Claim Missing Document
Check
Articles

Pengalaman Prostesis Digital pada Penonton Vlog Kecantikan Fauziah Ismi Desiana; Aquarini Priyatna; Ari Jogaiswara Adipurwawidjana
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 3 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.3.2

Abstract

Penelitian ini membahas cara vlog kecantikan memproduksi pengalaman prostesis digital pada tubuh subjek penelitian. Permasalahan tersebut didudukkan dalam kerangka teoretis tentang cyborg sebagaimana yang digagas Haraway. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa prostesis digital berfungsi sebagai (1) perpanjangan tubuh, (2) alternatif pengalaman bertubuh, dan (3) medium untuk memproyeksikan citra diri yang dihasrati ke tubuh digital. Sebagai tubuh alternatif prostesis digital menyediakan sensasi menggunakan produk kecantikan dan penampilan makeup yang tidak digunakan subjek penelitian pada kehidupan sehari-hari. Sebagai perpanjangan tubuh prostesis digital memungkinkan subjek penelitian menyambungkan tubuhnya dengan tubuh beauty vlogger keturunan Arab yang diidealkan sehingga mengimplikasikan adanya ideologi kecantikan normatif yang ditubuhi oleh beauty vlogger keturunan Arab.
Teknologisasi Metafor, Demistifikasi Trauma: Alegori Dalam Film 27 Steps Of May Rifki Zamzam Mustaffa; Aquarini Priyatna; Ari J. Adipurwawidjana
Jurnal Sosioteknologi Vol. 20 No. 2 (2021): AUGUST 2021
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2021.20.2.9

Abstract

This article aims at elaborating the issues of trauma, violence against women and their agencies depicted in Indonesianfilm entitled 27 Steps of May. By situating the issues within the theoretical framework combining theories on allegoryand metaphor as elaborated by Jameson (2006), and Jakobson (1956), as well as theoretical premises pertaining to filmtechnology by Turner (2002), this study shows how film as a form of narrative texts can visualize those issues throughavailable technological features (camera techniques and mise-en-scene). Our close reading finds that the film presentsmetaphors of rape, women agency, amnesia and trauma through the presentation of the characters (May, Bapak, Pesulapand Kurir), also the mise-en-scene in its scenes. We argue that this film visualizes an allegory of national trauma inrelation to Indonesian May 1998 riots, specifically the violence towards marginalized groups (Chinese and women),which also represents the Indonesian collective expectation in acknowledging the national trauma jointly.
Negotiating Celebrity Femininity in Three Auto/Biographies of Indonesian Female Celebrities Aquarini Priyatna
MOZAIK HUMANIORA Vol. 16 No. 2 (2016): MOZAIK HUMANIORA VOL. 16 NO. 2
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.872 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5844

Abstract

AbstrakMelalui auto/biografinya, selebritas perempuan Indonesia Krisdayanti, Yuni Shara, dan Tiara Lestari menampilkan femininitas yang global dan lokal, dan menunjukkan negosiasi yang kompleks antara berbagai keharusan berkenaan dengan kesopanan, peran sebagai ibu, dan normalitas, serta tuntutan global yang berkenaan dengan seksualitas, selebritas dan universalitas. Femininitas ditunjukkan baik sebagai suatu hal yang bersifat normatif maupun sebagai suatu hal yang disruptif, dengan memperluas dan mengubah ruang yang mendefinisi makna menjadi seorang perempuan, dalam konteks yang saling berkaitan antara kebudayaan lokal Indonesia, budaya selebritas dan globalisasi. Artikel ini berkontribusi terhadap berbagai pemahaman atas globalisasi serta proses, efek dan dampaknya sekaitan dengan konstruksi gender melalui fenomena khusus auto/biografi selebritas Indonesia. Lebih khusus lagi, artikel ini berargumentasi bahwa auto/biografi merupakan ruang yang penting untuk memahami bagaimana media dimanfaatkan dan merupakan bagian integral dari konstruksi citra dan representasi selebritas perempuan di dalam konteks lokal tertentu dan dalam konteks yang lebih global. Kata kunci: selebritas, femininitas, auto/biografi, lokalitas, globalitas AbstractThrough their auto/biographies, Indonesian female celebrities, i.e. Krisdayanti, Yuni Shara and Tiara Lestari, present femininities that are both global and local and reveal complex negotiations of local imperatives of modesty, maternity and normality and global imperatives towards sexuality, celebrity and universality. Femininity is performed both as normative and disruptive, extending and altering the space of what it means “to be a woman” within the intersecting contexts of local Indonesian culture, celebrity culture and globalization. This paper used the term auto/biography as a method to embrace a more inclusive term that include writings that fall between the category of autobiography and biography. While the standard normative idea of autobiography refers to writings about oneself as written by oneself, and the definition of biography to writings about oneself as written by others, the term auto/biography used here accommodates the complexities of authorship as well as depiction of the auto/biographical subjects. This paper contributes to understandings of globalization and its gendered processes, effects and impacts through the particular phenomenon of the auto/biographies of Indonesian female celebrities. Particularly, this paper argues that auto/biography has become an important space to understand how media is used and an integral part of the construction of female celebrity’s image and representation within a certain local and  the more global context at the same time. Keywords: auto/biographies, celebrity, femininity, globality, locality
Fetisisme Ras Kaukasoid dan Ras Mongoloid Sebagai Strategi Pemasaran dalam Sinetron Indonesia Dimas Yudhistira; Aquarini Priyatna; Dade Mahzumi
PANGGUNG Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.902 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v24i4.132

Abstract

ABSTRACT Popular culture that rises with industrialization influences the production of film in Indonesia. One of genres of Indonesia’s film is soap opera. Soap opera has two sides, the first side as market com- modity and the second side as popular art, whichcategorized itself as kitsch. As producing their pro- duct, soap opera has to see trough the background of its society. This research used qualitative method. The research resultsmost of Indonesian are Malaya that have colonized by Caucasian and Mongolian before 1945 and after that. It causes effect of fantasies that create the stereotype about Caucasian and Mongolian appearances. Stereotype makes Malaya have fetishism about Caucasian and Mongolian’s appearance. Director of soap opera uses this kind of fetishism as appeal to audiences in Indonesia. Displaying the racial half-bred of body of actress and actor in soap opera is become one of marketing strategy to promote soap opera. This is why half-breed actress and actor always get the important role in Indonesian soap opera. Keywords: soap opera, kitsch, race, fetishism    ABSTRAK Budaya populer yang tumbuh seiring dengan industrialisasi memengaruhi produksi per- filman di Indonesia. Salah satu genre perfilman di Indonesia adalah sinetron. Sinetron yang di- kategorikan sebagai produk seni kitsch memiliki dua kriteria yaitu sebagai komoditi seni yang populer dan sebagai komoditi dagang yang menghasilkan keuntungan ekonomis. Sebagai se- buah produk seni kitsch yang merupakan dasar pembuatan karyanya adalah selera masyarakat kebanyakan maka sinetron harus jeli dalam melihat keadaan dan latar belakang masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian ini menggambarkan masyara- kat Indonesia yang merupakan ras Melayu telah dijajah oleh ras Kaukasoid dan Mongoloid sebelum tahun 1945 dan setelahnya. Efek dari penjajahan ini adalah ras Melayu telah ditanami fantasi yang menjadi stereotip mengenai ras Kaukasoid dan Mongoloid yang berakhir dengan fetisisme. Fetisisme ini dijadikan sebagai strategi pemasaran oleh produser dan sutradara un- tuk menarik antusiasme calon penonton sinetron. Caranya dengan menampilkan aktor dan aktris Melayu keturunan Kaukasoid dan Mongoloid sebagai pemeran utama. Kata kunci: sinetron, seni kitsch, ras, fetisisme
Konsep Manunggaling Kawula Gusti Pada Puisi-Puisi Sapardi Djoko Damono Heri Isnaini; Aquarini Priyatna; Lina Meilinawati Rahayu; Muhamad Adji
IdeBahasa Vol 1 No 2 (2019): Jurnal Ide Bahasa
Publisher : Asosiasi dosen IDEBAHASA KEPRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.539 KB)

Abstract

ABSTRACT This article discusses the depiction of the concept of manunggaling kawula Gusti in Sapardi Djoko Damono’s poetry. The concept of manunggaling kawula Gusti is discussed based on metaphors arise from diction and meaning of poetry. The discussion of the metaphor will refer to the concept of the sign arisen in the structure of the poetry based on Pierce’s concept of representamen, object, and interpretant. In addition, how the signs relate to other texts and their relationship with the Javanese mysticism as part of the Islam-Javanese ideology are perused. Therefore, this article offers a comprehensive discussion of the Manunggaling kawula Gusti concept that is embodied in the metaphor of divine love that is described through emptiness, emptiness, and oneness. Keywords: Manunggaling kawula Gusti, Metaphor, Semiotics, Poetry ABSTRAK Artikel ini membahas penggambaran konsep manunggaling kawula Gusti pada puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono. Konsep manunggaling kawula Gusti tersebut akan dibahas berdasarkan metafora yang dibangun melalui diksi dan makna di dalam puisi. Pembahasan metafora tersebut akan mengacu pada konsep tanda yang dibangun di dalam struktur puisi-puisinya. Teori yang digunakan adalah teori semiotika Pierce, yakni dengan membahas representament, object, dan interpretant. Di samping itu, akan dilihat juga keterkaitan tanda-tanda tersebut dengan teks-teks lain serta hubungannya dengan gagasan mistikisme Jawa sebagai bagian dari ideologi Islam-Jawa. Dengan demikian, artikel ini menawarkan pembahasan komprehensif mengenai konsep Manunggaling kawula Gusti yang diwujudkan dalam metafora cinta ilahi yang dideskripsikan melalui kekosongan, kesunyataan, dan kemanunggalan. Kata Kunci: Manunggaling kawula Gusti, Metafora, Semiotika, Puisi
Konstruksi gender dalam sastra anak Sunda Nala karya Darpan Eka Ayu Wahyuni; Aquarini Priyatna; Tisna Prabasmoro
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.20250

Abstract

Nala adalah sastra anak Sunda yang mengantarkan Darpan mendapatkan Hadiah Samsoedi pada tahun 2016, yaitu hadiah yang diberikan kepada penulis sastra anak berbahasa Sunda. Nala penting untuk dibahas karena ditulis oleh seorang penulis laki-laki yang memusatkan cerita pada tokoh anak perempuan tomboi yang kemudian diarahkan untuk menjadi perempuan feminin. Dari gambaran tersebut Nala diasumsikan menghadirkan konstruksi gender yang kaku yang menuntut perempuan untuk menunjukkan atribusi feminin; laki-laki harus menunjukkan atribusi maskulin. Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan konstruksi gender yang dimanifestasikan melalui penggambaran sikap serta peran tokoh perempuan dan tokoh laki-laki dalam Nala karya Darpan. Metode deskriptif-kualitatif digunakan di dalam penelitian ini. Selain itu penelitian ini menggunakan pendekatan kritik sastra feminis untuk melihat bagaimana citra perempuan dihadirkan di dalam karya sastra yang ditulis oleh laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam Nala, konstruksi dan peran gender ditampilkan secara kaku bahwa perempuan harus feminin dan laki-laki harus maskulin. Dari temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa konstruksi gender yang ditampilkan di dalam Nala masih berorientasi pada konstruksi gender normatif, yang berkenaan dengan sikap dan peran. Penggambaran gender normatif tersebut menafikan adanya potensi konstruksi gender alternatif seperti yang dihadirkan melalui tokoh Nala, anak perempuan tomboi, sehingga digiring untuk mengikuti peran feminin.   Nala is a Sundanese children's literature that led Darpan to achieve the Samsoedi Prize, a prize awarded to notable writers of Sundanese children's literature, in 2016. Examining Nala is important because it is written by a male writer who focuses the story on a tomboy girl character, directed to become a feminine girl. From this description, Nala is assumed to present a rigid gender construction that requires women to show feminine attributions in contrast to men that must exhibit masculine attributions. This article aims to discuss gender construction manifested through the description of attitudes and roles of female and male characters in Darpan's Nala. Descriptive-qualitative method was employed in this study. In addition, this study used a feminist literary criticism approach to see how the image of women is presented in literary works written by men. The results show that the construction of gender and roles is depicted rigidly, in a way that women must be feminine, and men must be masculine. The findings led to a conclusion that the gender construction shown in Nala is aligned with the normative gender construction, which relates to certain attitudes and roles. The depiction of normative gender denies the potential for alternative gender construction as presented through the character of Nala, a tomboyish girl who is led and expected to follow the feminine role.
IDEOLOGI PADA SAJAK “PROLOGUE” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO Heri Isnaini; Aquarini Priyatna; Lina Meilinawati Rahayu; Muhamad Adji
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10 No 1 (2019): Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas ideologi pada sajak "Prologue" karya Sapardi Djoko Damono. Pembahasan ideologi difokuskan pada aspek-aspek tanda yang terdapat pada sajak tersebut. Pada penelitian ini, ideologi diejawantah berdasarkan relasi tanda yang muncul sebagai bagian dari representasi yang mewakili sesuatu yang lain. Tanda-tanda yang akan dianalisis mengacu pada teori Semiotika yang dikemukakan oleh Pierce, yakni dengan melihat ikon, indeks, dan simbol. Representasi terhadap tanda ini akan merujuk pada makna yang ada pada keseluruhan sajak. Selain itu, pembahasannya akan diperkuat dengan intertekstualitas yang terdapat pada sajak dengan melihat keterkaitannya dengan teks lain.
BENTUK DRAMATIK DAN BENTUK EPIK SEBAGAI PEMBEDA POLA PENCERITAAN TEKS DRAMA Lina Meilinawati Rahayu; Aquarini Priyatna; Resa Restu Pauji
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 13, No 02 (2016): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v13i02.1976

Abstract

Tulisan ini membahas dua naskah drama Matahari di Sebuah Jalan kecil (1963) dan Sandek Pemuda Pekerja (1979) karya Arifin C. Noer. Kedua naskah drama ditampilkan melalui bentuk dramatik dan epik. Naskah drama Matahari di Sebuah Jalan kecil (1963) ditampilkan dalam bentuk dramatik, sedangkan naskah drama Sandek Pemuda Pekerja (1979) ditampilkan dalam bentuk epik. Bentuk epik tersebut merupakan rumusan dari pemikiran Brecht sebagai bentuk penolakan terhadap bentuk dramatik Aristoteles. Pada naskah drama Matahari di Sebuah Jalan kecil (1963) ini, bentuk dramatik penggambaran para isu lebih diutamakan. Bentuk dramatik membawa emosi pembaca ikut hanyut dalam cerita. Sedangkan dalam naskah drama Sandek Pemuda Pekerja (1979) isu ditampilkan dalam kerangka epik. Hal tersebut dilakukan supaya pembaca menjadi kritis dan tidak ikut hanyut dalam cerita
MASKULINITAS TENTARA DALAM SINEMA PASCA ORDE BARU; ANALISIS NARATIF DOEA TANDA CINTA (2015) DAN I LEAVE MY HEART IN LEBANON (2016) Hary Ganjar Budiman; Aquarini Priyatna Priyatna; R.M. Mulyadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (917.396 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i1.483

Abstract

Artikel ini membincangkan tentara dan maskulinitas melalui film Indonesia kontemporer. Dua film dianalisis dalam penelitian ini, yaitu Doea Tanda Cinta (2015) dan I Leave My Heart in Lebanon (2016). Mengacu pada paradigma kajian budaya yang dikemukakan oleh Stuart Hall, penelitian ini mencoba menempatkan film sebagai teks/wacana budaya yang perlu untuk dianalisis. Metode yang digunakan adalah metode kajian film yang menganalisis unsur sinematik dan naratif (histoire dan discourse). Melalui artikel ini dapat diketahui bahwa representasi maskulinitas tentara dalam film Indonesia kontemporer cenderung dinamis. Film Doea Tanda Cinta merepresentasikan model maskulinitas normatif yang diasosiasikan dengan hegemoni terhadap perempuan. Film ini mengangkat ideologi patriarki. Film I Leave My Heart in Lebanon merepresentasikan model maskulinitas laki-laki peduli (caring masculinity) yang tidak hegemonik terhadap perempuan. This article discusses the army and masculinity through contemporary Indonesian films. Two films were analyzed in this study, namely Doea Tanda Cinta (2015) and I Leave My Heart in Lebanon (2016). Referring to the cultural study paradigm put forward by Stuart Hall, this study attempts to place film as a cultural text / discourse that needs to be analyzed. The method used is a film study method that analyzes cinematic and narrative elements (histoire and discourse). Through this article, it can be seen that the representation of army masculinity in contemporary Indonesian films tends to be dynamic. Doea Tanda Cinta film represents a model of normative masculinity associated with hegemony towards women. This film elevates patriarchal ideology. I Leave My Heart in Lebanon film represents a caring masculinity model that is not hegemonic to women.
EKOFEMINISME DAN GERAKAN PEREMPUAN DI BANDUNG Aquarini Priyatna; Mega Subekti; Indriyani Rachman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.473 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i3.5

Abstract

AbstrakDengan menggunakan perspektif ekofeminisme, tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan kegiatan dan aktivisme gerakan perempuan di Bandung yang fokus pada persoalan lingkungan. Subjek penelitian adalah tiga perempuan yang terlibat aktif dalam komunitas lokal di Bandung dalam kapasitasnya sebagai ibu rumah tangga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menghasilkan data deskriptif dari hasil wawancara dan observasi langsung. Hasilnya didapatkan bahwa alih-alih menempatkan tiga perempuan itu sebagai objek, kapasitasnya sebagai ibu rumah tangga memicu mereka untuk berperan sebagai subjek yang sadar lingkungan. Ketiganya menunjukkan bahwa pengalaman domestik/feminin sebagai ibu dan istri membuat mereka bergerak untuk mengatasi dan memperbaiki lingkungan yang ada di sekitar mereka. Meskipun acapkali dianggap sebagai sesuatu yang sederhana dan bersifat lokal, kegiatan dan aktivisme yang mereka lakukan bersama komunitasnya dapat dikategorikan sebagai sebuah gerakan ekofeminisme. Tidak saja karena posisi dan status mereka sebagai ibu rumah tangga akan tetapi juga karena kegiatan dan aktivisme itu mampu berdampak pada kelestarian lingkungan.AbstractBy using ecofeminism perspective, this paper aims to describe the activity and activism of women's movement in Bandung that focuses on environmental issues. The subjects of this research are three women who pioneered environmental movements in urban communities in Bandung in their capacity as housewives. This research uses qualitative methods that produce descriptive data from interviews and direct observation. The results of research reveals that despite positioning themselves as objects, their status as housewives and their domestic/feminine roles have enabled them to act as environmentally conscious subjects. Though often regarded as simple and local, their activities and activism can be categorized as an eco-feminist movement. Not only because of their position and their status as housewives but also because of the activities and activism have obviously a direct positive impact on environmental sustainability and improvement, particularly in the area where they live.
Co-Authors Aceng Abdullah Aceng Abdullah Acep Iwan Saidi Adi Kurniawan Adipurwawidjana, Ari J Adji, Muhammad Ageza, Gorivana Aida Anwariyatul Fuadah Aksa, Yati Amalia, Sira Kamila Dewanti Amaliatun Saleha Anastasia Dewi Wulandari Anastasia Dewi Wulandari Ani Rostiyati Aprilia, Nurul Hanifa Ari J. Adipurwawidjana Ari J. Adipurwawidjana Ari Jogaiswara Adipurwawidjana Arining Wibowo Asep Yusup Hudayat Cece Sobarna Cece Sobarna Dadan Suwarna Dade Mahzumi Dade Mahzumi, Dade Darmawan, Adam Dessyratna Putry Dimas Yudhistira Dimas Yudhistira, Dimas Dzulfikar Al-anbiya Eka Ayu Wahyuni Ekaning Krisnawati Endah Istiqomah Apriliani Ezzah Fathinah Fauziah Ismi Desiana Faza Fauzan Azhima Gian Nova Sudrajat Nur Hanifah Puji Utami Hary Ganjar Budiman Hazbini, Hazbini Heri Isnaini Hermawati, Diyana Mareta Hilda Septriani Ikeh, Tri Sulapmi Dolina Indrawan Dwisetya Suhendi, Indrawan Dwisetya Indriyani Rachman Jordy Satria Widodo Lilis Suryani Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu, Lina Meilinawati Lina Meilinawati, Lina Luqman, Arief Mecca, Ali Mega Subekti Mia Dwianna Widyaningtyas Mori, Alifa Syauqina Muhamad Adji Muhtadin, Teddi Mulyadi, R.M Mumuh Muhsin Zakaria Nisa'ul Fithri Mardani Shihab Nita, Ida Ayu Eka Vania Cahya Novia Nurul Ulfah Nurhayati, Nita Nurullah, Maria Fiducia Permata, Denti Primiani, Nurrahma Probowati, Andarini Rani R. M. Mulyadi R. M. Mulyadi R.M. Mulyadi R.M. Mulyadi Raden Mohamad Herdian Bhakti Raden Muhammad Mulyadi Rahayu, Lina Meilinawati Rani, Seni Melia Rasus Budhyono Renti Mahkota Resa Restu Pauji Ridwan, Muhammad Fauzi Rifki Zamzam Mustafa Rifki Zamzam Mustaffa Rikma Dewi, Nenden Rojak, Mohamad Abdul Rosyidah Antoni, Cheryl Desyanti Safrina Noorman, Safrina Sartika Sari Siti Karlinah Sri Rijati Wardiani syukur, andi abd khaliq Teddi Muhtadin Tisna Prabasmoro Tri Sulapmi Dolina Ikeh Wibowo, Arining wibowo, arining Yovela, Stasya Yuris Fahman Zaidan Zhafirah, Faizzah Shabrina