Claim Missing Document
Check
Articles

KLASIFIKASI TUTUPAN VEGETASI MENGGUNAKAN METODE DEKOMPOSISI POLARIMETRIK Panji Pratama Putra; Yudo Prasetyo; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1300.902 KB)

Abstract

ABSTRAK Indonesia adalah negara yang memiliki wilayah yang sangat luas dan kekayaan alam yang berlimpah. Pembangunan di segala bidang dilaksanakan untuk memajukan negara, melindungi kekayaan alam, serta untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada proses pembangunan tersebut ada aspek penting yang tidak boleh diabaikan yaitu mengenai memahami banyaknya kawasan hutan dan perkiraan biomasa hutan yang ada di Indonesia. Disamping itu manfaat dari kawasan hutan sangat penting untuk keberlangsungan makhluk hidup yang ada di bumi.Penelitian penelitian ini memanfaatkan data ALOS PALSAR L-band level 1.5 dengan quad polarization. Pada penelitian ini proses yang dilakukan adalah dengan mengektrasi data tersebut kedalam matriks Sinclair yang kemudian akan dilakukan proses multilook dan speckle filtering untuk menghilangkan noise. Setelah proses tersebut dilakukan data tersebut di konversi kedalam matrik koherensi untuk mendapatkan informasi dari hasil klasifikasi yang menggunakan metode dekomposisi polarimetrik yang telah dijaelaskan oleh Cloude dan Pottier. Hasil klasifikasi kawasan hutan yang telah didapatkan proses berikutnya adalah memberikan informasi koordinat pada hasil klasifikasi tersebut agar data yang dihasilkan memiliki informasi koordinat yang sesuai dengan kondisi sebenarnya. Validasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan menyesuaikan tutupan lahan hasil klasifikasi dekomposisi polarimetrik dengan citra Landsat 8 untuk mendapatkan kesesuaian tutupan lahan agar didapatkan informasi sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.Penelitian tugas akhir ini menghasilkan sebuah citra hasil klasifikasi dekomposisi polarimetrik dengan metode Cloude & Pottier. Hasil klasifikasi tersebut mengklasifikasikan kawasan perairan dan non-perairan (kawasan hutan dan pemukiman). Hasil dari klasifikasi dekomposisi polarimetrik ini juga menghasilkan luas kawasan tutupan vegetasi sebesar 52.793 ha, kawasan pemukiman sebesar 31.209 ha dan kawasan perairan sebesar 12.312 ha.. Selain itu klasifikasi tersebut diharapkan dapat dijadikan acuan sebagai bahan pertimbangan untuk mengembangkan pelestarian kawasan hutan guna keberlangsungan makhluk hidup di masa yang akan datang.Kata Kunci : Kawasan hutan, Cloude dan Pottier, Klasifikasi dekomposisi polarimetrik ABSTRACTIndonesia is an exceedingly wide country which having much a natural resources. Development in every field occurs to increase the country, protect the natural resource, and increase a society welfare. There are two crucial aspects in every process of the development, namely to recognize the forest area and estimate the forest biomass in Indonesia. Moreover, the benefit of the forest area is extremely crucial  for the survival of living things on Earth. This research utilized ALOS PALSAR L-band level 1.5 data with quad polarization. In this research, the process was performed by exctract the data into the matrix Sinclair and then do the multilook process and speckle filtering to remove noise. Once the process was performed, some data will process into coherency matrix to obtain the information from the result of classification using polarimetric decomposition that have been describe by Cloude and Pottier. The result of classification of vegetation cover that have been obtained the next process is to provide coordinate information on the result of classification that the data generated has coordinate information appropriate withcatual condition. Validation in this research is performed to adjust classification result polarimetric decomposition with landsat 8 to get the suitability of land cover in order to obtain information appropriate with actual conditionThis final research showed in an image of the polarimetric decomposition classification result used Cloude & Pottier method. The classification result produces a classification that separated water and non-water (forest and residence area). The total vegetation cover area according from classification polarimetric decomposition amounted to 52.793 ha, residence area amounted to 31.209 ha and waters area amounted to 12.312 ha. The result is expected to be reference to develop conservation of forest area for the survival of living things in the future.Keywords: Forest area, Cloude and Pottier, Polarimetic decomposition classification.*) Penulis Penanggungjawab
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN BERDASARKAN WILLINGNESS TO PAY (WTP) (Studi Kasus : Lawang Sewu dan Sam Poo Kong) Yesi Monika Manik; Arief Laila Nugraha; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (833.574 KB)

Abstract

ABSTRAKLawang Sewu dan Sam Poo Kong sebagai salah dua ikon Kota Semarang memiliki potensi sebagai objek wisata. Lokasi yang strategis terletak di pusat Kota Semarang dan nilai sejarah yang terkandung didalamnya menjadikan Lawang Sewu dan Sam Poo Kong sebagai salah satu pilihan masyarakat untuk berwisata. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan suatu peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) terhadap objek wisata Lawang Sewu dan Sam Poo Kong untuk menentukan strategi pengembangan objek wisata berdasarkan pada kesediaan wisatawan untuk membayar (Willingness To Pay; WTP) pada objek wisata tersebut.Metode penarikan sampel (responden) yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah Probability Sampling, di mana peluang setiap anggota populasi terpilih sama, dengan teknik Quota Accidental Sampling yaitu sampel diambil dengan cara kebetulan yang datang berkunjung di objek wisata Lawang Sewu dan Sam Poo Kong. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungan WTP menggunakan perangkat lunak Maple 14.Dalam penelitian tugas akhir ini, hasil yang diperoleh berupa peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan dengan nilai WTP objek wisata Lawang Sewu sebesar Rp 64.804,- dengan surplus konsumen sebesar Rp 1.278.061,556 per individu per tahun, sehingga diperoleh nilai total ekonomi objek wisata Lawang Sewu sebesar Rp 404.128.565.500,- (nilai surplus konsumen per individu per tahun dikalikan dengan jumlah pengunjung tahun 2013). Dan nilai WTP objek wisata Sam Poo Kong sebesar Rp Rp 61.205,- dengan surplus konsumen sebesar Rp 2.048.926,914 per individu tahun, sehingga diperoleh nilai total ekonomi objek wisata Sam Poo Kong sebesar Rp 468.567.392.350,-.Kata Kunci : Travel Cost Method, Contingent Valuation Method, Willingness To Pay, Uji Validitas, Uji Realibilitas, Tipologi Kawasan, Peta ZNEK ABSTRACTLawang Sewu and Sam Poo Kong, as two icons of Semarang, have potential as a tourist attraction. The location is strategically in the center of Semarang and the historical value of them become one of the people's choice for travel. Based on this, we need Zona Nilai Ekonomi Kawasan map (ZNEK) of Lawang Sewu dan Sam Poo Kong to determine the development strategy based on the traveler's Willingness To Pay (WTP) at the tourist attraction.Sampling method (respondents) used in this research is the probability sampling, that the opportunities every elected member is same, by using Quota Accidental Sampling technique, where samples are collected by coincidence who came to visit Lawang Sewu and Sam Poo Kong attractions. Data processing method used is multiple linear regression analysis and calculation of WTP using Maple 14 software.In this research, the results is obtained of a ZNEK map with WTP values of Lawang Sewu attractions of IDR 64.804,-, with the consumer surplus of IDR 1.278.061,556 per person per year, so Total Economic Value (TEV) of Lawang Sewu is IDR 404.128.565.500, - (the value of consumer surplus per person per year multiplied with the number of visitors in the year of 2013). Sam Poo Kong’s WTP values of IDR 61.205,-, with consumer surplus of  IDR 2.048.926,914 per person per years, so TEV of Sam Poo Kong is IDR 468.567.392.350,-.Keywords : : Travel Cost Method, Contingent Valuation Method, Willingness To Pay, Test Validity, Test Reliability, Typologi of regions, ZNEK Map. 
ANALISIS FENOMENA PULAU BAHANG (URBAN HEAT ISLAND) DI KOTA SEMARANG BERDASARKAN HUBUNGAN ANTARA PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DENGAN SUHU PERMUKAAN MENGGUNAKAN CITRA MULTI TEMPORAL LANDSAT Almira Delarizka; Bandi Sasmito; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1314.588 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Semarang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah dan menjadi kota terbesar kelima di Indonesia. Kota Semarang memiliki posisi strategis yaitu berada di tengah-tengah Pulau Jawa.  Akibat letaknya yang strategis ini, semakin hari terjadi peningkatan urbanisasi yang cepat dan berlanjut di Kota Semarang. Seiring dengan peningkatan urbanisasi terjadi perubahan tutupan lahan, dari area bervegetasi menjadi daerah terbangun. Proses pembangunan yang diiringi dengan pertambahan jumlah penduduk akan mempengaruhi luasan lahan yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan sehari-hari serta mempengaruhi suhu yang memicu adanya fenomena pulau bahang (urban heat island).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah karakteristik tutupan lahan dalam daerah perkotaan berhubungan dengan suhu permukaan yang lebih tinggi atau lebih rendah. Fenomena pulau bahang (urban heat island) kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan data penginderaan jauh melalui beberapa ekstraksi yaitu pemanfaatan klasifikasi terbimbing (supervised), NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan LST (Land Surface Temperature). Pengolahan data dilakukan menggunakan citra satelit Landsat 7 Tahun 2006, Landsat 5 Tahun 2011, dan Landsat 8 Tahun 2016. Hasil pengolahan berupa distribusi suhu permukaan kemudian dikorelasikan dengan nilai indeks vegetasi dan perubahan tutupan lahan menggunakan uji regresi sederhana.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan dan indeks vegetasi memiliki korelasi dengan suhu permukaan. Hasil uji regresi sederhana antara perubahan luas lahan terbangun terhadap suhu permukaan menghasilkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 95%.Hasil uji regresi sederhana antara perubahan vegetasi terhadap suhu permukaan menghasilkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 81%. Suhu di daerah pusat kota dan daerah pinggiran kota Semarang memiliki selisih sebesar ± 1-2o C. Fenomena pulau bahang (urban heat island) terjadi di Kota Semarang dibuktikan dengan suhu permukaan rata-rata yang turun dari daerah pusat kota ke pinggiran kota.Kata Kunci : Penginderaan Jauh, Suhu Permukaan, Tutupan Lahan, Urban Heat Island. ABSTRACTSemarang City is the capital of Central Java province and become the fifth largest city in Indonesia. Semarang City has a strategic position which was located in the middle of Java Island. Due to its strategic location, urbanization improvements are fast and continuous in Semarang. As the urbanization are risen, it also have transition on land cover from vegetation area to built-up area. The development process which coincided with acretion of population would affect the land sizes which need to support daily activity and affect the temperature which produce urban heat island phenomenon.This study aims to know whether land cover characteristic urban area are related with land surface temperature which is higher or lower. Urban heat island was analyzed using the approach of remote sensing data through multiple extractions, such as supervised classification, NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) and LST (Land Surface Temperature). Data processing are using Landsat 7 satellite image in 2006, Landsat 5 in 2011, and Landsat 8 in 2016. Processing result are in the form of surface temperature distribution correlated with vegetation index value and land cover changes using simple regression test.The results show that land cover changes and vegetation index have correlation with surface temperature. The results of simple regression test between surface temperature with built up area changes obtained the value of the coefficient determination (R2) of 95%. Simple regression test results between vegetation changes with land surface temperature obtained the value of the coefficient  determination (R2) of 81%. Temperature in the downtown area and the suburbs area in Semarang have a difference ± 1-2o C. Urban heat island occurred in Semarang was evidenced by the average surface temperature which decreases from the downtown area to the suburbs. Keywords: Land Cover, Land Surface Temperature, Remote Sensing, Urban Heat Island.*) Penulis, PenanggungJawab
PETA PERSEBARAN PENGINAPAN LOW BUDGET UNTUK BACKPACKERS TAUFIQ FITRIANSYAH ADI PRADANA; Andri Suprayogi; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1045.355 KB)

Abstract

Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, memiliki sektor pariwisata yang sedang dikembangkan untuk menarik wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Bentuk wisata yang ada di Kota Semarang meliputi wisata alam, wisata budaya, wisata buatan, wisata minat khusus, dan berbagai event yang mengundang minat para wisatawan. Keanekaragaman event kebudayaan yang didukung oleh kreativitas seni, serta keramahtamahan masyarakat, membuat Kota Semarang mampu menciptakan produk-produk budaya dan pariwisata yang menjanjikan.Penelitian ini dilakukan untuk membuat peta persebaran penginapan yang low budget untuk para backpackers yang berkunjung ke Kota Semarang. Pemetaan yang dilakukan untuk mengidentifikasi jenis-jenis penginapan yang direkomendasikan untuk para backpackers dan mengetahui akses dari penginapan yang dimaksud ke tempat wisata yang rekomendasi di Kota Semarang.Hasil dari penelitian ini adalah peta persebaran penginapan low budget berdasarkan jenis kamar yang ada beserta informasi tentang penginapan yang dimaksud sehingga memudahkan para backpackers untuk memilih penginapan. Selain itu terdapat juga tempat wisata rekomendasi dan tempat umum yang berada di Kota Semarang.
ANALISIS SPASIAL KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP JUMLAH PENDUDUK DI KOTA SOLO Muhammad Danny Rahman; Moehammad Awaluddin; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.747 KB)

Abstract

ABSTRAK Berdasarkan peraturan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menetapkan bahwa presentasi Ruang Terbuka Hijau pada wilayah perkotaan minimal sebesar 30% dari luas kota. Penyediaan RTH di wilayah perkotaan sedikit mengalami kesulitan dikarenakan permintaan akan pemanfaatan lahan kota yang terus tumbuh untuk pembangunan berbagai fasilitas perkotaan. Hal ini umumnya merugikan keberadaan RTH yang sering dianggap sebagai lahan cadangan dan tidak ekonomis. Dengan demikian perlu adanya analisis untuk mengetahui kondisi RTH di Kota Solo masih sesuai atau tidak.RTH dapat diidentifikasi dengan beberapa cara, salah satunya yaitu dengan menggunakan citra satelit. Karena citra satelit mampu menampilkan permukaan bumi secara luas, sehingga bisa digunakan untuk mengidentifikasi tutupan lahan salah satunya yaitu RTH. Sebelum melakukan pemrosesan data menggunakan citra satelit, langkah awal yang dilakukan adalah uji ketelitian citra, karena proses ini sangat penting untuk menentukan kualitas dari citra satelit. Setelah itu dilakukan Registrasi peta, Registrasi peta sendiri merupakan proses transformasi koordinat dari yang belum ada menjadi ada. Baru kemudian dilakukan interpretasi dan digitasi sesuai dengan jenis ruang terbuka hijau sampai dengan penghitungan luasnya.Analisis dengan cara digitasi bertujuan untuk mengetahui ketersediaan, luas, dan lokasi persebaran ruang terbuka hijau. Adapun hasil dari analisis tersebut didapatkan luas Ruang Terbuka Hijau Kota Solo Tahun 2015 sebesar 581,101 Ha atau sekitar 12,458% dari total luas Kota. Sehingga dapat disimpulkan bahwa luas ruang terbuka hijau belum memenuhi jumlah yang ditentukan dalam UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan juga berdasarkan jumlah penduduk dan prediksi pertumbuhan penduduk dari tahun 2014 sampai tahun 2019. Kata Kunci : Ruang Terbuka Hijau, Citra IKONOS, Pertumbuhan Penduduk   ABSTRACT According to the regulations of Law No. 26 Year 2007 on Spatial Planning determines that the presentation of green open space in urban areas of at least 30% of the area of the city. The provision of green space in urban areas little difficulty because demand for land use of the city continue to grow for the construction of various urban facilities. It is generally detrimental to the presence of green space which is often regarded as reserve lands and uneconomical. Thus the need for analysis to determine the condition of the green space in the city of Solo are still appropriate or not.RTH can be identified in several ways, one of which is by using satellite imagery. Because satellite imagery is able to show the earth's surface area, so that it can be used to identify land cover one of them is green space. Before performing the processing of data using satellite images, the first step to do is test the accuracy of the image, because the process is very important to determine the quality of satellite imagery. Once that was done Register maps, maps Registration itself is a coordinate transformation process from which no be no. Only later do the interpretation and digitization accordance with the type of green open space up to the counting extent.Analysis by means of digitization aims to determine availability, spacious, and the location of the distribution of green open space. The results of the analysis obtained vast green open space the city of Solo in 2015 amounted to 581.101 ha, or approximately 12.458% of the total area of the City. It can be concluded that the vast green open space not meet the amount specified in Law No. 26 Year 2007 on Spatial Planning and also based on population and population growth forecasts from 2014 to 2019. Keywords: green open space, IKONOS Imagery, Population Growth  *) Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS DEFORESTASI HUTAN DI PROVINSI RIAU DENGAN METODE POLARIMETRIK DALAM PENGINDRAAN JAUH Luluk Dita Shafitri; Yudo Prasetyo; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.226 KB)

Abstract

ABSTRAK Deforestasi merupakan suatu proses penghilangan hutan dimana hutan secara berangsur-angsur dibuka untuk keperluan pemukiman atau hal lainnya dengan cara penebanganan ataupun pembakaran hutan. Deforestasi di Indonesia memberikan dampak yang sangat menghawatirkan hingga mengancam keberadaan makhluk hidup didalam hutan hingga merusak lingkungan disekitar Riau. Maraknya deforestasi di Provinsi Riau dilakukan pemetaan untuk dapat dianalisis.Pemetaan deforestasi di Provinsi Riau ini menggunakan teknologi pengindraan jauh dengan menggunakan citra Sentinel 1A untuk mendapatkan gambaran perubahan alih fungsi lahan hutan dengan polarimetric decomposition metode cloude & pottier dengan parameter wishart clasification  pada hutan diprovinsi Riau. Hasil tutupan lahan citra Landsat 8 didapatkan dengan pengolahan supervised, dengan menggabungkan seluruh dan membandingkan hasil pengolahan peta deforestasi di Provinsi Riau. Peta deforestasi dikombinasikan data lapangan berupa kuisioner dan juga peraturan daerah tentang pembukaan lahan kehutanan diprovinsi Riau untuk mendapatkan analisis kajian dampak dari deforestasi di Provinsi RiauHasil dari penelitian ini menunjukan adanya kenaikan kawasan hutan di Provinsi Riau pada tahun 2015 – 2016, kawasan perkebunan mengalami penurunan dan kawasan permukiman dan lahan terbuka mengalami kenaikan yang merupakan alih fungsi dari kawasan hutan. Analisis deforestasi di Provinsi Riau terjadi bersamaan dengan adanya reforestasi. Pada Kabupaten Indragiri Hulu, terjadi penurunan hutan sebesar 8470,24044 hektar dan adanya kenaikan lahan pada permukiman, lahan terbuka dan perkebunan.Kata Kunci : Deforestasi, Hutan, Polarimetrik, Riau, Supervised   ABSTRACT Deforestation is a process of forest clearance where forests are gradually cleared for settlement purposes or other things by deforestation or forest burning. Deforestation in Indonesia gives a very worrisome impact to threaten the existence of living creatures in the forest to damage the environment around Riau. The rise of deforestation in Riau Province is mapping to be analyzed.Deforestation mapping  in Riau Province uses remote sensing technology with  Sentinel -1A image to get a description about the change of forest land use polarimetric decomposition of cloude & pottier method with wishart clasification parameter in forest in Riau province. Land cover result of Landsat 8 image is obtained by supervised processing, by combining all and comparing the result of deforestation map processing in Riau Province. Deforestation maps combined with field data in the form of questionnaires as well as local regulations on forest land clearance in Riau province to obtain an analysis  of the deforestation impacts in Riau Province.The results of this study shown an increase of forest area in Riau Province in 2015 - 2016, plantation areas decreased, and settlements and open land areas have increased which is the transfer function of the forest area. Deforestation analysis in Riau Province occurs concurrently with reforestation. In Indragiri Hulu district, forest degradation amounts to 8470,24044 hectares and an increase in land of  settlements, open land and plantations. Keywords: Deforestation, Forest, Polarimetric, Riau, Supervised
PERBANDINGAN KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN MENGGUNAKAN METODE KLASIFIKASI BERBASIS OBJEK DAN KLASIFIKASI BERBASIS PIKSEL PADA CITRA RESOLUSI TINGGI DAN MENENGAH Zia Ul Maksum; Yudo Prasetyo; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.143 KB)

Abstract

ABSTRAK                Suatu wilayah akan mengalami perkembangan yang akan membawa perubahan penampakan secara fisik. Wilayah yang berkembang memerlukan adanya perencanaan untuk mengarahkan peruntukan lahan secara tepat. Dibutuhkan suatu metode yang akurat dan efektif untuk memperoleh informasi tutupan lahan. Salah satu teknologi yang efektif untuk memetakan tutupan lahan adalah teknologi penginderaan jauh. Terdapat berbagai macam teknik pengolahan data dalam penginderaan jauh untuk memperoleh informasi tutupan lahan. Teknik klasifikasi citra dalam penginderaan jauh terbagi menjadi tiga bagian teknik klasifikasi yaitu teknik berbasis piksel, teknik berbasis sub-piksel, dan teknik berbasis objek.                Pada penelitian ini, teknik klasifikasi berbasis piksel dan klasifikasi berbasis objek akan dibandingkan dalam mengklasifikasi tutupan lahan pada citra resolusi tinggi yaitu citra Quickbird dan citra resolusi menengah yaitu citra Landsat 8 dengan lokasi Kota Semarang.  Perbandingan hasil klasifikasi berbasis objek dan klasifikasi berbasis piksel pada kedua citra tersebut diuji akurasinya dengan matriks konfusi yang menghasilkan akurasi klasifikasi tutupan lahan pada citra Landsat 8 didapat akurasi keseluruhan untuk metode klasifikasi berbasis objek sebesar 77,14% sedangkan metode klasifikasi berbasis piksel didapat nilai sebesar 75,71%. Untuk citra Quickbird, klasifikasi berbasis objek menghasilkan akurasi keseluruhan 87,14% sementara klasifikasi berbasis piksel didapat nilai sebesar 82,85%.                Hasil akurasi keseluruhan menunjukkan klasifikasi berbasis objek cukup baik dibandingkan klasifikasi berbasis piksel dalam mengklasifikasi tutupan lahan baik pada citra resolusi menengah (citra Landsat 8) maupun citra resolusi tinggi (citra Quickbird). Kata Kunci : Klasifikasi Berbasis Objek, Klasifikasi Berbasis Piksel, Tutupan Lahan ABSTRACTA region will experience growth that it will bring changes in the physical appearance. Evolving region need to review land use planning to steer land cover allocation properly. It requires an accurate and effective method to obtain land cover information. One effective technology for mapping land cover is a remote sensing technology. There are various kinds of data processing techniques in remote sensing to obtain land cover information. Classification techniques in remote sensing image are divided into three parts classification technique that are pixel based technique, sub-pixel based technique, and object-based techniques. In this study, the pixel based classification and object based classification techniques will be compared in land cover classification on high resolution imagery that are Quickbird imagery dan medium resolution imagery that are Landsat 8 imagery with the location in city of Semarang. Comparison of the results object based classification and the pixel based classification is tested for accuracy by confusion matrix that produce land cover classification accuracy of Landsat 8 obtained value the overall accuracy for an object based classification method amounted to 77.14%, while the pixel based classification methods obtained a value of 75.71%. For Quickbird image, object based classification produce in overall accuracy of 87.14% while the pixel-based classification obtained a value of 82.85%. The results showing the accuracy of the object based classification is quite good compared to the pixel-based classification either at medium resolution imagery (Landsat 8) and high resolution imagery (Quickbird). Keywords : Object Based Classification, Pixel Based Classification, Land Cover.  *) Penulis Penanggung Jawab
PENENTUAN TINGKAT LAHAN KRITIS MENGGUNAKAN METODE PEMBOBOTAN DAN ALGORITMA NDVI (Studi Kasus: Sub DAS Garang Hulu) Mazazatu Rosyada; Yudo Prasetyo; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (861.925 KB)

Abstract

ABSTRAKPemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan syarat konservasi tanah dan air berpotensi menyebabkan terjadinya degradasi lahan yang pada akhirnya akan menimbulkan lahan kritis. Dampak adanya lahan kritis ini adalah penurunan tingkat kesuburan tanah, berkurangnya ketersediaan sumber air pada musim kemarau serta mengakibatkan banjir pada musim hujan. Pemetaaan lahan kritis pada Sub DAS Garang Hulu diperlukan untuk memberikan tingkat pengelolaan yang tepat sehingga tidak mengganggu keseimbangan ekosistem yang ada.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran tingkat kekritisan lahan Sub DAS Garang Hulu dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengacu Departemen Kehutanan No. P.4/V-SET/2013 yaitu metode tumpang tindih, pemberian skor serta pembobotan tiap parameter. Parameter yang digunakan yaitu peta kelas vegetasi, peta kelas produktivitas, peta kelas lereng, peta kelas erosi dan peta kelas manajemen. Peta kelas vegetasi dibuat dari interpretasi citra landsat 8 menggunakan transformasi NDVI. Penentuan lahan kritis di lakukan dengan tumpang tindih data raster dengan pembagian 3 kawasan yaitu kawasan budidaya pertanian, kawasan hutan lindung dan kawasan lindung di luar kawasan hutan.Berdasarkan hasil pengolahan data, kriteria kelas sangat kritis pada kawasan budidaya pertanian dengan luas 339,03 Ha (4,34%), pada kawasan hutan lindung seluas 0,63 Ha (0,008%) dan pada kawasan lindung di luar kawasan hutan seluas 1,17 Ha (0,018%). Analisis tiap kecamatan menunjukkan bahwa kriteria kelas sangat kritis terluas berada di kecamatan Banyumanik dengan luas 102,51 Ha (1,32%), kriteria kelas kritis terluas berada di kecamatan Gunungpati dengan luas 231,57 Ha (2,97%), kriteria kelas agak kritis dengan luas 249,39 Ha (3,20%), kelas potensial kritis dengan luas 1.243,53 Ha (15,96%), dan kelas tidak kritis dengan luas 1.842,48 Ha (23,65%) berada di kecamatan Ungaran Barat.Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meminimalkan peningkatan kekritisan lahan yang terjadi yaitu dengan memberdayakan lahan- lahan tidur (tegalan, tanah kosong) sesuai aturan konservasi tanah. Pemberdayaan lahan tidur ini nantinya mampu meningkatkan nilai lahan itu sendiri baik terutama dari segi produktivitas.Kata kunci :Lahankritis, NDVI, PenginderaanJauh, SistemInformasiGeografis(SIG), TumpangTindih. ABSTRACTLand use does not attention to the rules of soil and water conservation potentially lead to land causes of degradation that will eventually lead to critical land. The impact ofthe existence ofcritical landis thedecreaseof soilfertility, lack ofwater resourcesin dryseasonandin rain season. Critical land mapping is necessary to determine the right efforts in the management of upper course of Garang Hulu Sub Watershed until not disturb ecosystem balanced.  This researchaims to determinethe distribution ofthe critical level ofGarangHulu sub watershedtoutilizeremote sensing technologyandgeographicinformationsystems. The method based on Forestry Department P.4/V-SET/2013 by overlap method, scoring and weighting of each parameter. The parameters used are  map of vegetation class, productivity class map, class map slope, erosion class map, and class map management. Vegetation class map created from Landsat 8 imagery interpretation using NDVI transformation. Determination ofcritical landdowithraster dataoverlapwiththe distribution ofthreeregionsnamelyfarm area, protected forest areas, andprotected areasoutside theforest area.Based on the results of data processing, the class is very critical criteria in the farm area with immensityof 339.03 Ha (4.34%), the area of protected forest area with immensity of 0.63 Ha (0.008% and in protected areas outside the forest area with immensity of 1.17 H (0.018%). Analysis shows that every district is very critical criteria widest class are in Banyumanik subdistricts with immensity of 102.51 Ha (1.32%), the largest class criteria are critical in Gunungpati subdistrict with immensity of 231.57 Ha (2.97%), criteria rather critical class with immensity of 249.39 Ha (3.20%), with a critical potential class area with  immensity of 1.243.53 Ha (15.96%) and are not critical class area with immensity of 1,842.48 Ha (23.65%) located in West Ungaran subdistrict. There is one of way that can be done to minimize the increase in the occurring of critical land which is to empower idle land (wasteland) in accordance with the rules of conservation land. Empowering these idle lands will be able to increase the value of the land itself, well especially in terms of productivity.Keywords : Critical land, NDVI,Remote sensing,Geographic Information Systems (GIS),Overlay.
ANALISIS KORELASI PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP LUASAN MANGROVE DI WILAYAH PESISIR PANTAI SEMARANG Rendi Aulia; Yudo Prasetyo; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.901 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan negara yang mempunyai hutan mangrove (hutan bakau) paling luas di dunia. Berdasarkan FAO (2007) bahwa Indonesia mempunyai hutan mangrove  seluas 3,062,300 juta hektar pada tahun 2005 yang merupakan 19% dari total luas hutan mangrove di seluruh dunia. Hutan mangrove seiring berjalannya waktu mengalami perubahan luasan, perubahan luasan hutan mangrove terjadi secara alami oleh mangrove dan lingkungan, maupun buatan hasil campur tangan manusia. Penyebab lain yang mungkin terjadi adalah dengan berubahnya garis pantai yang menyebabkan luas hutan mangrove semakin berkurang. Oleh karena itu, pemantauan terhadap perubahan garis pantai dan perubahan luas hutan mangrove dengan metode penginderaan jauh diperlukan untuk usaha pengendalian terhadap degradasi ekosistem sekitarnya.Pada penelitian mengenai korelasi perubahan garis pantai terhadap luasan mangrove menggunakan 2 metode, yaitu untuk perubahan garis pantai menggunakan metode BILKO yang dapat membedakan permukaan darat dan air sedangkan untuk perubahan area mangrove menggunakan metode komposit band dan klasifikasi supervised. Dari kedua metode tersebut nantinya dilakukan korelasi untuk mendapatkan hasil. Hasilnya secara kuantitatif, visual dan hitungan statistik.Hasil analisis data spasial pada daerah kota Semarang bahwa telah terjadi perubahan garis pantai pada tahun 2012-2013, abrasi 60,66 Ha dan akresi 21,99 Ha, dan tahun 2013-2014, abrasi 36,21 Ha dan akresi 23,93 Ha. Perubahan luasan mangrove mengalami pengurangan luasan pada tahun 2012-2013 sebesar 145,75 Ha dan tahun 2013-2014 sebesar 198,17 Ha.Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai korelasi sebesar 0,766 > 0.05, artinya hubungan perubahan garis pantai terhadap perubahan luas mangrove memiliki hubungan yang kuat dan nilai signifikansinya sebesar 0,445 > 0,05, artinya perubahan garis pantai terhadap luas mangrove tidak berpengaruh signifikan. Kata kunci : BILKO, Garis Pantai, Komposit Band, Mangrove, Penginderaan Jauh, Supervised. ABSTRACTIndonesia is a country with the largest mangrove area in the world. According to the FAO (2007) Indonesia had a mangrove area of 3,062,300 million hectares in 2005, which represented 19% of the total area of mangrove forest in the whole world. As time passes, mangrove forests experience changes in the area. The changes occur naturally by mangrove and the environment, as well as a result of human intervention. Other cases that may occur is caused by the changing coast line, decreasing the area of the mangrove forests. Therefore, the monitoring of shore line and mangrove area changes with remote sensing method is needed to control the surrounding ecosystem degradation.In this study, the data is studied with two methods. The shore line changes are studied using BILKO method that can separate between land and water surface while the mangrove area changes are studied using composite band and supervised classification method. Both methods will be correlated to obtain results. The result is a quantitative, visual and statistical count.Spatial data analysis results obtained in the period 2012-2013 in the area of Semarang reported that there have been changes in the coast line with abrasion area of 60,66 hectares and accretion area of 21,99 hectares, in 2013-2014, the abrasion covered an area of 36,21 hectares and accretion 23,91 hectares. The mangrove area experienced a reduction in 2012-2013, reaching 145,75 hectares and in year 2013-2014 the degradation reached 198,17 hectares.Statistical analysis result showed that the correlation value is 0,766 > 0,05, meaning that the correlation between the shoreline changes to the mangrove area changes have a strong connection and the significance value is of 0,445 > 0,05, meaning that the changes to the shore line aren’t significant to the changes of the mangrove area.  Keywords:  BILKO, Coast Line, Composite Band, Mangrove, Remote Sensing, Supervised.
ANALISIS SPASIAL ARAH KIBLAT KOTA SEMARANG Satrio Wicaksono; Moehammad Awaluddin; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.7 KB)

Abstract

ABSTRAKDalam melaksanakan ibadah umat muslim diharuskan menghadap kiblat di Masjidil Haram Kota Mekkah. Pengukuran arah kiblat kemudian menjadi permasalahan ketika lokasi suatu tempat jauh dari Ka’bah karena tidak dapat dilakukan pengamatan penglihatan secara langsung. Permasalahan tersebut pada saat ini masih terjadi dalam masyarakat di Indonesia khusus nya di Kota Semarang, sehingga dalam penentuan arah kiblat masih ditemukan cara praktis yaitu menetapkan arah kiblat ke arah barat.Terkait dengan permasalahan tersebut, perlu adanya perhitungan arah kiblat bukan hanya sekedar arah barat. Melaikan dengan perhitungan yang teliti, perhitungan tersebut juga dilakukan pada bidang referensi yang digunakan sebagai acuan karena tiap bidang referensi (ellipsoid, bola dan datar) memberikan hasil arah yang berbeda, selain itu pengukuran  kiblat juga bisa dilakukan dengan mengamati bayangan benda saat terjadi peristiwa rasdhul kiblat dimana saat matahari berada tepat diatas Ka’bahPengukuran dengan metode ini bertujuan untuk mengetahui pola arah kiblat di Kota Semarang dan berapa besar akurasi di tiap bidang referensi terhadap arah kiblat hasil peristiwa rashdul kiblat. Pada hasil analisis yang dilakukan, didapat pola arah kiblat di Kota Semarang berubah tiap 154,166 meter sebesar 5 detik membesar ke arah barat daya dengan besar perubahan 5’ 26’’, dari nilai arah kiblat terkecil sebesar 294° 20' 38" berada di kecamatan genuk dan nilai arah kiblat terbesar 294° 20' 4" di kecamatan mijen.Sedangkan hasil hitungan pada bidang bola berlintang reduksi sebesar 294° 26' 26.69", bidang ellipsoida terreduksi balik sebesar 294° 25' 4.16 dan bidang datar sebesar 292° 12' 8.61", dari hasil tersebut  bidang datar mempunyai perbedaan arah kiblat yang jauh dengan dua bidang refrensi lainnya sebesar 2°14' 18.08" terhadap bidang bola dan 2°11' 7.38" terhadap bidang ellipsoida .Untuk arah kiblat hasil pengamatan peristiwa rashdul kiblat sebesar 294° 33' 39.22",  dari hasil tersebut terlihat metode dengan akurasi paling mendekati hasil rashdul kiblat ialah metode hitungan dengan bidang bolar berlintang reduksi dengan perbedaan nilai hasil sebesar 0° 7' 12.31". Kata Kunci : Kiblat, Ellipsoida, Bola, Datar , Rashdul Kiblat ABSTRACTIn conducting praying, moslems are required to facing Qibla in Masjidil Haram at City of Mecca. Measurement Qibla direction then becomes a problem when the location of a place far away from the Ka’ba because it can not be observed directly eyesight. The problems at the moment still occurs in Indonesian people especially in City of Semarang, so that in determining the direction of Qibla still found a practical way to set the direction of Qibla at west direction. Related to these problems, the need for calculation of the direction of Qibla is not just at west direction. But by a careful calculation, the calculation is also performed on the reference plane used as a reference for each field of reference (ellipsoid, sphere and flat) results in a different direction, in addition to the measurement of Qibla can also be done by observing the shadows when the Rasdhul Qibla event occurs where the sun is right above the Ka’ba. This measurement method aims to determine the pattern of the direction of Qibla in Semarang and how substantial accuracy in each field of reference at Rashdul Qibla events to the direction of Qibla. On the results of the analysis, obtained pattern Qibla direction in Semarang changed every 154.166 meters by 5 seconds enlarged towards the southwest with large changes at 5‘26”, from the value of the smallest direction of Qibla of 294° 20' 38"located in the Genuk district and the value Qibla of 294° 20' 4 " in the Mijen district.Whereas the calculation results at the reducted latitude spherical field of 294° 26' 26.69", the turning reduced ellipsoid fields of 294° 25' 4.16” and the flat fields of 292 ° 12 '8.61". The results of the horizontal plane has different Qibla direction away with two other references fields by 2° 11'7.38" on the sphere field and 2°14'18.08" against ellipsoid field. For Qibla direction result of Rashdul Qibla event observed at 294° 33' 39.22", from these results seen the method closest accuracy to the result of Rashdul Qibla is the reducted latitude spherical field with the difference value results at 0°7'12.31". Keywords : Qibla, Ellpisoid, Sphere, Flat, Rashdul Qibla *) Penulis, penanggung jawab
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Abdul Muthalib Abu Darda Ade Naufalita Adhelina Rinta Iswari Ahmad Dani Ahmad Mujahid, Ahmad Ainin, Mohammad Alfi Dian Ranu Wijaya Alfian Adi Atmaja Alhabsyi, Hadija Almira Delarizka Amal Fathullah, Amal Anastasia Astuti Andi Abdul Hamzah, Andi Abdul Andri Suprayogi Andri Yanto Parulian Tamba Anisa Isna Yesiana Arief Laila Nugraha Ariescha Eko Yuniarto Arsyad, Berti Arwan Putra Wijaya Auliannisa Auliannisa Bagus Yuli Arianto Bahtiar Ibnu Lonita Bandi Sasmito Bernard Ray Barus Chalik, Sitti Aisyah DANI PURBA Diah Ratna Setianingrum Dian Triandini Nurcahyo Diana Nukita Dikwan, Ivananda DITHO TANJUNG PRAKOSO Djuaeni, Muh. Napis DONY AGIL PRASETYO Dwi Uzteyqah Exacty Ekawati Ekawati Fadillah Amin, Nur Fajri, Ahmad Maulana Fida Wulan Istiaji Fikri, Alfikri Rausen Aditya Frandi Barata Simamora Gadalla, Mohamed Saad Abdelkhalk Galih Putro Pamungkas Garancang, Sabaruddin Giustia Puspa Geoda Guntur, Ahmad Hamdan Hamzah, A. Abdul Hamzah, Nur Afifah Hanif Arafah Mustofa Harjum, Mohamad Hasan Basyri Hasan Mustofa Amirudin, Hasan Mustofa Herman J Waluyo Hijab, Zainal Abidin Humaira Qanita Husen Z, Muhammad Husnul Khatimah, A. Ilham Ramadhan Ilham, Muh Ilolu, Roymanto Ilyas, Hamka Indah Risnawati Jumadil, Jumadil Kartono, Akhmad Fadhillah Kasim, Amrah Kemas Abdul Fatah Kundharu Saddhono Kurnia Darmawan Kurniawan Putra Widya Wardana Luluk Dita Shafitri Maghfirah, Tadzkiratul Mahira, Mahira Mazazatu Rosyada Miolo, Mukhtar I MIRTA INDRIASTUTI Moehammad Awaluddin Mualim, Masna Muchammad Misbachul Munir, Muchammad Misbachul Muhammad Ardhi Ahadi, Muhammad Ardhi Muhammad Danny Rahman Muhammad Hakqi Munir Munir, Munir Muzakkir Muzakkir Nasrul Arfianto Nawas, Kamaluddin Abu Nur Hamzah Nurhadi Bashit Panji Pratama Putra Rd. Pintyo Pratomo Priambodo Rendi Aulia Retno Winarni Rida Hilyati Sauda Rizky Silvandie Rosika Dyah Pratiwi Sam, Zulfiah Satrio Wicaksono Sawitri Subiyanto Setiawan, Syarif Agus Sindy Pariamanda Singgih Wahyu Nugroho Sinta, Priti Sri Purwatik Sri Rahmayanti, Sri Sulaiman Hakim Sinaga Supardi Supardi Sutomo Kahar Syahruddin Usman, Syahruddin Syamsuddin, Naidin Syarifa Naula Husna TAUFIQ FITRIANSYAH ADI PRADANA Tegar Dio Arsadya Rahadian Torkis Lubis Victor Andreas Tarigan Wahyu Adi Yuliyanto Widodo, Panggih Yenny Paras Dasuka Yesi Monika Manik Yudo Prasetyo Yunus, Abdul Qayyim Zainuddin, Ihsan Zia Ul Maksum