Claim Missing Document
Check
Articles

Bioskop di Mal: Konsumsi dan Komodifikasi dalam Budaya Urban Gorivana Ageza; Aquarini Priyatna; R. M. Mulyadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.772 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.385

Abstract

Di kota Bandung, hampir semua mal memiliki bioskop, dan sebaliknya, tidak ada bioskop di luar mal. Artikel ini akan memaparkan konsekuensi dari keberadaan bioskop di mal. Artikel ini disusun berdasarkan observasi lapangan dan studi pustaka, yang kemudian ditafsirkan secara hermeneutika dengan pendekatan teori kritis. Observasi lapangan dilakukan di dua bioskop terbesar di Kota Bandung yakni CGV Cinemas mal Paris van Java dan Ciwalk XXI mal Cihampelas Walk. Fenomena bioskop di mal menunjukkan bahwa kehidupan urban menyebabkan komodifikasi ruang dan pengalaman. Berbelanja di mal dan menonton film di bioskop mal mengarahkan warga urban untuk melakukan konsumsi, serta memaksimalkan keuntungan yang didapat oleh mal dan bioskop. In Bandung city, virtually all shopping malls list movie theaters among their venue. Conversely, there is no movie theater located out of shopping mall. This article explains consequences of movie theater in shopping malls. This article is written based on field observation and literature study, which then was interpreted hermeneutically, using critical theory approach. Field observations were conducted at two biggest movie theaters in Bandung’s shopping malls, which are CGV Cinemas in Paris van Java Mall and Ciwalk XXI in Cihampelas Walk Mall. This phenomenon indicates that urban life causes commodification on space and experience. Both the act of shopping and watching movies in shopping malls lead urban people to a consumptive lifestyle while maximizing the revenues of both shopping malls and movie theaters.
LUH AYU MANIK MAS SEBAGAI REPRESENTASI SUPERHERO PEREMPUAN BALI DALAM KOMIK Hanifah Puji Utami; Aquarini Priyatna; Tisna Prabasmoro
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v13i1.718

Abstract

Penelitian ini berangkat dari minimnya penggambaran karakter beridentitas Indonesia dan maraknya marjinalisasi karakter perempuan dalam komik superhero. Salah satu komik yang mewujudkan tradisi budaya dan kearifan lokal Indonesia adalah Luh Ayu Manik Mas, yang menampilkan kebudayaan Bali. Tulisan ini membahas bagaimana Luh Ayu Manik Mas merepresentasikan perempuan Bali yang terwujud dalam karakternya sebagai superhero. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode analisis isi terhadap empat edisi komik Luh Ayu Manik Mas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Luh Ayu Manik Mas ditampilkan memanifestasi identitas lokal melalui sumber kekuatan, yang dinamakan dengan gelang Tri Datu, dan kepercayaannya pada Tri Hita Karana. Tri Datu diyakini sebagai sumber kekuatan hidup, sedangkan Tri Hita Karana diyakini sebagai prinsip hidup yang menjamin keharmonisan dalam setiap aspek kehidupan. Agama dan Budaya merupakan hal yang berbeda. Luh Ayu Manik Mas merepresentasikan superhero perempuan Bali yang dimuliakan oleh ajaran agama Hindu (sebagai agama dominan di Bali), ketika budaya Bali masih tunduk pada sistem patriarki. This research is motivated by two reasons, namely the lack of the presence of characters with Indonesian identities and the marginalization of female characters in superhero comics. One of the comics that is quite representative of presenting Indonesia's cultural traditions and local wisdom is Luh Ayu Manik Mas, which contains the Balinese culture. This paper discusses how Luh Ayu Manik Mas has represented the Balinese women through her character as a superhero. The research is carried out using the content analysis method on the four comic editions of Luh Ayu Manik Mas.  The results of this study have shown that Luh Ayu Manik Mas was designed to appear to be a manifestation of local identities, such as a source of strength from the Tri Datu bracelet, and the belief in the Tri Hita Karana. Tri Datu is believed to be the source of life force and Tri Hita Karana is the principle of life that ensures harmony in every aspect of life. Religion and culture are two different things. Luh Ayu Manik Mas, who represents the figure of a Balinese female superhero who is glorified by the teachings of Hinduism as the dominant religion in Bali, is in contrast to Balinese culture which is still subject to the patriarchal system.
REPRESENTASI MUSIK SEBAGAI SEBUAH IDEOLOGI DI PESANTREN DALAM FILM BAIK-BAIK SAYANG Dzulfikar Al-anbiya; Aquarini Priyatna; R.M. Mulyadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.377 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i3.432

Abstract

Artikel ini membahas musik  di pesantren yang direpresentasikan sebagai sebuah ideology dalam film Baik-Baik Sayang.Perdebatan ideologi yang membolehkan dan melarang musik masih diperdebatkan di kalangan ulama dapat diargumentasikan sebagai manifestasi ideologi sebuah instansi pendidikan berbasis agama Islam tertentu. Perdebatan ideologi  tersebut direpresentasikan dalam film Baik-Baik Sayang dengan mengangkat cerita perjalanan sebuah band musik bernama Wali yang dibentuk di Pesantren La Tansa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan  konsep media representasi Stuart Hal dan kajian sinema. Penelitian ini menunjukkan bahwa film merepresentasikan musik sebagai ideologi secara biner. La Tansa dan Band Wali merupakan representasi ideologi yang membolehkan musik di pesantren. Ideologi yang berlawanan direpresentasikan melalui tokoh antagonis. Film juga merepresentasikan fenomena bentuk ideologi lain yang lebih negosiatif dalam sosok ayah Fa’ank.This article explains music within pesantren, which is represented as an ideology in the movie Baik-Baik Sayang. Ideological debates about legalizing and prohibiting music among Muslim theologian can be argued as ideology manifestation from certain Islamic educational institute. Those ideology debates are represented in movie Baik-Baik Sayang that tells the story about a music band called Wali, which is formed within pesantren La Tansa. This research uses qualitative approach using the concept of media representation proposed by Stuart Hall and cinema studies. This research shows that movie representing music as ideology binary. La Tansa and Band Wali are the representation of ideology that legalizing music within pesantren. The contradiction ideology is represented by an antagonistic role. This movie also representing another ideology form, which is more negotiable within Ayah Fa'ank role
PEREMPUAN PUNK: BUDAYA PERLAWANAN TERHADAP GENDER NORMATIF (Kasus di Desa Cijambe Ujung Berung) Ani Rostiyati; Aquarini Priyatna
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1158.783 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i2.2

Abstract

Punk merupakan sekelompok orang yang memiliki budaya tersendiri, berbeda dengan budaya yang lebih banyak dipraktikkan orang. Punk dicirikan sebagai bentuk budaya tanding yakni perlawanan terhadap budaya dominan. Tulisan ini bertujuan untuk mengemukakan cara perempuan punk mengidentifikasi dirinya melalui makna penampilan dan fashion yang dikenakan, sehingga terungkap ide, gagasan, dan cara pandang mereka dalam meresistensi diri dari kontruksi gender normatif. Hasil penelitian terungkap bahwa dalam estetika punk, mereka berupaya untuk menghilangkan diri dari budaya dominasi dan gender normatif yang diresepkan. Mereka keluar dari pusat patriarki dan menentang ide-ide feminitas. Penelitian ini berupa studi kasus terhadap 5 (lima) perempuan punk di Ujung berung Bandung dan dikaji secara mendalam dengan menggunakan pendekatan kualitatif utuk memperoleh data akurat, menyeluruh, dan  detail mengenai makna penampilan perempuan punk. Jenis penelitian bersifat analisis deskriptif yakni menganalisis dan menyajikan fakta sehingga lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan. Adapun pengambilan data melalui observasi, wawancara mendalam, foto, dan studi pustaka. Kata kunci: perempuan punk, budaya perlawanan,  gender normatif.
POTRET KELUARGA MATRILINEAL MINANGKABAU DALAM DUA NOVEL PENGARANG ETNIS MINANGKABAU Renti Mahkota; Aquarini Priyatna; Sri Rijati Wardiani
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.438 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i2.504

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan perbandingan dan persamaan potret keluarga matrilineal Minangkabau yang ditampilkan dalam dua novel pengarang etnis Minangkabau, yaitu novel Negeri Perempuan karya Wisran Hadi dan novel Aku Tidak Membeli Cintamu karya Desni Intan Suri. Untuk menunjukkan potret keluarga matrilineal Minangkabau dalam dua novel pengarang etnis Minangkabau peneliti menggunakan teori sastra bandingan sebagai landasan dalam penelitian ini. Metode dalam penelitian secara khusus menggunakan metode perbandigan sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan dua bentuk potret keluarga matrilineal di Minangakabau yang ditampilkan dalam kedua novel pengarang etnis Minangkabau. Pertama keluarga yang menganut sistem matriarkal-matrilneal, yaitu pihak perempuan (ibu) yang memegang kekuasaan utama di dalam keluarga. Kedua, keluarga yang menganut sistem patriarkal-matrilineal, yaitu kekuasaan utama dipegang oleh kaum laki-laki. Kekuasaan pada potret keluarga bentuk kedua ini bukan berada di pihak ayah (suami), melainkan berada di pihak mamak (saudara laki-laki ibu).  This study aims at showing the comparison and similarities of Minangkabau matrilineal family presented in two ethnic novels entitled Negeri Perempuan by Wisran Hadi and Aku Tidak Membeli Cintamu by Desni Intan Suri. To discuss the portrait of Minangkabau matrilineal family in these two novels, the researcher used comparative literature theory to frame the study. The present study specifically used the comparative literature method as its research method. Based on the research findings, it was found that there are two types of matrilineal family in Minangkabau presented in both novels. The first type is the family which follows the matriarchal-matrilineal system. This type believes that the women (mother) side takes the main power in their family. The second type is the family which follows the patriarchal-matrilineal system. This system believes that the main power is on the men’s side. The main power in the second system is not actually on the father’s side (husband); however the main power is on the uncle’s side (the mother’s brother).
MASKULINITAS BARU DALAM IKLAN KOSMETIK KOREA: ETUDE HOUSE DAN TONYMOLY Ezzah Fathinah; Aquarini Priyatna; Muhamad Adji
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1181.436 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i2.3

Abstract

Penelitian ini membahas maskulinitas dalam iklan produk kecantikan korea Etude House dan TonyMoly. Iklan-iklan ini menampilkan laki-laki cantik yang merawat diri dan mementingkan penampilan. Laki-laki tersebut ditampilkan ramah dan membawa atribusi ‘cantik’, yang digemari serta diidolakan beberapa kelompok perempuan tertentu di Indonesia. Hal ini sangat berbeda dengan konsep maskulinitas yang menjadi standar ideal konstruksi sosial budaya di Indonesia, yang cenderung kaku, kuat dan otoriter. Artikel ini berargumentasi bahwa kecenderungan itu juga dipengaruhi media, salah satunya iklan, sehingga representasi serta opini publik mengenai maskulinitas hegemonik terrekonstruksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika Barthes, dengan mengkaji tanda-tanda pada iklan di dalam data tekstual mau pun visual. Dari data yang dianalisis, ditemukan adanya maskulinitas baru yang bersifat lebih cair, di mana laki-laki tidak harus mengikuti standar ideal maskulinitas hegemonik.Kata kunci: maskulinitas, laki-laki, iklan, kosmetik.
Perubahan Identitas Musik Pop pada Versi Cover di Indonesia Dessyratna Putry; Aquarini Priyatna; Lina Meilinawati Rahayu
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 3, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1086.217 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v3i2.2414

Abstract

Abstrak: lagu Sh-Boom karya Crew Cuts (musisi kulit hitam) yang awalnya bekemudian berubah menjadi genre pop oleh musisi kulit puith. Lagu Shorisinal dipublikasikan pada 19 Juni 1954 dan versi cover-nya munculPada 10 Juli 1954 lagu Sh-Boom masuk dalam daftar lagu-lagu pop hitahun kemudian versi cover ini direkam dan dipublikasikan sebagai lagoleh musisi kulit putih. Pada masa itu sudah menjadi hal yang lumrah musisi kulit hitam di-cover oleh musisi kulit putih. Sindrom cover versaja disebabkan oleh permasalahan rasisme, melainkan juga karena pantara label rekaman keduanya. Sementara itu, sejarah versi cover di Indonesia ditulis oleh Wa216) dalam Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in Indonesia, 1 Penelitian ini membahas perubahan identitas musik pop Indonesia yang dipublikasikan melalui situs YouTube. Lagu yang diteliti adalah Akad dari Payung Teduh yang di-cover oleh Mas Paijo dan Pamit dari Tulus yang di-cover oleh Sintesa Vocal Play. Penelitian ini menggunakan pendekatan transit dan transisi dengan kajian tekstual dan kontekstual pada identitas kedua lagu tersebut. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menemukan bagaimana identitas musik (lagu) beserta musisinya mengalami perubahan; dari versi orisinal menjadi versi cover. Dalam penelitian ini dipahami bahwa versi cover merupakan bentuk pembaruan musikal. Penjelasan mengenai perubahan identitas dalam kedua versi ini dibahas pada dua substansi. Pertama, narasi tentang peran teknologi dalam pembaruan musikal; kedua, uraian tentang perubahan identitas dalam narasi musikal yang meliputi lirik lagu, format lagu, instrumentasi, video musik berserta musisinya. Dengan demikian, perubahan identitas yang ditelaah dalam penelitian ini meliputi dua versi lagu: orisinal dan cover dengan dua narasi yang berbeda. Abstract: contohnya: Band Tor yang meng-cover lagu-lagu Jimi Hendrix, Rastafarlagu-lagu Bob Marley kemudian T-Five meng-cover lagu-lagu Korn and saat itu versi cover diciptakan bukan hanya dari segi komposisi musiknyjuga pada aksi panggungnya. Hingga kini versi cover semakin berkembangdiunggah melalui situs YouTube. Fenomena cover version yang tidak terlepas dari penggunaan tmengantarkan pada pembahasan bagaimana teknologi dan seni (musik)ini diuraikan oleh Yangni (2016: 4-5) bahwa kaitan antara seni dan teknolsejarah relasi keduanya tampak terpisah, namun secara esensial keduany Merunut mundur pada zaman Yunani, tidak ada pemisahan sama sekaliteknologi. Keduanya sama dan satu dilakukan oleh tiap individu dalam This research discusses changing identity of Indonesian pop music’s that was published on YouTube. Spesifically, there are two song’s (consist of original version and cover version) discussed here: firstly, Akad original version by Payung Teduh and cover version by Mas Paijo; secondly, Pamit original version by Tulus and cover version by Sintesa Vocal Play. This research applies transit and transition approach in which the signs in textual and contextual data are examined in their identity. The aim of this research is to find out how music and musician identity are represented in their song’s include in cover version. This research shows that cover version is defined as music renewal of the whole music and musician narration. Description about changing identity in both version (original and cover) was observed in two subject. Firstly, narration about technology involvement in music renewal and secondly, description about changing identity in musical narration (including in song lyrics, song forms, instrumentation, music video and the musician). It can also be said that changing identity refers to both version (original and cover) with two different descriptions.
KONSTRUKSI GENDER DALAM NOVEL “TSUKUSHISA TO KANASHIMI TO” KARYA YASUNARI KAWABATA Anastasia Dewi Wulandari; Aquarini Priyatna; Lina Meilinawati Rahayu
MEDAN MAKNA: Jurnal Ilmu Kebahasaan dan Kesastraan Vol 13, No 1 (2015): Vol. 13, No. 1, Juni 2015
Publisher : Balai Bahasa Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/mm.v13i1.1226

Abstract

Utsukushisa to Kanashimi to novel was written by Yasunari kawabata, published 1969. This research followed by the analysis of gender construction Otoko within patriarchy environment. Feminist literature critism is a discourse emphasizing on how literature should be done through feminist perpektive. The important things of feminist literature critism are the way the women are described, how a text could be related to gender, and any feminist ideas depicted in the story. The result of this research proves that Otoko faces gender construction such as marginalization, subordinations, sterotyping and sexual violences. Meanwhile, the ideas of feminism in the story are about a woman‟s independence.
Ecriture Feminine dalam Tataran Penceritaan Novel The Powerbook Karya Jeanette Winterson Nisa'ul Fithri Mardani Shihab; Aquarini Priyatna; Sri Rijati Wardiani
Aksara: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 18, No 2 (2017): Aksara: Jurnal Bahasa dan Sastra
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.038 KB)

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan tataran penceritaan dalam novel The Powerbook (2000) karya Jeanette Winterson dengan berfokus pada konsep ecriture feminine atau tulisan feminin, yang mengacu kepada struktur dan bentuk narasi. Jeanette Winterson adalah salah satu penulis perempuan dalam kesusastraan Inggris yang karyanya memperlihatkan bentuk tulisan feminin sebagai wacana tandingan terhadap falogosentrisme. Karya-karya Winterson memperlihatkan perbedaan dalam tataran penceritaan dari bentuk-bentuk penarasian konvensional. Dalam novel The Powerbook, bentuk tulisan feminin dalam tataran penceritaan ditunjukkan dalam bentuk narasi yang terfragmentasi yang hadir dalam tiga bentuk berbeda, yakni narasi narsisistik, penarasian publik dan demitologisasi sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk narasi yang ditampilkan di dalam novel meresistensi wacana falogosentris dengan menampilkan bentuk tulisan perempuan yang memanifestasi cara perempuan memaknai dunia. DOI: http://dx.doi.org/10.23960/aksara/v18i2.pp122-132
Modifikasi Wayang Topeng Malangan di Padepokan Asmoro Bangun, Kedungmonggo Pakisaji, Malang Arining Wibowo; Aquarini Priyatna; Cece Sobarna
PANGGUNG Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2360.299 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i3.1009

Abstract

ABSTRACT            This article focuses on the modification of Malangese Mask Puppet, a traditional art that has been developed in Malang, East Java, for long time. This research aims to finds out changes in Malangese Mask Puppet in order to maintain the existence of the art in this era, by which popular culture dominated. The article is written to answer questions, first, how do modifications of Malangese Mask Puppet were done both in performance and crafting aspects, and second, how do the modifications influence the fuction of Malangese Mask Wayang. The research uses a qualitative method with interview, observation, and document analysis as data collection technique. The data analysis is conducted through triangulation technique. The results are that modification is conducted by simplifying and beautifying the form of some elements such as clothes, accessories, and the material of mask crafting. Meanwhile, the modification of ideas are implemented through the changing of some traditional patterns, such as shortening the duration of performance, creating the new rule to involve women and kids as an active artist of Malangese Mask Wayang. The modification of Malangese Mask Wayang influences the function and role of the art as a commodity or product.   Keywords: Modification, Malangese Mask Wayang, Asmoro Bangun Art Center ABSTRAK            Artikel ini membahas perubahan atau modifikasi pada kesenian tradisional Wayang Topeng Malangan yang telah lama berkembang di kota Malang, Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada Wayang Topeng Malangan yang dilakukan oleh seniman dalam mempertahankan kesenian tersebut pada masa sekarang, yang cenderung didominasi oleh budaya pop. Artikel ini ditulis untuk menjawab beberapa rumusan masalah, yaitu pertama, bagaimana modifikasi Wayang Topeng Malangan dilakukan pada unsur pertunjukan dan kerajinan topeng, dan kedua adalah bagaimana modifikasi tersebut memengaruhi peran dan fungsi kesenian Wayang Topeng Malangan saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara, observasi dan studi dokumen sebagai teknik pengumpulan data. Data dianalisis menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi bentuk pertunjukan dan kerajinan topeng dilakukan dengan menyederhanakan dan mempercantik bentuk busana dan ragam hiasan, mengubah material dan proses pembuatan topeng. Sedangkan modifikasi gagasan terimplementasikan pada perubahan pakem (aturan tradisi), seperti mempersingkat waktu pergelaran dan memberikan aturan baru keterlibatan perempuan dalam kesenian Wayang Topeng Malangan.  Modifikasi bentuk pertunjukan dan kerajinan topeng serta gagasan berkaitan dengan Wayang Topeng Malangan memengaruhi peran dan fungsi Wayang Topeng Malangan, yang tidak sekedar sebagai seni, namun juga sebuah komoditas (produk). Kata Kunci: Modifikasi, Wayang Topeng Malangan, Padepokan Asmoro Bangun
Co-Authors Aceng Abdullah Aceng Abdullah Acep Iwan Saidi Adi Kurniawan Adipurwawidjana, Ari J Adji, Muhammad Ageza, Gorivana Aida Anwariyatul Fuadah Aksa, Yati Amalia, Sira Kamila Dewanti Amaliatun Saleha Anastasia Dewi Wulandari Anastasia Dewi Wulandari Ani Rostiyati Aprilia, Nurul Hanifa Ari J. Adipurwawidjana Ari J. Adipurwawidjana Ari Jogaiswara Adipurwawidjana Arining Wibowo Asep Yusup Hudayat Cece Sobarna Dadan Suwarna Dade Mahzumi Dade Mahzumi, Dade Darmawan, Adam Dessyratna Putry Dimas Yudhistira Dimas Yudhistira, Dimas Dzulfikar Al-anbiya Eka Ayu Wahyuni Ekaning Krisnawati Endah Istiqomah Apriliani Ezzah Fathinah Fauziah Ismi Desiana Faza Fauzan Azhima Gian Nova Sudrajat Nur Hanifah Puji Utami Hary Ganjar Budiman Hazbini Hazbini Heri Isnaini Hermawati, Diyana Mareta Hilda Septriani Ikeh, Tri Sulapmi Dolina Indrawan Dwisetya Suhendi, Indrawan Dwisetya Indriyani Rachman Jordy Satria Widodo Lilis Suryani Lina Meilinawati Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu, Lina Meilinawati Lina Meilinawati, Lina Luqman, Arief Mecca, Ali Mega Subekti Mega Subekti Mia Dwianna Widyaningtyas Mori, Alifa Syauqina Muhamad Adji Muhamad Adji Muhtadin, Teddi Mulyadi, R.M Mumuh Muhsin Zakaria Nisa'ul Fithri Mardani Shihab Nita, Ida Ayu Eka Vania Cahya Novia Nurul Ulfah Nurhayati, Nita Nurullah, Maria Fiducia Permata, Denti Primiani, Nurrahma Probowati, Andarini Rani R. M. Mulyadi R. M. Mulyadi R.M. Mulyadi R.M. Mulyadi Raden Mohamad Herdian Bhakti Raden Muhammad Mulyadi Rahayu, Lina Meilinawati Rahmasari, Rifka Alif Rani, Seni Melia Rasus Budhyono Renti Mahkota Resa Restu Pauji Ridwan, Muhammad Fauzi Rifki Zamzam Mustafa Rifki Zamzam Mustaffa Rikma Dewi, Nenden Rojak, Mohamad Abdul Rosyidah Antoni, Cheryl Desyanti Safrina Noorman, Safrina Sartika Sari Siti Karlinah Sri Rijati Wardiani syukur, andi abd khaliq Teddi Muhtadin Tisna Prabasmoro Tisna Prabasmoro Tri Sulapmi Dolina Ikeh Wibowo, Arining wibowo, arining Yovela, Stasya Yuris Fahman Zaidan Zhafirah, Faizzah Shabrina