foreign college studentsinclude age, gender, food access, income, food expenditure, residential area, social environment, and cooking habits.
Persepsi Terhadap Ekspresi Emosi Orang Tua dengan Risiko Terjadinya Problem Mental pada Remaja Tri Kurniati Ambarini; Nurul Hartini; Inas Ngesti Pribadi; Lailatul Muniroh
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52630

Abstract

Emotional expression (EE) is an important indicator for predicting the emergence of mental disorders. EE represents several key dimensions of interpersonal relationships and is commonly classified within families into two major components: critical comments (CC) and emotional over-involvement (EOI) (Nurtantri, 2005). Beyond its predictive capacity for the onset of psychological or psychiatric disturbances, EE also plays a crucial role in preventing relapse among individuals with a history of mental illness. Mapping patterns of emotional expression within families particularly among parents of adolescents with an at-risk mental state (ARMS) is therefore essential for preventive efforts aimed at reducing the likelihood of developing psychological or psychiatric disorders. This study aims to examine the relationship between parental EE patterns and ARMS among adolescents in Surabaya. Using a survey method involving 78 respondents, Pearson’s correlation test revealed a correlation coefficient of r = 0.495 between perceptions of EE and ARMS, indicating that the research hypothesis is supported. The findings demonstrate a positive relationship between perceived EE and ARMS, meaning that higher levels of perceived EE are associated with a greater risk of psychosis.
Co-Authors Abdul Aziz Abdullah Syakur Novianto Abihail, Chrysoprase Thasya Ade Lia Ramadani Ade Lia Ramadani Adhelia Niantiara Putri Adiningsih, Sri Agustin Asri Meidyah Airin Levina Ajeng Diva Putri Maharani Alfadhila Khairil Sinatrya Alfin Lailatul Fadilah Alifatuz Zahrah Alya Pradnyaparamita Amanda Nurqisthy Amany, Dhiaulhaq Ambarini, Tri Kurniati Amelia Yomanda Anggraeny Monica Putri Anis Zaiti Mubarokah Anisa Lailatul Fitria Anisah Firdaus Rahmawati Anisaul Makarimah Anja Farahyani Ferwanda Annas Buanasita Annis Catur Adi Annisa Risqi Wulandari Aprilia, Syifa Kanza Ardiansyah, Miko Arian Susanti Dewi Cahyani Aries Nilla Dwi R.N Aries Nilla Rahayuningsih Arini Rahmatika Sari Arnoveminisa Farinendya Arum Damar Aditya Bayu Sukma Aulia Rahmah Azizah, Bertaniezia Nur Bahtiar, Dimas Vigo Bella Hayyu Risky Herlistia Bessy, Nilam Sahnur Cahyanti, Ika Yuniar Chandramanda Dewi Damara Cholifatun Ni’mah Christa, Theresa Angelina Chrysoprase Thasya Abihail Chrysoprase Thasya Abihail Cindhy Pamela Kesuma Cynthia Almaratus Sholicha Dewi Sekarani Paramita Dhenok Widari Diah Indriani Dian Anita Nilawati Dila Ningrum Dinda Ayu Lestari Basuki Dinda Laminia Dini Ririn Andrias Dominikus Raditya Atmaka Elfira Elfiyanti Endriano, Firn Al Taftazani Evita Hasana Putri Faizzatur Rokhmah Fannani, Muhammad Rovi Tanwirul Fanti Septia Nabilla Fanti Septia Nabilla Farapti Farapti Faricca Kusuma Widyaningsih Fenny Putri Maharani Ferestha, Reyfika Diva Fina Zahrotun Ni&#039;mah Fina Zahrotun Ni'mah Firyal Faris Naufal Firyal Faris Naufal Gracela, Eveline Hafifah Rahmi Indita Hafifah Rahmi Indita Hakiki, Muchammad Insan Kharisma Hashifah Dzihniyah Zhafirah Hasna Izdihar Ilyas Ibrahim, Fitriyah Shuci Rahmawaty Imas Nur Jannah Inas Ngesti Pribadi Intan Sekar Putri Nugroho Isaura, Emyr Reisha Ismi Faizah Iwan Sahrial Hamid Karina Septea Asie Sawong Ketut Herlin Simanoah Ketut Herlin Simanoah Khasanah, Indi Julia Ridhatul Khaulah Ali Badjree Khoiroh, Mawadatul Khusnatul Mar'atik Laila Maulida Hidayah Lailata, Irina Lailatul Masruroh Lailatul Masruroh Latersia, Yovicristy Levina, Airin Levina, Airin Lydia Verdiana Maharani, Fenny Putri Mahmud Aditya Rifqi Margareta Fatimah Azzahra Maria Alfa Kusuma Dewi Maria Alfa Kusuma Dewi Maryam Jamilah Maulidya, Hikmah Mentari Indah Saputri Merryana Adriani Mita Femidio Mubarokah, Wida Wahidah Muchammad Insan Kharisma Hakiki Muhammad Kris Yuan Hidayatulloh Muhammad Risqi Ihya Ramdhan Mulyadi, Rafiqi Dwi Nadia Kenyo Peni Dewantoro Nandia Firsty Dhorta Nasiruddin, Mukhammad Nastiti, Aliffah Nurria Nelsa Kurnia nFN Arikah, nFN Nur Hikmah Wati Nurul Fadilah, Nurul Nurul Hartini Nurul Mawaddah Nyoman Wahyu Meta Wulandari Ona Oktalina Pandwita, Siska Mareta Prasetyo, Moch Richo Pratiwi Azizah Ajeng Pratiwi, Rachmahnia Puspikawati, Septa Indra Puspita, Fina Intan Putri May Wahyu Laili Putri Nia Mulyono Putri, Anggraeny Monica Qurrota A’yun Nur Rahmadani Rachmah, Qonita Rafita Fauziah Rania Salsabila Rahma Ratna Dwi Puji Astuti Renatasaskia Nurkusumahputri Retty Anisa Damayanti Riswandha Ichsan Noor Riza Amalia Rizki Kurnia Illahi Rizky Prihandari Rizqita Catur Wulandari Rondius Solfaine Said, Avicenna Muhammad Salsabila Farahdea Nindyaningrum Salsabila Farahdea Nindyaningrum Santi Martini Santosa, Faradyah Lulut Shamarayunda Zulkarnain Shanty Oktavia Shintia Yunita Arini, Shintia Yunita Silvia Alfinnia Silvia Alfinnia Alfinnia Siti Helmyati Siti Rahayu Nadhiroh Sobhita Paramita Socadevia, Annisa Sofia, Himatus Sri Sumarmi Tetasa, Sarah Thalita, Kanasya Tiffany Hadi Jaya Triska Susila Nindya Tsamara Alifia Ramadhani Ulaganathan, Vaidehi Ulfah, Zakiyyah Vidya Anggarini Rahmasari Wanda Aisyah Rahmaniasari Wida Wahidah Mubarokah Wida Wahidah Mubarokah Wida Wahidah Mubarokah Wigati Maria Yovicristy Latersia Yuly Sulistyorini Zuhairoh Naily Syarofi Zuhro, Nurhidayatus Zulfa Taqiyyah Ramadhani Zulfa Taqiyyah Ramadhani Zulkarnain, Shamarayunda