Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTITAS TOKOH PEREMPUAN LINTAS BUDAYA DALAM KUMPULAN CERPEN MALAM TERAKHIR KARYA LEILA S. CHUDORI (The Cross Cultural Identity of Female Protagonist in Leila S. Chudori’s Short Stories Compilation Malam Terakhir) Nurhayati, Nita; Priyatna, Aquarini; Rahayu, Lina Meilinawati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.61-76

Abstract

Tulisan ini mengkaji identitas tokoh perempuan lintas budaya yang terdapat dalam kumpulan cerpen Malam Terakhir karya Leila S. Chudori. Kajian ini menggunakan teori identitas, lintas budaya, dan naratologi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan struktural yang menganalisis struktur narasi yang membangun konstruksi identitas tokoh perempuan lintas budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis. Hasil analisis menunjukkan bahwa identitas tokoh perempuan lintas budaya dalam cerpen-cerpen karya Chudori ditampilkan sebagai identitas yang cair, identitas yang dapat berubah sesuai dengan konteks sosial dan budaya tempat tokoh perempuan berada. Gambaran tokoh perempuan lintas budaya dapat dilihat melalui ciri-ciri fisik tokoh yang dapat dibedakan dengan penduduk setempat dan pendatang, interaksi tokoh dengan penduduk setempat, dan keterasingan yang dialami tokoh perempuan. Selain itu, identitas perempuan lintas budaya juga dapat ditunjukkan melalui penggambaran latar yang terdapat dalam cerpen-cerpen karya Chudori.Abstract:This paper examines cross cultural identities of female protagonist in Chudori’s short stories compilation “Malam Terakhir”. The study uses the theory of identity, cross-cultural theory, and naratology. The approach applied in the research is   structural%it  analyzes narrative struc- ture which builds  cross-cultural construction of female identity. The method used in this research is analytic descriptive method. The results of the research show that cross-cultural identity of fe- male characters in Chudori’s short stories compilation are fluid identity, the identity of a female protagonist which can change   according to the social and cultural context where the female character lives. The image of cross cultural identitiy of female protagonist can be seen through physical characteristics which can be distinguished from the natives and settlers, interaction with the native, and the alienation experienced by the female protagonist. In addition, cross-cultural identity of female protagonist can be seen through setting description in Chudori’s short stories compilation.
KEBERGANTUNGAN TEKNOLOGI DAN DAMPAKNYA DALAM NOVEL NEUROMANCER KARYA WILLIAM GIBSON Luqman, Arief; Priyatna, Aquarini; Rahayu, Lina Meilinawati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.225-238

Abstract

Makalah ini menganalisis bagaimana novel memandang kehadiran teknologi di tengah masyarakat yang mengakibatkan pergeseran budaya. Teknologi yang menyajikan kemudahan dan fasilitas yang membantu manusia tetapi kebergantungan manusia terhadap teknologi muncul sebagai akibat dari interaksi manusia dengan teknologi yang berlebihan. Makalah ini membahas hubungan manusia dengan mesin dalam novelNeuromancer karya William Gibson, teknologi cyberspacedi tengah masyarakat yang mengakibatkan efek cyborg pada penggunanya.Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah metode deskriptif analitis. Tujuan dari pembahasan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana novel melihat teknologi yang hadir di tengah masyarakat dan untuk menunjukkan kontribusi teknologi terhadap kelas penguasa dan pergeseran budaya masyarakat.Abstract: This paper analyzes the novel’s view of technology in society whicheffect culture shift. Technology presents the ease and facilities that helps humans but at the same time, technology dependence come as the result of  the interaction between human and technology. This paper discusses the human and machine relation in William Gibson’s Neuromancer, thecyberspace technology in society that make a cyborg effect to users.The method used in this paper is a descriptive and analytical method. The purpose of the discussion in this paper is to show how the novel sees the technology in society and to show the contribution of technology to the rulling class and human’s culture shift.
MASKULINITAS KULIT PUTIH DALAM BURMESE DAYS DAN SHOOTING AN ELEPHANT KARYA GEORGE ORWELL (The Masculinity of White Men in George Orwell’s Burmese Days and Shooting An Elephant) Rikma Dewi, Nenden; Priyatna, Aquarini; Aksa, Yati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i2.103-114

Abstract

Orwell menjadikan pengalaman hidupnya sebagai bagian dari setiap karyanya dan menggunakannya untuk menyampaikan berbagai gagasannya. Melalui novel Burmese Days dan sebuah esai berjudul Shooting an Elephant yang keduanya saling berkaitan, Orwell mengemukan gagasannya mengenai wacana kolonialisme di wilayah koloni Inggris di Burma. Isu yang terkadang luput dalam pembacaan karya Orwell adalah isu gender. Oleh karena itu, kajian ini akan menganalisis bagaimana maskulinitas laki-laki kulit putih dipaparkan dan faktor-faktor pendorong atau penghalang maskulinitas tersebut. Agar dapat menganalisis isu tersebut, kajian ini menggunakan pendekatan yang ditawarkan Mosse, Bhabha dan Sinha mengenai maskulinitas dalam wacana poskolonial. Berdasarkan analisis yang dilakukan, kajian ini dapat menunjukkan bahwa maskulinitas laki-laki kulit putih koloni Inggris di wilayah Burma, khususnya Kyauktada disebabkan oleh konsep mereka mengenai isu superioritas dan inferioritas.Abstract:Orwell made his life experiences as a part of his works and used them to convey a variety of his ideas. Through his novel entitling  Burmese Days and his essay called Shooting an Elephant, both of them were related to, Orwell wrote his ideas about discourse of colonialism in the British colony in Burma. A peculiar issue in Orwell’s work is the gender issue. Therefore, this study shows masculinity of white men, and the factors motivating or obstructing such masculinity. In order to analyze these issues, this study applies George Mosse’s (1996), Homi K. Bhabha’s (1995) and Mrinalini Sinha’s (1995) approach on masculinity in postcolonial discourse. Based on the analy- sis, this study is to provide the assumption that masculinity of white men in the British colony in Burma, particularly Kyauktada, was caused by  their concept of superiority and inferiority.
PEREMPUAN DI LUAR JALUR: SEKSUALITAS PEREMPUAN DALAM DUA CERPEN KARYA SUWARSIH DJOJOPUSPITO (Women Out of the Line: Women’s Sexuality in Two Short Stories by Suwarsih Djojopuspito) Priyatna, M.A., M.Hum., Ph.D., Aquarini
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 9, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2016.v9i2.143-160

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan isu seksualitas dalam dua cerpen karya Suwarsih Djojopuspito, yakni Seruling di Malam Hari dan Artinah. Penelitian ini meletakan isu seksualitas dalam kedua cerpen tersebut dalam kerangka kajian gender dan feminis. Suwarsih adalah  salah  satu penulis perempuan pionir di Indonesia yang karyanya secara lugas mengambil posisi yang resisten terhadap ideologi patriarki. Dalam kedua cerpen yang dibahas, Suwarsih menunjukkan timpangnya praktik-praktik keseharian dalam relasi inti antara perempuan dan laki-laki, terutama dalam perkawinan. Melalui narasi dan penggambaran tokoh, ditunjukkan bahwa ideologi patriarki yang termanifestasi dalam nilai-nilai heteronormativitas telah menempatkan seksualitas laki-laki sebagai normatif dan berterima, sementara seksualitas perempuan sebagai peripheral saja terhadap seksualitas laki-laki. Juga diperlihatkan, bagaimana nilai-nilai patriarki yang diwujudkan dalam relasi personal menempatkan perempuan dalam posisi yang lebih lemah. Meskipun demikian, kedua cerpen mengambil posisi yang tidak memihak posisi laki-laki, melainkan memberikan perempuan agensi yang menyuarakan tubuh dan seksualitas perempuan sebagai bagian dari subjektivitas perempuan sebagaimana seksualitas adalah bagian dari laki-laki.Abstract: This writing examines the issues of sexuality in two short stories by Suwarsih Djojopuspito’s “Seruling di Malam Hari” and “Artinah”. This research locates sexuality in the two short stories in the framework of gender and feminist studies. Suwarsih is among the pioneering woman writer in Ind onesi a. Her wor ks ha ve been recogni zed a s a form of resista nce t oward  the domin ant patriarchal ideology. In the two short stories discussed in this article, Suwarsih elaborates the bias ag ai ns t wo men  i n th e everyda y pr actices  o f in ti mat e rela ti ons  b et ween  women an d men, particularly in marital relationships. Through the narrative and the portrayal of the characters, the short stories show that the ideology of patriarchy as manifested in the heteronormative values have established men’s sexuality as normative and acceptable, while female sexuality is  only as peripheral to men’s sexuality. Likewise, the two short stories also show that patriarchal values apparent in personal relationships have put women in the inferior position. However, the two short stories articulate feminist by giving the women’s characters the agency to articulate their bodies and sexuality as important parts of their subjectivity as a woman just like they are the important part of men’s.
TRAGEDI DALAM LIMA CERPEN KARYA MARTIN ALEIDA (Tragedy in Martin Aleida’s Five Short Stories) Suwarna, Dadan; Priyatna, Aquarini
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2014.v7i1.13-22

Abstract

Tulisan ini memaparkan teks tragedi sebagai peristiwa atau  keadaan yang dialami tokoh cerita dengan menggunakan pendekatan semiotik guna menjelaskan peristiwa tanda, simbol, serta interpretasi yang menjadi acuan peristiwa kemanusiaan. Tanda, simbol, dan segala ekspresi kebahasaan di dalamnya dipakai sebagai cara teks tragedi dijelaskan. Semioik Eco merupakan model kajian yang menyeluruh karena mengaitkan bahasa, interpretasi maknawi, serta latar belakang yang mengaitkannya dalam kelima cerpen yang dianalisis. Tragedi yang penulis temukan,  antara lain (1) tragedi sebagai keadaan, (2) sebagai akibat perbuatan, dan (3) sebagai pilihan sikap. Landasan yang paling kuat atas terjadinya tragedi adalah perbedaan pandangan keyakinan atau ideologi politik yang tidak menguntungkan pihak-pihak yang dikuasainya itu sebagai dampak psikologis dan sosial yang diterimanya.Abstract:The paper attempts to study a tragedy text either  as the event or as the situation experi- enced by characters. The research  applies semiotic approach. The approach is used to explain events in form of sign, symbol and, interpretation referring to humanity’s. The sign, the symbol, and most language expressions are applied to interpret the tragedy text. Eco semiotic is a model of comprehensive study by connecting language,  meaning interpretation, and background  existing in the five short stories.  From the analysis, the writer concludes three types of tragedy, namely: (1) the tragedy as situation, (2) the tragedy as the result of act, (3)and  the tragedy as behavioral choice. The strong background creating the  tragedy is different perception on belief or disadvan- tageous political ideology for those who were controlled as the psychological and social effects they should take.
DINAMIKA MASKULINITAS DAN FEMININITAS DALAM NOVEL SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS KARYA EKA KURNIAWAN Permata, Denti; Priyatna, Aquarini; Rahayu, Lina Meilinawati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 9, No 1 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2016.v9i1.13-24

Abstract

Artikel ini mengkaji dinamika maskulinitas dan femininitas perempuan dalam novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan. Teks novel ini menampilkan tokoh perempuan bernama Iteung  mengalami kekerasan seksual oleh gurunya ketika duduk di bangku SD. Efek dari kekerasan seksual tersebut membuat dirinya tumbuh menjadi perempuan tomboy. Semenjak itu, perilakunya selalu berubah-ubah kadang feminin kadang pula maskulin. Kajian ini dilandasi dengan teori maskulinitas perempuan dan tomboyisme Halberstam (1998). Hasil analisis menunjukkan bahwa sikap tomboy Iteung merepresentasikan bentuk negosiasinya terhadap budaya patriarki yang telah melecehkannya.
KEMATIAN DAN PERASAAN KEHILANGAN: KONSTRUKSI IDENTITAS QUEER DALAM EMPAT KARYA YOSHIMOTO (Death And Sense of Loss: Queer Identity Construction in Four Yoshimoto’s Works) syukur, andi abd khaliq; Priyatna, Aquarini; Rahayu, Lina Meilinawati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.193-210

Abstract

Empat novelet Yoshimoto, yaitu Kitchen (1988), Moonlight Shadow (1988), Hardboiled (2001), dan Hardluck (2001) menghadirkan kematian dan perasaan kehilangan di awal narasi. Kematian dan perasaan kehilangan membuka probabilitas baru sebagai bagian konstruksi identitas queer, seperti kematian sebagai pemutusan matrix heteroseksual, perasaan kehilangan sebagai perubahan identitas gender, penerimaan orang asing sebagai anggota keluarga, hubungan bersifat inses, homoseksualitas perempuan, transgenderisme, dan perubahan peran dalam anggota keluarga. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis cara kematian dan perasaan kehilangan membuka probabilitas identitas queer dalam narasi Yoshimoto. Sedangkan untuk melihat bentuk identitas queer, penelitian ini menggunakan teori performativitas dari Butler untuk menunjukkan ketaksaan identitas gender dan seks.Hasil penelitian menunjukkan kematian dapat membuka probabilitias yang mengarah pada penghadiran identitas queer dan performativitas identitas queer menyajikan performativitas tokoh yang terus-menerus berubah, bergerak, dan tidak memiliki pusat.Abstract: Four novelettes of Yoshimoto’s, which are Kitchen (1988), Moonlight Shadow (1988), Hardboiled (2001), and Hard Luck (2001) bring death and sense of loss in the beginning of the narrative. The death and sense of loss give new probabilities as parts of the queer identity constructions, for instance the death as the partition of the heterosexual matrix, the loss feelings as a gender identity alteration, agree to accept foreigners as members of the family, the relationship tend to be incest, female homosexuality, transgenderism, and change the family members role. This study conducted to analyze the way of death and loss feelings give probabilities of queer identity in the Yoshimoto’s narration.As for seeing theshape ofqueeridentity, The research applies Butler’s thinking on gender performativity to analyze how ambiguous sexual and gender identities are presented. The research finds that the probabilityof deathcanopen upleads toqueeridentity and  the analysis of queer identity’s performativity on character’s performativity in the novelettes renders it possible for sexual and gender construction to be constantly changing and everlastingly displaced performances.
REINTERPRETASI DAN REKONSTRUKSI DONGENG JAKA TARUB DALAM DRAMA KARYA AKHUDIAT: SEBUAH PEMBACAAN NEW HISTORICISM Rahayu, Lina Meilinawati; Priyatna, Aquarini; Budhyono, Rasus
SUAR BETANG Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v14i1.108

Abstract

Tulisan ini bermaksud untuk mengkaji transformasi  dongeng Jaka Tarub menjadi drama Jaka Tarub karya Akhudiat.  Tujuan penelitian ini untuk  mengetahui perubahan interpretasi dan rekonstruksi ke dalam sastra Indonesia kontemporer. Dongeng Jaka Tarub yang ada dalam Babad Tanah Jawi bertransformasi ke dalam bentuk drama. Jaka Tarub  karya Akhudiat merupakan drama parodi yang terdiri atas dua babak. Drama ini memenangkan lomba naskah drama versi Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1974. Hasil transformasi akan  dianalisis menggunakan pendekatan new historicism. Hasil kajian ingin membuktikan bahwa sejarah sebuah bangsa dapat dibaca melalui karya sastra. New Historicism  berkeyakinan bahwa selalu ada kaitan antara teks dan sejarah. Pemikiran ini memberi persfektif bahwa “kenyataan sejarah” tidak lagi tunggal dan absolut, tetapi bisa bermacam-macam versi dan sudut pandang. Hasil reinterpretasi dan rekonstruksi dongeng Jaka Tarub merepresentasikan Indonesia tahun 70-an.  Dalam konteks demikian teks sastra Indonesia yang merefleksikan sejarah dapat diposisikan sebagai pembacaan sejarah dari versi yang lain. Oleh karena itu, perspektif new historicism menjadi tepat digunakan untuk mendedah fenomena teks sastra yang demikian: yakni, dengan cara menyuguhkan kenyataan-kenyataan di luar teks sejarah yang mainstream.   
The Malangese Mask Wayang:The Process of Art Commodification at Asmorobangun Art Center, Pakisaji, Malang Wibowo, Arining; Priyatna, Aquarini; Sobarna, Cece
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 11, No 1 (2019): Komunitas, March 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v11i1.18478

Abstract

The article aims to describe the process of commodification of the Malangese Mask Wayang Art at Asmorobangun Art Center, Pakisaji Sub-district, Malang, Indonesia. Asmorobangun Art Center is one of the surviving art centers engaged in the efforts to preserve and develop the Malangese mask wayang art. The data used in this qualitative study were collected by means of interview, observation, and examination of relevant documents. The results show that the process of commodification of the Malangese mask wayang art manifests in three practices namely the gebyak senin-legian mask wayang performances, art tourism packaging, and mask production. Commodification has transformed the art into commodities/products that are part of the local tourism industry.
KONSTRUKSI FEMININITAS DALAM CERITA PENDEK “FATAMORGANA” KARYA AAM AMILIA Rani, Seni Melia; Priyatna, Aquarini; Muhtadin, Teddi
HUMANIKA Vol 24, No 1 (2017): Januari-Juni
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.76 KB) | DOI: 10.14710/humanika.v24i1.13658

Abstract

The thesis aims to describe the construction of femininity in Aam Amilia’s short story entitled “Fatamorgana”. Aam Amilia is the most productive woman author in Sundanese literature. In this short story, Aam shows the construction of femininity of Sundanese woman through the relationship between men and women in everyday life, especially in marriage. The short story “Fatamorgana” shows two characters of Sundanese women tend to be contradictory, that is the women that stay at home as housewives and women that have full time career outside. It is through the narrative and vocalization in short story thatboth of the figures are appearead to have different opinions in defining the position of mother. Nevertheless, this short story takes side to ideal femininity that is concieved from men assumptions.
Co-Authors Aceng Abdullah Aceng Abdullah Acep Iwan Saidi Adi Kurniawan Adipurwawidjana, Ari J Adji, Muhammad Ageza, Gorivana Aida Anwariyatul Fuadah Aksa, Yati Amalia, Sira Kamila Dewanti Amaliatun Saleha Anastasia Dewi Wulandari Anastasia Dewi Wulandari Ani Rostiyati Aprilia, Nurul Hanifa Ari J. Adipurwawidjana Ari J. Adipurwawidjana Ari Jogaiswara Adipurwawidjana Arining Wibowo Asep Yusup Hudayat Cece Sobarna Cece Sobarna Dadan Suwarna Dade Mahzumi Dade Mahzumi, Dade Darmawan, Adam Dessyratna Putry Dimas Yudhistira Dimas Yudhistira, Dimas Dzulfikar Al-anbiya Eka Ayu Wahyuni Ekaning Krisnawati Endah Istiqomah Apriliani Ezzah Fathinah Fauziah Ismi Desiana Faza Fauzan Azhima Gian Nova Sudrajat Nur Hanifah Puji Utami Hary Ganjar Budiman Hazbini, Hazbini Heri Isnaini Hermawati, Diyana Mareta Hilda Septriani Ikeh, Tri Sulapmi Dolina Indrawan Dwisetya Suhendi, Indrawan Dwisetya Indriyani Rachman Jordy Satria Widodo Lilis Suryani Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu, Lina Meilinawati Lina Meilinawati, Lina Luqman, Arief Mecca, Ali Mega Subekti Mia Dwianna Widyaningtyas Mori, Alifa Syauqina Muhamad Adji Muhtadin, Teddi Mulyadi, R.M Mumuh Muhsin Zakaria Nisa'ul Fithri Mardani Shihab Nita, Ida Ayu Eka Vania Cahya Novia Nurul Ulfah Nurhayati, Nita Nurullah, Maria Fiducia Permata, Denti Primiani, Nurrahma Probowati, Andarini Rani R. M. Mulyadi R. M. Mulyadi R.M. Mulyadi R.M. Mulyadi Raden Mohamad Herdian Bhakti Raden Muhammad Mulyadi Rahayu, Lina Meilinawati Rani, Seni Melia Rasus Budhyono Renti Mahkota Resa Restu Pauji Ridwan, Muhammad Fauzi Rifki Zamzam Mustafa Rifki Zamzam Mustaffa Rikma Dewi, Nenden Rojak, Mohamad Abdul Rosyidah Antoni, Cheryl Desyanti Safrina Noorman, Safrina Sartika Sari Siti Karlinah Sri Rijati Wardiani syukur, andi abd khaliq Teddi Muhtadin Tisna Prabasmoro Tri Sulapmi Dolina Ikeh wibowo, arining Wibowo, Arining Yovela, Stasya Yuris Fahman Zaidan Zhafirah, Faizzah Shabrina