Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : e-CliniC

Hubungan antara bayi berat lahir rendah dengan kejadian refluks gastroesofagus di puskesmas Kecamatan Malalayang Yuliantari, Kadek Rani; Manoppo, Jeanette I.Ch.; Lestari, Hesti
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14401

Abstract

Abstract: Low birth weight (LBW) is one of the causes of infant mortality in Indonesia. One of the problems related to the maturity of digestive tract function in LBW infants is gastroesophageal reflux (GER) due to dysfunction of lower esophageal sphincter (LES). Gastroesophageal reflux is a physiological condition among infants under the age of 12 months. Albeit, it requires a special attention for LBW infants in order not to suffer from gastroesophageal reflux disease (GERD) which will affect growth and development. This study was aimed to determine the correlation between LBW and GER. This was an analytical observational study with a case-control design; each group consisted of 30 respondents. Respondents were mothers of children aged 0-2 years obtained by using purposive sampling at three primary health cares at Malalayang from September until November 2016. Infant gastroesophageal reflux questionnaire (I-GERQ) was used as instrument in this study. The result showed a significant correlation between LBW and GER groups (p=0.034) and OR 2.615. Conclusion: There was a significant correlation between LBW and GER. Low Birth Weight had a higher risk to suffer from GER. Woman are expected to give more attention for their health and nutrition during pregnancy to prevent LBW births.Keywords: BBLR, RGE, SEB, children Abstrak: Bayi berat lahir rendah (BBLR) ialah salah satu penyebab kematian bayi di Indonesia karena kondisi tubuh yang belum stabil sehingga menimbulkan masalah pada sistem atau organ tubuh. Salah satu masalah terkait kematangan fungsi saluran cerna ialah refluks gastroesofagus (RGE) dimana terjadi disfungsi sfingter esofagus bawah (SEB). RGE merupakan kondisi fisiologik pada usia <12 bulan. Pada BBLR dibutuhkan perhatian khusus agar tidak berlanjut menjadi penyakit refluks gastroesofagus (PRGE) yang akan memengaruhi tumbuh kembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara BBLR dan kejadian RGE. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan studi kasus control, masing-masing terdiri dari 30 responden. Responden ialah ibu yang memiliki anak berusia 0-2 tahun diperoleh dengan metode purposive sampling pada tiga puskesmas di Kecamatan Malalayang bulan September hingga November 2016. Instrumen penelitian berdasarkan Infant-Gastroesophageal Reflux Questionnaire (I-GERQ). Hasil penelitian dari kelompok kasus dan kontrol menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara BBLR dan kejadian RGE (p=0,034) dengan Odds Ratio 2,615. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara BBLR dan kejadian RGE. BBLR memiliki risiko 2,6 kali mengalami RGE. Ibu hamil diharapkan lebih memperhatikan kesehatan dan asupan gizi untuk mencegah kelahiran BBLR. Kata kunci: BBLR, RGE, SEB, anak
Gambaran malaria pada anak di RSU GMIM Bethesda Tomohon periode 2011-2015 Paendong, Boy A.I.; Tatura, Suryadi N.N.; Lestari, Hesti
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14457

Abstract

Abstract: Malaria is an endemic disease that is often found in the world, particularly in tropic areas. Four types of plasmodiums that often infect human are falciparum, vivax, malariae, and ovale. The symptoms of malaria that usually occur are fever, chills, and sweats. This study was aimed to obtain the profile of malaria in children at GMIM Bethesda Hospital Tomohon. This was a descriptive retrospective study with a cross sectional design. The results showed that of 105 children who suffered from malaria, only 92 children fulfilled the inclusion criteria. Malaria was found in the years 2011-2015. The highest percentages were age 5-9 years (31.5 %), males (66 %), plasmodium falciparum (63%), and fever as the clinical manifestation (100%). The manifestation of malaria such as fever, chill, and ssweating perspiring was found in 13.1% of cases and complication of severe anemia in 1,1% of cases. Most cases were treated with DHP and primaquin. Conclusion: In this study, malaria was still an endemic disease in GMIM Bethesda Hospital Tomohon, most among males aged 5-9 years. Plasmodium falciparum was the most common type and fever was the clinical manifestation mostly complained.Keywords: malaria, plasmodium, children Abstrak: Malaria adalah penyakit endemis yang sering dijumpai di seluruh dunia, terutama di daerah tropis. Empat plasmodium yang biasa menginfeksi manusia yaitu falciparum, vivax, malariae, dan ovale. Gejala umum pada malaria ialah demam, menggigil, dan berkeringat. Menurut data WHO, di dunia kasus penyakit malaria pada tahun 2015 berjumlah 214 juta kasus. Di Sulawesi Utara pada tahun 2014 jumlah kasus malaria menyentuh angka 2.244 jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran malaria pada anak di RSU GMIM Bethesda Tomohon. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 105 anak yang menderita malaria didapatkan 92 anak sebagai subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Malaria terdapat sepanjang tahun dari 2011-2015. Mayoritas anak dengan malaria ialah usia 5-9 tahun (31,5%), jenis kelamin laki-laki (66%), jenis plasmodium falciparum (63%), dan gejala klinis demam (100%). Gejala malaria demam, menggigil, berkeringat ditemukan sebanyak 13,1% dan komplikasi anemia berat 1,1%. Terapi yang banyak digunakan ialah DHP dan primakuin. Simpulan: Pada studi ini malaria masih merupakan penyakit endemik di RSU GMIM Behesda Tomohon, sering terjadi pada anak laki-laki, usia 5-9 tahun, dengan mayoritas plasmodium falciparum dan gejala klinis demam. Kata kunci: malaria, plasmodium, anak
Hubungan Pemberian Makanan Tambahan Terhadap Perubahan Status Gizi Anak Balita Gizi Kurang di Kota Manado Hosang, Kevin H.; Umboh, Adrian; Lestari, Hesti
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.1.2017.14760

Abstract

Abstract: Toddler is one of the nutritional vulnerable population groups that easily suffer from health problems and malnutrition. In this age group, children are in growth and development cycle that requires nutrients in larger amounts than any other age groups. To overcome the problem of malnutrition in this age group, they should be supported with supplementary food. Pemberian makanan tambahan (PMT) is a program of intervention to infants suffering from malnutrition with a goal to improve the nutritional status as well as the nutritional needs of children to achieve the nutritional status and condition of good nutrition in accordance with the children's age. PMT for children aged 0-59 months is as an addition and not as a substitute of main daily meals. This study was aimed to determine the relationship of supplementary feeding to changes in the nutritional status of children under 5 years with malnutrition at health centers in Manado. This was an analytical retrospective study. Subjects were 70 children under 5 years with malnutrition fed with rice, biscuits, green beans, and milk for 90 days. The results showed that there was a very significant relationship between PMT and the changes in nutritional status of children under 5 years with malnutrition at health centers in Manado.Keywords: feeding (PMT), toddler, child nutritional status Abstrak: Balita merupakan salah satu golongan penduduk rentan gizi yang paling mudah menderita gangguan kesehatan dan kekurangan gizi. Kelompok usia tersebut berada pada suatu siklus pertumbuhan atau perkembangan yang memerlukan zat-zat gizi dalam jumlah yang lebih besar dari kelompok umur yang lain. Untuk mengatasi masalah gizi pada kelompok usia tersebut perlu diselenggarakan pemberian makanan tambahan (PMT). PMT merupakan program intervensi terhadap balita yang menderita kurang gizi yang bertujuan untuk meningkatkan status gizi anak dan mencukupi kebutuhan zat gizi anak sehingga tercapainya status gizi dan kondisi gizi yang baik sesuai dengan usia anak tersebut. PMT bagi anak usia 0-59 bulan sebagai tambahan, bukan sebagai pengganti makanan utama sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian makanan tambahan terhadap perubahan status gizi anak balita gizi kurang di Puskesmas-puskesmas di Kota Manado. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif. Subjek penelitian ialah 70 anak balita gizi kurang yang mendapatkan PMT berupa beras, biskuit, kacang hijau, dan susu selama 90 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMT berpengaruh sangat bermakna terhadap perubahan status gizi anak balita gizi kurang di puskesmas-puskesmas Kota Manado.Kata kunci: PM), balita, status gizi, balita gizi kurang
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN SUSU FORMULA PADA BAYI YANG DIRAWAT DI RUANG NIFAS RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Susanto, Hery; Wilar, Rocky; Lestari, Hesti
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6758

Abstract

Abstract: Increased formula feeding was caused by lack of knowledge about the benefits of breastfeeding, low education, aggressive promotion of infant formula, and support from health care professionals. The are several cases where the infants given formula due to several conditions, like mother is unable to produce milk, small amount of milk production, absence of nipple appearance, post-op pain, pain during breastfeeding. The following study aims to determine what factors affecting Giving Infant Formula Milk Treated in Postpartum Room Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This study is a descriptive design with direct interview approach. The population in this research were all treated in the maternal postpartum Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Conclusion: The results obtained from 50 respondents show that 66% has a good knowledge about the benefits of breastfeeding, 66% says that health care professional support given infant formula, 100% says that their closest relatives support given breastfeeding, 34% is affected the promotion of infant formula, and 34% are women without complaints of breastfeeding hindrance factor. This study recommends that mothers / parents cooperate with health care professionals cooperation in order to increase the success rate of breastfeeding.Keywords: infant formula, breastfeedingAbstrak: Meningkatnya pemberian susu formula disebabkan pengetahuan kurang mengenai manfaat ASI, pendidikan yang rendah, agresifnya promosi susu formula, dukungan petugas kesehatan. Adapun bayi yang diberikan susu formula karena beberapa kondisi ibu yang mengeluh tidak keluarnya ASI, ASI kurang, puting tidak muncul, sakit bekas operasi, nyeri saat menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor-Faktor Apa yang mempengaruhi Pemberian Susu Formula pada Bayi yang Dirawat di Ruang Nifas RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan wawancara langsung. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu melahirkan dirawat di ruang nifas RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. Kesimpulan: Hasil penelitian yang diperoleh dari 50 responden diketahui bahwa 66% pengetahuan baik mengenai manfaat ASI, 66% petugas kesehatan mendukung pemberian susu formula, 100% orang terdekat mendukung pemberian ASI, 34% terpengaruh promosi susu formula, 34% kondisi ibu dengan tanpa keluhan. Penelitian ini merekomendasikan agar ibu/orang tua dengan petugas kesehatan adanya kerjasama dalam keberhasilan pemberian ASI.Kata kunci: susu formula, ASI
Faktor-faktor yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan bayi usia 9 bulan Tilaar, Stephanie K.I.; Lestari, Hesti; Runtunuwu, Ari L.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.13879

Abstract

Abstract: Children are the next generation of a nation, therefore, to achieve a better future, the children must have qualified growth and development. During the infant and toddler stages (0-3 years old), children growth depends on the environment. This stdy was aimed to obtain the risk factors of developmental delay in infant of 9 months old. This was an analytical survey study with a cross sectional design. This study was conducted at Bahu Health Centre in Manado from October until December 2015. Samples were all infants of 9 months old obtained by using consecutive sampling technique. Data were analyzed by using bivariate analysis with the chi square test. The results showed that health care, breast-feeding, and the number of siblings had no relationship with the developmental delay in infant 9 month old (p > 0.05). The family income showed 29.333 times of risk that an infant would have developmental delay (p=0.006) meanwhile low education showed 14.000 times of risk for that (p=0.016). Conclusion: There is a relationship between parent education and family income with the developmental delay in infants of 9 month olds. Keywords: developmental delay, infant 9 month old. Abstrak: Anak merupakan generasi penerus suatu bangsa dan agar tercapai masa depan bangsa yang baik. Untuk mencapai hal tersebut harus dipastikan bahwa tumbuh dan kembangnya juga baik. Pada masa bayi dan masa anak dini (usia 0-3 tahun) terjadi perkembangan bayi sesuai dengan lingkungan yang memengaruhinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko terjadinya keterlambatan perkembangan bayi usia 9 bulan. Jenis penelitian ialah survei analitik dengan desain potong lintang. Penelitian dilakukan di Puskesmas Bahu Kota Manado pada bulan Oktober sampai Desember 2015 dengan populasi semua bayi 9 bulan yang datang di puskesmas. Penentuan sampel menggunakan teknik konsekutif sampling. Analisis data bivariat menggunakan uji statistik chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawatan kesehatan, pemberian ASI, dan jumlah saudara tidak memiliki hubungan bermakna terhadap perkembangan bayi usia 9 bulan (p>0,05). Pendapatan keluarga berisiko 29,333 kali lebih banyak untuk mengalami keterlambatan perkembangan (p=0,006) dan pendidikan rendah berisiko 14,000 kali lebih banyak untuk mengalami hal tersebut (p=0,016). Simpulan: Terdapat hubungan antara pendidikan dan pendapatan orang tua dengan keterlambatan perkembangan pada bayi 9 bulan. Kata kunci: perkembangan, bayi 9 bulan
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN TINGKAT KEPADATAN PARASIT MALARIA PADA ANAK Lee, Jeanette Elmerose Natalia; Tatura, Suryadi N. N.; Lestari, Hesti
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.11000

Abstract

Latar belakang: Status gizi diketahui dapat mempengaruhi kepadatan parasit malaria pada anak, sehingga melalui status gizi dapat dinilai tingkat kepadatan parasit malaria. Namun status gizi bukan merupakan satu-satunya faktor yang menyebabkan tingginya kepadatan parasit malaria, terdapat faktor lain yang turut berperan dalam hal ini. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan tingkat kepadatan parasit malaria. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian analititik retrospektif dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Sampel penelitian sebanyak 59 anak yang memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis menggunakan uji koefisien korelasi Gamma. Hasil: Dari 65 anak didapatkan 59 sebagai sampel penelitian yang memnuhi kriteria inklusi. Status gizi dengan kepadatan parasit malaria didapatkan kepadatan tinggi dengan gizi kurang sebanyak 9 anak (15,3%), dengan gizi baik sebanyak 24 anak (40,7%), dengan overweight sebanyak 2 anak (3,4%) dan dengan obesitas sebanyak 2 anak (3,4%). Sedangkan kepadatan rendah dengan gizi kurang sebanyak 9 anak (8,5%), dengan gizi baik sebanyak 13 anak (22,0%), dengan overweight sebanyak 3 anak (5,1%). Dengan uji koefisien korelasi Gamma didapatkan korelasi yang sangat lemah (rG = 0,118; p = 0,632). Hasil ini menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kepadatan parasit malaria.Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan tingkat kepadatan parasit malaria pada anak.Kata kunci: Malaria, kepadatan parasit, status gizi, anak.Background: Nutritional status can influence malaria parasite density in children, so from nutritional status we can evaluate malaria parasite density. Nutritional status is not the only factor which cause high malaria parasite density, there are another factors which cause this. Objective: To find out the relation between nutritional status and malaria parasite density in children. Methods: This study uses analytic retrospective method with cross –sectional design. About 59 sample qualify the inclusion criteria. Data were analyzed using Gamma correlation coefficient statistical test. Results: From 65 children, there are 59 children who qualify the inclusion criteria. On the analysis of nutritional status and malaria parasite density, children with high parasite density consist of 9 children (15,3%) with malnutrition, 24 children (40,7%) with good nutritional status, 2 children (3,4%) with overweight, and 2 children (3,4%) with obesity. On children with low parasite density, there are 9 children (8,5%) with malnutrition, 13 children (22,0%) with good nutritional status, and 3 children (5,1%) with overweight. Using Gamma correlation test, the study find a very weak correlation (rG = 0,118; p = 0,632). This find indicates that there is no significant relation between nutritional status and malaria parasite density. Conclusion: There is no significant relation between nutritional status and malaria parasite density in children.Keywords: Malaria, parasite density, nutritional status, children.
Behavioral and Emotional Changes in Early Childhood during the COVID-19 Pandemic Kairupan, Tiffani S.; Rokot, Natasya T.; Lestari, Hesti; Rampengan, Novie H.; Kairupan, Bernabas H. R.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.34014

Abstract

Abstrak: Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) mengakibatkan perubahan yang besar terhadap gaya hidup sehari-hari, termasuk pada anak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak lockdown (karantina wilayah) akibat pandemi Covid-19 pada perilaku dan emosi anak usia dini (usia 0-8 tahun), serta kegiatan rutin sehari-hari seperti aktivitas fisik, screen time, dan pola tidur. Penelitian ini merupakan suatu literature review dengan menggunakan database Google Scholar, ScienceDirect, dan PubMed. Terdapat 15 literatur yang dipublikasi dalam bahasa Ingggris atau Indonesiaselang April 2020 dan Maret 2021. Literatur dalam penelitian ini melaporkan tentang perubahan perilaku dan emosi pada anak usia dini. Peningkatan perilaku eksternalisasi dan internalisasi serta perubahan waktu aktivitas fisik dan pola tidur juga dilaporkan pada banyak studi tersebut. Selain itu, terdapat peningkatan screen time selama lockdown. Simpulan penelitian ini ialah lockdown dapat memengaruhi baik pola tidur dan aktivitas fisik maupun kemampuan mengontrol emosi pada anak usia dini.Kata kunci: COVID-19, lockdown, keterbatasan, anak usia dini, perubahan perilaku  Abstract: The coronavirus disease 2019 (COVID-19) pandemic demanded great changes in the everyday lifestyle of people, including children in their early years.This study was aimed toobtain the impact of COVID-19 confinement in young children’s (age 0-8 years) behavior and emotion, along with their daily routines such as physical activity, screen time, and sleep pattern. This was a literature review study using databases of Google Scholar, ScienceDirect, and PubMed. The results showed that there were 15 studies published in English or Indonesian between April 2020 and March 2021 included in this review. The studies reported behavioral and emotional changes in the early life of children. An increase in externalizing and internalizing behavior along with a shift in physical activity and sleep behavior was reported in many of the studies. There was an increase in screen time during lockdown. In conclusion, lockdown can affect not only children’s normal behavior in their sleep and physical activity but also their capability of controlling their emotion.Keywords: COVID-19, lockdown, confinement, early childhood, behavioral changes 
Co-Authors A, Halen A. Rinaldi, Enrico Adrian Umboh Agahari Abadi Sianipar, Agahari Abadi Agus Ananto Widodo, Agus Ananto Agus Susilo Ahmad Putra Utama Amalia, Rizka Nur Andika Andika Anindita Ulfa Hadini Anita Anita Ari L. Runtunuwu Aria Kekalih Arsyad Fathon, Arsyad Azhar A, Al B H. R. Kairupan Basri, Yesi Batubara, Jose Bunga Sari, Affa Claresta, Claresta Darnita, Yulia Dewi Rostyaningsih Didik Nugroho Dwi Puji Lestari, Dwi Puji Dyah Hariani Dyah Lituhayu Eka Yulia Rahmawati Ningsih Ela Indriani Elyna Nur Fadhilathul Rohmah Emma Rachmawati Endang Larasati Endang Larasati ERLIN LISTIYANINGSIH Erni Ismawati Eva Nur Cahyaningsih, Eva Nur Febrianna Chadijah Febrilia Laita Saputri Ferdinand Harianja Fitriza, Rozi Hanif, Patri Hardi Warsono Helda Khusun Herbasuki Nurcahyanto Herwanto Herwanto Hery Susanto Hosang, Kevin H. Ida Hayu Dwimawanti Ilma Navik Iroth, Villi Monicha Izhar Aduardo Raisid, Izhar Aduardo Jeanette Elmerose Natalia Lee, Jeanette Elmerose Natalia Jeanette I.Ch. Manoppo Joharman Joharman Kairupan, Tiffani S. Landjar Kurniawan Listanti Listanti Lita Listyoningrum M. Izur Rifki Ovani Maesaroh Maesaroh Mahfudloh, Mahfudloh Manggu, Blasius Manoppo, Jeanette Margaretha Suryaningsih Mochammad Mustam Mona Agisa Widia Gutama Muhammad Ari Noviyanto Mulyawati, Devi Annisa Nada Salsabila, Kamilia Nadila, Astri Evarista Najidah, Nurul Nawangsari, Hasna Ulayya Nelly Mayulu Nina Widowati Nita Haryanti Novie H. Rampengan Nurhayati Masloman Nurohman, Aji Ima Nuryana, Hurip Paendong, Boy A.I. Pernamasari, Noviantoro Pondagitan, Alpinia Shinta Pradnya Paramita Preistia Preistia Pricilia Dwi Candra R. Slamet Santoso R., Munna Rafika Rinaldi, Enrico Adhitya Rini Sekartini Ristiawan, Muhammad Ibnu Rocky Wilar Rohman, Satria Nur Rokot, Natasya T. Sahputry, Feby Ayu Saraswati, Maria Tika setiatri, Regita tias Siti Fatimah Sri Suwitri Suciningati Suciningati Sumantoro, Wasis Sundari, Weti Sundarso Sundarso Suryadi N. N. Tatura, Suryadi N. N. Tilaar, Stephanie K.I. Toyib, Rozali Trinovita Andraini Wahyu Iriani Wangke, Lydia Waworuntu, David Wildan Ardiansyah Wuisantono, Dennis Youke Faradhilla Nasution Yuliantari, Kadek Rani Yusra Zainal Hidayat