This Author published in this journals
All Journal ASEAN Journal of Systems Engineering Buletin Peternakan Jurnal Rekayasa Proses Reaktor Jurnal Ilmu Lingkungan JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Jurnal Bahan Alam Terbarukan Eksergi: Chemical Engineering Journal Jurnal Ketahanan Nasional Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Jurnal Pamator : Jurnal Ilmiah Universitas Trunojoyo Madura Majalah Kulit, Karet, dan Plastik Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement) Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan Konversi Metal Indonesia Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (JPPIPA) Indonesian Journal of Chemistry Communications in Science and Technology Jurnal Rekayasa Proses Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Media Ilmiah Teknik Lingkungan Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan INSIST (International Series on Interdisciplinary Research) Jurnal Inovasi Teknik Kimia Jurnal Engine: Energi, Manufaktur, dan Material ASEAN Journal of Chemical Engineering Kontribusia : Research Dissemination for Community Development Jurnal Riset Entrepreneurship GANDRUNG: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Pengendalian Pencemaran Lingkungan (JPPL) Sosial : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Community Empowerment Prosiding SNAST International Journal of Computer and Information System (IJCIS) Teknika STTKD: : Jurnal Teknik, Elektronik, Engine Envirotek : Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Sharia Agribusiness Journal Journal of Educational and Cultural Studies Hexagon DEDIKASI : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Edukasi Pengabdian Masyarakat: EDUABDIMAS Revenue Manuscript Jurnal Rekayasa Proses Jurnal Pengabdian, Riset, Kreativitas, Inovasi, dan Teknologi Tepat Guna (Parikesit) Educational Management
Claim Missing Document
Check
Articles

Penjerapan Ion Logam Cadmium dalam Larutan Encer Menggunakan Baggase Fly Ash Teraktivasi Martha Helsanggi; Agus Prasetya
Jurnal Rekayasa Proses Vol 4, No 1 (2010)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.852 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.569

Abstract

Bagasse fly ash (BFA) dapat digunakan sebagai adsorben berbagai macam logam berat seperti Cd2+ yang terlarut dalam air. Untuk dapat digunakan sebagai media penjerap BFA perlu lebih dahulu diaktivasi. Penelitian mempelajari pengaruh berbagai jenis aktivasi terhadap kemampuan adsorpsi BFA belum banyak dilakukan. Pada penelitian ini BFA diaktivasi menggunakan larutan HCl 1N dan H2O2 pada berbagai konsentrasi 0,01N, 0,02N, dan 0,05N. BFA teraktivasi kemudian digunakan untuk menjerap Cd2+. Pada penelitian ini juga dipelajari pengaruh suhu terhadap jumlah Cd2+ yang teradsorpsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas BFA teraktivasi H2O2 lebih baik dibandingkan BFA awal. Sementara itu, aktivasi dengan larutan HCl menyebabkan penurunan kualitas penjerapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu maka semakin sedikit Cd2+ yang terjerap. Kata kunci: bagasse fly ash, penjerapan, aktivasi, H2O2, ion kadmium Bagasse fly ash is frequently used as an adsorbent for various heavy metals such as Cd2+ dissolved in water. Activation procedure is generally required preceding adsorption using BFA. Investigation of different activation treatments and the influences on BFA adsorption capacity is still scarce. In the present study, BFA was activated in HCl 1 N solution and in H2O2 solution at different concentrations of 0.01 N, 0.02 N and 0.05 N. The activated BFA was then used for adsorption of water containing Cd2+. Also, the effect of temperature on the adsorption was part of the study. Experimental results indicated that H2O2 activated BFA showed superior adsorption properties compared with the unmodified BFA (raw BFA). Meanwhile, activation treatment in HCl solution caused a decrease in adsorption quality. The results also showed that temperature increase would lead to a decrease in adsorption capacity. Keywords: bagasse fly ash, adsorption, activation, H2O2, ionic cadmium
Pengaruh Konsentrasi Polifenol pada Produksi Asam Laktat dari Substrat Menggunakan Rhizopus oryzae Maulana Gilar Nugraha; Siti Syamsiah; Agus Prasetya
Jurnal Rekayasa Proses Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.261 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.24527

Abstract

Polyphenol is antioxidant compound naturally present in plants e.g in cacao shell (Thebrema cacao L.). The cacao shell has high cellulose content (30-50%), and therefore it is potential to be converted into various types of products. Cellulose could be hydrolyzed to produce glucose, and glucose could be fermented to become lactic acid. However, polyphenol presence in the cacao shell is suspected to be inhibitory to fermentation process. This research aimed to figure out the polyphenol effect in lactic acid fermentation with glucose as substrate by the fungus Rhizopus oryzae. Polyphenol concentrations in the fermentation broth were varied with value of 0, 10, 15, and 20 g/L. Along the course of the experiment, lactic acid concentration was measured by means of gravimetric and conductometric method. Fungus growth was measured through dry mass method while consumption of glucose was observed by glucose determination with Nelson-Samogyi method. The results showed that polyphenol presence in fermentation system would decrease lactic acid production from 40.55 g/L (system without polyphenol) to 18.24 g/L (system with 20 g/L polyphenol). Microbe growth inhibition also observed from 3.68 g/L (system without polyphenol) to 0.51 g/L (system with 20 g/L polyphenol). However, polyphenol presence did not affect the total glucose consumption. Final glucose concentrations in all system were about 10.94 to 19.28 g/L. Some possible factors for this phenomenon were glucose conversion to another product and glucose utilization for cell maintenance. This research also found that the best kinetic model to represent the fermentation system was uncompetitive inhibition model. Keywords: fermentation kinetics, inhibitor, polyphenol, cacao Kulit buah cokelat (Theobrema cacao L.) merupakan salah satu limbah perkebunan dengan kandungan selulosa yang relatif tinggi (30-50%) yang berpotensi sebagai bahan baku berbagai produk. Selain itu, kulit buah cokelat juga mengandung polifenol sebagai antioksidan dalam jumlah yang relative besar. Selulosa dapat dihidrolisis menjadi glukosa dan hasil hidrolisis tersebut dapat difermentasi menjadi asam laktat. Namun keberadaan polifenol dalam kulit kakao berpotensi menghambat proses fermentasi selulosa. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh polifenol terhadap fermentasi asam laktat dengan bahan baku glukosa menggunakan Rhizopus oryzae. Variasi konsentrasi polifenol yang digunakan adalah 0, 10, 15, dan 20 g/L dalam cairan fermentasi. Sepanjang penelitian konsentrasi asam laktat dianalisis dengan metode gravimetri dan konduktometri. Konsentrasi mikroba diukur dengan menggunakan metode berat kering sedangkan pengukuran konsentrasi glukosa menggunakan metode Nelson-Samogyi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi polifenol dapat menurunkan produksi asam laktat dari 40,55 g/L (sistem tanpa polifenol) menjadi 18,24 g/L (sistem dengan 20 g/L polifenol). Pertumbuhan mikroba pun mengalami penurunan dari 3,68 g/L (sistem tanpa polifenol) menjadi 0,51 g/L (sistem dengan 20 g/L polifenol). Walaupun demikian, konsumsi glukosa tidak terlalu dipengaruhi oleh penambahan polifenol. Nilai konsentrasi akhir glukosa sistem pada berbagai variasi polifenol berkisar 10,94 s/d 19,28 g/L. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh terkonversinya glukosa menjadi produk samping lain dan alokasi untuk maintenance sel. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model kinetika yang dapat merepresentasikan sistem ini dengan baik adalah model uncompetitive inhibition. Kata kunci: kinetika fermentasi, inhibitor, polifenol, kakao
Pengurangan Zat Warna Remazol Red Rb Menggunakan Metode Elektrokoagulasi Secara Batch Novie Putri Setianingrum; Agus Prasetya; Sarto Sarto
Jurnal Rekayasa Proses Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.232 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.26900

Abstract

Batik is one of the distinctive cultural chacteristic of the Indonesian national that has gained recognition from UNESCO. Batik industries have grown rapidly. However, the activity  industry produces liquid, especially from batik’s dyeing processes.. The conventional method which is used for processing wastewater still has limitation so that an innovation method wastewater treatment is need for example electrocoagulation. Electrocoagulation is  a process of coagulation using unidirectional electrics current through electro-chemical process. In this work, electrocoagulation was employed to treat wastewater (synthetic dyes remazol red (Rb) as wastewater model). The method was carried out by varying the distance between electrode distance and electrical voltage. Variation of distance between electrode range were  2 cm and 3 cm while variation of electrical voltage range were 10 volt and 15 volt. To determine the effect of electrode distance and electrical voltage on treatsment performances the chemical oxygen demand(COD), total suspended solid (TSS) and waste color. The samples were taken at 10 minutes, 20 minutes, 40 minutes and 60 minutes during the process. The results showed that the distance of the electrode and the voltage affected  to thr reduction of COD, TSS and waste color. The optimum elecrode distance and voltage in this research were 2 cm and 10 volt. The research showed the decrease in COD concentration from 428 mg/L to 54 mg/L, TSS concentration from 850 mg/L to 277 mg/L and the decrease in waste color from 2733 PtCo to 75,5 PtCo. ABSTRAKBatik merupakan salah satu ciri budaya khas bangsa Indonesia yang telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO. Industri batik mengalami pertumbuhan cukup pesat. Aktivitas produksi dalam industri semakin meningkat menyebabkan limbah cair terutama dari proses pewarnaan semakin banyak. Metode konvensional untuk pengolahan limbah cair masih memiliki kekurangan sehingga memerluka metode pengolahan limbah alternatif, yaitu metode elektrokoagulasi. Proses elektrokoagulasi merupakan suatu proses koagulasi  dengan menggunakan arus listrik searah melalui proses elektrokimia. Proses elektrokoagulasi dilakukan dengan memvariasikan tegangan listrik dan jarak antar elektroda yaitu 10 volt dan 15 volt serta 2 cm dan 3 cm. Untuk mengetahui pengaruh tegangan listrik dan jarak antar elektroda maka dilakukan pengukuran COD, TSS dan Warna dimana sampel diambil setiap 10 menit, 20 menit, 40 menit dan 60 menit lalu dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tegangan listrik dan jarak antar elektroda memberikan pengaruh terhadap penurunan COD, TSS dan Warna pada limbah cair sintetis Remazol Red RB. Jarak antar elektroda dan tegangan listrik yang optimum pada penelitian ini yaitu 2 cm dan 10 volt dengan penurunan konsentrasi COD yang pada awalnya 428 mg/L menjadi 54 mg/L, penurunan TSS yang pada awalnya 850 mg/L menjadi 277 mg/L dan penurunan Warna yang pada awalnya sebesar 2733 PtCo menjadi 75,5 PtCo.
Pengaruh Jenis Limbah dan Rasio Umpan pada Biokonversi Limbah Domestik Menggunakan Larva Black Soldier Fly (Hermetia illucens) Mahfudl Sidiq Muhayyat; Ahmad Tawfiequrrahman Yuliansyah; Agus Prasetya
Jurnal Rekayasa Proses Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.252 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.34424

Abstract

The high content of protein is the main reason for domestic waste to be potentially processed by bioconversion using Hermetia illucens larvae. Hermetia illucens larva can accumulate protein content as high as 45-50% and fat which reaches 24-30%, so that it becomes a good source of highly nutritious feed. This research studied the production of Hermetia illucens larvae through bioconversion process on rice waste, cassava leaf, and mixed rice-cassava leaf (with the weight ratio of 1: 1), by varying the feed rate of 60, 80, and 100 mg/larva/day. The experiment was conducted for 21 days. Samples were taken periodically to be analyzed for their weight, substrate consumption, and waste reduction index. Proximate analysis was conducted on raw material and larvae media. The results of this study indicated that the optimum waste for larvae was the mixed rice-cassava leaf waste with feed rate of 60 mg/larva/day or total weight of 10.00 grams per feeding. At this condition, the optimal waste reduction in the bioconversion process was observed as substrate consumption of 65.82% and the waste reduction index of 18.02%. ABSTRAKTingginya kandungan protein membuat limbah domestik berpotensi untuk diproses secara biokonversi dengan menggunakan larva Hermetia illucens. Larva Hermetia illucens memiliki kandungan nutrisi protein yang mencapai 45-50% dan lemak yang mencapai 24-30%, sehingga dapat dijadikan sumber pakan bernutrisi tinggi. Penelitian ini mempelajari produksi larva Hermetia illucens melalui proses biokonversi pada limbah nasi, daun singkong dan campuran nasi-daun singkong (1:1), dengan memvariasikan feed rate sebesar 60, 80, 100 mg/larva/hari. Penelitian dilakukan selama 21 hari, dengan menganalisis berat larva, substrate consumption, dan waste reduction index. Analisis proksimat dilakukan pada media pakan dan larva. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa limbah yang paling optimal memproduksi larva dalam proses ini adalah limbah campuran nasi-daun singkong dengan feed rate 60 mg/larva/hari atau dengan berat total 10,00 gram per feeding. Reduksi limbah paling optimal pada proses biokonversi teramati sebagai nilai konsumsi substrat sebesar 65,82% dan waste reduction index sebesar 18,02%.
Recovery Ion Hg2+ dari Limbah Cair Industri Penambangan Emas Rakyat dengan Metode Presipitasi Sulfida dan Hidroksida Ilma Fadlilah; Agus Prasetya; Panut Mulyono
Jurnal Rekayasa Proses Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.969 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.34496

Abstract

Unlicensed gold mining activities using mercury (Hg) as a gold element binder is called the amalgamation process. Mercury is a heavy metal and categorized as toxic material. The use of mercury can potentially cause a pollution in environment, especially the aquatic system. For overcoming the heavy metals of mercury in liquid waste, it needs an alternative wastewater treatment method e.g. chemical precipitation. This study is aimed to recover Hg2+ ions from liquid wastes by using sulphide precipitation and hydroxide methods. This research studied the effect of pH on Hg2+ ions which is deposited in the precipitation process and evaluated the rate of Hg2+ precipitation formation. Precipitation was carried out by using sodium sulphide (Na2S) 0.3 M and Ca(OH)2 0.004 M as a precipitation agent with a rapid mixing speed for about 200 rpm for 3 minutes and continued with slow mixing for about 40 rpm for 30 minutes. Then, the liquid sample was left for 24 hours to precipitate. The results showed that precipitation method by using Na2S solution can decrease the content of Hg in HgCl2 synthetic waste. Optimum mass of HgS precipitate of 0.046 g was achieved at pH 9 with a removal efficiency percentage up to 99.81%. The rate of formation of HgS precipitate is 0.4mg/ hour. While, hydroxide precipitation method can decrease mercury level up to 90.11% at pH 12 and mass of Hg (OH)2 precipitate obtained is 0.28 g. However, the result of EDX analysis of the precipitate of Hg (OH)2 showed that the content of Hg precipitate is still low at 0.28 wt.%. A B S T R A KKegiatan penambangan emas rakyat tanpa izin (PETI) dengan menggunakan merkuri (Hg) sebagai pengikat unsur emas disebut proses amalgamasi. Merkuri merupakan logam berat yang bersifat racun. Penggunaan merkuri ini berpotensi menimbulkan pencemaran di lingkungan sekitar, terutama lingkungan perairan. Untuk penanganan logam berat merkuri dalam limbah cair ini, maka diperlukan sebuah metode pengolahan limbah alternatif, yaitu metode presipitasi kimia. Penelitian ini bertujuan untuk me-recovery ion Hg2+ dari limbah cair dengan metode presipitasi sulfida dan hidroksida. Selain itu mempelajari pengaruh pH terhadap ion Hg2+ yang terendapkan dalam proses presipitasi dan mengetahui laju pembentukan endapan Hg. Presipitasi dilakukan dengan menggunakan natrium sulfida (Na2S) 0,3 M dan Ca(OH)2 0,004 M sebagai agen presipitan dengan pengadukan cepat 200 rpm selama 3 menit dan dilanjutkan dengan pengadukan lambat 40 rpm selama 30 menit. Larutan sampel didiamkan selama 24 jam untuk mengendapkan presipitat yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode presipitasi menggunakan larutan Na2S dapat menurunkan kadar Hg pada limbah sintetik HgCl2. Massa endapan HgS optimum sebesar 0,046 g larutan dicapai pada pH 9 dengan persentase efisiensi penyisihan hingga 99,81 %. Laju pembentukan endapan HgS diperoleh sebesar 0,4 mg/jam. Sedangkan metode presipitasi hidroksida dapat menurunkan kadar merkuri hingga 90,11% pada pH 12 dengan massa endapan Hg(OH)2 yang diperoleh adalah 0,28 g. Akan tetapi hasil analisis EDX endapan Hg(OH)2 memperlihatkan bahwa kandungan Hg dalam endapan tersebut masih sangat kecil yaitu sebesar 0,28%.
Kajian Dampak Lingkungan pada Sistem Produksi Listrik dari Limbah Buah Menggunakan Life Cycle Assessment Fajar Marendra; Anggun Rahmada; Agus Prasetya; Rochim Bakti Cahyono; Teguh Ariyanto
Jurnal Rekayasa Proses Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.488 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.36425

Abstract

A B S T R A C TProducing biogas by anaerobic digestion (AD) is a promising process that can simultaneously provide renewable energy and dispose solid waste safely. However, this process could affect environment e.g. due to greenhouse gas emissions. By life cycle assessment (LCA), we assessed the environmental impact (EI) of an integrated fruit waste-based biogas system and its subsystems of Biogas Power Plant Gamping. Data were collected from an actual plant in Gamping, Sleman, Yogyakarta, Indonesia that adopted a wet AD process at mesophilic condition. The results showed that the global warming potential (GWP) emission of the system reached 81.95 kgCO2-eq/t, and the acidification potential (AP), eutrophication potential (EP), human toxicity potential (HTPinf) and fresh water ecotoxicity (FAETPinf) emissions were low. The EI was mainly generated by two subsystems, namely, the electricity generation and the digestate storage. A comparison analysis showed that the GWP become the main contributor of environmental loads produced by Biogas Plant Gamping, Suazhou Biogas Model, Opatokun Biogas Model, Opatokun Pyrolisis Model, dan Opatokun Integrated System Anaerobic Digestion and Pyrolisis. The GWP impact control and reduction could significantly reduce the EI of the system. It has been shown that improving the technology of the process, the electricity generation and the digestate storage will result in the reduction of EI of the biogas system.Keywords: environmental impact; fruit waste; life cycle assessment (LCA); renewable energyA B S T R A KProduksi listrik dari biogas dengan anaerobic digestion (AD) merupakan proses yang menjanjikan karena dapat menghasilkan energi listrik dan penanganan limbah padat dengan aman. Namun, proses ini mempengaruhi lingkungan akibat emisi gas rumah kaca. Penilaian dampak lingkungan (environmental impact atau EI) sistem biogas berbasis limbah terpadu dan subsistemnya terhadap Biogas Power Plant Gamping (BPG) dilakukan dengan metode life cycle assesement atau LCA. Data dikumpulkan dari plant yang sebenarnya di Gamping, Sleman, Yogyakarta, Indonesia yang mengadopsi proses AD basah pada kondisi mesofilik. Potensi pemanasan global (global warming potential atau GWP) dari sistem mencapai 81,95 kgCO2-eq/t, sedangkan potensi keasaman (acidification potential atau AP), potensi eutrofikasi (eutrophication potential atau EP), potensi toksisitas manusia (human toxicity potential atau HTPinf) dan ekotoksisitas air (fresh water ecotoxicity atau FAETPinf) potensi emisinya cukup rendah. Potensi EI terutama dihasilkan oleh dua subsistem, yaitu, pembangkit listrik dan penyimpanan digestate. Analisis perbandingan menunjukkan bahwa dampak GWP menjadi kontributor utama dari beban lingkungan yang dihasilkan oleh Biogas Plant Gamping, biogas model Suazhou, biogas model Opatokun, model pirolisis Opatokun, serta model integrasi AD dan pirolisis Opatokun. Pengendalian dan pengurangan dampak GWP secara signifikan dapat mengurangi EI dari sistem. Telah terbukti bahwa peningkatkan teknologi proses, pembangkit listrik dan penyimpanan digestate akan menghasilkan pengurangan EI dari sistem biogas.Kata kunci: dampak lingkungan; energi terbarukan; life cycle assessment (LCA); limbah buah
Penurunan Logam Hg dalam Air Menggunakan Sistem Sub-Surface Flow Constructed Wetland: Studi Efektivitas Rikhanatul Firdausy Puspitasari; Agus Prasetya; Edia Rahayuningsih
Jurnal Rekayasa Proses Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.332 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.39339

Abstract

A B S T R A C THigh amount of Mercury contamination is commonly found in traditional gold mining areas. This problem might occur due to the use of amalgamation process in traditional gold extraction process by dissolving the gold-bearing rocks with mercury (Hg). The utilization of mercury in gold mining activity has contaminated the water with Hg which might lead to serious health problems. This research was carried out by discharging the Hg-contaminated wastewater to enter a system called the Sub-Surface Flow Constructed Wetland (SSF-SW). The system employed a mixture of soil and the fibers of water hyacinth as the media on which Echinodorus palaefolius L. was planted. The wastewater containing HgCl2 at 8.59 mg/L was flown. The flow rate and pH were set to 6.3 L/hour and 6-7 pH at room temperature. Samples were collected at 0; 3.5; 7; 10.5 hours every day. The SSF-CW system was continually run for 10.5 hours and 13.5hour batch. The result of this research showed that the efficiency of Hg removal reached 92.79%. The results showed that the SSF-CW offers a stable system to reduce the mercury levels as shown in the growth of the plant and the total Hg removal efficiency. Plants with Hg exposure have distinct patterns of chlorosis. Some leaves turning yellow and die, others start with new growth. In addition, the growth of Echinodorus palaefolius L. was also influenced by the amount of nutrients in the soil.Keywords: Echinodorus palaefolius L., mercury, sub-surface flow constructed wetland A B S T R A KPencemaran merkuri banyak ditemukan pada penambangan emas tradisional. Pada umumnya proses yang diterapkan dalam penambangan emas tradisional dalam ekstraksi emas adalah proses amalgamasi, yaitu dengan cara mencampur bijih emas dengan merkuri (Hg). Aktivitas penambangan dengan memanfaatkan Hg menyebabkan tercemarnya air dengan Hg yang dapat membahayakan kesehatan. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengalirkan air limbah Hg ke dalam sistem Sub-Surface Flow Constructed Wetland (SSF-CW). Media yang digunakan berupa campuran tanah dan serat eceng gondok serta ditanami dengan Echinodorus palaefolius L. Penelitian dilakukan dengan mengalirkan air limbah HgCl2 berkonsentrasi 8,59 mg/L. Percobaan menggunakan laju alir 6,3 L/jam dengan pH sekitar 6-7 pada suhu ruangan. Pengambilan sampel dilakukan pada jam ke 0; 3,5; 7 dan 10,5 pada setiap harinya. Operasi sistem SSF-CW dijalankan 10,5 jam kontinu dan 13,5 jam batch. Hasil penelitian menunjukkan efisiensi penurunan Hg sebesar 92,79%. Penelitian menunjukkan bahwa sistem SSF-CW cukup stabil. Kestabilan sistem SSF-CW dalam menurunkan kadar Hg dapat dilihat dari pertumbuhan tanaman dan total penurunan yang diperoleh. Tanaman yang terpapar Hg terlihat bercak klorosis. Beberapa daun menguning dan mati, sebagian lain tumbuh tunas baru. Pertumbuhaan Echinodorus palaefolius L. tidak lepas dari pengaruh unsur hara yang terdapat di dalam tanah.Kata kunci: Echinodorus palaefolius L., merkuri, sub-surface flow constructed wetland
Evaluasi Aspek Teknis dan Lingkungan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal di Kabupaten Sleman Yogyakarta Dwi Saputri; Fajar Marendra; Ahmad Tawfiequrrahman Yuliansyah; Ir. Agus Agus Prasetya Prasetya
Jurnal Rekayasa Proses Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.65833

Abstract

As the producer of waste (both in solid form and wastewater), the increase of population creates a dominant effect on environmental problems. Escalation of the amount of domestic wastewater has led to greater sanitation problems. Indonesian government has carried out several programs for improving sanitation access and facilities. Community-based wastewater treatment plant (Communal WWTP) is one of the priority programs. Sleman Regency in Special Province of Yogyakarta owns 131 communal WWTP, where the oldest one had been built in 2006 while the newest one was installed in 2018. In this study, the techno-environmental assessment of communal WWTP in the District of Sleman, Yogyakarta was carried out. Sampling selection of communal WWTPs was undertaken using Stratified Random Sampling techniques. Data collection was executed by a combination of field surveys and in depth-interview of several relevant personnel. The study was done for 30 communal WTTP in various Districts in Sleman regency. Assessment was carried out based on the Likert scale of 4. The results showed that the average score for environment aspect was 2.94 (good), while that for technical aspect was 3.52 (very good). Overall, the techno-environmental score of communal WWTP in Sleman Regency, Yogyakarta was 3.23 out of 4, which was categorized as good.Keywords: communal WWTP; domestic wastewater; Likert scale sanitation; Sleman regency; stratified random samplingA B S T R A KSebagai produsen limbah (baik limbah padat maupun air limbah), peningkatan jumlah penduduk berpengaruh dominan terhadap masalah lingkungan. Eskalasi jumlah air limbah domestik berujung pada masalah sanitasi yang semakin besar. Pemerintah Indonesia sudah menjalankan beberapa program untuk meningkatkan fasilitas dan akses sanitasi. Instalasi pengolahan air limbah komunal (IPAL) menjadi salah satu program prioritas. Kabupaten Sleman memiliki 131 IPAL komunal, yang tertua dibangun tahun 2006 dan yang terbaru pada tahun 2018. Dalam penelitian ini, asesmen teknologi lingkungan (techno-environment) dilakukan terhadap IPAL komunal di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Pengumpulan data dikerjakan menggunakan kombinasi metode survei lapangan dan wawancara mendalam dengan pelaku IPAL komunal yang relevan. Pemilihan sampel IPAL komunal dipilih menggunakan teknik Sampling Acak Terstratifikasi (Stratified Random Sampling). Penelitian dilakukan terhadap 30 IPAL Komunal di berbagai Kecamatan di Kabupaten Sleman.  Asesmen dilakukan berdasarkan skala Likert (4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek lingkungan memperoleh skor rata-rata 2,94 (baik) dan aspek teknis-teknologis 3,52 (sangat baik). Secara keseluruhan kategori teknologi-lingkungan (techno-environment) dari IPAL Komunal di Kabupaten Sleman Yogyakarta mempunyai skor rata-rata 3,23 dari nilai maksimal 4, dan dikategorikan sebagai baik.Kata kunci: air limbah domestic; IPAL komunal; Kabupaten Sleman; sanitasi; Sampling Acak Terstratifikasi; skala Likert
Densification process of Merbau (Intsia bijuga) and Matoa (Pometia pinnata J.R. Forster & J.G Forster) Sawdust Waste for Biomass Based Solid Fuel Source in West Papua Indonesia: Optimization using Response Surface Methodology (RSM) Agus Prasetya; Halomoan Siagian; Felix Arie Setiawan; Himawan Tri Bayu Murti Petrus, S.T., M.E, D.Eng.
Jurnal Rekayasa Proses Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.66024

Abstract

Merbau (Intsia bijuga) and matoa (Pometia pinnata J.R. Forster & J.G Forster) are two amongst many prominent biomass sources from West Papua, Indonesia. With their versatile characteristics, merbau and matoa wood are used in many industries such as furniture, music instrument, and many other specialty products. However, wood processing industries can emit up to 60% of the residue. In this study, the usage of both merbau and matoa sawdust wastes as solid fuel was studied using response surface methodology (RSM). merbau and matoa sawdust are sieved to get the desired particle size (-20+50 mesh). Two kinds of the sawdust are then mixed in various compositions (70, 50, and 30% merbau).  The mixed sawdust is then mixed with varied sticky starch solutions (1, 5, and 10%) to be formed in pellets with various moulding compression force (50, 100, and 150 kg/cm²). The pellets are then analyzed for its characteristics such as ash, moisture contents, and calorific value to be compared with its initial conditions. A full three-level factorial design under RSM was applied to explain the correlation between independent and dependent variables. The results show that statistically, merbau content, binder content, and compressive force showed relatively significant effects on the studied responses (ash content, moisture content, and calorific value). In addition, ANOVA analysis proved that each variable has significant effects on the responses that are confirmed by practically zero P-value. The coefficient of determinations (R²) are all above 0.96 and the normal probability plots confirm that the proposed models adequate the experimental results.Keywords: biomass waste; densification; merbau; matoa; RSM A B S T R A KMerbau (Intsia bijuga) dan matoa (Pometia pinnata Forster) adalah dua di antara sumber biomassa potensial yang berasal dari Papua Barat, Indonesia. Dengan karakteristiknya yang serbaguna, merbau dan matoa digunakan di banyak industri seperti furnitur, alat musik, dan banyak produk khusus lainnya. Namun, industri pengolahan kayu dapat menghasilkan hingga 60% residu. Di Pada penelitian ini, pemanfaatan limbah serbuk gergaji merbau dan matoa sebagai bahan bakar padat dipelajari dengan menggunakan response surface method (RSM). Serbuk gergaji merbau dan matoa diayak untuk mendapatkan ukuran partikel yang diinginkan (-20+50 mesh). Dua jenis serbuk gergaji kemudian dicampur dalam berbagai komposisi (70, 50, dan 30% merbau). Serbuk gergaji yang sudah tercampur kemudian dicampur dengan bahan perekat yang bervariasi larutan pati (1, 5, dan 10%) untuk dibentuk dalam pelet dengan berbagai gaya tekan cetakan (50, 100, dan 150 kg/cm²). Pelet kemudian dianalisis karakteristiknya seperti abu, kadar air, dan nilai kalor untuk dibandingkan dengan kondisi awalnya. Sebuah desain RSM tiga faktorial penuh diterapkan untuk menjelaskan korelasi antara variabel independen dan variabel terikat. Secara statistik, hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar merbau, kadar pengikat, dan gaya tekan menunjukkan efek yang relatif signifikan pada respons yang dipelajari (abu kadar air, kadar air, dan nilai kalor). Selain itu, analisis ANOVA membuktikan bahwa masing-masing variabel memiliki efek signifikan pada tanggapan yang dikonfirmasi oleh nilai P yang mendekati nol. Koefisien determinasi (R²) seluruhnya berada di atas 0,96 dan grafik probabilitas normal mengonfirmasi bahwa model yang diusulkan cukup sesuai dengan hasil eksperimen.Kata kunci: limbah biomassa; densifikasi; merbau; matoa; RSM
Penyisihan Kontaminan dari Air Limbah Hasil Daur Ulang Baterai LiFePO4 (LFP) Menggunakan Penukar Ion Resin Kation Amberlite HPR1100 Na dan Resin Anion Dowex Marathon A Satryo Dewanto Suryohendrasworo; Laras Prasakti; Sarah Nabila Salma; Agus Prasetya
Jurnal Rekayasa Proses Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.69847

Abstract

Pada tahun 2025, diperkirakan kebutuhan baterai Li-ion akan mencapai 400.000 ton. Upaya strategis diperlukan untuk mewujudkan pemakaian baterai Li-ion yang berkelanjutan. Setelah siklus pemakaian baterai Li-ion berakhir, baterai Li-ion akan diproses kembali untuk diambil kandungan logam-logam penting yang terkandung di dalam katoda, terutama litium. Secara umum, proses recycle tersebut dilakukan dengan metode hidrometalurgi yang terdiri atas rangkaian leaching dan presipitasi. Namun demikian, dalam proses pemurnian tersebut dihasilkan air limbah yang mengandung beragam logam dengan konsentrasi yang berbeda. Untuk baterai LFP, logam-logam tersebut berasal dari katoda yang mengandung Li, Na, Si, dan PO4. Proses pelindian dan pencucian serbuk katoda membutuhkan air dalam jumlah yang relatif besar. Pengolahan air limbah hasil proses daur ulang baterai diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan efisiensi penggunaan air. Pada eksperimen ini, metode adsorpsi batch dengan ion-exchange resin kation Amberlite HPR1100 Na dan resin anion Dowex Marathon A digunakan untuk menghilangkan ion logam dari air limbah artifisial. Pengambilan sampel air limbah yang diolah diambil pada menit ke-3, 6, 10, 20, 30 dan hari ke-3. Berdasarkan pada hasil removal percentage, diperoleh bahwa pengolahan air limbah artifisial metode adsorpsi dengan menggunakan ion-exchange resin kation Amberlite HPR1100 Na dapat mengurangi kadar ion litium dan natrium sampai 100% pada menit ke-20 dengan variasi dosis adsorben 10 g/100 mL, sedangkan penggunaan ion-exchange resin anion Dowex Marathon A dapat mengurangi kadar ion fosfat sampai 100% pada menit ke-30 dengan dosis adsorben 10 g/100 mL. Dengan adsorpsi isotherm didapat model Langmuir lebih sesuai dengan data eksperimen dengan nilai parameter Qm dan KL untuk ion litium sebesar 1,16 mg/g dan 2,57 mg/g, ion natrium sebesar 74,62 mg/g dan 0,04 mg/gL/mg, dan ion fosfat sebesar 208,33 mg/g dan 0,06 mg/g. Selain itu, studi kinetika menunjukkan bahwa model pseudo second-order memiliki kesesuaian data yang lebih baik daripada pseudo first-order.
Co-Authors Adriyanti, Dwi Tyaningsih Adythia, Dicky Marsa Agus Aktawan Ahmad Tawfiequrrahman Yuliansyah Ai Siti Patimah Alfiana Adhitasari AM Lelie Novia W Ambar Pertiwiningrum Angge Dhevi Warisaura Anggun Rahmada Anggun Rahmada Ani Anjarwati Anjarwati, Ani Anshori, Shodiq Anton Sujarwo, Anton Aries Kurniawan Arif Rahman Hakim Arifudin Idrus Armaidy Armawi Asih, Yekti Asri, Wuwuh Astri Senania, Astri Aswati Mindaryani Awaluddin Nurmiyanto, Awaluddin Bagus Putro Budi Utomo Bengt Andersson Beni Dwi Komara Bidhari Pidhatika Brian Hayden Budi Kamulyan Cahyono, Rochim Bakti Chandra Wahyu Purnomo Dagus Resmana Djuanda Deden Ependi Dewi, Anggra Lita Sandra Dewi, Anggralita Sandra Dian Hudawan Santoso Dwi Sambada Dwi Saputri Dwi Saputri Edhi Martono Edia Rahayuningsih Erlambang, Erlambang Erlina Kurnianingtyas Erna Astuti Fadlilah, Ilma Fadliyah, Nurul Faishal, Faris Amir Fajar Marendra Fajar Marendra Fajar Marendra Fajar Marendra Farid Ma'ruf Felix Arie Setiawan Ferian Anggara Fitri Nur Kayati, Fitri Nur Hakim, Gilang Lukman Halomoan Siagian haries handoyo Hary Sulistyo Haryanto, Imam Hasanah, Nur Hayati Heimbach, Ivano Heri Cahyo Bagus Setiawan Hidayatunnisa, Nurul Fadhlya Himawan T. B. M. Petrus Himawan Tri Bayu Murti Petrus Himawan Tri Bayu Murti Petrus Himawan Tri Bayu Murti Petrus Himawan Tri Bayu Murti Petrus Hotden Manurung I Made Bendiyasa I Made Bendiyasa I Wayan Warmada Iga Maliga Ilham Ilham Ilma Fadlilah Ilma Fatimah Yusuf Iman Haryanto Indah Noor Dwi Kusuma Dewi Indra Perdana Indra Perdana Indra Perdana Juli Muwarni, Juli Kevin Cleary Wanta Kirana Dipta Rakhmasari Kisnanto, Indro Kristanto, Jonas Krister Ström Latukismo, Tatag Herbayu Lukman Subekti Mahfudl Sidiq Muhayyat Marendra, Fajar Maria Ratih Puspita Liestiono Marjan Bato Martha Helsanggi Maulana Gilar Nugraha Milawati Milawati Mochamad Syamsiro Mudjijana Mudjijana - Muh. Wahyu Syabani Muhammad A. A. Ramadhan, Muhammad Muhammad Arman Muhammad Hidayat Furqon Muhammad Sholeh MUHAMMAD SHOLEH Muhammad Sigit Cahyono Muhammad Sulaiman mulhidin, mulhidin Muqorobin, Muqorobin Mustakim, Zainal Mustika, Pra Cipta Buana Wahyu Natalia, Priskila Novie Putri Setianingrum Novie Putri Setianingrum Nuzulul Fatimah Oktaviani Nisa Hanafiah Panut Mulyono Prasakti, Laras Puji Astuti Purwantiningsih, Ary Purwanto, Abdul Fattah Bima Radwinda Kurnia Putri Rahmawati, Merza Rikhanatul Firdausy Puspitasari Rikhanatul Firdausy Puspitasari Rima Dewi Anggraeni Rizka Lestari Rizki Laksono, Rizki Rochim B. Cahyono Rochmadi Rochmadi Rochmadi Ruslim Budianto Salafudin Salafudin, Salafudin Saputri, Dwi Sarah Nabila Salma Sartika, Heni Wahyu Sarto Sarto Sarto Sarto Sarto Sarto Sarto Sarto Satria, Arysca Wisnu Satryo Dewanto Suryohendrasworo Setiawan, Heri Cahyo Agus Sholihatunnisa, Hanifa Afifia Sholikhati, Amalia Putri Sigit Heru Murti Sihana - Sihana - Siswanto, Romi Siti Helmyati Siti Nurul Aisyiyah Jenie, Siti Nurul Aisyiyah Siti Syamsiah Slamet Sumardi, Slamet Stenly Recky Bontinge Sudaryatno Sudaryatno Sujoto, Vincent Sutresno Hadi Sulistiyono Sulistiyono Suparti Suparti Suparti Supranto - Supranto Supranto Supriyatna, Yayat Iman Surami, Wuwuh Asrining Suryanaga, Edward Chandra Sutijan Suyanti Suyanti Tapiory, Jesica Teguh Ariyanto Teguh Ariyanto Timotius, Daniel Titik Indrawati Tri Winarni Soenarto Putri Ula, Rahmah Arfiyah Ulan Paluti Agustina Ummah, Maslacatul Wahyu Wilopo Warmita, Helena Karunia Wibowo, Decka Pynka Widi Astuti Widi Astuti Widodo - Widya Rosita Winarni, Marti Winoto, Gilbert Yogihaz, Billy Dion Yuni Kusumastuti, Yuni Zaizamshimi Nurul Farah Dyana