p-Index From 2021 - 2026
7.144
P-Index
This Author published in this journals
All Journal International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE) Jurnal F. Teknik : RESULTAN Ulul Albab: Jurnal Studi Islam LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam El-QUDWAH Dinamika Shaut Al-'Arabiyah Jurnal Adabiyah JURNAL KONFIKS Abjadia, International Journal of Education FIKRI : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya JISPO (Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Madani (JPMM) DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora ELS Journal On Interdisciplinary Studies in Humanities Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial LISANAN ARABIYA: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab JURNAL CRANKSHAFT El-Barka: Journal of Islamic Economics and Business Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) MUKADIMAH: Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-ilmu Sosial AN-NISA : Journal of Gender Studies Jurnal Hukum Kaidah: Media Komunikasi dan Informasi Hukum dan Masyarakat Kalamuna Journal of Arabic Literature (Jali) Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Jurnal Mandiri IT An-Nahdah Al-\'Arabiyah Journal of Education Research Jurnal BILAL: Bisnis Ekonomi Halal Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Jurnal Budgeting Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan Jurnal Sejarah Peradaban Islam Blantika : Multidisciplinary Journal Afkaruna: International Journal of Islamic Studies (AIJIS) Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Millatuna: Jurnal Studi Islam Jurnal Bakti Nusantara Jurnal Dinamika Penelitian: Media Komunikasi Penelitian Sosial Keagamaan Jurnal Cendekia Ilmiah Islamic Education Journal (ISEDU) An-Nisa’ Journal of Gender Studies Ilmuna: Jurnal Studi Pendidikan Agama Islam
Claim Missing Document
Check
Articles

Manusia di Muka Cermin Ibn Arabi: Memahami Hakikat Manusia dengan Kacamata Ibn Arabi Kholil, Ahmad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v8i3.4607

Abstract

Although the essence of human being has been questioned long times ago, there are many conceptual answers toward that question. Thus it is common if human beings, as social and individual creatures may try to question it to find new answers. The answer is mainly obtained by contemplating one's self based on the existing concept or reflecting one's self using an individual spiritual experience. The understanding to the essence of human beings described in this writing is based on the concept given by al-Syaikh al-Akbar ibn Arabi who is philosophical as well as sufistic. Who is a man? A man is "God" in its tajalli perfect form in the universe. Therefore, a man is not perfect when he cannot show God's characteristics. Ibn Arabi says, "one of this characteristics is to become a responsible leader either for himself or others". Meskipun esensi manusia telah dipertanyakan sejak lama, ada banyak jawaban konseptual untuk pertanyaan itu. Jadi, adalah hal yang biasa jika manusia, karena makhluk sosial dan individu dapat mencoba menanyainya untuk menemukan jawaban baru. Jawabannya terutama diperoleh dengan merenungkan diri seseorang berdasarkan konsep yang ada atau mencerminkan diri seseorang dengan menggunakan pengalaman spiritual individu. Pemahaman terhadap esensi manusia yang digambarkan dalam tulisan ini didasarkan pada konsep yang diberikan oleh al-Syaikh al-Akbar ibn Arabi yang filosofis sekaligus sufistik. Siapa pria Seorang pria adalah "Tuhan" dalam bentuk tajalli yang sempurna di alam semesta. Karena itu, seorang pria tidak sempurna saat dia tidak bisa menunjukkan sifat Tuhan. Ibn Arabi mengatakan, "salah satu karakteristik ini adalah menjadi pemimpin yang bertanggung jawab baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain".
Kebo-Keboan dan Ider Bumi Suku Using: Potret Inklusivisme Islam di Masyarakat Using Banyuwangi Kholil, Ahmad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.1887

Abstract

This writing presents a discussion on one of cultural heritage in Indonesia which is in the form of magical ceremony having religious nuance. Several aspects of this ceremony, for instance, Animism and Hinduism values are clearly observable, especially in several form and physical orders; on most aspects, however, the aforementioned values trail are obscure as old traditions. Even though the values are considered as old heritage, by polishing and adapting certain creation, the more perceptible value and belief in this ceremony is Islam transcendentalist and humanist. Ider bumi and slametan are the two of cultural heritage having Islamic nuance, while kebo-keboan is an embodiment of Hinduism cultural heritage. In Alasmalang, kebo-keboan ceremony has religious orientation praying to the God for acquiring good harvest, blessed business and achieving wishes. Regarding ider bumi ceremony, which is practiced in most of Using society, is conducted by going around the village while reading kalimah toyyibah and resounding adzan in every side of village. This ceremony’s purpose is to protect the village from any kind of annoyance from human being and devil. Furthermore, socially, kebo-keboan and ider bumi function as harmony keeper among the villagers, nature and with everything in the environment. Tulisan ini membahas salah satu kekayaan budaya bangsa yang menjelma dalam upacara magic bernuansa keagamaan. Pada beberapa sisi masih tampak kental sebagai warisan budaya lama, baik animisme maupun hinduisme, terutama dalam bentuk dan tatanan fisik, tetapi di sebagian besar yang lain sudah tinggal jejak yang samar sebagai warisan lama. Meskipun sebagai warisan leluhur, dengan polesan dan kreasi tertentu, yang tampak sekarang justru nilai dan tradisi Islam yang transendentalis dan humanis. Warisan budaya yang bercita rasa islami itu seperti ider bumi dan slametan, sementara yang masih bernuansa hinduisme adalah kebo-keboan. Kebo-keboan di Alasmalang mempunyai orientasi relijius berupa permohonan kepada Gusti Allah Yang Maha Kuasa agar tanaman, usaha dan tujuan yang hendak diraih mendapat perkenan dan berhasil sesuai harapan. Sementara ider bumi, yang dipraktikkan di sebagian besar masyarakat Using, keliling kampung dengan membaca kalimah thoyyibah dan mengumandangkan adzan di setiap sudut desa adalah bertujuan untuk melindungi desanya dari segala macam gangguan, dari makhluk kasar maupun halus. Di samping kedua tujuan itu, kebo-keboan dan ider bumi ini juga memiliki fungsi sosial, yaitu menjaga kerukunan sosial atau keharmonisan hubungan dengan sesama, alam semesta, dan dengan segala yang ada di lingkungan hidup manusia.
Agama dan Ritual Slametan: Deskripsi-Antropologis Keberagamaan Masyarakat Jawa Kholil, Ahmad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v10i3.4758

Abstract

Substantially, the core of religious belief is believing God as being transcendental, sacred, pure, above everything related to the Almighty. Functionally, the core of religious belief is an effort to handle life problems: existential problems. Religion always leads to goodness physically and spiritually. However, the followers of religion do not always do it. Diversity thought in a religion using charity done by its followers always colors tire practice of the social diversity. It might be caused by a misinterpretation to the doctrine or certain vested interests often happened in the political life. In fact, this is the reality happened in the religious life of our society. "Religious ambiguity" appears in "slametan" becoming tire tradition of our society, especially Javanese. "Slametan" presents symbolism that needs more explanation to be rightly understood. "Sega golong", "manungsa",and "pecel pitik" are symbolizing for nine orifices, "manunggal ing rasa", and an effort to get goodness. Secara substansial, inti keyakinan religius adalah mempercayai Tuhan sebagai transendental, sakral, murni, di atas segala hal yang berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Secara fungsional, inti keyakinan religius adalah upaya untuk mengatasi masalah hidup: masalah eksistensial. Agama selalu mengarah pada kebaikan jasmani dan rohani. Namun, para penganut agama tidak selalu melakukannya. Keragaman pemikiran dalam sebuah agama yang menggunakan amal yang dilakukan oleh para pengikutnya selalu mewarnai praktek ban dari keanekaragaman sosial. Hal itu mungkin disebabkan oleh salah tafsir terhadap doktrin atau kepentingan tertentu yang sering terjadi dalam kehidupan politik. Padahal, inilah kenyataan yang terjadi dalam kehidupan religius masyarakat kita. "Ambiguitas religius" muncul dalam "slametan" menjadi tradisi ban masyarakat kita, terutama orang Jawa. "Slametan" menyajikan simbolisme yang membutuhkan penjelasan lebih banyak agar dipahami dengan benar. "Sega golong", "manungsa", dan "pecel pitik" melambangkan sembilan lubang, "manunggal ing rasa", dan usaha untuk mendapatkan kebaikan.
Seblang dan Kenduri Masyarakat Desa Olehsari: Relasi Ideal Antara Islam dan Budaya Jawa di Banyuwangi Kholil, Ahmad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.447

Abstract

Desa mawa cara negara mawa tata, a Javanese wisdom which means that each place in this country has its own different manner and rules as the essence of its people’s cultures and traditions. This paper aims to describe one of Indonesian cultural richness which is transformed in the religious ritual named Seblang in a small village called Olehsari, in Banyuwangi, East Java. This ritual has a religious orientation as an aspiration to the Almighty in order to gain success in agriculture, occupation, and other objectives in the lives of the people of Olehsari. Likewise, Kenduri is also meant as a supplication to the Almighty in order to obtain blessings for the livings and forgiveness for the deceased. In Olehsari, people call this kind of ritual as Ngirim Duwa, or literally translated as ‘sending the prayers’. Furthermore, Seblang and Kenduri have certain social purposes to achieve a serene and harmonious living atmosphere for the people. Desa mawa cara negara mawa tata, sebuah kebijaksanaan Jawa yang berarti bahwa setiap tempat di negara ini memiliki cara dan aturan tersendiri sebagai esensi budaya dan tradisi masyarakatnya. Makalah ini bertujuan untuk menggambarkan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang ditransformasikan dalam ritual keagamaan bernama Seblang di sebuah desa kecil bernama Olehsari, di Banyuwangi, Jawa Timur. Ritual ini memiliki orientasi religius sebagai aspirasi bagi Yang Maha Kuasa untuk meraih kesuksesan di bidang pertanian, pekerjaan, dan tujuan lainnya dalam kehidupan masyarakat Assari. Selain itu, Kenduri juga dimaksudkan sebagai permohonan kepada Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan berkah bagi penghidupan dan pengampunan bagi almarhum. Di Olehsari, orang menyebut ritual seperti Ngirim Duwa, atau secara harfiah diterjemahkan sebagai 'mengirim sholat'. Lebih jauh lagi, Seblang dan Kenduri memiliki tujuan sosial tertentu untuk mencapai suasana hidup yang tenang dan harmonis bagi masyarakat.
Peran Otoritas Jasa Keuangan Terkait Perlindungan Konsumen Berbasis Maqasid Syariah Kholil, Ahmad
Jurnal Hukum Kaidah: Media Komunikasi dan Informasi Hukum dan Masyarakat Vol 22, No 2 (2023): Edisi Januari 2023
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jhk.v22i2.6489

Abstract

The establishment of OJK is to organize an overall supervisory and regulatory system, especially in financial sector activities, both in non-bank and banking institutions. OJK has three objectives, namely creating a financial services sector that is contributive to equal distribution of wealth, creating a financial services sector that is stable, foreign-powered, and realizing financial services that are inclusive for society by providing credible protection to the consumers. This study aims to find out what regulations are issued by the Financial Services Authority institutions to protect the consumers who use peer to peer lending services and what sanctions are issued by the Financial Services Authority institutions if the perpetrators of financial services violate the provisions in the Financial Services Authority regulations. The method used in this research is descriptive method with a qualitative approach.In this case the Financial Services Authority issues regulations concerning the Consumer Protection in the Financial Services Sector. And if a financial service actor violates or does not comply with the regulations made by OJK, he will receive sanctions as stated in the regulation Number: 1/POJK.07/2013, if a financial service actor violates the provisions in OJK regulations, he will be subject to administrative sanctions, namely written regulations, Fines or paying a certain amount of money, Limitation of business activities, Freezing of business activities, as well as revocation of licenses for business activities. Keywords: Role, OJK, Protection, Consumers, Sharia Maqasid.
Efektivitas Penggunaan TikTok sebagai Media Pembelajaran Kosakata Bahasa Arab Siswa MAN 3 Ngawi Qardhawi, Maulana Yusuf; Amrullah, Abdul; Kholil, Ahmad
Shaut al Arabiyyah Vol 13 No 2 (2025): JURNAL SHAUT AL-'ARABIYAH
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v13i2.62664

Abstract

This study aims to examine the effectiveness of using TikTok as a learning medium in Arabic vocabulary instruction, with a particular focus on improving students’ comprehension and learning motivation. The research employed a quasi-experimental design involving two class groups: an experimental group that used TikTok as a learning medium and a control group that applied conventional teaching methods. Data were collected through pretests and posttests to measure students’ mastery of Arabic vocabulary, along with classroom observations to assess their participation and engagement during the learning process. The results revealed that the experimental group experienced a significant improvement in Arabic vocabulary mastery, with an average posttest score of 80,89 higher than the control group’s average score of 39,94. Furthermore, students in the experimental group showed higher learning motivation and greater engagement. Despite some technical challenges such as limited internet access, overall, the use of TikTok proved to be an effective and engaging medium for teaching Arabic vocabulary at MAN 3 Ngawi.
Sexual Harassment in Film Penyalin Cahaya Balkis Nur Azizah; Akhmad Muzakki; Ahmad Kholil
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 15 No. 2 (2022): An-Nisa Journal of Gender Studies
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v15i2.122

Abstract

Research on sexual harassment is becoming a hot topic because data shows that crimes of sexual harassment are increasing every day. This study aims to show the form of patriarchy and the impact of patriarchy in the film Penyalin Cahaya using radical feminism theory. The researcher uses a qualitative descriptive research method with the primary data source of the film Penyalin Cahaya. Data collection techniques are carried out by listening to and recording related data. The results of this study found that there were six forms of patriarchy form of modes of production, patriarchy in jobs with wages, patriarchy in the state, male violence, patriarchy in sexuality, and patriarchy in institutions. The patriarchal influence in the film Penyalin Cahaya includes positive impacts, namely hard work and solidarity, while adverse effects include losing scholarships, stealing data, and promiscuity.
Dinamika Peradaban Pendidikan Islam pada Masa Orde Baru (1966-1998 M) Adinda Mutiara Estu Amalannira; Zulfi Mubaraq; Ahmad Kholil; Wardatul Asfiya
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 7 No. 01 (2026): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v7i01.13922

Abstract

Abstrak: Kajian tentang Dinamika peradaban pendidikan islam pada Masa Masa Orde Baru-Reformasi (1966-1998 M) sangat penting untuk dikaji lebih mendalam. Hal ini karena kajian tersebut tidak pernah berhenti untuk selalu diperdebatkan. Tujuan tulisan ini ingin memahami 3 hal: Pertama, paradigma Dinamika peradaban pendidikan islam pada Masa Masa Orde Baru-Reformasi (1966-1998 M). Kedua, faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi dinamika tersebut. Ketiga, implikasi positif dan negatif dinamika tersebut terhadap pendidikan islam. Metode yang digunakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan Tinjauan Artikel/Paper Review berlandaskan teori Harold Lasswell, adapun pengumpulan data dengan cara pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian dan dianalisis dengan teknik review (membaca, memahami, dan menyimpulkan atau mengomentari) atas suatu karya tulis ilmiah/ artikel yang telah dipublikasi di suatu penerbit jurnal/publisher. Hasil yang ditemukan 3 hal: Pertama, paradigma dinamika peradaban pendidikan islam pada Masa Masa Orde Baru-Reformasi (1966-1998 M) ada 3 bentuk: (1) pendidikan islam kurang diperhatikan (2) mendapat dukungan dari pemerintah (3) pendidikan islam masih dibatasi. Kedua, secara internal yang mempengaruhi Dinamika Peradaban Pendidikan Islam ada 3 faktor : (1) kualitas sumber daya manusia (2) keterbatasan sarana prasarana (3) kebutuhan masyarakat. Adapun secara eksternal yang mempengaruhi dinamika peradaban pendidikan islam ada 3 faktor: (1) tekanan ideologis (2) adanya sistem dualistik (3) kebijakan pemerintah. Ketiga, implikasi positif dinamika tersebut terhadap pendidikan islam ada 3 hal: (1) modifikasi madrasah (2) penyetaraan sistem pendidikan islam (3) meningkatkan mutu pendidikan islam. Sedangkan, implikasi negatif dinamika tersebut terhadap pendidikan islam ada 3 hal: (1) mutu pendidikan lebih rendah (2) penyempitan fokus (3) keterlambatan adaptasi. Kata Kunci: Dinamika, Pendidikan Islam, Masa Orde Baru Abstract: A study of the dynamics of Islamic education during the New Order-Reformation period (1966-1998 AD) is very important to examine in greater depth. This is because this study has never ceased to be debated. The purpose of this paper is to understand three things: First, the paradigm of the dynamics of Islamic education during the New Order-Reformation period (1966-1998 AD). Second, the internal and external factors that influence these dynamics. Third, the positive and negative implications of these dynamics on Islamic education. The method used is library research with an article/paper review approach based on Harold Lasswell's theory. while data collection was carried out by collecting library data, reading and taking notes, as well as processing research materials and analyzing them using review techniques (reading, understanding, and concluding or commenting) on scientific papers/articles that have been published in a journal/publisher. Three findings were discovered: First, there were three forms of the paradigm of Islamic education civilization dynamics during the New Order-Reformation period (1966-1998 AD): (1) Islamic education was neglected, (2) it received support from the government, and (3) Islamic education was still restricted. Second, internally, there were three factors that influenced the dynamics of Islamic educational civilization: (1) the quality of human resources, (2) limited infrastructure, and (3) community needs. Externally, there were also three factors that influenced the dynamics of Islamic educational civilization: (1) ideological pressure, (2) the existence of a dualistic system, and (3) government policy. Third, there are three positive implications of these dynamics on Islamic education: (1) modification of madrasahs (2) equalization of the Islamic education system (3) improvement of the quality of Islamic education. Meanwhile, there are three negative implications of these dynamics on Islamic education: (1) lower quality of education (2) narrowing of focus (3) delayed adaptation. Keywords: Succession; Pura Mangkunegaran; Mangkunegara IX.
Politik Kekuasaan Dan Legitimasi Pada Masa Utsman Bin Affan: Kajian Historis Atas Ekspansi Dan Nepotisme Dalam Pemerintahan Islam Awal Chaniago, Ikwal; Kholil, Ahmad; Sj, Fadil
Millatuna: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 02 (2026): Studi Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/mjsi.v3i02.11652

Abstract

Masa pemerintahan khalifah Utsman bin Affan termasuk fase krusial dalam sejarah politik Islam awal yang menunjukkan dinamika antara kekuasaan, legitimasi, dan stabilitas pemerintahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara ekspansi wilayah dan kebijakan politik nepotisme dalam membentuk legitimasi kekuasaan pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Sebagai khalifah ketiga dari Khulafaur Rasyidin, Utsman berhasil memperluas kekuasaan Islam hingga Afrika Utara, Armenia, dan Asia Tengah, serta membentuk armada laut pertama yang menjadikan Islam sebagai kekuatan darat sekaligus maritim global. Namun, kebijakan pengangkatan pejabat dari kalangan Bani Umayyah menimbulkan persepsi adanya praktik nepotisme yang melemahkan kepercayaan publik terhadap pemerintahannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis-kritis dengan metode deskriptif-komparatif melalui studi pustaka terhadap sumber-sumber klasik dan jurnal terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspansi besar-besaran pada masa Utsman memperkuat hegemoni politik dan militer Islam, tetapi ketidakseimbangan dalam distribusi kekuasaan dan lemahnya komunikasi politik menimbulkan krisis legitimasi yang memuncak pada peristiwa al-fitnatul kubra. Dengan demikian, kajian ini menegaskan bahwa keberhasilan politik kekuasaan tanpa dukungan legitimasi moral dan sosial berpotensi menimbulkan disintegrasi, sehingga prinsip keadilan dan transparansi menjadi landasan utama bagi stabilitas pemerintahan Islam.
Arabic as Intellectual Resilience: Egypt's Linguistic Continuity Amid the Crusades and Mongol Invasions Amanda Putri; Nadia Arrifqi; Khoirun Nisa; Wardah Nailah El-Izzah Atulolon; Ahmad Kholil
Abjadia : International Journal of Education Vol 11, No 2 (2026): Abjadia
Publisher : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/abj.v11i2.37377

Abstract

This article examines the role of Arabic as a foundation of intellectual resilience in Egypt during the Crusades and the Mongol invasions, particularly under the Ayyubid and Mamluk dynasties. It focuses on how Arabic functioned in sustaining the continuity of knowledge, reinforcing religious identity, supporting political legitimacy, and accommodating cultural interaction during periods of major political disruption. This study employs a qualitative historical design using document analysis of relevant historical and scholarly sources. The data were interpreted through a historical-interpretive approach to identify recurring patterns concerning the relationship between language, intellectual continuity, and civilizational resilience in medieval Egypt. The findings suggest that, within the documented historical context, Arabic functioned not only as a medium of scholarly communication but also as a language of religious authority, educational transmission, and political legitimacy. Educational institutions such as Al-Azhar and Ayyubid madrasas played an important role in preserving Arabic as the main language of religious and intellectual instruction, while the Mamluk administration employed Arabic to reinforce Islamic political authority despite the rulers’ non-Arab background. The study also finds that Arabic showed linguistic adaptability by incorporating foreign elements from Turkish, Persian, and Mongol influences without losing its central intellectual and cultural role. This article argues that, in medieval Egypt, Arabic served as an important instrument for preserving Islamic intellectual traditions and sustaining civilizational continuity during times of crisis.
Co-Authors Aam Amaningsih Jumhur Abdul Malik Karim Amrullah Abdul Rohman Abdul Wahab Rosyidi Abyad, Habil Adinda Mutiara Estu Amalannira Aghniyarrizqi Iara Fadhilla Akhmad Muzakki Al Faruqi, Mhd Ibnu Hannan Amanda Putri Amrullah, Abdul Ananda, Rayhan Hafizh Andhari, Diah Sepni Aniqotul ‘Athiyyah, Avita Aorta Abdillah A'laa Ardiyanti, Titin Ary Utami Ashfa Sabila Zahro' Azhar Azhar Balkis Nur Azizah Berliani, Denitia Budiaman Chaniago, Ikwal Chilwina, Nadhita Chusnul Chotimah Djody Firmansyah Djoko Susanto Fadil S. J Fadil SJ Fadzilah, Nurul Faisol, M Ferolisa, Ardhea Fero Firdousi, Muhammad Anwar Gabriel Ardi Hutagalung Hasanah, Ummi Hayyun Dwi Salsabila Salsa Hubbul Wathan Huda, Ahmad Nawirul Indah Rarasati Indah Rarasati Jambak, Mellinda Raswari Kasuwi Saiban Khairanis, Retisfa Khoirun Nisa Kusumohadi, Catur Setyawan Laily Fitriani Langgeng Budianto Luqman Hakim Mahendra, Yudha Mamluatu Solihah Manggala, Kayan Manzilah, Farah Diana Marlya Fatira AK Masrokhin Masrokhin Miftahul Huda mirtawati, mirtawati Moh. Ainin Moh. Zawawi Mohamad Rofik Fitrotulloh Munjiah, Ma'rifatul Nabila Izzatul Ufairah Nadia Arrifqi Nasution, Surayya Fadhilah Nur Hasaniyah Nurvita Silviyana Prihadi, Kususanto Ditto Qardhawi, Maulana Yusuf R. Cecep Lukman Yasin Retisfa Khairanis Rifqi, Naflah Rizka Annisa Rofik Fitrotulloh , Mohamad Safira Budiaty Nafi'a Salma Ali Salem Mansoor Alawlaqi Seri, Ermyna setiawan, Dibyo Solihah , Mamluatu Suherman, Suherman Syamsudin Syamsudin Syihabuddin, Muhammad Tamim Mulloh Thoyib, Ibnu Annas Ummah, Khuntum Khaira Utami , Ary Walid, Dewi Maharah Binti Mohd Wardah Nailah El-Izzah Atulolon Wardatul Asfiya Wildana Wargadinata Wirmansyah, Aulia Fadhila Yusuf Ratu Agung Zainuddin, Zainiddin Zaki, Zaki Ahmad Farid Zekeriya kasap Zuardi, Muhammad Zuhirsyan, Muhammad Zulfi Mubaraq