Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Panggung

Pemuliaan Angklung melalui Model Desa Binaan Berbasis Wisata Seni dan Budaya Juju Masunah
PANGGUNG Vol 22 No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i1.31

Abstract

Angklung has been awarded by UNESCO as one of the intangible world heritages from Indone- sia. One of the angklung preservation methods is through community based education. This article describes the result of research and community service activities to explore a model of community empowerment based on art and culture that uses Sundanese angklung instruments and local tradi- tional performing arts to attract tourism in Ciater Village, Subang. This research used a participato- ry action research method where researchers participate actively along with the community to create a touristic event involving art and culture. The findings of this research present that to empower a community using art and culture as an event for a tourist destination occurs by a collaborative work between local community, intelectuals, and bussiness. The community of Ciater village presented their innovation and creativity with Sundanese angklung music and local traditional performing arts in order to serve seventy tourists (artists) from Southeast Asia and Europe on October 7, 2011 for the first time. Keywords: Sundanese angklung, tourism of culture, Ciater Village.
NADRAN SEBAGAI MODEL FESTIVAL PESISIR DI CIREBON Yanti Heriyawati; Afri Wita; Juju Masunah
PANGGUNG Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i2.2442

Abstract

Nadran merupakan ritual tahunan masyarakat pesisir Cirebon untuk merayakan pesta nelayan. Pusat penyelenggaraan peristiwa sakral ini di Makam Gunung Djati yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dan keraton. Kajian ini menjelaskan bagaimana ritual nadran sebagai model festival pesisir yang merepresentasikan peristiwa pesta rakyat dan raja dalam memaknai integritas sosial dalam ruang dan waktu terpilih. Metode kualitatif digunakan untuk mengidentifikasi pengemasan ritual nadran sebagai festival pesisir dalam menjaring komunitas seni pesisir untuk mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal. Festival pesisir yang dilaksanakan kerjasama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan keraton. Festival memberi ruang bagi masyarakat pesisir untuk meningkatkan produksi karya/produk kreatif; menciptakan panggung seni pertunjukan; para pelaku, seniman, dan creator memiliki ruang dialog dan jejaring untuk membangun integritas bangsa melalui seni dan ritual. Perubahan masyarakat dalam memaknai realitas memacu jiwa kebertahanan dan sikap kesiapan untuk bersaing secara kompetitif sehingga terus menghasilkan karya yang berkualitas.
Ideologi Sosial Dalam Kesenian Tradisional Angklung Sered: Dari Alat Perjuangan Hingga Sebagai Sarana Hiburan Masyarakat Agus Ahmad Wakih; Juju Masunah; Tati Narawati; Cece Rakhmat
PANGGUNG Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i2.2586

Abstract

ABSTRACT For 350 years, Indonesia was under the rule of foreign countries before gaining independence in 1945. This colonization had a significant impact on the social, cultural, economic, and political aspects of Indonesian society. The people expressed their resistance through traditional performing arts, such as angklung sered in Balandongan, Tasikmalaya, West Java. This art form served as a tool of struggle against the colonizers. The objective of this research is to discover the values of social ideology embedded in angklung sered within the community of Balandongan. The research methodology employed semiotic analysis, focusing on the text and context of the angklung sered performances. Text analysis emphasizes the musical instrument used in the performance, while contextual analysis examines the artistic function of angklung sered before and after independence. The research data was obtained through interviews and documentary studies. The findings reveal that angklung sered served as a symbol of resistance before independence, while after independence, the emphasis shifted towards the aesthetics of the performance. Angklung sered also became a social ideology for the community, reflected in its meanings and symbols, serving as the foundation of their beliefs in everyday life. Keywords: Social Ideology, Culture, Traditional Art, Angklung Sered, Traditional Performing Arts ABSTRAK Selama 350 tahun, Indonesia dikuasai oleh negara-negara asing sebelum merdeka pada tahun 1945. Penjajahan ini berdampak besar pada sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa Indonesia. Masyarakat menunjukkan perlawanan melalui seni pertunjukan tradisional seperti angklung sered di Balandongan, Tasikmalaya, Jawa Barat. Seni ini dijadikan sebagai alat perjuangan melawan penjajah. Penelitian ini bertujuan menemukan nilai-nilai ideologi sosial masyarakat dalam angklung sered di Balandongan. Metode penelitian menggunakan analisis semiotika, fokus pada teks dan konteks pertunjukan angklung sered. Analisis teks berfokus pada alat musik angklung yang digunakan, sedangkan analisis konteks memeriksa fungsi kesenian ini sebelum dan setelah kemerdekaan. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan angklung sered sebelum kemerdekaan menjadi simbol perjuangan, sementara setelahnya lebih menekankan estetika pertunjukan. Angklung sered juga menjadi ideologi sosial masyarakat, tercermin dalam makna dan simbolnya yang menjadi dasar keyakinan dalam kehidupan sehari-hari. Kata kunci: Ideologi Sosial, Budaya, Kesenian Tradisional, Angklung Sered, Seni Pertunjukan Tradisional
Co-Authors ., Desfina Ace Iwan Suryawan, Ace Iwan Aditiya, Santi Afri Wita Afri Wita Agus Ahmad Wakih Agus Budiman ANGGRAENI, RENI Anggriani, Fifi Annisa Bela Pertiwi, Annisa Bela Annisa Pertiwi Arief Johari Asep Sufyan Muhakik Atamtajani Asyifah, Siti Ayo Sunaryo Ayo Sunaryo Beben Barnas, Beben Besari, Silvi Nuraeni Cepi Riyana, Cepi Dedi Rosala Dedy Ari Nugroho Dedy Setyawan Eka Yuliana Rahman Eko Hadi Prayitno Erazo Andrade, Santiago Paul Erlina Wiyanarti Eva Qomariah Fadil Ahmad Nahrowi Fakhirah, Ashillah Radhwa Feny Yuliani Fifiet Dwi Tresna Santana Fifiet Dwi Tresna Santana, Fifiet Dwi Tresna Ganda Prawira, Nanang Hapidzin, Rivaldi Indra Hayani Wulandari Hayani Wulandari, Hayani Heni Komalasari Heri Puspito Diyah Setiyorini Hery Supiarza Isa, Badrul Iwan Gunawan Jeon, Jeong Ok Juniar, Rike Lasido, Nur Allan LELI KURNIAWATI Lely Kurniawati Mahendra, Benny Mariah, Yoyoh Siti Maskat, Suryadi Maya Sari Mohd Zahid, Muhammad Fairul Azreen Mubiar Agustin Muhammad Jazuli Muniir, Muhammad Sirojul Nadia Zahratunnisa Najamudin, Muhammad Nana Ganda Nana Supriatna Nguyen, Kieu-Trang Nina Nursetia Ningrum Noviana Wluan Syafitri nuri Fitriani, Pomalingo, Moh Fikri Puspa Melliyanti Ramdhani Putri Lilis Dyani Rakhmat, Cece Reni Haerani Ria Sabaria Ria Sabaria Riana Rosa Prastika Rini Andari, Rini Rita Milyartini Rusnia Yanti Sabaria, Ria Iwan Saian Badaruddin Sandi Jembar Wijaya Santi Aditiya Sari, Putri Yunita Permata Kumala Sasaki, Mariko Shifa Adelia siti Asyifs Soetedja, Zakarias S. Soeteja, Zakaria S Soeteja, Zakarias S. Sunaryo, Ayo Sutisna, Riya Felisia Tati Narawati Tri Karyono Trianti Nugraheni uus karwati Vanessa Gaffar Wahyu Lestari Wakih, Agus Ahmad Wibowo, Dhany Yufisa Wulan Indah Fatmawati Wulan Purnamasari Yana Endrayanto Yanti Heriyawati yaris agustiani Yudi Sukmayadi Zakarias S. Soeteja Zakarias Sukarya Soeteja