Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) BERDASARKAN KEBUTUHAN OKSIGEN (STUDI KASUS : KOTA SALATIGA) Sri Purwatik; Bandi Sasmito; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1533.332 KB)

Abstract

ABSTRAK Fungsi hijau dalam ruang terbuka hijau (RTH) kota sebagai ‘paru-paru’ kota, merupakan salah satu aspek berlangsungnya fungsi daur ulang, antara gas karbondioksida (CO2) dan oksigen (O2). Lebih dari itu, masih banyak fungsi RTH termasuk fungsi estetika yang bermanfaat sebagai sumber rekreasi publik, secara aktif maupun pasif, yang diwujudkan dalam sistem koridor hijau sebagai alat pengendali tata ruang atau lahan dalam suatu sistem RTH kota.Pada penelitian ini menggunakan Citra Resolusi Tinggi dari Google Earth perekaman 5 Juni 2012, Peta Guna Lahan Kota Salatiga, Peta Jaringan Jalan, dan Peta Jaringan Sungai Kota Salatiga. Selain itu, data yang diguakan berupa data non spasial seperti data jumlah penduduk, jumlah ternak, dan jumlah kendaraan bermotor Kota Salatiga. Metode yang digunakan adalah digitasi on screen. Hasil dari digitasi adalah untuk mempermudah dalam interpretasi citra, terutama RTH dan vegetasi penghasil oksigen lainnya. Jenis RTH yang diteliti dalam peneitian ini adalah hutan kota, jalur hijau, pemakaman, sempadan sungai, kawasan perlindungan dibawahnya dan RTH Privat.Kota Salatiga memiliki 910,58 Ha Ruang Terbuka Hijau yang terdiri atas 72,37 Ha Hutan Kota, 4,09 Jalur Hijau, 53,19 Ha Pemakaman, 259,51 Ha Sempadan Sungai, 104,81 Ha Kawasan perlindungan dibawahnya, dan 423,08 Ha RTH Privat. Selain itu, dalam penelitian ini juga melakukan interpretasi vegetasi non Ruang Terbuka Hijau penghasil Oksigen yang terdiri atas Pertanian Lahan Kering seluas 2779,43 Ha, Perkebunan sebesar 327,26 Ha dan Pertanian Lahan Basah 895,52 Ha.Berdasarkan jumlah penduduknya, Kota Salatiga memerlukan Ruang Terbuka Hijau sebesar 372,174 Ha. Sehingga bila dilihat dari RTH yang luasnya 910,58 Ha sudah memenuhi. Namun, bila dilihat dari kebutuhan oksigen, Kota Salatiga memerlukan 3452,174 Ha Ruang Terbuka Hijau. Dengan demikian, luas RTH yang ada belum memenuhi standar kebutuhan oksigen. Namun, bila ditambah dengan vegetasi non RTH penghasil oksigen, luas penghasil oksigen menjadi 4912,79 Ha. Sehingga, luas yang ada sudah memenuhi batas minimum suplai oksigen.Kata Kunci : Ruang Terbuka Hijau, Citra Resolusi Tinggi, Kebutuhan OksigenABSTRACTGreen function in a green open space (RTH) cities as 'lungs' of the city, is one of the aspects of the functioning of recycling, the gas carbon dioxide (CO2) and oxygen (O2). More than this, there are still a lot of open space functions including aesthetic functions that are useful as a source of public recreation, actively or passively, which is embodied in the system of green corridors as a means of controlling the spatial or land in a city green space system. In this study, using the High Resolution image from Google Earth recording June 5, 2012, Salatiga Land Use Map, Road Network Map, and River Network Map of Salatiga. In addition, we use non-spatial data such as population data, number of livestock, and the number of motor vehicles Salatiga. The method used was digitized on screen. The results of digitization is to facilitate the image interpretation, especially of green space and other oxygen-producing vegetation. RTH types examined in this fieldwork is the urban forest, green lanes, cemetery, river banks, protected areas and open space underneath Privat. Salatiga has 910,58 Ha of green open space which consists of 72,37 Ha of Forest City, the Green Line 4.09, 53,19 Ha Cemetery, River Border 259,51 Ha, 104,81 Ha protection area underneath, and 423,08 Ha RTH Private. In addition, this study also interpret non vegetation oxygen-producing green open space consisting of Dryland Agriculture area of 2779,43 hectares, 327,26 hectares of Plantation and Agricultural Wetlands 895,52 Ha.In this study, using the High Resolution image from Google Earth recording June 5, 2012, Salatiga Land Use Map, Road Network Map, and River Network Map of Salatiga. In addition, we use non-spatial data such as population data, number of livestock, and the number of motor vehicles Based on population, Salatiga city need green open space in wide 372,174 ha. So that when viewed from the RTH has wide 910,58 Ha has met. However, when viewed from oxygen needed, Salatiga require 3452,174 hectares of green open space. Thus, there is wide open space that have not met the needs oxygen. However, when coupled with non RTH vegetation producing oxygen, oxygen-wide into 4912,79 Ha. Thus, there has been widespread meet the minimum oxygen supply. Keywords: Green Open Space, High Resolution Image, Oxygen Supplies
PEMBUATAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS KAMPUS UNIVERSITAS DIPONEGORO BERBASIS ANDROID Giustia Puspa Geoda; Andri Suprayogi; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.558 KB)

Abstract

ABSTRAKUniversitas Diponegoro adalah salah satu universitas terbesar di Provinsi Jawa Tengah dengan luas kampus Tembalang  sekitar 1.352.054 m2. Namun dengan luas tersebut, informasi mengenai lokasi berbagai macam fakultas yang terletak di Universitas Diponegoro masih tergolong minim. Kebutuhan masyarakat dan mahasiswa akan sistem informasi kampus yang memadai memiliki urgensi yang tinggi. Penelitian ini menggunakan data spasial dan non-spasial dari Universitas Diponegoro, baik itu berupa koordinat lokasi, foto, peta kampus dan informasi berbagai gedung maupun data dosen dan informasi tiap jurusan serta fakultas. Dengan popularitas smartphone Android menjadikannya sebagai platform sistem informasi kampus Universitas Diponegoro. Aplikasi ini dikembangkan menggunakan Framework Android SDK, bahasa pemrograman java dan PHP, MySQL sebagai basis data, dan Google Map. Hasil akhir dari penelitian ini adalah aplikasi Android sistem informasi geografis kampus Universitas Diponegoro yang berisi informasi dari tiap gedung yang ada di Universitas Diponegoro, data dosen, serta foto untuk memudahkan pencarian akan lokasi gedung tertentu di Universitas Diponegoro.Kata Kunci : Universitas Diponegoro, SIG, Aplikasi, Android ABSTRACTDiponegoro University is one of the largest university in Central Java with approximately 1.352.054 m2 area of campus in Tembalang. For an area with that number, the information’s availability about location of each major in University of Diponegoro was insufficient. The need for information on the campus demanding the availability of information systems that are informative and provide convenience for everyone who needs information about the campus. This research using spatial data coordinates of the position and photos of objects and attribute data in the form of a campus building inventory data. Android popularity makes it being this application’s platform while the coordinate data collection using GPS handheld. Maps using Google Maps then developed using Android SDK framework., MySQL with phpMyAdmin features used as database.. The final result of this research is the application of Diponegoro University campus map Android-based equipped with information of each building, major, lecturers, and images to look around the location of building we were looking for.  Keywords : Diponegoro University, GIS, Application, Android
IDENTIFIKASI POTENSI TOKO MEBEL BERDASARKAN ANALISIS PEMENUHAN KEBUTUHAN MEBEL BERBASIS SIG (Studi Kasus: Perumahan Bertipe Sederhana di Kecamatan Banyumanik) Auliannisa Auliannisa; Hani’ah Hani’ah; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.459 KB)

Abstract

ABSTRAKKecamatan Banyumanik merupakan salah satu kecamatan di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki jumlah penduduk terbanyak, yakni 132,508 jiwa (Badan Pusat Statistik, 2016). Oleh sebab itu, jumlah perumahan di kecamatan ini tergolong banyak begitupula dengan tipenya. Banyaknya jenis perumahan ini membuat peningkatan potensi industri mebel setempat. Banyak toko mebel setempat yang seharusnya memiliki potensi lebih besar karena tingkat pembangunan perumahan yang tinggi. Namun, hal tersebut perlu dikaji agar para industri mebel dapat mengetahui bagaimana potensi mebel terhadap perumahan bertipe kecil atau sederhana.Dalam penelitian ini digunakan data informasi toko mebel dan data survei opini kepada penghuni rumah tipe sederhana terhadap pembelian mebel. Dari data tersebut dilakukan pembobotan parameter menggunakan metode AHP (Analysis Hierarchy Process) dan diperoleh kriteria barang mebel yang paling tepat agar potensial dibeli penghuni perumahan bertipe sederhana yaitu meja makan/keluarga ukuran sedang sebesar 32%, sofa keluarga/tamu ukuran two seat sebesar 29% dan lemari baju ukuran dua pintu sebesar 69%.Kemudian dilakukan proses buffering terhadap perumahan bertipe sederhana dan jalan raya. Didapatkan hasil berupa persebaran toko mebel di Kecamatan Banyumanik dengan pola persebaran clustered (mengelompok) dipusat Kecamatan dan tersebar mendekati jalan raya serta presentase toko mebel terbesar terdapat di Kelurahan Srondol Wetan. Dari hasil data peta parameter, didapatkan potensi toko mebel di Kecamatan Banyumanik yaitu pada kelas sangat berpotensi terdapat 5 toko mebel, kelas berpotensi 3 toko mebel, kelas cukup berpotensi 6 toko mebel dan kelas kurang berpotensi 1 toko mebel. Kata Kunci : Perumahan Banyumanik, Mebel, Metode AHP (Analysis Hierarchy Process), Analisis buffering. ABSTRACTBanyumanik sub-district is one of many sub-districts in Central Java with the highest population of 132,508 people (Central Bureau of Statistics, 2016). Therefore, there are many housings with different types. The amount of these housings increases the potential of local furniture industries. The local furniture industries should have bigger potential because of the high level of housings development. However, it needs more study to find out the potential of furniture against very-simple or simple type housings.This study used data information of the furniture stores and the survey’s opinions of the modest type housings’ residents to the purchase of furniture. Based on the data, weighting parameter using AHP (Analysis Hierarchy Process) method has been done and obtained the most proper criteria for the furniture that was affordable for the residents of very simple type housing to simple type housing, they are medium size dining table which was 32%, two-seat family/guest, sofa  about 29% and two-door wardrobe about 69%.The buffering process of simple type housings and roadways was undergone. Then the result of Geospatial Information Systems analysis was the distribution of furnitures stores in Banyumanik sub-district with clustered pattern in sub-district’s center and spread near the roadways and the biggest percentage of furniture stores was in Administrative Village of Srondol Wetan. From the result of parameter map data, it is obtained that the potential of furniture stores in Banyumanik sub-district, there are 5 furniture stores in very potential level, 3 stores in potential level, 6 stores in fairly potential level and 1 store in less potential level.  Keywords: Banyumanik Housings, Furniture, AHP (Analysis Hierarchy Process) Method, Buffering Analysis..
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PERKEBUNAN KOPI DI KABUPATEN SEMARANG Sindy Pariamanda; Abdi Sukmono; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.642 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Semarang berada di dataran tinggi dan memiliki suhu relatif rendah, sehingga banyak komoditas perkebunan dihasilkan. Salah satu komoditas perkebunan unggulan di Kabupaten Semarang adalah kopi. Berdasarkan pada data statistik Kabupaten Semarang dalam Angka Tahun 2009, luas lahan perkebunan kopi meningkat 60% dari luas sebelumnya. Penggunaan lahan sebagai kebun kopi tidak selalu sesuai dengan kondisi dan kemampuan lahan yang sebenarnya. Potensi suatu lahan biasanya ditentukan oleh keadaan biofisik dan lingkungan lahan sehingga dengan menerapkan prinsip tersebut dapat mengoptimalkan produktivitas tanaman dan membuat kualitas lahan terjaga.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesesuaian lahan perkebunan kopi di Kabupaten Semarang sehingga lahan dapat digunakan sesuai dengan kemampuannya. Dengan berdasarkan pada metode yang ditetapkan FAO, penentuan kelas kesesuaian lahan dilakukan menggunakan metode pencocokkan (matching) dan metode skoring (AHP).Dari penelitian ini didapat hasil bahwa dengan metode matching kesesuaian lahan kopi arabika adalah seluas 46.938,81 Ha sesuai marginal (S3) dan 5.387,25 Ha tidak sesuai (N). Kesesuaian untuk kopi robusta adalah seluas 238,11 Ha sangat sesuai (S1), 33.372,84 Ha cukup sesuai (S2), 17.920,25 Ha sesuai marginal (S3) dan 790,81 Ha tidak sesuai (N). Hasil kesesuaian lahan kopi arabika  dengan metode AHP yaitu 14.089,93 Ha sangat sesuai (S1), 34.167,95 Ha cukup sesuai (S2), 4.062,13 Ha sesuai marginal (S3), dan 6,35 Ha tidak sesuai (N). Kesesuaian lahan kopi robusta seluas 37.211,36 Ha sangat sesuai (S1), 14.994,20 Ha cukup sesuai (S2) dan 8,28 Ha sesuai marginal (S3). Kata Kunci : AHP, FAO, Kesesuaian lahan, Matching.  ABSTRACT Semarang Regency is located on the high ground and has relatively low temperature, so many commodities of plantation produced. One of the plantation commodities in Semarang Regency is coffee. Based on statistical data Semarang Regency in Figures 2009, the area of coffee plantation increased 60% from before. Land use for coffee plantations are not always in accordance with the conditions and actual capability of the land. Potential of the land  is usually determined by the state of the biophysical and environment of the land,  so by applying that  principle, the  plant productivity can be optimized and keep the quality of the land.                 This study was conducted to determine the suitability of coffee plantation in Semarang Regency. So, based on that suitability of coffee plantation, the land can be used in accordance with its capabilities. On the basis of the method by FAO, the determination of land suitability classes conducted using the method of matching and scoring method (AHP). The result from this study are the land suitability of arabica coffee based on matching method are 46.938,81 Ha marginal suitable (S3) and 5.387,25 Ha not suitable (N). The land suitability of robusta coffee are 238,11 Ha very suitable (S1), 33.372,84 suitable (S2), 17.920, 25 Ha marginal suitable (S3)  and 790,81 Ha not suitable (N). The results of the land suitability of arabica coffee based on AHP are 14.089,93 Ha very suitable (S1), 34.167,95 Ha  suitable (S2), 4.062,13 Ha marginal suitable (S3) and 6,35 Ha not suitable (N). The land suitability of  robusta coffee are 37.211,36 Ha very suitable (S1), 14.994,20 Ha suitable (S2), and 8,28 Ha not suitable (N). Keywords : AHP, FAO, Land suitability, Matching*) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS SEBARAN DAN PERHITUNGAN HOTSPOT MENGGUNAKAN CITRA SATELIT NOAA-18/AVHR DAN AQUA MODIS BERBASIS ALGORITMA KANAL TERMAL Tegar Dio Arsadya Rahadian; Yudo Prasetyo; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1081.546 KB)

Abstract

ABSTRAK                Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat berharga karena mengandung keanekaragaman hayati yang tak terbatas. Namun gangguan terhadap hutan intensitasnya semakin meningkat dari waktu ke waktu baik yang disebabkan oleh faktor alam maupun faktor manusia. Pada wilayah Riau terdapat beberapa kawan hutan dan lahan yang setiap tahunnya rentan terhadap gangguan kebakaran hutan. Kebakaran pada wilayah Riau biasanya terjadi musim kemarau yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia yang sedang melakukan pembukaan lahan untuk kawasan perkebunan.                Salah satu penerapan penginderaan jauh dibidang kehutanan yaitu penggunaan data satelit lingkungan National Oceanic and Atmospheric Administration Advanced Very High Resolution Radiometer (NOAA/AVHRR) dan data satelit Aqua Moderate Resolution Imaging Spectroradiometers (AQUA MODIS) pada tanggal 27 dan 28 Februari 2014. Dengan mendeteksi adanya titik panas (Hotspot) di permukaan bumi sebagai indikasi awal terjadinya kebakaran hutan/lahan yang memanfaatkan kanal termal yang dimiliki kedua satelit di atas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi lokasi sebaran titik panas di Provinsi Riau, serta memetakan daerah-daerah yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan mengetahui estimasi kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat kebakaran lahan yang akan terjadi pada daerah yang paling rawan terjadi di wilayah Riau menggunakan kombinasi Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai analisis kerugian ekonomi.                Hasil dari penelitian ini menunjukkan lokasi sebaran titik panas di wilayah Riau, daerah yang teridentifikasi paling rawan kebakaran berada di daerah Bukit Kapur dan Dumai Timur, serta menunjukan kerugian tutupan lahan yang rawan terjadi kebakaran. Suhu dari hasil pengolahan data citra satelit NOAA-18/AVHRR sebesar 30°C - 35°C dan kerugian untuk tutupan lahan hutan tanaman industri sebesar Rp 11,411 milyar/hektar, perkebunan sebesar Rp 348,158 milyar/hektar dan pertanian sebesar Rp 86,822 milyar/hektar sedangkan pada AQUA MODIS dengan suhu 30°C - 34°C, hutan tanaman industri sebesar Rp 52,559 milyar/hektar, perkebunan sebesar Rp 396,974 milyar/hektar dan pertanian sebesar Rp 158,019 milyar/hektar.Kata Kunci : AQUA MODISmod14, hotspot, kebakaran hutan, SIG,NOAA-18/AVHRR ABSTRACT                Forests are an extremely important natural resource that contains infinite biodiversity. But Forest disturbances intensity increasing from time to time, whether caused by natural or human factors. In Riau, there are some forest and land which annually vulnerable against wildfire. Wildfires in Riau usually occurs during the dry season and caused by human activities who was doing some land clearing for plantation.                An implementation of remote sensing in Forestry is using environmental satellites data National Oceanic and Atmospheric Administration Advanced Very High Resolution Radiometer (NOAA / AVHRR and Aqua's Moderate Resolution Imaging Spectroradiometers (AQUA MODIS) data satellites on 27 and 28 February 2014. By detecting the existence of hotspots (Hotspot) on earth’s surface as an early indication of wildfires by using thermal band which is owned by both of satellites. The purpose of this research was to detect the distribution of hotspot’s location in Riau, mapping the potential areas which affected by fire, and estimated the economic losses caused by fires that will occur in the most vulnerable areas in Riau using a combination method of System Geographical Information (GIS) as an analysis of the economic losses.                The results shows the distribution of hotspot’s location in Riau, which identified the most vulnerable areas to fire are Bukit Kapur and East Dumai, and shows the damage of  land cover that are prone to fires. The temperature of the data processing satellite imagery NOAA-18 / AVHRR are 30° C - 35° C and the damage cost Rp 11.411 billion / hectare for land cover’s industrial forest, plantation cost to Rp 348.158 billion / hectare and farming cost to Rp 86.822 billion / ha, whereas the temperature in AQUA MODIS are 30° C - 34° C, industrial forrest cost to Rp 52.559 billion / hectare, plantation cost to Rp 396.974 billion / hectare and farming cost to Rp 158.019 billion / hectare.Key words: AQUA MODISmod14, forest fire ,hotspot, GIS,NOAA-18/AVHRR*) Penulis, PenanggungJawab
ANALISIS TINGGI TANAMAN PADI MENGGUNAKAN MODEL 3D HASIL PEMOTRETAN UAV DENGAN PENGUKURAN LAPANGAN Kurniawan Putra Widya Wardana; Sawitri Subiyanto; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.635 KB)

Abstract

Beras merupakan salah satu kebutuhan pokok untuk memenuhi kebutuhan pangan. Khususnya di Indonesia beras merupakan salah satu makanan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Akan tetapi produksi beras di Indonesia sendiri masih belum bisa mencukupi kebutuhan akan warga negara. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi produksi beras di Indonesia salah satunya adalah peralihan lahan sawah menjadi sektor industri dan perumahan. Khususnya di semarang peralihan lahan sawah terjadi begitu cepat karena meningkatnya kebutuhan lahan untuk hidup dan industri. Monitoring dan pengkajian akan lahan sawah perlu dilakukan agar mengetahui tindakan apa yang diperlukan untuk meningkatkan produksi beras. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan melakukan kombinasi pengamatan Unmanned Aerial Vehicle (UAV), Global Positioning System (GPS) dan data ketinggian padi di lapangan menggunakan meteran. Hal ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan atau selisih tinggi tanaman padi dengan menggunakan Digital Elevation Model (DEM) yang memiliki tinggi reduksi dari ketinggian geodetik ke tinggi orthometrik. Pembentukan data DEM tersebut didapat dari data foto udara yang diolah menggunakan prinsip fotogrametri, yang kemudian dikonversi kedalam bentuk pointclouds dan kemudian menjadi data DEM yang memiliki tinggi berdasarkan EGM 2008. Hasil dari pengolahan data dilakukan validasi menggunakan metode meteran untuk mengetahui selisih tinggi tanaman yang sebenarnya.. Hasil dari penelitian ini menunjukan perbedaan tinggi rata-rata tanaman padi sebesar 0.099 m dengan tinggi kenyataan. Hasil DEM tersebut dapat dikategorikan pada Level of Detail (LOD) 3. Namun untuk visualisasi dapat dikategorikan pada Level of Detail (LOD) 2, karena bentuk 3D bangunan besar dan kecil sudah dapat dibedakan, serta vegetasi sudah padat dipetakan.
PEMBUATAN PETA JALUR KONDUSIF BERSEPEDA KOTA SEMARANG Rd. Pintyo Pratomo Priambodo; Sutomo Kahar; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.173 KB)

Abstract

Abstrak Sepeda mulai digunakan oleh masyarakat kota Semarang sebagai alat transportasi alternatif untuk kegiatan sehari-hari seperti untuk pergi bekerja, pergi ke sekolah, dan pergi ke perguruan tinggi. Namun, menggunakan sepeda untuk kegiatan sehari-hari dapat menyebabkan kelelahan dan penurunan konsentrasi. Salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah dengan membuat peta yang menyajikan informasi tentang jalur sepeda di kota Semarang yang kondusif untuk dilalui. Dalam penelitian ini, jalur sepeda di kota Semarang akan diidentifikasi ke dalam 5 kategori berdasarkan perbedaan ketinggian antara dua titik setiap 100 meter. Kategori jalur rata dan turunan ringan termasuk jalur yang kondusif. Kategori turunan tajam dan tanjakan ringan termasuk jalur semi-kondusif. Dan kategori tanjakan berat termasuk jalur yang tidak kondusif. Dari hasil penelitian di 10 lokasi, diketahui bahwa jalur sepeda di kota Semarang memiliki komposisi 90% jalur rata, 4% turunan ringan, 3,2% tanjakan ringan, 2% tanjakan berat, dan 0,8% turunan tajam. Kata kunci: sepeda; peta; jalur kondusif sepeda; Semarang Abstract Bike started to be used by people of Semarang city as an alternative transportation for daily activities such as go to work, go to school, and go to college. However, using the bike for daily activities can lead to fatigue, causing decreased concentration. One workable solution is to create a map that presents information about bike lanes in the Semarang city that conducive to pass. In this study, the bike lanes in the Semarang city will be identified into 5 categories based on the height difference between two points every 100 meters. Category flat-track and slight-downhill is a conducive path. Category steep-downhill and easy-uphill is a semi-conducive path. And category hard-uphill is not a conducive path. From the results of the study at 10 locations, noted that the bike lanes in the Semarang city has a composition of 90% flat-track, 4% slight-downhill, 3.2% easy-uphill, 2% hard-uphill, and 0.8% steep-downhill.Keywords: bike;  map; conducive bike lane; Semarang city
KAJIAN PERUBAHAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TERHADAP PERTUMBUHAN INDUSTRI BERBASIS GEOSPASIAL (Studi Kasus : Kabupaten Gresik) Kemas Abdul Fatah; Arief Laila Nugraha; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.235 KB)

Abstract

Abstrak Pesatnya pembangunan menyebabkan tingginya perubahan pola penggunaan lahan. Lahan yang dulunya merupakan lahan kosong atau lahan tidak terbangun, banyak mengalami perubahan fungsi menjadi lahan terbangun. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji dampak perkembangan industri terhadap perubahan lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Analisis perubahan penggunaan lahan ini dilakukan dengan penggambaran peta lahan RTH menggunakan Citra Quickbird tahun 2010 dan Citra Google Earth tahun 2013 sebagai perbandingannya, kemudian untuk mendapatkan analisis perubahan lahan digunakan metode SIG.Berdasarkan analisis Citra Quickbird tahun 2010 dan Citra Google Earth tahun 2013 didapatkan luas lahan RTH Kabupaten Gresik sebesar 23.036,039 Ha atau sekitar 23 % pada tahun 2010, sedangkan pada tahun 2013 luas lahan RTH sebesar 22.863,420 Ha atau sekitar 22 % yang artinya RTH di Kabupaten Gresik mengalami perubahan sebesar 172,619 Ha atau sekitar -1% dalam kurun waktu 2010 sampai dengan 2013. Kata Kunci : Ruang Terbuka Hijau, industri, SIG, Quickbird, Google Earth. Abstract Rapid construction leads to high changes in land use. The function of land once used as vacant or undeveloped land turns into developed land. This research is aimed to observe the impact of industrial development toward the change of green open space land. The analysis upon the green open space usage is done through green space cartography using Quickbird imagery in 2010 and Google Earth imagery in 2013 as the comparison, GIS is then utilized to gain the analysis of the land change-over.Based on Quickbird imagery analysis in 2010 and Google Earth imagery in 2013, it was resulted that the amount of green open space of Gresik Regency was 23,036.039 Hectares or about 23% in 2010. Meanwhile, in 2013 the green open space was at the amount of 22,863.420 Hectares or about 22% of the total city region which meant that the area of green open space in Gresik Regency changed 172.619 Hectares or about -1% from 2010 to 2013. Keyword: Green Open Space Land, industry, SIG, Quickbird, Google Earth.             *) Penulis PenanggungJawab
ANALISIS KETELITIAN PLANIMETRIK ORTHOFOTO PADA TOPOGRAFI PERBUKITAN DAN DATAR BERDASARKAN KUANTITAS TITIK KONTROL TANAH Hanif Arafah Mustofa; Yudo Prasetyo; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.602 KB)

Abstract

ABSTRAK Data dasar yang digunakan untuk pekerjaan pemetaan skala besar pada umumnya adalah citra satelit dengan resolusi spasial yang tinggi. Salah satu alternatif untuk pengadaan data dasar dalam pemetaan skala besar adalah metode fotogrametri, di mana dalam beberapa tahun ini metode fotogrametri sedang berkembang pesat dengan adanya teknologi pesawat tanpa awak. Salah satu produk yang dihasilkan dari metode ini adalah orthofoto. Orthofoto merupakan data dasar yang bisa digunakan untuk pemetaan skala besar karena memberikan gambaran permukaan bumi. Elemen terpenting yang perlu diperhatikan dalam pembuatan orthofoto ini adalah ketelitian planimetrik. Berdasarkan penelitian terdahulu, faktor yang paling berpengaruh terhadap ketelitian planimetrik orthofoto adalah Titik Kontrol Tanah (TKT).Penelitian ini akan dianalisis ketelitian planimetrik orthofoto berdasarkan kuantitas TKT. Kuantitas yang dimaksud di sini meliputi banyaknya TKT dan pola persebaran antar TKT tersebut. Banyaknya TKT yang digunakan pada penelitian ini adalah 5 TKT dan 10 TKT. Pola persebaran antar TKT tersebut meliputi pola merapat dan pola menyebar di mana jarak antar TKT pada pola merapat merupakan setengah dari pola menyebar. Kemudian, penelitian ini dilakukan pada topografi perbukitan dan datar. Sehingga didapatkan desain dengan 8 model berdasarkan jumlah TKT, pola persebaran TKT, dan variasi topografi.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh secara signifikan terhadap ketelitian planimetrik orthofoto adalah pola persebaran TKT. Pola persebaran TKT dengan pola menyebar, di mana persebaran antar TKT yang terletak dekat dengan batas area penelitian merupakan orthofoto yang memiliki ketelitian yang tinggi ditunjukkan dengan nilai RMSE yang kecil.Kata Kunci : Ketelitian Planimetrik, Orthofoto, Titik Kontrol Tanah  ABSTRACT The data base used for large scale mapping generally is satellite imagery with high spatial resolution. One of the alternatives for large scale mapping is photogrammetry method, when in recent years of photogrammetry method is growing rapidly with Unmanned Arerial Vehicle (UAV) technology. One of the products to result from this method is orthophoto. Orthophoto is the basic data that can be used for large scale mapping for their representation of the earth’s surface. The most important element to consider in making this orthophoto is planimetric accuracy. Based on earlier research, the factor that most influence the planimetric accuracy of orthophoto is Ground Control Point (GCP).This research will be analyzed planimetric accuracy of orthophoto based on the quantity of GCP. The quantity referred to number of GCP and distribution pattern of GCP. Number of GCP used in this research are 5 GCPs and 10 GCPs. Distribution pattern GCP include close GCP and spread GCP which the distance between of close GCP is a half from spread GCP. Then, this research will be held on hill and flat topography. So we get 8 models based on quantity of GCP, distribution of GCP and variation on topography.The result in this research indicated that the factors that most significantly affect the planimetric accuracy of orthophoto is distribution of GCP. The distribution of GCP that spread pattern of GCP which of each GCP is close to boundary of the research area that orthophoto is high accuracy demonstrated with a small of RMSE values.Keywords : Ground Control Point, Orthophoto, Planimetric Accuracy*) Penulis, PenanggungJawab
ANALISIS FLUKTUASI PRODUKSI PADI AKIBAT PENGARUH KEKERINGAN DI KABUPATEN DEMAK Adhelina Rinta Iswari; Hani’ah Hani’ah; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.403 KB)

Abstract

ABSTRAKSetiap tahun, musim kemarau menyebabkan kekeringan melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satu lahan yang selalu mendapat ancaman serius adalah lahan persawahan. Kekeringan di area persawahan ini menyebabkan penurunan produksi padi di beberapa wilayah karena kurangnya pasokan air untuk mengairi area persawahan. Kabupaten Demak merupakan salah satu kabupaten yang menjadi penyangga pangan nasional karena sebagian besar wilayahnya merupakan lahan persawahan. Namun, lahan persawahan di Kabupaten Demak ini juga tak luput dari ancaman bencana kekeringan. Setiap tahun di musim kemarau, persawahan Kabupaten Demak mengalami kekeringan karena sebagian besar sawahnya menggunakan pengairan tadah hujan dan hanya sebagian kecil berpengairan teknis. Dengan adanya ancaman kekeringan, mengakibatkan naik atau turunnya produksi padi di Kabupaten Demak setiap tahun.Analisis fluktuasi produksi padi pada penelitian ini dilakukan dengan cara pemetaan area persawahan musim panen kemudian digabungkan (overlay) dengan peta ancaman kekeringan. Pemetaan area persawahan diolah menggunakan data penginderaan jauh, dan pemetaan ancaman kekeringan merujuk pada Katalog Metodologi Penyusunan Peta Geo Hazard dengan SIG. Analisis fluktuasi produksi padi yang didapat kemudian dianalisis pengaruhnya terhadap ketahanan pangan di Kabupaten Demak.Penelitian ini menghasilkan peta sawah terdampak kekeringan yang diklasifikasikan kedalam tiga kelas yaitu rendah, sedang dan tinggi, dimana sawah yang terdampak kekeringan kelas tinggi diasumsikan sebagai lahan sawah gagal panen. Pada musim panen 2 dan 3 tahun 2013 sebanyak 0,629% lahan sawah mengalami gagal panen, pada tahun 2014 sebanyak 8,121% dan 9,173% pada tahun 2015. Namun ancaman kekeringan yang ada tidak berimbas pada ketahanan pangan di Kabupaten Demak, hal ini dibuktikan dengan adanya surplus beras sebanyak 2.681.392,681 kuintal pada tahun 2014 dan sebanyak 3.124.096,305 kuintal pada tahun 2015. Kata Kunci : Area Persawahan, Fluktuasi Produksi Padi, Kabupaten Demak, Kekeringan, Ketahanan Pangan  ABSTRACTEvery years, dry season caused drought in several regions of Indonesia. Rice fields always get serious threat of it. Drought in rice fields causing reduction of paddy production due to lack of water supply to irrigate their rice fields. Demak Regency is one of national food support bacause it has amount of rice fields there. However, rice fields in Demak Regency also threat by drought. In dry season it experiencing drought because most of them depend on rain for irrigate their rice fields, so fluctuative paddy production caused by drought in Demak Regency every year.Analysis of fluctuative paddy production on this research is done by mapping the harvest season of rice fields then combined it with drought map. Paddy fields map processed using remote sensing data, and drought map refers to methodology geo hazard catalog based GIS. The fluctuative of paddy production and then analyzed toward food security in Demak Regency.This research results rice fields map affected by drought which classed into three level, low, medium and high. Rice fields that affected by high level of drought assumed as crop failure. On 2nd and 3rd harvest season of 2013, 0.629% harvest area was failed, on 2014 8.121% and 9.173% on 2015. However, drought in Demak Regency has no impact for their food security, they have rice surplus about 2,681,392.681 quintals on 2014 and 3,124,096.305 quintals on 2015.      Keywords : Rice Fields, Fluctuative paddy production, Demak Regency, Drought, Food Security  *)  Penulis, Penanggung Jawab
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Abdul Muthalib Abu Darda Ade Naufalita Adhelina Rinta Iswari Ahmad Dani Ahmad Mujahid, Ahmad Ainin, Mohammad Alfi Dian Ranu Wijaya Alfian Adi Atmaja Alhabsyi, Hadija Almira Delarizka Amal Fathullah, Amal Anastasia Astuti Andi Abdul Hamzah, Andi Abdul Andri Suprayogi Andri Yanto Parulian Tamba Anisa Isna Yesiana Arief Laila Nugraha Ariescha Eko Yuniarto Arsyad, Berti Arwan Putra Wijaya Auliannisa Auliannisa Bagus Yuli Arianto Bahtiar Ibnu Lonita Bandi Sasmito Bernard Ray Barus Chalik, Sitti Aisyah DANI PURBA Diah Ratna Setianingrum Dian Triandini Nurcahyo Diana Nukita Dikwan, Ivananda DITHO TANJUNG PRAKOSO Djuaeni, Muh. Napis DONY AGIL PRASETYO Dwi Uzteyqah Exacty Ekawati Ekawati Fadillah Amin, Nur Fajri, Ahmad Maulana Fida Wulan Istiaji Fikri, Alfikri Rausen Aditya Frandi Barata Simamora Gadalla, Mohamed Saad Abdelkhalk Galih Putro Pamungkas Garancang, Sabaruddin Giustia Puspa Geoda Guntur, Ahmad Hamdan Hamzah, A. Abdul Hamzah, Nur Afifah Hanif Arafah Mustofa Harjum, Mohamad Hasan Basyri Hasan Mustofa Amirudin, Hasan Mustofa Herman J Waluyo Hijab, Zainal Abidin Humaira Qanita Husen Z, Muhammad Husnul Khatimah, A. Ilham Ramadhan Ilham, Muh Ilolu, Roymanto Ilyas, Hamka Indah Risnawati Jumadil, Jumadil Kartono, Akhmad Fadhillah Kasim, Amrah Kemas Abdul Fatah Kundharu Saddhono Kurnia Darmawan Kurniawan Putra Widya Wardana Luluk Dita Shafitri Maghfirah, Tadzkiratul Mahira, Mahira Mazazatu Rosyada Miolo, Mukhtar I MIRTA INDRIASTUTI Moehammad Awaluddin Mualim, Masna Muchammad Misbachul Munir, Muchammad Misbachul Muhammad Ardhi Ahadi, Muhammad Ardhi Muhammad Danny Rahman Muhammad Hakqi Munir Munir, Munir Muzakkir Muzakkir Nasrul Arfianto Nawas, Kamaluddin Abu Nur Hamzah Nurhadi Bashit Panji Pratama Putra Rd. Pintyo Pratomo Priambodo Rendi Aulia Retno Winarni Rida Hilyati Sauda Rizky Silvandie Rosika Dyah Pratiwi Sam, Zulfiah Satrio Wicaksono Sawitri Subiyanto Setiawan, Syarif Agus Sindy Pariamanda Singgih Wahyu Nugroho Sinta, Priti Sri Purwatik Sri Rahmayanti, Sri Sulaiman Hakim Sinaga Supardi Supardi Sutomo Kahar Syahruddin Usman, Syahruddin Syamsuddin, Naidin Syarifa Naula Husna TAUFIQ FITRIANSYAH ADI PRADANA Tegar Dio Arsadya Rahadian Torkis Lubis Victor Andreas Tarigan Wahyu Adi Yuliyanto Widodo, Panggih Yenny Paras Dasuka Yesi Monika Manik Yudo Prasetyo Yunus, Abdul Qayyim Zainuddin, Ihsan Zia Ul Maksum