Claim Missing Document
Check
Articles

PRODUCTIVITY AND FRESH SEMEN CHARACTERISTICS OF SIMMENTAL BULL DIFFERENT AGES Faisal Amri Satrio; Ni Wayan Kurniani Karja; Mohamad Agus Setiadi; Ekayanti Mulyawati Kaiin; Asep Kurnia; Bambang Purwantara
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 16, No 1 (2022): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.363 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v16i1.23487

Abstract

This study aimed to determine the effect of age on bulls’ productivity and fresh semen characteristics of Simmental bull in Indonesia. A total of 1071 data of semen collection and production from four age groups (two years old (yo), four yo, ≥ 10 yo with high semen rejection (≥10 HR), and ≥ 10 yo with low semen rejection (≥10 LR) were used in this study to evaluate the productivity and characteristics of fresh semen. The results showed that the pre-freezing and post-freezing semen rejection rate of ≥10 HR group was higher (P0.05) than the other groups. The four yo group had the percentage of second semen ejaculation each collection was higher (P0.05) than the other groups. Furthermore, semen volume, sperm concentration, and total sperm concentration significantly increased (P0.05) until four yo and then decreased (P0.05) in ≥ 10 yo groups. The ≥10 HR group had the volume and total sperm concentration significantly different (P0.05) with a group of ≥10 LR. Total sperm motility, individual motility, and mass movement were lower (P0.05) in ≥10 HR than the other groups. In conclusion, age differences of bulls can affect the productivity and characteristics of fresh semen.
TINGKAT PERKEMBANGAN AWAL EMBRIO SAPI IN VITRO MENGGUNAKAN MEDIA TUNGGAL BERBAHAN DASAR TISSUE CULTURE MEDIUM (TCM) 199 Mohamad Agus Setiadi; Ni Wayan Kurniani Karja
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 2 (2013): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.163 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i2.930

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan perkembangan awal embrio sapi in vitro menggunakan media tunggal untuk maturasi, fertilisasi, dan kultur berbahan dasar tissue culture medium (TCM) 199. Oosit sapi dikumpulkan dari rumah potong hewan dengan teknik aspirasi dan diklasifikasikan berdasarkan kekompakan sel kumulus dan sitoplasma yang homogen. Oosit dimaturasi pada medium TCM 199 yang disuplementasi dengan 10 IU/ml pregnant mare’s serum gonadotropin (PMSG), 10 IU/ml human chorionic gonadotropin (hCG), dan 10% fetal bovine serum (FBS), dilakukan selama 24 jam pada inkubator 5% CO2, 39 C. Fertilisasi dilakukan pada dua media yang berbeda yaitu media rutin fertilisasi dan media berbahan dasar TCM 199 dengan suplemen bovine serum albumin (BSA) dan heparin. Setelah fertilisasi, kumulus sel dihilangkan (denudasi), kemudian dikultur pada media TCM 199 yang disuplementasi dengan asam amino esensial dan non-esensial serta 10% FBS selama 3 hari. Hasil penelitian menunjukkan tingkat maturasi oosit pada sistem yang digunakan mampu mendukung 81,5% oosit mencapai tahap metafase II (M-II). Tingkat pembelahan embrio lebih tinggi pada media rutin dibandingkan dengan media TCM 199 yakni masing-masing 44,4 dan 23,2%. Jumlah embrio tahap 4-8 sel pada kedua perlakuan tidak berbeda nyata. Dapat disimpulkan media tunggal berbasis TCM dapat digunakan untuk produksi embrio in vitro.
PROFIL BIOKIMIA DARAH PADA SAPI PERAH YANG MENGALAMI KAWIN BERULANG Surya Agus Prihatno; Asmarani Kusumawati; Ni Wayan Kurniani Karja; Bambang Sumiarto
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 1 (2013): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.441 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i1.561

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui profil biokimia darah pada sapi perah yang mengalami kawin berulang. Sapi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua puluh ekor sapi perah peranakan Friesian Holstein, berumur 3-8 tahun sudah pernah beranak minimal satu kali, mempunyai siklus reproduksi normal, dan kondisi tubuh sehat. Seluruh sapi dibagi ke dalam dua kelompok yang masing-masing terdiri atas 10 ekor sapi. Kelompok I adalah sapi fertil sedangkan kelompok II adalah sapi yang telah diinseminasi lebih dari tiga kali tetapi belum atau tidak bunting. Profil biokimia darah yang diukur adalah kadar total protein, total kolesterol, glukosa, dan kalsium. Data dianalisis menggunakan t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total protein; total kolesterol; glukosa; dan kalsium pada kelompok I vs kelompok II masing-masing adalah 6,77±0,38 vs 6,82±0,821 g/dl (P0,05); 166,08±37,06 vs 125,95±38,108 mg/dl (P0,05); 68,40±9,60 vs 48,58±6,675 mg/dl (P0,01); dan 9,90±1,43 vs 9,23±0,94 mg/dl (P0,05). Disimpulkan bahwa sapi-sapi perah yang mengalami kawin berulang mempunyai total kolesterol dan kadar glukosa yang lebih rendah dibanding sapi-sapi perah yang fertil.
THE EFFECTIVITY OF CYSTEAMINE SUPPLEMENTATION ON IMPROVING THE IN VITRO FERTILIZATION RATE OF SHEEP OOCYTES Dona Astari Nurkarimah; Ekayanti Mulyawati Kaiin; Ni Wayan Kurniani Karja; Mohamad Agus Setiadi
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 15, No 4 (2021): December
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.47 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v15i4.17688

Abstract

The purpose of this study was to evaluate the effectiveness of cysteamine supplementation on the maturation medium and/or in vitro fertilization medium with regards to improving the normal fertilization rate of sheep oocytes, which are characterized by the formation of two pronuclei. Grade A and B oocytes were matured in medium-199 with 0.3% bovine serum albumin (BSA), 10 IU/mL follicle stimulating hormone (FSH), 10 IU/mL human chorionic gonadotrophin (hCG), and 50 μg/mL gentamicin added for 24 hours in a 5% CO2 incubator at 39° C. The treatment group was divided into the following groups: a control group with no cysteamine (P1), a group with 100 μM cysteamine in the maturation medium (P2), a group with 100 μM cysteamine in the fertilization medium (P3), and a group with 100 μM cysteamine both in the maturation and fertilization medium (P4). The fertilization was carried out by incubating sperm-oocytes for 12 hours and then staining them with 1% aceto-orcein to observe the formation of a pronucleus. Normal fertilization rates obtained by each treatment group were 56.5% (P1), 57.1% (P2), 57.8% (P3), and 59.9% (P4) with no significant difference (P0.05) between groups. It was concluded that 100 μM cysteamine supplementation in both the maturation medium and fertilization medium was not able to increase the normal fertilization rate of sheep oocytes.
Perbedaan Morfologi dan Ekspresi Dazl dan Vasa pada Sel Germinal Fetus dan Anak Mencit Jantan Wahono Esthi Prasetyaningtyas; Ni Wayan Kurniani Karja; Mokhamad Fahrudin; Kusdiantoro Mohamad; Srihadi Agungpriyono
Jurnal Veteriner Vol 24 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.1.49

Abstract

Sel germinal merupakan salah satu sumber sel yang masih bersifat totipotensi dan berperan dalam pembentukan organisme baru. Morfologi dan ekspresi protein pada sel germinal bersifat dinamis bergantung pada umur dan tahap perkembangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati perubahan morfologi dan ekspresi protein sebagai marka sel germinal jantan pada fetus umur 13,5 hari pascakawin (days post coital/ dpc) dan anak mencit umur lima hari pascalahir. Hasil Rigi kelamin dan testis diisolasi dari mencit umur 13,5 dpc dan 5 hari. Jaringan kemudian dipreparasi histologi rutin, dan diwarnai dengan pewarnaan hematoksilineosin (HE), sedangkan untuk mengidentifikasi keberadaan protein Dazl, Vasa dan Oct4, jaringan diwarnai dengan pewarnaan imunohistokimia menunjukkan morfologi sel germinal jantan pada fetus mencit umur 13,5 dpc dan anak mencit umur lima hari pascalahir sama-sama berbentuk bulat oval. Namun, sel germinal jantan pada mencit umur lima hari pascalahir berukuran lebih besar, jumlah yang lebih sedikit dan terletak jauh dari membran basal. Pada sel germinal jantan umur 13,5 dpc menunjukkan positif lemah terhadap antibodi Oct 4 dan DAZL serta positif kuat terhadap antibodi Vasa. Pada umur lima hari, sel germinal jantan menunjukkan positif kuat terhadap antibodi Oct-4 dan DAZL, serta positif lemah terhadap antibodi Vasa. Simpulan dari penelitian ini adalah morfologi dan ekspresi marka sel germinal dipengaruhi oleh tahapan pertumbuhan dan perkembangan sel-sel germinal. Vasa dapat digunakan sebagai marka untuk sel germinal umur 13,5 dpc dan DAZL sebagai marka untuk sel germinal umur lima hari pascalahir.
Korelasi Konsentrasi Testosteron Darah terhadap Kualitas Semen Segar Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) dengan Fenotip Berbeda Magfira Magfira; Ni Wayan Kurniani Karja; R. Iis Arifiantini; Tike Sartika
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 3 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.73914

Abstract

Ayam KUB adalah ayam hasil seleksi dari Balai Penelitian Ternak Ciawi yang memiliki perbedaan fenotip seperti bentuk jengger dan warna bulu. Perbedaan fenotip berpengaruh terhadap konsentrasi testosteron sehingga memengaruhi kualitas semen segar ayam KUB. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh fenotip terhadap kualitas semen segar dan testosteron serta korelasinya. Sebanyak 20 ekor ayam KUB umur 1,5 tahun terbagi atas 4 kelompok perlakuan fenotip masing-masing 5 ekor yaitu jengger tunggal bulu penutup merah (JTBM), jenggger tunggal bulu penutup putih (JTBP), jengger pea bulu penutup merah (JPBM), dan jengger pea bulu penutup putih (JPBP). Peubah yang diamati adalah volume, warna, pH dan konsistensi, gerakkan massa, motilitas, viabilitas, abnormalitas dan konsentrasi ejakulat, konsentrasi testosteron dan panjang taji. Hasil penelitian menunjukkan pejantan dengan fenotip JPBM memiliki volume ejakulat paling tinggi dan JTBM adalah yang paling rendah (P<0.05). Pejantan berjengger tunggal memiliki pH lebih tinggi dibandingkan pejantan berjengger pea. Pejantan JTBM juga memiliki motilitas dan konsentrasi ejakulat paling rendah dibandingkan dengan fenotipe lainnya dan untuk peubah warna semen, gerakan massa, viabilitas dan abnormalitas tidak berbeda pada semua fenotip. Panjang taji kiri pejantan JTBP lebih pendek dibandingkan ketiga pejantan lainnya (P<0.05). Ukuran taji berkorelasi positif dengan konsentrasi testosteron dengan kisaran nilai r = 0.33-0.56. Konsentrasi testosteron berkorelasi postif dengan warna (r=0.76), konsentrasi ejakulat (r= 0.44), konsistensi semen (r=0.75) dan motilitas spermatozoa (r= 0.46). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pejantan JTBM memiliki kualitas semen segar kurang baik dibandingkan dengan ketiga kelompok pejantan lainnya. Ukuran taji bisa digunakan untuk memprediksi konsentrasi testosteron pada ayam jantan. 
Pengembangan Penanda Fertilitas Sebagai Alat Bantu “Akurat” Dalam Upaya Optimalisasi Sapi Pejantan Unggul Dalam Program Inseminasi Buatan Puwantara, Bambang; Arifiantini, Iis; Karja , Ni Wayan Kurniani; Pardede , Berlin Pandapotan; Indriastuti, Rhesti; Satrio , Faisal Amri; Memili, Erdogan
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol 4 No 1 (2022): Policy Brief Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0401.220-224

Abstract

Peningkatan populasi dan mutu ternak, khususnya sapi dan kerbau d ilakukan melalui program inseminasi buatan (IB). Angka kebuntingan hasil IB di Indonesia, relatif masih rendah, salah satunya diduga disebabkan oleh fertilitas pejantan. Program IB di Indonesia menggunakan semen beku yang diproduksi oleh Balai Inseminasi Buatan (BIB). Standar evaluasi semen bagi pejantan yang digunakan sesuai SNI masih mengacu pada konsentrasi, motilitas pra dan pasca thawing serta skor individu. Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa parameter uji tersebut tidak lagi memadai. Protein dan gen pada spermatozoa dan seminal plasma pejantan dapat menjadi kandidat alat bantu “akurat” untuk menentukan fertilitas pejantan sesuai keberhasilan IB di lapangan. Policy brief ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Pemerintah dan BIB dalam p engembangan dan pengaplikasian penanda fertilitas berbasis molekuler sebagai alat bantu “akurat” dalam proses seleksi dan kebijakan pengafkiran pejantan sapi yang akan digunakan untuk IB. Dengan demikian, efisiensi penggunaan pejantan unggul di berbagai Ba lai Inseminasi Buatan, baik Nasional maupun Daerah di Indonesia dapat dioptimalkan.
The Quality of Indo-Pacific Bottlenose Dolphin (Tursiops aduncus) Sperm Following Liquid-storage in Low Temperature Fahrudin, Mokhamad; Gusdinar, Rizal; Arifiantini, Raden Iis; Prasetyaningtyas, Wahono Esthi; Adnyane, I Ketut Mudite; Elmanaviean, Muhammad; Nugraha, Arifin Budiman; Karja, Ni Wayan Kurniani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 29, No 4 (2024): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.29.4.456-466

Abstract

Indo-Pacific bottlenose dolphin (Tursiops aduncus) is a marine mammal that lives in relatively small populations. The geographic ranges of this species are susceptible to the effects of human activities, thereby necessitating conservation efforts to prevent extinction. Therefore, this study aimed to evaluate the daily quality of dolphin sperm after several days of refrigeration. The sperm of two male dolphins were stored at 4oC for 4 days, and the quality was observed daily to determine the motility, viability, membrane integrity, and sperm abnormalities. Sperm samples were divided into four groups, consisting of two centrifuged followed by the removal of seminal plasma, and two groups without centrifugation, containing 100x106 and 200x106 sperm/ml each. After liquid storage, the motility of sperm was 63-75% with no significant reduction in the first 3 days. Sperm viability following storage was 65-75% and the percentage with abnormal morphology ranged from 2-6%. Furthermore, there was no significant increase in abnormal morphology of sperm on any day of storage for 3 days. Sperm membrane integrity was 36-49%, with no significant reduction in the membrane integrity in the first 2 days. There was no significant difference in sperm quality, although centrifugation and removal of seminal plasm had a slight effect. The results of this study showed that Indo-Pacific bottlenose dolphin sperm could be stored for a short period as liquid storage while maintaining a quality that allows for future use.
Pengembangan Uji Berbasis Molekuler Protamine-1 (Prm1) Sebagai Penentu Tingkat Fertilitas untuk Proses Seleksi dan Kebijakan Pengafkiran Sapi Pejantan Unggul di Indonesia Purwantara, Bambang; Pardede, Berlin Pandapotan; Agil, Muhammad; Supriatna, Iman; Karja, Ni Wayan Kurniani; Arifiantini, R. Iis; Sumantri, Cece
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol. 4 No. 4 (2022): Policy Brief Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0404.367-374

Abstract

Standar kualitas semen yang berperan penting dalam keberhasilan inseminasi buatan (IB) sebagai upaya peningkatan populasi dan mutu ternak sapi di Indonesia terbukti tidak seutuhnya mampu menentukan tingkat fertilitas sapi pejantan di Indonesia. Studi terbaru membuktikan bahwa meskipun sudah memenuhi standar kualitas semen yang sudah ditetapkan, namun tiga dari enam ekor sapi pejantan di Indonesia masih tergolong fertilitas rendah (<60%). Potamine-1 (PRM1) merupakan molekul pada inti spermatozoa yang telah terbukti memiliki hubungan erat dengan fungsi fertilitas dan kualitas spermatozoa pada berbagai sapi pejantan di Indonesia. Hal tersebut mendasari usulan pengembangan uji berbasis molekuler PRM1 sebagai penentu tingkat fertilitas yang diharapkan dapat digunakan untuk proses seleksi dan kebijakan pengafkiran sapi pejantan unggul di Indonesia. Melalui policy brief ini diharapkan usulan pengembangan uji tersebut dapat lebih tersampaikan dengan segala solusi yang diberikan, termasuk terkait pendekatan uji berbasis molekuler yang paling tepat digunakan, kajian-kajian lanjutan, dan berbagai harapan dukungan dari segala pihak demi terwujudnya pengembangan uji PRM1.
FROZEN SEMEN CHARACTERISTICS OF BALI BULL IN DIFFERENT AGE GROUPS Witri, Brilla Widya; Arifiantini, Iis; Prasetyaningtyas, Wahono Esthi; Karja, Ni Wayan Kurniani
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jbbi.2025.10087

Abstract

One factor that affects frozen semen characteristics is bull age. Increasing age induces changes in sperm that reduce frozen semen quality. This study aimed to evaluate the frozen semen characteristics of Bali bulls aged 3, 8, and 13 years. Frozen semen was derived from fresh semen with sperm motility > 70%. The frozen semen characteristics tested included motility, viability, plasma membrane integrity, acrosome integrity, and sperm abnormalities. Sperm motility was analyzed by computer-assisted sperm analysis (CASA). Viability was assessed using eosin-nigrosin staining; plasma membrane integrity was assessed using the hypoosmotic swelling test (HOST); acrosome integrity was assessed using Giemsa staining; and sperm abnormalities were assessed using Williams staining. The plasma membrane integrity of the 13-year-old group was significantly lower (P < 0.05) than that of the younger age groups. However, there were no significant differences (P > 0.05) in the other parameters. We conclude that age affects the integrity of the sperm plasma membrane in frozen semen from Bali bulls.
Co-Authors . Hasbi Abdullah Baharun Achmad Setiyono Adi Winarto Aisyah Fidela Siregar Alvien Nur Aini Amrozi Ananda Ananda Andhani Widya Hartanti Andriani Andriani Andriani Andriani Anita Hafid Arie Febretrisiana Arie Febretrisiana, Arie Asep Kurnia Asmarani Kusumawati Asmarani Kusumawati Asmarani Kusumawati Asmarani Kusumawati Bambang Purwantara Bambang Sumiarto Bambang Sumiarto Bambang Sumiarto Bambang Sumiarto Bayu Sulistyo Bq Hayyul Hidayati Cece Sumantri Damanik, Asman Ramadhan Dhia Mardhia Engcong Diana Andrianita Kusumaningrum Dwitya Citraesti Edelina Sinaga Ekayanti Mulyawati Kaiin Ekayanti Mulyawati Kaiin Ekayanti Mulyawati Kaiin Ekayanti Mulyawati Kaiin Ekayanti Mulyawati Kaiin Ekayanti Mulyawati Kaiin Ekayanti Mulyawati Kaiin Ekayanti Muyawati Kaiin Elmanaviean, Muhammad Faisal Amri Satrio Feni Dwi Kartika Gulo Frilianty Putri Frilianty Putri Gusdinar, Rizal Gusman, Khalis Talitha Gustina, Sri Hafizuddin Hafizuddin Hariono Hasbi Hasbi Ian Kurniawan Iman Supriatna Indriastuti, Rhesti Kaiin, Ekayanti Mulyawati Kazuhiro Kikuchi Kazuhiro Kikuchi KAZUHIRO KIKUCHI Ketut Adnyane Mudite Khye, Kim Chwin Kim Chwin Khye Kurnia, Asep Kusdiantoro Mohamad Latifah Humairoh Lisa Dwi Fannessia Lisa Praharani M Agus Setiadi M Imron M. Elmanaviean Magfira Magfira Magfira Maghfira Maghfira Makhroja, Lalu Faris Naufal Masir, Ummul Masturi Muhajir Memili, Erdogan Mokhamad Fahrudin Mokhamad Fakhrul Ulum, Mokhamad MUHAMMAD AGIL Muttaqinullah Rabusin Neta Fitria Yasa Nugraha, Arifin Budiman Nurkarimah, Dona Astari Nur’aisyah Amrah Safitri Okky Adi Bintara Oloan Parlindungan Pardede , Berlin Pandapotan Pardede, Berlin Pandapotan Pattikawa, Vapriel Andhika Praharani, Lisa Puwantara, Bambang R. Iis Arifiantini Reski Adelia Rizal Gusdinar Rizky Amrullah Chaniago Setiadi , Mohamad Agus Silvia Anggraini Siska Adelya Ramadhani Sri Estuningsih Sri Gustari Srihadi Agungpriyono Surya Agus Prihatno Surya Agus Prihatno Syafri Nanda Syahruddin Said Tatsuyuki Suzuki Tatsuyuki Suzuki, Tatsuyuki Tike Sartika Tike Sartika Titis Prastiwi Triyaningrum, Triyaningrum Tuty Laswardi Yusuf TUTY LASWARDI YUSUF Veronika Gilang Pravitasari Vetnizah Juniantito Wahono Esthi Prasetyaningtyas Wahono Esthi Prasetyaningtyas Wahono Esthi Prasetyaningtyas Wahono Esthi Prasetyaningtyas Widyasanti, Ni Wayan Helpina Winny Plumeria Aqshani Witri, Brilla Widya Yesi Pratiwi Kusumawati Yuke Rizky Amelia Yulida Nofa Yuni Siswani Zultinur Muttaqin